Fitnah (2).doc 40KB Jun 13 2011 06:28:17 AM

Teks penuh

(1)

Fitnah (2)

Oleh Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.

Haditsul Ifki

Tuduhan bohong (yang dalam bahasa Indonesia disebut fitnah) juga pernah menimpa isteri Rasulullah SAW sendiri, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Peristiwa itu terkenal dengan sebutan haditsul ifki. Ibu dari seluruh orang-orang yang beriman ini dituduh berselingkuh dengan seorang-orang sahabat Nabi bernama Shafwan ibn al-Mu’athal as-Salmi. Peristiwa itu terjadi sehabis perang dengan Bani Musthaliq pada bulan Sya’ban tahun ke 5 H.

Sebagaimana biasa, setiap peperangan Rasulullah SAW membawa salah seorang isteri beliau. Siapa yang dibawa ditentukan dengan undian. Kali ini undian jatuh kepada ‘Aisyah RA. Setelah perang usai, dalam perjalanan menuju Madinah, rombongan pasukan berhenti di suatu tempat. ‘Aisyah keluar dari sekedupnya (setelah ayat hijab turun, isteri-isteri Rasulullah SAW kalau keluar rumah memakai cadar dan apabila bepergian jauh di atas onta yang mereka naiki dipasang sekedup, yaitu semacam pelana yang diberi dinding sekelilingnya) untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Pada saat ‘Aisyah pergi mencari kalungnya itu rombongan berangkat dan pengawal yang menuntut onta ‘Aisyah tidak mengetahui kalau beliau tidak berada di dalam sekedup. Akhirnya ‘Aisyah tertinggal dari rombongan.

Setelah mengetahui rombongan sudah berangkat, ‘Aisyah duduk di

(2)

kembali menjemputnya. Pada saat menunggu itulah rasa kantuk menyerangnya sehingga dia tertidur. Kebetulan pada waktu itu Shafwan, seorang sahabat Nabi yang mengambil posisi di belakang pasukan, melewati tempat ‘Aisyah tertidur. Begitu melihat ‘Aisyah, Shafwan kaget dan spontan membaca Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. Mungkin dia mengira ‘Aisyah sudah meninggal dunia. Mendengar kalimat

istirja’ itu, ‘Aisyah terbangun dan segera menutupi wajahnya dengan kerudungnya. Shafwan mengenal ‘Aisyah karena sebelum ayat hijab turun sudah pernah melihat wajahnya. “Demi Allah”, kata ‘Aisyah, “Shafwan tidak ngomong sepatah katapun kecuali kalimat istirja’ itu. Dia hanya menyiapkan kendaraan dan mengisyaratkan dengan tangannya supaya saya menaiki ontanya.” Shafwan berjalan menuntun onta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakan menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian orang-orang munafiq, terutama pemimpinnya, ‘Abdullah ibn Ubay bin Salul, membesar-besarkannya dan menuduh ‘Aisyah berselingkuh dengan Shafwan. Madinah goncang, dan tidak hanya orang-orang munafiq, orang-orang Islam pun mulai ada yang percaya dengan tuduhan bohong itu. Gosip itu beredarlah di dalam kota Madinah sehingga mengganggu ketenangan hidup rumah tangga Rasulullah SAW. Akhirnya tuduhan itu sampai juga ketelinga ‘Aisyah, Abu Bakar dan tentu saja ke telinga Rasulullah SAW. Rasulullah tidak dapat memutuskan, apakah tuduhan itu benar atau tidak. Beliau tetap bersangka baik kepada ‘Aisyah sambil mengharapkan wahyu turun menjelaskannya.

(3)

tersebut. Mulai dari ayat 11 sampai ayat 22 Surat An-Nur. Pertama sekali, pada ayat 11 (yang sudah dikutip di atas) Allah SWT menghibur keluarga Nabi yang menjadi sasaran tuduhan keji, bahwa kejadian itu jangan dianggap sebagai bencana bagi mereka, tetapi malah mendatangkan kebaikan, karena dengan kejadian itu mereka memperoleh kehormatan dari Allah dengan turunnya beberapa ayat yang menyatakan mereka bersih (baraah) dari segala macam tuduhan bohong tersebut. Sebaliknya, orang-orang yang menuduh akan mendapatkan dosa, terutama yang mengambil peran lebih besar dalam penyebarluasan berita bohong tersebut akan

mendapatkankan azab yang besar.

Selanjutnya Allah mencela tindakan orang-orang beriman yang ikut-ikutan mempercayai, bahkan menyebarluaskan desas desus itu, seharusnya begitu

mendengar tuduhan bohong itu, mereka secara spontan harus menolaknya. Kenapa mereka tidak mendahulukan sangka baik kepada sesama mukmin. Seharusnya begitu mendengar gosip itu, mereka segera menolaknya dan menyatakan bahwa itu adalah kebohongan yang nyata.

للوولل

ذوإإ

ههومهتهعومإس

ل

ن

ن ظ

ل

ن

ل ونهمإؤومهلوا

ت

ه َانلمإؤومهلواول

م

و هإس

إ فهنوألبإ

ارريوخل

اولهَاقلول

اذلهل

ك

ك فوإإ

ن

ك يبإمه

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (Q.S. An-Nur 24:12)

(4)

pembohong. Apalagi apa yang dituduhkan itu sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Siti ‘Aisyah. Kalau bukanlah karena karunia dan rahmat Allah, tentulah mereka sudah diazab oleh Allah dengan azab yang pedih.

للوولل

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.” (Q.S. An-Nur 24:13-14)

Begitu mudahnya mereka menyebarluaskan berita yang tidak benar. Mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan, padahal di sisi Allah adalah besar. Apakah pencemaran kesucian rumah tangga Rasulullah SAW dianggap hal kecil? Apakah mereka tidak memikirkan dampaknya terhadap ‘Aisyah, Rasulullah, Abu Bakar, bahkan untuk umat Islam secara keseluruhan? Sekali lagi Allah menyesalkan kenapa orang-orang beriman tidak sedari awal menolak berita bohong itu.

(5)

ذوإإ

"Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. An-Nur 24:15-18)

(6)

Kuliah dalam bahasa Arab berarti fakultas, tetapi dalam bahasa Indonesia kuliah diartikan proses belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas di perguruan tinggi. Sementara kuliah dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Arab disebut dengan

muhadharah.

Arti Fitnah dalam Al-Qur’an

Kata fitnah di dalam Al-Qur’an dalam berbagai bentuknya dijumpai 61 kali. Dalam bentuk mashdar nakirah (fitnah) 22 kali, mashdar ma’rifah dengan alif lam

(al-fitnah) 8 kali, ma’rifah dengan idhafah (fitnatahu, fitnatahum, fitnatuka dan

fitnatukum) 4 kali, sisanya dalam bentuk kata kerja. Sebagian besar digunakan untuk pengertian cobaan atau ujian, dan sebagian lain dalam arti azab atau siksaan,

kekacauan, bencana dan sebagian lain digunakan untuk menunjukkan semua tindakan yang bertujuan menghalangi kebebasan beragama seperti yang sudah dijelaskan pada bagian pertama tulisan ini.

Fitnah dalam arti cobaan misalnya terdapat dalam beberapa ayat berikut ini:

اومهللعواول

َاملننأل

م

و ك

ه لهاولموأل

م

و ك

ه دهللووألول

ةكنلتوفإ

ن

ن ألول

هللنلا

ههدلنوعإ

ركجوأل

م

ك يظ

إ ع

ل

(7)

ل

ش ك

ه

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Q.S. Al-Anbiya’ 21:35)

َاننإإ

“Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah.” (Q. S. Al-Qamar 54:27)

Fitnah dalam arti azab atau siksaan misalnya pada ayat berikut:

اوقهتناول

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Q.S. Al-Anfal 8:25)

Fitnah dalam arti bencana misalnya dalam ayat berikut ini:

(8)

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.S. Al-Hajj 22:11)

Demikianlah sedikit uraian tentang fitnah baik dalam pengertian bahasa Indonesia maupun penggunaannya dalam Al-Qur’an.

Sumber

:

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...