• Tidak ada hasil yang ditemukan

REVIEW PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN STUDIO DESAIN ARSITEKTUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "REVIEW PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN STUDIO DESAIN ARSITEKTUR"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

189

REVIEW PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN STUDIO DESAIN ARSITEKTUR

Irnawati Siregar

[email protected]

Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Padang

Jl. Prof Dr. Hamka, Kampus UNP Air Tawar Padang, Indonesia

Abstrak

Kajian pendidikan dan pembelajaran studio desain arsitektur ini bertujuan untuk menguji artikel penelitian yang diterbitkan antara Januari 2010 dan April 2015 yang berfokus pada siswa dan pendidik yang terlibat dengan pembelajaran yang dilaksanakan dalam ruangan studio pada jurusan arsitektur. Latar belakang pembelajaran studio desain arsitektur ini bisa dibilang perubahan yang paling signifikan terjadi dalam pendidikan arsitektur sejak dari metode tradisional sampai ke metode sesi kritik. Perbedaan pembelajaran antara bentuk tradsional dengan sesi kritik dapat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembelajaran didalam studio desain arsitektur ke dalam kurikulum serta dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan lulusan dibidang arsitektur dalam rangka menuju kearah ekonomi global. Sumber dari data menggunakan database online Science Direct dengan metode kriteria yang digunakan untuk memilih studi ulasan adalah fokus utama pada pembelajaran yang berhubungan dengan desain dan sistem pembelajaran yang dilakukan dalam studio. Hasil analisis 10 studi ditinjau mengungkapkan masalah yang berhubungan dengan pembelajaran yang dilaksanakan dalam studio bagi siswa dan pendidik terutama masalah desain dan kritik. Kesimpulan dari tinjauan ini diperlukan pendidikan berkelanjutan dan dukungan sekitarnya yang memungkinkan siswa lebih kreatif dengan keterampilan pendidikan saat ini dan strategi pengajaran bagi pendidik.

Abstract

Study of education and learning architectural design studio aims to examine research articles published between January 2010 and April 2015 which focuses on students and educators involved with learning conducted in a studio room at the architecture department. Background study architectural design studio is arguably the most significant changes occurred in education since the architecture of the traditional method to the method of criticism sessions. Learning the difference between form tradsional with criticism sessions could affect the successful implementation of learning in architectural design studio into the curriculum and to improve the quality of human resources and graduates in the field of architecture in the context of moving towards a global economy. Sources of data used online database Science Direct with methods the criteria used to select the study reviews the main focus on learning related to the design and learning system is done in the studio. Results of the analysis of 10 studies reviewed revealed problems associated with learning carried out in the studio for students and educators especially design problems and criticism. The conclusion of this review is required continuing education and support surrounding that allows students more creative with current educational skills and teaching strategies for educators.

(2)

190

Latar belakang

Pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia, mempunyai posisi yang sangat penting dalam upaya menjembatani perkembangan dunia yang semakin transparan dan global. Untuk itu perlu ada strategi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yang mengarah kepada ekonomi global seutuhnya. Salah satu strategi untuk menjawab tantangan pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan arsitektur terutama dalam pembelajaran yang berhubungan dengan sistem pembelajaran yang dilakukan pada studio arsitektur. Kurikulum arsitektur selalu didasarkan pada desain yang berfokus pada studio dalam bentuk yang berhubungan dengan prosedur pemecahan masalah melalui sesi kritik dan sistem tutorial. Pembelajaran seperti ini sebagai komunikasi antara siswa dan guru dan juga antara siswa dan siswa. Dengan cara ini setiap siswa akan memiliki kesempatan untuk mengekspresikan ide-ide nya sendiri dan membuat dialog dengan para ahli (guru) dan rekan-rekan serta dapat mengekspos dan menilai diri mereka sendiri.

Temuan studi terbaru Malaysia (Nakula Huberta et al, 2011). bahwa latihan studio saat ini membutuhkan pola pikir baru serta kerangka kerja baru yang akan direkonstruksi dan direnovasi. Nangkula Uberta et al, (2013), menekankan ada beberapa jenis desain studio yang dilaksanakan oleh pengawas studio melalui pengelompokkan metode kritik dengan crit sehingga masing-masing mahasiswa akan mengeksplorasi alasan puas dan tidak puas yang pada akhirnya memperbaharui sistem yang ada. Yavuz Taneli et al, (2010) evaluasi yang menghubungkan kualitas dan efektivitas menunjukkan skala penilaian dalam menilai karya kreatif. Untuk temuan terbaru Turkey (Ercument Gorgul et al, 2012) didapat bahwa peningkatan kemampuan, ketrampilan dan keahlian siswa ada kaitannya dengan keragaman kelompok. Aysen Ciravoglu (2014) penerapan dan pelaksanaan kritik kelompok untuk studio desain dengan melibatkan seorang guru akhirnya akan kembali ke metode tradisional. Sedangkan menurut (safiye orem Dizdar1, 2015) proses pendidikan arsitektur dengan kursus menggunakan desain proyek dapat digunakan sebagai contoh dibidang pembelajaran pendidikan arsitektur. Pada penelitian Nicosia di Cyprus utara (Sevinc Kurt, 2009)

(3)

191

menemukan bahwa karakteristik lingkungan studio tradisional dibandingkan dengan studio konstruktivis merekomendasikan transformasi di studio desain. Sedangkan pada penelitian Iran (Mohammadjavad et al, 2014) adanya dampak pendekatan formalistik dalam proses desain arsitektur pada kualitas pembelajaran siswa dengan desain pada desain studio II dan IV. Peneltian Ethiopia (Fathi Bashier, 2014) dengan temuan perlunya merefleksi pendidikan desain arsitektur dalam mengembalikan rasionalisme di studio. Sedangkan penelitian Portugal (Sajjad Nazidizaji et al, 2014). menemukan perlunya mencari kecerdasan desain dengan memanfaatkan kecerdasan emosional di studio desain arsitektur.

Tujuan

Tujuan dari tinjauan pustaka ini adalah untuk mengidentifikasi penelitian yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran studio desain arsitektur yang terkait dalam program arsitektur dan untuk mengidentifikasi masalah bagi siswa dan pendidik yang melaksanakan pembelajaran dalam studio.

Metode

Sebuah pencarian sistematis literatur penelitian utama dilakukan dengan menggunakan pilihan pencarian melalui tiga kategori besar: pendidikan desain arsitektur (architectural design education), pendidikan desain pada studio arsitektur (architectural design education in the studio), dan proses pendidikan distudio desain arsitektur (educational process in architectural design studio). Database online yang diadobsi adalah Science Direct. Pencarian pengguna berdasarkan pada daftar referensi dan bibliografi dari artikel, Berikut kata kunci menggabungkan 'Architecture' sebagai bagian .dari pencarian yang digunakan; dicampur, learning, design, studio, education, critique, process, design studio, design education, design process, mahasiswa, pendidik, dosen, guru, jurusan arsitektur. Pencarian kemudian diulang menambahkan kata-kata kunci berikut: masalah dan bentuk.

(4)

192

Hasil

Pencarian studi diidentifikasi sebanyak 100 judul. Setelah dibaca abstrak yang relevan sebanyak 55, studi yang dibuang tidak secara langsung relevan dengan review sebanyak 45, setelah diperiksa lebih rinci yang memenuhi kreteria sebanyak 20. Studi ini kemudian diperiksa terhadap kriteria studio desain arsitektur meninggalkan 10 studi, kemudian studi yang terpilih dimasukkan dalam review.

Studi Lokasi

Studi yang dihasilkan berada di enam negara termasuk Turkey (n = 3), Malaysia (n = 2), dan Nicosia, Iran, Ethiopia, China, dan Portugal masing-masing memiliki satu penelitian.

Studi Desain

10 studi yang dipilih dibagi menjadi tiga kelompok: metode kualitatif, kuantitatif dan campuran. Dari penelitian termasuk metode penelitian yang paling sering adalah kualitatif dengan lima studi, dengan dua studi kualitatif dan satu metode campuran.

Tema Identifikasi

Tiga tema diidentifikasi, ada satu tema yang ditemukan di semua artikel. Tema beserta sumber tema di terangkan dalam Tabel 1a, 1b, 1c. Tiga tema adalah: 1) masalah yang berhubungan dengan pembahasan kritik dan penilaian pada studio desain arsitektur; 2) dampak pendekatan yang digunakan dalam studio desain arsitektur dan 3) peran kecerdasan emosional di studio desain arsitektur. Setiap studi Ulasan menunjukkan adanya proses disain dan hasil desain yang dilakukan distudio arsitektur pada program arsitektur.

Tema 1: Masalah berkaitan dengan kritik pada studio desain arsitektur

Tema ditemukan pada 40% (n = 4) dari artikel Ulasan (Seving Kurt, 2010; Yavuz Taneli et al, 2010; N. Uberta et al, 2011; Nangkula Uberta et al, 2013;). Isu-isu

(5)

193

ini berkaitan dengan aspek-aspek positif dan negatif dari kritik yang diterapkan pada studio desain arsitektur.

Aspek positif dari kritik pada studio desain arsitektur.

Dari 4 studi, mahasiswa menyatakan aspek positif penggunaan sesi kritik dalam bentuk crit. (Seving Kurt, 2010; N. Uberta et al, 2011, dan Nangkula Uberta et al, 2013 ) menyatakan Crit Tipe 1; Semua siswa dapat mendengarkan kritik teman mereka, dan memiliki kesempatan dan kemungkinan untuk berpartisipasi dalam diskusi. Crit Tipe 2; Semua siswa dapat bekerja di studio desain selama jam studio. Juri awal dan sistem juri Akhir diimplementasikan. Crit Tipe 3; Setiap siswa bisa mendapatkan crit dari supervisor yang berbeda. Juri awal dan sistem juri akhir diimplementasikan. Crit Tipe 4; Meskipun terbatas, ada peluang dan kemungkinan diskusi dan partisipasi dalam lingkungan studio di seluruh juri. Crit Tipe 5; A "Juri konstan" sistem diterapkan dalam pengajaran studio) Terkonsentrasi Studio: 2-3 profesor mengelola operasi studio. Crit Jenis 6; Kedua Crit Tipe 5 dan Crit Jenis 6 mendorong kolaborasi mengenai partisipasi dan diskusi.

Satu penelitian (Yavuz Taneli et al, 2010) menyatakan bahwa perbedaan yang dirasakan penilaian dengan skala yang mereka terima penting untuk memotivasi perubahan dalam belajar. Skala penilaian untuk mengevaluasi karya yang dihasilkan distudio arsitektur berbeda dari pendekatan gradasi tradisional tidak hanya dalam dimensi pekerjaan tetapi juga visual yang disampaikan kepada siswa.

Aspek negatitif dari kritik pada studio desain arsitektur

Dari 4 studi yang direview yang menyatakan aspek negatif penggunaan sesi kritik dalam bentuk crit hanya 3 studi (Seving Kurt, 2010; N. Uberta et al, 2011, dan Nangkula Uberta et al, 2013 ) dimana crit yang punya kelemahan adalah Tipe Crit 1 samapai Tipe Crit 4, sementara Tipe Crit 5 siswa sudah mandiri. Disin dapat dilihat bahwa Crit Tipe 1: Guru duduk terpusat didepan siswa, pengajaran terjadi daripada belajar serta kurangnya aplikasi multi-media. Pada Crit Tipe 2; tidak ada kolaborasi dan partisipasi dalam studio latihan serta kurangnya aplikasi multi-media. UntukCrit Tipe 3; Tidak ada kolaborasi dan partisipasi dalam studio

(6)

194

latihan serta kurangnya aplikasi multi-media. Crit Tipe 4; Selama kritik meja, siswa seharusnya belajar secara individual serta kurangnya aplikasi multi-media.

Kesimpulan dan rekomendasi.

Pendidik dan instruktur studio pentingnya berpikir rasional dalam meningkatkan praktek belajar mengajar di studio. Pendidikan desain arsitektur dapat dikatakan masuk ke dalam standar alat penilaian otentik dimana penilaian otentik tidak berfokus pada pengetahuan faktual tetapi sebaliknya, berfokus pada kemampuan untuk menggunakan pengetahuan yang relevan, keterampilan, dan proses untuk memecahkan masalah yang berakhir terbuka. Dalam pengajaran desain diwujudkan dalam berbagai cara, dengan sesi kritik sebagai pokok utama penilaian hasil desain siswa dalam berpikir kreatif.

Pada pengajaran distudio desain sebaiknya studio dan lingkungan studio dapat diterapkan hal sebagai berikut

- Lingkungan Studio didesain sesuai dengan kebutuhan siswa untuk mencapai tujuan akademis mereka.

- Lingkungan studio desain tradisional yang ada sebaiknya ditransformasikan ke studio konstruktivis, sehingga permasalahan yang ada dari studio desain dapat dikurangi.

- Studio berfokus pada proses bukan desain produk akhir - Siswa dapat berbagi ide-ide desain mereka

- Kolaborasi sangat penting dalam proses desain. Sesi diskusi terbuka diimplementasikan

- Siswa didukung untuk melakukan refleksi pada tindakan

- Keterampilan baru dan alat-alat yang dikembangkan untuk prosedur belajar - Aplikasi Multimedia yang banyak digunakan

- Dalam mengevaluasi keberhasilan siswa, langkah yang diambil dari awal proses sampai akhir sangat penting.

(7)

195

Tema 2: Masalah yang berkaitan dengan dampak pendekatan yang digunakan dalam studio desain arsitektur

Tema menggunakan dampak pendekatan yang digunakan dalam studio desain terletak di 50% (n = 5) dari artikel Ulasan (Ercument Gorgul et al, 2012;. Mohammadjavad Mahdavinejad et al (2014); Aysen Ciravoglu (2014); Fathi Bashier (2014); safiye orem Dizdar1 (2015). Masalah-masalah yang diidentifikasi di sini berkaitan dengan dampak pendekatan eksperimental, formalistik, dan rasionalisme pada studio desain arsitektur

Dampak pendekatan yang digunakan dalam studio desain.

Review mengidentifikasi lima studi memiliki subtema dari dampak pendekatan yang digunakan dalam studio desain (Ercument Gorgul et al, 2012; Mohammadjavad Mahdavinejad et al, 2014; Aysen Ciravoglu, 2014; Fathi Bashier, 2014; safiye orem Dizdar1, 2015). Studi Ercument Gorgul et al (2012) menemukan bahwa sistem pendidikan di Cina, proses terutama penilaian terstruktur, bukan fokus pada peningkatan kekuatan pribadi individualistik, di mana siswa pendidikan menengah perlu mengambil serangkaian tes untuk menentukan pendidikan tinggi mereka berdasarkan arahan penilaian otoritas. Salah satu tujuan utama dari arahan ini menciptakan alternatif untuk lingkungan, program yang berfokus untuk menilai dan mengembangkan kemampuan alami siswa untuk membantu mereka membuat keputusan yang tepat untuk masa depan mereka. Setelah diterima, siswa dibimbing untuk menyederhanakan dan representasi abstrak dalam hal menghilangkan kesamaan formal melalui bidang sumber kerajinan yang mungkin hasil pekerjaan dengan yang telah dikembangkan di studio. Selanjutnya siswa didorong untuk mewujudkan hasil simulatif dan perwakilan menggunakan teknik kerajinan. Hasil ini biasanya dikembangkan dengan menggunakan alat digital atau model studi mereka. Ini lebih kurang tahap sintesis atau di mana siswa menggabungkan dan mengeluarkan hasilnya. Bimbingan ketat diterapkan untuk membatasi hasil konvensional yang mungkin jatuh ke dalam salah satu kategori arsitektur seni dan teknik dan juga dalam kategori kerajinan tradisional. Pada tahap akhir bahwa kemampuan, ketrampilan, dan keahlian berkaitan dengan keragaman kelompok.Menurut studi

(8)

196

Mohammadjavad Mahdavinejad et al (2014) proses desain dapat dikelompokkan dalam lima tahap menyatu dengan metode visual, tahap tersebut; (1) Tahap awal; dalam "wawasan Pertama", kesadaran arsitek 'dalam bentuk utama yang telah terbentuk dalam pikiran mereka, sehingga ide dasar desain dalam banyak kasus adalah ide visual yang dapat ditunjukkan dengan sketsa.(2)Tahap Persiapan : Dalam "tahap persiapan" apa yang ada dalam fikiran arsitek, secara bertahap akan menemukan aspek yang lebih nyata, sehingga arsitek mencoba untuk menyelesaikan ide arsitektur dengan mengambil catatan, pertanyaan dan mengumpulkan pengalaman dalam hal ini sebagian besar kegiatan ini memiliki aspek visual.(3) Inkubasi: Dalam "inkubasi" pikiran manusia sadar bawah mengambil inisiatif akan membantu memajukan proses desain dan karena kebanyakan arsitek dalam pikiran mereka memiliki kaya akan ide visual. Kesimpulannya, bersama inkubasi adalah proses visual.(4) Intuisi: Sebuah respon yang inovatif untuk desain adalah hasil dari "intuisi" yang benar dalam proses desain, dimana tanggapan ini adalah aspek visual.(5) Akhir Desain Arsitektur: desain dari pikiran para arsitek 'mencapai stabilisasi dan perubahan situasi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pikiran arsitek dapat menemukan ide, karena bagian ini dapat dipertimbangkan dalam merancang tingkat tertinggi fungsi visual.Penemuan Aysen Ciravoglu (2014) mengemukakan bahwa pelaksanaan studio desain arsitektur memiliki banyak kelemahan saat ini. Dampak dari kelemahan tersebut berdampak pada siswa magang, dimana permasalahan yang timbul adalah; Menyalin dari tutor memiliki pendekatan arsitektur; Kurangnya mengambil tanggung jawab siswa dan kepemilikan proyek; Kurangnya inisiatif tentang proyek; Kurangnya kepercayaan diri dan terus-menerus menunggu penegasan. Penyelesaian yang dikemukan oleh Aysen Ciravoglu (2014) kurangnya pengetahuan siswa dan guru dalam ilmu terbaru, diharapkan lingkungan studio arsitektur dapat membuka diri dari ilmu terbaru dimana pelajar mencoba desain arsitektur proyek dengan dukungan tutor. Fathi Bashier (2014) Perlunya perubahan kembalinya rasionalisme di studio menunjukkan bahwa panggilan untuk perubahan dalam budaya studio telah menjadi global, muncul baik di negara-negara Barat, seperti yang dicontohkan oleh AIAS dan lembaga internasional lainnya.Untuk hal ini teori yang diusulkan berfungsi sebagai dasar

(9)

197

teoritis atas mana saling ketergantungan yang rasional dan fase kreatif proses desain dapat dikonseptualisasikan.Tahap pertama adalah metode yang sistematis yang melibatkan penelitian, penggunaan teori positif, dan produksi prinsip-prinsip dasar. Tahap praktek kreatif juga melibatkan penelitian dan berfokus pada pemahaman pengetahuan rasional. Studi Safiye orem Dizdar1 (2015) Selama periode operasional pelajaran desain karakteristik subjek yang akan dilakukan dan informasi rinci harus diberikan kepada siswa secara lisan dan tertulis. Informasi seperti penelitian, produksi ide, kerja sketsa awal, Model skala sebelum dan sesudah dan tanggal berakhir harus diumumkan ke siswa. Dalam mengkritisi masalah, identifikasi masalah harus diklarifikasi untuk-

(10)

198 Tabel 1a Penelitian kuantitatif

No Penulis, Tahun

Lokasi Ukuran sampel, jenis dan tata cara Instrumen Temuan Kunci Keterbatasan

1. Yavuz Taneli et al, 2010

Turkey 20 Mahasiswa (4 laki-laki dan 16 perempuan). Jurusan Arsitektur Universitas Uludag.

Membandingkan dua proses evaluasi alternatif

Karya desain arsitektur; 1. Konsep mahasiswa 2. Pemahaman bangunan

arsitektur Sosial

3. Desain terintegrasi dengan baik kebangunan yang ada (bangunan, jalan, kehidupan, skala, sifat dan tempat sejarah)

4. Pendekatan desain ide dan arsitektur

5. Bangunan lingkungan pejalan kaki & lalu lintas kendaraan terintegrasi dengan baik 6. Topografi diperhitungkan

(mahasiswa sadar mungkin menentang kondisi topografi 7. Dasar-dasar desain bangunan,

berkumpul sukses 8. Ruang cocok fungsi yang

diusulkan

9. Spaces dalam bangunan dan eksterior terhubung dengan

Persepsi Siswa bersama bersama bahwa metode penilaian baru jelas disampaikan prioritas desain. Hal ini dapat dikaitkan dengan fakta bahwa siswa menerima evaluasi juri di semua 14 item terlepas dari metode komunikasi umpan balik.

Pengecualian adalah di antara kelompok yang menerima umpan balik melalui wajah

tersenyum, beberapa mengisyaratkan wajah sendu/sedih

Jalan lain dari penelitian harus peduli dengan menilai kualitas alat penilaian alternatif, dan menentukan kekuatan mereka. Setiap format penilaian melayani tujuan yang berbeda dan itu masih harus diselidiki mana yang akan paling konstruktif dalam studio arsitektur. Sebuah program penilaian pluralistis perlu dikembangkan agar produk akhir dapat memiliki kegunaan yang luas

(11)

199 baik

10. Skema ruang perkotaan yang baik diusulkan yang

berukuran sesuai dengan fungsi

11. Bangunan "bekerja" disarankan berdasarkan penggunaan

12. Ruang Umum / semi public / ruang privat

13. Gambar Rencana dipilih mengandung detail yang memadai dan skala yang tepat untuk menampilkan informasi yang relevan

(12)

200 2. Seving Kurt, 2010 Cyprus Utara 8-12 siswa

Crit Tipe 1: Ada delapan atau dua belas siswa dalam setiap kelompok

Crit Tipe 2: Ada delapan atau dua belas siswa dalam setiap kelompok

Crit Tipe 3: Pekerjaan studio harus dilakukan oleh sekelompok mahasiswa di bawah pengawasan sekelompok profesor

Crit Tipe 4: Ada ―sering datang‖ sistem pengajaran studio

Crit Tipe 5: A "Juri konstan" sistem diterapkan dalam pengajaran studio) Terkonsentrasi Studio: 2-3 profesor mengelola operasi studio

Crit Jenis 6: A "Juri konstan" sistem diterapkan dalam pengajaran studio) Menyebarkan Studio: 2-3 profesor mengelola operasi studio

- Evaluasi Jenis Crit dari Design Studio Praktek - Metode Pengajaran di Studio - Tujuan

- Struktur - Penilaian hasil

-

Jika lingkungan studio desain tradisional ditransformasikan ke studio konstruktivis, permasalahan yang ada dari studio desain dapat dikurangi.

Tindakan mengajar / belajar yang dilakukan di "studio tradisional" dalam pendidikan arsitektur harus dianalisis dan

dibandingkan dengan "studio konstruktivis" secara rinci.

(13)

201 3. N. Uberta et

al, 2011

Malaysia 23 Mahasiswa (9 laki-laki, 14 perempuan) Jurusan Arsitektur Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)

Crit Tipe 1: Ada delapan atau dua belas siswa dalam setiap kelompok

Crit Tipe 2: Ada delapan atau dua belas siswa dalam setiap kelompok

Crit Tipe 3: Pekerjaan studio harus dilakukan oleh sekelompok mahasiswa di bawah pengawasan sekelompok profesor

Crit Tipe 4: Ada ―sering datang‖ sistem pengajaran studio

Crit Tipe 5: A "Juri konstan" sistem diterapkan dalam pengajaran studio) Terkonsentrasi Studio: 2-3 profesor mengelola operasi studio

Crit Jenis 6: A "Juri konstan" sistem diterapkan dalam pengajaran studio) Menyebarkan Studio: 2-3 profesor mengelola operasi studio

Enam jenis sesi kritik yang digunakan dalam studio

Individual Crit, formatif Crit, sumatif Crit, rekan Crit, Grup Crit dan Diskusi Panel.

-

latihan studio saat ini membutuhkan pola pikir baru dan kerangka kerja baru yang akan

direkonstruksi dan direnovasi

Penelitian ini akan selesai dengan berbagai jenis perlakuan dalam

penyelidikan seperti; ras, gender dan aspek yang berbeda juga memiliki peran penting dalam sesi crit.

(14)

202 4. Nangkula

Uberta et al, 2013

Malaysia 8-12 Mahasiswa

Crit Tipe 1: Ada delapan atau dua belas siswa dalam setiap kelompok

Crit Tipe 2: Ada delapan atau dua belas siswa dalam setiap kelompok

Crit Tipe 3: Pekerjaan studio harus dilakukan oleh sekelompok mahasiswa di bawah pengawasan sekelompok professor.

Crit Tipe 4: Ada ―sering datang‖ pada sistem pengajaran studio

Penilaian di studio arsitektur - Kritik individu - Kritik formatif - Kritik sumatif - Kritik teman - Kelompok kritik - Kritik umum - Seminar - Kritik tertulis - Diskusi panel menunjukkan bahwa siswa merasa begitu frustrasi dan ketakutan untuk menyajikan desain mereka di sesi crit yang kelihatan. Dan mereka khawatir untuk diremehkan oleh rekan-rekan dan juri.

Beberapa guru studio desain sudah

memanfaatkan banyak langkah-langkah dalam proses ini, tetapi tanpa penempatan label pada perilaku

Tabel 1b Penelitian Kualitaif

No Penulis

Tahun

Lokasi Ukuran Sampel, jenis dan tatacara

Metode Teknik sampling Temuan Kunci Keterbatasan

1. Ercument Gorgul et al, 2012

China - Penelitian pertama pada program musim panas di jurusan arsitektur Universitas Hongkong - Penelitian kedua di Universitas Tongji di Shanghai Studi kasus Qual

- Praktek studio yang berkorelasi dengan topik perkuliahan yang berbeda - Lamanya 18 minggu dibagi 2 modul dengan kerajinan yang berbeda. Peningkatan kemampuan, ketrampilan, dan keahlian berkaitan dengan keragaman kelompok

Siswa lebih termotivasi untuk mendefinisikan dan membangun link siswa sendiri

(15)

203 2. Mohammadjavad

Mahdavinejad et al, 2014

Iran Enam kelompok mahasiswa, 3 kelompok di studio desain II dan 3 kelompok distudio desain IV. Studi kasus Qual Purpose Mahasiswa desain studio II ada 3 kelompok, sampel pertama, kedua, dan control menyediakan hasil yang bermakna

Pendekatan formalistik terhadap proses desain arsitektur mungkin tidak terlalu berhasil diprediksi terutama dalam desain studio IV namun teknik visual yang adopsi

menunjukkan sukses besar

Tantangan utama dari pendekatan formalistik dibuat untuk desain pemula adalah keterbatasan pikiran universal. Di sisi lain, pendekatan formalistik memaksa keterbatasan realistis untuk

merancang dalam desain arsitektur. 3. Aysen Ciravoglu, 2014 Turkey Mahasiswa tahun

akademik 2010- 2011 dan tahun akademik 2011-2012 di Arsitektur Desain Studio 4 di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Yõldõz Istanbul. Studi kasus Qual

Menguji metode baru dalam mengajar studio desain arsitektur 4 - Temuan jawaban Tutor, 60% metode baru positif, 30% sebagian yg positif, 10% metode baru negatif - Temuan Jawaban siswa, 62% metode ini negatif, 9% metode ini sebagian positif, 29% metode ini positif

- Temuan ini memiliki interprestasi yang berbeda , dimana gurumenenmukan metode konstruktif dan mahasiswa tidak

Setelah enam semester mahasiswa kembali ke metode tradisional

(16)

204

siap dengan metode baru ini

4. Fathi Bashier, 2014 Ethiopia Mahasiswa studio Jurusan Arsitektur dan perencanaan kota Universitas Mekelle

Studi kasus Qual

Pengembangan dan strategi desain secara sistematis, termasuk prinsip-prinsip dasar dan penerapan konsep untuk masalah desain

- Teori yang diusulkan berfungsi sebagai dasar teoritis atas mana saling

ketergantungan yang rasional dan fase kreatif proses desain dapat

dikonseptualisasikan - Tahap pertama adalah

metode yang sistematis yang

Tidak adanya sebuah teori konsep gagasan pengetahuan saling ketergantungan.

(17)

205

melibatkan penelitian, penggunaan teori positif, dan produksi prinsip-prinsip dasar. - Tahap praktek kreatif

juga melibatkan penelitian dan berfokus pada pemahaman pengetahuan rasional yang dikembangkan dalam tahap sistematis, termasuk prinsip-prinsip dasar dan strategi desain, serta pada penerapan konsep-konsep ini untuk masalah desain.

(18)

206 5. Safiye orem Dizdar1,

2015

Turkey Mahasiswa studio Jurusan Arsitektur Universitas Mersin

Studi kasus Qual

Menguji metode kerja siswa untuk profesi proses desain dan ruang konsep dasar yang diberikan.

Mendapatkan suasana fungsi studio harus dipahami bukan sebagai produk tetapi sebagai proses yang terfokus. Kemampuan menggambar apa yang mereka impikan hari ini akan menjadi akuisisi kesatuan konsep teknologi dan seni.

Faktor yang

mempengaruhi tingkat belajar siswa yang masuk jurusan

arsitektur adalah bahwa mereka tidak memiliki tingkat dan konsep pengetahuan yang sama

Tabel 1c Penelitian Kuantitatif kualitatif (Mix Methods) No Penulis

Tahun

Location Ukuran sampel, jenis dan tatacara

Metode Strategi Sampling Temuan Kunci Keterbatasan

1. Sajjad Nazidizaji et al, 2014

Portugal Populasi 184 ukuran sampel 78 Mahasiswa arsitektur

Dipilih secara random sampling

penelitian dan data akan dianalisis secara kolektif. Dari 78 peserta, 48 (61,5%) adalah perempuan dan 30 (38,5%) laki-laki.

Quant Qual ADS (Architectural Design Studio) - Mencari solusi penyelesaian masalah yang kompleks yang berkaitan dengan proyek

- Iterasi sangat cepat dalam solusi yang dicapai selama tahap desain

Tidak adanya korelasi antara hasil kecerdasan emosional (EQ) dengan studio desain (berkaitan dengan efek EQ pada komunikasi

interpersonal dan social). - Tutor tidak mengelola

atau mengizinkan komunikasi sosial yang baik selama sesi studio desain.

Untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut, hipotesis dari penelitian ini harus diuji pada kursus studio desain diberbagai Negara dengan berbagai latar belakang budaya atau tim desain

professional atau desain kalaboratif dengan metode penilaian yang berbeda.

(19)

207

- Kritik formal dan frekwensi informal - Berfikir holistik dalam penggunaan ide-ide - kreatif dalam menangani masalah - - Kurangnya standar ruang untuik studio desain dalam penelitian ,

mengurangi interaksi antara siswa

(mengingat jumlah siswa perkelas lebih tinggi dari satandar). - Metode kritik yang

dipilih untuk setiap tahap adalah tidak cocok

- Tutor tidak

menginterpretasikan dengan baik ketika mengubah penilaian kualitatif ke skor

(20)

208

siswa dengan mengamati apakah apa yang diinginkan selama kemajuan proyek dipahami atau tidak. Dalam situasi di mana tampaknya perlu, persepsi siswa baik dari produk dapat dipastikan dengan mengidentifikasi masalah pada contoh model tiga dimensi. Penyelesaiannya menurut Safiye orem Dizdar1 (2015) adalah membuat suasana fungsi studio harus dipahami bukan sebagai produk tetapi sebagai proses yang terfokus. Kemampuan menggambar apa yang mereka impikan hari ini akan menjadi akuisisi kesatuan konsep teknologi dan seni.

Kesimpulan dan rekomendasi

Sumber yang menyehatkan pendidikan yang terdiri dari; mahasiswa, staf pengajar, profesional, biro konstruksi dan tempat (studio) harus secara efektif memberikan kontribusi terhadap pendidikan, dan keabsahan sistem pemikiran dan pengembangan harus dipastikan di setiap tingkat pendidikan. Pentingnya berpikir rasional dalam meningkatkan praktek belajar mengajar di studio, dimana banyak telah mengakui bahwa rasionalitas dan kreativitas berdampingan dalam proses desain.Terlalu sedikit pendekatan teoritis untuk desain studio arsitektur, dan terlalu sedikit eksperimen pendidikan mengakibatkan kurang optimalnya hasil desain siswa. Perlunya menyehatkan kembali studio desain dan meningkatkan praktek belajar mengajar distudio, sehingga menghasilkan lulusan yang ahli dibidangnya.

Tema 3: Masalah Berkaitan peran kecerdasan emosional di studio desain arsitektur.

Tema ketiga adalah 'masalah yang berhubungan dengan peran kecerdasan emosional di studio desain arsitektur. Tema ini ditemukan pada satu studi (10%) dari studi Ulasan (Sajjad Nazidizaji et al, 2014). Tema ini mengkaji sarjana jurusan arsitektur di Iran yang membutuhkan masa perkuliahan setidaknya 4 tahun, dengan jumlah total kredit 140 SKS, dan mereka terdiri dari program umum, dasar, profesional, dan opsional. Masing-masing dari ADS (1, ADS-2, ADS-3, ADS-4, dan ADS-5) setara dengan 5 kredit. Setiap kursus studio desain dimulai dengan studi dasar, standar arsitektur yang berhubungan dengan desain, studi lapangan serta analisis. Siswa mempresentasikan konsep utama, dan dosen

(21)

209

membantu memperbaiki pekerjaan mereka. Proyek akhir pada akhir semester terdiri dari model 3D dan rencana dimensi, termasuk rencana site, denah perlantai, sampai berakhir menggunakan perspektif baik interior maupun eksterior. Program ini dievaluasi oleh dosen melalui proyek-proyek yang disajikan pada akhir semester. Sistem kritik di studio desain Iran umumnya berlangsung dari meja kritik individu dalam ADS-1 sampai dengan kritik juri di ADS-5. Kritik meja individu melibatkan guru dan siswa dan biasanya diadakan di meja siswa Artinya, jumlah komentar yang siswa terima dari teman-teman sekelasnya, dan bahkan orang-orang dari tutor diundang dari fakultas lain, kompleksitas masalah terlihat meningkat (yaitu, dari ADS-1 sampai ADS-5). ADS program mulai dari semester keempat, dan siswa tidak bisa lulus lebih dari satu ADS saja dalam satu semester. Isi utama dan ruang lingkup masing-masing program ADS adalah sebagai berikut;

ADS-1: Belajar fungsi ruang yang sederhana, seperti pasar buah atau terminal kecil.

ADS-2: Belajar desain dan faktor perumahan dalam konteks perkotaan hijau. ADS-3: desain Budaya, artistik, dan konseptual dengan kesederhanaan dalam sistem fungsional, seperti museum dan pusat kebudayaan. ADS-4: desain sistem fungsional kompleks, seperti rumah sakit kecil atau bandara kecil.

ADS-5: desain kompleks perumahan.

Kesimpulan dan rekomendasi.

Studio desain adalah inti dari kurikulum arsitektur. Mengingat peran kunci dari interaksi interpersonal dalam studio desain dan di kritik, maka dicari dan diuji alat prediktif untuk keterampilan ini, dan hasilnya diperoleh hasil yang lebih baik di studio desain dengan memilih EQ sebagai alat prediksi:

(A) peran positif EQ tinggi dalam keterampilan, seperti komunikasi lisan, negosiasi, kerja sama tim, dan kepemimpinan; (B) peran penting keterampilan ini di studio desain; dan (C) universalitas tes EQ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan antara EQ dan desain arsitektur , di satu sisi

(22)

210

keterampilan dan, di sisi lain, prestasi akademik mahasiswa arsitektur, termasuk peran gender.

Hubungan yang signifikan antara EQ dan hasil skor ADS yang berbeda (yaitu, ADS-1- ADS 5- di studi ini). Lima belajar desain berbeda dalam hal subjek desain dan kompleksitas masalah desain. ADS skor yang digunakan dalam penelitian ini diukur dengan metode penilaian kualitatif dan kritik. Komposisi evaluator dan teman sekelas juga berbeda. Pendekatan ini diharapkan untuk mengungkapkan kemampuan siswa di studio desain.

Daftar Pustaka

N. Utaberta et al, 2011; Merekonstruksi Ide Kritik Session dalam Studio Arsitektur . Selangor, Malaysia

Ercument Gorgul et al, 2012; Pengajaran Kreativitas; Mengembangkan

Experimental Design Studio Kurikulum Mahasiswa Pra Perguruan Tinggi dan Tingkat Sarjana di China. China

Sevinç Kurt, 2013 ; Sebuah studi analitik pada lingkungan studio tradisional dan penggunaan studio konstruktivis dalam pendidikan desain arsitektur. Cyprus Utara

Nangkula Uberta et al, 2013 ; Perbaikan oleh pendidikan arsitektur mendefinisikan ulang pembahasan kritik pada disain studio

Malaysia

Mohammadjavad Mahdavinejad et al , 2013. Dampak Pendekatan formalistik dalam Desain Arsitektur Proses pada Kualitas Pembelajaran Siswa, Kasus: Design Studio II, IV

Ayşen Ciravoğlu, 2013 ; Catatan tentang pendidikan arsitektur: Sebuah pendekatan eksperimental untuk desain studio . Turkey

Yavuz Taneli et al, 2010 ; Skala penilaian alternative untuk pekerjaan siswa yang diproduksi distudio arsitektur. Turkey

Safiye Orem Dizdar I, 2014 ; Pendidikan arsitektur, kursus menggunakan contoh proyek desain pada proses pendidikan. Turkey

Fathi Bashier, 2014; Refleksi pendidikan desain arsitektur: mengembalikan rasionalisme di studio Ethiopia

Sajjad Nazidizaji, Ana Tomé, Francisco Regateiro, 2014 Mencari Kecerdasan Desain: Sebuah tentang peran kecerdasan emosional di studio desain arsitektur (studi lapangan). Portugal

Gambar

Tabel 1b Penelitian Kualitaif
Tabel 1c Penelitian Kuantitatif kualitatif (Mix Methods)  No  Penulis

Referensi

Dokumen terkait

Dengan rumusan masalah tersebut, penulis ingin mengetahui pesan dakwah yang terdapat dalam cerpen Kalung karya Agus Noor.. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode

Berdasarkan analisis struktur dengan FTIR, 1 H-NMR dan 13 C-NMR, produk reaksi berupa campuran senyawa yaitu etil 2-(3,5-dihidroksifenol) asetat, etil

Hasil uji hipótesis dengan menggunakan análisis variansi menyatakan nilai persentase distribusi beban sumbu hasil penelitian untuk 1.22-22 dan 1.22-222 sama dengan

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan aktivitas belajar siswa (2) mendeskripsikan keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran (3) menemukan

Dengan metode aljabar linier dan Invers Drazin, dalam penelitian ini dibuktikan beberapa teorema agar sistem deskriptor diskrit (E, A, B) ≥ 0 tercapai positif,

Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis buku teks Tᾱlῑm Al-Lughᾱh Al-„Arabiyyah Pendidikan Bahasa Arab SMA/SMK/MA Muhammadiyah kelas XII karya Syahbana Daulay yang telah

Konsep Ihsan menurut Syahrur mengandung pesan Islam yang universal bukan merupakan pesan yang sempit seperti yang dijelaskan dalam warisan penafsiran terdahulu

Peradangan terjadi karena ujung jarum suntik yang telah terkontaminasi kuman menembus lapisan otot tipis (M.konstriktor faring superior) yang memisahkan ruang