1
ASPEK MEDIKOLEGAL DALAM PELAYANAN MASYARAKAT
OLEH
TIM PEMAKALAH: I.B PUTRA ATMADJA, SH.,MH SAGUNG PUTRI M.E. PURWANI, SH.,MH
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
2
ASPEK MEDIKOLEGAL DALAM PELAYANAN MASYARAKAT
OLEHTIM PEMBUAT MAKALAH
LATAR BELAKANG
Medikolegal adalah suatu ilmu terapan yang melibatkan dua aspek ilmu yaitu medico yang berarti ilmu kedokteran dan -legal yang berarti ilmu hukum. Medikolegal berpusat pada standar pelayanan medis dan standar pelayanan operasional dalam bidang kedokteran dan hukum – hukum yang berlaku pada umumnya dan hukum – hukum yang bersifat khusus seperti kedokteran dan kesehatan pada khususnya.
Hakekat aspek medikolegal, merupakan pendekatan medikolegal dalam ilmu pengetahuan hukum, bukanlah merupakan hal baru, karena dalam ilmu pengetahuan hukum sudah lama dipelajari berbagai macam jurisprudence, diantaranya mengeni medical jurisprudence, yang baru dalam hal ini adalah pendekatannya, khususnya terhadap masalah yang timbul karena praktek profesi medik. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan dari segi ilmu hukum pada umumnya, karena harus masuk dalam pertimbangan dua bidang ilmu, yaitu ilmu kedokteran/medik dan ilmu hukum. Hakekat pendekatan medikolegal ini bertolak dari hak atas perawatan kesehatan, yaitu hak untuk
menentukan nasib sendiri dan hak atas informasi.1
Mediko Legal adalah merupakan bidang interdisipliner antara
kesehatan/kedokteran dengan ilmu hukum. Pelayanan mediko legal adalah bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga medis dengan menggunakan ilmu dan
1 Hermien Hadiati Koeswadji, 1992, Beberapa Permasalahan Hukum dan Medik, PT Chitra Aditya Bakti, Bandung, hal.139
3 teknologi kedokteran atas dasar kewenangan yang dimiliki untuk kepentingan hukum dan untuk melaksanakan peraturan yang berlaku. Aspek Mediko legal:
1. Hak dan kewajiban pasien 2. Hak dan kewajiban provider
3. Jaminan bahwa pelayanan medik yang diberikan dengan cara dan mutu yang dapat dipertanggungjawabkan
4. Sistem dan prosedur menjamin hak dan kewajiban serta menjamin tindakan yang dilaksanakan di rumah sakit dapat diadakan evaluasinya
5. Hak dan kewajiban pemilik dan pengelola
Prinsip-prinsip dasar hubungan dokter-pasien ditinjau dari segi pendekatan medikolegal:
1. Pelayanan Kesehatan (YANKES) dalam kaitannya dengan Rekam Medik
Rekam medik secara umum merupakan sarana penting dalam praktek kedokteran, yang merupakan kumpulan segala kegiatan para pelayan kesehatan yang ditulis, digambarkan atas aktivitas terhadap pasien. Rekam medik ini sebelumnya didasari oleh suatu perjanjian yang dsebut dengan perjanjian “terapeutik” atau transaksi “terapeutik”. Ada beberapa hal penting yang mendasari pentingnya sebuah transaksi “terapeutik”, yaitu:
a. Para pihak dalam perjanjian (dalam hukum ada pihak-pihak yang tidak mampu bertindak sebagai pihak dalam perjanjian)
b. Perjanjian dengan Rumah Sakit (terutama dalam penanganan pelayanan kesehatan kepada masyarakat)
c. Syarat yang harus dipenuhi agar perjanjian itu sah menurut hukum. 2. Aspek Medikolegal dari Rekam Medik
4 Harus ditanda tangani oleh para pihak (pelayan medik dan pasien)
3. Derajat YANKES yang tertuang atau tercermin dalam Rekam Medik
Sebagai rekaman yang mencerminkan setiap langkah, setiap tahapan upaya kesehatan yang diambil dalam rangka praktek profesi medik. Rekam medik mencerminkan kerapian, kecepatan dan ketetapan dalam menerapkan hak dan kewajibanprofesional.
4. Fungsi Rekam Medik sebagai dokumen hukum
Sebagai alat bukti berdasarkan UU yang bernilai sebagai keterangan saksi/ahli. Rekam medik yang secara tertulis merupakan kunci dalam suatu proses peradilan baik perdata maupun pidana.
5. Para pihak dalam YANKES beserta hak dan kewajiban menurut etik dan hukum Meningkatnya kasus-kasus yang dihadapi oleh profesi medik ini telah memperluas yurisdiksi peradilan, sehingga tidak jarang peradilan dihadapkan tidak saja dengan putusan yang diperlukan oleh para pihak, tetapi juga perdamaian melalui negosiasi para pihak.
6. Hak pasien yang merupakan Hak Dasar bagi bertumpunya hukum medik
Antara dokter dan pasien karena transaksi terapeutik tersebut telah melahirkan hak dan kwajiban tersebut secara timbal balik, dan apabila hak dan kewajiban ini tidak dipenuhi oleh salah satu pihak, wajarlah apabila pihak yang lain terutama yang mersa dirugikan menggugat atau menuntut.
5 Aspek medikolegal hubungan para pihak dalam pelayanan kesehatan tidak dapat dilepaskan dari tanggungjawab para pihak dalam hubungan pelayanan kesehatan tersebut.2
Profesi kedokteran membutuhkan pedoman sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh seorang dokter. Pedoman yang demikian dikenal dengan nama Kode Etik Kedokteran. Menjalankan dan mengamalkan kode etik tersebut seorang dokter juga harus sudah dibekali dengan wawasan keagamaan yang kuat karena dalam ilmu agama sudah tercakup pengetahuan mengenai moral dan akhlak yang baik antara sesama manusia.
PEMBAHASAN
Kasus medikolegal dapat didefinisikan sebagai kasus cedera, cacat atau meninggal dimana penyelidikan dari lembaga penegak hukum sangat penting untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas cedera, cacat atau ,meninggal tersebut, apakah dokter yang bertanggung jawab? Atau pasien sendiri yang bertanggung jawab atas cedera, cacat atau meninggal tersebut?. Bahasa sederhananya adalah sebuah kasus hukum yang memerlukan keahlian medis dalam penyelesaiannya.
Beranjak dari fakta sosial salah satu contoh seorang pasien dengan “fraktur humerus dextra” (tulang paha kanan) akibat kecelakaan lalu lintas, lalu dioperasi untuk pemasangan plat, pasca operasi keadaan pasien sudah membaik, lalu pasien dipulangkan dengan catatan harus kotrol secara rutin. Namun, pasien hanya datang satu kali untuk kontrol jahitan, selanjutnya pasien tidak pernah datang lagi. Dimana seharusnya pasien datang untuk kontrol perkembangan proses penyembuhannya.
6 3 bulan kemudian pasien kembali datang ke RS dengan keluhan paha kanannya nyeri dan bengkak. Didapati patah tulang berulang pada paha kanan. Lalu pasien menuntut ganti rugi karena keadaannya tersebut. Sudut pandang pasien, “pasien menuduh dokter menggunakan plat yang kualitasnya tidak bagus”, dari sudut pandang dokter, “kejadian ini terjadi karena pasien tidak kontrol, sesuai dengan anjuran dokter,
sehingga proses penyembuhannya tidak terpantau dan ada kemungkinan pasien melakukan gerakan – gerakan yang belum diperbolehkan”. Dua sudut pandang ini sebenarnya dapat dilakukan pendekatan, sehingga jarak ekstrim antara kedua argumentasi tersebut dapat lebih dekat, yaitu memang benar pasien tidak disiplin dalam melakukan kontrol (hanya 1 kali kontrol), tetapi hal ini terjadi karena dokter tidak menginformasikan kepada pasien kegunaan dari kontrol (mengetahui perkembangan penyembuhan, sehingga dapat memberikan informasi tentang gerakan – gerakan apa saja yang dapat dilakukan oleh pasien).
Aspek medikolegal Sesudah diterbitkannya dalam Undang-Undang Praktik kedokteran No. 29 Tahun 2004 (UU Praktek Kedokteran) norma disiplin menjadi hal baru yang perlu diperhatikan dan dikaji, karena didalam Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) ada lembaga yang disebut sebagai Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dengan tujuan menegakkan disiplin dokter dan dokter gigi dalam penyelenggaraan praktik kedokteran hubungan dokter dengan pasien
1. Hubungan Kebutuhan 2. Hubungan Kepercayaan 3. Hubungan Keprofesian 4. Hubungan Hukum
7 Menurut Bernard Barber dalam bukunya Sofwan Dahlan, bahwa profesi itu mengandung esesnsi sebagai berikut:
1. Membutuhkan ilmupengetahuan yang tinggi, yang hanya dapat dipelajari secara sistematik.
2. Orientasi primernya lebih ditujukan untuk kepentingan masyarakat 3. Memiliki mekanisme control terhadap prilaku pemegang profesi. 4. Memiliki sistem reward.
Mekanisme kontrol dilaksanakan melalui kode etik disusun oleh lembaga profesi
yang kemudian diterima sebagai pedoman sikap dan prilaku bagi pelaksanaan profesi.3
Hubungan antara dokter dengan pasien dalam transaksi “terapeutik” didasari
oleh dua macam hak asasi manusia, dengan demikian keberadaan hubungan antara dokter dengan pasien, baik ditinjau dari sudut hukum maupun aspek pelayanan kesehatan, tidak terlepas dari hak asasi manusia yang melekat dalam diri manusia, khususnya hak untuk menentukan nasib sendiri dan hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan.
Perjanjian terapeutik antara dokter dan pasien menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing pihak, dari aspek perdata berupa persetujuan antara dokter dengan pasien merupakan akibat kelalaian di bidang perdata serta tuntutannya terhadap pelayanan kesehatan, sedangkan dari sudut pidana yang ditimbulkan adanya hubungan hukum dalam pelayanan kesehatan meliputi kebenaran dari isi surat keterangan
3 Sofwan Dahlan,2000,Hukum Kesehatan Rambu-Rambu Bagi Profesi dokter, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang,hal.21
8 kesehatan, wajib simpan rahasiaoleh dokter tentang kesehatan pasien, pengguguran
kandungan dan lain sebagainya.4
Tindakan medis tertentu yang dilakukan oleh dokter tidak dapat dijatuhi sanksi pidana, apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
1. Ada indikasi medis yang dilakukan untuk mencapai tujuan konkret tertentu. 2. Tindakan medis dilakukan menurut aturan dalam ilmu kedokteran.
3. Mendapatkan persetujuan dari pasien terlebih dahulu.5
Jika terjadi Kesalahan yang dilakukan oleh dokter, maka perbuatan tersebut tidak menghilangkan sifat melawan hukum dalam hukum pidana. Kesalahan dokter tersebut tetap bisa dimintai pertanggungjawaban, meskipun tindakan medis yang dilakukan oleh dokter telah disetujui oleh pasien atau keluarga pasien. Aspek hukum administrasi dalam melakukan tindakan medis berhubungan dengan kewenangan dokter secara yuridis yang didasarkan pada syarat yang harus dipenuhi yaitu untuk memiliki izin praktek dokter yang sah. Perjanjian terapeutik merupakan inspaningverbintenis, bahwa secara berhati-hati, teliti, dan trampil sesuai dengan ilmu pengetahuannya serta pengalamannya untuk menyembuhkan pasien.
4
Y.A Triana Ohoiwutun, 2008, Bunga Rampai Hukum Kedokteran (Tinjauan dari Berbagai
Peraturan Perundang-undangan dan UU Praktik Kedokteran), Bayumedia Publishing, Malang,hal.11
9 Hal yang terpenting dalam perjanjian terapeutik adanya informasi dari kedua belah pihak yang merupakan hak dan kewajiban masing-masing sebagailandasan untuk melaksanakan tindakan medis. Dasar hukum perjanjian terapeutik Pasal 1233 KUHPer
Dasar Hukum hubungan dokter dengan pasien dibagi menjadi 2 yaitu: 1. Karena Kontrak (perjanjian terapeutik)
2. Karena undang-undang
Perbedaan antara etik profesi dan hukum
ETIK PROFESI HUKUM
Mengatur perilaku pelaksana / pengemban profesi
Mengatur perilaku manusia pada
umumnya
10 kesepakatan diantara para pihak pelaksana
/ pengemban
berwenang bagi setiaporang
Kekuatan mengikatnya untuk satu waktu tertentu dan mengenai satu hal tertentu
Mengikat sebagai sesuatu yang wajib secara umumsampai dicabut / diganti dengan yang baru
Sifat sanksinya moral psikologis Sifat saksinya berupa derita jasmani /
material Macam saksinya dapat berupa diskreditasi
profesi
Macam saksinya dapat berupa pidana, ganti kerugian atau tindakan
Control dan penilaian atas pelaksanaannya dilakukan oleh ikatan / organisasi profesi terkait
Control dan penilaian atas pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat dan lembaga resmi penegak hukum struktural
Sumber 6
Pelanggaran terhadap KODEKI ada yang merupakan pelanggaran etik saja, ada pula yang merupakan pelanggaran etik sekaligus pelanggaran hukum, salah satu contohnya: Pelanggaran etik murni:
- Menarik imbalan yang tidak wajar
- Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya - Memuji diri sendiri dihadapan pasien
- Tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran yang berkesinambungan - Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri
Pelanggaran etikolegal:
- Pelayanan dokter dibawah standar
11 - Menerbitkan surat keterangan palsu (Pasal 263 dan 267 KUHP)
- Memberikan atau menjual obat palsu (Pasal 286 KUHP)
- Membuka rahasia jabatan atau pekerjaan dokter (Pasal 322 KUHP) - Abortus Provocatus Criminalis (Pasal 299, 348, 349 KUHP) - Pelecehan seksual
Tanggungjawab dokter menurut UU Perlindungan Konsumen
Pasien merupakan pihak penerima pelayanan kesehatan yang dapat dikategorikan sebagai konsumen pengguna jasa yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Dokter dapat dikategorikan sebagai pelaku usaha dibidang jasa pelayanan kesehatan. Hubungan antara konsumen dan pelaku usaha di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No.8 Tahun 1999.
13 DAFTAR BACAAN
Koeswadji,Hermien Hadiati 1992, Beberapa Permasalahan Hukum dan Medik, PT Chitra Aditya Bakti, Bandung
Dahlan,Sofwan 2000,Hukum Kesehatan Rambu-Rambu Bagi Profesi dokter, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang
Triana Y.A Ohoiwutun, 2008, Bunga Rampai Hukum Kedokteran (Tinjauan dari Berbagai Peraturan Perundang-undangan dan UU Praktik Kedokteran),