• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKEMBANGAN PARIWISATA DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II PERKEMBANGAN PARIWISATA DI INDONESIA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

P

BAB II

PERKEMBANGAN PARIWISATA

DI INDONESIA

2.1 Penelitian Pariwisata

ariwisata merupakan pilar pembangunan nasional. Dengan adanya sektor pariwisata di Indonesia mampu membantu pemerintah dalam meningkatkan penerimaan devisa, pajak, maupun pengentasan kemiskinan. Walaupun dalam praktiknya selama ini masalah kemiskinan pada setiap daerah wisata masih cukup tinggi. Kendati demikian, pembangunan pariwisata dapat meningkatkan perekonomian suatu negara dikarenakan sektor ini memberikan peluang dalam pergerakan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat. Dampak krisis ekonomi global juga sema- kin mendorong negara-negara di beberapa belahan dunia untuk memprioritaskan pembangunan pada sektor pariwisata sebagai upaya pemulihan ekonomi tersebut.

Untuk menjawab tujuan dan manfaat pariwisata di atas, maka para peneliti berupaya keras melakukan penelitian di berbagai daerah yang telah menjadi tujuan wisatawan selama ini. Berikut ini merupakan hasil penelitian dari beberapa peneliti yang berkaitan dengan

(2)

Persepsi wisatawan terhadap keberadaan ob- jek wisata Tanah Lot di Bali menunjukkan pada level yang cenderung baik. Oleh sebab itu, melalui sektor pariwisata, pemerintah mampu meningkatkan penerimaan devisa, pajak, mau- pun pengentasan kemiskinan.

dampak kunjungan wisatawan pada suatu objek wisata di seluruh Indonesia. Hasil penelitian Sujana (2009) yang berjudul “Persepsi wisatawan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan wisatawan ke daya tarik wisata Tanah Lot, Tabanan Bali” menunjukkan bahwa persepsi wisatawan terhadap objek wisata Tanah Lot secara umum baik.

Kendati pada dasarnya persepsi ini baik, namun pada kenyataannya terdapat sedikit perbedaan antara persepsi wisatawan domestik dengan wisatawan mancanegara terhadap keberadaan objek wisata Tanah Lot tersebut. Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dari 155 sampel persepsi maka diperoleh hasil bahwa skor rata-rata variable 4,03 yang masuk dalam kategori baik pada skala Likert. Perbedaan ini terletak pada kepentingan masing-masing wisatawan yang berkunjung ke daerah ini.

Selanjutnya, penelitian Pradnyani (2012) dengan judul “Persepsi wisatawan mancanegara terhadap

(3)

Persepsi wisatawan mancanegara terhadap ka- wasan wisata Senggigi, cukup baik. Fasilitas dan daya tarik wisata merupakan komponen utama yang dapat mempengaruhi kunjungan wisatawan ke suatu destinasi pariwisata.

fasilitas dan daya tarik wisata di kawasan wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa fasilitas dan daya tarik wisata merupakan komponen utama yang mempengaruhi kunjungan wisatawan ke suatu destinasi pariwisata. Responden yang diambil dalam penelitian ini adalah wisatawan mancanegara yang berasal 15 negara.

Persepsi wisatawan mancanegara terhadap fasilitas pariwisata memiliki nilai rata-rata 3.18%. Sementara penilaian yang baik diberikan terhadap daya tarik wisata dengan nilai rata-rata 3.51%. Penelitian ini menggunakan teori persepsi, teori pertukaran sosial, dan teori siklus hidup area wisata.

Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (2011) tentang “Persepsi wisatawan domestik (Bogor) terhadap “the island of paradise” menunjukkan hubungan yang saling mempengaruhi antara motivasi dan persepsi. Wisatawan domestik yang berasal dari Bogor memiliki motivasi dan persepsi yang cenderung positip terhadap keberadaan pariwisata Bali. Padahal daerah Bogor

(4)

merupakan daerah wisata yang cukup menarik di Indonesia. Hanya saja kelebihan Bali tentu tidak bisa dibandingkan dengan daerah wisata lain di seluruh Indonesia.

Penelitian mengenai persepsi konsumen yang dilakukan oleh Suradnya bersama rekan-rekannya (2002) membuktikan bahwa persepsi konsumen merupakan faktor yang paling menentukan dalam memilih tempat wisata yang akan dikunjunginya. Pada umumnya wisatawan memilih daerah tujuan wisata tergantung pada pilihan produk wisata yang tersedia di daerah tujuan wisata tersebut. Apabila wisatawan merasa puas selama berwisata maka dapat dipastikan akan kembali mengunjungi

daerah itu dalam waktu cepat atau lambat. Semua tergantung pada kepuasaan wisatawan pada daerah yang dikunjunginya.

K e p u a s a a n wisatawan bisa diukur melalui pelayanan selama melakukan kunjungan pada objek wisata. Salah satu indikator kepuasaan wisatawan terletak pada pelayanan hotel tempat

Peningkatan jum-lah wisatawan ter- hadap objek wisata apabila daya tarik wisata yang terse- dia berbeda den- gan daerah asal-

nya. Memberikan

kepuasan kepada

wisatawan salah

satu solusi dalam mempertahankan eksistensi destinasi wisata tersebut.

(5)

meraka menginap. Persepsi konsumen ini sangat bergantung pada pelayanan hotel pada setiap daerah wisata. Penelitian Putra (2009) dengan judul “Persepsi wisatawan terhadap pelayanan hotel melati di kawasan Ubud, Kabupaten Gianyar”. Hasil penelitian ini menunjukkan sebuah kepuasan kendati masih perlu lagi ditingkatkan pelayanan pada hotel tersebut. Implikasi terhadap pelayanan hotel melati di kawasan Ubud perlu dipertahankan dan bahkan ditingkatkan sehingga dapat bersaing dengan hotel berbintang di sekitarnya.

Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa kepuasaan wisatawan yang berkunjung pada suatu daerah wisata ditentukan oleh pelayanan yang maksimal serta fasilitas yang memadai. Motivasi wisatawan untuk terus mengunjungi daerah wisata karena memiliki daya tarik wisata yang unik, indah, serta pelayanan dan fasilitas yang memudahkan wisatawan tersebut beraktivitas selama di daerah tersebut. Oleh sebab itu, kerjasama antara masyarakat, pemerintah, dan pengusaha pariwisata dapat terjalin dengan baik serta tetap memberikan pelayanan yang maksimal kepada setiap wisatawan yang berkunjung di daerahnya.

2.2 Potensi Wisata

Istilah potensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan

(6)

(kekuatan, kesanggupan, daya) sedangkan kata potensial mempunyai arti potensi (kekuatan, kesanggupan, kemampuan). Menurut Pendit (1999) dalam buku Ilmu Pariwisata bahwa potensi wisata adalah segala sesuatu yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Potensi wisata tersebut dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Pertama, potensi budaya adalah potensi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat baik itu adat istiadat, mata pencaharian, kesenian, dan budaya. Kedua, potensi alamiah adalah potensi yang ada di masyarakat berupa potensi fisik dan geografi seperti alam. Ketiga, potensi manusia adalah manusia juga memiliki potensi yang dapat digunakan sebagai daya tarik wisata, lewat pementasan tarian/pementasan seni budaya suatu daerah.

Mariotti (Yoeti, 1983) mengemukakan bahwa potensi wisata adalah segala sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata serta merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang berkunjung ke tempat tersebut. Menurut Gunn bahwa potensi wisata ini dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan didasarkan pada empat aspek, yaitu: mempertahankan kelestarian lingkungannya, meningkatkan kesejahteraan ma- syarakat di kawasan tersebut, menjamin kepuasan pengunjung, meningkatkan keterpaduan dan unit pembangunan masyarakat di sekitar kawasan dan zone pengembangannya (Gunn, 1994: 26).

(7)

2.3 Daya Tarik Wisata

Dalam Undang-undang Republik Indonesia No- mor 10 Tahun 2009 menjelaskan bahwa kepariwisataan merupakan usaha yang menyediakan barang atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyeleng- gara pariwisata. Sementara daya tarik wisata adalah se- gala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan serta nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, bu- daya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Dengan demikian, pengembangan pariwisata pada umumnya bertujuan untuk memperkenalkan, mendayagunakan, melestari- kan serta meningkatkan mutu objek daya tarik wisata. Dalam pembangunan objek wisata dan daya tarik wisa- ta dilakukan dengan memperhatikan kelestarian buda- ya dan lingkungan (Widyastuti, 2010).

Daya tarik wisata yang baik memiliki empat ciri khas, yaitu: keunikan, orijinalitas, otentisity, dan keragaman. Keunikan ini diartikan sebagai kombinasi kelangkaan dan kekhasan yang melekat pada suatu daya tarik wisata. Orijinalitas yaitu mencerminkan suatu

Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan dan keaneka- ragaman kekayaan alam, budaya, serta ha- sil buatan manusia sehingga menjadi tujuan wisatawan.

(8)

keaslian dan kemurnian objek wisata tersebut. Apakah objek wisata itu terkontaminasi atau mengadopsi nilai yang berbeda dengan nilai aslinya. Otentisity di sini juga mengacu pada keaslian bendanya. Otensitas lebih sering dikaitkan dengan keantikkan atau eksotisme suatu daya tarik wisata (Damanik dan Weber, 2006: 13). Daya tarik wisata merupakan fokus utama penggerak pariwisata pada sebuah destinasi (Ismayanti, 2009: 147). Dengan kata lain, daya tarik wisata sebagai penggerak utama yang memotivasi wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat atau daerah wisata.

Dengan melihat definisi daya tarik wisata di atas, maka setiap wilayah memungkinkan untuk dijadikan sebagai daya tarik bagi wisatawan apabila dikelola dan dikembangkan secara maksimal. Jenis-jenis daya tarik wisata ini berupa wisata rekreasi, wisata agro, wisata belanja, wisata budaya, wisata alam, wisata kuliner, dan wisata religi (spiritual tourism). Secara kualitasnya maka wisata religi ini paling unik dan mengesankan karena setiap wisatawan dapat memberikan kepuasaan bagi jasmani maupun rohaninya. Wisata religi merupakan indikator yang berkontribusi paling kuat dalam membentuk kepuasan konsumen (wisatawan).

2.4 Motivasi Wisatawan

Secara umum keberadaan pariwisata di Indonesia diawali pada tahun 1988 yang ditandai

(9)

29

dengan tema tahunan kunjungan seni dan budaya. Melalui program ini wisatawan didorong untuk datang serta menyaksikan pergelaran seni dan budaya yang ada di seluruh Indonesia. Kunjungan wisatawan makin digalakkan dengan adanya program tahunan kunjungan yang dimulai pada tahun 1991, sehingga banyak wisatawan mancanegara termotivasi untuk

datang ke Indonesia. Sebab, wisatawan yang datang

ke Indonesia memiliki motivasi yang berbeda-beda. Motivasi ini merupakan faktor penting bagi setiap wisatawan dalam mengambil keputusan tentang daerah yang akan dikunjunginya. Motivasi merupakan trigger dari proses perjalanan wisata, walaupun motivasi ini seringkali tidak disadari oleh wisatawan itu sendiri (Pitana & Gayatri, 2005: 56).

Motivasi wisatawan untuk mengunjungi suatu daerah sangat beragam. Ditinjau dari aspek sifatnya maka setiap wisatawan memiliki motivasi umum dan

Motivasi wisatawan ketika mengunjungi suatu daerah sangat beragama karena untuk me- nikmati keindahan alam, keunikan suatu daerah, serta berbagai atraksi wisata yang di- pentaskan. Oleh sebab itu, setiap wisatawan belum tentu memiliki keinginan yang sama pada suatu tempat ketika bersama rombon- gannya.

(10)

30

motivasi khusus. Motivasi perjalanan dikatakan umum apabila motivasi ini mendorong seseorang hanya sekedar untuk beralih tempat. Suatu motivasi menjadi khusus atau selektif bilamana wisatawan terdorong untuk mengunjungi suatu objek wisata atau negara tertentu untuk menikmati atraksi wisata yang ada pada daerah tersebut. Motivasi yang spesifik seperti halnya motivasi umum akan berbeda dari satu orang dengan lainnya. Semuanya bermuara pada faktor apa yang mendorong wisatawan berkunjung ke suatu destinasi wisata tersebut (Murphy, 1985).

2.5 Persepsi Wisatawan

Kata Persepsi berasal dari bahasa Inggris yaitu “perception” yang berarti penglihatan atau daya memahami. Menurut Jalaludin (1998: 51) persepsi merupakan sebuah pengalaman tentang objek peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi juga dapat didefinisikan sebagai interpretasi terhadap berbagai sensasi sebagai representasi dari objek-objek eksternal. Persepsi mensyaratkan kehadiran objek eksternal untuk dapat ditangkap oleh indera. Selain itu, persepsi ini timbul karena adanya informasi yang diinterpretasikan. Informasi yang dimaksud disini adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui sensasi atau indera.

(11)

31

didahului melalui penginderaan, proses berwujud diterimanya rangsangan oleh individu melalui alat reseptornya (alat inderanya). Namun menurut Walgito, Hamner maupun Organ (Emi, 2002) menjelaskan bahwa bila ditinjau dari proses psikologi maka proses ini tidak berhenti sampai pada panca indera semata tetapi rangsangan ini diteruskan ke pusat susunan saraf yaitu otak. Suatu proses dimana seseorang mengorganisasikan dalam pikirannya, menafsirkan, mengalami, dan memperoleh petanda atau segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya”. Jadi persepsi adalah dasar proses psikologis. Oleh sebab itu, setiap individu menyadari apa yang dilihatnya, didengarnya, dan sebagainya. Proses inilah yang membuat persepsi setiap orang terhadap sesuatu menjadi sempurna.

Agar setiap orang memperoleh persepsi yang lengkap terhadap sesuatu maka ada beberapa syarat yang harus dipenuihi, yaitu:

1. Perhatian, merupakan syarat psikologis dalam

individu mengadakan persepsi yang merupakan

langkah persiapan. Perhatian merupakan

pemusatan atau konsentrasi dari seluruh individu yang ditunjukkan pada suatu kelompok objek.

2. Adanya objek yang dipersepsi, menimbulkan

rangsangan, mengenai alat inderanya (reseptor).

3. Alat indera (reseptor) yaitu alat untuk menerima

(12)

32

Jadi, persepsi merupakan suatu aktivitas individu untuk mengenali suatu objek melalui inderanya yang kemudian diteruskan ke otak, sehingga individu dapat memberikan tanggapan terhadap objek tersebut dengan sadar. Dengan demikian, persepsi

dalam kaitannya dengan pariwisata adalah

pengetahuan tentang apa yang dapat ditangkap oleh panca indera bagi setiap wisatawan yang diproses secara psikologis sehingga persepsinya menjadi lengkap dan bahkan sempurna

terhadap sesuatu hal.

Persepsi adalah suatu proses penginderaan serta proses psikologis seseorang terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Jadi, persepsi pariwisata merupakan suatu penge- tahuan wisatawan secara lengkap yang di- tangkap oleh panca inderanya serta diproses secara psikologis sehingga memberikan pe- nilaian terhadap objek wisata tersebut.

2.6 Strategi Pengembangan Pariwisata

Pengembangan suatu kawasan wisata perlu memperhatikan beberapa kriteria agar dapat memberikan arahan yang jelas dan berhasil tentunya. Strategi pengembangan pariwisata salah satunya diperkenalkan oleh Rev Ron O’grady (Suwantoro, 2004: 81) sebagai berikut:

(13)

33

1. Decision making about the form of tourism in any

place must be made in consultation with the local people and be acceptable to them.

2. A reasonable share of the profit deliver from tourism

must return to the people.

3. Tourism must be based on sound environment and

ecological principles, be should not place any members of the host community in a position inferiority.

4. The number of the tourism visiting any area should

not be such that they overs helm the local population and the possibility of genuine human encounter.

Dengan demikian, pengembangan pariwisata juga tidak terlepas dari komponen dasar yaitu proses perencanaan, berupa:

a) Atraksi wisata dan aktivitasnya. b) Fasilitas akomodasi dan pelayanan.

c) Fasilitas lainnya dan jasa seperti, operasi perjalanan wisata, tourism information, restaurant,

retail shopping, bank, money changer, medical care, public safety dan pelayanan pos.

d) Fasilitas dan pelayanan transportasi.

e) Infrastruktur lainnya meliputi persediaan

air, listrik, pembuangan limbah dan

telekomunikasi.

f) Elemen kelembagaan yang meliputi program

(14)

34

perundang-undangan dan peraturan, kebijakan investasi sektor swasta, organisasi structural

private dan public serta program sosial ekonomi

dan lingkungan.

Dalam menerapkan strategi pengembangan pariwisata ini tentu saja harus memperhatikan lingkungan internal dan eksternal suatu daerah wisata. Lingkungan internal menekankan pada faktor-faktor kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses), sedangkan lingkungan eksternal menekankan pada faktor-faktor peluang (opportunity) dan ancaman (threats). Kedua faktor di atas bila digabungkan dikenal dengan istilah analisis SWOT (strengths, weaknesses,

opportunity and threats).

Selain itu, strategi lainnya dalam

mengembangkan suatu destinasi wisata yaitu lingkungan internal dalam matrik IFAS (Internal

Factor Analysis Summary) dan lingkungan ekternal

dalam matrik EFAS (External Factor Analisys Summary). Dari kedua matrik IFAS dan EFAS digabungkan akan menghasilkan strategi umum (grand strategy) yang

kemudian dipadukan dalam matrik SWOT.

Penggabungan kedua matrik ini bisa menghasilkan empat set alternatif strategi dalam pengembangan daerah wisata sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh destinasi wisata tersebut.

(15)

35

Dalam mengembangkan suatu daerah agar menjadi daya tarik wisata serta sesuai harapan wisatawan, maka diperlukan kerjasama yang berkelanjutan dengan semua pihak. Stakeholder yang dimaksud berupa departemen konservasi alam, departemen pariwisata, pelaku industri pariwisata, tokoh masyarakat, akademisi, dan peneliti serta keterlibatan masyarakat lokal. Peran semua pihak di atas sangat diperlukan, namun penting untuk dipahami oleh pemegang kebijakan yaitu pemerintah harus memperhatikan secara serius masyarakat lokal tersebut. Keterlibatan penduduk lokal sangat bermanfaat dalam pengembangan destinasi wisata karena mereka lebih mengetahui tentang daerah mereka serta sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Dengan demikian, semua pihak harus bekerja sesuai dengan fungsi dan perannya masing- masing, tetapi memiliki fokus dan tujuan bersama yaitu mengembangkan destinasi wisata tersebut.

(16)

Referensi

Dokumen terkait

Pulau Jeju adalah salah satu ikon wisata di Korea Selatan yang mempuyai daya tarik sumber daya alam dan sumber daya alam buatan yang lebih dari lokasi

Tahun 2009, daya tarik wisata bisa dijelaskan sebagai segala sesuatu yang mempunyai keunikan, kemudahan, dan nilai yang berwujud keanekaragaman, kekayaan alam, budaya, dan

Pengusahaan Objek dan Daya Tarik Wisata Alam, usaha ini adalah usaha yang memiliki kegiatan pada pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Tata Lingkungan untuk dijadikan sebagai

Suatu obyek wisata haruslah mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan agar mau datang untuk berkunjung. Daya tarik ini dapat berupa keindahan alam,

Pernyataan mengenai tidak adanya daya tarik wisata alam, adanya daya tarik buatan dari sisi budaya, keunikan budaya, sudah terdapat akomodasi berupa penginapan dan tempat makan,

Potensi yang dapat diuraikan meliputi “4A” yaitu Attraction, yang terdiri dari Daya Tarik Wisata Alam (Natural Tourist Attractions) dan Daya Tarik Wisata Buatan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh desa wisata di kawasan Bumiaji memiliki potensi wisata dan daya tarik wisata (ODTW) berupa daya tarik alam, pertanian

Potensi yang dapat diuraikan meliputi “4A” yaitu Attraction, yang terdiri dari Daya Tarik Wisata Alam (Natural Tourist Attractions) dan Daya Tarik Wisata Buatan