• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Kekerabatan dan Hukum Adat Suku S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sistem Kekerabatan dan Hukum Adat Suku S"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Sistem Kekerabatan dan Hukum Adat Suku Sasak

Oleh: Mustapa Kamal

A. Sistem Kekerabatan Adat Suku Sasak

Dalam sistem kemasyarakatan suku sasak terdapat beberapa pengertian pokok antara lain : Pelapisan Sosial, Pemerintahan, Organisasi Sosial, dan Sistem Kekerabatan.

 Pelapisan Sosial

Suku Sasak juga mengenal sistem pelapisan sosial yang didasarkan pada keturunan, yakni keturunan bangsawan dan orang kebanyakan. Tingkat-tingkat kebangsawanan paling atas adalah pewangsa raden dengan gelar raden untuk pria dan denda untuk wanita. Lapisan menengah dinamakan tri wangsa dengan gelar lalu untuk pria dan baiq untuk wanita. Lapisan ketiga adalah jajar karang dengan gelar log untuk pria dan le untuk wanita. Pada masa lalu, bangsawan ini umumnya memegang kekuasaan sebagai kepala kampung (dasan), kepala desa, atau distrik. Pada masa sekarang, pelapisan sosial tersebut cenderung bergeser. Dasar pelapisan sosial tersebut menjadi lebih baik apabila keseluruhannya menjadi satu kesatuan. Kekuasaan akan dipandang menjadi lebih tinggi dengan ditunjang oleh faktor ekonomi yang kuat.

Di daerah lombok secara umum terdapat 3 macam lapisan sosial masyarakat : 1. Golongan Ningrat

2. Golongan Pruangse

3. Golongan Bulu Ketujur ( Masyarakat Biasa )

Masing-masing lapisan sosial masyarakat di kenal dengan Kasta yang mempunyai kriteria tersendiri :

1. Golongan Ningrat

Golongan ini dapat diketahui dari sebutan kebangsawanannya. Sebutan keningratan ini merupakan nama depan dari seseorang dari golongan ini. Nama depan keningratan ini adalah ” lalu ” untuk orang-orang ningrat pria yang belum menikah. Sedangkan apabila merka telah menikah maka nama keningratannya adalah ” mamiq “. Untuk wanita ningrat nama depannya adalah ” lale”, bagi mereka yang belum menikah, sedangkan yang telah menikah disebut ” mamiq lale”.

2. Golongan Pruangse

Kriteria khusus yang dimiliki oleh golongan ini adalah sebutan “ bape “, untuk kaum laki-laki pruangse yang telah menikah. Sedangkan untuk kaum pruangse yang belum menikah tak memiliki sebutan lain kecuali nama kecil mereka, Misalnya seorang dari golongan ini lahir dengan nama si ” A ” maka ayah dari golongan pruangse ini disebut/dipanggil ” Bape A “, sedangkan ibunya dipanggil ” Inaq A “. Disinilah perbedaan golongan ningrat dan pruangse.

(2)

Golongan ini adalah masyarakat biasa yang konon dahulu adalah hulubalang sang raja yang pernah berkuasa di Lombok. Kriteria khusus golongan ini adalah sebutan ” amaq ” bagi kaum laki-laki yang telah menikah, sedangkan perempuan adalah ” inaq “.

Di Lombok, nama kecil akan hilang atau tidak dipakai sebagai nama panggilan kalau mereka telah berketurunan. Nama mereka selanjutnya adalah tergantung pada anak sulungnya mereka. Seperti contoh di atas untuk lebih jelasnya contoh lainnya adalah bila si B lahir sebagai cucu, maka mamiq A dan Inaq A akan dipanggil Papuk B. panggilan ini berlaku untuk golongan Pruangse dan Bulu Ketujur. Meraka dari golongan Ningrat Mamiq A dan Mamiq lale A akan dipanggil Niniq A.

 Sistem Pemerintahan

Dalam sistem pemerintahan, dikenal adanya pimpinan tradisional dan pimpinan formal. Unsur-unsur yang terdapat dalam pimpinan tradisional terdiri atas:

 Keliang (kepala kampung), yang merupakan pimpinan utama yang mencakup seluruh aspek pemerintahan, adat, agama, irigasi, dan keamanan.

 Jeroah, merupakan wakil dari kepala kampung yang berkewajiban menjalankan segala

tugas kepala kampung, bila berhalangan.

 Pemangku/Mangku, merupakan pimpinan dalam bidang keagamaan.

 Pekasih, yang mengatur masalah irigasi.

 Pekemit, yang bertugas dalam bidang keamanan.

Sedangkan pimpinan teratas dalam sistem kepemimpinan formal di pegang oleh kepala desa. Di beberapa desa dibentuk rukun tetangga (RT) yang dikepalai oleh ketua RT, dibantu oleh sekertaris dan bendahara.

 Sistem Kekerabatan

Keluarga terkecil yang terdiri dari ayah, Ibu, dan anak-anak, bagi orang Sasak merupakan sebagian yang sangat diperhatikan. Mereka tinggal dalam satu ruamh tangga yang disebut bale (rumah). Anak yang membangun rumah tangga (suami-istri) untuk sementara waktu akan bersama keluarga besarnya sampai pada akhirnya dianggap mampu untuk berdiri sendiri. Dan jika telah berdiri sendiri, maka dia akan menjadi keluarga baru yang bertanggung jawab terhadap kelangsungannya. Hubungan-hubungan garis keturunan terbentuk atas dasar pertalian darah (semeton kuni) dan perkawinan. Hubungan keluarga dari semeton kuni merupakan hubungan kekerabatan dalam arti biologis yang dijalin atau dasar satu sumber darah, yaitu dari orang tua yang sama. Sedangkan hubungan hubungan kekerabatan dengan perkawinan merupakan hubungan dalam arti sosiologis yang terjadi karena adanya perkawinan.

(3)

Terdiri dari seorang ayah ,seorang ibu dan seorang anak

2. Inaq dan Amaq (Orang tua dari Ego)

3. Papuq Nina dan Papuq Mama (Orang tua inaq dan amaq atau papuq dari ego)

4. Baloq ( Orang tua dari Papuq Nina dan Papuq Mama, papuq dari inaq dan amaq, dan merupakan Baloq dari ego )

5. Tata ( Orang tua dari Baloq, Papuq dari Papuq Nina dan Papuq Mama, Baloq dari inaq dan amaq, dan merupakan Tata dari ego )

6. Toker (Orang tua dari Tata, papuq dari Baloq, Baloq dari Papuq Nina dan Papuq Mama, Tata dari inaq dan amaq, dan merupakan Toker dari ego )

7. Goneng (Orang tua dari Toker, papuq dari Tata, Baloq dari Baloq, Tata dari Papuq Nina dan Papuq Mama, Toker dari inaq dan amaq, dan merupakan Goneng dari ego )

8. Kleoq (Orang tua dari Goneng, papuq dari Toker, baloq dari Tata, tata dari Baloq, Toker dari Papuq Nina dan Papuq Mama, Goneng dari inaq dan amaq, dan merupakan Kleoq dari ego ).

Sistem kekerabatan masyarakat Sasak, pada dasarnya memiliki pola patrilineal, yakni mengikuti garis keturunan dari ayah. Juga masih dikenal adanya sistem strata masyarakat antara keturunan bangsawan atau masyarakat biasa. Strata ini sering juga disebut sebagai pelapisan sosial resmi atau dasar dan samar. Pada umumnya tingkatan kebangsawanan yang di Lombok disebut wangsa , dibagi dalam tiga bagian besar:

 Tingkat pertama yang paling tinggi adalah pewangsa Raden. Gelar panggilan bagi pria dari kelas ini adalah raden dan wanitanya disebut denda.

 Tingkat kedua yang sering disebut triwangsa, memakai gelar Lalu untuk pria dan Baiq untuk wanita

 Tingkat ketiga adalah tingkat yang disebut jajar karang, panggilannya adalah log untuk pria dan le untuk wanita

Ketiga tingkat ini tidak merata di Lombok, misalnya di Bayan dan Anyar, hanya ada golongan pertama dan ketiga saja, Di Sembalun, atau Dasan Agung, Sekitar Lading-lading tingkat pertama dan kedua tidak ada tetapi luput dianggap lapisan lebih tinggi sedikit dari jajar karang.

Pelapisan Sosial Samar; dasar pelapisan sosial samar, adalah :

(4)

Saat ini sistem ini hampir hilang, tetapi dalam kenyataannya masih terdapat keluarga yang dulunya merupakan pelayan bangsawan sampai saat ini masih menunjukkan kesetiaannya dalam acara-acara khusus.

Hubungan antara kaum bangsawan dengan masyarakat biasa mengalami pergeseran yang cukup kuat, yakni pada awalnya sangat terasa perbedaan antara kedua golongan ini akan tetapi saat ini sudah sangat mengalami pergeseran yakni sudah kurang dirasakan, setidaknya tidak seketat dulu. Meskipun demikian masyarakat biasa atau yang termasuk dalam golongan

jajar karang di Desa Puyung menilai bahwa hubungan antara kaum bangsawan dengan masyarakat luar (biasa) sampai sekarang masih terasa ada sekat. Masyarakat yang termasuk dalam kelompok bangsawan ini, selalu diperlakukan secara khusus, terutama dalam berbagai acara yang melibatkan masyarakat banyak, misalnya maulid, acara pengantenan, acara khitanan dll. Perlakuan khusus diberikan dalam bentuk cara penyambutan, tempat duduk, dan bahan sajian yang diberikan.

Dengan berkembangnya, ajaran Islam yang menekankan adanya persamaan antar manusia, maka beberapa kelompok bangsawan sendiri mulai menghindarkan strata tersebut, meskipun masih menggunakan gelar Lalu dan Baiq.

B. Tradisi dan Hukum Perkawinan Suku Sasak

Sistem perkawinan yang dianut oleh suku Sasak lebih mengarah ke sistem indogami. Bahkan di beberapa tempat, terutama pada masa lampau, sistem indogami dilaksanakan secara ketat yang kemudian melahirkan kawin paksa dan pengusiran (istilah sasaknya bolang) terhadap “terutama” anak gadis. Walaupun kecenderungannya indogami namun sistem eksogami tidak diharamkan oleh adat. Adat perkawinan suku sasak, telah mengalami distorsi disana sini. Hal ini akibat pengaruh nilai-nilai baru, baik yang berasal dari agama Islam maupun dari nilai-nilai barat.

a. Adat sebelum perkawinanPembatasan jodoh

Maksud dari pembatasan jodoh adalah mencarikan jodoh. Di sini orang tualah yang berperan penting untuk menentukan jodoh yang terbaik buat anaknya, Di dalam pembatasan jodoh ini adalah adat sasak lebih mendominasi melakukan perkawinan dalam kerabat sendiri lebih baik jika di bandingkan dengan perkawinan dengan orang kerabat luar.Mereka menginginkan kawin dengan minasa sekali, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Apabila seorang wanita kawin dengan anak menasanya, baik menasa sekali maupun menasa dua perkawinanan dinamakan dengan bero toaq nina atau basa mengina.

Cara memilih jodoh, ada 2 cara memilih jodoh yang lazim dikalangan suku bangsa sasak antara lain :

(5)

kesempatan berkenalan pada waktu potong padi. Perkenalan pertama akan berlanjut pada kunjungan kerumah gadis pada waktu malam yang bertujuan mendapatkan kesempatan berbicara sambil merencanakan perkawinan di sebut midang. Di sini akan di buat rencana-rencana tanpa di ikuti pembicaraan orang tua kemudian pihak laki-laki memberitahukan pada orang tuanya tentang pernikahannya dengan si gadis, pemberitahuan ini bukan bermaksud meminta persetujuan dari orang tua melainkan menyangkut penyediaan biaya perkawinan kelak.

2. Suka lokaq atau kemauan orang tua. Dengan cara ini di maksudkan bahwa orang tua dari kedua belah pihak atau dari salah satu pihak aja yang aktif sedangkan baik pemuda maupun gadis hanya bersikap pasif saja. Pekawinan suka lokaq seringkali tidak di awali dengan masa meleang atau kemelean bahkan antara pemuda dan gadis kemungkinan belum saling kenal mengenal satu dengan yang lain. Kebanyakan dengan cara ini seringkali berakhir dengan perceraian karena lemahnya dasar ikatan yang di miliki suatu perkawinan.

Cara memilih jodoh di atas , semakin tidak mendapat tempat. Generasi sasak melukiskan suka lokaq tersebut sebagai kawin paksa. Pemuda-pemuda sasak menginginkan perkawinan yang di dasarkan kepada kebebasan menentukan sendiri pilihan masing-masing tanpa dikotori oleh intervensi siapa pun termasuk orang tua dan keluarga.

Bentuk-bentuk perkawinan

Suku bangsa sasak mengenal beberapa bentuk perkawinan, yang terbagi menjadi 4 yakni: 1. Lari bersama atau memaling atau merarik

Adat sasak pada dasarnya adalah setia mengikuti terselenggaranya lembaga perkawinan dengan melarikan, ikatan perkawinan tersebut dinamakan merarik. Perkawinan ini di lakukan tanpa persetujuan dari orang tua kedua belah pihak. Melarikan dimaksudkan sebagai permulaan dari tindakan pelaksanaan perkawinan. Setelah si gadis di bawa lari dan disuruh tinggal di bale penyeboqan yang tujuannya melanjutkan proses ikatan perkawinan agar si gadis benar-benar menjadi istri dari pemuda yang membawa tersebut.

2. Memagah

Memagah atau memagel adalah bentuk perkawinan dengan cara melarikan tetapi dengan cara paksa serta dilakukan pada siang hari. Seorang pemuda dengan di bantu oleh beberapa temannya secara paksa membawa lari gadis ketika gadis tersebut terlepas dari pengawasan oaring tuanya.

3. Nyerah hukum

Yang merupakan memempon artinya terjun dari atas. Bahwa pelaksanaan adat dan upacara perkawinan yang di serahkan pada keluarga pihak gadis yang semua pelaksanaan pernikahan biayanya dari pihak laki-laki yang barasal dari suku lain atau suku bangsa sasak yang agak berlainan aji atau adatnya.

(6)

Maksud di sisni adalah perkawinan yang di tunda atau di gantung untuk beberapa lama sampai salah seorang atau kedua anak yang kawin menjadi dewasa. Perkawinan gantung ini di lakukan seperti biasa yakni upacara perkawinan dan ketentuan hukum islam seperti wali atau maskawin semuanya di laksanakan. Hanya yang di tunda adalah hidup bersama suami istri hingga mereka dewasa.

b. Upacara-upacara sebelum perkawinan

Di bawah ini akan di uraikan adat pemuda dan pemudi sebelum sampai keputusan untuk melangsungkan perkawinan yaitu:

1. Meleang atau bekemelean

Acara ini di lakukan oleh para pemuda datang kerumah si gadis selepas pukul 17.30-23.00 malam. Para pemuda yang mengunjungi rumah gadis duduk bersila di berugaq, si gadis duduk dalam jarak beberapa meter dari pemuda yang midang.

Midang akan berakhir dengan lahirnya kesepakatan di antara kedua belah pihak untuk melangsungkan perkawinan. Pada waktu meleang di berikan suatu pemberian dari laki-laki kepada sigadis seperti pakaian, sabun, uang atau bahkan selembar sapu tangan saja. Pemberian tersebut dilakukan dibawah tangan bahkan melalui seorang subandar dilombok pemberian tersebut akan di kembalikan kepada pihak yang memberikannya apabila sigadis kawin dengan laki-laki lain dan suaminyalah yang membayarnya karena di anggap bertanggung jawab atas gagalnya perkawinana dengan orang yang mula-mula memberikan pelamar tersebut.

2. Merarik atau memaling

Apabila seorang gadis sudah terangan untuk kawin dengan pemuda yang mencintainya, langkah berikutnya adalah penentuan waktu untuk lari bersama (merarik). Membawa lari gadis yang sudah menyetujui suatu perkawian di sebut memaling yang di laksanakan pada waktu malam 6.30-7.30) faktor penyebab terjadinya perkawinan Merarik pada masyarakat Suku sasak di lombok antara lain: Merupakan suatu kebiasaan yang sudah ditetapkan dan diatur dalam hukum adat Suku Sasak .

a) Mengurangi terjadinya konflik diantara para pihak

dapat menghindari perpecahan dalam keluarga akibat pilihan tidak sesuai dengan keinginan orang tua dan bebas memilih pasangan yang diinginkan

b) Pelaksanaan kawin merarik

pada masyarakat Suku Sasak di Lombok yaitu lari bersama antara laki-laki dan perempuan yang saling mencintai atas keinginan bersama yang merupakan awal dari prosesi adat

c) Akibat dari perkawinan merarik

menurut hukum adat Suku Sasak apabila terjadi penyimpangan maka akan diambil tindakan hukum oleh ketua adat yang berupa pembayaran denda

d) Cara penyelesaian

penyelesaian secara adat yang ditempuh masyarakat adat Suku Sasak apabila salah satu pihak membatalkan perkawinan (Merarik) yang telah disepakati terlebih dahulu akan diselesaikan melalui “Gundern” (musyawarah adat) yang diikuti dengan pembayaran denda dan sanksi adat.

3. Mesejati

(7)

dusun untuk mempermaklumkan perkawinan tersebut tentang jati diri calon pengantin laki-laki dan selanjutnya melaporkan kepada pihak keluarga perempuan.

4. Selabar

Merupakan hari yang telah di tentukan untuk melaksanakan selabar .Upacara dimaksudkan untuk membicarakan jumlah ajikrama sebagai upaya untuk dapat melangsungkan akad nikah atau berbagai upacara lainnya menjelang akad nikah. Ajikrama adalah sejumlah pembayaran yang telah ditetapkan oleh adat.

5. Sorong serah

Merupakan upacara khusus untuk membayar ajikrama yang sudah di sepakati pada waktu melakukan selabar. Upacara sorong serah adalah upacara yang paling penting dalam adat perkawinan suku sasak. Di mana pihak dari mempelai pria mempersiapkan sebuah rombongan yang akan pergi kerumah calon pengantin wanita berupa uang dan barang, setelah tiba disana akan dijelaskan maksud kedatangan calon pengantin dengan menggunakan kalimat-kalimat yang resmi.

6. Nyongkolan

Merupakan upacara mengunjungi rumah orang tua calon pengantin wanita oleh kedua calon pengantin dengan diiringi oleh keluarga, kerabat, kenalan dan alat musik suku sasak dalam suasana penuh kemeriahan. Tujuannya adalah untuk menampakkan dirinya secara resmi dihadapan orang tuanya bahkan juga kepada seluruh masyarakat sambil meminta maaf serta memberi hormat pada kedua orang tua calon pengantin wanita tetapi sebelum dilakukan nyongkol terlebih dahulu kedua calon mempelai dipiyas(di hias) dengan menggunakan pakaian adat. Kedua calon pengantin yang sudah siap dengan pakaian adatnya langsung menuju rumah calon pengantin wanita, kedua calon pengantin langsung diarak keliling kampung hingga sampai di rumah orang tua pengantin wanita kemudian menyalami kedua orang tuanya. Pertemuan ini adalah perpisahan bagi pengantin wanita yang sering diwarnai denagn tetesan air mata. Upacara nyongkol sebenarnya sama dengan upacara persandingan pengantin. Karena upacara ini juga bertujuan memperlihatkan kedua pengantin yang kawin kepada umum.

c. Upacara pelaksanaan perkawinan

Adat perkawinan sasak, upacara pelaksanaan perkawinan disebut ngawinang atau nikahang. Upacara ngawinang di lakukan di masjid kampung. Upacara pernikahan di pimpin oleh kepala kantor urusan agama dengan mengikuti tata cara islam yang umum yakni pembicaraan khotbah nikah dan ijab Kabul yang di lakukan langsung oleh orang tua si calon pengantin wanita di hadapkan calon pengantin laki-laki.

d. Adat setelah perkawinan

Adat menetap sesudah kawin

Apabila keluarga baru terbentuk maka keluarga tersebut tidak langsung menemppati rumah sendiri. Ada 3 kemungkinan yang umum dalam hal menetap sesudah kawin antara lain:

(8)

Bale mesaq merupakan rumah yang dibangun oleh suami sejak sebelum perkawinan. Rumah tersebut biasanya dibangun disamping rumah orang tua. Menempati rumah mesaq dipandang sebagi yang paling terhormat didalam adat menetap sesudah perkawinan dalam adat sasak.

b) Nyodok (numpang)

Nyodok merupakan numpang tinggal di rumah pihak wanita.Ini seringkali terjadi apabila perkawinan tidak didahului dengan persiapan perumahan. Dalam masa numpang ini baik sipengantin dan orang tuanya sudah mulai mengumpulkan bahan-bahan bangunan dan apabila telah cukup barulah di bangun rumah untuk kedua pengantin.

c) Nurut nine (tinggal di rumah keluarga istri)

Nurut nine artinya ikut istri. Si suami baik atas kemauannya sendiri atau kemauan istrinya tinggal dirumah ayah istrinya.

C. Pengaturan dan Ketentuan Pewarisan dalam Suku Sasak

Hukum waris adat dalam suku ini adalah bahwa telah terjadi pluralisasi dalam hukum waris di daerah ini. Di dalam Suku Sasak berlaku hukum adat sasak sendiri, hukum Islam, dan hukum waris yang ditetapkan oleh pengadilan negeri.

Hukum waris adat Sasak, mengharuskan wanita Sasak tidak mempunyai hak untuk mewarisi harta orang tuanya. Dalam sebuah struktur masyarakat hukum adat genealogis, terdapat tiga macam dasar pertalian keturunan yaitu: Pertalian darah menurut garis bapak (patrilineal), Pertalian darah menurut garis ibu (matrilineal) dan Pertalian darah menurut garis ibu dan bapak (parental). Hukum Adat Sasak, Suku Sasak menarik garis keturunan dari pihak laki-laki (patrilineal). Pada kaum bangsawan Suku Sasak, perempuan diberi gelar Baiq dan kaum laki-lakinya mendapat gelar Lalu. Namun pada masyarakat lapisan bawah baik perempuan maupun laki-laki tidak mempunyai gelar, namun kaum perempuannya dipanggil Inaq dan laki-laki dipanggil Amaq.

Masyarakat yang tidak mempunyai lapisan bangsawan contohnya adalah Desa Sade yang seluruh penduduknya adalah bagian bawah dari masyarakat. Desa Sade adalah suatu desa yang masih tradisional. Masyarakat Desa Sade sebagian besar beragama Islam. Walaupun beragama Islam, mereka tetap tunduk pada Hukum Adat Sasak Tradisional. Menurut Hukum Adat di desa ini wanita tidak menerima warisan dari orang tuanya yang telah meninggal dunia. Pada dasarnya masyarakat Sasak Desa Sade menganut sistem patrilineal, bahwa garis keturunan ditarik dari pihak laki-laki atau bapak. Anak perempuan dianggap keluar dari keluarganya dan pindah menjadi keluarga suaminya, karena ia mengikuti suaminya setelah mereka kawin.

Jika wanita Sasak di Desa Sade menikah, ia tinggal pada keluarga suaminya. Untuk itu ia boleh membawa barang-barang perhiasan dari emas atau perak berbentuk cincin dijarinya, giwang atau anting-anting, kalung di lehernya dan gelang yang dipakai pada tangannya. Ia tidak akan mendapatkan tanah atau rumah. Tanah dan rumah hanya untuk anak laki-laki.

(9)

melakukan pekerjaan menenun, misalnya membuat sarung, selendang dan penutup leher untuk dijual, dengan alat tenun yang amat sederhana. Wanita-wanitanya mebuat benang dari kapas yang ditanam di sawah mereka bersama-sama dengan tanaman padi. Sebagian besar dari mereka telah membeli benang berbagai warna di pasar. Pihak laki-laki mengerjakan sawah mereka. Hasil padi tidak untuk dijual tetapi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Wanita di Desa Sade, harus kawin dengan lelaki di desa tersebut. Bila ia kawin dengan laki-laki luar desa, wanita itu harus keluar dari desa tersebut.

Wanita menenun sarung di Dusun Sade. Begitu juga pihak pria yang kawin dengan wanita luar desa, ia harus meninggalkan Desa Sade. Belum ada sengketa waris yang dibawa ke pengadilan sampai saat ini dari desa tersebut.

Wanita dalam masyarakat Sasak tunduk dalam tiga sistem hukum dalam hal waris. Hukum tersebut adalah hukum adat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Hukum Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Hadist karena mayoritas Suku Sasak beragama Islam, dan hukum negara yang bersumber pada putusan hakim Pengadilan Negeri dan dikuatkan oleh Pengadilan tinggi dan Mahkamah Agung.

Sebagian besar masyarakat Sasak mengikuti hukum Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadist. Karena mayoritas Suku Sasak beragama Islam, banyak masyarakat Sasak yang menggunakan hukum Islam untuk membagi warisan. Hal ini pernah dijelaskan oleh Van den Berg dan Salmon Keyzer dalam teorinya Receptio in Complexu yang mengungkapkan bahwa adat-istiadat dan hukum adat suatu golongan hukum masyarakat adalah receptio (penerimaan) seluruhnya dari agama yang dianut oleh golongan masyarakat itu. Hukum adat suatu golongan masyarakat adalah penerimaan secara bulat dari hukum agama yang dianut oleh golongan masyarakat itu. Dalam hal ini, Suku Sasak secara mayoritas beragama Islam dan menggunakan hukum Islam untuk membagi warisannya.

Dasar penggunaan hukum waris Islam bersumber pada Surat An-Nisa ayat 11 Dalam bahasa Sasak, bagian wanita dikatakan sebagai “sepersonan” yaitu barang yang dijunjung di atas kepala perempuan. Bagian laki-laki adalah “sepelembah” atau dua pikulan yang diletakkan di atas bahu. Maka dikatakan dalam bahasa daerah sasak bagian laki-laki dan wanita adalah “Sapelembah sepersonan”yaitu dua berbanding satu. Wanita menjunjung satu bakul di kepalanya, sedangkan laki-laki membawa pikulan di bahunya yang terdiri dari dua bakul keranjang.

Anak laki-laki mendapatkan dua bagian warisan dan perempuan satu bagian mengikuti sepelembah sepersonan. Jika tidak ada anak laki-laki maka semua warisan tersebut jatuh pada anak perempuan. Jika anak perempuan lebih dari satu orang, harta warisan dibagi sama diantara mereka. Bila anak perempuan hanya satu-satunya semua harta warisan jatuh kepada anak perempuan satu-satunya tersebut. Untuk membagi warisan, masyarakat menyerahkan segala urusan pembagiannya pada Tuan Guru, Pemimpin Agama Islam di desa di Sasak. Namun tidak jarang pula sengketa waris diselesaikan oleh Pengadilan Agama dan diselesaikan dengan Hukum Islam.

(10)

terhadap hak wanita Sasak untuk mewaris dengan putusannya dalam kasus Inaq Rasini vs Amaq Atimah. Mahkamah Agung memutuskan sesuai dengan yurisprudensi Mahkamah Agung terhadap anak perempuan di Tapanuli (Sumatera Utara), anak perempuan dijadikan ahli waris agar adil.

Perkembangan Hukum Adat Suku Sasak, sejak tahun 1951 di daerah pulau Lombok, khususnya di daerah Kecamatan Masbagik (Lombok Timur) telah terjadi pergeseran nilai dalam Hukum Waris Adat khususnya tentang kedudukan anak dan wanita. Jika menurut hukum adat yang lama, anak wanita bukan ahli waris serta tidak berhak untuk mewaris barang-barang tidak bergerak seperti tanah, maka kini dalam perkembangannya sudah diakui dimana kedudukan wanita sebagai ahli waris dan berhak pula memperoleh harta warisan peninggalan orang tuanya bersama-sama dengan saudara laki-lakinya.

Keadaan di atas mau tidak mau harus ditafsirkan bahwa telah terjadi pergeseran pola pikir di kalangan warga suku ini ke arah kemajuan (modernisasi). Dari realita-realita yang terjadi dalam masyarakat, maka secara filosofis dapat dibaca bahwa persamaan status hak dan kedudukan antara anak laki-laki dengan anak wanita selama ini telah berjalan. Anak wanita tidak lagi sebagai selalu berada di belakang keutamaan anak laki-laki. Tetapi keduanya mempunyai harkat dan martabat yang sama.

Dari segi yuridis dapat dipertimbangkan antara lain, masyarakat adat suku Sasak telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan dan pertumbuhan masyarakat tersebut ternyata diikuti pula oleh perkembangan akan kebutuhan hukum. Artinya bahwa dalam masyarakat tersebut telah mengalami pergeseran nilai-nilai sosial khususnya nilai-nilai hukumnya. Dalam kasus ini pergeseran tersebut telah terjadi dalam kedudukan wanita. Jika sebelumnya wanita dianggap berkedudukan di bawah kaum laki-laki karena sistem kekerabatan yang bersifat patrilinial.

Situasi dan kondisi saat ini telah berubah dan sangat berbeda. Dalam realita di tengah-tengah masyarakat adat dalam suku ini telah timbul nilai-nilai hukum baru yang selaras dan sejalan dengan kebutuhan perkembangan masyarakat itu sendiri. Dirasakan tidak adil lagi jika anak wanita dianggap sebagai bukan ahli waris. Anak wanita sekarang sudah diakui sebagai ahli waris. Oleh karena itu, kensekuensi logisnya, wanita harus mendapatkan bagian sebagai ahli waris dari orang tuanya yang telah meninggal.

Bertitik tolak dari persamaan harkat dan martabat, serta persamaan hak dan kedudukan setiap warga negara dihadapan hukum sesuai dengan Pancasila dan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan mengingat pula keadilan umum, dan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat, maka di dalam kasus ini Pengadilan sependapat dan layak untuk berpedoman kepada yurisprudensi tetap Mahkamah Agung yang berlaku untuk seluruh Indonesia tanggal 11 Nopember 1961, No.179 K/Sip/1961. Intinya bahwa “Anak perempuan dan anak laki-laki dari seorang peninggal warisan bersama-sama berhak atas harta warisan dalam arti bahwa bagian anak laki-laki sama dengan anak perempuan”.

SUMBER

http://wisnu.blog.uns.ac.id/2011/05/15/pluralisme-hukum-waris-adat-suku-sasak/ http://shumarny.wordpress.com/2013/10/06/adat-suku-sasak-lombok/

(11)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian Proses pemberian kredit diawali dengan pengajuan kredit oleh nasabah berdasarkan persyaratan yang sudah dibuat oleh bank, langkah berikutnya adalah melakukan

Langkah berikutnya adalah untuk mengetahui apakah data yang sudah ditransformasi sudah stasioner dalam me- an, dengan melihat bentuk ACF-nya seperti pada Gam- bar 4.. Dari Gambar

Langkah berikutnya adalah untuk mengetahui apakah data yang sudah ditransformasi sudah stasioner dalam me- an, dengan melihat bentuk ACF-nya seperti pada Gam- bar 4.. Dari Gambar

Calon mempelai adalah benar-benar seorang wanita dan laki- laki dimana umur kedua belah pihak memang sudah cukup untuk kawin, dan lain sebagainya..

Hakim Pengadilan Negeri Sleman (Bapak Joko Sapto), berpendapat bahwa memang Undang – Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang kurang lebih sudah berjalan 15 tahun

Dari beberapa dampak di atas, maka dapat dipahami dampak yang ditimbulkan dari tradisi nikah naik yang terjadi antara seorang gadis dengan laki-laki yang berstatus sudah

penyerahan barang sudah terjadi, demikian pula separuh uang harga pembelian rumah sudah dibayar, maka menurut hukum adat sebenarnya sudah terjadi suatu jual-beli, dan oleh

Sehingga bila sudah diketahui akar penyebabnya, maka perlu dicari jalan keluarnya yang terbaik agar persepsi yang salah tersebut tidak terjadi lagi serta masyarakat dapat memahami