1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Ibadah merupakan bentuk taat atau tunduk kepada Allah berupa doa dan segala tingkah dan perilaku yang berdasarkan pada al-Qur’an dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi hal-hal yang di laranganNya, ibadah baik berupa ritual, sikap dan tingkah laku menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim sebagai wujud dari keimanan yang dimiliki untuk menggapai ridho Allah1. Menurut Alim ibadah berarti wujud dari seseorang berbakti kepada Allah SWT yang disebabkan oleh dorongan dalam diri sehingga membentuk akidah dan tauhid menjadi suatu keimanan dalam jati diri manusia, ibadah menjadi sebuah bingkai dalam kehidupan dalam mengembangkan suatu keimanan yang nyata, selain itu ibadah juga memiliki manfaat sebagai usaha secara sadar dalam memelihara keimanan seseorang, kemudian Alim menambahkan bahwa ada dua pembagian ibadah dalam islam yaitu iadah mahdhah yang bersifat khusus dan ibadah ghoiru mahdhah yang sifatnya umum2. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa ibadah merupakan kegiatan yang dilandaskan oleh iman sehingga mendorong ketaatan seseorang untuk terbiasa melakukan ibadah dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan mendapatkan ridha Allah Swt, sebagaimana Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa dalam kehidupan tak lepas dari sebuah unsur balasan baik berupa pahala maupun berupa siksaan, maka seseorang yang dikatakan memiliki tingkat terbiasa dalam kegiatan beribadah maka memiliki nilai ketaatan tersendiri, sedangkan ibadah itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghoiru mahdhah.
Berkaitan dengan ketaatan beribadah yang termasuk dalam jiwa keagamaan, Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Agama menyatakan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi keagamaan seseorang yaitu faktor intern dan
1 Bambang Widagdo, Aqidah & Ibadah, ed. Saiful Amien, ke 1. (Malang: UMM Press, 2012). 2
Wening Wihartati Dawam Mahfud, Mahmudah, “Pengaruh Ketaatan Beribadah Terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa Uin Walisongo Semarang” 35, no. 1 (2015): 35–51.
2
ekstern, dari kedua faktor tersebut faktor intern berupa hereditas, tingkat usia, dan kepribadian manusia, sedangkan faktor ekstern berupa keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak, institusi sebagai kurikulum dalam pengembangan keagamaan bagi anak, dan masyarakat sebagai lingkungan yang terdapat disekeliling anak3. Adapun menurut Zuaihaini bahwa lembaga pendidikan yang terdapat didalamnya yaitu Pendidikan Agama Islam sebagai wujud dari usaha secara sadar yang dilakukan untuk dapat belajar, memahami dan mengamalkan agama anak secara baik, dengan berbagai cara yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan dan membiasakan budaya islami dalam kehidupan sehari-hari yaitu seperti usaha seorang pendidik terutama Pendidikan Agama Islam dalam mendampingi proses pembelajaran dengan baik agar anak dapat memahami dan mengamalkan materi yang diajarkan selain itu setiap pendidik memiliki kewajiban dalam memberikan contoh yang baik sesuai dengan nilai-nilai islam dan memberikan motivasi untuk mendukung siswa dalam membiasakan ibadah sebagai bentuk keimanan dan penanaman moral yang sesuai dengan syariat Islam4. Oleh karena itu pemahaman agama dan bagaimana anak mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari dapat dipengaruhi salah satunya oleh pembelajaran Pendidikan Agama Islam disekolah yang berperan penting dalam pertumbuhan maupun perkembangan keagamaan peserta didik, bukan hanya itu akan tetapi Pendidikan Agama Islam juga memiliki tujuan yaitu untuk menanamkan dan membentuk manusia yang berakhlakul kharimah, beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.
Menurut Qowaid dalam penelitiannya menyatakan bahwa seiring berjalannya waktu, pendidikan agama memiliki tahapan yang semakin membaik sehingga menduduki posisi yang kuat dalam sebuah sistem pendidikan di Indonesia, akan tetapi secara faktual tujuan pendidikan agama dalam implementasinya belum tercapai seperti yang diharapkan5. Oleh karena itu dengan
3
Jalaluddin, Psikologi Agama, ke 13. (Jakarta: Rajawali Pers, 2010).
4 Sari Famularsih and Arif Billah, “Pola Pembinaan Keagamaan Anak Jalanan Dalam Membentuk
Kepribadian,” MUDARRISA: Journal of Islamic Education 6, no. 1 (2015): 88.
5
Qowaid, Sekolah Dinamika Pendidikan Agama Di Sekolah, ed. Mustofa Asrori, ke 1. (Jakarta Pusat: LITBANGDIKLAT PRESS, 2018).
3
adanya temuan tersebut peneliti tertarik sehingga melakukan observasi dan wawancara di salah satu institusi yaitu SMK Diponegoro Tumpang yang memiliki visi misi untuk meluluskan siswa yang beriman dan berakhlakul kharimah serta adanya akidah dan ibadah yang kuat dalam diri siswa, dengan itu pembelajaran yang mendukung dan memiliki peran sangat penting agar tercapainya sebuah visi misi sekolah tersebut yaitu pembelajaran Pendidikan Agama Islam, berdasarkan obsevasi yang dilakukan peneliti berupa wawancara terhadap guru kurikulum dengan menggali informasi terkait pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan observasi kepada beberapa siswa kelas X dengan memberikan angket mengenai ketaatan beribadah siswa di kehidupan sehari-hari, hingga akhirnya menemukan sebuah permasalahan yang terdapat pada kelas X yaitu minimnya kesadaran diri siswa dalam ketidak konsistenan terhadap ibadah sehari-hari. Berikut kesimpulan berupa tabel dari hasil angket yang telah di berikan kepada beberapa siswa kelas X :
Tabel 1. Observasi
Jurusan/Kelas Jumlah Siswa
Lalai dalam Ibadah (tidak konsisten)*
1 2 3 4 5 TKJ / X 67 67,1 % 92,6 % 53,8 % 77,6 % 61,1 % 1. Shalat 2. Puasa Sunnah 3. Puasa Wajib 4. Menuntut Ilmu 5. Tolong Menolong
Berdasarkan tersebut tabel tersebut maka dapat disimpulkan bahwa 67,1 % siswa tidak konsisten dalam sholat, 92,6 % siswa tidak konsisten dalam puasa sunnah, 53,8 % siswa tidak konsisten dalam puasa wajib, 77,6 % siswa tidak konsisten dalam menuntut ilmu, dan 61,1 % tidak konsisten dalam tolong menolong. Permasalah demikian menandakan belum tercapainya suatu tujuan Pendidikan Agama Islam dengan baik dan belum mendukung visi dan misi sekolah, maka dengan itu adanya penelitian ini diharapkan dapat membantu
4
perkembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang belum mencapai tujuan seperti yang diharapkan.
Keagamaan siswa di SMK Diponegoro Tumpang yang dilihat dari hasil wawancara dengan bagian kurikulum dan humas serta angket yang diberikan kepada siswa kelas X menunjukkan bahwa ketaatan dalam beribadah siswa kelas X masih tergolong kategori rendah, Pendidikan Agama Islam memiliki peran untuk membekali siswa agar memiliki kepribadian yang baik dengan didasari oleh nilai nilai islami. Proses dan hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam di dalam kelas salah satunya dapat dilihat melalui pemahaman dan penerapan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Sedang Allah berfirman pada QS. Az-Zariyat ayat 56 yang berisi :
ِن ْوُدُبْعَيِل َّلِْا َسْنِ ْلْا َو َّن ِجْلا ُتْقَلَخ اَم َو
Artinya :
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam itu sendiri sebagai suatu proses ikhtiyariyah yang bersifat khusus dalam artian terdapat beberapa proses dasar seperti penanaman, pemantapan dan pengembangan nilai-nilai Islam yang menjadi penguatan mental spiritual manusia baik sikap maupun tingkah laku dengan berdasarkan kaidah-kaidah yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadist6. Dari pengertian tersebut pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan suatu pembelajaran aktif dengan memiliki tujuan khusus yaitu mengembangkan potensi dan kekuatan spiritual keagamaan yang tinggi bagi peserta didik maka dengan itu pembelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki pengaruh yang besar sebagai hasil dari pemahaman dan perkembangan peserta didik yang dihasilkan melalui penanamkan nilai-nilai islami di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam sehingga peserta didik dapat mengaplikasikannya berupa peningkatkan,
6 Elihami Elihami and Abdullah Syahid, “PENERAPAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DALAM MEMBENTUK KARAKTER PRIBADI YANG ISLAMI,” Edumaspul - Jurnal Pendidikan 2, no. 1 (2018).
5
kedisiplinan dan konsisten dalam ketakwaan baik ketaatan beribadah maupun pembentukan akhlak siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti memutuskan untuk mengetahui lebih mendalam tentang permasalahan yang akan diteliti. Peneliti mengambil judul “Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
terhadap Ketaatan Beribadah Siswa kelas X di SMK Diponegoro Tumpang – Malang”.
B. Rumusan Masalah
Dalam penelitian kali ini rumusan masalah yang digunakan ialah :
1. Apakah terdapat pengaruh pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap ketaatan beribadah siswa kelas X SMK Diponegoro Tumpang ?
2. Berapakah prosentase pengaruh pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap ketaatan beribadah siswa kelas X SMK Diponegoro Tumpang ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap ketaatan beribadah siswa kelas X SMK Diponegoro Tumpang – Malang. 2. Untuk mengetahui prosentase dari pengaruh pembelajaran Pendidikan
Agama Islam terhadap ketaatan beribadah siswa kelas X SMK Diponegoro Tumpang – Malang.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Untuk menambah referensi penelitian dalam dunia pendidikan sebagai pengembangan disiplin ilmu keagamaan.
b. Untuk menguji dan membuktikan teori yang berkaitan dengan “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Ketaatan Beribadah”
2. Manfaat Praktis a. Bagi Sekolah
6
Hasil penelitian ini memiliki manfaat untuk memberikan pengetahuan dan pendapat kepada lembaga institusi terkait proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di dalam kelas dengan pengamalan siswa dalam ketaatan beribadah.
b. Bagi Guru
1) Memberikan pengetahuan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki peran yang penting terhadap ketaatan beribadah siswa dalam kehidupan sehari-hari.
2) Memberikan pengetahuan bahwa perlu adanya evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam pengembangan proses belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan ketaatan beribadah siswa. c. Bagi Siswa
Memberikan pengetahuan kepada siswa terkait pentingnya mengimplementasikan pembelajaran Pendidikan Agama Islam disekolah dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah maupun di rumah.
E. Batasan Istilah
Untuk mempermudah dan menghindari kesalahpahaman dalam memahami penelitian ini, maka penulis memberi batasan istilah yang akan diteliti. Adapun batasan istilah dalam penelitian ini adalah :
1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah pada umumnya dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, mendorong kreativitas dan kemandirian, serta menanamkan dan mengamalkan ajaran-ajaran keagamaan yang berdasarkan Al-Qur’am dengan tujuan iman takwa, dan berakhlak mulia. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dimaksud oleh penulis disini adalah sebagai mata pelajaran.
2. Ketaatan Beribadah
Ketaatan dalam keagamaan adalah suatu bentuk dari adanya keyakinan dan kepercayaan kepada Allah SWT serta terhadap kaidah-kaidah ajaran agama Islam. Bentuk dari ketaatan seorang muslim kepada Allah yaitu dapat
7
berupa tingginya tingkat religius dan spiritualitas dalam diri sehingga selalu menegakkan apa yang telah diperintahkan dan menjauhkan segala yang dilarangNya. Sedangkan dalam tulisan ini penulis membatasi ibadah dalam islam yang terbagi menjadi 2 yaitu ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa, serta ibadah goiru mahdhah seperti menuntut ilmu dan tolong menolong.