Prosiding Semirata BKS PTN Wilayah Barat Bidang Ilmu Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten 13 – 16 April 2009
Astina And Henny Sulistyowati 1
PERIODE KRITIS TANAMAN KACANG HIJAU AKIBAT KEBERADAAN GULMA DI LAPANGAN
Astina And Henny Sulistyowati
Crop Science Department of Agriculture Faculty, Tanjungpura University Pontianak
ABSTRACT
The presence of weed in the area of mung bean field may effect the plant growth and yield, although the weed presence does not always have negative impact. The problem faced is that there is no information about when this presence has the negative impact on mung bean growth and yield. Based on this fact, the goal of this research is to study a critic period of mung bean due to the weed presence.This research uses the blocked random design with 8 treatments and 3 replications. The variables measured are dry seed per plant, seed weight per block, dry shoot weight per plant and kind and number of weed. The result shows that the removal of weed from the field has significant effect on mung bean plant growth and yield. The treatment of weed removal since the week first until sixth after planting significantly gives better growth and yield than that of without weed removal and others. Key words : mung bean, weed, alluvial soil.
PENDAHULUAN
Tanaman kacang hijau merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan mampu berproduksi dengan baik pada dataran rendah sampai dataran tinggi dan harus didukung oleh faktor iklim yang meliputi suhu yang berkisar antara 250C – 27 0C dan kelembaban antara 50% - 80%, serta mendapat sinar matahari yang cukup.
Gulma atau tumbuhan pengganggu dapat mengurangi kualitas dan kuantitas produksi tanaman kacang hijau. Hal ini disebabkan karena gulma menjadi pesaing dalam pengambilan unsur hara air dan cahaya (Kasasian, 1971; Mercado, 1979; Fuerst dan Putman, 1983). Pada umumnya gulma menggunakan unsure hara lebih banyak dibandingkan dengan tanaman (Mercado, 1979). Disamping itu gulma juga dapat menjadi tanaman inang bagi hama dan penyakit serta mengeluarkan zat alelopati. Penyiangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan dengan aman dan efektif pada tanaman yang sudah tumbuh. Pemilihan waktu penyiangan yang tepat akan dapat mengurangi jumlah gulma yang tumbuh serta dapat mempersingkat masa persaingan, karena tidak setiap kehadiran gulma berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Hadirnya gulma pada periode permulaan siklus hidup tanaman dan pada periode menjelang panen tidak berpengaruh atau kecil pengaruhnya terhadap hasil akhir suatu tanaman. Diantara kedua periode tersebut tanaman sangat peka terhadap kehadiran gulma (Moenandir, 1988).
Gulma yang dibiarkan tumbuh tanpa dikendalikan akan mengakibatkan kehilangan hasil panen. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, gulma seharusnya dikendalikan terus menerus selama fase pertumbuhan tanaman. Namun cara ini tidak efisien, baik dari segi waktu, tenaga maupun biaya. Oleh karena itu perlu diketahui saat yang tepat untuk mengendalikan gulma. Salah satu cara adalah dengan menentukan periode kritis tanaman.
Menurut Zimdahl dalam Sastroutomo (1990) pada prinsipnya periode kritis tanaman merupakan rentang waktu suatu tanaman ada pada kondisi yang sangat peka terhadap lingkungan, terutama air, unsur hara, radiasi dan ruang tumbuh. Pada periode kritis, jika gulma tumbuh bersama tanaman, tanaman akan kalah bersaing dalam perolehan unsur-unsur yang diperlukan untuk pertumbuhannya sehingga pertumbuhan tanaman akan terhambat yang pada akhirnya akan menurunkan hasil.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari periode kritis tanaman kacang hijau akibat keberadaan gulma yang di tanam pada tanah alluvial.
Prosiding Semirata BKS PTN Wilayah Barat Bidang Ilmu Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten 13 – 16 April 2009
Astina And Henny Sulistyowati 3
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian UNTAN Pontianak dengan jenis tanah Aluvial.
Bahan penelitian yang digunakan adalah benih kacang hijau varietas Kenari, pupuk Urea, SP-36, KCl, pupuk kandang kotoran sapi, inokulan alami berupa bubukan tanah bekas menanam kacang hijau, dan pestesida.
Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 8 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Adapun perlakuan yang dimaksud adalah: penyiangan dilakukan pada minggu ke-1 sampai minggu ke-2 setelah tanam (s1), penyiangan dilakukan pada minggu ke-1 sampai minggu ke-4 setelah tanam (s2), penyiangan dilakukan pada minggu ke-1 sampai minggu ke-6 setelah tanam (s3), penyiangan dilakukan pada minggu ke-1 sampai minggu ke-8 setelah tanam (s4), penyiangan dilakukan pada minggu ke-3 dan ke-8 setelah tanam (s5), penyiangan dilakukan pada minggu ke-5 sampai minggu ke-8 setelah tanam (s6), penyiangan dilakukan pada minggu ke-7 sampai minggu ke8 setelah tanam (s7), tidak dilakukan penyiangan (s8).
Lahan dibersihkan, selanjutnya dibuat petakan sebanyak 24 petak dengan ukuran 2 m x 2 m, tinggi petakan 20 cm, jarak antar perlakuan dalam kelompok 0,5 m dan jarak antar kelompok 1 m. Pengapuran dilakukan 2 minggu sebelum tanam dengan cara disebar di permukaan tanah dan diratakan, sedangkan pupuk kandang diberikan seminggu sebelum tanam. Sebelum tanam benih diinokulasi dengan menggunakan Rhizobium alami berupa bubukan tanah yang berasal dari lahan yang ditanami kacang hijau. Benih ditanam dengan jarak 20 cm x 40 cm dengan cara ditugal. Tiap lubang tugal diisi 2 butir benih, kemudian ditinggalkan satu tanaman. Pupuk Urea dan KCl diberikan sebanyak 2 kali, yang pertama pada saat tanam dan yang kedua pada saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam, dengan dosis masing-masing 21,6 g Urea/petak dan 29 g KCl/petak. Sedangkan SP-36 diberikan sekaligus pada saat tanam dengan dosis 100 g SP-36/petak. Penyiraman dilakukan pagi dan sore jika tidak hujan, disiram dari sejak tanam sampai pengisian polong. Penyulaman dilakukan 7 hari setelah tanam. Penyiangan gulma dilakukan sesuai dengan perlakuan. Panen dilakukan saat polong telah berwarna coklat sampai hitam sebanyak 5 kali sesuai dengan kematangan polong. Selanjutnya polong dijemur kemudian dilakukan pembijian. Pengendalian hama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu setelah tanam menggunakan insektisida Basudin 56 EC.
Pengamatan dilakukan terhadap berat kering tanaman, jumlah polong per tanaman dengan menjumlahkan polong yang dipanen sebanyak 5 kali, berat kering biji per tanaman,
berat kering biji per petak, berat kering tanaman, dan berat kering gulma. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan data dianalisis secara univariat dan selanjutnya di dilakukan uji Beda Nyata Jujur (BNJ).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Berat Kering Biji per Tanaman
Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan penyiangan berpengaruh nyata terhadap berat kering biji per tanaman.
Tabel 1. Berat Kering Biji per Tanaman
Per Perlakuan Rerata (g) Beda Data asli Data transformasi
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-2 st (s1) 7,10 2,60 ab
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-4 st (s2) 8,10 2,81 ab
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-6 st (s3) 15,60 3,92 b
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-8 st (s4) 14,10 3,67 ab
Penyiangan minggu ke-3 sampai ke- 8 st (s5) 12,20 3,49 ab
Penyiangan minggu ke-5 sampai ke- 8 st (s6) 7,60 2,73 ab
Penyiangan minggu ke-7 dan ke- 8 stl (s7) 6,90 2,58 ab
Tanpa penyiangan (s8) 5,40 2,27 a
BNJ5%= 1,5
Ket: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata
2.Berat Kering Biji per Petak Tabel 2. Berat Kering Biji per Petak
Per Perlakuan Rerata (g) Beda
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-2 st (s1) 142,57 ab
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-4 st (s2) 142,67 ab
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-6 st (s3) 309,14 b
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-8 st (s4) 224,05 ab
Penyiangan minggu ke-3 sampai ke- 8 st (s5) 213,63 ab
Prosiding Semirata BKS PTN Wilayah Barat Bidang Ilmu Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten 13 – 16 April 2009
Astina And Henny Sulistyowati 5
Penyiangan minggu ke-7 dan ke- 8 stl (s7) 161,14 ab
Tanpa penyiangan (s8) 114,41 a
BNJ5%= 175,65
Ket: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata
Pada table 1 dan 2 hasil penelitian menunjukkan bahwa penyiangan gulma berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacangan hijau. Penyiangan yang dilakukan pada minggu ke 1 sampai minggu ke 4 setelah tanam menunjukkan berat kering biji lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa penyiangan pada minggu tersebut (s6 dan s7) walaupun hasil tidak berbeda nyata. Penyiangan pada minggu ke 1 sampai minggu ke 6 berbeda nyata dengan perlakuan tanpa penyiangan dan menghasilkan hasil tertinggi terhadap berat kering baik per tanaman maupun per petak dibandingkan dengan perlakuan penyiangan lainnya. Hasil biji kering tanaman kacang hijau pada saat panen ditentukan oleh banyaknya biji yang dihasilkan yang erat hubungannya dengan banyaknya polong yang dihasilkan. Smith
dalam Moenandir et al. (1989) menyatakan bahwa persaingan dengan gulma tidak
berpengaruh terhadap besarnya biji akan tetapi berpengaruh terhadap bunga dan jumlah biji. Penyiangan tanaman memberi kesempatan bagi tanaman untuk memanfaatkan lingkungan dengan baik. Akibatnya fotosintat yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sesuai dengan pendapat Lamid dan Dahono (1992), bahwa bila populasi gulma dapat ditekan maka tanaman akan tumbuh lebih baik dan berproduksi lebih tinggi.
3.Berat Kering Tanaman Tabel 3. Berat Kering Tanaman
Per Perlakuan Rerata (g) Beda
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-2 st (s1) 10,50 ab
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-4 st (s2) 9,60 ab
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-6 st (s3) 17,80 b
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-8 st (s4) 12,70 ab
Penyiangan minggu ke-3 sampai ke- 8 st (s5) 11,80 ab
Penyiangan minggu ke-5 sampai ke- 8 st (s6) 9,58 ab
Penyiangan minggu ke-7 dan ke- 8 stl (s7) 6,70 a
BNJ5%= 9,8
Ket: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata
Perlakuan penyiangan pada minggu ke 1 sampai minggu ke 6 setelah tanaman berbeda nyata terhadap perlakuan penyiangan minggu ke 7 dan minggu ke 8 dan dengan tanpa penyiangan terhadap berat kering tanaman, tetapi berbeda tidak nyata terhadap perlakuan penyiangan lainnya. Gulma yang tumbuh pada awal pertumbuhan tanaman kacang hijau berpengaruh terhadap berat kering tanaman, hal ini akibat dari adanya persaingan dalam hal air, cahaya maupun unsur hara antara gulma dengan tanaman kacang hijau, persaingan yang terjadi pada awal pertumbuhan terutama terhadap unsur hara dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan vegetatif tanaman (Mercado, 1979). Dengan adanya persaingan antara tanaman dengan gulma akan mengakibatkan berkurangnya laju fotosintesis sehingga fotosintat yang dihasilkan juga berkurang, karbohidrat sebagai hasil fotosintesis pada fase vegetatif sebagian besar untuk pembelahan sel, perpanjangan sel dan tahap pertama dari diferensiasi sel (Setyati, 1979).
Perlakuan bergulma cenderung menurunkan hasil tanaman, karena gulma yang tumbuh pada tempat dan waktu yang tidak dikehendaki dalam semua kemungkinan merupakan faktor pembatas yang lebih penting dalam tanaman tropis, karena gulma tumbuh dengan cepat dan rakus terhadap unsur hara serta berkompetisi sangat kuat (Mardjuki, 1990).
4. Jenis dan Berat Kering Gulma
Berdasarkan hasil pengamatan pada areal pertanaman kacang hijau terdapat beberapa jenis gulma antara lain: Ageratum conyzoides, Alternanthera sessilis, Axonopus compressus,
Bacopa procumbens, Boreria alata, Cleome rutidesperma, Cyperus kyllingia, Cyperus sp., Emilia sonchifolia, Eclypta prostrate, Fimbristylis acuminate, Leucas lavandulaefolia, Ludwigia perennis, Melochia corchorifola, Phyllantus debilis, Physalis angulata, Scofaria dulcis, Vernonia cinerea.
Tabel 4. Berat Kering Gulma
Perlakuan Berat kering
gulma (g) Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-2 st (s1) 47,47 Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-4 st (s2) 43,73
Prosiding Semirata BKS PTN Wilayah Barat Bidang Ilmu Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten 13 – 16 April 2009
Astina And Henny Sulistyowati 7
Penyiangan minggu ke-1 sampai ke-8 st (s4) 28,80 Penyiangan minggu ke-3 sampai ke- 8 st (s5) 36,80 Penyiangan minggu ke-5 sampai ke- 8 st (s6) 44,53
Penyiangan minggu ke-7 dan ke- 8 stl (s7) 53,87
Tanpa penyiangan (s8) 143,73
Pada tabel 5 menunjukkan hasil berat kering gulma terberat pada perlakuan tanpa disiang dan terendah pada perlakuan penyiangan minggu ke 1 sampai minggu ke 6. Hal ini menunjukkan bahwa penyiangan perlu dilakukan pada budidaya tanaman kacang hijau. Semakin ringan berat gulma menghasilkan hasil yang lebih baik terhadap berat biji tanaman kacang hijau. Menurut Sukman dan Yakup (2002) bahwa kemampuan tanaman bersaing dengan gulma ditentukan oleh spesies gulma, kepadatan gulma, saat dan lama persaingan, cara budidaya dan varietas tanaman serta tingkat dan kesuburan tanah.
PENUTUP
Berdasarkan hasil selama penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Perlu dilakukan pengendalian gulma setiap budidaya tanaman kacang hijau.
2. Tanaman tanpa disiang hingga 6 minggu setelah tanam menurunkan hasil tanaman kacang hijau.
3. Gulma yang terdapat di areal pertananaman kacang hijau selama penelitian adalah:
Ageratum conyzoides, Alternanthera sessilis, Axonopus compressus, Bacopa procumbens, Boreria alata, Cleome rutidesperma, Cyperus kyllingia, Cyperus sp., Emilia sonchifolia, Eclypta prostrate, Fimbristylis acuminate, Leucas lavandulaefolia, Ludwigia perennis, Melochia corchorifola, Phyllantus debilis, Physalis angulata, Scofaria dulcis, Vernonia cinerea
DAFTAR PUSTAKA
Fuerst, E.P. dan A.R. Putman. 1983. Separating the Competitive and Allelophathic Components of Interference. Theoritical Principles. J. Chem. Ecol. 9: 937-943.
Kasasian, L. dan Seeyave. 1979. Critical Period for Weed Competition. Pans 15: 208-212.
Lamit dan Dahono. 1992. Pengendalian Gulma pada Zero tillage pada kedelai setelah padi gogo. Laporan Pelti Kacang-Kacangan Balittan Sukarame.
Mardjuki, A. 1990. Pertanian dan Masalahnya. Andi Offset. Yogyakarta.
Mercado. B. L 1979. Intoduction To Weeds Science. SEARCA. Los Banos, Laguna, Philipphines.
Moenandir, J. 1988. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Rajawali Perss. Jakarta.
Moenandir, J., Sardjono, S., Budiwati, H. 1989. Periode Kritis Tanaman Kacang Hijau (Vigna
radiate L.) Varietas Walet Karena Adanya Persaingan Dengan Gulma Dan Jenis
Pengolahan Tanah. Lab. Gulma Jurusan Budidaya Pertanian F.P. Unibraw.
Sastroutomo, S. S. 1990. Ekologi Gulma. PT Gramedia Pustaka Umum. Jakarta.
Setyati, S. H. 1979. Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta.