IDENTIFIKASI DAN KEPADATAN NYAMUK CULEX SPP SEBAGAI VEKTOR
PENYAKIT JAPANESE ENCEPHALITIS PADA KANDANG BABI DI
KECAMATAN AIRMADIDI KABUPATEN MINAHASA UTARA Tiara Diana Kapoh*, Odi Pinontoan*, Finny Warouw*
*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi ABSTRAK
Latar Belakang: Japanese Ensephalitis (JE) merupakan penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang ditularkan melalui nyamuk yang terinfeksi virus JE. Reservoir utama virus JE adalah hewan babi. Kebiasaan menggigit nyamuk culex adalah Zoophagic yaitu menghisap darah binatang, sehingga Nyamuk culex spp ditemukan sebagai vektor penyakit JE di berbagai daerah. Negara tropis termasuk Indonesia adalah salah satu Negara endemis penyakit JE. Salah satu kasus penyakit JE yang pernah ditemukan adalah Provinsi Sulawesi Utara. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui identifikasi dan kepadatan nyamuk culex spp sebagai vektor penyakit japanese encephalitis pada kandang babi di Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara. Metode penelitian: Penelitian ini adalah jenis survei deskriptif. Pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi. Penelitian dilakukan di beberapa kandang babi di lima desa/kelurahan Kecamatan Airmadidi. Penangkapan nyamuk menggunakan metode sweeping dengan jumlah penangkap sebanyak 2orang. Hasil penelitian: 5 spesies nyamuk culex ditemukan, yaitu Culex quinquefasciatus, Culex pipiens, Culex erraticus, Culex tarsalis, dan Culex restuans. Nyamuk culex spp yang didapat pada beberapa kandang babi di Kecamatan Airmadidi adalah 136 ekor. Kepadatan nyamuk dihitung setiap spesies dan desa. Kepadatan nyamuk tertinggi adalah spesies Culex quinquefasciatus di Desa Tanggari (20,45 MHD) dan terendah adalah spesies Cx. tarsalis di Kelurahan Rap-rap (0,75 MHD). Kesimpulan: Nyamuk culex spesies quinquefasciatus tersebar di seluruh lokasi pengambilan sampel dengan jumlah dan kepadatan yang tinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa nyamuk ini berpotensi sebagai vektor penyakit Japanese Encephalitis. Rata-rata kepadatan nyamuk culex spp di lima lokasi penelitian telah melewati baku mutu yang ditetapkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2017 Yaitu < 1 MHD.
Kata Kunci : Identifikasi, Kepadatan, Culex spp, Japanese Encephalitis ABSTRACT
Background: Japanese Ensephalitis (JE) is an acute infection of the central nervous system that is transmitted through mosquitoes infected with the JE virus. The main reservoir of the JE virus is a pig. The habit of biting culex mosquitoes is Zoophagic which sucks animal blood, so Culex spp mosquitoes are found as vectors of JE disease in various regions. Tropical countries including Indonesia are among the endemic countries of JE disease. One of the cases of JE disease ever found is North Sulawesi Province. The purpose of this study was to determine the identification and density of culex spp mosquitoes as vectors of japanese encephalitis disease in pig pens in Airmadidi Subdistrict of North Minahasa Regency. Method: This research used an descriptive survey. Data collection is done through observation. The study was conducted in several pig pens in five villages / subdistricts Airmadidi District. Catching of mosquitoes using sweeping method with the number of catchers as much as 2 people. Results: Five species of Culex mosquitoes were found, namely Culex quinquefasciatus, Culex pipiens, Culex erraticus, Culex tarsalis, and Culex restuans. Culex spp mosquitoes obtained in several pig pens in Kecamatan Airmadidi are 136 tails. The density of mosquitoes is calculated for each species and village. The highest mosquito density is the Culex quinquefasciatus species in Tanggari Village (20.45 MHD) and the lowest is the Cx species. tarsalis in Rap-rap Villages (0.75 MHD). Conclusion: Culex mosquitoes of quinquefasciatus species are scattered throughout the sampling sites with high amounts and densities, so it can be concluded that this mosquito has potential as a vector of Japanese Encephalitis disease. The average density of culex spp mosquitoes in the five study sites has passed the quality standard stipulated Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 50 of 2017 That is <1 MHD.
PENDAHULUAN
Japanese Ensephalitis (JE)merupakan
penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang ditularkan melalui nyamuk yang terinfeksi virus JE. Manusia, kuda, babi, burung dan hewan peliharaan dapat terjangkit penyakit ini. Penderita penyakit JE ini memiliki resiko munculnya berbagai gangguan mental, perubahan kepribadian, gangguan motorik dan verbal (Hariastuti, 2012).
Virus JE ini hidup di dalam tubuh binatang. Reservoir utama tidak mengembangkan atau terkena dapat terkena efek virus ensefalitis, tapi bisa mengalami keguguran saat terinfeksi (Berger, 2017). Babi adalah reservoir utama virus ini. Apabila nyamuk menggigit babi yang mengandung virus ini, nyamuk tersebut akan terinfeksi dan bisa menularkan virus JE ke manusia yang tergigit nyamuk ini. Penyebar penyakit ini adalah nyamuk jenis culex
spp (Krisna, 2016).
Nyamuk adalah organisme hidup yang hidup di hampir semua tempat, gigitannya menyebabkan dermatitis dan menularkan berbagai penyakit. Beberapa spesies nyamuk yang dapat menjadi penular atau vektor penyakit adalah genus Culex, Aedes, Mansonia dan
Anopheles yang menularkan malaria,
filaria, demam berdarah, Japanese Encephalitis dan lainnya (Munif, 2009).
Indonesia dan beberapa wilayah seperti Vietnam selatan, Thailand selatan, Malaysia, Filipina, Srilangka, dan India selatan merupakan wilayah endemis penyakit JE dan kasusnya sporadik dengan puncak setelah awal musim penghujan. Kasus Japanese Encephalitis ini pernah dilaporkan sebanyak 2 kasus di daerah endemis Japanese Encephalitis di Indonesia yaitu Provinsi Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara (Subangkit, 2014). Virus JE ditemukan pada enzim sampel babi di kandang babi Tomohon (Pinontoan, 2017). Sulawesi Utara, ditemukan beberapa spesies nyamuk
Culex di peternakan babi yang memiliki
peran penyebaran virus JE yaitu Cx.
vishnui dan Cx. gelidus (Podung dkk,
2016).
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif untuk melihat identifikasi nyamuk dan kepadatan nyamuk culex spp pada kandang babi di Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara. Penangkapan nyamuk dilakukan pada beberapa kandang babi di lima desa/kelurahan dan dilakukan pada jam 19.00 – 20.00 WITA. Nyamuk ditangkap menggunakan metode
sweeping dengan jarring. Penangkap
nyamuk sebanyak 2 orang. Semua nyamuk culex yang berhasil ditangkap
diidentifikasi spesiesnya menggunakan kunci genera. Setelah diidentifikasi, nyamuk dihitung kepadatannya menggunakan rumus Man Hour Denity.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengambilan sampel dilakukan pada beberapa kandang babi di Kecamatan Airmadidi. Lokasi pengambilan sampel yang di pilih adalah Desa Tanggari, Desa Sampiri, Desa Sawangan, Kelurahan Airmadidi bawah, dan Kelurahan Rap-rap. Lima lokasi ini dipilih, karena memiliki daerah perairan yang cocok dengan habitat nyamuk culex spp. Jumlah populasi nyamuk yang ditangkap dalam penelitian ini ada 151 ekor dan 136 diantaranya teridentifikasi sebagai nyamuk culex spp.
Identifikasi nyamuk dilakukan dengan menggunakan kunci genera “Identification guide to adult female mosquitoes of Saginaw county, William W. Stanuszek. 2013”. Nyamuk yang berhasil ditemukan adalah 5 spesies nyamuk. Spesies nyamuk terbanyak yang didapat adalah Cx quinquefasciatus (72 ekor, ) dengan salah satu ciri yaitu memiliki antena yang berbulu. Spesies kedua terbanyak adalah Cx erraticus (25 ekor) dengan salah satu ciri yaitu bagian bawah abdomen terdapat sisik yang berwarna putih yang meluas pada bagian sternit dan terdapat strip putih pada bagian basal segmen. Spesies ketiga
adalah Cx pipiens (21 ekor) dengan salah satu ciri yaitu pada bagian probosis palpi dan tarsi belakang seluruhnya berwarna hitam. Spesies nyamuk culex keempat adalah Cx tarsalis (13 ekor) dengan salah satu ciri yaitu pada bagian proboscis palpi dan tarsi belakang memiliki sisik yang berwarna pucat seperti pita. Spesies nyamuk culex kelima adalah Cx restuans (5 ekor) dengan salah satu ciri yaitu pada permukaan thorax terdapat sisik bintik pucat.
Jumlah nyamuk tertangkap
Berdasarkan penelitian di Kecamatan Airmadidi dengan metode penangkapan swepping didapatkan 136 ekor nyamuk
culex spp dewasa, jumlah nyamuk culex spp terbanyak yaitu Desa Tanggari 55
ekor, sedangkan Desa Sampiri adalah kedua terbanyak dengan jumlah nyamuk yang tertangkap yaitu sebanyak 24 ekor, jumalah nyamuk Kelurahan Rap-rap yang tertangkap yaitu 23 ekor, jumlah nyamuk yang tertangkap di Desa Sawangan yaitu sebanyak 22 dan Desa Airmadidi bawah sebanyak 12 ekor.
Perhitungan kepadatan nyamuk menggunakan rumus Man Hour Density
12 23 22 55 24
Jumlah Nyamuk
(ekor)
AirmadidiBawahRap-rap Sawangan Tanggari Sampiri
(MHD) Culex Spp bedasarkan pada waktu penelitian yaitu :
Jumlah nyamuk tertangkap MHD =
Jumlah penangkap x lama penangkapan (jam) x waktu penangkapan (menit)
a. Desa Tanggari
Spesies Culex Jumlah (ekor) MHD Cx. quinquefasciatus 27 20,45 Cx. tarsalis - - Cx. pipens 10 7,57 Cx. erraticus 18 13,63 Cx. restuans - -
Kepadatan nyamuk di Desa Tanggari, di dominasi oleh spesies Cx.
quinquefasciatus yakni jumlah 27 ekor
dan 20,45 MHD. Nyamuk Cx. erraticus juga memiliki intensitas yang tinggi di Desa Tanggari dengan jumlah 18 ekor dan 13,63 MHD, sedangkan nyamuk Cx.
tarsalis dan Cx. restuans tidak ditemukan
saat penelitian.
b. Desa Sampiri
Nyamuk yang ditemukan selama penangkapan nyamuk di Desa Sampiri hanya nyamuk Cx. quinquefasciatus dengan jumlah serta kepadatan nyamuk yakni jumlah 24 ekor dan 18,18 MHD.
c. Kelurahan Rap-rap Spesies Culex Jumlah
(ekor) MHD Cx. quinquefasciatus 10 7,57 Cx. tarsalis 1 0,75 Cx. pipens 3 2,27 Cx. erraticus 4 3,03 Cx. restuans 5 3,78 Jumlah serta kepadatan nyamuk di Desa Tanggari, di dominasi oleh spesies
Cx. quinquefasciatus yakni jumlah 10
ekor dan 7,57 MHD. Nyamuk Cx.
restuans juga memiliki intensitas yang
cukup tinggi dibandingkan dengan spesies lainnya dengan jumlah 5 ekor dan 3,78 MHD, sedangkan nyamuk Cx.
erraticus 4 ekor serta 3,03 MHD, dan
nyamuk Cx. restuans memiliki jumlah serta kepadatan yakni 3 ekor dan 2,27 MHD.
d. Desa Sawangan
Spesies Culex Jumlah (ekor) MHD Cx. quinquefasciatus 4 3,03 Cx. tarsalis 12 9,09 Cx. pipens 3 2,27 Cx. erraticus 3 2,27 Cx. restuans - -
Jumlah serta kepadatan nyamuk di Desa Tanggari, di dominasi oleh spesies
9,09 MHD. Nyamuk Cx. quinquefasciatus juga memiliki intensitas
yang cukup tinggi dibandingkan dengan spesies lainnya dengan jumlah 4 ekor dan 3,03 MHD, sedangkan nyamuk Cx.
erraticus, Cx. restuans memiliki jumlah
serta kepadatan yang sama yakni 3 ekor dan 2,27 MHD.
e. Kelurahan Airmadidi bawah Spesies Culex Jumlah
(ekor) MHD Cx. quinquefasciatus 7 5,30 Cx. tarsalis - - Cx. pipens 5 3,78 Cx. erraticus - - Cx. restuans - - Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa hanya terdapat dua spesies nyamuk culex yang ditemukan selama penangkapan di Kelurahan Airmadidi bawah yakni Cx. quinquefasciatus 7 ekor dan kepadatan
5,30 MHD sedangkan Cx. pipens berjumlah 5 ekor dan kepadatan 3,78 MHD.
Identifikasi Nyamuk Culex spp
Nyamuk culex spp yang tertangkap selama penelitian pada beberapa kandang babi Kecamatan Airmadidi berjumlah 136 ekor diantaranya nyamuk culex
quinquefasciatus, culex pipiens, culex tarsalis, culex erraticus, dan culex
restuans. Hasil tersebut berbeda dengan
penelitian Podung dkk tahun 2016, bahwa nyamuk yang ditemukan di peternakan babi Manado yaitu Cx.
gelidus dan Cx. vishnui.
Penangkapan nyamuk dilakukan selama 5 hari dan nyamuk culex spp dengan jenis culex quinquefasciatus adalah nyamuk yang paling banyak ditemukan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Hadi dkk tahun 2011 yang dilakukan sekitar kandang babi di daerah provinsi Sumatera Utara, nyamuk Cx.
Quinquefasciatus adalah salah satu nyamuk yang berpotensi menjadi vektor penyakit Japanese Encephalitis.
Kepadatan Nyamuk Culex spp
Kepadatan Nyamuk dihitung setiap spesies dan setiap lokasi pengambilan sampel, sehingga kepadatan nyamuk tertinggi adalah nyamuk Culex Quinquefasciatus di Desa Tanggari yaitu
27 ekor dan 20,45 MHD. Selama penangkapan yang dilakukan pada jam 19.00-20.00, nyamuk culex yang paling sering ditemukan sedang menggigit hewan babi. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sukendra dan Shidqon (2016) di kota Pekalongan Jawa Tengah, bahwa kepadatan nyamuk culex menggigit mangsa pada rentang waktu pukul 19.00-04.00.
Observasi yang dilakukan selama penelitian dilakukan pada beberapa
kandang babi kecamatan Airmadidi di dapatkan bahwa beberapa kondisi kandang dalam keadaan kotor dan di setiap kandang pasti terdapat banyak genangan air kotor yang tentunya adalah habitat yang disukai nyamuk culex spp. Peningkatan kepadatan nyamuk Cx.
Quinquefasciatus terjadi pada rentang
suhu 24 hingga 29 ° C dan pada saat pengambilan sampel dilakukan, suhu rata-rata di kecamatan Airmadidi adalah 25 ° C. Nyamuk dewasa tidak mampu bertahan hidup dan bereproduksi dalam suhu setinggi 32 ° C.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian Identifikasi dan Kepadatan nyamuk Culex Spp yang dilakukan pada beberapa kandang babi di Kecamatan Airmadidi dapat disimpulkan :
1. Identifikasi nyamuk Culex Spp : Nyamuk culex yang berhasil ditemukan sebanyak 136 ekor dengan spesies culex quinquefasciatus 72 ekor, culex erraticus 25 ekor, culex pipiens 21
ekor, culex tarsalis 13 ekor dan
culex restuans 5 ekor. Nyamuk culex spesies quinquefasciatus
adalah nyamuk yang berpotensi sebagai vektor penyakit Japanese
Encephalitis
2. Kepadatan nyamuk Culex Spp : Kepadatan nyamuk dihitung setiap
spesies dan desa. Kepadatan nyamuk tertinggi adalah spesies Culex quinquefasciatus di Desa Tanggari
yaitu 20,45 MHD dan berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kepadatan nyamuk culex spp di lima lokasi penelitian yaitu Desa Tanggari, Desa Sampiri, Kelurahan Rap-rap, Kelurahan Sawangan, dan Kelurahan Airmadidi Bawah telah melewati baku mutu yang
ditetapkan PERATURAN
MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2017 yaitu < 1 MHD.
SARAN
1. Bagi Instansi kesehatan di Kecamatan Airmadidi agar dapat memberikan sosialisasi pada masyarakat mengenai penyakit Japanese Encephalitis (JE). 2. Masyarakat bisa melakukan
pencegahan penyebaran vektor nyamuk serta memperhatikan kebersihan kandang ternak dalam hal ini ternak babi yang bisa menjadi reservoir virus JE.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Minahasa Utara Dalam
Angka 2010. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Minahasa Utara. Airmadidi.
Berger Stephen. 2017. Japanese Encephalitis: Global Status. USA.
Gideon Informatics Inc. google book diakses 15 Juli 2017.
Chandra, B. 2007. Pengantar Kesehatan
Lingkungan. Jakarta: EGC
Hadi UK, Koesharto FX. 2006. Nyamuk
dalam Hama Permukiman Indonesia: Pengenalan, Biologi, dan Pengendalian. Unit Kajian
Pengendalian Hama
Permukiman. Bogor.
Hadi UK, Susi S, dan Tatty S. 2011.
Ragam Jenis Nyamuk di Sekitar Kandang Babi dan Kaitannya dalam Penyebaran Japanese Encephalitis. Jurnal Veteriner. Vol.12, No. 4:hal 326-334
Harbach R. 2008. Genus Armigeres
Theobald 1901. Tersedia pada:
http://mosquito-taxonomic-inventory. info/genusarmigeres-theobald-1901. diunduh Juli 2017. Hariastuti N. 2012. Japanese
Encephalitis. Balaba. Vol. 8, No,
02:hal 55-57
Ipa M. 2007. Mengenal Jati Diri Vektor
Japanese Encephalitis. Inside. Vol.
II, No. 02.
Irianto K, 2009. Parasitologi Dasar. Bandung. CV Yrama Widya. Juhanudin N. 2013. Distribusi Spasial
Nyamuk Diurnal Secara Ekologi di Kabupaten Lamongan. Jurnal Biotropika. Vol. 1, No 3.
Krisna A. 2016. Infeksi Virus : Informasi
Kesehatan Masyarakat. Informasi
Medika.
Lestari, B.D, Gama Z.P, Rahadian B. 2010. Identifikasi Nyamuk di
Kelurahan Sawojajar Kota Malang, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya. Malang. Marbawati D, Zumrotus S. 2009. Koleksi
Referensi Nyamuk Di Desa Jepangrejo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora. Balaba. Vol 5, No. 01:6-10
Munif A. 2009. Nyamuk Vektor Malaria
dan Hubungannya Dengan Aktivitas Kehidupan Manusia di Indonesia. Aspirator. Vol. 1, No.
2:hal 94-102 diakses Juli 2017 Ompusunggu S, Masri M, Rita D, dan
Subangkit. 2015. Infeksi Japanese
Encephalitis Pada Babi di Beberapa Provinsi Indonesia Tahun 2012. Media Litbangkes.
Vol. 25, No. 2. Diakses Juli 2017 Republik Indonesia. 2017. Peraturan
Menteri Kesehatan No 50 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan Dan Persyaratan Kesehatan Untuk Vektor Dan Binatang Pembawa Penyakit Serta Pengendaliannya. Pinontoan O. 2017. Kepadatan Populasi
Nyamuk Culex spp Penyebab Penyakit Japanese Encephalitis di
Kandang Babi di Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa. Jurnal Entomologi. Diakses Februari 2018
Podung A, Odi RP, Sartje RL, dan Max T. 2016. Abundance of mosquito
species (diptera: culicidae) as vector of the Japanese encephalitis disease in the pig sties in north Sulawesi, Indonesia. Journal of
Entomology and Zoology Studies. JEZS 2016; 4(6): 632-637.
Purnama SG. 2010. Materi kuliah
pengendalian vektor dbd.
Universitas Udayana. Bali.
Rampengan N. 2016. Japanese Encephalitis. Jurnal Biomedik (JBM). Vol.8, No 2:hal S10-S22. Rattanarithikul R, Harbach RE, Harrison
BA, Panthusiri P, Jones JW.
Illustrated Keys To The Mosquitoes Of Thailand II. Genus Culex. The Southeast Asian J
Trop Med Public Health 2005; 36 (Suppl 2): 97 Pp. Diakses 15 Juli 2017
Rodriguez R. 2015. Mosquito-Borne
Diseases In Mississippi. University
of Nebraska-Lincoln.
http://digitalcommons.unl.edu/ento distmasters/8 diakses 1 Agustus 2017.
Safar R. 2009. Protozoologi Helmintologi Entomologi.
Bandung. CV Yrama Widya. Sholichah Z. 2009. Ancaman Dari
Nyamuk Culex sp Yang Terabaikan. Balaba. Vol.5, No.
1:hal 21-23
Slamet. 2009. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Subangkit, Masri Sembiring, Bambang Heriyanto, Vivi Setiawaty. 2014.
Uji ELISA untuk Deteksi Japanese Encephalitis (JE) dari Kasus Ensefalitis di 5 Provinsi Indonesia Tahun 2014. Media Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan. Vol 26, No 3.
WHO, South-East Asia Regional Office New Delhi. 2004. Pencegahan
Dan Pengendalian Dengue Dan Demam Berdarah Dengue. EGC.