LAPORAN HASIL PENELITIAN
PENELITIAN MENGENAI PEMBERIAN
TUNJANGAN PROFESI TERHADAP
KINERJA GURU SD, SMP, SMU DAN SMK DI
KOTA MEDAN
Oleh
Tim Peneliti
Balitbang Kota Medan
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KOTA MEDAN
ABSTRAKSI
Program sertifikasi guru diharapkan pemerintah dapat mengatasi permasalahan kualitas pendidikan. Melalui program sertifikasi diharapkan kinerja guru akan meningkat. Tunjangan profesi pendidik (TPP) merupakan bentuk tunjangan yang diberikan kepada guru agar dapat meningkatkan kinerja profesinya. Setelah program sertifikasi guru dilakukan sejak tahun 2006 maka perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui pakah program tersebut dilakukan sesuai dengan yang direncanakan. Karenanya penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak pemberian tunjangan sertifikasi terhadap kinerja gurudan untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi guru dalam meningkatkan kinerjanya.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SD, SMP dan SMA/SMK di Kota Medan yang sudah lulus program sertifikasi. Sampel penelitian sebanyak 283 orang guru yang diambil secara proporsional random sampling. Data dalam penelitian berupa kinerja guru. Data tersebut dikumpulkan melalui angket dan wawancara mendalam. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistic deskriptif dan uji t.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa :
1. Analisis Data Untuk guru SD diperoleh hasil yang signifikan dengan nilai t hitung sebesar 7,314 pada signifikansi sebesar 0,000. Yang berarti bahwa tunjangan sertifikasi untuk guru SD berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja guru-guru SD
2. Analisis Data kelompok guru SMP menunjukkan nilai t hitung sebesar 3,267 pada signifikansi sebesar 0,001. Yang berarti bahwa tunjangan sertifikasi untuk SMP berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja guru-guru SMP
3. Untuk kelompok SMA/SMK diperoleh hasil signifikan dengan tingkat t hitung 6,692 dan tingkat signifikansi 0,000. Yang berarti bahwa tunjangan sertifikasi untuk guru SMA/SMK berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja guru-guru SMA/SMK.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ABSTRAKSI
DAFTAR ISI DAFTAR TABEL
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang masalah ……… 1
1.2 Rumusan Masalah ………... 4
1.3 Tujuan Penelitian ……… 5
1.4 Manfaat Penelitian ……… 5
1.5 Kerangka Berfikir ……… 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Hakekat Sertifikasi Guru ………. 7
2.2 Kinerja Guru ……… 20
2.3 Guru Yang Profesional ……… 22
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ………. 26
3.2 Sumber Dana ……… 26
3.3 Populasi dan Sampel ……… 26
3.4 Variabel Penelitian ……… 27
3.5 Teknik Pengumpulan Data ………. 27
3.6 Teknik Analisis Data ……… 27
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ……… 28
4.2 Pembahasan ……… 34
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ……… 42
5.2 Saran ……… 42
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Jumlah Guru di kota Medan yang telah Disertifikasi...……….. 4
Tabel 2 Hasil Analisis Data Unsur A………. 29
Tabel 3 Hasil Analisis Data Unsur B……….. 30
Tabel 4 Hasil Analisis Data Unsur C……….. 31
Tabel 5 Hasil Analisis Korelasi Kinerja Guru Sebelum dan Sesudah Sertifikasi 32 Tabel 6 Hasil Analisis Data Sampel Total……….. 32
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan manusia
pada era globalisasi sekarang, karena melalui proses pendidikan tersebut, manusia akan
memperoleh pengetahuan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Melalui pendidikan,
manusia akan mengalami beberapa perubahan setidaknya perubahan dari tidak tahu
menjadi tahu, perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, lebih mapan dalam
kehidupan dan perubahan menuju peradaban yang lebih maju sesuai perkembangan
ilmu pengetahuan dan tuntutan lingkungan.
Pendidikan dipandang juga sebagai bentuk investasi bagi suatu bangsa. Melalui
pendidikan kualitas sumber daya manusia terbangun setingkat dengan mutu pendidikan
tersebut. Pembangunan dalam bidang pendidikan tidak boleh berhenti selama tujuan
pendidikan belum tercapai seutuhnya. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No
20 tahun 2003 pasal 11 ayat 1 mengamanatkan kepada pemerintah pusat dan
pemerintah daerah untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi
setiap warganya. Hal ini tentunya memerlukan upaya terus menerus dan serius dari
pemerintah.
Namun cita-cita mewujudkan pendidikan bermutu tersebut tidaklah mudah,
pendidikan dihadapkan pada berbagai permasalahan. Keterpurukan mutu pendidikan di
Indonesia seperti dinyatakan oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural
Organization (UNESCO) PBB. Menurutnya, peringkat Indonesia dalam bidang
pendidikan tahun 2007 adalah 62 di antara 130 negara di dunia. Selain itu, hasil
penelitian United Nations Development Programe (UNDP) pada tahun 2007 tentang Indeks Pengembangan Manusia (IPM), menunjukkan bahwa Indonesia berada pada
peringkat ke-107 dari 177 negara yang diteliti. Bila dibandingkan dengan
negara-negara ASEAN yang dilibatkan dalam penelitian tersebut, Indonesia berada pada
peringkat ke-7 dari sembilan negara ASEAN. Salah satu unsur utama dalam penentuan
komposit Indeks Pengembangan Manusia ialah tingkat pengetahuan bangsa atau
pendidikan bangsa. Peringkat Indonesia yang rendah dalam kualitas sumber daya
Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah komponen
mutu guru. Mengingat bahwa salah satu aspek dari proses pendidikan adalah kegiatan
pembelajaran yang tidak bisa dilepaskan dari peran dan fungsi guru, sehingga dalam
upaya membelajarkan siswa guru dituntut memiliki multi peran agar mampu
menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif. Rendahnya profesionalitas guru di
Indonesia dapat dilihat dari kelayakan guru dalam mengajar. Data Balitbang Depdiknas
Tahun 2008, menunjukkan bahwa guru yang layak mengajar untuk tingkat SD baik
negeri maupun swasta ternyata hanya 28,94%, sedangkan guru SMP Negeri 54,12%,
guru SMP Swasta 60,99%, guru SMA Negeri 65,29%, guru SMA Swasta 64,73%, dan
untuk guru SMK Negeri 55,91 %, guru SMK Swasta 58,26 %. Data ini menunjukkan
bahwa secara kualifikasi akademik yang mencakup tingkat pendidikan guru dan latar
belakang pendidikan, ternyata masih terdapat permasalahan dan tentunya belum
menguatkan pemberlakuan UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen
Agar dapat mengajar secara lebih efektif, guru harus senantiasa meningkatkan
kemampuan profesional serta mutu mengajarnya, dan untuk mencapai hasil
pembelajaran yang optimal, guru harus mampu mendesain proses pembelajaran dengan
baik, karenanya harus didesain perencanaan pembelajaran yang sistematis dan aplikatif.
Seperti yang disampaikan oleh Majid (2007) bahwa “perencanaan pembelajaran yang
sistematis dan aplikatif baru dapat diwujudkan manakala guru mempunyai sejumlah
kompetensi”. Sedangkan sesuai PP RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan Pasal 28, bahwa “Pendidik merupakan agen pembelajaran yang harus
memiliki empat jenis kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadiaan,
profesional, dan sosial”. Pemenuhan persyaratan penguasaan keempat kompetensi
tersebut dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Sebagai bukti bahwa persyaratan
tersebut telah dipenuhi, guru harus memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh setelah
lulus uji kompetensi. Uji kompetensi guru dalam jabatan dilakukan melalui dua cara
yaitu : 1) penilaian portofolio dan 2) melalui jalur pendidikan.
Arti pentingnya kinerja guru sangat erat kaitannya dengan upaya peningkatan
mutu pendidikan. Karenanya, upaya peningkatan kinerja guru merupakan salah satu
solusi guna mengatasi permasalahan rendahnya kualitas pendidikan. Sesuai dengan
pendapat Liwes (1999: 54) yang menyatakan bahwa “Guru yang profesional
efektif, dan dengan kualitas guru maka proses belajar-mengajar diharapkan akan
berhasil secara optimal”. Dari pandangan tersebut, jelaslah bawa keberadaan guru
dalam proses belajar mengajar memiliki peranan penting dan dominan terutama dalam
proses transformasi pengetahuan kepada siswa. Namun peningkatan kinerja guru tidak
terlepas dari pengaruh sejumlah kompensasi yang termuat dalam sertifikasi.
Walaupun guru telah tersertifikasi, yang dapat diasumsikan mereka telah
memiliki kecakapan kognitif, afektif, dan unjuk kerja yang memadai, namun sebagai
akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan pembangunan
pendidikan kekinian, maka guru dituntut untuk terus menerus berupaya meningkatkan
kompetensinya secara dinamis. Mantja (2002) menyatakan bahwa peningkatan
kompetensi guru tidak hanya ditujukan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor,
namun yang lebih penting adalah kemampuan diri untuk terus menerus melakukan
peningkatan kelayakan kompetensi. Sementara pendapat lain disampaikan oleh
Sergiovanni (dalam Mantja, 2002) yang menegaskan bahwa teachers are expected to
put their knowledge to work to demonstrate they can do the job. Finally, professional
are expected to engage in a life long commitment to self improvement. Self
improvement is the will-grow competency area. Pernyataan Sergiovanni tersebut
memberikan petunjuk bahwa asumsi profesionalisme guru pasca sertifikasi seyogianya
menjadi dasar bagi guru untuk terus menerus menata komitmen melakukan perbaikan
diri dalam rangka meningkatkan kompetensi. Peningkatan kompetensi atas dorongan
komitmen diri diharapkan akan mampu meningkatkan keefektifan kinerjanya.
Komitmen untuk meningkatkan keefektifan kinerja sangat berkaitan dengan pencapaian
tujuan program, yaitu program pembelajaran yang diharapkan mampu menghasilkan
output dan outcome yang mencapai standar. Jika guru memiliki komitmen untuk
mengembangkan kompetensi diri secara terus menerus, maka proses-proses
perencanaan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian program
pembelajaran diyakini akan dapat dilakukan sesuai dengan tuntutan kekinian.
Penjelasan di atas mengindikasikan, bahwa komitmen diri dan strategi-strategi
manajemen sangat dibutuhkan dalam rangka memfasilitasi guru meningkatkan
profesionalismenya. Sinergi antara komitmen guru dan strategi manajemen akan
Salah satu jalan yang ditempuh oleh pemerintah dalam mengatasi mutu
pendidikan yang rendah ini adalah dengan meningkatkan kualitas guru. Pemerintah
telah melakukan uji kompetensi untuk menentukan guru yang professional. Uji
kompetensi ini dikenal dengan sertifkasi guru. Pemerintah berharap melalui sertifikasi
guru akan dapat meningkatkan kinerja mereka sehingga juga akan berdampak terhadap
peningkatkan prestasi siswa.
Data yang dikumpulkan dari Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon UNIMED,
diketahui bahwa jumlah guru yang sudah mengikuti uji kompetensi sejak tahun 2006
sampai dengan tahun 2009 seperti dipaparkan pada tabel 1.1 di bawah ini.
Tabel 1
Jumlah Guru di Kota Medan yang Telah Disertifikasi Tahun 2006 s/d 2009
NO TINGKAT T A H U N
2006 2007 2008 2009
1 SD N 106 318 513 379
2 SLTP N 59 225 658 226
3 SLTA N - 419 874 194
Sumber: Hasil Analisis Unit PLPG Unimed 2009. www.unimed.ac.id
Guru yang telah memiliki sertifikat pendidik tersebut telah memperoleh
tunjangan profesi. Dan tunjangan profesi tersebut diharapkan dapat meningkatkan
kinerja mereka. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengungkap
faktor-faktor yang menjadi permasalahan yang berhubungan dengan rendahnya kualitas
pendidikan pasca dilakukannya program sertifikasi guru .
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana dampak pemberian tunjangan profesi terhadap kinerja guru di Kota
Medan ?.
1.3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dampak pemberian tunjangan sertifikasi terhadap kinerja
guru di Kota Medan
2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi guru dalam
meningkatkan kinerjanya.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Masukan bagi guru terutama berhubungan dengan peran dan tanggung
jawabnya dalam melaksanakan tugas sebagai pengajar dan pendidik
2. Masukan bagi sekolah-sekolah yang bersangkutan dalam upaya meningkatkan
kualitas kinerja guru dalam membentuk dan menghasilkan peserta didik yang
berkualitas
3. Masukan bagi instansi terkait sehubungan dengan masih adanya beberapa
hambatan yang dihadapi guru dalam meningkatkan kualitas kinerjanya.
1.5. Kerangka Berfikir
Terdapat banyak variabel yang mempengaruhi kualitas/mutu pendidikan, salah
satu diantaranya adalah variabel pendidik (guru). Salah satu penyebab rendahnya mutu
pendidikan di Indonesia adalah komponen mutu guru. Rendahnya mutu guru ini
berkaitan erat dengan rendahnya kesejahteraan guru. Seiring dengan kondisi ini
pemerintah berupaya mengatasi permasalahan rendahnya kualitas guru ini adalah
dengan mengadakan sertifikasi.
Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru. Sertifikat
pendidik ini diberikan kepada guru yang memenuhi standar profesional guru. Standar
profesioanal guru tercermin dari uji kompetensi. Uji kompetensi dilaksanakan dalam
bentuk penilaian portofolio. Penilaian portofolio merupakan pengakuan atas
pengalaman profeisonal guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen
Guru yang telah memperoleh sertifikat pendidik berhak pula mendapat
tunjangan profesi. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Guru dan Dosen pasal 16
disebutkan bahwa guru yang memiliki sertifikat pendidik, berhak mendapatkan insentif
berupa tunjangan profesi. Besar insentif tunjangan profesi yang dijanjikan oleh UUGD
adalah sebesar satu kali gaji pokok untuk setiap bulannya. Oleh karena itu setelah guru
memperoleh tunjangan profesi kualitas/kinerja guru yang bersangkutan meningkat
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Hakekat Sertifikasi Guru
Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru.
Menurut Kunandar (2007: 79) sertifikasi guru adalah ”Proses untuk memberikan
sertifikat kepada guru yang telah memenuhi standar kualifikasi dan standar
kompetensi”. Dari pernyataan tersebut, disimpulkan bahwa sertifikat pendidik
diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Sementara itu,
dalam UU No.14 tahun 2005 disebutkan bahwa sertifikasi adalah proses pemberian
sertifikasi pendidik untuk guru dan dosen. Selanjutnya Pasal 1 ayat (12) menyatakan
bahwa sertifikasi pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan
kepada guru sebagai tenaga profesional. Ada dua alasan yang mendasar mengapa
sertifikasi perlu dilakukan pada profesi guru. Pertama, meningkatkan kualitas guru dan
kompetensi guru. Kedua, meningkatkan kesejahteraan dan jaminan finansial secara
layak sebagai profesi. Adapun targetnya adalah terciptanya kualitas pendidikan.
Peningkatan kualifikasi dimaksudkan agar guru yang bersangkutan layak untuk
menjadi guru yang profesional. Guru profesional merupakan syarat untuk menciptakan
praktik pendidikan yang berkualitas. Guru yang telah memenuhi syarat dapat mengikuti
program sertifikasi untuk mendapat sertifikat pendidik.
Tujuan sertifikasi adalah untuk meningkatkan kualitas guru yang pada akhirnya
diharapkan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Kunandar (2007: 79)
mengemukakan bahwa sertifikasi guru bertujuan untuk:
1. Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen
pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional;
2. Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan;
3. Meningkatkan martabat guru;
4. Meningkatkan profesionalitas guru.
Upaya untuk meningkatkan kompetensi guru gencar dilakukan, sertifikasi guru
adalah salah satunya. Program sertifikasi ternyata cukup ampuh untuk membangkitkan
profesionalisme guru. Adanya program sertifikasi guru menumbuhkan motivasi guru
kegiatan seminar, lokakarya, simposium sampai diklat pelatihan yang banyak dihadiri
atau diikuti oleh guru, baik dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas swasta
dan negeri.
Sebelum program sertifikasi didengungkan pemerintah, sangat jarang guru yang
mengikuti kegiatan tersebut di atas. Tetapi sekarang banyak guru yang semangat
meneruskan jenjang pendidikan dengan mengikuti program penyetaraan. Dengan
antusiasme melakukan kegiatan tersebut, seorang guru diharapkan akan menjadi guru
yang lebih profesional. Karena dengan mengikuti program penyetaraan dan kegiatan
ilmiah, guru dapat meningkatkan intelektualitas dalam mengajar anak didiknya.
Namun, uji sertifikasi hanyalah sekedar penyaringan. Setelah disaring, guru
mempunyai tugas berat untuk mengemban amanat mengajar secara lebih demokratis,
manusiawi, dan transformatif. Komitmen dan semangat guru dalam memfasilitatori
peserta didik menjadi tantangan tersendiri bagi guru.
Setelah lulus sertifikasi, guru juga akan mendapat tunjangan profesi. Dengan
mendapatkan tunjangan profesi, diharapkan kesejahteraan guru dapat naik dengan
sendirinya. Namun kenyataannya, ada saja guru yang tidak menjunjung profesionalitas
dalam mengajar. Hal ini tentu menjadi faktor penyebab tidak meningkatnya prestasi
belajar siswa.
Permendiknas No. 10 Tahun 2009 tentang sertifikasi guru menyatakan bahwa
sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi untuk memperoleh
sertifikat pendidik. Uji kompetensi tersebut lebih dikenal dengan program sertifikasi
guru. Uji kompetensi ini dilakukan untuk memperoleh sertifikat pendidik dan dilakukan
dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mencerminkan kompetensi
guru. Komponen-komponen portofolio tersebut mencakup :
1. Kualifikasi akademik
2. Pendidikan dan pelatihan dalam rangka pengembangan dan peningkatan
kompetensi
3. Pengalaman mengajar
4. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
5. Penilaian dari atasan dan pengawas
6. Prestasi akademik
8. Keikutsertaan dalam Forum Ilmiah
9. Pengalaman organisasi di bidang pendidikan dan sosial
10.Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan
Berikut ini akan dipaparkan setiap komponen dari sepuluh komponen tersebut
di atas.
1. Kualifikasi akademik adalah ijazah pendidikan tinggi yang dimiliki oleh guru yang
diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan pada saat yang bersangkutan
mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelar (S-1, S-2, atau S-3) maupun non-gelar
(D-IV), baik di dalam maupun di luar negeri. Khusus untuk perserta sertifikasi
yang belum memenuhi kualifikasi akademik S-1/D-IV sesuai Ketentuan Peralihan
Pasal 66 PP 74 Tahun 2008, komponen kualifikasi akademik adalah ijazah
pendidikan terakhir berupa ijazah atau sertifikat diploma.
2. Pendidikan dan Pelatihan adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan yang pernah
diikuti selama menjadi guru, kepala sekolah, dan setelah diangkat dalam jabatan
pengawas dalam rangka pengembangan dan/ atau peningkatan kompetensi selama
melaksanakan tugas sebagai pendidik, baik pada tingkat kecamatan,
kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Workshop/lokakarya
yang sekurang-kurangnya dilaksanakan 8 jam dan menghasilkan karya dapat
dikategorikan ke dalam komponen ini. Bukti fisik komponen pendidikan dan
pelatihan ini berupa sertifikat atau piagam yang dikeluarkan oleh lembaga
penyelenggara. Bukti fisik untuk workshop/lokakarya berupa sertifikat/piagam
disertai hasil karya. Workshop/lokakarya tanpa melampirkan hasil karya (produk),
meskipun pada sertifikat/piagam telah mencantumkan daftar materi dan alokasi
waktu, tidak dapat dikategorikan ke dalam komponen pendidikan dan pelatihan
(dimasukkan ke dalam keikutsertaan dalam forum ilmiah). Komponen pendidikan
dan pelatihan hanya dinilai untuk kategori relevan (R) dan kurang relevan (KR),
sedangkan yang tidak relevan (TR) tidak dinilai. Relevan apabila materi diklat
secara langsung meningkatkan kompetensi supervisi akademik, kompetensi
supervisi manajerial, kompetensi evaluasi pendidikan, kompetensi penelitian dan
pengembangan, kompetensi pedagogik dan kompetensi professional guru; kurang
relevan apabila materi diklat mendukung kinerja professional guru dan/atau guru
materi diklat tidak mendukung kinerja professional guru dan/atau guru yang
diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan
3. Pengalaman mengajar adalah masa kerja sebagai guru, kepala sekolah, dan/atau
dalam jabatan pengawas satuan pendidikan pada jenjang dan jenis pendidikan
formal. Bukti fisik dari komponen pengalaman mengajar ini berupa surat
keputusan, surat tugas, atau surat keterangan dari lembaga berwenang (pemerintah,
pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan, atau satuan pendidikan). Apabila
bukti fisik berupa surat keterangan dari satuan pendidikan tempat dahulu bertugas
maka harus dikuatkan dengan bukti pendukung, antara lain (membimbing siswa,
membina ekstra kurikuler, dll.) pada saat guru yang bersangkutan bertugas di
sekolah tersebut.
4. Perencanaan dan pelaksanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran bagi peserta sertifikasi guru yang diangkat dalam
jabatan pengawas berupa rencana program kepengawasan dan perencanaan
pembelajaran. Rencana program kepengawasan terdiri atas (1) rencana
kepengawasan akademik (RKA), dan (2) rencana kepengawasan manajerial
(RKM). Kedua dokumen tersebut, yaitu RKA dan RKM sekurang-kurangnya
memuat: aspek kepengawasan, tujuan kepengawasan, indikator keberhasilan,
teknik kepengawasan, skenario kegiatan kepengawasan, penilaian dan instrument,
dan rencana tindak lanjut. Bukti fisik rencana program kepengawasan berupa: tiga
rencana kepengawasan akademik pada aspek yang berbeda, dan dua rencana
kepengawasan manajerial pada aspek yang berbeda.
Bukti fisik perencanaan pembelajaran berupa rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP/RP/SP) hasil karya guru yang diangkat dalam jabatan pengawas yang
bersangkutan sebanyak tiga satuan untuk kompetensi dasar/mata pelajaran yang
berbeda. Bukti fisik ini dinilai oleh assessor dengan menggunakan format yang
tercantum dalam bagian II.
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun sesuai dengan format yang
berlaku dan sekurang-kurangnya memuat perumusan kompetensi, pemilihan dan
pengorganisasian materi, pemilihan sumber/media pembelajaran, skenario
Pelaksanaan pembelajaran bagi peserta sertifikasi guru yang diangkat dalam
jabatan pengawas berupa kinerja pengawas dalam melaksanakan tugas
kepengawasan yang meliputi pemantauan, penilaian, dan pembinaan dalam bidang
akademik dan manajerial pada sekolah binaannya. Bukti fisik komponen ini
berupa laporan pelaksanaan program kepengawasan akademik dan manajerial satu
tahun terakhir, yang sekurang-kurangnya memuat: aspek, tujuan,
pendekatan/metode, hasil dan pembahasan, simpulan, dan rekomendasi lanjut.
Sistematika laporan pelaksanaan program kepengawasan meliputi: (1)
pendahuluan, yang terdiri atas (a) latar belakang, (b) aspek, (c) tujuan; (2)
pendekatan dan metode, yang terdiri atas (a) teknik pengawasan dan (b) skenario;
(3) hasil pengawasan, yang terdiri atas (a) hasil pengawasan, dan (b) pembahasan
hasil; dan (4) simpulan dan rekomendasi, yang terdiri (a) simpulan, dan (b)
rekomendasi tindak lanjut. Bukti fisik ini dinilai oleh assessor dengan
menggunakan format penilaian yang tercantum dalam bagian II.
5. Penilaian dari atasan dan pengawas adalah penilaian kompetensi kepribadian dan
sosial peserta sertifikasi guru. Peserta sertifikasi guru yang diangkat dalam jabatan
pengawas penilainya adalah kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota.
Aspek yang dinilai meliputi (1) ketaatan menjalankan ajaran agama, (2) tanggung
jawab, (3) kejujuran, (4) kedisiplinan, (5) keteladanan, (6) etos kerja, (7) inovasi
dan kreativitas, (8) kemampuan menerima kritik dan saran, (9) kemampuan
berkomunikasi, dan (10) kemampuan bekerjasama. Penilaian dilakukan dengan
menggunakan Format Penilaian Atasan yang tercantum pada Bagian II.
6. Prestasi akademik adalah prestasi yang dicapai guru dalam pelaksanaan tugasnya
sebagai pendidik dan agen pembelajaran, kepala sekolah, dan/atau setelah diangkat
dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang mendapat pengakuan dari
lembaga/ panitia penyelenggara, baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi,
nasional, maupun internasional. Komponen ini meliputi sebagai berikut.
a. Lomba karya akademik, yaitu juara lomba akademik atau karya bidang
keahlian/bidang tugas, baik pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi,
b. Karya monumental dibidang pendidikan atau nonkependidikan adalah karya
yang bersifat inovatif (belum ada sebelumnya) dan bermanfaat bagi masyarakat
(minimal tingkat kabupaten/kota).
c. Sertifikat keahlian/keterampilan tertentu pada guru SMK dan guru olahraga, dan
capaian skor TOEFL yang masih berlaku.
d. Pembimbingan teman sejawat, yaitu melaksanakan tugas sebagai instruktur,
guru inti, tutor, pembimbingan guru junior, dan pamong PPL calon guru yang
dilakukan oleh peserta sertifikasi selama yang bersangkutan bertugas sebagai
guru.
e. Pembimbingan siswa sampai mencapai juara (juara I,II, atau III) atau tidak
mencapai juara sesuai dengan bidang studi/keahliannya.
Bukti fisik komponen ini berupa sertifikat, piagam, atau surat keterangan disertai
bukti relevan yang dikeluarkan oleh lembaga/panitia penyelenggara.
7. Karya pengembangan profesi adalah hasil karya dan/ atau aktivitas dalam
pelaksanaan tugasnya sebagai pendidik dan agen pembelajaran, kepala sekolah,
dan/atau setelah diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang
menunjukkan adanya upaya pengembangan profesi.
Komponen ini meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Buku yang dipublikasikan pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, atau nasional;
b. Artikel yang dimuat dalam media jurnal/ majalah yang tidak terakreditasi,
terakreditasi, dan internasional;
c. Reviewer buku, penyunting buku, penyunting jurnal;
d. Penulis soal EBTANAS/UN/UASDA selama bertugas sebagai guru;
e. Modul diktat cetak lokal yang minimal mencakup materi pembelajaran selama 1
(satu) semester yang dihasilkan selama bertugas sebagai guru;
f. Media/alat pembelajaran dalam bidangnya yang dihasilkan selama bertugas
sebagai guru;
g. Laporan penelitian di bidang pendidikan (individu/kelompok); dan
h. Karya teknologi (teknologi tepat guna) dan karya seni (patung, kriya, lukis,
sastra, musik, tari, suara, dan karya seni lainnya) yang relevan dengan bidang
Bukti fisik karya pengembangan profesi berupa sertifikat/piagam/surat keterangan
dari pejabat yang berwenang yang disertai dengan bukti fisik yang dapat berupa
buku, artikel, deskripsi dan/atau foto hasil karya, laporan penelitian, dan bukti fisik
lain yang relevan yang telah disahkan oleh atasan langsung. Untuk bukti fisik
laporan penelitian selain disahkan oleh atasan langsung juga harus diketahui oleh
kepala UPTD untuk guru SD dan oleh kepala dinas pendidikan kabupaten/kota
untuk guru SMP/SMA/SMK.
8. Keikutsertaan dalam forum ilmiah adalah partisipasi peserta sertifikasi dalam
forum ilmiah (seminar, semiloka, symposium, sarasehan, diskusi panel, dan jenis
forum ilmiah lainnya) pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional,
atau internasional, baik sebagai nara sumber/pemakalah, pembahas, moderator,
maupun sebagai peserta. Komponen dibedakan kedalam kategori relevan (R) dan
tidak relevan (TR). Relevan apabila tema/materi forum ilmiah mendukung kinerja
professional, baik sebagai guru, kepala sekolah, maupun pengawas satuan
pendidikan. Tidak relevan apabila tema/materi forum ilmiah tidak mendukung
kinerja professional, baik sebagai guru, kepala sekolah, maupun pengawas satuan
pendidikan; contoh guru bidang studi Bahasa Indonesia mengikuti seminar
ketahanan pangan di Indonesia. Bukti fisik keikutsertaan dalam forum ilmiah
berupa makalah dan sertifikat/ piagam bagi nara sumber/pemakalah, dan sertifikat/
piagam bagi moderator/peserta.
9. Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial adalah keikutsertaan
peserta sertifikasi menjadi pengurus organisasi kependidikan atau organisasi sosial
pada tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional atau
internasional, dan /atau mendapat tugas tambahan. Pengurus organisasi di bidang
kependidikan antara lain: Pengurus Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS),
Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),
Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS), Kelompok Kerja Pengawas
Sekolah (KKPS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Ikatan Sarjana
Pendidikan Indonesia (ISPI), Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI),
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), Ikatan Sarjana
Manajemen Pendidikan Indonesia (ISMaPI), Asosiasi Pendidikan Khusus
Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), dan Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia
(APSI). Pengurus organisasi sosial antara lain: ketua RT, ketua RW, ketua
LMD/BPD, dan Pembina kegiatan keagamaan (takmir masjid, pembina gereja,
dll). Mendapat tugas tambahan antara lain: koordinator pengawas, kepala sekolah,
wakil kepala sekolah, pembantu kepala sekolah, kepala urusan, ketua jurusan,
ketua program keahlian, kepala laboratorium, kepala bengkel, kepala studio,
kepala klinik rehabilitasi, wali kelas (guru kelas SD/TK), dan kegiatan ekstra
kurikuler (pramuka, drumband, madding, karya ilmiah remaja-KIR, dll), tidak
termasuk kepanitiaan. Bukti fisik komponen ini adalah foto kopi surat keputusan
atau surat keterangan.
10. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan adalah penghargaan yang
diperoleh guru atas dedikasinya dalam pelaksanaan tugas sebagai pendidik
dan/atau bertugas di Daerah Khusus dan memenuhi kriteria kuantitatif (lama
waktu, hasil, lokasi/geografis), dan kualitatif (komitmen, etos kerja), baik pada
tingkat satuan pendidikan, desa atau kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota,
provinsi, nasional, maupun internasional. Contoh penghargaan yang dapat dinilai
antara lain tingkat nasional: Satyalencana Karya Satya 10 tahun, 20 tahun, dan 30
tahun; tingkat provinsi /kabupaten /kota/ kecamatan/ kelurahan/ satuan pendidikan
: penghargaan guru favorit/guru inovatif, dan penghargaan lain sesuai dengan
kekhasan daerah/penyelenggara. Contoh penghargaan yang tidak dinilai antara lain
penghargaan panitia pemilu (KPPS), penghargaan dari partai, penghargaan KB
lestari. Bukti fisik komponen ini berupa sertifikat, piagam, atau surat keterangan
yang dikeluarkan oleh pihak berwenang
Komponen-komponen tersebut di atas sesungguhnya akan menggambarkan
kompetensi guru, yang secara garis besar mencakup empat jenis kompetensi, yaitu (1)
kompetensi pedagogi (2) kompetensi profesional, (3) kompetensi sosial, dan (4)
kompetensi kepribadian.
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menentukan, bahwa
peningkatan kesejahteraan guru besarnya dapat mencapai lebih dari dua kali lipat
penghasilan guru saat ini. Pasal 15 ayat (1) dalam UU tersebut juga menentukan bahwa,
guru akan mendapatkan kesejahteraan profesi yang berasal dari berapa sumber finansial
tunjangan khusus dan dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai
guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi. Hal ini mengingat
betapa besar tugas dan peran yang harus diemban oleh seorang guru.
Muslich (2007: 47) mengemukakan bahwa “Landasan pelaksanaan sertifikasi
antara lain: Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru
Dalam Jabatan yang ditetapkan tanggal 4 Mei 2007” .
Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa jika guru mengikuti
sertifikasi, tujuan utamanya bukanlah untuk mendapatkan tunjangan profesi semata,
melainkan untuk dapat menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki
kompetensi. Dengan menyadari hal ini maka guru tidak akan mencari jalan lain guna
memperoleh sertifikat profesi kecuali mempersiapkan diri dengan belajar yang benar
untuk menghadapi sertifikasi. Berdasarkan hal tersebut, maka sertifikasi akan
membawa dampak positif, yaitu meningkatnya kualitas guru.
Langkah dan tujuan melakukan sertifikasi guru adalah untuk meningkatkan
kualitas guru sesuai dengan kompetensi keguruannya. Dalam UU guru ada beberapa hal
yang dapat dikelompokan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas atau mutu guru
antara lain: (1) sertifikasi guru, (2) pembaharuan sertifikat, (3) beberapa fasilitas untuk
memajukan diri (4) sarjana nonpendidikan dapat menjadi guru. Semua guru harus
mempunyai sertifikat profesi guru, sebagai standar kompetensi guru.
Sertifikasi guru jangan dipandang sebagai satunya jalan atau sebagai
satu-satunya alat ukur mutu guru. Sebab sertifikasi guru belum tentu menjamin peningkatan
kualitas guru. Maka, birokrasi dalam hal ini pemerintah jangan hanya memikirkan agar
guru dapat disertifikasi dan dipaksa menjadi baik secara ”instan” dengan mengabaikan
kondisi guru. Sebab, jika kesiapan para guru dan lingkungan kerja guru tidak
mendukung penggunaan maksimal kompetensinya, kesejahteraan guru kurang layak,
maka sulit diharapkan perubahan dapat terjadi. Secara makro hal ini disebabkan
karena secara nasional maupun lokal guru tidak ditempatkan sebagai SDM yang
strategis untuk melakukan perubahan. Disamping kualitas guru yang masih rendah,
mereka juga masih dibayar rendah.
Dari hasil riset lapangan, banyak guru mengatakan bahwa sertifikasi profesi
Tetapi, dalam penerapannya ada hal yang perlu diperhatikan yaitu : (1) kebanyakan
guru di Indonesia setelah menjadi pengajar tidak memperdalam pengetahuannya.
Artinya, banyak guru kita masih rendah dalam kompetensi pengajaran, (2) harus
dipertimbangkan model yang bagaimana yang tepat untuk guru-guru di Indonesia, dan
kesiapan para guru untuk disertifikasi, (3) perlu dilakukan pelatihan-pelatihan sebelum
sertifikasi dilaksanakan dan perlu dipikirkan tindak lanjut bagi guru yang tidak lolos
sertifikasi, (4) apabila kebijakan sertifikasi tersebut dilakukan secara ”mentah” dan
”instan”, tanpa sosialisasi dan pelatihan-pelatihan akan merugikan para guru yang
sudah cukup lama mengabdi.
Pandangan lain diperoleh dari para guru, yaitu penghargaan terhadap guru
belum sebanding dengan beberapa profesi lain (seperti profesi dokter, dan lain-lain).
Hal ini menjadi permasalahan mendasar bagi profesi guru itu sendiri, yaitu: Pertama,
persoalan yang mendasar adalah kebanyakan guru yang belum memenuhi kualifikasi
minimal untuk mengajar, baik dari segi ilmu maupun keterampilan. Kedua,
penghasilan guru yang kurang memadai apabila dibandingkan dengan penghasilan
profesi lain dan hal ini berimbas pada profesi guru itu sendiri kurang diminati. Profesi
guru tidak lebih dari sebuah pekerjaan ”terpaksa” dilakukan ketika tidak mampu
menemukan pekerjaan lain yang ”lebih baik”. Sebagai contoh saja, seorang guru akan
segera berpindah pada pekerjaan lain, ketika mendapatkan kesempatan bekerja di
tempat lain yang menjanjikan dan memberikan fasilitas serta penghasilan yang lebih
memadai. Menurut mereka, hanya - ”segelintir” – guru yang menyenangi dan menekuni
profesinya karena memiliki sumber pengahsilan lain.
Ketiga, banyak guru yang tidak memiliki standar kualifikasi yang dituntut oleh
masyarakat. Menurut mereka, bahwa seorang guru – berbeda dengan profesi dokter,
akuntan, dan pengacara – sangat banyak bekerja dengan mengandalkan keterampilan
berelasi. Guru banyak dituntut untuk bekerja dalam suatu tim kerja, berinteraksi secara
intensif setiap hari dengan siswa dan berkomunikasi dengan orang tua siswa. Keempat,
guru kurang dihargai, karena pekerjaan yang diembannya dianggap kurang
membutuhkan keterampilan yang sangat khusus dan memerlukan waktu yang cukup
lama untuk menjadi profesional.
Para guru mengatakan apabila program sertifikasi ini dapat secara langsung
pekerjaan guru akan menjadi sebuah profesi yang menarik dan dikejar orang. Tetapi,
tampaknya program tersebut tidak akan sanggup menjawab beberapa persoalan
mendasar dari profesi guru itu sendiri. Maka kritik yang disampaikan mereka, apabila
yang dipercaya sebagai perancang program ini adalah sejumlah universitas eks IKIP,
ini menjadi pertanyaan, mengapa mereka yang tidak berhasil mengangkat martabat
guru dan bahkan merubah IKIP menjadi universitas, kenapa dijadikan dan dilibatkan
dalam penyusun program nasional yang sedemikian penting?.
Mengenai sasaran sertifikasi guru, dilaksanakan untuk semua guru, baik guru
lama maupun calon guru. Bagi guru yang lama perlu diberikan pelatihan-pelatihan
profesi keguruan baru dilakukan ujian sertifikasi. Bagi calon guru yang berkualifikasi
Sarjana kependidikan perlu mengikuti program sertifikasi guru dengan menempuh
beberapa mata kuliah dalam kurikulum S1 kependidikan atau yang SKS-nya belum
setara dengan kurikulum program sertifikasi. Sedangkan bagi calon guru yang
berkualifikasi sarjana atau Diploma non-kependidikan wajib menempuh program
sertifikat guru dengan mengambil seluruh kurikulum program sertifikat guru.
Agar sertifikasi itu sungguh bermutu, ujian profesi keguruan harus objektif,
bebas dari ”kkn”, dan ”suap”. Katakan saja, bila guru dan calon guru dalam ujian
sertifikasi memang terbukti tidak kompeten dan tidak lulus, tidak mendapatkan
sertifikat (Paul Suparno, KR:15/11/2005:10). Kemudian guru tersebut, ”diparkirkan”
atau diistirahatkan sementara untuk mengikuti pelatihan kompetensi keguruan dan
kemudian diuji kembali. Dengan demikian, keobjektifan dalam penilaian sangat
penting, sehingga tidak terjadi orang mendapatkan sertifikat dengan cara membeli,
koneksi atau ”koncoisme”. ”Bila hal ini terjadi, maka mutu guru tetap tidak terjamin
dan pendidikan tetap terpuruk” (Paul Suparno, KR:15/11/2005:10).
Selain itu, agar sertifikasi itu sungguh menunjukkan kemampuan dan
keterampilan guru dalam mengajar dengan segala kompetensi yang dimiliki. ”Badan
sertifikasi” guru sungguh harus objektif untuk menguji dan menilai sertifikasi guru.
Tapi pertanyaan mendasar yang dikemukakan Paul Suparno di atas, apakah badan
tersebut benar-benar ”objektif” untuk menguji kompetensi dan sertifikasi. Pertanyaan,
lembaga mana yang dapat ditunjuk secara ”objektif” untuk diberikan kualifikasi
melakukan sertifikasi dan uji kompetensi guru? Maka, untuk menguji kompetensi dan
kompetensi guru. Perhatikan, kritik yang disampaikan para guru di atas, ”apabila
sejumlah universitas eks IKIP dipercaya sebagai perancang program ini,
dipertanyakan”. Kritik para guru tersebut, perlu menjadi pertimbangan untuk
menunjuk lembaga penyelenggaran uji sertifikasi.
Aspek sertifikasi guru yang akan diuji adalah mengacu pada kompetensi dasar
yang harus dimiliki guru, yaitu kompetensi profesional, persolan, kepribadian, dan
sosial. Pertama, kompetensi profesional, aspek pada kompetensi ini berkaitan dengan
kemampuan mengajar, meliputi kemampuan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi pembelajaran, kemampuan dalam menganalisis, penyusunan program
perbaikan dan pengayaan, kemampuan dalam membimbing dan konseling.
Kemampuan dalam bidang keilmuan, terkait dengan keluasan dan kedalaman ilmu
pengetahuan dan teknologi yang akan ditransformasikan kepada peserta didik,
pemahaman terhadap wawasan pendidikan, dan kemampuan memahami
kebijakan-kebijakan pendidikan. Kedua, kompetensi persolan, aspek pada kompetensi ini
berkaitan dengan aktualisasi diri dan menekuni profesi, jujur, beriman, bermoral, peka,
luwes, humanis, berwawasan luas, berpikir kreatif, kritis, reflektif, mau belajar
sepanjang hayat. Ketiga, kompetensi kepribadian, aspek pada kompetensi ini berkait
dengan kondisi guru sebagai individu yang berkepribadian yang utuh, mantap, dewasa,
berwibawa, berbudi luhur, anggun, bermoral, serta penuh keteladanan. Keempat,
kompetensi sosial, aspek pada kompetensi ini berkait dengan kemampuan
berkomunikasi secara efektif dan efesien dengan peserta didik, sesama pendidik dan
tenaga kependidikan, kemampuan menyelesaikan masalah, dan mengabdi pada
kepentingan masyarakat.
Proses sertifikasi para guru sebaiknya ditangani oleh lembaga atau badan
independen yang kompetensi dan objektif. Katakan saja, Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan (LPTK) yang merupakan lembaga pendidikan tinggi yang
mengembangkan ilmu pendidikan dan keguruan, memiliki kewenangan dan
pengalaman pengadaan tenaga kependidikan, serta memiliki sumber daya manusia yang
kompeten di bidang kependidikan dan non kependidikan. Lembaga tersebut harus
didukung dengan berbagai sarana kependidikan, seperti Sekolah Laboratorium, Pusat
Sumber Belajar, Praktek Pengalaman Lapangan, dan Pusat Penelitian Kependidikan.
Katakan saja, dari pengamatan di lapangan tentang uji dan evaluasi pendidikan dan
pembelajaran, biasanya kita terpaku pada hasil pembelajaran dan mengabaikan proses
pelaksanaan secara ”holistik”.
Contoh terdekat, adalah Ujian Akhir Nasional (UAN) bagi siswa-siswa yang
menuai protes dan bahkan merenggut beberapa nyawa siswa karena kecewa. Maka,
apabila uji kompetensi dan sertifikasi guru juga pelaksanaan seperti itu dan
aspek-aspek kompetensi hanya diujikan dengan sistem tes saja, ”apalagi yang kurang atau
tidak objektif”, maka hal itu tentu belum menjamin kepastian tingkat kompetensi dan
sertifikasi sebagai profesi guru. Agar sertifikasi itu dapat menunjukkan kemampuan
dan keterampilan guru dalam mengajar, maka uji kompetensi dan sertifikasi harus
dilakukan secara ”by proses”. Artinya, bagi para guru yang berasal dari ”fakultas
keguruan” sebelum diuji perlu disegarkan kembali pada aspek ”materi keilmuan”,
”keterampilan dan strategi mengajar”. Sedangkan bagi guru-guru yang berasal dari
nonkependiddikan, sebelum uji kompetensi dan sertifikasi, perlu dilakukan pelatihan
atau mengambil pendidikan profesi keguruan dengan bobot sejumlah 36 – 40 sks.
Aspek materi keguruan, yang dipelajari : Ilmu Pendidikan atau Landasan Pendidikan,
Metode dan Strategi Pembelajaran, Psikologi Perkembangan, Perencanaan
Pembelajaran, Evaluasi Pembelajaran, Psikologi Belajar, Media Pembelajaran,
Bimbingan dan Konseling, Komunikasi Pendidikan, Profesi Keguruan, Telaah
Pengembangan Kurikulum, Penelitian dan Evalusi Sistem Pendidikan, serta Praktek
Pengenalan Lapangan (PPL). Setelah itu baru dilakukan uji profesi atau kompetensi
dan sertifikasi. Apabila proses ini dilakukan secara terencana, sistimatik, dan objektif,
serta terhindar atau bebas dari KKN, ”suap” atau dengan cara ”membeli sertifikat”,
maka mutu keilmuan guru dikemudian hari akan meningkat dan kualitas serta
kompetensi guru dapat dipertanggungjawabkan.
Catatan akhir sebagai sebuah renungan, sertifikasi dan kompetensi itu penting,
tetapi pendidikan lebih dari itu. Pendidikan pascamodern tidak lagi mono-sentralistik.
Pusat-pusat pengembangan dapat saja berada di mana-mana (J.Bismoko, KR,
3/12/2005). Katakan saja, sumber ilmu pengetahuan yang selama ini dianggap terpusat
pada institusi pendidikan formal yang konvensional, mungkin saja akan tergeser.
Sebab, sumber ilmu pengetahuan akan tersebar di mana-mana dan setiap orang akan
sarana ”internet” dan ”media informasi” lainnya. Paradigma ini dikenal dikenal
sebagai distributed intelligence (distributed knowledge). Dengan paradigma ini,
tampaknya fungsi guru/dosen/lembaga pendidikan akan beralih dari sebuah sumber
ilmu pengetahuan menjadi mediator dari ilmu pengetahuan (Hujair AH. Sanaky, 2004:
94). Hal ini, menunjukan bahwa di masa depan sekolah akan berubah dari format kelas
menjadi sekolah bersama dalam satu kota, sekolah bersama dalam satu negara, bahkan
bersama di dunia atau sekolah global (Purwanto, http://www.pustekkom).
2.2 Kinerja Guru
Setiap individu yang diberi tugas atau kepercayaan untuk bekerja pada suatu
organisasi tertentu diharapkan mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan dan
memberikan hasil yang maksimal terhadap pencapaian tujuan organisasi tersebut.
Kinerja seseorang dapat ditingkatkan bila ada kesesuaian antara pekerjaan dan
keahliannya. Kinerja guru adalah perilaku yang berhubungan dengan kerja
guru.(Anoraga:1998). Kerja merupakan kebutuhan seseorang, kebutuhan tersebut
bermacam-macam, berkembang dan berubah, dan bahkan sering tidak disadari oleh
pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang ingin dicapainya dan orang
tersebut berharap dengan melaksanakan pekerjaannya akan membawa ke keadaan yang
lebih baik dan memuaskan.
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya (Mangkunegara:2001) . Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan
bahwa kinerja guru merupakan hasil atau keluaran dari proses atau kemampuan aplikasi
kerja guru dalam wujud nyata, yaitu pekerjaan atau rangkaian kegiatan yang dilakukan
guru dalam tugas keguruannya. Kinerja seorang guru tercermin dari kemampuannya
mencapai prasyarat-prasyarat tertentu yang telah ditetapkan atau dijadikan standar.
Kinerja guru adalah hasil kerja yang dicapai guru berdasarkan kemampuannya
menjalankan tugas pada proses pembelajaran yang mencakup aspek perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran dan penilaian hasil pembelajaran.
Kinerja guru yang tinggi tentunya menjadi impian bagi para guru.Namun dalam
realitanya untuk mencapai kinerja guru yang tinggi sebagian guru kesulitan untuk
merancang perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan inovatif. Masih ada
guru yang kesulitan dalam mengelola kelas, monoton dalam penggunaan metode,
sumber belajar dan media pembelajaran. Selain itu masih ada guru melakukan evaluasi
hasil pembelajaran yang belum objektif.
Sulistyorini (2001:69) mengatakan bahwa: “Kinerja adalah hasil tingkat
keberhasilan seseorang atau kelompok orang dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya serta kemampuan untuk mencapai kemajuan dan standar yang telah
ditetapkan”.
Sedangkan menurut Smith (dalam Rusman, 2009:318) mengatakan bahwa:
“Kinerja adalah performance is output derives from processes, human or otherwise,
yaitu kinerja adalah hasil dari suatu proses yang dilakukan”. Berdasarkan pendapat ahli
di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kinerja adalah tingkat kemampuan seseorang
dalam menjalankan tugasnya yang dapat diukur dari tingkat pencapaian hasilnya.
Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang
efektif dan akan lebih mampu mengelola proses belajar mengajar, sehingga hasil
belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Hasil dari pelaksanaan tugas guru dapat
diistilahkan dengan kinerja guru.
Menurut Suharsaputra, (2009, 19 Agustus 2010) pada hakikatnya “Kinerja guru
adalah perilaku yang dihasilkan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai
pendidik dan pengajar ketika mengajar di depan kelas, sesuai dengan kriteria tertentu”.
Menurut Rusman (2009:354) kinerja atau unjuk kinerja dalam konteks profesi
guru mengatakan bahwa: “Kegiatan yang meliputi perencanaan pembelajaran,
pelaksanaan pembelajaran/KBM dan melakukan penilaian hasil belajar”.
Dari pengertian kinerja yang dijelaskan tersebut maka pengertian kinerja guru
adalah tingkat kemampuan guru dalam pelaksanaan suatu tugas kegiatan yang meliputi
perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran/KBM dan melakukan penilaian
hasil belajar sesuai dengan kriteria tertentu. Kinerja dikatakan baik dan memuaskan
apabila tujuan yang dicapai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Kinerja guru ini dapat diukur dengan sepuluh komponen yaitu: (1). Kualifikasi
akademik, (2). Pendidikan dan pelatihan,(3) Pengalaman mengajar,(4) Perencanaan dan
pelaksanaan pembelajaran,(5) Penilaian dari atasan dan pengawas, (6) Prestasi
Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, (10) Penghargaan yang
relevan dengan bidang pendidikan
Standar kinerja guru berhubungan dengan kualitas dalam menjalankan
tugasnya. Menurut Sulistyorini (2001:55) menilai kualitas kinerja dapat ditinjau dari
beberapa indikator yang meliputi: “(1) unjuk kerja, (2) penguasaan materi, (3)
penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, (4) penguasaan cara-cara
penyesuaian diri, dan (5) kepribadian untuk melaksanakan kualitas dengan baik”.
Dengan demikian, seorang guru dikatakan berkompeten jika guru tersebut
memiliki kecakapan profesional keguruan yang ditandai dengan keahliannya yang
selaras dengan tuntutan bidang ilmu yang menjadi tanggung jawabnya. Berkaitan
dengan kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud adalah kegiatan keguruan dalam
proses pembelajaran, yaitu bagaimana seorang guru merencanakan pembelajaran,
melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.
Untuk mengetahui keberhasilan kinerja perlu dilakukan penilaian kinerja.
Penilaian kinerja dengan pendekatan yang berpusat pada pelaksanaan tugas, dilakukan
dengan cara menilai perilaku pegawai sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.
Dengan kata lain penilaian hasil, tetapi tidak difokuskan langsung pada kuantitas dan
kualitas hasil yang dicapainya, yang dilakukan adalah bagaimana tugas-tugas dilakukan
dan membandingkan perilaku seseorang dengan teman sekerja, cara
mengkomunikasikan tugas dan pekerjaan dengan orang lain. Penilaian kinerja dijadikan
sebagai feedback bagi perbaikan kinerja selanjutnya.
2.3 Guru Yang Profesional
Merujuk UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, bahwa guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak
usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru
merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai
berikut:
1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme,
2. Memiliki komitmen, kualifikasi akademik, kompetensi, tanggung jawab,
4. Memiliki jaminan perlindungan hukum,
5. Memiliki organisasi profesi yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru
Dengan demikian jelaslah bahwa guru bukanlah perkerjaan ”sambilan”, tetapi
seorang intelektual yang harus menyesuaikan diri dengan situasi dan persoalan yang
dihadapi. Apabila pendidikan di Indonesia ini ingin maju dan berhasil, maka memang
para guru, yang menjadi ujung tombaknya harus sungguh profesional, baik dalam
bidang keahliannya (kompetensi), dalam bidang pendampingan, dan dalam
kehidupannya yang dapat dicontoh oleh sisiwa (Paul Suparno,2005).
Guru yang professional adalah guru yang menguasai empat kompetensi seperti
diamanatkan dalam UU No.14 tahun 2005. Sedangkan Menurut Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional No. 045/U/2002, kompetensi diartikan sebagai seperangkat
tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat
untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai
dengan pekerjaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut di atas maka dapat disebutkan
bahwa kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan
dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh
tanggung jawab yang dimiliki seorang guru untuk memangku jabatan guru sebagai
profesi.
Guru perlu melakukan beberapa usaha yang dilakukan untuk membangun
kompetensi : Pertama, guru harus memiliki rasa tidak puas dengan keadaan atau dengan
apa yang telah diperoleh, terutama sekali dalam bidang usaha mengajar. Kedua, guru
harus dapat memahami anak sebagai pribadi yang unik, yang satu sama lain memiliki
kekuatan dan kecerdasannya masing-masing. Ketiga, sebagai guru dituntut untuk
menjadi pribadi yang fleksibel dan terbuka. Fleksibel menghadapi situasi yang selalu
maju dalam dunia pendidikan. Keempat, guru harus merasa terpanggil untuk menekuni
profesinya sebagai guru, dan bukan pekerjaan ”sambilan”. Rasa terpanggil dengan
profesi guru, (David Hansen dalam Paul Suparno,2005), mengungkapkan bahwa
menjadi guru adalah panggilan hidup. Menurutnya, ada dua segi dalam panggilan,
yaitu : Pekerjaan itu membantu mengembangkan orang lain (ada unsur sosial), dan
pekerjaan itu juga mengembangkan dan memenuhi diri kita sebagai pribadi.
Jelas pekerjaan guru terlibat dengan suatu pekerjaan yang mempunyai arti dan nilai
jelas bahwa mereka melakukan sesuatu pekerjaan yang berguna bagi perkembangan
hidup anak-anak, di lingkungan sekolah dan bahkan menyarakat dimana mereka
tinggal. Dengan menjalankan tugas sebagai guru yang baik, dengan membantu
anak-anak berkembang dalam semua aspek kehidupan, seorang guru semakin merasa hidup
berarti, semakin menemukan identitas dirinya, semakin merasakan kepuasan batin yang
mendalam (Paul Suparno,2005).
Apakah cukup idealisme bagi seorang guru yang profesional. Guru haruslah
berusaha untuk meningkatkan kualitas dan memenuhi kompetensinya. Guru harus
selalu berusaha untuk melakukan hal-hal sebagai berikut: memahami tuntutan standar
profesi, jika ingin meningkatkan profesionalismenya, mencapai kualifikasi dan
kompetensi yang dipersyaratkan, membina jaringan kerja atau networking, yang akan
memperoleh akses terhadap inovasi-inovasi di bidang profesinya, mengembangkan
etos kerja atau budaya kerja yang mengutamakan pelayanan bermutu tinggi kepada
pengguna pendidikan. Guru, memberikan pelayanan prima kepada pengguna
pendidikan: siswa, orangtua dan sekolah sebagai stakeholder. Tugas guru, termasuk
pelayanan publik yang didanai, diadakan, dikontrol oleh dan untuk kepentingan publik.
Maka, guru harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada publik,
guru harus berusaha mengadopsi inovasi atau mengembangkan kreativitas dalam
pemanfaatan teknologi komunikasi agar tidak ketinggalan atau “gaptek” (gagap
teknologi) dalam kemampuannya mengelola pembelajaran (Purwanto,2003). Maka,
sikap yang harus senantiasa dipupuk dan dimiliki guru adalah menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi, kesediaan untuk mengenal profesinya, mau belajar dengan
meluangkan waktu untuk menjadi guru dan bukan pekerjaan sambilan.
Guru sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem
pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga
negara yang demokratis dan bertanggungjawab (UU No.14Th.2005:psl.6). Profesi guru
merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip
sebagai berikut: Memiliki bakat, minat, penggalian jiwa, dan idealisme. Memiliki
komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimaman, ketaqwaan, dan akhlak
bidang tugas. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.
Memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan. Memperoleh
penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja. Memiliki kesempatan untuk
mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.
Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesional, dan
memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang
berkaitan dengan fungsi keprofesionalan guru (UU No.14 Th.2005:psl.7).
Esensi perlindungan hukum jabatan profesi guru dan dosen dimaksud untuk : (1)
memberikan jaminan kepastian bagi peserta didik, orang tua dan masyarakat untuk
mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu, (2) memberikan jaminan pada
tersedianya calon guru dan dosen yang profesional karena jabatan guru dan dosen akan
kembali dihormati dan dihargai secara layak, (3) memberikan jaminan bahwa
jabatan/pekerjaan guru dan dosen akan menjadi jabatan yang menarik dan kompetitif,
(4) memberikan jaminan bahwa para guru dan dosen akan memiliki motivasi kerja yang
tinggi dalam melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggungjawab, (5) meningkatkan
kesadaran dan tanggungjawab profesionalitas guru dan dosen dalam bekerja dengan
terus-menerus berusaha meningkatkan kompetensi profesionalitasnya, (6) memberikan
jaminan perlindungan hukum bagi guru dan dosen untuk memperoleh hak-haknya
sebagai pengemban profesi yang tidak saja layak secara manusiawi, tetapi juga sesuai
dengan keterampilan dan keahlian yang dimilikinya, (7) memberikan jaminan
perlindungan hukum bagi guru dan dosen dalam menghadapi ancaman dan/atau
tindakan yang tidak manusia dari peserta didik, orang tua/wali siswa, dan anggota
masyarakat, dan (8) menjamin kesetaraan semua satuan pendidikan antara satuan
pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah (UU Guru dan Dosen No.14Tahun
2005).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan dari bulan Mei s/d Agustus 2011.
Lokasi dari penelitian ini adalah Sekolah Dasar Negeri (SD), Sekolah Menengah
Pertama Negeri (SMP) dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) dan Sekolah
Menengah Kejuruan Negeri (SMK) di Kota Medan.
3.2 Sumber Dana
Dana dalam penelitian ini berasal dari APBD Kota Medan dengan Nomor DPA
1.20.06.08.01.5.2
3.3 Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SD, SMP, SMA dan SMK
Negeri yang telah lulus sertifikasi dan telah dibayarkan tunjangan profesinya dalam
rentang waktu tahun 2007 sebanyak 962 orang.
2. Sampel
Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 283 orang
Penarikan sampel dilakukan dengan teknik proporsional random sampling.Ukuran
sampel dari populasi ini ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin
Dimana :
n = ukuran sampel
N = ukuran Populasi
ne2 = persen kelonggaran ketidakteliitian 5% (Umar 2004)
Pengambilan sampel untuk setiap kelasnya dihitung dengan menggunakan rumus:
Dimana:
JSB = Jumlah sampel bagian
JPB = Jumlah Populasi bagian
JST = Jumlah sampel total
JPT = Jumlah populasi total
3.4 Variabel Penelitian.
Variabel penelitian ini adalah kinerja guru SD,SMP,SMA/SMK di Kota Medan.
Indikator dari variabel ini adalah: (1). Kualifikasi akademik, (2). Pendidikan dan
pelatihan, (3) Pengalaman mengajar, (4) Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran,
(5) Penilaian dari atasan dan pengawas, (6) Prestasi akademik, (7) Karya
pengembangan profesi, (8) Keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) Pengalaman
organisasi dibidang kependidikan dan sosial, (10) Penghargaan yang relevan dengan
bidang pendidikan
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan instrumen angket dan wawancara yang mendalam
kepada guru dan kepala sekolah.
3.6 Teknik Analisis Data
Data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan statistik deskriptif dengan
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Deskriptif Statistik untuk masing-masing variabel secara keseluruhan akan
disajikan berikut ini. Adapun hasil perhitungan secara lengkap dapat dilihat di
lampiran. Dalam analisis data, sepuluh indikator variabel dikelompokkan menjadi 3
yaitu:
A. Unsur kualifikasi akademik dan tugas pokok :
(1). Kualifikasi akademik,
(2). Pengalaman Mengajar
(3). Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
B. Unsur Pengembangan Profesi :
(1) Pendidikan dan pelatihan
(2) Penilaian dari atasan dan pengawas,
(3) Prestasi akademik,
(4) Karya pengembangan profesi,
C. Unsur Pendukung Profesi :
(1) Keikutsertaan dalam forum ilmiah,
(2) Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial,
(3) Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan
Hasil analisis data untuk masing-masing kelompok baik kelompok berdasarkan
indikator variabel penelitian maupun kelompok berdasarkan strata sampel, yaitu guru
SD, Guru SMP dan Guru SLTA (SMA dan SMK) akan dipaparkan sebagai berikut :
A. Unsur Kualifikasi Akademik dan Tugas Pokok
Hasil analisis statistik unsur kualifikasi akademik dan tugas pokok melalui uji
korelasi dengan sampel guru yang dibagi menurut strata pendidikan ( SD, SMP dan
Tabel 2. Hasil Analisis Data Unsur A
Sampel rxy r2 t Sig.
Guru SD 0,386 0,149 4,011 0,000
Guru SMP 0,275 0,076 2,103 0,040
Guru SMA/SMK 0,576 0,332 7,335 0,000
berdasarkan tabel tersebut di atas, diketahui bahwa untuk sampel guru SD nilai
koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,386 dan nilai determinasi r2 sebesar 14,9%..
Sedangkan nilai t hitung sebesar 4,011 dengan signifikansi sebesar 0,000.
Hasil analisis statistik dengan bantuan program SPSS melalui uji korelasi dengan
sampel guru Sekolah Dasar (SD) dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 47.
Tabel 2 juga menunjukkan bahwa untuk sampel guru SMP nilai koefisien korelasi (rxy)
sebesar 0,275 dan nilai determinasi r2 sebesar 7,6%.. Sedangkan nilai t hitung sebesar
2,103 dengan signifikansi sebesar 0,040.
Hasil analisis statistik dengan bantuan program SPSS melalui uji korelasi dengan
sampel guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) dapat dilihat pada Lampiran 5
halaman 51.
Sedangkan untuk sampel guru SMA/SMK, sesuai Tabel 2 tersebut diketahui bahwa
nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,576 dan nilai determinasi r2 sebesar 33,2%.
Sedangkan nilai t hitung sebesar 7,355 dengan signifikansi sebesar 0,000.
Hasil analisis statistik dengan bantuan program SPSS melalui uji korelasi dengan
sampel guru SMA/SMK dapat dilihat pada Lampiran 9 halaman 55.
B. Unsur Pengembangan Profesi
Unsur pengembangan profesi meliputi Pendidikan dan pelatihan, Penilaian dari
atasan dan pengawas, Prestasi akademik dan Karya pengembangan profesi. Hasil
Analisis data untuk masing-masing kelompok guru SD, Guru SMP dan Guru SLTA
Tabel 3. Hasil Analisis Data Unsur B
Sampel rxy r2 t Sig.
Guru SD 0,143 0,020 1,382 0,170
Guru SMP 0,070 0,005 0,518 0,606
Guru SMA/SMK 0,247 0,061 2,664 0,009
Dari tabel 3 diatas untuk sampel guru Sekolah Dasar (SD) diketahui bahwa nilai
koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,143 dan nilai determinasi r2 sebesar 2%. Sedangkan
nilai t hitung sebesar 1,382 dengan signifikansi sebesar 0,170.
Hasil analisis statistik dengan bantuan program SPSS melalui uji korelasi dengan
sampel guru SD dapat dilihat pada Lampiran 2 halaman 48
Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa untuk sampel guru SMP nilai koefisien
korelasi (rxy) sebesar 0,070 dan nilai determinasi r2 sebesar 0,5%.. Sedangkan nilai t
hitung sebesar 0,518 dengan signifikansi sebesar 0,606.
Hasil analisis statistik dengan bantuan program SPSS melalui uji korelasi dengan
sampel guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) dapat dilihat pada Lampiran 6
halaman 52.
Sedangkan untuk sampel guru SMA/SMK, tabel tersebut menunjukkan bahwa nilai
koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,247 dan nilai determinasi r2 sebesar 6,2%.. Sedangkan
nilai t hitung sebesar 2,664 dengan signifikansi sebesar 0,009.
Hasil analisis statistik dengan bantuan program SPSS melalui uji korelasi dengan
sampel guru SMA/SMK dapat dilihat pada Lampiran 10 halaman 56.
C. Unsur Pendukung Profesi
Unsur pendukung profesi meliputi : Keikutsertaan dalam forum ilmiah,
pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial dan Penghargaan yang
relevan dengan bidang pendidikan. Hasil Analisis data untuk masing-masing kelompok
guru SD, Guru SMP dan Guru SLTA (SMA dan SMK) pada unsur ini akan dipaparkan
Tabel 4. Hasil Analisis Data Unsur C
Sampel rxy r2 t Sig.
Guru SD 0,410 0,169 4,318 0,000
Guru SMP 0,377 0,142 2,991 0,004
Guru SMA/SMK 0,319 0,102 3,512 0,001
Berdasarkan tabel tersebut di atas untuk sampel guru Sekolah Dasar (SD),
diketahui bahwa nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,410 dan nilai determinasi r2
sebesar 16,9%. Sedangkan nilai t hitung sebesar 4,318 dengan signifikansi sebesar
0,000.
Hasil analisis statistik dengan bantuan program SPSS melalui uji korelasi dengan
sampel guru SD dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 49.
Sedangkan untuk sampel guru SMP diketahui bahwa nilai koefisien korelasi
(rxy) sebesar 0,377 dan nilai determinasi r2 sebesar 14,2%. Sedangkan nilai t hitung
sebesar 2,991 dengan signifikansi sebesar 0,004.
Hasil analisis statistik dengan bantuan program SPSS melalui uji korelasi dengan
sampel guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) dapat dilihat pada Lampiran 7
halaman 53.
Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa untuk sampel guru Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SMA/SMK) diketahui bahwa nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,319
dan nilai determinasi r2 sebesar 10,2%. Sedangkan nilai t hitung sebesar 3,152 dengan
signifikansi sebesar 0,001.
Hasil analisis statistik dengan bantuan program SPSS melalui uji korelasi dengan
sampel guru SMA/SMK dapat dilihat pada Lampiran 11 halaman 57.
Selain itu dilakukan juga analisis secara keseluruhan berdasarkan sepuluh
indikator var