• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI REMAJA TERHADAP PEMBAGIAN PERAN GENDER DALAM KELUARGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERSEPSI REMAJA TERHADAP PEMBAGIAN PERAN GENDER DALAM KELUARGA"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

(Kasus: Siswa Sekolah Menengah Umum Negeri 5 Kota Bogor)

RIZQI SUCI LESTARI A14204039

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN

(2)

RINGKASAN

RIZQI SUCI LESTARI. PERSEPSI REMAJA TERHADAP PEMBAGIAN PERAN GENDER DALAM KELUARGA. Kasus: Siswa Sekolah Menengah Umum Negeri 5 Kota Bogor. (Di bawah bimbingan AIDA VITAYALA S. HUBEIS).

Perubahan fisik dan sosial pada masa remaja, laki-laki dan perempuan harus menemui masa-masa dimana terdapat definisi baru mengenai peran gender mereka, yang merupakan suatu set harapan yang menetapkan bagaimana

seharusnya perempuan dan laki-laki berpikir, bertingkah laku, dan berperasaan. Peran gender dalam keluarga yang terdiri dari peran produktif dan peran

reproduktif juga megalami perubahan. Peran produktif yang secara tradisional dilakukan oleh laki-laki, sejak dikeluarkannya UU RI No. 7/1984 tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, mulai banyak perempuan yang terjun ke sektor publik menyandang peran produktif. Terjadinya perubahan pada pembagian peran gender dalam keluarga ini mengundang banyak pendapat dari berbagai pihak, akan tetapi jarang sekali diketahui bagaimana pendapat remaja terhadap hal tersebut. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga dan hal-hal apa saja yang berhubungan dengan persepsi remaja tersebut.

Persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga dalam penelitian ini didefinisikan sebagai pandangan remaja yang disalurkan melaului pendapat remaja mengenai pembagian peran laki-laki dan perempuan, yang terdiri dari peran produktif dan reproduktif, dalam keluarga. Pandangan tersebut

dikelompokkan menjadi: tradisional, transisi dari tradisional ke modern, dan modern. Faktor-faktor yang diduga behubungan dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga dipenelitian ini adalah karakteristik remaja (jenis kelamin, suku bangsa, kegiatan luar sekolah, interaksi dengan media massa, hubungan dengan teman dan keluarga), pola asuh gender terhadap remaja, serta karakteristik orangtua remaja (pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, dan penghasilan orangtua).

Remaja dalam penelitian ini adalah remaja yang tergolong siswa Sekolah Menengah Umum (SMU). Siswa SMU dipilih karena mereka telah menempuh pendidikan sekolah yang cukup lama (kurang lebih sembilan tahun), sehingga memungkinkan mereka lebih banyak berinteraksi dengan berbagai pihak dan menerima informasi lebih banyak sesuai dengan perkembangan zaman. Siswa SMU dalam penelitian ini adalah siswa SMU Negeri 5 Kota Bogor (SMUN 5 Bogor). Pemilihan SMUN 5 Bogor sebagai lokasi penelitian dilakukan secara sengaja karena siswa SMUN 5 Kota Bogor terdiri dari remaja perempuan dan laki-laki.

Penelitian ini menggunakan metode survei yang datanya diambil berupa sampel untuk mewakili populasi. Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan penyebaran kuesioner kepada 78

responden, dan wawancara mengenai alasan jawaban kuesioner kepada 10

responden. Data sekunder diperoleh dari berbagai literatur yang berkaitan dengan penelitian dan dokumen dari SMUN 5 Bogor. Setelah data dikumpulkan,

(3)

hipotesis penelitian menggunakan alat uji statistik Chi-square dan korelasi

Spearman dengan taraf nyata 0,05. Analisis kualitatif disajikan berupa kutipan

wawancara atau penjelasan dalam bentuk paragraf.

SMUN 5 Bogor merupakan salah satu SMU favorit di Bogor, selain karena letak yang strategis juga karena prestasi kegiatan-kegiatan sekolah yang luar biasa setiap tahunnya. Mayoritas siswa SMUN 5 Bogor yang menjadi responden menganut agama Islam (92 persen) dan terdiri dari suku Sunda (47 persen), Jawa (40 persen), dan lainnya (13 persen). Responden laki-laki maupun perempuan mempunyai minat yang sama di masa depan untuk berkarir, dekat dengan kegiatan yang positif, media massa, keluarga dan teman-temannya.

Persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga sebagian besar adalah transisi dari tradisional ke modern. Persepsi remaja yang seperti itu, nantinya akan mengukuhkan konsep peran ganda bagi perempuan. Selain peran ganda, persepsi remaja juga mengandung isu gender lainnya seperti stereotipe. Stereotipe tersebut jika tetap dipercaya oleh remaja pada akhirnya tidak saja akan mengukuhkan konsep peran ganda tapi juga bisa menyebabkan

marjinalisasi perempuan, terutama di bidang ekonomi.

Karakteristik remaja yang berhubungan secara signifikan dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga adalah interaksi remaja dengan media massa. Artinya, semakin banyak media massa yang digunakan oleh remaja untuk hiburan atau informasi maka semakin modern persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga, dan semakin sedikit media massa yang digunakan oleh remaja untuk hiburan atau informasi, maka semakin tradisional persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga.

Karakteristik remaja lainnya (jenis kelamin, suku bangsa, kegiatan luar sekolah, hubungan dengan teman dan keluarga) tidak berhubungan secara signifikan dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga. Artinya, tidak ada perbedaan persepsi peran gender antara remaja yang berbeda jenis kelamin dan berbeda suku bangsa, semakin banyak atau semakin tidak banyak kegiatan remaja maka persepsi peran gender remaja bisa semakin modern dan bisa juga semakin tradisional, semakin dekat atau tidak dekat

hubungan remaja dengan keluarga dan teman maka persepsi peran gender remaja bisa semakin modern dan bisa juga semakin tradisional.

Pola asuh gender terhadap remaja tidak berhubungan nyata dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga, karena pola asuh gender yang diterapkan oleh orang tua maupun guru seringkali tidak dituruti oleh remaja jika tidak sesuai dengan keinginan remaja tersebut.

Karakteristik orang tua remaja yang berhubungan secara signifikan dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga adalah

pendidikan ibu. Artinya, semakin tinggi pendidikan ibu maka semakin modern persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga, dan semakin rendah pendidikan ibu, maka semakin tradisional persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga.

Karakteristik orang tua remaja lainnya (pendidikan ayah, pekerjaan ayah dan ibu, serta penghasilan orang tua) tidak berhubungan secara signifikan dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga. Artinya, tidak

(4)

atau status pekerjaan ibunya berbeda, semakin tinggi atau semakin rendah pendidikan ayah dan penghasilan orangtua remaja maka persepsi peran gender remaja bisa semakin modern dan bisa juga semakin tradisional.

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Kegunaan Penelitian ... 6

BAB II TINJUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis ... 7

2.1.1 Gender dan Peran Gender ... 7

2.1.2 Persepsi terhadap Peran Gender... 10

2.1.3 Pembagian Peran dalam Keluarga ... 15

2.1.4 Remaja ... 16

2.2 Kerangka Pemikiran ... 19

2.3 Hipotesis Penelitian ... 22

2.4 Definisis Operasional... 23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ... 27

3.2 Lokasi dan Waktu ... 27

3.3 Teknik Pengumpulan Data... 28

3.4 Teknik Analisis Data... 29

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi... 30

(6)

4.2.1 Sebaran Responden Berdasarkan Suku Bangsa ... 32

4.2.2 Sebaran Responden Berdasarkan Agama ... 33

4.2.3 Sebaran Responden Berdasarkan Cita-Cita ... 33

4.2.4 Sebaran Responden Berdasarkan Kegiatan Luar Sekolah ... 34

4.2.5 Sebaran Responden Berdasarkan Interaksi dengan Media Massa... 35 39 4.2.6 Sebaran Responden Berdasarkan Hubungan dengan Teman.... 36

4.2.7 Sebaran Responden Berdasarkan Hubungan dengan Keluarga... ... 37

BAB V PERSEPSI REMAJA TERHADAP PEMBAGIAN PERAN GENDER DALAM KELUARGA ... 39

BAB VI HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK REMAJA DENGAN PERSEPSI REMAJA TERHADAP PEMBAGIAN PERAN GENDER DALAM KELUARGA 6.1 Hubungan Antara Jenis Kelamin Remaja dengan Persepsi Remaja Terhadap Pembagian Peran Gender Dalam Keluarga... 43

6.2 Hubungan Antara Suku Bangsa Remaja dengan Persepsi Remaja Terhadap Pembagian Peran Gender Dalam Keluarga... 44

6.3 Hubungan Antara Kegiatan Luar Sekolah Remaja dengan Persepsi Remaja Terhadap Pembagian Peran Gender Dalam Keluarga... 45

6.4 Hubungan Antara Interaksi Remaja Dengan Media Massa dengan Persepsi Remaja Terhadap Pembagian Peran Gender Dalam Keluarga... 47

6.5 Hubungan Antara Hubungan Remaja Dengan Teman dengan Persepsi Remaja Terhadap Pembagian Peran Gender Dalam Keluarga... 49

6.6 Hubungan Antara Hubungan Remaja Dengan Keluarga dengan Persepsi Remaja Terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga... 50

BAB VII HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH GENDER DENGAN PERSEPSI REMAJA TERHADAP PEMBAGIAN PERAN GENDER DALAM KELUARGA 7.1 Pola Asuh Gender terhadap Remaja ... 52

7.2 Hubungan Antara Pola Asuh Gender dengan Persepsi Remaja terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga... 53

(7)

BAB VIII HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK ORANG TUA DENGAN PERSEPSI REMAJA TERHADAP PEMBAGIAN PERAN GENDER DALAM KELUARGA

8.1 Hubungan Antara Pendidikan Ayah Remaja dengan Persepsi Remaja terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga... 56 8.2 Hubungan Antara Pendidikan Ibu Remaja dengan Persepsi Remaja

terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga... 57 8.3 Hubungan Antara Pekerjaan Ayah Remaja dengan Persepsi remaja

terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga... 58 8.4 Hubungan Antara Pekerjaan Ibu Remaja dengan Persepsi Remaja

terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga... 59 8.5 Hubungan antara Penghasilan Orangtua Remaja dengan Persepsi

Remaja terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga... 60

BAB IX KESIMPULAN DAN SARAN

9.1 Kesimpulan ... 62 9.2 Saran ... 63

DAFTAR PUSTAKA ... 64 LAMPIRAN ... 66

(8)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Suku Bangsa... 33 2. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Agama ... 33 3. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Cita-cita dan Jenis

Kelamin ... 34 4. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Kegiatan Luar Sekolah

dan Jenis Kelamin ... 35 5. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Interaksi dengan Media

Massa dan Jenis Kelamin ... 35 6. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Jenis Media Massa

Yang Digunakan dan Jenis Kelamin ... 36 7. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Hubungan dengan

Teman dan Jenis Kelamin ... 37 8. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Hubungan dengan

Keluarga dan Jenis Kelamin... 37 9. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Persepsi

terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008... 39 10. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Jenis

Kelamin dan Persepsi terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008... 43 11. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Suku

Bangsa dan Persepsi terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008... 44 12. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Kegiatan

Luar Sekolah dan Persepsi terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008... 46 13. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Interaksi

dengan Media Massa dan Persepsi terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008 ... . 47 14. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Hubungan

dengan Teman dan Persepsi terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008... 50 15. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Hubungan

dengan Keluarga dan Persepsi terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008 ... 51 16. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Pola

(9)

17. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Pola Asuh Gender dan Persepsi terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008... 54 18. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan

Pendidikan Ayah dan Persepsi Remaja terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008 ... 56 19. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan

Pendidikan Ibu dan Persepsi Remaja terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008 ... 57 20. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Pekerjaan

Ayah dan Persepsi Remaja terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008... 58 21. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan Pekerjaan

Ibu dan Persepsi Remaja terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008... 60 22. Jumlah dan Persentase Remaja SMUN 5 Bogor Berdasarkan

Penghasilan Orang Tua per bulan dan Persepsi Remaja terhadap Pembagian Peran Gender dalam Keluarga Tahun 2008 ... 61

(10)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Pertanyaan hubungan dengan teman dan keluarga ... 66 2. Pertanyaan pola asuh gender... 67 3. Pernyataan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam

keluarga ... 68 5. Hasil uji hipotesis karakteristik remaja dengan persepsi remaja

terhadap pembagian peran gender dalam keluarga ... 70 6. Hasil uji hipotesis pola asuh gender dengan persepsi remaja terhadap

pembagian peran gender dalam keluarga... 71 7. Hasil uji hipotesis karakteristik orang tua remaja dengan persepsi

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Santrock (2003) mengartikan remaja sebagai seseorang yang berada pada masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional. Perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional yang terjadi berkisar dari perkembangan fungsi seksual, proses berpikir abstrak sampai pada kemandirian. Masa remaja dimulai kira-kira usia 10 sampai 13 tahun dan berakhir antara usia 18 sampai 22 tahun (Santrock, 2003). Ahli perkembangan menggambarkan remaja sebagai masa remaja awal dan akhir. Masa remaja awal kira-kira sama dengan masa sekolah menengah pertama dan mencakup kebanyakan perubahan pubertas, sedangkan masa remaja akhir menunjuk pada kira-kira setelah usia 15 tahun.

Dialaminya banyak perubahan fisik dan sosial pada masa remaja, laki-laki dan perempuan harus menemui masa-masa dimana terdapat definisi baru mengenai peran gender mereka, yang merupakan suatu set harapan yang menetapkan bagaimana seharusnya perempuan dan laki-laki berpikir, bertingkah laku, dan berperasaan (Balensky & Clements, 1992 dalam Santrock, 2003).

Menurut Meliala (2006), peran gender mencakup peran produktif, reproduktif, sosial dan politik. Peran produktif adalah peran yang dikerjakan untuk memperoleh bayaran atau upah. Peran reproduktif adalah peran yang berhubungan dengan tanggungjawab pengasuhan anak dan tugas-tugas domestik yang dibutuhkan untuk menjamin pemeliharaan dan reproduksi tenaga kerja yang

(13)

menyangkut kelangsungan keluarga. Peran sosial merupakan aktivitas yang dilakukan pada tingkat komunitas sebagai perpanjangan dari peran reproduktif. Peran politik merupakan peran yang dilakukan pada tingkat pengorganisasian komunitas pada tingkat formal secara politik. Peran produktif dan politik secara tradisional diidentikkan sebagai peran laki-laki karena biasanya dilakukan di luar rumah (sektor publik), sedangkan peran reproduktif diidentikkan sebagai peran perempuan yang umumnya dilakukan di dalam rumah (sektor domestik) (Scanzoni, 1981).

Budiman (1981) menyatakan banyak orang percaya bahwa perempuan sudah sewajarnya hidup di lingkungan rumah tangga, melahirkan dan membesarkan anak, memasak dan memberi perhatian kepada suaminya supaya sebuah rumah tangga yang tentram dan sejahtera dapat diciptakan. Laki-laki punya tugas lain, yaitu pergi ke luar rumah untuk mencari makan bagi keluarganya, baik dengan berburu pada jaman dahulu maupun bekerja untuk mendapatkan upah pada zaman sekarang.

UU RI no.7/1984 tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan telah membuka peluang bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan yang setinggi-tingginya, sehingga banyak perempuan Indonesia tidak mau hanya mengabdikan seluruh waktunya untuk rumah dan anak-anak tanpa mengindahkan minat-minat perempuan. Kurun waktu 2005 hingga 2009, peluang perempuan untuk masuk ke sektor publik didukung oleh Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pemberdayaan Perempuan yang salah satu misinya adalah memajukan tingkat keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan publik.

(14)

Secara kuantitatif, jumlah perempuan yang masuk ke sektor publik menyandang peran produktif meningkat. Tahun 2000 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan sebesar 46,77 persen menjadi 48,63 persen tahun 2006 (BPS 2006). Akan tetapi peningkatan partisipasi perempuan di sektor publik ini secara kualitatif tidak mengurangi beban dan rasa tanggungjawab mereka di sektor domestik, terutama perempuan yang telah menikah dan mempunyai anak. Dengan kata lain, tidak memberi beban kepada laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam peran reproduktif. Atas nama tradisi dan kodrat, perempuan dipandang sewajarnya bertanggungjawab dalam arena domestik. Institusi pendidikan, agama, dan media massa mendukung pula pandangan ini. Oleh karena itu, partisipasi perempuan untuk masuk ke sektor publik menyandang peran produktif pada banyak kasus menyebabkan peran ganda bagi perempuan yang menyebabkan beban ganda.

Adanya peran ganda bagi perempuan ini, mengundang banyak pendapat. Pendapat yang tidak setuju mengatakan bahwa peran ganda merupakan salah satu penyebab kegagalan keluarga seperti banyak terjadi di beberapa negara (Megawangi, 1999). Di pihak lain pendapat yang setuju menyatakan bahwa wanita di rumah sebagai tanda adanya diskriminasi, seperti yang sering diungkapkan dalam teori-teori feminisme.

Pendapat yang ada dalam masyarakat mengenai peran gender tercermin dalam sikap orangtua dan orang dewasa yang muncul dalam lingkup rumah tangga. Pendapat mengenai peran gender dalam suatu masyarakat akan membentuk pandangan yang bersifat normatif. Pandangan normatif mengenai bagaimana seharusnya hubungan peran antara seorang laki-laki dan seorang

(15)

perempuan yang dikaitkan dengan kultur budaya disebut sebagai gender role

ideology (William & Best, 1990). Pandangan mengenai peran gender ini

bervariasi dari masa ke masa dan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Sebagai tumpuan harapan bangsa, remaja yang merupakan generasi muda yang akan menentukan masa depan bangsa, patut mendapat perhatian besar. Pandangan atau pemikiran remaja akan mempengaruhi langkahnya di masa yang akan datang, karena pemikiran remaja setelah dewasa akan membentuk sikap dan kepribadian (Munandar, 1991). Pandangan para remaja didapat dari informasi yang mereka terima, informasi tersebut diberi makna oleh mereka sehingga mereka memperoleh pengetahuan baru. Proses memberi makna pada informasi, sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru disebut persepsi (Rakhmat, 1994).

Sejauh ini masih belum banyak diketahui bagaimana persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga serta faktor-faktor apa saja yang dapat membentuk atau mempengaruhi persepsi remaja tersebut. Diketahuinya bagaimana persepsi remaja mengenai pembagian peran gender, maka akan bisa diramalkan apakah peran ganda perempuan yang menyebabkan beban ganda bagi perempuan serta stereotipe peran gender tradisional yang merugikan perempuan dan laki-laki masih akan dilanggengkan atau tidak di masa yang akan datang. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga.

(16)

1.2 Perumusan Masalah

Keluarga, khususnya orang tua adalah tempat sosialisasi utama bagi remaja. Sosialisasi ini dapat berupa pengenalan dan penerapan aturan tentang bagaimana seorang remaja berperilaku. Pengenalan dan penerapan aturan tentang bagaimana seseorang berperilaku sesuai dengan jenis kelamin disebut sebagai pola asuh gender (Santrock, 2003).

Selain keluarga, remaja juga berinteraksi dengan teman dan media massa. Interaksi tersebut membuat remaja mendapatkan suatu informasi atau pengetahuan mengenai peran gender mereka, sehingga dalam penelitian ini akan diteliti beberapa hal yang dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga?

2. Bagaimana hubungan karakteristik remaja dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga?

3. Bagaimana hubungan pola asuh gender dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga?

4. Bagaimana hubungan karakteristik orang tua remaja dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga?

(17)

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengkaji persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam

keluarga.

2. Mengkaji hubungan karakteristik remaja dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga.

3. Mengkaji hubungan pola asuh gender dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga?

4. Mengkaji hubungan karakteristik orang tua remaja dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga?

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna bagi:

1. Peneliti pihak lain, sebagai rujukan atau perbandingan dalam melakukan penelitian serupa.

2. Pembaca umum, sebagai informasi mengenai persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga dan hal-hal yang berhubungan dengan persepsi remaja tersebut.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Gender dan Peran Gender

Menurut Murniati (2004), gender sebagai alat analisis umumnya dipakai oleh penganut aliran ilmu sosial konflik yang justru memusatkan perhatian pada ketidakadilan struktural dan sistem yang disebabkan oleh gender. Gender membedakan manusia laki-laki dan perempuan secara sosial. Gender merupakan interpretasi kultural atas perbedaan jenis kelamin. Gender membagi atribut dan pekerjaan menjadi “maskulin” dan “feminin”. Pada umumnya jenis kelamin laki-laki berhubungan dengan gender maskulin, sementara jenis kelamin perempuan berkaitan dengan gender feminin, akan tetapi hubungan itu bukan merupakan korelasi absolut (Rogers, 1980 dalam Susilastuti, 1993).

Susilastuti (1993), menyatakan bahwa gender tidak bersifat universal. Ia bervariasi dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain dan dari waktu ke waktu. Sekalipun demikian, ada dua elemen gender yang bersifat universal.

1. Gender tidak identik dengan jenis kelamin.

2. Gender merupakan dasar dari pembagian kerja di semua masyarakat (Gailey, 1987 dalam Susilastuti 1993).

Penelitian Williams dan Best (1990) yang mencakup 30 negara menampilkan semacam konsensus tentang atribut laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa sekalipun gender itu tidak universal, akan tetapi “generalitas pan-kultural” itu ada. Pada umumnya laki-laki dipandang

(19)

sebagai lebih kuat dan lebih aktif, serta ditandai oleh kebutuhan besar akan pencapaian, dominasi, otonomi dan agresi. Sebaliknya perempuan dipandang sebagai lebih lemah dan kurang aktif, lebih menaruh perhatian pada afiliasi, keinginan untuk mengasuh dan mengalah.

Menurut Megawangi (1999), pada dasarnya ada dua argumen yang saling bertentangan mengenai pembentukan sifat maskulin dan feminin pada pria dan wanita. Argumen pertama percaya bahwa perbedaan sifat maskulin dan feminin ada hubungannya dengan, bahkan tidak lepas dari, pengaruh perbedaan biologis (seks) pria dan wanita. Perbedaan biologi pria dan wanita adalah alami, begitu pula sifat maskulin dan feminin yang dibentuknya. Oleh karena itu, sifat stereotipe gender sulit untuk diubah. Argumen ini sering disebut mahzab esensial biologis atau orientasi biologis. Argumen kedua percaya bahwa pembentukan sifat maskulin dan feminin bukan disebabkan oleh adanya perbedaan biologis antara pria dan wanita, melainkan sosialisasi atau kulturasi. Penganut mahzab ini tidak mengakui adanya sifat alami maskulin dan feminin (nature), tetapi yang ada adalah sifat maskulin dan feminin yang dikonstruksi oleh sosial budaya melalui proses sosialisasi (nurture). Argumen ini membedakan antara jenis kelamin (seks) yang merupakan konsep nature, dan gender yang merupakan konsep nurture. Pemikiran ini disebut mahzab orientasi kultur.

Perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan pada proses berikutnya melahirkan peran gender (Fakih, 2006). Santrock (2003) mengartikan peran gender sebagai suatu set harapan yang menetapkan bagaimana seharusnya perempuan dan laki-laki berpikir, bertingkah laku, dan berperasaan. Mugniesyah (2002) dalam Meliala (2006) menjelaskan bahwa peran gender merupakan suatu

(20)

perilaku yang diajarkan pada setiap masyarakat, komunitas dan kelompok sosial tertentu yang menjadikan aktivitas-aktivitas, tugas-tugas dan tanggung jawab tertentu dideskripsikan sebagai peran perempuan dan laki-laki. Peran gender dipengaruhi oleh umur, kelas, ras, etnik, agama dan lingkungan geografi, ekonomi dan politik. Perubahan peran gender sering terjadi sebagai respon terhadap perubahan situasi ekonomi, sumberdaya alam, dan atau politik termasuk perubahan berupa usaha-usaha pembangunan atau penyesuaian program struktural atau oleh kekuatan-kekuatan di tingkat nasional dan global.

Peran gender menurut Meliala (2006) adalah peran yang dilakukan perempuan dan laki-laki sesuai status, lingkungan, budaya dan struktur masyarakatnya. Peran gender tersebut mencakup:

1. peran produktif (Peranan yang dikerjakan untuk memperoleh bayaran atau upah).

2. peran reproduktif (Peranan yang berhubungan dengan tanggung jawab pengasuhan anak dan tugas-tugas domestik yang dibutuhkan untuk menjamin pemeliharaan dan reproduksi tenaga kerja yang menyangkut kelangsungan keluarga).

3. peran pengelolaan masyarakat (Aktivitas yang dilakukan pada tingkat komunitas sebagai kepanjangan peranan reproduktif).

4. peran pengelolaan politik (Peranan yang dilakukan pada tingkat pengorganisasian komunitas pada tingkat formal secara politik).

(21)

2.1.2 Persepsi terhadap Peran Gender

Persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami (Sarwono, 2002). Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan, pendengaran, peraba dan sebagainya) dan alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi. Dalam ilmu komunikasi, persepsi didefinisikan sebagai proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita (Severin & Tankard 2005). Menurut Rakhmat (1994), persepsi merupakan proses memberi makna pada sensasi (hal yang ditangkap oleh alat indera) sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru. Selain itu Ia juga menyebutkan persepsi sebagai pengalaman mengenai obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Persepsi menurut Rakhmat (1994) ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Krech dan Curtchfield (1977) dalam Rakhmat (1994) menyebutnya faktor fungsional dan faktor struktural. Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu, kesiapan mental, suasana emosional, latar belakang budaya dan hal-hal lain yang termasuk faktor-faktor personal seperti karakteristik individu (usia, suku bangsa, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, kepribadian), kebutuhan interpersonal, tindak komunikasi, dan peranan individu.

Faktor-faktor struktural yang menentukan persepsi berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu. Beberapa dalil dari Krech dan Curtchfield (1977) dalam Rakhmat (1994) berkaitan dengan faktor-faktor struktural yang menentukan persepsi adalah:

(22)

1. medan perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Masa remaja adalah masa perkembangan di mana individu mulai meningkatkan fokus perhatian pada pilihan pekerjaan dan gaya hidup. Adanya karakteristik abstrak, idealis, dan logis dari pemikiran formal operasional, remaja memiliki kapasitas kognitif untuk menganalisa diri mereka dan memutuskan identitas gender apa yang mereka inginkan.

2. sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Misalnya dalam suatu masyarakat laki-laki dipandang sebagai lebih kuat dan lebih aktif, serta ditandai oleh kebutuhan besar akan pencapaian, dominasi, otonomi dan agresi maka laki-laki lebih cocok untuk melakukan kerja keras mencari uang di luar rumah. Sebaliknya perempuan dipandang sebagai lebih lemah dan kurang aktif, lebih menaruh perhatian pada afiliasi, keinginan untuk mengasuh dan mengalah maka perempuan dianggap lebih cocok untuk di rumah.

3. objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Misalnya perempuan melahirkan dan menyusui maka perempuan dianggap lebih pantas merawat dan mengasuh anak dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh anak dianggap kesalahan ibu. Pandangan laki-laki lebih cocok untuk melakukan peran produktif dan perempuan lebih cocok untuk mengerjakan peran reproduktif secara tradisional sudah ditanamkan dalam benak individu tentang kekhasan perilaku seorang perempuan (feminin) dan kekhasan perilaku seorang laki-laki (maskulin), yang

(23)

oleh Hurlock (1992) disebut dengan peran gender dan yang akhirnya akan membentuk suatu pendapat yang dapat menjadi suatu norma dalam masyarakat.

Pendapat yang ada dalam masyarakat mengenai peran gender tercermin dalam sikap orang tua dan orang dewasa yang muncul dalam lingkup keluarga. Pendapat mengenai peran gender yang menjadi norma dalam suatu masyarakat akan membentuk pandangan yang bersifat normatif. Pandangan normatif mengenai bagaimana seharusnya hubungan peran antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang dikaitkan dengan kultur budaya disebut sebagai gender

role ideology (William & Best, 1990). Scanzoni (1981) membedakan pandangan

peran gender menjadi dua bagian. 1. Peran gender tradisional

Pandangan ini membagi tugas secara tegas berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki yang mempunyai pandangan peran gender tradisional, tidak ingin perempuan menyamakan kepentingan dan minat diri sendiri dengan kepentingan keluarga secara keseluruhan, sedangkan isteri diharapkan mengakui kepentingan dan minat suami adalah untuk kepentingan bersama. Kekuasaan kepemimpinan dalam keluarga berada ditangan suami. Perempuan secara tradisional tinggal di rumah, setelah menikah perempuan mencurahkan tenaga untuk suami dan keluarga.

2. Peran gender modern

Peran gender modern tidak lagi membedakan pembagian tugas yang berdasarkan jenis kelamin secara tegas, kedua jenis kelamin diperlakukan sejajar atau sederajat. Laki-laki mengakui minat dan kepentingan perempuan sama pentingnya dengan minat laki-laki, menghargai kepentingan pasangannya dalam

(24)

setiap masalah rumah tangga dan memutuskan masalah yang dihadapi secara bersama-sama. Perempuan yang berpandangan modern, berusaha memusatkan perhatiannya untuk mencapai minatnya sendiri yang tidak lebih rendah dari minat suami.

Pandangan mengenai peran gender bervariasi sepanjang suatu kontinum, dimulai dari pandangan tradisional sampai dengan pandangan modern yang menolak norma-norma yang berlaku secara tradisional dan menerima prinsip-prinsip egalitarian atau kesetaraan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pandangan peran gender menurut Hurlock (1992) adalah:

1) orang tua melalui tindakan mempengaruhi perkembangan gender anak-anak dan remaja mereka. Tindakan orang tua dalam memperlakukan anaknya sesuai dengan jenis kelamin disebut pola asuh gender (Santrock, 2003). Pola asuh gender yang umum dilakukan orang tua adalah pemberian warna merah muda pada anak perempuan dan pemberian warna biru pada anak laki-laki, selain itu pemberian mainan boneka sebagai lambang pengasuh pada anak perempuan dan perang-perangan sebagai lambang pelindung bagi anak laki-laki. Selama masa transisi menuju masa remaja, orang tua memberikan perlakuan anak laki-laki lebih bebas daripada anak perempuannya. Salah satu perubahan penting dalam model peran gender bagi remaja yang telah muncul beberapa tahun belakangan ini adalah peningkatan jumlah ibu yang bekerja, yang mana akan mempengaruhi perkembangan gender remaja, terutama mengurangi stereotipe mereka tentang peran gender tradisional (Hurlock, 1992).

(25)

2) guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar lebih memberikan penguatan positif pada anak perempuan dibanding dengan anak laki-laki dalam memberi instruksi dan aktivitas bermain.

3) teman sebaya merupakan faktor yang penting dalam pembentukan tingkah laku yang sesuai dengan jenis kelamin. Ketika anak perempuan dan anak laki-laki mulai bermain dan membentuk persahabatan dengan teman sebaya dari jenis kelamin yang sama, dimulailah pelajaran tentang jenis kelamin dan tingkah laku tertentu yang berlaku dan diharapkan oleh kelompoknya. Kegagalan bertingkah laku yang sesuai dengan harapan kelompok, sering mengakibatkan ditolaknya anak dari kelompok sebayanya. Kekhawatiran terhadap penolakan ini mendorong anak untuk berusaha menampilkan tingkah laku yang berlaku dalam kelompoknya. 4) media massa, seperti buku cerita anak-anak maupun buku pelajaran,

umumnya menggambarkan perempuan dalam peran yang kurang penting ataupun peran feminin yang tradisional, misalnya memasak, berbelanja, membersihkan rumah. Televisi juga cenderung menampilkan acara-acara yang menggambarkan laki-laki sebagai seorang jagoan yang pandai, agresif, rasional dan selalu menjadi pemimpin. Sementara perempuan digambarkan sebagai pihak yang pasif, mudah menangis, kurang mampu mengatur keuangan dan senang bergosip. Pesan dari televisi yang berkaitan dengan masalah jenis kelamin ini meningkatkan dukungan para remaja terhadap pembagian pekerjaan berdasarkan peran gender tradisional.

(26)

2.1.3 Pembagian Peran Dalam Keluarga

Struktur dalam keluarga dianggap dapat menjadikan institusi keluarga sebagai sistem kesatuan. Tiga elemen utama dalam struktur internal keluarga mengacu pada:

1. status sosial keluarga yang biasanya terdiri dari tiga struktur utama yaitu, bapak, ibu, dan anak. Struktur ini dapat pula berupa figur-figur seperti “pencari nafkah”, ibu rumah tangga, anak balita, anak sekolah, remaja dan lain-lain. Seperti halnya dalam setiap struktur sosial dalam masyarakat, diferensiasi sosial akan selalu ada dimana tiap komponen mempunyai status masing-masing.

2. fungsi atau peran sosial, menggambarkan peran dari masing-masing individu atau kelompok menurut status sosialnya dalam sebuah sistem sosial. Peran sosial juga dapat diartikan sebagai seperangkat tingkah laku yang diharapkan dapat memotivasi tingkah laku seseorang yang menduduki status sosial tertentu. Parsons dan Bales (1956) dalam Megawangi (1999) membagi dua peran orang tua dalam keluarga, yaitu peran instrumental yang diharapkan dilakukan oleh suami atau bapak, dan peran emosional atau ekspresif yang biasanya dipegang oleh figur istri atau ibu. Peran instrumental dikaitkan dengan peran mencari nafkah untuk kelangsungan hidup seluruh anggota keluarga, sedangkan peran emosional ekspresif adalah peran pemberi cinta, kelembutan dan kasih sayang.

3. norma sosial, seperangkat peraturan yang menggambarkan bagaimana sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam kehidupan sosialnya. Norma sosial berasal dari dalam masyarakat yang merupakan bagian dari

(27)

kebudayaan. Setiap keluarga mempunyai norma yang spesifik untuk keluarga tersebut. Misalnya norma sosial dalam hal pembagian tugas (kegiatan rumah tangga) yang mengatur tingkah laku setiap anggota dalam keluarganya.

Menurut Pogrebin (1983) dalam Supriyantini (2002), kegiatan rumah tangga adalah kegiatan yang mencakup segala aktivitas sehari-hari yang bertujuan mengatur kelancaran kehidupan dalam rumah tangga, seperti mengasuh dan mendidik anak, menyiapkan makanan untuk kesejahteraan seluruh keluarga, merawat rumah dan segala isinya, serta tidak melupakan kegiatan rekreasi sebagai faktor penyeimbang kehidupan keluarga. Landis dan Landis (1970) dalam Supriyantini (2002) menyatakan bahwa kegiatan rumah tangga adalah tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh kedua pasangan suami-isteri, yang menyangkut pada pengelolaan keuangan keluarga, hubungan dengan keluarga asal masing-masing pasangan, pengaturan makanan, perawatan diri dan mengurus pakaian.

2.1.4 Remaja

Santrock (2003) mengartikan remaja sebagai seseorang yang berada pada masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Proses biologis, kognitif, dan sosial saling terjalin secara erat. Proses sosial membentuk proses kognitif, proses kognitif mengembangkan atau menghambat proses sosial, dan proses biologis mempengaruhi proses kognitif. Jika dikaitkan dengan persepsi remaja terhadap peran gender, remaja belajar (proses kognitif) dari orang-orang sekitarnya (proses

(28)

sosial) bagaimana seorang laki-laki dan seorang perempuan (proses biologis) berperilaku.

Masa remaja dimulai kira-kira pada usia 10 sampai 13 tahun dan berakhir antara usia 18 sampai 22 tahun (Santrock, 2003). Ahli perkembangan menggambarkan remaja sebagai masa remaja awal dan akhir. Masa remaja awal kira-kira sama dengan masa sekolah menengah pertama dan mencakup kebanyakan perubahan pubertas. Masa remaja akhir menunjuk pada kira-kira setelah usia 15 tahun. Minat pada karir, pacaran, dan eksplorasi identitas seringkali lebih nyata dalam masa remaja akhir ketimbang masa remaja awal.

Menurut Soekanto (1991) dalam Herawaty (2000) ciri-ciri remaja adalah seseorang yang mengalami perkembangan fisik yang pesat, mempunyai keinginan yang kuat untuk mengadakan interaksi sosial dengan kalangan lebih dewasa atau lebih matang kepribadinnya, mempunyai keinginan kuat untuk mendapatkan kepercayaan dari kalangan dewasa walaupun tanggungjawab masih belum matang, mulai memikirkan kehidupan secara mandiri, mengalami perkembangan intelektualitas untuk mendapatkan identitas diri, dan menginginkan sistem kaidah dan nilai yang serasi dengan kebutuhan atau keinginan yang tidak selalu sama dengan orang dewasa.

Perubahan fisik dan sosial yang dialami selama masa remaja menimbulkan masa-masa dimana terdapat definisi baru mengenai peran gender antara perempuan dan laki-laki (Belansky & Clements, 1992 dalam Santrock 2003). Selain itu, banyaknya perubahan fisik dan sosial yang dialami seseorang pada masa remaja membuat masa remaja seringkali disebut sebagai masa peralihan atau masa puber. Beberapa teori dan penelitian menyatakan bahwa akibat dari masa

(29)

pubertas, anak perempuan dan laki-laki mengalami intensifikasi pada harapan-harapan yang berhubungan dengan gender. Hipotesis intensifikasi gender menyatakan bahwa perbedaan psikologis dan tingkah laku antara anak laki-laki dan perempuan menjadi lebih jelas selama masa remaja awal dikarenakan adanya peningkatan tekanan-tekanan sosialisasi masyarakat untuk menyesuaikan diri pada peran gender maskulin dan feminin yang tradisional (Hill & Lynch, 1983

dalam Santrock, 2003).

Menurut Soekanto (1990) dalam suatu tinjauan sosiologis, anak dan remaja merupakan salah satu pihak yang berinteraksi dengan pihak-pihak lain. Pihak-pihak tersebut saling mempengaruhi, sehingga terbentuklah kepribadian-kepribadian tertentu. Proses saling mempengaruhi melibatkan unsur-unsur yang baik dan benar, serta unsur-unsur lain yang dianggap salah dan buruk. Unsur-unsur yang lebih berpengaruh biasanya tergantung dari mentalitas pihak yang menerima, artinya sampai sejauh manakah pihak penerima mampu menyaring unsur-unsur luar yang diterimanya melalui proses pengaruh-mempengaruhi.

Proses interaksi yang melibatkan anak dan remaja terjadi melalui proses kegiatan sosialisasi yang bertujuan agar pihak yang dididik atau diajak, mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dan dianut oleh masyarakat. Tujuan akhir adanya sosialisasi tersebut adalah agar manusia bersikap tindak sesuai dengan kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku serta agar yang bersangkutan menghargainya. Proses sosialisasi, khususnya yang tertuju pada anak dan remaja, melibatkan berbagai pihak yang mungkin berperan dan disebut sebagai lingkungan-lingkungan sosial tertentu dan pribadi-pribadi tertentu. Lingkungan-lingkungan atau pihak-pihak tersebut menurut Soekanto (1990) adalah orang tua,

(30)

saudara-saudara dan kerabat dekat, kelompok sepermainan, dan kelompok pendidik (sekolah).

Tinjauan sosiologis lebih memusatkan perhatian pada lingkungan ini, tanpa mengabaikan peranan pribadi-pribadi yang tidak mustahil mempunyai pengaruh yang lebih besar seperti misalnya, lingkungan tetangga, lingkungan bekerja, lingkungan organisasi, lingkungan masyarakat, dan bagian-bagiannya, maupun negara sebagai lingkungan sosial-ekonomi-politik.

Senada dengan Soekanto, Munandar (1991) menyatakan bahwa sistem nilai, sikap, dan kebiasaan yang dibawa remaja mengalami pengolahan dalam kelompok. Sebagai hasilnya, terbentuk sistem nilai, sikap, dan kebiasaan baru yang kemudian diujicobakan dalam lingkungan. Lingkungan sosial yang mempengaruhi remaja adalah orang tua, guru, rekan, dan peristiwa-peristiwa dalam masyarakat. Melalui berbagai macam media massa remaja berkenalan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat, sehingga akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya.

2.2 Kerangka Pemikiran

Mengacu pada tinjauan teoritis, remaja merupakan salah satu pihak yang berinteraksi dalam keluarga. Selain berinteraksi dengan anggota keluarga, remaja juga berinteraksi dengan dunia luar seperti teman, guru, bahkan media massa. Dalam proses interaksi tersebut terjadi proses sosialisasi. Tempat sosialisasi utama seseorang, termasuk remaja, adalah keluarga. Umumnya sebuah keluarga terdiri dari status sebagai bapak, ibu, dan anak. Masing-masing status memiliki peran

(31)

yang diatur oleh norma yang spesifik untuk keluarga tersebut, misalnya norma sosial dalam hal pembagian tugas dalam rumah tangga.

Peran yang terdapat dalam keluarga selama ini cenderung memisahkan antara peran perempuan dan peran laki-laki. Hal ini diakibatkan oleh interpretasi kultural atas perbedaan gender dan jenis kelamin. Gender membagi atribut dan pekerjaan menjadi “maskulin” dan “feminin”. Pada umumnya jenis kelamin laki-laki berhubungan dengan gender maskulin, sementara jenis kelamin perempuan berkaitan dengan gender feminin. Perbedaan ini pulalah yang menjadi dasar adanya pembagian peran gender dalam keluarga yang dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi peran produktif dan peran reproduktif. Peran produktif dalam penelitian ini dibatasi dalam arti peran seseorang sebagai pencari nafkah keluarga dalam bentuk uang, sedangkan peran reproduktif sebagai peran penjaga keseimbangan keluarga agar setiap anggota keluarga terurus dan terpenuhi kebutuhannya.

Pembagian peran gender dalam keluarga tidak lepas dari pandangan mengenai siapa yang seharusnya, sebaiknya, pantas atau tidak pantas melakukan peran-peran tersebut. Pandangan peran gender dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi pandangan modern, tradisional dan transisi dari modern ke tradisional. Pandangan mengenai peran gender dalam keluarga yang disalurkan melalui pendapat dalam penelitian ini disebut persepsi terhadap pembagian peran gender dalam keluarga.

Persepsi tradisional terhadap pembagian peran gender dalam keluarga adalah pandangan terhadap pembagian peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga, dimana terdapat pembagian tugas secara tegas berdasarkan jenis

(32)

kelamin. Persepsi transisi dari tradisional ke modern terhadap pembagian peran gender dalam keluarga adalah pandangan terhadap pembagian peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga, dimana sudah tidak ada pembagian tugas secara kaku berdasarkan jenis kelamin. Persepsi modern terhadap pembagian peran gender dalam keluarga adalah pandangan terhadap pembagian peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga, dimana tidak ada lagi pembagian tugas yang berdasarkan jenis kelamin secara kaku, kedua jenis kelamin diperlakukan sejajar atau sederajat.

Remaja yang merupakan bagian dalam keluarga dan nantinya akan membentuk suatu keluarga, persepsinya terhadap pembagian peran gender dalam keluarga akan mempengaruhi perilakunya saat ini dan di masa yang akan datang. Pengetahuan tentang bagaimana persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga akan memberi gambaran tentang bagaimana pembagian peran gender dalam keluarga di masa yang akan datang, sehingga bisa memberikan jawaban sementara mengenai apakah akan terjadi ketimpangan atau kesetaraan peran antara perempuan dan laki-laki di masa yang akan datang.

Rangkaian lima paragraf di atas menjadi dasar dalam pembentukan kerangka pemikiran penelitian (Gambar 1), dimana persepsi remaja mengenai pembagian peran gender dalam keluarga diduga berhubungan dengan beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain karakteristik remaja, pola asuh gender, dan karakterakteristik orang tua remaja.

(33)

Keterangan:

: Berhubungan.

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran

2.3 Hipotesis Penelitian

Agar pelaksanaan penelitian lebih terarah, sehingga dapat menjawab pertanyaan penelitian dan mencapai tujuan penelitian maka dirumuskan hipotesis penelitian.

1. Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik remaja berupa jenis kelamin, suku bangsa, kegiatan luar sekolah, interaksi dengan media massa, hubungan dengan teman, dan hubungan dengan keluarga dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga.

Persepsi remaja terhadap pembagian peran gender

dalam keluarga Karakteristik remaja:

-Jenis kelamin -Suku bangsa

-Kegiatan luar sekolah

-Interaksi dengan Media Massa -Hubungan dengan teman -Hubungan dengan keluarga

Karakteristik Orang Tua:

-Pendidikan ayah -Pendidikan ibu -Pekerjaan ayah -Pekerjaan ibu

-Penghasilan orang tua

(34)

2. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gender dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga.

3. Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik orang tua remaja berupa pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, dan penghasilan orang tua dengan persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga.

2.4 Definisi Operasional

Batasan istilah untuk variabel-variabel dalam hipotesis atau kerangka pemikiran penelitian didefinisikan sebagai berikut:

1. jenis kelamin yaitu pengkategorian menurut jenis seks responden yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin merupakan data nominal, dimana masing-masing jenis kelamin diberi kode sebagai berikut: 1= laki-laki; 2= perempuan.

2. suku bangsa yaitu nama etnis responden. Suku bangsa merupakan data nominal yang pengkodeannya didasarkan pada etnis terbanyak responden, hingga penggabungan beberapa etnis responden yang sedikit sebagai berikut: 1= sunda; 2= jawa; 3= lainnya.

3. kegiatan luar sekolah yaitu keikutsertaan responden dalam suatu kegiatan/organisasi diluar kegiatan/jadwal belajar sekolah. Kegiatan luar sekolah diukur dari jumlah kegiatan yang diikuti responden yang dibagi

menjadi dua kategori, yaitu: tidak banyak (≤ 4 kegiatan);

(35)

4. interaksi dengan media massa yaitu media massa yang sering digunakan responden untuk hiburan dan atau informasi, baik media cetak seperti koran, tabloid, majalah, maupun media elektronik seperti televisi, radio, dan internet. Interaksi responden dengan media massa dikategorikan menjadi: rendah (≤ 2 media massa); sedang (3 sampai 4 media massa);

tinggi (≥ 5 media massa).

5. hubungan dengan teman yaitu kedekatan hubungan responden dengan teman-teman yang dimiliki oleh responden, dapat berasal dari luar sekolah maupun dalam lingkungan sekolah. Hubungan dengan teman diukur dari satu pertanyaan (Lampiran 1, no.1) yang kemudian jawaban diberi skor

dan dikategorikan menjadi: biasa saja (skor 1 sampai 2);

dekat (skor 3 sampai 4).

6. hubungan dengan keluarga yaitu kedekatan hubungan reponden dengan keluarga inti mereka. Hubungan responden dengan keluarga diukur dari tiga pertanyaan (Lampiran 1, no.2 sampai 4) yang kemudian jumlah skor dari setiap pertanyaan dibagi berdasarkan jumlah pertanyaan yang diisi oleh responden, sehingga didapat rata-rata nilai yang kemudian

dikategorikan menjadi hubungan yang: biasa saja (skor ≤ 2);

dekat (skor > 2)

7. pola asuh gender yaitu segala interaksi antara orang tua dengan responden sejak kecil yang dibedakan sesuai jenis kelamin responden yang mencerminkan segala aturan, nilai, stereotipe orang tua terhadap gender, termasuk pengenalan norma maskulin dan feminin. Pola asuh gender diukur dari sembilan pertanyaan (Lampiran 2), skor terendah untuk

(36)

seluruh pertanyaan adalah sembilan dan skor tertinggi adalah 18. Semakin tinggi skor pola asuh gender responden, maka semakin kuat aturan, nilai, stereotipe orang tua terhadap gender, termasuk pengenalan norma maskulin dan feminin terhadap responden. Pembagian skor terdiri dari:

rendah (skor 9 sampai 12); sedang (skor 13 sampai 15); tinggi (skor 16 sampai 18).

8. pendidikan ayah yaitu jenjang pendidikan formal terakhir yang dijalani oleh ayah responden. Pendidikan ayah merupakan data ordinal yang terdiri dari: 1= SD; 2= SMU/sederajat; 3= Perguruan tinggi (PT).

9. pendidikan ibu yaitu jenjang pendidikan formal terakhir yang dijalani oleh ibu responden. Pendidikan ibu merupakan data ordinal yang terdiri dari:

1= SD; 2= SMP/sederajat; 3= SMU/sederajat; 4= PT.

10. pekerjaan ayah yaitu status pekerjaan yang dijalankan oleh ayah responden. Pekerjaan ayah responden merupakan data nominal yang pengkodeannya didasarkan atas status-status pekerjaan ayah responden, dikelompokkan menjadi: 1= wiraswasta; 2= Pegawai Negeri Sipil (PNS);

3= pegawai swasta.

11. pekerjaan ibu yaitu status pekerjaan yang dijalankan oleh ibu responden. Pekerjaan ibu responden merupakan data nominal yang pengkodeannya didasarkan atas status-status pekerjaan ibu responden, dikelompokkan menjadi: 1= ibu rumah tangga; 2= Wiraswasta; 3= PNS; 4= pegawai swasta.

(37)

12. penghasilan orang tua yaitu jumlah uang dalam rupiah yang dihasilkan orang tua responden setiap bulan. Penghasilan orang tua diukur berdasarkan penggabungan penghasilan ayah dan ibu responden setiap bulan, yang dikelompokkan menjadi: 1= < Rp 1.000.000; 2= Rp 1.000.000

sampai Rp 5.000.000; 3= Rp 5.000.001 sampai Rp 10.000.000;

4= > Rp 10.000.000,-

13. persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga yaitu pandangan remaja terhadap pembagian peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga, dibagi ke dalam pandangan tradisional, transisi dari tradisional ke modern, dan modern yang disalurkan melalui pendapat. Pendapat responden dilihat dari jawaban responden atas 20 pernyataan (Lampiran 3), skor tertinggi untuk setiap pernyataan adalah tiga dan skor terendah adalah satu. Jumlah skor pernyataan akan mencerminkan persepsi responden. Semakin tinggi skor pernyataan responden, semakin tradisional persepsi responden terhadap pembagian peran gender dalam kelurga, dan Semakin rendah skor pernyataan responden, semakin modern persepsi responden terhadap pembagian peran gender dalam kelurga. Pembagian skor persepsi remaja terhadap pembagian peran gender dalam keluarga

yaitu: modern (skor 20 sampai 33); transisi (skor 34 sampai 46);

(38)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survai dengan pendekatan kuantitatif dan didukung dengan data-data kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk melihat hubungan antarvariabel. Sedangkan data kualitatif digunakan untuk menggali lebih dalam pertanyaan penelitian yang tidak tergali melalui pendekatan kuantitatif. Dengan berbagai informasi kualitatif, gambaran tentang fenomena sosial yang disajikan dalam tabel menjadi semakin jelas dan semakin hidup, dan nuansa-nuansa fenomena sosial dapat ditampilkan (Singarimbun & Effendi, 1995).

Survai dalam penelitian ini dibatasi pada penelitian yang datanya dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh populasi. Metode ini dipilih oleh peneliti dengan alasan untuk efektivitas dan efisiensi waktu serta biaya penelitian.

3.2 Lokasi dan Waktu

Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 5 Kota Bogor. Lokasi ini dipilih secara sengaja karena siswa SMUN 5 Kota Bogor terdiri dari remaja perempuan dan laki-laki. Penelitian lapangan dilaksanakan selama empat minggu, yaitu pada minggu ketiga bulan Juni hingga minggu kedua bulan Juli tahun 2008.

(39)

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini mencakup data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui jawaban kuesioner penelitian yang disebar kepada siswa SMUN 5 Bogor yang dijadikan sampel, serta jawaban wawancara yang dilakukan dengan responden terpilih. Data sekunder dikumpulkan dari berbagai literatur penunjang seperti buku, artikel, jurnal, dan tulisan ilmiah lainnya yang berkaitan dengan topik penelitian, serta dokumen-dokumen dari Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 5 Bogor yang diperlukan untuk gambaran umum lokasi penelitian.

Populasi sampel dalam penelitian ini adalah remaja yang tergolong siswa Sekolah Menengah Umum (SMU). Siswa SMU dipilih karena mereka telah menempuh pendidikan sekolah yang cukup lama (kurang lebih sembilan tahun), sehingga terbuka dengan dunia luar keluarga. Terbukanya remaja dengan dunia luar keluarga memungkinkan mereka lebih banyak berinteraksi dengan berbagai fihak dan menerima informasi lebih banyak sesuai dengan perkembangan zaman. Siswa SMU yang dipilih adalah siswa kelas XII, karena siswa kelas XII biasanya telah mencapai umur 17-18 tahun yang termasuk golongan usia remaja lanjut (Soekanto,1991 dalam Herawaty, 2000) dan dianggap telah cukup dewasa dalam memberikan pandangan dan pemikiran. Jumlah total sampel dihitung berdasarkan rumus slovin, yaitu:

n = N 1+N(e)2

Keterangan : n : ukuran sampel, N : ukuran populasi (361 siswa). e : persen kelonggaran (dalam penelitian ini diambil 10% kelonggaran)

(40)

Maka, total sampel adalah:

n = 361 = 361 = 78,3 ≈ 78 orang 1+361(0,1)2 1 + 3,61

3.4 Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh, kemudian dianalisis secara kuantitatif dan ditambahkan dengan data-data kualitatif. Analisis data kuantitatif dilakukan melalui tabulasi silang dan uji hipotesis menggunakan uji statistik Chi-Square dan uji korelasi Spearman. Uji statistik Chi-Square digunakan untuk melihat hubungan antar variabel dengan data minimal nominal. Uji korelasi Spearman digunakan untuk melihat hubungan antar variabel dengan data minimal ordinal.

Uji hipotesis dilakukan menggunakan bantuan program SPSS for windows

versi 15 pada taraf nyata (α) = 5 persen (0,05). Apabila P value ≤ 0,05 maka

hipotesis penelitian diterima, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara dua variabel yang diuji. Data primer hasil wawancara (data kualitatif) disajikan berupa kutipan langsung atau penjelasan dalam bentuk paragraf.

(41)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi

Lokasi SMUN 5 Bogor terletak di Jalan Manunggal No. 22, Kelurahan Menteng, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat. SMUN 5 Bogor didirikan pada tahun 1980. Pada awalnya SMUN 5 Bogor belum memiliki bangunan sekolah yang tetap untuk proses belajar mengajar, sehingga harus menumpang di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 6 Kota Bogor yang sekarang berubah nama menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri (SLTPN) 6 Kota Bogor di daerah Gang Kelor, Cilendek, Kota Bogor. Mulai tahun ajaran 1989/1990 hingga saat ini SMUN 5 Bogor menempati gedung sekolah di Jalan Manunggal sebagai lokasi bangunan sekolah yang tetap.

Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SMUN 5 Bogor adalah tanah seluas 3920 meter persegi yang terdiri dari: 17 ruang kelas, satu ruang Kepala Sekolah, satu ruang TU (Tata Usaha), satu ruang guru, satu ruang perpustakaan, satu ruang BK (Bimbingan Konseling), satu ruang dapur, satu lab. Komputer, satu ruang laboratorium IPA, satu buah masjid (Al-Fath), satu ruang OSIS (Organisasi Siswa Intern Sekolah), satu ruang koperasi, satu ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), dua gudang, satu ruang pramuka, satu ruang PMR (Palang Merah Remaja), satu kantin sekolah, dua ruang komputer, enam ruang WC siswa, tiga ruang WC guru, satu lapangan olah raga, dan satu lapangan upacara.

(42)

Tenaga pengajar (guru) SMUN 5 Bogor terdiri dari lima orang guru tetap berijazah S.2, 51 orang guru tetap berijazah S.1, dan dua orang guru tidak tetap berijazah D.3. Pada tahun 2007, SMUN 5 Bogor menjadi sekolah negeri peringkat III sebagai Passing Grade tertinggi se-Kota Bogor. Visi SMUN 5 Bogor adalah terdepan dalam peningkatan mutu pendidikan di Kota Bogor, dan Misi SMUN 5 Bogor adalah sebagai berikut:

1. meningkatkan kreatifitas. 2. meningkatkan Imtaq dan Iptek.

3. memelihara dan melestarikan budaya santun. 4. membimbing menuju sukses.

SMUN 5 Bogor melaksanakan kurikulum nasional yang diperkaya sesuai dengan bakat dan minat siswa. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dilaksanakan dengan dua shift waktu belajar. Kelas XII dan kelas XI (A-E) melaksanakan KBM pada shift pagi, kelas XI (F-I) dan kelas X melaksanakan KBM pada shift siang. Untuk lebih mengembangkan potensi siswa, SMUN 5 Bogor dilengkapi dengan kegiatan ekstrakurikuler yang dibagi menjadi bidang kerohanian, bidang bela negara, bidang keterampilan dan kewirausahaan, serta bidang olah raga dan seni. Beberapa prestasi yang diraih SMUN 5 Bogor tahun 2006-2007, adalah sebagai berikut:

1. Juara Umum Olimpiade Seni Pelajar se-Bogor tahun 2006. 2. The Best Artistic Theater se-wilayah II Bogor tahun 2006.

3. Formasi Terbaik LKBB Cross Line Competition se-Bogor tahun 2006. 4. Komandan Terbaik Gebyar Formasi se-Bogor tahun 2006.

(43)

6. Juara I perawatan keluarga Tingkat WIRA se-Bogor tahun 2006. 7. Juara I Vocal Group Olimpiade Seni Pelajar se-Bogor tahun 2006. 8. Juara I Tunggal Putra SMANSA CUP II se-SMA wilayah II tahun 2006. 9. Juara I Lomba Bola Basket Putra Tingkat SMA se-Bogor tahun 2006. 10. Juara I Ganda Putra tingkat SMA Kejuaraan SMANSA Badminton Cup II

2006 se-wilayah Bogor.

11. Juara I Taekwondo Kelas Light Putri Tingkat SMA se-Bogor tahun 2006. 12. 1st Winner Static Season 4 Story Telling “EASY” Tingkat SMA se-Bogor

tahun 2007.

13. Juara I Lomba Basketball 3 on 3 Sukan Beraya se-Bogor tahun 2007 14. Juara I Lomba kata Perorangan Kadet Putri se-wilayah I Bogor tahun 2007 15. Juara I Kumite Perorangan kelas 60kg Kadet Putri Tingkat Nasional tahun

2007.

16. Juara I Liga Bola Basket Pelajar Kota Bogor Tingkat SMA se-Bogor tahun 2007.

4.2 Gambaran Umum Responden

4.2.1 Sebaran Responden Berdasarkan Suku Bangsa

Sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah bersuku bangsa Sunda dan Jawa. Responden digolongkan menjadi tiga kategori suku bangsa yang terdiri dari Sunda sebanyak 37 responden (47 persen), Jawa sebanyak 31 responden (40 persen), dan suku lainnya sebanyak 10 responden (13 persen) yang terdiri dari empat responden bersuku Batak, dua responden bersuku Betawi, dua

(44)

responden menuliskan bersuku Sumatera, dan masing-masing satu responden bersuku Melayu, dan Cina.

Tabel 1. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Suku Bangsa

Suku Bangsa Jumlah (n) Persentase (%)

Sunda 37 47

Jawa 31 40

lainnya 10 13

Total 78 100

4.2.2 Sebaran Responden Berdasarkan Agama

Hampir seluruh responden dalam penelitian ini menganut agama Islam, yakni sebanyak 72 responden (92 persen). Enam responden lainnya menganut agama Kristen Protestan sebanyak tiga orang (4 persen), Katolik sebanyak dua orang (3 persen), Budha sebanyak satu orang (1 persen), dan tidak ada responden yang beragama Hindu.

Tabel 2. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Agama

Agama Jumlah (n) Persentase (%)

Islam 72 92 Protestan 3 4 Katolik 2 3 Budha 1 1 Hindu - 0 Total 78 100

4.2.3 Sebaran Responden Berdasarkan Cita-Cita

Cita-cita merupakan minat seseorang untuk menjalankan karir yang diinginkan di masa depan. Responden yang memilih berkarir ada sebanyak 51 orang (65 persen) terdiri dari 25 siswa dan 26 siswi, yang tidak menjawab sebanyak 27 orang (35 persen) terdiri dari 14 siswa dan 13 siswi. Hal ini menunjukkan bahwa ada kesamaan keinginan antara remaja perempuan dan

(45)

laki-Tabel 3. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Cita-cita dan Jenis kelamin Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Total Cita-cita n % n % n % Berkarir 26 67 25 64 51 65 Tidak menjawab 13 33 14 36 27 35 Total 39 100 39 100 78 100

4.2.4 Sebaran Responden Berdasarkan Kegiatan Luar Sekolah

Kegiatan responden di luar sekolah merupakan kegiatan responden di luar jadwal/kegiatan belajar-mengajar sekolah yang dilakukan oleh guru dan responden di dalam kelas. Kegiatan luar sekolah yang dimaksud adalah les, ekstrakurikuler dan organisasi yang diikuti oleh responden. Ekstrakurikuler yang ada di SMUN 5 Bogor adalah Dance Club, Voice Club, Theater, Pasukan khusus, Pramuka, Palang Merah Remaja, Majalah dinding, Koran sekolah, Koperasi sekolah, Ikatan kerohanian sekolah, Taekwondo, Karate, Badminton, Volley, Pingpong, Basketball, Softball, dan Pecinta alam.

Kegiatan luar sekolah responden dibagi menjadi dua kategori; tidak banyak (kurang dari empat kegiatan) dan banyak (lebih dari sama dengan empat kegiatan). Hanya 10 persen responden yang mempunyai banyak kegiatan, terdiri dari satu orang laki-laki dan tujuh orang perempuan. Sembilan puluh persen responden lainnya memiliki kegiatan yang tidak banyak, terdiri dari 38 orang laki-laki dan 32 orang perempuan.

(46)

Tabel 4. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Kegiatan Luar Sekolah dan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Total Kegiatan Luar Sekolah n % n % n % Banyak 7 18 1 3 8 10 Tidak banyak 32 82 38 97 70 90 Total 39 100 39 100 78 100

4.2.5 Sebaran Responden Berdasarkan Interaksi dengan Media Massa

Banyaknya media massa yang hadir di tengah kehidupan saat ini baik media cetak seperti koran, majalah, dan tabloid, maupun media elektronik seperti televisi, radio dan internet, serta kemudahan akses terhadap media-media tersebut membuat para responden tidak lepas dari interaksi dengan berbagai media massa. Hal ini dibuktikan dengan jumlah media massa yang digunakan responden untuk berbagai keperluan, terutama informasi dan atau hiburan. Tidak ada seorang pun dari responden yang tidak pernah berinteraksi dengan media massa, walaupun hanya 8 persen responden yang memiliki interaksi tinggi dengan media massa, yakni menggunakan lebih dari sama dengan lima media massa untuk hiburan dan/atau informasi.

Tabel 5. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Interaksi dengan Media Massa dan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Perempuan Laki-laki Total Interaksi dengan Media Massa

n % n % n %

Rendah 7 18 15 38 22 28

Sedang 26 67 24 62 50 64

Tinggi 6 15 - 0 6 8

(47)

Sebagian besar responden (64 persen) memiliki interaksi sedang dengan media massa, terdiri dari 26 responden perempuan dan 24 responden laki-laki (Tabel 5). Responden lebih akrab dengan media elektronik daripada media cetak, terbukti dari jumlah responden yang lebih banyak menggunakan televisi (87%), radio (68%), dan internet (68%) daripada koran (50%), majalah (47%), dan tabloid (22%).

Tabel 6. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Jenis Media Massa Yang Digunakan dan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Perempuan Laki-laki Total Jenis Media Massa

n % n % n % Televisi 35 90 33 85 68 87 Radio 36 92 17 44 53 68 Internet 27 69 26 67 53 68 Koran 18 46 21 54 39 50 Majalah 24 62 14 36 37 47 Tabloid 5 13 12 31 17 22

4.2.6 Sebaran Responden Berdasarkan Hubungan dengan Teman

Dihabiskannya kurang lebih separuh dari waktu dalam sehari oleh para responden untuk bersekolah dan kegiatan tambahan lainnya membuat para responden mempunyai banyak waktu untuk berinteraksi dengan teman-teman mereka, dan hal ini berpengaruh pada kedekatan hubungan responden dengan teman mereka. Sebanyak 82 persen responden memiliki hubungan dekat dengan temannya yang terdiri dari 34 orang perempuan dan 30 orang laki-laki, dan hanya 18 persen responden memiliki hubungan biasa saja dengan temannya yang terdiri dari sembilan orang laki-laki dan lima orang perempuan (Tabel 7). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja merasa nyaman menceritakan hal-hal yang dianggap pribadi dan hal-hal lainnya dengan teman mereka.

(48)

Tabel 7. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Hubungan dengan Teman dan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Total Hubungan dengan Keluarga n % n % n % Dekat 34 85 30 41 64 82 Biasa saja 5 15 9 59 14 18 Total 39 100 39 100 78 100

4.2.7 Sebaran Responden Berdasarkan Hubungan dengan Keluarga

Remaja laki-laki lebih tertutup kepada keluarga intinya dari pada remaja perempuan. Hal ini dibuktikan oleh jumlah responden perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga inti ada sebanyak 33 orang (85 persen) dari total 39 orang responden perempuan, dan jumlah responden laki-laki yang dekat dengan keluarga inti hanya ada sebanyak 16 orang (41 persen) dari total 39 orang responden laki-laki (Tabel 8).

Tabel 8. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Hubungan dengan Keluarga dan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Total Hubungan dengan Keluarga n % n % n % Dekat 33 85 16 41 49 63 Biasa saja 6 15 23 59 29 37 Total 39 100 39 100 78 100

Jumlah responden yang dekat dengan keluarga inti tidak sebesar jumlah responden yang dekat dengan temannya. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, yang diantaranya berdasarkan keterangan yang dituliskan responden pada jawaban kuesioner, ada yang mengatakan “malu”, “malas”, “jarang bertemu karena sibuk dengan urusan masing-masing”, “jarang memiliki waktu bersama”, “takut

(49)

“saudara yang masih kecil”, sehingga tidak memungkinkan mereka untuk menceritakan masalah pribadi mereka.

Responden yang memiliki hubungan biasa saja dengan keluarganya, ada yang lebih memilih untuk bercerita pada temannya, dan ada pula yang lebih suka menyimpan masalah mereka sendiri dengan kata lain ia memiliki hubungan yang biasa saja dengan teman maupun keluarga. Salah satu responden laki-laki yang memiliki hubungan yang biasa saja baik dengan keluarga maupun teman menyatakan:

Gambar

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran
Tabel 7.  Jumlah  dan  Persentase  Responden  Berdasarkan  Hubungan  dengan  Teman dan Jenis Kelamin
Tabel 14.  Jumlah  dan  Persentase  Remaja  SMUN  5  Bogor  Berdasarkan  Hubungan  dengan  Teman  dan  Persepsi  terhadap  Pembagian  Peran  Gender dalam Keluarga Tahun 2008
Tabel 15.  Jumlah  dan  Persentase  Remaja  SMUN  5  Bogor  Berdasarkan  Hubungan dengan Keluarga dan Persepsi terhadap Pembagian Peran  Gender dalam Keluarga Tahun 2008
+3

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan hasil perhitungan dengan uji T diperoleh nilai T hitung untuk variabel independen yaitu seleksi (X1) dan penempatan (X2) serta nilai signifikansi yang

Pada Gambar 2 yang diamati adalah limbah yang berada pada kolam pengolahan pertama yang dicampur dengan limbah 2 atau limbah yang baru keluar dari pengolahan tandan kelapa sawit,

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan berpikir kritis matematik pada kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran

Kesejajaran atau kesetaraan status juga berpengaruh terhadap hubungan interpersonal. Karena dalam berkomunikasi terkadang ada orang yang hanya mau berteman dengan orang

Observasi dialukan pada saat proses pembelajaran berlangsung, peneliti melakukan observasi terhadap aktifitas siswa selama proses pembelajaran, sesuai

Karya tersebut menyatakan bahwa seseorang lebih mudah untuk memilih dan menggunakan kata-kata umum, yang lebih familiar dari pada kata- kata yang tidak dikenalnya, dengan

Berdasarkan analisa pada penelitian ini didapatkan bahwa rasio prevalensi variabel kadar albumin darah adalah 1,3, sedangkan rentang kepercayaannya adalah 1,09 s/d 1,7 (melebihi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui macam pupuk dan frekuensi penyiraman POC yang efisien pada budidaya tanaman tomat cherry dalam polybag,