AGAMA PERSPEKTIF EMILE DURKHEIM
Skripsi
Disusun untuk memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Satu (S1)
dalam Ilmu Ushuluddin dan Filsafat
OLEH:
PRILIYA HAFIZA KENCANA
NIM : E22211054
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
ABSTRAK
Agama merupakan segenap kepercayaan yang disertai dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan yang berguna dalam mengontrol dorongan yang membawa masalah dan untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik. Di dunia ini setiap manusia pasti memiliki keyakinan yang dipercayainya dan hal itu sudah terjadi sejak zaman dahulu kala, maka dari itu bagaimana agama dari sejak zaman primitif, Emile Durkheim menelitinya dengan sangat rinci.
Di dalam agama sendiri pun terdapat beberapa hal penting berhubungan tentang sosialisasi antar individu dan pemeluk agama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Teknik pengumpulan datanya
menggunakan studi kepustakaan ataulibrary research.
Penelitian ini bertujuan menjelaskan agama dalam pandangan Emile Durkheim yang terfokuskan pada yang sakral dan yang profan dan menjelaskan alasan apa saja yang melatar belakangi konsep Emile Durkheim.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Kajian Pustaka ... 5
D. Penegasan Judul ... 7
E. Alasan Memilih Judul ... 8
F. Tujuan Yang Ingin Dicapai ... 9
G. Metode Penelitian ... 9
BAB II TEORI-TEORI TENTANG AGAMA ... 16
A. Teori Rasionalistik ... 16
B. Teori Linguistik ... 19
C. Teori Fenomenologi ... 20
D. Teori Transenden dan Imanen ... 22
E. Teori Asal-Usul Agama ... 26
BAB III PROFIL EMILE DURKHEIM ... 40
A. Riwayat Hidup ... 40
B. Latar Belakang Pemikiran ... 44
C. Karya-Karya ... 48
D. Tokoh-Tokoh dibalik Emile Durkheim ... 52
BAB IV KONSEP DASAR AGAMA EMILE DURKHEIM ... 69
A. Agama dalam Pendekatan Sosiologi ... 69
B. Agama : Sakral dan Profan ... 73
C. Agama : Totemisme ... 78
BAB V ANALISIS ... 83
A. Sakral dan Profan ... 83
B. Totemisme ... 86
BAB VI PENUTUP ... 94
A. Kesimpulan ... 94
B. Saran ... 95
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I
AGAMA DALAM PERSPEKTIF EMILE DURKHEIM
A. Latar Belakang Masalah
Pada konteks kehidupan beragama sehari-hari, terkadang sulit
untuk membedakan mana sesuatu yang murni agama dan hasil pemikiran
atau interpretasi dari agama. Sesuatu yang murni agama, berarti berasal
dari Tuhan, absolut dan mengandung nilai sakralitas. Hasil pemikiran
agama berarti berasal dari selain Tuhan (manusia), bersifat temporal,
berubah dan tidak sakral. Pada aspek realisasi, kadang mengalami
kesulitan membedakan keduanya karena terjadi tumpang-tindih dan terjadi
pencampur adukan makna antara agama dengan pemikiran agama, baik
sengaja atau tidak. Perkembangan selanjutnya, hasil pemikiran agama
kadang-kadang telah berubah menjadi agama itu sendiri, sehingga ia
disakralkan dan dianggap berdosa bagi yang berusaha merubahnya.
Apakah agama adalah kebudayaan atau agama bagian dari
kebudayaan ataukah dalam setiap kebudayaan, agama adalah bagian yang
paling berharga dari seluruh kehidupan sosial. Untuk itu perlu mencermati
konsep Emile Durkheim tentang agama, sebab pandangan agama baginya
tidak lepas dari argumentasinya tentang agama sebagai juga bagian dari
fakta sosial. Selain itu, Emile Durkheim telah melakukan riset dan refleksi
2
pemikiran genius dalam bidang sosiologi agama, sehingga ia menempati
posisi penting dan dipandang sebagai tokoh penting yang berperan dalam
perkembangan Sosiologi.1
Emile Durkheim dapat disebut sebagai bapak fase teori sosiologi
modern yang paling utama. Dengan karya-karyanya yang sekian banyak
artikel, monograf dan bahan-bahan kuliahnya (beberapa diantaranya
diterbitkan setelah dia meninggal). Emile Durkheim paling terkenal dan
bahkan merupakan figur utama dalam sejarah sosiologi modern dan juga
paling berpengaruh terhadap pemikiran-pemikiran antropologi. Posisi
berdirinya setara dengan Max Weber dan Sigmund Freud2 dalam
pemikiran sosiologi dan antropologi3 abad ke-20. Sosok Durkheim
dianggap sebagai ilmuwan pertama yang memperkenalkan konsep fungsi
sosial dari agama. Ide-idenya oleh para ahli sosiologi modern telah
digunakan untuk mendefinisikan fungsi-fungsi sosial agama, yaitu :
Fungsi solidaritas sosial, memberi arti hidup, control sosial, perubahan
sosial dan dukungan psikologi. Emile Durkheim membangun suatu
kerangka yang luas untuk analisis sistem sosial yang penting bagi
sosiologi serta sejumlah kedisiplinan yang berkaitan satu sama lain.
Salah satu buku yang paling istimewa karangan yang ditulis Emile
Durkheim adalah The Elementary Forms of Religious Life karena di
1
Peter Beliharz,Social Theory : A Guide to Central Thinkers,terj. Sigit Jatmiko, Teori-teori Sosial : Observasi Kritis Terhadap Para Filosof Terkemuka, (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2003).101.
2
Daniel L.,Dekonstruksi Kebenaran : Kritik Tujuh Teori Agama,terj. Ridhwan Muzir, M.Sykri, (Yogyakarta : Ircisod, 2001).137.
3
karangannya ini ia menempatkan Sosiologi agama dan teori
pengetahuannya di paling awal. Kemudian Durkheim juga
meneliti/menganalisis dimana dia memulai segalanya dari yang paling
primitif. Masyarakat biasanya melihat agama hanya menilik dari yang
sakralnya saja dan dia memisahkan antara yang sakral dengan yang profan
(bersifat umum) saja, namun Durkheim malah sebaliknya, dia melihat
sesuatu yang profan itu sebagai sesuatu yang sakral dan sangat istimewa
namun tetap mempertahankan esensial agama yang ada serta
mengungkapkan realitas sosialnya.
Durkheim berpandangan bahwa agama itu ada, tidak pernah
sekalipun Durkheim berfikir bahwa agama itu tidak ada, namun di sisi lain
dia tidak percaya dengan realitas supranatural yang telah menjadi pedoman
agama tersebut.4 Kemudian Durkheim juga berfikir bahwa sebenarnya
masyarakat hanya berpegang dengan masyarakat itu sendiri, dan
menganggap bahwa Tuhan hanya sebagai simbol atau formalitas yang
seharusnya berseberangan dari pemikiran itu.5Dan dengan kata lain adalah
masyarakat merupakan sumber dari segala kesakralan itu sendiri.
Dapat dipahami yang sakral berkaitan dengan hal-hal yang penuh
misteri baik yang sangat mengagumkan maupun yang sangat menakutkan.
Sebab bukan benda-benda itu sendiri yang merupakan tanda dari yang
sakral, tetapi justru berbagai sikap dan perasaan (manusianya) yang
memperkuat kesakralan benda-benda itu. Dengan demikian kesakralan
4
George Ritzar, Douglas J.Goodman,Teori Sosiologi,(Jakarta : Kreasi Warna, 1992).37
5
4
terwujud karena sikap mental yang didukung oleh perasaan. Perasaan
kagum itu sendiri sebagai emosi sakral yang paling nyata, adalah
gabungan antara pemujaan dan ketakutan. Perasaan kagum itu
menyebabkan daya tarik dari rasa cinta dan penolakan terhadap bahaya.
Demikian juga sebaliknya hal-hal yang biasa tidak mengandung misteri
atau mengagumkan di sebut sebagai profan.
David Emile Durkheim adalah seorang cerdas yang lahir di Prancis
bagian timur, Durkheim dari kecil dididik untuk menjadi seorang rabi,
menurut jejak ayahnya, namun pada kehidupan selanjutnya ia beralih
perhatian pada pendidikan, filsafat dan psikologi. Sewaktu Perancis kalah
perang dari Rusia, pengalaman ini sangat mengesnkan baginya dan inilah
yang menumbuhkan patriotisme dalam dirinya. Patriotisme bukan dalam
arti militer , melainkan kepekaan dan rasa prihatin terhadap dekadensi
yang melanda negaradan bangsa Perancis, terutama dalam bidang moral.
Filsuf yang sangat berpengaruh pada Durkheim adalah A. Comte.
Menurut Lukes, pengaruh Comte pada Durkheim bersifat fomatif. Unsur
yang paling penting adalah perluasan sikap ilmiah terhadap studi tentang
masyarakat, seperti ditulis oleh Durkheim dalam tesisnya tentang
sumbangan Montesqieue bagi lahirnya sosiologi.6
Di negara Perancis dalam masa hidup Durkheim ada dua teori
moral yang berlaku. Durkheim mengambil jalan tengah dan menghapus
jarak antara manusia dan alam, dan dengan itu memungkinkan penjelasan
6
5
tentang moral dan religi secara sosiologi.7 Ia setuju dengan kaum Idealis,
bahwa pengalaman moral ini tidak dapat dikembalikan (dipulangkan)
pada alam. Ia juga sependapat dengan aliran Naturalis dengan
menempatkan gejala-gejala kemanusiaan seperti kebudayaan,
pengetahuan, masyarakat, religi dan moral dalam dunia alam. Dalam
pandangan filsafatnya yang kedua yaitu realisme, Durkheim mengakui
masyarakat sebagai suatu kenyataan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana agama menurut Emile Durkheim?
2. Apa yang melatar belakangi pemikiran Emile Durkheim terkait dengan
agama?
C. Kajian Pustaka
Dalam pembahasan skripsi ini yang berjudul “Agama dalam
perspektif Emile Durkheim” penulis telah melakukan riset serta observasi
dalam rangka untuk memastikan bahwa judul skripsi tersebut diatas belum
dan tidak ada yang membahas sebelumnya, sehingga nantinya dapat
dipertanggung jawabkan, baik secara intelektual maupun moral. Selama
riset dan observasi yang penulis lakukan khususnya di perpustakaan
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, penulis berani membuat
7
Djuretna A. Imam Muhni,Moral dan Religi Menurut Emile Durkheim dan Henri Bergson,
6
kesimpulan bahwa, belum adanya tema dan judul serta focus pembahasan
yang serupa dengan penulis angkat.
Beberapa buku yang telah penulis survei ternyata ada beberapa
buku yang sudah berkesinambungan dengan teori agama dan kesakralan
Durkheim. Kebanyakan buku-buku yang telah dipublikasikan mengangkat
tentang pemikiran bahwa segala analisanya dimulai dari hal-hal yang
primitif dan pendapat Durkheim bahwasanya masyarakat merupakan
sumber dan dasar segala-galanya, yang didalamnya individu sama sekali
tidak mempunyai arti dan kedudukan dan religi adalah masyarakat yang
disakralkan. Religi itu imanen tidak berdasarkan wahyu Ilahi dan
berfungsi hanya sebagai penguat atau daya pertahanan yang sudah ada.
Beberapa dari buku-buku tersebut antara lain :
Djuretna A. Imam Muhni, Moral dan Religi menurut Emile
Durkheim dan Henri Bergson.8
Dalam buku ini dijelaskan tentang hasil penelitian dan kajian
ilmiah tentang moral dan religi menurut dua orang filsuf besar Perancis,
Emile Durkheim dan Henri Bergson. Kedua filsuf tersebut melihat betapa
pentingnya moral dan religi sebagai dasar kesejahteraan dan kebaikan
hidup bersama. Manusia dipandang sebagai individu anggota masyarakat
yang memiliki sosialibilitas dan tak mungkin hidup menyendiri. Kedua
filsuf ini melihat unsur kreatif dalam kehidupan religius. Bagi mereka,
akal (rasio) merupakan alat yang sangat berguna bagi kehidupan. Namun
8
Djuretna A. Imam Muhdi,Moral dan Religi Menurut Emile Durkheim dan Henri Bergson,
7
pengandalan pada rasio inilah yang akhirnya menunjukkan perbedaan
antara kedua filsuf tersebut dalam memandang moral dan religi.
Emile Durkheim,The Elementary Forms of the Religious Life.9
Dalam jurnal ini dijelaskan bahwasanya agama primitif tampak
lebih dapat membantu dalam menjelaskan hakekat religius manusia,
diabndingkan dengan bentuk agama lain yang datang setelahnya, sebab
agama primitif mampu memperlihatkan aspek kemanusiaan yang paling
fundamental dan permanen.
Brian Morris, Antropologi Agama: Kritik Teori-Teori Agama
Kontemporer.10
Di buku ini dijelaskan bahwasanya ada beberapa jenis ritual
kelompok yang tidak ada sama sekali keterkaitannya dengan unsur Tuhan
ataupun roh-roh. Dan agama tidak lebih dari sekedar gagasan tentang
Tuhan dan Roh, konsekuensinya agama tidak dapat didefinisikan
semata-mata dalam kaitannya dengan kedua hal tersebut.
Maka dari sini kemudian penulis dapat memastikan bahwa judul
yang penulis angkat merupakan orisinalitas dan belum ada satupun yang
pernah membahas tema yang menjadi fokus yaitu “Agama dalam
Perspektif Emile Durkheim”.
9
home.ku.edu.tr/~dyukseker/lecture-durkheim2-05.doc/TheElementary Forms of Religious,
(New York : Pree Press 1995), 1-3, diakses pada 12/02/2017
10
8
D. Penegasan Judul
Agama : Agama adalah suatu sistem keyakinan yang dianut
dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu
kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi
dan memberi tanggapan terhadap apa yang
dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci.11
Perspektif : Perspektif adalah sudut pandang, pandangan.12
Emile Durkheim : Emile Durkheim adalah salah satu pencetus
sosiologi modern yang berkebangsaan Perancis,
yang berhasil memperoleh kedudukan terhormat di
Paris menjadi professor di Sorbonne. Durkheim
menerbitkan karya besar yang berjudul “Bentuk
-bentuk Elementer dari Kehidupan Keagamaan”. Dia
juga menjelaskan keberadaan adanya
fungsionalisme.13
Jadi yang dimaksuddengan judul skripsi “Agama Perspektif Emile
Durkheim” adalah mengkaji teori tentang agama dan konsep tentang
kemurnian atau kesucian dalam pandangan Emile Durkheim.
E. Alasan Memilih Judul
11Parsudi Suparlan dalam Robertson, Roland (ed).,Agama : Dalam Analisis dan Interpretasi Sosiologis,(Jakarta : Rajawali, 1988).
12http://kbbi.web.id/perspektif. 24/11/2016
9
Adapun dasar yang melatar belakangi penulis mengangkat judul
diatas adalah sebagai berikut :
1. Bahwa Emile Durkheim merupakan orang pertama yang membangun
suatu kerangka yang luas untuk analisis sistem sosial yang penting
bagi sosiologi serta beranggapan bahwa masyarakat adalah satu
realitas yang bersifat sui generis, memiliki ciri-ciri khusus yang tidak
dapat ditemukan kesamaannya diseluruh mayapada ini.
2. Bahwa Emile Durkheim lah yang pertama kali menganalisis semua
teori dan memulai semuanya dari yang primitif.
3. Bahwa masyarakat biasanya melihat agama hanya menilik dari
sakralnya saja dan memisahkan antara yang sakral dan yang profan
(bersifat umum) saja, Durkheim berbeda, dia melihat sesuatu yang
profan itu sebagai sesuatu yang sakral dan sangat istimewa, namun
tetap mempertahankan esensial agama yang ada serta mengungkapkan
realitas sosialnya.
F. Tujuan Yang Ingin Dicapai
Sesuai dengan objek kajian dan rumusan masalah di atas, kajian ini
bertujuan untuk :
1. Untuk menjelaskan agama menurut pandangan Emile Durkheim.
2. Untuk menjelaskan alasan-alasan apa saja yang melatar belakangi
10
G. Metode Penelitian
Dalam penelitian perlu adanya metode atau jalan, karena kebenaran
itu hanya dapat diperoleh dengan jalan setapak demi setapak, dengan
analisa yang detil dan radikal (akar). Karena dengan demikian bila tercapai
hasilnya dalam ilmu pengetahuan itu merupakan urut-urutan demonstrasi
pembuktian tentang kebenaran mulai dari asas-asasnya yang telah
diketahui sedikit demi sedikit untuk mengetahui pengetahuan tentang hal
yang belum diketahui. Jadi metode adalah jalan yang dipakai untuk
mendapatkan pengetahuan ilmiah. Dan sebagai langkah awal penelitian
tentang Agama dalam Perspektif Emile Durkheim ini, dibutuhkan proses
penelitian yang komprehensif. Sehingga akan dihasilkan penelitian yang
maksimal dalam penyusunan skripsi ini. Untuk mencapai hasil yang
maksimal tersebut dibutuhkan sebuah metode dalam penelitian karya
ilmiah ini, yaitu :
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kepustakaan
dengan tahapan-tahapan guna mengetahui dan memahami
kebenarannya, yaitu : Pertama, melalui Interpretasi, data yang
dikumpulkan dari keterangan naskah, referensi, fakta atau peristiwa
sejarah ditangkap nilai, arti dan maksudnya melalui ekplorasi
kepustakaan (Library Research).14Kedua,koherensi intern yaitu, usaha
untuk memahami secara benar guna memperoleh hakikat dengan
14
11
menunjukkan semua unsur struktural dilihat dalam satu struktur yang
konsisten, sehingga merupakan internal struktural atau internal
relational.15 Ketiga, deskripsi analitis yaitu, seluruh hasil penelitian
harus dapat dideskripsikan. Deskripsi merupakan salah satu unsur
hakiki untuk menemukan ide dasar pada suatu kenyataan tertentu. Satu
usaha untuk mempresentasikan realitas yang diserap oleh panca indera,
yang diteruskan dengan satu analisa yang menyeluruh menyangkut
semua pemahaman yang ada.16
2. Sumber Data
Kajian ini bersifat kepustakaan (Library Research). Karena itu data
yang akan dihimpun merupakan data-data kepustakaan yang
representatif dan relevan dengan objek studi ini. Adapun sumber data
perlu dibedakan antara sumber primer dan sekunder. Dan buku-buku
sumber primernya yaitu buku yang ditulis oleh Emile Durkheim
sendiri.
Sedangkan sumber yang sekunder adalah majalah atau buku-buku
yang ditulis oleh orang lain yang membahas tentang Agama dalam
15
Anton Bakker, Achmad Charis Zubair,Metode Penelitian Filsafat,(Yogyakarta : Kanisius, 1990), 64.
12
Perspektif Emile Durkheim ditambah beberapa buku yang masih
berkesinambungan dengan persoalan tersebut, yaitu :
a. Peter Beliharz, Social Theory : A Guide to Central Thinkers, terj.
Sigit Jatmiko, Teori-teori Sosial : Observasi Kritis Terhadap Para
Filosof Terkemuka, (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2003).101.
b. Daniel L., Dekonstruksi Kebenaran : Kritik Tujuh Teori Agama,
terj. Ridhwan Muzir, M.Sykri, (Yogyakarta : Ircisod, 2001).137.
c. Talcott Parsons “Emile Durkheim” dalam D. I. Sills, e.d,
International Encyclopedia of The Social Seince, (New York :
Maemillah Publishing Co, Inc. and The Fress, 1978).311.
d. George Ritzar, Douglas J.Goodman, Teori Sosiologi, (Jakarta,
Kreasi Warna, 1992).37
e. Siahaan, Hotman M., Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori
Sosiologi, (Jakarta : Penerbit Erlangga).14
f. Djuretna A. Imam Muhni, Moral dan Religi menurut Emile
Durkheim dan Henri Bergson, (Yogyakarta, Kanisius 1994).28
g. Anton Bakker, Achmad Charris Zubair, Metode Penelitian
Filsafat,(Yogyakarta : Kanisius, 1990).
h. Parsudi Suparlan dalam Robertson, Roland (ed)., Agama : Dalam
Analisis dan Interpretasi Sosiologis,(Jakarta : Rajawali, 1988).
3. Metode Pengumpulan Data
Jenis penelitian ini adalahHistoris Factualmengenai tokoh beserta
13
kepustakaan yaitu data yang menyangkut dan membicarakan tentang
latar belakang kehidupan dan pemikiran Emile Durkheim khususnya
mengenai Agama dalam Perspektif Emile Durkheim. Penulis akan
menghimpun data-data yang meliputi biografi, kemudian
elemen-elemen yang mempengaruhi serta membentuk pemikiran Emile
Durkheim, data corak pemikirannya tentang agama.
Di samping itu pula penyelidikan yang mendalam mengenai situasi
yang mengitarinya, termasuk kondisi politik, budaya serta hal-hal yang
berkembang pada masanya. Dalam hal dimensi internal, termasuk latar
belakang hidup, pendidikan, evaluasi pemikiran dan paradigma piker
yang digunakan. Selanjutnya, data yang diperoleh diedit ulang, dilihat
kelengkapannya dengan diselingi pengurangan dan penambahan data
yang diselingi dengan klasifikasi data untuk memperoleh sistematika
pembahasan yang terdeskripsikan dengan rapi.
Untuk penggalian data, penulis menggunakan Library Research
(Studi Kepustakaan), yaitu mencari data mengenai hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah dan
sebagainya.17 Data-data yang diperoleh melalui studi ini lebih
spesifiknya berkisar tentang tema Agama dalam Perspektif Emile
Durkheim. Jadi, dalam pengambilan data hanya terfokus pada konsepsi
agama dari sudut pandang sang tokoh.
4. Analisa Data
17
14
Dalam penelitian yang berdasarkan Library Research (studi
pustaka), menggunakan pendekatan Content Analysis menjadi suatu
keharusan. Jadi data yang tersaji atau yang telah dikumpulkan,
diidentifikasi dengan interpretasi isi atau materi. Kemudian seluruh
hasil interpretasi dipetakan dalam sistematisasi deskriptif analitis.
Upaya yang dilakukan oleh metode Content Analysis mencakup :
Pertama, klarifikasi tanda-tanda yang dipakai dalam komunikasi.
Kedua, menggunakan kriteria sebagai dasar klasifikasi. Ketiga,
menggunakan tekhnik analisis sebagai dasar prediksi. Dalam
memberikan prediksi terdapat tiga syarat yaitu, objektivitas,
pendekatan sistematis dan generalisasi. Content Analysis sering
digunakan dalam penelitian kualitatif. George dan Kraucer
mengungkapkan bahwa Content Analysis kualitatif lebih mampu
menyajikan dan melukiskan prediksinya lebih baik.
Dalam penelitian ini penulis juga menggunakan metode lain seperti
halnya metode historis, yaitu masalah atau situasi aktual yang diteliti
harus ditempatkan dalam konteks historis, bagaimana muncul dan
berkembangnya. Dan metode deskripsi, yaitu seluruh hasil penelitian
harus dapat dideskripsikan atau dibahasakan, ada kesatuan mutlak
antara jiwa dan raga. Data yang dieksplisitkan memungkinkan dapat
dipahami secara mantap.18
H. Sistematika Pembahasan
15
Untuk memberikan sistematika pembahasan yang jelas maka pada
skripsi ini penulis mencoba menguraikan isi kajian pembahasan. Adapun
sistematika pembahasan skripsi ini terdiri dari lima bab dengan uraian
sebagai berikut :
Bab Pertama, Pendahuluan menguraikan secara spesifik mengenai
tentang gambaran umum dari latar belakang masalah yang berfungsi
sebagai pengantar dalam pemahaman pembahasan berikutnya. Pada bab
ini terdiri dari sub-sub bab yang meliputi : Latar Belakang Masalah,
Rumusan Masalah, Kajian Pustaka, Alasan Memilih Judul, Penegasan
Istilah, Tujuan Yang Ingin Dicapai, Sumber Data, Metodologi Penelitian
dan yang terakhir adalah Sistematika Pembahasan.
Bab Dua, Penjelasan tentang beberapa teori-teori agama diluar
pemikiran Emile Durkheim.
Bab Tiga, Penjelasan secara detail mengenai biografi yang
mencakup latar belakang kehidupan, latar belakang pemikiran yang
kemudian memunculkan teori tentang sakral dan profan, karya-karya
Emile Durkheim serta yang terakhir tokoh-tokoh yang ada dibalik semua
pemikiran Emile Durkheim.
Bab Empat, Penjelasan mengenai bagaimana konsep kesakralan
atau kesucian dalam agama tersebut, bagaimana agama dalam pendekatan
sosiologi serta agama totemisme.
Bab Lima, Analisa tujuan, berisi tentang keseluruhan pemikiran
16
Bab Enam, merupakan bab terakhir yang terdiri dari penutup atau
BAB II
TEORI-TEORI TENTANG AGAMA
A. Teori Rasionalistik
Teori ini diterapkan pada kajian agama mulai abad ke-19, secara
umum yang dimaksudkan dengan teori rasionalistik adalah keyakinan
ilmuwan bahwa manusia pra sejarah menjelaskan kepercayaan mereka
hamper dekat dengan cara ilmiah. Ketika ada budaya dan kepercayaan
suku bangsa lain atau zaman lain yang sangat berbeda dengan budaya
mereka, mereka memandang cara suku bangsa lain mendapatkan cara yang
sama dengan cara berfikir ilmiah yang mereka lakukan. Ketika ada budaya
dan kepercayaan suku bangsa lain atau zaman lain yang sangat berbeda
dengan budaya mereka, mereka memandang cara suku bangsa lain
mendapatkan hampir sama dengan cara berpikir ilmiah yang mereka
lakukan. Malefijt menyebutkan nama seperti: E. B. Tylor (1832-1917),
Herbert spencer (1820-1903), Andrew Lng (1844-1912), R. R. Marett
(1866-1943) dan Sir james George (1854-1941) sebagai ahli antropologi
yang punya kecenderungan rasionalistik (Malafijt 1968; 48-55) dan Tylor
(1832-1917).
Mengungkapkan konsep survival dalam studinya yang berarti
bahwa kepercayaan dan praktik-praktik yang dilakukan dalam suatu
kesusastraan merupakan survival atau kelanjutan perjuangan eksistensi
18
Habbits) yang sudah kehilangan makna dan tujuan. Agama adalah
konstruksi akal suku bangsa yang bersangkutan. Agama berasal dari
kepercayaan kepada jiwa dan ruh (soul and spirit) dalam diri manusia.
Kedua konsep ini berbeda. Satu material, satunya tidak material atau gaib.
Dikaitkan dengan teori survival, praktek keagamaan suatu masa
menurutnya tidak akan timbul agama apabila dikerjakan dengan hanya
konsep jiwa. Agama akan timbul karena adanya praktek ritual secara
bersama.
Max Weber mendefinisikan sosiologi sebagai studi tentang aksi
social. Sebagai studi aksi social, Weber banyak bicara mengenai hubungan
social dan motivasi, yang menurut Weber banyak dipengaruhi oleh
rasionalitas formal. Rasionalitas formal, meliputi proses berfikir actor
dalam membuat pilihan mengenai alat dan tujuan (Ritzer, 2005). Dalam
konteks ini, hubungan social berkaitan dengan motivasi dan rasionalitas
formal mengenal 3 sifat hubungan, yaitu :
- Hubungan social yang bersifat atau didasarkan pada tradisi, yaitu
hubungan social yang terbangun atas dasar kebiasaan/tradisi di
masyarakat.
- Hubungan social yang bersifat atau didasarkan pada koersif/tekanan.
Yaitu hubungan social yang terbangun dari rekayasa social dari pihak
yang memiliki otoritas (kekuasaan) terhadap powerless.
19
Menurut Max Weber, tindakan rasional adalah tindakan manusia
yang dapat mempengaruhi individu-individu lain dalam masyarakat.
Weber membagi tindakan rasional ini kepada empat jenis atau bentuk.
1. Tindakan rasional instrumental yaitu tindakan yang diarahkan
secara rasional untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2. Tindakan rasional nilai yaitu tindakan yang akan ditentukan
oleh pertimbangan-pertimbangan atas dasar keyakinan seorang
individu terhadap nilai-nilai estetika, etika atau keagamaan.
3. Tindakan emosional yaitu segala tindakan seseorang individu
yang akan dipengaruhi oleh perasaan dan emosi.
Jenis atau bentuk tindakan terakhir yang dinyatakan oleh Max
Weber ialah tindakan tradisional yaitu tindakan dimana seseorang akan
melakukan suatu tindakan hanya karena mengikuti amalan tradisi atau
kebiasaan yang telah berlaku.
Sebagai contoh dari teori rasionalistik ini adalah, seperti yang kita
ketahui bahwa teori rasional itu masuk akal, seperti halnya kita memotong
apel memakai pisau itu sangat masuk akal, bukan memotong apel
memakai sendok. Jika dalam agama akan berbeda ranah, karena agama
tidak rasio. Adanya kepercayaan kepada tanggalan primbon Jawa.1
1
20
B. Teori Linguistik
Penelitian Bahasa untuk mengetahui kaidah Bahasa pada manusia
dalam beragama, bisa berupa penyampaian wahyu, kajian ilmu dsb.
Antropologi linguistic yaitu ilmu yang mempelajari bahasa-bahasa.
Sebagai suatu ilmu pengetahuan, ilmu tentang Bahasa. Bahwa
bahasa-bahasa memegang peranan utama dalam perkembangan kebudayaan
manusia-bahasa, pada hakekatnya merupakan wahana utama untuk
meneruskan adat-istiadat dari generasi yang satu ke generasi berikutnya
maka antropologi makin bersandar pada ilmu-ilmu Bahasa.
Namun ada perbedaan karena berbeda dengan ahli-ahli Bahasa
lain, ahli-ahli bahasa antropologi sangat tertarik pada sejarah dan struktur
bahasa-bahasa yang tidak tertulis. Kajian terhadap agama secara ilmiah
dimulai sesudah kajian terhadap Bahasa mulai berkembang. Keduanya
punya persamaan sebagai gejala universal dari kehidupan manusia. Dua
bersaudara Jacob Grimm (1775-1863) dan Wilhem Grimm (1787-1859)
yang mmulai penggabungan kajian mitos dengan bahasa. Di seleaikan
dalam kitab Rig-veda yang di perkirakan di tulis dua abad sebelum
masehi. Keagamaan itu adalah derita rakyat modern yang semula adalah
mitos masalah yang di tambah,di kurang atau di korup.
Friedrich Max Muller (1823-1900) melanjutkan kajian agama
dengan teori linguistik. Dalam tulisanya tentang metodologi komparatif, ia
menyimpulkan bahwa mitos Yunani sebenarnya tidak di pahami oleh
21
Menurutnya, agama di dasarkan pada kepercayaan pada nyawa manusia,
dari membedakan antara orang yang hidup dan yang mati pada ada atau
tidak adanya nyawa (soul and mind) kemudian Muller menyimpulkan
bahwa hampir semua legenda dan cerita rakyat,bahkan sampai ke
peringatan hari natal dan tahun baru berasal dari mitos (solar myth).
(Malefijt 1968 ; 44-46).
Teori linguistik ini mempelajari timbulnya bahasa dengan
bagaimana terjadinya variasi dalam bahasa-bahasa selama jangka waktu
berabad-abad. Dari ilmu-ilmu bahasa dikenal sebagai ilmu bahasa
perbandingan atau ilmu bahasa sejarah. Bidang ilmu bahasa ini pada
umumnya disebut ilmu bahasa deskriptif, secara lebih terperinci lagi ilmu
mengenal konstruksi bahasa disebut ilmu bahasa struktural, sedangkan
ilmu yang mempelajari bagaimana bahasa dipergunakan dalam logat
sehari-hari disebut sosiolinguistik atau etnolinguistik.
Contoh dalam toeri linguistik ini dalam bahasa yang menyalurkan
kedalam budaya agama, seperti cerita rakyat Malin Kundang, yang dari
zaman dahulu sudah banyak dibicarakan dari mulut ke mulut, padahal
belum mengetahui kebenarannya. Dan begitu juga dengan khutbah,
apabila kita posisikan dengan pendekatan bisa menjadi kebudayaan. Dan
juga adanya kata “pamali” sebagai unsur larangan yang mempengaruhi
alam pikiran mereka, sehingga mereka takut untuk melakukannya.
22
Fenomenologi adalah seperangkat konsep yang berhubungan satu
sama lain secara logis membentuk sebuah kerangka pemikiran yang
berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan atau
masalah yang dihadapi.2
Fenomen berarti “sebagai yang di maksudkan atau diturunkan
sendiri, dengan demikian, teori fenomenologis adalah kajian terhadap
sesuatu menurut yang dikaji. Dalam hal ini masyarakat yang menjadi
objek penelitian dengan menggunakan pendekatan fenomenologis sedang
berusaha memahami symbol, kepercayaan atau ritual menurut yang
mereka pahami. Rudolf Otto (1869-1937).
Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu
gejala atau ilmu tentang gejala-gejala. Fenomenologi memberi tekanan
pada keperluan melukiskan gejala-gejala tanpa prasangka. Istilah
fenomenologi dipakai untuk pertama kali oleh J. H. Lambert (1728-1777),
yang menyebut fenomenologi sebagai sebuah penyelidikan kritis
mengenai hubungan antara sesuatu yang lepas dari pertimbangan dan
sesuatu sebagai akibat pengalaman kita. Jadi istilah fenomenologi
menggarisbawahi masalah yang khas manusia, yaitu masalah pengalaman.
Meski demikian, beberapa ahli memberikan batasan terhadap ilmu ini
sesuai dengan kecenderungan masing-masing, antara lain :
2
23
- Joachim Wach mendefinisikan Fenomenologi Agama sebagai “studi
yang sistematis, jadi bukan historis, mengenai gejala-gejala agama,
seperti do’a, imamat, sekte, dan lain-lain”
- Menurut Raffaele Pettazzoni, Fenomenologi Agama adalah ilmu yang
terutama bertugas menemukan beberapa struktur di dalam kebanyakan
gejala keagamaan.
- W.B. Kristensen mendefinisikan Fenomenologi Agama sebagai “ilmu
yang memakai pandangan yang membandingkan data-data keagamaan,
supaya mendapat dukungan baru untuk interpretasi mereka”
- Geo Widengren mendefinisikan Fenomenologi Agama sebagai ilmu
yang mengklasifikan semua gejala yang berbeda dalam agama dan
ilmu yang melukiskan agama dalam manifestasi yang berbeda dalam
kehidupan.
- Ake Hultkrantz meringkaskan definisi-definisi tersebut sebagai
berikut: Fenomenologi Agama adalah penelitian yang sistematis
mengenai bentuk-bentuk agama, yaitu bagian dari penelitian
keagamaan yang mengklasifikan dan mengkaji secara sistematis
konsep-konsep keagamaan, upacara-upacara keagamaan, tradisi-tradisi
mite dari segi pandangan yang morfologis dan tipologis.
D. Teori Transeden dan Imanen
Relasi Tuhan dengan manusia maupun alam merupakan fenomena
24
epistemologis menjadi sebuah keharusan. Tuhan dipahami dalam
perspektif antroposentris dengan titik tekan pada relasi antara Tuhan
dengan manusia dan alam. Relasi antara Tuhan dengan manusia
menimbulkan pemikiran-pemikiran yang secara filosofis cenderung
imanen, pada satu sisi, dan transenden, pada sisi yang lain, bahkan
menimbulkan pemikiran yang menganggap bahwa Tuhan itu imanen
sekaligus transenden. Transenden yaitu segala sesuatu yang di luar
kesanggupan manusia, luar biasa.3 Sedangkan imanen yaitu berada dalam
kesadaran atau dalam akal budi.4
Imanensi maupun transendensi merupakan paradigma
ontologis-metafisis di kalangan filosof maupun teolog dalam membahas relasi antara
manusia dengan Tuhan. Di sinilah terdapat benang merah relasi manusia
dan Tuhan dengan pendekatan fenomenologis yang dikenal dengan istilah
intensionalitas.5 Istilah ini merujuk bahwa manusia mempunyai
keterarahan dengan yang lain, termasuk Tuhan. Keterarahan manusia
kepada Tuhan merupakan suatu keniscayaan. Keterarahan ini semakin
jelas dalam pandangan Martin Buber sebagai wujud keterarahan aku
dengan Tuhan.
Martin Buber menganalogikan keterarahan manusia pada Tuhan
dengan keterarahan pada benda, yang disebut dengan istilah relasi Aku-Itu
dan Aku-Engkau. Menurut Martin Buber relasi Aku-Itu dan Aku-Engkau
3
Ebta Setiawan,Kamus Besar Bahasa Indonesia/arti-kata/transenden /
4
Ebta Setiawan,Kamus Besar Bahasa Indonesia/arti-kata/imanen/
5
25
merupakan cara untuk mewujudkan kesadaran Aku. Artinya, bahwa
kesadaran Aku bukan tunggal yang hanya ditentukan oleh subjek dirinya,
tetapi ditentukan oleh subjek lain (Aku lain) yang dinamakan engkau. Jadi
Engkau merupakan suatu dimensi baru meng-ada-kan Aku dalam
hubungannya dengan Aku lain. Karenanya, hanya dengan pertemuan
personal Aku-Engkau, Aku mengalami kesadaran dan kehadiran yang
nyata. Kehadiran Aku dan Engkau merupakan sisi dari proses menjadi
ADA. Berangkat dari hal ini, Martin Buber memandang manusia, yaitu
Aku selalu dalam relasi dialogis dengan benda-benda maupun dengan
sesame dan Tuhan. Relasi dialogis ini merupakan suatu keharusan dalam
perjumpaan dengan Engkau. Perjumpaan ini menyebabkan Aku menjadi
Ada karena Engkau, sebagaimana ucapannya, “Aku membutuhkan Engkau
untuk menjadi Ada, Aku Ada, karena Aku berkata Engkau.”6
Pada akhirnya kesadaran yang terdapat pada Aku sebagai inti
kepribadian manusia merupakan aktivitas jiwa. Sehingga, kesadaran atau
suara hati merupakan aspek etis yang menempatkan roh sebagai bentuk
yang paling tinggi dari semua itu dan dianggap sebagai jendela jiwa yang
terarah pada Allah.7 Karena itu, dibalik kesadaran manusia terdapat
sesuatu yang turut beraktivitas dalam kehidupan sehingga membawa
manusia pada yang mutlak, yaitu Roh. Keterarahan pada yang Mutlak itu
6
Martin Buber,I and Thou, (Edinburgh, 1970), 54/5
7
26
merupakan sesuatu yang diberi untuk manusia karena Allah merupakan
ide mutlak manusia, sebagaimana teori Plato dan Descrates.8
Relasi keduanya yang melahirkan konsep imanensi dan
transendensi ini dalam perkembangan berikutnya menimbulkan
faham-faham ketuhanan yang menjadi perdebatan di antara paham-paham
tersebut. Tuhan dianggap sebagai imanen sekaligus transenden bagi
penganut teisme; Tuhan dianggap sebagai transenden terhadap alam dan
manusia bagi kaum deisme. Tuhan dianggap sebagai yang imanen bagi
kaum panteisme. Di samping itu, ada juga yang pesimis bahwa akal
manusia bisa menjangkau Tuhan sebagaimana kaum agnostisisme.
Relasi Tuhan dengan manusia dan alam yang dikonsepsikan para
teolog yang cenderung spiritualis-monistik beranggapan bahwa peleburan
dalam relasi tersebut akan melenyapkan eksistensi manusia dan alam
sebagaimana menjadi pegangan kaum panteisme. Sementara itu,
dikalangan masyarakat modern yang rasional melalui pendekatan
epistemologis beranggapan bahwa peleburan dalam relasi tersebut tidaklah
menghilangkan eksistensi manusia dan alam, tetapi justru semakin
mengeksiskan manusia. Ini adalah anggapan kaum panenteisme.
Persepsi panenteisme mengenai Tuhan ini menjadi fenomena baru
masyarakat modern karena paham ini tidak menafikan kemampuan dan
kebebasan manusia. Fenomena ini berangkat dari pemahaman
epistemologis filosofis tentang eksistensi Tuhan relevansinya dengan
8
27
pengetahuan ilmiah sehingga paham ini masih menghargai pengetahuan
ilmiah dalam memahami Tuhan. Pengetahuan ilmiah menjadi perangkat
metodologis dalam memahami eksistensi Tuhan. Tuhan tidak hanya
dipandang dalam perspektif teologis saja. Eksistensi Tuhan menjadi
perdebatan yang panjang antara panteisme dengan panenteisme mengenai
relasi yang disertai dengan peleburan manusia dengan Tuhan.
E. Teori Asal Usul Agama
Teori-teori terpenting tentang asal mula dan inti religi. Masalah
asal mula dan inti dari suatu unsur universal seperti religi atau agama itu,
tegasnya masalah mengapakah manusia percaya kepada suatu kekuatan
yang dianggap lebih tinggi daripadanya, dan masalah mengapakah
manusia melakukan berbagai hal dengan cara-cara yang beraneka warna
untuk mencari hubungan dengan kekuatan-kekuatan tadi, telah menjadi
objek perhatian para ahli pikir sejak lama. Adapun mengenai soal itu ada
berbagai pendirian dan teori yang berbeda-beda. Teori-teori yang
terpenting adalah :
a. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi
karena manusia mulai sadar akan adanya faham jiwa.
b. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi
karena manusia mengakui adanya banyak gejala yang tidak dapat
28
c. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi
dengan maksud untuk menghadapi krisis-krisis yang ada dalam jangka
waktu hidup manusia.
d. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi terjadi karena
kejadian-kejadian yang luar biasa dalam hidupnya, dan dalam alam
sekelilingnya.
e. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi terjadi karena
suatu getaran atau emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai
akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai warga masyarakatnya.
f. Teori bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi terjadi karena
manusia mendapat suatu firman dari Tuhan.
a. Teori Jiwa
“Teori Jiwa”, pada mulanya berasal dari seorang sarjana
antropologi Inggris, E.B.Tylor, dan diajukan dalam kitabnya yang terkenal
berjudul Primitive Cultures (1873). Menurut Tylor, asal mula agama
adalah kesadaran manusia akan faham jiwa. Kesadaran akan faham itu
disebabkan karena dua hal, ialah :
a. Perbedaan yang tampak kepada manusia antara hal-hal yang
hidup dan hal-hal yang mati. Suatu makhluk pada suatu saat
bergerak-gerak, artinya hidup; tetapi tak lama kemudian makhluk tadi tak bergerak
lagi, artinya mati. Demikian manusia lambat laun mulai sadar bahwa gerak
dalam alam itu, atau hidup itu, disebabkan oleh suatu hal yang ada di
29
b. Peristiwa mimpi. Dalam mimpinya manusia melihat dirinya di
tempattempat lain daripada tempat tidurnya. Demikian manusia mulai
membedakan antara tubuh jasmaninya yang ada di tempat tidur, dan suatu
bagian lain dari dirinya yang pergi ke lain tempat. Bagian lain itulah yang
disebut jiwa.
Sifat abstrak dari jiwa tadi menimbulkan keyakinan di antara
manusia bahwa jiwa dapat hidup langsung, lepas dari tubuh jasmani. Pada
waktu hidup, jiwa masih tersangkut kepada tubuh jasmani, dan hanya
dapat meninggalkan tubuh waktu manusia tidur dan waktu manusia jatuh
pingsan. Karena pada suatu saat serupa itu kekuatan hidup pergi melayang,
maka tubuh berada di dalam keadaan yang lemah. Tetapi kata Tylor,
walaupun melayang, hubungan jiwa dengan jasmani pada saat-saat seperti
tidur atau pingsan, tetap ada. Hanya pada waktu seorang makhluk manusia
mati, jiwa melayang terlepas, dan terputuslah hubungan dengan tubuh
jasmani untuk selama-lamanya. Hal itu tampak dannyata, kalau tubuh
jasmani sudah hancur berubah debu di dalam tanah atau hilang berganti
abu di dalam api upacara pembakaran mayat; maka jiwa yang telah
merdeka terlepas dari jasmaninya itu dapat berbuat semau-maunya. Alam
semesta penuh dengan jiwa-jiwa merdeka itu, yang oleh Tylor tidak
disebut soul atau jiwa lagi, tetapi disebut spirit atau mahluk halus.
Demikian pikiran manusia telah mentransformasikan kesadarannya akan
30
Pada tingkat tertua di dalam evolusi religinya manusia percaya
bahwa mahluk-mahluk halus itulah yang menempati alam sekeliling
tempat tinggal manusia. Makhluk-makhluk halus tadi, yang tinggal dekat
sekeliling tempat tinggal manusia, yang bertubuh halus sehingga tidak
dapat tertangkap panca indera manusia, yang mampu berbuat hal-hal yang
tak dapat diperbuat manusia, mendapat suatu tempat yang amat penting di
dalam kehidupan manusia sehingga menjadi obyek daripada
penghormatan dan penyembahannya, dengan berbagai upacara berupa doa,
sajian, atau korban. Agama serupa itulah yang disebut oleh Tylor animism.
Pada tingkat kedua di dalam evolusi agama, manusia percaya
bahwa gerak alam hidup itu juga disebabkan oleh adanya jiwa yang ada di
belakang peristiwa dan gejala alam itu. Sungai-sungai yang mengalir dan
terjun dari gunung ke laut, gunung yang meletus, gempa bumi yang
merusak, angin taufan yang menderu, jalannya matahari di angkasa,
tumbuhnya tumbuh-tumbuhan dan sebagainya, semuanya disebabkan oleh
jiwa alam. Kemudian jiwa alam tadi itu dipersonifikasikan, dianggap oleh
manusia seperti makhluk-makhluk dengan suatu pribadi, dengan kemauan
dan pikiran. Makhluk-makhluk halus yang ada di belakang gerak alam
serupa itu disebut dewa-dewa alam.
Pada tingkat ketiga di dalam evolusi religi, bersama-sama dengan
timbulnya susunan kenegaraan di dalam masyarakat manusia, timbul pula
kepercayaan bahwa alam dewa-dewa itu juga hidup di dalam suatu
31
Demikian ada pula suatu susunan pangkat dewa-dewa mulai dari raja dewa
sebagai yang tertinggi, sampai pada dewa-dewa yang terendah. Suatu
susunan serupa itu lambat laun akan menimbulkan suatu kesadaran bahwa
semua dewa itu pada hakekatnya hanya merupakan penjelmaan saja dari
satu dewa yang tertinggi itu. Akibat dari kepercayaan itu adalah
berkembangnya kepercayaan kepada satu Tuhan yang Esa, dan timbulnya
agama-agama monotheisme.9
b. Teori Batas Akal
Teori Batas Akal”, berasal dari sarjana besar J.G. Frazer, dan
diuraikan olehnya dalam jilid I dari bukunya yang terdiri dari 12 jilid
berjudul The Golden Bough (1890). Menurut Frazer, manusia
memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya;
tetapi akal dan sistem pengetahuan itu ada batasnya. Makin maju
kebudayaan manusia, makin luas batas akal itu; tetapi dalam banyak
kebudayaan, batas akal manusia masih amat sempit. Soal-soal hidup yang
tak dapat dipecahkan dengan akal dipecahkannya dengan magic, ialah
ilmu gaib. Magic menurut Frazer adalah segala perbuatan manusia
(termasuk abstraksi-abstraksi dari perbuatan) untuk mencapai suatu
maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada dalam alam, serta seluruh
kompleks anggapan yang ada di belakangnya. Pada mulanya kata Frazer,
manusia hanya mempergunakan ilmu gaib untuk memecahkan soal
hidupnya yang ada di luar batas kemampuan dan pengetahuan akalnya.
9
32
Agama waktu itu belum ada dalam kebudayaan manusia. Lambat laun
terbukti bahwa banyak dari perbuatan magicnya itu tidak ada hasilnya
juga, maka mulailah ia percaya bahwa alam itu didiami oleh
mahluk-mahluk halus yang lebih berkuasa daripadanya, maka mulailah ia mencari
hubungan dengan makhluk-makhluk halus yang mendiami alam itu.
Demikianlah timbul agama.
Menurut Frazer memang ada suatu perbedaan yang besar di antara
magic dan religion. Magic adalah segala sistem perbuatan dan sikap
manusia untuk mencapai suatu maksud dengan menguasai dan
mempergunakan kekuatan dan hukum-hukum gaib yang ada di dalam
alam. Sebaliknya, religion adalah segala sistem perbuatan manusia untuk
mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan diri kepada kemauan
dan kekuasaan makhluk-makhluk halus seperti ruh, dewa dsb., yang
menempati alam. Kecuali menguraikan pendiriannya tentang dasar-dasar
religi, Frazer juga membuat dalam karangannya The Golden Bough
tersebut, suatu klarifikasi daripada segala macam perbuatan ilmu gaib
kepercayaan dalam beberapa tipe ilmu gaib.10
c. Teori Krisis dalam Hidup Individu
Pandangan ini berasal antara lain dari sarjana-sarjana seperti M.
Crawley dalam bukunya Tree of Life (1905), dan diuraikan secara luas
oleh A. Van Gennep dalam bukunya yang terkenal, Rites de Passages
(1909). Menurut sarjana-sarjana tersebut, dalam jangka waktu hidupnya
10
33
manusia mengalami banyak krisis yang menjadi obyek perhatiannya, dan
yang sering amat menakutinya. Betapapun bahagianya hidup orang, ia
selalu harus ingat akan kemungkinan-kemungkinan timbulnya krisis dalam
hidupnya. Krisis-krisis itu yang terutama berupa bencana-bencana sakit
dan maut, tak dapat dikuasainya dengan segala kepandaian, kekuasaan,
atau kekayaan harta benda yang mungkin dimilikinya. Dalam jangka
waktu hidup manusia, ada berbagai masa di mana kemungkinan adanya
sakit dan maut itu besar sekali, yaitu misalnya pada masa kanak-kanak,
masa peralihan dari usia muda ke dewasa, masa hamil, masa kelahiran,
dan akhirnya maut. Dalam hal menghadapi masa krisis serupa itu manusia
butuh melakukan perbuatan untuk memperteguh imannya dan menguatkan
dirinya. Perbuatan-perbuatan serupa itu, yang berupa upacara-upacara
pada masa-masa krisis tadi itulah yang merupakan pangkal dari agama dan
bentuk-bentuk agama yang tertua.11
d. Teori Kekuatan Luar Biasa
Pendirian ini, yang untuk mudahnya akan kita sebut “Teori
Kekuatan Luar Biasa”, terutama diajukan oleh sarjana antropologi bangsa
Inggris, R.R. Marett dalam bukunya The Threshold of Religion (1909).
Sarjana ini mulai menguraikan teorinya dengan suatu kecaman terhadap
anggapan-anggapan Tylor mengenai timbulnya kesadaran manusia
terhadap jiwa. Menurut Marett kesadaran tersebut adalah hal yang bersifat
terlampau kompleks bagi pikiran makhluk manusia yang baru ada pada
11
34
tingkat-tingkat permulaan dari kehidupannya di muka bumi ini. Sebagai
lanjutan dari kecamannya terhadap teori animisme Tylor itu, maka Marett
mengajukan sebuah anggapan baru. Katanya, pangkal dari segala kelakuan
keagamaan ditimbulkan karena suatu perasaan rendah terhadap
gejalagejala dan peristiwa-peristiwa yang dianggap sebagai biasa di dalam
kehidupan manusia. Alam tempat gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa itu
berasal, dan yang dianggap oleh manusia dahulu sebagai tempat adanya
kekuatan-kekuatan yang melebihi kekuatan-kekuatan yang telah dikenal
manusia di dalam alam sekelilingnya, disebut Supernatural. Gejala-gejala,
hal-hal, dan peristiwa-peristiwa yang luar biasa itu dianggap akibat dari
suatu kekuatan supernatural, atau kekuatan luar biasa, atau kekuatan sakti.
Adapun kepercayaan kepada suatu kekuatan sakti yang ada dalam
gejala-gejala, hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang luar biasa tadi,
dianggap oleh Marett suatu kepercayaan yang ada pada makhluk manusia
sebelum ia percaya kepada makhluk halus dan ruh; dengan kata lain,
sebelum ada kepercayaan animisme. Itulah sebabnya bentuk agama yang
diuraikan Marett itu sering disebut praeanimisme.12
e. Teori Sentimen Kemasyarakatan
“Teori Sentimen Kemasyarakatan”, berasal dari seorang sarjana
ilmu filsafat dan sosiologi bangsa Perancis bernama E. Durkheim, dan
diuraikan olehnya dalam bukunya Les Formes Elementaires de la Vie
Religieuse (1912). Durkheim yang juga menjadi amat terkenal dalam
12
35
kalangan ilmu antropologi budaya, pada pangkalnya mempunyai suatu
celaan terhadap Tylor, serupa dengan celaan Marett tersebut di atas. Beliau
beranggapan bahwa alam pikiran manusia pada masa permulaan
perkembangan kebudayaannya itu belum dapat menyadari suatu faham
abstrak “jiwa”, sebagai suatu substansi yang berbeda dari jasmani.
Kemudian Durkheim juga berpendirian bahwa manusia pada masa itu
belum dapat menyadari faham abstrak yang lain seperti perubahan dari
jiwa menjadi ruh apabila jiwa itu telah terlepas dari jasmani yang mati.
Celaan terhadap teori animisme Tylor itu termaktub dalam permulaan
buku Les Formes Elementaires de la Vie Religieuse, tempat beliau
mengumumkan suatu teori yang baru tentang dasar-dasar agama yang
sama sekali berbeda dengan teori-teori yang pernah dikembangkan oleh
para sarjana sebelumnya. Teori itu berpusat kepada beberapa pengertian
dasar, ialah :
a. Makhluk manusia pada waktu ia pertama kali timbul di muka
bumi, mengembangkan aktivitas religi itu bukan karena ia mempunyai
bayangan-bayangan abstrak tentang jiwa atau roh dalam alam pikirannya,
yaitu suatu kekuatan yang menyebabkan hidup dan gerak di dalam alam,
melainkan karena suatu getaran jiwa, suatu emosi keagamaan, yang timbul
di dalam alam jiwa manusia dahulu, karena pengaruh suatu rasa sentimen
kemasyarakatan.
b. Sentimen kemasyarakatan itu dalam batin manusia dahulu
36
rasa cinta dan sebagainya terhadap masyarakatnya sendiri, yang
merupakan seluruh alam dunia di mana ia hidup.
c. Sentimen kemasyarakatan yang menyebabkan timbulnya emosi
keagamaan, yang sebaliknya merupakan pangkal daripada segala kelakuan
keagamaan manusia itu, tentu tidak selalu berkobar-kobar dalam alam
batinnya. Apabila tidak dipelihara, maka sentimen kemasyarakatan itu
menjadi lemah dan latent, sehingga perlu dikobarkan kembali. Salah satu
cara untuk mengobarkan kembali sentimen kemasyarakatan adalah dengan
mengadakan suatu kontraksi masyarakat artinya dengan mengumpulkan
seluruh masyarakat dalam pertemuan-pertemuan raksasa.
d. Emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentimen
kemasyarakatan, membutuhkan suatu obyek tujuan. Sifat apakah yang
menyebabkan barang sesuatu hal itu menjadi obyek daripada emosi
keagamaan bukan terutama sifat luar biasanya, bukan pula sifat anehnya,
bukan sifat megahnya, bukan sifat ajaibnya, melainkan tekanan anggapan
umum dalam masyarakat. Obyek itu ada karena salah satu peristiwa
kebetulan dalam sejarah kehidupan sesuatu masyarakat di masa lampau
menarik perhatian banyak orang di dalam masyarakat. Obyek yang
menjadi tujuan emosi keagamaan itu juga mempunyai obyek yang bersifat
keramat, bersifat sacre, berlawanan dengan obyek lain yang tidak
mendapat nilai keagamaan (ritual value) itu, ialah obyek yang tak-keramat,
37
e. Obyek keramat sebenarnya tidak lain daripada suatu lambang
masyarakat. Pada suku-suku bangsa asli benua Australia misalnya, obyek
keramat, pusat tujuan daripada sentimen-sentimen kemasyarakatan, sering
berupa sejenis binatang, tumbuh-tumbuhan, tetapi sering juga obyek
keramat itu berupa benda. Oleh para sarjana obyek keramat itu disebut
totem. Totem itu (jenis binatang atau obyek lain) mengonkretkan prinsip
totem yang ada di belakangnya, dan prinsip totem itu adalah suatu
kelompok tertentu di dalam masyarakat, berupa clan atau lain.
Pendirian-pendirian tersebut pertama di atas, ialah emosi
keagamaan dan sentimen kemasyarakatan, adalah menurut Durkheim,
pengertian-pengertian dasar yang merupakan inti atau essence daripada
tiap religi, sedangkan ketiga pengertian lainnya ialah kontraksi
masyarakat, kesadaran akan obyek keramat berlawanan dengan obyek
takkeramat, dan totem sebagai lambang masyarakat, bermaksud
memelihara kehidupan daripada inti. Kontraksi masyarakat, obyek
keramat dan totem akan menjelmakan (a) upacara, (b) kepercayaan dan (c)
mitologi. Ketiga unsur tersebut terakhir ini menentukan bentuk lahir
daripada sesuatu religi di dalam sesuatu masyarakat yang tertentu.
Susunan tiap masyarakat dari beribu-ribu suku bangsa di muka
38
religi yang perbedaan-perbedaannya tampak lahir pada upacara-upacara,
kepercayaan dan mitologinya.13
f. Teori Wahyu Tuhan
“Teori Firman Tuhan”, pada mulanya berasal dari seorang sarjana
antropologi bangsa Austria bernama W. Schmidt. Sebelum Schmidt
sebenarnya ada sarjana lain yang pernah mengajukan juga pendirian
tersebut. Sarjana lain ini adalah seorang ahli kesusasteraan bangsa Inggris
bernama A. Lang.
Sebagai ahli kesusasteraan, Lang telah banyak membaca tentang
kesusasteraan rakyat dari banyak suku bangsa di dunia. Di dalam
dongengdongeng itu, Lang sering mendapatkan adanya seorang tokoh
dewa yang oleh suku-suku bangsa bersangkutan dianggap dewa tertinggi,
pencipta seluruh alam semesta serta isinya, dan penjaga ketertiban alam
dan kesusilaan. Kepercayaan kepada seorang tokoh dewa serupa itu
menurut Lang terutama tampak pada suku-suku bangsa yang amat rendah
tingkat kebudayaannya, dan yang hidup dari berburu atau meramu, ialah
misalnya suku-suku bangsa berburu di daerah Gurun Kalahari di Afrika
Selatan, yang biasanya disebut orang Bushman, suku-suku bangsa
penduduk asli benua Australia, suku-suku bangsa Negrito di daerah hutan
rimba di Kamerun dan Kongo, Afrika Tengah, penduduk kepulauan
Andaman, penduduk pegunungan Tengah di Irian Timur, dan juga
beberapa suku bangsa penduduk asli benua Amerika Utara. Berbagai hal
13
39
membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak timbul sebagai akibat pengaruh
agama Nasrani atau Islam, maka kepercayaan tadi malahan tampak
seolah-olah terdesak ke belakang oleh kepercayaan kepada makhluk-makhluk
halus, dewa-dewa alam, ruh, hantu, dan sebagainya. A. Lang
berkesimpulan bahwa kepercayaan kepada dewa tertinggi adalah suatu
kepercayaan yang sudah amat tua, dan mungkin merupakan bentuk religi
manusia yang tertua. Adapun pendiriannya itu diumumkannya dalam
beberapa karangan, antara lain dalam buku yang berjudul The Making of
Religion(1898).
Anggapan A. Lang terurai di atas, tak lama kemudian diolah lebih
lanjut oleh W.Schmidt. Tokoh besar dalam kalangan ilmu antropologi ini
adalah guru besar pada suatu perguruan tinggi yang pusatnya mula-mula di
Austria, kemudian di Swiss, untuk mendidik calon-calon pendeta penyiar
agama Khatolik dari organisasi Societas Verbi Divini. Di dalam suatu
kedudukan serupa itu maka mudah dapat dimengerti bagaimana anggapan
akan adanya kepercayaan kepada dewa-dewa tertinggi di alam jiwa
bangsa-bangsa yang masih amat rendah tingkat kebudayaannya, adalah
suatu anggapan yang amat cocok dengan dasar-dasar cara berpikir W.
Schmidt dan juga dengan filsafatnya sebagai sorang pendeta agama
Khatolik. Di dalam hubungan itu beliau percaya bahwa agama itu berasal
dari titah Tuhan yang diturunkan kepada makhluk manusia pada masa
permulaan ia muncul di muka bumi ini. Karena itulah adanya tanda-tanda
40
bangsabangsa yang paling rendah tingkat kebudayaanya (artinya yang
paling tua menurut Schmidt), memperkuat anggapannya mengenai adanya
titah Tuhan asli, atau Uroffenbarung itu. Demikianlah kepercayaan yang
asli dan bersih kepada Tuhan, atau kepercayaan Urmonotheismus tadi itu
malahan ada pada bangsa-bangsa yang tua yang hidup pada zaman ketika
tingkat kebudayaan manusia masih rendah. Di dalam zaman kemudian,
ketika makin maju kebudayaan manusia, maka makin kaburlah
kepercayaan asli terhadap Tuhan; makin banyak kebutuhan manusia,
makin terdesaklah kepercayaan asli itu oleh pemujaan kepada
makhluk-mahluk halus, ruh, dewa, dan sebagainya. Anggapan Schmidt sebagaimana
diuraikan di atas dianut oleh beberapa orang sarjana yang untuk sebagian
besar bekerja sebagai penyiar agama Nasrani dari organisasi Societas
Verbi Divini. Di samping menjalankan tugas sebagai penyiar agama
Nasrani di dalam berbagai daerah di muka bumi, mereka melakukan
penelitian-penelitian antropologi budaya berdasarkan atas
anggapan-anggapan pokok daripada guru mereka. Demikian antara lain,
sarjana-sarjana itu mencari di dalam kebudayaankebudayaan di daerah mereka
masing-masing akan adanya tanda-tanda suatu kepercayaan kepada dewa
tertinggi.14
14
BAB III
PROFIL EMILE DURKHEIM
A. Riwayat Hidup
Durkheim, dilahirkan pada tanggal 15 April 1858 di kota Epinal
provinsi Lorraine dekat Strasbourg, daerah Timur Laut Perancis.1 Ia
merupakan seorang jenius dalam tokoh Sosiologi yang memperbaiki
metode berpikir Sosiologis yang tidak hanya berdasarkan
pemikiran-pemikiran logika Filosofis tetapi Sosiologi akan menjadi suatu ilmu
pengetahuan yang benar apabila mengangkat gejala social sebagai
fakta-fakta yang dapat diobservasi. Dia dilahirkan dalam keluarga agamis,
namun pada usia belasan tahun minat terhadap agama lebih akademis
daripada teologis. Ayahnya seorang pendeta Yahudi, Durkheim kala itu
sebagai seorang pemuda sangat dipengaruhi oleh guru-guru sekolahnya
yang beragama Katolik Roma, walaupun ayahnya adalah seorang pendeta
Yahudi. Mungkin pengaruh inilah yang menambah keterikatannya
terhadap masalah agama, meskipun guru-gurunya sendiri tidak dapat
menjadikannya sebagai seorang penganut Katolik yang beriman.
Mengapa begitu? Sebab sejak muda Durkheim telah menyatakan
dirinya sebagai seorang agnostik. Agnostik adalah merupakan kelompok
yang ragu atas keberadaan Tuhan, mereka tidak bisa secara pasti
1
42
mengatakan bahwa mereka percaya atau tidak percaya akan keberadaan
Tuhan. Agnostik percaya bahwa seseorang tidak dapat menentukan apakah
Tuhan itu ada atau tidak, sehingga memilih menjalani kehidupan sesuai
dengan seperangkat keyakinan terlepas dari kepercayaan mengenai ada
atau tidaknya Tuhan. Mereka merasa bahwa mengetahui Tuhan ada satu
tidak bukanlah suatu hal yang penting.2
Tentu saja, sikap ini bersimpangan dan kontras dengan ayahnya
dan apa yang telah dipelajarinya dari guru-guru Katoliknya sejak muda.
Pada akhirnya Durkheim dikenal sebagai seorang Atheis yang kuat dan
selalu bersifat Agnostik yaitu seorang yang tidak pernah mempersoalkan
kebenaran keyakinan masyarakat yang sedang ditelitinya.
Minat Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik.
Kekalahan Perancis dalam perang Perancis-Prusia telah memberikan
pukulan terhadap pemerintahan republikan yang sekuler. Banyak orang
menganggap pendekatan Katolik, dan sangat nasionalistik sebagai jalan
satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan Perancis yang
memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis, berada
dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya
secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya
sebagai seorang aktivis.
Pada usia 21 tahun, Durkheim memasuki sekolah terkenal diEcole
Normale Superieure di Paris setelah sebelumnya gagal dalam ujian
2Faza Maula Azif,Layak Tidaknya Seorang yang tidak Beragama Hidup di Negeri dengan
43
pertamanya dan kemudian mengambil studi Sejarah dan Filsafat. Di
Universitas tersebut dia merupakan mahasiswa yang serius dan kritis,
kemudian pemikiran Durkheim dipengaruhi oleh dua orang professor di
Universitasnya itu (Fustel De Coulanges dan Emile Boutroux).
Sebenarnya, pada dasarnya Durkheim tidak suka dengan program
pendidikan yang kaku. Dan sikap inilah yang menyebabkan selama belajar
di Paris selalu tidak menyenangkan.
Setelah ia menamatkan pendidikan di Ecole ormale Superieure,
Durkheim mengajar pelajaran Filsafat di salah satu sekolah menengah atas
Lycees Louis-Le-Grand di Paris pada tahun 1882-1887. Kemudian ia juga
sempat pergi ke Jerman untuk mendalami Psikologi kepada Wilhelm
Wundt. Kemudian masih pada tahun 1887 (29 tahun) disamping
prestasinya sebagai pengajar dan pembuat artikel dia juga berhasil
mencetuskan Sosiologi sebagai disiplin ilmu yang sah di bidang akademik
karena prestasinya itu ia diangkat sebagai ahli ilmu Sosial di Fakultas
Pendidikan dan Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Bourdeaux.
Ia diberi posisi sebagai ilmuwan Sosial dan Pendidikan terutama
dalam penelitian sosialnya. Kemudian Durkheim menetap di Jerman
sampai lima belas tahun di Bordeaux, Durkheim telah menghasilkan tiga
karya besar yang diterbitkan dalam bentuk buku, tahun 1893 Durkheim
menerbitkan tesis doktoralnya dalam bahasa Perancis yaituThe Division of
Labour in Societydan tesisnya dalam bahasa Latin tentang Montesqouieu.
44
Sociological Method. Tahun 1896 diangkat menjadi profesor penuh untuk
pertama kalinya di Perancis dalam bidang ilmu Sosial. Tahun 1897
menerbitkan buku ketiganya yang berjudul Suicide (Le-Suicide) dan pada
saat yang sama pula Durkheim dan beberapa sarjana lainnya bergabung
untuk mendirikan L’Anee Sociologique (sebuah jurnal ilmiah pertama
yang memuat artikel-artikel tentang Sosiologi) yang kemudian menjadi
terkenal di seluruh dunia.3
Pada tahun 1902 Durkheim, diangkat sebagai professor Sosiologi dan
Pendidikan di Universitas Sorbonne, Paris. Perhatian dan minat Durkheim
terhadap agama yang pengaruhnya terhadap kehidupan social, diwujudkan dalam
sebuah karyanya yang berjudul Les Formes Elementaires de Lavie Relegieuse :
Le Systeme Totemique En Australie(1912). Buku ini diterjemahkan dalam bahasa
Inggris oleh Joseph Ward Swain menjadi The Elementary of the Religious Life
(1915). Dalam buku ini mencoba menemukan elemen-elemen dasar yang
membentuk semua agama.4 Oleh karena itu, Durkheim mengemukakan klaim
utamanya tentang arti penting teori agama dan pengaruh utama klaim ini pada
pemikir-pemikir lainnya secara panjang lebar yang tertuang dalam karya besar
tersebut.
Pada Perang Dunia I, mengakibatkan pengaruh yang tragis terhadap
hidup Durkheim. Pandangan kiri Durkheim selalu patriotik dan bukan
internasionalis ia mengusahakan bentuk kehidupan Perancis yang sekuler,
rasional. Tetapi datangnya perang dan propaganda nasionalis yang tidak
3
Sigit Jatmiko, 2003,Teori-teori Sosial: Observasi Kritik Terhadap Para Filosof Terkemuka, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 101.
4