• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelayanan Prima Terhadap Kepuasan Konsumen

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pelayanan Prima Terhadap Kepuasan Konsumen"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan makhluk sosial karena mereka hidup

bersama-sama di dalam atau ditengah-tengah suatu masyarakat. Manusia hanya bisa

bertahan hidup dalam masyarakat jika mereka menjalani kehidupan sebuah

aktivitas interaksi dan kerja sama yang dinamis dalam suatu jaringan

kedudukan dan perilaku. Aktivitas interaksi dan kerjasama itu terus

berkembang secara teratur sehingga terbentuklah wadah tempat manusia

berkumpul yang disebut organisasi (sosial).Organisasi adalah sebuah

sistem sosial yang dibentuk untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Organisasi juga merupakan suatu kelompok yang mempunyai diferensiasi

peranan, atau kelompok yang sepakat untuk mematuhi seperangkat

norma-norma (Liliweri, 2004:1)

Kebutuhan manusia (human needs) adalah suatu rasa yang timbul

secara alami dari dalam diri manusia untuk memenuhi segala sesuatu yang

diperlukan dalam kehidupannya.Kebutuhan-kebutuhan ini kemudian

memunculkan keinginan manusia (human wants) untuk peroleh sesuatu

yang dibutuhkan tersebut sebagai alat pemuas kebutuhan hidupnya.

Dalam kenyataannya, untuk memperoleh berbagai alat pemuas

kebutuhan tersebut ada yang dapat diperoleh dengan upayanya sendiri

(mengadakan sendiri), diupayakan sendiri dengan bantuan pihak lain, atau

memang harus diperoleh dari pihak lain karena keterbatasan kemampuan

untuk menyediakan sendiri.

Ketika alat-alat pemuas kebutuhan yang berupa barang atau jasa

tidak dapat disediakannya sendiri, tentu saja diperlukan jasa atau layanan

(service) dari pihak lain yang mampu menyediakan alat-alat pemuas

kebutuhan tersebut. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan sebagaimana

▸ Baca selengkapnya: berikut merupakan pelayanan prima berdasarkan tindakan kecuali

(2)

proses dan prosedur tertentu sampai kebutuhan dimaksud dapat

dimanfaatkan (dikonsumsi) oleh yang membutuhkannya.

Pada awalnya, konsep pelayanan prima timbul dari kreativitas para

pelaku bisnis, yang kemudian diikuti oleh organisasi-organisasi nirlaba

dan instansi pemerintah, sehingga dewasa ini budaya pelayanan prima

tidak lagi hanya milik dunia bisnis tetapi milik semua orang. Budaya

layanan prima dapat dijadikan acuan dalam berbagai aspek kehidupan,

antara lain untuk menjalin hubungan dalam kehidupan berumahtangga,

berbangsa, bernegara, dan sebagainya.

Keberhasilan dalam mengembangkan dan melaksanakan pelayanan

prima tidak terlepas dari kemampuan dalam pemilihan konsep

pendekatannya. Ada yang mengembangkan pola pelayanan prima

berdasarkan konsep A3, yaitu: Attitude (Sikap), Attention (Perhatian), dan

Action (Tindakan), tetapi ada pula yang menggunakan konsep lainnya.

Pelayanan prima dengan memanfaatkan teknologi informasi merupakan

salah satu syarat terselenggaranya kepemerintahan yang baik (good

governance) dan pemerintahan yang bersih (clean government) serta

terwujudnya tranparansi dan akuntabilitas telah menjadi ajang

persaingan peningkatan pelayanan antar instansi dan sebagai pedoman

(Barata, 2003:25). Pada tanggal 6-8 Oktober 2016 Dispendasu

melaksanakan Bimbingan Teknis dalam rangka peningkatan pelayanan

publik sampai tingkat service excellence yang dikutip dari buletin SULUH

edisi Juli-September 2016 sebagai berikut:

Meningkatkan kapasitas sumber daya aparatur, meningkatkan kemampuan, keterampilan dan sikap aparatur pemerintah dalam

memberikan pelayanan prima” Dr. Sarmadan Hasibuan, SH,MM.

Demikian halnya seperti yang dilakukan Dinas Pendapatan Provinsi

Sumatera Utara (Dispendasu), dalam upaya mengupgrade kompetensi

para pegawainya. Pada tanggal 6-8 oktober yang lalu Dispendasu

melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) dalam rangka peningkatan

pelayanan public sampai ke tingkat service excellence.Kegiatan ini dibuka

(3)

MM dan dihadiri oleh seketaris dan kepala bidang, serta diikuti oleh

seluruh peserta Bimtek yang terdiri dari Kepala UPT dan Kepala Seksi di

lingkungan Dispendasu.

“Untuk meningkatkan kapasitas sumber daya aparatur, meningkatkan

kemampuan, keterampilan dan sikap aparatur pemerintah dalam

memberikan pelayanan prima serta melakukan inovasi-inovasi guna

meningkatkan kualitas, aktivitas layanan yang pada akhirnya

meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sehingga dapat

meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara khususnya.”

Jelas Dr. Sarmadan menyampaikan tujuan Bimtek. Dispendasu secara

dinamis terus meningkatkan kinerja dan koordinasi secara sinergi di

bidang pelayanan publik untuk mencapai service excellence.Era teknologi

digital saat ini telah mempengaruhi sikap dan budaya konsumsi cepat saji

masyarakat di segala bidang terutama transparansi dalam bidang

pelayanan publik. Oleh sebab itu hal ini harus diimbangi oleh kinerja

aparatur pemerintahannya, sesuai dengan Peraturan Menteri

Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 87/M.PAN/8/2005 bahwa

Aparatur Negara/ Aparatur Pemerintahan Bertanggung jawab

Mewujudkan Pemerintahan yang baik (Good Governance) dan

Kepemerintahan yang Bersih (Clean Governance). Kegiatan yang

berlangsung selama 3 hari ini, akan dibimbing langsung oleh Dosen dari

perguruan tinggi, aktivis dan praktisi pelayanan publik dengan rankaian

bimbingan belajar berkonsep indoor dan outdoor. Nantinya hasil akhir

dari kegiatan Bimtek ini merupakan faktor pendukung jenjang karir,

kinerja, dan jabatan bagi pegawai Dispendasu kedepan.

Diakhir penutup, Kadispendasu menyampaikan “dengan mrncapai service

excellence saya harapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan yang

prima di lingkungan kerja dan mampu menimplementasikan system

pelayanan pelayanan prima di dalam pekerjaan pegawai Dispendasu

untuk mencapai Top inovasi Pelayanan Publik (TOP IPP) Tahun

(4)

UPT/Samsat (Eselon III), kali ini utusan eselon IV di lingkungan

Dispendasu juga diiuktsertakan, serta pihak kepolisian juga ikut

melengkapi Bimtek pada tahun ini. Walau dengan waktu yang berbeda,

namun target dan materi yang disampaikan tetap sama. Oleh sebab itu

diharapkan setelah mengikuti Bimtek ini, terbentuknya super team antara

Dispendasu dan Dirlantas dalam memberikan pelayanan prima kepada

masyarakat”.

Peningkatan pelayanan publik merupakan pendorong bagi Instansi

Pemerintah untuk meningkatkan pelayanan dengan mengedepankan

dimensi kualitas pelayanan yang lebih mudah, cepat dan transparan.

Konsep tersebut secara terus menerus telah dikembangkan di Kantor

Bersama SAMSAT (Sistem Administrasi Manungggal Satu Atap)

merupakan salah satu tempat pelayanan publik yang

menangani pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik

Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), pengesahan Surat Tanda Nomor

Kendaraan Bermotor (STNK) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan

Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) yang akan selalu berubah menyesuaikan

dengan kondisi perkembangan masyarakat yang selalu menuntut

adanya peningkatan pelayanan publik.

Dunia teknologi informasi yang selalu berkembang secara real

time utamanya dikalangan perbankan maupun perusahaan merupakan

alternatif untuk mengembangkan peningkatan pelayanan yang

disinergikan untuk memberikan akses kemudahan, kesederhanaan,

kejelasan, kepastian waktu, akurasi data kepada wajib pajak. Peningkatan

pelayanan dengan memanfaatkan teknologi informasi tersebut disertai juga

dengan landasan hukum yang memayunginya atau tetap memperhatikan

koridor-koridor aturan yang ada yaitu pada Instruksi Bersama Menteri

Pertahanan Keamanan, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan

tentang pelaksanaan Sistem Administrasi Manunggal . oleh karena itu

peneliti merasa tertarik untuk meneliti seberapa besar pengaruh pelayanan

(5)

1.2Batasan Masalah

Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga

dapat mengaburkan penelitian, maka peneliti membatasi masalah yang

akan diteliti di Kantor SAMSAT Medan Selatan. Adapaun pembatasan

masalah yang diteliti yaitu, penelitian ini terbatas pada pelayanan prima

dan kepuasan konsumen.

1.3 Rumusan Masalah

Secara umum rumusan masalah adalah usaha untuk menyatakan secara

tersurat pertanyaan-pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau

dicarikan jalan pemecahannya. Berdasarkan latar belakang yang telah

dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana proses pelayanan prima di Kantor Samsat Medan Selatan?

2. Apakah terdapat hubungan antara pelayanan prima terhadap kepuasan

konsumen pada Kantor SAMSAT Medan Selatan?

1.4Tujuan Penelitian

Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan penelitian merupakan

jawaban dari rumusan masalah. Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui proses pelayanan prima pada Kantor SAMSAT

Medan Selatan.

2. Untuk mengetahui hubungan antara pelayanan prima terhadap

(6)

1.5Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara Akademis, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi yang

positif kepada mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara khususnya

Departemen Ilmu Komunikasi.

2. Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk menguji pengalaman

teoritis serta menambah ilmu pengetahuan dan wawasan peneliti mengenai

Ilmu Komunikasi.

3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan

pemikiran terhadap pihak-pihak yang berkepentingan, diantaranya

meningkatkan kemampuan peneliti dari segi ilmu pengetahuan dan

pengalaman untuk mempersiapkan diri bergabung dalam dunia kerja yang

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini adalah peranan PT Arindo Jaya Mandiri dalam proses penanganan pembatalan dokumen PEB adalah sebagai freight forwarder yang mewakili eksportir dalam

Dari gambar tersebut terlihat bahwa semakin kecil ukuran partikel adsorben yang digunakan dalam proses pretreatment minyak jelantah dengan arang kayu, maka nilai

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah: (1)Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran aktif dengan strategi teka-teki silang

Hal ini dikarenakan polisi hutan tidak melaksanakan kewenangannya sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan;

Hasil keluaran dari sistem pakar berupa identifikasi status gizi akan digunakan sebagai masukan algoritma genetika untuk mencari menu makanan yang sesuai kebutuhan

Technical energy losses are power loss that occurs naturally because of the current flows in network and equipments.. This power loss is defined as square of the

(Capacity: 1.2 times the total volume of fuel) Waterproo. f floor and

1) Dewan juri terdiri atas minimal lima orang, yang berasal dari perguruan tinggi, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Kemdikbud), Himpunan Sarjana Kesusastraan