BAB I PENDAHULUAN
1.1 Tinjauan Terhadap Objek Studi
Mini market adalah sebuah jenis usaha yang yang termasuk dalam
variety stores yang merupakan toko ritel yang menyediakan barang dagangan dengan banyak kategori, tetapi dengan pilihan yang terbatas. Kebanyakan dari toko-toko ini menjual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Barang yang dijual kebanyakan merupakan barang kebutuhan pokok, seperti gula, tepung, obat-obatan.
1.2 Profil Perusahaan 1.2.1 Alfamart
Didirikan pada tahun 1989 oleh Djoko Susanto dan keluarga PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart/ Perseroan), mengawali usahanya di bidang perdagangan dan distribusi, kemudian pada 1999 mulai memasuki sektor minimarket. Ekspansi secara ekponensial dimulai Perseroan pada tahun 2002 dengan mengakusisi 141 gerai Alfaminimart dan membawa nama baru Alfamart. Saat ini Alfamart merupakan salah satu yang terdepan dalam usaha ritel, dengan melayani lebih dari 2,1 juta pelanggan setiap harinya di hampir 6.000 gerai yang tersebar di Indonesia. Alfamart menyediakan barang-barang kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau, tempat belanja yang nyaman, serta lokasi yang mudah dijangkau. Didukung lebih dari 60.000 karyawan. Menjadikan Alfamart sebagai salah satu pembuka lapangan kerja terbesar di Indonesia. Pada saat ini Outlet Alfamart di kota Bandung berjumlah 216 buah yang tersebar di seluruh kota Bandung
Gambar 1.1 Logo Alfamart
Sumber: Alfamartku.com
1.2.2 Indomaret
Indomaret adalah jaringan peritel waralaba di Indonesia. Merek dagang Indomaret dipegang oleh PT. Indomarco Prismatama. Indomaret merupakan jaringan minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari dengan luas penjualan kurang dari 200 M2. Dikelola oleh PT Indomarco Prismatama, cikal bakal pembukaan Indomaret di Kalimantan dan toko pertama dibuka di Ancol, Jakarta Utara, pada tahun 1988.
Tahun 1997 perusahaan mengembangkan bisnis gerai waralaba pertama di Indonesia, setelah Indomaret teruji dengan lebih dari 230 gerai. Pada Mei 2003 Indomaret meraih penghargaan “Perusahaan Waralaba 2003″ dari Presiden Megawati Soekarnoputri.
Lebih dari 3.500 jenis produk makanan dan non-makanan tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumen sehari-hari. Pada saat ini Outlet Indomaret di kota Bandung berjumlah 154 buah
Gambar 1.2 Logo Indomaret
Sumber: Indomaret.co.id
1.2.3 Yomart
Yomart adalah perusahaan ritel modern yang berfokus di bidang minimarket yang telah melayani kebutuhan masyarakat akan barang kebutuhan sehari-hari. Minimarket merupakan bagian dari Yogya Group
sebuah kelompok usaha ritel skala nasional yang berpusat di Bandung dan telah berpengalaman mengelola usaha ritel sejak tahun 1982.
Minimarket ini membuka tokonya yang pertama pada Agustus 2003 di Ciwastra Bandung kemudian akhirnya menyebar sampai di kota besar lain di Jawa Barat. Sampai 2011 Yomart mengelola lebih dari 250 toko yang dimilikinya sendiri dan tersebar hampir di setiap kota/kabupaten di Jawa Barat. Pada saat ini Outlet Yomart di kota Bandung berjumlah 94 buah
Gambar 1.3 Logo Yomart Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Logo_franchise_yomart_minimarket_(1).j pg 1.2.4 Circle K
Circle K adalah waralaba Toko kelontong atau minimarket Internasional yang berasal dari Amerika Serikat. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1951 di El Paso, Texas. Jaringan minimarket Circle K kini dimiliki dan dioperasikan oleh jaringan waralaba toko retail terbesar di Kanada, yaitu perusahaan Alimentation Couche-Tard.
Circle K adalah pelopor sebuah minimarket yang beroperasi 24 jam penuh. Hal ini menjadikannya popular di berbagai belahan dunia, termasuk di
Indonesia dimana konsep minimarket seperti ini masih jarang. Circle K menjadi trend-setter bagi banyak minimarket sejenis yang muncul kemudian hari. Saat ini Circle K populer di kalangan remaja kota besar di Indonesia.[]. Di mata remaja, Circle K dicitrakan sebagai minimarket zaman sekarang, mereka menyediakan berbagai minuman alkohol dan rokok yang cukup lengkap dan beroperasi 24 jam, sebuah hal yang diminati oleh remaja Indonesia masa kini. Pembeli dari gerainya juga diijinkan untuk duduk di depan gerainya sambil menikmati belanjaannya sehingga secara tidak langsung Circle K menjadi kawasan berkumpulnya remaja di kala malam hari. Pada saat ini Outlet Circle K di kota Bandung berjumlah 53 buah.
Gambar 1.4 Logo Circle K
Sumber: http://ariss-arifin.blogspot.com/2012/06/fenomena-circle-k-di-indonesia.html 1.2.5 SBmart
SBmart berdiri pada tanggal 3 Agustus 2010. SBmart memiliki nuansa yang berbeda dengan minimarket-minimarket yang sudah ada, juga memiliki filosofi dan orientasi yang berbeda. SBmart adalah salah satu usaha dari koperasi Sejahtera Bersama yang bergerak dalam bidang perdagangan kebutuhan pokok yang diharapkan dapat menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari bagi anggota / calon anggota koperasi dan masyarakat pada umumnya dengan kualitas baik dan harga yang terjangkau serta menjadi pembina bagi toko-toko kecil yang dimiliki masyarakat disetiap daerah. Dari data BPS Kota Bandung untuk SBMart sudah berdiri 11 gerai. Seiring dengan maraknya bisnis ritel minimarket di Indonesia, SBmart hadir dalam melayani masyarakat dengan nuansa gerai yang berbeda. Baik dalam hal suasana belanja, tampilan, ataupun produk-produk yang dijual didalamnya. Dengan variasi produk lebih dari 4.000 item barang dagangan, serta diperkuat dengan nuansa Islami dan sistem teknologi informasi yang mumpuni, diharapkan masyarakat dapat mengandalkan keberadaan SBmart dilingkukannya masing-masing sebagai penyedia kebutuhan pokok sehari-hari.
Gambar 1.5 Logo SBmart
Sumber : http://www.sbmart.co.id/ 1.2.6 Griya Mart
Griya mart merupakan jaringan minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari. Perusahaan ritel modern yang berfokus di bidang minimarket yang telah melayani kebutuhan masyarakat akan barang kebutuhan sehari-hari. Pada saat ini Outlet Griya Mart di kota Bandung berjumlah 4 buah yang tersebar di berbagai lokasi.
Gambar 1.6 Logo Griya Mart
Sumber: http://www.brandsoftheworld.com/logo/griya-mart
1.3 Latar Belakang
Menurut Muray (1938), kebutuhan adalah suatu konstruk (fiksi atau konsep hipotesis) yang mewakili suatu daya dalam diri seseorang pada bagian otak, kekuatan yang mengatur persepsi, apersepsi, pemahaman, konasi, dan kegiatan sedemikian rupa untuk mengubah situasi yang ada dan yang tidak memuaskan ke arah tertentu. Definisi kebutuhan secara singkat adalah segala sesuatu yang diperlukan manusia dalam hidupnya, yang bisa diperoleh dengan cara memiliki atau menikmati sesuatu barang atau jasa. Setiap mahkluk hidup memiliki kebutuhan dasar yang dipenuhi oleh sumber daya dalam lingkungan. Daftar kebutuhan manusia semakin panjang sebagai akibat dari semakin majunya peradaban dan teknologi.
Perilaku konsumen dalam membeli makanan dan produk kelontong selalu dipengaruhi oleh sejumlah faktor ekonomi, budaya, psikologis dan gaya hidup. Dalam beberapa dekade terakhir pertumbuhan ekonomi dan peningkatan urbanisasi memicu pertumbuhan yang cepat, dan berimbas ke permintaan untuk produk makanan dan barang kelontong. Peningkatan pendapatan memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap permintaan barang kebutuhan.
Dengan perubahan-perubahan pada perilaku konsumen, mendorong pertumbuhan ritel yang modern di Indonesia, yang menuntut lebih pada sebuah standar efisiensi, kualitas dan keamanan suatu produk. Konsumen sekarang telah menjadi lebih diskriminatif dalam pilihan barang konsumsi mereka dan sudah mulai lebih menekankan pada kenyamanan, kesegaran dan kualitas produk. Dengan munculnya budaya supermarket dan hipermarket, preferensi konsumen untuk produk konsumsi telah meningkat secara signifikan.
Pasar modern ini pada dasarnya merupakan perkembangan dari toko kelontong dan pasar tradisional, sehingga kemudian ritel modern ini sering diberi istilah pasar modern. Perbedaan utamanya terletak pada luas ruangan, range produk dan jasa yang ditawarkan.
Ritel modern memiliki banyak format yang berkembang sesuai dengan situasi pasar di dalam negeri maupun sebagai dampak perubahan pasar dunia. Format ritel modern ini masih terus berkembang setiap saat masih selalu terjadi perubahan. Secara umum format bisnis ritel yang saat ini berkembang pesat di Indonesia adalah hypermarket, supermarket, minimarket atau convenience store, department store dan specialty store.
Dibawah ini merupakan tabel peraturan presiden mengenai format minimarket, supermarket dan hypermarket. Format ini diklasifikasikan berdasarkan barang yang diperdagangkan, banyaknya barang yang
diperdagangkan, jenis produk, model penjualan, luas lantai usaha, luas lahan parkir dan modal usaha yang dikeluarkan.
Tabel 1.1
Karakteristik Pasar Modern di Indonesia
Uraian Minimarket Supermarket Hypermarket
Barang yang diperdagangkan
Berbagai macam kebutuhan rumah tangga termasuk kebutuhan sehari-hari Jumlah Item <5000 item 5000-25000 item >25000 item
Jenis Produk 1. Makanan Kemasan 1. Makanan 1. Makanan 2. Barang-barang hygienis pokok 2. Barang-barang rumah Tangga 2. Barang-barang rumah tangga 3. Elektronik 4. Busana/pakaian 5. Alat Olahraga
Model Penjualan Dilakukan secara eceran, langsung pada konsumen akhir dengan cara swalayan (pembeli mengambil sendiri barang dari rak-rak dagangan dan membayar kasir
Luas Lantai Usaha Maks 400m2 4000-5000 m2 >5000 m2
Luas Lahan Parkir Minim Standard Sangat luas
Modal (Diluar tanah dan bangunan)
s/d Rp. 200 Juta Rp. 200juta-Rp.
10Milyar
> Rp. 10 Milyar
Sumber: Peraturan Presiden No. 112 th. 2007
Kondisi yang seperti tersebut tergambar di Kota Bandung. Keberadaan sarana perdagangan modern yang ada di Kota Bandung mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, menurut berita resmi Statistik Provinsi Jawa Barat No. 49/11//32/th XVIII, 7 November 2011 pada triwulan III laju pertumbuhan ekonomi provinsi Jawa barat tumbuh hingga 2,99%.
Dibawah ini akan diberikan data mengenai jumlah industri perdagangan di kota Bandung selama tiga periode.
Tabel 1.2
Data sarana perdagangan Kota Bandung Tahun 2009-2011
Jenis Pasar Jumlah 2009 2010 2011 Perkulakan 6 3 2 Mall 47 17 17 Department store 11 16 17 Hypermarket 2 6 8 Supermarket 51 28 31 Minimarket 309 355 532
Sarana Perdagangan lainnya 265 308 252
Sumber : Data Dinas KUKM dan industri perdagangan Kota Bandung, 2011
Pada tabel diatas berisi tentang perkembangan sarana perdagangan Kota Bandung selama tiga tahun berturut-turut mulai dari tahun 2009, 2010 dan tahun 2011. Untuk sarana perdagangan perkulakan terus mengalami penurunan. Untuk Mall dari tahun 2009 ke tahun 2010 mengalami penurunan, sedangkan dari tahun 2010 ke tahun 2011 jumlahnya tetap. Untuk department store selama tiga tahun tersebut terus mengalami peningkatan jumlah. Begitu juga dengan hypermarket, meskipun sedikit tetapi angka jumlahnya menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Untuk supermarket di Bandung dari tahun 2009 ke tahun 2010 mengalami penurunan, sedangkan dari tahun 2010 ke tahun 2011 mengalami kenaikan. Untuk minimarket selama tiga tahun menunjukkan peningkatan dengan angka yang signifikan. Untuk sarana perdagangan lainnya seperti distro, factory outlet dan lain-lain dari tahun 2009 ke tahun 2010 mengalami kenaikan, tapi pada tahun 2010 ke 2011 mengalami penurunan jumlah.
Gambar 1.7
Pertumbuhan Sarana Perdagangan di Kota Bandung
= Tahun 2009 = Tahun 2010 = Tahun 2011
Sumber : Data Dinas KUKM dan industri perdagangan Kota Bandung, 2011
Dari gambar diatas (gambar 1.7) menunjukkan bahwa untuk sarana perdagangan di Kota Bandung jumlahnya didominasi oleh minimarket. Dari data terakhir didapatkan jumlah sarana perdagangan di Kota Bandung sebanyak 859 lokasi sarana perdagangan, dan 62% dari jumlah sarana perdagangan tersebut merupakan minimarket. Dari tahun ke tahun jumlah minimarket selalu mengalami peningkatan. Tahun 2009 jumlah gerai minimarket di Bandung sebanyak 309 gerai. Pada tahun 2010 naik sebesar
0 100 200 300 400 500 600
14,8% menjadi 355 gerai. Dari tahun 2010 ke tahun 2011 jumlah gerai minimarket mengalami peningkatan sebesar 49,8% menjadi 532 gerai.
Tabel 1.3
Data Minimarket Kota Bandung
NAMA PASAR JENIS PASAR MODERN JUMLAH
ALFAMART MINIMARKET 216
INDOMARET MINIMARKET 154
YOMART MINIMARKET 94
CIRCLE K MINIMARKET 53
SB MART MINIMARKET 11
GRIYA MART MINIMARKET 4
Sumber : Data Dinas KUKM dan industri perdagangan Kota Bandung, 2011
Dari tabel 1.3 ini menunjukkan jumlah masing-masing gerai minimarket. Untuk di Bandung Alfamart mendominasi jumlah gerai dengan total 216 gerai. Disusul dengan Indomaret dengan 154 gerai. Hal ini menunjukkan bahwa ada persaingan yang cukup ketat antara Indomaret dan Alfamart. Pada posisi ketiga terdapat Yomart dengan jumlah gerai ritel sebanyak 94 gerai. Lalu di posisi keempat terdapat Circle K dengan jumlah gerai sebanyak 53 buah. Untuk SBMart dan Griya Mart menempati posisi kelima dan keenam dengan jumlah gerai sebanyak 11 gerai dan 4 gerai.
Semakin menjamurnya bisnis ritel minimarket, hal ini memudahkan masyarakat yang ingin berbelanja kebutuhan sehingga tidak perlu jauh-jauh lagi pergi ke supermarket. Banyaknya minimarket yang ada semakin menambah sengit persaingan, terutama di Kota Bandung. Ada beberapa merek minimarket yang cukup dikenal dikalangan masyarakat Kota Bandung. Minimarket tersebut adalah Alfamart, Indomaret, Yomart, circle-K, SBMart dan Griya Mart.
Persaingan antara Alfamart dan Indomaret sangat ketat, dilihat dari produk-produk yang dijual kedua minimarket menjual barang yang sebagian besar sama. Kedua merek ini sangat agresif dalam menggarap pasar dan hanya kedua merek inilah yang serius menggarap pasar sampai ke pedesaan. Karena ketatnya persaingan, mereka seakan tidak peduli dengan lokasi toko, sering terlihat toko Alfamart berdekatan dengan Indomaret.
Kotler dan Keller (2007:374), jika perusahaan tidak melakukan penetapan posisi dengan baik, pasarnya akan bingung,. Jika perusahaan melakukan penetapan posisi dengan baik, maka ia dapat mewujudkan sisa rencana pemasaran dan diferensiasinya berdasarkan strategi penetapan posisi tersebut.
Dari kejadian-kejadian yang telah disampaikan diatas mendasari penulis untuk melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Positioning Gerai Ritel Minimarket Berdasarkan Persepsi Konsumen di Kota Bandung (Studi Kasus Merek Alfamart, Indomaret, Yomart, circle-K, SBMart dan Griya Mart). Dari analisis tersebut bisa diketahui peta positioning produk minimarket berdasarkan persepsi konsumen. Salah satu metode untuk menganalisa masalah positioning adalah multidimensional scalling. Analisis ini memberikan gambaran positioning dari produk minimarket yang ditampilkan dalam sebuah perceptual map yang ditentukan dimensinya sesuai atribut produk.
1.4 Perumusan Masalah
Berdasarkan paparan yang telah diungkapkan dalam latar belakang, maka dapat diidentifikasi permasalahan penelitian sebagai berikut : Bagaimana peta positioning gerai minimarket berdasarkan persepsi konsumen di Bandung ?
Tujuan dari penelitian ini adalah : Memberi gambaran berupa
perceptual map mengenai positioning produk minimarket berdasarkan persepsi konsumen di Bandung.
1.6 Metode penelitian
Berdasarkan tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk menggambarkan suatu positioning berdasarkan persepsi konsumen, maka penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif.
Menurut Sekaran (2006:158), penilitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui dan menjadi mampu untuk menjelaskan karakteristik variabel yang diteliti dalam suatu situasi.
1.7 Manfaat Penelitian
Bagi penulis, penelitian ini sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi guna menyelesaikan studi di Sekolah Manajemen Telekomunikasi dan Media Institut Manajemen Telkom. Ditinjau dari berbagai aspek penulisan skripsi ini memiliki manfaat, yaitu:
1. Aspek Akademis
a. Sebagai sarana untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan mengenai masalah yang diteliti dan memperkaya Ilmu pemasaran pada khususnya dan Ilmu manajemen pada umumnya.
b. Sebagai bahan bacaan atau literatur bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan penelitian ini.
Diharapkan penelitian ini sebagai gambaran bagi perusahaan untuk memberikan pertimbangan dan masukan mengenai konsep pemasaran agar dapat membangun citra perusahaan berdasarkan
positiong yang menjadi tujuan dari berdirinya perusahaan
1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Untuk memperoleh gambaran yang cukup jelas mengenai penelitian ini, maka penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima (5) bab, dimana sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian yang dilakukan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab ini berisi teori-teori yang diperlukan dalam menjelaskan variabel yang diteliti.
Bab III Metode Penelitian
Dalam bab ini berisi tentang lokasi dan objek penelitian, populasi dan sampel, jenis dan sumber data, proses pengumpulan data dan metode analisis data.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab ini merupakan bab yang berisi analisis data yang telah diperoleh dalam penelitian. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis statistik yang digunakan untuk melakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian.
Bab V Kesimpulan dan Saran
Bab ini merupakan bagian penutup dari skripsi ini. Dalam bab ini disajikan kesimpulan-kesimpulan serta saran-saran yang relevan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan.