• Tidak ada hasil yang ditemukan

Provinsi Lampung - Pemerintah Provinsi Lampung BAB III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Provinsi Lampung - Pemerintah Provinsi Lampung BAB III"

Copied!
173
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

83

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

Akuntabilitas Kinerja dalam LKj Provinsi Lampung tidak terlepas dari rangkaian mekanisme fungsi perencanaan yang sudah berjalan mulai dari RPJMD, Renstra SKPD, RKPD ataupun RKT dan Perjanjian Kinerja Pemerintah Provinsi Lampung. Dalam pelaksanaan pembangunan Pemerintah Provinsi Lampung sebagaimana fungsi actuating, dari berbagai piranti perencanaan yang sudah dibuat tersebut, hingga sampai pada saat pertanggungjawaban pelaksanaan pembangunan yang mengerahkan seluruh sumber daya manajemen pendukungnya.

Pertanggungjawaban kinerja pelaksanaan pembangunan sifatnya terukur, terdapat standar pengukuran antara yang diukur dengan piranti pengukurannya. Pertanggungjawaban pengukuran yang diukur adalah kegiatan, program dan sasaran yang prosesnya adalah sejauh mana ketiga komponentersebut dilaksanakan selaras dan sinergi dengan berbagai piranti perencanaan yang telah dibuat. Piranti pengukurannya berupa Pengukuran Kinerja (atau sebelum Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 disebut dengan Pengukuran PencapaianSasaran untuk mengukur sasaran).

Adapun pengukuran kinerja dilakukan dengan caramembandingkan target setiap Indikator Kinerja Sasaran dengan realisasinya. Setelah dilakukan penghitungan akan diketahui selisih atau celah kinerja (performance gap). Selanjutnya berdasarkan selisih Kinerja tersebut dilakukan evaluasi guna mendapatkan strategi yang tepat untuk peningkatan kinerja di masa yang akan datang (performance improvement).

(2)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

84 Dalam memberikan klasifikasi penilaiantingkat capaian kinerja setiap sasaran berpedoman pada Permendagri No. 54 tahun 2010 dengan menggunakan skala penilaian terhadap kinerja pemerintahdibagi 4 (empat) kategori dapat dilihat pada tabel 3.1 sebagai berikut :

Tabel 3.1 Skala Pengukuran Capaian Sasaran Kinerja Tahun 2015

No. Interval Nilai

Realisasi Kinerja

Kriteria Penilaian

Realisasi Kinerja Kode

1. 91  Sangat Tinggi

2. 76  90 Tinggi

3. 66  75 Sedang

4. 51  65 Rendah

5.  50 Sangat Rendah

Sumber: Permendagri No. 54 Tahun 2010

3.1 CAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA TAHUN 2015

Pengukuran target kinerja dari sasaran strategis yang telah ditetapkan akan dilakukan dengan membandingkan antara target kinerja dengan realisasi kinerja. Kriteria penilaian yang diuraikan dalam tabel 3.2 selanjutnya akan dipergunakan untuk mengukur kinerja Pemda Lampung untuk tahun 2015. Pencapaian IKU Gubernur tahun 2015 secara ringkas ditunjukkan oleh tabel berikut ini:

Tabel 3.2 Tabel Pencapaian IKU Gubernur Tahun 2015

No Indikator Capaian 2014

2015 Target

Akhir RPJMD

(2019)

Capaian s/d 2015 terhadap 2019 Target Realisasi %

Realisasi

1 Pertumbuhan Ekonomi

5,08 6,00-6,35 5,13 85,50 7,00-7,50 73,29

2 Indeks Gini 0,35 0,33 0.33 100 0,32 93,93

3 PDRB atas dasar harga berlaku

231.008.426 245.330.948 253.162.538,30 103,19 318.996.62 9

79,36

4 PDRB atas dasar harga konstan

189.809.458 ,54

201.577.645 199.525.419,80 98,98 262.203.722 76,10

5 PDRB per kapita (berlaku)

28,78 30,63 31,19 101,83 39,45 79,06

6 Laju pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, perikanan

3,39 3,69 3,66 99,18 4,48 81,69

7 Nilai Tukar Petani (NTP)

104,38 103,53 103,17 99,65 104,84 98,41

(3)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

85

Nelayan (NTN)

9 Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi

83,4 84,1 84,1 100 86,20 97,56

10 Laju pertumbuhan sektor industri pengolahan

4,51 7,48 7,48 100 7,46 100,27

11 Laju pertumbuhan sektor

perdagangan

5,98 2 1,98 99,00 5,24 37,79

12 Pertumbuhan ekspor

-9,49 6 17,4 290,00 6,70 259,70

13 Jumlah koperasi aktif

2.903 2.945 2.760 93,72 3.250 84,92

14 Jumlah UMKM 375.425 375.425 382.425 101,82 414.398 92,28

15 Laju pertumbuhan investasi (PMTDB) atas dasar harga berlaku

5,66 9,94 7,24 72,83 14,56 49,73

16 Jumlah wisatawan nusantara

4.327.188 4.759.950 5.530.803 116,19 7.155.495 77,29

17 Jumlah wisatawan mancanegara

95.528 105.081 114.907 109,35 153.914 74,66

18 Pertumbuhan PAD 2,20 2,64 2,55 94,81 14,87 17,15

19 Kemantapan jalan provinsi

65,05 65,00 67,02 103,11 85,00 78,85

20 Tingkat

kesesuaian antara RTRW Provinsi Lampung dengan penataan ruang

Sesuai Sesuai Sesuai 99,10 Sesuai 99,10

21 Kondisi jaringan irigrasi dan bangunan pelengkap yang terpelihara

65 65 100 85 76,47

22 Pembangunan

embung dan bangunan

penampungan air lainnya dari kebutuhan yang akan dibangun

12 12 100 20 60

23 Tingkat Rumah Tangga yang Memiliki Akses Masyarakat

(4)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

86

Terhadap Air Minum Layak

24 Tingkat Kawasan Permukiman

27 Laju pertumbuhan sektor

pertambangan

2,06 4,20 203,88 2,50 168

28 Rasio elektrifikasi rumah tangga

78 74,16 80,46 108,50 83,47 96,39

29 Angka melek huruf

95,60 96 99,88 104,04 98 101,92

30 Angka Partisipasi Kasar (APK)

32 Angka Partisipasi Murni (APM)

34 Angka rata-rata lama sekolah

41 Angka Kematian Bayi (AKB) per

(5)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

87

1000 lahir hidup

42 Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 kelahiran hidup

81 341 95,46 172,01 309 169,11

43 Prevalensi Balita Kurang Gizi

18,8 18,44 15,64 117,90 17,00 169,11

44 Angka Penemuan Kasus TB (semua tipe yg

dilaporkan)/Case Notification Rate)

91 99 99 100 154 64,29

45 Angka Kesakitan Positif Malaria (API)

0,40 0,35 0,43 77,14 0,10 (-)230,00

46 Prevalensi HIV AIDS per 100 penduduk usia > dari 15 tahun

0,04 0,49 0,01 198,58 0,49 198,58

47 Angka Kesakitan DBD

50 Jumlah sanggar kesenian

903 494 54,70 960 51,46

51 Persentase penduduk miskin

14,28 13,53 14,35 93,93 11,10 70,72

52 Indeks kedalaman kemiskinan

2,23 2,095 2,36 87,39 1,40 31,43

53 Indeks keparahan kemiskinan

(6)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

88

transmigrasi ke luar Lampung

59 Fasilitas yang dibangun di kawasan KTM sebagai embrio pusat

pertumbuhan ekonomi baru

- 3 3 100 6 50

60 Jumlah SKPD Provinsi yang mengimplementas ikan anggaran responsif gender

- 3,6 5,45 151,3 36,4 10

61 Perempuan keluarga miskin pedesaan

25 kelom pok

450 450 100 130 29,41

62 Jumlah Kab/Kota layak anak se-Provinsi Lampung

1 1 1 100 3 33,3

63 Penanganan kasus perempuan dan anak

22 75 95 126,7 200 47,5

64 Peringkat pekan olahraga prestasi nasional

2 8 8 100 5 40

65 Kelompok pemuda yang dilatih sebagai kader

kewirausahaan

20 35 20 57,14 35 57,14

66 Rasio tempat peribadatan per jumlah penduduk

1:291 1 : 293 99,31 1:303 96,69

67 Jumlah Rumusan Kebijakan (policy

paper)

pembangunan daerah yang aplikatif

- 9 9 100 40 22,5

68 Jumlah

Kabupaten dan Kota di Provinsi Lampung yang telah melakukan sinkronisasi dan koordinasi

(7)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

72 Luas rehabilitasi hutan dan lahan termasuk mangrove

66.705 84.014 86.364 102,80 175.770 18,03

73 Jumlah Raperda dan Pergub yang

75 Hasil Evaluasi Kinerja Pemerintah Provinsi Lampung

CC CC CC 100 BB 33,33

76 Hasil evaluasi Laporan

(8)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

90 80 Konsistensi antar

dokumen perencanaan

100 100 100 100 100 100

81 Indeks kepuasan masyarakat (skala 1-10)

6,23 6,23 100 7,00 89,00

82 Akreditasi kelembagaan Badan Diklat

- B B 100 A 50

83 Indeks demokrasi 63,13 71,88 71,62 99,63 73,50 97,44

Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2016 Catatan:

Untuk indikator ke-66, 75, 76, 77 dan 83 merupakan capaian kinerja tahun 2014, karena realisasi kinerja tahun 2015 baru bisa dilihat pada triwulan 3 dan 4 tahun 2016.

Dari 83 Indikator Kinerja Sasaran yang merupakan Indikator Kinerja Utama (IKU)Pemerintah Provinsi Lampung pada tahun 2015, 56 indikator menunjukkan

capaian 100% atau lebih. Tingkat ketercapaian ini menunjukkan pelaksanaan

urusan yang terkait dicapai melalui dukungan penganggaran dan kerja keras seluruh stakeholder dalam mendukung capaian sejumlah indikator tersebut. Untuk sejumlah target IKU Provinsi Lampung yang tingkat pencapaiannya belum mencapai 100% pada tahun 2015, masih diperlukan upaya kinerja yang lebih keras, fokus, dan terarah; dengan pertimbangan sejumlah analisa yang mempengaruhi. Sedangkan, 27 indikator kinerja sasaran yang lainnya memiliki capaian 54,70% sampai dengan 99,65%.

Berdasarkan skala nilai peringkat kinerja pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 terdapat 73 indikator menunjukkan capaian sangat

tinggi, 5 indikator menunjukkan capaian yang tinggi, 3 indikator dengan capaian

sedang dan hanya 2 indikator yang capaiannya masih rendah.

Sementara apabila dilihat dalam kerangka triwulan, perbandingan antara rencana dan realisasi kinerja untuk seluruh sasaran dapat dilihat pada tabel 3.3 sebagai berikut:

Tabel 3.3 Realisasi dan Capaian Kinerja IKU Gubernur Tahun 2015 Per Triwulan

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target

Tahunan Triwulan Target Realisasi Persentase 1 Peningkatan pertumbuhan

dan kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB Provinsi Lampung

Pertumbuhan

Ekonomi Persen 6,00-6,35

Triwulan I 6,00-6,35 4,91 81,83 Triwulan II 6,00-6,35 5,06 84,33 Triwulan III 6,00-6,35 5,22 87,00 Triwulan IV 6,00-6,35 5,33 88,83

Indeks Gini Koefisien 0,33

(9)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

91 berlaku Triwulan II 264.111.510 63.690.462,30 24,11

Triwulan III 264.111.510 66.902.442,90 25,33 Triwulan IV 264.111.510 61.783.753,10 23,39

PDRB atas dasar harga

konstan Juta Rp 201.577. 645

Triwulan I 244.917.027 48.609.466,90 19,85 Triwulan II 244.917.027 50.644.354,30 20,68 Triwulan III 244.917.027 52.327.007,00 21,37 Triwulan IV 244.917.027 47.944.591,70 19,58

PDRB per kapita 2 Terpenuhinya kebutuhan

pangan per kapita kontribusi sektor industri pengolahan terhadap perdagangan pada PDRB Provinsi

Laju pertumbuhan

sektor perdagangan Persen 2

Triwulan I 2 5,32 266,00 Triwulan II 2 (1,19) (59,50) Triwulan III 2 0,23 11,50 Triwulan IV 2 3,94 197,00

Pertumbuhan ekspor Persen 6

Triwulan I 6 2,96 49,33 Triwulan II 6 2,61 43,50 Triwulan III 6 0,83 13,83 Triwulan IV 6 (0,14) 2,33 5 Meningkatnya peran

koperasi dan UMKM dalam

perekonomian daerah Jumlah koperasi aktif Unit 2.945

Triwulan I 736 500 67,93 Triwulan III 375.425 97.243 103,61 Triwulan IV 375.425 97.632 104,02 7 Berkembangnya kontribusi

pariwisata pada perekonomian daerah

Jumlah wisatawan

nusantara 4.759.950

Triwulan I 889.635 1.033.707 116,19 Triwulan II 1.152.384 1.339.007 116,19 Triwulan III 1.341.830 1.559.133 116,19 Triwulan IV 1.376.102 1.598.955 116,19

Jumlah wisatawan

mancanegara Orang 105.081

Triwulan I 24.694 27.003 109,35 Triwulan II 26.459 28.934 109,35 Triwulan III 25.587 27.980 109,35 Triwulan IV 28.340 30.990 109,35 8 Peningkatan pendapatan

asli daerah (PAD)

Pertumbuhan PAD Persen 2,64

Triwulan I 25 19,15 76,60 dan sarana transportasi yang handal, terintegritas dengan system transportasi nasional untuk mendukung pergerakan orang dan barang

Kemantapan jalan

provinsi Persen 65,00

Triwulan I 65,00 65,05 100,08 nasional, provinsi dan

(10)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 11 Tersedianya sumberdaya

air yang handal dan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga (domestik), pertanian (irigasi), industry dan untuk berbagai keperluan lainnya baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang

Kondisi jaringan sarana dan prasarana dasar pemukiman (mencakup persampahan, air bersih, air limbah)

Tingkat Rumah Tangga

Permukiman Kumuh Persen 2,11

Triwulan I 16,67 0 0 13 Meningkatnya cakupan

pelayanan dan kualitas infrastruktur energy dan ketenagalistrikan di Provinsi Lampung

Laju pertumbuhan

sektor pertambangan Persen 2,06

Triwulan I 2,06 2,87 139,32 Triwulan II 2,06 8,08 392,23 Triwulan III 2,06 6,32 306,79 Triwulan IV 2,06 (0,16) (7,76)

Rasio elektrifikasi

rumah tangga Persen 74,16

Triwulan I 74,16 80,46 108,50 Triwulan II 74,16 80,46 108,50 Triwulan III 74,16 80,46 108,50 Triwulan IV 74,16 80,46 108,50 14 Meningkatnya angka

melek huruf Angka melek huruf

Persen 96

tahun Angka Partisipasi Kasar (APK)

Angka Kelulusan Persen 100

Triwulan I 0 0 0

16 Meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat ke jenjang menengah dan

tinggi APK SMA/SMK/MA/

Paket C Persen 70

Triwulan I 0 0 0

Triwulan II 0 0 0

Triwulan III 0 0 0

(11)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

masyarakat Angka harapan hidup Tahun 69,75

Triwulan I 69,75 70 100,36 yg dilaporkan)/ Case Notification Rate)

per 100 penduduk usia > dari 15 tahun 18 Terinternalisasinya

nilai-nilai budaya dan kearifan lokal

Cagar budaya dan aset daerah yang bernilai

pengunjung museum Persen 137.987

Triwulan I 32.101 32.101 100 Triwulan II 55.932 55.932 100 Triwulan III 13.859 13.859 100 Triwulan IV 36.095 36.095 100

Jumlah sanggar

kesenian Sanggar 903

Triwulan I 0 0 0

Triwulan II 0 0 0

Triwulan III 0 0 0

Triwulan IV 903 494 54,71 19 Meningkatnya pelayanan

kesejahteraan dan rehabilitasi bagi tuna sosial

Persentase penduduk

kemiskinan Persen 2,095

Triwulan I - - -

Triwulan II - - -

Triwulan III - - -

Triwulan IV 2,095 2,357 87,49

Indeks keparahan

kemiskinan Persen 0,47

Triwulan I - - - 20 Meningkatnya kualitas dan

perlindungan terhadap

tenaga kerja Rasio ketergantungan Persen 52,55

Triwulan I - - -

Triwulan II - - -

Triwulan III - - -

Triwulan IV 52,55 71,97 63,04

Tingkat partisipasi

angkatan kerja Persen 65,75

(12)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

22 Meningkatnya indeks pembangunan dan

miskin pedesaan Orang 450

Triwulan I 450 450 100 24 Meningkatnya peran

pemuda dan prestasi

25 Meningkatnya kualitas

kehidupan beragama Rasio tempat peribadatan per pemerintahan daerah yang efisien dan efektif melalui perumusan kebijakan serta perlindungan dan konservasi SDA. 28 Peningkatan upaya

adaptasi dan mitigasi perubahan iklim

29 Peningkatan manfaat kawasan hutan Provinsi Lampung dari aspek 30 Terciptanya keadilan,

kepastian dan kemanfaatan hukum di masyarakat 31 Meningkatnya kinerja

pemerintahan ditandai 32 Meningkatnya kapasitas

(13)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

95 pemerintahan yang bersih

dan bebas KKN

34 Meningkatnya kinerja pelayanan publik yang memuaskan masyarakat dan kualitas pelayanan yang merata 35 Meningkatnya kualitas

kehidupan berdemokrasi dengan proses demokrasi yang menghargai kebebasan, persamaan, keadilan dalam kerangka supremasi hukum.

Indeks demokrasi Skala 71,88 Triwulan I - Triwulan II -

Triwulan III 71,88 71,62 99,63

Triwulan IV 71,88 71,62 99,63

Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2016

Beberapa IKU yang diuraikan di atas, penetapan target dan pengukuran realisasi triwulan dilakukan dengan menggunakan proxy indicator karena karakter indicator yang spesifik, termasuk tentang metode pengukuran indikator. Indikator yang dimaksud dan penjelasan mengapa dipergunakan proxy indicator

adalah sebagaiberikut:

1. Sebagian indikator merupakan indikator pada level outcome, dimana pelaksanaan kegiatan pada tahun berjalan, belum tentu akan berkontribusi pada pencapaian target kinerja IKU secara langsung, seperti IKU yang pertama.

(14)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

96 penduduk, Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Hasil Evaluasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD), Opini Pemeriksaan BPK, Indeks kepuasan masyarakat dan Indeks demokrasi.

Proxy indicator yang dipakai adalah pencapaian indikator yang menjadi penyumbang IKU. Pencapaian kinerja tahun 2015 dibandingkan dengan target kinerjanya, Target RPJMD dan Perjanjian Kinerja Tahun 2016, ditunjukkan tabel 3.4 berikut ini.

Tabel 3.4 Kinerja dan Realisasi Pencapaian IKU Tahun 2015

No Sasaran

Strategis Indikator Kinerja Satuan

2015 2016

Target Capaian Realisasi Target

(RPJMD) PK

Pertumbuhan Ekonomi Persen 6,00-6,35 5,13 85,50 6,35-6,50 6,35-6,50

Indeks Gini Koefisien 0,33 0,33 100 0,33 0,33

PDRB atas dasar harga

berlaku Juta Rp 245.330.948 253.162.538,30 103,19 261.081.194 261.081.194

PDRB atas dasar harga

konstan Juta Rp 201.577.645 199.525.419,80 98,98 241.539.088 241.539.088

PDRB per kapita (berlaku) Juta Rp 30,63 31,19 101,83 32,82 32,82

Laju pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, perikanan

Persen 3,69 3,66 99,18 4,16 4,16

Nilai Tukar Petani (NTP) Indeks

Harga 103,53 103,17 99,65 103,84 103,84

Nilai Tukar Nelayan (NTN) Indeks

Harga 113,72 105,86 93,09 113,86 113,86

Skor Pola Pangan Harapan

(PPH) Konsumsi Persen 84,1 84,1 100 86,2 86,2

(15)
(16)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

98 sekolah

Angka Kelulusan Persen 100 100 100 100 100 Angka melanjutkan SMP -

PT Persen 80 79,23 99,04 85,00 85,00

Angka melanjutkan SMA -

PT Persen 55 72.06 131,02 60,00 60,00

Angka Kematian Ibu (AKI) Per 100.000 Prevalensi HIV AIDS per

100 penduduk usia > dari 15 tahun

Persen 0,49 0,01 198,58 0,49 0,49

Angka Kesakitan DBD Per 100.000

Pddk 50 38,51 122,98 49 49

18 Terinter-nalisa sinya nilai-nilai budaya dan kearifan lokal

Cagar budaya dan aset daerah yang bernilai budaya yang diperlihara

1.576 1.576 100 1.891 1.891

Peningkatan jumlah

pengunjung museum 137.987 137.987 100 150.000 150.000 Jumlah sanggar kesenian Sanggar 903 494 52,52 916 915

Rasio ketergantungan Persen 52,55 71,97 63,04 46,51 46,51 Tingkat partisipasi

Fasilitas yang dibangun di kawasan KTM sebagai berbasis Riset dan Iptek

Policy Paper

(17)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG Kota di Provinsi Lampung yang telah melakukan

Kelas status mutu sungai

utama dan waduk besar Status D D 100 C C

Penyelesaian Kasus Tanah Kasus/

Tahun 6 6 100 6 6 Tugas SKPD Sesuai Aspek Pembinaan dan

(18)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

100

3.2 EVALUASI DAN ANALISIS CAPAIAN KINERJA

Bagian ini akan menguraikan evaluasi dan analisis capaian kinerja yang menjelaskan capaian kinerja secara umum sebagaimana sudah diuraikan dalam subbab sebelumnya. Penyajian untuk sub bab ini akan disajikan per sasaran strategis. Beberapa sasaran strategis yang terkait digabungkan menjadi satu dalam analisis ini.

1. Sasaran Peningkatan Pertumbuhan dan Kontribusi Terhadap PDRB Provinsi

Lampung

Tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketimpangan pembangunan daerah yang dijabarkan dalam sasaran peningkatan pertumbuhan dan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Provinsi Lampung didukung 8 (delapan) indikator sebagaimana tabel 3.5 berikut :

Tabel 3.5 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Peningkatan pertumbuhan dan kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB Provinsi Lampung

No Indikator Capaian 2014

2015 Target

Akhir RPJMD

(2019)

Capaian s/d 2015 terhadap 2019 Target Realisasi %

Realisasi

1 Pertumbuhan Ekonomi

5,08 6,00-6,35 5,13 85,50 7,00-7,50 73,29

2 Indeks Gini 0,35 0,33 0,33 100 0,32 96,87

3 PDRB atas dasar harga berlaku

231.008.426 245.330.948 253.162.538,30 103,19 318.996.629 79,36

4 PDRB atas dasar harga konstan

189.809.458,54 201.577.645 199.525.419,80 98,98 262.203.722 76,10

5 PDRB per kapita (berlaku)

28,78 30,63 31,19 101,83 39,45 79,06

6 Laju

pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, perikanan

3,39 3,69 3,66 99,18 4,48 26,56

7 Nilai Tukar Petani (NTP)

103,16 103,53 103,17 99,65 104,84 98,41

8 Nilai Tukar Nelayan (NTN)

111,7 113,72 105,86 93,09 114,29 92,62

Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2016

(19)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

101 persen dan diatas angka pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh sebesar 4,73% dan secara spasial berada pada posisi ke empat(4) di Sumatera setelah Kepualauan Riau, Sumatera Barat dan Bengkulu.

Grafik 3.1

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi-Provinsi se Sumatera Tahun 2015

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2016

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan serta Informasi dan Komunikasi sebesar 11,67 persen dan 10,84 persen. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Luar Negeri sebesar 17,40 persen, diikuti oleh pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 13,06 persen dan pengeluaran konsumsi lembaga non profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 7,05 persen.

Pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga, seiring dengan terjaganya daya beli masyarakat dan terkendalinya inflasi. Investasi juga tumbuh moderat, meskipun ekspor luar negeri Lampung mengalami penurunan dan impor juga mengalami kontraksi. Penurunan ekspor disebabkan oleh perlambatan ekonomi Negara-negara tujuan ekspor.

(20)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

102 Ekonomi Lampung triwulan IV tahun 2015 bila dibandingkan triwulan IV tahun 2014 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,33 persen menguat bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4, 69 persen.

Ekonomi Lampung triwulan IV tahun 2015 mengalami kontraksi 8,38 persen bila dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q). Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang mengalami kontraksi 28,81 persen. Dari sisi pengeluaran disebabkan oleh penurunan ekspor luar negeri dan pengeluaran konsumsi rumah tangga. Laju pertumbuhan sektor Pertanian, Kehutanan, Perikanan tahun 2015 sebesar 3,66 persen meningkat dibandingkan tahun 2014 sebesar 3.39 persen.

Grafik 3.2

Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung, Sumatera dan Nasional

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2016.

Salah satu indikator yang menjadi penanda ketimpangan pendapatan adalah indeks gini. Besarnya Indeks Gini berkisar antara 0 dan 1. Semakin mendekati 0 artinya distribusi pendapatan semakin merata. Sebaliknya, semakin mendekati 1 artinya distribusi pendapatan semakin tidak merata.

Penurunan indeks gini yang berhasil dicapai tahun 2015 mencapai 100% dari target 0,33 atau memiliki capaian sangat tinggi. Dibandingkan dengan target akhir RPJMD, capaian ini mencapai 97,87% dari target indeks gini sebesar 0,32.

6,49

6,26

5,73

5,06

4,79 6,19

5,82

5,27

4,66 6,43

6,53

5,97

5,08 5,13

0 1 2 3 4 5 6 7

2011 2012 2013 2014 2015

Nasional

Sumatera

(21)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

103 Apabila dilihat dari sisi disparitas pendapatan penduduk di Provinsi Lampung dilihat dari angka Indeks Gini Rasio, ketimpangan pendapatan semakin rendah dari 0,36 pada tahun 2013 menjadi 0,33 pada tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa angka kesenjangan pendapatan semakin mengecil (pendapatan masyarakat semakin merata).

Grafik 3.3

Indeks Gini Provinsi Lampung Tahun 2010 – 2014

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, 2016.

Capaian nilai tukar petani (NTP) tahun 2015 sebesar 99,65% dari yang ditargetkan sebesar 103,53 mampu terealisasi sebesar 103,17. Hal ini menunjukkan bahwa capaian kinerja masuk kategori sangat tinggi dan mampu menyumbang sebesar 98,41% pada capaian target RPJMD 2019.

NTP merupakan indikator outcome penting untuk menilai keberhasilan pelaksanaan pembangunan pertanian dan ketahanan pangan di daerah. Dalam rangka mewujudkan target peningkatan produksi 1 juta ton GKG pada tahun 2016, maka pada tahun 2015 telah dilakukan :

a. Gerakan pengembangan pengelolaan tanaman terpadu (GP-PTT) seluas 1.000 Ha

b. Bantuan Alat Pembuat Pupuk Organik (APPO) sebanyak 8 unit.

c. Bantuan alat dan mesin pertanian berupa transplanter 10 unit, pengadaan pompa air 40 unit, pengadaan pompa air 10 unit; kemudian Perluasan lahan sawah 2.100 Ha dan perkuatan kelembagaan petani dan akses pasar.

(22)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

104 pencanangan bebas rabies di Pulau Pisang dan Tabuhan. Perkembangan angka NTP di Provinsi Lampung tahun 2011 – 2015 disajikan pada Grafik 3.4 di bawah.

Grafik 3.4 Capaian Nilai Tukar Petani Provinsi Lampung Tahun 2011-2015

Sumber : BPS Lampung, Maret 2015

Pada grafik di atas terlihat bahwa nilai NTP di Provinsi Lampung cenderung meningkat selama 4 tahun terakhir. Peningkatan nilai NTP tersebut sangat menggembirakan, karena hal itu mencerminkan bahwa kemajuan pembangunan pertanian di Provinsi Lampung berdampak langsung terhadap peningkatan daya beli atau daya tawar petani.

2. Sasaran Terpenuhinya Kebutuhan Pangan Per Kapita Masyarakat Untuk

Memenuhi Kecukupan Energi dan Keamanan Pangan

Tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketimpangan pembangunan daerah yang dijabarkan dalam sasaran terpenuhinya kebutuhan pangan per kapita masyarkat untuk memenuhi kecukupan energi dan keamanan pangan didukung oleh indikator Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi sebagaimana tabel 3.6 berikut :

Tabel 3.6 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Terpenuhinya Kebutuhan Pangan Per Kapita Masyarakat Untuk Memenuhi Kecukupan Energi dan Keamanan Pangan

No Indikator Capaian 2014

2015 Target

Akhir RPJMD

(2019)

Capaian s/d 2015 terhadap 2019 Target Realisasi %

Realisasi

Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsums

83,4 84,1 84,1 100 86,2 97,56

Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2016 0

20 40 60 80 100 120 140

2011 2012 2013 2014 2015 121,48 125,41 124,53 131,96

103,17

NTP

(23)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

105 Untuk tahun 2015, capaian kinerja skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi menunjukkan kinerja yang sangat tinggi (100%). Capaian ini juga menyumbang sebanyak 97,56 % dari target pada akhir RPJMD (2019). Pada tahun 2015, skor PPH meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yaitu skor PPH pada tahun 2015 sebesar 84,1, sedangkan pada tahun 2014 sebesar 83,4. Peningkatan ini lebih diakibatkan oleh peningkatan konsumsi hewani.

PPH merupakan susunan beragam pangan yang didasarkan atas proporsi keseimbangan energi dari berbagai kelompok pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi baik dalam jumlah, maupun mutu dengan pertimbangan segi daya terima, ketersediaan pangan, ekonomi budaya dan agama. Mutu konsumsi pangan penduduk dapat dilihat dari skor pangan (dietary score) dan dikenalnya sebagai skor PPH. Semakin tinggi skor PPH, konsumsi pangan semakin berimbang dan seimbang. Pangan yang dikonsumsi secara beragam dalam jumlah cukup dan seimbang akan mampu memenuhi kebutuhan zat gizi. Keanekaragaman pangan tersebut mencakup kelompok : padi padian, umbi umbian, pangan hewani, minyak dan lemak, buah/biji berminyak, kacang kacangan, gula, sayur dan buah, dll. Skor PPH di nilai dengan angka 100.

Kegunaan PPH merupakan instrumen sederhana untuk menilai situasi konsumsi pangan penduduk, baik jumlah maupun komposisi pangan menurut jenis pangan yang dinyatakan dalam skor PPH. Skor PPH merupakan indikator mutu gizi dan keragaman konsumsi pangan sehingga dapat digunakan untuk merencanakan kebutuhan konsumsi pangan pada tahun tahun mendatang.

(24)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

106 Tabel 3.7 Perbandingan Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Terpenuhinya Kebutuhan Pangan Per Kapita Masyarakat Untuk Memenuhi Kecukupan Energi dan Keamanan Pangan Tahun 2012 - 2015

Indikator Kinerja

Tahun

2012 2013 2014 2015

Tar get

Reali sasi

% Tar get

Realis asi

% Tar get

Reali sasi

% Targ et

Realisa si

%

Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi

89,8 86,5 96,33 91,5 84,3 92,13 93,3 83,4 89,39 84,1 84,1*) 100*)

Keterangan *) Angka sementara

Sumber : Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Lampung, Tahun 2015

Dari tabel 3.7 di atas, dapat dilihat bahwa skor PPH konsumsi dari tahun 2012 sampai dengan 2015 menunjukkan trend menurun. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) konsumsi pangan pada tahun 2012 di targetkan 89,8 dan teralisasi 86,5 atau 96,33%, dan pada tahun 2013 ditargetkan 91,5 dan terealisasi 84,3 atau 92,13%, tahun 2014 ditargetkan 93,3 dan terealisasi 83,4 atau 89,39% dan pada tahun 2015 ditargetkan 84,1 dan terealisasi 84,1 (angka sementara) atau 100%.

Grafik 3.5

Realisasi Skor Pola Pangan Harapan Provinsi Lampung Tahun 2012 - 2015

Sumber : Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Lampung, 2016 81

82 83 84 85 86 87

2012 2013 2014 2015 86,5

84,3

83,4

84,1

Skor PPH

(25)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

107

Permasalahan :

Hambatan dan kendala yang dihadapi dalam mewujudkan diversifikasi dan ketahanan pangan di Provinsi Lampung pada tahun 2015 adalah :

1. Pendapatan masyarakat masih rendah dibandingkan harga kebutuhan pangan secara umum, sehingga menurunnya daya beli masyarakat disebabkan oleh kenaikan harga pangan daripada masalah ketersediaan sehingga kualitas konsumsi pangan masih rendah, kurang beragam dan masih didominasi pangan sumber karbohidrat, serta masih rendahnya konsumsi protein hewani, umbi-umbian, aneka kacang, serta sayur dan buah;

2. Distribusi pangan yang tidak merata, sarana dan prasaran kurang memadai serta terjadinya bencana alam.

3. Pembinaan dan pemberdayaan kemandirian pangan pada desa rawan pangan dan kelompok rawan pangan dihadapkan pada kendala sarana dan infrastruktur serta kemampuan tenaga pendamping dan penyuluh lapangan.

4. Ketidakstabilan harga dan rendahnya efisiensi sistem pemasaran hasil-hasil pangan merupakan kondisi yang kurang kondusif bagi produsen dan konsumen pangan khususnya pada saat panen raya, pada musim paceklik dan hari-hari besar disebabkan karena lemahnya disiplin dan penegakan peraturan untuk menjamin system pemasaran yang adil dan bertanggungjawab, terbatasnya fasilitas perangkat keras dan lunak untuk mendukung transparansi informasi pangan dan terbatasnya kemampuan teknis petugas dan pelaku pemasaran.

5. Konsumsi beras per kapita masih tinggi, hal ini dikarenakan harga pangan pokok bersumberdaya pangan lokal sebagai pengganti beras harganya masih relatif lebih tinggi daripada harga beras, selain itu juga adanya anggapan yang salah dimasyarakat yaitu belum makan kalau belum makan nasi serta masih terbatasnya dukungan sosialisasi, promosi dalam penganekaragaman konsumsi pangan melalui berbagai media

6. Keterbatasan dalam memberikan dukungan program bagi dunia usaha dan asosiasi yang mengembangkan aneka produk olahan pangan lokal.

Solusi

(26)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

108 1. Peningkatan pengetahuan kelompok wanita tentang pentingnya pemanfaatan pekarangan untuk tambahan gizi keluarga dan untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Dalam pemanfaatan pekarangan Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi telah melaksanakan kegiatan optimalisasi pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), agar kegiatan ini berjalan secara berkelanjutan maka peranan pendamping sangat penting, maka selalu dilakukan pelatihan dan pembinaan ke pendamping kelompok.

2. Peningkatan peran pelaku usaha dalam perdagangan dan jasa pemasaran serta pemerintah pusat maupun daerah dalam memfasilitasi prasarana umum distribusi, serta pengaturan agar proses distribusi pangan terselenggara secara teratur, adil dan bertanggung jawab. Begitu juga peran masyarakat baik bersifat individu skala kecil, usaha kelompok/koperasi hingga perusahaan besar dalam pengembangan usaha distribusi di bidang jasa, pemasaran, pengangkutan, pengolahan dan penyimpanan perlu terus ditingkatkan.

3. Koordinasi dalam perumusan kebijakan distribusi pangan, penyempurnaan program dan kegiatan dalam pengembangan system distribusi melalui peningkatan pemantauan dan analisa harga pangan serta pengembangan kelembagaan distribusi pangan masyarakat serta peningkatan akses pangan.

4. Peningkatan koordinasi dalam perumusan kebijakan konsumsi dan keamanan pangan melalui peningkatan pemantauan dan analisis pola konsumsi pangan serta pengembangan kelembagaan pedesaan dalam diversifikasi konsumsi pangan.

5. Fasilitasi kepada kelompok penerima manfaat untuk pengembangan bisnis pangan lokal dan makanan tradisional, serta mendorong peran aktif swasta dan dunia usaha dalam pengembangan industri dan bisnis pangan lokal (MP3L).

6. Dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam rangka penanganan mutu dan keamanan pangan baik dari segi aturan maupun sarana pendukung seperti pembangunan sarana dan prasarana untuk laboratorium.

3. Sasaran Meningkatnya Pertumbuhan dan Kontribusi Sektor Industri

Pengolahan Terhadap PDRB Provinsi Lampung

(27)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

109 terhadap PDRB Provinsi Lampung didukung 1 (satu) indikator sebagaimana tabel 3.8 berikut :

Tabel 3.8 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Meningkatnya Pertumbuhan dan Kontribusi Sektor Industri Pengolahan Terhadap PDRB Provinsi Lampung

No Indikator Capaian 2014

2015 Target

Akhir RPJMD

(2019)

Capaian s/d 2015 terhadap 2019 Target Realisasi %

Realisasi

1 Laju pertumbuhan sektor industri pengolahan

4,51 7,48 7,48 100 7,46 100,26

Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2016

Pencapaian target kinerja yang menunjukkan capaian sebanyak 100% diatas menunjukkan capaian kinerja yang sangat tinggi. Capaian laju pertumbuhan sektor industri pengolahan tahun 2015 ini lebih baik dari tahun 2014 sebesar 4,51. Capaian ini juga menyumbang sebanyak 100,26% dari target kinerja pada akhir RPJMD.

Kegiatan industri pengolahan di Lampung secara umum juga menunjukkan peningkatan produksi. Sepanjang tahun 2010-2015 lapangan usaha industri pengolahan tumbuh 6,63 persen rata-rata per tahunnya. Kegiatan industri di Lampung keseluruhannya merupakan pengolahan komoditi non migas, sedangkan minyak dan gas bumi yang ada baru sebatas kegiatan eksplorasi sumber daya alam. Menurut jenis industri, produksi kertas/barang dari kertas/percetakan tahun 2014 mengalami pertumbuhan tertinggi 12,17 persen. Selain itu produk lain yang juga tumbuh signifikan adalah industri barang galian bukan logam, industri alat angkutan, industri mesin dan perlengkapannya, industri batu bara dan pengilangan minyak, industri logam dasar, serta industri tekstil dan pakaian jadi yang diperkirakan tumbuh di atas 5 persen.

4. Sasaran Meningkatnya Pertumbuhan dan Kontribusi Sektor Perdagangan

pada PDRB Provinsi

(28)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

110 Tabel 3.9 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Meningkatnya Pertumbuhan Dan

Kontribusi Sektor Perdagangan pada PDRB Provinsi

No Indikator Capaian 2014

2015 Target Akhir RPJMD (2019)

Capaian s/d 2015 terhadap 2019 Target Realisasi %

Realisasi

1 Laju Pertumbuhan Sektor Perdagangan

0,71 2 1,98 99,00 5,24 37,79

2 Pertumbuhan Ekspor - 6 17,40 290,00 6,70 259,70

Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2016

Pengukuran terhadap capaian kinerja untuk sasaran ini menunjukkan bahwa capaian kinerja untuk indikator laju pertumbuhan sektor perdagangan

sangat tinggi, karena mencapai 99,00% dari target yang dirumuskan.

Pencapaian ini juga telah mencapai 37,79 % dari rencana target kinerja pada akhir RPJMD pada tahun 2019 yaitu sebesar 5,24 persen.

Di Tahun 2015 ini Neraca Perdagangan Provinsi Lampung Menunjukan Surplus sebesar US$ 14.566.254,6 dengan Nilai Ekspor US$ 131.989.309,1dan Nilai Impor US$ 117.423.054,5.

Sedangkan, pertumbuhan ekspor Provinsi Lampung Tahun 2015 mencapai 290% dari yang ditargetkan sebesar 6 persen. Jumlah Ekspor di Provinsi Lampung sampai dengan Desember 2015 sebanyak US$ 131.989.309,1 dengan Volume Ekspor sebanyak 458.475.709,1 Ton. Perkembangan Ekspor jangka waktu 2 tahun terakhir (2014 – 2015) secara komulatif mengalami penurunan sebesar US$1.945.758.171,32 atau sebesar 93,65 %.

Grafik 3.6 Jumlah Nilai Ekspor Provinsi Lampung Tahun 2011 – 2015 (Juta$)

Catatan : Angka Sementara

Sumber : Dinas Perdagangan Provinsi Lampung, 2016.

Berdasarkan Komoditi unggulan sampai dengan akhir tahun 2015 sebesar US $ 131.989.309,1 dengan Volume Ekspor sebanyak 458.475.709,1 Ton. Penyumbang Ekspor terbesar Provinsi Lampung dari Komoditi utama

2011 2012 2013 2014 2015

Nilai Ekspor 3440,440 7277,800 2576,400 2077,750 131,989 3440,440

7277,800

2576,400 2077,750 131,989 -

(29)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

111 yaitu Minyak Sawit dengan nilai sebesar US $ 504.939.030 dengan Volume ekspor sebesar 854.987,8 ton.

Komoditi utama Provinsi Lampung dari hasil Tambang yaitu Batubara merupakan penyumbang ekspor terbesar kedua dengan nilai sebesar US $ 311.584.763 dengan volume ekspor sebesar 5.017.585 ton.

Tabel 3.10 Ekspor Berdasarkan Komoditi Utama Provinsi Lampung Tahun 2015

NO KOMODITI VOLUME (TON) NILAI (US $)

% TOTAL

1 Kopi Robusta 258.844,1 462.807.395 15,78

2 Batu Bara 5.017.585 311.584.763 10,62

3 Udang Beku 13.012,5 107.402.224 3,66

4 Minyak sawit/CPO 854.987,8 504.939.030 17,22

5 Minyak RBD Stearin 423.200 265.804.338 9,06

6 Lada Hitam 25.260,1 232.804.800 7,94

7 Nanas Kaleng 124.687,3 137.475.583 4,69

8 Minyak Kelapa 368.350 255.746.511 8,72

9 Pulp 279.684,2 153.621.476 5,24

10 Komoditi Lainnya 1.107.287,5 2.781.267.709

94,83

Jumlah 8.472.898,5 2.932.858.493 100,00

Sumber : Dinas Perdagangan Provinsi Lampung, 2016

Berdasarkan Negara tujuan, ekspor terbesar provinsi Lampung Tahun 2014 yaitu Negara United States Of America dengan nilai ekpor sebesar US $ 261.462.339,42 merupakan penyumbang ekspor terbesar sebesar 12,58 % dari total ekspor Provinsi Lampung. India merupakan negara tujuan ekspor terbesar kedua dengan nilai ekspor US $ 188.096.424,32 juta atau 9,05% dari total ekspor Lampung tahun 2014. Negara Tujuan Ekspor terbesar Provinsi Lampung lainnya dapat dilihat pada tabel berikut ini;

Tabel 3.11 Ekspor Provinsi Lampung Berdasarkan Negara Tujuan Tahun 2015

NO NEGARA TUJUAN VOLUME (TON) NILAI (US.$) TOTAL

%

1 Amerika Serikat 50.820,17 261.462.339,42 8,91

2 India 333.965,5 233.763.498 7,97

3 Jepang 1.301.027,9 207.356.216,6 7,07

4 Cina,RR 309.689,7 244.583.796,7 8,34

5 Spanyol 238.104,3 154.709.340,2 5,28

6 Belanda 400.970,4 162.594.138,4 5,54

7 Malaysia 117.209,7 105.637.930,5 3,60

(30)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

112

9 Taiwan 3.481.867,3 223.819.172,1 7,63

10 Jerman 42.298,3 78.961.476,1 2,69

11 Negara Lainnya 1.871.234 1.022.415.095,38 34,86

Total 8.472.898,5 2.932.858.498,8 100,00

Catatan : Data per September 2015 (Data Sementara)

Sumber : Dinas Perdagangan Provinsi Lampung, 2016

Permasalahan dan Solusi 1) Permasalahan

a). Permintan masyarakat terhadap komoditi kebutuhan bahan pokok, barang penting dan barang strategis lainya pada hari besar nasional cenderung melonjak sehingga menyebabkan kenaikan harga

b). Masih rendahnya daya saing komoditi eksport daerah

2) Solusi

a) Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan para distributor untuk menjaga ketersediaan barang pada hari besar nasional sehingga gejolak harga dapat terkendali.

b) Perlu terus dilakukan upaya peningkatan mutu produk ekspor daerah, diversifikasi komoditi ekspor dan perluasan pasar ekspor.

1. Sasaran Meningkatnya Peran Koperasi Dan UMKM Dalam Perekonomian

Daerah

Tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketimpangan pembangunan daerah yang dijabarkan dalam sasaran meningkatnya peran koperasi dan UMKM dalam perekonomian daerah didukung 2 (dua) indikator sebagaimana tabel 3.12 berikut :

Tabel 3.12 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Meningkatnya Peran Koperasi Dan UMKM Dalam Perekonomian Daerah

No Indikator Capaian 2014

2015 Target

Akhir RPJMD (2019)

Capaian s/d 2015 terhadap 2019 Target Realisasi %

Realisasi

1 Jumlah koperasi aktif

2.903 2.945 2.760 93,72 3.250 84,92

2 Jumlah UMKM 375.425 375.425 382.247 101,82 414.398 92,28

Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2016

(31)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

113

sangat tinggi. Pada indikator jumlah koperasi aktif menunjukkan hasil yang

sangat tinggi dengan capaian 93,72% dan menyumbang 84,92% pada capaian

akhir RPJMD. Begitu pula dengan indikator jumlah UMKM memperlihatkan hasil capaian sangat tinggi diatas 100% yaitu sebesar 101,82% dan telah menyumbang 92,28 persen pada pencapaian target akhir RPJMD.

Jumlah Koperasi per 31 Desember 2015 sebanyak 5.095 Unit Koperasi. Secara kelembagaan mengalami peningkatan sebanyak 382 unit Koperasi dari jumlah koperasi per Desember 2014 sebanyak 4.713 unit. Jumlah anggota koperasi sebanyak 902.706 orang anggota. Pertumbuhan Koperasi sebagai pertanda antusias masyarakat masih tinggi untuk mengembangkan usaha melalui Koperasi. Ini terlihat pula dimana dari 5.095 koperasi tersebut, 2.760 (54,17%) koperasi merupakan koperasi aktif dan 2.335 (45,82%) koperasi adalah koperasi tidak aktif.

Grafik 3.7

Perkembangan Koperasi Provinsi Lampung Tahun 2011 -2015

Sumber : Dinas Koperasi & UMKM Provinsi Lampung, 2016

Jumlah UMKM Formal di Provinsi Lampung sampai dengan akhir tahun 2015 sebanyak 382.247 unit. Jumlah tersebut secara umum terdiri dari ; a. Usaha Mikro

b. Usaha Kecil c. Usaha Menengah

Jumlah UMKM Formal di Provinsi Lampung pada tahun 2015 berdasarkan data terakhir sejumlah 382.247 UMKM. Jumlah ini mengalami peningkatan baik jumlah usaha Mikro, Kecil dan menengah sebanyak 6.822 unit dari data tahun 2014 yang berjumlah 375.425 UMKM. Perkembangan jumlah usah mikro, kecil dan menengah Provinsi Lampung Tahun 2012 - 2015, dapat dilihat dari data tabel 3.13 dan grafik 3.8 berikut;

2011 2012 2013 2014 2015

Aktif 2482,0 2740,0 2885,0 2903,0 2760,0 Tdk Aktif 1310,0 1738,0 1787,0 1810,0 2335,0 JUMLAH 3792,0 4478,0 4672,0 4713,0 5095,0

- 1000,0 2000,0 3000,0 4000,0 5000,0 6000,0

Jlj

K

o

p

e

(32)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

114 Tabel 3.13 Data Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Provinsi Lampung Tahun

2012-2015

No. Jumlah UMKM 2012 2013 2014 2015

1. Usaha Mikro 227.044 276.692 276.692 280.103 2. Usaha Kecil 64.856 78.827 78.827 79.964 3. Usaha Menengah 15.840 19.906 19.906 22.180 JUMLAH 307.740 375.425 375.425 382.247 Sumber : Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung, 2015

Grafik 3.8 Jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Provinsi Lampung

Tahun 2012 – 2015

Sumber : Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung, 2015

Permasalahan dan Solusi Permasalahan

a. Masih rendahnya kemampuan dan akses modal usaha baik Koperasi dan UMKM, yang pada akhirnya pada kecilnya volume produksi.

b. Rendahnya partisipasi anggota koperasi dalam kegiatan usaha koperasi merupakan kendala utama dalam pengembangan Koperasi.

c. Realisasi Keuangan di Program Peningkatan Pelayanan BLUD UPTD Perkuatan Permodalan hanya terealisasi 74,90 % , tapi fisiknya 100% dikarenakan Status BLUD adalah bertahap sehingga hak pengelolaannya 75% dari anggaran yang diusulkan dan 25% masuk pendapatan daerah.

Solusi

Sejalan dengan Kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung dalam rangka e ujudka sasara La pu g sebagai Pro i si Koperasi pada tahu , maka upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut antara lain sebagai berikut :

,0 50000,0 100000,0 150000,0 200000,0 250000,0 300000,0

2012 2013 2014 2015 227044,0

276692,0 276692,0 280103,0

64856,0 78827,0 78827,0 79964,0

1584,0 19906,0 19906,0 22180

Usaha Mikro

Usaha Kecil

(33)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

115 1. Melaksanakan program peningkatan kualitas kelembagan Koperasi (revitalisasi kelembagaan Koperasi) sebagaimana dicanangkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM.

2. Melaksanakan sosialisasi UU Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian dan Peraturan Perkoperasian kepada stake holders baik di Provinsi maupun Kab/Kota

3. Untuk mendukung standarisasi peningkatan mutu pengetahuan perkoperasian, perlu dilaksanakan Diklat bagi Pembina Koperasi dan UMKM yang diselenggarakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM. 4. Peningkatan kemampuan permodalan melalui bantuan permodalan

dengan bunga rendah, bantuan sertifikasi tanah yang dapat dijadikan agunan untuk mendapatkan modal , dan perlunya sosialisasi.

5. Melakukan Penyuluhan Perkoperasian untuk meningkatkan kesadaran anggota dan masyarakat tentang pentingnya berkoperasi

6. Mengupayakan untuk mendapatkan status penuh BLUD

2. Sasaran Peningkatan Kontribusi Penanaman Modal (Investasi) Terhadap

Perekonomian Daerah

Tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketimpangan pembangunan daerah yang dijabarkan dalam sasaran meningkatnya peran koperasi dan UMKM dalam perekonomian daerah didukung indikator sebagaimana tabel 3.14 berikut :

Tabel 3.14 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Peningkatan Kontribusi Penanaman Modal (Investasi) Terhadap Perekonomian Daerah

No Indikator Capaian 2014

2015 Target

Akhir RPJMD

(2019)

Capaian s/d 2015 terhadap 2019 Target Realisasi %

Realisasi

1 Laju

pertumbuhan investasi

(PMTDB) atas dasar harga berlaku

5,66 9,94 7,24 72,83 14,56 49,73

Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2016

(34)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

116 pencapaian ini pula, telah mencapai 49,73% dibandingkan target capaian pada akhir RPJMD pada tahun 2019 yang bisa diartikan sebagai indikasi pencapaian target pada akhir RPJMD.

Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) merupakan sektor kedua setelah Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (60,53 persen) yang mendominasi Struktur Ekonomi Lampung tahun 2015 (30,08 persen) menurut pengeluaran.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Lampung tahun 2015, Komponen Ekspor Luar Negeri memberikan kontribusi terbesar (3,36 persen), diikuti Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (3,31 persen), dan PMTDB (1,29 persen).

Sedangkan, investasi di Provinsi Lampung tahun 2015 ditargetkan sebesar Rp. 3.090.000.000.000,- atau (3,09 Triliyun). Sedangkan, realisasi investasi yang tercapai pada tahun 2015 adalah sebesar Rp 4.323.870.000.000,- atau (4,32 Triliyun) sehingga pada tahun 2015 capaian realisasi investasi sebesar 139,93% melebihi target realisasi investasi yang ditetapkan. Sedangkan target pada tahun 2014 adalah sebesar 159,57 %.

Realisasi investasi tersebut diperoleh dari dana proyek/perusahaan PMA dan PMDN yang berinvestasi di Provinsi Lampung yang terdiri dari PMA sebesar Rp. 3.221.577.500.000,- dan PMDN sebesar Rp 1.102.292.500.000,-. Sedangkan jumlah proyek PMA dan PMDN yang diperoleh pada tahun 2015 yaitu, 48 proyek PMA dan 27 proyek PMDN.

Tabel realisasi investasi dari dana proyek/perusahaan PMA dan PMDN tahun 2015 dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 3.15 Realisasi Investasi Proyek/Perusahaan PMA dan PMDN Tahun 2015

(%) PMA PMDN JUMLAH

INVESTASI (%)

JML PROYEK

Rp Rp PMA PMDN

Triwulan I 1.429.626.250.000 132.905.000.000 1.562.531.250.000 50,57 13 9 Triwulan II 1.117.870.000.000 604.182.500.000 1.722.052.500.000 55,73 13 11 Triwulan III 404.652.500.000 331.542.500.000 736.195.000.000 24 22 7 Triwulan IV 269.428.750.000 33.662.500.000 303.091.250.000 9,8

INVESTASI 3.221.577.500.000 1.102.292.500.000 4.323.870.000.000 139,93 48 27 TARGET 2015 3.090.000.000.000

PRESENTASE (%) 139,93

Sumber : BPM dan PTSP Provinsi Lampung, 2016

(35)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

117 Tabel 3.16 Perkembangan Jumlah Investasi Proyek/Perusahaan PMA dan PMDN

Provinsi Lampung Tahun 2011 - 2015

Tahun PMA PMDN JUMLAH INVESTASI JML PROYEK

Rp Rp PMA PMDN

2011 715.477.500.000 824,428,800,000 1.539.906.300.000 49 71

2012 1.063.180.371.000 304,228,400,000 1.367.408.771.000 38 13

2013 468.802.453.200 1,442,376,642,860 1.911.179.096.060 137 103

2014 1.642.845.750.000 3,463,251,750,000 5.106.097.500.000 97 131

2015 3.221.577.500.000 1,102,292,500,000 4.323.870.000.000 48 27

Sumber : BPM dan PTSP Provinsi Lampung, 2016

Grafik 3.9 Jumlah Investasi PMA dan PMDN Provinsi Lampung Tahun 2011 -

2015

Sumber : BPM dan PTSP Provinsi Lampung, 2016

Grafik 3.10 Jumlah Proyek PMA dan PMDN di Provinsi Lampung Tahun 2011 - 2015

Sumber : BPM dan PTSP Provinsi Lampung, 2016

Permasalahan dan solusi

1) Permasalahan

Beberapa permasalahan yang ditemui dalam pengembangan-pengembangan usaha daerah di Provinsi Lampung, antara lain:

- 1000000000000,000 2000000000000,000 3000000000000,000 4000000000000,000

2011 2012 2013 2014 2015

PMA

PMDN

- 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0 140,0

2011 2012 2013 2014 2015 49,0

38,0

137,0

97,0

48,0 71,0

13,0

103,0

131,0

27,0

PMA

(36)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

118 a. Kondisi investasi yang belum optimal untuk berinvestasi akibat masih kurang tersedianya infrastruktur yang memadai, termasuk masalah listrik yang belum mampu di supply secara kontinyu.

b. Perlunya peningkatan dukungan insentif dengan investor. c. Kurangnya informasi tentang potensi investasi daerah d. Banyaknya kasus-kasus tanah yang belum terselesaikan

e. Adanya kekhawatiran calon investor terhadap implementasi otonomi daerah.

f. Perlunya peningkatan kompetensi SDM dalam pengelolaan investasi.

2) Solusi

a. Meningkatkan koordinasi dalam menciptakan iklim penanaman modal yang sehat, dinamis dan kondusif melalui berbagai kegiatan promosi potensi daerah, penyederhanaan dan kemudahan dalam perizinan;

b. Meningkatkan Penyediaan fasilitas baik sarana infrastruktur maupun prasarana yang dimiliki.

c. Memberikan kepastian usaha melalui kepastian hukum. d. Memberikan insentif yang menarik bagi para calon investor.

e. Peningkatan kompetensi dan pendayagunaan aparatur dalam rangka pembinaan, pengendalian dan pengawasan penanaman modal.

f. Mendorong pengembangan investasi disektor-sektor yang selama ini belum berkembang seperti industri tekstil, garmen, kimia, industri manufaktur serta parawisata dan jasa lainnya.

3. Sasaran Meningkatnya Kontribusi Sektor Pariwisata Pada Perekonomian

Daerah

Jumlah wisatawan yang berkunjung menjadi sasaran penting untuk mendukung berkembangnya kontribusi pariwisata pada perekonomian daerah. Dengan meningkatnya jumlah wisatawan baik nusantara maupun mancanegara, diharapkan akan memberikan kontribusi pada perekonomian yang pada akhirnya akan meningkatan pendapatan daerah dan masyarakat dari sektor riil.

(37)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

119 sebanyak 7.155.495 orang wisatawan nusantara. Pencapaian ini juga bermakna kinerja Sangat Tinggi untuk pencapaian sasaran 7 dalam IKU tahun 2015.

Sedangkan, untuk jumlah wisatawan mancanegara pada tahun 2015 ditargetkan 105.081 orang atau naik sebesar 9,09% dibandingkan capaian tahun 2014 sebanyak 95.528 orang wisatawan mancanegara. Realisasi pada tahun 2015 sebanyak 114.907 orang atau dengan capaian 109,35% dibandingkan target yang telah ditetapkan. Pencapaian ini juga bermakna kinerja Sangat Tinggi untuk pencapaian sasaran 7 dalam IKU tahun 2015.

Tabel 3.17 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Meningkatnya Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Perekonomian Daerah

No Indikator Capaian 2014

2015 Target

Akhir RPJMD

(2019)

Capaian s/d 2015 terhadap 2019 Target Realisasi %

Realisasi

1 Jumlah wisatawan

nusantara 4.327.188

4.759.95 0

5.530.80

3 116,19 7.155.495 77,29

2 Jumlah wisatawan mancanegar a

95.528 105.081 114.907 109,35 153.914 74,66

Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2016

Untuk meningkatkan jumlah wisatawan nusantara dan mancanegara yang berkunjung ke Provinsi Lampung, pembangunan pariwisata tahun 2015 diarahkan pada pengembangan kawasan strategis pariwisata dan kawasan industri pariwisata terkelola di Teluk Lampung yang terintegrasi dengan Taman Hutan Rakyat Wan Aburrahman dan Wisata Gunung Krakatau, Pesisir Barat, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), melalui:

1) Peningkatan sarana dan prasarana TAHURA WAR, Labuhan Jukung, dan Way Kambas

2) Penyelenggaraan event-event wisata dan budaya (surfing contest, Festival Krakatau, Biking Explore Lampung, jelajah Tahura WAR, dan Lampung Fashion Week)

(38)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

120 Upaya promosi dan pembangunan pariwisata di Provinsi Lampung berhasil menarik wisatawan yang berkunjung. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah wisatawan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, seperti pada tabel 3.18 bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Lampung dari tahun 2011 – 2015 semakin meningkat yaitu dari 2.332.733 orang menjadi 5.645.710 orang di tahun 2015.

Tabel 3.18 Perkembangan Jumlah Wisatawan Yang Berkunjung ke Provinsi Lampung Tahun 2011 – 2015

No. TAHUN

WISATAWAN

TOTAL

NUSANTARA MANCANEGARA

1. 2011 2.285.630 47.103 2.332.733

2. 2012 2.581.165 58.205 2.639.370

3. 2013 3.392.165 75.590 3.467.755

4. 2014 4.327.228 95.528 4.422.756

5. 2015 5.530.803 114.907 5.645.710

Sumber : Dinas Pariwisata Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2016

Tren jumlah wisatawan baik nusantara maupun mancanegera nampak dalam grafik 3.11 dan 3.12 berikut :

Grafik 3.11 Perkembangan Jumlah Wisatawan Nusantara di Provinsi Lampung Tahun 2011 - 2015

Sumber : Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, 2016

0 20 40 60 80 100 120

2.285.630 2.581.165 3.392.165 4.327.228 5.530.803

2011

2012

2013

2014

2015

(39)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

121 Grafik 3.12 Perkembangan Jumlah Wisatawan Mancanegara di Provinsi Lampung Tahun

2011 - 2015

Sumber : Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, 2016

Gambar 3.1. TELUK KILUAN di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung

Sumber : Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, 2016

4. Sasaran Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Sasaran untuk peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) menunjukkan keberhasilan dimana pada tahun 2015, dari target 2,64 persen dan realisasi tahun 2014 menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan asli

0 200

2011 2012 2013 2014 2015 47,103 58,205 75,59 95,528

114,907

WISATAWAN MANCANEGARA

(40)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

122 daerah (PAD) mencapai 2,55 persen atau 96,59 persen dari target kinerja. Capaian ini menunjukkan capaian kinerja yang sangat tinggi. Dengan pencapaian ini pula, telah mencapai 16,07 persen dibandingkan target capaian pada akhir RPJMD pada tahun 2019, yang bisa diartikan sebagai indikasi pencapaian target pada akhir RPJMD. Capaian PAD tahun 2015 ini lebih baik dibandingkan capaian tahun 2014 yang hanya sebesar 2,20 persen, berarti ada peningkatan sebesar 0,35 persen.

Tabel 3.19 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

No Indikator Capaian 2014

2015 Target

Akhir RPJMD (2019)

Capaian s/d 2015 terhadap

2019 Target Realisasi %

Realisasi

1 Pertumbuhan

PAD 2,20 2,64 2,55 96,59 15,87 16,07 Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2016

Tidak tercapainya target Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2015 disebabkan karena dalam merumuskan perencanaan target PAD tidak mempertimbangan perkiraan krisis pada tahun depannya dan pada tahun 2015 ini Provinsi Lampung sedang dalam tahapan penyempurnaan Teknologi Informasi Komputer menuju SAMSAT Online, yang penerapannya dapat meningkatkan Pajak Daerah dan menutup celah kebocoran pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

Komponen dari PAD sesuai dengan UU No 23 Tahun 2014 terdiri dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan, Lain-Lain PAD Yang Sah. Pada tahun 2015 realisasi Pajak Daerah sebesar Rp. 1.963.374.786.952 atau sebesar 92,11% Retribusi Daerah sebesar Rp. 10.331.465.095 atau sebesar 134,02%, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan sebesar Rp. 25.715.957.116 atau sebesar 96,61%, Lain-Lain PAD Yang Sah sebesar Rp. 249.697.542.999 atau sebesar 126,13%. Sehingga total PAD Provinsi Lampung Tahun 2015 adalah sebesar Rp. 2.249119.752.162 atau sebesar 95,15%

(41)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

123 Lain-Lain PAD Yang Sah sebesar 11,10%. Hal ini dapat terlihat dari diagram dibawah ini :

Grafik 3.13 Komposisi PAD Provinsi Lampung Tahun 2015

Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Lampung, 2016

Dari grafik di atas, diketahui bahwa komposisi struktur pendapatan asli daerah Provinsi Lampung tahun 2015 masih bertumpu pada Pajak Daerah. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian tentang penggalian potensi pendapatan asli daerah dari berbagai sektor, mengingat pendapatan asli daerah merupakan instrumen penopang kapasitas fiskal daerah dalam rangka pembangunan daerah di Provinsi Lampung.

Persentase tingkat keberhasilan pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Lampung selama 5 (lima) tahun terahir (antara tahun 2011 sampai dengan 2015) menunjukan tingkat keberhasilan pencapaian target PAD yang fluktuatif. Pada tahun 2011 realisasi PAD mencapai 110,30% (tercapai), Pada tahun 2012 realisasi PAD mencapai 91,03% (tidak tercapai), Pada tahun 2013 realisasi PAD mencapai 81,62% (tidak tercapai), Pada tahun 2014 realisasi PAD mencapai 102,20 (tercapai), dan pada tahun 2015 realisasi PAD mencapai 95,15%. Hal ini dapat terlihat dari tabel 3.9

Tabel 3.20 Target dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun 2011 – 2015

No. Tahun Target Realisasi (%) Kreteria

1 2011 1.271.960.066.926 1.403.425.997.340 110,34 Sangat Tinggi 2 2012 1.874.304.393.900 1.706.131.403.523 91,03 Sangat Tinggi 3 2013 2.183.413.478.756 1.782.079.943.202 81,62 Tinggi 4 2014 2.258.133.103.022 2.307.904.100.056 102,20 Sangat Tinggi 5 2015 2.363.789.222.943 2.249.119.752.162 95,15 Sangat Tinggi Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Lampung, 2016.

87,30%

000%

001%

011%

1. Pajak Daerah : 87,30 % 2. Retribusi Daerah : 0,46 %

(42)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

124 Tolak ukur capaian kinerja pada indikator Persentase tingkat keberhasilan pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Lampung untuk Tahun 2015 adalah sebesar 95,15% dari target sebesar 100%. Hal ini menunjukan Kreteria Sangat Baik dalam pengukuran kinerjanya, namun pada capaian kinerjanya tidak mencapai target kinerja yang sudah ditetapkan.

Grafik 3.14 Target dan Realisasi PAD

Tahun 2011 – 2015

Grafik 3.15 Perkembangan Realisasi PAD

Tahun 2011 – 2015

Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Lampung, 2016

Sedangkan capaian pendapatan daerah Provinsi Lampung berdasarkan sumber – sumber pendapatan tahun 2015 adalah sebagai berikut :

Tabel 3.21 Target dan Realisasi Pendapatan Provinsi Lampung Tahun 2015

No Uraian Target

APBDP 2015 Realisasi APBDP 2015 %

1 Pendapatan Asli

Daerah 2.363.789.222.944,00 2.249.119.752.162,94 95,14

2 Bagian Dana

Perimbangan 1.580.210.606.652,00

1.514.291.528.636,00

95,83

3

Lain-Lain

Pendapatan Yang Syah

1.043.226.313.000,00 1.025.624.292.779,00 98,31

Jumlah Pendapatan

Provinsi Lampung 4.987.226.142.596,00 4.789.035.573.577,94 96,03 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Lampung, 2016.

Realisasi pendapatan daerah tahun 2015 adalah sebesar Rp. 4.789.035.573.577 yang terdiri dari PAD sebesar Rp. 2.249.119.752.162, Pendapatan Bagian Dana Perimbangan (Transfer) sebesar Rp.

,000 500000000000,000 1000000000000,000 1500000000000,000 2000000000000,000 2500000000000,000

2012 2013 2014 2015 Target 187430439390 218341347875 225813310302 236378922294 Realisasi 170613140352 178207994320 230790410005 224911975216

% 091 082 102 095

- 500000000000,0 1000000000000,0 1500000000000,0 2000000000000,0 2500000000000,0

2011 2012 2013 2014 2015 Realisa

(43)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG

125 1.514.291.528.636 dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah sebesar Rp. 1.025.624.292.779.

Grafik 3.16 Pertumbuhan Pendapatan Daerah Provinsi Lampung Tahun 2010 - 2015

Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Lampung, 2016.

Permasalahan :

Tidak tercapainya peningkatan pendapatan pada tahun 2015 disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

1. Faktor Internal :

a) Penurunan penjualan kendaraan baru tingkat nasional sebesar 24% dan untuk Provinsi Lampung sebesar 28% (Sumber : Koran Harian Kompas, Tribun Lampung, dan PAMOR Lampung). Hal ini berpengaruh terhadap realisasi pendapatan pada sektor BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor) yang realisasinya sebesar 84,19% atau Minus sebesar (Rp. -112.588.934.377) dari target yang sudah ditetapkan sebelumnya.

b) Pos Pajak Rokok yang realisasinya hanya 84,87% atau minus sebesar (Rp. -57.508.256.449). Hal ini disebabkan oleh Kurang Setor yang disetorkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Keuangan ke Pemerintah Provinsi Lampung tidak terealisasi sepenuhnya sebagaimana target yang sudah ditetapkan sebelumnya.

2. Faktor Eksternal :

a) Terjadi perlambatan Ekonomi secara nasional tahun 2015, dimana target awal nasional sebesar 5,4% – 5,8% dan realisasi s/d desember turun menjadi 4,79%

,0 1000000000000,0 2000000000000,0 3000000000000,0 4000000000000,0 5000000000000,0

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2108925219597,0

2535701429112,0 3760547617260,0

3912732622156,0 4524427041222,0

4789035573577,0

Gambar

Tabel 3.12 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Meningkatnya Peran Koperasi Dan    UMKM Dalam Perekonomian Daerah
Tabel  3.18     Perkembangan Jumlah Wisatawan Yang Berkunjung ke Provinsi  Lampung
Grafik 3.12 Perkembangan Jumlah Wisatawan Mancanegara di Provinsi Lampung Tahun 2011 - 2015
Tabel 3.26
+7

Referensi

Dokumen terkait

keuangan dan pembangunan (BPKP) tidak diperolehnya opini wajar tanpa pengecualian (WTP) disebabkan oleh beberpa faktor, faktor tersebut adalah adanya kelemahan

Opini yang diperoleh Pemerintah Provinsi Papua mengalami penurunan, dimana selama tiga tahun (2007-2009) mendapat opini wajar dengan pengecualian (WDP), dan tidak

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur pada periode 2011 dan 2012 yang menerima opini audit wajar tanpa pengecualian dan perubahan opini audit yang

Dari 516 LKPD Tahun 2010 yang diperiksa tahun 2011, BPK telah memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 34 LKPD (7%), opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 341

Amelia Ratih, (2009) melakukan penelitian mengenai reaksi pasar terhadap pengumuman opini auditor wajar tanpa pengecualian dan wajar tanpa pengecualian dengan

Adapun strategi pengelolaan barang milik daerah Pemerintah Provinsi Banten dalam meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dilakukan dengan cara melanjutkan validasi dan

Jika suatu instansi pemerintahan memperoleh opini wajar tanpa pengecualian, pengguna laporan keuangan meyakini keakuratan informasi yang diberikan oleh laporan

Sehingga penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “PENGELOLAAN ASET DAERAH DALAM MEWUJUDKAN OPINI WAJAR TANPA PENGECUALIAN DI PEMERINTAH KOTA AMBON PROVINSI MALUKU Studi