MEMBUAT KARYA ILMIAH YANG BAIK MELALUI DIKSI
OLEH
MOH. FATAH YASIN
(Makalah disajikan dalam penyuluhan bahasa Indonesia yang diselenggarakan
oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan)
Kata merupakan satu unit dalam bahasa yang memiliki stabilitas intern dan mobilitas posisional. Maksudnya, kata memiliki komposisi tertentu, baik secara fonologis maupun morfologis, dan secara relatif memiliki distribusi yang bebas, yaitu dapat digunakan sesuai dengan kepentingan. Kata-kata itu dapat ditata dalam suatu konstruksi yang lebih besar sesuai dengan kaidah-kaidah sintaksis suatu bahasa. Konstruksi yang demikian akan terlihat dalam proses komunikasi, akan tetapi yang sangat penting dari penataan kata-kata itu ialah pengertian (sense) yang tersirat dari penggunaan kata-kata tersebut. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam komunikasi akan dapat saling memahami dan aktivitas komunikasi akan berjalan dengan baik dan lancar.
Pernyataan di atas mengisyaratkan bahwa tiap kata mengungkapkan suatu gagasan atau ide. Artinya, kata merupakan media penyalur gagasan, hal ini sejalan dengan uraian keraf yang menyatakan bahwa semakin banyak kata yang dikuasai seseorang, semakin banyak ide atau gagasan yang dikuasai dan yang sanggup diungkapkannya.
Pokok permasalahan pada makalah ini adalah ( 1) Apa yang dimaksud dengan diksi ? (2) Apa peranan diksi dalam Penulisan Karya Ilmiah? Dan (3 ) A p a s y a r a t - s y a r a t p e m i l i h a n d i k s i d a l a m m e n u l i s k a r y a i l m i a h ?
P E N G E R T I A N D I K S I
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan. Dari pernyataan itu tampak bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi kegiatan berbahasanya, termasuk saat yang bersangkutan membuat karangan. Menurut Wikipidea, Diksi dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua, arti "diksi" yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata - seni berbicara jelas sehingga
setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.
Diksi merupakan pemilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam bahasa lisan dan tulisan. Untuk mendapatkan efek tertentu itu, seseorang yang akan berbicara atau menulis harus memilih kata yang dapat mewakili gagasannya dengan tepat. Disamping itu, ia juga memerlukan kemampuan untuk membedakan nuansa-nuansa makna dari gagasan yang disampaikan dan menemukan kata yang sesuai dengan konteks pemakaiannya.
PERANAN DIKSI DALAM PENULISAN KARYA ILMIAH Fungsi dari diksi dalam penulisan karya ilmiah antara lain :
Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
Ada dua persyaratan umum yang harus dipenuhi dalam memilih kata-kata, yaitu persyaratan ketetapan dan kesesuaian. Tepat, artinya kata-kata yang dipilih itu dapat mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin diungkapkan. Di samping itu, ungkapan itu juga harus dipahami pembaca dengan tepat, artinya tafsiran pembaca sama dengan apa yang dimaksud dengan penulis. Untuk memenuhi persyaratan ketetapan dan kesesuaian dalam pemilihan kata, perlu diperhatikan a) kaidah kelompok kata/ frase, b) kaidah makna kata, c) kaidah lingkungan sosial, d) kaidah karang –mengarang.
Pilihan Kata Sesuai dengan Kaidah Kelompok Kata /Frase
Pilihan kata/ diksi yang sesuai dengan kaidah kelompok kata/frase, seharusnya merupakan pilihan kata/diksi yang tepat,seksama, lazim,dan benar.
1) Tepat
Contohnya : Makna kata lihat dengan kata pandang biasanya bersinonim, tetapi kelompok kata pandangan mata tidak dapat digantikan dengan lihatan mata.
Contohnya : Kata besar, agung, akbar, raya, dan tinggi termasuk kata-kata yang bersinonim. Kita biasanya mengatakan hari raya serta hari besar, tetapi kita tidak pernah mengatakan hari
agung, hari akbar ataupun hari tinggi. Begitu pula dengan kata jaksa agung tidak dapat
digantikan dengan jaksa besar ataupun jaksa raya, atau pun jaksa tinggi karena kata tersebut tidak seksama.
3) Lazim
Lazim adalah kata itu sudah menjadi milik bahasa Indonesia. Kata yang tidak lazim dalam bahasa Indonesia apabila dipergunakan sangatlah akan membingungkan pengertian saja. Contohnya, Kata makan dan santap bersinonim. Akan tetapi tidak dapat mengatakan Anjing
bersantap sebagai sinonim anjing makan. Kemudian kata santapan rohani tidak dapat pula
digantikan dengan makanan rohani. Kedua kata ini mungkin tepat pengelompokannya, tetapi tidak seksama serta tidak lazim dari sudut makna dan pemakain-nya.
Pilihan Kata Sesuai dengan Kaidah Makna Kata. Jenis Makna
Berdasarkan bentuk maknanya, makna dibedakan atas dua macam yaitu:
1. Makna Leksikal adalah makna kamus atau makna yang terdapat di dalam kamus. Makna ini dimiliki oleh kata dasar. Contoh : makan, tidur, ibu, adik, buku
2. Makna Gramatikal adalah makna yang dimiliki kata setelah mengalami proses gramatikal, seperti proses afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi(pengulangan), dan komposisi(pemajemukan). Contoh : Proses afiksasi awalan me- pada kata dasar kotor
Adik mengotori lantai itu.
Proses reduplikasi pada kata kacang
Kacang-kacangan merupakan salah satu sumber protein nabati.
Proses komposisi pada kata rumah sakit bersalin
Berdasarkan sifatnya, makna dibedakan atas dua macam:
1. Makna Denotasi adalah makna kata yang sesuai dengan hasil observasi panca indra dan tidak menimbulkan penafsiran lain. Makna denotasi disebut juga sebagai makna sebenarnya.
Contoh : Kepala: organ tubuh yang letaknya paling atas Besi: logam yang sangat keras
2. Makna konotasi adalah makna kata yang tidak sesuai dengan hasil observasi pancaindra dan menimbulkan penafsiran lain. Makna konotasi disebut juga sebagai makna kias atau makna kontekstual.
Contoh : Ibu kota : pusat pemerintahan
Ibu jari : jari yang paling besar atau jempol Jamban : kamar kecil
Berdasarkan wujudnya, makna dibedakan atas :
1. Makna referensial adalah makna kata yang mempunyai rujukan yang konkret. Contoh : meja, baju, membaca, menulis
2. Makna inferensial adalah makna kata yang tidak mempunyai rujukan yang konkret. Contoh : baik, indah, sedih, gembira
PERUBAHAN MAKNA
Berdasarkan cakupan maknanya, perubahan makna dibedakan atas. 1. Meluas, cakupan makna sekarang lebih luas daripada sebelumnya. Misalnya:
Kata Dulu Sekarang
Berlayar Mengarungi laut dengan memakai kapal layar
Mengarungi lautan dengan alat apa saja
Putera-puteri Dipakai untuk sebutan anak-anak raja Sebutan untuk semua anak laki-laki dan perempuan
2. Menyempit, cakupan makna sekarang lebih sempit daripada makna dahulu
Kata Dulu Sekarang
Sarjana Sebutan untuk semua
orang cendikiawan
Gelar untuk orang yang sudah lulus dari perguruan tinggi
Madrasah Sekolah Sekolah yang mempelajari
ilmu agama Islam Berdasarkan nilai rasanya, perubahan makna dibedakan atas:
1. Ameliorasi adalah perubahan makna ke tingkat yang lebih tinggi. Artinya barudirasakan
lebih baik dari arti sebelumnya. Contoh:
Kata wanita dirasakan lebih baik nilainya daripada perempuan
Kata istri atau nyonya dirasakan lebih baik daripada kata bini.
2. Peyorasi adalah perubahan makna ke tingkat yang lebih rendah. Arti baru dirasakan lebih
rendh nilainya dari arti sebelumnya. Contoh:
Kata perempuan sekarang dirasakan lebih rendah artinya
Kata bini sekarang dirasakan kasar PERGESERAN MAKNA
Pergeseran makna dibedakan atas 2 macam:
1. Asosiasi adalah pergeseran makna yang terjadi karena adanya persamaan sifat. Contoh:
– Tasya menyikat giginya sampai bersih
– Pencuri itu menyikat habis barang-barang berhatga dirumah itu
2. Sinestesia adalah perubahan makna akibat adanya pertukaran tanggapan antara dua indra yang berbeda.
Contoh:
– Sayur itu rasanya pedas sekali – Kata-katanya sangat pedas didengar. RELASI MAKNA
Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu : fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata benda, kata kerja, infleksi, dan uterans.
1. Homonim adalah dua buah kata yang mempunyai persamaan tulisan dan pengucapan. Contoh :
Bisa berarti Dapat, sanggup, racun
Buku berarti Kitab , antara ruas dengan ruas
2. Homograf adalah dua buah kata atau lebih yang mempunyai persamaan tulisan tetapi berlainan pengucapan dan arti.
Contoh:
Teras(inti) dengan teras(halaman rumah)
Sedan(isak) dengan sedan(sejenis mobil)
Tahu(paham) dengan tahu(sejenis makanan)
3. Homofon adalah dua buah kata atau lebih yang mempunyai persamaan pengucapan tetapi berlainan tulisan dan arti
Contoh:
Bang dengan bank
Masa dengan massa
4. Sinonim adalah dua buah kata yang berbeda tulisan dan pengucapanya tetapi mempunyai arti yang sama.
Contoh:
Pintar dengan pandai
Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Oleh sebab itu, di dalam sebuah karang mengarang sebaiknya dipergunakan sinomin kata supaya ada variasinya dan ada pergantiannya yang membuat lukisan di dalam karangan itu menjadi hidup. Sinonim dapat terjadi disebabkan oleh hal-hal berikut ini :
1. Pengaruh bahasa daerah
Contoh : Kata harimau yang diberi sinonim dengan macan . Kata auditorium bersinonim dengan kata pendopo.
Kata rindu bersinonim dengan kata kangen 2. Perbedaan dialek regional
Contoh : Handuk bersinonim tuala , selop bersinonim seliper 3. Pengaruh bahasa asing
Contoh : kolosal bersinonim besar , aula bersinonim ruangan , realita bersinonim kenyataan . 4. Perbedaan dialek sosial
Contohnya : suami bersinonim laki , istri bersinonim bini , mati bersinonim wafat. 5. Perbedaan ragam bahasa
Contohnya : membuat bersinonim menggubah, assisten bersinonim pembantu, tengah bersinonim madya.
6. Perbedaan dialek temporal
Contohnya : hulubalang bersinonim komandan , kempa bersinonim stempel , peri bersinonim
hantu .
5. Antonim adalah kata-kata yang berlawanan artinya. Contoh:
Tua– muda
Besar – kecil
6. Polisemi berasal adalah kata poly dan sema, yang masing-masing berarti’banyak’ dan ‘tanda’. Jadi polisemi berarti suatu kata yang memiliki banyak makna.
Contoh:
Kata kepala yang mempunyai arti bahagian atas tubuh manusia tetapi dapat juga berarti orang yang menjadi pimpinan pada sebuah kantor dan sebagainya.
Kata kaki yang dipergunakan untuk menahan tubuh manusia tetapi dapat juga kaki meja yang menahan meja.
Pilihan Kata Sesuai dengan Kaidah Lingkungan Sosial Kata
Diksi harus selalu diperhatikan lingkungan pemakian kata-kata. Dengan membedakan lingkungan itu, pilihan kata yang kita lakukan akan lebih tepat dan mengena. Lingkungan itu dapat kita lihat berdasarkan :
a) Tingkat sosial yang mengakibatkan terjadinya sosiolek
Contoh: Kata- kata mati, meninggal dunia, wafat, tewas, mampus, mangkat kita bedakan penggunaanya di dalam bahasa Indonesia berdasarkan rasa bahasa bukanlah melihat tingkat sosialnya
b) Daerah/geografi yang mengakibatkan dialek
Contoh: Kata-kata bis,kereta, dan motor kita bedakan penggunaanya berdasarkan geografinya c) Formal/nonformal yang mengakibatkan bahasa baku/ tidak baku
Contoh: Kata tersangka, terdakwa, dan tertuduh kita bedakan berdasarkan maknanya. d) Umum dan khusus yang mengakibatkan terjadinya bahasa umum dan khusus. – Makna Umum( hipernim) adalah makna yang cakupannya luas.
Contoh: bunga, bulan, hewan, kendaraan
– Makna khusus( hiponim) adalah makna yang cakupannya sempit atau terbatas. Contoh:
Hipernim Hiponim
Melihat Menengok,menatap, melirik,menjenguk,melotot Bunga Melati, Anggrek, Sedap Malam
Hewan Ayam, Burung, kambing D. Pilihan kata sesuai dengan kaidah mengarang.
Pilihan kata akan memberikan imformasi sesuai dengan apa yang dikehendaki. Pilihan kata dengan kaidah mengarang memiliki kelompok kata yang berpasangan tetap, pilihan kata langsung dan pilihan kata yang dekat dengar pembaca.
Contoh :
1. Terdiri dari, terdiri dalam, terdiri atas
2. Ditemani oleh, ditemani dari, ditemani dengan
3. Ia menelpon kekasihnya (pilihan kata langsung), Ia memanggil kekasihnya melalui telepon (pilihan kata yang panjang dan berbelit-belit)
4. Tidak semua pendengar/pembaca mengerti singkatan balita, KISS, dan kelompencir. Kata Ilmiah ,Kata Populer, Kata Jargon dan Slang
Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Kata popular adalah kata yang biasa digunakan dalam komunikasi sehari-hari masyarakat umum. Berikut adalah contoh dari kata ilmiah dan kata populer tersebut.
Kata Ilmiah: Kata Popular: Analogi kiasan
Frustasi rasa kecewa Final akhir
Diskriminasi perbedaan perlakuan Prediksi ramalan
Kontradiksi pertentangan Format ukuran Anarki kekacauan Biodata biografi singkat Bibliografi daftar pustaka
Jargon adalah kata-kata yang mengandung makna suatu bahasa, dialek, atau tutur yang dianggap aneh kata ini juga merupakan kata sandi/kode rahasia untuk kalangan terterntu (dokter,militer,perkumpulan rahasia,ilmuwan dsb). Contohnya:, populasi, volume, abses, H2O,dan sebagainya.
Kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadang berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain. Kata-kata ini bersifat sementara,kalau sudah teras usang hilang atau menjadi kata-kata biasa. Contoh Slang : asoy, manatahan dan sesuatu ya .
Pilihan Kata dan Penggunaanya 1. Kata dari dan daripada
Contoh :- Kertas itu terbuat dari kayu jati (keterangan asal)
– Peristiwa itu timbul dari peristiwa seminggu yang lalu (keterangan sebab) – Buku itu ditulis dari pengalamanya selama di Jerman (menyatakan alasan)
2. Kata pada dan kepada
Contoh : – Buku catatan saya ada pada Astuti (pengantar keterangan) – Saya ketemu dengan dia pada suatu sore hari. (keterangan waktu)
3. Kata di dan ke
Contoh : – Atik sedang berada di luar kota (fungsi kata depan di)
– Di saat usianya suadah lanjut, orang itu semakin malas belajar (keterangan waktu) 4. Kata dan dan dengan
Contoh : – Ayah dan Ibu pergi ke Jakarta kemarin – Ibu memotong kue dengan pisau
5. Kata antar dan antara
Contoh : – Kabar ibu belum pasti,antara benar dan tidak (menyataan pemilihan) -Dia akan tiba antara jam 04.00 sampai jam 06.00 (jangka waktu)
Syarat-syarat kesesuaian diksi dalam sebuah karya ilmiah adalah:
1.Hindarilah sejauh mungkin bahasa atau unsur substandard dalam situasi yang formal.
2.Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata popular.
3.Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum.
4.Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata-kata slang 5.Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan.
6.Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati). 7.Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artfisial.
Hal-hal tersebut akan diuraikan lebih lanjut dalam bagian-bagian di bawah ini 1. Bahasa Standar dan Sub Standar
Bahasa standar adalah semacam bahasa yang dapat dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Kelas ini meliputi pejabat-pejabat pemerintah, ahli bahasa, ahli hukum, dokter, pedagang, guru, penulis, penerbit, seniman, insinyur, dan lain sebagainya.
Bahasa non stsndar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak di pakai dalam tulisan. Kadang unsur ini digunakan juga oleh para kaum pelajar dalam bersenda gurau, dan berhumor. Bahasa non stadar juga berlaku untuk suatu wilayah yang luas dalam wilayah bahasa standar.
Bahsa standar lebih efektif dari pada bahasa non standar. Bahasa non standar biasanya cukup untuk digunakan dalam kebutuhan-kebutuhan umum.
2. Kata Ilmiah dan Kata Populer
Pilihan kata dalam hubungan dengan kesempatan yang dihadapi seseorang dapat dibagi atas beberapa macam kategori salah satunya adalah kata-kata
ilmiah melawan kata-kata populer.
Bagian terbesar dari kosa kata sebuah bahasa terdiri dari kata-kata yang umum yang dipakai oleh semua lapisan masyarakat, baik yang terpelajar maupun orang atau rakyat jelata. Maka kata ini dinamakan kata-kata populer.
khusus, dan dalam diskusi-diskusi ilmiah. Contoh:
Kata populer kata ilmiah
Sesuai Harmonis Pecahan Fraksi Aneh Eksentrik Bukti Argumen Kesimpulan konklusi 3. Jargon
Kata jargon mengandung beberapa pengertian.
Jargon adalah suatu bahasa,dialek, atau struktur yang dianggap kurang sopan atau aneh tetapi istilah itu dipakai juga untuk mengacu semacam bahasa atau dialek hybrid yang timbul dari percampuran bahasa-bahasa, dan sekaligus dianggap sebagai bahasa perhubungan atau lingua franca.
Jargon diartikan sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya.
Oleh karena jargon merupakan bahasa yang khusus sekali, maka tidak akan banyak artinya bila dipakai untuk suatu sasaran yang umum. Sebab itu, hendaknya dihindari sejauh mungkin unsur jargon dalam sebuah tulisan umum.
4. Kata Percakapan
Kata percakapan adalah kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan atau pergaulan orang-orang yang terdidik. Pengertian percakapan ini disini sama sekali tidak boleh disejajarkan dengan bahasa yang tidak benar, tidak terpelehara atau tidak disenangi.
Bahasa percakapan yang dimaksud disini lebih luas dari pengertian kat-kat populer, kata-kata percakapan mencakup pula sebagian kata-kata ilmiah yang biasa dipakai oleh golongan terpelajar
5. Kata Slang
Kata slang adalah kata-kata non standar yang disusun secara khas; bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadang kala kata slang yang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja.
Kata-kata slang sebenarnya bukan hanya terdapat pada golongan terpelajar, tetapi juga pada semua lapisan masyarakat.
6. Idiom
Idiom adalah pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frase, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya, misalnya: seorang asing yang sudah mengetahui makna kata makan dan tangan, tidak akan memahami makna perasa makan tangan. Siapa yang berfikir bahwa makan tangan sama artinya dengan kena tinju atau beruntung besar ? dan selanjutnya idiom-idiom yang menggunakan kata makan seperti: makan garam, makan hati, dan senagainya.
7. Bahasa Artifisial
Yang dimaksud dengan artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni.
Fakta dan pernyataan-pernyataan yang sederhana dapat diungkapkan dengan sederhana dan langsung tak perlu disembunyikan.
Artifisial : Ia mendengar kepak sayap kalelawar dan guyuran sisa hujan dari dedaunan, karena angin kepada kemuning.
Ia mendengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bima sakti yang jauh.
Biasa :Ia mendengar bunyi sayap kelelawar dan sisa hujan yang ditiup angin di daun. Ia mendengar derap kuda dan pedati ketika langit mulai terang.
Daftar Bacaan
Arifin, Zainal. 2005. Bahasa Indonesia. Jakarta:PT. Gramedia.
Nazar, Noerzisri. 2004. Bahasa Indonesia Karangan Ilmiah. Bandung:Humaniora. Ibrahim, Kasir. 1993. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya:Pustaka Tinta Emas.