HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Wilayah Penelitian Letak Geografi
Kabupaten Kebumen terletak pada 7,270 – 7,500 Lintang Selatan dan 109,220 – 109,500 Bujur Timur. Batas-batas wilayah Kabupaten Kebumen meliputi: sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.
Kabupaten Kebumen terdiri atas 26 kecamatan, yang terbagi atas 449 desa dan 11 kelurahan dengan jumlah Rukun Warga (RW) sebanyak 1.877 dan 6.755 Rukun Tetangga (RT). Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kebumen (Distannak Kabupaten Kebumen, 2011). Berdasarkan administratifnya lokasi penelitian meliputi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Buayan, Rowokele, dan Ayah, dengan pertimbangan berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen bahwa pada tiga kecamatan tersebut terdapat empat kelas kemampuan kelompok tani yang masih aktif. Kecamatan Buayan terdiri dari 20 desa dan 96 kelompok tani dengan rincian 57 kelompok tani kelas Pemula, 29 kelompok tani kelas Lanjut, 9 kelompok tani kelas Madya dan 1 kelompok tani kelas Utama. Kecamatan Rowokele terdiri dari 11 desa dan 80 kelompok tani dengan rincian 56 kelompok tani kelas Pemula, 16 kelompok tani kelas Lanjut, 7 kelompok tani kelas Madya dan 1 kelompok tani kelas Utama. Kecamatan Ayah terdiri dari 18 desa dan 96 kelompok tani dengan rincian 52 kelompok tani kelas Pemula, 31 kelompok tani kelas Lanjut, 12 kelompok tani kelas Madya dan 1 kelompok tani kelas Utama.
Topografi Wilayah
Topografi wilayah Kabupaten kebumen bervariasi mulai dari pantai dataran rendah, perbukitan, sampai dataran tinggi dengan ketinggian berkisar 0-300 m dpl. Berdasarkan strata tanah, Kabupaten Kebumen terbagi atas 3 strata yaitu: strata pantai di bagian selatan merupakan sentra padi gogo, palawija, kedele, jagung, dan kacang tanah, hortikultura semangka, kelapa, peternakan sapi serta nelayan. Strata dataran rendah di bagian tengah mulai dari perbatasan Purworejo sampai dengan Cilacap, Banyumas, dengan komoditas utama adalah padi sawah, kedele dan kacang hijau serta mangga dan kelapa. Strata pegunungan di bagian utara yang berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, pengembangan tanaman terdiri dari komoditas tanaman perkebunan (cengkeh, lada, nilam, tembakau), serta tanaman komoditi kehutanan, peternakan dan perikanan darat.
Berdasarkan jenis tanahnya, Kabupaten Kebumen terdiri atas 3 bagian, yaitu: bagian selatan meliputi Kecamatan Mirit, Ambal, Klirong, Petanahan, dan Puring merupakan tanah berstruktur pasir, regosol kelabu kecoklatan yang Bagian tengah meliputi Kecamatan Prembun, Kutowinangun, Kebumen,
Pejagoan, Adimulyo, Sruweng, Karanganyar, dan Gombong, jenis tanahnya Aluvial Hidromorf, Asosiasi Gley humus rendah, dan Aluvial Kelabu. Bagian utara/urut gunung dengan jenis tanah podzolik merah kuning dan meliputi Kecamatan Padureso, Alian, Sadang, Karanggayam, Sempor, Rowokele, dan Ayah. Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis tanah menentukan jenis komoditas utama yang diusahakan oleh petani (Distannak Kabupaten Kebumen 2011). Jenis tanah ini menentukan komoditas yang diusahakan oleh petani.
Pola Usahatani
Pola usahatani di Kabupaten Kebumen keadaannya sangat beragam sesuai kondisi ekosistem dan agroklimat setempat. Pada lahan basah terbagi atas 3 kategori yaitu sawah berpengairan teknis, ½ teknis dan tadah hujan. Sedangkan untuk lahan kering terbagi atas lahan kering daerah datar/pantai dan lahan kering daerah pegunungan. Pola usahatani secara rinci adalah sebagai berikut (Distannak Kabupaten Kebumen, 2011):
(a) Pola usahatani lahan basah/sawah berpengairan meliputi musim tanam I pada bulan Oktober s/d Februari usahatani padi sawah, musim tanam II pada bulan Maret s/d Juni usahatani padi sawah dan musim tanam III pada bulan Juli s/d September usahatani palawija kedele, kacang hijau, dan jagung.
(b) Pola usahatani lahan tadah hujan. Musim tanam I (November s/d Maret) usahatani padi sawah, musim tanam II (April s/d Juli ) usahatani palawija, musim tanam III (Agustus s/d September) usahatani sayuran, tetapi hanya sebagian kecil.
(c) Pola tanam lahan urut gunung meliputi musim tanam I (Oktober s/d Februari) usahatani padi gogo, jagung, kedele, ketela pohon,. Musim tanam II (Maret s/d September) usahatani palawija dan sayuran, tetapi hanya sebagian kecil. Penduduk
Penduduk Kabupaten Kebumen berjumlah 1.250.856 jiwa, terdiri dari 631.379 jiwa penduduk laki-laki dan 619.177 jiwa penduduk perempuan. Berdasarkan usia produktif (15-64 tahun) dan tidak produktif (0-14 tahun dan > 65 tahun), penduduk Kabupaten Kebumen terdiri dari 785.107 jiwa usia produktif, dan 465.749 jiwa usia tidak produktif (BPS Kabupaten Kebumen, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia produktif jumlahnya lebih banyak dibanding usia tidak produktif yaitu selisih 288.629 jiwa atau 23,81 persen.
Berdasarkan tingkat pendidikan formal, penduduk Kabupaten Kebumen terdiri dari 338.167 orang tidak/belum tamat SD, 483.716 orang tamat SD, 171.024 orang tamat SLTP, 108.884 orang tamat SLTA, 11,568 orang tamat akademi, 8.611 orang tamat sarjana (BPS Kabupaten Kebumen, 2009). Data ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Kabupaten Kebumen (30,14 persen) memiliki tingkat pendidikan formal tamat SD.
Sarana Prasarana
Panjang jalan di Kabupaten Kebumen ada 610,20 km. Apabila dilihat dari jenis permukaannya maka dari jumlah tersebut 518,39 km merupakan jalan yang sudah diaspal dan 60,58 km merupakan jalan yang sudah diperkeras dengan kerikil, sisanya 31,23 km merupakan jalan tanah. Dilihat dari kondisi jalannya, 480,51 km kondisi jalannya baik, jalan yang kondisinya sedang 89,69 km, dan sisanya yang 40,00 km dalam kondisi rusak (BPS Kabupaten Kebumen 2009). Kelembagaan formal dan informal
Kelembagaan di Kabupaten Kebumen terdiri dari kelembagaan formal dan informal. Kelembagaan formal terdiri dari: 1.877 Rukun Warga (RW) dan 6.755 Rukun Tetangga (RT). Kelembagaan informal Kelompok Tani sebanyak 1.934 kelompok tani. Adapun kelembagaan penunjang yang terkait dengan kegiatan penyuluhan meliputi : 23 Koperasi Unit Desa, 116 Koperasi Tani, 353 Tempat Pelayanan Koperasi/TPK, 271 Kios Saprotan, 45 Kios Sapronak, BRI Unit Desa (31 unit), Regu Pengendali Hama/RPH (12 regu), Perguruan tinggi (3 unit), Pasar umum (73 unit), Poultry shop (9 unit), Sentra Pelayanan IB (11 unit), dan 8 buah distributor pupuk (Distannak Kabupaten Kebumen 2011).
Perilaku berkelompok
Sesuai dengan kepentingannya, kelompok dapat memiliki berbagai fungsi. Kedalam (internal), kelompok dapat berfungsi sebagai alat bagi pembentukan nilai dan perilaku yang diharapkan pada diri anggotanya. Sedangkan keluar, kelompok dapat menjadi alat untuk memperbaiki masyarakat luas yang menjadi sistem eksternalnya. Secara internal, Colley (1909) diacu dalam Suharno (2009) membuktikan pengaruh kelompok terhadap anggotanya, yaitu adanya peningkatan perasaan solidaritas dan integritas anggota dalam kelompok, sehingga peranan kelompok (“kita”) menjadi lebih besar daripada peranan subkelompok (“kami”) dan individu anggotanya (“saya”). Hartford (1971) diacu dalam Suharno (2009) menunjukkan bukti pengaruh kelompok keluar sistemnya, yaitu penggunaan kelompok untuk memperbaiki masyarakat. Kelompok kecil dapat menjadi jembatan penghubung antara individu dengan organisasi yang lebih besar, kemudian dapat mengatur dan merubah organisasi yang lebih besar atau masyarakat di luar kelompok tersebut.
Kelompok tani sebagai bagian dari kelompok sosial yang lebih luas (masyarakat) memiliki pengertian sebagai kumpulan petani, peternak dan pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Pengertian ini memberikan ciri-ciri yang ada pada sebuah kelompok tani, yaitu: (1) saling mengenal, akrab dan saling percaya diantara sesama anggota, (2) mempunyai pandangan dan kepentingan yang sama dalam berusahatani, (3) memiliki kesamaan dalam tradisi dan atau pemukiman, hamparan usaha, jenis usaha, status ekonomi maupun sosial, bahasa, pendidikan dan ekologi, serta (4) ada pembagian tugas dan tanggung jawab sesama anggota berdasarkan kesepakatan bersama.
Ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, tantangan dan tuntutan terhadap fungsi kelompok tani juga semakin meningkat.
Kelompok tani saat ini dan kedepan diharapkan dapat berfungsi sebagai unit belajar, unit usaha, unit kerjasama, dan unit percontohan atau unit informasi dan teknologi. Melalui pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut, diharapkan kelompok tani tidak lagi terlalu bergantung pada bantuan pemerintah atau pihak-pihak lain selain atas dasar kerjasama yang saling menguntungkan.
Review Kelompok Tani di Kabupaten Kebumen
Berdasarkan data kelembagaan petani Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Kebumen memiliki jumlah kelompok tani terbanyak kedua setelah Kabupaten Magelang (Setbakorluh Provinsi Jawa Tengah 2011). Jumlah kelompok tani di Kabupaten Kebumen sebanyak 1.934 kelompok tani yang tersebar di 26 kecamatan. Berdasarkan klasifikasi kelas kemampuan kelompok tani, kelompok tani diklasifikasikan kedalam empat kelas yaitu kelas Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama.
Komposisi kelompok tani di Kabupaten Kebumen berdasarkan kelas kamampuannya terdiri dari: 636 kelompok tani kelas Pemula (32,89 persen), 1.046 kelompok tani kelas Lanjut (54,08 persen), 235 kelompok tani kelas Madya (12,15 persen), dan 17 kelompok tani kelas Utama (0,88 persen) (Distannak Kabupaten Kebumen, 2012). Data tersebut menunjukkan sebagian besar kelompok tani (1.682 kelompok tani atau sebesar 86,97%) masih merupakan kelompok tani kelas Pemula dan Lanjut. Hal ini mencerminkan bahwa kelompok tani yang ada belum berfungsi efektif sebagai media interaksi petani dalam meningkatkan kesejahteraannya.
Tabel 8 menunjukkan jumlah kelompok tani di Kabupaten Kebumen sampai dengan Juni 2012 sebanyak 1.934 kelompok dengan komoditas utama adalah padi. Kelompok tani yang selama ini tumbuh terkonsentrasi di 10 (sepuluh) kecamatan yaitu Kecamatan Puring (112 kelompok tani), Ambal (112 kelompok tani), Ayah (96 kelompok tani), Buayan (96 kelompok tani), Sempor (96 kelompok tani), Petanahan (96 kelompok tani), Sruweng (96 kelompok tani), Alian (87 kelompok tani), Karang Gayam (86 kelompok tani) dan Rowokele (80 kelompok tani).
Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen kecamatan yang memiliki empat kelas kemampuan kelompok tani yang masih aktif dan dapat dapat mewakili kondisi Kabupaten Kebumen adalah Kecamatan Buayan, Rowokele, dan Ayah sehingga ketiga kecamatan tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian.
Tabel 8 Distribusi kelompok tani di Kabupaten Kebumen (data s/d Juni 2012)
No. Kecamatan Jumlah kelompok tani Komoditas utama
1. Ayah 96 Padi 2. Rowokele 80 Padi 3. Buayan 96 Padi 4. Gombong 48 Padi 5. Sempor 96 Padi 6. Puring 112 Padi 7. Petanahan 96 Padi 8. Klirong 80 Padi 9. Adimulyo 80 Padi
10. Karang Anyar 48 Padi
11. Karang Gayam 86 Padi
12. Sruweng 96 Padi
13. Pejagoan 64 Padi
14. Kebumen 80 Padi
15. Karang Sambung 80 Padi
16. Sadang 40 Padi
17. Bulus Pesantren 80 Padi
18. Ambal 112 Padi 19. Mirit 76 Padi 20. Bonorowo 36 Padi 21. Prembun 48 Padi 22. Padureso 48 Padi 23. Poncowarno 41 Padi 24. Kutowinangun 64 Padi 25. Alian 87 Padi 26 Kuwarasan 64 Padi Jumlah 1.934
Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen (2012)
Berdasarkan data keadaan umum kelompok tani di lokasi penelitian, menunjukkan bahwa kelompok tani Kelas Madya dan Utama berdiri antara tahun 1978 sampai 1984, sedangkan kelompok tani Kelas Pemula dan Lanjut berdiri antara tahun 2006 hingga 2008. Kelompok tani Kelas Pemula dan Lanjut merupakan kelompok tani yang relatif baru terbentuk. Jumlah anggota kelompok terbesar merupakan kelompok tani Kelas Pemula dan Lanjut sebanyak 45 orang, sedangkan kelompok tani yang memiliki jumlah anggota terkecil merupakan kelompok tani Kelas Utama yaitu sebanyak 27 orang. Jumlah anggota kelompok tani akan menentukan kemampuan ketua kelompok tani dalam memobilisasi sumberdaya yang dimiliki guna mengatasi permasalahan yang ada, memenuhi kepentingan atau tujuan kelompok. Keadaan umum kelompok tani di lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 9 berikut.
Tabel 9 Keadaan umum kelompoktani di lokasi penelitian berdasarkan kelas kemampuan kelompok tani
No. Kelas kemampuan kelompok tani Nama kelompok tani
Desa Kecamatan Tahun berdiri
Jumlah anggota (orang)
1. Pemula Mitra Agro Nogoraji Buayan 2008 40
2. Pemula Pakarti
Saribumi
Kreteg Rowokele 2006 45
3. Pemula Candi Wulan Candirenggo Ayah 2006 40
4. Lanjut Rukun
Santoso
Rogodono Buayan 2006 40
5. Lanjut Kismorahayu Bumi Agung Rowokele 2008 45
6. Lanjut Tani Maju Bulurejo Ayah 2006 35
7. Madya Karya Utama Purbowangi Buayan 1984 32
8. Madya Eling Jaya Pring Tutul Rowokele 1983 40
9. Madya Kedung Jaya Kedung Weru Ayah 1978 39
10. Utama Sri Mulyo Rogodadi Buayan 1984 30
11. Utama Pulungsari Redisari Rowokele 1985 36
12. Utama Pucung Mangunweni Ayah 1978 27
Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen (2012)
Jika ditinjau dari latar belakang berdirinya kelompok tani, memiliki sejarah yang berbeda. Secara garis besar latar belakang atau dasar berdirinya kelompok tani yang diamati dapat dikelompokkan kedalam dua golongan. Pertama, kelompok yang berdiri karena ada dorongan dari luar, baik karena ada program bantuan paket kredit maupun dorongan dari penyuluh pertanian setempat. Kelompok tani Kelas Pemula dan Kelas Lanjut termasuk golongan ini. Kedua, kelompok tani yang terbentuk karena dorongan dari dalam, atau masyarakat atau petani itu sendiri. Kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama termasuk golongan kedua.
Berdasarkan struktur kepengurusan, pada kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama ternyata jauh lebih lengkap dibanding dengan kelompok tani Kelas Lanjut dan Kelas Pemula. Struktur kepengurusan kelompok tani Kelas Pemula maupun Kelas Lanjut hanya meliputi: (1) Ketua, (2) Sekretaris, (3) Bendahara, (4) Seksi Saprodi dan Pemasaran. Struktur kepengurusan kelompok tani Kelas Pemula dan Kelas Lanjut seperti tampak pada Gambar 2.
Seksi Pengolahan Seksi Usaha Tani Seksi Sarana Prasarana Produksi Seksi
Pemasaran Informasi Seksi /Teknologi Seksi Permodalan Wkl. Ketua Bendahara Sekretaris Ketua Pelindung Pembina
Struktur kepengurusan kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama dapat dikatakan lengkap seperti tampak pada Gambar 3.
Gambar 2 Struktur kepengurusan pada kelompok tani Kelas Pemula dan Kelas Lanjut
Ketua
Bendahara Sekretaris
Seksi Saprodi dan Pemasaran
Gambar 3 Struktur kepengurusan pada kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama
Berdasarkan penjelasan dari pengurus kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama, pada awal didirikan, struktur kepengurusan hanya terdiri dari ketua dan anggota. Selanjutnya berkembang menjadi ketua, sekretaris dan bendahara. Struktur organisasi terbaru dilengkapi dengan seksi-seksi yaitu seksi usaha tani, permodalan, pengolahan, sarana dan prasarana produksi, pemasaran dan informasi/teknologi.
Kendala yang dihadapi oleh kelompok-kelompok tersebut dalam menjalankan organisasi kepengurusannya adalah terbatasnya sumberdaya manusia yang memadai. Tingkat pendidikan formal pengurus umumnya rendah, terkecuali untuk beberapa pengurus kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama. Sebagai contoh pada kelompok tani Pulung Sari Desa Redisari Kecamatan Rowokele yang merupakan kelompok tani Kelas Utama, terdapat 1 (satu) orang pengurusnya berpendidikan sarjana (S1). Salah satu kiat yang dijalankan oleh kelompok tani tersebut dalam mengatasi kelangkaan sumberdaya manusia pengurusnya adalah mencoba memadukan pengalaman berorganisasi kemasyarakatan yang dimiliki oleh ketua kelompok tani selama ini dengan semangat dari anggota pengurus yang potensial.
Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian, kegiatan yang dilakukan kelompok tani meliputi kegiatan sosial (pengajian, kesenian, kerja bakti), kegiatan agribisnis (pengadaan sarana prasarana produksi/saprodi hingga pemasaran hasil) serta kegiatan lainnya seperti simpan pinjam, rapat anggota, pembagian air, pemeliharaan fasilitas irigasi dilakukan secara teratur dengan melibatkan seluruh anggota. Keteraturan tersebut membuat mereka dapat mengatur curahan waktu kerjanya dengan pola yang relatif tetap dari musim ke musim. Keuntungan yang diperoleh dari keteraturan tersebut adalah mereka dapat mengatur dan mencurahkan waktu luangnya pada pekerjaan di luar usahatani, sehingga mereka dapat meningkatkan penghasilannya. Selain itu mereka tidak menutup diri dari perubahan atau perkembangan lingkungan yang terjadi, sehingga kegiatan yang semula hanya mengatur usahatani saja dapat berkembang dengan kegiatan-kegiatan lainnya seperti simpan pinjam uang, pengadaan sarana produksi bersama, pengolahan dan pemasaran produk secara bersama sama.
Kegiatan kelompok tani bervariasi, dari kegiatan yang terkait dengan pertanian sampai kegiatan yang tidak terkait dengan pertanian. Namun demikian, semuanya masih dalam rangka memajukan kelompok tani. Rincian kegiatan umum dari sebagian besar kelompok tani menurut kelas kemampuan kelompok tani dari kelas terendah sampai dengan kelas tertinggi dapat dilihat pada uraian berikut:
Kelompok Tani kelas Pemula, kegiatannya berkisar pada: (1) pertemuan rutin (selapanan, bulanan), (2) arisan, (3) simpan-pinjam, dan (4) pengadaan sarana produksi pertanian. Kelompok Tani kelas Lanjut, kegiatannya berkisar pada: (1) pertemuan rutin (selapanan, bulanan), (2) arisan, (3) simpan-pinjam, (4) pengadaan sarana produksi pertanian, (5) kerja kelompok/arisan kerja, (6) persewaan peralatan non-pertanian (pecah-belah, tikar, dan sebagainya), (7) perbenihan, dan (8) pengendatian hama dan penyakit tanaman.
Kelompok Tani kelas Madya, kegiatannya berkisar pada: (1) pertemuan rutin (selapanan, bulanan), (2) arisan, (3) simpan-pinjam, (4) pengadaan sarana produksi pertanian, (5) kerja kelompok/arisan kerja, (6) persewaan peralatan
(8) pengendatian hama dan penyakit tanaman, (9) persewaan peralatan pertanian (sprayer, mesin pompa air diesel, dan sebagainya), dan (10) warung kelompok/koperasi. Kelompok Tani kelas Utama, kegiatannya berkisar pada: (1) pertemuan rutin (selapanan, bulanan), (2) arisan, (3) simpan-pinjam, (4) pengadaan sarana produksi pertanian, (5) kerja kelompok/arisan kerja, (6) persewaan peralatan non-pertanian (pecah-belah, tikar, dan sebagainya), (7) perbenihan, dan (8) pengendatian hama dan penyakit tanaman, (9) persewaan peralatan pertanian (sprayer, mesin pompa air diesel, dan sebagainya), (10) warung kelompok/koperasi dan (11) menjalin kerjasama dengan pihak swasta.
Penilaian Kelas Kemampuan Kelompok Tani
Kemampuan kelompok tani merupakan kapasitas/kompetensi yang dimiliki oleh kelompok tani dalam menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi dalam mengembangan usahatani. Berdasarkan kemampuannya, kelompok tani diklasifikasikan ke dalam 4 (empat) peringkat kelas yaitu kelas Pemula, kelas Lanjut, kelas Madya, dan kelas Utama.
Penilaian kemampuan kelompok tani berdasarkan pada Keputusan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian No. 168/Per/SM.170/J/11/11, tanggal 18 November 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kemampuan Kelompoktani. Petunjuk dimaksudkan untuk memberikan acuan kepada penyelenggara penyuluhan dalam melaksanakan penilaian kemampuan kelompoktani sehingga diperoleh tingkat perkembangan dan klasifikasi kemampuan kelompoktani.
Prinsip penilaian kemampuan kelompok tani adalah: sahih (valid), objektif, keterandalan (reliable), relevan, dan efisien. Penilaian kemampuan kelompok tani dirumuskan dan disusun dengan pendekatan aspek managemen dan aspek kepemimpinan, yang meliputi : (a) perencanaan, (b) pengorganisasian, (c) pelaksanaan, (d) pengendalian dan pelaporan, (e) pengembangan kepemimpinan Kelompoktani. Lima aspek penilaian itulah yang disebut Lima Kemampuan Kelompoktani atau Panca Kemampuan Kelompoktani disingkat Pakem Poktan. Pakem Poktan didasarkan pada fungsi-fungsi kelompoktani sebagai kelas belajar, wahana kerjasama, dan unit produksi (BPPSDMP 2011). Adapun penilaian dilakukan dengan menggunakan instrumen yang merupakan pengembangan dari aspek dan indikator Pakem Poktan dengan total nilai kemampuan kelompoktani adalah 1.000. Nilai maksimum pada masing-masing aspek adalah sebagai berikut :
Kemampuan merencanakan kegiatan, dengan nilai maksimum indikator : 200
Kemampuan mengorganisasikan kegiatan, dengan nilai maksimum indikator : 100
Kemampuan melaksanakan kegiatan, dengan nilai maksimum indikator : 400
Kemampuan melakukan pengendalian dan pelaporan, nilai maksimum indikator : 150
Kemampuan mengembangkan kepemimpinan kelompok, nilai maksimum indikator: 150.
Klasifikasi kemampuan kelompoktani didasarkan pada hasil penilaian (nilai) sebagai berikut: kelompok tani Kelas Pemula, dengan nilai 0-250, kelompok tani Kelas Lanjut, dengan nilai 251-500. Kelompok tani Kelas Madya dengan nilai 501-750, dan kelompok tani Kelas Utama dengan nilai 751-1.000.
Pengukuhan Kelas Kelompoktani dilaksanakan berdasarkan pengklasifikasian hasil penilaian, yaitu dengan pemberian sertifikat yang ditandatangani oleh Kepala Desa, Camat, Bupati/Walikota sesuai klasifikasi kelas kemampuan kelompok. Kelas Pemula, sertifikat ditandatangani oleh Kepala Desa; Kelas Lanjut, sertifikat ditandatangani oleh Camat; Kelas Madya dan Utama, sertifikat ditandatangani oleh Bupati/Walikota.
Penilaian dilaksanakan mulai bulan Januari, kemudian dilaporkan perkembangan hasil penilaian setiap satu tahun sekali mulai bulan September, secara berjenjang dari desa/kelurahan ke Balai Penyuluhan Kecamatan, kemudian dari Balai Penyuluhan Kecamatan ke Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian (Bapelluh) Kab/Kota, dari Bapelluh Kab/Kota ke Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian (Bakorluh) Provinsi, dari Sekretariat Bakorluh Provinsi ke Pusat Penyuluhan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Jakarta (BPPSDMP 2011).
Setiap tingkatan wilayah administrasi penyelenggara dan pelaksana penyuluhan pertanian disusun organisasi penyelenggara penilaian kelompoktani, yaitu:
(1) Tim Penilaian Tingkat Desa/Kelurahan, terdiri dari: ketua adalah penyuluh pertanian setempat, sekretaris adalah penyuluh pertanian swadaya;
(2) Tim Pelaksana Penilaian Tingkat Kecamatan, ketua adalah pimpinan Balai Penyuluhan Kecamatan, sekretaris penyuluh pertanian senior di Balai Penyuluhan, dan anggota adalah penyuluh pertanian setempat;
(3) Tim Pelaksana Penilaian Tingkat Kabupaten/Kota: ketua adalah Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan/Kelembagaan Penyuluh Kabupaten/Kota, sekretaris adalah Kepala Bidang/Bagian yang menangani kelembagaan petani di kabupaten/kota, dan anggota kepala seksi/sub bagian yang menangani kelembagaan tani dan kelompok jabatan fungsional pertanian di kabupaten/kota.
(4) Tim Pembina Penilaian Tingkat Provinsi: ketua adalah Kepala Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan/ Kelembagaan Penyuluhan Propinsi, sekretaris adalah Kepala Bidang/ Bagian yang menangani kelembagaan petani, dan anggota adalah Kepala Seksi/SubBagian yang menangani kelembagaan tani dan Kelompok Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian Provinsi.
Faktor Internal Petani Anggota Kelompok Tani
Faktor internal petani anggota adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh petani anggota yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan dengan lingkungannya. Faktor internal petani anggota kelompok tani yang diamati pada penelitian ini meliputi: (1) umur, (2) pendidikan formal, (3) luas lahan, (4) motivasi, (5) pengalaman berusahatani, (6) jumlah tanggungan keluarga, dan (7) kekosmopolitan.
Umur
Umur petani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah usia responden dihitung dari lahir hingga saat penelitian, dinyatakan dalam tahun. Umur responden dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan penggolongan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu: (1) Kurang produktif (≥ 65 tahun), (2) Produktif (50 s/d 64 tahun), dan (3) Sangat produktif (15 s/d 49 tahun).
Berdasarkan hasil penelitian, distribusi responden berdasarkan umur disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10 Distribusi responden berdasarkan umur
Kelas kemampuan poktan Kategori umur Kurang produktif (≥ 65 thn) Produktif (50 s/d 64 thn) Sangat produktif (15 s/d 49 thn) ∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 9 30,00 8 26,67 13 43,33 KL (n=30) 4 13,33 18 60,00 8 26,67 KM (n=30) 2 6,67 15 50,00 13 43,33 KU (n=30) 1 3,33 16 53,33 13 43,33 Total (n=120) 16 13,33 57 47,50 47 39,17 Catatan :
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa umur petani yang menjadi responden dalam penelitian ini bervariasi antara 27 tahun sampai 75 tahun. Pada Kelompok tani kelas Pemula, mayoritas petani (43,33 persen) termasuk kategori umur sangat produktif yaitu berumur antara 15 tahun sampai 49 tahun. Hal ini sesuai dengan komposisi penduduk menurut usia produktif berdasarkan penggolongan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dibagi dalam 4 (empat) kategori (Umar 2011) yaitu; (1) usia kurang produktif 65 tahun ke atas, (2) usia produktif 50 – 64 tahun, (3) usia sangat produktif 15 – 49 tahun dan usia tidak produktif 0 – 14 tahun.
Pada Kelompok tani kelas Lanjut sebanyak 60,00 persen merupakan petani usia produktif. Sebagian petani anggota Kelompok tani kelas Madya (50,00 persen) berusia produktif. Pada Kelompok tani kelas Utama, mayoritas petani (53,33 persen) tergolong usia produktif.
Hasil penelitian pada Tabel 10 menunjukkan bahwa dari 120 responden mayoritas (47,50 persen) berusia produktif (50-64 tahun). Hal tersebut mengindikasikan bahwa anggota kelompok mampu menjalankan aktifitas usahatani, sehingga diharapkan dapat memberikan hasil berkualitas dan produksi tinggi yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani. Hasil uji beda nonparametrik Kruskal-Wallis tidak menunjukkan adanya perbedaan umur antara petani anggota kelompok tani Kelas Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama.
Pendidikan Formal
Pendidikan formal adalah lamanya pendidikan formal (proses belajar mengajar disekolah atau sederajat) yang pernah ditempuh/dicapai oleh responden. Pengukuran berdasarkan jumlah tahun respoden mengikuti pendidikan di bangku sekolah.
Pendidikan formal responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) Rendah, (2) Sedang, dan (3) Tinggi. Kategori rendah berkisar tidak sekolah sampai dengan tamat/lulus Sekolah Dasar (SD). Kategori sedang berkisar tidak lulus SLTP sampai dengan lulus SLTA. Kategori tinggi untuk pendidikan diatas SLTA.
Berdasarkan hasil penelitian, distribusi responden berdasarkan pendidikan formal disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11 Distribusi responden berdasarkan pendidikan formal
Kelas kemampuan poktan
Kategori pendidikan formal Rendah (≤ SD ) Menengah (≤ SLTP s/d SLTA) Tinggi (> SLTA) ∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 15 50,00 14 46,67 1 3,33 KL (n=30) 22 73,33 8 26,67 0 0,00 KM (n=30) 15 50,00 14 46,67 1 3,33 KU (n=30) 9 30,00 17 56,67 4 13,33 Total (n=120) 61 50,83 53 44,17 6 5,00 Catatan :
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Tingkat pendidikan formal petani responden beragam dari yang tidak sekolah sampai perguruan tinggi. Pada kelompok tani kelas Pemula, mayoritas (50,00 persen) berada pada kategori pendidikan rendah yaitu tidak sekolah sampai dengan tamat SD. Demikan halnya pada kelompok tani kelas Lanjut, mayoritas (73,33 persen) berada pada kategori pendidikan rendah. Pada kelompok tani kelas Madya, separuh petani (50,00 persen) tergolong pendidikan rendah. Pada Kelompok tani kelas Utama, mayoritas petani (56,67 persen) memiliki pendidikan formal menengah yaitu tamat SLTP hingga tamat SLTA. Hasil uji beda nonparametrik Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat
pendidikan formal antara petani anggota kelompok tani Kelas Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama. Anggota kelompok tani kelas Pemula, Lanjut dan Madya mayoritas pendidikan kategori rendah atau SD kebawah. Sedangkan anggota kelompok tani kelas Utama mayoritas berpendidikan menengah yaitu lulus SLTP hingga SLTA.
Tabel 11 di atas menunjukkan bahwa secara keseluruhan, mayoritas petani yang menjadi responden memiliki pendidikan formal rendah (50,83 persen), yaitu yang berpendidikan SD, tidak tamat SD atau tidak sekolah. Pendidikan merupakan salah satu indikator untuk melihat mutu sumberdaya petani anggota kelompok tani. Secara teoritis semakin tinggi pendidikan formal seseorang, maka semakin mudah untuk memahami informasi yang diterima. Secara mental pendidikan formal berfungsi untuk menyiapkan seseorang menghadapi tantangan hidup yang selalu berubah-ubah. Mardikanto (2009) menyatakan bahwa pendidikan petani umumnya mempengaruhi cara dan pola pikir petani dalam mengelola usahatani. Pendidikan yang relatif tinggi menyebabkan petani lebih dinamis. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin efisien bekerja dan semakin banyak mengetahui cara-cara atau teknik bertani yang lebih baik dan menguntungkan. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Mosher 1966 (Papilaya 1998) yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor pelancar dalam pembangunan pertanian, faktor pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat perubahan sikap manusia tradisional menjadi manusia modern, atau dari sikap tradisional ke mentalis komersil.
Luas Lahan
Luas lahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah satuan luas lahan yang diusahakan responden untuk berusahatani, dinyatakan dalam satuan hektar (Ha). Pengukuran berdasarkan perhitungan luas lahan yang digunakan untuk usahataninya, kemudian di konversi atau satuan setempat ke dalam satuan Ha. Kategori kepemilikan lahan menurut Sastraatmaja (2010) adalah dikategorikan rendah jika kepemilikan lahan 0,1 – 0,5 Ha. Klasifikasi luas lahan garapan menurut Sayogyo (1977) dalam Drakel (2008) dibagi menjadi tiga kategori yaitu kategori luas lahan sempit jika lahan yang dimilikinya kurang dari 0,5 Ha. Sedangkan lahan sedang jika luasnya 0,5 sampai 1 Ha, dan lahan garapan yang luas jika memiliki luas lahan garapan lebih dari 1 Ha. Berdasarkan kategori tersebut, hasil penelitian distribusi responden berdasarkan luas lahan disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Distribusi responden berdasarkan luas lahan
Kelas kemampuan poktan
Kategori luas lahan Sempit
(< 0,5Ha )
Sedang
(≥ 0,5 s/d 1,00 Ha) (> 1,00Ha) Luas
∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 15 50,00 14 46,67 1 3,33 KL (n=30) 22 73,33 8 26,67 0 0,00 KM (n=30) 15 50,00 14 46,67 1 3,33 KU (n=30) 9 30,00 17 56,67 4 13,33 Total (n=120) 61 50,83 53 44,17 6 5,00 Keterangan:
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Luas penguasaan lahan petani responden berkisar antara 0,07 hektar sampai dengan 2,00 hektar. Penguasaan lahan tersebut ada yang berada pada satu lokasi dan lebih dari satu lokasi, dengan status kepemilikan lahan beragam yaitu milik sendiri, milik orang tua, milik orang lain atau bagi hasil, sewa dan gadai. Tabel 12 menunjukkan bahwa dari 120 responden, mayoritas responden atau 82,50 persen memiliki luas lahan sempit yaitu kurang dari 0,50 Ha. Besar kecilnya luas lahan yang dimiliki oleh petani akan mempengaruhi aktivitas masyarakat dalam melakukan pengelolaan usahatani. Petani anggota kelompok yang menguasai lahan sempit hanya mengusahakan satu komoditas yaitu padi sawah sehingga berpengaruh tahadap tingkat pendapatan petani anggota kelompok.
Lahan yang dikelola oleh petani anggota terdiri dari lahan sawah dan lahan darat (ladang). Komoditas utama yang diusahakan oleh anggota kelompok adalah padi sawah, sedangkan lahan darat (ladang) yang dikelola, ditanami palawija seperti ubi jalar dan ubi kayu.
Motivasi
Motivasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dorongan atau alasan dalam diri responden yang merangsang melakukan tindakan. Pengukuran motivasi berdasarkan pernyataan responden mengenai motif responden bergabung dalam kelompoktani, kebutuhan responden yang ingin dipenuhi selama bergabung menjadi anggota kelompoktani, dan harapan yang diinginkan oleh responden setelah bergabung menjadi anggota kelompok.
Motif berkelompok dibagi menjadi tiga kategori yaitu: skor 1 jika tidak ada motivasi apapun, skor 2 jika ingin mendapat pengakuan dari anggota yang lain, skor 3 jika motifnya menambah teman/bersosialisasi dan tempat untuk mengembangkan usahatani. Kebutuhan responden dinilai dari : skor 1 jika sekedar berkumpul bersama teman, skor 2 jika kebutuhannya untuk mendapatkan teman berdiskusi tentang usahatani, skor 3 jika kebutuhan berkelompok untuk memperoleh bantuan sarana produksi, teknologi, pasar, dan informasi pengembangan usahatani. Indikator harapan diukur dari: (1) harapan untuk menjalin kerjasama antar anggota dengan lebih erat, (2) harapan untuk mengetahui informasi tentang pemasaran, (3) harapan menambah pendapatan keluarga, menambah pengetahuan, sikap dan ketrampilan usahatani.
Motivasi dibagi menjadi tiga kategori yaitu: Rendah (tidak ada motivasi apapun, sekedar berkumpul bersama teman, menjalin kerjasama antar anggota dengan lebih erat); kategori Sedang (motif mendapat pengakuan dari anggota yang lain, kebutuhannya untuk mendapatkan teman berdiskusi tentang usahatani, harapan untuk mengetahui informasi tentang pemasaran) dan kategori Tinggi (motifnya menambah teman/bersosialisasi dan tempat untuk mengembangkan usahatani, kebutuhan berkelompok untuk memperoleh bantuan sarana produksi, teknologi, pasar, dan informasi pengembangan usahatani, harapan menambah pendapatan keluarga, menambah pengetahuan, sikap dan ketrampilan usahatani). Berdasarkan nilai capaian skor, kategori rendah pada kisaran skor 3 sampai 5, kategori sedang pada kisaran skor 6 sampai 7, dan kategori tinggi pada kisaran skor 8 sampai 9. Berdasarkan hasil penelitian, distribusi responden berdasarkan motivasi disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13 Distribusi responden berdasarkan motivasi
Kelas kemampuan poktan
Kategori motivasi
Rendah (skor ≤ 5) Sedang (skor >5 s/d 7) Tinggi (skor > 7)
∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 0 0,00 6 20,00 24 80,00 KL (n=30) 0 0,00 3 10,00 27 90,00 KM (n=30) 0 0,00 2 6,67 28 93,33 KU (n=30) 0 0,00 0 0,00 30 100,00 Total (n=120) 0 0,00 11 9,17 109 90,83 Keterangan :
Skor minimal = 3 Skor maksimal = 9
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Tabel 13 menunjukkan bahwa dari 120 responden, mayoritas responden (90,83 persen) mempunyai motivasi yang tergolong tinggi, dan tidak ada petani yang memiliki motivasi rendah. Dapat dikatakan bahwa mayoritas petani memiliki motivasi yang tinggi dalam berusahatani. Hal ini mengindikasikan bahwa usahatani dinilai masih menarik dan menguntungkan. Suparno (2000) mengemukakan bahwa seseorang akan melakukan sesuatu kalau mengharapkan akan melihat hasil, memiliki nilai (value) atau manfaat. Perasaan berhasil akan menimbulkan motivasi seseorang untuk mempelajari sesuatu. Selain itu, seseorang akan termotivasi untuk belajar jika yang dipelajari mendatangkan keuntungan. Keuntungan dimaksud dapat berupa nilai ekonomi maupun sosial.
Motivasi dalam penelitian ini meliputi motif berkelompok, kebutuhan yang ingin dicapai melalui kelompok, dan harapan yang diinginkan setelah mengikuti kelompok. Sebagian besar anggota bergabung menjadi anggota kelompok untuk menambah teman atau bersosialisasi dan tempat untuk mengembangkan usahatani, kebutuhan yang ingin dipenuhi adalah untuk memperoleh bantuan sarana produksi, teknologi, pasar, dan informasi pengembangan usahatani. Harapan yang diinginkan anggota setelah masuk kelompok adalah menambah pendapatan keluarga, menambah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan usahatani.
Pengalaman Berusahatani
Pengalaman berusahatani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lamanya responden terlibat langsung dalam berusahatani padi sawah. Pengukuran berdasarkan hitungan jumlah tahun responden melaksanakan usahatani. Pengalaman berusahatani responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) Sedikit, (2) Cukup, dan (3) Banyak. Kategori sedikit berkisar dari 1 sampai 5 tahun, kategori cukup berkisar dari 6 sampai 25 tahun, dan kategori banyak lebih dari 25 tahun.
Tabel 14 menyajikan distribusi responden berdasarkan pengalaman berusahatani. Petani responden memiliki pengalaman berusahatani beragam dari 2 tahun sampai dengan 60 tahun. Petani yang sudah banyak memiliki pengalaman
berusahatani lebih banyak merupakan petani anggota Kelompok tani kelas Utama (43,33 persen) dibanding petani anggota Kelompok tani kelas Pemula (36,67 persen), kelas Lanjut (36,67 persen), dan kelas Madya (33,33 persen). Hal ini dapat dikatakan bahwa ada beberapa petani anggota kelompok tani kelas Utama yang memiliki pengalaman lebih banyak dibandingkan petani anggota kelompok tani kelas Madya, Lanjut, dan Pemula.
Aktifitas utama anggota kelompok tani di lokasi penelitian adalah menanam padi pada dua kali musim tanam dalam setahun, dan satu kali musim tanam palawija. Produktivitas rata-rata padi dalam setahun berkisar 6-9 kwintal per Ha. Adapun varietas padi yang ditanam merupakan varietas yang direkomendasikan oleh pemerintah dan sesuai spesifik lokalita.
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 14, mayoritas petani (55,83 persen) memiliki pengalaman berusahatani tergolong cukup, yaitu antara 5 tahun sampai dengan 25 tahun. Dengan pengalaman yang tergolong cukup tersebut, maka dalam menerima informasi, petani cenderung membandingkan dengan pengalaman usahatani yang telah dialami. Mardikanto (2009) menyatakan bahwa pengalaman seorang petani akan mempengaruhi mereka dalam mengelola usahatani yang dilakukan. Hal ini secara tidak langsung berpengaruh pada proses pengambilan keputusan, sehingga petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama cenderung sangat selektif dalam proses pengambilan keputusan. Selengkapnya data tentang pengalaman berusahatani responden disajikan pada Tabel 14 berikut.
Tabel 14 Distribusi responden berdasarkan pengalaman berusahatani
Kelas kemampuan poktan
Kategori pengalaman berusahatani Sedikit (≤ 5 tahun) Cukup (> 5 s/d 25th) Banyak (> 25 th) ∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 3 10,00 16 53,33 11 36,67 KL (n=30) 2 6,67 17 56,67 11 36,67 KM (n=30) 1 3,33 19 63,33 10 33,33 KU (n=30) 2 6,67 15 50,00 13 43,33 Total (n=120) 8 6,67 67 55,83 45 37,50 Keterangan :
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga adalah banyaknya anggota keluarga tinggal dalam satu rumah atau berada diluar rumah dan menjadi tanggung jawab kepala keluarga. Pengukuran berdasarkan jumlah orang yang menjadi tanggungan kepala keluarga, dengan menggunakan skala ordinal. Jumlah tanggungan keluarga dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) Sedikit, (2) Cukup, dan (3) Banyak. Kategori sedikit berkisar dari 1 sampai 3 orang per kepala keluarga (KK), kategori sedang berkisar dari 4 sampai 5 orang per KK, dan kategori banyak berkisar dari 6 sampai 7 orang. Hasil penelitian tentang distribusi petani berdasarkan jumlah tanggungan keluarga disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15 Distribusi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga Kelas
kemampuan poktan
Kategori jumlah tanggungan keluarga Sedikit (1-3 org/KK) Sedang (4-5 org/KK) Banyak (> 5 org/KK) ∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 16 53,33 9 30,00 5 16,67 KL (n=30) 18 60,00 10 33,33 2 6,67 KM (n=30) 18 60,00 11 36,67 1 3,33 KU (n=30) 13 43,33 15 50,00 2 6,67 Total (n=120) 65 54,17 45 37,50 10 8,33 Keterangan :
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Petani responden memiliki jumlah tanggungan keluarga beragam dari 1 orang sampai dengan 7 orang. Tabel 15 menunjukkan pada Kelompok tani kelas Pemula, mayoritas petani (53,55 persen) memiliki jumlah tanggungan keluarga yang tergolong sedikit yaitu 1-3 orang/KK. pada Kelompok tani kelas Lanjut, mayoritas petani (60,00 persen) memiliki jumlah tanggungan keluarga yang tergolong sedikit. Pada kelompok tani kelas Madya, mayoritas petani (60,00 persen) memiliki sedikit jumlah tanggungan keluarga. Pada Kelompok tani kelas Utama, separuh petani responden (50,00 persen) memiliki jumlah tanggungan keluarga kategori sedang yaitu 4-5 orang/KK. Jumlah tanggunangan keluarga merupakan salah satu indikator dalam menentukan aktivitas masyarakat (Drakel 2008) berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Tabel 15 menunjukkan bahwa dari 120 responden, mayoritas petani (54,17 persen) memiliki sedikit tanggungan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa umumnya petani anggota kelompok tani di sini telah berkeluarga. Petani yang berusia 50 – 75 tahun kebanyakan memiliki keluarga yang telah mandiri, anak-anaknya telah memiliki keluarga sendiri dan memilih untuk hidup sendiri.
Kekosmopolitan
Kekosmopolitan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah frekuensi aktivitas responden dalam mencari informasi yang berkaitan dengan pengembangan usahatani ke luar sistem sosialnya, ke desa lain atau ke kota dalam satu minggu, satu bulan, atau satu tahun terakhir. Kekosmopolitan dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) kategori rendah jika tidak pernah mencari informasi tentang usahatani di luar sistem sosialnya, (2) kategori sedang jika kadang-kadang mencari informasi usahatani di luar sistem sosialnya dengan frekuensi kurang dari 3 kali dalam setahun, dan (3) kategori tinggi jika sering mencari informasi usahatani di luar sistem sosialnya dengan frekuensi lebih dari 4 kali dalam setahun. Berdasarkan nilai capaian skor, kategori rendah jika capaian skor 1 sampai dengan 1,67, kategori sedang pada capaian skor > 1,67 sampai dengan 2,33, dan kategori tinggi pada capaian skor > 2,33.
Pada Kelompok tani kelas Pemula mayoritas petani responden memiliki kekosmopolitan kategori rendah sampai sedang (100,00 persen). Mayoritas responden pada Kelompok tani kelas Lanjut (56,67 persen) memiliki kekosmopolitan yang tergolong sedang. Demikian halnya dengan kelas Madya, mayoritas responden (63,33 persen) memiliki kekosmopolitan kategori sedang. Tidak jauh berbeda dengan kelas Utama, mayoritas responden atau sebanyak 76,67 persen memiliki kekosmopolitan kategori sedang, namun terdapat petani responden pada Kelompok tani kelas Madya dan Utama yang memiliki kekosmopolitan kategori tinggi masing-masing sebanyak 10,00 persen. Hal ini memberikan gambaran bahwa ada beberapa anggota Kelompok tani kelas Utama dan kelas Madya sering berpergian ke luar desa dalam mengakses informasi. Hal ini didukung oleh sarana dan prasarana transportasi yang tersedia dan letak desa yang tidak terlalu jauh dari jalan umum. Hasil uji nonparametrik Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kekosmopolitan antara petani anggota kelompok tani Kelas Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama. Distribusi petani berdasarkan kekosmopolitan disajikan pada Tabel 16.
Tabel 16 Distribusi responden berdasarkan kekosmopolitan Kelas kemampuan poktan Kategori kekosmopolitan Rendah (skor ≤ 1,67) Sedang (skor >1,67 s/d 2,33) Tinggi (skor > 2,33) ∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 15 50,00 15 50,00 0 0,00 KL (n=30) 13 43,33 17 56,67 0 0,00 KM (n=30) 8 26,67 19 63,33 3 10,00 KU (n=30) 4 13,33 23 76,67 3 10,00 Total (n=120) 40 33,33 74 61,67 6 5,00 Keterangan :
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Tabel 16 menunjukkan bahwa dari total petani responden, mayoritas petani ( 61,67 persen) memiliki kekosmopolitan yang tergolong sedang. Hal ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar anggota kelompok tani jarang berpergian (≤ 3 kali per tahun) ke luar desa untuk mengakses informasi yang berkaitan dengan pengembangan usahatani. Atau dapat dikatakan bahwa upaya petani anggota untuk mencari informasi yang berkaitan dengan pengembangan usahatani yang dibutuhkan, belum dilaksanakan secara serius. Informasi pengembangan usahatani yang dibutuhkan biasanya diperoleh dari ketua kelompok tani ataupun penyuluh pertanian. Hasil uji beda nonparametrik Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada tingkat pendidikan formal dan kekosmopolitan petani anggota di ke empat kelas kelompok tani Pemula, Lanjut, Madya dan Utama.
Faktor Eksternal Petani Anggota Kelompok Tani
Faktor eksternal petani anggota adalah keadaan atau kondisi yang mempengaruhi petani yang berasal dari luar dirinya. Faktor eksternal yang berhubungan dengan persepsi petani anggota kelompok tani yang diamati dalam penelitian ini meliputi: (1) ketersediaan informasi, (2) peran penyuluh, (3) keterlibatan anggota, dan (4) manfaat yang diperoleh anggota dari kelompok tani. Ketersediaan Informasi tentang Usahatani
Ketersediaan informasi usahatani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat ketersediaan media tertentu sebagai sumber informasi tentang usahatani, terdiri dari: (a) media elektronik: TV, radio, internet, hp; (b) media non-elektronik: poster, brosur, majalah, buku; (c) interpersonal: penyuluh, petani lain di luar kelompok, petani lain dalam kelompok. Ketersediaan informasi dibagi menjadi tiga kategori yaitu: kategori rendah jika tidak pernah mengakses TV, radio, internet, hp, tidak pernah mengakses poster, brosur, majalah, buku, tidak pernah berinteraksi dengan pedagang, tengkulak, penyuluh, petani lain di luar kelompok, petani lain dalam kelompok. Kategori sedang jika frekuensi mengakses informasi usahatani melalui TV, radio, internet dan hp kurang dari 1 jam per hari, frekuensi akses informasi melalui media non elektronik poster, brosur, majalah, buku kurang dari 2 kali dalam 6 bulan, menjalin komunikasi dengan pedagang, tengkulak, penyuluh, petani lain di luar kelompok, petani lain dalam kelompok hanya 1 kali dalam sebulan. Kategori tinggi jika frekuensi mengakses informasi tentang usahatani melalui TV, radio, internet dan hp lebih dari 2 jam per hari, frekuensi akses informasi usahatani melalui media non elektronik poster, brosur, majalah, buku lebih dari 3 kali dalam 6 bulan, menjalin komunikasi dengan pedagang, tengkulak, penyuluh, petani lain di luar kelompok, petani lain lain dalam kelompok minimal 2 kali dalam sebulan. Berdasarkan nilai capaian skor, kategori rendah jika capaian skor 1 sampai dengan 18,33; kategori sedang jika capaian skor > 18,33 s/d 25,67; dan kategori tinggi jika capaian skor > 25,67.
Berdasarkan Tabel 17, dari total petani anggota Kelompok tani kelas Pemula, mayoritas petani (90,00 persen) memiliki ketersediaan informasi usahatani kategori rendah, sebagian kecil (10,00 persen) memiliki ketersediaan informasi usahatani kategori sedang. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas ketersediaan informasi usahatani petani anggota Kelompok tani kelas Pemula adalah rendah. Ketersediaan informasi usahatani petani anggota Kelompok tani kelas Lanjut menunjukkan bahwa mayoritas petani (80,00 persen) kategori rendah, seperlima (20,00 persen) terkategori sedang, dan tidak ada yang kategori tinggi. Secara keseluruhan, ketersediaan informasi tentang usahatani petani anggota Kelompok tani kelas Lanjut termasuk kategori rendah yaitu tidak pernah mengakses TV, radio, internet, hp, tidak pernah mengakses poster, brosur, majalah, buku, tidak pernah berinteraksi dengan pedagang, tengkulak, penyuluh, petani lain di luar kelompok, petani lain dalam kelompok. Distribusi petani berdasarkan ketersediaan informasi usahatani disajikan pada Tabel 17 berikut ini.
Tabel 17 Distribusi responden berdasarkan ketersediaan informasi usahatani Kelas
kemampuan poktan
Kategori ketersediaan informasi usahatani Rendah (skor ≤ 18,33) Sedang (skor >18,33 s/d 25,67) Tinggi (skor > 25,67) ∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 27 90,00 3 10,00 0 0,00 KL (n=30) 24 80,00 6 20,00 0 0,00 KM (n=30) 12 40,00 17 56,67 1 3,33 KU (n=30) 10 33,33 19 63,33 1 3,33 Total (n=120) 73 60,83 45 37,50 2 1,67 Keterangan :
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Pada Kelompok tani kelas Madya, ketersediaan informasi tentang usahatani menunjukkan bahwa kurang dari setengah (40,00) kategori rendah, lebih dari setengah (56,67 persen) kategori sedang, dan sebagian kecil (3,33 persen) kategori tinggi. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas ketersediaan informasi usahatani petani anggota Kelompok tani kelas Lanjut (96,67 persen) adalah rendah hingga sedang.
Ketersediaan informasi petani anggota Kelompok tani kelas Utama menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga (33,33 persen) kategori rendah, lebih dari separuh (63,33 persen) kategori sedang, dan sebagian kecil (3,33 persen) kategori tinggi. Secara keseluruhan, ketersediaan informasi mayoritas petani anggota Kelompok tani kelas Madya dan Utama termasuk kategori sedang yaitu frekuensi mengakses informasi melalui TV, radio, internet dan hp kurang dari 1 jam per hari, frekuensi akses informasi melalui media non elektronik poster, brosur, majalah, buku kurang dari 2 kali dalam 6 bulan, menjalin komunikasi dengan pedagang, tengkulak, penyuluh, petani lain di luar kelompok, petani lain dalam kelompok hanya 1 kali dalam sebulan.
Hasil uji beda nonparametrik Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa petani anggota kelompok tani Kelas Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama memiliki penilaian yang berbeda terhadap ketersediaan informasi usahatani. Semakin tinggi kelas kemampuan kelompok tani, ketersediaan informasi usahatani anggotanya semakin baik, artinya anggota kelompok tani semakin sering mengakses informasi tentang usahatani melalui media elektronik, non elektronik dan interpersonal.
Tabel 17 menunjukkan bahwa dari 120 petani responden, mayoritas petani atau 60,83 persen memiliki ketersediaan informasi tentang usahatani tergolong rendah. Untuk media elektronik, informasi tentang usahatani diperoleh melalui TV, radio, internet, dan hand phone dengan rata-rata frekuensi ≤ 1 jam per hari dalam 6 bulan terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa informasi tentang usahatani yang berasal dari media elektronik berupa siaran radio masih jarang menyiarkan hal-hal yang berhubungan dengan informasi di bidang pertanian. Media televisi swasta juga jarang menyiarkan informasi usahatani yang sesuai kebutuhan para petani.
Pada media nonelektronik, informasi usatani dapat diperoleh dari poster, brosur, majalah, buku, dengan rata-rata frekuensi ≤ 2 kali per tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa media cetak yang memberi informasi tentang usahatani, hanya dimiliki oleh sebagian kecil petani anggota kelompok. Sedangkan media interpersonal, anggota kelompok tani memperoleh informasi usahatani dengan cara menjalin hubungan dengan penyuluh (frekuensi ≤ 1 kali per bulan), menjalin hubungan dengan petani di luar kelompok (frekuensi ≤ 1 kali per 6 bulan), dan menjalin hubungan dengan petani lain dalam kelompok tani (frekuensi ≤ 1 kali per bulan). Hal tersebut mengindikasikan bahwa secara umum informasi tentang usahatani yang dikelola oleh para petani anggota kelompok juga didapatkan dari penyuluh, dari petani di luar kelompok dan dari sesama anggota kelompok, serta dari ketua kelompok. Hal tersebut mengindikasikan bahwa penyuluh, sesama anggota kelompok tani dan ketua kelompok tani merupakan sumber informasi yang dipercaya oleh petani. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Indraningsih (2011) bahwa bagi petani yang bukan pengurus kelompok (anggota), sumber informasi yang dipercaya adalah ketua kelompok tani dan sesama anggota kelompok. Sumber informasi interpersonal dinilai petani dapat dipercaya dan informasi yang diperoleh relevan dengan kebutuhan petani. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Gonzales dan Israel (2010) diacu dalam Indraningsih (2011) yang menunjukkan bahwa preferensi klien dalam memilih saluran komunikasi (media massa atau media interpersonal) ditentukan oleh manfaat yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan dan tingkat kepercayaan terhadap sumber informasi.
Peran Penyuluh
Peran penyuluh merupakan peran aktif penyuluh dalam pembinaan usahatani kelompok, peran penyuluh dalam menjelaskan materi penyuluhan, peran penyuluh dalam menjelaskan teknologi baru, dan peran penyuluh dalam memberikan informasi pasar. Peran penyuluh dibagi menjadi tiga kategori yaitu: kategori rendah jika penyuluh tidak aktif dalam pembinaan usahatani kelompok, tidak berperan dalam menjelaskan materi penyuluhan, tidak berperan dalam menjelaskan teknologi baru kepada petani, tidak berperan dalam memberikan informasi pasar. Peran penyuluh kategori sedang jika penyuluh cukup aktif dalam pembinaan usahatani kelompok, cukup berperan dalam menjelaskan materi penyuluhan, cukup berperan dalam menjelaskan teknologi baru, cukup berperan dalam memberikan informasi pasar. Peran penyuluh kategori tinggi jika penyuluh berperan aktif dalam pembinaan usahatani kelompok, berperan aktif dalam menjelaskan materi penyuluhan kepada petani, berperan aktif dalam menjelaskan teknologi baru kepada petani, berperan aktif dalam memberikan informasi pasar kepada petani anggota kelompok tani. Berdasarkan nilai capaian skor, kategori rendah jika capain skor 1 sampai dengan 6,67; kategori sedang jika capaian skor 6,67 s/d 9,33; dan kategori tinggi jika capaian skor > 9,33.
Tabel 18 menunjukkan bahwa dari total petani anggota Kelompok tani kelas Pemula, mayoritas petani (66, 67 persen) menyatakan peran penyuluh cukup aktif atau cukup berperan (kategori sedang). Demikian halnya pada Kelompok tani kelas Lanjut, mayoritas petani (63,33 persen) menyatakan peran penyuluh cukup aktif atau cukup berperan (kategori sedang). Selanjutnya, dari total petani
anggota Kelompok tani kelas Madya, mayoritas petani (73,33 persen) menyatakan penyuluh berperan aktif (kategori tinggi). Demikian halnya pada Kelompok tani kelas Utama, mayoritas petani (86,67 persen) menyatakan penyuluh berperan aktif atau kategori tinggi. Hasil penelitian tentang peran penyuluh ditampilkan pada Tabel 18 berikut ini.
Tabel 18 Distribusi responden berdasarkan peran penyuluh Kelas
kemampuan poktan
Kategori peran penyuluh Rendah (skor ≤ 6,67) Sedang (skor > 6,67 s/d 9,33) Tinggi (skor > 9,33) ∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 1 3,33 20 66,67 9 30,00 KL (n=30) 0 0,00 19 63,33 11 36,67 KM (n=30) 0 0,00 8 26,67 22 73,33 KU (n=30) 0 0,00 4 13,33 26 86,67 Total (n=120) 1 0,83 51 42,50 68 56,67 Keterangan :
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Hasil uji beda nonparametrik Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada faktor eksternal peran penyuluh di ke empat kelas kelompok tani Pemula, Lanjut, Madya dan Utama. Semakin tinggi kelas kemampuan kelompok tani yaitu dari kelas Pemula hingga Utama, menunjukkan peran penyuluh cenderung semakin tinggi atau baik yaitu penyuluh semakin berperan aktif dalam pembinaan usahatani kelompok, menjelaskan materi penyuluhan, menjelaskan teknologi baru, dan memberikan informasi pasar kepada petani.
Tabel 18 menunjukkan bahwa dari total responden, mayoritas petani atau 56,67 persen menyatakan peran penyuluh kategori tinggi yaitu penyuluh berperan aktif dalam pembinaan usahatani kelompok, menjelaskan materi penyuluhan, menjelaskan teknologi baru, dan memberikan informasi pasar kepada petani anggota kelompok.
Penyuluhan di kelompok tani dilakukan secara berkelompok dan dilakukan setiap bulan secara bergilir dari anggota kelompok tani satu ke kelompok tani lainnya, dengan tujuan agar penyuluh lebih dekat dengan anggota kelompok tani dan membantu memecahkan masalah dalam kelompok tani. Pada proses penyampaian informasi penyuluhan, penyuluh tidak hanya memberikan materi saja, namun juga menjelaskan dan demonstrasi teknologi baru seperti tanam bibit muda dilakukan di lahan demonstrasi plot (demplot) yang disaksikan langsung oleh petani. Hal ini sejalan dengan pendapat Lionberger dan Gwin (1991) bahwa agar lebih profesional maka penyuluh harus berperan sebagai: pembawa informasi, pendengar yang baik, motivator, fasilitator, agen penghubung, pembentuk kemampuan, guru keterampilan, pengelola program, pekerja kelompok, penjaga batas, promotor, pemimpin lokal, konsultan, protektor, dan pembentuk lembaga.
Peran penyuluh bukan hanya menyampaikan informasi hasil-hasil penelitian kepada petani, namun juga melakukan kegiatan penyuluhan untuk mengembangkan kemampuan petani dalam menguasai, memanfaatkan dan menerapkan teknologi baru sehingga mampu bertani dan berusaha menjadi petani yang lebih baik dan lebih menguntungkan. Misalnya dalam peningkatan produksi padi menggunakan bibit unggul dan pemupukan berimbang. Menurut Kartasapoetra (1994), tugas yang harus diemban oleh penyuluh adalah memberikan dorongan kepada petani agar mau mengubah cara-cara baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi pertanian.
Keterlibatan Anggota dalam Kegiatan Kelompok Tani
Keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok adalah tingkat dimana responden mengkaitkan dirinya ke kelompok dan secara aktif berpartisipasi di dalamnya. Keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok diukur berdasarkan keterlibatan anggota dalam pengambilan keputusan dan kontribusi responden terhadap kegiatan kelompok. Kategori keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok dibagi menjadi tiga kategori yaitu: rendah, sedang, dan tinggi. Kategori rendah jika anggota datang ke pertemuan kelompok, sebagai pendengar, dan tidak ada kontribusi/asal mengikuti kegiatan kelompok. Kategori sedang jika sebagian anggota dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan kontribusi anggota merupakan tingkat pemenuhan kebutuhan melalui kelompok. Kategori tinggi jika seluruh anggota terlibat aktif dalam pengambilan keputusan dan tingkat kontribusinya pada upaya pengembangan kelompok.
Berdasarkan nilai capaian skor, kategori rendah jika capaian skor 1 sampai dengan 3,33; kategori sedang jika capaian skor > 3,33 s/d 4,67; dan kategori tinggi jika capaian skor > 4,67. Distribusi responden berdasarkan keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok tani disajikan dalam Tabel 19 berikut ini.
Tabel 19 Distribusi responden berdasarkan keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok tani
Kelas kemampuan
poktan
Kategori peran penyuluh Rendah (skor ≤ 3,33) Sedang (skor > 3,33 s/d 4,67) Tinggi (skor > 4,67) ∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 4 13,33 5 16,67 21 70,00 KL (n=30) 2 6,67 5 16,67 23 76,67 KM (n=30) 0 0,00 1 3,33 29 96,67 KU (n=30) 0 0,00 0 0,00 30 100,00 Total (n=120) 6 5,00 11 9,17 103 85,83 Keterangan :
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Berdasarkan Tabel 19, menunjukkan bahwa sebagian besar (85,83 persen) keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok tergolong tinggi. Keterlibatan anggota kelompok dapat dirasakan oleh anggota kelompok pada saat seluruh
anggota berperan aktif dalam pengambilan keputusan kelompok. Seperti pendapat Danim (2004), upaya merangsang efektivitas kelompok dapat dicapai bila setiap anggota mampu mengerjakan tugas kelompok secara bersama-sama. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu (1) membuat kondisi saling membutuhkan diantara anggota kelompok dalam menjalankan fungsinya, dan (2) penerapan metode pembuatan keputusan kelompok. Cara ini sangat efektif, karena setiap anggota merasa bahwa keputusan kelompok merupakan keputusannya sendiri, sehingga anggota menjadi lebih serius menghadapi keinginan yang dirasakan sebagai miliknya sendiri.
Hasil uji beda nonparametrik Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada faktor eksternal keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok di ke empat kelas kelompok tani Pemula, Lanjut, Madya dan Utama. Semakin tinggi kelas kemampuan kelompok tani yaitu dari kelas Pemula hingga Utama, menunjukkan keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok cenderung semakin tinggi. Semakin tinggi kelas kemampuan kelompok tani, anggota kelompok semakin terlibat aktif dalam pengambilan keputusan dan tingkat kontribusinya pada upaya pengembangan kelompok.
Manfaat yang Diperoleh dari Kelompok Tani
Manfaat yang diperoleh dari kelompok adalah manfaat yang diperoleh responden setelah bergabung menjadi anggota kelompok tani. Manfaat yang diperoleh dari kelompok dibagi menjadi tiga kategori yaitu: mendapat teman, mendapat bantuan untuk usahatani, dan mendapat informasi untuk pengembangan usahatani.
Pada kelompok tani kelas Pemula, separuh petani (50,00 persen) menyatakan bahwa manfaat yang diperoleh dari kelompok adalah mendapat informasi untuk pengembangan usahatani, dan hanya sebagian kecil petani (3,33 persen) yang menyatakan bahwa manfat yang diperoleh dari kelompok tani adalah mendapat teman (Tabel 20). Pada Kelompok tani kelas Lanjut, mayoritas petani (73,33 persen) menyatakan bahwa manfaat yang diperoleh dari kelompok adalah mendapat informasi untuk pengembangan usahatani. Demikian halnya dengan Kelompok tani kelas Madya dan Utama, mayoritas petani (83,33 persen untuk kelas Madya, dan 96,67 persen untuk kelas Utama) menyatakan bahwa manfaat yang diperoleh dari kelompok adalah mendapat informasi untuk pengembangan usahatani. Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas petani bergabung menjadi anggota kelompok tani bukan semata-mata karena untuk mendapat teman berdiskusi atau mendapat usaha bantuan usahatani, namun lebih mengarah kepada manfaat untuk mendapat informasi guna mengembangkan usahatani petani.
Hasil uji beda nonparametrik Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada faktor eksternal manfaat yang diperoleh dari kelompok di ke empat kelas kelompok tani Pemula, Lanjut, Madya dan Utama. Semakin tinggi kelas kemampuan kelompok tani yaitu dari kelas Pemula hingga Utama, menunjukkan manfaat yang diperoleh dari kelompok cenderung semakin tinggi. Manfaat yang dirasakan oleh anggota dari kelompok adalah mendapatkan informasi untuk pengembangan usahatani. Distribusi responden berdasarkan manfaat yang diperoleh dari kelompok tani disajikan pada Tabel 20 berikut:
Tabel 20 Distribusi responden berdasarkan manfaat yang diperoleh dari kelompok tani
Kelas kemampuan
poktan
Kategori manfaat yang diperoleh anggota dari kelompok tani Mendapat teman Mendapat bantuan
usaha tani Mendapat informasi untuk pengembangan usahatani ∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 1 3,33 14 46,67 15 50,00 KL (n=30) 0 0,00 8 26,67 22 73,33 KM (n=30) 0 0,00 5 16,67 25 83,33 KU (n=30) 0 0,00 1 3,33 29 96,67 Total (n=120) 1 0,83 28 23,33 91 75,83 Keterangan :
KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama
Berdasarkan Tabel 20, mayoritas responden atau 75,83 persen menyatakan bahwa manfaat yang diperoleh anggota kelompok adalah untuk mendapat informasi pengembangan usahatani. Keadaan ini menunjukkan bahwa dengan adanya wadah kelompok, maka anggota kelompok dapat saling berinteraksi, saling bertukar pengalaman tentang usahatani yang sedang mereka jalani, sehingga pada akhirnya diperoleh informasi pengembangan usahatani. Informasi pengembangan usahatani, meliputi aspek teknologi budidaya, aspek penyediaan sarana produksi, aspek perolehan dana, dan aspek pemasaran. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Yani (2009) bahwa manfaat yang diperoleh anggota kelompok sebagian besar untuk mendapat informasi pengembangan usahatani.
Persepsi Anggota terhadap Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani Persepsi berhubungan dengan pendapat dan penilaian individu terhadap suatu stimulus yang akan berakibat terhadap motivasi, kemauan dan perasaan terhadap stimulus tersebut (Langevelt diacu dalam Harihanto 2001). Sedangkan Rakhmat (2007) mendefinisikan persepsi sebagai pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, serta suatu proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani adalah penilaian petani anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani dalam upaya mencapai keberhasilan kelompok tani. Tingkat persepsi petani anggota kelompok tani dalam penelitian ini diukur berdasarkan penilaian anggota terhadap tindakan ketua kelompok tani meliputi: (1) upaya ketua meningkatkan hubungan baik dengan anggotanya, (2) keaktifan ketua menentukan dan mengarahkan struktur serta interaksi kelompok, (3) upaya ketua dalam pencapaian tujuan
kelompok, (4) kemampuan ketua dalam membuat dan mengambil keputusan, (5) kemampuan ketua memotivasi tindakan nyata anggota, (6) kejujuran ketua, (7) kemampuan ketua berkomunikasi, dan (8) kedisiplinan ketua.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani dari keempat kelas kelompok tani bervariasi satu dengan yang lainnya. Secara rinci, distribusi responden berdasarkan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani diuraikan sebagai berikut. Upaya Meningkatkan Hubungan Baik dengan Anggotanya
Upaya meningkatkan hubungan baik dengan anggotanya adalah tindakan ketua kelompok dalam membina dan menjaga hubungan antar pribadi dengan baik dan menyenangkan. Indikator yang digunakan adalah: (1) usaha ketua dalam memberikan dorongan, (2) sikap/usaha ketua dalam mendekati anggotanya, (3) apakah ketua menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok. Upaya ketua meningkatkan hubungan baik dengan anggotanya dibagi menjadi tiga kategori yaitu kategori rendah jika ketua tidak pernah berusaha memberikan dorongan kepada anggota, ketua tidak pernah bersikap/berusaha mendekati anggotanya, ketua tidak pernah menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok. Kategori sedang jika ketua kadang-kadang berusaha memberikan dorongan kepada anggota, ketua kadang-kadang-kadang-kadang bersikap/berusaha mendekati anggotanya, ketua kadang-kadang menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok. Kategori tinggi jika ketua selalu berusaha memberikan dorongan kepada anggota, ketua selalu bersikap/berusaha mendekati anggotanya, ketua selalu menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok.
Skor penilaian yang digunakan adalah skor 1 jika ketua tidak pernah berupaya meningkatkan, skor 2 jika kadang-kadang, dan skor 3 jika selalu berupaya meningkatkan hubungan dengan aggotanya. Berdasarkan nilai capaian skor, maka kategori persepsi terhadap upaya ketua meningkatkan hubungan baik antara pemimpin dengan anggotanya dibagi menjadi tiga kategori yaitu: kategori rendah jika nilai capaian skor 1 s/d 5, kategori sedang jika nilai capaian skor 6 s/d 7, dan kategori tinggi jika nilai capaian skor > 7.
Tabel 21 menunjukkan bahwa mayoritas responden (91,67 persen) memiliki persepsi terhadap upaya ketua dalam meningkatkan hubungan baik dengan anggotanya tergolong tinggi atau baik. Dalam hal ini anggota kelompok merasa bahwa ketua kelompok selalu memberikan dorongan kepada anggota untuk berperan serta dalam kegiatan kelompok, selalu berusaha mendekati anggotanya, dan selalu menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok. Hal tersebut juga membuktikan bahwa ketua kelompok selalu memberi perhatian terhadap anggota dan mampu menyelesaikan pemasalahan-permasalahan yang dihadapi anggota, sehingga anggota merasa dekat dengan pemimpinnya, bahkan kadang-kadang ketua mereka mau melakukan sesuatu pada saat yang diperlukan tanpa pamrih apapun.
Hasil penelitian tentang distribusi responden berdasarkan persepsi anggota terhadap upaya ketua meningkatkan hubungan baik dengan anggotanya disajikan dalam Tabel 21 berikut ini.