KINERJA PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA PASCA
PRIVATISASI
Guna Memenuhi Tugas Analisis Kebijakan Publik
Disusun oleh Nama : Eka Rochaningrum NIM : 7111413072
Prodi : Ekonomi Pembangunan 2013
EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah adalah suatu badan usaha yang berbaju kekuasaan pemerintah, tetapi mempunyai fleksibilitas dan inisiatif sebagai perusahaan swasta.
Pemerintah Indonesia mendirikan BUMN ada dua tujuan utama, yaitu tujuan yang bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial. Tujuan yang bersifat ekonomi, BUMN dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai pihak-pihak tertentu. Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti perusahaan listrik, minyak dan gas bumi, sebagaimana diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945, seyogyanya dikuasai oleh BUMN.
Dengan adanya BUMN diharapkan dapat terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang berada di sekitar lokasi BUMN. Tujuan BUMN yang bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui penciptaan lapangan kerja serta upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal. Penciptaan lapangan kerja dicapai melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN. Upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal dapat dicapai dengan jalan mengikut-sertakan masyarakat sebagai mitra kerja dalam mendukung kelancaran proses kegiatan usaha. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memberdayakan usaha kecil, menengah dan koperasi yang berada di sekitar lokasi BUMN.
Namun dalam kurun waktu 50 tahun semenjak BUMN dibentuk, BUMN secara umum belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Perolehan laba yang dihasilkan masih sangat rendah. Sementara itu, saat ini Pemerintah Indonesia masih harus berjuang untuk melunasi pinjaman luar negeri yang disebabkan oleh krisis ekonomi tahun 1997 lalu. Dan salah satu upaya yang ditempuh pemerintah untuk dapat meningkatkan pendapatannya adalah dengan melakukan privatisasi BUMN seperti yang dilakukan atau ditempuh oleh PT. Telekomunikasi Indonesia.
perusahaan konsolidasi yang bergerak di bidang telepon tidak bergerak, seluler, aplikasi, konten, komunikasi data, property dan konstruksi, Telkom Group adalah salah satu dari perusahaan BUMN terbesar di Indonesia, yang memiliki sekitar Rp.139.104 miliar kapitalisasi pasar di BEI pada akhir tahun 2008. Telkom adalah pemain paling dominan dalam industri telekomunikasi.
PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) sendiri adalah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi. Perusahaan Telkom mengalami privatisasi secara go public ketika tahun 1995 tepatnya tanggal 14 November. Oleh karena itu, makalah ini akan mengulas mengenai Kinerja PT Telekomunikasi Indonesia pasca privatisasi
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka masalah yang akan dibahas di dalam makalah ini adalah :
1. Apa penyebab PT. Telekomunikasi Indonesia melakukan privatisasi? 2. Bagaimanakah dampak privatisasi PT. Telekomunikasi Indonesia? 3. Bagaimanakah kinerja PT. Telekomunikasi Indonesia pasca privatisasi? 1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penyebab PT. Telekomunikasi Indonesia melakukan privatisasi. 2. Untuk mengetahui dampak privatisasi PT. Telekomunikasi Indonesia.
3. Untuk mengetahui kinerja PT. Telekomunikasi Indonesia pasca privatisasi. 1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan ini diharapkan akan memberikan informasi dan manfaat berupa :
1. Manfaat Teoritis
Hasil penulisan ini juga diharapkan dapat menjadi acuan untuk evaluasi pada kesuksesan program privatisasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia. 2. Manfaat Praktik
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1 Pengertian Kinerja
Pada dasarnya pengukuran kinerja merupakan alat pengendalian bagi perusahaan. Pengukuran kinerja digunakan untuk melakukan perbaikan dan pengendalian atas kegiatan operasionalnya agar dapaty bersaing dengan perusahaan lain. Selain itu, melalui pengukuran kinerja perusahaan juga dapat memilih strategi yang akan dilaksanakan dalam mencapai tujuan perusahaan.
Pengertian kinerja dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: a. Sesuatu yang dicapai
b. Prestasi yang diperlihatkan c. Kemampuan kerja (tt. Peralatan) 2.1.2 Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah suatu badan usaha yang berbaju kekuasaan pemerintah, tetapi mempunyai fleksibilitas dan inisiatif sebagai perusahaan swasta. Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengalami beberapa kali perubahan. Secara berurutan diatur dalam peraturan sebagai berikut:
1. Peraturan IBW (Indische Bedrijven Wet) Stb. 1927 No. 419 diubah dengan Stb. 1936, 1954, dan Stb. 1955
2. Peraturan ICW (Indische Comtabilitieits Wet) Stb. 1925 No. 448 diubah dengan Lembaran Negara 1948 No. 334.
3. Undang-undang No. 19 Prp Tahun 1960 tentang Perusahaan Negara. 4. Undang-undang No. 9 tahun 1969 tentang Perusahaan Negara.
Dalam dunia bisnis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) disebut Public enterprise, sedangkan perusahaan yang dilakukan oleh swasta disebut private enterprise.
Public enterprise mengandung tiga makna yaitu: public ownership, public control, dan public purpose. Dari ketiga makna tersebut, public purpose menjadi inti dari konsep Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Public purpose dijabarkan sebagai keinginan pemerintah untuk mencapai cita-cita pembangunan (fungsi sosial politik dan fungsi ekonomis) bagi kesejahteraan bangsa dan negara. Sedangkan public ownership dan public control dinyatakan mengingat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan usaha milik rakyat yang dijalankan oleh pemerintah. Wajar apabila rakyat memiliki hak kontrol/pengawasan terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi alasan utama pengawasan rakyat atas pengelolaannya.
Pada tahun 1989 keluar sebuah deregulasi kebijakan yang dikenal dengan Paket Kebijakan Juni 1989 yang berisi penataan kembali perusahaan milik negara dengan menetapkan empat kategori sangat sehat, sehat, kurang sehat dan tidak sehat. Dengan kategori ini perusahan milik negara yang sangat sehat dan sehat kurang dari separoh jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada.
Akibatnya tuntutan reorganisasi, swastanisasi dan transparansi keuangan publik, mengalir deras dari masyarakat.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dianggap kurang sehat dan tidak sehat akan dilakukan privatisasi. Pivatisasi perusahaan diartikan sebagai tindakan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan, melalui perubahan status hukum, organisasi dan pemilikan saham. Privatisasi perusahaan dapat berbentuk kerjasama operasi atau kontrak manajemen dengan pihak ketiga, konsolidasi, merger, pemecahan badan usaha, penjaualan saham serta pembentukan perusahaan patungan (join Venture).
2.1.3 Pengertian Privatisasi
tercantum dalam Pasal 74 Undang-undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai berikut:
Memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero; meningkatkan efesiensi dan produktivitas perusahaan;
menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat; menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif;
menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global; menumbuhkan iklim usaha, ekonomi makro dan kapasitas pasar.
Beberapa pakar bahkan mendefinisi privatisasi dalam arti luas, seperti J.A. Kay dan D.J. Thomson sebagai “…means of changing relationship between the government and private sector”. Mereka mendefinisikan privatisasi sebagai cara untuk mengubah hubungan antara pemerintah dan sektor swasta. Sedangkan pengertian privatisasi dalam arti yang lebih sempit dikemukakan oleh C. Pas, B. Lowes, dan L. Davies yang mengertikan privatisasi sebagai denasionalisasi suatu industri, mengubahnya dari kepemilikan pemerintah menjadi kepemilikan swasta. Istilah privatisasi sering diartikan sebagai pemindahan kepemilikan industri dari pemerintah ke sektor swasta yang berimplikasi kepada dominasi kepemilikan saham akan berpindah ke pemegang saham swasta. Privatisasi adalah suatu terminologi yang mencakup perubahan hubungan antara pemerintah dengan sektor swasta, dimana perubahan yang paling signifikan adalah adanya disnasionalisasi penjualan kepemilikan publik.
Dari berbagai definisi di atas, dapat diperoleh pengertian bahwa privatisasi adalah pengalihan aset yang sebelumnya dikuasai oleh negara menjadi milik swasta. Pengertian ini sesuai dengan yang termaktub dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN, yaitu penjualan saham persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat.
2.1.4 Tujuan Privatisasi
organisasi), ekonomi dan politik. Dari segi keuangan, privatisasi ditujukan untuk meningkatkan penghasilan pemerintah terutama berkaitan dengan tingkat perpajakan dan pengeluaran publik; mendorong keuangan swasta untuk ditempatkan dalam investasi publik dalam skema infrastruktur utama; menghapus jasa-jasa dari kontrol keuangan sektor publik.
Tujuan privatisasi dari sisi pembenahan internal manajemen (jasa dan organisasi) yaitu:
1. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas;
2. Mengurangi peran negara dalam pembuatan keputusan;
3. Mendorong penetapan harga komersial, organisasi yang berorientasi pada keuntungan dan perilaku bisnis yang menguntungkan;
4. Meningkatkan pilihan bagi konsumen. Dari sisi ekonomi, tujuan privatisasi yaitu :
1. Memperluas kekuatan pasar dan meningkatkan persaingan;
2. Mengurangi ukuran sektor publik dan membuka pasar baru untuk modal swasta.
Tujuan dari segi politik yaitu :
1. Mengendalikan kekuatan asosiasi/perkumpulan bidang usaha bisnis tertentu dan memperbaiki pasar tenaga kerja agar lebih fleksibel;
2. Mendorong kepemilikan saham untuk individu dan karyawan serta memperluas kepemilikan kekayaan;
3. Memperoleh dukungan politik dengan memenuhi permintaan industri dan menciptakan kesempatan lebih banyak akumulasi modal spekulasi;
4. Meningkatkan kemandirian dan individualisme.
Privatisasi bukan semata-mata kebijakan final, namun merupakan suatu
2.1.5 Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Privatsasi perusahaan diartikan sebagai setiap tindakan untuk meningkatkan efesiensi dan produktivitas perusahaan, melalui perubahan status hukum, organisasi dan pemilikan saham.
Pengertian privatisasi menurut Pasal 1 Point (12) Undang-undang No. 19 Tahun 2003 yaitu privatisasi adalah penjualan saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat.
Menurut Mintzberg, privatisasi memiliki dua makna penting:
1. adanya political will dari pemerintah untuk menciptakan perusahaan bagi pembiayaan pembangunan nasional;
2. privatisasi tidak hanya menyangkut masalah perubahan dalam srtuktur formal organisasi (organizational redesign), tetapi juga meliputi aspek yang lebih luas. Seperti perubahan status hukum, organisasi dan srtuktur permodalan.
Dari sisi struktur formal organisasi, Mintzberg mengemukakan empat aspek desain privatisasi beserta parameter-parameternya, yaitu:
1. Design of positions, dengan parameter; job specialitzation, behavior formalization, trainning and indoctrimination;
2. Design of supersrtucture, dengan parameter unit grouping dan nit size;
3. Design of lateral linkage, dengan parameter planning and control system, dan liasion devices;
Sedangkan Obolensky menamakan privatisasi sebagai penataan kembali (rekayasa ulang). Yakni usaha yang dilakukan organisasi untuk mengubah proses dan kendali internal dari suatu hierarki vertikal fungsional yang tradisional menjadi srtuktur pipih horisontal, lintas fungsional yang berlandaskan kerjasama tim yang berfokus pada proses untuk membuat pelanggan nyaman. Intinya suatu organisasi berbentuk cerobong harus secepatnyan diubah menjadi berbentuk jaringan. Suatu tim-tim yang dapat terbentuk dan terurai lagi sementara orang bekerja di lebih dari satu tim dengan berbagai peran berbeda pada saat yang bersamaan.
Bennis dan Mische, rekayasa ulang adalah suatu proses yang mengubah budaya organisasi dan menciptakan proses, sistem, struktur dan cara baru untuk mengukur kinerja dan keberhasilan. Bagi Bennis dan Mische, privatisasi berarti suatu upaya mengubah kinerja organisasi yang terukur dari segi kinerja (performance) dan keberhasilan (output). Penilaian mereka atas privatisasi lebih menekankan pada pendekatan kuantitatif
Savage, menyatakan bahwa privatisasi merupakan manajemen yang berbasis kepada dynamic teaming, knowledge networking, cross border, atau out of board, vertual enterprise. Hal itu mengisyaratkan bahwa dalam pengelolaan organisasi pada zaman modern tidak dapat mengandalkan teknik-teknik konvensional seperti struktur mekanistik maupun jalur-jalur berbelit-belit. Organisasi harus diberlakukan secara luwes dan fleksibel, memperbesar pendelegasian wewenang, memacu peran dan tanggung jawab staf fungsional serta memiliki rentang kendali (spend of control) yang tidak terlalu panjang.
1. Menemukan dan menentukan kebutuhan akan sumber daya;
2. Menafsirkan dan menentukan kabutuhan terhadap perubahan lingkungan; 3. Memacu pencapaian hasil atau produk;
4. Peningkatan pengawasan dan koordinasi kegiatan internal.
Suwarno, mengingatkan adanya enam faktor lingkungan strategis yang harus diantisipasi oleh suatu organisasi agar dapat mempertahankan kinerja atau produktivitasnya. Keenam faktor tersebut adalah lingkungan politik, ekonomi, teknologi, sosial, hukum dan kependudukan. Adapun bentuk privatisasi perusahaan berupa: kerjasama operasi atau kontrak manejemen, konsolidasi, merger, pemecahan badan usaha, penjualan saham secara langsung, pembentukaan perusahaan patungan (joint venture).
Privatisasi terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menurut Hinsa, dapat ditempuh melalui 7 (tujuh) metode yang dapat dipilih yaitu:
1. Penawaran saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada umum (public offering of shares), baik secara parsial maupun secara penuh; 2. Penjualan saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada pihak
swasta (private sale of shares);
3. Penjualan aktiva Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada swasta (sale government or state owned enterprise assets);
4. Reorganisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi beberapa unit usaha (new private investment in an SOE);
5. Pembelian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) oleh manajemen atau karyawan (manajemen employee buy out);
6. Kontrak sewa (lease contract)
7. Kontrak manejemen (management contract).
Tujuh bentuk privatisasi ini yang akan digunakan dalam mengulas bentuk privatisasi pada PT Telekomunikasi Indonesia.
Hasil privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah meningkatnya kinerja perusahaan. Dengan meningkatnya kinerja berarti akan meubah budaya perusahaan dalam memberikan pelayanan pada publik
menjadi perusahaan yang efisien dan mempunyai nilai tambah sehingga akan berpengaruh terhadap kesejahteraan karyawan dan masyarakat.
BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan merupakan metode deskriptif, yang berarti dalam melakukan penulisan mengenai privatisasi harus dilihat permasalahan atau gap antara kenyataan dan kebijakan tertulisnya.
Penulis juga menggunakan pendekatan metode kualitatif yaitu penelitian atau penulisan yang menggunakan data kulaitatif dimana data tersebut berbentuk data, kalimat, skema, dan gambar.
3.2 Jenis Data yang Digunakan
Jenis data yang digunakan adalah statistic maupun tulisan yang digunakan sebagai informasi tambahan untuk memperkuat argumentasi dalam penulisan ini.
Penulisan ini menggunakan data sekunder dimana data berasal dari data-data yang sudah jadi atau dipublikasikan untuk umum oleh instansi atau lembaga yang mengumpulkan, negolah, dan menyajikan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA (TELKOM)
(Perum). Dalam Peraturan Pemerintah No.36 tahun 1974 dinyatakan bahwa Perum Telekomunikasi sebagai penyelenggara jasa Telekomunikasi untuk umum baik Telekomunikasi dalam negeri maupun luar negeri.
Perusahaan Umum (PERUM) Telekomunikasi merupakan penyelenggara jasa telekomunikasi untuk umum, baik hubungan telekomunikasi dalam negeri maupun luar negeri. Tentang hubungan telekomunikasi luar negeri saat itu juga diselenggarakan oleh PT. Indonesia Satelite Corporation (INDOSAT), yang masih berstatus perusahaan asing yakni dari American Cable and Radio Corp yaitu suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan peraturan negara bagian Delaware, USA. Seluruh saham PT Indosat dengan modal asing ini pada tahun 1980 dibeli oleh Indonesia dari American Cable and radio Corp. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 1274 berdasarkan PP No. 53 tahun 1980, Perumtel ditetapkan sebagai badan usaha yang berwenang menyelenggarakan telekomunikasi untuk umum dalam negeri dan Indosat ditetapkan sebagai badan usaha penyelenggara telekomunikasi urnurn untuk internasional. Memasuki Repelita V, pemerintah merasakan perlu percepatan pembangunan telekomunikasi sebagai infrastruktur yang diharapkan dapat memacu pembangunan sektor lainnya. Berdasarkan PP No. 15 tahUH 1991, maka Perum dialihkan menjadi Perusahaan Perseroan (persero). Mengantisipasi era globalisasi, seperti diterapkannya perdagangari bebas baik internasional maupun regional, maka PT Telkom pada tahun 1995 melaksanakan 3 program besar.
Program-program tersebut adalah restrukturisasi internal, penerapan KSO dan persiapan Go Public Internasional (International Public Offering).
Kronologi sejarah PT Telkom dijelaskan sebagai berikut :
1. 1882 sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap dibentuk pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
2. 1906 Pemerintah Kolonial Belanda membentuk sebuah jawatan yang mengatur layanan pos dan telekomunikasi yang diberi nama Jawatan Pos, Telegrap dan (Post, Telegraph en Telephone Dienst/PTT).
3. 1945 Proklamasi kemerdekaan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat, lepas dari pemerintahan Jepang.
5. 1965 PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi). 6. 1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum
Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.
7. 1980 PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) didirikan untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel. 8. 1989 Undang-undang No. 3 tahun 1989 tentang Telekomunikasi, tentang peran
serta swasta dalam penyelenggaraan Telekomunikasi.
9. 1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan PP no. 25 tahun 1991.
10. 1995 Penawaran Umum perdana saham TELKOM (Initial Public Offering) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. sejak itu saham TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES), New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga diperdagangkan tanpa pencatatan (Public Offering Without Listing) di Tokyo Stock Exchange.
11. 1996 Kerja sama Operasi (KSO) mulai diimplementasikan pada 1 Januari 1996 di wilayah Divisi Regional I Sumatra dengan mitra PT Pramindo Ikat Nusantara (Pramindo); Divisi Regional III Jawa Barat dan Banten-dengan mitra PT Aria West International (AriaWest); Divisi Regional IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta - dengan mitra PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI); Divisi Regional VI 5 Kalimantan dengan mitra PT Dayamitra Telekomunikasi (Dayamitra); dan Divisi Regional VII Kawasan Timur Indonesia-dengan mitra PT Bukaka Singtel.
12. 1999 Undang-undang nomor 36/ 1999, tentang penghapusan monopoli penyelenggaraan telekomunikasi.
menguasai 72,72% saham Telkomsel. TELKOM membeli 90,32% saham Dayamitra dan mengkonsolidasikan laporan keuangan Dayamitra ke dalam laporan keuangan TELKOM.
14. 2002 TELKOM membeli seluruh saham Pramindo melalui 3 tahap, yaitu 30% saham pada saat ditandatanganinya perjanjian jual-beli pada tanggal 15 Agustus 2002, 15% pada tanggal 30 September 2003 dan sisa 55% saham pada tanggal 31 Desember 2004. TELKOM menjual 12,72% saham Telkomsel kepada Singapore Telecom, dan dengan demikian TELKOM memiliki 65% saham Telkomsel. Sejak Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.
15. Sejak 1 Juli 1995 PT. Telkom telah menghapus struktur wilayah usaha telekomunikasi (WTTEL) dan secara de facto meresmikan dimulainya era Divisi Network. Badan Usaha utama dikelola oleh 7 divisi regional dan 1 divisi network. Divisi regional menyelenggarakan jasa 6 telekomunikasi di wilayah masing masing dan divisi network menyelenggarakan jasa telekomunikasi jarak jauh luar negeri melalui pengoperasian jaringan transmisi jalur utama nasional. Daerah regional. PT. Telkom mencakup wilayah-wilayah yang dibagi sebagai berikut :
1. Divisi Regional I, Sumatera.
2. Divisi Regional II, Jakarta dan sekitarnya. 3. Divisi Regional II, Jakarta dan sekitarnya. 4. Divisi Regional III, Jawa Barat.
5. Divisi Regional IV, Jawa Tengah dan Yogyakarta. 6. Divisi Regional V, Jawa Timur.
7. Divisi Regional VI, Kalimantan.
8. Divisi Regional VII, Kawasan timur Indonesia (Sulawesi, Bali, Nusa. 9. Tenggara, Maluku dan Papua).
Berdasarkan organisasi divisional ini, maka kantor pusat diubah menjadi pusat biaya. Berlakunya kebijaksanaan dekonsentrasi menjadikan jumlah SDM menjadi lebih sedikit.
4.2 PROFIL PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM) adalah penyedia layanan telekomunikasi dan jaringan terbesar di Indonesia. TELKOM menyediakan layanan InfoComm, telepon tidak bergerak kabel (fixed wireline) dan telepon tidak bergerak nirkabel (fixed wireless), layanan telepon seluler, data dan internet, serta jaringan dan interkoneksi, baik secara langsung maupun melalui anak perusahaan.
Sampai dengan 31 Desember 2009, jumlah pelanggan TELKOM telah tumbuh sebesar 21,2% atau menjadi 105,1 juta pelanggan. TELKOM melayani 8,4 juta pelanggan telepon tidak bergerak kabel, 15,1 juta pelanggan telepon tidak bergerak nirkabel, dan 81,6 juta pelanggan telepon seluler.
Sampai dengan 31 Desember 2009, sebagian besar dari saham biasa TELKOM dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia dan sisanya dimiliki oleh pemegang saham publik. Saham TELKOM diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (“BEI”), New York Stock Exchange (“NYSE”), London Stock Exchange (“LSE”) dan Tokyo Stock Exchange (tanpa tercatat). Harga saham TELKOM di BEI pada akhir Desember 2009 adalah Rp9.450 dengan nilai kapitalisasi pasar saham TELKOM pada akhir tahun 2009 mencapai Rp190.512 miliar atau 9,43% dari kapitalisasi pasar BEI.
Untuk menghadapi tantangan dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan mobilitas dan konektivitas tanpa putus, TELKOM telah memperluas portofolio bisnisnya yang mencakup telekomunikasi, informasi, media dan edutainment (TIME). Dengan meningkatkan infrastruktur, memperluas teknologi Next Generation Network (NGN) dan memobilisasi sinergi di seluruh jajaran TELKOM Group, TELKOM dapat mewujudkan dan memberdayakan pelanggan ritel dan korporasi dengan memberikan kualitas, kecepatan, kehandalan dan layanan pelanggan yang lebih baik.
Prestasi keuangan tersebut didukung oleh kinerja operasional Telkom yang juga solid. Saat ini kami melayani 105,2 juta pelanggan, dari bisnis seluler, telepon tidak bergerak dan telepon tidak bergerak nirkabel. jumlah tersebut merupakan pencapaian 106% terhadap target perusahaan. Penambahan pelanggan kami dipimpin oleh bisnis seluler yang bertambah 16,34 juta pelanggan atau pencapaian 162% terhadap target perusahaan tahun 2009.
Operator Telekomunikasi, Informasi, Media dan Edutaintment (TIME)
Bisnis TIME di perusahaan ini memiliki rentang dari penyelenggaraan Telekomunikasi berupa telepon (fixed wireline, fixed wireless dan seluler), data dan internet, jasa jaringan dan interkoneksi, serta content/application. Usaha tersebut dijalankan secara terfokus melalui induk maupun anak perusahaan. Sampai 31 Desember 2009, jumlah pelanggan perusahaan tumbuh sebesar 21,2% atau menjadi total 105,1 juta pelanggan dibandingkan setahun sebelumnya. Untuk telepon saja, TELKOM melayani 8,4 juta pelanggan telepon tetap, 15,1 juta pelanggan telepon tetap nirkabel, dan 81,6 juta pelanggan telepon seluler.
Posisi 31 Desember 2009, saham biasa TELKOM dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia (52,47%) dan sisanya dimiliki oleh pemegang saham publik (47,53 %). Saham TELKOM diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (“BEI”), New York Stock Exchange (“NYSE”), London Stock Exchange (“LSE”) dan Tokyo Stock Exchange (tanpa tercatat). Harga saham TELKOM di BEI pada akhir Desember 2009 adalah Rp 9.450 dengan nilai kapitalisasi pasar saham TELKOM pada akhir tahun 2009 mencapai Rp190,51 trilliun atau 9,43% dari kapitalisasi pasar BEI.
Sasaran strategis perusahaan adalah meningkatkan infrastruktur, memperluas teknologi Next Generation Network (NGN) dan melakukan sinergi di seluruh jajaran TELKOM Group, sehingga pelanggan baik ritel terlebih korporasi dapat menikmati kualitas, kecepatan, kehandalan dan layanan pelanggan yang lebih baik.
(“TELKOMsel”, 65% dimiliki TELKOM), PT Multimedia Nusantara (“Metra”, 100% dimiliki TELKOM), PT Infomedia Nusantara (“Infomedia”, 100%-dimiliki TELKOM, melalui 49% kepemilikan Metra), PT Indonusa Telemedia (“Indonusa”, 100% dimiliki TELKOM, melalui 1,25% kepemilikan Metra), PT Graha Sarana Duta (“GSD”, 99,99% dimiliki TELKOM), dan PT Napsindo Primatel Internasional (“Napsindo”, 60% dimiliki TELKOM). Selain itu untuk lebih memfokuskan bisnis, Metra juga telah memiliki anak usaha lain diataranya adalah Sigma dan Finnet. (Portfolio perusahaan dapat dilihat dibawah).
Bisnis Utama : Telekomunikasi International
PT. Telekomunikasi Indonesia International (“TII”) is the arm overseeing and managing the overseas business of PT. Telekomunikasi Indonesia. Tbk (Telkom) and it is driven to deliver value to its stakeholders in a highly competitive industry environment.
TII as the wholly subsidiary of Telkom with its core business in international and overseas telecommunications business supports the development of the telecommunications business in the Asia Pacific and beyond. As the member of Telkom Group, TII will be fully supported by all members of Telkom Group in establishing and dealing with the international business. Serving mainly the corporate market, TII is committed to bringing the best services of global communications to customers in the Asia Pacific and beyond. With significant operation in Indonesia and Singapore, the company provides a comprehensive portfolio of services that include voice and data and internet services. It has driven competition as the challenger brand and led the way in technological innovations and breakthroughs.
TII represents Telkom in AAG (Asia America Gateway) Cable Network Consortium which highly developed international network provides direct connections from Indonesia to more than 100 countries, as well as second-to-third country connectivity.
Gbps per WL so that the SJC submarine cable will have design capacity 17 Terabyte per second (Tbps) able to upgrade up to 23 Tbps.
TII business portfolio consists of three (3) major business groups as follows : 1. International Telecommunication Services
2. Investment and Strategic Partnership 3. Project Management and Consultancy
This business activity deals with investments and strategic alliances with international and information and communication companies in the form of equity participation, joint management, joint operations and financing. In 2009 TII’s revenue grew by 51% from the dividends of its 31,500,000 shares (17.01%) in SCICOM (MSC) Berhad, it invested USD 13.5 Million was invested in a Cable Landing Station for TELIN Singapore, and increased capital by USD 12.5 Million. Since February 2008 TII acquired a 9.8% share in SCICOM (MSC) Berhad, based in Malaysia, and in June 18, 2010 increased its holdings to 29.85%.
Project Management and Consultancy
TII provides a number of international Infocom companies with consultancy services, access to Infocom professionals and Project Management services.
Bisnis Utama : MITRATEL : Tower & Infrastructure Provider
PT. Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) didirikan pada tahun 1995 berawal dari perusahaan mitra KSO di wilayah Kalimantan dengan nama PT. Dayamitra Malindo yang sahamnya dimiliki oleh beberapa perusahaan swasta nasional dan swasta asing. Dalam perjalanannya kepemilikan saham telah mengalami beberapa kali perubahan dan akhirnya pada tanggal 3 Desember 2004 saham Mitratel 100% dimiliki PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Barat, Banten, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara ,Sumatra Utara, Sumatra Barat,Batam, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara
Dengan memperhatikan perkembangan teknologi dan dinamika industri telekomunikasi, Mitratel akan terus mengembangkan layanannya bukan hanya pada penyediaan menara telekomunikasi macro namun sudah mulai dijajaki penyediaan menara telekomunikasi microcell serta inbuilding coverage solution multi operator (indoor antennapico). Kedepannya Mitratel akan masuk pula dalam bisnis penyediaan BTS dan genset sebagai solusi alternatif bagi site-site yang belum dapat dilayani oleh sambungan daya PLN setempat.
Dalam upaya mempercepat tercapainya sasaran perusahaan untuk menjadi pemimpin dan penyedia jasa infra struktur telekomunikasi terbesar maka disamping melakukan pembelian menara telekomunikasi melalui proses akuisisi.
Bisnis Utama : PRAMINDO : Kerjasama Operasi
PT Pramindo Ikat Nusantara (”PRAMINDO”) didirikan dengan Akte Notaris Benny Kristianto, S.H., Nomor : 135 tanggal 17 Oktober 1995, berkedudukan di Jakarta.
PRAMINDO pada awalnya didirikan dalam rangka untuk menyelenggarakan Kerja Sama Operasi Telekomunikasi di wilayah Sumatera antara PRAMINDO dengan PT Telekomunikasi Indonesia (”TELKOM”) yang dikenal sebagai Kerja Sama Operasi (KSO) Repelita VI, untuk penyediaan fasilitas telekomunikasi di wilayah Sumatera (disebut Unit KSO I).
Bisnis Utama : TELKOMSEL :Teknologi GSM
Telkomsel merupakan operator selular terkemuka di Indonesia yang dimiliki PT Telkom dengan kepemilikan saham sebesar 65 persen dan SingTel sebesar 35 persen.
Hingga Juni 2010, Telkomsel dipercaya melayani 88,3 juta pelanggan, menjadikan Telkomsel sebagai pemimpin pasar di industri telekomunikasi selular dengan pangsa pasar sekitar 50 persen.
Komitmen kuat Telkomsel dalam menghadirkan layanan mobile lifestyle yang semakin berkualitas sangat jelas terlihat dengan secara konsisten mengimplementasikan roadmap teknologi selular terkini, yakni 3G, HSDPA, HSPA, HSPA+, serta Long Term Evolution. Tahun ini Telkomsel mengembangkan jaringan mobile broadband dengan mencanangkan 24 kota besar sebagai broadband city.
Sebagai pemimpin di industri telekomunikasi selular, Telkomsel telah menggelar 34.000 Base Transceiver Station termasuk lebih dari 6.000 Node B yang menjangkau 95 persen wilayah populasi Indonesia. Seiring diselesaikannya program Universal Service Obligation yang diamanahkan pemerintah untuk menggelar jaringan di 25.000 desa, maka layanan Telkomsel menjangkau hampir 100 persen wilayah populasi Indonesia.
Bahkan kenyamanan berkomunikasi pelanggan Telkomsel yang sedang berada di luar negeri tetap terjamin berkat dukungan 403 mitra operator international roaming dan 300 mitra operator data roaming di lebih dari 200 negara di seluruh belahan dunia.
Bisnis Utama : METRA : Content & Application
PT Multimedia Nusantara (METRA), sejak tahun 2003, mayoritas sahamnya (99,99%) dimiliki oleh PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM). METRA diposisikan oleh TELKOM sebagai Strategic Investment Company dengan tujuan untuk memperkuat pilar bisnis new wave TELKOM yang fokus pada industri Informasi, Media dan Edutaintment (IME). Posisi ini menjadikan METRA menerapkan strategi bertumbuh dengan cara Capture dan Nurture. Strategi Capture dilakukan untuk mempersingkat waktu penyediaan portofolio dan strategi Nurture dilakukan dengan pertimbangan bahwa tidak ada perusahaan sejenis di pasar dan METRA Group memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis tersebut.
Portofolio bisnis yang dikelola METRA Group sampai dengan tahun 2009 terdiri dari: Satellite Data Access Services, e-Payment, Application Services, IT Managed Service, System Integration, Software Development, e-Commerce, Content, Contact Center, Directory Services, Pay Televisi dan akan terus bertumbuh seiring dengan aksi korporasi yang dilakukan METRA.
dikelola melalui Strategic Business Unit, yaitu METRASAT dan METRASYS. METRA menambah portofolio Integration Services dan SAP Consulting dengan Lisensi dari SAP AG sebagai SAP Service Partner yang dikelola oleh METRASYS.
Sejak awal tahun 2009, METRA melakukan transformasi pengorganisasian portofolio perusahaan melalui proses yang berkesinambungan. Dengan milestone pencapaian tahunan, di mulai tahun 2009 sebagai tahap awal organisasi holding yang fokus pada penyusunan tata kelola perusahaan, pengawakan organisasi dan menjalankan fungsi- fungsi penilaian anak perusahaan dan Strategic Business Unit. Tahun 2010 difokuskan pada realisasi sinergi go to market allignment dan integrasi layanan didalam cakupan TELKOM Group. Tahun 2011 dan seterusnya direncanakan bahwa METRA telah sampai pada posisi Strategic Guidance Holding Company untuk pengelolaan anak perusahaan dan Strategic Business Unit.
Bisnis Utama : INFOMEDIA Information & Communication Services Solution
Tahun 1975 merupakan awal perjalanan usaha PT Infomedia Nusantara menjadi perusahaan pertama penyedia layanan informasi telepon di Indonesia. Di bawah subdivisi Elnusa GTDI dari anak perusahaan Pertamina, Infomedia telah menerbitkan Buku Petunjuk Telepon Telkom Yellow Pages.
Perkembangan yang tercatat selanjutnya adalah berdirinya PT Elnusa Yellow Pages di tahun 1984 yang berubah nama di tahun 1995 menjadi PT Infomedia Nusantara pada saat PT Telkom Tbk menanamkan investasi. Untuk mendukung implementasi Good Coorporate Governance dalam setiap aspek kegiatan perusahaan, Infomedia telah mengeluarkan kebijakan pedoman tata kelola perusahaan di tahun 2008.
Pada tanggal 30 Juni 2009 PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) melalui PT Multimedia Nusantara (Metra), anak perusahaan yang 99,99% milik Telkom (selanjutnya disebut Telkom Group) telah menandatangani Shares Sales & Purchase Agreement (SPA) untuk membeli 49% saham PT Infomedia Nusantara (Infomedia) milik PT Elnusa Tbk (Elnusa), sehingga 100% saham PT Infomedia Nusantara telah dimiliki oleh Telkom Group.
opportunity dalam pengembangan bisnis kedepan melalui transformasi bisnis dari 3 Pilar Bisnis ( Layanan Direktori, Layanan Contact Center dan Layanan Konten ) menuju Layanan Outsourcing atau Business Process Outsourcing ( BPO ) dan Layanan Konten Digital atau Digital Rich Content ( DRC ).
Saat ini Infomedia telah membagi bisnis Layanan Outsourcing (BPO) kedepannya dalam empat kelompok berdasarkan basis layanan yaitu: Contact Center Services, HR Services, IT Services dan Direct Mail.
Sedangkan pengembangan bisnis Layanan Konten Digital (DRC) dibagi dalam 3 bagian, yaitu; printed (Yellow Pages, White Pages & Special Directory ) , mobile (mobile application, SMS) dan online (online ad, e-commerce, membership).
Bisnis Utama : TELKOM VISION : TV Berbayar
Pada tanggal 07 Mei 1997, 4 (empat) perusahaan yaitu PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (35%), PT. Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) (25%), PT. Megacell Media (20%) dan PT. Datakom Asia (20%) sepakat mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa Televisi berbayar dan Internet dengan nama PT. Indonusa Telemedia (Telkomvision).
Perseroan dalam perjalannya mengalami perubahan kepemilikan saham dan terakhir pada bulan Juni 2008 terjadi perubahan kepemilikan saham dari Datakom Asia kepada PT. Multimedia Nusantara (METRA), sehingga Perseroan dimiliki 98,75% oleh PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dan 1,25% dimiliki oleh PT. Multimedia Nusantara (METRA) langkah strategis ini selaras dengan tujuan TELKOMGroup dalam mengembangkan lini bisnisnya dengan konsep TIME “Telekomunikasi, Informasi, Media dan Edutainment”.
Sesuai tag line Perseroan “ ini baru beda”, dalam pengelolaan bisnisnya Telkomvision merupakan operator Pay TV pertama di Indonesia yang meluncurkan produk DTH Prepaid (Pay TV Satellite Prepaid), dimana pelanggan dapat melakukan pembelian voucher sesuai dengan pilihan content dengan harga yang sangat terjangkau dan bebas mengisi voucher apa saja dan kapan saja
komposisi terbesar adalah berusia produktif. Dalam rangka meningkatkan kompetensi karyawan, perseroan telah membuat program pengembangan SDM dalam berbagai bentuk untuk menstimulus peningkatan kinerja dan inovasi serta kreativitas guna memajukan perseroan.
Bisnis Utama : GRAHA SARANA DUTA Properti
PT. Graha Sarana Duta (GSD) merupakan sebuah perusahaan properti terpadu yang dimiliki oleh PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TELKOM) pada tahun 2001, dengan porsi kepemilikan saham Telkom sebesar 99,9%.
Saat ini PT. GSD memiliki cakupan wilayah kerja di seluruh Indonesia dan melakukan pengelolaan terhadap gedung-gedung perusahaan TelkomGroup seperti gedung PT. Telekomunikasi Indonesia, PT. Telkomsel, PT. Infomedia dan PT. Metra. Selain itu PT. GSD juga mengelola 106 lokasi gedung lain yang dimiliki oleh berbagai bidang usaha di luar Telkomgroup seperti perkantoran, apartemen, mall, dan bandara baik secara keseluruhan maupun secara parsial.
Dalam menjalankan bisnisnya PT. Graha Sarana Duta memiliki tiga portofolio bisnis yaitu:
a. Pengelolaan Property b. Pengelolaan Gedung (BM) c. Penyewaan Gedung
d. PSM (Property Services Management)
e. Operasional Lainnya (Security, BTS, Mess & Billboard) f. Project Management
g. Desain & Pembangunan Interior h. Remote Control
i. Space Management j. Pengelolaan BBM
k. Trading (termasuk dana talangan listrik) l. Event Organizer
m. Pengembangan Property
n. Penjualan Perumahan (Real Estate)
o. Pembangunan Gedung/Construction Project
PT Sigma Cipta Caraka (SIGMA) merupakan perusahaan penyedia layanan pendukung bisnis berbasis teknologi informasi dan komunikasi terdepan yang sudah berkiprah lebih dari 20 tahun di Indonesia.
SIGMA menawarkan layanan berbasis IT yang bervariasi, mulai dari layanan konsultan, produk software, aplikasi, layanan pengembangan software serta operasi pusat data diperbankan (baik yang berbasis konvensional maupun sharia), sector keuangan, telekomunikasi, manufaktur serta distribusi.
Bisnis Utama : FINNET Sistem Pembayaran Elektronik
PT. Finnet Indonesia (FINANET) adalah anak perusahaan Telkom yang bergerak di bidang sistem pembayaran elektronik. FINNAET didirikan oleh TELKOM dalam bentuk Joint Venture Company antara anak perusahaan TELKOM yaitu PT. Multimedia Nusantara (METRA) dengan PT. Mekar Prana Indah (MPI) yang sahamnya dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (YKBI) Adapun komposisi kepemilikan antara METRA dan MPI adalah masing-masing 60% dan 40%
INISIATIF STRATEGIS
1. Mengoptimalkan layanan jaringan telepon tidak bergerak kabel / fixed wireline (“FWL”).
2. Memperkuat & mengembangkan bisnis jaringan tidak bergerak nirkabel / fixed wireless access ( “FWA”) dan mengelola portofolio nirkabel.
3. Melakukan investasi pada jaringan pita lebar (broadband).
4. Mengintegrasikan solusi enterprise dan berinvestasi di bisniswholesale. 5. Mengintegrasikan Next Generation Network (“NGN”).
6. Mengembangkan layanan teknologi informasi. 7. Mengembangkan bisnis media dan edutainment. 8. Merampingkan portofolio anak perusahaan.
Logo Perusahaan
Tanggal 23 Oktober 2009 yang lalu PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA merayakan ulang tahunnya yang ke 153 tahun. Sekaligus pada tanggal tersebut dilaksanakan soft lounching suatu transpormasi dan perubahan landscape bisnis Telkom. Suatu perubahan landscape bisnis dari bisnis Informasi dan Komunikasi menjadi Telecommunication, Information, Media and Education (TIME). Hal ini 8 dikukuhkan dengan poisoning Telkom yang baru yaitu life confident dengan tagline-nya The World In your Hand.
Sebuah Logo akan menjadi suatu Brand Images dimanadari suatu perusahaan. Sudah banyak perusahaan-perusahaan yang melakukan tranformasi visi dan misi melalui Logo. Contonhya Pertamina dan Telkom.
Logo juga bersifat persepsi kuat terhadap perusahaan. Adapun Logo dan arti dari simbol-simbol tersebut yaitu :
Logo PT Telkom Indonesia, Tbk.
VISI
Menjadi perusahaan yang unggul dalam penyelenggaraan Telecommunication, Information, Media & Edutainment (TIME) di kawasan regional.
MISI
Menyediakan layanan TIME yang berkualitas tinggi dengan harga yang kompetitif
Sumber : www.telkom.co.id
1) Lingkaran sebagai simbol dari kelengkapan produk dan layanan dalam portofolio bisnis baru Telkom yaitu TIME (Telecommunication, Information, Media & Edutainment). Expertise.
2) Tangan yang meraih ke luar. Simbol ini mencerminkan pertumbuhan dan ekspansi ke luar. Empowering.
3) Jemari tangan. Simbol ini memaknai sebuah kecermatan, perhatian, serta kepercayaan dan hubungan yang erat. Assured.
4) Kombinasi tangan dan lingkaran. Simbol dari matahari terbit yang maknanya adalah perubahan dan awal yang baru. Progressive.
5) Telapak tangan yang mencerminkan kehidupan untuk menggapai masa depan. Heart.
Selain itu warna-warna yang digunakan :
1. Expert Blue pada teks Telkom melambangkan keahlian dan pengalaman yang tinggi.
2. Vital Yellow pada telapak tangan mencerminkan suatu yang atraktif, hangat, dan dinamis.
3. Infinite sky blue pada teks Indonesia dan lingkaran bawah mencerminkan inovasi dan peluang yang tak berhingga untuk masa depan.
Perubahan bisnis Telkom menyeluruh dan terintegrasi yang melibatkan empat aspek dasar perusahaan. Yakni, tranformasi bisnis, infrastruktur, system dan model operasi, serta transformasi dumber daya manusia, yang penting dalam melakukan tranformasi bisnis ini yang tetap menjadi patokan adalah pelanggan.
Sumber : www.telkom.co.id
4.3 BADAN HUKUM PERUSAHAAN
sebanyak saham yang dimilikinya. Karena modalnya terdiri dari sahamsaham yang dapat diperjual-belikan, perubahan kepemilikan perusahaan dapat dilakukan tanpa perlu membubarkan perusahaan. Perseroan terbatas merupakan badan usaha dan besarnya modal perseroan tercantum dalam anggaran dasar.
Kekayaan perusahaan terpisah dari kekayaan pribadi pemilik perusahaan sehingga memiliki harta kekayaan sendiri. Setiap orang dapat memiliki lebih dari satu saham yang menjadi bukti pemilikan perusahaan.
Pemilik saham mempunyai tanggung jawab yang terbatas, yaitu sebanyak saham yang dimiliki. Apabila utang perusahaan melebihi kekayaan perusahaan, maka kelebihan utang tersebut tidak menjadi tanggung jawab para pemegang saham. Apabila perusahaan mendapat keuntungan maka keuntungan tersebut dibagikan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Pemilik saham akan memperoleh bagian keuntungan yang disebut dividen yang besarnya tergantung pada besar-kecilnya keuntungan yang diperoleh perseroan terbatas.
Selain berasal dari saham, modal PT dapat pula berasal dari obligasi. Keuntungan yang diperoleh para pemilik obligasi adalah mereka mendapatkan bunga tetap tanpa menghiraukan untung atau ruginya perseroan terbatas tersebut.
Komposisi Pemegang Saham :
1 lembar saham Seri A Dwiwarna dan 79.999.999.999 lembar saham Seri B (saham biasa)
Modal Dasar Perseroan :
Komposisi Pemegang Saham TELKOM pada tanggal 31 Desember 2009
Saham Seri A
Dwiwarna Saham Seri B (SahamBiasa) %
0 Pemerintah Republik Indonesia (Pemerintah) memiliki satu lembar saham Seri A
Dwiwarna, yang memiliki hak suara istimewa. Hak-hak material dan batasanbatasan yang terdapat pada saham biasa, juga berlaku pada saham Dwiwarna kecuali
Pemerintah tidak dapat mengalihkan saham Dwiwarna, memiliki hak veto berkaitan dengan pengangkatan dan pemberhentian Direksi dan Dewan Komisaris, penerbitan saham baru dan perubahan Anggaran Dasar Perusahaan, termasuk perubahan untuk menggabungkan atau membubarkan perusahaan sebelum masa berlakunya berakhir, menambah atau mengurangi modal dasar dan mengurangi saham yang dipesan (subscribed capital).
Pemegang Saham TELKOM dengan kepemilikan lebih dari 5% dan Jumlah Saham yang Dimiliki Dewan Komisaris dan Direksi, sampai dengan 31 Desember 2009
Jenis Saham Identitas Orang atau
Bank 252.364
-Perseroan Terbatas 310.629.646 1,58
Badan Usaha Lainnya 4.320
-Danareksa 32.000
-Reksadana 446.830.660 2,27
Perorangan Asing 4.871.796 0,02
Badan Usaha Asing 8.004.606.864 40,70
Total 9.348.930.956 47,53
Dimuat pada tanggal 26 April, 2010
Sumber: Laporan Tahunan TELKOM 2009 (disampaikan kepada Bapemam-LK pada tanggal 8 April 2010)
4.4 LATAR BELAKANG PT TELKOM, Tbk. MELAKUKAN PRIVATISASI
Berjalannya waktu dunia mengalami perkembangan di dalam bidang teknologi telekomunikasi mengalami perkembangan yang membawa telekomunikasi ke tingkat selanjutnya. Di awali dengan kemunculannya telfon seluler yang dapat melakukan komunikasi secara mobile serta internet. Masuknya teknologi tersebut membuat perubahan pada regulasi telekomunikasi yang pada awalnya menggunakan UU no 3 tahun 1989 menjadi UU no 36 tahun 1999 yang terus digunakan sampai saat ini.
Indonesia meubah UU telekomunikasinya bukan hanya karena teknologi saja. Semua diawali dengan Indonesia yang memutuskan untuk melakukan globalisasi. Apabila sebuah negara melakukan globalisasi maka negara tersebut diharuskan untuk menghapus praktek monopoli. Peraturan mengenai monopoli ada pada UU no 5 tahun 1999.
Mengikuti keluarnya undang undang mengenai monopoli pemerintah mengeluarkan UU no 36 tahun 1999. Perubahan kondisi pertelekomunikasiaan Indonesia sangat dipengaruhi oleh UU no 36 tahun 1999 yang menggantikan UU no 3 tahun 1989. Karena dengan munculnya UU tersebut bermunculan pesaing-pesaing yang selama ini tidak ada.
Berikut ini adalah perbedaan fundamental antara UU no 3 tahun 1989 dengan UU no 36 tahun 1999.
Akibat regulasi yang juga ikut beubah. PT.Telkom merupakan perusahan BUMN yang bergerak dibidang penyedia jasa telekomuniksai di Indonesia. Sebagai pemain tunggal di pasar telekomunkiasi Indonesia mau tidak mau harus mengalami perubahan. Perubahan tersebut berdampak sangat besar kepada PT.Telkom yang awalnya dia merupakan pihak yang memonopoli pasar telekomunikasi di Indonesia. Perubahan dan perkembangan yang sangat signifikan bagi PT.Telkom.TBK.
telekomunikasi di Indonesia membuat PT.telkom mengadakan perubahan di dalam core bisnisnya. Yang selama ini hanyam memfokuskan pada sambungan fixed wiredline berubah menjadi komunikasi data dan juga komunikasi wireless. Regulasi juga menyebabkan PT.Telkom menghadapi pasar persaingan yang pada awalnya PT.Telkom sebagai pemonopoli di pasar telekomunikasi Indonesia. Perubahan fokus bisnis ini disebabkan oleh tuntutan yang harus dipenuhi agar PT.Telkom dapat bertahan di era persaingan antar operator yang semakin ketat.
Perubahan didalam PT. Telkom sangat dipengaruhi oleh keluarnya UU No 36 tahun 1999. Yang menyebabkan posisi PT.Telkom yang awalnya sebagai yang memonopoli pasar menjadi Incombent yang wajib memberikan sambungan interkoneksi kepada new enterance. Perubahan fokus bisnis ini tentu saja tidak semudah yang dipikirkan orang kebanyakan. Perubahan yang terjadi karena regulasi yang berlaku. Membuat PT.Telkom harus merubah core bisnis yang sudah bertahan selama puluhan tahun. Semuanya bermulai ketika terjadinya perubahan kebutuhan. Jenis telekomunikasi yang pada awalnya hanya komunikasi suara menjadi komunikasi data. Serta perubahan didalam regulasi yang mengimbangi dari perubahan berdasarkan kebutuhan konsumen, dan juga pertembangan teknologi.
Perubahan kebutuhan PT.Telkom melakukan perubanan yang sangat besar dan mendasar. Perubahan tersebut dapat dilihat yaitu dengan TIME yang menjadi pusat bisnis dari Telkom. TIME singkatan dari Telecommunication, Information, Media & Edutainment. Hal ini disebabkan tuntutan kebutuhan konsumen yang haus akan informasi dan entertainment lewat media telekomunikasi data. TIME menjadi core bisnis dan serta menjadi identitas baru dari bisnis telekomunikasi PT.Telkom. Dalam konteks bisnis telekomunikasi-informatika di Indonesia.
4.5 KINERJA PT TELKOM, Tbk. SEBELUM DAN SESUDAH PRIVATISASI 4.5.1 Kinerja Operasi (Jaringan dan Pelayanan)
Kinerja operasi dapat dinilai dari beragam kriteria tetapi pada kesempatan ini digunakan (i) penambahan kapasitas telepon; (ii) keberhasilan panggil; (iii) jumlah dan produktivitas pegawai.
yang berbeda. Pada tahun 1996, tambahan kapasitas telepon mencapai 1.341.549 SST dan dari tahun ketahun meningkat.
B. Keberhasilan Panggil Keberhasilan panggil menunjukkan tingkat keberhasilan tersambung untuk setiap panggilan. Untuk Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), menunjukkan peningkatan yaitu sebelum privatisasi (1995) mencapai 47,6% dan setelah privatisasi mencapai 53,2% (1996) dan selalu meningkat. Demikian pula halnya untuk sambungan lokal menunjukkan peningkatan yaitu sebelum privatisasi (1995) mencapai 55,2% dan setelah privatisasi mencapai lebih dari 59,4% (1997) pada tahun 2016.
C. Produktivitas Pegawai Produktivitas pegawai diukur dari kemampuan karyawan melayani SST. Sebelum privatisasi (1995) tingkat produktifitas mencapai 111,2 SST/karyawan. Setelah privatisasi menunjukkan peningkatan menjadi 131,2 SST/karyawan (1996) dan selalu meningkat hingga sekarang.
4.5.2 Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan dapat diukur dari beragam kriteria dan kriteria yang paling sering dipergunakan adalah Rentabilitas, Likuiditas dan Solvabilitas (RLS). A. Kemampulabaan (Rentabilitas) Kemampuan PT. Telkom dalam
menghasilkan keuntungan dapat diukur dengan beragam rasio tetapi saat ini hanya dipergunakan 4 (empat) rasio yaitu (i) Return on Asset – ROA (rasio laba bersih/aset); (ii) Return on Equity – ROE (rasio laba bersih/modal); (iii) Profit margin (rasio laba bersih/penjualan); (iv) Cost to sale (rasio biaya/penjualan).
terhadap aset, rasio total hutang terhadap aset dan rasio hutang jangka panjang terhadap total hutang relatif sama, baik sebelum dan setelah privatisasi; (ii) Dilain pihak, rasio hutang jangka panjang terhadap modal dan rasio total hutang terhadap modal cenderung berfluktuasi. Setelah privatisasi (1996) menurun lalu meningkat kembali (1997).
c. Likuiditas Likuiditas dimaksudkan sebagai kriteria dalam menentukan kemampuan membayar kewajiban-kewajibannya tepat pada waktunya, yang diukur dari berbagai rasio yaitu (i) current ratio (rasio aset/kewajiban lancar); (ii) quick ratio (rasio (aset – persediaan)/kewajiban lancar); (iii) Cash ratio (rasio dana tunai/kewajiban lancar); (iv) Cash to operating expenses (rasio tunai/total pengeluaran operasional). Berdasar beberapa rasio di atas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu (I) cash ratio dan cash to operating expenses menunjukkan perbaikan setelah privatisasi
d. Efisiensi Efisiensi diukur dengan 3 (tiga) rasio yaitu (i) pendapatan per karyawan; (ii) pendapatan per sst; (iii) biaya pemeliharaan per sst. Dari ketiga rasio di atas, (i) pendapatan per sst dan biaya pemeliharaan menunjukkan penurunan setelah privatisasi. Namun tentunya penurunan biaya pemeliharaan merupakan hal yang positip sementara penurunan pendapatan per sst bukan hal yang diharapkan; (ii) pendapatan per karyawan menunjukkan peningkatan setelah privatisasi.
4.6 Dampak Privatisasi
Pada dasarnya kajian sebelumnya dapat juga menjadi kriteria dalam menilai dampak privatisasi, tetapi sebagaimana dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa penilaian kinerja dengan dasar RLS dan aspek lain yang bersifat internal kurang dapat menggambarkan dampak privatisasi khususnya jika dikaitkan dengan pemikiran bahwa BUMN merupakan perusahaan milik negara.
Konsekuensinya dampak privatisasi BUMN harus dititikberatkan pada aspek eksternalnya. Beberapa dampak yang akan ditinjau adalah (i) nilai tambah dan efisiensi; (ii) tenaga kerja; (iii) gaji dan upah; (iv) surplus sosial; (v) anggaran; (vi) tabungan dan konsumsi.
Pada bagian ini akan dibahas tentang nilai tambah dan efisiensi sebagai kriteria dasar menilai dampak privatisasi. Jikalau rasio nilai tambah dan efisiensi melebihi 1, maka barulah dampak makro dapat kita perhitungkan.
Nilai Tambah Nilai tambah adalah gaji dan upah yang diterima karyawan ditambah dengan surplus sosial yang berupa pajak, dividen, laba diatahan dan bantuan sosial. Konsep yang dipergunakan adalah melakukan perbandingan antara nilai tambah setelah privatisasi dan sebelum privatisasi. Berdasar hasil perhitungan, maka terlihat bahwa rasio nilai tambah melebihi 1, baik untuk tahun 1996 sebesar 1,05 maupun tahun 1997 sebesar 1,11. Walaupun nilainya hanya sedikit di atas 1, tetapi hal ini telah menunjukkan bahwa kondisi setelah privatisasi lebih baik dari sebelum privatisasi.
4.6.2 Nilai Tambah Agregat
Secara umum nilai tambah agregat dimaksudkan sebagai perbedaan antara output dan input setelah memperhitungkan depresiasi. Dampak privatisasi terhadap nilai tambah agregat berupa dampak langsung, dan tidak langsung. Dampak keseluruhan merupakan penjumlahan dari dampak langsung dan tidak langsung Total dampak privatisasi terhadap nilai tambah agregat mencapai Rp. 2,15 Triliun (1996) dan Rp 3,05 Triliun (1997).
4.6.3 Tenaga Kerja
Dampak privatisasi terhadap tenaga kerja berupa dampak langsung dan tidak langsung. Dampak langsung adalah dampak terhadap perubahan jumlah karyawan internal Telkom, sementara dampak tidak langsung berupa penambahan tenaga kerja di sektor telekomunikasi.
Dampak tidak langusng sebenarnya juga mencakup sektor publik, tetapi dengan mempertimbangkan bahwa pemerintah menetapkan kebijakan tidak menambah pegawai kecuali mengganti yang pensiun, maka dampak terhadap sektor publik diabaikan.
Dampak keseluruhan terhadap tenaga kerja setelah privatisasi berupa penambahan tenaga kerja sebanyak 165 orang (1996) dan meningkat menjadi 1.076 orang pada tahun 1997.
Dampak privatisasi terhadap gaji dan upah berupa dampak langsung dan tidak langsung. Dampak langsung berupa dampak terhadap perubahan gaji dan upah internal Telkom, sementara dampak tidak langsung diperhitungkan terhadap kondisi gaji dan upah. seperti dampak terhadap tenaga kerja, maka dampak terhadap gaji dan upah juga mengabaikan dampak terhadap sektor publik. 4.6.5 Surplus Sosial
Surplus sosial menunjukkan perbedaan yang besar antara kondisi setelah dan sebelum privatisasi. Pada tahun 1996 perbedaan tersebut mencapai Rp. 1,5 Triliun dan meningkat menjadi Rp. 2,23 Triliun pada tahun 1997. Dan pada tahun 2015-2016 banyak kegiatan bagi masyarakat katena surplus social yang semakin tinggi.
4.6.6 Anggaran Dampak
Anggaran dimaksudkan sebagai penerimaan bersih pemerintah setelah privatisasi dengan mengabaikan jumlah penerimaan hasil penjualan saham. Penerimaan bersih mempertimbangkan subsidi yang diberikan pemerintah, hutang Telkom pada pemerintah dan pajak yang diterima.
4.6.7 Tabungan dan Konsumsi
Tabungan dan konsumsi diperhitungkan berdasar perubahan nilai tambah. Sebagian terbesar nilai tambah dipergunakan untuk konsumsi dan sisanya untuk tabungan. Pembagian dana untuk tabungan dan konsumsi menggunakan angka marginal propensity to consume(MPC)) dan marginal propensity to save (MPS)
4.7 Fakta Penting tentang Kinerja dan Dampak Privatisasi
Berdasar pada hasil kajian kinerja dan dampak pada bagian sebelumnya maka secara keseluruhan dapat dirangkum beberapa hal yaitu (i) Kinerja operasi menunjukkan peningkatan baik sebelum privatisasi dan sesudah privatisasi; (ii) kinerja keuangan menunjukkan peningkatan setelah privatisasi; (iii) Dampak privatisasi menunjukkan hasil yang baik setelah privatisasi.
PROFIL KINERJA DAN DAMPAK PRIVATISASI
Kinerja Operasi
5 Hutang Jangka Panjang (Asset) o
6 Hutang Jangka Panjang (Modal) o
7 Current Ratio o o
8 Quick Ratio o o
9 Cash Ratio o
10 Cash to Operating Expenses o
BAB V PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah adalah suatu badan usaha yang berbaju kekuasaan pemerintah, tetapi mempunyai fleksibilitas dan inisiatif sebagai perusahaan swasta.
Pemerintah Indonesia mendirikan BUMN ada dua tujuan utama, yaitu tujuan yang bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial. Tujuan yang bersifat ekonomi, BUMN dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai pihak-pihak tertentu. Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti perusahaan listrik, minyak dan gas bumi.
Tujuan BUMN yang bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui penciptaan lapangan kerja serta upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal. Penciptaan lapangan kerja dicapai melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN. Upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal dapat dicapai dengan jalan mengikut-sertakan masyarakat sebagai mitra kerja dalam mendukung kelancaran proses kegiatan usaha.
Dan salah satu upaya yang ditempuh pemerintah untuk dapat meningkatkan pendapatannya adalah dengan melakukan privatisasi BUMN seperti yang dilakukan atau ditempuh oleh PT. Telekomunikasi Indonesia.
Privatisasi PT. Telkom ini dipengaruhi oleh keluarnya undang undang mengenai monopoli pemerintah mengeluarkan UU no 36 tahun 1999. Perubahan kondisi pertelekomunikasiaan Indonesia sangat dipengaruhi oleh UU no 36 tahun 1999 yang menggantikan UU no 3tahun 1989. Karena dengan munculnya UU tersebut bermunculan pesaing-pesaing yang selama ini tidak ada.
Dengan berubahnya kepemilikan Pt Telkom, maka menimbulkan beberapa dampak dan perubahan kinerja PT Telkom sebelum dan sesudah di privatisasi.
5.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Ardian, M. Fazri. 2012. PERANAN REGULASI TERHADAP PERUBAHAN BISNIS PT. TELKOM. Tugas Akhir Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika), Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Telkom
Dewi Hanggraeni. Apakah Privatisasi BUMN Solusi yang Tepat Dalam Meningkatkan Kinerja?, Artikel dalam Manajemen Usahawan Indonesia No.6 Tahun 2009
Indra Bastian. 2002. Privatisasi di Indonesia : Teori dan Implemantasi. Salemba Empat : Jakarta
Mungkasa, Oswar. 2009. Dampak Privatisasi di Indonesia: Studi Kasus: Dampak Privatisasi PT. Telekomunikasi Indonesia
PT. Telekomunikasi Indonesia. Data Perusahaan/ Sejarah Perusahaan. (Di unduh dari
http://telkom.com pada hari minggu, 1 Mei 2016 pukul 15.00 WIB)
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN Situs yang diakses: