• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: Vol. 5 No. 2 Februari 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: Vol. 5 No. 2 Februari 2013"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

142

OPTIMASI ALGORITMA SUPER ENKRIPSI UNTUK MENINGKATKAN PENGAMANAN DATA CITRA DIGITALDALAM PENGIRIMAN MMS

PADA PIRANTI CERDAS

Emy Setyaningsih1,Catur Iswahyudi 2, Naniek Widyastuti 3

1.

Program Studi Sistem Komputer, 2,3 Program Studi Teknik Informatika, Intitut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

Masuk: 9 Oktober 2012, revisi masuk: 18 Desember 2012, diterima: 3 Januari 2013 ABSTRACT

Advances in technology have made communication and information technology functions into convergent and known as ICT (Information and Communication Technology). Internet and smart devices have an important role as a medium for multimedia convergence at this time. Mobile communications technology also developed rapidly, as well as the development of features that support services in the GSM system, among others, is MMS (Multimedia Messaging Service) that allows data transmission such as images, audio, and video.Computational complexity becomes an important concern in the development of cryptographic techniques on smart devices in the limited of bandwidth on wireless networks, also limited processing, memory, and time. This paper will discuss the security of image message using the concept of super encryption to optimize security of encryption key that adopts the concept of steganography method called End Of File (EOF). Applications built able to combine the speed, security, and flexibility so as to produce a good combination of speed, high security, complexity, reasonable computational overhead, and computational power.Image encryption algorithm is successfully implemented on a smart device with Android based operating system. Application also has the fastprocess and efficient computing resource. These are evidenced by the average time of encryption for image size of 256 x 256 pixels at 0.75 seconds and the image with a size of 480 x 640 pixels at 2.09 seconds. Average time decryption to image size of 256 x 256 pixels by 0.58 seconds and the image with a size of 480 x 640 pixels of 1.66 seconds.

Keywords : smart device, Multimedia Messaging Service (MMS), cryptographic, super encryption, steganography.

INTISARI

Kemajuan teknologi telah menjadikan fungsi teknologi informasi dan komunikasi menjadi konvergen sehingga kini muncul istilah ICT (Information and Communication Technology). Internet dan piranti cerdas memiliki peran penting sebagai medium untuk konvergensi multimedia saat ini. Teknologi komunikasi bergerak juga berkembang pesat, begitu juga perkembangan fitur-fitur layanan yang mendukung dalam sistem GSM, antara lain adalah MMS (Multimedia Messaging Service) yang memungkinkan melakukan pengiriman data berupa citra, audio, dan video. Kompleksitas komputasi menjadi perhatian penting dalam pengembangan teknik kriptografi pada piranti cerdas di tengah keterbatasan bandwidth pada jaringan nirkabel, keterbatasan pemroses, memory, dan waktu. Pada makalah ini akan dibahas keamanan pesan citra menggunakan konsep super enkripsi dengan mengoptimalkan keamanan kunci enkripsi yang mengadopsi konsep steganografi yaitu metode End Of File (EOF). Aplikasi yang dibangun mampu memadukan antara kecepatan, keamanan, dan fleksibilitas sehingga menghasilkan kombinasi yang baik antara kecepatan, pengamanan yang tinggi, kompleksitas, reasonable computational overhead, dan computational power.Dari hasil pengujian berhasil didapatkan algoritma enkripsi citra yang dapat diimplementasikan pada piranti cerdas dengan basis sistem operasi Android, yang hemat sumberdaya komputasi serta 1 [email protected], 2 [email protected], 3) 3 naniek [email protected]

(2)

JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415 Vol. 5 No. 2 Februari 2013

143

proses yang cepat. Hal tersebut dibuktikan dengan rata-rata waktu enkripsi untuk citra ukuran 256 x 256 piksel sebesar 0,75 detik dan citra dengan ukuran 480 x 640 piksel 2,09 detik. Rata-rata waktu dekripsi untuk citra ukuran 256 x 256 piksel sebesar 0,58 detik dan citra dengan ukuran 480 x 640 piksel sebesar 1,66 detik.

Kata Kunci : piranti cerdas, Multimedia Messaging Service (MMS), kriptografi, super enkripsi, steganografi.

PENDAHULUAN

Teknologi komunikasi bergerak saat ini berkembang dengan sangat ce-pat, begitu juga perkembangan fitur-fitur layanan yang mendukung dalam sistem GSM. Salah satu layanan yang ditawar-kan adalah MMS (Multimedia Messaging Service) yang merupakan perkembangan dari SMS (Short Message Service) yang memungkinkan untuk melakukan pengi-riman data berupa citra digital.

Keamanan informasi menjadi isu penting dalam penyimpanan dan trans-misi data. Penggunaan data citra pun semakin luas dalam berbagai bidang. Untuk itu diperlukan sistem pengamanan untuk melindungi data yang ditransmis-ikan melalui suatu jaringan komunikasi, antara lain dengan menggunakan teknik kriptografi. Namun demikian enkripsi tidak dapat mencegah intersepsi dan modifikasi data pada saluran komunikasi. Enkripsi tidak mampu melindungi ko-munikasi dari para pendengar rahasia (eavesdropper) untuk mengekstrak data rahasia (Chang Lo, 2007).

Hingga bulan Agustus 2011, ber-dasarkan penelitian oleh AC Nielsen terhadap pengguna piranti cerdas di Amerika Serikat seperti yang dilansir oleh situs www.dailytech.com dan http:// www.

netmarketshare.com/, Google Android

memiliki market share 43%, diikuti oleh iPhone (28%), RIM (18%), dan Microsoft (11%). Sedangkan untuk pengguna di seluruh dunia, Microsoft Windows Mobile memiliki market share 4,9%, dan Google Android sebesar 18,9%. Sementara Ap-ple dengan iOS sebesar 61,5%, Java ME (12,8%), dan Symbian (3,5%).

Jumlah pengguna ponsel Black-Berry di Indonesia hampir mencapai 9 juta pengguna (Juli 2012). Fakta tersebut membuat Indonesia dijuluki sebagai Ne-gara blackBerry, pasalnya angka 9 juta juga menempatkan Indonesia sebagai pengguna ponsel Ber-OS BlackBerry ter-banyak di dunia. Namun, semakin gencar

munculnya ponsel Android membuat pengguna ponsel BlackBerry beralih ke sistem operasi lain. Berdasar-kan hasil penelitian firma Analis IDC, jumlah peng-guna Android di Indonesia selama tahun 2012 meningkat dan menguasai 52% smartphone yang beredar di pasar Indo-nesia (republika. co.id, 2012).

Kriptografi pada piranti cerdas memunculkan tantangan baru, karena keterbatasan sumberdaya komputasi pada perangkat. Kompleksitas komputasi menjadi perhatian penting dalam pe-ngembangan teknik kriptografi di tengah keterbatasan bandwidth pada jaringan nirkabel, keterbatasan pemroses, memo-ry, dan waktu. Oleh sebab itu, diperlukan tradeoff antara kecepatan, keamanan, dan fleksibilitas sehingga menghasilkan kombinasi yang baik antara kecepatan, pengamanan yang tinggi, kompleksitas, reasonable computational overhead, dan computational power (Jolfaei dan Mirgha-dri, 2011).

Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk mendapatkan algoritma yang handal untuk mengamankan data citra telah pula dilakukan oleh beberapa peneliti diantaranya Abrihama(2008), Stinson(1995), dan Younes (2008). Pe-nelitian untuk mendapatkan algoritma enkripsi citra yang sederhana namun aman dengan proses yang cepat dan hemat sumber daya komputasi yang menggabungkan dua buah cipher yaitu Playfair cipher dan Vigenere cipher telah dilakukan oleh Setyaningsih, dkk (2012). Pemilihan algoritma ini karena Super Enkripsi tidak membutuhkan resource yang banyak, sehingga cocok untuk diterapkan pada telepon seluler yang memiliki kapasitas memori yang terbatas. Kendala yang dijumpai pada kunci Super Enkripsi adalah ukurannya yang cukup besar yaitu 16 x 16 piksel sehingga sangat sulit untuk diingat. Hal tersebut menyebabkan pertukaran kunci yang dilakukan melalui email, atau pesan sms

(3)

144

menjadi tidak aman. Fridrich dan Goljan (2002) melakukan pengujian kehandalan steganografi berdasarkan serangan yang terjadi pada steganografi. Pengujian di-lakukan menggunakan RS Analisis pada tool Steganos, S-Tools, Hide4PGP. Manglem dkk. (2007) menggabungkan kriptografi dan steganografi. Metode steganografi yang digunakan adalah Sequential LSB, Random LSB, Edge LSB, dan Random Edge LSB. Enkripsi dilakukan terhadap pesan yang akan disisipkan, sedangkan algoritma enkripsi yang digunakan adalah S-DES. Penguji-an untuk mengetahui kehPenguji-andalPenguji-an ste-ganografi dilakukan dengan cara men-deteksi menggunakan Gradient Energy, selain itu membandingkan juga hasil dari masing-masing steganografi yang diuji dengan gradient energy. Hasil yang di-dapat dari perbandingan gambar ste-ganografi yaitu gambar steste-ganografi dapat dideteksi kecuali Random Edge LSB. Anneria (2008) melakukan pende-teksian gambar steganografi yang dihasilkan oleh beberapa tool yaitu InPlainView, S-Tool dan The Thrid Eyes. Metode steganalisis yang digunakan yaitu RS-Analysis. Pendeteksian dengan RS-Analisis dapat mengetahui pro-sentase noise pada RGB dalam pixel. Dalam penelitian ini diketahui bahwa gambar yang disisipi pesan dengan ukuran pesan yang kecil akan sulit untuk dideteksi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan keamanan pada kunci yang digunakan. Teknik yang diusulkan adalah mengadopsi dari konsep ste-ganografi menggunakan metode End Of File (EOF), yaitu menyisipkan/ menye-bunyikan kunci yang digunakan untuk proses enkripsi dan dekripsi pada citra hasil enkripsi sebelum dikirimkan. Meto-de EOF mempunyai kelebihan mampu menyisipkan kunci yang sangat besar, sehingga cocok untuk menyisipkan kunci playfair yang berukuran cukup panjang. METODE

Teknik enkripsi citra bertujuan untuk mengkonversi citra ke bentuk lain sehingga sulit dipahami. Sedangkan teknik dekripsi digunakan untuk me-ngembalikan citra terenkripsi menjadi

citra asli. Terdapat banyak sistem enkripsi citra untuk melakukan enkripsi dan dekripsi, namun tidak ada algoritma enkripsi tunggal yang memuaskan untuk berbagai tipe citra (Gupta, 2009).

Dalam enkripsi citra digital, terdapat dua level enkripsi yaitu low-level dan high-level. Dalam enkripsi low-level, citra yang terenkripsi mengalami penurunan kualitas visual dibandingkan dengan citra asli. Namun citra tersebut tetap dapat terlihat dan dipahami oleh orang yang melihat. Dalam enkripsi high-level, isi citra benar-benar teracak dan hanya nampak seperti derau (noise). Dengan demikian citra menjadi tidak dapat dipahami oleh orang yang melihat-nya (Krikor dkk., 2009). Sementara itu Puech (2005) mengatakan bahwa karak-teristik visual yang paling penting dari citra terletak pada frekuensi rendah, sedangkan informasi detil tersimpan di frekuensi yang lebih tinggi. Penglihatan manusia (HVS-Human Visual System) lebih sensitif pada frekuensi rendah dibandingkan dengan frekuensi tinggi. Younes (2008) mengatakan bahwa se-mua cipher image yang hanya berbasis permutasi tidak aman dari serangan known-plaintext. Ia menyarankan agar permutasi rahasia harus digabungkan dengan teknik enkripsi lain untuk menghasilkan citra yang benar-benar aman.

Super enkripsi merupakan salah satu kriptografi berbasis karakter yang menggabungkan cipher substitusi dan cipher transposisi. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan cipher yang lebih kuat daripada hanya menggunakan satu cipher saja, sehingga tidak mudah untuk dipecahkan. Enkripsi dan dekripsi dapat dilakukan dengan urutan cipher substitusi kemudian cipher transposisi, atau se-baliknya. Konsep super enkripsi dapat diperluas penggunaannya dari teks ke citra warna. Ini dimungkinkan mengingat sebuah citra merupakan deretan piksel-piksel yang terdiri atas komponen R (Red), G (Green), B (Blue) yang meru-pakan bilangan-bilangan bulat sehingga dapat dioperasikan dalam sebuah matrik. Super enkripsi juga tidak membutuhkan sumberdaya yang besar, sehingga cocok untuk diterapkan pada telepon seluler

(4)

JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415 Vol. 5 No. 2 Februari 2013

145 yang memiliki kapasitas memori yang terbatas.

Algoritma superenkripsi yang dikembangkan pada penelitian ini meng-gunakan konsep symmetric crypto-system. Symmetric cryptosystem sangat menekankan pada kerahasiaan kunci yang digunakan untuk proses enkripsi dan dekripsi. Oleh karena itulah sistem ini sering disebut sebagai secret-key ciphersystem. Secret-key cryptography merupakan bentuk kryptografi yang lebih tradisional, dimana sebuah kunci tunggal dapat digunakan untuk mengenkrip dan mendekrip pesan. Kriptografi kunci-si-metrik mengarah kepada metode enkripsi yang mana baik pengirim maupun yang dikirim saling memiliki kunci yang sama. Masalah utama yang dihadapi secret-key cryptosystems adalah membuat pengirim dan penerima menyetujui kunci rahasia tanpa ada orang lain yang mengetahui-nya. Ini membutuhkan metode dimana dua pihak dapat berkomunikasi tanpa takut akan disadap.

Untuk menghadapi serangan se-macam ini kriptografer harus menggu-nakan kunci yang lebih panjang dan tidak mudah ditebak. Semakin panjang kunci maka waktu exhaustive search menjadi makin sulit dan bahkan tidak mungkin dilakukan karena waktu yang dibutuhkan semakin lama. Namun cara ini mem-punyai kelemahan dimana untuk meng-ingat kunci yang sangat panjang tentulah tidak mudah. Misalkan untuk kunci playfair yang digunakan pada penelitian ini ukurannya adalah 16 x 16 piksel atau 256 piksel warna. Apabila setiap piksel warna diwakili dengan 3 digit angka maka panjang kunci yang harus diingat sepanjang 256 x 3 = 768 digit angka. Hal ini tentu saja sangat menyulitkan baik bagi penerima apabila ingin melakukan proses dekripsi. Oleh karena itu pada penelitian ini diusulkan sebuah cara untuk mengoptimalkan keamanan pada kunci yang digunakan. Teknik yang diusulkan adalah mengadop dari konsep steganografi menggunakan metode End Of File (EOF), yaitu menyisipkan/ menyembunyikan kunci yang digunakan untuk proses enkripsi dan dekripsi pada image hasil enkripsi sebelum dikirimkan. Metode End Of File (EOF) mempunyai

kelebihan mampu menyisipkan kunci yang sangat besar, sehingga cocok untuk menyisipkan kunci playfair yang berukuran cukup panjang.

Dengan menggunakan konsep ini maka pengirim maupun penerima pesan cukup hanya mengingat 6 digit angka yang mewakili intensitas dari warna citra dan tidak perlu mengingat 768 digit angka. Dimana 6 digit angka ini nanti sebagai kunci untuk bisa melaku-kan proses dekripsi. Penerima harus menginputkan 6 digit angka dengan benar sebelum bisa melakukan proses dekripsi. Untuk mengamankan dari pe-nysup, maka nantinya proses untuk mencoba proses dekripsi hanya diijinkan 3 kali. Selain itu proses penginputan kunci sepanjang 6 digit juga dibatasi oleh waktu yang ditentukan oleh pengirim. Dimana waktu maksimal yang diijinkan adalah 255 detik. Apabila lebih dari 3 kali atau waktu penginputan kunci yang dicobakan melebihi dari waktu yang ditentukan maka image sudah tidak dapat dibuka lagi untuk dilakukan proses dekripsi. Sehingga apabila menginginkan informasi kembali harus meminta pengirim melakukan pengiriman kembali citra tersebut (Iswahyudi dkk, 2012).

Proses enkripsi yang digunakan adalah menggabungkan metode vigene-re cipher dan playfair cipher selanjutnya kunci playfair yang digunakan untuk mengenkripsi citra disisipkan kedalam cipher image seperti terlihat pada Gam-bar 1 (Iswahyudi dkk, 2012)

Sedangkan proses dekripsi yang digunakan adalah dengan cara memasukkan pin yang digunakan untuk untuk mengestrak kunci nantinya digunakan untuk melakukan proses dekripsi, selanjutnya dilakukan proses dekripsi menggunakan algoritma playfair cipher yang dilanjutkan dengan algoritma vigenere cipher seperti terlihat pada Gambar 2 (Iswahyudi dkk, 2012).

Pengembangan dari metode Vigenere Cipher untuk penyandian citra dilakukan dengan menggunakan Formula Vigenere Cipher dengan menggunakan nilai basis modulo 256 sesuai dengan intensitas warna pada citra.

(5)

Rumus en menghitung adalah seb Dengan : a K Sedangkan mendapatk . Se mengguna yang dike adalah seb matrik buju kunci deng semesta p sebagai da mempunya kunci yang nyandikan sangkar de nilai eleme acak antar Ciphering nkripsi yang g nilai ciphe bagai berikut a : Intensitas Ki: kunci ke-i n rumus yan kan kembali dangkan a kan metode embangkan bagai beriku ur sangkar y gan jumlah di pembicaraan asar. Misalka ai derajad ke g akan digu citra ada engan ukura ennya adala ra 0 sampa menggunaka digunakan er image tiap :

256 ...

s ke-i,j citra a g digunakan plainteks Gambar Gambar algoritma e e Playfair untuk data t : 1) memb yang akan m isesuaikan d n yang digu an pada citra eabuan 256 unakan untu lah matrik n 16 x 16 d ah bilangan ai dengan 2 an setiap pa 146 untuk p pixel ...(1) asli n untuk yang r 1. Skema P r 2. Skema P nkripsi Cipher a citra bentuk menjadi dengan unakan a yang maka uk me-bujur dengan bulat 55. 2) berupa im terenkripsi ( Dengan : a yang terenk Proses Enkri Proses Dekri an intensita masing-mas dibagi dala blok berisi masing-mas warna. 3) P masing kan cara: a) jik baris yang maka c1 d kanan m1, c kanan m2 dan m2 terd dalam matr masing dia age tiap p (dekripsi) ada a: Intensitas kripsi, ki: ku psi psi as citra dala sing kanal am blok-blo 2 pixel (m sing baris u Proses ciphe nal warna d a m1 dan m sama dal diambil dari c2 diambil da pada matrik dapat pada rik maka c1 mbil dari 1 pixel yang alah:

256 ...

s citra pixel unci ke-i m plainteks warna. Pla ok dimana m1 dan m2) untuk setiap ering pada m dilakukan de m2 terdapat lam matrik 1 pixel se ari 1 pixel se kunci. b) jik kolom yang dan c2 ma pixel dibawa telah .... (2) ke-i,j untuk ainteks setiap pada kanal masng-engan pada kunci ebelah ebelah ka m1 sama asing-ah m1

(6)

JURNAL T Vol. 5 No. dan m2 pa m2 berbe matrik ku pertemuan dan c2 dia dan kolom m1 = m2 m dan c2=m2 Se untuk me Cipher ada dengan mengguna untuk pro ciphering d c1 dan c2 t dalam mat 1 pixel seb pixel sebel jika c1 dan sama dala masing-ma m1 dan m2 dan c2 be matrik ku pertemuan m2 diambi kolom c1 p c2 maka p dan m2=c2 Un digunakan yang meru digunakan mengguna data pada digunakan ukurannya Ukuran file sama den disisipkan data yang tersebut. D pada akh khusus seb tersebut d tersebut. D setelah dis bertambah disisipkan ukuran file rahasia dit rahasia ya penyisipan mengguna TEKNOLOG . 2 Februari da matrik ku da baris d nci maka baris pixel m ambil dari pe m1 pada m maka ciphert 2. dangkan a enggunakan alah sebagai proses kan matrik oses enkrip dilakukan de terdapat pad rik kunci ma belah kiri c1, ah kiri c2 pa n c2 terdapat am matrik m asing diambil 2 pada matr rbeda baris nci maka baris c1 da l dari pertem pada matrik k plainteks ada 2. ntuk menye teknik EOF upakan salah dalam stega kan cara de a akhir file. untuk meny sesuai de e yang tela ngan ukura data ditamb g disisipkan Dalam teknik ir file deng bagai penge an pengena Dengan dem sisipkan pes . Sebab, uku pesan raha e sebelum tambah deng ang disisipk pesan kan metode GI TECHN i 2013 unci. c) jika m dan kolom c1 diambi m1 dan kolo ertemuan ba atrik kunci. d eks adalah c algoritma d metode P berikut : 1) enkripsi kunci yang psi. 2) P ngan cara : a baris yang ka m1 diamb m2 diambil da matrik ku t pada kolom maka m1 da l dari 1 pixel rik kunci. c) j dan kolom m1 diambi an kolom c2 muan baris c kunci. d) jik alah adalah m embunyikan atau End O h satu teknik anografi. Tek engan menyi Teknik ini yisipkan data engan kebu ah disisipkan an file se ah dengan u n ke dalam

ini, data disi gan diberi enal start da

al akhir dar mikian ukura

san rahasia uran file yang asia sama d disisipkan gan ukuran kan. Contoh rahasia d End of File. NOSCIENTIA 147 m1 dan dalam l dari om m2, aris m2 d) Jika c1=m1 ekripsi Playfair Sama yaitu sama Proses a) jika g sama bil dari dari 1 unci. b) m yang an m2 diatas jika c1 dalam il dari 2, dan c2 dan ka c1 = m1=c1 kunci Of File k yang knik ini sipkan dapat a yang utuhan. n data ebelum ukuran m file sipkan tanda ri data ri data an file a akan g telah dengan pesan pesan h hasil dengan A Un butuhan sis kan pada ataupun s bahasa pem proses pe perancanga tool UML ( yang menc diagram, diagram, da Use langkah – memilih unt memanggil dengan me Kunci. 2) Pe menyimpan memilih S diharuskan dienkripsi d Pengirim proses enk Citra. 5) Pe hasil enkr MMS. 6) program de Gam case diagra melakukan atau memil proses enk hasil enkrip MMS. Gambar 3. enkripsi IS ntuk meng stem sebelum piranti berge smart phon mrograman A erancangan an sistem i Unified Mod cakup peranc sequence an activity dia e Case enk langkah: 1) tuk membua kunci yang milih Buat K emngirim da n kunci e Simpan Kun memilih c dengan mem dapat mem ripsi dengan engirim dapa ipsi dengan Pengirim d engan memili mbar 3 men am enkripsi enkripsi mu lih kunci en ripsi hingga psi melalui fa

Use case dia

SSN: 1979-8 ggambarkan m diimpleme erak (handp ne menggu Android dila sistem. D ini menggu delling Langu cangan use diagram, agram. kripsi memp ) Pengirim at kunci baru g telah ters Kunci atau P apat memilih enkripsi de nci. 3) Pe citra yang milih Pilih Cit

mulai mela n memilih En at mengirimka n memilih dapat keluar ih keluar. nggambarka i. Pengirim ulai dari mem nkripsi, mela mengirimkan asilitas peng agram prose 8415 ke- entasi-phone) nakan kukan Dalam nakan uage), case class punyai dapat u atau impan Panggil untuk engan ngirim akan tra. 4) kukan nkripsi an file Kirim r dari n use dapat mbuat kukan n citra iriman es

(7)

Us langkah – memilih k dekripsi de Penerima d akan di-de Citra. 3) melakukan memilih D memilih u dekripsi de Penerima dengan me Ga case diagr yang telah enkripsi da dengan me nya menga sistem aka Kemudian, citra yang t Gambar 4. dekripsi Da kelas yang penggunaa tersebut di keseluruha pakan diag gram, yan dan pengir obyek Citra file. Obyek se Case de langkah: 1 kunci untuk engan memi diharuskan m ekripsi deng Penerima proses Dekripsi. 4) untuk menyi engan memili dapat kelu emilih keluar ambar 4 me am proses d h menerima apat melakuk emilih kunci ambil citra da an melakuka penerima telah didekrip . Use case d alam aplikasi g saling ber annya. Komu modelkan ol an program. gram runtun ng meliputi riman citra ya a, Enkripsi, D k Citra akan kripsi memp ) Penerima memulai p ilih Pilih Kun memilih citra gan memilih dapat me dekripsi d Penerima impan citra ih Simpan C uar dari pr . nggambarka dekripsi. Pen kiriman citr kan proses d enkripsi. Se an secara oto an proses de dapat meny psi. iagram prose ini terdapat komunikasi unikasi antar eh diagram Gambar 5 keseluruha enkripsi, de ang dilakuka Dekripsi, dan menangani 148 punyai harus proses nci. 2) a yang h Pilih emulai dengan dapat hasil Citra. 5) rogram an use nerima ra ter-ekripsi elanjut-omatis ekripsi. yimpan es kelas-dalam r kelas runtun meru-an pro-ekripsi, an oleh n Kirim pemi-lihan citra d kepada en memulai pr guna harus membuat/m hingga kem si dapat d memiliki atu Gambar 5. sistem PEMBAHA Pen enkripsi dil berwarna d sel dan 48 BMP dan J menggunak sistem ope manan dat Gambar 6. dan mengirim nkripsi atau roses enkrip s memilih pil memilih kunc mudian runtut dimulai, pros uran yang sa Diagram run SAN ngujian ke akukan pad engan ukura 80 x 640 pi JPG. Pada p kan smart rasi Android ta image da

mkan citra ter u dekrisi. psi seorang lihan enkrips ci, memilih tan proses e ses dekripsi ama. ntun keseluru eamanan da beberapa an 256 x 25 iksel dengan pengujian ap phone de d, aplikasi p apat dilihat rsebut Untuk peng-si dan citra enkrip-i juga uhan kunci a citra 56 pik-n tipe plikasi engan penga-pada

(8)

JURNAL T Vol. 5 No. Gambar 6 SUNG Gala Pro memilih cit enkripsi se Gambar 7. pada smart Selanjutnya berupa bil digit serta untuk mela terlihat pad Pro yang sama image ya dekripsi. s sandi yang kunci ses digunakan dekripsi da tampil wak hasil dekri asli. Ha serta wakt pada Gamb TEKNOLOG . 2 Februari 6. Tampilan axy Tab2 oses enkrips ra yang akan perti terlihat . Tampilan p t phone a diinputkan angan anta waktu pros akukan prose da gambar 8a oses dekrips a, yaitu deng ng akan selanjutnya g terdiri dar suai deng untuk enkr apat dilanjutk ktu proses psi yang sa asil pengujia tu proses en bar 9. GI TECHN i 2013 icon pada si diawali d n dilakukan p pada Gamba roses enkrip kunci sand ra 0-9 mini ses yang di es dekripsi s a dan 8b. si dilakukan p gan memilih dilakukan p diinputkan ri 6 digit. A an kunci ripsi maka p kan sehingga dekripsi dan ama dengan n proses e nkripsi ditam NOSCIENTIA 149 SAM-dengan proses ar 7. psi di yang imal 4 iijinkan seperti proses cipher proses kunci Apabila yang proses a akan n citra n citra nkripsi mpilkan A Gambar 8a kan kunci menginputk menginputk Gambar 9. waktu prose IS ( a ) ( b ) a. Tampilan dan 8b. kan batas wa kan kunci yan

Tampilan ha es enkripsi p SSN: 1979-8 untuk meng Tampilan aktu proses ng valid asil enkripsi d pada smart p 8415 ginput-untuk untuk dan hone

(9)

Ha diperlihatka Tabel 1. An Ap histogram dari ciphe perbedaan keduanya. terlihat ra warna, ha algoritma e dapat me untuk dila kriptanalis yang meno citra asli. D citra asli dilakukan p dian citra m na dan per cukup sign bahwa pro baik. An dan dekrip pada tabe untuk 3 bu 256 x 256 detik) dan sebesar 5 rata-rata w gambar uj sebesar 2 dan rata-r 1657 (1,66 dapat diny cukup efek warna da asil analisis an pada Tab nalisis histog abila dilihat plain image r image-nya yang s Pada histo ata untuk al ini men enkripsi yan emberikan p kukan statis karena tida onjol seperti Dari Tabel 1 j tidak dapa proses enkri menunjukkan rubahan inte nifikan, hal oses enkrips alisis waktu psi hasil pe l 2. Rata-ra uah gambar sebesar 754 n rata-rata 579 (0,58 d waktu enkrip i dengan u 091 milisec rata waktu 6 detik). D yatakan bah ktif untuk pen an dapat histogram el 1. gram warna secara visu dengan hist a, maka t signifikan ram hasil e setiap inte nunjukkan b g digunakan petunjuk ap stical attack ak ada inte yang terliha uga terlihat b at terlihat s psi. Hasil pe n keteracaka ensitas warna ini menunj si berhasil d u proses e engujian dis ata waktu e uji dengan u 4 miliseconds waktu d detik). Seda psi untuk 3 kuran 480 onds (2,09 dekripsi se ari hasil te hwa algoritm nyandian dat diimplement 150 warna al dari togram terlihat antara nkripsi ensitas bahwa n tidak pa-apa k oleh ensitas at pada bahwa setelah enyan-an war-a ywar-ang jukkan dengan nkripsi sajikan nkripsi ukuran s (0,75 ekripsi angkan buah x 640 detik) ebesar ersebut ma ini ta citra tasikan pada telep operasi membutuhk Tabel 2. An di ponsel No . Nama File 1 Autumn .bmp 2 lenna. bmp 3 Jelly beans. bmp Ra 1 Kamboj a. jpg 2 Telepo n. jpg 3 Angsa. jpg Ra Gra enkripsi da Gambar 9. Gambar 9. enkripsi dan KESIMPUL Ber dapat dia antara lain yang diusu pada tele sumberdaya yang cepa dengan rat citra denga pon seluler Android kan waktu pro

alisis waktu Size Plain Cip er 256 x 256 257 25 256 x 256 257 25 256 x 256 257 25 ta-rata 480 x 640 481 64 480 x 640 481 64 480 x 640 481 64 ta-rata afik perba an dekripsi d Grafik perba n dekripsi LAN rdasarkan mbil beber : 1) Algorit lkan dapat d pon selule a komputas at. Hal ter

ta-rata wakt an ukuran 25 dengan s karena roses yang la pada pengu Waktu P (ms ph r Enkrip si 7 x 56 807 7 x 56 708 7 x 56 747 754 1 x 40 2075 1 x 40 2111 1 x 40 2087 2091 andingan diperlihatkan andingan wak hasil pen rapa kesim tma enkripsi diimplementa er yang h si serta p rsebut dibu tu enkripsi 56 x 256 se sistem tidak ama. jian roses ) Dekrip si 554 627 555 579 1695 1612 1665 1657 waktu n oleh ktu elitian mpulan i citra asikan hemat proses ktikan untuk ebesar

(10)

JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415 Vol. 5 No. 2 Februari 2013

151 0,75 detik, dan rata-rata waktu dekripsi sebesar 0,58 detik, sedangkan citra dengan ukuran 480 x 640 rata-rata waktu enkripsi 2,09 detik dan rata-rata waktu dekripsi sebesar 1,66 detik. 2) Hasil pengujian pengamanan kunci algoritma super enkripsi dengan teknik penyisipan kunci menggunakan metode end-of-file menunjukkan secara visual citra hasil enkripsi tidak terlihat lagi disebabkan oleh keteracakan warna dan perubahan intensitas warna yang cukup signifikan. Dari histogram plain image dan cipher image-nya terlihat perbedaan yang signifikan antara keduanya. Ukuran citra juga tidak mengalami perubahan yang signifikan, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan bagi yang melihatnya. 3) Metode EOF mempunyai kelebihan mampu menyisipkan kunci yang sangat besar, sehingga cocok untuk menyisip-kan kunci playfair yang berukuran cukup panjang.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional yang telah mendanai kegiatan penelitian ini sesuai dengan Surat Perjanjian Penugasan Penelitian Nomor: 560.14/K5/KL/ 2012, Tanggal 10 Februari 2012, melalui dana Penelitian Hibah Bersaing.

DAFTAR PUSTAKA

Abrihama, D. (2008). Keystream Vige-nere Cipher : Modifikasi VigeVige-nere Cipher dengan Pendekatan Key-stream Generator. Program Studi Informatika ITB. Bandung. Anneria, Y.S, (2008). Program Stegonalis

Metode LSB pada Citra dengan Enhanced LSB, Uji Chi-Square, dan RS-Analysis. Tugas Akhir. Program Studi Teknik Informati-ka ITB, Bandung.

Iswahyudi, C. Setyaningsih, E. Widyas-tuti, N. (2012). “Pengamanan Kunci Enkripsi Citra pada Algorit-ma Super Enkripsi Menggunakan Metode End of File”. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III. ISSN: 1979-911X.

Fridrich. J., dan Goljan. M. (2002). Prac-tical Steganalysis of Digital Ima-ges. State of The Art, Depart-ment of Electrical Engineering. Binghamton.

Gupta K, Silakari S. (2009). “Choase Ba-sed Image Encryption Using Block-Based Transformation Al-gorithm”. International Journal of Computer and Network Security. 1(3).

Jolfaei A, Mirghadri A. (2011). “Image Encryption Using Chaos and Block Cipher”. Computer and Information Science. 4(1).

Krikor L, Baba S, Arif T, Shaaban Z. (2009). “Image Encryption Using DCT and Stream Cipher”. European Journal of Scientific Research.

http://www.eurojour-nals.com/ejsr.htm. ISSN

1450-216X ; 32(1): 47-57.

Manglem, Kh. S., Birendra, S. S., Shyam, L. S. S. (2007). Hiding Encrypted Message in Features Image. IJCSNS. Vol. 7 No. 4. India. Puech, W. dan Rodrigues, J. (2005),

Crypto-compression of Medical Images by Aelective Encryption of DCT. 13th European Signal Processing Conference. Turkey. Setyaningsih E, Iswahyudi C, Widyastuti

N. (2012). “Image Encryption on Mobile Phone Using Super En-cryption Algorithm”. Jurnal Ilmiah Nasional Terakreditasi TELKOM-NIKA. ISSN : 1693-6930. 10(4): 599-608.

Stinson R Douglas. (1005). Cryptography Theory and Practice. London: CRC Press. Inc.

Younes, M A B , Jantan A. (2008). “Image Encryption Using Block-Based Transformation Algorithm” . IAENG International Journal of Computer Science. 35(1).

Referensi

Dokumen terkait

(1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 ayat (5) tidak menetapkan persetujuan bersama dengan Walikota terhadap rancangan peraturan daerah

Penelitian ini akan mengembangkan sistem monitoring stok dan penjualan yang terjadi di beberapa distributor secara simultan dan real time sehingga setiap terjadi perubahan data

Tiga karakteristik serupa yang termuat dalam pengertian SRL, adalah: (1) Individu merancang belajarnya sendiri sesuai dengan keperluan atau tujuan individu yang bersangkutan;

Peningkatan kerja sama ini selanjutnya dapat diwujudkan salah satunya dengan upaya penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai landasan terbentuknya

Selain itu, seberapa sering atau frekuensi update IoT pada lingkungan Smart Home dari pihak vendor juga penting karena jika tidak ada update maka kejahatan di dunia

Dalam merakit varietas tembakau yang mempunyai potensi hasil yang tinggi dan tahan terhadap cekaman lingkungan baik biotik maupun abiotik, serta mempunyai kadar nikotin

emosional dengan konf lik peran ganda Hal ini mungkin karena keterampilan sosial mengindikasikan bahwa orang dengan tingkat yaitu kemampuan untuk menangani emosi

Setelah mengeluarkan kedua variabel tersebut dari dalam model dan meregresikan kembali variabel CAR (X 2 ) dan suku bunga kredit konsumsi (X 5 ) dengan NPL (Y) diperoleh model