BISNIS INTERNASIONAL
Theories of International
Trade and Investment
Disusun oleh:
1. Diah Wahyu Widyastuti 12030110120020 2. Shabrina Rahutami N.A. 12030110120045
3. Novia Suci 12030110120067
4. Fauziah Galuh A. . 12030110120073 5. Rina Yuniwijyanti12030110120131
BISNIS INTERNASIONAL / KELAS B / AKUNTANSI 2010
A. OBJEKTIF PEMBELAJARAN
- Memahami teori – teori perdagangan internasional
- Memahami argument – argument dari hambatan perdagangan
- Menjelaskan kedua jenis hambatan impor yang mendasar, hambatan perdagangan dalam bentuk tarif dan nontarif.
- Memahami relevansi perubahan status hambatan tarif dan nontariff terhadap para pelaku bisnis
- Mengenali kelemahan dari GNP/ PNB/ pendapatan perkapita sebaga indikator ekonomi
- Memahami definisi baru mengenai pengembangan / pembangunan ekonomi.
- Memahami mengapa beberapa pemerintah merubah strategi dari substitusi impor ke strategi promosi ekspor.
- Menjelaskan beberapa teori investasi langsung luar negeri.
B. PERDAGANGAN INTERNASIONAL
1. Relevansi Teori dan Konsep Ekonomi bagi Pelaku Bisnis
Bagi para pelaku bisnis, pengetahuan yang baik akan teori dan konsep ekonomi dalam melakukan perdagangan internasional, akan membuat mereka dapat mengantisipasi perubahan – perubahan strategi pemerintah dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk keuntungan mereka. Sehingga hal ini menjadi amat sangat penting untuk mempelajari berbagai teori yang mendasari perdagangan internasional, pembangunan ekonomi, dan yang terkait dengan investasi langsung.
Sumber :
Ball,Donald et al.InternationalBusiness:The Challenge of global competition.
2. Teori Perdagangan Internasional
meningkatkan GDP (Gross Domestic Product) . Perdagangan internasional pun turut mendorong Industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.
Perdagangan Internasional dilakukan dengan beberapa faktor dan motif antara lain :
- Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri
- Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara
- Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi
- Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk tersebut.
- Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan produksi.
- Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang.
- Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain.
- Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup sendiri.
Sedangkan manfaat dari perdagangan internasional ialah : - Memperoleh Devisa
- Memperluas Kesempatan Kerja - Menstabilkan Harga-Harga
- Meningkatkan Kualitas Konsumsi - Mempercepat Alih Teknologi
Menurut Sadono Sukirno, manfaat perdagangan internasional adalah sebagai berikut :
- Menjalin Persahabatan Antar Negara
- Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri - Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
Perdagangan internasional tidak hanya bermanfaat di bidang ekonomi sebagai pemenuh kebutuhan rakyat, tetapi juga memiliki fungsi sosial juga lainnya. Misalnya, ketika harga bahan pangan dunia sangat tinggi Negara-negara penghasil beras berupaya untuk dapat mengekspornya. Di samping memperoleh keuntungan, ekspor di sini juga berfungsi secara sosial. Pada era globalisasi ini banyak muncul perusahaan multi nasional. Perusahaan multi nasional seperti ini dapat mempererat hubungan sosial antar bangsa. Perdagangan internasional juga bermanfaat di bidang politik. Perdagangan antar negarabisa mempererat hubungan politik antar negara. Sebaliknya, hubungan politik juga bisa mempererat hubungan dagang. Perdagangan internasional juga berfungsi untuk pertahanan keamanan. Misalnya, suatunegara nonnuklir mau mengembangkan senjata nuklir. Negara ini dapat ditekan dengandikenai sanksi ekonomi. Artinya, negara lain tidak diperbolehkan menjalin hubungan dagang dengan negara tersebut. Biasanya upaya seperti ini harus dengan persetujuan PBB. Hal ini dilakukan demi terciptanya keamanan dunia. Perdagangan internasional juga terkait dengan pertahanan suatu negara melalui pengadaaan persenjataan dan diperlukan impor senjata.
Sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_internasional
Perdagangan Interasional dibangun atas berbagai teori, yang awalnya hanya merupakan sebuah motif politis yang berupa intervensi pemerintah terhadap pengendalian perdagangan baik domestic maupun luar negeri. Teori perdagangan internasional adalah teori yang menjelaskan arah dan komposisi perdagangan antar negara serta bagaimana efeknya terhadap perekonomian suatu negara. Disamping itu, teori perdagangan internasional juga dapat menunjukkan adanya keuntungan yang timbul dari adanya keuntungan perdagangan (gain from trade). Teori yang menjelaskan tentang perdagangan internasional pada dasarnya dibagi atas tiga kelompok besar, yaitu: teori praklasik merkantilis, Teori Klasik, dan teori modern.
Merkantilisme (Mercantilism)
eksportir dan mengurangi impor melauli restriksi yang berupa bea impor, tindakan inilah yang menciptakan surplus perdagangan.
Era merkantilis berakhir pada tahun 1700-an, namun dewasa ini merkantilisme modern muncul kembali dengan sebuah paradigma apa yang disebut dengan Nasionalisme Ekonomi yakni kebijakan industry yang didasarkan pada intervensi Negara – Negara yang sangat kuat. Merkantilisme modern ini dibuat oleh orang – orang sosialis di Prancis. Mereka menasionalisasikan industri – industri kunci dan bank – bank penting agar dapat menggunakan kekuasaan Negara baik sebagai 1) pemegang sahama dan penyandang dana , maupun 2) pelanggan dan pemasar untuk merevitalisasi basis industry Negara tersebut. Namun, pada tahun 1986 , setelah 5 tahun mengalami sedikit pertumbuhan dan tingkat pengangguran yang tinggi, pemerintah mengubah kebijakan merkantilisme.
Di Jepang, falsafah ini dikenal dengan “Fortress of Mercantilism” Jepang sangat memproteksi pasar dan perekonomiannya dengan memberikan retriksi / hambatan pada impor. Jepang juga enggan untuk ikut ke dalam arus perdagangan bebas dengan alasan untuk melindungi budayanya begitu pula dengan upaya Jepang untuk menjaga kestabilan nilai mata uangnya.
Teori Keunggulan Absolut
Teori Keunggulan Komparatif
Teori ini memberikan penjelasan bahwa sebuah bangsa yang memiliki kelemahan absolute dalam memproduksi dua barang dari sudut bangsa lain memiliki suatu keunggulan komparatif atau relative dalam memproduksi barang dimana kelemahan absolutnya kurang. Teori ini merupakan teori yang dimodifikasi oleh David Ricardo pada tahun 1817 dari teori absolute advantage oleh Adam Smith. Ricardo memperlihatkan bahwa meskipun sebuah bangsa memegang keunggulan absolute dalam produksi dua barang, kedua Negara masih dapat berdagang dengan keunggulan bagi masing – masing sepanjang bangsa yang kurang efisien, tingkat kekurang-efisienannya tidak sama dalam memproduksi kedua barang tersebut.
Berdasarkan teori ini dikenal istilah Batas Kemungkinan Produksi atau “Production Possibility Fronties” yakni sebuah grafik yang mengilustrasikan perolehan Negara dari perdagangan. Dua titik pada kurva menunjukkan titik dimana sebuah Negara mampu melakukan produksi dan konsumsinya serta sebuah titik yang menunjukkan jumlah yang dapat dikonsumsi sebuah Negara dimana masing – masing Negara mengadakan spesialisasi dalam produksi berdasarkan keunggulan komparatif yang dimilikinya serta memperdagangkan surplisnya dengan yang lain. Dan ruang antar titik menggambarkan keuntungan yang diperoleh sebuah Negara dari perdagangan.
Teori Faktor Endowment (Heckscher – Ohlin)
meningkat, serta kredit pajak investasi yang menggurangi biaya modal di bawah biaya pasar. Akibatnya, harga – harga faktor tidak sepenuhnya mencerminkan pasokan faktor.
Ohlin juga mengasumsikan bahwa suatu teknologi tertentu tersedia secara universal, tapi kenyataannya tidaklah demikian. Selalu terdapat kesenjangan antara pengenalan metode produksi baru dan aplikasinya di seluruh dunia. Aakibatnya, teknologi unggul sering kali memungkinkan sebuah Negara untuk memproduksi barang – barang dengan biaya yang lebih rendah daripada biaya di Negara yang memiliki faktor produksi yang lebih baik.
Paradoks Leontif
Merupakan sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1953 oleh ahli ekonomomi Wassily Leontief yang mempersoalkan manfaat teori Heckscher-Ohlin sebagai peramal arah perdagangan. Studi tersebut menemukan bahwa Amerika Serikat, slah satu Negara paling padat modal di dunia, mengekspor produk – produk yang padat tenaga kerja. Hal ini yang tidak dapat dijelaskan oleh teori Heckscher-Ohlin, para ekonomi kemudian berspekulasi bahwa hal ini timbul karena Amerika mengekspor produk padat teknologi yang diproduksi oleh tenaga kerja yang sangat trampil dan memerlukan investasi modal besar untuk mendidik dan melatih tenaga kerja.
Pengaruh Uang dalam Perdagangan
a. Kurs (Exchange Rate)Kurs adalah harga sebuah mata uang suatu Negara yang dinyatakan dalam nilai mata uang lainnya (Negara lain). Kurs dikenal juga dengan istilah nilai tukar. Kurs juga disebut sebagai sebuah perjanjian yang dikenal sebagai nilai tukar mata uang terhadap pembayaran saat kini atau di kemudian hari, antara dua mata uang masing- masing negara atau wilayah (http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar)
Ada beberapa peristilahan tentang kurs valuta asing yaitu sebagai berikut: a. Kurs beli menunjukkan harga beli valuta asing pada saat bank/money changer membeli valas (valuta asing) atau pada saat seseorang menukarkan
valas dengan rupiah.
valas.
c. Kurs tengah merupakan kurs antara kurs jual dan kurs beli (hasil bagi dua dari penjumlahan kurs beli dan kurs jual).
(http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Perdagangan_Internasional_9.1_(BAB_8)) b. Pengaruh Kurs
Secara teoritis perubahan kurs (apresiasi/depresiasi) akan menyebabkan perubahan dalam harga barang-barang yang diimpor baik barang konsumsi (barang jadi) maupun bahan baku input. Dengan demikian, adanya perubahan harga impor tersebut akan mempengaruhi harga yang diterima oleh konsumen. (http://web.ipb.ac.id/~economics/doc/jurnal1.pdf)
Kurs mata uang asing yang tidak stabil membuat para eksportir maupun importir mengalami kesulitan dalam menentukan harga valuta asing. Kesulitan tersebut berdampak pula terhadap harga penawaran maupun permintaan dalam perdagangan. Hal ini membuat para pedagang internasional enggan melakukan kegiatan ekspor dan impor.
Ada cara bagi sebuah negara untuk dapat menghindari kehilangan pasar dan memperoleh kembali daya saingnya di pasar- pasar dunia adalah melalui
devaluasi mata uang.
(http://kulpulan-materi.blogspot.com/2012/04/devaluasi-dan-revaluasi.html)
Penjelasan Terbaru Arah Perdagangan
a. Skala Ekonomi dan Kurva PengalamanBanyak industri memperoleh keuntungan dari skala ekonomi (economies of scale), yaitu dengan semakin besarnya pabrik dan meningkatnya keluaran biaya produksi per unit menurun. Ini terjadi karena peralatan yang lebih besar dan lebih efisien dapat digunakan, sehingga perusahaan dapat memperoleh potongan harga atas pembelian- pembelian mereka dengan volume yang lebih besar, dan biaya- biaya tetap seperti biaya penelitian dan pengembangan serta overhead administratif dapat dialokasikan pada kuantitas keluaran yang lebih besar. Biaya- biaya produksi juga menurun karena kurva belajar (learning curve).
Skala ekonomi dan kurva pengalaman berpengaruh karena memungkinkan industri- industri suatu negara menjadi produsen biaya- rendah tanpa memiliki faktor- faktor produksi yang berlimpah.
b. Teori Penggerak Pertama (First Movers Theory)
Sebagian ahli teori manajemen menyatakan bahwa perusahaan- perusahaan yang pertama menerobos pasar (penggerak pertama) akan segera mendominasinya. Sebagai hasil dari bagian pasar yang besar akan memungkinkan mereka memperoleh manfaat skala ekonomi yang disebutkan sebelumnya. Para penggerak pertama memegang 30 persen bagian pasar (market share) dibandingkan dengan hanya 13 persen untuk pengikut selanjutnya. Temuan lainnya mengatakan bahwa 70 persen pemimpin pasar yang ada sekarang adalah para penggerak pertama. Namun temuan- temuan tersebut dirasa belum sempurna, karena temuan baru mengatakan bahwa sukses awal telah beralih ke perusahaan- perusahaan yang menerobos pasar rata- rata 13 tahun setelah “para penggerak pertama”.
c. Teori Linder mengenai permintaan yang Tumpang Tindih
Daur Hidup Produk Internasional
Adalah sebuah teori yang menjelaskan mengapa suatu produk yang mula- mula sebagai ekspor sebuah negara akhirnya menjadi impornya. Terdapat empat tahap yang dilalui sebuah produk baru, yaitu:
a. Ekspor AS
Karena Amerika Serikat memiliki penduduk dengan konsumen berpenghasilan tinggi terbesar di dunia, maka persaingan untuk memperoleh dukungan mereka sangat intensif. Oleh karena itu, para pabrikan didorong untuk secara terus-menerus mencari cara yang lebih baik guna memuaskan kebutuhan konsumennya. Perusahaan- perusahaan Amerika dikondisikan sebagai satu-satunya pabrikan dari sebuah produk, para pelanggan di luar negeri harus membeli dari perusahaan amerika.Pasar ekspor berkembang.
b. Produksi luar negeri dimulai
Para konsumen luar negeri, terutama negara- negara maju memiliki kebutuhan dan kemampuan untuk membeli produk yang sama. Volume ekspor tumbuh dan menjadi cukup besar untuk mendukung produksi lokal. Maka dimulailah produksi luar negeri.
c. Persaingan luar negeri dalam pasar ekspor
Lalu setelah pabrikan luar negeri mulai memperoleh pengalaman dalam pemasaran dan produksi, biaya- biaya mereka akan turun. Kejenuhan pasar lokal akan menyebabkan mereka mencari para pembeli lain tempat. Pada tahap ini, perusahaan- perusahaan asing bersaing di pasar- pasar ekspor.
d. Persaingan impor di Amerika Serikat
Apabila penjualan domestik dan ekspor memungkinkan para produsen luar negeri memperoleh skala ekonomi yang dinikmati oleh perusahaan amerika, mereka dapat mencapai suatu titik dimana mereka dapat bersaing dalam kualitas dan menjual lebih murah daripada perusahaan Amerika di pasar Amerika.
Keunggulan Kompetitif Bangsa – Bangsa dari Porter
1. Keunggulan Kompetitif Bangsa- bangsa dari Portermenggunakan sumber- sumber negara itu guna memperoleh keunggulan komparatif. Keempat variabel itu adalah
a. Kondisi- kondisi perusahaan- sifat dasar dari permintaan domestik b. Kondisi- kondisi faktor- level dan komposisi faktor produksi
c. Industri- industri terkait dan pendukung- para pemasok dan jasa dukungan industri
d. Strategi, struktur, dan persaingan perusahaan- perluasan persaingan domestik, adanya hambatan- hambatan untuk masuk, serta organisasi dan gaya manajemen perusahaan
C. RESTRIKSI PERDAGANGAN
Kontradiksi yang jelas ini timbul karena pejabat-pejabat pemerintah yang mengambil keputusan mengenai restriksi (hambatan) impor sangat peka terhadap kelompok-kelompok kepentingan yang akan dirugikan oleh kompetisi internasional. Kelompok-kelompok ini terdiri atas badan/ lembaga masyarakat yang kecil dan mudah diidentifikasi sebagai lawan dari jumlah konsumen yang besar dan tersebar luar yang mendapat keuntungan dari perdagangan bebas.
Argumen- argumen bagi Restriksi Perdagangan dan Tangkisannya a. Pertahanan Nasional
Industri-industri tertentu memerlukan proteksi dari impor karena vital bagi pertanahan nasional, dan harus tetap diberlakukan meskipun terdapat kerugian secara komparatif berkenaan dengan para pesaing luar negeri. Apabila persaingan dari perusahaan-perusahaan asing mendorong perusahaan-perusahaan menghentikan usahanya dan membiarkan negara ini bergantung pada impor, impor itu mungkin tidak tersedia di masa perang.
b. Melindungi Industri yang Baru Tumbuh (Infant Industry)
Para pendukung proteksi atas industri yang baru tumbuh bisa menyatakan bahwa dalam jangka panjang industri itu akan memiliki keunggulan komparatif, tetapi perusahaan-perusahaan itu memerlukan proteksi terhadap impor sampai angkatan kerja telah terlatih, teknik-teknik produksi dikuasai dan mereka mencapai skala ekonomi. Apabila sasaran-sasaran itu dipenuhi, proteksi impor tidak diperlukan lagi.
c. Melindungi Tenaga Kerja Domestic dari Tenaga Asing yang Murah
murah dan mengakibatkan pekerja domestik kehilangan pekerjaannya. Kekeliruan pertama tentang argumentasi ini ialah biaya upah tidak seluruhnya berupa biaya produksi maupun biaya tenaga kerja. Selanjutnya produktivitas per pekerja seringkali lebih tinggi karena lebih banyak modal per pekerja, manajemen yang superior, dan teknologi maju, sehingga biaya kerja lebih rendah meski upah tinggi.
d. Tarif Ilmiah atau Persaingan yang Adil
Para penduduk argumen ini mengatakan mereka percaya dengan persaingan yang adil. Mereka sekadar menginginkan bea masuk yang akan meningkatkan biaya barang0barang impor sama dengan biaya barang-barang yang diproduksi di dalam negeri. Hal ini akan mengurangi setiap keunggulan “tidak adil” yang mungkin diperoleh pesaing asing karena teknologi superior, biaya bahan mentah lebih rendah, pajak lebih rendah atau biaya tenaga kerja lebih rendah. Bukanlah maksud mereka untuk melarang ekspor; mereka hanya ingin menyamakan proses untuk persaingan yang “adil”.
e. Tindakan Balasan
Perwakilan-perwakilan industry yang ekspornya telah mendapat hambatan hambatan impor yang dikenakan pada mereka oleh sebauh negara lain, meminta pemerintah mereka untuk membalas dengan hambatan-hambatan yang sama.Biasanya dalam reaksi tindakan balasan tentangan larangan import, dan sudah barang pasti sengketa seperti ini akan dibawa ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Tindakan balasan itu sendiri seperti :
Dumping
Menjual suatu produk di luar negeri dengan harga kurang dari (1) biaya produksi, (2) harga di pasar dalam negeri, atau (3) harga untuk negara-negara ketiga.
Beberapa alasan mengambil tindakan Dumping
- Dapat menjual kelebihan sisa produksi tanpa mengganggu harga-harga dipasar domestik.
- Dapat menurunkan harga export tersebut untuk memaksa semua produsen domestik dinegara-negara pengimpor meninggalkan bisnis .
- Exportir mengharapkan kenaikan harga-harga dipasar begitu tujuan tercapai (predatory dumping /dumping memetikan).
Biasanya jika hal dumping terjadi, tentunya ada suatu pajak yang cukup tinggi terhadap produk tersebut.
1. Dumping sosial
Persaingan yang tidak adil oleh berbagai perusahaan di negara-negara berkembang yang telah menurunkan biaya tenaga kerja dan memperburuk kondisi kerja.
2. Dumping Lingkungan
Persaingan tidak adil disebabkan oleh belum adanya standar-standar lingkungan suatu negara.
3. Dumping JasaKeuangan
Persaingan tidak adil disebabkan oleh rendahnya rasio modal bank/aset yang dipersyaratkan sebuah negara.
4. Dumping Budaya
Persaingan tidak adil yang disebabkan oleh hambatan-hambatan budaya yang membantu perusahaan-perusahaan lokal.
Subsidi
Sumbangan keuangan, diberikan secara langsung atau tidak langsung oleh pemerintah tampa imbalan keuntungan termasuk hibah,perlakuan pajak istimewa dan asumsi pemerintah mengenai pengeluaran bisnis yang normal.
Countervailling duties
pajak-pajak impor tambahan yang dikenakan atas import yang telah memperoleh keuntungan dari subsidi export.
Argumen-argumen Lain
Argumen-argumen yang telah kita bahas adalah kemungkinan merupakan yang paling sering diberikan. Yang lainnya termasuk penggunaan proteksi terhadap barang-barang impor untuk (1) mengizinkan diversifikasi perekonomian domestik, atau (2) meningkatkan neraca perdagangan. Anda seharusnya telah memahami dari pembahasan ini bahwa proteksi terhadap impor pada umumnya melayani banyak pihak. Meskipun permohonan mereka kadang-kadang dapat memberi waktu untuk melindungi industri agar menjadi modern dan lebih bersaing di pasar dunia, bahaya sesungguhnya yang timbul adalah bahwa mitra dagang sebuah negara akan membalas dengan hambatan-hambatan perdagangan, sehingga menyebabkan kerugian terhadap industri-industri yang tidak menerima proteksi. Marilah kita memeriksa hambatan-hambatan ini.
Restriksi impor biasanya digolongkan sebagai hambatan-hambatan tarif (bea masuk) dan nontarif.
a. Hambatan-hambatan Tarif
1. Tarif
Pajak atas barang impor dengan tujuan menaikan harganya untuk mengurangi persaingan bagi produsen local atau meransang produksi local.
2. Bea ad valorem (ad valorem duties)
Pajak impor yang dikenakan sebagai suatu presentase dari nilai faktur barang - barang yang diimport.
3. Bea spesifikasi (specific duties)
Jumlah tetap yang dikenakan atas unit fisik barang yang diimpor. 4. Bea kombinasi (compound dities)
Kombinasi pajak – pajak spesifik dan ad valorem. 5. Hargaresmi
Harga – harga termasuk dalam tariff beacukai dari beberapa Negara dan merupakan dasar untuk perhitungan pajak as valorem bilamana harga faktur yang sebenarnya lebih rendah.
6. PajakVariabel
Pajak import yang ditetapkan dengan perbedaan antara harga pasardunia dan harga-harga yang didukung pemerintah lokal
7. Bea yang Lebih Rendah untuk Masukan Lokal yang Lebih Banyak
Bea-bea impor/bea pabean ditetapkan oleh banyak negara sedemikian rupa untuk mendorong masukan lokal.
b. Hambatan-hambatan Nontarif
Semua bentuk diskriminasi terhadap impor selain bea impor
Kuantitatif
1. Kuota : Batas Jumlah yang dikenakan atas jenis impor tertentu
2. Hambatan ekspor sukarela (Voluntary Export Restraints-VER) : Kuota ekspor yang dikenakan oleh Negara pengkespor
3. Persetujuan Tertib Pemasaran : Persetujuan resmi antar negara pengekspor dan pengimpor yang mencantumkan kuota impor atau ekspor yang akan diperoleh tiap Negara untuk suatu barang
1. Partisipasi pemerintah langsung dalam perdagangan misalnya subsidi 2. Prosedur pabean dan administrative lainnya berupa diskriminasi kebijakan 3. Standar (kesehatan, keselamatan, dan mutu produk) yang rumit dan
diskriminatif.
Sumber :
- Ball,Donald et al.InternationalBusiness:The Challenge of global competition. - http://stiebanten.blogspot.com/2011/04/teori-ekonomi.html
- http://dansaragih.blogspot.com/2010/10/restriksi-perdagangan-internasional.html
D. Pembangunan Ekonomi
Kategori Berdasarkan Tingkat Pembangunan
1. Maju (Developed)
Klasifikasi ini diberikan untuk negara-negara yang maju secara teknologi. Misalnya negara-negara industri di Eropa Timur, Jepang, Australia, Selandia Baru, Kanada, Israel, dan Amerika Serikat.
2. Berkembang (Developing)
Klasifikasi ini diberikan untuk negara-negara dengan penghasilan lebih rendah yang secara teknologi kurang maju.
3. Negara-negara Industri (Newly Industrializing Country-NIC)
Klasifikasi ini diberikan kepada negara-nrgara yang oleh Bank Dunia dianggap memiliki (1) perekonomian yang tumbuh dengan cepat, dengan pendapatan yang sedang atau lebih tinggi, (2) memiliki konsentrasi investasi luar negeri yang berat, dan (3) mengekspor dalam jumlah besar barang-barang manufaktur, termasuk produk-produk berteknologi tinggi.
Negara-negara yang termasuk dalam kategori ini meliputi empat macan Asia (Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Korea Selatan), Brasil, Meksiko, dan tiga negara industri yang baru muncul: Malaysia, Thailand, dan Chili.
Klasifikasi ini diberikan kepada negara-negara industri baru yang memiliki pertumbuhan ekonomi lebih cepat atau hampir sama dengan perekonomian negara maju. Negara-negara yang termasuk dalam NIE meliputi empat macan Asia yaitu Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Korea Selatan.
Terdapat berbagai sistem klasifikasi yang berbeda lainnya dalam mengukur tingkat pembangunan suatu negara. Misalnya IMF menggabungkan NIE dengan negara-negara industri ke dalam perekonomian maju (advance economies). Adapula kategori perekonomian pasar yang sedang berkembang (emerging market economies) yang meliputi Chili, Malaysia, Cina, Thailand, dan Indonesia. Adapula kategori negara-negara transisi (transition countries) yang terdiri dari bekas negara-negara komunis.
PBB hanya menggunakan perekonomian maju dan berkembang (developed dan developing countries) dan merujuk kepada bekas bengsa-bengsa komunis sebagai Eropa Timur dan bekas Uni Sovyet. Ketika membicarakan bangsa-bangsa maju dan berkembang sebagai sebuah blok, para ahli ekonomi PBB sering kali menggunakan istilah masing-masing Utara dan Selatan.
Bank Dunia sebaliknya menggunakan klasifikasi berdasarkan GNI/kapita: 1. Pendapatan rendah ($755 atau kurang)
2. Pendapatan menengah rendah ($756 - $2.995) 3. Pendapatan menengah tinggi ($2.996 - $9.265) 4. Pendapatan tinggi ($2.266 atau lebih).
Bank Dunia dahulu menggunakan sistem klasifikasi berdasarkan Produk Nasional Bruto (Gross National Product-GNP)/kapita, tetapi pada tahun 2002 beralih ke Pendapatan Nasional Bruto (Gross National Income-GNI). PNB mengukur pendapatan yang dihasilkan oleh penduduk sebuah negara dari kegiatan internasional dan domestik. Pengukuran ini lebih disukai oleh organisasi internasional daripada Produk Domestik Bruto, yang mengukur pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan domestik oleh penduduk negara itu dan juga yang bukan penduduk.
PNB/Kapita sebagai Indikator
barang dan jasa yang tidak dijual di pasar. Selain itu, banyak barang dan jasa yang dibarter baik di negara berpendapatan rendah maupun negara berpendapatan tinggi. Transaksi-transaksi dalam bentuk ini disebut sebagai bagian dari perekonomian bawah tanah.
Perekonomian Bawah Tanah (Underground Economy)
Dalam perekonomian suatu negara terdapat bagian pendapatan nasional yang tidak terukur oleh statistik resmi baik karena silaporkan kurang atau tidak dilaporkan. Hal tersebut yang dinamakan perekonomian bawah tanah. Yang termasuk dalam perekonomian bawah tanah antara lain:
a. Produksi yang sah tetapi tidak diumumkan b. Produksi barang dan jasa ilegal
c. Pendapatan dalam bentuk natura (barter) yang tersembunyi Perekonomian bawah tanah akan semakin besar jika: a. Semakin tinggi tingkat pemajakan
b. Semakin berat birokrasi pemerintah
Perekonomian ini sangat bervariasi karena metodologi yang digunakan untuk menghimpunnya berbeda-beda. Selain itu, orang yang tidak mengumumkan pendapatan kemungkinan tidak akan mengakuinya dan dapat dituntut karena menghindari pajak. Selain pengurangan jumlah pajak yang dibayar kepada pemerintah, perekonomian bawah tanah bertanggung jawab atas semua bentuk distorsi data ekonomi.
Konversi Mata Uang
Permasalahan lain dalam memperkirakan PDB adalah ketika membandingkannya. PDB dalam mata uang lokal harus dikonversi ke suatu mata uang yang umum diterima dengan menggunakan kurs (biasanya dolar). Apabila nilai relatif kedua mata uang itu secara akurat mencerminkan daya beli konsumen, maka konversi dapat diterima. Namun Bank Dunia menganggap penggunaan kurs resmi untuk mengonversi mata uang nasional ke dalam dolar AS tidak mencerminkan daya beli mata uang domestik.
Misalnya, Thailand melaporkan kepada Bank Dunia bahwa PDB per kapitanya untuk tahun lalu adalah 46.370 bath/kapita. Bank Dunia harus menerjemahkan nilai tersebut ke dalam dolar Amerika.misalkan kurs yang berlaku 25,2 baht= $1 untuk mengonversi 46.370 bath mennjadi $1.840 (46.370/25,2). Seberapa baikkah angka tersebut dapat mengukur kesejahteraan rakyat Thailand? Apa yang dapat dikonsumsi oleh seorang warga Thaialand dengan 46.370 bath dibandingkan deengan apa yang dapat dikonsumsi oleh seorang warga Amerika dengan pendapatan per kapita $23.240 di
Dengan membandingkan daya beli mata uang, 850 bath/$107,75 = 7,9 bath/$1. Dengan menggunakan kurs 7,9 bath per dolar maka PNB per kapita Thailand sekarang adalah 46.370/7,9 = $5.870. Dengan kurs resmi 25,2 bath/$1, PNB Thailand adalah $1.840.
Tabel di atas memberikan ilustrasi bahwa pembandingan berdasarkan paritas daya beli menghasilkan nilai PNB/kapita yang lebih tinggi daripada yang biasa diberikan untuk negara-negara berkembang dan lebih rendah untuk negara-negara maju. Dalam mempertimbangkan daya beli, perbedaan antara PNB dari negara-negara berkembang dan maju lebih kecil daripada yang dipublikasikan pada umumnya.
Faktor Konversi Atlas
Ketidakpuasan atas metode paritas daya beli dan konversi mata uang berdasarkan nilai tukar umum membuat Bank Dunia mengadopsi metode Atlas unutk mengestimasi GNI per kapita. Faktor konversi Atlas adalah menghitung rata-rata nilai tukar saat ini dengan nilai tukar dua tahun sebelumnya yang sudah disesuaikan dengan rasio antara inflasi domestik dan inflasi negara G5 (Prancis, Jerman, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat). Pendapatan yang dihitung dengan metode ini umumnya lebih stabi dan peringkat negara menurut pendapatan lebih dipengaruhi kinerja ekonomi daripada fluktuasi nilai tukar.
Karakteristik umum negara berkembang antara lain: 1. PNB/kapita kurang dari $9.265 (kriteri Bank Dunia)
2. Distribusi pendapatan tidak merata, dengan kelas menengah yang sangat kecil
3. Dualisme teknologi – campuran perusahaan-perusahaan yang menggunakan teknologi mutakhir dan perusahaan-perusahaan yang memakai cara-cara sangat primitif
4. Dualisme regional – produktivitas dan oendapatan yang tinggi di beberapa wilayah dan pembangunan ekonomi yang sedikit di wilayah-wilayah yang lain
5. Sebagian besar (80-85%) penduduk memperoleh penghasilan dari sektor pertanian yang tidak produktif
6. Pengangguran tidak kentara atau setengah pengangguran – dua orang melakukan suatu pekerjaan yang dapat dilakukan oleh satu orang
7. Pertumbuhan penduduk yang tinggi (2,5-4% per tahun)
8. Tingkat buta huruf yang tinggi dan sarana pendidikan yang tidak mencukupi 9. Kekurangan gizi yang meluas dan banyak permasalahan di bidang kesehatan 10. Instabilitas politik
11. Sangat bergantung pada beberapa produk ekspor, umumnya produk-produk pertanian dan pertambangan
12. Topografi yang tidak ramah, seperti gurun pasir, pegunungan, dan hutan tropis 13. Tingkat tabungan yang rendah dan fasilitas perbankan yang tidak memadai
Dari karakteristik di atas dapat dilihat bahwa banyak sekali jurang yang ada di antara taraf hidup penduduk Dunia Ketiga dan bangsa-bangsa industri. Meskipun ahli ekonomi telah mempelajari dan mengemukakan teori tentang berbagai aspek pembangunan ekonomi selama lebih dari dua abad, perhatian mereka terhadap bangsa-bangsa miskin di dunia baru mulai setelah Perang Dunia Kedua.
Pendekatan Kebutuhan Manusia pada Pembangunan Ekonomi
semakin banyaknya adopsi definisi pembangunan ekonomi yang baru dan lebih komprehensif.
Pendekatan kebutuhan manusia mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai pengurangan kemiskinan, pengangguran, dan ketidakmerataan distribusi pendapatan. Batasan kemiskinan juga telah diperluas. Bukannya didefinisikan dalam artian pendapatan seperti lazimnya di negara-negara maju, pengurangan kemiskinan sekarang berarti berkurangnya buta huruf, menurunnya kekurangan gizi, berkurangnya penyakit dan kematian dini, serta peralihan dari produksi pertanian ke industri.
Karena penekanan yang meningkat atas kesejahteraan manusia dan kurangnya hubungan yang jelas antara pertumbuhan pendapatan dan kemajuan manusia, Program Pembangunan PBB telah merencanakan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index-HDI) berdasarkan tiga elemen esensial, antara lain:
1. Umur panjang dan hidup sehat
2. Kemampuan memperoleh pengetahuan
3. Akses kepada sumber-sumber yang diperlukan untuk standar hidup yang layak. Elemen-elemen tersebut diukur dengan:
1. Harapan hidup
2. Melek huruf orang dewasa
3. PDB/kapita, yang disesuaikan unutk paritas daya beli.
Tidak Ada Teori Umum yang Diterima
Masuknya variabel nonekonomi telah membuat mustahil usaha untuk merumuskan teori pembangunan umum yang dapat diterima secara luas. Daripada mengupayakan teori umum, para ahli ekonomi pembangunan kinimemusatkan perhatian pada bidang-bidang permasalahan spesifik, seperti pertumbuhan penduduk, distribusi pendapatan, pengangguran, alih teknologi, peranan pemerintah dalam proses tersebut, serta investasi dalam sumber daya manusia yang dihadapkan dengan modal fisik.
Investasi dalam Modal Manusia
Substitusi Impor versus Promosi Ekspor
Strategi lain yang diikuti oleh negara berkembang adalah substitusi impor. Meskipun negara-negara berkembang telah lama menganggap ekspor produk-produk primer (pertanian dan bahan baku) sebagai suatu tahap penting dari strategi pembangunan mereka, mereka belum secara agrasif mempromosikan barang-barang maufaktur. Namun mereka menekankan pada substitusi produk-produk yang dibuat di dalam negeri dengan barang-barang impor sebagai cara mengurangi ketergantungan mereka pada negara-negara maju.
Syangnya substitusi impor belum mengurangi ketergantungan mereka pada negara-negara maju sebanyak kompensasi impor yang telah diubah dari produk jadi menjadi setengah jadi dan modal. Namun serignkali negara berkembang tidak dapat memperoleh masukan ini karena kekurangn valuta asing yang dapat menghentikan seluruh industri dan mengakibatkan ribuan orang kehilangan pekerjaan, yang semakin meningkatkan ketergantungan pada negara-negara maju.
Permasalahan serius lainnya mengenai strategi substitusi impor berasal dari proteksi bagi industri lokal yang diberikan pemerintah dengan menetapkan pajak impor yang tinggi atas barang-barang yang dibuat di dalam negeri. Dengan demikian, para produsen lokal merasa tidak ada tekanan baik untuk menurunkan biaya atau meningkatkan kualitas produk mereka. Tanpa tekanan seperti itum mereka jarang menjadi kompetitif di pasar dunia sehingga tidak dapt melakukan ekspor. Selain itu, perusahaan domestik lainnya yang harus membeli barang-barang impor dari industri-industri yang mahal dan dilindungi ini juga tidak dapat mengkspor karena biayanya yang terlalu besar.
Masalah seperti ini telah banyak menyebabkan abnyak pemerintahan berubah dari strategi substitusi impor ke strategi mempromosikan ekspor barang-barang manufaktur.
TEORI PENGEMBANGAN (DEVELOPMENT THEORY)
Teori pengembangan bukan merupakan teori yang diterima secara umum. Daripada berkonsentrasi pada upaya untuk menciptakan sebuah teori umum, para ahli ekonomi lebih memusatkan perhatian pada :
Pertumbuhan populasi
Pengangguran
alih teknologi
peran pemerintah
investasi pada sumber daya manusia dengan cara meningkatkan pendidikan manusia. Contoh hal-hal yang menjadi pusat perhatian para ahli ekonomi :
Investasi dalam modal manusia (sumber daya manusia).
Teori pembangunan tidak hanya menitik beratkan pada akumulasi modal yang diperlukan tapi juga investasi pada edukasi sumber daya manusia sehingga akan menghasilkan SDM yang dapat memastikan bahwa modal yang tersedia dapat produktif.
Substitusi impor versus promosi ekspor.
Negara-negara berkembang berusaha mengurangi ketergantungannya pada negara-negara maju. Salah satu cara mengurangi ketergantungan itu adalah dengan membuat produk substitusi atas barang impor dari negara maju. Namun pada cara substitusi impor ini pun mengalami banyak kendala. Contoh kendalanya adalah penetapan pajak yang tinggi atas barang substitusi tersebut, kekurangan valuta asing, selain itu tidak ada tekanan pada industri dalam negeri untuk meningkatkan kualitasnya dan menurunkan harga karena terlalu dilindungi pemerintah.
E. TEORI INVESTASI INTERNASIONAL
TEORI KONTEMPORER PADA INVESTASI LANGSUNG LUAR NEGERI
Monopolistic Advantage Theory (Teori Keunggulan Monopolistik)
Berasal dari disertasi Stephen Hymer pada 1960 yang menyebutkan bahwa investasi langsung luarnegeri lebih banyak terjadi pada industri oligopolistik daripada pada industri persaingan hampir-sempurna.
Product and Factor Market Imperfections (Ketidaksempurnaan pasar produk
dan faktor produksi)
buatan lokal, jadi akan memberikan beberapa kendali harga jual dan keunggulan pada perusahaan tersebut atas perusahaan-perusahaan pribumi.
International Product Life Cycle (Siklus produk internasional)
Konsep IPLC ini menjelaskan investasi langsung luar negeri sebagai tahap alamiah dalam siklus hidup produk
Teori Lainnya
- Follow-the-leader theory / Teori Ikut Pemimpin
Teori ini dianggap defensif karena pesaing melakukan investasi untuk menghindari kehilangan pasar yang dilayani dengan ekspor ketika investor pertama memulai produksi lokal.
- Cross investment / investasi silang
Teori ini dikeluarkan oleh E.M. Graham. Graham mencatat kecenderungan investasi lintas oleh perusahaan Eropa dan Amerika dalam industri oligopolistik tertentu, yaitu, perusahaan Eropa cenderung untuk berinvestasi di Amerika Serikat ketika perusahaan-perusahaan Amerika telah pergi ke Eropa.
Dia mendalilkan bahwa investasi tersebut akan mengizinkan anak perusahaan Amerika dari perusahaan Eropa untuk membalas di pasar dalam negeri dari perusahaan AS jika anak perusahaan dari perusahaan-perusahaan Eropa menggunakan beberapa taktik agresif, seperti pemotongan harga, di pasar Eropa.
- Internalization theory/ teori internalisasi
Teori internalisasi adalah perluasan dari teori ketidaksempurnaan pasar. Dengan melakukan investasi dalam anak perusahaan asing daripada lisensi, perusahaan mampu untuk mengirim pengetahuan lintas batas tetap menjaga itu di dalam perusahaan, di mana ia mungkin menghasilkan lebih banyak laba atas investasi yang dilakukan untuk memproduksinya.
dalam menjelaskan investasi greenfield, tapi tidak dalam menjelaskan merger dan akuisisi
- Theory of International production / teori produksi internasional
Teori eklektik produksi internasional telah dikembangkan oleh John Dunning dalam seripublikasi (Dunning 1980, 1981, 1988, 1992). Ada tiga faktor yang menentukan kegiatan internasional dari perusahaan multinasional (MNEs). Ini adalah kepemilikan (O) keuntungan, lokasi (L) keuntungan, dan internalisasi (I) keuntungan. Dengan demikian, paradigma eklektik Dunning adalah juga dikenal sebagai paradigma OLI. The OLI paradigma menjelaskan luar untuk penanaman modal asing langsung (FDI).
Sanksi perdagangan US saat ini meliputi :
Balkans Burma Cuba Diamond Trading Iran
Iraq Liberia Sudan Syiria Terrorist
Zimbabwe Libya Korea utara Trafikking narkotika nonproliferation
Pedoman Pengawasan Eksport :
Elemen pengawasan :
1. Menolak pengawasan orang lain
2. Klasifikasi produk / pengawasan penjelasan lisensi 3. Pengawasan resiko diversi
4. Pengawasan terhadap pengguna akhir nuklir sensitif 5. Pengawasan terhadap pengguna akhir misil
6. Pengawasan terhadap pengguna akhir senjada kimia dan biologi 7. Pengawasan terhadap antiboikot
8. Pengawasan terhadap surat berinformasi / daftar entitas.
Department of Commerce Transshipment Country Export Control Initiative (TECI) (Inisiatif Pengawasan Ekspor Negara Transshipment)
TECI dirancang untuk memerangi transshipment terlarang, re-ekspor, dan pengalihan barang dan teknologi dalam perdagangan internasional dan memperkuat kepatuhan perdagangan dan ekspor sistem kontrol dari negara dan perusahaan yang merupakan "hub transshipment global." (Source : http://www.worldecr.com/wp-content/uploads/2012/07/USA.pdf)
PERTUMBUHAN GDP DUNIA (per 1 Januari 2013)
East Asia & Pacific 10,313,442 Europe & Central Asia 1,862,678 Latin America & Caribbean 5,348,266 Middle East & North Africa 1,539,946
South Asia 2,289,331
Sub-Saharan Africa 1,287,846
Produk domestik bruto (PDB) adalah salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur kondisi ekonomi suatu negara. PDB merupakan nilai dolar total semua barang dan jasa yang diproduksi selama periode waktu tertentu sebagai ukuran ekonomi. Biasanya, PDB dinyatakan sebagai perbandingkan dengan triwulan sebelumnya atau tahun sebelumnya.
KRISIS AIDS
AIDS (Acquired immune deficiency syndrome atau acquired immunodeficiency syndrome) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit ini mengubah sistem kekebalan tubuh, membuat orang lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit. Kerentanan ini memperburuk sebagai penyakit berkembang.
HIV dapat ditularkan dalam berbagai cara, seperti vagina, oral seks, anal seks, transfusi darah, dan jarum suntik yang terkontaminasi. Kedua virus dan penyakit sering disebut bersama sebagai HIV / AIDS. Orang dengan HIV memiliki apa yang disebut infeksi HIV. Akibatnya, beberapa kemudian akan berkembang menjadi AIDS. Pengembangan berbagai infeksi oportunistik pada pasien AIDS pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. Peta pandemic AIDS menurut usia penderita pada akhir tahun 2008 :
(source : www.cia.gov)
Pengaruh AIDS terhadap perkembangan ekonomi internasional : 1. Mengurangi pasokan tenaga kerja
HIV / AIDS pandemi memiliki dampak pada pasokan tenaga kerja, melalui peningkatan mortalitas dan morbiditas. Hal ini diperparah dengan hilangnya kemampuan di sektor-sektor kunci dari pasar tenaga kerja. Di Afrika Selatan, misalnya, sekitar 60% dari tenaga kerja pertambangan berusia antara 30 dan 44 tahun, dalam 15 tahun ini diperkirakan turun menjadi 10% (R Elias, University of Botswana, komunikasi pribadi, 2000) (gambar). Di sektor kesehatan Afrika Selatan 20% dari siswa perawat HIV positive.
2. Produktivitas tenaga kerja berkurang
19) per karyawan di sebuah perusahaan manufaktur mobil Kenya sampai $ 300 di Uganda Railway Corporation. Biaya ini mengurangi keuntungan. Pendapatan pemerintah juga menurun, karena pendapatan pajak jatuh, dan pemerintah ditekan untuk meningkatkan belanja mereka, untuk berurusan dengan meningkatnya prevalensi AIDS, sehingga menciptakan potensi krisis fiskal.
3. Mengurangi ekspor dan peningkatan impor
Produktivitas dalam negeri lebih rendah mengurangi ekspor, sedangkan impor barang kesehatan mahal mungkin meningkat. Penurunan pendapatan ekspor akan berat jika sektor-sektor ekonomi strategis yang terpengaruh, seperti pertambangan di Afrika Selatan. Akibatnya neraca pembayaran (antara pendapatan ekspor dan pengeluaran impor) akan berada di bawah tekanan pada saat yang sama bahwa anggaran pemerintah berada di bawah tekanan. Hal ini dapat menyebabkan default pada pembayaran utang dan membutuhkan bantuan ekonomi dari masyarakat internasional. (source : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1122139)
Pengukuran Antidumping
DAFTAR REFERENSI
Ball,Donald et al.2004.InternationalBusiness:The Challenge of Global Competition, 9th
ed. Jakarta:L Salemba Empat.
http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_internasional
http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Perdagangan_Internasional_9.1_(BAB_8)
http://web.ipb.ac.id/~economics/doc/jurnal1.pdf
http://kulpulan-materi.blogspot.com/2012/04/devaluasi-dan-revaluasi.html
http://stiebanten.blogspot.com/2011/04/teori-ekonomi.html
http://dansaragih.blogspot.com/2010/10/restriksi-perdagangan-internasional.html