• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI PUSTAKA 1 Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II STUDI PUSTAKA 1 Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB II

STUDI PUSTAKA

2.1 Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)

Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera.

Tiga unsur pokok dalam K3 adalah Kesehatan, Keselamatan dan Kerja : a. Kesehatan

Setiap pekerja harus bekerja dalam kondisi dan situasi yang sehat baik sehat jasmani, rohani maupun lingkungan yang sehat.

b. Keselamatan

Dalam setiap melakukan aktivitas kerja, seorang pekerja harus melakukan tindakan yang sesuai dengan keselamatan dirinya agar terhindar dari kecelakaan kerja.

c. Kerja

Dengan bekerja pada situasi dan kondisi yang baik serta memperhatikan keselamatan kerja maka akan tercipta situasi kerja yang kondusif dan harmonis yang nantinya akan meningkatkan produktifitas kerja.

Jadi dapat disimpulkan, keselamatan dan kesehatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat alat kerja, bahan dan proses pengolahanya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Keselamatan kerja bersasaran disegala tempat kerja, baik di darat di dalam tanah di permukaan air maupun di udara. Keselamatan kerja merupakan tugas dari semua orang yang bekerja. Keselamatan kerja adalah dari, oleh, dan untuk setiap tenaga kerja serta orang lain dan juga masyarakat pada umumnya dengan maksud dan tujuan untuk :

a. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatanya dalam melakukan pekerjaanya untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktifitas nasional. b. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.

(2)

6 Keselamatan kerja dalam aplikasinya juga dapat membantu meningkatkan produksi dan produktifitas perusahaan, hal ini didasarkan atas :

a. Dengan tingkat keselamatan yang tinggi, kecelakaan-kecelakaan yang menjadi sebab sakit, cacat dan kematian dapat dikurangi sahingga pembiayaan yang tidak perlu dapat dihindari.

b. Tingkat keselamatan yang tinggi sejalan dengan ppemeliharaan dan

penggunaan peralatan kerja serta mesin yang produktif dan efesien dengan tingkat produksi dan produktifitas tinggi.

c. Pada berbagai hal, tingkat keselamatan yang tinggi menciptakan kondisi yang mendukung kenyamanaan serta kegairahan kerja. Sehingga faktor manusia dapat diserasikan dengan tingkat efesiensi yang tinggi pula.

d. Praktek keselamatan tidak dapat dipisahkan dari keterampilan keduanya berjalan sejajar dan merupakan unsur-unsur esensial bagi kelangsungan proses produksi. Keselamatan kerja yang dilaksanakan sebaik-baiknya dengan partisipasi dari pengusaha dan buruh atau karyawan, hal ini akan membawa iklim keamanan dan ketenaga kerjaan, sehingga sangat membantu bagi hubungan buruh dan pengusaha yang merupakan landasan kuat bagi terciptanya kelancaran produksi.

Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan di proyek. Terutama tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Satu hal yang menjadi sorotan tugas akhir ini ketika melakukan pengamatan di lokasi proyek, yaitu kurangnya pemahaman K3 dalam proyek tersebut. Terbukti dengan beberapa para pekerja di proyek tersebut tidak mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) bahkan beberapa dari mereka tampak tidak mengenakan alas kaki. Tentunya hal ini akan berdampak pada hasil kerja para pekerja di proyek tersebut. Dalam penyusunan tugas akhir ini ada beberapa hal yang menjadi penyebab kurang pahamnya para pekerja akan pentingnya K3, selain dari pihak individu itu sendiri terkadang dari pihak pengelola proyek tersebut juga terlibat terhadap kurang pahamnya para pekerja akan pentingnya K3 dalam suatu proyek itu sendiri. Hal tersebut yang akan menjadi pertanyaan, jika terjadi pelanggaran K3 disuatu proyek apakah proyek tersebut sudah memenuhi Standard Operating Procedure (SOP) suatu proyek? Hal ini yang mendorong untuk melakukan pengamatan lebih lanjut dalam pengerjaan proyek ini.

(3)

7 Sasaran pengamatan yang dimaksud adalah pemahaman dan pelaksanaan K3 dalam proyek pembangunan Ruko 3 Lantai Superindo Ngaliyan Semarang. Berikut penjelasan tentang K3 yang menjadi pembahasan di penelitian ini.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur.

2.2 Pengertian (Definisi) K3

a. Pengertian (Definisi) K3 Menurut Keilmuan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.

b. Pengertian (Definisi) K3 Menurut OHSAS 18001:2007

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.

Bebrapa pengertian K3 di atas adalah pengertian K3 yang umum (paling sering) digunakan di antara versi-versi pengertian K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) lainnya.

c. Pengertian (Definisi) K3 Menurut Beberapa Ahli: 1. Menurut Mangkunegara

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran danupaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenagakerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menujumasyarakat adil dan makmur

2. Menurut Suma’mur (1981)

Keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untukmenciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.

(4)

8 Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebasdari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja

4. Menurut Mathis dan Jackson

Menyatakan bahwa keselamatan adalah merujuk pada perlindunganterhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cidera yang terkait dengan pekerjaan.Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.

5. Menurut Ridley, John (1983)

Mengartikan kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatukondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaanmaupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.

6. Jackson

Menjelaskan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja menunjukkan kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerjayang disediakan oleh perusahaan.

7. Lalu Husni, 2003

Ditinjau dari sudut keilmuan, kesehatan dan keselamatan kerjaadalah ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinyakecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja

d. ILO (International Labour Organization)

Suatu upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat kesejahtaraan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jabatan, pencegahan penyimpangan kesehatan diantara pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan, perlindungan pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang diadaptasikan dengan kapabilitas fisiologi dan psikologi; dan diringkaskan sebagai adaptasi pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada jabatannya.

(5)

9 2.3 Cara Pemantauan Dan Evaluasi K3

Gambar 2.1 Skema Pemantauan Dan Evaluasi K3

Sumber: (Agung, Sigit, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 2016.)

Pemantauan dan evaluasi meliputi :

a. Pencatatan dan pelaporan K3 terintegrasi ke dalam sistem pelaporan. 1. Pencatatan dan pelaporan K3

2. Pencatatan semua kegiatan K3

3. Pencatatan dan pelaporan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) 4. Pencatatan dan pelaporan Penyakit Akibat Kerja (PAK) b. Inspeksi dan pengujian

Inspeksi K3 merupakan suatu kegiatan untuk menilai keadaan K3 secara umum. Inspeksi K3 merupakan suatu kegiatan untuk menilai keadaan K3 secara umum dan tidak terlalu mendalam. Inspeksi K3 di perusahaan dilakukan secara berkala, terutama oleh petugas K3 perusahaan sehingga kejadian PAK dan KAK dapat dicegah sedini mungkin. Kegiatan lain adalah pengujian, baik terhadap lingkungan maupun pemeriksaan terhadap pekerja berisiko seperti biological monitoring (pemantauan secara biologis).

c. Melaksanakan audit K3

Audit K3 yang meliputi falsafah dan tujuan, administrasi dan pengelolaan, karyawan dan pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebijakan dan prosedur, pengembangan karyawan dan program pendidikan, evaluasi dan pengendalian.

(6)

10 Sesuatu organisasi memerlukan alat atau cara untuk menilai apakah pelaksanaan K3 telah berhasil atau tidak. Salah satu cara penilaian adalah melakukan Audit K3 sebagai bagian dari siklus Plan-Do-Check ( perencanaan – pelaksanaan- evaluasi ) Melalui audit, organisasi akan mengetahui kelebihan dan kekurangannya sehingga dapat melakukan langkah-langkah penyempurnaan berkesinambungan.

d. Cara Mengevaluasi K3

Salah satu pertanyaan yang sering timbul adalah: Perusahaan telah menerapkan K3 tetapi mengapa kecelakaan masih terjadi? Hal ini disebabkan kualitas penerapan K3 di dalam perusahaan belum komprehensif. Penerapan K3 (OHSMS) di dalam organisasi dapat dikategorikan sebagai berikut.

1. K3 Virtual (Virtual OHSMS), artinya organisasi telah memiliki elemen K3 dan melakukan langkah pencegahan yang baik, namun tidak memiliki sistem yang mencerminkan bagaimana langkah pengamanan dan pengendalian risiko dijalankan. 2. K3 salah arah (Misguide OHSMS) artinya, organisasi telah memiliki elemen sistem

manajemen K3 yang baik, tetapi salah arah dalam mengembangkan langkah pencegahan dan pengamanannya. Akibat, isu atau potensi bahaya yang bersifat kritis bagi organisasi terlewatkan.

3. K3 Acak (Random OHSMS) artinya organisasi yang telah menjalankan program pengendalian dan pencegahan risiko yang tepat sesuai dengan realita yang ada dalam organisasi, namun tidak memiliki elemen-elemen manajemen K3 yang diperlukan untuk memastikan bahwa proses pencegahan dan pengendalian tersebut berjalan dengan baik. Elemen K3 yang digunakan bersifat acak dan tidak memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya.

4. K3 Komprehensif (Comprehensive OHSMS) adalah organisasi yang menerapkan dan mengikuti proses kesisteman yang baik. Elemen K3 dikembangkan berdasarkan hasil identifikasi risiko, dilanjutkan dengan menetapkan langkah pencegahan dan pengamanan, serta melalui proses manajemen untuk menjamin penerapannya secara baik.

Untuk mencapai penerapan K3 kelas dunia seperti di atas diperlukan beberapa faktor:

(7)

11 yang dilakukan. Antara elemen implementasi dengan potensi bahaya atau resiko yang ada dalam organisasi harus sejalan. K3 di susun dengan pendekatan risk based concept sehingga tidak salah arah (misguide).

b. K3 harus dijalankan dengan konsisten dalam operasi satu-satunya cara untuk pengendalian risiko dalam organisasi. Semua program K3 atau kebijakan K3 yang diambil harus mengacu kepada K3 yang ada. Sebagai contoh, ketika organisasi akan melakukan proyek ekspansi fasilitas, maka dikembangkan program K3 untuk proyek yang tetap mengacu kepada K3 yang sudah ada.

c. K3 harus konsisten dengan hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko yang sudah dilakukan. Hal ini akan tercermin dalam penetapan objektif dan program kerja yang harus mengacu kepada potensi bahaya yang ada dalam organisasi.

d. K3 harus mengandung elemen implementasi yg berlandas siklus proses manajemen.

e. Semua unsur atau individu yang terlibat dalam operasi harus memahami konsep dan implementasi K3.

f. Adanya dukungan dan komitmen manajemen puncak dan seluruh elemen dalam organisasi untuk mencapai kinerja K3 terbaik.

2.4 Cara perencanaan K3

Dalam Sistem K3 menurut OHSAS 18001 adalah perencanaan (planning). OHSAS 18001 mewajibkan organisasi untuk membuat prosedur perencanaan yang baik. Tanpa perencanaan, system hasil tidak optimal.

Perencanaan K3 yang baik, dimulai dengan melakukan identifikasi bahaya, penilaian risiko dan penentuan pengendaliannya. Dalam melakukan hal tersebut, harus diperimbangkan berbagai persyaratan perundangan K3 yang berlaku bagi organisasi serta persyartan lainnya seperti standar, kode, atau pedoman industri yang terkait atau berlaku bagi organisasi.

Dari hasil perencanaan tersebut, ditetapkan objektif K3 yang akan dicapai serta program kerja untuk mencapai objektif yang telah ditetapkan tersebut.

Penyuluhan K3 ke semua karyawan, pelatihan K3 yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dan kelompok di dalam organisasi perusahaan. Fungsinya memproses individu

(8)

12 dengan perilaku tertentu agar berperilaku sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya sebagai produk akhir dari pelatihan.

Melaksanakan program K3 sesuai peraturan yang berlaku diantaranya: 1. Pemeriksaan kesehatan petugas (prakarya, berkala dan khusus), 2. Penyediaan alat pelindung diri dan keselamatan kerja,

3. Penyiapan pedoman pencegahan dan penanggulangan keadaan darurat, 4. Penempatan pekerja pada pekerjaan yang sesuai kondisi kesehatan, 5. Pengobatan pekerja yang menderita sakit,

6. Menciptakan lingkungan kerja yang hygienis secara teratur. 7. Melaksanakan biological monitoring (pemantauan biologi)

2.5 Organisasi K3

Pengorganisasian adalah langkah untuk menetapkan, menggolong-golongkan, dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok dan wewenang, dan pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Fungsinya adalah untuk memadukan (sinkronisasi) dan mengatur semua kegiatan yang ada kaitannya dengan personil, finansial, material, dan tata cara untuk mencapai tujuan organisasi yang telah disepakati bersama.

Implementasi sistem manajemen K3 dalam organisasi bertujuan untuk meningkatkan kinerja K3 dengan melaksanakan upaya K3 secara efisien dan efektif sehingga resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat dicegah atau dikurangi. Setiap organisasi – besar atau kecil – memiliki resiko K3 sesuai dengan sifat dan jenis kegiatannya masing-masing. Karena itu, mereka pasti telah menjalankan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. Yang berbeda adalah kualitas implementasinya.

Pola pembagian tanggung jawab, penyuluhan kepada semua petugas, bimbingan dan latihan serta penegakkan disiplin.

Ketua organisasi/satuan pelaksana K3 secara spesifik harus mempersiapkan data dan informasi pelaksanaan K3 di semua tempat kerja, merumuskan permasalahan serta menganalisis penyebab timbulnya masalah bersama unit-unit kerja, kemudian mencari jalan pemecahannya dan mengkomunikasikannya kepada unit-unit kerja, sehingga dapat dilaksanakan dengan baik. (Agung, 2016.)

(9)

13 Dasar hukum pembentukan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) ialah Permenaker RI Nomor PER.04/MEN/1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Tata Cara Penunjukan Ahli Keselamatan Kerja.

Disebutkan pada pasal 2 (dua) bahwa tempat kerja dimana pengusaha/pengurus memperkerjakan 100 (seratus) orang atau lebih, atau tempat kerja dimana pengusaha/pengurus memperkerjakan kurang dari 100 (seratus) tenaga kerja namun menggunakan bahan, proses dan instalasi yang memiliki resiko besar akan terjadinya peledakan, kebakaran, keracunan dan penyinaran radioaktif pengusaha/pengurus wajib membentuk P2K3.

Pada pasal 3 (tiga) disebutkan bahwa unsur keanggotaan P2K3 terdiri dari pengusaha dan pekerja yang susunannya terdiri dari ketua, sekretaris dan anggota serta sekretaris P2K3 ialah ahli keselamatan kerja dari perusahaan yang bersangkutan.

Pengertian P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut Permenaker RI Nomor PER.04/MEN/1987 ialah badan pembantu di tempat kerja yang merupakan wadah kerjasama antara pengusaha dan pekerja untuk mengembangkan kerjasama saling pengertian dan partisipasi efektif dalam penerapan K3.

Tugas P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) ialah memberikan saran dan pertimbangan baik diminta maupun tidak kepada pengusaha mengenai masalah K3 (berdasarkan pasal 4 (empat) Permenaker RI Nomor PER 04/MEN/1987). Fungsi P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) antara lain :

1. Menghimpun dan mengolah data mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja.

2. Membantu menunjukkan dan menjelaskan kepada setiap tenaga kerja mengenai : a. Berbagai faktor bahaya di tempat kerja yang dapat menimbulkan gangguan K3 termasuk bahaya kebakaran dan peledakan serta cara menanggulanginya.

b. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja. c. Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kerja yang bersangkutan.

d. Cara dan sikap yang benar dan aman dalam melaksanakan pekerjaannya. 3. Membantu Pengusaha/Pengurus dalam :

(10)

14 b. Mengembangkan sistem pengendalian bahaya terhadap Keselamatan dan

Kesehatan Kerja.

c. Mengevaluasi penyebab timbulnya kecelakaan, penyakit akibat kerja (PAK) serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

d. Mengembangkan penyuluhan dan penelitian di bidang keselamatan kerja, higiene perusahaan, kesehatan kerja dan ergonomi.

e. Melaksanakan pemantauan terhadap gizi kerja dan menyelenggarakan makanan di perusahaan.

f. Memeriksa kelengkapan peralatan keselamatan kerja. g. Mengembangkan pelayanan kesehatan tenaga kerja.

h. Mengembangkan laboratorium Keselamatan dan Kesehatan Kerja, melakukan pemeriksaan laboratorium dan melaksanakan interpretasi hasil pemeriksaan.

i. Menyelenggarakan administrasi keselamatan kerja, higiene perusahaan dan kesehatan kerja.

j. Membantu pimpinan perusahaan menyusun kebijaksanaan manajemen dan pedoman kerja dalam rangka upaya meningkatkan keselamatan kerja, higiene perusahaan, kesehatan kerja, ergonomi dan gizi kerja. (berdasarkan pasal 4 (empat) Permenaker RI Nomor PER.04/MEN/1987).

2.6 Faktor-faktor penghambat pemahaman K3

Walaupun K3 sudah dianggap penting dalam aspek kegiatan operasi namun didalam pelaksanaannya masih saja ditemui hambatan serta kendala-kendala. Hambatan tersebut ada yang bersifat makro (di tingkat nasional) dan ada pula yang bersifat mikro (dalam perusahaan).

1. Hambatan Makro

Di tingkat nasional (makro) ditemui banyak faktor yang merupakan kendala yang menyebabkan kurang berhasilnya program keselamatan kerja antara lain :

a.Pemerintah

Masih dirasakan adanya kekurangan dalam masalah pembinaan (formal & non formal), bimbingan (pelayanan informasi, standar, code of pratice), pengawasan

(11)

15 (peraturan, pemantauan / monitoring serta sangsi terhadap pelanggaran), serta bidang-bidang pengendalian bahaya.

b.Teknologi

Perkembangan teknologi perlu diantisipasi agar bahaya yang ditimbulkannya dapat diminimalisasi atau dihilangkan sama sekali dengan pemanfaatan ketrampilan di bidang pengendalian bahaya.

c. Sosial budaya

Adanya kesenjangan sosial budaya dalam bentuk rendahnya disiplin dan kesadaran masyarakat terhadap masalah keselamatan kerja, kebijakan asuransi yang tidak berorientasi pada pengendalian bahaya, perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti terhadap bahaya-bahaya yang terdapat pada industri dengan teknologi canggih serta adanya budaya “santai” dan “tidak peduli” dari masyarakat atau dengan kata lain belum ada “budaya” mengutamakan keselamatan di dalam masyarakat / pekerja.

2. Hambatan Mikro

Masalah yang bersifat mikro yang terjadi di perusahaan antara lain terdiri dari : Kesadaran, dukungan dan keterlibatan manajemen operasi terhadap usaha pengendalian bahaya dirasakan masih sangat kurang. Keadaan ini akan membudaya mulai dari lapis bawah sehingga banyak para karyawan memilki kesadaran keselamatan yang rendah, disamping itu pengetahuan mereka terhadap bidang rekayasa dan manajemen keselamatan kerja juga sangat terbatas.

Ditambah lagi anggapan bahwa K3 adalah cost center yang padahal sebenarnya justru sebaliknya.

Kemampuan petugas keselamatan kerja dibidang rekayasa operasi, rekayasa keselamatan kerja, manajemen pengendalian bahaya dirasakan sangat kurang sehingga merupakan kendala diperolehnya kinerja keselamatan kerja yang baik. Akibat daripada kekurangan ini terdapatnya kesenjangan antara makin majunya teknologi terapan dengan dampak negatif yang makin tinggi dengan kemampuan para petugas keselamatan kerja dalam mengantisipasi keadaan yang makin berbahaya. Hal ini juga disebabkan karena kurangnya pengembangan SDM di bidang K3 atau kurang dikembangkannya perkembangan dunia pendidikan di bidang ini.

(12)

16 Standard, code of practice Masih kurangnya standard-standard dan code practice di bidang keselamatan kerja serta penyebaran informasi di bidang pengendalian bahaya industri yang masih terbatas akan menambah memperbesar resiko yang dihadapi.

2.7 K3 Pada pembangunan gedung/ruko

Didalam pasal 87 (1) : UU No 13 Tahun 2003 Tentang ketenagakerjaan dinyatakan bahwa : setiap perusahaan wajib menerapkan K3 yang terintegrasi dengan system perusahaan. Selanjutnya ketentuan mengenai penerapan K3 diatur dalam Permenaker RI. NO.Per.05 / MEN / 1996 tentang K3. Pada pasal 3( 1 dan 2 ) dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan Tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengekibatkan kecelakaan kerja seperti peledekan, kebakaran, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan K3.

Dengan demikian kewajiban penerapan K3 didasarkan pada dua hal yaitu ukuran besarnya perusahaan dan potensi bahaya yang ditimbulkan. Meskipun perusahaan hanya mempekerjakan tenaga kerja kurang dari 100 orang tetapi apabila tingkat resiko bahayanya besar juga berkewajiban menerapkan K3 di perusahaannya. Berdasarkan hal tersebut maka, penerapan K3 bukanlah suka rela ( voluntary ), tetapi keharusan yang dimandatkan oleh peraturan perundangan ( Mandatory )

Tenaga kerja dalam melakukan pekerjaanya akan berhadapan dengan adanya bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh mesin, alat kerja, material dari proses pengolahanya, keadaan tempat kerja, lingkungan, cara melakukan pekerjaan dll. Menyadari bahaya yang timbul dapat mengakibatkan kecelakaan kerja yang nantinya juga akan merugikan perusahaan. Maka sedini mungkin kecelakaan kerja harus dicegah.

Sesuai dengan hasil pengamatan kami, lokasi kerja sangat potensial menimbulkan kecelakaan kerja. Contoh kecil yang terlihat adalah kebisingan karena proses pemotongan, kadar debu/serbuk kayu. Pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja bagi semua karyawan, perusahaan harus menciptakan suasana lingkungan kerja yang sehat, aman dan nyaman.

(13)

17 1. Tergores

Adalah luka yang diakibatkan karena persinggungan yang tidak tepat dengan benda tajam.

Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan : a. Memakai sarung tangan

b. Disusun prosedur kerja yang baru 2. Terpotong

Adalah luka pada anggota tubuh yang biasanya tangan dengan kondisi terbelah karena benda tajam.

Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan : a. Mengadakan training kepada karyawan

b. Memberikan tanda-tanda bahaya di mesin yang bersangkutan 3. Memar atau lebam

Adalah cidera karena benturan benda keras dengan ciri-ciri tersumbatnya pembuluh darah dan rasa nyeri.

Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan :

a. Memberi tanda garis area agar karyawan tidak sembarangan melintas b. Member rambu-rambu keselamatan diarea kerja

4. Iritasi kulit

Adalah peradangan pada kulit karena efek dari bahan yang mengandung kimia misalnya lem, tiner,dan lain-lain.

Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan : a. Dianjurkan memakai masker

b. Dianjurkan memakai sarung tangan c. Memberikan training kepada karyawan 5. Gangguan pernafasan

Adalah terganggunya saluran pernafasan karena masuknya benda luar berbentuk partikel kecil.

Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan : a. Dianjurkan memakai masker

(14)

18 c. Memberikan training pada karyawan

6. Tersengat listrik

Adalah kondisi luka memar bahkan resiko kemantian karena listrik. Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan :

a. Memberikan rambu-rambu bahaya diarea tersebut b. Dianjurkan memakai safety shoes

c. Dianjurkan segera melapor keatasan jika menemukan kabel atau instalasi listrik yang mengalami kerusakan.

7. Terbakar

Adalah kondisi dimana terjadi karena adanya api yang tidak terkendali yang menimbulkan efek kerusakan atau korban.

Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan : a. Mejauhkan benda-benda yang mudah terbakar b. Memberi aturan untuk dilarang merokok

c. Memberikan pelatihan menggunakan alat pemadam kebakaran 8. Tertimpa benda

Adalah kondisi luka yang diakibatkan karena benda jatuh dan tidak terkontrol. Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan :

a. Menempatkan / menyusun benda sesuai ukuran. b. Dianjurkan memakia safety shoes

9. Terpeleset

Adalah kecelakaan yang terjadi karena lantai licin. Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan : a. Memberikan tanda-tanda apabila lantai tersebut licin b. Memberi keset di pintu masuk

10. Tertabrak

Adalah kondisi benturan terhadap benda lain karena ketidaksadaran reflek tubuh dan pandangan.

Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan : a. Memberi garis area

(15)

19 11. Terjepit

Adalah kecelakaan yang terjadi karena posisi tubuh terhimpit benda karena ruang yang sempit.

Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan : a. Menata benda agar memberi ruangan untuk tidak terjepit b. Dianjurkan memakai safety shoes

12. Tertusuk

Adalah kondisi menancapnya benda luar kedalam anggota tubuh. Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan :

a. Dianjurkan mamakai sarung tangan b. Memberikan prosedur kerja yang baik 13. Kebisingan

Adalah kondisi lingkungan kerjakarena suara mesin yang keras dalam mengeluarkan suara.

Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan : a. Memakai earplug

b. Menggunakan peredam ruangan 14. Alergi bahan kimia

Adalah terganggunya pernafasan karena bau atau bahan kimia. Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan :

a. Memakai masker

b. Memakai sarung tangan plastik 15. Terkilir

Adalah kecelakaan yang terjadi akibat tertariknya otot dalam tubuh yang tidak tepat. Langkah-langkah preventive yang diambil perusahaan :

a. Memberikan prosedur kerja yang baik

b. Jika mengangkat benda jangan melebihi kapasitas

2.8 Perlengkapan Paralatan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)

Dalam melakukan kegiatan bekerja,target agar K3 diperusahaan dapat terwujud, maka diperlukan perlengkapan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja atau biasa disebut alat

(16)

20 pelindung diri (APD). Alat pelindung diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaannya yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja. Penggunaan alat pelindung diri (APD) tidak selalu efektif, yang efektif adalah pencegahan secara teknis, tetapi bila pencegahan secara teknis belum dapat dilakukan secara sempurna karena keterbatasan teknologi maka penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi sangat penting.

Alat pelindung diri (APD) adalah pilihan terakhir yang dilakukan untuk mencegah bahaya, tetapi alat pelindung diri (APD) bukan pengendalian sumber bahaya. Alat pelindung diri (APD) sebaiknya tidak digunakan sebagai pengganti dari suasana pengendali resiko yang lain, agar lebih efektif sebaiknya digunakan bersama dengan penggunaan alat pengendali lain. Kriteria Pemilihan Alat Pelindung Diri (APD) adalah sebagai berikut

a. Memberikan perlindungan yang kuat.

b. Alat pelindung diri (APD) harus seringan mungkin. c. Dapat dipakai secara fleksibel.

d. Tidak menimbulkan gangguan baik secara jenis bahan maupun psikologis. e. Tidak mudah rusak.

f. Tidak sebabkan bahaya tanbahan. g. Memenuhi standar.

h. Tidak membatas gerakan dan persepsi sensoris. i. Suku cadang mudah diperoleh.

Untuk melakukan pencegahan terhadap suatu kecelakaan kerja pada sebuah proyek yang banyak bergerak dibidang konstruksi dalam hal ini perusahaan yang menjadi tujuan penelitian tugas akhir merupakan perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi maka beberapa peralatan yang wajib digunakan adalah :

a. Masker

Penggunaan masker dapat melindungi pekerja dari beberapa ancaman kecelakaan seperti debu dari hasil pemotongan kayu ataupun dari proses pengamplasan hingga perlindungan dari proses pengecatan yang bila diabaikan dapat mengakibatkan sesak nafas, penyakit saluran pernafasan hingga keracunan.

(17)

21 b. Pelindung mata/kaca mata

Suatu alat keselamatan kerja yang penting karena dapat melindungi pekerja pada saat melakukan kegiatan operasional dari ancaman terkenanya mata oleh serbuk kayu yang mungkin berbahaya sehingga terjadinya kecelakaan dapat dicegah. Adapun akibat yang ditimbulkan adalah gangguan pengelihatan hingga kebutaan.

c. Sarung tangan

Sarung tangan berfungsi untuk melindungi tangan karena pekerja berinteraksi langsung dengan bahan material (kayu).

d. Helm proyek

Penggunaan helm sangat penting dikarnakan lokasi lingkungan kerja dengan menggunakan mesin-mesin besar tumpukan dari kayu.

e. Pengaman kaki

Pengaman kaki dalam hal ini adalah sepatu. Sepatu wajib digunakan agar kaki terlindungi dari kejatuhan benda benda berat misalnya kayu, palu, dll.

2.9 Undang-undang/ peraturan tentang K3

a. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per. 05/Men/1996 tentang Keselamatan Kerja Pasal 3:

Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih dan mengandung potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja, seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen K3.

b. Undang-undang RI No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja Pasal 1 :

Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, terbuka atau tertutup, bergerak atau tetap, di mana tengan kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber atau sumber bahaya sebagaimana diperinci pada pasal 2 : termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut

(18)

22 (Soepomo,2001:445).

Pasal 8:

Pengurus perusahaan wajib untuk memeriksakan kesehatan tenaga kerja sejak akan masuk kerja, selama bekerja dan akan dipindahkan ke tempat atau pekerjaan lain. c. Undang-undang RI No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan.

Pasal 23 ayat (1):

Kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja.

Pasal 23 ayat (2):

Kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja, dan syarat kesehatan kerja.

Di dalam undang-undang Nomor 23 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya pada kondisi kerja yang berpotensi membahayakan kesehatan. Hal tersebut dapat berlaku pada perusahaan yang mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang.

Mengingat kondisi tempat kerja yang memiliki berbagai risiko, maka pengusaha memiliki kewajiban untuk melaksanakan K3 di antaranya:

1.Terhadap tenaga kerja yang baru bekerja, pengusaha berkewajiban menunjukkan dan menjelaskan tentang:

a. Kondisi dan bahaya yang dapat timbul ditempat kerja b. Semua alat pengaman dan pelindung yang harus digunakan c. Cara dan sikap dalam melakukan pekerjaannya

d. Memeriksakan kesehatan baik fisik maupun mental tenaga kerja 2.Terhadap tenaga kerja yang telah/sedang dipekerjakan, ia berkewajiban:

a. Melakukan pembinaan dalam hal pencegahan dan penanggulangan b. Memeriksakan kesehatan

c. Menyediakan alat pelindung diri (APD) d. Mamasang rambu-rambu K3

(19)

23 e. Melaporkan setiap kecelakaan

f. Membayar biaya pengawasan K3 g. Menaati semua persyaratan K3

Program K3 berdasarkan Pedoman ILO tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang mencakup langkah-langkah berikut:

1. Membuat kebijakan berdasarkan prinsip-prinsip K3 dan partisipasi pekerja serta menetapkan unsur-unsur utama program.

2. Pengorganisasian suatu struktur untuk menerapkan kebijakan, termasuk garis tanggung jawab dan akuntabilitas, kompetensi dan pelatihan, pencatatan dan komunikasi kejadian.

3. Perencanaan dan penerapan, termasuk tujuan, peninjauan ulang, perencanaan, pengembangan dan penerapan system.

4. Evaluasi pemantauan dan pengukuran kinerja, investigasi kecelakaan, gangguan kesehatan, penyakit dan kejadian yang berhubungan dengan pekerjaan, audit dan peninjauan ulang manajemen.

5. Tindakan perbaikan melalui upaya-upaya pencegahan dan korektif, pembaruan dan revisi yang terus menerus terhadap kebijakan, sistem dan tehnik untuk mencegah dan mengendalikan kecelakaan, gangguan kesehatan, penyakit dan kejadian-kejadian berbahaya yang berhubungan dengan pekerjaan.

Gambar

Gambar 2.1  Skema Pemantauan Dan Evaluasi K3

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan membuat sistem pengaduan masyarakat program keluarga harapan (SIPM- PKH) yang merupakan sebuah sistem informasi yang

z Dalam hubungannya dengan akses warganegara untuk memperoleh informasi, masih sedikit Perda yang mengatur tentang jaminan hukum bagi masyarakat untuk memperoleh akses

Dengan ini menyampaikan surat lamaran agar dapat mengikuti Seleksi Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional

Sampai dengan tahun 2010 rasio daya serap tenaga kerja Kabupaten Bintan berdasarkan investasi PMA dan PMDN sebesar 1,9%. Tingginya daya serap pada tahun 2006 dikarenakan

SUCIYONO SMPN SATU ATAP 1 KAMPAKBIMBINGAN DAN KONSELING (KONSELOR) 5 Tidak hadir 6 11051781011032 RETNANINGTYAS SMP N 1 DONGKO BIMBINGAN DAN KONSELING (KONSELOR) 5 Syarat

Sedangkan untuk Mobile augmented reality sendiri adalah sebuah antar muka berbasis AR yang memiliki potensi menjadi zero-click interface dari Internet of Things ini

Proseding Workshop Program Pelita VII PUSLITBANG Oseanologi LIPI dalam Rangka Menyongsong Penelitian Kelautan Abad 21, Jakarta 2-4 April 1997.. Kualitas Perairan bagi Kehidupan

Petunjuk Teknis Penilaian Angka Kredit Pengawas Perikanan Bidang Pembudidayaan Ikan ini merupakan pedoman bagi pengawas perikanan bidang pembudidayaan, pengelola