commit to user
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian Pengembangan
Penyajian hasil penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya. Penelitian ini telah berhasil mengembangkan dan menyusun rancangan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah di SMA Negeri Kota Surakarta. Data-data yang disajikan merupakan serangkaian proses pengembangan, kelayakan, dan efektivitas model pembelajaran yang dikembangkan. Berikut penyajian hasil penelitian pengembangan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah yang telah dikembangkan.
Pengembangan model pembelajaran dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan Borg & Gall meliputi research and information collecting, planning, develop preliminary form of product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, operational product revision, operational field testing, final product revision, and dissemination and implementation
Hasil pengembangan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah di SMA Negeri kota Surakarta sebagai berikut:
a. Tahap research and information collecting
Langkah-langkah pokok dalam melakukan studi pendahuluan pada tahap ini adalah mengkaji menyelidiki dan mengumpulkan informasi mengenai kekurangan atau masalah yang ada dalam pelaksanaan pembelajaran materi koperasi di SMA Negeri kota Surakarta.
Hasil pengembangan model pembelajaran berbasis koperasi sekolah di SMA Negeri kota Surakarta sebagai berikut:
Langkah-langkah pokok dalam melakukan studi pendahuluan pada tahap ini adalah mengkaji menyelidiki dan mengumpulkan informasi mengenai kekurangan atau masalah yang ada dalam pelaksanaan pembelajaran materi koperasi di SMA Negeri kota Surakarta. Selain itu untuk mengidentifikasi kebutuhan model pembelajaran koperasi untuk meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai koperasi dan upaya meningkatkan kesadaran peserta didik akan peran koperasi.
commit to user
Peneliti melakukan observasi secara langsung dalam mengamati proses pembelajaran di kelas dan melakukan wawancara kepada guru yang bersangkutan tentang bagaimana proses pembelajaran koperasi di sekolah. Berdasarkan hasil observasi pendahuluan yang telah dilakukan, guru belum menggunakan koperasi sekolah sebagai sarana pembelajaran dan dalam pelaksanaan proses pembelajaran masih berpusat di kelas. Beberapa guru sudah menerapkan model pembelajaran kooperatif untuk menunjang kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi peserta didik hanya diminta membayangkan serta mencari bahan diskusi melalui internet meskipun pada kenyataannya sekolah memiliki fasilitas koperasi sekolah yang dapat dijadikan sarana pembelajaran langsung.
Wawancara juga dilakukan kepada peserta didik di beberapa sekolah di kelas X, XI, XII. Beberapa peserta didik ada yang masih mengingat mengenai koperasi dan beberapa peserta didik lupa mengenai koperasi. Menurut peserta didik pembelajaran koperasi yang telah dilakukan masih berpusat di kelas, peserta didik tidak terlibat dalam kegiatan koperasi. Proses pembelajaran koperasi yang masih berpusat di kelas juga mempengaruhi kesadaran siswa mengenai koperasi. Sebagian besar siswa belum memiliki keinginan untuk menjadi anggota koperasi di kemudian hari dikarenakan minimnya pengertian siswa mengenai nilai-nilai dan juga azas berdirinya koperasi.
Wawancara juga dilakukan kepada beberapa pengelola koperasi di sekolah. Menurut pemaparan pengelola koperasi, peserta didik perlu di ajarkan mengenai dasar pengelolaan koperasi seperti pemesanan barang, menjual barang,dan mecatat pembelian barang harian. Masih menurut pengelola koperasi, peserta didik di SMA kurang memiliki minat berkoperasi berbeda dengan di SMK yang memang ada praktiknya, terlebih kebanyakan koperasi di SMA berupa koperasi guru dan peserta didik hanya sebagai pembeli. Penggunaan koperasi sebagai sarana pembelajaran koperasi dirasa dapat membantu untuk meningkatkan pemahaman peserta didik dan pengetahuan peserta didik mengenai koperasi.
Berdasarkan analisis kebutuhan dalam pelaksanaan pembelajaran koperasi dan untuk memaksimalkan model pembelajaran yang sudah diterpakan, maka dipandang perlu untuk mengembangkan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah sebagai pemanfaatan sarana yang ada di sekolah.
commit to user
b. Tahap planning
Tahap ini dilakukan untuk merancang prototype model pembelajaran berbasis koperasi sekolah. Langkah-langkah dalam mendesain model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah mengacu kepada desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick and Carey (1990). Desain pembelajaran tersebut meliputi mengidentifikasi tujuan khusus pembelajaran, pengembangan instrumen penilaian dan pengembangan strategi pembelajaran.
commit to user
Gambar 8. Rancangan Pengembangan Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah sesuai Dick and Carey (1990)
Koperasi Sekolah Sebagai Basis Pengembangan Model Pembelajaran
Kooperatif, PBL dan Observasi Koperasi
Menganalisis Karakteristik Siswa dan Konteks Pembelajaran Mengenai Koperasi
Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus Mengenai Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah:
a. meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai koperasi
b. meningkatkan solidaritas antar sesama peserta didik dan dalam kegiatan kelompok c. menjalin solidaritas antara peserta didik dan pengurus koperasi dalam kegiatan observasi d. memahami nilai-nilai yang terkadung dalam koperasi
e. meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai peran koperasi, dan
f. mampu menganalisis permasalahan koperasi yang ada di sekolah serta mampu merancang koperasi mereka sendiri.
Mengembangkan Instrumen Penilaian 1. Penilaian psikomotorik dengan kegiatan observasi yang dilakukan
2. Penilaian afektif mengenai aktivitas peserta didik
3. Penilaian kognitif menggunakan tes pengetahuan berupa butir soal
4. Tabel skala sikap untuk mengetahui tanggapan peserta didik mengenai koperasi
Mengembangkan Strategi Pembelajaran mengenai Koperasi
1. Sebelum memulai pembelajaran guru melakukan orientasi, motivasi dan apresiasi melalui video dan gambar seputar koperasi.
2. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah dengan pembelajaran langsung yang menggunakan koperasi sekolah sebagai sumber utamanya.
3. Pembelajaran langsung ini melibatkan peserta didik dalam proses observasi partisipan.
4. Peserta didik diminta untuk mengamati proses pengelolaan koperasi sekolah dan mempraktekannya sesuai yang telah diamati dan diajarkan oleh pengurus yang bersangkutan.
5. Peserta didik juga diminta untuk menganalisis hal-hal yang terjadi dalam kegiatan pengamatan tersebut. 6. Kemudian hasil pengamatan di presentasikan di depan
commit to user
1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran:
Tujuan dari pembelajaran yang diadakan adalah :
a. Meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai materi yang diajarkan
b. Mampu melakukan kegiatan mengamati, menanya, mencari informasi, menalar dan mengomunikasi permasalahan terkait dengan materi yang sedang diajarkan.
c. Peserta didik dapat lebih aktif untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
2. Melakukan analisis pembelajaran dan karakter peserta didik
Tahap ini adalah tahap untuk mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang harus ada pada pembelajaran.
a. Kegiatan pembelajaran ini dikaitkan dengan perkembangan peserta didik dan kemajuan zaman. Kegiatan pembelajaran dibantu dengan media eletronik berupa tayangan video dan juga menggunakan media power point.
b. Nilai-nilai karakter yang terkandung dalam materi koperasi juga ditanamkan guna membentuk pribadi yang lebih baik di kehidupan bermasyarakat. Nilai karakter berupa kerjasama, gotong royong dan toleransi di perhatikan ketika kegiatan pembelajaran di kelas ataupun ketika melakukan kegiatan observasi dan kegiatan presentasi.
3. Menyusun tujuan model pembelajaran yang dikembangakan
Model pembelajaran yang dikembangkan merupakan model
pembelajaran yang diperuntukkan peserta didik kelas X SMA. Mata pelajaran yang dipilih adalah ekonomi dengan materi mengenai koperasi. Model pembelajaran ini dinamakan Model Pembelajaran Berbasis Koperasi Sekolah (MPBKS).
Model pembelajaran ini melibatkan persiapan dan observasi pada implementasi perkoperasian secara nyata dan melibatkan peserta didik untuk menganalisis kejadian-kejadian yang dilihatnya. Adapun tujuan dari model pembelajaran ini adalah:
commit to user
a. meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai koperasi
b. meningkatkan solidaritas antar sesama peserta didik dan dalam kegiatan kelompok
c. menjalin solidaritas antara peserta didik dan pengurus koperasi dalam kegiatan observasi
d. memahami nilai-nilai yang terkandung dalam koperasi
e. meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai peran koperasi, dan f. mampu menganalisis permasalahan koperasi yang ada di sekolah
serta mampu merancang koperasi mereka sendiri. 4. Mengembangkan instrumen penilaian
Instrumen penilaian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Penilaian psikomotorik dengan kegiatan observasi yang dilakukan.
a. Penilaian untuk tugas pengamatan Kelompok
Jenis Penilaian 1 2 3 4
Ketepatan Waktu Isi Analisis Hasil Analisis
Kemenarikan Desain Tugas Presetasi
TOTAL
Pengisian diberi tanda ceklis (√) Perhitungan nilai:
= −− × 100 %
Keterangan: NH = Nilai Hasil
TS-e = Total Skor Empirik (skor yang diperoleh siswa)
TS-max = Total Skor Maximal (skor maksimal yang diharapkan)
b. Penilaian mandiri dalam tugas pengamatan
commit to user
Keterangan Deskriptor: Rubrik Penilaian
Ya = memperoleh skor 1 Tidak = memperoleh skor 0
Perhitungan nilai:
= −− × 100 %
Keterangan: NH = Nilai Hasil
TS-e = Total Skor Empirik (skor yang diperoleh siswa)
TS-max = Total Skor Maximal (skor maksimal yang diharapkan)
c. Penilaian afektif mengenai aktivitas peserta didik
No Nama
Peserta didik
Kedisiplinan Keaktifan Kerjasama
Jumlah skor
Nilai
No Deskriptor Ya Tidak
1 Terlibat dalam mengobservasi keadaan koperasi dan memahami materi
pembelajaran sesuai tugas kelompok 2 Terlibat dalam peyusunan hasil kerja
kelompok
3 Berbicara (bertanya dan menjawab pertanyaan) pada saat diskusi kelas 4 Mengeluarkan pendapat pada saat
pemecahan masalah
5 Terlibat dalam menganalisis pembuatan tugas kelompok
commit to user
Keterangan:
Aspek Kedisiplinan
Skor 3: mengerjakan tugas sesuai prosedur dan tepat waktu Skor 2: mengerjakan tugas sesuai prosedur/tepat waktu
Skor 3: tidak mengerjakan tugas sesuai prosedur dan tidak tepat waktu
Aspek Keaktifan
Skor 3: melakukan pengukuran, pencatatan dan urun pendapat/solusi Skor 2: melakukan pengukuran/pencatatan/urun pendapat atau solusi Skor1: tidak melakukan pengukuran, pencatatan dan tidak urun pendapat/solusi
Aspek Kerjasama
Skor 3: melakukan pengukuran, pencatatan dan penyelesaian tugas secara bersama
Skor 2: melakukan pengamatan/pencatatan/penyelesaian tugas secara bersama
Skor 1: melakukan pengamatan/pencatatan/penyelesaian tugas secara individual
Skor Maksimum adalah 3x3 = 9
= x 100
Nilai Konversi = x 4
Predikat Nilai Sikap
Nilai Predikat 4 SB 3.66 SB 3.33 B 3.00 B 2.66 B 2.33 C 2 C 1.66 C 1.33 K 1 K
d. Penilaian kognitif menggunakan tes pengetahuan berupa butir soal 1. Tes pendahuluan atau pre test, adalah tes acuan patokan yang
diperlukan untuk mengetahui profil peserta didik sehubungan dengan analisis pembelajaran.
commit to user
2. Post test adalah tes acuan patokan yang mencakup seluruh tujuan pembelajaran yang mencerminkan hasil belajar yang dilakukan peserta didik. Meskipun begitu, tujuan awal post test adalah untuk mengidentifikasi bagian pembelajaran yang tidak berhasil. Bentuk tes berupa soal pilihan ganda.
e. Tabel skala sikap untuk mengetahui tanggapan peserta didik mengenai koperasi.
No Pernyataan S TS Alasan
1 Kemudian hari saya ingin
menjadi anggota atau
mendirikan koperasi
2 Koperasi sekolah
seharusnya melibatkan
siswa dalam
pengelolaannya
3 Koperasi sekolah dapat
menumbuhkan jiwa
kewirausahaan
4 Koperasi sekolah memiliki
banyak peran dalam
kehidupan siswa
5 Dengan belajar koperasi
menumbuhkan toleransi dan bekerja sama dalam diri saya
5. Mengembangkan Strategi Pembelajaran mengenai Koperasi
1. Sebelum memulai pembelajaran guru melakukan orientasi, motivasi dan apresiasi melalui video dan gambar seputar koperasi. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah dengan pembelajaran langsung yang menggunakan koperasi sekolah sebagai sumber utamanya.
2. Pembelajaran langsung ini melibatkan peserta didik dalam proses observasi partisipan.
3. Peserta didik diminta untuk mengamati proses pengelolaan koperasi sekolah dan mempraktekannya sesuai yang telah diamati dan diajarkan oleh pengurus yang bersangkutan.
commit to user
4. Peserta didik juga diminta untuk menganalisis hal-hal yang terjadi dalam kegiatan pengamatan tersebut.
5. Kemudian hasil pengamatan di presentasikan di depan kelas c. Penyusunan Draft Model
Penyusunan draft model berdasar pada landasan teori hasil kepustakaan yang dipadukan dengan karakterisitk model yang akan dikembangkan. Model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan lima komponen pembelajaran sebagaimana dikemukakan Joyce (2011) yaitu sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak instruksional dan pengiring.
Indikator model pembelajaran yang dikembangkan mengacu pada kurikulum 2013 dengan beberapa aspek penilaian. Aspek penilaian dalam model yang dikembangkan ini tidak hanya aspek kognitif tetapi juga aspek afektif dan penilaian hasil observasi. Penanaman nilai sesuai nilai-nilai koperasi juga ditanamkan dalam diri peserta didik agar kelak dapat berguna di kehidupan di masyarakat.
commit to user
Gambar 9. Prototype Awal Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
Kooperatif, PBL dan Observasi Koperasi
Pendahuluan Orientasi
Motivasi
Apresiasi
Guru memberikan informasi tentang kompetensi yang akan dicapai agar dengan mudah peserta didik memahami tujuan dari pembelajaran ini.
Guru menyampaikan salam dan membimbing peserta didik untuk berdoa
Guru memberikan motivasi agar peserta didik antusias dengan menceritakan tokoh-tokoh terkenal atau penggambaran mengenai koperasi menurut peserta didik.
Guru menyajikan gambar-gambar dan video mengenai koperasi sukses dan membandingkan dengan koperasi sekolah mereka untuk menstimulus peserta didik masuk ke dalam model PKBKS
Inti
Mengamati Guru membentuk 3 kelompok besar dan peserta didik diminta untuk mengamati kinerja pengelolaan koperasi sekolah dan menjadi partisipan dalam pengelolaan koperasi sekolah
Menanya
Meminta peserta didik untuk menanyakan hal-hal yang kurang dipahami mengenai tugas yang harus dilakukan dalam pengelolaan koperasi.
Mencari Informasi
Peserta didik menggali informasi dari berbagai sumber mengenai pengelolaan koperasi dan mengenai materi koperasi
Mengomunikasik an
Setiap kelompok membuat laporan hasil pengamatan dan partisipan yang telah dilakukan dengan mencantumkan kelemahan, potensi dan solusi yang diperlukan dalam membangun koperasi sekolah mereka
Menalar
Setiap kelompok mepresentasikan di depan kelas kelompok lain menanggapi apabila masih ada yang dianggap perlu dikritisi atau diperbaiki. Guru bertindak sebagai moderator.
Penutup
Simpulan Guru dan peserta didik bersama-sama menarik kesimpulan mengenai materi
koperasi dan pengamatan yang telah dilakukan.
Refleksi Guru meminta peserta didik untuk merenungkan manfaat dan sikap-sikap
yang dapat di ambil dari kegitan ini.
Evaluasi Guru meminta peserta didik untuk mempelajari materi ini untuk persiapan postes.
Tindak Lanjut
Guru melakukan postes dan menanyakan ketertarikan peserta didik untuk memajukan koperasi sekolah mereka.
commit to user
Tabel 7. Sintaks Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
Fase Indikator Perilaku Guru Kegiatan Siswa
Fase 1 Penyiapan kelas
dan peserta didik masuk ke dalam model
pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah
1. Guru membimbing peserta didik untuk berdoa
2. Guru memberikan motivasi agar peserta didik antusias dengan
menceritakan tokoh-tokoh
terkenal atau penggambaran mengenai koperasi menurut siswa.
3. Guru menyajikan
gambar-gambar dan video mengenai
koperasi sukses dan
membandingkan dengan
koperasi sekolah mereka untuk menstimulus peserta didik
masuk ke dalam model
pembelajaran berbasis koperasi sekolah.
4. Guru memberikan informasi tentang kompetensi yang akan dicapai agar dengan mudah peserta didik memahami tujuan dari pembelajaran ini.
1. Peserta didik berdoa terlebih dahulu 2. Peserta didik memahami dan menunjukan semangat untuk memulai pembelajaran 3. Peserta didik mengamati dan mencerna gambar
atau video yang disajikan
4. Peserta didik bersiap
untuk menerima
pelajaran
Fase 2 Mengorganisasi
peserta didik untuk melakukan
kegiatan pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah.
1. Guru membentuk 3 kelompok
besar masing-masing
beranggotakan 10 orang dan setiap kelompok diminta untuk mengamati kinerja pengelolaan koperasi sekolah. Meminta peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang dipahami mengenai tugas yang harus dilakukan dalam pengelolaan koperasi.
2. Peserta didik menggali
informasi dari berbagai sumber mengenai pengelolaan koperasi dan mengenai materi koperasi
1. Berkumpul dengan kelompoknya.
2. Memahami teknis kerja dan alokasi waktu yang telah diberitahu 3. Peserta didik melakukan cara mengelola koperasi sekolah 4. Peserta didik menggali dari berbagai sumber terkait kegiatan pengamatan yang dilakukan
Fase 3 Membantu dalam
diskusi kelas untuk analisis penelitian
1. Guru memberikan beberapa hal
yang perlu dianalisis
berdasarkan kegiatan
pengamatan peserta didik di koperasi sekolah
1. Peserta didik
menalar dan
menaganalisis
masalah dan yang
commit to user
2. Peserta didik diminta untuk
mendiskusikan kelemahan,
potensi dan solusi yang diperlukan guna membangun koperasi sekolah mereka
3. Membimbing peserta didik
menyusun hasil pengamatan beserta hasil analisis
sekolah mereka serta mencari solusi untuk membangun koperasi sekolah mereka. 2. Menyususn hasil pengamatan berdasarkan hasil temuan di lapangan beserta hasil analisis
yang telah dikerjakan. Fase 4 Kegiatan mengomunikasikan Hasil tugas kelompok
1. Menjelaskan ketentuan dalam penyiapan persentasi.
2. Menunjuk masing-masing
kelompok untuk
mempresentasikan hasil
pengamatan di koperasi dan juga hasil analisis kelompok.
3. Guru bertindak sebagai
moderator 1. Mempersiapkan hasil diskusi bersama kelompok yang akan dipresentasikan di depan kelas. 2. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas
Fase 5 evaluasi dan
refleksi hasil diskusi
1. Guru bersama peserta didik
menyimpulkan hal-hal yang
telah dipelajari dari kegiatan kelompok.
2. Guru meminta peserta didik untuk merenungkan manfaat dan sikap-sikap yang dapat di ambil dari kegitan ini.
1. Menanggapi dan memberikan kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan 2. Peserta didik merenungkan dan mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan pembelajaran untuk memperbaiki diri
Fase 6 Penghargaan dan
penguatan
1. Menilai hasil diskusi kelompok dan memberikan predikat bagi kelompok terbaik.
2. Berdasarkan kegiatan
pembelajaran yang telah
dilakukan guru memberikan
kesimpulan menyeluruh
mengenai materi pembelajaran
3. Guru meminta peserta didik untuk mempersiapkan diri untuk postes
1. Peserta didik termotivasi untuk diskusi selanjutnya 2. Peserta didik menyimak dan memahami kesimpulan yang
diberikan oleh guru
3. Peserta didik mempersiapkan diri untuk postes.
commit to user
Desain Produk Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
a. Komponen model adalah RPP, lembar tugas observasi, sintaks pembelajaran, video mengenai Bung Hatta, video mengenai koperasi sukses dan materi mengenai koperasi.
b. Sasaran adalah pemahaman mengenai koperasi dan kesadaran akan peran koperasi.
c. Rencana isi:
(1) Tujuan: (1) Menjelaskan bentuk dan jenis koperasi, (2) Merencakan pendirian koperasi dan konsep manajemen koperasi, (3) Menganalisis konsep dasar koperasi sekolah, (4) Menggali landasan pendirian koperasi sekolah.
(2) Materi : Pengertian, bentuk dan jenis koperasi. Manajemen koperasi. Pengertian, landasan pendirian koperasi sekolah.
(3) Model: pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah (4) Pendekatan: Sicentific
(5) Alat/Media: LCD, Laptop.
(6) Sumber: Video koperasi, Buku Ajar, Koperasi Sekolah (7) Evaluasi: Tes, Tugas Observasi.
d. Implementasi:
Kompetensi Dasar: Mendeskripsikan koperasi dan pengelolaan koperasi
Langkah-Langkah
Kegiatan Pembelajaran Waktu
Pendahuluan a. Orientasi
1. Guru menyampaikan salam. 2. Guru membimbing peserta didik
mengawali kegiatan
pembelajaran dengan berdo’a. 3. Guru melakukan pengecekan
kehadiran peserta didik, kerapian dan kesiapan sumber belajar.
b. Motivasi
Guru memberikan motivasi agar
commit to user
peserta didik antusias mengikuti
pembelajaran dalam proses
pembelajaran dengan memberikan motivasi dari cerita pahlawan, orang sukses atau dengan menyanyikan lagu semangat bersama.
c. Apersepsi
Melakukan apersepsi melalui pre-test tentang materi yang akan
diajarkan untuk mendapatkan
gambaran kesiapan peserta didik untuk mengikuti pembelajaran. d. Menyampaikan kompetensi yang
akan dicapai.
Guru memberikan informasi tentang kompetensi yang akan dicapai agar
dengan mudah peserta didik
memahami tujuan dari pembelajaran ini.
Kegiatan Inti a. Mengamati
Guru membentuk 3 kelompok besar dan peserta didik diminta untuk mengamati kinerja pengelolaan koperasi sekolah dan menjadi partisipan dalam pengelolaan koperasi sekolah
b. Menanya
Meminta peserta didik untuk menanyakan hal-hal yang kurang dipahami mengenai tugas yang harus dilakukan dalam pengelolaan koperasi.
c. Mencari informasi
Peserta didik menggali informasi dari berbagai sumber mengenai pengelolaan koperasi dan mengenai materi koperasi
d. Menalar
Setiap kelompok membuat laporan hasil pengamatan dan partisipan yang telah dilakukan dengan
commit to user
mencantumkan kelemahan, potensi dan solusi yang diperlukan dalam membangun koperasi sekolah mereka
e. Mengkomunikasikan
Setiap kelompok mepresentasikan di
depan kelas kelompok lain
menanggapi apabila masih ada yang dianggap perlu dikritisi atau diperbaiki. Guru bertindak sebagai moderator
Penutup a. Simpulan
Guru dan peserta didik bersama-sama menarik kesimpulan mengenai materi koperasi dan pengamatan yang telah dilakukan.
b. Refleksi
Guru meminta peserta didik untuk merenungkan manfaat dan sikap-sikap yang dapat di ambil dari kegitan ini.
c. Evaluasi/penugasan
Guru meminta peserta didik untuk mempelajari materi ini untuk persiapan postes.
d. Usaha tindak lanjut
1. Guru melakukan postes dan menanyakan ketertarikan peserta didik untuk memajukan koperasi sekolah mereka.
2. Guru mengajak pembacaan do’a setelah kegiatan belajar
mengajar selesai.
15 menit
a. Sistem sosial
Sistem sosial adalah situasi dan aturan-aturan yang berlaku dalam model pembelajaran. Sistem sosial dimaksudkan adalah hubungan antar peserta didik, peserta didik dengan guru. Kegiatan pembelajaran dalam model ini guru menerapkan pendekatan scientific dengan membantu siswa yang mengalami kesulitan.
commit to user
Model ini juga bersifat kooperatif karena mengandalkan kerjasama antar peserta didik untuk kegiatan observasi. Guru bertindak sebagai fasilitator, inisiator, kreator dan pengawas pembelajaran. Sedangkan siswa sebagai pusat kegiatan pembelajaran yang bertindak secara individu maupun kelompok aktif dalam membangun pengetahuan melalui tanya jawab dan diskusi.
Peserta didik dituntut untuk bisa bekerja sama guna memecahkan permasalahan yang terjadi dan berinteraksi dengan orang lain, dalam hal ini pengurus dan pembina koperasi sekolah.
b. Prinsip reaksi
Prinsip reaksi adalah pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan para pelajar serta cara guru memberikan respon terhadap peserta didik. Peran guru dalam model ini antara lain menyiapkan sumber berupa koperasi sekolah sebagai sumber utama, ketersediaan praktisi untuk menjadi informan bagi peserta didik, media pembelajaran yaitu berupa gambar dan informasi lain yang berkaitan dengan materi koperasi yang akan diajarkan dan pemberian tugas yang mengacu pada koperasi sekolah sebagai basisnya.
c. Sistem pendukung
Sistem pendukung adalah hasil lainnya yang diperoleh dari suatu proses pembelajaran, sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami peserta didik tanpa pengarahan dari guru.
Model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah membutuhkan sistem, pendukung, berupa: (1) rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat langkah-langkah pembelajaran beserta sumber dan media yang diperlukan, (2) buku pedoman pelaksanaan model pembelajaran berbasis koperasi sekolah, (3) lembar evaluasi, untuk mengukur penguasaan kompetensi siswa untuk mengukur pemahaman siswa mengenai materi koperasi.
d. Dampak pengiring instruksional
Dampak pengiring instruksional adalah dampak yang ditampilakn dalam pelaksanaan model tersebut. Model ini dirancang untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi koperasi dan juga untuk meningkatkan
commit to user
kesadaran peserta didik mengenai pentingnya peran koperasi melalui pengamatan dan juga menstimulasi peserta didik untuk dapat mengembangkan koperasi sekolah melalui pembelajaran langsung yang dilakukan dengan koperasi sekolah sebagai basis pengembangan model pembelajaran koperasi.
c. Tahap develop preliminary form of product
Pada tahap ini peneliti meminta masukan dari para ahli/pakar yaitu ahli materi, ahli media, dan praktisi untuk memberikan masukan terhadap model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah di SMAN kota Surakarta. Berikut ini nama-nama pakar/ahli yang menjadi validator dalam penelitian ini:
1. Dr. Harini, M.Pd selaku Dosen Pendidikan Tata Niaga FKIP UNS yang telah melakukan penelitian mengenai koperasi berjudul “Pemberdayaan Koperasi Berbasis Anggota”
2. Dr. Djoko Santoso. TH, M.Pd, selaku Dosen Pendidikan Administrasi Perkantoran dan Dosen Pasca Sarjana UNS mengampu mata kuliah Desain Instruksional Pembelajaran.
3. Dra. Sri Herwanti, selaku guru mata pelajaran Ekonomi SMAN 8 Surakarta dan Bendahara Koperasi SMAN 8 Surakarta.
4. Drs. Mustakim, selaku guru Ekonomi Mata Pelajaran dan Ketua Koperasi Siswa SMAN 6 Surakarta
Aspek-aspek yang divalidasi dalam draft model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah adalah (1) Desain Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah, (2) RPP, (3) Buku Pedoman Pelaksanaan. Hasil validasi tim ahli diolah dengan cara membagi jumlah skor yang diperoleh dengan jumlah skor maksimal dikalikan 100%. Hasil penilaian tersebut diperolah data sebagai berikut:
Tabel 8. Skor Validasi Para Ahli
Validator Skor Presentase (100%) Kriteria
Dr. Harini, M.Pd 60 80 Baik
Dr. Djoko Santoso, M.Pd 64 85,3 Sangat Baik
Dra. Sri Herwanti 74 82 Sangat Baik
commit to user
Catatan dan saran-saran yang dikemukakan adalah sebagai berikut; 1. Disesuaikan dengan perkembangan koperasi di Indonesia
2. Ketepatan tujuan dan sintak pembelajaran koperasi yang dikembangkan 3. Perkiraan model dalam meningkatkan hasil belajar di pertajam
4. Baik, supaya dikembangkan penelitiannya terhadap koperasi. Perlu dilampirkan form dan referensi sebagai penguat pokok permasalahan. 5. Baik, agar lebih dikembangkan lagi agar siswa lebih berminat dengan
koperasi sekolah.
Focus group discussion dilakukan kepada guru pengampu mata pelajaran ekonomi kelas X di tiga sekolah sebagai sampel. Indikator yang dinilai adalah 1) Desain Model Pembelajaran, 2) Efektivitas Model Pembelajaran, 3) Aspek Cakupan. Adapun hasil dari angket tersebut:
Tabel 9. Hasil Penilaian Guru Mata Pelajaran Ekonomi
No Sekolah Nama Guru Skor (%) Kriteria
1 SMAN 6 Surakarta Drs. Mustakim 77 Baik
2 SMAN 7 Surakarta Irwan Taufik, S.Pd 91,11 Sangat Baik
3 SMAN 8 Surakarta Dra. Theresia Setiyani 84,5 Sangat Baik
Tabel tersebut merupakan penilaian terhadap model pembelajaran koperasi yang akan diterapkan. Mengacu pada hasil penilaian guru pengampu mata pelajaran ekonomi kelas X bahwa model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah dinilai baik untuk dilaksanakan terutama dengan penggunaan koperasi sebagai sarana pembelajaran koperasi. Adapun beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam model pembelajaran yang dikembangkan.
1. Koordinasi antara peneliti dan peserta didik sudah baik, hanya perlu alokasi waktu yang jelas mengenai kegiatan pembelajaran yang dilakukan
2. Model pembelajaran harus meningkatkan keaktifan peserta didik
d. Tahap preliminary field testing
Hasil dari validasi para ahli dan praktisi serta penilaian dari guru pengampu mata pelajaran ekonomi kelas X menghasilkan model pembelajaran
commit to user
yang akan digunakan untuk uji coba terbatas. Uji coba terbatas dilakukan satu kelas dengan jumlah responden 32 peserta didik.
Uji coba terbatas dilakukan secara bertahap untuk menilai rancangan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah yang telah divalidasi oleh tim ahli, guru mata pelajaran ekonomi dan pengelola koperasi. Berdasarkan uji coba terbatas yang telah dilakukan di dapatkan hasil, sebagai berikut:
Hasil uji coba terbatas hari pertama terdapat beberapa point pelaksanaan pembelajaran yang kurang baik. Awalnya peserta didik merasa malas harus meninggalkan kelas dan berjalan menuju koperasi dengan alasan jauh dari kelas. Peserta didik masih banyak yang tidak melakukan pengamatan lantaran jumlah dalam kelompok terlalu banyak sehingga hanya beberapa peserta didik dari tiap kelompok yang melakukan observasi.
Hasil uji coba hari kedua, peneliti merubah jumlah anggota kelompok yang semula 3 kelompok besar dengan masing-masing beranggotakan 10 orang menjadi 5 kelompok beranggotakan 6 orang peserta didik. Tidak hanya memberikan lembar tugas dan analisis peneliti juga menjelaskan mengenai aspek-aspek penilaian dalam kegiatan observasi, sehingga siswa lebih bersemangat untuk mendapatkan nilai.
Terdapat praktisi untuk menjelaskan dan membantu peserta didik mempraktikan tugas pengurusan koperasi. Setelah kegiatan observasi dan analisis peserta didik juga diminta untuk membuat rancangan koperasi lengkap dengan nama, visi dan misi serta jenis koperasinya. Setelah itu di demostrasikan di depan kelas.
Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan dapat diketahui perbedaannya. Uji coba hari pertama, peserta didik masih kurang antusias terhadap model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah yang hanya melakukan observasi di koperasi sekolah. Setelah dilakukan beberapa perbaikan peserta didik jauh lebih aktif dan antusias untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, bahkan setelah melakukan observasi peserta didik lebih antusias untuk berbelanja di koperasi dan antusias untuk menjadi pengurus koperasi yang baik dan benar.
Setelah dilakukan uji coba model pembelajaran, siswa diberikan uji coba tes. Soal tes yang diberikan sebanyak 30 soal dalam bentuk pilihan ganda, pada
commit to user
hasil uji coba tes tersebut dilakukan uji kelayakan item soal untuk mengukur kualitas tes soal. Adapun uji yang dilakukan adalah:
Uji Validitas Instrumen
Uji validitas data dilakukan dengan menggunakan metode korelasi product moment, suatu data dikatakan valid apabila nilai rhitung > rtabel pada taraf
signifikansi 5%. Hasil uji validitas terhadap soal tes yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Tabel 10 . Hasil Validitas Uji Coba Soal Tes
No rxy Kriteria 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 0,42073 0,4852 0,63073 0,57062 -0,1943 0,51917 0,53781 0,44919 -0,177 0,54334 0,43411 0,48433 0,59195 -0,4881 0,5802 Valid Valid Valid Valid Drop Valid Valid Valid Drop Valid Valid Valid Valid Drop Valid
Hasil tersebut dikonsultasikan dengan rxytabel product moment pada N=30,
diperoleh harga kritik 0,311 untuk taraf signifikansi 0,05. Jumlah item soal yang dinyatakan tidak valid sebanyak 4 soal di drop atau di buang bersama item soal yang skor kevalidannya paling kecil. Sehingga, jumlah item soal yang akan diujikan sebanyak 25 soal.
Uji Reliabilitas Instrumen
Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan rumus KR-21 dikarenakan item soal berbentuk pilihan ganda dengan penilaian benar mendapat skor satu (1), sedangkan penilaian salah mendapat skor nol (0). Kriteria pengujian KR-21, apabila rhitung > rtabel dengan taraf signifikansi 0,05 maka item soal dinyatakan reliabel dan sebaliknya.
No rxy Kriteria 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 0,61478 0,51023 0,60821 0,45002 0,47559 0,67379 0,66755 0,51029 0,44142 0,46808 0,45002 0,366498 0,53781 -0,1159 0,59661 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Drop Valid
commit to user
Berdasarkan hasil pengujian uji reliabilitas item soal didapatkan hasil reliabilitas sebesar (r11) = 0,711 ≥ 0,50 yang dikategorikan memiliki reliabilitas
tinggi.
Uji tingkat kesukaran
Soal tes dalam penelitian ini telah diuji tingkat kesukarannya dengan membandingkan jumlah peserta didik yang menjawab butir soal dengan benar dengan jumlah peserta didik yang mengikuti tes. Hasil yang diperoleh dari uji kesukaran ini adalah dari 30 soal tes yang di ujikan terdapat 7 soal tes diyatakan mudah, 5 soal dinyatakan sukar dan 18 soal dinyatakan sedang.
Uji daya pembeda
Hasil uji daya pembeda dari 30 soal yang telah diujikan adalah 3 soal dinyatakan cukup, 4 soal dinyatakan jelek dan 23 soal dinyatakan baik.
e. Main product revision,
Melakukan revisi tahap pertama yaitu perbaikan dan penyempurnaan terhadap produk awal yang dihasilkan berdasarkan hasil ujicoba awal.
Hal –hal yang direvisi dalam uji coba tahap pertama adalah:
1. Jumlah kelompok semula 3 kelompok besar beranggotakan 10 peserta didik menjadi 5 kelompok beranggotakan 6 peserta didik,
2. Guru memberikan penjelasan mengenai aspek-aspek yang perlu dinilai dalam kegiatan observasi,
3. Semula peserta didik hanya mengamati kegiatan di koperasi sekolah, diperbaiki dengan adanya penjelasan dari praktisi yang menjadi pengelola koperasi sekolah,
4. Jumlah butir soal tes semula 30 soal setelah dilakukan uji butir soal instrumen tes menjadi 25 soal yang dinyatakan layak.
commit to user
f. Main field testing
Melakukan uji coba produk dalam skala yang lebih luas dengan subjek antara 30-100 orang. Uji coba terbatas dilakukan di 3 sekolah dengan tingkatan tinggi, sedang dan rendah. Jumlah responden untuk uji coba lebih luas 94 peserta didik.
Uji coba lebih luas dilakukan di 3 sekolah dengan kategori sekolah tinggi, sedang dan rendah untuk mengetahui pelaksanaan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekaligus untuk mengetahui kefektifan model tersebut.
Berdasarkan uji coba lebih luas yang dilakukan, didapatkan hasil:
1. SMAN 8 SKA
SMAN 8 SKA beralamat di Jl. Sumbing VI/49 Mojosongo Jebres Surakarta. Letak bangunan sekolah berbukit-bukit, untuk peserta didik kelas X berada di bawah dengan melewati 2 tingkatan dari ruang administrasi sekolah. Perjalanan dari kelas X ke koperasi membutuhkan waktu sekitar 5 menit dan melewati beberapa anak tangga. Sehingga, pembentukan kelompok serta penjelasan mengenai tugas pengamatan diinformasikan dari awal pertemuan.
Koperasi SMAN 8 SKA memiliki fasilitas lengkap dan ruangan yang cukup besar, sehingga memudahkan peserta didik untuk melakukan observasi. Praktisi yang bersedia menerangkan tata cara pengelolaan koperasi ada 2 orang. Peserta didik juga diajarkan mengenai cara menjual barang dan pencatatan persediaan barang dagangan setiap harinya. Praktisi juga menjelaskan mengenai struktur organisasi dan agenda rapat anggota yang diadakan setiap tahun.
Setelah kegiatan observasi, peneliti meminta satu kelompok untuk mempresentasikan di depan kelas serta mendemonstrasikan kegiatan pengelolaan koperasi berdasarkan rancangan koperasi kelompok. Lalu diadakan postes untuk mengukur tingkat pemahaman pemahaman peserta didik mengenai koperasi dan didapatkan hasil.
commit to user
Tabel 11. Distribusi Frekuensi Post test Ekonomi Materi Koperasi SMAN 8 SKA
No Kelas Interval Frekuensi Persentase (%)
1 2 3 4 5 6 48 – 53 54 – 59 60 – 65 66 – 71 72 – 77 78 – 83 3 3 5 3 9 7 10 10 16,67 10 30 23,33 JUMLAH 30 100
Peserta didik dinyatakan yang tuntas pada rentang 66 – 83, berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa sebanyak 19 peserta didik dinyatakan tuntas dan 11 peserta didik dinyatakan belum tuntas. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah dapat meningkatkan pemahaman peserta didik khususnya mengenai koperasi, karena sebanyak 63,33% peserta didik dinyatakan tuntas dan 36,67% belum tuntas. Sesuai dengan pendapat Djamarah dan Zain (2006:107) yang menyatakan kriteria keberhasilan dikatakan baik apabila bahan yang diajarkan mencapai 60% s.d 75%.
2. SMA N 6 SKA
SMAN 6 SKA beralamat di Jl. Mr. Sartono No.30, Surakarta. Perjalanan dari kelas menuju koperasi ± 3 menit. SMA N 6 SKA memiliki 2 koperasi. 1 koperasi sekolah dan 1 koperasi guru. Koperasi sekolah di kelola oleh beberapa peserta didik didampingi oleh guru. Koperasi sekolah SMA N 6 SKA memenuhi kebutuhan peserta didik dalam hal kelengkapan sekolah seperti: bagde, buku LKS, seragam dan beberapa makanan. Koperasi guru memenuhi kebutuhan guru dan peserta didik dalam hal makanan ringan, ATK dan juga melayani simpan pinjam bagi guru.
Kegiatan observasi di SMA N 6 SKA dilakukan sepenuhnya di koperasi sekolah dengan melibatkan praktisi dari peserta didik dan guru yang mengelola koperasi. Setelah kegiatan observasi, peneliti meminta satu kelompok untuk mempresentasikan di depan kelas serta mendemonstrasikan kegiatan pengelolaan koperasi berdasarkan rancangan koperasi kelompok. Lalu diadakan postes untuk mengukur tingkat pemahaman pemahaman peserta didik mengenai koperasi dan didapatkan hasil.
commit to user
Tabel 12. Distribusi Frekuensi Post test Ekonomi Materi Koperasi SMAN 6 SKA
No Kelas Interval Frekuensi Persentase (%)
1 2 3 4 5 6 48 – 56 57 – 61 62 – 68 69 – 75 76 – 82 83 – 89 3 3 6 8 9 3 9,375 9,375 21,875 25 28,125 9,375 JUMLAH 32 100
Peserta didik dinyatakan yang tuntas pada rentang 69 – 89, berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa sebanyak 20 peserta didik dinyatakan tuntas dan 12 peserta didik dinyatakan belum tuntas. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah dapat meningkatkan pemahaman peserta didik khususnya mengenai koperasi, karena sebanyak 62,5% peserta didik dinyatakan tuntas dan 37,5% belum tuntas. Sesuai dengan pendapat Djamarah dan Zain (2006:107) yang menyatakan kriteria keberhasilan dikatakan baik apabila bahan yang diajarkan mencapai 60% s.d 75%.
3. SMAN 7 SKA
SMA N 7 SKA beralamat di Jl. Mr. Muhammad Yamin No. 79, Surakarta. Kelas X berada di lantai 2 dan perjalanan dari kelas ke koperasi ± 3 menit. Peserta didik di SMA N 7 SKA biasa berbelanja di koperasi, dikarenakan koperasi terbagi menjadi 2 koperasi makanan dan koperasi ATK. Antusiasme peserta didik terhadap pengelolaan koperasi sudah baik, terutama ketika kegiatan observasi para peserta didik aktif bertanya dan belajar mengenai pembukuan. Praktisi yang terdapat di koperasi SMA N 7 SKA adalah khusus mengelola koperasi dan tidak terlibat kegiatan belajar mengajar di kelas.
Setelah kegiatan observasi, peneliti meminta satu kelompok untuk mempresentasikan di depan kelas serta mendemonstrasikan kegiatan pengelolaan koperasi berdasarkan rancangan koperasi kelompok. Lalu diadakan postes untuk mengukur tingkat pemahaman pemahaman peserta didik mengenai koperasi dan didapatkan hasil.
commit to user
Tabel 13. Distribusi Frekuensi Post test Ekonomi Materi Koperasi SMAN 7 SKA
No Kelas Interval Frekuensi Persentase (%)
1 2 3 4 5 60 – 66 67 – 73 74 – 80 81 – 87 88 – 94 3 6 12 5 4 10 20 40 16,67 13,33 JUMLAH 30 100
Peserta didik dinyatakan yang tuntas pada rentang 67 – 94, berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa sebanyak 27 peserta didik dinyatakan tuntas dan 3 peserta didik dinyatakan belum tuntas. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah dapat meningkatkan pemahaman peserta didik khususnya mengenai koperasi, karena sebanyak 90% peserta didik dinyatakan tuntas dan 10% belum tuntas. Sesuai dengan pendapat Djamarah dan Zain (2006:107) yang menyatakan kriteria keberhasilan dikatakan sangat baik apabila bahan yang diajarkan mencapai 76% s.d 100%.
g. Operational product revision
Melakukan revisi tahap kedua, yaitu memperbaiki dan menyempurnakan produk berdasarkan masukan dan saran-saran hasil uji-coba lapangan yang lebih luas. Tahap uji coba luas tidak terlalu banyak perbaikan karena melihat penerapan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah dinilai telah berhasil dilakukan dan dapat berlanjut ke tahap berikutnya.
h. Operational field testing
Melakukan uji pelaksanaan lapangan dengan melibatkan sekolah dan subjek lebih banyak dengan melibatkan 40-200 subjek. Uji efektivitas dilakukan di tiga sekolah dengan menggunakan kelas eksperimen dan kelas kontrol sebagai pembanding.
Pada tahap ini dilakukan analisis keefektifan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah. Uji efektivitas model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah dilakukan di 3 SMA Negeri di Kota Surakarta. Uji efektivitas dilakukan pada peserta didik kelas X dan masing-masing sekolah di ambil 2 kelas terdiri dari 1 kelas ekperimen dan 1 kelas pembanding atau kelas kontrol. Kelas
commit to user
ekperimen akan diberikan perlakuan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah, sedangkan kelas kontrol menggunakan metode yang selama ini digunakan oleh guru dan berpusat di dalam kelas.
Keefektivan model pembelajaran dapat dilihat dari perbedaan hasil postes antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pencapaian nilai kesadaran peserta didik dalam pembelajaran koperasi dapat dilihat pada item soal refleksi yang memperlihatkan hasil hampir seluruh peserta didik di kelas kontrol tidak berniat membangun koperasi sekolah mereka. Penilaian afektif dilihat dari hasil pengamatan di kelas kelas eksperimen cenderung lebih aktif dan antusias, baik dalam kegiatan pembelajaran di kelas, kegiatan observasi di koperasi sekolah, dalam penyusunan tugas analisis serta dalam kegiatan mengomunikasikan hasil kerja kelompok.
Efektivitas model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah di SMA Negeri Surakarta dapat dilihat dari perbandingan hasil pretes dan postes antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada tabel berikut:
Tabel 14 . Hasil Belajar Mengenai Koperasi Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen SMAN 6 Surakarta
Komponen
Pre test Post test Peningkatan
Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen
(K) (E) (K) (E) (K) (E)
Rata-rata nilai 54,25 55,875 69,187 75,344 14,937 19,469
Sumber: data diolah 2015
Tabel 15. Hasil Belajar Mengenai Koperasi Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen SMAN 7 Surakarta
Komponen
Pre test Post test Peningkatan
Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen
(K) (E) (K) (E) (K) (E)
Rata-rata nilai 56,87 57,067 69,933 77,6 13,063 20,533
commit to user 54.25 56.87 51.6 55.875 57.067 52.67
SMA N 6 SKA SMAN 7 SKA SMA N 8 SKA
Nilai Pre test
Kontrol Eksperimen
Tabel 16. Hasil Belajar Mengenai Koperasi Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen SMAN 8 Surakarta
Komponen
Pre test Post test Peningkatan
Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen
(K) (E) (K) (E) (K) (E)
Rata-rata nilai 51,6 52,67 66,733 75,367 15,133 22,697
Sumber: data diolah 2015
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui perbandingan hasil pretes dan
postes dari masing-masing sekolah. Hasil pretes dan postes didapat dari hasil tes
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil pretes dan postes di SMAN 6 SKA
untuk kelas eksperimen terjadi peningkatan sebesar 19,469 dan kelas kontrol
sebesar 14,937. Perbadingan di kelas eksperimen dan kontrol pada hasil pretes
dan postes di SMAN 7 SKA adalah untuk kelas eksperimen terjadi peningkatan
sebesar 20,533 sedangkan untuk kelas kontrol terjadi peningkatan 13,063. Hasil
pretes dan posts di SMAN 8 SKA adalah untuk kelas eksperimen terdapat
peningkatan sebesar 22,697 dan kelas kontrol sebesar 15,133.
Lebih jelasnya dapat dilihat dalam grafik pretes, postes dan grafik
peningkatan berikut.
Gambar 10. Grafik Pretes Efektivitas Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
commit to user 69.187 75.344 SMA N 6 SKA 14.937 19.469 SMA N 6 SKA
Hasil pre-test dan post-test kelompok kontrol maupun eksperimen
jugadianalisis menggunakan t-test dengan sebelumnya dilakukan uji persyaratan
analisis yaitu uji normalitas dan homogenitas:
Uji Persyaratan Analisis
Sebelum melakukan uji hipotesis dengan uji t terlebih dahulu dilakukan
uji persyaratan analisis antara pembelajaran koperasi dengan menggunakan model
pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah dengan yang tidak menggunakan
Gambar 11. Grafik Postes Efektivitas Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
Gambar 12. Grafik Peningkatan Efektivitas Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
69.933
66.733
75.344 77.6 75.367
SMA N 6 SKA SMAN 7 SKA SMA N 8 SKA
Nilai POSTES
Kontrol Eksperimen
13.063 15.133
19.469 20.533 22.697
SMA N 6 SKA SMAN 7 SKA SMA N 8 SKA
PENINGKATAN
Kontrol Eksperimen
Hasil pre-test dan post-test kelompok kontrol maupun eksperimen
jugadianalisis menggunakan t-test dengan sebelumnya dilakukan uji persyaratan
analisis yaitu uji normalitas dan homogenitas:
Uji Persyaratan Analisis
Sebelum melakukan uji hipotesis dengan uji t terlebih dahulu dilakukan
uji persyaratan analisis antara pembelajaran koperasi dengan menggunakan model
pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah dengan yang tidak menggunakan
Gambar 11. Grafik Postes Efektivitas Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
Gambar 12. Grafik Peningkatan Efektivitas Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
22.697
Hasil pre-test dan post-test kelompok kontrol maupun eksperimen
jugadianalisis menggunakan t-test dengan sebelumnya dilakukan uji persyaratan
analisis yaitu uji normalitas dan homogenitas:
Uji Persyaratan Analisis
Sebelum melakukan uji hipotesis dengan uji t terlebih dahulu dilakukan
uji persyaratan analisis antara pembelajaran koperasi dengan menggunakan model
pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah dengan yang tidak menggunakan
Gambar 11. Grafik Postes Efektivitas Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
Gambar 12. Grafik Peningkatan Efektivitas Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
commit to user
model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah. Hasil uji persyaratan
analisis tersebut adalah sebagai berikut:
1) Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui sampel yang digunakan dalam
penelitian ini berasal dari populasi yang birdistribusi normal atau tidak. Hasil
uji normalitas dalam penelitian ini meliputi:
Tabel 17.Uji normalitas pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol di SMA N 6 Surakarta
Sumber: data primer diolah 2015
Berdasarkan tabel 14 di atas, diketahui bahwa nilai sig dari uji
normalitas lebih dari α (sig > 0,050) yaitu 0,454 > 0,050 dan 0,658 > 0,050
sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
pretesklskontrol preteseksperim en
N 32 32
Normal Parametersa,b Mean 54,25 55,88
Std. Deviation 12,189 11,550
Most Extreme Differences
Absolute ,152 ,129
Positive ,136 ,081
Negative -,152 -,129
Kolmogorov-Smirnov Z ,858 ,732
Asymp. Sig. (2-tailed) ,454 ,658
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
commit to user
Tabel 18. Uji Normalitas postes kelas eksperimen dan kelas kontrol di SMAN 6 Surakarta
Sumber: data primer diolah 2015
Berdasarkan tabel 15 di atas, diketahui bahwa nilai sig dari uji
normalitas lebih dari α (sig > 0,050) yaitu 0,355 > 0,050 dan 0,536 > 0,050
sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
Tabel 19. Uji Normalitas pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol di SMAN 7 Surakarta.
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
pretesklskontrol preteseksperim en
N 30 30
Normal Parametersa,b Mean 56,87 57,07
Std. Deviation 11,298 11,611
Most Extreme Differences
Absolute ,191 ,227
Positive ,117 ,103
Negative -,191 -,227
Kolmogorov-Smirnov Z 1,044 1,242
Asymp. Sig. (2-tailed) ,226 ,091
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Sumber: data primer diolah 2015
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
postesklskontrol posteseksperim en
N 32 32
Normal Parametersa,b Mean 69,19 75,34
Std. Deviation 8,483 7,703
Most Extreme Differences
Absolute ,164 ,142
Positive ,101 ,142
Negative -,164 -,108
Kolmogorov-Smirnov Z ,928 ,805
Asymp. Sig. (2-tailed) ,355 ,536
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
commit to user
Berdasarkan tabel 16 di atas, diketahui bahwa nilai sig dari uji
normalitas lebih dari α (sig > 0,050) yaitu 0,226 > 0,050 dan 0,091 > 0,050
sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
Tabel 20. Uji Normalitas postes kelas eksperimen dan kelas kontrol di SMAN 7 Surakarta
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
postesklskontrol posteseksperim en
N 30 30
Normal Parametersa,b Mean 69,93 77,60
Std. Deviation 10,082 7,762
Most Extreme Differences
Absolute ,124 ,148
Positive ,117 ,148
Negative -,124 -,118
Kolmogorov-Smirnov Z ,679 ,812
Asymp. Sig. (2-tailed) ,746 ,524
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Sumber: data primer diolah 2015
Berdasarkan tabel 17 di atas, diketahui bahwa nilai sig dari uji
normalitas lebih dari α (sig > 0,050) yaitu 0,746 > 0,050 dan 0,524 > 0,050
sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
Tabel 21. Uji Normalitas pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol di SMAN 8 Surakarta
S u m b e r : d a t a p r
Sumber: Data Primer diolah 2015
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
pretesklskontrol preteseksperim en
N 30 30
Normal Parametersa,b Mean 51,60 52,67
Std. Deviation 8,621 10,730
Most Extreme Differences
Absolute ,162 ,120
Positive ,098 ,091
Negative -,162 -,120
Kolmogorov-Smirnov Z ,886 ,655
Asymp. Sig. (2-tailed) ,412 ,785
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
commit to user
Berdasarkan tabel 18 di atas, diketahui bahwa nilai sig dari uji
normalitas lebih dari α (sig > 0,050) yaitu 0,412 > 0,050 dan 0,785 > 0,050
sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
Tabel 22. Uji Normalitas postes kelas eksperimen dan kelas kontrol di SMAN 8 Surakarta
Sumber: data primer diolah 2015
Berdasarkan tabel 19 di atas, diketahui bahwa nilai sig dari uji
normalitas lebih dari α (sig > 0,050) yaitu 0,470 > 0,050 dan 0,638 > 0,050
sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
2) Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah variansi antar
kelompok dari data yang diperoleh antar kelompok yang diuji berbeda atau
tidak. Hasil uji homogenitas penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 23. Uji Homogenitas Pre test Kelas Kontrol dengan Kelas Eksperimen di SMAN 6 Surakarta
Test of Homogeneity of Variances
preteseksperimen
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1,525 9 19 ,209
Sumber: data primer diolah (2015)
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
postesklskontrol posteseksperim en
N 30 30
Normal Parametersa,b Mean 66,73 75,37
Std. Deviation 10,069 7,049
Most Extreme Differences
Absolute ,155 ,136
Positive ,082 ,098
Negative -,155 -,136
Kolmogorov-Smirnov Z ,847 ,744
Asymp. Sig. (2-tailed) ,470 ,638
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
commit to user
Berdasarkan tabel 4.20 di atas diketahui bahwa nilai signifikansi
Levene's Test adalah 0,209. Nilai ini lebih besar dari 0,050 sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok mempunyai variansi yang homogen.
Tabel 24. Uji Homogenitas Post test Kelas Kontrol dengan Kelas Eksperimen di SMAN 6 Surakarta
Test of Homogeneity of Variances
posteseksperimen
Levene Statistic df1 df2 Sig.
,561 6 23 ,757
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel 21 di atas diketahui bahwa nilai signifikansi
Levene's Test adalah 0,747. Nilai ini lebih besar dari 0,050 sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok mempunyai variansi yang homogen.
Tabel 25. Uji Homogenitas Pre test Kelas Kontrol dengan Kelas Eksperimen di SMAN 7 Surakarta
Test of Homogeneity of Variances
preteseksperimen
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1,899 8 19 ,120
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel 22 di atas diketahui bahwa nilai signifikansi
Levene's Test adalah 0,120. Nilai ini lebih besar dari 0,050 sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok mempunyai variansi yang homogen.
Tabel 26. Uji Homogenitas Pos test Kelas Kontrol dengan Kelas Eksperimen di SMAN 7 Surakarta
Test of Homogeneity of Variances
posteseksperimen
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1,458 5 20 ,247
commit to user
Berdasarkan tabel 23 di atas diketahui bahwa nilai signifikansi
Levene's Test adalah 0,247. Nilai ini lebih besar dari 0,050 sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok mempunyai variansi yang homogen.
Tabel 27. Uji Homogenitas Pre test Kelas Kontrol dengan Kelas Eksperimen di SMAN 8 Surakarta
Test of Homogeneity of Variances
preteseksperimen
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1,124 7 19 ,389
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel 24 di atas diketahui bahwa nilai signifikansi
Levene's Test adalah 0,389. Nilai ini lebih besar dari 0,050 sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok mempunyai variansi yang homogen.
Tabel 28. Uji Homogenitas Pos test Kelas Kontrol dengan Kelas Eksperimen di SMAN 8 Surakarta
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel 25 di atas diketahui bahwa nilai signifikansi
Levene's Test adalah 0,810. Nilai ini lebih besar dari 0,050 sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok mempunyai variansi yang homogen.
Uji Efektivitas
Uji efektivitas penelitian ini menggunakan uji t. Uji t digunakan untuk
menguji hipotesis penelitian. Hasil uji hipotesis penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Test of Homogeneity of Variances
posteseksperimen
Levene Statistic df1 df2 Sig.
commit to user
Uji t
Uji t digunakan untuk menguji efektivitas model pembelajaran koperasi
berbasis koperasi sekolah. Hasil uji t penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 29. Uji t Pre testKelas Kontrol dan Eksperimen SMAN 6 Surakarta
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of Variances
t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed)
Skor
Equal variances assumed
,469 ,496 -,547 62 ,586
Equal variances not assumed
-,547 61,821 ,586
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel tabel 26 diatas nilai signifikansi uji t adalah 0,586.
Nilai signifikansi tersebut lebih dari 0,05 yang berarti bahwa H0diterima. Hal ini
menunjukkan tidak ada perbedaan rata-rata nilai ujian mata pelajaran koperasi
sebelum dilakukan praktik model pembelajaran koperasi berbasis koperasi
sekolah.
Tabel 30. Uji t Post test Kelas Kontrol dan Eksperimen Kelas di SMAN 6 Surakarta
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of Variances
t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig.
(2-tailed) skor
Equal variances assumed ,420 ,519 3,039 62 ,003
Equal variances not assumed 3,039 61,431 ,003
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel tabel 27 diatas nilai signifikansi uji t adalah 0,003.
Nilai signifikansi tersebut kurang dari 0,05 yang berarti bahwa H1diterima. Hal
commit to user
didik sebelum diterapkan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah
dengan menggunakan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan nilai keterampilan kelompok
eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.
Tabel 31. Uji t Pre test Kelas Kontrol dan Eksperimen SMAN 7 Surakarta
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of Variances
t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed)
skor
Equal variances assumed ,011 ,918 -,068 58 ,946
Equal variances not assumed
-,068 57,957 ,946
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel tabel 28 diatas nilai signifikansi uji t adalah 0,946. Nilai signifikansi tersebut lebih dari 0,05 yang berarti bahwa H0diterima. Hal ini
menunjukkan tidak ada perbedaan rata-rata nilai ujian mata pelajaran koperasi sebelum dilakukan praktik model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah
Tabel 32. Uji t Pos test Kelas Kontrol dan Eksperimen SMAN 7 Surakarta
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of Variances
t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed)
skor
Equal variances assumed 2,114 ,151 3,300 58 ,002
Equal variances not assumed 3,300 54,440 ,002
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel tabel 29 diatas nilai signifikansi uji t adalah 0,002.
Nilai signifikansi tersebut kurang dari 0,05 yang berarti bahwa H1diterima. Hal
ini menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata nilai ujian materi koperasi peserta
commit to user
dengan menggunakan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan nilai keterampilan kelompok
eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.
Tabel 33. Uji t Pre test Kelas Kontrol dan Eksperimen SMAN 8 Surakarta
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of Variances
t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed)
skor
Equal variances assumed 1,612 ,209 -,424 58 ,673
Equal variances not assumed
-,424 55,428 ,673
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel tabel 30 diatas nilai signifikansi uji t adalah 0,673. Nilai signifikansi tersebut lebih dari 0,05 yang berarti bahwa H0diterima. Hal ini
menunjukkan tidak ada perbedaan rata-rata nilai ujian mata pelajaran koperasi sebelum dilakukan praktik model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah
Tabel 34. Uji t Pos test Kelas Kontrol dan Eksperimen SMAN 8 Surakarta
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of Variances
t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed)
skor
Equal variances assumed 6,514 ,013 3,847 58 ,000
Equal variances not assumed
3,847 51,922 ,000
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel tabel 31 diatas nilai signifikansi uji t adalah 0,000. Nilai signifikansi tersebut kurang dari 0,05 yang berarti bahwa H1diterima. Hal
ini menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata nilai ujian materi koperasi peserta didik sebelum diterapkan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah dengan menggunakan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah.
commit to user
Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan nilai keterampilan kelompok eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.
Model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah terdapat kegiatan observasi di koperasi yang ada di sekolah. Hasil dari pengamatan yang dilakukan oleh kelas eksperimen sebagai berikut:
Tabel 35. Hasil pengamatam di kelas Eksperimen
Kelompok Hasil Pengamatan
SMAN 6 SKA SMAN 7 SKA SMAN 8 SKA
Kelompok 1 85 90 95 Kelompok 2 85 75 75 Kelompok 3 80 95 80 Kelompok 4 70 70 65 Kelompok 5 80 80 70 Kelompok 6 75 79.167 82 77
Sumber: data primer diolah (2015)
Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik telah melakukan kegiatan dengan baik dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Nilai rata-rata hasil observasi di SMAN 6 SKA terdiri dari 6 kelompok sebesar 79,167, nilai rata-rata hasil observasi di SMAN 7 SKA terdiri dari 5 kelompok sebesar 82 dan nilai rata-rata hasil observasi di SMAN 8 SKA terdiri dari 5 kelompok sebesar 77.
i. Final product revision
Menindaklanjuti hasil perbandingan uji efektivitas yang dilakukan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah efektif digunakan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai koperasi.
Proses pengembangan model pembelajaran koperasi berdasarkan koperasi sekolah telah melalui beberapa tahapan dan telah direvisi sesuai saran yang diberikan. Revisi juga telah dilakukan berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan agar model pembelajaran yang dikembangkan menjadi semakin baik dan layak untuk digunakan oleh guru mata pelajaran ekonomi materi koperasi di SMA Negeri Kota Surakarta. Berikut sajian draft final model pembelajaran koperasi berbasis koperasi sekolah.
commit to user
Gambar 13. Revisi Draft Final Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
Pembelajaran Kooperatif dengan Kegiatan Observasi Koperasi Sekolah
Pendahuluan
Orientasi : guru mengucapkan salam dan menjelaskan materi yang akan diajarkan Motivasi : guru membangun motivasi berupa penanaman nilai-nilai koperasi dan tokoh sukses dalam koperasi Apersepsi : guru mengenalkan topik pembelajaran serta menyampaikan dan mengarahkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dengan letak tempat tnggal dan penting koperasi sekolah
Memperhatikan, merespon dan memberikan tanggapan terhadap nilai-nilai koperasi.
Memberikan tanggapan mengenai keberadaan koperasi di sekitar tempat tinggal serta mengidentifikasi pentingnya koperasi sekolah
Inti
Fase 2: guru menyajikan dan menyampaikan informasi dan materi dengan video pembelajaran koperasi Fase 3: membentuk kelompok dan membimbing peserta didik dalam kegiatan observasi koperasi sekolah
Fase 4:mengarahkan peserta didik untuk tanya jawab mengenai koperasi
Memahami teknis kegiatan dan melakukan kegiatan observasi dan melakukan tanya jawab mengenai koperasi
Ikut terlibat dalam kegiatan koperasi sesuai arahan praktisi Menalar dan menganalisis permasalahan permasalah mengenai koperasi sekolah Merancang koperasi kelompok Mengomunikasikan hasil pengamatan dan mendemonstrasikan koperasi hasil rancangan kelompok sesuai dengan kegiatan observasi yang dilakukan Fase 5: membimbing peserta
didik untuk mencari informasi dari berbagai sumber untuk menganalisis permasalahan mengenai koperasi sekolah Fase 6: membimbing setiap kelompok untuk merancang koperasi kelompok Fase 7: memimpin mongomunikasikan hasil observasi
Fase 8:Mendemonstrasikan koperasi hasil rancangan kelompok
Berbasis koperasi sekolah Berbasis koperasi sekolah
Penutup
Memberikan kesimpulan, refleksi dan evaluasi mengenai kegiatan yang telah dilakukan.Memberikan penguatan mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam koperasi dan membangkitkan semangat berkoperasi peserta didik.
Bersama guru menyimpulkan kegiatan yang telah dilakukan, peserta didik menyadari bahwa peranan koperasi amat penting dan ingin terlibat dalam kegiatan koperasi serta menyadari nilai-nilai yang terkandung dalam koperasi.
commit to user
Tabel 36. Sintak Model Pembelajaran Koperasi Berbasis Koperasi Sekolah
Fase Indikator Perilaku Guru Kegiatan Siswa
Fase 1 Pendahuluan Orientasi : guru mengucapkan
salam dan menjelaskan materi yang akan diajarkan
Motivasi : guru membangun motivasi berupa penanaman nilai-nilai koperasi dan tokoh sukses dalam koperasi
Apersepsi : guru mengenalkan topik pembelajaran serta
menyampaikan dan mengarahkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dengan letak tempat tnggal dan penting koperasi sekolah
Memperhatikan, merespon dan memberikan tanggapan terhadap nilai-nilai koperasi. Memberikan tanggapan mengenai keberadaan koperasi di sekitar tempat tinggal serta mengidentifikasi pentingnya koperasi sekolah
Fase 2 Penyampaian
materi
1. guru menyajikan dan
menyampaikan informasi dan materi dengan video
pembelajaran koperasi
2. metode yang digunakan adalah ceramah bervariasi
1. memperhatikan materi yang diterangkan
2. menanggapi apabila ada hal yang belum dipahami
Fase 3 Observasi koperasi 1. guru membentuk kelompok
masing-masing terdiri dari 5 orang peserta didik
2. menjelaskan apa saja yang harus dilakukan pada kegiatan observasi ke koperasi
3. membentuk kelompok dan membimbing peserta didik dalam kegiatan observasi koperasi sekolah 3. berkumpul dengan kelompoknya 4. memahami pengarahan mengenai tugas 5. melakukan observasi dan memerhatikan penjelasan praktisi
Fase 4 Menanya mengarahkan peserta didik untuk
tanya jawab mengenai koperasi
1. Antusias melakukan tanya jawab dengan praktisi
2. Melakukan kegiatan
koperasi sesuai
arahan praktisi
Fase 5 Diskusi Kelompok
(Mencari Informasi)
1. Memberikan tugas analisis mengenai permasalah koperasi sekolah
2. membimbing peserta didik untuk mencari informasi dari berbagai sumber untuk menganalisis
1. menganalisis permasalahan mengenai koperasi sekolah 2. menggali dari berbagai sumber
commit to user
permasalahan mengenai koperasi sekolah
untuk memecahkan analisis
Fase 6 Diskusi Kelompok
(Menalar)
1. meminta peserta didik untuk merancang koperasi berdasarkan diskusi kelompoknya
2. membimbing setiap kelompok untuk merancang koperasi kelompok 1. melakukan diskusi guna merancang koperasi kelompok 2. antusias dalam kegiatan merancang koperasi
Fase 7 Mengomunikasikan memimpin mongomunikasikan
hasil observasi
1. peserta didik bersiap untuk
mempresentasikan hasil observasi dan analisis
2. setiap kelompok
melakukan presentasi
3. peserta didik lain menanggapi
Fase 8 Mendemosntrasikan Mendemonstrasikan koperasi hasil rancangan kelompok
1. peserta didik bersiap
dengan hasil rancangan koperasi kelompoknya 2. setiap kelompok mendemonstrasikan koperasi hasil kelompoknya sesuai dengan kegiatan observasi 3. kelompok mempromosikan koperasinya dalam berbagai cara.
Fase 9 Penutup Memberikan kesimpulan, refleksi
dan evaluasi mengenai kegiatan yang telah dilakukan.Memberikan penguatan mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam koperasi dan membangkitkan semangat berkoperasi peserta didik.
Bersama guru
menyimpulkan kegiatan yang telah dilakukan, peserta didik menyadari
bahwa peranan
koperasi amat penting dan ingin terlibat dalam kegiatan koperasi serta menyadari nilai-nilai yang terkandung dalam koperasi