DISTRIBUSI PEMBAGIAN KERJA
Nama Biodata Ketua dan Anggota Kelompok 1. Ketua Pelaksana
a. Nama Lengkap : Rafi Mahesa Putra
b. No BP : 1310542012
c. Fakultas/ Program Studi : Ekonomi/ Ekonomi Pembangunan
d. Pembahasan : Bab II (Least Cosh Theory)
e. Bagian Kerja : Pewawancara
2. Anggota Pelaksana 1
a. Nama Lengkap : Nurul Ikhsanti
b. No BP : 1310541019
c. Fakultas/ Program Studi : Ekonomi/ Ekonomi Pembangunan d. Pembahasan : Bab III (Dampak Lokasi Industri) e. Bagian Kerja : Pewawancara
Anggota Pelaksana 2
a. Nama Lengkap : Qoriah Turrahmi
b. No BP : 1310541003
c. Fakultas/ Program Studi : Ekonomi/ Ekonomi Pembangunan
d. Pembahasan : Bab I
e. Bagian Kerja : Notulen
Anggota Pelaksana 3
a. Nama Lengkap : Meila Azsoma
b. No BP : 1310541009
c. Fakultas/ Program Studi : Ekonomi/ Ekonomi Pembangunan d. Pembahasan : Bab II (Bid Rent Theory)
e. Bagian Kerja : Dokumentasi
Anggota Pelaksana 4
a. Nama Lengkap : Rizka Hijriatinnisa
b. No BP : 1310542011
c. Fakultas/ Program Studi : Ekonomi/ Ekonomi Pembangunan d. Pembahasan : Bab II (Market Area Theory) e. Bagian Kerja : Dokumentasi
BAB I
1.1 Latar Belakang Industri
Tenun Kubang adalah salah satu kerajinan tangan tenunan yang masih bertahan di antara 3 tenunan yang masih ada di Sumatera Barat. Selain di Kanagarian Kubang, masih ada di Kanagarian Silungkang kota Sawahlunto & Kanagarian Pandai Sikek Tanah Datar.
Salah satu usaha kerajinan berbasis Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kabupaten Lima Puluh Kota yang dikenal hingga ke mancanegara adalah Tenun Kubang di Kecamatan Guguak. Pemilik tenun H.Ridwan salah satu yang masih bertahan sampai sekarang setelah sempat mati suri pada tahun 1998.
Pertenunan di nagari Kubang, sebenarnya pernah mengalami masa kejayaan pada awal kemerdekaan sampai tahun 1970-an, malahan sempat menguasai pasar untuk jenis sarung di Sumatera Tengah. Memasuki era 70-an mulai agak merosot karena tidak mampu bersaing dengan produk lain yang sejenis pada daerah lain. Namun, pada tahun 2002 pertenunan H. Ridwan bangkit kembali dimana Risna, anaknya melanjutkan kembali usaha ayahnya. Berkat tangan dingin dan keuletan pensiunan guru itu dan didukung kelima anaknya perlahan-lahan usahanya mulai berkembang. Apalagi sejak dikeluarkan edaran oleh gubernur Sumbar dan bupati Lima Puluh Kota agar pegawai mengenakan pakaian yang berbahan produksi daerah, maka tenun Kubang dihidupkan kembali.
Kalau pada masa kejayaannya pada tahun 70-an sebagian besar produk tenun Kubang adalah berupa kain sarung, maka sekarang produk yang dihasilkan sudah lebih bervariasi, berupa bahan pakaian pria, stelan pakaian wanita,dsb. Apalagi setelah dilakukan pembinaan oleh disperindag propinsi sumbar maupun dinas koperindag kabupaten Lima Puluh Kota maka warna dan motif tenun yang dihasilkan sudah sangat bervariasi mengikuti tren dan warna yang berlaku saat ini.
Pada tahun 2013, salah satu motif tenun Kubang meraih juara 1 dalam lomba desaign tenun yang diselenggarakan oleh Dinas Perindag Propinsi Sumbar. Produk tenun Kubang saat ini tidak hanya diminati oleh konsumen di kabupaten Lima Puluh Kota tetapi sudah mendapat orderan dari daerah lain baik untuk pesanan kolektif dari instansi pemerintah maupun pesanan secara pribadi.
Anak-anak muda kurang begitu tertarik dengan bertenun songket yang dirasakan sulit dan tidak begitu menghasilkan karena pengerjaannya yang lama dan harga jual yang tidak begitu tinggi (hanya 200 ribu per bahan bajunya) sementara membuatnya memerlukan waktu yang cukup lama (sekitar 1-2 minggu).
Alasan kami memilih industri ini karena industri ini jarang ditemukan di Kota Payakumbuh. Dimana pada umumnya industri tenun berpusat di Kota Padang Panjang. Dan juga industri ini berada dekat dengan tempat tinggal anggota kelompok, sehingga memudahkan kami dalam pengambilan data.
1.2 Tujuan Industri
Melestarikan budaya daerah Mengurangi penggangguran
Menambah pendapatan masyarakat sekitar Menambah tenaga kerja
1.3 Manfaat Industri
Memperkenalkan budaya daerah Memperluas lapangan pekerjaan
Meningkatkan pendapatan pemilik dan tenaga kerja
LOKASI INDUSTRI BERDASARKAN TEORI
LOKASI
2.1 Bid Rent Theory
Bid rent teory dipelopori oleh Von Thunen (1854), yang mendasarkan analisanya khusus tentang lokasi kegiatan pertanian. Yang menjadi ukuran adalah tanah dan sewa atau pemilihan lokasi kegiatan ekonomi ditentukan oleh kemampuan membayar harga tanah (bid-rent) yang berbeda dengan harga pasar tanah (land-(bid-rent). Berdasarkan hal ini, lokasi kegiatan ekonomi ditentukan oleh nilai bid-rent yang tertinggi.
P = Pasar
Berdasarkan analisa kami industri Tenun Kubang tersebut berada pada no 3 setelah pertanian intensif dan pemukiman penduduk. Industri Tenun Kubang ini tidak menyewa tanah karena industri tenun ini didirikan di rumahnya sendiri, jadi tidak memerlukan sewa tanah.
Berdasarkan teori Von Thunen kita tahu bahwa harga lahan tinggi dipusat kota dan akan semakin menurun apabila makin jauh dari pusat kota. Keawetan produk yang dihasilkan dan biaya angkutan, maka daerah yang berdekatan dengan pasar akan cocok untuk tanaman yang cepat rusak, makin jauh dari pasar maka biaya angkutan akan makin dipertimbangkan.
daripada biaya angkut sehingga akan memberikan keuntungan yang lebih besar kepada pemilik industri.
2.2 Least Cost Theory
Dipelopori oleh Alfred Weber (1929), yang mendasarkan analisa pemilihan lokasi kegiatan ekonomi berdasarkan pada prinsip biaya minimum (least cost) atau teori tentang penekanan ongkos yang minimum.
Prinsip theory weber adalah:
Penentuan lokasi industri ditempatkan di tempat-tempat yang resiko atau biaya atau ongkosnya paling murah atau minimal (least cost location)
Lokasi setiap industri tergantung pada biaya total transportasi dan tenaga kerja dimana penjumlahan keduanya harus minimum
- Berat lokasional : berat total semua barang input yang harus diangkut ketempat produksi umtuk menghasilkan satu satuan output ditambah berat output yang akan dibawa ke pasar.
- Berat total : terdiri dari satu-satuan produk akhir ditambah semua berat input yang harus diangkut ke lokasi pabrik yag diperlukan untuk menghasilkan satu satuan output.
Asumsi yang digunakan Weber:
1. Bahan baku yang hanya ditemukan ditempat tertentu,
2. daerah pasar terdapat di tempat lain dengan persaingan bebas yang tidak memungkinkan terdapatnya monopoli di lokasi tersebut.
3. Terdapat beberapa lokasi tenaga kerja yang tidak mobil dan tingkat upah tertentu menunjukan penawaran yang tidak terbatas.
Menurut Weber, pemilihan lokasi industri didasarkan atas prinsip minimisasi biaya. Weber menyatakan bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja dimana penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum.
Industri Tenun Kubang ini menggunakan Ubiquotous materials, yaitu material yang ada dimana-mana dan tidak memerlukan ongkos transport, kalaupun ada ongkosnya sangat minim contoh tenaga kerja.
Bahan utama dari industri ini adalah benang celup yang dibeli langsung ke Bandung sehingga memerlukan biaya angkut dari Bandung ke lokasi industri. Industri tenun Kubang ini memilih berlokasi di Kubang karena selain harga tanah yang murah, upah tenaga kerja juga murah sehingga biaya angkut bahan baku lebih rendah dari biaya harga tanah dan upah tenaga kerja. Jadi, pemilik industri memilih berlokasi dekat dengan tenaga kerja yang banyak dan upahnya yang murah untuk mendapatkan keuntungan yang maksimum.
2.3 Market Area Theory
Dipelopori oleh Polander dan August Losch (1954). Teori ini memfokuskan pada lokasi – lokasi untuk penguasaan pasar seluas mungkin. Bila pasar yang dikuasai adalah yang terbesar, maka tingkat keuntungan perusahaan menjadi maksimum. Losch menekankan analisanya pada lokasi perusahaan berdasarkan konsentrasi permintaan dan persaingan antar wilayah. Teori ini melihat persoalan dari sisi permintaan. Lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin jauh dari tempat penjual, konsumen makin enggan membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat penjual semakin mahal. Losch cenderung menyarankan agar lokasi produksi berada di pasar atau dekat dengan pasar.
Namun, Industri Tenun Kubang ini tidak menggunakan teori market area. Hal ini karena Industri ini lebih cenderung untuk lebih memperhatikan tenaga kerja yang tersedia. Tidak semua tenaga kerja bisa bekerja pada bidang tenun ini. Untuk bekerja pada bidang tenun ini dibutuhkan keahlian tertentu dan juga kesabaran yang tinggi. Dibutuhkan keahlian tertentu seperti dalam menyambung benang satu per satu dan keahlian dalam membuat motif-motif pada suatu bidang kain tersebut. Selain itu, kesabaran yang tinggi juga dibutuhkan karena untuk membuat selembar kain dibutuhkan waktu 24 jam, bahkan 2-3 hari tergantung pada kemampuan dan kecepatan tenaga kerja.
Industri Tenun Kubang ini tidak memperhatikan lokasi yang dekat dengan pasar karena konsumen langsung meminta produk ke pabrik. Karena sistem yang dianut adalah sistem pesanan, maka individu atau instansi harus terlebih dahulu memesan kemudian pihak industri baru akan membuatnya.
DAMPAK LOKASI INDUSTRI
3.1 Dampak Ekonomi
Dampak ekonomi dari lokasi industri antara lain dalam bentuk : a. Peningkatan produksi
b. Peningkatan pendapatan
c. Dapat memperluas lapangan pekerjaan bagi pengangguran
Pengaruh langsung dampak ini umumnya dirasakan oleh masyarakat disekitar lokasi industri ini. Dengan adanya industri Tenun Kubang ini maka akan ada dampak langsung terhadap masyarakat sekitarnya, berupa upah dan gaji yang diterima oleh para pekerja dan pegawai industri ini serta adanya keuntungan yang diterima oleh pemilik industri ini.
Selain itu, ada juga dampak tidak langsung yang akan diterima oleh pemasok. Dengan adanya industri Tenun Kubang ini maka dampak tidak langsungnya adalah dampak yang berupa pembayaran oleh pemilik industri yang diterima oleh pemasok berbagai kebutuhan input yang diperlukan bagi operasi industri. Bahan baku utama pada industri ini adalah benang celup. Pemasok benang celup ini berada di Bandung dan Silungkang. Jadi dampak tidak langsungnya adalah adanya pembayaran yang dilakukan oleh pemilik industri kepada para pemasok benang celup yang berada di Bandung dan Silungkang.
3.2 Dampak Lingkungan
Dampak pendirian industri tenun di Kubang ini mempunyai dampak terhadap lingkungan, yaitu dampak lingkungan sekitar terhadap kenyamanan. Dampak yang ditimbulkan karena adanya industri ini adalah gangguan terhadap kenyamanan, karena alat tenun yang digunakan pada industri ini menimbulkan suara yang keras, maka akan dapat menyebabkan gangguan terhadap kenyamanan masyarakat sekitar.
3.3 Dampak Kesejahteraan Umum
Dampak dengan adanya industri Tenun Kubang ini adalah dapat menciptakan pendapatan, mengurangi pengangguran dan membawa kemakmuran atau kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya industri ini maka masyarakat sekitar akan mempunyai pekerjaan sehingga akan menyerap tenaga kerja. Dengan adanya penyerapan tenaga kerja ini, maka pendapatan masyarakat sekitar industri ini akan semakin meningkat. Oleh karena naiknya pendapatan masyarakat disekitar lokasi industri maka akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan pada masyarakat tersebut.
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa industri ini menggunakan Bid Rent Theory dan Least Cost Theory dalam menentukan lokasi industrinya. Harga tanah, biaya angkut dan upah tenaga kerja yang murah adalah hal yang paling diperhatikan industri ini dalam menentukan lokasi industrinya. Namun, industri ini tidak terlalu mementingkan Market Area Theory karena pada umumnya penjualannya dilakukan dengan pesanan oleh instansi dan individu. Instansi yang pernah melakukan pemesanan pada usaha ini adalah Rumah Sakit di Gadut, Politani dan instansi-instansi lainnya.
Selain itu, dengan adanya industri ini, maka akan memberikan dampak bagi pelaku yang terlibat, dampak tersebut berupa dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya berupa perluasan lapangan pekerjaan bagi pengangguran, peningkatan pendapatan baik oleh pekerja maupun bagi pemilik industri. Ada juga dampak negatif dari industri ini berupa gangguan kenyamanan yang disebabkan oleh suara dari alat tenun.
4.2 Kritik dan Saran
Kritik dan saran sangat penulis harapkan dalam makalah ini, segala kekurangan yang ada dalam makalah ini mungkin karena kelalaian atau ketidaktahuan penulis dalam penyusunannya. Segala hal yang tidak relevan, kekurangan dalam pengetikan atau bahkan ketidakjelasan dalam makalah ini merupakan proses penulis dalam memperlajari bidang studi ini dan diharapkan bagi pembaca dapat mengambil manfaat dari makalah ini.
Proses Wawancara dengan Pemilik Tenun Kubang
Proses menyambung benang dengan abu dapur