MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA 3. TERNAK KAMBING

20  17  Download (0)

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN TERNAK

RUMINANSIA

3. TERNAK KAMBING

Oleh:

K. Budi Satoto

Fakultas Peternakan

Institut Pertanian Bogor

(2)

3. Kambing

1. Pendahuluan

2. Cara Pemeliharaan

3. Cara Pemberian Pakan

3.1. Produksi daging:

a. Betina

 Hidup pokok (termasuk: kondisi pakan tetap, aktivitas minimal, dan awal kebuntingan).

 Hidup pokok, ditambah aktivitas rendah (termasuk: pemeliharaan intensif,

penggembalaan tropis dan awal kebuntingan)

 Hidup pokok, ditambah aktivitas sedang (termasuk: pemeliharaan di dalam padang rumput kering, agak berbukit dan awal kebuntingan):

 Hidup pokok, ditambah aktivitas tinggi (termasuk: padang rumput alam, pegunungan, dan awal kebuntingan).

 Keperluan Akhir kebuntingan (untuk segala ukuran bobot badan)

 Keperluan untuk pertumbuhan (50- 150 g/hari):(untuk segala ukuran bobot badan) b. Flushing

c. Calon induk d. Jantan e. Anak

3.2. Produksi Susu.

a. Induk (Dairy Does):

 Induk Laktasi

 Induk kering: b. Calon induk:

c. Jantan (Dairy Bucks). d. Anak (Dairy kids)

(3)

1. Pendahuluan

Populasi kambing sekitar 13 juta, terdiri dari kambing Kacang dan kambing perah (Peranakan Etawah).

Kambing lebih menyukai dedaunan yang berasal dari browse/shrubs

(yaitu: bagian dari pepohonan/semak yang dapat dimakan, seperti daun, batang, dan pucuk/ranting kecil ) dan forbs yaitu hijauan bukan rumput, yang berasal dari semak/tanaman gulma (weed).

Sehingga, kambing agak berbeda dengan sapi maupun domba mengenai: keperluan zat makanan, jumlah konsumsi, pola makan/merumput: (60%

daun pepohonan, 10% tanaman pengganggu dan 20-30% rumput),

keperluan air, aktivitas fisik, kualitas susu, komposisi karkas, metabolisme dan penyakit (parasit).

Konsumsi pakan untuk kambing yang sedang tumbuh dan laktasi, dapat

mencapai 3.5 – 5%BB, sedangkan sapi/domba hanya 2.5 – 3%BB.

Dengan jumlah konsumsi lebih banyak, maka kambing mampu

mengkonsumsi hijauan berkualitas rendah lebih banyak. Selain itu, dengan sifat/pola makan tersebut, kambing mampu memilih bahan pakan yang tinggi kualitasnya, sehingga kambing dapat bertahan di padang rumput yang kualitas rendah. Keperluan zat makanan, berbeda untuk daging, susu dan bulu (mohair).

 Kambing memerlukan pakan tambahan (konsentrat), pada kondisi tertentu, sama seperti domba), yaitu untuk: flushing, sebelum dan

sesudah melahirkan, laktasi dan ketersediaan pakan pada kondisi tertentu (kemarau).

Kambing mempunyai beberapa kelebihan, dibanding dengan ternak

ruminansia lainnya, yaitu:

a. Mampu memanfaatkan pakan yang lebih berserat.

b. Dapat hidup dalam kondisi sulit pakan/kualitas pakan yang lebih jelek, karena kambing mampu memilih bagian tanaman yang mempunyai nilai nitrisi lebih tinggi.

c. Lebih tahan terhadap rasa pahit, walaupun menolak pakan atau hijauan yang mengandung tinggi tanin atau alkaloid lainnya.

d. Lebih mampu mencerna karbohidrat parietal, karena mampu mendaur ulang urea jauh lebih besar.

e. Lebih tahan terhadap periode kekeringan yang panjang, tanpa mengganggu kegiatan merumput dan produksi susu.

f. Dalam kondisi kekurangan air yang panjang, besarnya kehilangan bobot badan untuk: Kambing hanya 1.5%/hari, dibandingkan dengan domba bisa mencapai 6%/hari dan Sapi 8%/hari. Sedangkan onta: 2%/hari.

(4)

2. Cara Pemeliharaan

 Pemeliharaan kambing dapat dilakukan di kandang, atau diabur di tanah atau lahan kosong.

 Kalau dikandangkan, sebaiknya kandang disesuaikan dengan tingkah laku kambing yang memanjat, maka kandang dilengkapi dengan tempat yang bisa dipakai untuk memanjat, seperti peternak di daerah Cirebon, untuk kambing perah.

 Sedangkan untuk yang diabur, atau dilepas tanah pangonan/lahan kosong, biasanya untuk kambing kacang.

3. Cara Pemberian Pakan

3.1. Keperluan Zat makanan. a. Produksi daging

a.1. NRC (1981). a.2. Kearl (1982). a.1. NRC (1981)

Menurut NRC (1981), keperluan zat makanan kambing, untuk: 1. Produksi daging:

a. Hidup pokok (termasuk: kondisi pakan tetap, aktivitas minimal, dan awal kebuntingan).

Bobot badan : 10 – 100 kg KBK : 1.3 – 2.8 %BB TDN : 67%BK PK : 9.3%BK Ca : 0.37 - 0.41%BK P : 0.26 - 0.29 %BK Vitamin A : 400 – 2 400 IU D : 84 – 480 IU

b. Hidup pokok, ditambah aktivitas rendah (termasuk: pemeliharaan intensif, penggembalaan tropis dan awal kebuntingan): Bobot badan : 10 – 100 kg. KBK : 1.7 – 3.8%BB TDN : 67%BK PK : 9.8%BK Ca : 0.28 – 0.34%BK P : 0.19 – 0.24%BK Vitamin A : 500 – 3 000IU D : 108 – 600 IU

c. Hidup pokok, ditambah aktivitas sedang (termasuk: pemeliharaan di dalam padang rumput kering, agak berbukit dan awal kebuntingan):

(5)

Bobot badan : 10 – 100 kg KBK : 2.0 – 4.3%BB TDN : 67 %BK PK : 9.2% BK Ca : 0.28 – 0.34%BK P : 0.19 – 0.24%BK Vitamin A : 300 – 3 600 IU D : 129 – 723 IU

d. Hidup pokok, ditambah aktivitas tinggi (termasuk: padang rumput alam, pegunungan, dan awal kebuntingan).

Bobot badan : 10 – 100 kg KBK : 2.5 – 5.0%BB TDN : 66%BK PK : 9.2%BK Ca : 0.34 – 0.47%BK P : 0.24 – 0.33%BK Vitamin A : 800 – 4 200 IU D 150 – 843 IU

e. Keperluan Akhir kebuntingan (untuk segala ukuran bobot badan): TDN : 68%BK PK : 13.8%BK Ca : 0.34%BK P : 0.24%BK Vitamin A : 1 100 IU D : 213 IU

f. Keperluan untuk pertumbuhan (50- 150 g/hari): (untuk segala ukuran bobot badan):

TDN : 68 %BK PK : 9.3 - 13%BK Ca : 0.44 – 0.60%BK P : 0.23 – 0.47%BK Vitamin A : 300 – 800 IU D : 162 - 213IU

(6)

Dari ke 4 keperluan zat makanan tersebut, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa keperluan zat makana kambing adalah:

Bobot badan : 10 – 100 kg KBK : 1.3 – 5.0 %BB TDN : 66 - 68%BK PK : 9.2 - 14%BK Ca : 0.28 - 0.47%BK P : 0.19 - 0.37 %BK Vitamin A : 400 – 2 400 IU D : 84 – 480 IU d.1.2. Produksi Susu.

Induk yang baik, menghasilkan sekitar 2.5 kg susu/hari, tertinggi 5 kg/hari., dalam waktu 305 hari, dengan kadar lemak 3.8%.

Untuk produksi susu, keperluan zat makan dikelompokkan menjadi:

a. Induk (Dairy Does):

1. Induk Laktasi:

Induk laktasi, memerlukan konsentrat dengan kadar sekitar

14 – 18%BK, dengan TDN: 65 – 70%BK, jika protein hijauan sekitar 12 – 14%BK

2. Induk kering:

Memerlukan ransum, dengan konsentrat yang mengandung PK sekitar 12 – 16% BK, TDN 65 – 70%BK (tergantung kualitas hijauan), sebanyak 0.5 – 1 kg/hari.

dengan tujuan:sampai mencapai puber (siap kawin) 3. Anak (Dairy kids)

 Penting mendapat kolostrum, 3 kali sehari, sebanyak 0.75 – 1.0 liter/hari. Setelah pemberian kolostrum, dibiarkan anak menyusu induknya selama 2 – 3 hari. Setelah anak cukup kuat, dapat dipisahkan dan diberi susu sapi atau pengganti air susu (melalui dot/botol atau panci/ember), bersama-sama dengan pemberian ransum starter.

 Pemberian susu melalui botol yang dilengkapi dot, akan lebih alami dibandingkan ember. Selain itu dapat menghindari masuknya udara kedalam perut.

(7)

Cuci dan sanitasi alat-alat makan/minum, selesai dipakai.

Siapkan susu (temperatur cukup hangat kuku). Konsumsi susu sebanyak 1 – 1.5 liter/hari. Selama 3 hari pertama berikan 3 – 4 kali sehari.

Pertimbangan ekonomis. Jika harga susu kambing lebih mahal, maka gunakan susu sapi. Ransum starter yang diberikan terdiri dari jagung, wheat bran/polard, bungkil kelapa.

Beri anak ransum starter (mengandung PK: 16% BK dan TDN: 80% BK) sesegera mungkin. Pada umur 1 minggu, starter sudah diberikan, ditambah dengan hijauan berkualitas baik, untuk perkembangan rumen.

Jaga agar anak tidak kelebihan atau kekurangan pakan.

Penyapihan. Dapat dilakukan pada umur 5 – 6 minggu, atau diundur paling lambat sekitar 3 - 4 bulan. Gantikan dan tambahkan air

hangatsecara bertahap ke dalam susu, supaya lambung tetap penuh, untuk perkembangan rumen dan mengurangi stres. Setelah disapi penuh, beri hijauan semaunya, serta tambahkan ransum grower yang baik.

b. Calon induk:

Pemberian pakan calon induk agar cukup untuk hidup pokok

dan pertumbuhan, tetapi pemberian jangan terlalu berlebih sehingga calon induk terlalu gemuk, sehingga sulit bunting atau melahirkan. Pada umur 4 – 6 bulan, mulai diberi hijauan kualitas baik, konsentrat dan exercise. Apabila hijauan yang tersedia, kualitasnya rendah, maka dapat diberi konsentrat dengan PK: 12 – 14%BK, sebanyak 0.5 – 1 kg/hari. c. Jantan (Dairy Bucks).

Oleh karena jantan lebih besar daripada betina, maka jantan dapat diberi hijauan lebih banyak (ad libitum), dengan konsentrat (mengandung PK =

14%BK, dengan tambahan mineral suplemen dan garam) sebanyak: 0.5 – 1 kg/hari.

(8)

Contoh ransum starter dan grower: --- Bahan Jumlah (%) Starter Grower --- Jagung 27.6 12.9 Gandum 37.9 10.0 B. kedelai 10.0 8.6 Tepung Alfalfa 18.0 10.0 Molases 5.0 5.0 Kulit kapas - 51.9 Trace mineral 1.0 1.0 Batu kapur 0.3 0.4 Vit. A, D dan E 0.2 0.2 --- Sumber: Ensminger dkk. (1990)

Catatan: Gandum dapat diganti polard/wheat bran.

Tepung alfalfa = tepung legume Kulit kapas = kulit kopi/coklat.

Kearl (1982).

Keperluan zat makanan kambing, menurut Kearl (1982)

adalah untuk:

1. Hidup pokok, pertumbuhan dan awal kebuntingan a. Bobot badan : 5 – 15 kg PBB : 0.050 – 0.075kg/hari KBK : 3.3 – 4.4%BB TDN : 72 – 86%BK PK : 11 – 14%BK Ca : 0.44 – 0.53%BK P : 0.34 – 0.43%BK Vitamin A : 300 – 1 000 IU D : 50 - 192 IU b. Bobot badan : 15 - 80 kg PBB : 0.075 – 0.3 kg/hari. KBK : 2.2 – 3.3%BB TDN : 72 – 76%BK PK : 11.0 – 11.6%BK Ca : 0.37 – 0.44%BK P : 0.28 – 0.34%BK Vitamin A : 1 000 – 3 500 IU D : 192 – 738 IU

(9)

2. Delapan minggu, akhir kebuntingan atau 8 minggu akhir laktasi. PBB : 0.100 – 0.120 kg/hari. Bobot badan : 20 70 kg --- KBK : 3.6 2.6.%BB TDN : 67 48 %BK PK : 10.3 7.3%BK Ca : 0.23 – 0.35%BK P : 0.16 – 0.24%BK Vitamin A : 1 800 – 2 900 IU D : 192 – 738 IU 3. Sepuluh Minggu Awal laktasi. Bobot badan : 20 - 70 kg PBB : – 0.020 kg/hari. KBK : 4.3 – 5.6%BB TDN : 68 – 78%BK PK : 10.6 – 12.8%BK Ca : 0.32 – 0.42%BK P : 0.19 – 0.29%BK Vitamin A : 4 500 – 5 600 IU D : 738 – 1 129 IU

(10)

Kebutuhan Pakan untuk Ternak Ruminansia -1)

Oleh : K. Budi Satoto -2)

---

A. Pendahuluan

B. Kebutuhan Pakan untuk Sapi

Pedaging/Kerbau

C. Kebutuhan Pakan untuk Domba

D. Kebutuhan Pakan untuk

Kambing

A. Pendahuluan

 Hijauan merupakan pakan utama ternak ruminansia, sehingga dasar keberhasil utama dari usaha ternak ruminansia adalah pemanfaatan sebanyak mungkin hijauan (80 -100%), yang terdiri dari rumput lapangan, rumput budidaya, pastora, leguminasa dan hijauan hasil ikutan/limbah pertanian.

 Ternak ruminansia, dapat merubah hijauan tersebut (baik dengan maupun tanpa pakan tambahan lainnya), menjadi produk yang mempunyai nilai gizi tinggi dan sangat disukai oleh manusia, seperti susu, dan daging.

 Pemberian pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar di dalam proses produksi ternak ruminansia., sehingga cara pemberian pakan harus diperhitungkan dengan baik, agar dapat memenuhi kebutuhan untuk menjamin produktivitas ternak dan secara ekonomis dapat dipertanggungjawabkan.

--- 1). Makalah disampaikan dalam “Pembekalan Bagi Pegawai P>T Asahi Mas

Chemical”, tentang Budi Daya Ternak Ruminansia, yang dilaksanakan pada tanggal 21 - 22 Januari 2009, di Departeman Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB.

2). Staf pengajar Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia Pedaging dan Kerja, Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Bagian Ilmu Nutrisi dan Teknologi Terapan, Departeman Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB.

(11)

B. Kebutuhan Pakan

Sapi Pedaging/Kerbau

 Usaha/program produksi sapi pedaging dan kerbau, ialah: 1.1. Program Produksi Anak (Cow-Calf)

1.2. Program Pembesaran (Stocker) 1.3. Program Penggemukan (Finishing)

1.4. Program Pemulihan Kondisi (Conditioning) 1.5. Program Penggemukan Khusus (Finish Khusus)

 Cara pemberian pakan pada masing-masing program berbeda, karena masing-masing program mempunyai tujuan dan target produksi yang berbeda.

1.1. Program Produksi Anak.

Ialah program untuk menghasilkan anak (pedet) lepas sapih (umur 2 – 8 bulan), yang mempunyai kwalitas baik (bobot sapih cukup berat, sehat dan mempunyai konformasi tubuh sapi pedaging/kerbau yang baik).

 Program produksi anak, merupakan program dasar sapi pedaging, karena tanpa program ini, tidak akan ada program lain di dalam industri sapi pedaging dan kerbau, (program pembesaran dan penggemukan)

 Agar usaha produksi anak berhasil, maka diharapkan:

1. Biaya pemeliharan, terutama biaya pemberian pakan harus efisien (sesuai dengan tujuan dan target produksi setiap kelompok ternak), dan murah (gunakan sebanyak mungkin hijauan). Pemberian makanan tambahan/konsentrat hanya diberikan pada kelompok tertentu (pertumbuhan dan laktasi), atau pada kondisi sulit hijauan/kwalitas hijauan rendah (pada musim kemarau).

2. Induk mempunyai reproduksi/fertilitas yang tinggi, sehingga dapat melahirkan anak setiap tahun.

3. Kwalitas anak lepas sapih yang dihasilkan adalah baik (sehat, dengan ketahanan tubuh yang baik, bobot sapih yang berat, sesuai dengan standard bobot bangsanya, serta konformasi tubuh sesuai dengan sapi/kerbau pedaging.

4. Mampu memproduksi pupuk organik yang baik.

5. Mempunyai produksi induk afkir yang kurus tapi sehat, yang siap dijual (untuk digemukkan).

(12)

 Untuk memudahkan cara pemeliharan dan pemberian pakan, maka pada program produksi anak, ternak yang dipelihara dikelompoknya menjadi 3 kelompok ialah :

1. Kelompok Betina

2. Kelompok Anak

3. Kelompok Jantan

1. Kelompok Betina

Kelompok betina terndiri dari : a. Dara calon induk b. Dara bunting tua

c. Betina dewasa, kering, bunting tua

d. Dara, menyusui, produksi susu sedang (4.5 kg/hari)

e. Betina dewasa, menyusui, dengan produksi susu sedang (4.5 kg/hari)

f. Betina dewasa, menyusui, dengan produksi susu tinggi (9 kg/hari).

a. Dara calon induk.

a.1. Pemilihan calon induk

Dara calon induk, dapat berasal dari:

 Peternakannya sendiri (dari program produksi anak) Untuk calon induk dari peternakan sendiri:

1). Dipilih pedet lepas sapih yang mempunyai bobot sapih berat. Bobot sapih yang berat, menunjukkan calon induk tersebut

mempunyai potensi untuk tumbuh cepat.

Induknya mempunyai produksi susu yang cukup untuk menunjang pertumbuhan yang cepat, serta mempunyai sifat keibuan/pengasuh anak yang baik.

2). Sehat (tidak pernah sakit).

3). Mempunyai konformasi tubuh yang baik.

 Membeli calon induk dari peternakan lain. Calon induk yang dibeli dari luar, sebaiknya:

1). Calon induk yang sudah siap kawin (bobot sekitar 270 – 300 kg) 2). Umur sekitar 1.5 - 2 th.

3). Sehat, bebas penyakit menular a.2. Tujuan pemberian pakan

Tujuan pemberian pakan ialah: pertumbuhan yang cepat, agar dapat dikawinkan pertama kali pada umur 12 – 15 bulan, atau melahirkan pertama pada umur 20 – 24 bulan.

(13)

a.3. Target produksi

 Target produksinya, ialah PBB sekitar 0.75 kg/hari

a.4. Kebutuhan zat makanannya, tercantum pada Tabel Lampiran 1. a.5. Kandungan Zat Makanan Ransum adalah sbb:

a.6. Ransum

 Dari kandungan zat makanan ransum, nampak bahwa

2. Kelompok Anak

a. Anak menyusui induk b. Anak kehilangan induk 3. Kelompok Jantan a. Calon pejantan b. Pejantan muda c. Pejantan dewasa   1.2. Program Pembersaran 1.3. Program Penggemukan 1.4. Program Pemulihan Kondisi 1.5. Program Penggemukan Khusus

 Demikian juga untuk penggemukan, pakan merupakan biaya yang mahal yaitu sekitar 70 -80% dari biaya operasional penggemukan, (di luar harga pembelian bakalan), sehingga kalau terjadi penaikan bobot badan yang rendah, maka usaha penggemukan akan rugi.

2. Kebutuhan Zat Makanan

 Produksi ternak akan tinggi, jika pemberian pakan dapat memenuhi kebutuhan zat makanan ternak yang dipelihara, tidak dapat ditingkatkan, kalau pemberian pakan atau zat makanan yang diberikan tidak dapat mencukupi kebutuhan ternak.

 Beberapa faktor yang perlu dipertimbangankan dalam memenuhi kebutuhan pakan/zat makanan ialah: bobot badan, produksi yang diinginkan

(penaikan bobot badan dan produksi susu) dan reproduksi.

 Sehingga, kebutuhan zat makanan sapi pedaging/kerbau berbeda-beda pada setiap kelompok ternak, tergantung dari tujuan dan target produksi yang diinginkan pada masing-masing kelompok ternak yang dipelihara.

(14)

 Bakalan dapat dipelihara dengan pakan hijauan yang lebih banyak, dengan pertumbuhan normal, dan tidak didorong untuk pertumbuhan yang cepat sampai umur 1-3 tahun, selanjutnya di masukkan ke dalam program penggemukan, untuk mendapatkan sapi siap potong, dengan derajat perlemakan dan kwalitas tertentu, sesuai dengan selera konsumen. Dengan demikian, kebutuhan pakan pada periode pertumbuhan dan penggemukan adalah sangat berbeda dan merupakan dua periode yang sangat berbeda dalam kehidupan ternak ruminansia.

3. Bahan Pakan

4. Formulasi Pakan

5. Cara Pemberian Pakan

(15)

Usulan Penelitian

Penelitian Strategis Aplikatif

Peningkatan Produktivitas Ternak Domba Priangan (Tingkat

Kelahiran Induk dan Kwalitas Anak Lepas Sapih), Melalui

Perbaikan Status Nutrisi dengan Program Flushing pada Induk dan

Creep Feeding pada Anak, yang diberi Ransum berbahan Dasar

Rumput Pastora (Brachiaria humidicola), UP3J, Jonggol, Fakultas

Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Oleh

Kukuh Budi Satoto

Lilis Khotijah

Direktorat Jnederal Pendidikan Tinggi

Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

Fakultas Peternakan

(16)

Februari, 2009.

Judul Penelitian :Peningkatan Produktivitas Ternak Domba Ekor Tipis (Tingkat Kelahiran Induk dan Kwalitas Anak Lepas Sapih), Melalui Perbaikan Status Nutrisi Melalui Program Fushing pada Induk dan Creep Feeding pada Anak di Pastora Lahan

Kering, UP3J, Jonggol, Fakultas Peternakan,

Institut Pertanian Bogor.

Kategori Penelitian : Penelitian Strategis Aplikatif Nama Ketua Peneliti : Kukuh Budi Satoto

Tempat/Tanggal Lahir : Jember, 18 Januari, 1949 Jenis Kelamin : Laki-laki

Pangkat danGolongan : Pangkat: Lektor , Golongan: IVB

Alamat Rumah : Jl. Kota Baru No: 20A, RT 03/RW III, Kedung Halang, Bogor Utara, Kota Bogor.

Tel. (0251) 865 95 87. HP: 0813

Bagian : Ilmu Nutrisi dan Teknologi Terapan Departemen/Fakultas : Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB

Lama dan Waktu Penelitian : 8 bulan (23 Maret – 28 Nopember 2009) Besaran Dana yang Disusulkan: Rp 100 000 000,00

Besaran Dana yang Disetujui :

Bogor, 19 Februari 2009 Menyetujui:

Fakultas Peneliti Peternakan, IPB

Dekan

(...) (Kukuh Budi Satoto)

NIP: ... NIP : ... Lembaga Penelitian dan

Pengabdian Pada Masyarakat Kepala,

Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudya, M. Eng. NIP: 130541469

(17)

1. Ringkasan

2. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Menurut Statistik Peternakan (2005), rata-rata populasi

domba di Indonesia selama 5 tahun (2001 s/d 2005),

sekitar 7 840 000 ekor, (terdiri dari domba

Priangan/Garut, Ekor Tipis dan Ekor Gemuk), dengan

peningkat populasi rata-rata 180 000 ekor/tahun

(2.3%),

Dengan populasi tersebut, mampu menyediakan daging

sekitar 65 300 ton/tahun (atau sekitar 5.15% dari

produksi daging nasional, yang sekitar 1 267 080

ton/tahun), dengan tingkat pemotongan sekitar 2 000 000

ekor/tahun, (25% dari populasi).

Hampir sebagian besar, usaha ternak domba

(pembibitan pembesaran dan penggemukan),

merupakan peternakan rakyat, dan hanya sebagian

kecil saja yang dilakukan secara komersial oleh

pengusaha, yaitu usaha penggemukan. Hal ini

disebabkan oleh anggapan, bahwa usaha pembibitan

kurang menguntungkan, jika dilakukan secara

komersial.

Sebaliknya, dengan cara pemeliharan yang sederhana,

dengan biaya yang rendah (tradisional dan ekstensif),

peternak rakyat masih mampu memproduksi sekitar 2

000 000 ekor/tahun (25% dari Populasi), walaupun

tingkat kematian anak masih sangat tinggi (10 – 70%).

Dengan tingkat produktivitas yang rendah, terutama

angka kematian anak yang tinggi, maka dengan

pemeliharan yang baik, terutama cara pemberian

pakan, dengan biaya yang murah, masih dapat

ditingkat, karena pada dasarnya, domba kita,

mempunyai sifat prolifik yang baik.

Rendahnya produktivitas serta kwalitas yang beragam,

(tanpa ada standar kwalitas yang jelas), disebabkan oleh

beberapa kedaan antara lain: skala usaha kecil, program

perkawinan yang tidak jelas, angka kelahiran yang

(18)

dari lahir sampai sapih yang cukup tinggi (20 -70%),

akibat dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang

digunakan dalam pemeliharaan masih sangat terbatas,

(terutama cara pemberian pakan yang baik), dan masih

merupakan usaha sambilan, belum merupakan usaha

pokok (sebagai taabungan/penghasilan tambahan).

Domba yang kita miliki (domba Garut, ekor Tipis dan

ekor Gemuk), termasuk domba yang prolifik, yaitu

domba yang mempunyai kemampuan beranak banyak

atau kembar.

Walaupun domba Lokal, mempunyai potensi genetik

yang cukup baik, tetapi karena manegemen

pemeliharaan yang kurang baik, terutama dalam cara

pemberian pakan, maka sifat prolifik tersebut tidak

muncul, walaupun domba lokal masih mampu

menyumbangkan produksi sekitar 3.15% dari total

produksi daging dalam negeri, (atau jumlah yang dapat

dipotong sekitar 1.5 juta ekor/tahun atau setara daging

sekitar 66 500 ton.

UP3J, merupakan salah satu unit Pendidikan dan

Penelitian Peternakan, yang terletak di Desa Singasari,

kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, memiliki domba

lokal ekor tipis, hasil persilangan dengan domba Garut,

sejah tahun 1980, dan telah beradaptasi dengan baik di

pastora Brachiaria humidicola, Jonggol yang panas dan

kering.

Walaupun telah beradaptasi dengan baik, dengan

lingkungan Jonggol (yang mempunyai temperatur 20 –

32 derajat C, kelembaban 65 – 91%, serta curah hujan 8

– 159 mm), tetapi menurut Harahap (2008), lambing

rate relatif masih rendah, yaitu sekitar 115, 125, 139 dan

140%. Lambing rate meningkat dengan makin

bertambahnya umur induk domba. Ini menunjukkan

bahwa induk yang lebih tua, mempunyai adaptasi yang

baik terhadap kwalitas pastora yang ada di Jonggol,

tetapi tidak untuk induk muda.

Selain lambing ratenya rendah, angka kelahiran tunggal

(19)

kembar (70% vs. 30%). Hal ini agak berbeda dengan

domba Garut tipe daging, yang diamati oleh Erminawati

(2003), yaitu mempunyai kelahiran tunggal sekitar 44%

dan kelahiran kembar (dua sampai empat), 56%.

Untuk induk umur setahun, dua tahun, tiga tahun dan

empat tahun, dengan 70% kelahiran tunggal, 27%

kelahiran kembar dua, dan 3% kelahiran kembar tiga.

Makin bertambahnya umur, lambing rate meningkat

(Harahap, 2008), ini menunjukkan bahwa umur lebih

tua, mampu beradaptasi dengan pastora

b. Tujuan

Tujuan penelitian ini ialah:

Meningkatkan ovulasi, dengan melakukan program

flushing, yaitu memberikan makanan tambahan pada

induk, 20 hari menjelang dan 15 hari selama musim

kawin, agar terjadi peningkatan jumlah ovulasi,

Peningkatan ovulasi dharapkan dapat meningkatkan

lambing rate.

Memberikan makanan tambahan pada anak yang baru

lahir, dengan pemberian creep feeding, yang bertujuan

untuk mengurangi angka kematian anak dari lahir

sampai sapih, meningkatkan dan menyeragamkan

bobot sapih, sehingga dapat menyediakan anak jantan

sapihan siap potong (untuk lamb chope), serta

menyediakan calon induk (anak betina), yang dapat

dikawinkan pada umur yang relatif muda (acelerated

lambing), yaitu kawin pertama pada umur 8 – 12 bulan.

Dengan meningkatkan produktivitas induk, (angka

kelahiran dan menurunkan angka kematian anak, serta

meningkatkan kwalitas anak sapihan), diharapkan

dapat memberikan keuntungan dalam usaha

pembibitan ternak domba.

(20)

2. Tinjauan Pustaka

3. Lingkup dan Rencana Kegiatan

4. Metode Penelitian

5. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

6. Personalia Penelitian

7. Biaya dan Rincian

8. Daftar Pustaka

9. Lampiran

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :