IV. KONDISIUMUMWADUKCIRATA
4.1 Morfomelri Waduk Cirata
Ketinggian air dari pennukaan laut adalab 200 m, dan waduk ini selesai di bangun pada tabuo 1988. Volume air pada waktu nonnal adalab sekitar 2.160.000.000 m', dengan luas pennukaan sekitar 6.200 Ha, ke dalaman rata rata sekitar 34.9 m, tetapi terdapat ke dalaman maksimum mencapai 106 m. Status kesuburan dan waduk ini adalah mesotropic hingga eutropic. Tabel 6 menggambarkan karakteristik waduk Cirata, sedangkan gambar 5, menggambarkan kondisi umum waduk cirata yang di ambil dan citra satelit
Tabel6. Karakteristik Waduk Cirata
Lokasi pada DAS Di bagian tengab
Ketinggian dari muka laut (m) 200
Selesai dibangun 1988
Volume air x 1000 m3 2.160.000
Luas pennukaan (A), ha 6.200
Kedalaman rata·rata (m) 34,9
Kedalaman maksimum (Z_), m 106
Status kesuburan Mesotrophic -Eutrophic
Pola percampuran Massa air Oligomictic (rare)
RasioAlZmili 0,54
Kondisi tanpa oksigen dimulai pada lapisan )i> 9 m (anoxic, sore hari)
kedalaman (m) )i> 5 m (anoxic, pagi hari)
Dari hasil pengarnatan di lapang kondisi tersebut banyak berubab seperu kedalaman rata rata sepanjang tabun 2003 menurun menjadi 26,3 m, terlebib lagi pada bulan Agustus.September kedalaman rata rata mencapai 20,7 m hal ini disebabkan kernarau yang berkepanjangan, sehingga volume air berkurang hingga 30%, dan keadaan nonnal sebelumnya. Demikian juga kondisi perairan tanpa oksigen yang semakin rendah yaitu 5 m pada Siang hari dan 3 m pada pagi hari.
107-16')0"£ . Air . Pemukimon . Hulon lodong . Tanch Terbuka
Gambar 5. kondisi umum waduk Cirata yang diambil dari citra satelit
Pada tahun 2003 jumlah KJA di waduk CiTata mencapai 38.276 unit, hal ini
merupakan jumlah yang tmggl. Menurut hasil analisa Iimbah pakan yang terdapat di
waduk Cirata berdasarkan kaedab Yap (2003) adalah limbah pakan yang berada di dasar
perairan waduk akibat kegiatan perikanan budidaya sebanyak 279.121 ton, artinya jika
luas permukaan 6.200 ha sedangkan luas permukaan kegiatan keramba jaring apung
sekitar 158·198 ha. dari perhitungan ini maka ketinggian limbah pakan sekitar 2 meter.
Banyaknya pakan yang berada di dasar peraiTan tersebut sangat memungkinkan karena
tmgkat punfikasi air tidak mampu lagi beketja untuk mensucikan dari Iimbah organik
tersebut, sehingga usaha restorasi waduk perlu dilakukan segera.
Perkembangan KJA di wad uk Cirata terbilang sangat cepat, Garno. dan Adibroto
(2000) mencatat pada tahun 1999 terdapat 8.786 KJA dengan produksi ikan 25.114 ton.
48
di dalam waduk ada sekitar 198,376 ton (8,667 ton N dan 1,239 ton P) sedangkan pad. tabun 2003 penulis mene.tat sebanyak 38.286 unit KJA sehingg. sisa pakan yang berada di dasar waduk adalah sebesar 279.121 ton. Jumlah karamb. ira sudah menutupi permukaan waduk eir.ta sebesar 15-20%, hal ini d.pat dilibat pada gambar 3 ..
W.duk Cirata merupakan waduk yang mend'pat sumber .ir dari daetah .liran sungai Citarum. Waduk ini merupakan waduk ketig. setelah Jatiluhur dan Saguling (gambar 6) yang dibangun dengan membendung .Iiran Sung.i Citarum, dan dilibat dari letaknya, Waduk Cirata berlokasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) b'gian tengah. Luas Waduk Cirata mene.p.i 6.200 hektar, adapun d.etab yang tergenang dan menjadi Waduk Cirata ini, berasal dari 28 des. yang berad. d.lam delapan kecamatan yang termasuk ke dalam daerah administrasi Kabupaten Cianjur, Purwakarta dan Bandung.
Pembangunan bendung utam. Waduk Cirata dimul.i pada permulaan tabun 1984 dan diselesaikan pad. Agustus 1987, namun pengisiarmy. dilakukan selama kurang lebib sebulan sejak I September 1987 dengan sumber masukan .ir beras.1 dari outlet Waduk S.guling dan 15 sung.i keeil disekitamy. yakni Sung.i Citarum, Cikundul, Cibujang, Cihea, Cibodas, Cipeuyeum, Cidurang, Cibolang, Cinangsi, Cikerta, Citamiang, Citangkap, Cicendo, Cimeta
dan
sungai Cisokan. Sungai-sungaiini
sebelum masuk: ke Waduk Cir.ta terlebih dahulu melintasi daerah perindustrian yang terdapat di daerah sekitar Waduk Cir.ta. Beberapa data morfometri dan hidrologi W.duk Cirata dapa! dilihat pad. T.bel 7.T.beI7. Data morfometri dan hidrologi Waduk Cirata, J.wa Barat
No Dimensi Nilai I. Tinggi tanggul 125 m 2. Panjang tanggul 453,5 m 3. Luas oermukaan 6200 h. 4. Panjang maksimum 14,5 km 5. Lebar rata-rata 4,3 km 6. Kedalaman rnaksimum 106m 7. Kedalaman rata-rata 34,9 m 8. Panjang total garis pantai 181 km 9. Elevasi dasar waduk (dj>l) 225 m
10. Volume
air
maksimum 2,165 x 10 m Sumber : Urnt Pelaksana Teknis Dmas Penkanan (UPDT) Waduk CrrataGambar 6. Tala letak ketiga waduk, Saguling, cirata dan latiluhur
Waduk Cirata termasuk ke dalam jenis waduk serbaguna. Tujuan utama
pembangunan Waduk Cirata adalah sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
uotuk memenuhi kebutuhan energi dari lislrik di pulau Jawa dan Bali dengan kapasitas
pembangkit daya terpasang sebesar 1.000 MW, pemasok air irigasi, pencegah banjir dan
penyedia bahan baku air sedangkan fungsi tambahannya adalah untuk kegiatan pariwisata
dan kegiatan perikanan baik tangkap maupun budidaya ikan di dalam keramha jaring
apung (KJA). Tingginya keragaman aktivitas yang berlangsung di sekitar waduk akan mempengaruhi kondisi kualitas aimya dan mengakibatkan penurunan fungsi waduk.
4.2. Keanekaragaman bayati perairan Waduk Cirata
Kegiatan perikanan di Waduk Cirata selain budidaya dengan sistem keramba Janng apung (KJA) adalah kegiatan perikanan tangkap berskala kecil (small scale fisheries). Kegiatan in! pada urnumnya menggunakan alat tangkap jaring (gIll net), jala
50
tahun 1988. Sampai dengan tabun 2003 jumlah kerarnba apung yang !ereatat heroperasi di Waduk Cirata herjumlah 38.286 KJA dengan jumlah pemiliknya sebanyak 3.899 orang. Untuk lebihjelasnya dapat dilihat pada Tahel8.
Tabel8. Data kerarnbajaring apung di Waduk Cirata sampai tabun 2003
No Lokas; Petakkolam Pemitik
1. Zona I: Bandung 9.547 1.228
2. ona II: Purwakarta 9.220 913
3. Zona III: Cianjur 20.923 1.758
Jurnlah 38.2~ 3.899
Jenis ikan yang biasa dtbudidayakan adalah ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan nila (Oreochromis niloticus). Berdasarkan informasi dari penduduk sekitar terdapat berbagai macam ikan di Waduk Cirata, seperti: ikan hampal (Hampala macrolepidota), ikan betok (Anabas testudmeus), ikan helut (Fluta alba), ikan gabus (Ophiochepolus
striatus).
ikan
tawes (Puntius javanicus), ikan nila (Oreochromis ni!oticus), ikan mujair(Oreochromis mossambicus), ikan nHern (Osteochilus hasselfii), ikan lele (Clarias
batrachus), dan ikan mas (Cyprinus carpio).
4.3 . Permasalahan dan aneaman yang dihadapi
Perairan Waduk Cirata sebagai perairan rerbuka menerirna berbagai bahan masukan berupa sisa metabolisme ikan, bahan organik, unsur bara, mineral dan padatan
tersuspensi yang dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi waduk dan sedimentasi dasar perairan. Bahan masukan tersebut dapat berasal dan dalam waduk seperti organisme air yang mati (alga, tumbuhan air, hewan
air,
dll) dan sisa metabolisme serta dan luar waduk yaitu masukan dari outlet Waduk Saguling, masukan air dari kegiatanrumah tangga, industri, pariwisata , dan lain-lain yang terdapat di sekitar waduk
Tingginya masukan unsur hara ke dalam perairan waduk yang berasal dari kegiatan-kegiatan di dalam maupun di luar waduk dapat menyebabkan tetiadinya peledakan pertumbuhan fitoplankton yang didominasi oleh blue green algae
seperti
MicrocystisWaduk Cirata secara tidak langsung menerima masukan limbah industri yang berasal dari outlet Waduk Saguling. Kegiatan industri yang terdapat di Waduk Saguling meliputi industri tekstil, kulit, bubur kertas, pelapisan logam, makanan dan minuman dan beberapa industri lain yang terus berkembang yang diperkirakan dapat menimbulkan pencemaran Waduk Cirata. Perkembangan aktivitas peindustrian tersebut dapat meningkatkan kuantitas air lirnbah yang mengandung logam berat seperti: Hg, Pb, Cd, dan Cu karena dalam produksinya banyak mehbatkan penggunaan bahan kimia. Pernbuangan air limbah secara kontinyu ke perairan umum tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu, cepat atau lambat akan menimbulkan kerusakan lingkungan dan mempengaruhi keseimbangan ekosistem perairan.
Selain itu, Waduk Cirata juga diganggu kelestariannya dengan berkembangnya pertumbuhan massai gulma
air.
terutamadari
eceng gondok (Eichhornia crassipes). Berdasarkan informasi dari PT.PJB-Unit Pembangkitan Cirata, guhna air yang biasanya bercampur dengan sampah terkonsentrasi di tiga Sub DAS yaitu Sub DAS Citarum-Cimeta, Sub DAS Cisokan-Ctbiuk dan Sub DAS Cibalagung. Akar dan rambut akar tumbnban air akan mengikat bahan-bahan organik dan anorganik, jika kondisi demikian terjadi secara terus menerus maka akan tetjadi penurnpukkan dan akhimya akan menimbulkan pendangkalan pada perairan tersebut. Selain itu, dari gulma air yang mati dapat menyebabkan tetjadinya polau-pulau terapung.Dengan meningkatnya pencernaran air, pertumbuhan gulma au serta
meningkatnya sedirnentasi diprakirakan akan mempunyai dampak terbadap fungsi waduk. Darnpak negatif yang paling dirasakan oleh para petani sekitar waduk adalah kematian
ikan
yang rnencapai nbuan ton yang sementaraini
diduga dari proses upwel/ing (ams balik) yang tetjadi saat kotoran yang ada di dasar waduk naik karena terbawa oleh ams ke permukaan. Alab.tnya, ikan yang berada didalam jaring .pung menjadi kekurangan oksigen dan keracunan kotoran.