• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

28 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengukur penerapan safety culture pada PT. Bromo Steel Indonesia, Ngemplakrejo, Panggungrejo, Kota Pasuruan. Penelitian ini hanya dilakukan pada lantai produksi perusahaan, sebab pekerjaan-pekerjaan pada lantai produksi perusahaan lebih berpotensi menimbulkan kecelakaan dan kesehatan kerja. Pada penelitian ini akan menggunakan metode analisis kuantitatif dan pendekatan deskriptif.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

PT. Bromo Steel Indonesia berlokasi dijalan Laks. R.E. Martadinata No.18 sampai 20, kecamatan Ngemplakrejo, Panggungrejo, Pasuruan, Provinsi Jawa Timur(67113). Penelitian dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2019 hingga selesai.

Pada gambar dibawah ini merupakan flowchart tahapan penelitian. flowchart terdapat pada gambar 3.1 :

(2)

Mulai

Studi pendahuluan Studi Lapangan Studi Pustaka

Identifikasi dan perumusan masalah

Penetapan Tujuan

Identifikasi Variabel penelitian

Merancang Kuesioner Penelitian

Menyebarkan Kuesioner

Uji Validitas dan Reliabilitas

Valid

Menyebarkan Kuesioner dan Melakukan Wawancara

Perhitungan skor kuesioner

Penentuan kategori hasil perhitungan kuesioner Pengolahan metode CFA

Second Order Analisa Pembahasan No Yes Pengumpulan data Membuat Kesimpulan Selesai Penentuan Hipotesis Penelitian

Gambar 3.1Flowchart Metode Penelitian

Tahap Pendahuluan Tahap Pengumpulan Data Tahap Pengolahan dan Analisis Data Tahap Kesimpulan

(3)

3.3 Tahap Pendahuluan

Pada tahap pendahuluan ini akan dilakukan beberapa tahap yang terdiri dari: 3.3.1 Studi Lapangan

Studi ini bertujuan untuk melakukan identifikasi keadaan perusahaan yang dilakukan dengan cara langsung (observasi). Observasi dilakukan secara langsung di PT. Bromo Steel Indonesia selain melakukan observasi, peneliti melakukan wawancara mengenai safety dengan kepala K3 diperusahaan tersebut.

3.3.2 Studi Pustaka

Studi pustaka ini akan dilakukan kepustakaan untuk berguna sebagai refrensi yang bisa mendukung, studi pustaka diperoleh dari media cetak maupun elektronik. Teori pendukung yang dibutuhkan antara lain adalah yang berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Safety Culture, dan Reciprocal Cooper’s Safety Culture Model.

3.3.3 Perumusan Masalah

Tahap ini akan dilakukan perumusan masalah yang sesuai dengan latar belakang perusahaan, setelah memperoleh permasalahan dari latar belakang perusahaan maka akan dilakukan perumusan masalah yang akan menjadi acuan penelitian.

3.3.4 Penentuan Tujuan Penelitian

Penentuan tujuan dilakukan untuk membantu peneliti menjelaskan poin apa yang menjadi acuan untuk dicapai sebagai hasil. Tujuan pada penelitian ini adalah:

1. Mengetahui variabel yang mempengaruhi safety culture yang belum mencapai tingkat penerapan yang baik.

(4)

2. Memperoleh ukuran penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di PT. Bromo Steel Indonesia.

3. Memberikan rekomendasi atau solusi sebagai upaya meningkatkan budaya K3 di PT.Bromo Steel Indonesia.

3.4 Identifikasi Variabel pengukuran

Pada tahap identifikasi variable pengukuran ini dilakukan dengan melalui observasi dan wawancara langsung kepada karyawan PT. Bromo Steel Indonesia terhadap penerapan K3 perusahaan, dan dengan melalui refrensi yang menjadi dimensi tolak ukur pada metode Cooper’s Reciprocal Safety Culture Model, yaitu dimensi personal, Safety Behaviour, dan Organitation. Dengan refrensi ini penulis akan merancang indikator apa saja yang akan diukur seusai dengan dimensi yang ditentukan. Indicator-indikator yang telah valid dan reabel akan dianalisa pada tahapan selanjutnya.

3.4.1 Model penelitian metode Cooper’s reciprocal safety culture

SAFETY CULTURE SAFETY CLIMATE SAFETY MAN AGE MENT S. SAFETY BEHAVIO UR A8 A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A9 A10 C8 C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C9 C10 B7 B8 B9 B6 B4 B5 B2 B3 B1

(5)

Tahapan selanjutnya adalah perancangan model penelitian. Model penelitian adalah acuan dalam melakukan penelitian yang akan dilakukan. Pada gambar 3.2 diatas yang menjadi komponen penelitian adalah factor psikologis, situasi, dan perilaku yang dimana ketiga kompenen tersebut juga diyakini sebagai factor penyebab terjadinya kecelakaan kerja. Pada gambar 3.2 kode A1 sampai dengan A10 merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur variabel safety

climate pada CRCSM dimana indicator tersebut diperoleh dari penelitian terdahulu

(Ana Muslima, 2017), kode B1 sampai dengan B9 merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur variabel safety behaviour, dan kode C1 sampai dengan C10 merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur variabel safety

Management System pada CRCSM dimana indicator tersebut diperoleh dari

penelitian terdahulu (Bangkit Satya, 2011). Indicator tersebut akan dilakukan uji validasi dengan menggunakan metode confirmatory factor analysis pada tahap selanjutnya untuk mengetahui apakan semua indicator dapat merepresentasikan variabel yang ingin diukur.

Model penelitian merupakan kombinasi dari penelitian penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Penelitian yang menunjukkan bahwa komponen factor psikologis, situasional dan perilaku ini berlaku untuk rantai penyebab kecelakaan antara lain penelitian Heinrich, Peterson & Roos (1980) misalnya mengidentifikasi hubungan interaktif antara perilaku, situasi, dan faktor orang di tingkat operator. Hubungan interaktif antara sistem manajemen dan perilaku manajerial juga diakui oleh Weaver (1971), ketika ia menyatakan bahwa kecelakaan adalah gejala kesalahan operasional, Adams (1976) juga mengakui hubungan timbal balik antara ketiga faktor, dan hubungan sebab akibat terkait waktu antara keputusan strategis tingkat tinggi dan kesalahan operasional. Reason's (eg 1993), model patogen juga mengakui bahwa orang, faktor situasional dan perilaku adalah pendahulu langsung dari tindakan yang tidak aman, Hubungan timbal balik ini juga diakui dalam pekerjaan yang dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik organisasi dari kecelakaan kerja, yang menekankan interaksi antara sistem organisasi, mode perilaku organisasi, dan atribut psikologis masyarakat

(6)

(misalnya Cohen, 1977; Smith, Cohen & Cleveland, 1978). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga komponen saling berhubungan dalam membentuk safety culture dalam suatu perusahaan. Berdasarkan penelitian sebelumnya telah dirancang model penelitian yang menggambarkan Cooper’s

reciprocal safety culture Model seperti pada gambar 3.2 berikut.

3.4.2 Penentuan hipotesis penelitian.

Berdasarkan gambar 3.2 diatas, tahapan selanjutnya adalah menentukan hipotesis penelitian untuk menguji apakah setiap variabel pada Cooper’s

Reciprocal Safety Culture Model layak untuk merepresentasikan safety culture

seperti yang telah digambarkan seperti model di atas. Pada tahapan ini, hipotesis yang telah ditentukan akan diuji dengan menggunakan metode Confirmatory

Factor Analysis dimana H0 akan ditolak jika nilai loading factor pada variabel < 0,6

dan H1 akan diterima jika nilai loading factor pada CFA > 0,6. Adapun hipotesis

yang ditentukan adalah sebagai berikut :

1. H 0 : Iklim Keselamatan tidak memiliki pengaruh terhadap Safety Culture.

H 1.1 : Iklim Keselamatan memiliki pengaruh pada Safety Culture.

2. H0 : Safety Behaviour tidak memiliki pengaruh terhadap Safety Culture.

H1.2 : Safety Behaviour memiliki pengaruh terhadap Safety Culture.

3. H0 : Safety Management System tidak memiliki pengaruh terhadap Safety

Culture.

H1.3 : Safety Management System memiliki pengaruh terhadap Safety

Culture.

3.5 Tahap Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data terdiri dari: 3.5.1 Data Primer

Tahap ini diperoleh dari pengamatan langsung yang dilakukan oleh peneliti. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa metode yaitu :

(7)

a) Kuesioner

Kuesioner adalah teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, perilaku, keyakinan, dan karakteristik orang dalam suatu organisasi (Siregar, 2011).

b) Studi Dokumentasi

Tahapan ini dilakukan dalam mempelajari dokumen pendukung yang diperoleh secara langsung dari PT Bromo Steel Indonesia.

c) Wawancara

Wawancara merupakan proses mendapatkan data untuk penelitian dengan tanya jawab secara langsung atau tidak langsung (lewat telepon dan on-line) antara pewawancara dengan responden. Wawancara dilakukan untuk mendukung kegiatan pengumpulan data penelitian. Wawancara dilakukan kepada pihak yang terlibat dalam manajemen organisasi di PT Bromo Steel Indonesia yang mempunyai pengetahuan dan peran dalam pelaksanaan program K3 di perusahaan yaitu Kepala K3 dan ketua tim P2K3.

d) Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara penelitian langsung terhadap perusahaan (Siregar, 2011). Peneliti juga akan mengamati secara langsung tentang penerapan program K3 di PT Bromo Steel Indonesia guna mendukung kegiatan penelitian.

3.5.2 Data Sekunder

Data sekunder diperoleh data report perusahaan yang berupa data report mengenai kecelakaan kerja di perusahaan.

3.6 Tahap Pengolahan Data

Tahapan ini akan dilakukan pengolahan data menggunakan metode

Confirmatory Factor Analysis dan Reciprocal Copeer’s safety Culture Model.

3.6.1. Populasi dan Sampel

Dalam penelitian, hal awal yang dilakukan adalah penentuan objek penelitian dan juga besarnya populasi yang akan diteliti. Populasi merupakan area

(8)

general yang terdiri dari obyek or subyek yang berkualitas dan berkarakteristik tertentu yang telah ditetapkan peneliti(Sugiyono, 2014). Atau dengan kata lain populasi sebagai keseluruhan objek penelitian, sedangkan sampel merupakan sebagian dari keseluruhan yang menjadi bagian sesungguhnya dari suatu penelitian. Dalam pengambilan sebuah sampel dalam suatu penelitian aspek ketepatan (accuracy) dan ketelitian (precision) perlu menjadi perhatian utama. Suatu sampel dapat dikatakan akurat jika tidak terdapat atau sedikit bias atau varian sistematik. Sedangkan sampel dengan ketelitian yang memadai adalah memiliki kesalahan pengambilan sampel (error) dalam batas yang dapat diterima untuk tujuan tersebut. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya tidak ada ketepatan yang mutlak berapa persen suatu sampel harus diambil dan jumlah populasinya. Ketidaktepatan yang mutlak ini tidak perlu menimbulkan keraguan peneliti (Djarwanto, 1996).

3.6.2. Metode Penentuan Sampel.

Menurut Sugiyono(2014) sampel merupakan bagian dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan

probability sampling yang memberikan peluang yang sama terhadap populasi untuk

menjadi sampel. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan simple random

sampling atau pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama

kepada setiap anggota yang ada dalam suatu populasi untuk dijadikan sampel. Penentuan ukuran sampel, peneliti menggunakan rumus Slovin (Siregar, 2011) guna menentukan nilai sampel minimum yang harus diteliti.

𝑛 =

1+𝑁𝑒𝑁 2 (1)

Keterangan : n= Ukuran sampel N= Ukuran populasi

(9)

Dalam penelitian yang dilakukan di PT Bromo Steel Indonesia penulis hanya meneliti penerapan budaya K3 di departemen non manajerial yaitu pada lantai produksi yang mencakup mencakup Preparation, Assembling, Fitting Shop, Machining + Drilling, Maintenance, Welding + Finishing dengan rincian karyawan sebagai berikut:

Tabel 3.1 Data Karyawan Departemen Produksi Di PT Bromo Steel Indonesia

Mengacu pada rumus Slovin maka dapat ditentukan jumlah minimal karyawan yang dapat dijadikan sampel penelitian ini yakni sebagai berikut:

𝑛 =

𝑁

1+𝑁𝑒2

n=

133

1+(133)(0,1)2

=

58 orang

(1)

3.7 Perancangan kuesioner penelitian

Pada tahapan ini dilakukan perancangan kuesioner untuk mengukur penerapan K3 melalui indicator-indikator yang telah ditentukan. indikator pada kuesioner ini didapatkan berdasarkan dimensi yang ada pada refrensi metode. Kuesioner terbagi menjadi 3 dimensi yang akan diukur yaitu pada dimensi personal, dimensi Safety Behaviour dan dimensi organisasi. Kuesioner pada penelitian ini disajikan berdasarkan skala Likert.

No. Jenis Pekerjaan Jumlah Karyawan (Orang)

1. Preparation 15 2. Assembling 44 3. Fitting Shop 20 4. Machining+Drilling 17 5. Maintenance 9 6. Welding+Finishing 28 Total 133

(10)

3.8 Skala Pengukuran Penelitian 3.8.1 Skala Pengukuran

Skala pengukuran adalah kesepakatan yang dipakai untuk acuan dalam menentukan panjang pendeknya interval yang ada didalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Berikut macam-macam skala pengukuran.

1. Skala Interval

Pada penelitian ini skala interval yang akan digunakan ialah skala likert dimana pada kuesioner yang akan diberikan adalah pertanyaan yang akan mengukur pendapat dan persepsi dari responden mengenai penerapan budaya K3 pada PT. Bromo Steel Indonesia.

a. Skala Likert

Skala likert adalah skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang tentang suatu objek atau fenomena tertentu. Skala

likert memiliki 2 bentuk pernyataan, yaitu pernyataan positif dan negatif. Penyataan

positif diberi skor 5,4,3,2, dan I, sedangkan bentuk pernyataan negatif diberik skor 1, 2, 3, 4, dan 5. Bentuk jawaban skala likert terdiri dari sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Contoh pernyataan untuk jawaban setuju : Pernyataan positif Sangat Setuju (SS) = 5 Setuju (S) = 4 Netral (N) = 3 Tidak Setuju (TS) = 2 Sangat Tidak Setuju (STS) = 1

3.8.2 Uji Validitas dan Reabilitas

Pada tahap ini akan melakukan uji validasi dan reabilitas terhadap hasil kuesioner yang telah disebarkan kepada para karyawan yang berada di lantai

(11)

produksi. Uji validasi dilakukan guna untuk mengetahui bahwa jawaban dari indikator tersebut sudah dapat mewakili secara keseluruhan atau proporsional prilaku sampel yang akan diuji (Matondang, 2009). Dan pengujian reabilitas akan digunakan untuk mengetahui apakah hasil kuesioner sudah reliable terhadap indikator yang telah ditentukan.

Uji validitas dan reabilitas dilakukan menggunakan aplikasi SPSS. Kuesioner dinyatakan valid jika nilai r hitung > r table ( Matondang, 2009). dalam menganalisis reliable atau konsisten jika nilai α cronbach>0,06 (Sujarweni, 2014). 3.9 Rancangan Instrumen Penelitian

Dalam proses perancangan instrumen penelitian, Cooper’s Reciprocal

Safety Culture Model merupakan sumber acuan dalam menyusun daftar pernyataan

untuk ketiga dimensi yang akan diteliti. Untuk dimensi personal dipilih beberapa aspek yang menjadi bahan penelitian yakni sesuai dengan kebutuhan di tempat penelitian. Untuk dimensi perilaku disusun beberapa pernyataan yang menjadi indikator aspek tersebut. Sedangkan untuk dimensi organisasi dibuat dalam bentuk audit SMK3 yang sederhana sesuai peraturan menteri tentang SMK3 yang berlaku di Indonesia.

Setelah semua aspek dan pernyataan disusun, yang harus dilakukan setelahnya adalah melakukan pengujian validitas dan reliabilitas instrumen (untuk dimensi safety behaviour dan dimensi organisasi) untuk menentukan apakah instrumen tersebut bisa digunakan atau tidak dalam penelitiannya nanti. Jika dalam pengujian terdapat item pernyataan yang tidak valid maka pernyataan tersebut dapat dibuang atau diubah ke bentuk yang lain. Hasil pengujian yang valid dan reliabilitas menunjukkan bahwa instrumen dapat digunakan dalam penelitian.

3.10 Pengolahan data dengan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA) Second Order.

Pada tahapan ini, akan dilakukan pengolahan data berdasarkan hasil rekapitulasi kuesioner menggunakan CFA. Pengolahan data dilakukan dengan

(12)

menggunakan aplikasi SmartPLS. Pengolahan data menggunakan metode ini akan digunakan untuk mengetahui apakah setiap dimensi dapat mempengaruhi budaya K3 sesuai dengan hipotesis yang telah dibuat pada tahap sebelumnya. Hasil dari CFA akan menunjukkan apakah variabel sudah valid dan reliabel untuk merepresentasikan Safety Culture.

3.11 Tahap perhitungan skor pada kuesioner

Dalam pengolahan dan analisis data, penulis menggunakan analisis skor untuk menentukan tingkat penerapan budaya K3 di lokasi penelitian. Ada 5 nilai skala penerapan budaya K3 yang akan digunakan berdasarkan skor yang didapatkan dari hasil penelitian. Kelima nilai skala akan menentukan apakah penerapan K3 berada dalam skala tidak baik, kurang baik, cukup baik, baik dan sangat baik. Penentuan selisi atau jarak skor (range) untuk setiap kategori ditentukan dengan rumus:

Selisih = total skor tertinggi−total skor terendah

skala (2)

Keterangan:

a. Total Skor Tertinggi = jumlah pernyataan x (skor tertinggi/jumlah responden) x jumlah responden (3)

b. Total Skor Terrendah= jumlah pernyataan x (skor terendah/jumlah responden) x jumlah responden (4)

3.12 Tahap penentuan kategori penerapan K3 pada PT. Bromo Steel Indonesia

Pada tahap ini akan mengkategorikan penerapan budaya K3 yang diterapkan oleh perusahaan. Berdasarkan hasil dari perhitungan kuesioner yang telah disebar, akan dikategorikan menjadi 5 skala kategori yaitu : tidak baik, kurang baik, cukup baik, baik dan sangat baik. Berikut table dari 5 kategori penerapan K3.

(13)

Tabel 3.2 Tabel skala pengukuran

3.13 Analisis dan pembahasan

Pada tahap analisis akan dilakukan analisis terhadap hasil pengolahan data pada tahap sebelumnya. Untuk menjadi pertimbangan perusahaan untuk penerapan budaya K3 pada PT. Bromo Steel Indonesia untuk mengurangi terjadinya accident kerja. Pada metode Reciprocal Cooper’s Safety Culture Model , dimensi yang akan diukur adalah dimensi Safety Climate, Safety Behaviour, dan Safety Management

System yang diterapkan oleh perusahaan dengan indicator-indikator yang telah

ditentukan pada kuesioner penelitian ini. Sebelum melakukan pengukuran, akan dilakukan pengujian hipotesis terhadap seitap dimensi yang mempengaruhi safety

culture dengan menggunakan Confirmatory Factor Analysis dan kemudian

dilakukan perhitungan tehadap hasil rekapitulasi kuesioner. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus (2) untuk mengukur penerapan budaya K3 yang telah diterapkan oleh PT Bromo Steel Indonesia. Setelah melakukan perhitungan skor kuesioner, selanjutnya adalah keterangan penerapan K3 pada PT. Bromo Steel Indonesia berdasarkan hasil skor sesuai dengan tabel 3.2.

3.14 Kesimpulan

Pada tahap kesimpulan, akan diperoleh usulan perbaikan yang akan diberikan kepada PT. Bromo Steel Indonesia berdasarkan indicator-indikator yang telah ditentukan dan dianalisis untuk mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi.

No. skala keterangan

1. 0 – 20 Tidak baik

2. 21 – 40 Kurang baik

3. 41 – 60 Cukup baik

4. 61 – 80 Baik

Gambar

Gambar  3.1Flowchart Metode PenelitianTahap Pendahuluan Tahap Pengumpulan Data Tahap Pengolahan dan Analisis Data Tahap Kesimpulan
Gambar 3.2 model penelitian
Tabel 3.1 Data Karyawan Departemen Produksi Di PT Bromo Steel Indonesia
Tabel 3.2 Tabel skala pengukuran

Referensi

Dokumen terkait

Langkah konkretnya adalah menggunakan pengujian hipotesis dengan uji statistik yaitu penulis akan mengetahui pengaruh budaya organisasi dan program insentif terhadap

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kausal yaitu suatu metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui pengaruh rasio profitabilitas,

Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap hasil pengolahan data menggunakan metode game theory sebagai perbandingan strategi dari kedua perusahaan yakni Gojek

Setelah index kepuasan pengguna dari aplikasi e-commerce tersebut telah diketahui maka selanjutnya melakukan pengolahan data untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi

Hasil pengolahan data ini diperlukan untuk memodelkan tanah berdasarkan metode konstitutif tanah yang akan digunakan.. Pengolahan data ini juga memerlukan

Setelah perancangan poster, poster dibuat dan disusun sesuai dengan langkah-langkah yang dirancang. Tahap development ini bertujuan untuk menghasilkan media

Metode analisis data merupakan metode yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian dalam melakukan pengolahan data, dalam hal melakukan penelitian mengenai

Metode Analisis Data Metode analisis data merupakan metode yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian dalam melakukan pengolahan data, dalam hal melakukan penelitian mengenai