MAKALAH OPSI 2013
Analisis Kelainan pada Sistem Tubuh terhadap Gangguan
Belajar (Retardasi Mental) pada Anak
Kelompok Bidang Penelitian
: Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora
Bidang Ilmu
: Pendidikan dan Psikologi
Peneliti
Nama Lengkap : Kevinaldo Barevan
NIS : 111210016
Kelas : XI
Pembimbing
Nama Lengkap : Annetha Novika Adnan
NIP : 19841101 201001 2 017
Bidang studi yang diampu : Sosiologi
SMA NEGERI 2 BOGOR
Jalan Keranji Ujung No. 1 Budi Agung, Bogor. Telp (0251) 8318761
Kota Bogor Provinsi Jawa Barat.
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul makalah : Analisis Kelainan pada Sistem Tubuh terhadap Gangguan Belajar (Retardasi Mental) pada Anak 2. Kelompok Bidang Penelitian : Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora
3. Bidang Ilmu : Pendidikan dan Psikologi 4. Ketua Tim Penelitian
Nama Lengkap : Kevinaldo Barevan
NIS : 111210016
Kelas : XI
E-mail : [email protected]
Asal Sekolah : SMAN 2 Bogor
Alamat Sekolah : Jalan Keranji Ujung No.1 Budi Agung, Tanah Sareal. Bogor, Jawa Barat.
Telepon/faks : (0251) 8318761
Menyatakan bahwa substansi ini, yang berjudul Analisis Kelainan pada Sistem Tubuh terhadap Gangguan Belajar (Retardasi Mental) pada Anak belum pernah disertakan dalam lomba apapun, dan dikerjakan dengan melibatkan 1 (satu) orang peneliti, pembimbing sebanyak 1 orang, dengan rincian sebagai berikut:
Peneliti
Nama Lengkap : Kevinaldo Barevan
NIS : 111210016
Kelas : XI
Pembimbing
Nama Lengkap : Annetha Novika Adnan, S.Sos
NIP : 19841101 201001 2 017
Bidang studi yang diampu : Sosiologi
Bogor, 29 Juli 2013
Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Bogor Peneliti,
Dra. Sri Eningsih, M.Pd Kevinaldo Barevan
PERNYATAAN ORISIONALITAS
Yang bertanda tangan dibawah ini,
Nama Lengkap : Kevinaldo Barevan
NIS : 111210016
Kelas : XI
Sekolah : SMA Negeri 2 Bogor
Alamat Sekolah : Jalan Keranji Ujung no.1 Budi Agung. Bogor 16165 Telepon/Faximile : (0251) 8318761
Alamat Rumah : Taman Sari Persada. Orchid, blok C3 No. 11. Bogor, Jawa Barat Telepon/Handphone : (0251) 7541377, 085714548559
Menyatakan bahwa makalah ini, yang berjudul Analisis Kelainan pada Sistem Tubuh terhadap Gangguan Belajar (Retardasi Mental) pada Anak adalah
1) Sepenuhnya ditulis oleh peneliti dengan rincian sebagai berikut Peneliti
Nama Lengkap : Kevinaldo Barevan
NIS : 111210016
Kelas : XI
2) Dikerjakan di bawah pembimbing
Nama Lengkap : Annetha Novika Adnan, S.Sos
NIP : 19841101 201001 2 017
Bidang studi yang diampu : Sosiologi
3) Orisinal karya tim peneliti ini, tanpa ada unsur plagiarisme baik dalam aspek substansi maupun penulisan.
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya. Bila dikemudian hari ditemukan kekeliruan, maka kami bersedia menanggung semua risiko atas perbuatan yang kami lakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Bogor, 29 Juli 2013
Yang membuat pernyataan
Pembimbing Penelitian, Penelitian,
Annetha Novika Adnan, S.Sos Kevinaldo Barevan
NIP. 19841101 201001 2 017 NIS. 111210016
Kepala Sekolah
Abstrak
Nama : Kevinaldo Barevan
Judul Karya Ilmiah : Analisis Kelainan pada Sistem Tubuh terhadap Gangguan Belajar (Retardasi Mental) pada Anak
Karya ilmiah ini membahas tentang Analisis Kelainan pada Sistem Tubuh terhadap Gangguan Belajar (Retardasi Mental) pada Anak. Retardasi mental didefinisikan sebagai suatu keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, terutama ditandai dengan terjadinya kendala dalam melakukan keterampilan selama masa perkembangan. Lebih lanjut hal ini akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial. Retardasi mental merupakan suatu gejala yang terdiri dari fungsi intelektual yang subnormal, terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial dan dapat diamati pada masa perkembangan.
Penelitian ini adalah penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Karena terjadinya kelainan pada sistem tubuh pada anak akibat faktor pranatal, psikososial, dan genetik yang menyebabkan terjadinya retardasi mental dan berakibat kepada gangguan belajar pada anak tersebut.
Hasil penelitian menemukan bahwa retardasi mental dapat mempengaruhi proses belajar. Retardasi mental dapat dicegah dengan memberikan nutrisi yang baik pada anak. Mengetahui dengan mengkonsultasikan dengan dokter mengenai efek atau dampak yang terjadi pada anak ketika orangtua mengalami penyakit yang dapat mengakibatkan dampak yang buruk pada anak yang dilahirkan. Banyak sumber menyatakan bahwa retardasi mental dapat dideteksi sebelum terjadi kelahiran, melalui konsultsi mengenai genetik dan diagnosis antennal. Serta seorang penyandang retardasi mental dapat berkembang seiring dengan proses perawatan dan proses belajar yang diberikan.
Pada akhirnya, gangguan belajar pada anak penyandang retardasi mental biasanya berupa masalah dalam memusatkan perhatian, kesulitan dalam mengingat informasi, mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa, mengalami kesulitan dalam menentukan strategi self regulation-nya (kemampuan seseorang untuk mengatur tingkah lakunya sendiri), tidak tahu bagaimana memulai interaksi dengan orang lain, kurang termotivasi dan cenderung mudah putus asa, dan terhambat dalam hampir semua prestasi akademis.
Kata Kunci:
Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul “Analisis Kelainan pada Sistem Tubuh terhadap Gangguan Belajar (Retardasi Mental) pada Anak”.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Pertama saya sampaikan terima kasih kepada pembimbing saya, Ibu Annetha Novika Adnan,S.Sos yang telah membantu dan membimbing dalam mengerjakan karya ilmiah ini. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan karya ilmiah ini. Tentunya ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada masyarakat dari hasil karya ilmiah ini. Karena itu kami berharap semoga karya ilmiah ini dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kita bersama. Tidak lupa saya berterimakasih kepada keluarga saya yang telah banyak memberikan bantuan secara moril maupun materil.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan mereka semua. Amin.
Bogor, 29 Juli 2013
Daftar Isi
Halaman Judul... i
Lembar Pengesahan... ii
Pernyataan Orisionalitas... iii
Abstrak ... iv
Kata Pengantar... v
Daftar Isi ... vi
Bab I: Pendahuluan 1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah... 3
1.3 Tujuan Penelitian... 3
Bab II: Tinjauan Pustaka 2.1 Definisi Retardasi Mental... 4
2.2 Definisi Gangguan Belajar... 5
2.3 Faktor Penyebab Retardasi Mental... 6
Bab III: Metodologi 3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian... 11
3.2 Waktu Penelitian... 12
3.3 Kehadiran Peneliti... 12
3.4 Teknik Pengumpulan Data... 12
3.5 Analisis Data... 14
3.6 Tahap-Tahap Penelitian... 16
Bab IV: Hasil dan Pembahasan... 17
Bab V :Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan... 23
5.2 Saran... 24
Daftar Pustaka... 25
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan yang wajar dalam masyarakat maka seorang individu harus dapat memenuhi pola-pola tingkah laku yang benar. Pengetahuan mengenai pola-pola tingkah laku ini dapat diperoleh oleh seorang individu melalui interaksi dengan anggota-anggota masyarakat lainnya dalam kehidupan sehari-hari; yaitu dengan cara mengamati, berlatih, dan menyerap informasi mengenai pola-pola tingkah laku yang benar (Spencer, 1982 : 106-111)
Pada anak penyandang retardasi mental, keharusan untuk menjalankan pola-pola tingkah laku yang benar ini, sukar untuk dipenuhi. Hal ini disebabkan karena adanya suatu hambatan pada diri anak penyandang retardasi mental tersebut, yang berupa kelemahan-kelemahan atau kelainan mental yang mereka derita. Karena kelemahan-kelemahan atau kelainan-kelainan mental yang dideritanya, anak penyandang retardasi mental ini seringkali menunjukan tingkah laku yang aneh dan bisa dianggap tidak sesuai atau tidak benar.
Salah satu contoh sederhana bisa kita lihat seorang anak penyandang retardasi mental yang telah berusia delapan tahun, tapi belum mampu untuk makan dan berpakaian sendiri. Dimana untuk anak-anak yang normal, makan dan berpakaian sendiri merupakan kegiatan yang amat mudah dan sudah mereka lakukan sendiri rata-rata pada usia lima atau enam tahun.1
Inteligensi merupakan sesuatu yang dibanggakan oleh para orang tua pada anak-anaknya. Jika anak mendapat prestasi tinggi di sekolah, seringkali para orang tua berbesar hati dan memberikan pujian dan hadiah-hadiah. Tetapi jika anak berprestasi rendah, seringkali para orang tua menghukum anak tersebut. Berbagai macam faktor mempengaruhi prestasi belajar, di antaranya tingkat inteligensi (HI atau IQ = intelligence quotient ), skala nilai dan patokan sosial, serta kemampuan dididik atau dilatih.2
1 Diana Damayanti, Essay: “Cara pengasuhan anak penyandang retardasi mental : Tiga kasus keluarga Jawa di
Jakarta” (Jakarta: Universitas Indonesia, 1984), 1
2 Andy Hidayat, Thesis: “Indeks Sefalometri dan Tangan Anak Laki-laki dengan Berbagai Tingkat Retardasi
Contoh lain kasus anak yang mengalami retardasi mental terjadi pada Aji seorang anak berusia 12 tahun yang seharusnya ia sudah kelas enam SD bersama teman-teman sebayanya, tetapi karena kemampuan intelektualnya rendah ia masih saja duduk di kelas empat SD. Menurut gurunya, ia agak lambat dalam mengikuti pelajaran di sekolahnya. Oleh karena itu, Aji dari kelas satu sampai kelas tiga SD untuk masing-masing tingkat ditempuh dua tahun. Keadaan ini membuat orang tua Aji memindahkan sekolah umum ke sekolah luar biasa (Wardoyo, 2006).
Contoh di atas merupakan gambaran penting dalam retardasi mental yaitu fungsi intelektual umumnya berada di bawah rata-rata. Diperjelas oleh Munzert (2002) bahwa intelegensi anak yang mempunyai IQ sedang antara 95-100, sedangkan penderita retardasi mental IQ di bawah 50. Ditambahkan oleh Lombanotobing (2001) bahwa retardasi mental merupakan ganguan perkembangan fungsi penyesuaian yang melibatkan kecakapan dalam komunikasi, merawat diri, tinggal di rumah, kecakapan sosial-interpersonal, bekerja, berekreasi, kesehatan, dan keselamatan.3
Untuk mengetahui penyebab-penyebab gangguan belajar atau Learning Disability (LD) yang dikarenakan oleh tiga komponen yaitu kemampuan intelektual yang rendah, onset pada saat lahir atau awal masa kanak-kanak, dan penurunan kemampuan hidup/adaptif atau dalam garis besar retardasi mental. Penelitian-penelitian menggunakan wawancara yang terstruktur dengan baik, observasi perilaku yang rinci, dan wawancara dengan pengasuh mengungkapkan bahwa prevalensi beberapa gangguan psikiatri (termasuk gangguan perilaku) meningkat pada orang dengan gangguan belajar, terutama mereka yang tinggal di tempat perawatan, tetapi tidak menyatu dengannya. Namun demikian, membuat diagnosis psikiatri yang spesifik sulit untuk dilakukan (terutama pada orang dengan retardasi mental sedang atau berat) karena adanya keterbatasan bahasa yang timbul bersamaan. Gangguan perilaku lebih sering pada retardasi mental yang lebih berat, terjadi pada hampir 40% anak dan 20% orang dewasa dengan retardasi mental berat.
Berdasarkan etiologinya, retardasi mental dapat dibagi menjadi retardasi mental primer dan sekunder. Penyebab retardasi mental primer dapat berupa kelainan kromosom atau pengaruh pranatal yang tidak jelas. Retardasi mental sekunder disebabkan oleh faktor-faktor luar yang diketahui dan selanjutnya faktor-faktor ini mempengaruhi otak pada waktu pranatal, perinatal, atau pascanatal.
3 Gadiesz, “Retardasi Mental” (http://aquw-bian.blogspot.com/2010/02/retardasi-mental.html, diakses 10 Juni
Dalam usaha untuk mencari perbedaan ciri-ciri morfologi yang disebabkan oleh faktor-faktor tersebut, banyak dilakukan penelitian terhadap penderita retardasi mental sekunder yang telah dilaporkan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Penelitian-penelitian tersebut menunjukan adanya teratogen yang menyebabkan kelainan organik sebagai etiologi retardasi mental berat. Pada penelitian-penelitian tersebut, terdapat penelitian yang menemukan adanya perbedaan fisik dan mental antar penderita retardasi mental primer maupun retardasi mental sekunder.4
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan gangguan belajar akibat retardasi mental? b. Faktor-faktor seseorang dapat mengalami retardasi mental?
c. Bagaimana upaya pencegahan dan penanganan terhadap retardasi mental? d. Apakah kelainan pada sistem tubuh mempengaruhi gangguan belajar?
1.3 Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui gangguan belajar akibat retardasi mental b. Untuk mengetahui penyebab retardasi mental
c. Untuk mengetahui pencegahan dan penanganan retardasi mental d. Untuk mengetahui hubungan fungsi tubuh terhadap gangguan belajar
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Retardasi Mental
Retardasi mental didefinisikan sebagai suatu keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, terutama ditandai dengan terjadinya kendala dalam melakukan keterampilan selama masa perkembangan. Lebih lanjut hal ini akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial. Retardasi mental merupakan suatu gejala yang terdiri dari fungsi intelektual yang subnormal, terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial dan dapat diamati pada masa perkembangan.5
Menurut Dr.Nora L Sondakh,MA, ia mendefinisikan retardasi mental ialah seseorang dengan kemampuan intelektual berada di bawah angka rata-rata akibat perkembangan intelektual yang abnormal dan dapat dilihat pada kesukaran dalam belajar dan adaptasi sosial.6
Menurut Burton, seorang siswa dapat juga diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan menunjukan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan belajarnya. Kegagalan belajar ini, seperti siswa dalam batas tertentu tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam pengajaran tertentu, siswa tidak dapat mencapai prestasi yang semestinya sesuai dengan potensinya, siswa gagal kalau tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangannya, dan lain–lain.
Untuk anak-anak dengan retardasi mental, sudah seharusnya mendapatkan kelas khusus dimana guru mengajarkan keterampilan pokok misalnya konsep uang, konsep waktu, keterampilan hidup mandiri, perawatan diri dan kebersihan, akses masyarakat, kegiatan rekreasi, dan pelatihan kejuruan dan melatih anak agar anak dapat menerapkannya didalam kehidupannya. Sehingga walaupun anak tersebut mengalami kekurangan dari segi kognitif, dia tetap dapat bertahan dalam lingkungannya.7
Upaya pencegahan retardasi mental dapat dilakukan dengan memberikan nutrisi yang baik pada anak. Mengetahui dengan mengkonsultasikan dengan dokter mengenai efek atau dampak yang terjadi pada anak ketika orangtua mengalami penyakit yang dapat
5 Andy Hidayat, Op.Cit., 1
6 Andda Noorika, “Studi Kasus Retardasi Mental pada Anak”
(http://pustakasari379.blogspot.com/2013/03/studi-kasus-retardasi-mental-pada-anak.html, diakses 3 Mei 2013)
7 Yohanti Viomanna, “Bagaimana cara pengajaran yang efektif terhadap anak dengan retardasi mental?”
mengakibatkan dampak yang buruk pada anak yang dilahirkan. Banyak sumber menyatakan bahwa retardasi mental dapat dideteksi sebelum terjadi kelahiran, melalui konsultsi mengenai genetik dan diagnosis antennal. Secara khusus retardasi mental dapat diketahui melalui amniosentesis atau sampel vili korion, dengan pilihan terminasi kehamilan. Peningkatan perawatan pada saat perinatal juga mengurangi resiko cidera otak. Serta dapat dilakukan penatalaksanaan dari masalah hormonal atau metabolik sebelum terjadi retardasi mental.8
2.2 Definisi Gangguan Belajar
Gangguan belajar (learning disability) mengacu kepada retardasi mental pada sistem klasifikasi terbaru, memiliki tiga komponen utama, yaitu kemampuan intelektual yang rendah, onset pada saat lahir atau awal masa kanak-kanak dan penurunan adaptif/hidup. Gangguan belajar terdapat pada sekitar 1,5% dari populasi, dimana 80% mengalami gangguan belajar ringan, 12% mengalami gangguan belajar sedang, dan 7% mengalami gangguan belajar berat. Hanya sekitar 1% dari jumlah total menderita gangguan belajar yang sangat berat. Prevalensi gangguan belajar belum menurun walaupun baru-baru ini terdapat penurunan insidensi gangguan belajar berat.
Gangguan belajar dapat diartikan berdasarkan istilah, sebagai gangguan utama yang menyebabkannya, ketidakmampuan yang diakibatkannya, dan kerugian sosial yang dihasilkan (termasuk masalah keluarga). Gangguan intelektual diklasifikasikan sebagai ringan (IQ 50-70), sedang (IQ 35-49), berat (IQ 20-34), dan sangat berat (IQ <20). Retardasi mental ringan biasanya tidak dihubungkan dengan abnormalitas pada penampilan atau perilaku, gangguan bahasa, gangguan sensorik, dan gangguan motorik yang bersifat ringan atau tidak ada sama sekali. Orang dewasa dengan gangguan belajar ringan mungkin sulit menghadapi stress dan seringkali memerlukan bantuan untuk are fungsi sosial yang lebih rumit, seperti mengasuh anak dan mengatur keuangan. Namun demikian, sebagian besar mampu untuk hidup mandiri dalam masyarakat dan melakukan pekerjaan tertentu. Orang dengan gangguan belajar sedang biasanya memiliki bahasa yang terbatas namun berguna. Gangguan belajar berat dan sangat berat dikaitkan dengan kemampuan verbal dan mengurus diri yang sangat terbatas serta masalah/keterbatasan fisik terkait (epilepsi pada 33%, inkontinensia pada 10%, ketidakmampuan untuk berjalan pada 15%) sangat sering dijumpai. Komunikasi dapat difasilitasi dengan teknik nonverbal seperti menunjuk atau isyarat.
Gangguan belajar ringan biasanya tidak berhubungan dengan penyebab spesifik dan mewakili bagian akhir dari distribusi normal kurva IQ. Terdapat kontribusi genetik yang cukup bermakna yang mencerminkan tingginya pengaruh keturunan pada IQ secara umum. Hubungan yang erat antara rendahnya IQ orangtua dan IQ anak sebagian disebabkan hilangnya kesempatan mendapat pendidikan dan status sosial. Gangguan belajar yang lebih berat biasanya dikaitkan dengan kerusakan otak yang spesifik.
Anak yang mengalami gangguan belajar sering kali akan menunjukkan gangguan perilaku. Hal ini bisa berdampak pada hubungan pasien dengan orang-orang di sekitarnya (keluarga, guru dan teman-teman sebaya). Untuk itu anak perlu didampingi untuk menghadapi situasi ini.
Orang tua merupakan guru yang pertama dan terdekat dengan anak. Dengan demikian, peran orang tua sangat penting untuk mengenali permasalahan apa yang dialami anak. Selain itu, penting juga untuk menemukan kekuatan atau kemampuan yang dimiliki anak. Hal ini akan membantu orang tua mendukung anak mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri anak.9 Penanganan pada penyandang retardasi
mental biasanya dengan tinggal dirumah bersama keluarganya. Namun, tetap harus disediakan dukungan pusat pelayanan perawatan primer, layanan pendidikan, dan layanan sosial. Pada anak penyandang retardasi mental ringan biasanya tetap diberikan dukungan pendidikan disekolah biasa meskipun anak tersebut harus lebih bekerja keras agar dapat mengejar anak yang tidak mengalami retardasi mental.10
2.3 Faktor Penyebab Retardasi Mental
1. Faktor Pranatal
Penggunaan berat alkohol pada perempuan hamil dapat menimbulkan gangguan pada anak yang mereka lahirkan yang disebut dengan fetal alcohol syndrome. Faktor-faktor pranatal lain yang memproduksi retardasi mental adalah ibu hamil yang menggunakan bahan-bahan kimia, dan nutrisi yang buruk. (Durand, 2007). Penyakit ibu yang juga menyebabkan retardasi mental adalah sifilis, cytomegalovirus, dan herpes genital. Komplikasi kelahiran, seperti kekurangan oksigen dan cidera kepala, menempatkan anak pada resiko lebih besar terhadap gangguan retardasi mental. Kelahiran premature juga menimbulkan resiko retardasi mental dan gangguan perkembangan lainnya. Infeksi otak, seperti
9Kania Inda, “Mengenal Gangguan Belajar” (http://dukunganmoralanakindigo.blogspot.com/2010/05/mengenal
gangguan-belajar.html, diakses 16 Juni 2013)
encephalitis dan meningitis juga dapat menyebabkan retardasi mental. Anak-anak yang terkena racun, seperti cat yang mengandung timah, juga dapat terkena retardasi mental. (Nevid, 2003)
2. Faktor Psikososial
Seperti lingkungan rumah atau sosial yang miskin, yaitu yang tidak memberikan stimulasi intelektual, penelantaran, atau kekerasan dari orang tua dapat menjadi penyebab atau memberi kontribusi dalam perkembangan retardasi mental.(Nevid,2002)
Anak-anak dalam keluarga yang miskin mungkin kekurangan mainan, buku, atau kesempatan untuk berinteraksi dengan orang dewasa melalui cara-cara yang menstimulasi secara intelektual akibatnya mereka gagal mengembangkan keterampilan bahasa yang tepat atau menjadi tidak termotivasi untuk belajar keterampilan-keterampilan yang penting dalam masyarakat kontemporer. Beban-beban ekonomi seperti keharusan memiliki lebih dari satu pekerjaan dapat menghambat orang tua untuk meluangkan waktu membacakan buku anak-anak, mengobrol panjang lebar, dan memperkenalkan mereka pada permainan kreatif. Lingkaran kemiskinan dan buruknya perkembangan intelektual dapat berulang dari generasi ke generasi (Nevid, 2002). Kasus yang berhubungan dengan aspek psikososial disebut sebagai retardasi budaya-keluarga (cultural-familial retardation). Pengaruh cultural yang mungkin memberikan kontribusi terhadap gangguan ini termasuk penganiayaan, penelantaran, dan deprivasi sosial. (Durand, 2007)
3. Faktor Biologis a. Pengaruh genetik
Kebanyakan peneliti percaya bahwa di samping pengaruh-pengaruh lingkungan, penderita retardasi mental mungkin dipengaruhi oleh gangguan gen majemuk (lebih dari satu gen) (Abuelo, 1991, dalam Durand, 2007)
Phenylalanine yang terdapat pada banyak makanan. Asam Phenylpyruvic, menumpuk dalam tubuh menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat yang mengakibatkan retardasi mental dan gangguan emosional.
b. Pengaruh kromosomal
Jumlah kromosom dalam sel-sel manusia yang berjumlah 46, baru diketahui 50 tahun yang lalu (Tjio dan Levan, 1956, dalam Durand, 2007). Tiga tahun berikutnya, para peneliti menemukan bahwa penderita Sindroma Down memiliki sebuah kromosom kecil tambahan. Semenjak itu sejumlah penyimpangan kromosom lain menimbulkan retardasi mental telah teridentifikasi yaitu Down syndrome dan Fragile X syndrome.
a) Down syndrome
Sindroma down, merupakan bentuk retardasi mental kromosomal yang paling sering dijumpai, di identifikasi untuk pertama kalinya oleh Langdon Down pada tahun 1866. Gangguan ini disebabkan oleh adanya sebuah kromosom ke 21 ekstra dan oleh karenanya sering disebut dengan trisomi21.(Durand,2007).
Anak retardasi mental yang lahir disebabkan oleh faktor ini pada umumnya adalah Sindroma Down atau Sindroma mongol (mongolism) dengan IQ antar 20 – 60, dan rata-rata mereka memliki IQ 30 – 50. (Wade, 2000, dalam Nevid 2003). Menyatakan abnormalitas kromosom yang paling umum menyebabkan retardasi mental adalah sindrom down yang ditandai oleh adanya kelebihan kromosom atau kromosom ketiga pada pasangan kromosom ke 21, sehingga mengakibatkan jumlah kromosom menjadi 47.
mental dan banyak diantara mereka mengalami masalah fisik seperti gangguan pada pembentukan jantung dan kesulitan pernafasan. (Nevid, 2003).
b) Fragile X syndrome
Fragile X syndrome merupakan tipe umum dari retardasi mental yang diwariskan. Gangguan ini merupakan bentuk retardasi mental paling sering muncul setelah sindrom down (Plomin, dkk, 1994, dalam Nevid, 2003). Gen yang rusak berada pada area kromosom yang tampak rapuh, sehingga disebut Fragile X syndrome. Sindrom ini mempengaruhi laki-laki karena mereka tidak memiliki kromosom X kedua dengan sebuah gen normal untuk mengimbangi mutasinya. Laki-laki dengan sindrom ini biasanya memperlihatkan retardasi mental sedang sampai berat dan memiliki angka hiperaktifitas yang tinggi. Estimasinya adalah 1 dari setiap 2.000 laki-laki lahir dengan sindrom ini Dynkens, dkk, 1998, dalamDurand, 2007).11
Berikut contoh lain dari penyebab retardasi mental akibat kelainan pada sistem tubuh:
1. Infeksi (bawaan dan sesudah lahir) - Rubella kongenitalis
- Meningitis
- Infeksi sitomegalovirus bawaan - Ensefalitis
- Toksoplasmosis kongenitalis - Listeriosis
- Infeksi HIV 2. Kelainan kromosom
- Kesalahan pada jumlah kromosom (Sindroma Down)
- Defek pada kromosom (sindroma X yang rapuh, sindroma Angelman, sindroma Prader-Willi)
- Translokasi kromosom dan sindroma cri du chat
3. Kelainan genetik dan kelainan metabolik yang diturunkan - Galaktosemia
- Penyakit Tay-Sachs
11 Atrof Ardiansyah, “Definisi dan Penyebab Retardasi Mental”
- Fenilketonuria
- Leukodistrofi metakromatik 4. Metabolik
- Sindroma Reye
- Dehidrasi hipernatremik - Hipotiroid kongenital
- Hipoglikemia (diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik)12
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka, melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan, memo, dan dokumen resmi lainnya. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam, rinci dan tuntas.13
Menurut Keirl dan Miller dalam Moleong yang dimaksud dengan penelitian kualitatif
12 Yulia Putri, “Penyebab Retardasi Mental”
(http://yulia-putri.blogspot.com/2010/03/penyebab-retardasi-mental.html, diakses 5 Juni 2013)
adalah "tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan, manusia, kawasannya sendiri, dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya".
Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Pertimbangan penulis menggunakan penelitian kualitatif ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Lexy Moleong14:
1. Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apa bila berhadapan dengan kenyataan ganda
2. Metode ini secara tidak langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden 3. Metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama
terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Menurut Whitney dalam Moh. Nazir bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.15
3.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian karya ilmiah ini dilaksanakan mulai pada bulan April sampai bulan Juni. Dikarenakan sulit untuk mencari narasumber dan keterbatasan peneliti mencari buku yang sesuai dengan judul karya ilmiah ini. Maka narasumber melakukan pendekatan kualitatif dengan studi literatur. Stusi literatur merupakan penelusuran literatur yang bersumber dari buku, media, pakar ataupun dari hasil penelitian orang lain yang bertujuan untuk menyusun dasar teori yang kita gunakan dalam melakukan penelitian. Salah satu sumber acuan di mana
14Ibid, 138
peneliti dapat menggunakannya sebagai penunjuk informasi dalam menelusuri bahan bacaan adalah dengan menggunakan buku referensi.16
3.3 Kehadiran peneliti
Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan. sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat bantu dan berupa dokumen- dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian, namun berfungsi sebagai instrument pendukung. Oleh karena itu, kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti, sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Rachman, bahwa penelitian di samping menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Metode yang digunakan untuk proses pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan proses trianggulasi,
yaitu:17
1. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu pewancara (interviuwer) yang mengajukan pertanyaan dari yang diwawancarai yang memberikan atas itu. Wawancara digunakan oleh peneliti untuk menggunakan menilai keadaan seseorang. Dalam wawancara tersebut biasa dilakukan secara individu maupun dalam bentuk kelompok, sehingga didapat data informatik yang orientik.
Metode interview adalah sebuah dialog atau Tanya jawab yang dilakukan dua orang atau lebih yaitu pewawancara dan terwawancara (nara sumber) dilakukan secara berhadap-hadapan (face to face)18.
Sedangkan interview yang penulis gunakan adalah jenis interview pendekatan yang menggunakan petunjuk umum, yaitu mengharuskan pewawancara membuat kerangka dan garis-garis besar atau pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara, penyusunan pokok-pokok ini dilakukan sebelum wawancara.
16 Sayudjauhari, “Study Literature” (http://sayudjberbagi.wordpress.com/2010/04/29/study-literature/, diakses 2
Juli 2013)
17 Lexy J Moleong, Op.Cit., 135
Dalam hal ini pewawancara harus dapat menciptakan suasana yang santai tetapi serius yang artinya bahwa interview dilakukan dengan sungguh- sungguh, tidak main-main tetapi tidak kaku.19
2. Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang tertulis, metode dokumentasi berarti cara pengumpulan data dengan mencatat data-data yang sudah ada.20 Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa cacatan buku, surat, transkip, majalah, prasasti, notulen, rapat, lengger, agenda dan sebagainya.
Teknik atau studi dokumentasi adalah cara pengumpulan data melalui peninggalan arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil-dalil atau hukum-hukum dan lain-lain berhubungan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian kualitatif teknik pengumpulan data yang utama karena pembuktian hipotesisnya yang diajukan secara logis dan rasional melalui pendapat, teori, atau hukum-hukum, baik mendukung maupun menolak hipotesis tersebut.
3.5 Analisis Data
Dalam suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan komplek. Padanya terdapat regularitas atau pola tertentu, namun penuh dengan variasi (keragaman).21
Analisa data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar.22 Sedangkan metode kualitatif merupakan prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.23
Dalam proses analisis data terhadap komponen-komponen utama yang harus benar-benar dipahami. Komponen tersebut adalah reduksi data, kajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk menganalisis berbagai data yang sudah ada digunakan metode
19 Suharsimi Arikunto, “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakter” (Jakarta: Rineka Cipta,2002), Hlm:133 20 Yatim Riyanto. “Metodologi Penelitian Pendidikan Tinjauan Dasar”.(Surabaya: SIC, 1996), hlm 83
21 Burhan Bungin, “Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis Kearah Penguasaan Modal Aplikasi” (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 53
deskriptif analitik. Metode ini digunakan untuk menggambarkan data yang sudah diperoleh melalui proses analitik yang mendalam dan selanjutnya diakomodasikan dalam bentuk bahasa secara runtut atau dalam bentuk naratif. Analisis data dilakukan secara induktif, yaitu dimulai dari lapangan atau fakta empiris dengan cara terjun ke lapangan, mempelajari fenomena yang ada di lapangan. Analisis data dalam penelitian kualitaif dilakukan secara bersamaan dengan cara proses pengumpulan data Menurut Miles dan Humberman tahapan analisis data
sebagai berikut:24
1. Pengumpulan data
Penelitian mencatat semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan.
2. Reduksi data
Reduksi data yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data-data yang telah direduksi memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti untuk mencarinya sewaktu-waktu diperlukan.
3. Penyajian data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi yang tersusun yang memungkinkan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data merupakan analisis dalam bentuk matrik, network, cart, atau garfis, sehingga data dapat dikuasai.
4. Pengambilan keputusan atau verifikasi
Setelah data disajikan, maka dilakukan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk itu diusahakan mencari pola, model, tema, hubungan, persamaan, hal-hal yang sering muncul, hipotesis dan sebagainya. Jadi dari data tersebut berusaha diambil kesimpulan. Verifikasi dapat dilakukan dengan keputusan, didasarkan pada reduksi data, dan penyajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian.
Keempat komponen tersebut saling interaktif yaitu saling mempengaruhi dan terkait. Pertama-tama dilakukan penelitian di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut tahap pengumpulan data. Karena data-data, pengumpulan penyajian data, Reduksi data,
kesimpulan-24 Milez, M. B. Dan Huberman, A. M. 1992. “Analisis Data Kualitatif”. Penerjemah Tjetjep Rohendi. Jakarta:
kesimpulan atau penafsiran data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data. Setelah direduksi maka kemudian diadakan sajian data, selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data. Apabila ketiga hal tersebut selesai dilakukan, maka diambil suatu keputusan atau verifikasi.
Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas, maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptif-kualitatif, tanpa menggunakan teknik kuantitatif.
Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. Menurut M. Nazir bahwa tujuan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.25
3.6 Tahap-Tahap Penelitian
1. Tahap Pra Lapangan
Menyusun karya ilmiah penelitian dengan mencari dari berbagai sumber mengenai hal-hal yang menyangkut dari tujuan atau isi karya ilmiah ini, mulai dari skripsi, tesis dan sumber dari internet.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Dalam pengumpulan data, penulis mengumpulkan data dengan mewawancarai psikolog
3. Menelaah teori-teori yang relevan 4. Mengidentifikasi data
Data yang sudah terkumpul melalui diidentifikasi untuk memudahkan peneliti dalam menganalisa sesuai tujuan yang diinginkan.
5. Tahap Akhir Penelitian
a. Menyajikan data dalam bentuk dikripsi.
b. Menganalisis data sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pengaruh Retardasi Mental terhadap Gangguan Belajar
Retardasi mental merupakan suatu keadaan dimana perkembangan jiwa seseorang terhenti atau tidak lengkap, yang biasanya ditandai dengan terjadinya kendala dalam melakukan keterampilan selama masa perkembangan. Maka dari itu, tentu saja retardasi mental sangat mempengaruhi proses belajar seseorang atau orang tersebut mengalami gangguan belajar. Menurut dapat kita ketahui bahwa retardasi mental berpengaruh terhadap gangguan belajar.
Berikut adalah kutipan wawancaranya:
“Terdapat beberapa gangguan atau defisit yang dialami anak penyandang tunagrahita :
a. Atensi
perhatian. Anak tunagrahita sering memusatkan perhatian pada benda yang salah, serta sulit mengalokasikan perhatian mereka dengan tepat.
b. Daya ingat
Mereka mengalami kesulitan dalam mengingat informasi.
c. Perkembangan bahasa
Anak tunagrahita mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa dibanding dengan anak-anak umumnya, mereka lambat mengalami kemajuan dan berakhir dengan tingkat perkembangan yang lebih rendah.
d. Self regulation
Penyandang tunagrahita mengalami kesulitan dalam menentukan strategi self regulation-nya (kemampuan seseorang untuk mengatur tingkahlakunya sendiri ), seperti misalnya, mengulang suatu materi, kesulitan melakukan strategi apa yang dibutuhkan untuk melakukan suatu tugas, keterbatasan dalam kemampuan merencanakan, bagaimana menggunakan suatu strategi tertentu, serta bagaimana mengevaluasi seberapa baik strategi tersebut bekerja.
e. Perkembangan sosial
Anak tunagrahita cenderung sulit mendapatkan teman dan mempertahankan pertemanan tersebut. Pada umumnya, anak tunagrahita tidak tahu bagaimana memulai interaksi mendapat kesempatan untuk bersosialisasi dengan orang lain.
f. Motivasi
Karena anak tunagrahita selalu mendapat kegagalan untuk menyelesaikan tugas tugas anak seusianya, hal ini
2. Gangguan belajar yang terjadi akibat retardasi mental
Orang dewasa dengan gangguan belajar ringan mungkin sulit menghadapi stress dan seringkali memerlukan bantuan untuk are fungsi sosial yang lebih rumit, seperti mengasuh anak dan mengatur keuangan. Namun demikian, sebagian besar mampu untuk hidup mandiri dalam masyarakat dan melakukan pekerjaan tertentu. Orang dengan gangguan belajar sedang biasanya memiliki bahasa yang terbatas namun berguna. Gangguan belajar berat dan sangat berat dikaitkan dengan kemampuan verbal dan mengurus diri yang sangat terbatas serta masalah/keterbatasan
fisik terkait (epilepsi pada 33%, inkontinensia pada 10%, ketidakmampuan untuk berjalan pada 15%) sangat sering dijumpai. Komunikasi dapat difasilitasi dengan teknik nonverbal seperti menunjuk atau isyarat.
Berikut adalah kutipan wawancaranya:
Karakteristik anak terbelakang mental ringan (mild) adalah mereka termasuk yang mampu didik, bila dilihat dari segi pendidikan. Bila dilakukan observasi mendalam mereka kurang dalam hal kekuatan, kecepatan dan koordinasi gerak motorik/fisik, serta sering memiliki masalah kesehatan.
Karakteristik anak tunagrahita sedang adalah mereka yang digolongkan sebagai anak yang mampu latih, dimana mereka dapat dilatih untuk beberapa ketrampilan tertentu. Meskipun seringkali berespon lama terhadap pendidikan dan pelatihan, jika diberikan kesempatan pendidikan yang sesuai mereka dapat dididik untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan-kemampuan tertentu.
Karakteristik tunagrahita berat adalah mereka yang memperlihatkan banyak masalah dan kesulitan, meskipun disekolahkan di sekolah khusus. Tidak mampu mengurus diri sendiri, tanpa bantuan orang lain meski pada tugas sederhana, sedikit sekali yang mampu berinteraksi sosial, dan mereka hanya bisa berkomunikasi secara vokal setelah mendapat pelatihan intensif.
Pada karakteristik tunagrahita sangat berat, meskipun mereka dapat berjalan dan makan sendiri, namun kemampuan berbicara dan berbahasa mereka sangat rendah, dengan karakteristik, antara lain;
- Interaksi sosial sangat terbatas
- Kepala yang besar dan sering bergoyang-goyang.
- Penyesuaian diri sangat kurang, tanpa bantuan orang lain mereka tidak dapat mandiri
- Membutuhkan pelayanan medis yang intensif27
3. Kelainan pada tubuh yang paling sering menyebabkan retardasi mental
Infeksi otak, seperti encephalitis dan meningitis juga dapat menyebabkan retardasi mental. Phenyltokeltonuria (PKU) merupakan gangguan genetis yang terjadi pada 1 diantara 10.000 kelahiran (Plomin, dkk, 1994, dalam Nevid, 2002). Serta Down syndrome dan Fragile X syndrome.
Berikut adalah wawancaranya:
Sebab-sebab yang bersumber dari luar, antara lain:
Keracunan atau efek zat tertentu/substansi waktu ibu hamil, seperti penyakit sifilis, keracunan, kokain, tembakau, alkohol (fetal alcohol syndrome/AFS). Kerusakan pada otak waktu kelahiran (prematur atau alat bantu saat kelahiran). Infeksi pada ibu hamil, seperti; rubella (campak jerman), virus tokso, herpes simplex, yang ditularkan ibu pada bayi. Gangguan pada otak, misalnya, infeksi otak, tumor, hydhrocephalus atau microcephalus
Sebab-sebab yang bersumber dari dalam , antara lain:
Disebabkan oleh faktor keturunan, dapat disebabkan oleh factor biologis/organism atau syndrome-syndrome yang sifatnya genetis. Contoh : chromosome abnormality, Prader Willy Syndrome, William Syndrome, Fragile-X pada wanita.28
4. Anak penyandang retardasi mental dapat tumbuh berkembang menjadi tidak retardasi mental
Untuk anak-anak dengan retardasi mental, sudah seharusnya mendapatkan kelas khusus dimana guru mengajarkan keterampilan pokok misalnya konsep uang, konsep waktu, keterampilan hidup mandiri, perawatan diri dan kebersihan, akses masyarakat, kegiatan rekreasi, dan pelatihan kejuruan dan melatih anak agar anak dapat menerapkannya didalam kehidupannya. Sehingga walaupun anak tersebut menunjukkan beberapa kemajuan melalui dukungan/bimbingan yang tepat. Semakin rendah tingkat kecerdasan anak tunagrahita, semakin besar bimbingan dan pendampingan diperlukan.29
5. Anak yang mengalami retardasi mental itu harus belajar di sekolah biasa bukan SLB agar menjadi anak yang tidak mengalami retardasi mental
Penanganan pada penyandang retardasi mental biasanya dengan tinggal dirumah bersama keluarganya. Namun, tetap harus disediakan dukungan pusat pelayanan perawatan primer, layanan pendidikan, dan layanan sosial. Pada anak penyandang retardasi mental ringan biasanya tetap diberikan dukungan pendidikan disekolah biasa meskipun anak tersebut harus lebih bekerja keras agar dapat mengejar anak yang tidak mengalami retardasi mental.
Berikut adalah wawancaranya:
Anak yang mengalami keterbelakangan mental dapat menunjukkan beberapa kemajuan melalui dukungan/bimbingan yang tepat. Semakin rendah tingkat kecerdasan anak tunagrahita, semakin besar bimbingan dan pendampingan diperlukan.
Anak penyandang tunagrahita dapat mengikuti pendidikan di sekolah reguler yang menyediakan program inklusi, dengan catatan melalui assessment terlebih dahulu yang dilakukan oleh seorang professional dibidang psikologi pendidikan.30
6. Pencegahan retardasi mental pada anak
Upaya pencegahan retardasi mental dapat dilakukan dengan memberikan nutrisi yang baik pada anak. Mengetahui dengan mengkonsultasikan dengan dokter mengenai efek atau dampak yang terjadi pada anak ketika orangtua mengalami penyakit yang dapat mengakibatkan dampak yang buruk pada anak yang dilahirkan. Banyak sumber menyatakan bahwa retardasi mental dapat dideteksi sebelum terjadi kelahiran, melalui konsultsi mengenai genetik dan diagnosis antennal. Secara khusus retardasi mental dapat diketahui melalui amniosentesis atau sampel vili korion, dengan pilihan terminasi kehamilan. Peningkatan perawatan pada saat perinatal juga mengurangi resiko cidera otak. Serta dapat dilakukan penatalaksanaan dari masalah hormonal atau metabolic sebelum terjadi retardasi mental.
Berikut adalah wawancaranya:
Terdapat beberapa faktor penyebab retardasi mental, yaitu faktor biologis/organis dan faktor genetik. Upaya pencegahan yang terkait dengan faktor organis/biologis antara lain dengan pola makan dan cara hidup yang sehat serta terpenuhi kebutuhan nutrisi pada ibu hamil, memantau atau memeriksa kesehatan ibu hamil maupun tumbuh kembang bayi/balita secara rutin. Sampai saat ini pencegahan yang disebabkan faktor genetik masih dalam penelitian sebab terkait rekayasa genetik, karena sifatnya menurun atau bawaan. Penting saat calon pasangan hendak menikah diperlukan konsultasi pre-wedding terkait dengan kesehatan reproduksi. Sehingga apapun yang terjadi saat merencanakan memiliki anak, mereka siap menjadi orang tua yang baik.31
7. Penanganan retardasi mental pada anak
Penanganan pada penyandang retardasi mental biasanya dengan tinggal dirumah bersama keluarganya. Namun, tetap harus disediakan dukungan pusat pelayanan perawatan primer, layanan pendidikan, dan layanan sosial. Pada anak penyandang retardasi mental ringan biasanya tetap diberikan dukungan pendidikan
disekolah biasa meskipun anak tersebut harus lebih bekerja keras agar dapat mengejar anak yang tidak mengalami retardasi mental.
Berikut adalah wawancaranya:
- Untuk penanganan pada penyandang retardasi mental anak dengan cacat mental ringan (mild) masih bisa dididik di sekolah umum.
- Untuk penanganan retardasi mental sedang seringkali anak memiliki respon lama terhadap pendidikan dan pelatihan, jika diberikan kesempatan
pendidikan yang sesuai mereka dapat dididik untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan-kemampuan tertentu.
- Untuk penanganan retardasi mental berat diharuskan sekolah di sekolah khusus/SLB.
- Untuk penanganan retardasi mental sangat berat juga diharuskan sekolah di sekolah khusus/SLB. Namun penanganan pada anak retardasi mental sangat berat harus diberikan perawatan atau penanganan lebih dibanding anak penyandang retardasi mental berat.32
8. Upaya mengatasi gangguan belajar pada anak retardasi mental
Anak yang mengalami gangguan belajar sering kali akan menunjukkan gangguan perilaku. Hal ini bisa berdampak pada hubungan pasien dengan orang-orang di sekitarnya (keluarga, guru dan teman-teman sebaya). Untuk itu anak perlu didampingi untuk menghadapi situasi ini.
Orang tua merupakan guru yang pertama dan terdekat dengan anak. Dengan demikian, peran orang tua sangat penting untuk mengenali permasalahan apa yang dialami anak. Selain itu, penting juga untuk menemukan kekuatan atau kemampuan yang dimiliki anak. Hal ini akan membantu orang tua mendukung anak mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri anak.
Berikut adalah wawancaranya:
Upaya mengatasi gangguan belajar dapat dilakukan dengan tetap memberikan pendidikan pada anak. Serta memberikan pengawasan dan perawatan dari orang tua dalam keluarga. Pengembangan pendidikan khusus untuk anak tunagrahita, lebih ditujukan agar tercapai penyesuaian diri setelah mereka selesai mendapat pendidikan dasar.33
Jadi retardasi mental merupakan suatu keadaan dimana perkembangan jiwa seseorang terhenti. Gangguan belajar terjadi pada retardasi mental tergantung pada tingkatannya. Dan beberapa kelainan pada tubuh dapat menyebabkan retardasi mental. Dengan perawatan dan pendidikan khusus untuk anak penyandang retardasi mental, maka anak tersebut dapat tumbuh berkembang menjadi tidak retardasi mental seiring dengan proses belajarnya. Sehingga peran orangtua sangat penting dalam mendidik anaknya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa retardasi mental merupakan salah satu penyebab dari gangguan belajar pada anak, meskipun retardasi mental bukan merupakan satu-satunya penyebab retardasi mental. Gangguan belajar pada anak penyandang retardasi mental biasanya berupa masalah dalam memusatkan perhatian, kesulitan dalam mengingat informasi, mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa, mengalami kesulitan dalam menentukan strategi self regulation-nya (kemampuan seseorang untuk mengatur tingkah lakunya sendiri), tidak tahu bagaimana memulai interaksi dengan orang lain, kurang termotivasi dan cenderung mudah putus asa, dan terhambat dalam hampir semua prestasi akademis.
Retardasi mental memiliki faktor-faktor penyebabnya, yaitu
a. Sebab-sebab yang bersumber dari luar, antara lain:
- Maternal malnutrition. Yaitu kekurangan nutrisi pada ibu hamil, tidak menjaga pola makan yang sehat.
- Radiasi sinar X-rays atau radiasi nuklir.
- Kerusakan pada otak waktu kelahiran (prematur atau alat bantu saat kelahiran).
- Infeksi pada ibu hamil, seperti; rubella (campak jerman), virus tokso, herpes simplex, yang ditularkan ibu pada bayi.
- Gangguan pada otak, misalnya, infeksi otak, tumor, hydhrocephalus atau microcephalus.
- Pada kasus-kasus abusif (penyiksaan, penolakan atau kurang stimulasi yang ekstrim).
b. Sebab-sebab yang bersumber dari dalam , antara lain:
Disebabkan oleh faktor keturunan, dapat disebabkan oleh faktor biologis/organism atau syndrome-syndrome yang sifatnya genetis. Contoh : chromosome abnormality, Prader Willy Syndrome, William Syndrome, Fragile-X pada wanita.
Dalam upaya pencegahan retardasi mental dapat dilakukan dengan memberikan nutrisi yang baik pada anak. Mengetahui dengan mengkonsultasikan dengan dokter mengenai efek atau dampak yang terjadi pada anak ketika orangtua mengalami penyakit yang dapat mengakibatkan dampak yang buruk pada anak yang dilahirkan. Banyak sumber menyatakan bahwa retardasi mental dapat dideteksi sebelum terjadi kelahiran, melalui konsultasi mengenai genetik dan diagnosis antennal. Secara khusus retardasi mental dapat diketahui melalui amniosentesis atau sampel vili korion, dengan pilihan terminasi kehamilan. Peningkatan perawatan pada saat perinatal juga mengurangi resiko cidera otak. Serta dapat dilakukan penatalaksanaan dari masalah hormonal atau metabolik sebelum terjadi retardasi mental.
5.2 Saran
1. Seharusnya para calon orang tua yang akan menikah melakukan konsultasi dan pemeriksaan kepada dokter ahli, khususnya dibidang genetik untuk mendeteksi kemungkinan retardasi mental pada anak jika terjadi kelahiran. Dengan begitu penderita retardasi mental dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan dalam kehidupan manusia.
Daftar Pustaka
Buku:
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakter (Jakarta: Rineka Cipta)
Bungi, Burhan. 2003. Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan
Metodologis Kearah Penguasaan Modal Aplikasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada) Hanitijo, Rony. 1994. Metode Penelitian Hukum dan Jurimeter (Jakarta: Ghalis)
Katona, Cornelius., Cooper, Claudia., & Robertson, Mary. 2012. At a Glance Psikiatri (Jakarta: Erlangga)
Miles, Matthew B. & Huberman, A. M. 1992. Analisis Data Kualitatif. Penerjemah Tjetjep Rohandi (Jakarta: UI-Press)
Moh. Nazir Ph.D. 2003. Metode Penelitian (Jakarta: PT. Ghalia Indonesia)
Moleong, Lexy J. 2004. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung:Remaja Rosda Karya) Riyanto, Yatim. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan Tinjauan Dasar. (Surabaya: SIC)
Tesis:
Hidayat, Andy. 2002. Indeks Sefalometri dan Tangan Anak Laki-laki dengan Berbagai Tingkat Retardasi Mental. [Tesis]. Jakarta: Universitas Indonesia.
Internet:
Ardiansyah, Atrof . 2012. Definisi dan Penyebab Retardasi Mental
(http://www.psycholovegy.com/2012/08/definisi-dan-penyebab-retardasi-mental.html, diakses 5 Juni 2013)
Gadiesz, 2010. Retardasi Mental (http://aquw-bian.blogspot.com/2010/02/retardasi-mental.html, diakses 10 Juni 2013)
Kania Inda, “Mengenal Gangguan Belajar”
(http://dukunganmoralanakindigo.blogspot.com/2010/05/mengenal gangguan-belajar.html, diakses 16 Juni 2013)
Noorika, Andda. 2013. Studi Kasus Retardasi Mental pada Anak.
(http://pustakasari379.blogspot.com/2013/03/studi-kasus-retardasi-mental-pada-anak.html, diakses 3 Mei 2013)
Sayudjauhari, “Study Literature”
(http://sayudjberbagi.wordpress.com/2010/04/29/studyliterature/, diakses 2 Juli 2013)
Lampiran
1) Adakah pengaruh retardasi mental terhadap gangguan belajar?
Istilah-istilah yang sering digunakan untuk mereka yang mengalami keterbelakangan mental atau mental retardasi antara lain; feeble mindedness (lemah pikiran), imbecile, dan cacat mental. Tuna Grahita, kata lain yang digunakan untuk retardasi mental (mental retardation) yang berarti terbelakang mental .
Definisi yang dikemukakan oleh AAMR (American Asscosiation Mental Retardation) :
“Keterbelakangan mental menunjukan adanya keterbatasan yang signifikan dalam berfungsi, baik secara intlektual maupun perilaku adaptif yang terwujud melalui kemampuan adaptif konseptual, sosial dan praktikal. Keadaan ini muncul sebelum usia 18 tahun“. (Hallaha & Kauffman, 2006).
kemampuan konseptual, sosial dan praktikal yang dipelajari seseorang untuk dapat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari (life skill).
Dengan batasan diatas, maka untuk menentukan seseorang apakah seseorang itu penyandang terbelakang mental/tunagrahita atau tidak, maka diperlukan assesment oleh seorang profesional dibidangnya, yang meliputi kedua fungsi yaitu fungsi intelektual dan keterampilan adaptif.
Gangguan atau defisit yang dialami anak penyandang tunagrahita : a) Atensi
Kesulitan belajar pada anak tunagrahita, lebih disebabkan karena masalah dalam dalam memusatkan perhatian. Anak tunagrahita sering memusatkan perhatian pada benda yang salah, serta sulit mengalokasikan perhatian mereka dengan tepat.
b) Daya ingat
Mereka mengalami kesulitan dalam mengingat informasi. c) Perkembangan bahasa
Anak tunagrahita mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa dibanding dengan anak-anak umumnya, mereka lambat mengalami kemajuan dan berakhir dengan tingkat perkembangan yang lebih rendah.
d) Self regulation
Penyandang tunagrahita mengalami kesulitan dalam menentukan strategi self regulation-nya (kemampuan seseorang untuk mengatur tingkahlakunya sendiri ), seperti misalnya, mengulang suatu materi, kesulitan melakukan strategi apa yang dibutuhkan untuk melakukan suatu tugas, keterbatasan dalam kemampuan merencanakan, bagaimana menggunakan suatu strategi tertentu, serta bagaimana mengevaluasi seberapa baik strategi tersebut bekerja.
e) Perkembangan sosial
Anak tunagrahita cenderung sulit mendapatkan teman dan mempertahankan pertemanan tersebut. Pada umumnya, anak tunagrahita tidak tahu bagaimana memulai interaksi dengan oranglain, sejak mereka di usia dini. Seringkali mereka menampilkan perilaku yang membuat teman-teman mereka menjauh, misalnya karena kurang fokus, dan cenderung mengganggu temannya. Konsep diri mereka biasanya buruk dan kemungkinan besar mereka kurang mendapat kesempatan untuk bersosialisasi dengan orang lain.
f) Motivasi
dan cenderung mudah putus asa ketika dihadapkan pada tugas yang menantang.
g) Prestasi akademis
Secara akademis anak tunagrahita akan terhambat dalam hampir semua prestasi akademis, dibanding dengan anak-anak yang seusia-nya.
2) Apa saja gangguan belajar yang terjadi setiap tingkat retardasi mental?
a. Karakteristik Tunagrahita Ringan (Mild)
Karakteristik anak terbelakang mental ringan (mild) adalah mereka termasuk yang mampu didik, bila dilihat dari segi pendidikan. Mereka pun tidak memperlihatkan kelainan fisik yang mencolok, meskipun perkembangan fisiknya sedikit agak lambat dari pada anak yang termasuk rata-rata. Tinggi dan berat badan mereka tidak berbeda dengan anak-anak lain umumnya. Namun bila dilakukan observasi mendalam mereka kurang dalam hal kekuatan, kecepatan dan koordinasi gerak motorik/fisik, serta sering memiliki masalah kesehatan.
Anak dengan cacat mental ringan (mild) ini masih bisa dididik di sekolah umum, meskipun sedikit lebih rendah dalam kemampuan akademis dibanding dengan anak-anak normal pada umumnya. Rentang perhatian mereka juga pendek sehingga sulit berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Mereka sering mengalami frustrasi ketika diminta untuk menjalankan aktifitas sosial atau menyelesaikan tugas-tugas sekolah/akademis sesuai usia mereka, tingkah laku mereka bisa menjadi tidak baik, acting out di kelas atau menolak untuk melakukan tugas kelas, mereka kadang-kadang memperlihatkan rasa malu atau pendiam. Berikut pandangan dan kenyataan mengenai anak dengan tunagrahita ‘ringan’ dan ‘sedang’.
Tabel 1
Mitos dan Fakta Tentang Perkembangan Anak Penyandang Retardasi Mental
MITOS FAKTA
Anak tunagrahita memiliki keterbatasan intelektual seumur hidup
Fungsi intelektual tidak statis. Khususnya bagi anak dengan perkembangan kemampuan yang ringan dan sedang, perintah atau tugas yang terus menerus dapat membuat perubahan yang besaru untuk dikemudian hari.
mempelajari hal-hal tertentu saja hidup bagi semua orang. Jadi siapapun dapat mempelajari sesuat, begitu juga dengan anak tunagrahita
Sebagian besar anak dengan keterbelakangan perkembangan sudah teridentifikasi pada saat bayi
Dari kebanyakan kasus banyak anak tunagrahita terdeteksi setelah masuk sekolah
Tidak mungkin menggabukan anak tunagrahita dalam lingkungan belajar dengan anak reguler
Siswa/I dengan masalah intlektual selalu belajar lebih keras dan belajar lebih baik jika mereka berintegrasi dengan siswa reguler. Hasil tes tunagrahita biasanya
mempunyai kemampuan paling tidak pada garis batas antara IQ rata-rata dan IQ dibawah rata-rata (borderline) dan tentu kemampuan adaptifnya juga dibawah normal
Tes IQ mungkin bisa dijadikan indikator dari kemampuan mental seseorang. Kemampuan adaptif seseorang tidak selamanya tercermin pada hasil tes IQ. Latihan, pengalaman motovasi dan lingkungan sosial sangat besar pengaruhnya pada perkembangan kemampuan adaptif seseorang.
Seseorang anak yang telah terdiagnosa tunagrahita tingkat tertentu, tidak akan berubah selama hidupnya
Tingkat fungsi mental mungkin saja dapat berubah terutama pada anak-anak tunagrahita yang tergolong ringan.
b. Karakteristik anak Tunagrahita Sedang (Moderate)
penyandang pada kategori severe dan profound. Sering kali mereka memiliki koordinasi fisik yang buruk dan akan mengalami masalah pada banyak situasi sosial. Mereka pun menampakkan adanya gangguan pada fungsi bicara.
c. Karakteristik Tunagrahita Berat (Severe)
Karakteristik tunagrahita sedang adalah mereka yang memperlihatkan banyak masalah dan kesulitan, meskipun disekolahkan di sekolah khusus. Anak dengan cacat mental ‘severe’ :
- Membutuhkan perlindungan hidup dan pengawasan yang teliti.
- Membutuhkan pelayanan dan pemeliharaan yang terus menerus.
- Tidak mampu mengurus diri sendiri, tanpa bantuan orang lain meski pada tugas sederhana.
- Sedikit sekali yang mampu berinteraksi sosial.
- Mereka hanya bisa berkomunikasi secara vokal setelah mendapat pelatihan intensif.
- Tanda-tanda fisik, seringkali lidah menjulur keluar, bersamaan dengan keluarnya air liur.
- Kepala sedikit lebih besar dari biasanya.
- Kondisi fisik lemah.
- Mereka hanya bisa dilatih ketrampilan khusus selama kondisi fisiknya memungkinkan.
d. Karakteristik Tunagrahita Sangat Berat (Profound)
Memiliki problem yang serius baik yang menyangkut kondisi fisik, inteleglensi serta program pendidikan yang tepat bagi mereka. Pada umumnya, terjadi kerusakan pada otak serta kelainan fisik yang nyata, seperti hydrocephalus, mongolism, dsb
Meskipun mereka dapat berjalan dan makan sendiri, namun kemampuan berbicara dan berbahasa mereka sangat rendah, dengan karakteristik, antara lain;
- Interaksi sosial sangat terbatas
- Kepala yang besar dan sering bergoyang-goyang.
- Penyesuaian diri sangat kurang, tanpa bantuan orang lain mereka tidak dapat mandiri
- Membutuhkan pelayanan medis yang intensif
3) Apa saja kelainan pada tubuh yang paling sering menyebabkan retardasi mental?
a) Sebab-sebab yang bersumber dari luar, antara lain:
-Maternal malnutrition. Yaitu kekurangan nutrisi pada ibu hamil, tidak menjaga pola makan yang sehat.
-Keracunan atau efek zat tertentu/substansi waktu ibu hamil, seperti penyakit sifilis, keracunan, kokain, tembakau, alkohol (fetal alcohol syndrome/AFS).
-Radiasi sinar X-rays atau radiasi nuklir.
-Kerusakan pada otak waktu kelahiran (prematur atau alat bantu saat kelahiran).
-Infeksi pada ibu hamil, seperti; rubella (campak jerman), virus tokso, herpes simplex, yang ditularkan ibu pada bayi.
-Gangguan pada otak, misalnya, infeksi otak, tumor, hydhrocephalus atau microcephalus.
-Pada kasus-kasus abusif (penyiksaan, penolakan atau kurang stimulasi yang ekstrim).
b) Sebab-sebab yang bersumber dari dalam , antara lain:
Disebabkan oleh faktor keturunan, dapat disebabkan oleh factor biologis /organism atau syndrome-syndrome yang sifatnya genetis. Contoh : chromosome abnormality, Prader Willy Syndrome, William Syndrome, Fragile-X pada wanita.
4) Jika ada seorang anak mengalami retardasi mental, bisakah dia tumbuh berkembang menjadi tidak retardasi mental?
The American Psychology Association (APA), mengklasifikasikan anak tunagrahita sesuai dengan tingkat keparahannya, yaitu :
Klasifikasi Anak Tunagrahita Berdasarkan Skor IQ
Klasifikasi anak Tunagrahita berdasarkan skor IQ
Klasifikasi Rentang IQ
Mild (ringan/mampu didik) 55 – 77
Moderate (sedang/mampu latih) 40 – 55 Severe ( cacat mental berat ) 25 – 40 Profound (cacat mental sangat berat) Dibawah 25
Berdasarkan klasifikasi tersebut, bahwa anak yang mengalami keterbelakangan mental dapat menunjukkan beberapa kemajuan melalui dukungan/bimbingan yang tepat. Semakin rendah tingkat kecerdasan anak tunagrahita, semakin besar bimbingan dan pendampingan diperlukan.
5) Benar tidak anak yang mengalami retardasi mental itu harus belajar di sekolah biasa bukan SLB agar menjadi anak yang tidak mengalami retardasi mental?
Anak penyandang tunagrahita dapat mengikuti pendidikan di sekolah reguler yang menyediakan program inklusi, dengan catatan melalui assessment terlebih dahulu yang dilakukan oleh seorang professional dibidang psikologi pendidikan.
6) Bagaimana cara pencegahan retardasi mental pada anak?
Terdapat beberapa faktor penyebab retardasi mental, yaitu faktor biologis/organis dan faktor genetik. Upaya pencegahan yang terkait dengan faktor organis/biologis antara lain dengan pola makan dan cara hidup yang sehat serta terpenuhi kebutuhan nutrisi pada ibu hamil, memantau atau memeriksa kesehatan ibu hamil maupun tumbuh kembang bayi/balita secara rutin. Sampai saat ini pencegahan yang disebabkan faktor genetik masih dalam penelitian sebab terkait rekayasa genetik, karena sifatnya menurun atau bawaan.
Penting saat calon pasangan hendak menikah diperlukan konsultasi pre-wedding terkait dengan kesehatan reproduksi. Sehingga apapun yang terjadi saat merencanakan memiliki anak, mereka siap menjadi orang tua yang baik.
7) Bagaimana cara penanganan retardasi mental pada anak?
rendah dalam kemampuan akademis dibanding dengan anak-anak normal pada umumnya.
Untuk penanganan retardasi mental sedang seringkali anak memiliki respon lama terhadap pendidikan dan pelatihan, jika diberikan kesempatan pendidikan yang sesuai mereka dapat dididik untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan-kemampuan tertentu. Mereka dapat dilatih untuk mengurus dirinya sendiri serta dilatih beberapa kemampuan membaca dan menulis sederhana.
Untuk penanganan retardasi mental berat diharuskan sekolah di sekolah khusus/SLB. Namun masih tetap mengalami kesulitan dalam melakukan proses belajar di sekolah khusus tersebut.
Untuk penanganan retardasi mental sangat berat juga diharuskan sekolah di sekolah khusus/SLB. Namun penanganan pada anak retardasi mental sangat berat harus diberikan perawatan atau penanganan lebih dibanding anak penyandang retardasi mental berat.
8) Bagaimana upaya mengatasi gangguan belajar pada anak retardasi mental?
Dengan tetap memberikan pendidikan pada anak. Serta memberikan pengawasan dan perawatan dari orang tua dalam keluarga. Pengembangan pendidikan khusus untuk anak tunagrahita, lebih ditujukan agar tercapai penyesuaian diri setelah mereka selesai mendapat pendidikan dasar. Pada usia 18-19 tahun, mereka diharapkan :
1. Menampilkan harga diri
- Mengenal diri sendiri
- Tidak tergantung pada orang lain 2. Mampu melakukan hubungan sosial
- Dapat bergaul
- Dapat menerima norma masyarakat
3. Dari sisi ekonomi, mereka mampu bekerja untuk membantu dirinya dalam kegiatan produktif
4. Mampu memperlihatkan tanggung jawab, misalnya dapat berpartisipasi dengan masyarakat umum.