• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan buku cerita bergambar Hanoman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perancangan buku cerita bergambar Hanoman"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

47

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Suryo Prakadewa

Tempat dan Tanggal Lahir : Sukoharjo, 26 Maret 1990

Alamat : Sidorejo RT/RW 003/006, Kelurahan

Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo

Pendidikan : TK Jamsaren

SDN. Jamsaren

(5)

Laporan Pengatar Tugas Akhir

PERANCANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR

HANOMAN

DK 38315/Tugas Akhir

Semester II 2012-2013

Oleh :

Suryo Prakadewa

51909041

Program Studi Desain Komunikasi Visual

FAKULTAS DESAIN

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

(6)

iii KATA PENGANTAR

Allhamdulillah Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul "PERANCANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR HANOMAN". Dalam menyelesaikan mata kuliah Tugas Akhir Jurusan Desain Komunikasi Visual UNIKOM. Buku cerita bergambar Hanoman ini , berkaitan dengan masalah yang di jadikan sebagai bahan penelitian khususnya karakter Hanoman dalam tahapan variabel perkembangan usia anak dan sekaligus sebagai pencarian jati diri bangsa indonesia. Dalam menyusun penelitian ilmiah ini penulis banyak melibatkan pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

Penulis menyadari laporan yang berjudul "PERANCANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR HANOMAN", Masih Banyak Kekurangan dalam. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga bermanfaat.

Bandung, Februari 2013

(7)

viii

II.1 Wayang Sebagai Media Penyebaran Agama Islam... 5

II.2 R.A Kosasih... 5

II.3 Gambaran Umum Ketokohan Hanoman... 6

II.4 Kisah Ketokohan Hanoman... 8

II.4.1 Kelahiran... 8

II.4.2 Mengabdi Pada Sugriwa... 8

II.4.3 Melawan Alengka... 8

II.4.4 Tugas Untuk Hanoman... 9

II.4.5 Anggota Keluarga... 9

II.4.6 Kematian... 10

II.4.7 Sifat Hanoman... 10

II.5 Kriteria Penahapan Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar... 10

II.6 Fase Anak Sekolah Dasar... 12

(8)

ix

II.7.1 Berdasarkan Sifat Ketokohan Hanoman ... 16

II.7.2 Berdasarkan Fase Perkembangan Anak Usia 6 Sampai 12 Tahun... 16

II.7.3 Analisi Sifat Hanoman... 18

II.7.3 Analisis Sifat Hanoman Yang baik untuk usia 6-12... 18

II.8 Metode Penelitian... 19

II.9 Target Market... 20

II.10 Target Audiens... 20

BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN STRATEGI VISUAL... 22

III.1 Strategi Perancangan... 22

III.1.1 Strategi Komunikasi... 22

III.1.2 Strategi Kreatif... 23

III.1.3 Strategi Media... 25

III.2 Konsep Visual... 26

III.2.1 Konsep Desain... 26

BAB IV MEDIA DAN TEKNIS PRODUKSI... 39

IV.1 Buku Cerita Bergambar Hanoman... 39

IV.1.1 Media... 39

IV.1.2 Teknis Perancangan... 39

IV.2 Media Promosi... 42

IV.2.1 Poster... 42

IV.2.2 Mini Flag... 43

(9)

x

IV.3.1 Poster... 44

IV.3.2 Pembatas Buku... 45

IV.3.3 Jadwal Pelajaran... 45

IV.3.4 Stiker... 46

IV.3.4 Pin... 46

DAFTAR PUSTAKA... xiii

(10)
(11)

48

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Anne Dameria. (2008). Basic printing. Jakarta: Link & Match Graphic

Dra. Aas Saomah, M.Si. (2011) Karakteristik Perkembangan Anak. Penulisan Artikel. Bandung: UPI.

Heru S Sudjarwo., Sumari., Undung Wiyono. (2010). Rupa dan Karakter Wayang Purwa. Jakarta: Kakilangit Kencana.

Kusrianti Adi. (2007). Pengantar Desain Komunikasi Visual. Banudng: Penerbit Andi.

Rosidi, Ajip (2011). Kearifan Lokal Dalam Perspetif budaya sunda. Penerbit Kiblat Utama, Bandung.

R.A. Kosasih. (2011). Rama dan Sinta. Bandung: Penerbit Erlina.

Syamsu Yusuf. (2011). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Surianto Rustan. (2010). Font dan Tipografi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

(12)

49

Halaman Web

Stef. daniar wikan setyanto M.Sn. 2008 (18 Februari). Teori warna. Tersedia di: http://daniarwikan.blogspot.com/2009/02/teori-warna.html

(13)

1 BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Kesenian wayang adalah salah satu kesenian indonesia hal itu disebabkan oleh peranan kesenian wayang dalam membentuk jati diri bangsa indonesia. Pada awalnya seni wayang digunakan sebagai media penyebaran agama sejak berdirinya kerajaan hindu dan islam. Pada masa Walisanga kesenian wayang sangat berperan penting dalam menyebarkan agama islam. Di dalam kesenian wayang terdapat perpaduan unsur seni yakni seni karawitan, seni rupa, seni pentas, seni tari yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman yang di pertunjukan sebagai media hiburan. Kesenian wayang pada awalnya sangat erat berhubungan dengan keseharian masyarakat. Ini artinya seni wayang lahir dan berkembang di tengah masyarakat yang dilingkupi berbagai macam sistem sosialnya.

Wayang yang saat ini sebagai media hiburan menjadi sangat sulit di temui di kalayak masyarakat salah satunya disebabkan oleh generasi penerus kesenian wayang yang semakin berkurang. Berpindahnya fungsi pertunjukan kesenian wayang dimana pada awalnya sangat erat dengan masyarakat menjadi tayangan yang bersifat tradisional. Tanpa mengubah fungsi dari cerita pewayangan tersebut keberagaman media dalam menyampaikan cerita pewayangan sangatlah diperlukan. Hal ini untuk terus mendukung eksistensi cerita pewayangan dikalangan masyarakat.

Keberadaan media hiburan yang semakin kompleks baik itu melalui media televisi, radio, digital, internet, dan cetak sangat mudah dijumpai masyarakat saat ini. Hingga saat ini pemanfaatan media tersebut masih didominasi oleh cerita-cerita luar. Dari segi visual dan kemasan, media yang digunakan oleh negara lain sangat kreatif. Hal tersebut dikarenakan keseriusan para pengembang media dan produsen dalam melakukan riset terhadap pasar sangatlah baik. Pendekatan visual dapat dinikmati dengan baik oleh masyarakat selaku target market. Melakukan penyesuaian dengan target yang dituju menjadi kunci kesuksesan media tersebut.

(14)

2 penyesuaian masyarakat saat ini, cerita pewayangan akan dapat tetap dinikmati oleh masyarakat terutama masyarakat indonesia. Hal ini untuk tetap meneruskan nilai luhur yang dimiliki dalam cerita pewayangan. Anak-anak dalam masa perkembangannya membutuhkan peran serta orang tua untuk membantu mengarahkan pembentukan diri untuk persiapan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Dengan memperkenalkan cerita pewayangan dapat membantu anak-anak dalam perkembangan dan pembentukan jati dirnya dengan mengambil nilai prilaku dan sifat setiap tokoh dalam cerita pewayangan.

Masa perkembangan anak yakni di masa operasi konkret 6-12 tahun anak-anak sudah dapat mempresentasikan simbol-simbol sebagai pembentukan mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Setiap hal yang berhasil di input anak usia 6-12 tahun sudah dapat di olah. Hasil input pada anak-anak menjadi sangat penting di masa itu.

Kisah pewayangan perlu di kenalkan kepada anak karena didalam cerita pewayangan mengandung unsur-unsur prilaku dan sifat yang dapat di jadikan contoh dengan baik dalam masa perkembangan anak. seperti kisah Ramayana

Dalam Rosidi (2011: 31) Ramayana Sendiri adalah sebuah epik Sansekerta kuno yang yang dikarang oleh penyair Walmiki. Meskipun epos cerita Ramayana

berasal dari india namun nenek moyang kita memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang yang merupakan hasil kreatifitas nenek moyang kita sendiri dan merupakan bagian penting dari ajaran Hindu kuno yang masuk ke indonesia.

Ramayana menceritakan kisah Rama dengan Sinta Dalam perjalanan mereka mengembara di hutan dan melawan raksasa sampai bertemu Hanoman. Ramayana

(15)

3 Hanoman adalah tokoh pahlawan Di cerita Ramayana yang dimana dia membantu Rama untuk melawan Rahwana yang telah menculik Dewi Sinta. Ketokohan Hanoman banyak di kisahkan berbagai versi yang berbeda tetapi tidak mengurangi satupun inti dari kisah karangan walmiki ini. Hanoman mempunyai sifat-sifat dan karakter yang baik dalam setiap perannya. Tokoh Hanoman ini mempunyai beberapa sifat dan prilaku yang dapat di jadikan contoh terhadap perkembangan anak. Misalnya pemberani, setia, kuat. Melihat fenomena sekarang ini banyak Anak-anak yang belum mengetahui tentang ketokohan Hanoman mulai dari awal mula kisahnya, sifat, prilaku jasa yang menjadikan Hanoman mempunyai rasa sosial yang tinggi dan bagaimana wujud karakter dari Hanoman tersebut. Dengan menggali kembali ketokohan hanoman dalam cerita Ramayana

anak-anak menjadi tahu seperti apa tokoh hanoman itu serta dapat memberikan pengetahuan tentang pesan moral yang terkandung dalam tokoh hanoman ini yang dapat dijadikan pembelajaran dan informasi tentang kebudayaan bangsa indonesia tentang kisah pewayangan. Dengan adanya berbagai fenomena yang menunjukan kurangnya minat atas cerita pewayangan oleh karena itu cerita tentang ketokohan akan diangkat kedalam media buku cerita bergambar Hanoman. Dengan membuat sebuah media buku cerita bergambar Hanoman yang dapat mengolah imajinasi anak-anak, akan lebih mudah mengenalkan cerita pewayangan khususnya ketokohan Hanoman.

Salah satu tokoh cergam pewayangan adalah Raden Ahmad Kosasih dengan buku pertamanya "Sri Asih" yang berhasil mengangkat cerita pewayangan pada tahun 1950-an. Dengan mengeksplorasi sifat dan karakter tokoh Hanoman, penulis lebih memilih versi pewayangan jawa sebagai pertimbangan visual dan komik R.A Kosasih sebagai alur cerita yang menceritakan tentang kisah ketokohan Hanoman, cerita ketokohan hanoman pada versi ini telah mewakili secara garis besar dari keseluruhan cerita hanoman, dan juga lebih dekat secara sosial kemasyarakatan untuk diceritakan kepada anak-anak dalam tahap usia perkembangan.

(16)

4

 Kurangnya peran serta orang tua memperkenalkan cerita-cerita pewayangan.

 Kurangnya pengetahuan anak-anak tentang kisah ketokohan Hanoman.

 Hanoman adalah tokoh di cerita Ramayana yang memiliki sifat dan prilaku yang dapat menjadi contoh baik bagi anak-anak.

 Banyaknya nilai budi pekerti yang dapat diambil dari kisah ketokohan Hanoman dalam cerita Ramayana seperti gotong royong, tolong menolong dan kepahlawanan.

 Kurangnya media kreatif tentang cerita-cerita pewayangan yang menarik minat anak-anak.

I.3 Rumusan Masalah

Dengan mencermati identifikasi masalah di atas dapat di rumuskan dalam pengenalan ketokohan Hanoman berdasarkan cerita pewayangan mulai dari sifat dan perilaku yang perlu di perkenalkan kepada anak-anak lewat perancangan buku cerita bergambar Hanoman. Dengan pendekatan visual wayang dan komik R.A Kosasih sebagai alur cerita yang dibuat sesuai dengan usia anak 6-12 tahun agar dapat menjadi informasi sebagai landasan dasar dalam membentuk jati diri atau kepribadian bagi anak usia 6-12 tahun.

I.4 Batasan Masalah

Pembahasan dibatasi dari cerita pewayangan jawa di tinjau dari sifat dan prilaku yang perlu di perkenalkan pada anak usia 6-12 tahun. Dengan mengambil inspirasi dari sosok wayang kulit.

I.5 Tujuan

 Meberikan informasi tentang cerita-cerita wayang khusunya ketokohan Hanoman Dengan menggunakan media buku cerita bergambar.

(17)

5

BAB II

KETOKOHAN HANOMAN DAN PERKEMBANGAN USIA ANAK

II.1 Wayang Sebagai Media Penyebaran Agama Islam

Wayang kulit digunakan untuk upacara keagamaan. Pada abad ke-11

sudah mulai populer di kalangan rakyat. Sejak tahun 1058, bahkan sejak tahun 778 atau lebih tua lagi, sudah ada wayang atau ringgit. Pada periode penyebaran agama Islam di Jawa, para muballigh yaitu wali songo dalam menjalankan dakwah Islam telah memakai wayang kulit sebagai alat untuk menyebarkan agama islam. Salah seorang wali songo yang piawai memainkan wayang kulit sebagai media penyebaran Islam adalah Sunan Kalijaga. Mengingat cerita itu sarat dengan unsur Hindu-Budha, maka Sunan Kalijaga berusaha memasukkan unsur-unsur Islam dalam pewayangan. Ajaran-ajaran dan jiwa ke islaman itu dimasukkan sedikit demi sedikit. Bahkan lakon atau kisah dalam pewayangan tetap mengambil cerita Pandawa dan Kurawa yang mengandung ajaran kebaikan dan keburukan. Dilihat dari struktur lakon yang dibawakan oleh dalang yakni menceriterakan perjalanan hidup salah satu tokoh pewayaangan yang mempunya nilai-nilai baik yang dapat di jadikan pembelajaran. Dengan demikian masyarakat yang menonton wayang dapat menerima langsung ajaran Islam dengan sukarela dan mudah untuk menikmati seni pertunjukan wayang.

Dalam pertunjukan wayang, dalang mempunyai peranan paling utama sehingga mereka harus menguasai teknik perkeliran (pertunjukan wayang kulit) dengan baik di bidang seni sastra, seni karuwitan, seni menggerakkan boneka-boneka wayang kulitnya, maupun penjiwaan karakter wayang serta harus terampil dalam membawakan lakon-lakon dalam menyampaikan setiap sifat dan perilakunya (Wijanarko S, 1990, h.8-9).

II.2 R.A Kosasih

(18)

6

Barat. Pada saat itu yang menjadi pioneer dan hingga saat ini disebut Bapak Komik Indonesia tidak lain adalah Raden Ahmad Kosasih. Lewat debut pertamanya komik “Sri Asih” (Penerbit Melodie, Bandung,1954). Kosasih kemudian aktif meneliti dokumen dan mulai menciptakan komik epos besar yang berasal dari India yaitu Mahabharata dan Ramayana (1955 – 1960)12.. Hingga saat ini karyanya masihdicetak ulang dan masih sering kita temui di toko-toko buku

II.3 Gambaran Umum Ketokohan Hanoman

Hadi Sukirno didalam artikel "Hanoman" yang diakses melalui situs http://www.scribd.com pada (2012), Hanoman (Sanskerta: Hanoman) atau

Hanumat (Sanskerta: Hanumat), juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana (sebuah kisah epik yang bejiwal dari India yang ditulis oleh Walmiki / Valmiki sekitar tahun 4-SM) yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu (Batara Guru dalam versi jawa) dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.

Hanoman dalam pewayangan Jawa merupakan putera Bhatara Guru yang menjadi murid dan anak angkat Bhatara Bayu. Hanoman sendiri merupakan tokoh lintas generasi sejak zaman Rama sampai zaman Jayabaya.

Gambar II.1: Wayang Hanoman

(19)

7

Hanoman adalah salah satu tokoh yang unik karena berwujud seekor kera putih dan mengambil peran penting dalam cerita Ramayana. Dalam Ramayana ia membantu Rama menyelamatkan Sinta dan mengalahkan Rahwana. Tokoh Hanoman juga membawa pesan moral; walaupun berwujud seekor kera namun memiliki jiwa sosial, jiwa ksatria, jujur dan sakti yang maknanya jangan menilai seseorang hanya dari fisik semata.

a b

Gambar II.2: (a) Wayang Kulit Hanoman versi Surakarta, (b) Wayang kulit Hanoman dari

Yogyakarta (sumber: http:// tokohwayangpurwa.blogspot)

Pemilihan maskot Sea Games ke-19 yang menggunakan tokoh Hanoman karena sebagai simbol yang mewakili kebhinekaan budaya Indonesia dan telah menjadi budaya Indonesia itu sendiri walaupun sesungguhnya cerita Hanoman merupakan adaptasi dari India.

(20)

8

II.4 Kisah Ketokohan Hanoman

II.4.1 Kelahiran

Heru S Sudjarwo (2010) Anjani adalah puteri sulung Resi Gotama yang terkena kutukan sehingga berwajah kera. Atas perintah ayahnya, ia pun bertapa di telaga Madirda. Suatu ketika, Batara Guru dan Batara Narada terbang melintasi angkasa. Saat melihat Anjani, Batara Guru terkesima akan kecantikanya akhirnya Raja para dewa pewayangan menjatuhkan daun asam (Bahasa Jawa: Sinom) lalu dibuangnya ke telaga. Daun sinom itu jatuh di pangkuan Anjani. Ia pun memungut dan memakannya sehingga mengandung. Ketika tiba saatnya melahirkan, Anjani dibantu para bidadari kiriman Batara Guru. Ia melahirkan seekor bayi kera berbulu putih, sedangkan dirinya sendiri kembali berwajah cantik dan dibawa ke kahyangan sebagai bidadari" (h.234).

II.4.2 Mengabdi Pada Sugriwa

Bayi berwujud kera putih yang merupakan putera Anjani diambil oleh Batara Bayu lalu diangkat sebagai anak. Setelah pendidikannya selesai, Hanoman kembali ke dunia dan mengabdi pada pamannya, yaitu Sugriwa, raja kera Gua Kisenda. Saat itu, Sugriwa baru saja dikalahkan oleh kakaknya, yaitu Subali, paman Hanoman lainnya. Hanoman berhasil bertemu Rama dan Laksmana, sepasang pangeran dari Ayodhya yang sedang menjalani pembuangan. Keduanya kemudian bekerja sama dengan Sugriwa untuk mengalahkan Subali, dan bersama menyerang negeri Alengka membebaskan Sita, istri Rama yang diculik Rahwana murid Subali.

II.4.3 Melawan Alengka

(21)

9

banyak membunuh pasukan Alengka, misalnya Surpanaka (Sarpakenaka) adik Rahwana.

II.4.4 Tugas Untuk Hanoman

Dalam pertempuran terakhir antara Rama kewalahan menandingi Rahwana yang memiliki Aji Pancasunya, yaitu kemampuan untuk hidup abadi. Setiap kali senjata Rama menewaskan Rahwana, seketika itu pula Rahwana bangkit kembali. Wibisana, adik Rahwana yang memihak Rama segera meminta Hanoman untuk membantu. Hanoman pun mengangkat Gunung Ungrungan untuk ditimpakan di atas mayat Rahwana ketika Rahwana baru saja tewas di tangan Rama untuk kesekian kalinya. Melihat kelancangan Hanoman, Rama pun menghukumnya agar menjaga kuburan Rahwana. Rama yakin kalau Rahwana masih hidup di bawah gencetan gunung tersebut, dan setiap saat bisa melepaskan roh untuk membuat kekacauan di dunia. Beberapa tahun kemudian setelah Rama meninggal, roh Rahwana meloloskan diri dari Gunung Ungrungan lalu pergi ke Pulau Jawa untuk mencari reinkarnasi Sita, yaitu Subadra adik Kresna. Kresna sendiri adalah reinkarnasi Rama. Hanoman mengejar dan bertemu Bima, adiknya sesama putera angkat Bayu. Hanoman kemudian mengabdi kepada Kresna. Ia juga berhasil menangkap roh Rahwana dan mengurungnya di Gunung Kendalisada. Di gunung itu Hanoman bertindak sebagai pertapa.

II.4.5 Anggota Keluarga

(22)

10

Akhirnya, Trigangga pun berbalik melawan Rahwana. Putera kedua Hanoman bernama Purwaganti, yang baru muncul pada zaman Pandawa. Ia berjasa menemukan kembali pusaka Yudistira yang hilang bernama Kalimasada. Purwaganti ini lahir dari seorang puteri pendeta yang dinikahi Hanoman, bernama Purwati.

II.4.6 Kematian

Hanoman berusia sangat panjang sampai bosan hidup. Narada turun mengabulkan permohonannya, yaitu “ingin mati”, asalkan ia bisa menyelesaikan tugas terakhir, yaitu merukunkan keturunan keenam Arjuna yang sedang terlibat perang saudara. Hanoman pun menyamar dengan nama Resi Mayangkara dan berhasil menikahkan Astradarma, putera Sariwahana, dengan Pramesti, puteri Jayabaya. Antara keluarga Sariwahana dengan Jayabaya terlibat pertikaian meskipun mereka sama-sama keturunan Arjuna. Hanoman kemudian tampil menghadapi musuh Jayabaya yang bernama Yaksadewa, raja Selahuma. Dalam perang itu, Hanoman gugur, moksa bersama raganya, sedangkan Yaksadewa kembali ke wujud asalnya, yaitu Batara Kala, sang dewa kematian.

II.4.7 Sifat Hanoman

Heru S Sudjarwo (2010) menjelaskan nama Hanoman banyak dikaitkan dengan anom yang berarti muda. Hanoman mempunyai sifat atau perwatakan pemberani, sopan-santun, setia, prajurit ulung, pandai berlagu dan berbahasa, remdah hati, teguh dalam pendirian, kuat dan tabah. Sifat itu di gambarkan dari setiap peranya dan bentuk dari wayang Hanoman" (h.238). Haoman juga dianggap sebagai seorang satria yang menyatu dengan brahmana. Saat muda menjadi satria, kemudian menjadi resi, dan gugur sebagai seorang ksatria.

II.5 Kriteria Penahapan Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar

(23)

11

ini memungkinkan untuk dapat memecahkan masalah secara logis (h.6). Syamsu Yusuf (2011) menjelaskan Pada masa usia sekolah dasar sering disebut masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pada umur berapa tepatnya anak matang untuk masuk sekolah dasar, pada usia 6 atau 7 tahun, biasanya anak telah matang untuk memasuki sekolah dasar. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif, anak-anak lebih mudah di didik dari pada masa sebelum dan sesudahnya. Masa ini di perinci lagi menjadi dua fase, yaitu (h.24):

1) Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira 6 atau 7 tahun sampai umur 9 atau 10 tahun. Beberapa sifat anak pada masa ini atara lain seperti berikut.

a) Adanya hubungan positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi.

b)Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan yang tradisional.

c) Adanya kecenderungan memuji diri sendiri dan cenderung mengimajinasikan banyak hal tanpa mempedulikan hal tersebut rasional atau tidak.

d)Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak yang lain. e) Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu

dianggap tidak penting.

f) Pada masa ini terutama usia 6-9 tahun anak menghendaki nilai yang baik, tanpa mengingat presentasinya memang pantas atau tidak.

2) Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar umur 9 atau 10 sampai umur 12 atau 13 tahun. beberapa sifat khas pada anak pada masa ini.

a) Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.

(24)

12

c) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus, yang oleh para ahli yang mengikuti teori faktor ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-fakto (bakat-bakat khusus).

d)Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan orang tua atau orang dewasa untuk menyelesaikan tugas dan memenuhikeinginanya. Selepas umur ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikanya.

e) Pada masa ini anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat. f) Anak-anak pada usia ini gemar membentuk kelompok sebaya

biasanya anak tidak lagi bermain bersama-sama. Dalam permainan itu biasanya anak tidak lagi terikat kepada peraturan permainan cenderung lebih kreatif dengan cara membentuk peraturan sendiri.

II.6 Fase Anak Sekolah Dasar

Syamsu Yusuf (2011) menjelaskan fase anak sekolah usia 6 -12 tahun di bagi menjadi 7 tahapan fase yaitu (h.178):

1. Perkembnangan Intelektual

(25)

13

2. Perkembnangan Bahasa

Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, gambar atau lukisan. Dengan bahasa, semua manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral. Pada awal masa ini, anak sudah dapat menguasai 2.500 kata dan pada masa akhir usia 11-12 tahun telah dapat menguasai sekita 50.00 kata (Abin Syamsuddin M, 1991: Nana Syaodih S, 1990) yang dikutip oleh Syamsu Yusuf (2011, h.179). Dengan keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mengdengarkan cerita yang bersifat kritis ( tentang kepahlawanan, perjalanan/petualangan). Pada masa ini tingkat berpikir anak sudah lebih maju, dia banyak menanyakan soal waktu dan sebab akibat. Oleh sebab itu, kata tanya yang di pergunakannya pun yang semula hanya "apa", sekarang sudah diikuti pertanyaan: "di mana", "dari mana", "ke mana", Terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:

 Proses jadi matang, dengan perkataan lain anak itu menjadi matang untuk berkata-kata.

(26)

14

pendapat), mengembangkan kepribadianya, seperti menyatakan sikap dan keyakinannya.

3. Perkembnangan Sosial

Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri degnan norma-norma kelompok, tradisi dan moralagama. Perkembangan sosial pada anak-anak sekolah dasar ditandai dengan adanya perluasan hubungan, dengan keluarga atau teman sebaya sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas.

Pada Usia ini anak mulai memiliki sesanggupan menyesuaikan diri-sendiri (egosentris) kepada sikap yang

kooperatif (bekerja sama) atau sosiosemtris ( mau memperhatikan kepentingan orang lain). Anak dapat berminat terhadap kegiatan-kegiatan teman sebayanya, dan bertambah kuat keinginanya untuk diterima menjadi anggota kelompok. Berkat perkembangan sosial, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan teman sebayanya maupun lingkungan masyarakat. Dalam proses belajar mengajar, kematangan perkembangan sosial ini dapa dimanfaatkan dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik maupun yang membutuhkan pikiran. Tugas-tugas kelompok ini harus memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk menunjukan prestasinya, tetapi juga diarahkan untuk mencapai tujuan bersama. Dengan melaksanakan tugas kelompok dapat menanamkan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati, bertanggung jawab dan bertenggang rasa.

4. Perkembnangan Emosi

(27)

15

peniruan dan latihan. Peran orang tua sangatlah penting dalam melatih emosi anak apabila sebuah keluarga degan kondisi emosi yang stabil maka kondisi emosi anak cenderung stabil. Emosi-emosi yang secara umum dialami pada tahap perkembangan usia sekolah ini adalah marah, takut, cemburu, iri hati, kasih sayang, rasa ingin tahu dan kegembiraan.

Emosi adalah faktor dominan yang mempngaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang positif seperti perasaan senang, gembira, bersemangat atau rasa ingin tahu akan mempengaruhi individu untuk mengosentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar, seperti membaca buku, aktif dalam berdiskusi, mengerjakan tugas dan displin dalam belajar. benar-salah atau baik-buruk akan menjadi pedoman pada tingkah lakunya di kemudian hari. Dengan menanamkan konsep moral sejak dini anak dapat menilai bahawa setiap perbuatan seperti nakal, tedak menghormati orang tua merupakan perbuatan tidak bai atau buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil dan sikap hormat kepada orangtua merupakan sikap yang benar dan baik.

6. Perkembnangan Penghayatan Agama

(28)

16

7. Perkembnangan Motorik

Perkembangan motorik anak sudah dapat terkoodinasi dengan baik. Setiap gerakanya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Pada masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motoriknya yang lincah. Oleh karena itu, Usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik ini seperti menulis, menggambar, melukis, bermain. Sesuai dengan perkembangan fisik (motorik) maka permulaan sangat tepat di ajarkan seperti dasar-dasar menulis dan menggambar.

II.7 Pemetaan Sifat Tokoh Hanoman Terhadap Fase Perkembangan Usia

Anak

II.7.1 Berdasarkan Sifat Ketokohan Hanoman

Heru S Sudjarwo menjelaskan Hanoman mempunyai beberapa sifat yang dapat di jadikan contoh untuk anak- anak diantaranya (h.238):

 Pemberani

 Sopan Santun

 Setia

 Pandai berbahasa atau bercakap

 Kuat

II.7.2 Berdasarkan Fase Perkembangan Anak Usia 6 Sampai 12 Tahun

 Belajar mengembangkan kemandirian

 Belajar mengembangkan konsep diri

(29)

17

 Usia kreatif, senang membaca dan mendengarkan cerita yang bersifat kritis ( petualang, perjalanan)

 Memiliki kecenderungan bermain dengan teman sama jenis

Dengan mempetakan beberapa sifat Hanoman dengan Fase perkembangan usia anak, Maka dalam tabel pemetaan ini diambil beberapa sifat hanoman yang dapat di jadikan contoh baik dalam membantu pembentukan jati diri anak usia 6-12 tahun.

Tabel II.1: Pemetaan Sifat Dan Prilaku Tokoh Hanoman

Kategori sifat ketokohan

Hanoman

Pemahaman sifat ketokohan Hanoman terhadap Prilaku

perkembagan usia anak

Sifat Anak Usia 6 sampai 12 tahun

Kuat Pada usia ini anak-anak mulai bertumbuh dewasa dan kuat mulai dari perkembangan fisik, mental dan kemandirian

Pemberani Anak anak mulai mempunyia sifat pemberani mengurus dirinya sendiri mulai dari belajar atau mengutarakan sesuatu kepada orang di sekitanya.

Rendah hati Pada usia ini anak-anak mulai belajar menghargai dan menghormati dalam mengembangkan kemandiriaan dan mengembangkan konsep diri

Pandai berbahasa dan sopan santun

(30)

18

II.7.3 Analisis Sifat Hanoman

Kuat

Cerita tentang sifat kuat Hanoman, kekuatan Hanoman ini bisa mulai diceritakan pada anak usia 6-12 tahun, karena pada usia ini anak telah mulai tumbuh dewasa dan dapat memilih mana sikap yang baik dan tidak, dan pada usia ini anak telah memiliki kontrol diri yang lebih bagus.

Pemberani

Pada Anak usia 6-12 tahun ini masih perlu perhatian dari orang tua untuk bersikap berani terhadap apa yang dia hadapi. Karena anak baru mengenal konsep moral yaitu sikap benar-salah atau baik-buruk maka orang tua di perlukan untuk memperhatikan sikap berani dalam anak usia ini.

Rendah Hati

anak usia 6-12 yang sudah mulai belajar menghargai dan saling menghormati satu sama lain antara teman sebaya atau orang tua yang di anggap lebih tua dari dirinya dengan demikian sifat ketokohan Hanoman ini lebih baik di tekankan pada usia 6-12 tahun.

Pandai Berbahasa dan Sopan Santun

Pada anak usia 6-12 tahun anak sudah gemar dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam menyampaikan suatu hal yang ingin dia ketahui. Dengan memperkenalkan sifat Hanoman yang sopan dalam berbahasa maka baik di jadikan contoh anak usia 6-12 tahun bagaimana dalam menyampaikan sesuatu dengan baik dan benar.

II.7.4 Analisis Sifat Hanoman Yang baik untuk usia 6-12

(31)

19 rendah hati, pandai berbahasa dan sopan santun pada anak tertanam dengan rapuh. Dengan Menekankan pada sifat kuat, pemberani, rendah hati, pandai berbahasa dan sopan santun lebih baik di ceritakan kepada anak pada usia 6-12 tahun yang sudah mengenal konsep moral.

II.8 Metode Penelitian

Setelah melakukan Penelitian dengan metode kuantitatif dengan membagikan 40 kuisioner kepada anak-anak satu kelas yang berjumlah 40 siswa yang berletak di SD Sekeloa 1. Pertanyaan Kuisioner yang di lakukan ke pada target market yaitu anak-anak yang berletak di SD Sekeloa 1.

1. Tahukah kamu cerita wayang ? Ya atau Tidak 2. Tahukah kamu cerita Ramayana? Ya atau Tidak 3. Apakah kamu tahu tokoh Hanoman? Ya atau Tidak

4. Apakah Hanoman tokoh paling menarik di cerita Ramayana? Ya atau Tidak

5. Apakah Hanoman seekor ksatria kera yang sakti ? Ya atau Tidak

Gambar II.4. Diagram dari jawaban anak-anak mengenai pertanyaan apakah kamu tahu

tokoh Hanoman?

(32)

20

II.9 Target Market

Target market ini adalah anak-anak sebagai penerima informasi yang telah di sampaikan oleh target audiens.

Gambar II.5. Target Market Anak usia 6-12 Tahun SD Sekeloa 1

A. Demografis

Anak-anak Usia : 6 - 12 tahun

Gender : Laki – laki dan perempuan Status Ekonomi Sosial : Menengah ke atas

Target buku cerita bergambar Hanoman ini adalah anak-anak usia 6-12 tahun yang sedang menghadapi tahap fase peralihan dari pra sekolah menuju ke sekolah dasar. Dengan status ekonomi menengah keatas cenderung memiliki bentuk kehidupan yang layak sehingga mempunyai finansial yang cukup dalam hal pendidikan.

B. Geografis

Di tujukan untuk anak-anak khususnya yang menempati wilayah pulau jawa terutama di daerah-daerah perkotaan yang jalur distrbusi dapat di jangkau.

C. Psikografis

(33)

21

II.10 Target Audiens

Target audiens adalah orang tua sebagai sarana pembantu memberikan Informasi kepada target market.

A. Geografis

Negara Indonesia khususnya pulau jawa terutam daerah perkotaan.

B. Demografis

Orang Tua Usia : 33 - 40 tahun

Gender : Laki – laki dan perempuan Status Ekonomi Sosial : Menengah ke atas

C. Psikografis

(34)

22

BAB III

STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL

III.1 Strategi Perancangan

III.1.1 Strategi Komunikasi

Strategi komunikasi yang dilakukan untuk memperkenalkan kisah ketokohan Hanoman adalah dengan perancangan media buku cerita bergambar Hanoman dengan pendekatan visual wayang dan komik R.A Kosasih sebagai alur cerita yang dibuat sesuai selera target market. Bahasa yang digunakan pada perangcangan buku cerita bergambar Hanoman ini menggunakan bahasa indonesia baku dengan istilah yang mudah dimengerti oleh anak-anak selaku target market. Dengan perancangan buku cerita bergambar Hanoman ini di harapkan dapat menyampaikan informasi tentang perilaku dan sifat baik yang ada di cerita ketokohan Hanoman ini sebagai contoh baik yang dapat di ambil dalam masa pembentukan jati diri perkembangan usia anak.

Tujuan Komunikasi

 Membuat sebuah media yang dapat menyampaikan sifat dan prilaku dari tokoh Hanoman yang dapat di jadikan contoh baik untuk pembentukan jati diri dalam perkembangan usia anak.

 Menarik minat anak-anak dalam membaca dan berimajinasi tentang cerita-cerita wayang khusunya ketokohan Hanoman.

Pesan Yang Di Sampaikan

 Janganlah menilai seseorang dari penampilannya saja.

(35)

23

Pendekatan Visual

Dalam perancangan buku cerita bergambar Hanoman ini akan mengakat tokoh Hanoman sebagai tokoh yang mempunyai prilaku dan sifat yang baik. Dengan segmentasi target market yang berusia 6-12 tahun, ilustrasi akan dibuat sederhana dan imajinatif tetapi masih berdasarkan refrensi dalam visual wayang dan komik R.A Kosasih ebagai alur cerita. Objek visual mulai dari karakter, suasana tempat dan benda-benda yang terdapat dalam cerita ketokohan Hanoman ini di gambarkan secara kartun dan lebih berbentuk fantasi yang dapat menarik perhatian anak anak untuk membaca dan memahami sifat serta prilaku baik yang terdapat dalam tokoh Hanoman ini yang dapat mengasah imajinasi anak-anak. Pendekatan Verbal

Pendekatan verbal dalam buku cerita bergambar Hanoman Hanoman menggunakan kosa kata bahasa indonesia yang baku agar setiap materi dan pesan yang di sampaikan dapat dengan mudah di pahami oleh anak-anak usia 6-12 tahun. Setiap pemilihan materi yang di sampaikan disesuaikan dengan anak-anak usia 6-12 tahun selaku target market. Setiap materi akan membahas tentang prilaku dan sifat tokoh Hanoman yang dapat menjadi contoh baik dalam pembentukan jati diri.

III.1.2 Strategi Kreatif

Anderson, Nancy (2006). Elementary Children’s Literature. Boston: Pearson Education mengelompokan bacaan anak menjadi 6 dan menjelaskan:

1. buku bergambar prasekolah (pengenalan konsep seperti huruf, angka, warna dan sebagainya, buku dengan kalimat yang berirama dan berulang, buku bergambar tanpa kata-kata)

2. sastra tradisional (mitos, dongeng, cerita rakyat, legenda, sajak) 3. fiksi (fantasi, fiksi modern, fiksi sejarah)

4. biografi dan autobiografi 5. ilmu pengetahuan

(36)

24

Bacaan anak umumnya ditulis dengan kalimat yang singkat, serta pilihan kosakata dan tata bahasa yang lebih sederhana dibandingkan sastra dewasa. Selain dibaca di dalam hati, teks dimaksudkan agar bisa dibaca keras-keras oleh anak. Buku juga dibacakan keras-keras oleh orang dewasa untuk anak yang belum bisa membaca.

Ilustrasi sangat penting dalam bacaan anak dan merupakan kesatuan dengan cerita. Anak yang belum bisa membaca terutama sangat memperhatikan gambar-gambar dalam buku. Selain itu, bacaan anak bisa hanya berisi gambar dan tanpa kata-kata. Jumlah ilustrasi dalam buku anak juga lebih banyak dibandingkan ilustrasi buku sastra dewasa. Semakin muda target pembaca, maka semakin banyak pula ilustrasi yang diberikan.

Strategi kreatif yang dilakukan adalah membuat buku cerita bergambar Hanoman yang menjelaskan beberapa sifat dan perilaku dalam cerita ketokohan Hanoman. Dengan menggunakan bahasa indonesia yang mudah di mengerti oleh anak-anak dan visual yang dapat menarik minat anak untuk membacanya.

Strategi Visual

Gaya ilustrasi yang digunakan dalam buku cerita bergambar Hanoman ini adalah gaya kartun dan fantasi dengan pertimbangan wayang. Dengan gaya gambar kartun dan fantasi tetapi tidak mengurangi bentuk dari setiap karakter yang ada dalam cerita Hanoman hanya mengalami penyederhanaan dan penambahan yang dapat menarik imajinasi anak-anak membaca cerita Hanoman.

Storyline

1. Lahirnya Hanoman dan terjadi bencana dimana-mana.

2. Menceritakan masa kecil Hanoman ketika mencoba memakan matahari. 3. Hanoman memulai petualangannya untuk menolong dan mengabdikan

kesetiannya kepada Rama.

(37)

25

5. Hanoman melaksanakan tugas yang di berikan oleh Rama untuk menyelinap masuk ke dalam kerajaan Alengka untuk melihat keadaan Dewi Sinta.

6. Hanoman tertangkap oleh Rahwana dan Indrajid kemudian Hanoman dibakar tetapi dengan kesaktiannya Hanoman mampu menahan api tersebut dan mulai membakar kerajaan Alengka kejadian itu di sebut Hanoman di obong.

7. Hanoman berhasil kabur dan kembali ke hutan untuk menyampaikan kabar tentang Sinta kepada Rama dan Leksmana tetapi tanpa di sadari Rahwana mengutus Indrajid untuk memata-matai mereka.

8. Hanoman, Rama dan Leksmana mulai pergi menuju kerajaan Alengka untuk menyelamatkan Dewi Sinta

9. Mulai terjadi perang besar antara Rahwana dan Hanoman.

10.Hanoman, Rama dan Leksaman berhasil mengalahkan Rahwana dan Indrajid. AKhirnya Dewi Sinta pun dapat diselamatkan dan karena kebaikan dan keberaniannya Hanoman pun di angkat menjadi anak angkat Rama.

III.1.3 Strategi Media

Medi Utama

(38)

26

Media Promosi

Media promosi pertama yang akan digunakan adalah poster. Poster ini bertujuan memperkenalkan secara singkat Hanoman. Media penunjang lainnya yaitu sticker, pembatas, buku, gantungan kunci, packaging. Dengan semua media penunjang ini akan lebih mudah menarik minat anak-anak dan orang tua nantinya.

III.2 Konsep Visual

III.2.1 Konsep Desain

(39)

27

(40)

28

Gambar III.2: Layout Buku Cerita Bergambar Hanoman

Gambar III.2: Contoh Layout Cerita Bergambar

(41)

29

III.2.2 Tipografi

Jenis tipografi yang di gunakan dalam buku cerita bergambar Hanoman ini mewakili kesan tradisional, alami, tegas dan bernuansa jaman kerajaan tetapi masih dalam konteks yang dapat dibaca oleh anak-anak terutama anak usia 6-12 tahun yang baru mengenal simbol-simbul, huruf dan angka.

Untuk media utama seperti judul cover dan pada beberpa media pembuka akan menggunakan font Organic Elements.

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUV

WXYZ

abcdefghijklmnopqrstuvwxyz

0123456789.,:;"'?

Gambar III.3: Font Organic Elements

Gambar III.4: Font Organic Elements Dalam Logotype Judul Cover/

Untuk tipografi dalam narasi cerita akan menggunakan font Museo 300

(42)

30

Gambar III.6: Aplikasi Font Museo 300 Pada Layout Text Narasi.

III.2.3 Ilustrasi

Konsep dari pemilihan ilustrasi ini akan dibuat sederhana dan imajinatif tetapi masih berdasarkan refrensi dalam visual wayang. Objek visual mulai dari karakter, suasana tempat, background dan benda-benda yang terdapat dalam cerita ketokohan Hanoman ini di gambarkan secara semi realis dan lebih berbentuk fantasi dengan penyerdehanaan bentuk agar tampak sederhan dan tidak rumit sekaligus dapat menarik perhatian anak anak untuk mengenal tokoh-tokoh dalam cerita pewayangan dan memberikan informasi tentang nilai-nilai yang terkandung dalam cerita maupun tokohnya seperti tentang kepahlawanan, gotong royong dan tolong menolong.

(43)

31

Gambar III.8: Penyederhanaan Bentuk Dari Refrensi Wayang Kulit dan ekpresi wajah

III.2.4 Warna

Munsell (seperti yang di kutip Stef. daniar wikan setyanto M.Sn, 2008) mengatakan warna pokok terdiri dari merah, kuning, hijau, biru dan jingga. Sementara warna sekunder terdiri dari warna jingga, hijau muda, hijau tua, biru tua dan nila. Warna merupakan elemen penting dalam semua lingkup disiplin seni rupa, bahkan secara umum warna merupakan bagian penting dari segala aspek kehidupan manusia. Hal tersebut dapat kita lihat dari semua benda yang dipakai oleh manusia, semua peralatan, pakaian, bahkan alam disekeliling kita merupakan benda yang berwarna. Karena begitu penting peranan warna bagi manusia warna sering kali dipakai sebagai elemen estetis, sebagai representasi dari alam, warna sebagai komunikasi, dan warna sebagai ekspresi.

(44)

32

terapkan pada tv, video, layar komputer. Warna CMYK merupakan warna subtractive. Warna Subtractive di bentuk dari pigment. Tinta cetak merupakan contoh dari pencampuran warna subtractive syan, magenta yellow. Pecampuran ketiga warna subtraktive itu akanmenghasilkan warna hitam. Warna CMYK menjadi warna standard dalam proses cetak separasi warna.

Gambar III.9: Komposisi Warna

Gambar III.10: Pewarnaan Menggunakan Pencil Warna

(45)

33

III.2.5 Karakter

1. Hanoman

Gambar III.12: Tokoh Hanoman

Hanoman berwujud kera putih nama Hanoman banyak dikaitkan dengan anom yang berarti muda. Hanoman lahir dari seorang Dewi yang bernama Anjani dan Ayahnya Bernama Batara Guru. Hanoman mempunyai sifat atau perwatakan pemberani, sopan-santun, setia, prajurit ulung, pandai berlagu dan berbahasa, remdah hati, teguh dalam pendirian, kuat dan tabah. Sifat itu di gambarkan dari setiap peranya dalam membantu Rama untuk menyelamatkan Dewi Sinta. Haoman juga dianggap sebagai seorang satria yang menyatu dengan brahmana. Saat muda menjadi satria, kemudian menjadi resi, dan gugur sebagai seorang ksatria.

2. Rama

Gambar III.13: Tokoh Rama

(46)

34

adiknya Leksmana. Rama menikah dengan Shinta. Rama berkedudukan sebagai putra mahkota kerajaan Ayodya. Dalam pengembaraanya Rama dan adiknya tertipu oleh musuhnya rahwana yang telah menculik Sinta. Akhirnya rama meminta pertolongan kepada Hanoman untuk membantunya untuk menyelamatkan Sinta.

2. Leksmana

Gambar III.14: Leksmana

Leksmana merupakan adik dari Rama. Leksmana berpetualang bersama Rama dan Sinta. Leksmana berwatak Baikk, sabar dan sangat hormat kepada kakaknya Rama.

3. Sinta

Gambar III.15: Tokoh Sinta

(47)

35

kan memilki prilaku yang santun, berbudi luhur, ia juga memilik rasa solidaritas dan Hormat sekali kepada Rama.

4. Idrajid

Gambar III.16: Tokoh Indrajid

Indrajid adalah anak dari Rahwana dia seorang yang licik, mudah naik darah, egois dan kejam. Indrajid bertugas melindung Ayahnya Rahwana dan menjadi seorang mata-mata ketika Hanoman berserta Rama dan Leksmana menyusun strategi untuk menyelamatkan Sinta.

5. Rahwana

Gambar III.17: Tokoh Rahwana

(48)

36

III.2.6 Latar

1. Gapura Bali

Gapura bali digunakan sebagai background dari singgasana Rahwana di kerajaan Alengka.

Gambar III.18: Gapura bali

2. Laut dan Ombak

Selain gapura bali Studi lokasi juga di lakukan pada bentuk laut dan ombak. Dalam buku cerita bergambar ini bentuk ombak dan laut berubah dengan mengambil bentuk lengkungan yang ada di dalam gulungan ombak laut dan di tambahkan tekstur garis untuk detail.

(49)

37

3. Matahari dan Awan

Selain gapura bali Studi lokasi juga di lakukan pada bentuk laut dan ombak. Dalam buku cerita bergambar ini bentuk ombak dan laut berubah dengan mengambil bentuk lengkungan yang ada di dalam gulungan ombak laut dan di tambahkan tekstur garis untuk detail.

Gambar III.20: Laut Dan Ombak

4. Hutan

Studi bentuk hutan tropis dan gua untuk lokasi pertemuan antara Hanoman dengan Rama dan juga tempat dimana Hanoman tinggal.

(50)

38

III.2.7 Properti

1. Gada Dan Panah

Dalam cerita pewayangan jawa ada beberapa senjata yang digunakan oleh tokoh pewayangan diantaranya meliputi gada, Panah dan tombak. Gada merupakan salah satu senjata yang di pakai oleh Hanoman dan Rahwana. Panah senjata yang digunakan oleh Rama.

(51)

39

BAB IV

MEDIA DAN TEKNIS PRODUKSI

IV.1 Buku Cerita Bergambar Hanoman

IV.1.1 Media

Pada media buku cerita bergambar Hanoman ini berukuran 19cm x 20cm. Untuk kertas print menggunakan A3 Artpaper 250 gram.

Gambar IV.1: Buku Cerita Bergambar Hanoman

IV.1.2 Teknis Perancangan

(52)

40

Gambar IV.2: Sketsa Pensil Dan Drawing Pen

Setelah mengerjakan sketsa, proses selanjutnya media akan diberi warna dengan menggunakan pensil warna. Setelah pewarnaan selesai lalu di scan dan di perhalus menggunakan Software Adobe Photshop CS5. Hal ini diperlukan agar warna yang dihasilkan menjadi lebih halus.

(53)

41

Gambar IV.4: Pewarnaan Mneggunakan Adobe Photoshop CS 6

Proses selanjutnya adalah proses Layout. Konsep desain layout yang digunakan dalam buku ini, untuk ilustrasi diletakan disebelah kanan dan teks di sebelah kiri, tiap halaman buku memiliki layout yang sama agar lebih fokus dan mudah untuk di baca oleh anak-anak. Mode warna yang digunakan adalah RGB, karena pengerjaanya dilakukan didalam komputer dan untuk cetak menggunakan warna CMYK agar ketika di cetak warna menyesuaikan dengan warna aslinya.

(54)

42

IV.2 Media Promosi

IV.2.1 Poster

Untuk media promosi buku cerita bergambar Hanoman ini, menggunakan poster sebagai media informasi telah terbitnya buku cerita bergambar Hanoman ini. Layout poster dibuat agar lebih fokus pada judul, objek buku dan karakter Hanoman agar dapat menarik rasa penasaran.

Ukuran dan kertas poster menggunakan artpaper (150 gr) A3 29,7 cm x 42 cm Karena mempunyai kualitas yang tidak gampang kotor dan kualitas warnanya terjaga. Warna cetak menggunakan CMYK Teknis cetak ofset sparasi. Media poster ini akan ditempatkan di tempat-tempat yang sering dilewati target, seperti daerah sekolah yaitu majalah dinding, tempat-tempat bimbingan belajar dan toko buku.

(55)

43

IV.2.2 Mini Flag

Ukuran mini flag\ yang digunakan adalah 15 cm x 8 cm di kertas berjenis

artpaper (260 gr), Teknis cetak digital laser printing.

Gambar IV.7: Mini Flag

IV.2.3 Mini X-Banner

Selain Poster Untuk media promosi buku cerita bergambar Hanoman ini, menggunakan mini X-Banner. Mini X-Banner ditempatkan di dekat display promosi bertujuan untuk menginformasikan pada pelanggan atau pembeli.

(56)

44

IV.3 Media Pendukung

IV.3.1 Poster

Disini poster berfungsi sebagai media pengingat dan praktis untuk ditempelkan dimana saja. Pada tiap pembelian media utama maka akan mendapatkan poster sebagai bonus.

(57)

45

IV.3.2 Pembatas Buku

Pembatas buku mempunyai desain hampir sama dengan Ilustrasi layout

cerita agar lebih mengingatkan pada produk media utama dan diberi beberapa ilustrasi karakter Ukuran 5 x 15 cm . Material Artpaper (250 gr). Teknis cetak print laser.

Gambar IV.10: Pembatas Buku

IV.3.3 Jadwal Pelajaran

Jadwal pelajaran mempunyai desain sederhana dengan menampilakan frame berbentuk daun dan menambahkan judul buku Hanoman. Material Artpaper

A4 21 cm x 29,7 cm(250 gr) dan Teknis cetak print laser.

(58)

46

IV.3.3 Stiker

Stiker di desain dengan menampilkan setiap karakter yang digambarkan atas bawah agar dapat dilihat dari dua sisi, Stiker bertujuan untuk mengingatkan setiap karakter pewayangan seperti Hanoman. Stiker berbentuk lingkaran dengan diameter 6 cm x 9 cm Material kertas sticker (150 gr). Teknis cetak print laser

sticker dan teknik laser cutting.

Gambar IV.11: Stiker

IV.3.4 Pin

Pin mempunyai desain hampir sama dengan stiker. Pin menampilkan setiap nama karakter. Desain pin bertujuan untuk mengingatkan konsumen akan karakter pewayangan yang ada dalam buku cerita bergamabar Hanoman. Pin berbentuk lingkaran dengan diameter 5,8 cm Material kertas sticker (150 gr). Teknis cetak print laser sticker dan teknik laser cutting.

Gambar

Gambar II.4. Diagram dari jawaban anak-anak mengenai  pertanyaan apakah kamu tahu
Gambar II.5. Target Market Anak usia 6-12 Tahun SD Sekeloa 1
Gambar III.1: Ukuran Buku
Gambar III.2: Contoh Layout Cerita Bergambar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penulis memilih RA Al-Mukarromah sebagai tempat praktek karena penulis ingin menambah salah satu sarana pembelajaran anak melalui buku cerita bergambar dengan tulisannya

Maka solusi yang ditawarkan adalah dibutuhkannya media informasi tentang sejarah Islam yang dikisahkan melalui sosok Sunan Gunung Jati, dibantu dengan visual- visual

Pada media stiker diambil bentuk dari jenis-jenis petasan dan karakter-karakter yang sedang menggunakan petasan dengan. tujuan yaitu mengingatkan dan berisikan pesan

Buku anak-anak Pandawa Lima sebagai pengenalan tokoh pewayangan yang dikemas dengan gaya gambar populer dan cerita yang bermoral, dengan konsep adaptasi dari pagelaran

Buku anak-anak Pandawa Lima sebagai pengenalan tokoh pewayangan yang dikemas dengan gaya gambar populer dan cerita yang bermoral, dengan konsep adaptasi dari pagelaran

Oleh sebab itu, komik wayang anak Pandawa diperlukan sebagai media untuk memahami filosofi kehidupan dalam cerita wayang dan karakter tokoh pewayangan sehingga mampu diserap

Buku anak-anak Pandawa Lima sebagai pengenalan tokoh pewayangan yang dikemas dengan gaya gambar populer dan cerita yang bermoral, dengan konsep adaptasi dari pagelaran

Alur cerita komik digital anti bulyying ChatGPT Berikut adalah contoh alur cerita untuk komik digital anti-bullying: Frame 1:  Tampilkan karakter utama Anak A yang berjalan