BAB I PENDAHULUAN. Perdagangan global saat ini tidak hanya dapat dilakukan secara langsung, namun

20  Download (0)

Full text

(1)

1

1.1. Latar Belakang Masalah

Pada era globalisasi ini, perdagangan dunia mengalami perubahan pesat. Perdagangan global saat ini tidak hanya dapat dilakukan secara langsung, namun pembeli dan penjual yang dibatasi oleh jarak yang jauh atau bahkan lintas batas negara, maka mereka mulai memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi yang ada ke dalam pelaksanaan bisnis mereka. Salah satu pilar globalisasi adalah penggunaan komunikasi yang merupakan pilar utama hubungan internasional dengan menggunakan kemajuan teknologi informasi.1 Perkembangan perdagangan yang dipengaruhi dengan teknologi disebut dengan electronic commerce (selanjutnya disebut dengan “e-commerce”).

Mamta Bhusry memberikan pengertian mengenai e-commerce, yaitu: “Electronic commerce is an emerging concept that describes the process of buying and selling or exchanging of products, services and information via.

telecommunication and computer networks including the internet.”2 Melalui

pengertian tersebut, dapat diartikan bahwa e-commerce merupakan suatu konsep baru yang menggambarkan mengenai proses jual beli atau pertukaran produk,

1

Shinta Dewi, 2009, Cyber Law Perlindungan Privasi atas Informasi Pribadi Dalam

E-Commerce menurut Hukum Internasional, Cetakan ke-I, Widya Padjajaran, Bandung, h.2.

2

(2)

jasa, dan informasi melalui jaringan telekomunikasi dan komputer termasuk internet.

Eksistensi daripada E-Commerce dalam ranah hukum perdagangan internasional, telah diatur oleh lembaga perdagangan internasional yaitu United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL) melalui Model Law on Electronic Commerce 1996. Pada UNCITRAL Model Law on E-Commerce tersebut, secara implisit memberikan pengertian mengenai e-commerce, hal ini tertera pada paragraf kedua dalam Resolusi Majelis Umum PBB No.A/51/628, yaitu “…. Increasing number of transactions in international

trade are carried out by means of electronic data interchange and other means of

communication, commonly referred to as “electronic commerce”, which involve the use of alternatives to paper-based methods of communication and storage of information,”.

Kemudian pada Article 2 Point (b)UNCITRAL Model Law on E-Commerce tersebut dijelaskan mengenai pengertian daripada electronic data interchange (EDI), yaitu “EDI means the electronic transfer from computer to computer of information using an agreed standard to structure the information”. Maka, pengertian e-commerce berdasarkan UNCITRAL Model Law on E-Commerce ialah transaksi perdagangan internasional yang dilaksanakan dengan cara menggunakan fasilitas pengiriman data melalui informasi komputer dan melalui cara komunikasi lainnya, dimana dalam transaksi perdagangan ini menggunakan metode-metode perdagangan internasional pada umumnya hanya

(3)

saja dalam pelaksanaannya menggunakan alat komunikasi salah satunya adalah penggunaan internet.

E-commerce dalam beberapa dekade ini terdapat beberapa klasifikasi commerce, namun pada umumnya hanya terfokus pada 3 (tiga) klasifikasi

e-commerce, yaitu:3 Business-to-Business (B2B), Business-to-Consumer (B2C), dan

Consumer-to-Consumer (C2). Aktifitas e-commerce tidak terlepas dari aktifitas perdagangan pada umumnya yaitu seperti adanya suatu tawar-menawar (negosiasi), kesepakatan, transaksi komersial, hingga adanya suatu perjanjian bisnis atau yang disebut dengan kontrak. Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam aktifitas e-commerce ini ialah ketika adanya suatu kesepakatan antara pihak dan dituangkan ke dalam bentuk kontrak dengan memanfaatkan media elektronik ke dalam proses pembentukan suatu kontrak, sehingga kontrak yang dibuat melalui media elektronik inilah yang disebut dengan electronic contract (selanjutnya disebut dengan “e-contract”).

E-Contract menjadi hal yang esensial bagi para pebisnis terutama untuk mengikat kedua belah pihak dari hak dan kewajiban yang harus ditanggung. Timbulnya permasalahan dalam transaksi e-commerce internasional sudah tentu tidak dapat dihindari, terutama permasalahan yang timbul dari e-contract. Pada umumnya e-contract internasional berlangsung antara pihak khususnya perorangan yang merupakan penduduk dari dua negara yang berbeda, permasalahan yang timbul melalui e-contract yang melibatkan para pihak yang berbeda domisili akan menimbulkan suatu pilihan hukum (choice of law) untuk

3

Amir Manzoor, 2010, E-Commerce an Introduction, Lambert Academic Publishing, Deutschland, h.5-8.

(4)

menyelesaikan permasalahan atau sengketa karena dihadapkan dengan dua sistem hukum negara yang berbeda.

Sengketa bisnis internasional merupakan sengketa yang timbul akibat adanya hubungan bisnis internasional yang didasarkan atas kontrak maupun tidak. Pada umumnya, sengketa-sengketa bisnis kerap didahului oleh penyelesaian oleh negosiasi. Jika cara penyelesaian ini gagal atau tidak berhasil, barulah ditempuh cara-cara lainnya seperti penyelesaian melalui pengadilan atau arbitrase.4 Pada kenyataannya terdapat kecenderungan pihak asing lebih memilih arbitrase sebagai forum penyelesaian sengketa.5 Namun dalam hal ini sengketa yang timbul adalah antara pengguna jasa internet, dimana sengketa itu terjadi dalam lalu lintas komunikasi elektronik perdagangan secara online.6

Sengketa dalam aktifitas e-commerce menimbulkan beberapa permasalahan salah satunya mengenai pilihan hukum (choice of law), terlebih apabila para pihak tidak membuat kontrak yang berisikan mengenai pilihan hukum yang akan diterapkan apabila terjadi sengketa. Sengketa yang terjadi di dunia maya akan sulit untuk menentukan wilayahnya yang nantinya akan berimplikasi pada penentuan hukum yang digunakan. Maka sudah sewajarnya sengketa yang muncul akibat aktifitas bisnis yang dilakukan secara online tersebut diselesaikan secara online juga.

4

Huala Adolf (selanjutnya disebut Huala Adolf I), 2011, Hukum Perdagangan

Internasional, Rajawali Press, Jakarta, h.191.

5

Sudargo Gautama, 1986, Arbitrase Dagang Internasional, tanpa tempat terbit, h.7.

6

Meria Utama, 2010, Pelaksanaan Online Dispute Resolution (ODR) Arbitrase Di Indonesia Menurut Undang-undang No.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya: Simbur Cahaya

(5)

Penyelesaian sengketa mengenai e-contract yang merupakan salah satu bentuk aktifitas e-commerce dapat diselesaikan melalui arbitrase sebagai bentuk dari Alternative Dispute Resolution (selanjutnya disebut dengan “ADR”) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Alternatif Penyelesaian Sengketa (selanjutnya disebut dengan “APS”). ADR mengacu pada metode yang terstruktur untuk menyelesaikan sengketa selain melalui pengadilan adjudikasi.7

Berkaitan halnya dengan sengketa yang timbul dari e-contract, salah satu bentuk dari ADR atau APS yang telah terpengaruh dengan perkembangan media elektronik adalah Forum Penyelesaian Sengketa secara Online atau disebut dengan Online Dispute Resolution (selanjutnya disebut dengan “ODR). ODR yang merupakan perkembangan dari cara penyelesaian sengketa non-litigasi yang ada di dunia nyata.8

Online Dispute Resolution (ODR) merupakan cabang dari penyelesaian sengketa yang menggunakan teknologi untuk memfasilitasi penyelesaian antara para pihak.9 Perpaduan antara dispute resolution dan teknologi informasi telah menimbulkan sebuah alat baru yang penting, sebuah sistem dancara yang baru dalam melakukan bisnis yang menjadi lebih efesien, biaya yang lebih efektif, dan jauh lebih fleksibel dibandingan dengan cara yang tradisional.10 Penyelesaian

7

Jean-Sebastien, et.al, 2010, Ius Commune Casebooks for the Common Law of Europe: Cases, Materials and Text on Consumer Law, Hans-W Micklitz, et.al. (ed.), Hart Publishing, North America (US and Canada), h.511.

8

Abdul Halim Barkattullah, 2010, Penyelesaian Sengketa Transaksi E-Commerce, Jurnal

Hukum No.3 Vol.17 Juli 2010, Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin,

h.365.

9Feliksas Petrauskas & Eglė Kybartienė, 2011, Online Dispute Resolution in Consumer

Disputes, Mykolas Romeris University, Faculty of Law, Department of International and European

(6)

sengketa e-contract lebih tepat diselesaikan secara online, terlebih penyelesaian sengketa e-contract tersebut dimungkinkan untuk diselesaikan terutama untuk sengketa bernilai kecil. Penyelesaian sengketa yang terjadi akibat adanya hubungan dalam dunia maya, memang lebih tepat diselesaikan secara online juga. ODR difungsikan untuk menyelesaikan sengketa yang timbul akibat perbuatan hukum secara elektronik atau melalui dunia maya (cyberspace).

Namun penyelesaian sengketa perdagangan internasional melalui fasilitas internet belum banyak dikenal oleh khayalak publik, dan mekanisme penyelesaiannya pun tidak diatur secara jelas dalam instrument hukum internasional maupun nasional. Hal ini akan berpengaruh pula pada mekanisme penyelesaian sengketa hingga keputusan penyelesaian sengketa itu dibuat dan yang terpenting kekuatan mengikat daripada keputusan tersebut.Maka dari itu, penulis tertarik untuk membahas lebih dalam mengenai ODR ini ke dalam bentuk skripsi yang berjudul “KEKUATAN MENGIKAT KEPUTUSAN FORUM

PENYELESAIAN SENGKETA SECARA ONLINE (ONLINE DISPUTE

RESOLUTION) DALAM SENGKETA ELECTRONIC CONTRACT

(E-CONTRACT) (STUDI ONLINE DISPUTE RESOLUTION OLEH

AMERICAN ARBITRATION ASSOCIATION)”.

10

Collin Rule, 2002, Online Dispute Resolution for Business,for E-Commerce, B2B,

Consumer, Employment, Insurance, and other Commercial Conflict, Jossey-Bass, San Fransisco,

(7)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis hendak mengangkat 2 (dua) permasalahan yang akan dibahas lebih lanjut. Adapun permasalahan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pengaturan penyelesaian sengketa e-contract melalui ODR serta metode penyelesaiannya?

2. Bagaimanakah akibat hukum dari putusan ODR terkait penyelesaian sengketa e-contract?

1.3. Ruang Lingkup Masalah

Penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah perlu ditegaskan mengenai materi yang diatur didalamnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari agar isi atau materi yang terkandung tidak menyimpang dari pokok permasalahan yang telah dirumuskan sehingga dapat diuraikan secara sistematis. Agar pembahasan tidak menyimpang dari pokok permasalahan, maka haruslah ditentukan batasan-batasan mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas lebih lanjut. Adapun ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

1. Dalam permasalahan pertama, ruang lingkup permasalahannya meliputi pembahasan mengenai pengaturan penyelesaian sengketa alternatif melalui beberapa instrument hukum internasional terkait. Penulis akan menginventarisir bentuk-bentuk peraturan yang relevan sehingga dapat menggambarkan dasar hukum pelaksanaan ODR.

(8)

2. Dalam permasalahan kedua, ruang lingkup permasalahannya meliputi pembahasan mengenai akibat hukum daripada pelaksanaan penyelesaian sengketa contract terkait e-commercemelalui ODR serta pelaksanaan ODR oleh beberapa lembaga penyedia ODR.

1.4. Orisinalitas Penelitian

Orisinalitas suatu penelitian sangatlah diperlukan untuk menghindari terjadinya suatu plagiarism.Adapun dalam penulisan skripsi ini, penulis melakukan suatu perbandingan terhadap penulisan skripsi ini dengan penulisan yang telah ada. Perbedaan penulisan hukum ini dengan karya penulisan ilmiah lain adalah:

a. I Ketut Alit Mahajaya, NIM. 0503005083, Fakultas Hukum Universitas Udayana Denpasar, tahun 2009, judul “Chargeback dan Arbitrase Online sebagai Bentuk Upaya Hukum oleh Pemegang Kartu Kredit dalam Transaksi Internet Commerce”. Rumusan masalah yang dibahas antara lain:

1. Apakah dasar hukum dari upaya chargeback yang dilakukan oleh pemegang kartu kredit?

2. Meliputi hal-hal apa sajakah yang dapat menjadi alasan diajukannya chargeback oleh pemegang kartu kredit?

(9)

3. Dapatkah arbitrase online diterapkan sebagai suatu upaya penyelesaian sengketa alternatif Internet-Commerce di Indonesia?

Berdasarkan rincian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa penulisan skripsi ini tidak memiliki kemiripan yang signifikan terhadap penulisan karya ilmiah yang telah ada sebelumnya, terlebih mengenai substansi pembahasan. Namun penulisan karya ilmiah yang sebelumnya ini hanya memiliki topik pembahasan yang sama mengenai penyelesaian sengketa online.

1.5. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan-tujuan yang hendak dicapai pada skripsi ini adalah:

a. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum daripada skripsi ini adalah:

1. Untuk memperdalam pengetahuan dibidang hukum bisnis internasional, mengenai aspek e-commerce namun terlebih pada salah satu aktifitas e-commerce yaitu e-contract yang akan dibahas mulai dari pengertian contract, jenis contract, macam-macam sengketa e-contract, dan penyelesaian sengketa e-contract internasional pada umumnya.

2. Untuk menambah dan memperluas perkembangan ilmu pengetahuan hukum perdagangan internasional mengenai penyelesaian sengketa online melalui ODR serta kelemahan dan kelebihan menggunakan ODR.

(10)

b. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus daripada skripsi ini adalah:

1. Untuk menguraikan lebih detail mengenai bagaimana pengaturan dan prosedur penyelesaian sengketa contract yang timbul dari aktifitas e-commerce internasional serta metode penyelesaiannya melalui ODR. 2. Untuk menganalisis secara yuridis mengenai akibat hukum dari

putusan ODR terkait penyelesaian sengketa e-contract yang timbul dari aktifitas e-commerce internasional.

1.6. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis merupakan manfaat yang ditujukan oleh peneliti dalam memberikan sumbangsih pada perkembangan bidang keilmuan yang didalami.11 Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai pengertian e-contract, jenis e-contract, syarat sahnya e-contract, macam-macam sengketa e-contract yang timbul dari aktifitas e-commerce internasional, serta penyelesaian daripada sengketa e-contract yang timbul dari aktifitas e-commerce internasional pada umumnya, dan memberikan pemahaman mengenai penyelesaian sengketa online melalui Online Dispute Resolution (ODR) serta kelebihan dan kekurangan menggunakan ODR.

11

Mukti Fajar & Yulianto Achmad, 2013, Dualisme Penelitian Hukum Normatif &

(11)

b. Manfaat Praktis

Penulisan yang bersifat ilmiah ini juga memiliki manfaat penelitian yang ditujukan untuk kegunaan praktis menyelesaikan persoalan lainnya yang sejenis. Biasanya ditujukan bagi para praktisi hukum, manfaat bagi negara atau manfaat bagi masyarakat awam yang menemui kasus yang sama.12 Selain itu, dari segi praktis berguna sebagai upaya yang dapat diperoleh langsung manfaatnya, seperti peningkatan keahlian meneliti dan keterampilan menulis, sumbangan pemikiran dalam pemecahan suatu masalah hukum, acuan pengambilan keputusan yuridis, dan bacaan baru bagi penelitian ilmu hukum.13

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat internasional sebagai sarana pengembangan pemikiran tentang dasar hukum penyelesaian sengketa contract yang timbul akibat aktifitas e-commerce internasional melalui Online Dispute Resolution (ODR), serta mekanisme penyelesaiannya.Selain itu diharapkan masyarakat internasional dapat mengetahui mengenai akibat hukum dari putusan ODR terkait penyelesaian sengketa contract yang timbul dari aktifitas e-commerce internasional.

1.7. Landasan Teoritis

Penulisan skripsi ini akan di dukung dengan beberapa teori sehingga dalam pembahasannya akan diperoleh fakta-fakta yang dapat dipertanggung

12

Ibid.

13

Abdul Kadir Muhamad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 66.

(12)

jawabkan. Landasan teoritis merupakan upaya untuk mengidentifikasikan teori hukum umum atau teori umum khusus, konsep-konsep hukum, aturan hukum dan norma-norma yang akan dipakai sebagai landasan untuk membahas permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan landasan teori sebagai berikut:

1. Teori Kebebasan Berkontrak

Kebebasan berkontrak mensyaratkan bahwa para pihak bebas untuk membuat kontrak.14 Teori kebebasan berkontrak ini digunakan oleh para pebisnis atau pengusaha dalam membuat suatu kontrak yang dimana para pihaknya berdomisili pada wilayah/negara yang berbeda. Teori kebebasan berkontrak ini memberikan kebebasan bagi para pihak untuk:15

a. Membuat atau tidak membuat perjanjian b. Mengadakan perjanjian dengan siapapun c. Menentukan isi perjanjian

d. Menentukan bentuk perjanjian

Berdasarkan teori kebebasan berkontrak ini, dalam pelaksanaan e-commerce tidak menutup kemungkinan para pihak yang mengadakan suatu kontrak menentukan bentuk daripada perjanjiannya, maka celah kontrak yang dibuat secara elektronik pun dapat dilakukan.

14

Huala Adolf (selanjutnya disebut dengan Huala Adolf II), 2010, Dasar-dasar Hukum

Kontrak Internasional, PT Refika Aditama, Bandung, h.20.

15

Tanpa nama, tanpa tahun, Hukum Kontrak Elektronik, URL: https://fairuzelsaid.files.wordpress.com/2011/01/hukum-kontrak.pdf, diakses pada Selasa, 22 September 2015.

(13)

2. Teori Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian Sengketa

Teori kebebasan memilih cara-cara penyelesaian sengketa dirasa sangat penting, karena pada prinsip ini para pihak memiliki kebebasan penuh untuk menentukan dan memilih cara atau mekanisme bagaimana sengketanya diselesaikan (principle of free choice of means).16

E-Commerce internasional tidak luput dari konsekwensi timbulnya suatu perselisihan antar para pihak, terlebih hubungan tersebut dilakukan dengan tidak adanya komunikasi secara langsung.Begitu pula halnya dalam mengadakan suatu kontrak yang dilakukan tanpa mengadakan pertemuan atau hanya dikomunikasikan melalui surat elektronik (e-mail). Pada era globalisasi dan liberalisasi ini para pihak yang terlibat dalam e-contract dalam menyelesaikan sengketa yang terjadi, lebih cenderung memilih APS yaitu salah satunya melalui arbitrase.Dalam penulisan skripsi ini, penulis mengaitkan teori ini terhadap permasalahan yang hendak dibahas yaitu dimana penyelesaian sengketae-contract yang ditimbul akibat aktifitas e-commerce, para pihak yang bersengketa dapat menggunakan teori kebebasan memilih cara-cara penyelesaian sengketa yang mereka hadapi.Namun seiring dengan fasilitas internet yang telah disediakan dunia serta sengketa tersebut timbul akibat dari perdagangan yang dilakukan secara online, maka penyelesaian sengketa e-contract yang timbul akibat aktifitas e-commerce pada masa kini dapat diselesaikan melalui online juga, yaitu melalui ODR. Maka para pihak yang

16

(14)

bersengketa memiliki kebebasan untuk memilih apakah mereka akan menempuh cara penyelesaian sengketa melalui ODR atau tidak.

1.8. Metode Penelitian

Skripsi merupakan salah satu dari bentuk penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah dan tentunya harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah pula. Maka dari itu, penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah ini perlulah dilakukan suatu penelitian dan mencari kebenaran ilmu hukum dengan menggunakan metodologi yang bertujuan untuk mengadakan pendekatan atau penyelidikan ilmiah yang tepat.Adapun metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

a. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini termasuk ke dalam penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif berarti penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sebuah sistem norma. Menurut Soerjono Soekanto17 penelitian hukum dapat dibagi dalam: 1. Penelitian Hukum Normatif, yang terdiri dari:

a. penelitian terhadap asas-asas hukum; b. penelitian terhadap sistematika hukum; c. penelitian terhadap taraf sinkronisasi hukum; d. penelitian sejarah hukum; dan

e. penelitian perbandingan hukum.

17

Soerjono Soekanto dalam Bambang Sunggono, 2013, Metodologi Penelitian Hukum, Rajawali Press, Jakarta, h.41.

(15)

Selain itu Peter Mahmud Marzuki Peter Mahmud Marzuki menyatakan pendapatnya mengenai penelitian hukum normatif, adalah:

“…. suatu proses untuk menemukan suatu aturan hukum, prinsip- prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum untuk menjawab permasalahan hukum yang dihadapi. … Penelitian hukum normatif dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi….”18

Maka dari itu, penulis menggunakan pendekatan-pendekatan tertentu, dari sejumlah pendekatan yang dikenal dalam penelitian hukum normatif.

b. Jenis Pendekatan

Penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah agar dapat mengungkapkan kebenaran jawaban atas permasalahan secara sistematis, metodologis, dan konsisten sehingga dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya, sebaiknya disusun dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang tepat.Dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan, antara lain pendekatan peraturanperundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis, pendekatan komparatif, dan pendekatan konseptual.19

Pendekatan dalam penelitian hukum normatif dimaksudkan adalah bahan untuk mengawali sebagai dasar sudut pandang dan kerangka

18

Peter Mahmud Marzuki dalam Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, op.cit, h. 34.

19

(16)

berpikir seorang peneliti untuk melakukan analisis. Dalam penelitian hukum normatif terdapat beberapa pendekatan, yaitu:20

a. Pendekatan Perundang-undangan (Statute Approach); b. Pendekatan Konsep (Conseptual Approach);

c. Pendekatan Analitis (Analytical Approach);

d. Pendekatan Perbandingan (Comparative Approach); e. Pendekatan Sejarah (Historical Approach);

f. Pendekatan Filsafat (Philosophical Approach); dan g. Pendekatan Kasus (Case Approach).

Adapun pendekatan yang digunakan dalam penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah ini adalah pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach), pendekatan sejarah (historical approach), dan pendekatan kasus (case approach).

Pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) adalah metode penelitian dengan menelaah semua undang-undang, memahami hirarki dan asas-asas dalam peraturan perundang-undangan. Dikatakan bahwa pendekatan perundang-undangan berupa legislasi dan regulasi yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum.21 Namun dalam penulisan ini, penulis menganalisis instrumen-instrumen hukum internasional agar ditemukan substansi dari permasalahan yang akan dibahas.

20

Mukti Fajar & Yulianto Achmad, op.cit., h.184-191.

21

Peter Mahmud Marzuki, 2009, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 97.

(17)

Pendekatan sejarah (historical approach) dilakukan dengan menelaah latar belakang dan perkembangan dari materi yang diteliti.22 Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa:

“Penelitian hukum normatif yang menggunakan pendekatan sejarah memungkinkan seseorang peneliti untuk memahami hukum secara lebih mendalam tentang suatu sistem atau lembaga, atau suatu pengaturan hukum tertentu, sehingga dapat memperkecil kekeliruan, baik dalam pemahaman maupun penetapan suatu lembaga atau ketentuan hukum tertentu.”23

Pada penulisan ini, penulis menggunakan pendekatan sejarah (historical approach) yaitu untuk membahas mengenai perkembangan pada materi ODR serta latar belakang ODR.

Pendekatan kasus (case approach) dalam penelitian hukum normatif bertujuan untuk mempelajari norma-norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum.24 Pendekatan kasus, adalah beberapa kasus ditelaah untuk dipergunakan sebagai referensi bagi suatu isu hukum.25 Penulis menggunakan pendekatan ini untuk membahas mengenai bagaimana pelaksanaan ODR oleh American Arbitration Association, berdasarkan salah satu sengketa yang ditangani.

c. Bahan Hukum/Data

Pada suatu penelitian ilmiah, pada umumnya jenis data dibedakan antara: 1. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama.

22

Mukti Fajar & Yulianto Achmad, op.cit, h.189.

23

Satjipto Rahardjo, 1986, Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, h.32.

24

Mukti Fajar & Yulianti Achmad, op.cit, h.190.

25

(18)

2. Data sekunder, antara lain mencakup dokumen-dokumen resmi, buku- buku, hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan, dan sebagainya.26 Dalam tulisan ini, digunakan sumber-sumber data sekunder yang terdiri dari:

1. Bahan hukum primer, yang terdiri atas peraturan perundang-undangan, yurisprudensi atau keputusan pengadilan (lebih-lebih bagi penelitian yang berupa studi kasus) dan perjanjian internasional (traktat). Adapun sejumlah bahan hukum primer yang digunakan dalam penulisan skripsi ini yaitu dalam bentuk instrument internasional, peraturan perundang-undangan serta ketentuan-ketentuan khusus yang terkait mengenai permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini, adalah sebagai berikut:

- The New York Convention 1958 Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards;

- European Convention on International Commercial Arbitration 1961

- United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL) Model Law on International Commercial Arbitration;

- United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL) Model Law on Electronic Commerce (E-Commerce);

2. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang dapat memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, yang dapat berupa rancangan perundang-undangan, hasil penelitian, buku-buku teks,

26

Amirudin dan Zainal Asikin, 2004, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, h. 30.

(19)

jurnal ilmiah, Surat kabar (Koran), pamphlet, leaflet, brosur, dan berita internet.

3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan non hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.27

d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum/Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian hukum normatif dilakukan dengan studi pustaka terhadap bahan-bahan hukum, baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan hukum tersier dan atau bahan non-hukum.28 Adapun penulisan skripsi ini dilakukan dengan pengumpulan bahan-bahan hukum yang diperoleh melalui:

1. Pengumpulan bahan hukum primer yang dilakukan melalui pengumpulan instrument internasional yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas.

2.Pengumpulan bahan hukum sekunder yang dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan untuk mendapatkan bahan hukum yang bersumber dari buku-buku, karya tulis hukum atau pandangan ahli hukum yang terdapat dalam suatu jurnal hukum, maupun artikel hukum terpercaya terkait dengan permasalahan yang akan dibahas pada skripsi ini yang terdapat di media massa atau internet.

27

Johny Ibrahim, 2005, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang, h.318.

28

(20)

3.Pengumpulan bahan hukum tersier dilakukan dengan menggunakan kamus hukum.

e. Teknik Analisis

Adapun teknik pengolahan bahan hukum yaitu setelah bahan hukum terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik deskripsi yaitu dengan memaparkan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.29 Setelah bahan hukum primer dan sekunder yang terkumpul, kemudian dilakukan suatu penilaian (evaluasi) dan selanjutnya dilakukan interpretasi yang kemudian diajukan dengan argumentasi.Teknik argumentasi dilakukan untuk memberikan preskripsi atau penilaian benar atau salah atau apa yang lebih tepat digunakan berdasarkan hukum daripada permasalahan yang dibahas. Dari tahap-tahap tersebut nantinya akan ditarik kesimpulan secara sistematis agar tidak menimbulkan pertentangan antara bahan hukum yang satu dengan bahan hukum yang lain.

Adapun teknik lain yang digunakan oleh penulis adalah teknik Analisis, yaitu pemaparan secara mendetail dari keterangan-keterangan yang didapat pada tahap sebelumnya yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini sehingga keseluruhannya membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan secara logis.

29

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in