PENINGKATAN PERAN RESIMEN MAHASISWA INDONESIA SEBAGAI
PENDUKUNG KOMPONEN UTAMA DALAM SISTEM PERTAHANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
(STUDI DI KOMANDO RESIMEN MAHASISWA JAYAKARTA
TAHUN 2015 ) Oleh : Deni Ahmad
Peneliti Independen Bidang Pertahanan, Kajian Strategis E-mail: [email protected]
ABSTRAKSI
the importance of preparation about Reserve Component and Supporting Component is formulated in the doctrine of People's War is set in the Act 3 of 2002 on Defence.
This study focused on the increasing
role of Student Regiment
Jayakarta,the paramilitary unit which stationed in the universities and colleges.The research was conducted to analyze how the increasing role of Menwa Jayakarta as supporting components within the Indonesia National Defence System in the capital city of Jakarta, and the research also seek the factors that influenced it.
Using the qualitative research methods, descriptive design analysis through data collection of documentation, interviews, and observations.Described as a description of the activities that have been implemented by the regiment Jayakarta. In the defense system of the Republic of Indonesia as Garda Bangsa, regiment Jayakarta role not only in the campuses but also as Kader Bela Negara, as The National Guard, as a regiment of Training, as a Laboratory of Leadership, and as
Service unit. The internal and external factors that drive and restrain the increasing role of the regiment as supporting component in the national defense system described through organizational change theory approach of Kurt Lewin (1947).
Keywords: Student Regiment, Supporting Components, RI State Defense System
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Penelitian
operasional ,mengakomodir dan menatanya sesuai dengan perkembangan yang ada.
Resimen Mahasiswa merupakan wadah kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa dibidang olah keprajuritan, kedisiplinan dan wawasan bela negara, yang dilaksanakan dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Perguruan Tinggi.Anggota Resimen Mahasiswa merupakan bagian dari sistem kekuatan pertahanan, yaitu sebagai salah satu subsegmen Komponen Pendukung Pertahanan Negara. Dalam pemberdayaannya untuk kepentingan masyarakat anggota Resimen Mahasiswa melaksanakan fungsi perlindungan masyarakat. (Kajian Penataan Garda Bangsa untuk Komponen Pertahanan Negara, 2014)
Resimen Mahasiswa atau dikenal dengan MENWA mempunyai latar belakang sejarah yang bersumber kepada tradisi yang hidup dalam masyarakat. Adapun tradisi itu yang pertama adalah tradisi yang bersifat nasional meliputi tradisi pelajar pejuang yakni tradisi Tentara Pelajar (TP), TRIP, TGP, CM (Corps Mahasiswa) yang merupakan tradisi mahasiswa yang secara spontan dan
sukarela meninggalkan bangku kuliah untuk aktif berjuang mempertahankan Negara serta dapat dibuktikan dari makam para pahlawan pejuang mahasiswa (Skomenwa Jayakarta, 2015) Dalam Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka Jilid ke-1 disebutkan “Para pelajar dan mahasiswa tidak ketinggalan turut serta memanggul senjata membentuk kesatuan-kesatuan pelajar seperti Tentara Pelajar (TP), Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), Tentara Genie Pelajar (TGP). Kesatuan-kesatuan tentara pelajar tersebut kemudian digabungkan dalam Brigade 17 TNI.Semangat dan tradisi inilah yang menjadi spirit kejuangan organisasi Resimen Mahasiswa.
Menwa adalah produk kebijakan Pemerintah di Bidang Hankam dengan dibentuknya Menwa diberbagai Propinsi sesuai dengan Instruksi
Menko Hankam/Kasab No.
yang ditimbulkan oleh Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat serta operasi Dwikora dan Trikora yang memungkinkan dibentuknya sukarelawan dan pelatihan militer di kalangan rakyat sipil dan mahasiswa pada khususnya. (Sirwani,2010)
Organisasi Menwa merupakan salah satu komponen kekuatan pertahanan yang potensial dalam bidang sumber daya manusia yang terdiri atas mahasiswa dan sarjana Menwa dan merupakan kaum intelektual yang mempunyai kesadaran bela negara yang cukup tinggi baik lahir maupun batin, sehingga diharapkan mempunyai peran yang penting dalam
pembangunan, khususnya
pembangunan di bidang
pertahanan.(Sirwani,2010)
Tradisi yang lain datang dari Negara Barat yakni tradisi Reserve Officers Training Corps (ROTC). Dasar dari gagasan ini adalah gagasan The Nation in Arms yang artinya bahwa pembelaan Negara dilakukan oleh segenap warganya sehingga setiap warga Negara harus siap berlatih jika suatu waktu dibutuhkan. Dengan ditambah sedikit ketrampilan saja dalam olah keprajuritan (Olah-Yudha). Dalam rangka konteks sekarang
kehadiran Menwa dalam masyarakat dapat dipandang sebagai ungkapan adanya dwidarma negara. Tidak hanya di Indonesia saja melainkan negara lain pun juga melaksanakannya, setiap negara didunia pada hakekatnya mempunyai dua misi atau dharma pembinaan, yakni : pembinaan kesejahteraan nasional (national prosperity) dan pembinaan keamanan nasional (national security). (Skomenwa Jayakarta,2015)
Pertahanan rakyat semesta yang berlapis-lapis dan dibina kemampuannya oleh Pemerintah bertujuan untuk melindungi negara serta kedaulatan wilayah negara serta kepentingan rakyat Indonesia dan keamanan nasional terhadap segala bentuk ATHG yang muncul dari dalam dan luar. Lapis pertahanan militer adalah perlawanan dengan kekuatan senjata untuk menghadapi kekuatan militer negara lain. Pertahanan militer berintikan TNI sebagai kekuatan utama, didukung oleh cadangan dan kekuatan pendukung.(Buku Putih Pertahanan Indonesia 2008:71)
mengelola sumber daya manusia serta sumber daya lainnya secara efektif dan efisien.Kekuatan pertahanan yang berlapis beserta alutsista dengan didukung potensi lainnya harus menjadikan deterrence effect bagi kekuatan yang berpotensi mengancam keutuhan dan keselamatan negara kesatuan Republik Indonesia.Sistem pertahanan semesta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah melalui usaha membangun kekuatan dan kemampuan pertahanan yang kuat dan disegani baik kawan maupun calon lawan. Dipersiapkan secara dini berarti sistem pertahanan semesta dibangun secara terus menerus sejak masa damai sampai masa perang (Buku Doktrin Pertahanan Negara:71).Sistem yang dibangun melibatkan segenap potensi sumber daya yang akan menguntungkan kekuatan pertahanan negara yang dikelola secara baik sehingga menghasilkan suatu daya yang secara kualitas dan kuantitas dibutuhkan dalam pertahanan kita.
Penyelenggaraan pertahanan negara bertumpu pada kekuatan dan kemampuan sumber daya manusia, yakni rakyat Indonesia, baik militer maupun nirmiliter, didukung oleh sistem senjata dan manajemen
pertahanan yang handal.Keterpaduan ketiga unsur tersebut menghasilkan pertahanan negara yang berdaya tangkal tinggi. (Buku Doktrin Pertahanan Negara :59)
Gambar 1
Menwa JAYAKARTA sebagai Potensi Sumber Daya Pertahanan Kader Bela
Negara dan Garda Bangsa
Sumber : Dokumentasi HUT Menwa Jayakarta ke-51 (2013)
Resimen Mahasiswa lahir dari suasana negara yang tidak menentu pada akhir tahun 1950-an, suasana perang kemerdekaan juga masih
mewarnai semangat
pemuda/mahasiswa saat itu. Dalam suasana seperti ini, berbagai organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa yang ada saat itu tumbuh dengan semangat "Perang Kemerdekaan". Tidak heran jika waktu itu wajib latih militer menjadi bagian kehidupan pemuda, pelajar dan mahasiswa. Terutama bagi mereka yang tergabung dalam berbagai organisasi mobilisasi massa seperti Tentara Pelajar dan Corps Mahasiswa yang menjadi cikal bakal Menwa (Koento Wibisono,Tesis Rachmad).
Sumber daya manusia adalah faktor determinan kemampuan pertahanan negara. Indikator sumber daya manusia pertahanan sebagai inti kekuatan pertahanan terletak kualitas intelektual, mental, dan fisik yang tercermin dalam kondisi yang tanggap, tanggon dan trengginas untuk mencapai kekuatan pertahanan negara yang andal, kekuatan militer dan kekuatan nirmiliter harus manunggal dan menguasai sendi-sendi pertahanan negara (Buku Doktrin Pertahanan Negara:60)
Kemampuan pertahanan sangat dibutuhkan untuk menangkal, melawan dan mengusir setiap ancaman yang berpotensi merubuhkan eksistensi bangsa dan negara RI.
Pembinaan Kemampuan Pertahanan Negara di bidang sumber daya manusia berada dalam lingkup kewenangan lintas instansi pemerintah yang mencakupi pengelolaan komposisi dan penyebaran penduduk, peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan, kesehatan, hukum dan ekonomi. Pembinaan SDM dalam kerangka pertahanan negara berorientasi pada penanaman patriotisme dan nasionalisme bagi terwujudnya rasa cinta tanah air dan rasa memiliki NKRI, rela berkorban demi bangsa dan negara, serta bangga menjadi bangsa Indonesia.(Strategi Pertahanan Negara Indonesia 2007,120)
Selanjutnya dalam Buku Strategi Pertahanan Indonesia juga disebutkan bahwa pembinaan kesadaran bela negara ditujukan bagi setiap warga negara agar memiliki kesiapan secara psiko-intelektual kebangsaan, untuk ditransformasikan menjadi komponen pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer sesuai dengan profesinya menjadi unsur kekuatan bangsa untuk menghadapi ancaman nirmiliter. Penyelenggaraan latihan dasar kemiliteran secara wajib bagi warga negara dilaksanakan dalam rangka membangun daya tangkal
bangsa secara terpadu.(Strategi Pertahanan Negara Indonesia 2007,130)
Pelaksanaan latihan dasar kemiliteran telah menjadi keharusan dalam perekrutan organisasi Resimen Mahasiswa dan merupakan langkah strategis dalam mensosialisasikan penanaman sikap, mental dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan sebagai wujud kemampuan awal bela negara yang disyaratkan sebagai programyang diterapkan negara untuk memperkuat dan memperbesar keunggulan doktrin sistem pertahanan rakyat semesta yang berlaku bagi kalangan mahasiswa.
Pada saat mahasiswa aktif langsung ikut berperan dalam mendukung program kesadaran bela negara, setelah lulus dan selesai menamatkan studi, alumni Menwa memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan ke profesi yang diminatinya, baik di bidang sipil seperti perusahaan swasta, guru, dosen, akademisi maupun profesi militer dalam matra darat, laut maupun udara. Keterampilan dan bekal kepemimpinan sangat berguna sebagai peran warga negara yang baik Good Citizenship
contoh di dalam lingkungan kerja nya serta di lingkungan masyarakat.
Pada hampir semua belahan dunia, mahasiswa selalu menjadi unsur yang sangat penting dari perkembangan bangsa dan negara. Mahasiswa dipandang sebagai angkatan muda yang paling banyak memberikan harapan hari depan. Mahasiswa memiliki dinamika, militansi, keberanian, kejujuran, kerelaan berkorban.Ada satu lagi kekhususan mahasiswa, yaitu memiliki kecerdasan otak, dan kemampuan berpikir tinggi yang didapatnya dari pendidikan-pendidikan sebelumnya secara berturut-turut. Artinya perbedaan yang ada hanyalah pada pendidikan, yang menyebabkan mahasiswa berpikir secara ilmiah dari yang bukan mahasiswa . Dengan kelebihannya ini mahasiswa bisa menjadi agent of change di kalangan masyarakat yang ada di sekitarnya, demikian halnya jika mahasiswa turut terlibat dalam permasalahan bangsa dan negara, termasuk di dalam upaya bela negara mahasiswa yang bernaung di dalam lembaga Resimen Mahasiswa (Rachmad, Setengah Abad Menwa Jayakarta,37)
Sesuai Buku Putih Pertahanan RI Tahun 2008 yang memberikan sinyalemen bahwa Pertahanan Indonesia melibatkan seluruh potensi sumber daya yaitu TNI sebagai komponen utama, yang diperkuat oleh komponen cadangan dan komponen pendukung. Sesuai dengan doktrin perang rakyat semesta yang dianut dalam sistem pertahanan negara Indonesia sejak awal rintisan pada tahun 1945.Doktrin itu mengisyaratkan pelibatan rakyat yang merasa terpanggil jiwa dan raganya untuk membela negara sebagai bagian dari sistem pertahanan rakyat semesta
yang telah menunjukkan
keampuhannya dalam perjuangan fisik di masa yang lalu.Kekuatan Komponen Cadangan terdiri atas warga negara yangtelah dilatih, sumber daya alam, sumber daya buatan, sarana dan prasarana, serta wilayah negara yang telah dipersiapkan untuk menjadi pengganda Komponen Utama melalui mobilisasi. Sebagai pengganda, besar kekuatan Komponen Cadangan disesuaikan dengan kebutuhan setiap matra (Buku Putih Pertahanan Negara 2008:133)
Pendukung disusun dalam tiga kategori: rakyat terlatih, tenaga ahli dan tenaga profesi, serta warga negara lainnya. Rakyat terlatih terdiri atas unsur-unsur Kepolisian, termasuk di antaranya Brimob, Menwa, Satpam, Hansip, tenaga Sarnas, Pramuka, sedangkan Tenaga Ahli dan Profesi termasuk di antaranya, dokter, para medis, montir, ahli kimia, wartawan, dosen, guru, ustad, pendeta, pastor, peneliti, dan laporan. (Buku Putih Pertahanan Negara 2008:137). Mahasiswa sebagai potensi nasional dalam pertahanan karena mahasiswa adalah generasi terdidik yang memahami wawasan dan intelektual akademi yang akan menjadi sokoguru atau salahsatu dari sekian elemen yang membentuk konstruksi bangunan negara di masa depan. Dari mahasiswa lahir pemimpin-pemimpin di masa depan. Menwa atau Resimen Mahasiswa adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan akademik yang terus berperan melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat. Menwa sebagaimana dikatakan oleh Connie Rahakundini : “…..Berasal dari kelompok mahasiswa yang notabene
adalah kaum intelektual yang apabila dikelola dengan baik dapat menjadi
sumber kekuatan pertahanan yang mampu diandalkan”. (Connie, 50 Tahun Sejarah Resimen Mahasiswa Jayakarta, 2013)Saat ini jumlah populasi Mahasiswa Indonesia dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta adalah 6.869.277 orang berdasarkan sumber statistik dari PDDIKTI tahun 2015.Sedangkan Jumlah Kampus se-Indonesia tercatat sebanyak 4.287 kampus dari perguruan tinggi negeri dan swasta.Data Jumlah kampus di Indonesia terlampir pada bagian Lampiran 1.
Dua hal ini merupakan kualitas anggota Resimen Mahasiswa yang menjadi potensi untuk menjalani perannya sebagai Komponen Pendukung Pertahanan Negara. (Dokumen Makalah Kajian Penataan Garda Bangsa untuk Komponen Pendukung Pertahanan Negara, 2014)
Kualitas Resimen Mahasiswa sebagai potensi pertahanan ditandai salah satunya oleh kode etik Resimen Mahasiswa Panca Dharma Satya, yakni : 1) Kami adalah mahasiswa warga negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila; 2) Kami adalah mahasiswa yang sadar akan tanggung jawab serta kehormatan akan pembelaan Negara dan tidak mengenal menyerah; 3) Kami putra Indonesia yang berjiwa ksatria dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan. 4) Kami adalah mahasiswa yang menjunjung tinggi nama dan kehormatan garba ilmiah dan sadar akan hari depan bangsa dan negara; 5) Kami adalah mahasiswa yang memegang teguh disiplin lahir dan batin, percaya pada diri sendiri dan mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Itulah karakter yang
terbangun dilingkungan Resimen Mahasiswa yang menjadi potensi Komponen Pendukung.
Pembangunan pertahanan negara Indonesia perlu didukung dengan penyiapan sumber daya manusia yang memiliki karakter kebangsaan dan memiliki kecintaan pada negara dan bangsa.Untuk itu perlu ditanamkan sejak dini nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme sebagai modal dasar bagi sikap bela negara. Peningkatan peran Resimen Mahasiswa Jayakarta sebagai pendukung komponen utama akan berdampak pada kemantapan pertahanan nasional penyiapan SDM pertahanan yang sesuai dengan kebutuhan negara dalam situasi kedaruratan untuk menghadapi segala macam ancaman tantangan hambatan dan gangguan terhadap pertahanan negara RI, khususnya di ibu kota Jakarta.
bagian dalam menghadapi situasi kondisi di wilayah DKI Jakarta. Pada saat ini didalam tubuh organisasi Komando Resimen Mahasiswa Jayakarta telah terjadi perubahan organisasi dimana fungsi stabilisator dan dinamisator yang diterapkan pada sebelum tahun 2000, seiring dengan tuntutan perubahan zaman, maka Resimen Mahsiswa Jayakarta telah bertransformasi menjadi organisasi kemahasiswaan yang dikonsepkan sebagai Menwa yanghumanis dan
egaliter sesuai dengan prinsip-prinsip
civil society yang dianut oleh negara Indonesia pada hari ini. Penulis memandang bahwa telah diterapkan manajemen perubahan secara mendasar pada culture organisasi, hal ini dilaksanakan setelah terbitnya SKB Tahun 2000 tentang Pembinaan dan Pemberdayaan Menwa.
Seiring dengan perubahan paradigma dan culture organisasi maka kegiatan Menwa Jayakarta sekarang lebih menitikberatkan pada kesiapan menghadapi ancaman non militer. Ancaman paling nyata adalah bencana alam berupa banjir, kekeringan, kerusakan ekologis dan lingkungan hidup serta sosial budaya yang menjadi suatu tantangan bagi Menwa Jayakarta sekarang ini, sehingga
diperlukan pendidikan dan latihan manajemen dan kepemimpinan dalam menangani ancaman bencana non militer menjadi prioritas dan sangat urgens.
Resimen Mahasiswa Jayakarta adalah bagian dari Menwa Indonesia yang telah mengalami transformasi dan perubahan organisasi. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa dinamika yang terjadi pada kehidupan berbangsa dan bernegara telah mengalami perubahan paradigma semenjak reformasi bergulir pada tahun 1998, lalu dialami oleh Menwa Jayakarta dengan diberlakukannya ST Dirjen Pothan Kemhan yang berisi penyesuaian dengan lingkungan strategis dimana TNI tidak lagi membina secara langsung terhadap Resimen Mahasiswa, bahwa organisasi Menwa sepenuhnya dikembalikan pembinaan di tiap perguruan tinggi dan kemudian Komandan Menwa ditiap-tiap Propinsi tidak lagi dijabat oleh perwira menengah TNI aktif tetapi dijabat oleh Menwa senior atau Alumni Menwa.
kebijakan Dirjen Pothan Kemhan tersebut. Pada prakteknya perubahan yang dinamis ini memerlukan proses selama beberapa waktu hingga pulihnya organisasi Menwa yang diberbagai propinsi termasuk Jakarta, mengalami semacam kevakuman. Sekarang Menwa Jayakarta tidak lagi dibawah binaan langsung oleh TNI, Aster Kodam dalam kaitan ini, hal ini dipandang sebagai hal positif dimana Menwa Jayakarta sekarang ini lebih mandiri, lebih independent, dan lebih mengembangkan inovasi, adaptasi dengan prinsip kehidupan berorganisasi yang humanis dan
egaliter. Adapun permasalahan yang dialami Resimen Mahasiswa Jayakarta, pada masa transisi dapat diuraikan pada paragrap berikut :
Menurunnya minat mahasiswa untuk mengikuti program kegiatan dan keanggotaan aktif di Resimen Mahasiswa nampak terlihat dalamstruktur pertahanan negara, Organisasi Resimen Mahasiswa iniposisinya belum mendapatkan peluang prioritas sebagai komponen cadangan, saat ini hanya sebagai komponen pendukung saja sedangkan masalah kaderisasi menurun sebagai dampak dari faktor tersebut di atas, karena itu jika Resimen Mahasiswa
mendapatkan posisi yang strategis dalam sistem pertahanan negara akan berdampak signifikan terhadap minat regenerasi dan kaderisasi di tubuh Resimen Mahasiswa.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut di atas, penulis menilai bahwa dalam manajemen pertahanan terutama di bidang pengelolaan sumber daya potensi pertahanan belum maksimalnya peran pendayagunaan Resimen Mahasiswa khususnya Resimen Mahasiswa Jayakarta dalam sistem pertahanan negara dan rumusan masalah yaitu peningkatan peran Resimen Mahasiswa Jayakarta dalam dukungan terhadap komponen utama dalam sistem petahanan negara untuk dijadikan bahan penelitian.
Bertolak dari rumusan masalah tersebut diatas, penulis mengemukakan pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1.2.2 Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi peningkatan peran Resimen Mahasiswa Jayakarta sebagai pendukung komponen utama dalam sistem pertahanan negara Republik Indonesia di DKI Jakarta.
1.3 Dasar Teori
1.3.1 Teori Peran (Role Theory)
Beberapa pengertian peran, sebagai berikut : “ Sebuah Peran dapat didefinisikan sebagai aspek-aspek fungsi yang berkaitan dengan posisi
spesifik dalam konteks
kemasyarakatan “(Shaw & Constanzo,1982) “ Peran adalah perilaku yang diharapkan dengan posisi atau status kedudukan yang diberikan dalam masyarakat “ (Atwater,1998) Sementara itu situs website Glosarium memberikan pengertian,peran adalah hak-hak dan kewajiban yang harus dijalankan seseorang karena status atau karena kedudukanya. Menurut Robert Linton (1936), selanjutnya teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Robert Linton menyebutkan bahwa, peran adalah aspek dinamis dari sebuah status atau kedudukan. Dengan kata lain, seseorang menjalankan perannya
sesuai hak dan kewajibannya. Pendekatan dari Glen Elder (1975) yang dinamakan “Life-course”
memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Soekanto (1990:268) menyebutkan bahwa peran adalah aspek dinamis dari kedudukan (status).Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peran.
konversi menjadi kekuatan cadangan
untuk memperbesar dan
melipatgandakan kekuatan komponen utama dan komponen cadangan. Dalam penelitian ini lebih digambarkan mengenai peran Resimen Mahasiswa Jayakarta dalam mendukung komponen utama (TNI) berdasarkan catatan dan arsip yang ada.
1.3.2 Teori Perubahan & Pengembangan Organisasi
Resimen Mahasiswa Jayakarta sebagai organisasi terkait dengan sistem pertahanan semesta telah mengalami perubahan paradigma semenjak tuntutan reformasi dan berujung pada pemberlakuan SKB Tahun 2000 yang menuntut perubahan
dalam tubuh organisasi
menwa.Perubahan organisasi adalah suatu keharusan agar organisasi bisa survive dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Dinamika perubahan terjadi pada apapun di dunia ini (individu, kelompok, masyarakat, lembaga, organisasi termasuk perusahaan), tiada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Dalam Jurnal Ekonomi & Pendidikan, volume 6 Nomor 2, November 2009 ditemukan beberapa bahasan yang mengulas mengenai teori perubahan.
internal agar terjadi perubahan itu sendiri.
Perubahan adalah suatu yang sangat sulit untuk dihindari, karena perubahan didorong oleh kekuatan internal dan eksternal organisasi. Walaupun lingkungan suatu organisasi secara terus menerus mengalami perubahan, hal ini perlu adanya penilaian perubahan bagi siklus hidup organisasi. Suatu jenis perubahan yang benar memungkinkan suatu organisasi untuk memelihara siklus hidupnya salam perubahan lingkungannya. Dilain pihak, jenis
perubahan keliru dapat
menghancurkan suatu organisasi. Sebagai contoh, kematian, kehancuran dan kemunduran semuanya merupakan perubahan, hampir tidak dapat dipertahankan lagi.
Perubahan, menurut Lewin, terjadi karena munculnya tekanan-tekanan terhadap organisasi, individu, atau kelompok.Model yang ditemukan oleh Kurt Lewin ini merupakan suatu analisis kekuatan lapangan atau lingkungan internal dan eksternal organisasi.Kurt Lewin menemukan suatu analisis bahwa Perubahan Organisasi dipenaruhi oleh dua kelompok yang saling berhadapan dan
saling bertentangan. Ia berkesimpulan bahwa kekuatan tekanan (driving force) akan berhadapan dan melawan dengan keengganan (resistances)
untuk berubah (Kasali,2005). Kekuatan-kekuatan yang mendorong perubahan di satu sisi dan kekuatan-kekuatan yang menolak perubahan di sisi lain adalah dua aspek yang selalu berhadapan dan bertentangan satu sama lain untuk menentukan ke mana arah perubahan terjadi (Frinces,2008). Perubahan terjadi jika ada upaya untuk memperkuat kekuatan pendorong yang sekaligus bagaimana caranya melemahkan kekuatan penolak perubahan.
Model perubahan menurut Kurt Lewin (www.fe.unpad.ac.id) .Model unfreeze-change-refreeze dari Kurt Lewin sering disebut-sebut karena Lewinlah yang paling awal mempelopori teori ini. Model Lewin ini juga banyak menginspirasi model manajemen yang dikembangkan kemudian. Kurt Lewin mengajukan teori tiga tahap perubahan dan sering disebut sebagai pencairan (unfreeze), perubahan
(change) dan pembekuan kembali
(freeze or refreeze).(Faisal Affif,2013)
Model adkar menekankan bahwa perubahan organisasi yang berhasil hanya terjadi jika setiap orang mampu melalui proses transisi dengan berhasil, berfokus pada tindakan 5 hasil yang diperlukan bagi perubahan individual dan organisasional sehingga memperoleh sukses. (Faisal Affif,2013) Teori Adkar, yaitu
(A)Awareness of the need for change,
(D) Desire to support and participants
in the change, (K) Knowledge of how
to change, (A) Ability to implement the
change, (R) Reinforcement to sustain
the change.
(www.change-management.coach.com)
Selanjutnya ada beberapa karakter dari perubahan dengan kunci-kunci perubahan sebagai berikut (Wahyu,2013) : Perubahan dapat bersifat cepat dan non linear, sehingga dapat menimbulkan suasana berantakan (Fullan, 2004) bahkan perubahan begitu misterius karena tidak mudah dipegang (Kasali,2005). Apa yang sudah berhasil dipegang,
tiba-tiba pergi tanpa
pamit.Kebanyakan perubahan dalam setiap sistem terjadi sebagai respon pada kekacauan dalam sistem lingkungan internal dan eksternal (Fullan, 2004). Stakeholder dan budaya organisasi menjadi
pertimbangan utama untuk Perubahan Organisasi (Fullan, 2004). Tanpa menyentuh nilai-nilai dasar, perubahan tidak akan mengubah perilaku dan kebiasaan-kebiasaan (Kasali, 2005)Perubahan susah dikendalikan (Fullan,2004), selalu menakutkan dan menimbulkan kepanikan-kepanikan. Namun demikian, dengan teknik komunikasi dan perilaku yang baik, perubahan dapat dikelola menjadi sebuah pesta. (Kasali, 2005) Perubahan membutuhkan waktu, biaya, dan kekuatan (Kasali,2005) serta kekompakan dari seluruh stakeholders. Perubahan tidak dapat dilakukan pada waktu yang singkat, ia memerlukan suatu proses. Kekuatan dan kekompakan stakeholders adalah energi utama untuk melakukan perubahan pada sisi manusia dan organisasi. Perubahan menimbulkan ekspektasi, dan karenanya ekspektasi dapat menimbulkan getaran-getaran emosi dan harapan-harapan yang bisa
menimbulkan
kekecewaan-kekecewaan (Kasali, 2005).
perubahan pada mengembangkan organisasi dapat ditempuh dengan beberapa langkah, yaitu : perubahan pada tingkat individu, perubahan pada tingkat kelompok, dan perubahan pada tingkat organisasi. (Wahyu, 2009)
Pengembangan Organisasi (P.O.), adapun ciri-ciri pengembangan organisasi, antara lain : Pengembangan organisasi merupakan usaha yang dilakukan secara berencana; Pengembangan organisasi mencerminkan suatu proses yang berlangsung terus-menerus;
Pengembangan organisasi
berorientasi masalah organisasi yang harus dipecahkan; Pengembangan organisasi merupakan usaha ke arah penyempurnaan organisasi;
Pengembangan Organisasi
merupakan tanggapan terhadap berbagai perubahan yang terjadi diluar organisasi.Organisasi sebagai suatu bentuk kehidupan dalam masyarakat juga mengalami perubahan karena organisasi juga harus selalu menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Organisasi mengalami perubahan karena organisasi selalu menghadapi berbagai macam tantangan. (Perubahan & Pengembangan Organisasi (1-9), Gunadarma
University (www.gunadarma.ac.id)
1.3.3 Teori Kebijakan Publik
diklasifikasikan sebagai decision making,yaitu ketika pemerintah memilih untuk membuat suatu keputusan (to do) dan harus dilakukan oleh semua masyarakat
1.4 Metode Penelitian
Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dalam menganalisis permasalahan dalam penelitian ini. Dalam bukunya, Creswell mengutip definisi yang diungkapkan oleh Denzin dan Lincoln, penelitian kualitatif merupakan suatu aktivitas penelitian yang menempatkan penelitian pada dunia. Penelitian ini terdiri dari seperangkat interpretasi, material practice yang membuat dunia dapat terlihat. Penelitian ini biasanya menggunakan berbagai representasi termasuk fieldnotes, interviews,
conversations, photographs,
recordings, dan memo. Berdasarkan pengertian ini, Craswell memahami bahwa penelitian kualitatif bermula dengan asumsi-asumsi, worldviews, penggunaan theortical lens dalam menganalisis permasalahan guna mendapatkan pemahaman mendalam (Creswell, 2007: 36).
Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka
Penulis menggunakan data primer dan data sekunder untuk dapat menjawab permasalahan penelitian. Data primer dilakukan dengan cara interview.
Berikut adalah beberapa narasumber yang telah berhasil diwawancarai oleh Penulis, antara lain:
1. Muhammad Faisal selaku Direktur Bela Direktorat Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI
2. Drs. Sofyan Hanif MSi, selaku Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
3. Bang Lukman Hakim, SE selaku Komandan Resimen Mahasiswa (Danmenwa) Jayakarta Periode 2012-2015
4. Oka Bintoro Mahasiswa Tingkat Akhir Jurusan Psikologi UNJ selaku Komandan Satuan Menwa UNJ
5. Ronny Setiawan selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta periode tahun 2014/2015
perusahaan, dan media pemberitaan
online. Dalam penelitian ini ada beberapa sumber atau referensi yang tidak dapat dicantumkan atas permintaan narasumber tetapi dikutip oleh Penulis.
2. Pembahasan
2.1. Peran Menwa Jayakarta
Peningkatan peran Menwa Jayakarta sebagai pendukung komponen utama dalam sistem pertahanan negara adalah studi penelitian yang tidak lepas dari referensi berupa arsip dokumen Kementerian Pertahanan RI yang diterbitkan berjudul Penataan Garda Bangsa, dibagian analisa penataan Garda Bangsa ini dinyatakan bahwa Komponen Utama dan Komponen cadangan sebagai satuan yang dipersiapkan untuk menghadapi ancaman tantangan hambatan dan gangguan, membutuhkan dukungan teknis dan strategis.
Resimen Mahasiswa merupakan komponen pendukung segmen Garda Bangsa yaitu sumber daya nasional yang kemampuannya dapat dipergunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan komponen utama dan komponen cadangan. Menwa termasuk dalam Garda Bangsa yang memiliki fungsi, jasa dan
kemampuan yang dapat
dikontribusikan menjadi muara dan sumber daya manusia untuk komponen cadangan dan berjalannya fungsi yang diemban oleh Resimen Mahasiswa selaku Garda Bangsa dapat membangun lingkungan strategis untuk mendukung kebijakan pertahanan.
Peran Menwa pertamanya adalah di kampus sebagai stabilisator dan dinamisator yang semata-mata menjaga keamanan dan ketertiban kehidupan kampus, hal ini menempatkan Menwa sebagai Unit Kemahasiswaan yang langsung berada dibawah Rektor. Tetapi fungsi ini bertentangan dengan doktrin dan paradigma baru yang sudah berubah, karena itu fungsi tersebut sekarang sudah dihilangkan menjadi fungsi dan peran menwa yang sejajar dengan UKM lain.
2.1.1 Peran Sebagai Kader Bela Negara
Sebagai Kader Bela Negara Menwa Jayakarta baik sebagai individu maupun sebagai unit organisasi adalah kader-kader bela negara yang diharapkan dalam setiap kegiatan di dalam kampus berperan mengajak dan menanamkan semangat serta memberikan contoh teladan didalam sikap, perbuatan dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai bela negara kepada mahasiswa lainnya.Selain itu sebagai kader bela negara diharapkan agar anggota Menwa, khususnya Menwa Jayakarta dapat menularkan, menanamkan, mengajak dan memberikan contoh kepada mahasiswa Jakarta untuk berdisiplin, patuh, taat aturan hukum, memegang etika, pemahaman pendidikan kewarganegaraan, nilai-nilai kepemimpinan, memiliki kesadaran untuk memelihara ekosistem dan lingkungan hidup di Jakarta agar
tercipta keamanan dan
kenyamanan.Dalam prakteknya peran ini tidak sedikit Menwa Jayakarta mengalami resistensi dan perlawanan dari pihak-pihak yang apriori terhadap keberadaan Menwa di kampus.Karena itu perlu siasat dan strategis yang
tepat untuk mengadaptasikan dan mengaplikasikannya.
melaksanakan pembinaan yang berlanjut kepada anggota-anggota Resimen Mahasiswa yang sudah ada di kampus-kampus, kemudian Kementerian Pertahanan mengajak Kementerian lainnya untuk sama-sama membina Resimen Mahasiswa, khususnya Kementerian Kebudayaan atau Dikti, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk membina dan memberdayakan Resimen Mahasiswa dalam bela negara. (wawancara dengan Dirbelneg, 3 Agustus 2015)
2.1.2 Peran Sebagai Garda Bangsa
“ Garda bangsa adalah warga negara yang terlatih dan terorganisir dalam lembaga pemerintah atau lembaga non pemerintah, bertugas atau berhubungan dengan kepentingan keamanan dan ketertiban masyarakat, pelindungan masyarakat atau lingkungan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan organisasi”. Garda Bangsa merupakan kesatuan terorganisir yang dipersiapkan untuk melaksanakan fungsi tertentu yang berkaitan dengan kedaruratan dan ketertiban. Dalam masa perang mereka dapat menjadi bagian yang telah dipersiapkan untuk melakukan perlawanan disamping
tetap melaksanakan fungsinya. (Dirpothan,2014)
Posisi penting Menwa Jayakarta sebagai bagian organisasi Resimen Mahasiswa di Indonesia yakni Menwa Jayakarta berada di pusat Ibukota negara dimana memiliki posisi yang strategis dalam mendukung terciptanya organisasi dan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang disegani dalam setiap kancah internasional (Lukman Hakim, 2012) Karena ini lah maka peran Menwa sebagai Garda Bangsa harus diperjelas dan dipertegas..
pembinaan dan pemberdayaan Resimen Mahasiswa Indonesia dalam bela negara.
Bahwa Resimen Mahasiswa sebagai komponen bangsa yang potensial, terdidik dan perlu diberdayakan.Bahwa kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa dibidang pembentukan sikap dan mental, kedisiplinan, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan karakter dan belanegara, serta olah keprajuritan perlu dilaksanakan melalui Resimen Mahasiswa. Bahwa dalam rangka penyadaran, pemberdayaan, dan pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan, serta kepeloporan pemuda untuk mewujudkan tujuan pembangunan sumber daya manusia khususnya pemuda perlu melibatkan dan mengikutsertakan Resimen Mahasiswa Indonesia.
Dalam Konsep Kesepakatan Bersama 4 Menteri Tahun 2014 yang bertujuan untuk memantapkan wawasan kebangsaan, ideologi dan kewaspadaan nasional, pembauran bangsa, kesadaran dan kemampuan bela negara, serta wawasan ketahanan ekonomi dalam tatanan politik, sosial, budaya dan hukum segenap warga negara, dengan didukung berperannya institusi-institusi sosial dan budaya masyarakat bagi
integrasi sosial perlu dilibatkan Resimen Mahasiswa Indonesia sebagai pelaksana fungsi perlindungan masyarakat, disini terlihat pentingnya peran strategis Garda Bangsa dari Menwa Indonesia.
Dan kalau melihat isi Keputusan bersama tersebut jelaslah bahwa peran Menwa Indonesia atau sekup kecilnya Menwa Jayakarta berperan besar sebagai Garda Bangsa dalam menjaga nations security di bidang non militer, yang meliputi keamanan di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya dan hukum yang berkaitan dengan fungsi perlindungan masyarakat. Masyarakat kampus adalah masyarakat intelektual yang gaung suaranya akan didengar oleh khalayak/publik, keberhasilan dunia Kampus adalah cermin keberhasilan proses berbangsa dan bernegara dalam pendekatan kesejahteraan di biang pendidikan dan pencerahan bangsa begitupun sebaliknya.
wilayah DKI Jakarta.sebagai Garda Bangsa yang siap secara fisik dan mental, serta struktural organisasi yang dalam prosesnya telah mendapatkan pembekalan pendidikan dan latihan guna menghadapi situasi
emergency dan situasi yang memerlukan sifat-sifat berada dalam tekanan, maka Menwa Jayakarta telah terbukti mampu merealisasikannya. Dalam hal ini tindakan dalam mengantisipasi serta menangani situasi kedaruratan dalam situasi bencana dan pasca bencana di ibu kota maka Menwa Jayakarta selalu siap.
2.1.3 Peran sebagai Resimen Pendidikan & Latihan bagi Mahasiswa dalam Pertahanan Negara
Mahasiswa adalah generasi terdidik yang ada di bangku universitas, sekolah tinggi ataupun akademi yang kental dengan dunia pendidikan, terlebih Resimen Mahasiswa dimana anggotanya mendapatkan tambahan ilmu ekstra yang tidak didapatkan dalam materi perkuliahan, yaitu pengalaman diluar menghadapi ujian-ujian yang memerlukan uji nalar, strategi dan cara mengatasi hambatan, semuanya tertuang sejak
melaksanakan pendidikan dasar, kemudian pendidikan dan kursus lanjutan lainnya.Menurut Agus Sutiyono (2012) Peran sebagai Resimen Pendidikan (Training Corps) haruslah bebas dari muatan politik dan kekuasaan serta primordialisme,
sehingga menjadi wadah
penggemblengan generasi muda, khususnya mahasiswa untuk mengahsilkan calon pemimpin yang berkualitas dan berwawasan kebangsaan serta membela Konstirusi Negara Kesatuan Republik Indonesia
Dalam segi kegiatan pendidikan dan latihan, kemudian penulis mengutip apa yang disampaikan oleh Purek III UNJ bahwa “….pendidikan jika ditinjau, maka kegiatan-kegiatan pendidikan dan latihan Menwa mengasah pada kemampuan softskills, dan akademis hardskills, hardskills adalah kegiatan pendidikan untuk menyiapkan kemampuan kognitif saja,tetapi lebih dari itu kegiatan softskill seperti kemampuan leadership, manajemen dan seperti itu Menwa memberikan penguatan pada
softskill. (wawancara dengan Purek III UNJ, 7 Agustus 2015)
dengan ditandai oleh realisasi kegiatan Tahunan berupa Latihan dasar PPBN ( Pendidikan Pendahuluan Bela Negara), KDS (Kursus Dinas Staf), Suspatihkalak(Kursus Pelatih Kader Pelaksana), Suspim (Kursus Pimpinan), Dikprov (Pendidikan Provoost), Latpintri (Latihan Kepemimpinan Putri). Apabila menganalisis kegiatan pendidikan latihan yang diselenggarakan tadi untuk membentuk fisik, mental. Intelektual dan kepribadian Menwa yang tangguh, cerdas dan terampil, mengolah daya fisik, daya juang dan daya pikir dengan memadukan kurikulum pendidikan yang bertujuan untuk membentuk mental dan karakter Menwa yang tangguh, maka kegiatan pendidikan latihan diatas adalah wujud peran pembentukan sumber daya manusia pertahanan yang dibutuhkan oleh negara yaitu pribadi-pribadi yang mempunyai sifat kharakter yang tanggap, tanggon dan trengginas sebagai hasil dari kegiatan pendidikan di Menwa Jayakarta. Lalu sebagai basis pendidikan dasar yang merupakan pendidikan tahap awal untuk membentuk Menwa, pendidikan dasar juga bertujuan untuk meningkatkan sikap mental dan fisik yang diperlukan dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagai anggota
Resimen Mahasiswa Jayakarta sehingga terbentuk mahasiswa yang tangguh, cekatan dan berwibawa serta memiliki kesadaran yang tinggi dalam mendukung setiap kegiatan. (Rindam Jaya, 2012)
2.1.4 Peran sebagai Laboratorium Kepemimpinan
berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
Dalam struktur Menwa yang berupa garis komando, maka anggota-anggota Menwa sudah terbiasa untuk menerima perintah dan sebaliknya menyampaikan atau meneruskan perintah atau instruksi yang harus disampaikan untuk dikerjakan, pada proses ini dibutuhkan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk berbuat sesuatu. Kemampuan itu tiada lain adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seseorang dalam rentang manajemen suatu organisasi. Menwa dikenal dengan sifat siap dipimpin dan juga siap untuk memimpin, dalam arti siap diperintah dan juga siap untuk memberikan perintah. Seorang Pemimpin jika ingin didengar oleh rekan, bawahan haruslah memberikan sifat contoh yang akan memudahkan bagi anggota atau bawahannya untuk melaksanakan instruksi atau perintah tersebut, cara terbaik memimpin adalah memberikan contoh teladan berupa nilai-nilai sikap luhur yang sejatinya diikuti atau ditaati oleh bawahan atau unit kesatuan dibawahnya.
Resimen Pendidikan untuk menghasilkan kekuatan cadangan
nasional dan sekaligus cendekiawan merah putih karena statusnya pendidikan, maka Menwa tidak boleh digunakan dalam bentuk operasonal, kecuali dalam keadaan darurat dan penting. Riwayat hidup Menwa dipenuhi tugas-tugas sebagai cadangan TNI atau Komponen Pertahanan Negara yang potensial (Agus Sutiyono)
2.1.5 Peran sebagai wadah pengabdian
Peran sebagai wadah pengabdian dibuktikan dengan kultur historis Menwa Indonesia khususnya Menwa Jayakarta, sejak dibentuk pada tahun 1962 pada saat gegap gempita Trikora dan Dwikora serta situasi yang cukup genting menjelang Pemberontakan G.30.S/PKI diikuti kemudian dengan aksi aksi Tritura pada tahun 1966, Menwa berdiri sebagai perisai di Kampus untuk mengamankan dan turut menentukan jalannya sejarah dalam bentuk militansi yang muncul dan dicetuskan oleh pendirinya yaitu bapak AH Nasution.
Resimen Mahasiswa dalam Kontingen Garuda (Kotindo) VIII di Timur Tengah pada tahun 1978-1979 serta pengiriman anggota Menwa oleh Kapuscadnas didalam Operasi Seroja di Timor Timur sejumlah dua puluh rotasi sejak tahun 1978-1998. Sejarah panjang ini membuktikan bahwa kepedulian menwa sangat besar bagi kepentingan bangsa dan negara.
2.2 Faktor Pendorong (Driving Forces)
Faktor Pendorong yang akan mempengaruhi kepada peningkatan peran Resimen Mahasiswa Jayakarta sebagai pendukung komponen utama dalam sistem pertahanan negara RI berasal dari dalam organisasi Menwa Jayakarta itu sendiri (internal) dan dari luar organisasi (external). Faktor-faktor pendorong yang mempengaruhi pelaksanaan peran Menwa Jayakarta sebagai komponen pendukung utama berdasarkan studi observasi dan penelitian wawancara akan sangat menentukan arah peningkatan karena Fakor-Faktor inilah yang harus dikembangkan dan diekspolitasi oleh Menwa Jayakarta agar terjadi peningkatan peran Menwa Jayakarta yang lebih optimum sebagai
an organisasi yang dimiliki oleh menwa
2.3 Faktor Penghambat (Restraining Forces)
Peningkatan Peran Menwa Jayakarta sebagai pendukung komponen utama akan terhambat atau mengalami penurunan karena sebab-sebab faktor yang berasal dari dalam dan luar organisasi Menwa. Kondisi ini bisa pada taraf ancaman atau Hambatan yang sedang terjadi yang mengancam eksistensi dan peningkatan Peran Menwa Jayakarta sebagai pendukung Komponen Utama dalam Sistem Pertahanan Negara RI.
Tabel 2.2
Faktor-Faktor Penghambat (Restraining Forces)
No
.
Faktor Internal Faktor Eksternal
jadwal Kader Bela Negara
Sebagai kader Bela Negara, Menwa Jayakarta selalu siap mengemban
tugas atau amanat yang dibebankan kepadanya untuk menyebarluaskan semangat bela negara, pembentukan sikap dan mental, kedisiplinan, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan karakter dan belanegara, serta olahkeprajuritan dengan modal semangat, kemauan dan motivasi yang tinggi, namun temuan penulis di lapangan pada umumnya kegiatan Menwa di Kampus masih bersifat swakelola, swadana atau swadaya tanpa bantuan subsidi yang memadai dari lembaga yang berbasis APBN/APBD.
3.2 Peningkatan Peran Sebagai Garda Bangsa
memahami arti fungsi dan tugas pokok Menwa dalam sistem pertahanan negara RI.
3.3 Peningkatan Peran sebagai Resimen Pendidikan & Latihan bagi Mahasiswa dalam Pertahanan Negara
Pelaksanaan pendidikan dan latihan bela negara diperankan oleh Resimen Mahasiswa dalam upaya pertahanan negara dilaksanakan dengan tetap berkoordinasi dan berada dibawah pembinaan lembaga Pendidikan TNI oleh Resimen Mahasiswa Jayakarta, namun temuan dilapangan
menunjukkan masih ada
ketidakseragaman.
3.4 Peningkatan Peran sebagai Laboratorium Kepemimpinan
Peran sebagai Laboratorium Kepemimpinan memungkinkan dihasilkannya calon-calon Pemimpin di masa depan, namun temuan seperti pada peran sebelumnya peran sebagai pemimpin atau teladan di kampus masih menghadapi resistensi dan apriori dari mereka yang bersikap anti kepadaorganisasi Resimen Mahasiswa Jayakarta.
3.5 Peningkatan Peran sebagai Wadah Pengabdian Kepada Masyarakat
Peran sebagai wadah pengabdian kepada masyarakat sudah dilaksanakan terbukti dengan beberapa kegiatan Menwa Jayakarta yang langsung berinteraksi dengan masyarakat dalam temuan dilapangan sistem dan mekanisme tersebut belum didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup untuk
meng-cover wilayah yang luas di ibu kota Jakarta Raya.
3.6 Faktor-faktor yang
mempengaruhi peningkatan peran Resimen Mahasiswa Jayakarta
sebagai Pendukung Komponen
Utama dalam Sistem Pertahanan Negara Republik Indonesia di DKI Jakarta, yaitu :
5.1.2.1. Faktor Pendorong (Driving
Force)
3.6.1 Faktor Internal
Berbagai modal & potensi lain yang dimiliki oleh Menwa Jayakarta secara keseluruhan
Faktor penghambat Internal organisasi : Menurunnya kualitas dan kuantitas anggota, karena minimnya minat mahasiswa terhadap UKM dan juga masih adanya pandangan negatif terhadap Menwa karena diidentikkan dengan militer, Keaktifan kegiatan tidak bisa secara optimal mendukung semua kegiatan Komponen Utama Pertahanan, karena jadwal akademik yang sangat terbatas, Keterbatasan anggaran atau pembiayaan organisasi, Unsur perbedaan dalam persepsi organisasi, Kesiapan perlengkapan sarana dan prasarana latihan untuk mendukung yang akan menunjang secara maksimal support Menwa untuk komponen utama.
3.6.2 Faktor Eksternal, yaitu
Faktor Pendorong dari Eksternal, yaitu : Kebebasan dalam alam demokrasi, Situasi iklim kampus yang relatif tenang,Semakin meningkatnya teknologi informasi dan komunikasi mempercepat, proses pengenalan atau externalisasi Menwa, Meningkatnya peran TNI dalam fungsi OMSP,Kesigapan TNI untuk membina Garda Bangsa.
Sementara itu faktor penghambat Eksternal: Pandangan yang sangat negatif tentang organisasi Menwa yang identik dengan kekerasan fisik, Belum terdapat aturan yang menjadi standar baku dari pemerintah untuk menjadi panduan bagi organisasi Menwa, Dukungan yang masih kurang dari pihak Lembaga di beberapa perguruan tinggi/kampus, Beban studi mahasiswa., Kurangnya kordinasi antar kelembagaan yang seharusnya membina Menwa.(sesuai KB 4 Menteri 2014) Kurangnya dukungan peran Alumni untuk memberikan kontribusi positif bagi Menwa.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abdulkarim, Aim (---), Pendidikan
Kewarganegaraan : Membangun
Warga Negara yang Demokratis.
Ahmaddani G. Martha dkk. (1984)
PemudaIndonesia Dalam Dimensi
Sejarah Perjuangan Bangsa,
Yayasan Sumpah Pemuda.
Arsten, Peter(1998),The Training and
socializing of Military Personnel,
Library of Congress
Cataloging-in-Publication Data.
Institute ProPatria (2006),Mencari Format
dan Keamanan Negara,Propatria
Institute, Jakarta.
Kountour,Ronny(2005),Metode Penelitian
untuk Penulisan Skripsi dan Tesis,
Penerbit PPM, Jakarta.
Lexy J. Moleong (2007),Metodologi Penelitian
Kualitatif.Rosda.Bandung cet.24.hal.
150-152
Milton Paul Davis (2008), “ An Historical and Political Overview of the Reserve
and Guard Forces of the Nordic
Countries at the Beginning of the
Twenty-first Century “Baltic Security
& Defence Review Volume 10,
Moh.Nazir (2003) Metode Penelitian Ghalia
Indonesia. Jakarta hal.16
Notosutanto, Nugroho (1994) Menegakkan
Wawasan Almamater, UI Press,
Jakarta, hal.67
Prabowo JS, Letjen TNI (2009),Pokok-Pokok
Pemikiran tentang Perang Semesta
Jakarta, Pusat Pengkajian dan
Strategi Nasional (PPSN).
Rahakundinie Bakrie, Connie (2007)
Pertahanan Negara dan Postur TNI
Ideal,editor : Nur Iman Soebono,
Jakarta, Yayasan Obor Indonesia.
Riduwan.dkk. (2009), Belajar Mudah
Penelitian untuk Guru-Karyawan
dan Peneliti Pemula, Alfabeta,
Bandung.
Sharp, Gene (1990),Civilian-based Defense :
a post-military weapons system;
with the assistance of Bruce Jenkins
Princeton University, Press
Princeton New Jersey.
Soepandji,Budi Susilo (2010,) Bangga
Indonesia Menjadi Komponen
Cadangan Tanah Air, Jakarta,
Penerbit PT Grasindo.
Sutiyono, Agus dkk. (2013),Setengah Abad
Resimen Mahasiswa Jayakarta
“Merambah Jalan Belantara
Reformasi di Pusat Ibu Kota
Negara” editor : Rasminto,Jakarta,
PPNI Publishing.
Wahyuni, Sari.(2012),Qualitative Research
Method Theory and Practice,
Jakarta, Penerbit Salemba Empat.
Wandelt, Inggo (2009)Dictionary on
Indonesian Comprehensive
Security: Acronyms and
AbbreviationsJakarta
Watson, Chyntia Ann. (2007),Military
Education, A Reference
Handbook(Contemporary military,
strategic, and security issues)
Praeger Security International.
--- (1994) Wajah dan sejarah perjuangan
pahlawan nasional, Volume 5,
Departemen Sosial R.I., Direktorat
Urusan Kepahlawanan dan
PerintisKemerdekaan,
---(1974) Sejarah pertumbuhan dan
perkembangan Kodam V/Jaya,
pengawal-penyelamat ibukota Republik
Jurnal:
Purhantara, Wahyu (2009) Organizational
Development Based Change
ManagementJurnal Ekonomi &
Pendidikan, Volume 6 Nomor 2,
November, (154-165)
Dokumen/Arsip:
Buku Doktrin Pertahanan Negara.
Buku Putih Pertahanan Indonesia 2008.
Buku Strategi Pertahanan Negara.
Kajian Penataan Garda Bangsa untuk Komponen Pendukung Pertahanan Negara, 2014 Dirjen Pothan Kementerian Pertahanan RI, Direktorat Komponen Pendukung.
Pembinaan dan Penggunaan Resimen
Mahasiswa Dalam Bela Negara oleh M.N.
Budi Waluyo Purekmawa Universitas
Pancasila (Pokja Pengembangan Menwa)
Direktorat Kemahasiswaan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional 2000.
Penataan Organisasi Resimen Mahasiswa di
Perguruan Tinggi oleh Tim Pokja
Pengembangan Resimen Mahasiswa,
Direktorat Kemahasiswaan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional 2000.
Petunjuk Penyelenggaraan Pembinaan
Kesadaran Bela Negara Skep Dirjen Pothan
Dephan Nomor : Skep/56/XII/2004 Tanggal : 7
Desember 2004
Laporan Penyelenggaraan Pendidikan
Pendahuluan Belanegara Resimen
Mahasiswa Jayakarta TA.2012. Resimen
Induk Daerah Militer Komando Daerah Militer
Jakarta Raya
Petunjuk Pelaksanaan Pelatihan Dasar Bela
Negara Bagi Mahasiswa Sebagai Komponen
Pendukung. Kementerian Pertahanan RI
Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan
Jakarta 2014
Majalah :
Majalah Defender Tahun ke 3 Edisi 26, Desember 2007
Majalah Wira, Media Informasi Kementerian Pertahanan, Edisi Khusus 2013 Hal.48-49
Potensi Pertahanan Media Informasi Ditjen Pothan Kemhan majalah internal edisi II, Maret 2013
Potensi Pertahanan Media Informasi Ditjen Pothan Kemhan majalah internal edisi IX, Desember 2014
Website:
https://www.academia.edu/4055918/Teknik_a
nalisa_data_kualitatif
https;//www.change-management.coach.com
https://www.facebook.com/notes/skomen-jayakarta
https://www.Globalsecurity.org
https://www.gunadarma.ac.id