• Tidak ada hasil yang ditemukan

sejarah islam di asia tenggara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "sejarah islam di asia tenggara"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas Terstruktur Dosen Pengampu Sejarah Islam Asia Tenggara M. Fauzan,M.Ag

ISLAM DI THAILAND

KELOMPOK 11

1. ANI LESTARI (11411202793) 2. ISMIYATUL RAHMAH (11411200149) 3. RIJALUL

KELAS : 2 G

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS SULTAN SYARIF KASIM RIAU

TAHUN AKADEMIK 2014/2015

(2)

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya,dan tidak lupa kepada junjungan alam dan teladan bagi umat yakni Nabi besar Muhammad SAW sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini, yang diajukan untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah SEJARAH ISLAM ASIA TENGGARA yang berjudul “Islam di Thailand”.

Makalah ini dapat diselesaikan tidak jauh dari kerja sama anggota kelompok dan saya berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai tepat waktu.

Makalah ini telah disusun berdasarkan sumber-sumber yang ada . Namun kami selaku penulis sangat menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin agar makalah ini dapat digunakan selayaknya. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk membuat makalah selanjutnya lebih baik dan sempurna.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Pekanbaru, Maret 2015

Penyusun

(3)

KATA PENGANTAR ... DAFTAR ISI ... BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... B. Rumusan Masalah ... BAB II PEMBAHASAN

A. Proses Masuknya Islam ke Thailand ... B. Problema Minioritas Muslim Thailand ... C. Minioritas Muslim Thailand (Akar Sejarah) ... D. Minioritas Muslim Thailand dan Kebijakan Pemerintah ... E. Perkembangan Kontemporer Minioritas Muslim Thailand ... F. Pendidikan islam di Thailand ... BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ... B. Saran ...

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

(4)

Pattani, Yala, Narathiwat, Satun dan sekitarnya yang dalam sejarahnya adalah bagian dari Daulah Islamiyyah Pattani. Dengan jumlah umat yang menjadi minoritas ini, walau menjadi agama ke-dua terbesar setelah Buddha, umat Islam Thailand sering mendapat serangan dari umat Buddha (umat Buddha garis keras), intimidasi, bahkan pembunuhan masal.

Dalam makalah ini, pemakalah akan mencoba membahas beberapa hal penting tentang Islam di Thailand. Antara lain: Sejarah masuknya Islam di Thailand,Problema Minioritas Muslim Thailand,Minoritas Muslim Thailamd (akar sejarah),Minoritas Muslim Thailand dan Kebijakan Pemerintah, Perkembangan Kontemporer Minoritas Muslim Thailand . Hal-hal tersebut menjadi pembahasan pemakalah dalam tulisan ini, karena merupakan sebuah upaya besar dalam mengangkat dan menyebarkan agama Islam.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah masuknya islam di Thailand ? 2. Apa problema minoritas Muslim Thailand?

3. Bagaimana akar sejarah minoritas Muslim Thailand?

4. Bagaimana perkembangan kontemporer minoritas muslim Thailand? 5. Bagaimana kebijakan pemerintah terhadap minoritas Muslim Thailand? 6. Bagaimana pendidikan islam di Thailand?

BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Masuknya Islam ke Thailand

(5)

pada abad ke-16. Meski mengalami tekanan yang kuat, Thailand tetap bertahan sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh negara Eropa. Namun demikian,pengaruh Barat,termasuk ancaman kekerasan,mengakibatkan berbagai perubahan pada abad ke-19 dan diberikannya banyak kelonggaran bagi pedagang-pedagan Britania.1

Muslim di Thailand sekitar 15 persen, dibandingkan penganut Budha, sekitar 80 persen. Mayoritas Muslim tinggal di Selatan Thailand, sekitar 1,5 juta jiwa, atau 80 persen dari total penduduk, khususnya di Patani, Yala dan Narathiwat, tiga provinsi yang sangat mewarnai dinamika di Thailand Selatan. Thailand Selatan terdiri dari lima provinsi: Pattani, Yala, Narathiwat, Satun dan Songkhla, dengan total penduduk 6.326.732 (Kantor Statistik Nasional, Thailand, 2002). Mayoritas penduduk Muslim terdapat di empat provinsi: Pattani, Yala, Narathiwat dan Satun, yaitu sekitar 71% diperkotaan, dan 86 % di pedesaan sedangkan di Songkhla, Muslim sekitar 19 %, minoritas, dan 76.6 % Buddha. Sementara mayoritas penduduk yang berbahasa Melayu, rata-rata 70% berada di tiga provinsi: Pattani, Yala dan Narathiwat, sementara penduduk berbahasa China, ada di tiga provinsi: Narathiwat, 0.3 %, Pattani, 1.0 %, dan Yala, 3.0 % (Sensus Penduduk, Thailand, 2000).

Ada beberapa teori tentang masuknya Islam di Thailand. Diantaranya ada yang mengatakan Islam masuk ke Thailand pada abad ke-10 melalui para pedagang dari Arab. Ada pula yang mengatakan Islam masuk ke Thailand melalui Kerajaan Samudra Pasai di Aceh. Jika melihat peta Thailand, akan mendapatkan daerah-daerah yang berpenduduk muslim berada persis di sebelah Negara-negara melayu, khususnya Malaysia. Hal ini sangat berkaitan erat dengan sejarah masuknya Islam di Thailand, “jika dikatakan masuk”. Karena kenyataanya dalam sejarah, Islam bukan masuk Thailand, tapi lebih dulu ada sebelum Kerajaan Thailand “ Thai Kingdom” berdiri pada abad ke-9. Islam berada di daerah yang sekarang menjadi bagian Thailand Selatan sejak awal mula penyebaran Islam dari Jazirah Arab. Hal ini bisa dilihat dari fakta sejarah, seperti lukisan kuno yang menggambarkan bangsa Arab di Ayuthaya, sebuah daerah di Thailand dan juga keberhasilan bangsa Arab dalam mendirikan Daulah Islamiyah Pattani menjadi bukti bahwa Islam sudah ada lebih dulu sebelum Kerajaan Thai. Lebih dari itu, penyebaran Islam di 1 Dari Wikipedia Indonesia,ensiklopedia bebas Berbahasa

(6)

kawasan Asia Tenggara merupakan suatu kesatuan dakwah Islam dari Arab, masa khilafah Umar Bin Khatab” (teori arab). Entah daerah mana yang lebih dahulu didatangi oleh utusan dakwah dari Arab. Akan tetapi secara historis, Islam sudah menyebar di beberapa kawasan Asia Tenggara sejak lama, di Malaka, Aceh (Nusantara), serta Malayan Peninsula termasuk daerah melayu yang berada di daerah Siam (Thailand).

Pada tahun 1613, d’Eredia memperkirakan bahwa Patani masuk Islam sebelum Malaka yang secara tradisional dikenal sebagai “darussalaam (tempat damai) pertama” dikawasan itu. Dalam penelitiannya mengenai kedatangan Islam di Indonesia G.W.J Drewes menemukan bahwa di Trengganu, yang merupakan salah satu tetangga Patani, agama baru itu sudah dianut secara mapan menjelang 1386 atau 1387. Dari penemuan ini Wyatt dan Teeuw menarik kesimpulan bahwa tidak ada alasan mengapa (agama itu) belum sampai di Patani menjelang tahun itu terutama jika diingat bahwa Patani terkenal sebagai sebuah pusat Islam yang awal.

Pada puncak kekuasaan patani awal abad ke 17 diletakkan dasar-dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Ini dimungkinkan oleh hubungan yang semakin intensif antara negeri Arab yang merupakan pusat Islam dan Asia Tenggara yang ketika itu pusat perdagangannya. Masa kejayaan yang sudah lampau itu dilambangkan oleh kaum bangsawan dan hubungan kekerabatan mereka dengan keluarga Melayu dan oleh citra Patani sebagai “tempat kelahiran Islam” dikawasan itu. Lembaga keagamaan di Patani dan daerah sekitarnya berfungsi sebagai penghubung antara golongan elit dengan rakyat. Kaum ulama berfungsi sebagai kekuatan yang mengabsahkan kekuasaan yang berlaku dan dukungan mereka sifatnya menentukan bagi pemelihara dan pengguna kekuasaan politik.

B. Problema Minioritas Muslim Thailand

Problema yang dihadapi kaum Muslim Thailand dan Filipina adalah problema kelompok minioritas yang harus hidup berdampingan secara damai dengan non-Muslim dalam negara yang sama.

(7)

muslim di kedua negara itu dipandang tidak fair,karena dapat membahayakan dan menghilangkan identitas mereka sebagai Melayu dan Muslim karena itu, kebijakan integrasi pemerintah mendapat respon yang keras dari minoritas muslim dikedua negara itu dan telah melahirkan konflik bersenjata antara kelompok minoritas dan pemerintah.

C. Minoritas Muslim Thailand (akar sejarah)

Minoritas muslim di Muangthai tinggal di empat provinsi bagian selatan: Pattani, Yala, Satun dan Narathiwat, juga termasuk sebagian dari provinsi songkhla. Seluruh provinsi ini dulunya termasuk wilayah kesultanan Pattani. Kapan tepatnya kerajaan Pattani beralih ke agama Islam hingga kini belum diketahui dengan pasti namun proses islamisasi dikalangan penduduknya secara lebih intensif terjadi pada abad ke 12 hingga ke 15 syekh said dari kampong pasai memainkan peranan yang sangat menentukan bagi proses islamisasi kerajaan pattani yang berikutnya berubah menjadi kesultanan. Dengan berdirinya kesultanan pattani wilayah ini kemudian tidak hanya meneguhkan diri sebagai pusat kekuasaan politik dan dunia dagang, namun juga menjadi tempat persemaian wacana agama dan intelektual.

Instutusi sosial politik kesultanan setidaknya telah berupaya menopang proses islamisasi dengan cara mempraktekkan islam dalam kehidupan sehari-hari namun usaha lebih lanjut untuk mempertajam akar islamisasi masyarakat ini terhalang oleh instabilitas politik kesultanan, terutama setelah pattani masuk dalam periode “ ratu-ratu pattani”

D. Minoritas Muslim Thailand dan Kebijakan Pemerintah

Sejarah kultural, baik dari segi agama bahasa dan budaya, minoritas muslim Muangthai yang tinggal di Thailand selatan, merupakan bagian dari bangsa Melayu, apalagi tempat tinggalnya secara geografis berbatasan dengan negara-negara Melayu Malaysia.

(8)

Dibawah pemerintahan Muangthai yang menganut agama Budha sebagai agama resmi negara, mereka merasa diperlakukan tidak adil sebagai minoritas. Disamping itu mereka terisolasi dari birokrasi negara dan pemerintahan, bukan saja karena pusat pemerintahan jauh dari daerah itu dan perasaan terasing dari birokrasi negara , tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan agama, bahasa, dan kebudayaan. Sehingga asimilasi dan integrasi yang diharapkan pemerintah menjadi sulit tercapai. Kaum muslim Thailand sebaliknya terkesan cenderung mengisolasi diri, hal itu karena mengalami kesulitan beradaptasi

Selain itu, proses isolasi terhadap kaum muslim Thai, sebagian disebabkan oleh self impossed, sebagian juga disebabkan oleh orientasi komunikasi media. Siaran banyak menggunakan bahasa Thai dan memfokuskan diri pada soal-soal yang menjadi kepentingan populus thai Buddis dan Cina. Sangat sedikit program dan waktu siaran dalam bahasa Melayu. Selain itu surat kabar juga dicetak dalam huruf dan bahasa Thai, kecuali koran lokal, ada kolom yang menggunakan bahasa Melayu, kebanyakan Muslim Thai justru mendengarkan siaran atau membaca koran yang datang dari negara tetangga dekatnya, Malaysia. Oleh karena itu bahasa Melayu mereka justru bertambah bagus, selain Inggris. Singkatnya, secara umum kaum muslim dibagian selatan Thailand tetap merasa tidak puas dengan kebijakan pemerintah dan pengaturan administrasi diwilayah ”tanah tumpah darah mereka”

(9)

Pada periode selanjutnya, pemerintahan Thai mencabut beberapa kebijakan ekstrem khususnya maklumat Ratthanayom dari rezim lama dan menunjukkan sikap politik terhadap kaum Muslimin, seperti memberikan kebebasan kepada minoritas Muslim untuk menjalankan agamanya. Cara ini berhasil membuat masyarakat Muslim mau terbuka dan mau menggandeng saudaranya sesama Muslim untuk berperan dalam pembangunan nasional Muanghtai. Partisipasi Muslim melayu dalam system politik dan sebagai warga negara Muanghtai mulai tumbuh sejak bangkitnya demokrasi pada tahun 1979.

E. Perkembangan Kontemporer Minoritas Muslim Thailand

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara pihak Kerajaan Thai dengan masyarakat Melayu-Muslim tampak membaik. Putera mahkota kerajaan sering berkunjung ke propinsi-propinsi yang berbatasan dengan Malaysia itu. Pembangunan jalan dan gedung-gedung sekolah menandai adanya perhatian yang serius dari pihak kerajaan. Dan yang tak kalah pentingnya bagi Melayu Muslim adalah bahwa sejak tahun 1990-an mereka mulai mendapat kebebasan dalam menjalankan syari’at islam di wilayah mereka itu tetap terus mereka perjuangkan.2

Hubungan pemerintahan dan Melayu-Muslim yang mulai membaik ini tak dapat dipisahkan dari semakin segarnya angin demokrasi yang bertiup di negara-negara sedang berkembang termasuk Thailand. Seperti di kemukakan Abdul Rozak, seorang tokoh patani, bahwa perubahan sikap pemerintah Thailand itu agaknya lebih karena tekanan Internasional sehubungan dengan sedang menghangatnya isu Hak Asasi Manusia (HAM). Akan tetapi,meski pemerintah mencoba memperbaiki hubungannya dengan Melayu-Muslim, mereka masih belum bisa menghilangkan trauma masa lalunya,terutama kalangan generasi tua.

Konflik di Thailand Selatan sangat kental dengan nilai-nilai agama. Mereka melihat konflik ini adalah pertarungan antara Muslim Melayu dan Buddhis Thai. Kata Muslim dan Buddhis mengarahkan pada kuatnya pengaruh

(10)

agama dalam masing-masing masyarakat. Apabila dilihat lebih dekat, identitas Muslim Melayu di Selatan memang sangat kuat. Masyarakat khususnya di tiga provinsi: Pattani, Yala, dan Narathiwat memiliki identitas keislaman dan keMelayuan yang tidak bisa dipisahkan.

Upaya rekonsiliasi telah dilakukan oleh pemerintah pusat dalam lima tahun terakhir dengan terbentuknya Komisi Rekonsiliasi Nasional yang mengantarkan dan memediasi perdamaian di Selatan. Kuatnya peran tentara di Thailand,membuat banyak rekomendasi komisi tidak bisa dijalankan. Pendidikan, pekerjaan dan fasilitas pemerintah lainnya tetap saja tidak leluasa dinikmati bagi Muslim Melayu. Persyaratan pemakaian ketat bahasa nasional Thai dan sikap yang mencerminkan nasionalisme –pro kebijakan pusat – menjadi penghambat rekonsiliasi yag telah dilakukan baik oleh lembaga swadaya masyarakat,Perguruan Tinggi dan komisi rekonsiliasi. Kehadiran masyarakat internasional antara lain Nahdlatul Ulama yang menjembatani ulama di Thailand Selatan dan pemerintahan kerajaan Thailand akan banyak membuahkan hasil jika pemerintah pusat mengakomodasi gagasan dan harapan Muslim Melayu di Selatan yaitu penggunaan tradisi Muslim Melayu lebih terbuka, dan pengakuan pemerintah pusat atas tradisi ini,khususnya di Pattani ,Yala, dan Narathiwat.

Dengan demikian,dapat disimpulkan,tumbuhnya sikap anti pemerintah pusat yang dilakukan oleh Muslim di Selatan Thailand diakibatkan banyak hal. Kesenjangan ekonomi menjadi kunci atas terus berlangsungnya gerakan ‘separatisme etnis’ atas dominasi kolonialisme internal Thailand. Kesenjangan ini telah berlangsung puluhan tahun. Akibatnya,masyarakat Muslim yang mendapat tekanan politis dan keamanan dari pemerintah tidak bisa berbuat banyak. Sebagian dari mereka secara diam-diam mendukung gerakan anti pemerintah. Bahkan beberapa di antara mereka aktif terlibat dalan aksi kekerasan.

F. Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam di Thailand

(11)

antara mubaligh dengan rakyat setempat. Selanjutnya ditindaklanjuti dengan munculnya pendidikan nonformal, dan terakhir pendidikan formal.

Pada tahap awal Pendidikan Agama Islam di Kawasan Thailand Selatan di laksanakan pendidikan Al Quran. Pengajian Al Quran dilaksanakan di masjid dan di rumah-rumah Tok guru. Pondok berposisi sebagai lembaga pendidikan yang amat penting di Thailand Selatan.

Alumnus pondok memiliki posisi yang sangat pening dan memiliki peranan yang strategis di tengah-tengah masyarakat, mereka menjadi pemimpin masyarakat khususnya dalam bidang keagamaan, menjadi imam, khotib,bilal, menjadi ahli jawatan masjid paling tidak menjadi to’lebai.

Pendidikan formal yang dilaksanakan pemerintah dimulai pada masa raja chalalongkarn atau Rama V pada tahun 1899. Sekolah ini kurang mendapat sambutan masyarakat. Melihat itu pada tahun 1921 pemerintah mengeluarkan UU yang mewajibkan sekolah mulai ditingkat sekolah dasar kelas satu sampai kelas empat.

Kebijakan pemerintah Thailand berikutnya pada tahun 1966 adalah mewajibkan seluruh institusi pondok untuk mendaftarkan diri ke pemerintah dibawah Akta Rongrian Rat Son Sasna Islam (sekolah swasta mengajar agama islam). Sejak itu mulai perubahan pendidikan pondok di Selatan Thailand. Perubahan itu memunculkan timbulnya madrasah.

A. Perbedaan pondok dengan madrasah di Thailand adalah, pondok mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Sistemnya di pengaruhi dengan sistem pendidikan abad pertengahan, yaitu halaqah.

b. Tidak memakai sistem kelas ( non klasikal).

c. Pelajaran berpedoman pada kitab-kitab yang dibaca di sebuah hall terbuka dikenal namanya dengan sebutan balaisah, tigakali sehari. d. Sang murid mencatat penjelasan dan komentar yang mereka

dengaar dari guru mereka.

e. Pelajar-pelajar pemula belajar bersama engan pelajar senior tidak klasifikasi berdasarkan latar belakang mereka.

f. Tidak ada ujian dan tugas-tugas.

g. Tidak ada batas lamanya studi, seseorang bisa saja sampai bermukim 10 tahun di pondok itu.

(12)

Pondok adalah lembaga pendidikan yang berdiri sebagai pengembangan dari lembaga pendidikan istana dan mesjid.

Pondok adalah lembaga pendidikan tertua di Patani dan diantara pondok tertua itu adalah pondok Dala,B ermin, Samela, Dual, Kota, Gersih, Telok manok, yang mempunyai pengaruh besar bagi pertumbuhan pendidikan islam di daerah ini, oleh karna itu pondok pondok itu banyak didatangi oleh pelajar. Pelajar dari luar patani. Karena itu pondok ini banyak sekali pengaruhnya bagi pengembangan bahasa melayu,pengaruhnya juga sampai ke burma dan kamboja.

Madrasah memakai sistem klasikal, yakni ada tingkatan tingkatan dan jenjang jenjangnya, baik jenjang itu berdasarkan kelas maupun jenjang berdasarkan tingkatan sekolah. Institusi madrasah di thailand dapat dibagi tiga tingkatan :Ibtidaiyah, Mutawassithah, Tsanawiyah.

2. Sekolah

Sistem pendidikan di Thailand, berpedoman pada undang-undang tentang sistem pendidikan nasional tahun 1999. Berdasarkan undang-undang tentang sistem pendidikan nasional ada 3 bentuk pendidikan yaitu: Formal ,Non formal dan informal

3. Pendidikan Tinggi Islam di Thailand

Sebagai sampel dari perguruan tinggi Islam di Thailand dikemukakan seperti college of Islamic studies prince of songkla university.

(13)

islam. Kolej ini satu satunya kolej islam negeri dan diharapkan akan menjadi pusat pengajian tinggi islam di thailand.3

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Thailand merupakan salah satu Negara di wilayah di Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Tetapi didalam Thailan terdapad provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Islam yaitu di Thailand Selatan. Tepatnya di Pattani dan beberapa provinsi lainnya. Islam masuk di Thailand dengan cara perdagangan oleh orang-orang Arab. Buktinya lukisan kuno yang menggambarkan bangsa Arab di Ayuthaya, sebuah daerah di Thailand dan juga keberhasilan bangsa Arab dalam mendirikan Daulah Islamiyah. Meskipun Islam merupakan agama yang minoritaas di Thailand tetapi Islam mempunyai lembaga yang berpengaruh di Thailand yaitu Patani United Liberation Organization (PULO).

(14)

Kelompok Islam di Thailand, yang menjadi penduduk dinegeri ini sekarang tinggal di tempat provinsi dibagian selatan, yaitu Pattani, yala, Naratiwat, dan satul. Juga termasuk bagian di provinsi Shongkala. Dengan demikian, secara historis kelompok masyarakat muslim telah ada sejak awal berdirinya negara Thailand dan memiliki peran penting dalam masyarakat. Pada perkembangan selanjutnya Muangthai dikenal secara luas. Dengan periode pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, muangthai juga mengalami perkembangan yang sangat cepat dibidang ekonomi sosial-budaya.

B. Saran

Dari beberapa uraian diatas tentunya banyak sekali kesalahan dan kekurangan. Semua itu dikarenakan keterbatasan penulis. Untuk itu, demi kemajuan bersama kami mengharap kritik dan sarannya yang bersifat membangun untuk lebih sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Eddy Yuniardi.1993.Muslim di Thailand Selatan:Bagai Api dalam sekam,Amanah Putra Daulay,Haidar.2009. Dinamika Pendidikan Islam di Asia

Tenggara,Jakarta:Rineka Cipta

Referensi

Dokumen terkait

Sejarah Lisan di Asia Tenggara selain untuk praktisi sejarah juga dapat menjadi. pegangan bagi berbagai kalangan seperti peneliti sosial dan wartawan

Pengaruh politik Islam yang semakin kuat serta posisi ekonomi Indonesia yang berkembang, akibat pelayaran internasional dengan pedagang muslim Arab, membuat

Wahid yang telah berjaya mengeluarkan jurnal Malaysia dari segi Sejarah setiap tahun untuk memuatkan rencana- rencana sejarah dalam Bahasa Melayu memandangkan sebelum ini

Sejumlah artikel mengenai minoritas Muslim di Asia Tenggara, dengan ekspresi lokal, dan hu- bungan antara keduanya mulai muncul, khususnya dari para penulis Perancis dan

Pada abad ke-7 Islam sudah masuk ke Indonesia dan telah dianut sebagian besar orang Indonesia, baik sebagai agama maupun sebagai hokum.. Hal ini terjadi

Di samping itu seperti yang diperkatakan sebelum ini, kesetiaan rakyat Melayu (penduduk Asia Tenggara) kepada raja telah menyebabkan mereka dengan mudah

Penyebaran Islam di Muangthai melalui perdagangan, di sana Islam tidak berhasil mendesak pengaruh Budha secara kultural maupun politik. Karena Islam pada saat itu

Dua nama terakhir, al-Raniri dan al- Sinkili, adalah dua dari tiga mata rantai utama dari jaringan ulama di wilayah Melayu Indonesia dengan Timur Tengah yang mempunyai peranan penting