• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari maupun di bidang industri manufaktur, persediaan tidak dapat dihindari. Tanpa adanya persediaan, perusahaan manufaktur harus siap menghadapi bahwa sewaktu-waktu tidak dapat memenuhi permintaan di produksi maupun permintaan konsumen. Persediaan dapat dibagi kedalam 5 kategori, yaitu bahan baku (raw material), bahan penolong (supplies), suku cadang (spare part), barang setengah jadi (work in process), dan barang jadi (finished good) (Bahagia, 2006). Kelancaran kegiatan produksi dipengaruhi oleh adanya ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan bagi produksi. Ketersediaan bahan baku dapat ditentukan dari pengendalian persediaan yang baik pula.

PT. XYZ merupakan sebuah perusahaan industri pesawat terbang yang didirikan untuk memfasilitasi dari segi perawatan (maintenance) mesin pesawat terbang dan mesin industri yang dimiliki oleh Indonesia. Fasilitas tersebut dikenal dengan nama Universal Maintenance Centre (UMC). Sebelum UMC berdiri, perawat untuk engine pesawat terbang yang beroperasi di Indonesia, hampir seluruhnya dilakukan di Eropa ataupun Amerika Serikat dengan biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dibangunnya fasilitas ini sangat membantu perusahaan-perusahaan dalam negeri untuk menekan biaya perawatan (maintenance) serendah mungkin. Seiring dengan peningkatan permintaan perbaikan mesin turbin pesawat di dalam negeri, PT. XYZ memiliki peluang yang sangat besar untuk menguasai pangsa pasar dalam negeri jasa perbaikan mesin turbin pesawat. Salah satu

workscope yang dikerjakan oleh PT. XYZ adalah dalam bentuk pemeriksaan

(inspection), perbaikan ringan (repair), dan pembongkaran secara keseluruhan (overhaul) pada engine pesawat atau dikenal dengan bisnis MRO (Maintenance,

Repair, and Overhaul).

Engine pesawat merupakan salah satu komponen utama dari pesawat terbang yang

dijadikan sebagai penggerak pesawat terbang. Setiap pesawat memiliki satu buah

engine turbin sebagai penggerak. Perawatan pada engine turbin sangat dibutuhkan

(2)

2

lurus dengan tingkat penggunaan engine pesawat terbang, sehingga permintaan jasa perbaikan / perawatan (maintenance) sebagai usaha airliner untuk menjamin kesiapan pengguna mesin turbin di pesawat, dan jaminan keselamatan penerbangan. Dengan peningkatan permintaan jasa perbaikan mesin turbin pesawat maka PT. XYZ dituntut agar produk dan jasa yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik, harga bersaing di pasaran serta selalu berusaha mengirimkan

order kepada konsumen tepat pada waktunya.

Rangkaian proses perbaikan dan pemeliharaan, mulai dari engine masuk ke PT. XYZ hingga dikirimkan kembali ke pelanggan, mencakup beragam aktivitas berurutan yang melibatkan berbagai divisi di PT. XYZ. Elemen-elemen yang terlibat dalam proses tersebut yaitu operator, mesin perbaikan, material, part, komponen, dan engine sebagai obyek yang akan ditangani. Proses penanganan

engine tersebut risiko kegagalan dan kesalahan mungkin ada. Karena rangkaian

proses pemeliharaan atau perbaikan engine terdiri dari aktivitas-aktivitas yang beruntun seperti pengadaan material, stock, waktu pengerjaan, kapasitas, tenaga kerja, risiko yang terjadi pada satu aktivitas dapat menghambat aktivitas berikutnya, sehingga pada akhirnya tenggat waktu pemeliharaan atau perbaikan

engine yang sudah disetujui dengan pelanggan tidak dapat dipenuhi.

Keterlambatan penyerahan hasil perawatan atau perbaikan engine tersebut kepada pelanggan tidak hanya dapat merugikan perusahaan dari segi biaya, tetapi juga dari segi reputasi perusahaan. PT. XYZ menyediakan dasar persediaan suku cadang, bahan yang digunakan, dan pada bagian perbaikan. Kemampuan perusahaan ini untuk memastikan fleksibilitas dan respon yang diharapkan dari penyedia industri MRO kelas dunia.

Berbagai macam tipe engine pesawat yang diterima oleh PT. XYZ, antara lain sebagai berikut.

(3)

3

Gambar 1.1 Jumlah Engine yang Diterima Oleh PT. XYZ dari Periode bulan Februari 2014 sd. Juni 2015

(Sumber: PT. XYZ, 2014)

Berdasarkan Gambar 1.1, dapat diketahui bahwa tipe engine CT7 merupakan

engine yang sering melakukan perbaikan / perawatan (maintenance) di PT. XYZ.

Setelah melalui tahapan proses pembongkaran secara keseluruhan (overhaul), ternyata diketahui adanya gap antara TAT (Turn Around Time) yang telah di rencanakan dengan TAT (Time Around Time) aktual.

Gambar 1.2 Perbandingan antara TAT MPS dan TAT ACT pada Proses Perbaikan Engine CT7 pada Bulan Maret s/d Mei 2014 di PT Nusantara Turbin dan Propulsi

(Sumber: PT Nusantara Turbin dan Propulsi, 2014)

Berdasarkan Gambar I.2 , menyatakan bahwa dari ke-empat serial number engine CT7 tidak dapat memenuhi waktu pengerjaan repair yang telah ditentukan oleh

25 7 11 3 2 1 4 1 1 6 19 0 5 10 15 20 25 30

Jumlah Engine

JUMLAH ENGINE 126 136 128 89 201 217 237 118 0 50 100 150 200 250 H A R I SERIAL NUMBER CT-7

Perbandingan TAT Repair CT-7

TAT MPS (OK TEST) TAT ACT. (OK TEST)

(4)

4

manager produksi dan customer, sehingga terjadi gap yang relatif besar yang menyebabkan keterlambatan delivery order Engine CT7 kepada customer. Keterlambatan delivery order kepada customer dapat disebabkan oleh beberapa akar masalah. Berikut ini adalah tabel persentase kontribusi akar permasalahan yang terjadi pada engine CT7 berdasarkan pengklasifikasian yang telah dilakukan oleh PT. XYZ.

Tabel I.1 Root Causes Contribution pada Aero Production Engine CT7 pada Tahun 2014 PT. XYZ

(Sumber: PT. XYZ, 2014)

AERO PRODUCTION REVIEW

ROOT CAUSES CONTRIBUTION %

Material 17 68% Operation 10 40% CSP 1 4% Bussiness 4 16% Quality (RTS Engine) 1 4% TOTAL ENGINE 25 1.32

Berdasarkan Tabel 1.1, dapat diketahui bahwa penyebab permasalahan dari keterlambatan delivery order Engine CT7 kepada customer adalah bagian

material. Permasalahan yang terjadi pada bagian material dapat disebabkan oleh

beberapa faktor, misalkan keterlambatan part datang, ataupun part yang dibutuhkan tidak ada pada saat akan di-assembly, sehingga dapat menyebabkan

job stop untuk menunggu part tersebut. Keterlambatan tidak hanya dapat

merugikan PT. XYZ dari segi biaya, tetapi juga dari segi repuitasi perusahaan. Dalam menangani proses perawatan mesin memiliki risiko dan kesalahan yang mungkin ada. Rangkaian alur pemeliharaan atau perbaikan engine terdiri atas aktivitas-aktivitas yang beruntun seperti pengadaan material, stock, maupun keterlambatan delivery. Berawal dari adanya keterbatasan tersebut, khususnya pada keterlambatan delivery biasanya terlihat dari waktu selesainya perawatan

(5)

5

Gambar 1.3 Jumlah Hasil Final Disposition untuk Part repair dan scrap (Sumber: PT. XYZ, 2015)

Berdasarkan Gambar 1.3, menyatakan bahwa hasil pembongkaran secara keseluruhan (overhaul) part yang paling banyak kuantitasnya untuk di perbaiki adalah pada part repair. Hal ini dapat disimpulkan, terjadinya keterlambatan

delivery order kepada customer disebabkan oleh material / part yang dibutuhkan

untuk repair (part farm out) tidak ada di stock room atau jumlah yang dibutuhkan pada part farm out tersebut tidak ada, yang menyebabkan job stop. Alur proses dari datangnya engine dampai pemesanan part farm out, tergambar pada Gambar I.4. 0 5 10 15 20 Ju m la h P ar t

Tanggal Keluar Perintah 3-May -12 23- Jul-12 24- Sep-12 7- Jan-13 10- Jan-13 25- Mar-13 25- Oct-13 18- Mar-14 22- Apr-15 30- Apr-15 11-May -15 29- Sep-15 2- Oct-15 Repair 10 13 15 17 13 19 12 17 5 12 11 10 11 Scrap 15 10 14 11 11 16 9 8 6 8 9 14 12 Repair Scrap

(6)

6 Induction Meeting and Issuing WO Amend 0 Issuing WO Amend 1 and WCDS Dissasembly Cleaning Final Disposition Contract Review Issuing Purchased Requisation Issuing Purchased Order In-House Repair Payment Part Received Customer Supply Part (CSP) Assembly Testing Engine Work Package Engine Shipment

Gambar I.4 Proses Pembongkaran Keseluruhan (Overhaul)

Berdasarkan Gambar I.4, menerangkan bahwa pada rangkaian proses pembongkaran (overhaul) dimulai dari diadakannya meeting dari pihak customer dan pihak PT. XYZ hingga diperiksa (inspection), sampai keluar hasil final

disposition, yaitu hasil pemeriksaan setelah melalui tahap disassembly dan cleaning engine, sehingga mengetahui jenis perawatan yang harus dilakukan oleh

PT. XYZ, yang dibuat dalam bentuk dokumen yang telah disepakati oleh manager produksi untuk dilakukan ke tahap selanjutnya. Pada Gambar I.1, penulis fokus pada alur setelah contract review, lalu melakukan issuing purchase requisition sampai part farm out received di stock room PT. XYZ. Bagian ini merupakan proses yang harus dilalui, jika part yang di repair dilakukan di luar perusahaan atau subcontract. Nama lain dari part yang dilakukan repair tersebut adalah part

(7)

7

PT. XYZ melakukan subcontract hanya untuk part-part tertentu, yang tidak memiliki service capability di pperusahaan tersebut. Tabel I.1 merupakan contoh

part-part tertentu yang direpair diluar PT. XYZ.

Tabel I.2 List Part Farm Out Engine CT7

NO. PART NUMBER PART NAME

1 6055T47G03 Mid Frame Assembly 2 6043T37G04 Seal Discharge Stationary 3 6043T35G05 Power Turbine Drive Shaft 4 6071T03G05 Seal, Outer Balance Piston 5 6044T34G04 Support, A-SUMP IGV

Tabel I.2, menunjukkan part-part yang melakukan repair diluar perusahaan PT. XYZ. Part ini melakukan repair diluar PT. XYZ, dikarenakan perusahaan tidak memiliki service capability untuk part tersebut. Sehingga, PT. XYZ melakukan kerja sama atau subcontract dengan perusahaan manufacturer di Amerika Serikat untuk melakukan repair part tersebut. Keseluruhan part farm out ada pada Lampiran L. Dari Banyaknya part Farm out yang melakukan repair di perusahaan

manufacturer tersebut, hanya terdapat 12 part dari modul cold section yang

melakukan repair di perusahaan tersebut. List part farm out terdapat pada Lampiran A. Berikut ini adalah salah satu contoh part farm out yang mengalami keterlambatan datang pada gambar I.5.

Gambar I.5 Perbandingan Lead Time Aktual dengan Lead Time MPS 49 83 89 105 58 93 183 183 80 80 80 80 80 80 80 80 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 H ar i

No. Purchase Order

Seal, Comp Discharge Stationary Air

Lead Time Aktual Lead Time MPS

(8)

8

Berdasarkan Gambar I.5, dapat diketahui bahwa part farm out mengalami proses yang cukup lama dalam melakukan repair ataupun, sampainya di PT. XYZ. Berikut data Fishbone Diagram yang menunjukan penyebab terjadinya keterlambatan penyerahan hasil perawatan atau perbaikan engine dapat dilihat pada Gambar 1.6.

Terlambatnya Part Farm Out saat akan di assembly

Method Material Keterlambatan

Part datang

Stock part tidak ada Lead time

Permintaan Berfluktuasi

Gambar I.6 Fishbone Diagram permasalahan keterlambatan penyerahan hasil perawatan atau perbaikan engine pada PT . Nusantara Turbin dan Propulasi

Berdasarkan Gambar I.6, terdapat beberapa faktor pada keterlambatan penyerahan hasil perawatan engine, yaitu material, machine, method, dan man. Dari keempat faktor tersebut, sesuai dengan Tabel I.1, sebanyak 68% keterlambatan delivery

order disebabkan oleh material. Penyebab material tidak ada pada stock room,

dapat menyebabkan job stop. Keterlambatan part tidak hanya dapat merugikan PT Nusantara Turbin dan Propulsi dari segi biaya, tetapi juga dari segi repuitasi perusahaan. Untuk mengatasi keterlambatan proses perbaikan yang dilakukan di PT Nusantara Turbin dan Propulsi, perlu dilakukan pengendalian inventory spare

part pada workscope overhaul di module cold section untuk meredam fluktuasi demand pada engine tipe CT7 di PT. XYZ sehingga mendapatkan ukuran lot

(9)

9 I.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana menentukan kebijakan persediaan untuk part farm out modul

cold section CT7 di PT. XYZ dengan Metode Periodic Review (R,s,S) dan

(R,S)?

2. Bagaimana meminimasi total biaya persediaan berdasarkan kebijakan persediaan part farm out di PT. XYZ?

I.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini yang hendak dicapai adalah sebagai berikut:

1. Dapat menentukan kebijakan persediaan untuk part farm out modul cold

section CT7 di PT. XYZ dengan Metode Periodic Review (R,s,S) dan

(R,S).

2. Dapat menentukan minimasi total biaya persediaan berdasarkan kebijakan persediaan part farm out di PT. XYZ.

I.4 Batasan Penelitian

Adapun batasan penelitian yang dirumuskan oleh penulis adalah sebagai berikut: 1. Part yang di teliti adalah part farm out modul cold section engine CT7

yang melakukan repair di luar PT. XYZ atau dapat disebut juga sebagai

outsourcing.

2. Data permintaan part farm out dari tanggal 3 Mei 2012 – 2 Oktober 2015. 3. Lead time repair dianggap tidak berubah

4. Penelitian hanya sampai tahap usulan dan tidak sampai tahap implementasi.

I.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan untuk dapat menentukan kebijakan persediaan dilihat jadwal pemesanan part farm

out di PT. XYZ, serta dapat meminimalisir total biaya persediaan yang

(10)

10 I.6 Sistematika Penulisan

Penelitian ini diuraikan dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Pada bab ini berisi mengenai uraian latar belakang penelitian kebijakan persediaan part farm out pada PT. XYZ yang belum menentukan kebijakan persediaan, yang menyebabkan perusahaan melakukan pemesanan ulang, sehingga diusulkan penentuan kebijakan persediaan untuk part farm out. Selain itu, terdapat perumusan masalah yang terjadi pada perusahaan PT. XYZ, tujuan penelitian, batasan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II Landasan Teori

Pada bab ini berisi literatur yang relevan dengan permsalahan yang diteliti. Bagian kedua membahas hubungan antar konsep yang menjadi kajian penelitian dan uraian kontribusi penelitian, mengenai teori memiliki keterkaitan antara penelitian dengan masalah yang akan dipecahkan. Teori yang akan dibahas pada penelitian ini meliputi pengendalian persediaan, serta metode yang akan digunakan.

Bab III Metodologi Penelitian

Pada bab ini menjelaskan langkah-langkah penelitian secara rinci, meliputi: tahap merumuskan masalah penelitian, mengidentifikasi dan melakukan operasionalisasi variabel penelitian, merancang pengumpulan dan pengolahan data, merancang analisis pengolahan data. Berisi mengenai metode yang akan digunakan dalam penelitian untuk memecahkan masalah yang terjadi pada penelitian ini.

(11)

11

Bab IV Pengumpulan dan Pengolahan Data

Pada bab ini menampilkan keseluruhan data dari perusahaan dan data-data yang mendukung dalam pengolahan data. Data-data yang diperoleh berasal dari wawancara narasumber, observasi, dan data dari perusahaan. Pengoahan data akan dilakukan sesuai dengan sistematika pemecahan masalah yang telah dibahas pada Bab III.

Bab V Analisis

Pada bab ini dilakukan analisis berdasarkan hasil dari pengolahan data dan usulan yang telah dilakukan pada Bab IV. Pada bab ini, melakukan perbandingan antara kondisi aktual perusahaan dan kondisi usulan.

Bab VI Kesimpulan dan Saran

Pada bab ini dilakukan sebuah kesimpulan terhadap pengolahan data dan analiis yang telah dilakukan, serta mengajukan saran bagi perusahaan sebagai solusi yang dapat diterapkan di masa yang akan datang.

Gambar

Gambar 1.1 Jumlah Engine yang Diterima Oleh PT. XYZ dari Periode bulan Februari  2014 sd
Tabel I.1 Root Causes Contribution pada Aero Production Engine CT7 pada Tahun 2014  PT
Gambar 1.3 Jumlah Hasil Final Disposition untuk Part repair dan scrap  (Sumber: PT. XYZ, 2015)
Gambar I.4 Proses Pembongkaran Keseluruhan (Overhaul)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini didapatkan bahwa hasil uji statistik didapatkan p-value sebesar 0,000 (p-value<0,05) yang berarti terdapat ada hubungan antara status gizi

Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw melalui pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan

Berdasarkan permasalahan pada latar belakang, penulis ingin mengetahui seberapa besar Korelasi antara kesejahteraan ini terhadap tanggung jawab guru PAI di Madrasah Aliyah Negeri

Kebijakan luar negeri adalah sikap dan langkah Pemerintah Republik Indonesia yang diambil dalam melakukan hubungan dengan negara lain, organisasi internasional, dan subyek

Kuda pejantan tidak perlu diberi pakan tambahan berupa telur karena kebutuhan nutrisinya sudah tercukupi dari konsentrat dan rumput yang diberikan, sedangkan kuda induk

kemudian menciptakan suatu hubungan antara Sang Maha Pencipta dengan manusia dan tentunya juga dengan lingkungan kehidupan sosial masyarakat suku Batak Toba. Hagabeon hal

Input data, yaitu: data Sumber PLN, Trafo, Saluran, dan beban yang diperoleh dari sistem yang terkait dengan catu daya Kawasan GI PUSPIPTEK dalam hal ini menggunakan catu

Tingkat pengetahuan ibu hamil berdasarkan definisi kebudayaan, terutama pada pertanyaan tentang kehamilan merupakan proses alamiah sebagai kodratnya sebagai perempuan,