BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi menurut Carl I. Hovland yang dikutip oleh Deddy Mulyana (2002:62) ialah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan). Contohnya perang dunia ke dua terjadi hanya karena profokasi satu orang yang berdampak sangat besar bagi kebanyakan penduduk di Dunia. Persepsi kebanyakan orang tentang komunikasi yang dapat berjalan lancar memalui komunikasi alam sadar seseorang. Tapi apakah pernah terlintas dibenak kita mengenai komunikasi alam bawah sadar? Apakah komunikasi jenis tersebut memiliki peran dan dampak yang sama dengan komunikasi alam sadar seseorang? Tapi untuk dapat melihat dampak yang dihasilkan melalui komunikasi alam bawah sadar kita, pertama tama kita harus mengetahui dulu sebelumnya apa itu komunikasi alam bawah sadar dan bagaimana komunikasi tersebut dapat berlangsung. Sebelum menjelaskan mengenai apa itu komunikasi alam bawah sadar, kita perlu bentuk – bentuk komunikasi alam bawah sadar dalam keseharian kita.
Pernahkah berada pada posisi akan melakukan sebuah tes untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, namun tidak kita dapatkan karena sugesti awal atau feeling awal kita yang berkata tidak. Sugesti sendiri adalah kemampuan mengirimkan informasi atau mempengaruhi pikiran orang lain atau bisa disebut dengan kemampuan supranatural manusia yang ada sejak zaman primitif. Kemampuan ini melemah seiring dengan berkembangnya teknologi. Karl Nikolev yang didukung oleh pemerintah Soviet menemukan fakta bahwa pikiran manusia saling pengaruh, bisa mempengaruhi dan dipengaruhi. Hipnosis adalah contoh bahwa pikiran manusia bisa dipengaruhi daya kerjanya persis seperti magnet, gelombang suara atau gelombang cahaya.1
1 Diakses pada alfateta.blogspot.com/2009_10_01_archive.html, 23 Mei 2014 jam 20:43
Sugesti selain untuk meyakinkan diri sendiri juga dapat dijadikan fasilitas bagi pengobatan gangguan psikologi. Contohnya ialah pengobatan gangguan psikologi di klinik hipnoterapi menggunakan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik didefinisikan sebagai komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatan dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Uripni, 2003:48). Komunikasi Terapeutik terjadi antar dua individu, perawat dan klien, dan menggambarkan kepribadian masing – masing individu (Videbeck, 2008:157). Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani, 2003:50).
Komunikasi terapeutik sekarang mulai berkembang, salah satunya dalam dunia kesehatan. Kita bisa melihat sekarang ini banyak klinik ataupun tempat praktek penyembuhan penyakit yang menyerang mental seseorang misalnya phobia ataupun teraumatik jenis lainnya. Akan tetapi penyakit yang menyerang mental seseorang ini tidak dapat disembuhkan menggunakan obat – obatan baik obat berbahan kimia maupun alami. Semua jenis obat-obat yang diberikan kepada orang yang mentalnya terganggu ialah obat penenang yang khasiatnya hanya menenangkan pikiran terhadap rasa takutnya bukan bersifat menyembuhkan, karena bila efek obat tersebut habis maka seseorang akan tetap kembali kepada apa yang dia alami sebelumnya. 2
Di abad 20 Milton H. Erickson (1901-1980), mengembangkan hipnosis untuk dunia terapi. Dimana Eriskson memanfaatkan hipnosis ini untuk digunakan dalam menterapi seseorang yang memiliki masalah psikis. Banyak korban psikis pasca perang dunia ke II yang berhasil diselamatkan oleh Erickson. Metode yang digunakan oleh Erickson inilah yang kemudian sering disebut dengan Ericksonian Hypnotherapy. Metode Erickson inilah yang menandai era Hipnoterapi modern
Di tahun 1973, dari Santa Cruz, dua orang ilmuwan bernama Richard Bandler dan Professor John Grinder, mengembangkan sebuah ilmu komunikasi yang
2
diturunkan dari Hipnosis. Ilmu ini selanjutnya dikenal sebagai Neuro Linguistic Programming yang biasa dikenal dengan NLP. Dengan NLP, ternyata Bandler dan Grinder tidak saja memperbesar keampuhan hipnoterapi dalam keadaan tidur semata bahkan mengikuti jejak gurunya Erickson, NLP mampu mempercepat pemulihan trauma dalam keadaan sadar dan dalam tempo yang sangat singkat.
Hipnoterapi merupakan salah satu metode yang terbukti dan sangat efektif untuk mengatasi stres. Memang ada beberapa metode yang selain hipnoterapi yang digunakan untuk mengatasi stres tapi kurang efektif dan butuh waktu yang lama untuk bisa merasakan perubahan yang signifikan. Kurang efektif karena metode yang lain tidak menyentuh akar permasalahan dan hanya bermain di level pikiran sadar. Padahal sumber stres pada seseorang itu tersimpan di pikiran bawah sadar (Zain, 2011:21). Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan hipnosis sebagai terapi stres, terbukti memiliki fungsi kinerja otak kanan dan otak kiri yang lebih stabil dan seimbang (Rafael, 2006:3). Otak kanan terhubung langsung dengan Sistem Syaraf Otonom yang mengatur tekanan darah, detak jantung, pernafasan, dan pencernaan (Campbell, 2002:6).
Pada saat seseorang melakukan penyembuhan menggunakan sistem hipnoterapi maka akan terjadi komunikasi yang berlangsung di alam bawah sadar seseorang. Namun sebelum dapat dilakukannya proses psikotransmiter pada saat hipnoterapi berlangsung si penderita harus relax dengan gelombang otak yang seimbang dan tenang sekitar pada saat gelombang-gelombang Alfa (α): Frekuensi 813 Hz, ditemukan saat rileks atau meditasi (Priguna, 1980). Karena pada saat seseorang sedang relaks maka dapat dengan mudah berkomunikasi dengan alam bawah sadarnya. Untuk dapat mencapai gelombang alfa dengan cepat dalam proses hipnoterapi maka seorang hipnoteran harus melakukan sebuah tindakan yang disebut hipnosis. hipnosis sebagai suatu proses menuju tidur yang dikondisikan, dikaitkan dengan gelombang otak seseorang yang menjalani suatu proses hipnosis. Gelombang otak diperiksa dengan elektroensefalogram (EEG), dan dihubungkan dengan kesadaran pada orang tersebut. Berdasarkan gelombang otak normal tersebut proses hipnosis diharapkan tercapai pada gelombang alfa dan teta, di mana dalam keadaan
yang lebih rileks, pikiran yang mulai terfokus dan mulai penurunan dari conscious ke subconscious dan subjek mulai sugestif (IBH, 2002:133).
Dalam berbagai hal tentang komunikasi terapeutik dan hipnoterapi yang dialami dan dibaca oleh peneliti sebelum melakukan penelitian ini, maka peneliti membuat buat sebuah kesimpulan awal bahwa komunikasi sugesti memberikan pengaruh yang sangat besar dalam berbagai hal dan dapat dijadikan sebagai alternatif pengobatan. Namun kenapa peneliti ingin mengangkat penelitian dengan tema ini dikarenakan ada satu keraguan yang dialami oleh peneliti. Peneliti mengalami sebuah pobia yang disebabkan teraumatik pada saat kecil, yaitu pobia darah atau dikenal dengan nama hematophobia. Bagaimanakah proses komunikasi ini berjalan dan bisa menyembuhkan seseorang yang mengalami psikosomatis. Dengan kata lain apakah cara seperti ini efektif untuk apa yang saya alami. Maka dari itu peneliti menetapkan sebuah penelitian yang berjudul: PROSES KOMUNIKASI TERAPEUTIK DALAM HIPNOTERAPI DI TRANCE CLINIC KOTA BANDUNG.
1.2 Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah mengenai Proses Komunikasi Terapeutik Dalam Hipnoterapi di Trance Clinic Kota Bandung berupa:
1. Bagaimana proses komunikasi terapeutik berlangsung dalam Hipnoterapi? 2. Bagaimana tinjauan psikologis komunikasi di dalam membangun sikap dan
membangun hubungan sosial dalam Hipnoterapi?
1.3 Tujuan Penelitian
Yang menjadi tujuan penelitian dari penelitian ini adalah untuk mengkaji:
1. Untuk menjelaskan bagaimana proses komunikasi terapeutik dapat berlangsung pada penyembuhan dalam Hipnoterapi.
2. Memahami tinjauan psikologis komunikasi didalam proses komunikasi terapeutik.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan agar kita mampu mengetahui apa saja faktor yang memengaruhi proses komunikasi terapeutik dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan efek yang sempurna bagi penyembuhan dalam hipnoterapi, yang nantinya akan berdampak pada keputusan mereka untuk memilih alternatif tertentu untuk mengobati penyembuhan gangguan psikologis, dalam hal ini adalah hipnoterapi. Dan manfaat penelitian sendiri terbagi menjadi dua aspek, yaitu aspek teoritis dan aspek praktis. Berikut manfaat didalam aspek tersebut:
1.4.1 Aspek Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam perkembangan Ilmu komunikasi pada khususnya, serta memberikan sumbangan analisis ilmiah mengenai komunikasi terapeutik yang berkaitan dalam proses penyembuhan dengan menggunakan alternatif komunikasi.
1.4.2 Aspek Praktis
Dari segi praktis hasil peneltian ini dapat memberi masukan bagi semua pihak yang sedang atau akan melaksanakan kajian dibidang ilmu komunikasi. Serta dapat meberikan informasi kepada khalayak mengenai jenis komunikasi yang dapat bermanfaat dalam bidang medis. Dengan mengetahui bagaimana komunikasi yang digunakan dalam suatu alternatif pengobatan. Diharapkan dapat tercipta suatu persepsi yang dimana komunikasi juga dapat berperan dalam memfasilitasi kesembuhan seseorang.
1.5 Tahapan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti melalui tahapan pra-lapangan, tahap pekerjaan lapangan dan analisis data. Terdapat beberapa tahapan penelitian dalam melakukan penelitian seperti yang dikatakan oleh Moleong dalam bukunya Ghony dan Almanshur (2012: 144-157).
Terdapat enam kegiatan yang harus dilakukan oleh peneliti kualitatif, yang mana dalam tahapan ini ditambah dengan satu pertimbangan yang perlu dipahami, yaitu etika penelitian lapangan. Kegiatan dan pertimbangan berikut dipaparkan sebagai berikut:
a. Menyusun rancangan penelitian
Rancangan penelitian yang dimaksud adalah proposal penelitian. Dalam penelitian ini ditempatkan pada bab I yang berisi tentang latar belakang, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep dan telaah kepustakaan dan teori.
b. Memilih lapangan penelitian
Peneliti memilih penelitian khususnya pada komunikasi terapeutik dalam hipnoterapi di Trance Clinic kota Bandung.
c. Mengurus perizinan penelitian
Pertama yang perlu diketahui oleh peneliti adalah siapa saja yang berkuasa dan berwenang memberikan izin bagi pelaksanaan penelitian. Dalam penelitian ini peneliti cukup mengurus perizinan pada prodi Ilmu Komunikasi di Universitas Telkom dan Trance Clinic untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian.
d. Menjajaki dan menilai lokasi penelitian
Tahap ini belum sampai pada titik yang menyingkap bagaimana peneliti masuk lapangan, namun telah menilai keadaan lapangan dalam hal-hal yang tertentu. Pada tahap ini baru orientasi lapangan saja.
e. Memilih dan memanfaatkan informan.
Informan merupakan orang dalam latar penelitian. Dalam hal ini peneliti memilih informan yang akan memberikan data atau informasi mengenai permasalahan yang akan dibahas. Informan tersebut adalah dokter atau terapis pada Trance Clinic.
f. Menyiapkan alat penelitian
Peneliti tidak hanya menyiapkan peralatan saja tetapi juga alat-alat untuk penelitian yaitu seperangkat alat perekam dan alat tulis.
g. Persoalan etika
Dalam hal etika, peneliti sangat menjaganya karena hal ini menyangkut hubungan dengan orang yang berkenaan dengan data-data yang diperoleh dari peneliti, sebab dengan adanya etika oleh peneliti diharapkan terciptanya kerja sama yang menyenangkan antara kedua belah pihak. 2. Tahap pekerjaan lapangan
Pada tahap ini peneliti sudah memasuki pekerjaan lapangan yang mana pada tahap ini dibagi menjadi tiga bagian:
a. Memahami Latar Penelitian dan Persiapan Diri
Untuk memahami pekerjaan, peneliti perlu memahami latar penelitian pada komunikasi terapeutik di Trance Clinic kota Bandung. Disamping itu peneliti juga mempersiapkan diri baik secara fisik maupun secara mental, agar kegiatan penelitian dapat berjalan dengan lancar.
b. Memasuki Lapangan
Setelah memasuki lapangan, peneliti berhasil membina keakraban dengan orang-orang yang berhubungan dengan kegiatan peneliti tanpa harus menggangu mereka dalam melaksanakan kegiatannya. Usaha ini dilakukan dengan menggunakan surat keterangan dari Universitas Telkom.
c. Berperan Serta Sambil Mengumpulkan Data
Peranan peneliti pada lokasi penelitian memang harus dibatasi, namun tidak menutup kemungkinan apabila ada waktu luang, maka peneliti akan terlibat langsung dalam data yang memang diperlukan untuk selanjutnya dianalisis secara intensif.
3. Analisis Data
Pada tahap analisis data ini, peneliti menelaah data-data yang telah terkumpul misalnya data yang diperoleh dari hasil wawancara ataupun hasil dari catatan lapangan yang kemudian diolah dan diklasifikasi sesuai kategori data yang dihasilkan yang bertujuan untuk menemukan tema sesuai dengan pokok permasalahan.
Gambar 1.1 Tahapan Penelitian
Sumber: Data olahan peneliti Mencari Ide Mencari Data Data Primer (Dinas Pendapatan Daerah) Data Sekunder (Studi kepustakaan) Hasil Penelitian Koreksi data Kesimpulan saran Pengumpulan data Mencari Teori yang berhubungan dengan
1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian 1.6.1 Lokasi Penelitian
1. Penelitian ini dilakukan pada klinik hipnoterapi di Jln. Rajamantri Tengah no. 10, Buah Batu, Bandung.
2. Perpustakaan Universitas Telkom di Jln. Telekomunikasi no.1, Dayeuh Kolot, Kab. Bandung.
1.6.2 Waktu Penelitian
Adapun kegiatan penelitian yang dilakukan oleh peneliti berlangsung selama 7 bulan yaitu dari bulan Mei - September 2014.