Mantra Belajar Memantra

169 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

B

egitu banyaknya permintaan, buku tentang pelaksanaan Sembahyang dan mantram-mantram ringan yang bisa dipelajari untuk diri sendiri serta mengisi hari tua, yang dapat dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga. Kenyataan inilah yang mendorong penulis untuk mengumpulkan beberapa buku yang dipakai sebagai dasar untuk merealisasikan maksud tersebut, sehingga penulis sebut dengan Mantra dan Belajar Memantra ini.

Setelah dilakukan koreksi oleh Editor, maka judul tulisan tersebut berubah menjadi MANTRA DAN BELAJAR ANEKA MANTRA (Kumpulan Berjenis-jenis Mantra). Karena Mantra pada dasarnya terdiri dari tiga konsep yaitu Mantra, Tantra dan Yantra. Mardiwasito menulis (1985:339,582,711) bahwa yang dimaksud dengan Mantra dari sudut kata berasal dari sanskerta dan berubah kedalam bahasa Indonesia menjadi Mantera yang artinya jampi (penahan/japa), doa atau mantrakratu pembaca mantera (hanya berwujud kata-kata), Tantra yang juga artinya mantra tetapi lebih menekankan ilmu sihir (gaib, mistik) dan yang dimaksud dengan Yantra adalah alat untuk merenungkan Dewa.

Secara mudahnya dapat dipahami mantra adalah ucapan mengandung nilai-nilai magis, Yantra adalah upakara sebagai alat untuk memusatkan konsentrasi dan Tantra adalah gerakan tangan yang bersifat magis yang juga disebut dengan Mudra.

Dalam tahap pembelajaran ini, aksara tidak diisi secara lengkap seperti, contoh: Mahì dyauá prthivì ca na ima÷ yajñammikûatàm; Piprtàm no bhaåìmabhiá. Tetapi akan ditulis “Mahi dyauh prthiwi ca na imam yajnamimiksatam; Piprtam no bharimabhih”. Maksudnya buku ini untuk, memudahkan belajar membaca dan mendengarkan suara sendiri. Sebab menurut pandangan penulis, kalau diisi lengkap, keinginan untuk membaca akan berkurang, karena harus belajar tanda baca terlebih dahulu. Karena dalam hal ini, sekali lagi masih taraf belajar. Nanti kalau sudah lancar membaca, maka akan ditingkatkan sesuai dengan tanda bacanya.

(2)

Mempelajari Weda (dan atau mantra) mencakup kegiatan yang amat luas. Kita mulai dari belajar membaca, mendengar ucapan-ucapan yang benar, menterjemahkannya, mengertikan arti kata, menginterpretasikan, merenungkannya kembali, merumuskan hasil-hasil pemikiran yang terkandung dalam Weda, menjelaskan dengan melihat relevansinya dengan gejala-gejala alam, kesemuanya itu merupakan satu paket proses belajar weda.

Mengajar dan belajar mantra Weda tidaklah sama dengan membaca biasa. Sangat idealnya usaha belajar dimulai sejak usia masih muda. Ketentuan umur dalam sistem catur Asrama dapat dijadikan patokan pegangan kapan kita bisa mulai belajar Weda. Umur termuda empat tahun dan paling terlambat kalau telah mencapai umur 22 tahun. Salah satu faktor terpenting dalam belajar membaca dan mengajarkannya adalah pengenalan huruf dengan suaranya (ini yang ideal, tapi kalau baru belajar, silahkan baca-baca dan dengar-dengar suara sendiri dulu). Disamping itu masalah intonasi atau tekanan suara yang tepat akan ikut pula menentukan. Karena itu yang pertama-tama adalah menguasai huruf (secara umum dulu/latin nanti kalau sudah meningkat baru menginjak ke dewanegari) dengan baik sehingga seorang anak dapat dapat memodulisasi suara dengan baik dan dapat pula mendengar dengan jelas perbedaan suara yang dibaca orang lain. Adapun pengucapan huruf-huruf yang dimaksud itu adalah huruf-huruf (aksara) dewanegari yang dipakai dalam bahasa Sanskerta atau mantra-mantra baik ditulis dalam huruf Dewanegari maupun tulisan Latin. Secara umum huruf itu dapat dibagi menjadi dua yaitu huruf hidup dan huruf mati. Huruf hidup adalah: a, a, i, i, u, u, e, ai, o, au, r, rr, lr, llrr, dan huruf mati:

k, kh, g, gh ng (n), c, ch, j, jh, n, t, th, d, dh, n, t, th, d, dá, n, p, ph, b, dh, m s, û (sn), ú (c), á. Ks (ksh), tra, jn. (Puja, 1985:112-113)

Pada hakekatnya belajar merupakan proses dinamika yang seyogyanya dilakukan seumur hidup. Tetapi sebelum memantra, lakukanlah pembersihan diri dengan Mantra, seperti: Mantram sebelum Belajar Memantra (Sang Hyang Aji Panusangan). Sama nilainya kita telah mewinten tiga kali.

Idepaku anganggo Aji kotamah,

Amangsa-amangsung aku tan pabersihan, aku pawaking setra suka kang akasa,

(3)

suka kang peretiwi, tan ana aku keneng sebelan, apan aku teke abersihin awak sariranku,

teka bersih bersih-bersih-bersih. (Gambar, 1986:51-52) Mempelajari Weda dengan setulus hatimu.

Samudre te hrdayamapswantah sam twà wìantwoûadhìrutàpah; Yajñasya twà yajñapate suktoktau namo wàke widhema yat swàhà.

O yang berumah tangga, hendaknya engkau mempelajari weda dengan setulus hatimu, yang penuh dengan sabda-sabda bimbingan mulia, dikendalikan oleh prana, berbuat dalam perbuatan mulia. Semoga engkau menikmati makanan, buah-buahan dan air, Dalam bimbingan kasih sayang, kami menuntun engkau melakukan kewajiban hidup dalam perkawinan dengan penuh keyakinan.

Yadnya mantra harus dilakukan oleh setiap kepala rumah tangga. Mahì dyauá prthivì ca na ima÷ yajñammikûatàm; Piprtàm no bhaåìmabhiá.

O suami yang patut dipuji dan yang sehat dan istri yang bersabar hati, berkehendak untuk memenuhi kesenangan dan melakukan yadnya dalam rumah tangga. Semoga engkau berdua menyediakan kami makanan dan pakaian.*

Weda dan atau Mantra dapat dipelajari sendiri.

Ara iwa rathanabhau prane sarwan pratistham, rco yajudwamsi yajnah ksatram brahmaca.

Ibarat jeruji dipasang pada porosnya roda sebuah kereta demikian pula halnya segala sesuatu ditetapkan dan digantungkan pada prana. Melalui prana dan pengendaliannya itu orang dapat belajar Weda sendiri, mis Rg.Weda, Yayur Weda, Sama Weda (dan Atharwa Weda) dan dari itu orang dapat melakukan maha yadnya atau orang-orang bijaksana dan terpelajar. Dapat memperlihatkan kebijaksanaannya yang benar atau seseorang tentara dapat memperlihatkan keberaniannya yang mengagumkan. Prasana Upanisad (Puja, 1985/86:21-22).

Yang masih mengumbar hawa-nafsu, sebaiknya jangan mempelajari Weda. Wedante paramam guhyam purakalpe pracoditam naprasantaya datawyam naputrayasisyaya wa punah.

Misteri yang paling dalam dan paling agung dari Ajaran Wedanta, yang telah diberikan oleh Brahman kepada kita di zaman dahulu kala, hendaknya jangan diberikan kepada orang-orang yang masih belum mampu menguasai hawa nafsu - hawa nafsunya, walaupun dia anak laki-laki kita atau siswa kita yang kita cintai.

Yasya dewa para bhaktir yatha dewe tatha gurau, tasyaite kathita hy arthah, prakasante mahatmanah, prakasante mahatmanah.

(4)

Kepada orang-orang yang berjiwa luhur, yang mempercayai sepenuhnya kepada Brahman, yang dengan tulus memuja Brahman dan menghormati Guru, hendaknya kita berikan rahasia Ajaran Kitab Suci Upanisad ini, agar mereka dapat mengetahui dan dapat mengamalkan Ajaran Kitab Suci Upanisad ini, akan berwajah yang berseri-seri. (Sweta Swatara Upanisad, Adyaya ke VI:22,23).

Namun demikian, dalam konteks ini pembelajaran dilakukan untuk orang dewasa, dengan harapan bahwa orang dewasa secara Pisik dan Psikologi (jiwa dan ilmu pengetahuan) sudah matang, sehingga hasil pembelajarannya dapat berguna paling tidak bagi dirinya sendiri. Dan tidak tertutup kemungkinan untuk keluarga, negara dan bangsa, untuk menciptakan kedamaian Denpasar, 10 Juni 2006 Penulis

DAFTAR ISI

Judul... i Kata Pengantar... v Daftar Isi... xi Pendahuluan... 1 1. Pengertian Mantram... 5 2. Belajar Mantram... 9 3. Mantram Umum... 10

3.1. Sebelum Mantram Tri Sandya ... 10

3.2. Mantram Tri Sandya ... 10

3.3. Sikap Sembahyang dan Kramaning Sembah . 12 3.4. Panca Sembah ... 12

4. Mantram dalam Yadnya... 15

4.1. Mantram Widhi Yadnya... 15

4.2. Dewa Yadnya... 17

4.2.1. Menghaturkan Dupa ... 17

4.2.2. Metabuh arak/ berem ... 18

4.2.3. Mersihin eteh-eteh upakara ... 18

4.2.4. Ngutpeti Toya Ring Sangku ... 18

4.2.5. Padmasana Ring Toya ... 18

4.2.6. Dewa Pratista ... 18

4.2.7. Sembah Kuta Mantra... 18

(5)

4.2.9. Sembah Siwa Amerta ... 18

4.2.10. Aturi Kang Toya Puspa, Gandaksata, Wija 18 4.2.11. Ngarga Tirta ... 19

4.2.12. Akena bija ... 19

4.2.13. Ngaskara Bajra ... 20

4.2.14. Anglukat Banten ... 20

4.2.15. Mantra Pengulapan ... 21

4.2.16. Sembah Hyang di Ring Merajan Sanggah Kemulan ... 21

4.2.17. Sembah Hyang di Merajan Kemimitan/Paibon 21 4.2.18. Sembah Hyang di Kawitan Ratu Pasek ... 22

4.2.19. Sembah Hyang di Purnama /Tilem ... 22

4.2.20. Sembah Hyang di Pura Desa Mwang Bale Agung... 23

4.2.21. Sembah Hyang di Pura Puseh ... 23

4.2.22. Sembah Hyang di Pura Dalem ... 24

4.2.23. Sembah Hyang di Pura Prajapati ... 24

4.2.24. Tata Cara Persembahyangan dalam Piodalan 24 4.3. Pitra Yadnya ... 26

4.3.1. Tirta Puwa Pangentas Wong Preteka ... 26

4.3.2. Nyiratin Tirta Sawa ... 27

4.3.3. Tumuwut sang pitre adi nyasa ring catur desa (Ngentas) ... 28

4.3.4. Menekan Tangan ... 28

4.3.5. Kramaning Pamuspaning Pitra ... 28

4.4. Rsi Yadnya ... 28

4.4.1. Guru Pada Namas Karo ... 29

4.4.2. Dwijendra Astawa... 29

4.4.3 AUM Upacara Resi Yadnya ... 30

4.4.3.1. Wiku Panjer ... 32

4.4.3.2. Wiku Cendana ... 32

4.4.3.3. Wiku Ambeng ... 32

4.4.3.4. Wiku Pangkon ... 32

4.4.3.5. Wiku Palang Pasir ... 33

4.4.3.6. Wiku Saba Ukir ... 33

4.4.3.7. Wiku Sangara ... 33 4.4.3.8. Wiku Grohita ... 33 4.4.3.9. Wiku Bramacari ... 33 4.4.3.10. Wiku Grahasti ... 33 4.4.3.11. Wiku Wanaprasthi ... 34 4.4.3.12. Wiku Sanyasi ... 34 4.5. Manusa Yadnya ... 35

(6)

4.5.1. Kelahiran Bayi ... 35

4.5.2. Ngastawa Sang Hyang Kumara ... 35

4.5.3. Mabiye kawon ... 36

4.5.4. Potong rambut, molongin karna, metatah . . 36

4.5.5. Smara Ratih (Menek Bajang) ... 39

4.5.6. Pakeling saha Seha ... 40

4.5.7. Mawinten ... 40

4.6. Bhuta Yadnya ... 41

4.6.1. Susunan Bhuta Yadnya ... 41

4.6.2. Yadnya Sesa... 42

4.6.3. Pengelebaran caru-caru... 42

4.6.4. Panca Mahabhuta... 43

4.6.5. Mantram Caru dewasa ala... 50

4.6.6. Belajar Mantram Genta atau Bajra... 50

4.7. Ngayab Banten... 51 4.7.1 Pelaksanaan Upacara... 51 4.7.2. Menyalakan Dupa... 52 4.7.3. Amusti Karana... 52 4.7.4. Sucikan Tangan... 52 4.7.5. Nyucikan Badan... 52 4.7.6. Ngaturan Tirta... 52

4.7.7. Panyubyokaunan dan Prayascita... 52

4.7.8. Ngastawa Lis... 53

4.7.9. Menjalankan Pabyakaunan... 53

4.7.10. Ngaturang Prayascita... 53

4.7.11. Ngelebar Segeh... 54

4.7.12. Mekala Hyang... 54

4.7.13. Pasang Tri tatwa... 55

4.7.14. Bebanten Suci... 55

4.7.15. Ngaturan Prayascita... 55

4.7.16. Astawan Banten Malinggih ring Paruman. . 56

4.7.17. Ngastiti Tetebusan... 57

4.7.18. Ngaturin Betara Kukusarum... 57

4.8. Penghormatan, Dewa yang Berstana di Gunung... 57

4.8.1. Penghormatan di Gunung Andakasa... 57

4.8.2. Pengormatan di Gunung Mangu... 57

4.8.3. Penghormatan di Gunung Watukaru... 58

4.8.4. Penghormatan di Gunung di Gung Kawi... 58

4.8.5. Penghormatan di Gunung Batur... 58

4.8.6. Penghormatan di Gunung Beratan/Dhanu Bratan 58

(7)

4.8.8. Penghormatan di Gunung Agung... 58

4.8.9. Nunas Tirta ke Gunung Agung... 58

4.8.10. Maturan Canang Prascita (Tebasan Durmanggala) 59 4.8.11. Ngadegang Betara Nyatur ring Banten... 59

4.8.12. Ngastawa Betara dan Pengiringe maka sami 59 4.8.13. Nedunang Betara ke Pengubengan... 60

4.8.14. Nedungan Betara sami (dari Jawadwipa, dan Selam/Allah/Islam)... 60

4.8.15. Pengadegang ring suci... 62

4.8.16. Ngabijiang (tempat mata air) Ida Betara sami 62 4.8.17. Tirta Pemarisudha... 63

4.8.18. Nganteban Guling Bebangkit... 63

5 Upakara Ngawit Mekarya Wewangunan... 63

5.1. Upakara... 63

5.1.1. Dasar Bambang... 63

5.1.2. Canang Pependem... 63

5.1.3. Caru Pengeruak dan Mantra... 64

5.1.4. Banten Pengeruak dan Mantra... 64

5.1.5. Sarana dan Mantra... 65

5.1.6. Upakara dan Mantra Mengukur (nyikut) Karang 65 5.1.7. Piteges Sesajen... 66

6. Nganteb Piodalan Alit... 67

6.1. Persiapan Muput Piodalan Alit... 67

6.1.1. Muput Tirta Gede (Sapta Gangga)... 67

6.1.2. Setelah selesai muput tirta Gede, kemudian dipercikan... 68

6.1.3. Ngawit Nanggen Genta... 68

6.1.4. Ngastawa Tirta... 69

6.1.5. Pengurip Tirta... 69

6.1.6. Jaya-Jaya Tirtha... 69

6.2. Muput Piodalan Alit di Merajan/Sanggah... 70

6.2.1. Byakaonan... 70

6.2.2. Durmanggala (Pangastawa)... 70

6.2.3. Pengulapan (Pangastawa)... 70

6.2.4. Prayascita (Pangastawa)... 71

6.2.5. Lis (Pangastawa)... 71

6.2.6. Ngosokan Lis (Pengastawa)... 71

6.2.7. Ngastawa linggihang dewa di Palinggih/Sanggah 71 6.2.8. Mendak Kepanggung di jaba (Baruna Astra) 72 6.2.9. Ngayat segehan ring Natah Umah... 72

(8)

6.2.11. Mapiuning Indik Piodalan... 73

6.2.12. Nganteb banten di pelinggih sami... 73

6.2.13. Ngayab Banten Piodalan... 74

6.2.14. Ngayab Banten Pangemped lan Soda aturan 74 6.2.15. Ngayab Penagi/Sesangi... 74

6.2.16. Ngayab banten Sambutan durung ketus Gigi 75 6.2.17. Tri Sandya... 75

6.2.18. Muspa (Ngaggem Panca Sembah)... 77

6.2.19. Margiang Benang Tebus... 78

6.2.20. Pengaksama ring Dewa Betara... 78

6.2.21. Nyimpen Bajra... 79

7 Dewata Pawamana Soma... 79

7.1. Resi Kasyapa, asita Atau Dewala... 79

7.1.1. Canda Gayatri (Sukta 13)... 79

7.1.2. Canda Gayatri (Sukta 14)... 80

7.1.3. Canda Gayatri (Sukta 15)... 81

7.1.4. Canda Gayatri (Sukta 16)... 82

7.2. Upacara Bajang Colong... 82

7.2.1. Banten Pasuwungan... 82

7.2.2. Banten Pengelukatan di Dapur... 82

7.2.3. Banten Ring Sumur... 83

7.2.4. Banten Ring Sanggah Kemulan... 84

7.2.5. Banten Bajng Colong... 87

7.2.6. Upacara Natab Sambutan... 89

7.2.7. Panglukatan Mala... 99

7.2.8. Lindu Gemana... 100

7.2.9. Penglukatan Panca Geni (Orang Tilas)... 101

7.2.10. Pecaru Gering Tempur... 102

7.2.11. Penglukatan Siwa Geni... 103

7.2.12. Caru Manca Rupa (dagingnya bisa diganti) 103 7.2.13. Salwiring Pemanes Karang... 104

7.2.14. Pengasih Buta Muang Dewa... 108

7.2.15. Dwijendra Astawa... 108

7.2.16. Surya Sewana (Bila sakit tidak ada obatnya) 109 7.2.17. Mantram Sebelum belajar Memantra... 110

7.2.18. Pawisik Dewi Maya Asih... 111

7.2.19. Melapas Wewangunan Utama, Madya dan Nista 113 7.2.20. Pesimpenan... 115

7.2.21. Mantram Arca Muang Mapendem Pedagingan Meru... 115

7.2.22. Katiban Durmanggala... 116

(9)

7.2.24. Ananggap Dana... 117

7.2.25. Penenang Jiwa yang Menderita... 117

7.2.26. Ilmuwan Mengerjan Ilmu Untuk Kebaikan Manusia... 118

7.2.27. Persembahan Weda Mantra... 118

7.2.28. Arti Penting Penguncaran Mantra... 119

7.2.29. Makanan disucikandengan Yadnya... 120

7.2.30. Yadnya Menseimbangkan Dunia... 120

7.2.31. Keturunan yang Melakukan Yadnya (bertambah) Baik... 121

7.2.32. Tuhan Pencipta Tata Surya... 121

7.2.33. Menyebarkan Sistem Pendidikan dalam Weda 121 7.2.34. Yadnya dengan Mantra Weda dalam Gayatri 123 7.2.35. Yang Jahat Harus Disingkirkan... 123

7.2.36. Mengenal Tuhan Melalui Penglihtan Spiritual 124 7.2.37. Mensucikan Hati dan Jiwa... 124

7.2.38. Membersihkan Air Sumur dalam Weda... 125

7.2.39. Yadnya Sejak Jaman Dulu Menurut Weda. . 125

7.2.40. Semoga saya tida pernah melanggar-Nya. 125 7.2.41. Jagalah Kami dengan Sinar Pengetahuan Spiritual... 126

7.2.42. Negara yang Sejahtera... 127

7.2.43. Susunan Pencernaan (Analisa) Ilmu... 127

7.2.44. Sebelum Beryadnya Manusia Lebih Dulu dilindungi Tuhan... 128

7.2.45. Aktif dalam Ilmu Pengetahuan adalah Yadnya 128 7.2.46. Semoga Kami melenyapkan dosa-dosa Musuh 128 7.2.47. Mengucapkan Mantra Gayatri tiap Hari, menurut Weda... 129

7.2.48. Mencapai kebesaran melalui Tulisan... 130

7.2.49. Berilah kami tinggal dirumah yang menyenangkan 130 7.2.50. Engkau Ajarkan (Weda) kepada Rakyat... 130

7.2.51. Yang meninggalkan Yadnya ditinggalkan oleh Tuhan 131 7.2.52. Karmaphala dalam Weda... 131

7.2.53. Persembahan dalam Pitara dalam Weda... 132

7.2.54. Dengan pengetahuan untuk mencapai Kedewasan 132 7.2.55. Korban Api sebagai Yadnya... 133

7.2.56. Api pemusnah segala macam Penyakit... 133

7.2.57. Sinarnya api Naik Turun... 134

7.2.58. Weda diucapkan untuk memperoleh Pengetahuan Spiritual ... 134

(10)

7.2.60. Brahmacari selama 48 Tahun... 135

7.2.61. Suami yang bercahaya... 135

7.2.62. Engkau Bercahaya laksana Matahari... 136

7.2.63. Memberi Kesengan kepada Pengantin... 136

7.2.64. Perkawinan Muda berpegangganglah kepada Kebenaran... 137

7.2.65. kebahagiaan hari nin, esok dan setiap hari 137 7.2.66. Lindungilah Perkawinanmu... 137

7.2.67. Suami tersayang dan Pemberani... 138

7.2.68. Dosa yang sadar dan Dosa yang Tidak Sadar 138 7.2.69. Guru Pemberi Rakhmat... 139

7.2.70. Ajarkan dengan kata-kata yang manis... 139

7.2.71. Memberi Pengetahuan Siang dan Malam... 140

7.2.72. Siapa Yajamana itu?... 140

7.2.73. Orang terpelajar yang berpikiran Mulia... 141

7.2.74. Selenggrakan Yadnya dengan Benar... 141

7.2.75. Kerjakan Yadnya Rumah Tangga dengan Weda Mantra... 142

7.2.76. Mempelajari Weda dengan setulus hatimu 142 7.2.77. Weda Berkai satu, Dua, Tiga, Empat dan Delapan. 142 7.2.78. Yadnya Mantra harus di laksnakan oleh Rumah Tangga... 143

7.2.79. Jinakan Pikiranmu dengan ucapan Weda Mantra 143 7.2.80. Enam belas sifat dalam Berumah Tangga. 144 7.2.81. Enam Belas Kala... 145

7.2.82. Ceritera Ketuhanan dari Weda... 145

7.2.83. Untuk memperoleh sifat Mulia... 145

7.2.84. Weda mengajarkan Azas Demokrasi... 146

7.2.85. Makna dan Fungsi Gayatri dalam Weda... 146

7.2.86. Suami yang tidak Beragama... 147

7.2.87. Dhananjaya; memberi makan dan memelihara Tubuh... 148

7.2.88. Tiga puluh empat penyangga Yadnya... 148

7.2.89. Prasana Upanisad... 148

7.2.90. Penciptaan dan Penguasa... 149

7.2.91. Resi wasistha, Dewata: Saraswan, Sayair: Gayatri... 154

7.2.92. Pemujaan Sawitri... 163

7.2.93. Atharwa Weda... 181

7.2.94. Sama Weda... 191

7.2.95. Samkya Darsana... 206

(11)

8.1. Weda... 216

8.2. Mantra... 218

8.3. Mantra Upasana dan Mantra Upadesa... 219

8.3.1. Pungsi Mantram... 220

8.3.2. Nilai Magis Mantram... 220

8.4. Pemujaan setiap hari... 221

8.4.1. Puja... 221

8.4.2. Kidung... 222

8.4.3. Putru... 223

8.4.4. Majijiwan... 223

9. Pembelajaran Orang Dewasa... 223

9.1. Orang dewasa dihargai kemandiriannya... 227

9.2. Orang dewasa memiliki banyak pengalaman. 227 9.3. Orang dewasa mempunyai kesediaan belajar hal-hal relewan... 227

9.4. Sastra sebagai alat komunikasi... 229

9.5. Proses Belajar... 232

Bacaan Bacaan... 233

PENDAHULUAN

D

ilarang belajar mantra, banyak orang takut belajar mantrà, karena belum mengerti apa itu sesungguhnya mantrà disamping itu, sering mendengar sebuah kalimat; “Aywà Wérà tan sidhi phalanià”, jangan disembarangkan, perilaku yang sembarangan itu sangat tidak baik manfaatnya. Kemudian lebih lanjut tutur-dituturkan oleh tetua kita di Bali; Dà melajahin aksarà modré/aksarà suci nyanan buduh nasé. Jangan mempelajari aksarà Modré/aksarà suci, nanti bisa gila. Dua pernyataan seperti ini sudah cukup menakutkan bagi orang Bali yang lugu dan hormat kepada tutur, orang tua dan orang yang disucikan.

Maka kita tidak cukup menerima begitu saja, tutur tetua kita dan kalimat “Aywà Wérà tan sidhi phalanià”, dan Dà melajahin aksarà modré/aksarà suci nyanan buduh nasé, kalimat ini harus ditelusuri lebih mendalam. Dari mana sesungguhnya kalimat tersebut muncul, dan dari buku mana dan apa tujuannya.

(12)

Kalimat tersebut muncul dari Purwa Adhi Gama Sesana, yang menyatakan: Yan han wwang kengin weruhing Sang Hyang Aji Aksara, mewastu mijil saking aksara, tan pangupadyaya/maupacara mwah tan ketapak, tanpa guru, papa ikang wwang yan mangkana. Bibijat wwang ika ngaranya, apan embas/lekad tanpa guru, kweh prabedanya, papinehnya bawak, yan benjangan padem wwang mangkana, atmanya menados entipning kawah Candra Ghomuka. Apan lampahnya numpang laku, kananda de para Kingkara Bala, yan manresti malih matemahan triyak yoni, amangguhaken kesengsaran. (Ringga Natha, 2003:3).

Arti bebasnya, Jika ada orang yang ingin mempelajari Sang Hyang Aji Aksara Sastra Suci, hanya dengan mempelajari Sastra buku-buku tidak dilakukan upacara, tidak anugrahi ketapak melalui nyanjan, tidak memiliki guru, berdosalah orang yang seperti itu. Tidak memiliki Bapak dan Ibu orang yang seperti itu, karena kelahirannya tidak memiliki guru, roh-nya akan mengendap didasar neraka Candra Ghomuka. Karena perjalanannya tidak menentu, dihukumlah oleh pengikutnya Kingkara bala, kalau dia lahir kembali, dia akan menjadi kotoran air yang mendidih dan akan menemukan kesengsaraan.

Dibenarkan belajar Mantra, kalimat yang menyatakan boleh belajar mantra menyatakan sebagai berikut: Kewala ikang amusti juga kawenangan wehania ri wwang durung Adiksa Dwijati, ring arep anembah Dewa, amreyogakena Sang Hyang ri daleming sarira.

Arti bebasnya, kalau orang berkeinginan dengan sungguh-sungguh, diperkenankan juga kepada orang yang belum Adiksa Dwijati (dinobatkan sebagai pemangku atau sulinggih), asalnya disampaikan atau di buatkan upacara kecil (Canang sari) dihadap para Dewa, sebagai bukti ketulusan hati yang paling dalam untuk memahami dan mendalami apa yang disebut dengan Mantra, bagaimana tulisan mantra yang benar, dan bagaimana reng-reng mantra harus disuarakan agar mampu menyentuh sapta petala, sapta cakra dan sapta Loka.

Widyas ca wa awidyas ca, yac ca-anyad upadesyam. Sariram brahma prawisad rcah sama-atho-yajuh.

Segala macam zat memasuki tubuh manusia seperti misalnya kebijaksanaan, pengetahuan praktis, dan setiap pengetahuan yang harus diajarkan, Tuhan yang Maha Esa Yang Maha Agung (Makhluk Teragung), Rgweda; Samaweda dan Yajurweda. (Athwaweda XI.8.23).

Kalau diperhatikan kalimat tersebut inti pokoknya terletak pada, jika mempelajari Aksara Suci atau Modre harus: diupacarai, memiliki guru, dan jika melanggar akan memperoleh hukuman.

(13)

Konsep upacara ada tiga, diantara tiga masing-masing dapat dibagi menjadi tiga, sehingga menjadi sembilan konsep yang dapat dipakai sebagai pedoman Nistaning Nista, dan inti dari yadnya adalah ketulusan hati, jadi dengan upakara yang kecil (cukup) Canang Sari satu tanding disertai kesucian hati, maka konsep upakara dapat diatasi. Harus memiliki guru, yang disebut guru adalah: Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa dan Guru Swadhiyaya. Dengan menghaturkan satu sesaji canang sari kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, Swadhiyaya maka konsep guru telah kita lalui, maka dari itu seseorang belajar mantra akan terhindar dari segala kutuk dan hukum, sehingga dapat dikatakan bahwa untuk belajar mantra cukup dengan matur piuning di Sanggah Kemulan, yang ditengah sebagai simbolis Tuhan dalam Rumah Tangga yang sering disebut dengan Siwa Pramesti Guru.

Belajar Mantra berarti sebuah yoga, dan yoga merupakan bagian dari enam aliran filsafat Hindu (niaya, waisasika, sangkia, yoga, mimansa, weddanta). Tantra sangat meyakinkan kita akan kekuatan yoga sebagai bentuk sadhana “kubci” pengendalian zaman ini. Yoga mempersatukan Jiwa (atma) dengan Tuhan (Paramatma), Astangga Yoga memberi perincian luas dan mendalam tentang delapan tingkatan yoga: yama (pengendalian diri), Nyama (penyucian lahir-bhatin), Asana (sikap duduk/tubuh), pranayama (pengaturan nafas), Pratyahara (pengendalian pengindraan), Dharana (perhatian memusat), Dyana (pemusatan pikiran), Samadhi (menyatunya subyek-subyek). Pada tingkatan nyama terdapat sepuluh mental yang harus dipenuhi, yaitu: Dana (sedekah), Ijya (sembahyang), Tapa (semadi), Dyana (pemusatan pikiran), Swadyaya (mempelajari weda-weda/mantra), Upastanigraha (mengendalikan sex), Brata (mengendalikan panca indria), Upanasa (berpuasa), Mona (mengendalikan kata-kata), Snana (membersihkan badan). Meskipun sejarah telah banyak memberi warnanya tetapi konsep astangga Yoga, tetap menjadi landasan pengertian tapa, brata sebagaimana disebutkan di atas.

Secara alamiah yoga dialami sewajarnya oleh semua mahluk, karena sebenarnya sekali hanya dengan persatuan itulah semua yang ada itu ada. Keadaan inilah yang dijadikan landasan bersama dan pertama, namun keadaan sedemikian ini dalam praktek kehidupan sehari-hari sering dilupakan. Secara khusus dan teknis yoga adalah pengaktualisasikan identitas, yang sebenarnya telah ada walaupun tidak disadari.

Tidak ada pengikat yang lebih kuat dari maya, dan tidak ada kekuatan yang lain yang mampu menghancurkan ikatan itu selain Yoga. Tattwajnana atau kesejatian adalah hadiah yang paling berharga dari semua bentuk laku shadnan yoga.

(14)

Zaman kali telah menurunkan kitab suci tantra, yaitu pengetahuan praktis yang langsung harus dipelajari dalam praktek. Kitab tersebut menuntut pemahaman hakekat yoga shadhana ritual. Pemahaman intensif memerlukan tingkat evolusi berpikir melalui praktek-prakteknya. (Granoka, 2000:15).

Dari uraian di atas menunjukkan suatu larangan yang bersifat positif, agar didalam mempelajari Mantra mengikuti sistimatika dan etika bermantra. Bali sudah memahami mantra, agar dipergunakan sebagai jalan mensejahterakan kehidupan masyarakat untuk mencapai kedamaian bersama. Paling tidak mantram itu dipergunakan pertama untuk diri sendiri seperti mantram; Pembersihan Tangan, Pembersihan Dupa, Pembersihan Bunga dan Mantram Tri sandya. Kedua untuk keluarga, seperti: Otonan anak, otonan istri dan upacara odalan kecil di sanggah kemulan milik sendiri, artinya hanya sebatas dikalangan rumah sendiri dan dilakukan upakara secara kecil-kecilan.

Etika yang harus dipegang oleh orang yang mempelajari mendalami spiritual adalah: Kitrcah cisyo’dhyapya ityaha: Acarya putrah cusrusur njadado dharmikah cucuh, aptah caktorthadah sadhu swodhyapya daca dharmatah.

Menurut hukum suci, kesepuluh orang-orang berikutnya adalah putra guru (yaitu) ia yang berniat melakukan pengabdiannya, ia memberikan pengetahuan, yang sepenuh hatinya mentaati UU, orang yang suci, orang yang berhubungan karena perkawinan atau persaudaraan, orang memiliki kemampuan rohani, orang yang menghadiahkan uang, orang yang jujur dan keluarga (mereka) dapat dipejalari Weda atau mantra.

Selanjutnya dinyatakan, seorang tidak boleh menceriterakan apapun kepada orang lain kecuali kalau ditanyai; demikian seseorang hendaknya tidak menjawab pertanyaan yang tidak wajar untuk dinyatakan, hendaknya orang-orang supaya bertingkah laku bijaksana diantara orang-orang yang memiliki pengetahuan yang sederhana. Diantara kedua jenis orang itu, yang menjelaskan sesuatu yang tidak wewenangnya dan yang menyatakan pertanyaan yang bukan wewenangnya salah satu dan keduanya, akan mengalami kekeliruan atau terkena bencana permusuhan oleh orang yang lain. Sebagai bibit yang baik tidak boleh ditaburkan pada tanah yang gersang, demikian juga pengetahuan yang suci tidak seharusnya disebarkan kepada keluarga-keluarga dimana kemasyurannya dan kekayaannya yang tidak didapat dengan kesucian atau tanpa penghormatan kepada yang suci. Pengetahuan suci mendekati seorang Sulinggih (su-berarti baik, linggih berarti tempat, maksudnya orang yang dipercaya dimasyarakat, telah memiliki sifat-sifat baik) dengan berkata: Aku adalah kekayaan anda,

(15)

peliharalah aku, jangan aku diserahkan kepada mereka yang tak percaya, dengan demikian aku menjadi amat kuat. Tetapi serahkan saya kepada seorang Sulinggih yang anda ketahui pasti ia yang sudah suci, yang bisa mengendalikan panca indranya, berbudi baik dan tekun. (Weda Smerti, 1977/1978:109-115).

Silahkan, belajarlah Mantra dan Memantra berdasarkan kesucian hati, dan ketika telah memilikinya, manfaatkanlah sesuai dengan tata dan etika dimana harus diucapkan, dan dimana harus dipujakan. Kalau orang berkeinginan dengan sungguh-sungguh, diperkenankan juga memantra kepada orang yang belum Adiksa Dwijati.

1. Pengertian Mantram

Mantram atau “mantra” yang biasa juga disebut Pùjà, merupakan suatu doa, berupa kata atau rangkaian kata-kata yang bersifat magis religius yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Mantram juga biasanya juga berisi permohonan dan atau puji-pujian atas kebesaran, kemahakuasaan dan keagungan Tuhan yang Maha Esa.

Kata “mantra” berhubungan dengan kata Bahasa Inggris “man”, dan kata Bahasa Inggris “mind” dan “metal”, yang diambil dari kata latin “ments” (mind), yang berasal dari kata Yunani “menos” (mind). “Menos”, “mens”, “metal”, “mind”, dan kata mantra diambil dari akar kata kerja Sanskerta “man”, yang berarti “untuk bermeditasi”. Ia memiliki pikiran yang ia meditasikan. Ia berkonsentrasi pada kata sebuah “mantra” untuk “meditasi”.

Sumber mantra. Mantra adalah suara yang berisikan perpaduan suku kata dari sebuah kata. Jagat raya ini tersusun dari satu energi yang berasal dari dua hal, yaitu dua sinar yaitu suara dan cahaya. Dimana yang satu tidak akan bisa berfungsi tanpa yang lainnya, terutama dalam ruang spiritual. Uni suara yang disebut dengan mantra bukanlah mantra yang didengar dari telinga; semua itu hanyalah manifestasi fisikal. Dalam keberadaan meditasi yang tertinggi, dari seseorang telah menyatu dengan Tuhan, yang ada dimana-mana, yang merupakan sumber dari semua pengetahuan dan kata. Bahasa filsafat India, menyebutkan sabda Brahman, kata-kata Tuhan. Semua pengetahuan tersedia bagi orang yang spiritual untuk dipakai dan diketahui. Dari sini kesadaran muncul dan menyentuh permukaan interior pikiran yang berhadapan dengan sang diri bukan merupakan indra-indra dan bagian dari dunia. Permukaan interior ini disebut dengan antah karana, pemikiran yang intuitif. Disini sinar kesadaran mengalir dan dari spiritual menghasilkan getaran mental. Pikiran bercampur dengan kesadaran yang bagaikan cahaya kilat. Dan pada momen mikro, yang sangat halus seperti keseluruhan buku weda atau semua ke 330 juta mantra mungkin akan muncul. Saat

(16)

pengetahuan muncul dari kedalaman buddhi kepermukaan luar, pikiran rasional menjadi pemikiran verbal. Kata-kata itu hanyalah proses manifestasi, getaran dari frekwensi yang lebih rendah dari pada yang terlebih dahulu ada. Pikiran verbal ini dalam pikiran, disebut sebagai vaikhari oleh ahli tata bahasa dan ahli filsafat, sebuah kata berbeda. Ini hanyalah tahap pertama dari vaikhari. Sehingga apa yang disebut dengan pemunculan kata sebenarnya adalah kata-kata terselubung pada frekwensi Kata yang paling rendah. Ini diselubungi oleh lapisan pikiran yang individual. Keterbukaan yang sebenarnya terdapat dalam meditasi yang paling tinggi yang merupakan dialog tanpa kata-kata atau pertukaran dengan Tuhan dan Jiwa. (Bharati, 2004: 3,29,30).

Para ahli agama bahkan menyatakan bahwa mantram dapat menghalau berbagai macam bencana, rintangan maupun penyakit dan merupakan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan. Mantram juga dikatakan sebagai ladang energi atau energi illahi (Tuhan) yang sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidup umat manusia. Dengan mantram, maka akan dihasilkan getaran energi Tuhan sesuai dengan matram yang diucapkan. Oleh karena itu setiap bersembahyang umat Hindu sebaiknya mengucapkan matram yang disesuaikan dengan tempat dan waktunya. Namun jika tidak memahami mantram yang dimaksudkan, mereka dapat bersembahyang dengan bahasa yang paling dipahami.

Umat Hindu disarankan memahami dan mampu paling tidak mengucapkan Mantram atau Puja Trisandya dan Kramaning Sembah, dua jenis mantram yang amat diperlukan pada waktu bersembahyang (Suhardana, 2005:22-23)

Ada bermacam-macam jenis mantra, yang secara garis besarnya dapat dipisahkan menjadi Vedik Mantra, Tantrika Mantra dan Puranik Mantra. Lalu setiap bagian ini selanjutnya dibagi mejadi sattwika, rajasika dan tamasika mantra. Mantra yang diucapkan guna pencerahan, sinar, kebijaksanaan, kasih sayang Tuhan tertinggi, cinta kasih dan perwujudan Tuhan, adalah sattwika mantra, dan mantra yang diucapkan guna kemakmuran duniawi serta anak cucu, merupakan rajasika mantra, sedangkan mantra yang diucapkan guna mendamaikan roh-roh jahat atau menyerang orang lain ataupun perbuatan-perbuatan kejam lainnya adalah tamasika mantra, yang penuh dosa dan perbuatan demikian yang mendalam disebut warna-marga atau ilmu hitam. Selanjutnya mantra juga dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian yaitu: 1). Mantra, yang berupa sebuah daya pemikiran yang diberikan dalam bentuk beberapa suku kata atau kata, guna keperluan meditasi, dari seorang guru; 2). Stotra, doa pada dewata, yang dapat dibagi lagi menjadi; (a). bersifat umum dan (b). bersifat khusus. Stotra umum guna kebaikan umum yang harus datang dari Tuhan sesuai dengan

(17)

kehendakNya, sedangkan do’a khusus adalah do’a-do’a dari seorang pribadi kepada Tuhan untuk memenuhi beberapa keinginan khususnya; (3). Kawaca, atau mantra yang dipergunakan sebagai benteng perlindungan. (Maswinara, 2004:7-8).

Seperti halnya mengucapkan mantram dalam melaksanakan Tri Sandya, sembahyang atau berdoa, maka dalam pengucapan mantram japa dibedakan atas empat macam sikap atau cara yakni:

1.1.Waikaram Japa, yaitu melaksanakan japa dengan mengucapkan mantram japa berulang-ulang, teratur dan ucapan mantram itu terdengar oleh orang lain.

1.2.Upamasu Japa, yaitu melaksanakan japa dalam hati secara teratur, berulang-ulang, mulut bergerak, namun tidak terdengar oleh orang lain.

1.3.Manasika Japa, yaitu melaksanakan japa dalam hati, mulut tertutup rapat, teratur, berulang-ulang, konsentrasi penuh, tidak mengeluarkan suara sama sekali.

1.4.Likhita Japa, yaitu melaksanakan japa dengan menulis berulang-ulang mantra japa di atas kertas atau kitab tulis, secara teratur, berulang-ulang dan khusuk (Titib, 1997:92)

Jadi dari uraian di atas menunjukkan bahwa Mantram, juga disebut Puja, dan juga disebut Japa, merupakan suatu kata-kata yang diucapkan bersifat magis religius yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya. Yang berisi puji-pujian dan permohonan sesuatu, sesuai dengan keinginan. Hal ini disesuaikan dengan situasi dan tempat dimana, bagaimana dan mantram apa yang harus diucapkan. Kemudian dalam pengucapan mantram tersebut dijelaskan, semakin keras kita mengucapkan mantram maka nilainya semakin kecil dan sebaliknya semakin kecil kita mengucapkan mantram maka nilainya semakin besar. Dan para penulispun juga dikatakan melaksanakan japa, maka dari itu karya tulis buku “Mantra dan Belajar Memantra” ini adalah sebagai Lakhita Japa, yang akan dibahas melalui tahap-demi tahap.

2. Belajar Mantram

Secara umum mantram dari jaman dahulu sangat dilarang oleh tetua kita di Bali, dengan istilah Aywa Wérà, tan sidha phalanià, jangan disembarangkan/dibicarakan, nanti kemujizatannya akan hilang, hal seperti itu tidak baik. Tetapi jaman semakin berkembang, maka pernyataan tersebut perlahan-lahan berubah menjadi Ayu Wérà, sidhi phalanià, sangat baik untuk dibicarakan, dan utama manfaatnya. Dari kedua pernyataan tersebut menunjukkan, apabila suatu hal dilaksanakan dengan tujuan baik, maka

(18)

segala sesuatunya dapat dibicarakan atau di analisa, untuk mencapai kesempurnaan. Tetapi kalau pembicaraan untuk ke hal-hal yang negative, sebaiknya jangan dibicarakan karena akan mendatangkan malapetaka.

Kemudian secara teori, memang ada unsur larangan untuk mengucapkan Mantram, tetapi ada juga unsur yang memberikan kesempatan untuk belajar mengucapkan mantram kalau hal itu dilakukan dengan tujuan baik. Larangan yang dimaksud untuk mengucapkan Mantram adalah: Yan hana wwang kengin weruhing Sang Hyang Aji Aksara, mewastu mijil saking aksara, tan pangupadyaya/maupacara muang tan ketapak, tanpa guru, papa ikang wwang yang mangkana. Apabila ada orang yang ingin belajar Sastra, dengan tidak memiliki guru, tidak dianugrahi (ketapak) berdosalah orang seperti itu. Tetapi kalau dilakukan dengan cara yang baik (sesuai situasi dan hati nurani yang belajar Mantra), hal tersebut diperbolehkan, walaupun belum memenuhi persyaratan tersebut di atas, yang bertujuan untuk memuja manifestasi Tuhan, dengan hati yang tulus ihklas untuk mengabdi tanpa pamrih. Kewala ikang amusti juga kawenangan, amreyogakena Sang Hyang ri daleming sarira. Maka dari itu marilah kita memantra dan Belajar memantra dengan, sredaning manah.

3. Mantram Umum

3.1. Sebelum Mantam Tri Sandya

Sebelum Tri Sandya di mulai bersihkan: Tangan kanan dengan Mantram:

Om Suddhamam Swaha Om bersihkanlah hamba

Tangan kiri dengan Mantram: Om ati Suddha mam Swaha Om bersihkanlah hamba 3.2. Mantram Tri Sandya

Om bhur bhuwah swah tat sawitur waremnyam bhargo dewasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayat Om Narayana ewedam sarwam

yad bhutam yac ca bhawyam niskalanko niranjano

nirwikalpo nirakyatah suddho dewa eko narayana na dwityo asti kascit

(19)

Om Twam siwah twam mahadewah Iswarah parameswarah

Brahma wisnusca rudrasca Purusah parikertitah

Om Papa ham papakarmaham papatma papasambhawah trahiman pundarikkaksa sabahyabyantarah sucih Om Ksamaswa mam mahadewa sarwaprani hitangkara

mam moca sarwa papebhyah palayaswa sada siwa

Om Ksantawyah kayiko dosah ksantawyo wacika mama ksantawyo manaso dosah tat pramadat ksmaswa mam Om Santih, Santih, Santih Om Artinya:

Om adalah bhur bhuwah swah

Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan sang Hyang Widhi, semoga Ia memberikan semangat pikiran kita. Om Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan

ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

Om Engkau dipanggil Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, dan Purusa.

Om Hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba.

Om Ampunilah hamba Sang Hyang widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua mahluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang widhi

Om Ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba. (Propinsi Bali, 2000:42-44)

3.3. Sikap Sembahyang dan Kramaning Sembah

3.3.1. Kehadapan Sang Hyang Widhi, cakupan tangan diletakkan di atas dahi hingga ujung jari ada di atas ubun-ubun.

3.3.2. Kehadapan para dewa (dewata), ujung jari-jari tangan di atas, diantara kening.

(20)

3.3.3. Kepada Pitara (roh) Leluhur, ujung jari-jari tangan berada di ujung hidung.

3.3.4. Kepada sesama manusia, tangan dihulu hati, dengan ujung jari-jari tangan mengarah ke atas.

3.3.5. Kepada para Bhuta, tangan di hulu hati, tetapi ujung jari-jari tangan mengarah kebawah. (Titib, 1997:92).

3.4. Panca Sembah

3.4.1. Sembah Puyung (cakupan tangan kosong) Om atma tattwatma suddha mam swaha

Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba

3.4.2. Menyembah sang Hyang Widhi sebagai Sang Hyang Raditya (Sarana Bunga)

Om adityasya param jyoti, rakta teja namostute,

sweta pangkaja madhyastha, bhaskaraya namo stute.

Om, Tuhan Yang Maha Esa, sinar Sang Hyang Surya yang maha hebat, Engkau bersinar merah, kami memuja-Mu, Engkau yang berstana ditengah-tengah teratai putih, hormat kepada-Mu pembuat sinar.

3.4.3. Menyembah Tuhan sebagai Ista Dewata, seperti

persembahyangan Purnama Tilem. Dewata yang di puja adalah Sang Hyang Siwa yang berada dimana-mana. (Sarana Kawangen) Om nama dewa adhisthanaya,

sarwa wyapi wai Siwaya, padmasana ekapratisthaya, ardhanareswaryiya namo namah.

Om kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang tinggi, kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada di mana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Ardhanareswari, hamba menghormat.

3.4.4. Menyembah Tuhan Sebagai Pemberi Anugrah. (Sarana Kawangen).

Om Anugraha manohara, dewatdatanugrahaka, arcanam sarwa pujanam nama sarwa nugrahaka. Dewa dewi mahasiddhi, Yajnanga nirmalatmaka,

(21)

Laksmi siddhisca dirgayuh, Nirwighna sukha wrddhicsa.

Om Engkau menarik hati, pemberi anugrah, anugrah pemberian dewa, pujaan semua pujaan, hormat pada-Mu memberi semua anugrah.

Kemahasidian Dewa dan Dewi, berwujud yadnya, pribadi suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan.

3.4.5. Sembah Puyung (Jari-jari dicakupkan tanpa bunga) Om dewa suksma paramacintyaya nama swaha

Om hormat pada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi dan gaib. (Prop Bali, 200:56-59).

3.4.6. Ngaksama Jagadnatha (Sarana, Sekar, Genta) Ong ksama swamem jagadnatha

Sarwa papa wiratarem Sarwa karya sidham dehi Prenamya sure swarem

Ong twam surya twam siwa karen Twam rudra bahni laksanem Twahi sarwa gatokarah Mamo karyaprayojanm

Ong ksama swamem maha saktyem Hyati ksma srayem gunatmakem

Mascayet stata papa Sarwa loka darpanem Ong Ang Ksama sarwa purnem ya namah swaha. (Bangli, 2005:88)

3.4.7. Ngewaliang Ida Bhetara (sarana Sekar, Genta) Ong Ong Prama Siwa sunyatmane ya namah Ong Ong sudha Siwa niskalatmane ya namah Ong Ong sudha Rudra atyatmane ya namah Ong Ong Mahadewa niratmane ya namah Ong Mang Iswara paratmana yan namah Ong Ung Wisnu antaratmane ya namah Ong Ang Brahmatmane yan namah

Ong Siwa ya namah, Ong Sadhasiwa ya namah, Ong Pramasiwa ya namah,

Ong Ang Ah Siwa sunya ya namah, Ong Pat Windhu dewa ya namah,

Om shanti, shanti, shanti Om. (Bangli, 2005:91)

(22)

4.1. Mantram Widhi Yadnya

Sebelum kita mulai menyebutkan mantram Sang Hyang Widhi Yadnya, maka terlebih dahulu perlu kita ketahui, macam yadnya. Secara umum dijelaskan bahwa dalam agama Hindu terdapat lima Yadnya yang disebut dengan Panca Yadnya. Karena Sang Hyang Widhi Yadnya diidentikkan dengan Dewa Yadnya. Tetapi dalam prakteknya, dan secara logika antara Sang Hyang Widhi dan Dewa tidak sama. Sang Hyang Widhi adalah simbolis Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Dewa adalah Div, yang berarti Sinar.

Sang Hyang Widhi itu adalah Tunggal dan Div atau Dewa itu adalah banyak, merupakan sinar suci dari Tuhan, sehingga dalam

memujanyapun juga berbeda, seperti sikap tangan yang dinyatakan sebagai berikut:

a).Sembahyang kehadapan Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widhi), kedua tangan dicakupkan di atas dahi, sehingga ujung jari tangan berada di atas ubun-ubun,

b).Bersembahyang kehadapan para Dewa (Dewata) cakupan jari tangan ditempatkan ditengah-tengah dahi dengan ujung kedua Ibu Jari tangan berada di antara kedua kening,

c). Bersembahyang kehadapan Pitara, cakupan jari tangan ditempelkan diujung hidung, dengan kedua ujung ibu jari tangan menyentuh hidung,

d).Bersembahyang kehadapan Bhuta, cakupan tangan diletakkan di hulu hati, dengan ujung jari menghadap kebawah. (Suhardana, 2005:10).

Jadi sembahyang kehadapan Sang Hyang Widhi, adalah sembahyang kehadapan Tuhan dalam wujud Tunggal yang sifat-sifatnya dipuja oleh semua umat agama di dunia, dengan sebutan yang berbeda, yang terdapat dalam Sembah Puyung:

Om Atma Tattwatma Suddha Mam Swaha. Ya Tuhan sucikanlah diri hamba

Om Puspa Danta Ya Namah Ya Tuhan sucikanlah bunga ini Om Nama Dewa Adhi Sthana Ya Sarwa Wyapi Wai Siwa Ya

Padmasana Eka Pratista Ya

Ardhanaresawaryai Namo Namah.

Ya Tuhan hamba memuja-Mu, sebagai Batara Siwa (Tuhan Yang Maha Agung) dan merasuk kesegenap mahluk. Ya Tuhan hamba memuja-Mu sebagai Yang Maha Tunggal.

Om Ayur Wrddhir Yaso Wrddhih Wrddhih Prajna Sukha Sriyam

(23)

Dharma Santana Wrddhih Ca Santuet Sapta Wrddayah

Om Yawan Merau Sthito Dewah Yawad Gangga Mahitale

Candrakau Gagane Yawat Tawad wa wijayi Bha wet Om Dirgahyur Astu Tathastu Om Awignam Astu Tathastu Om Subam Astu Tathastu Om Sukam Bhawantu Om Purnam Bhawantu Om Sreyo Bhawatu Sapta Wrddhir Astu.

Ya Tuhan semoga semua karunia berupa kebahagiaan, ketentraman, kebijaksanaan dan kebahagiaan yang diberikan kepada hamba, menjadi suluh batin hamba. Mudah-mudahan hamba saling mengasihi sesamanya dan semoga semua kegelapan pikiran menjadi sirna.

Ya Tuhan hamba ibaratkan kebesaran-Mu sebagai Gunung Mahameru, hamba ibaratkan keluhuran-Mu didunia sebagai sungai Gangga, diangkasa sebagai matahari dan bulan. Semua itu ciptaan dan kebesaran Tuhan juga.

Ya Tuhan semoga memberi panjang umur (nutuggang tuwuh) dan keselamatan dan tiada rintangan. Ya Tuhan semoga penjelmaan hamba baik, Ya Tuhan semoga penjelmaan hamba sempurna, Ya Tuhan semoga penjelmaan hamba selalu bahagia. Ya Tuhan semoga semuanya sejahtera.

Om dewa Suksma Pramacintya Ya Namah Swaha. Om Santih, Santih, Santih, Om

Ya Tuhan, terima kasih atas karuniamu, semoga damai di hati, damai di dunia dan damai selalu. (Suhardana, 2005:40-49)

4.2. Dewa Yadnya

Yang termasuk dewa yadnya adalah setiap: 1). Klion, 2). Purnama, 3). Tilem, 4). Pager Wesi, 5). Tumpek Landep, 6). Galungan, 7). Kuningan, 8). Tumpek Bubuh, 9). Saniscara Umanis Watugung, 10). Banyu Pinaruh, 11). Soma Ribek, 12). Sabuh Mas, 13). Redite Umanis Ukir, 14). Anggara Klion Kulantir, 15). Anggara Klion Julung wangi, 16). Wrespati Wage Sungsang, 17). Paing Dunggulan, 18). Wage Dunggulan, 19). Wrespati Manis Dunggulan, 20). Wage Dunggulan, 21).Wrespati Umanis Dunggulan, 22). Sukra Paing Dunggulan, 23). Redite Wage Kuningan, 24). Soma Klion Kuningan, 25). Sukra Wage Kuningan, 26). Budha Klion Paang, 27). Sukra Wage Wayang, 28). Buda Wage Kelawu, 29). Sukra Manis Kelawu. (Pramadaksa, 1984).

Setelah selesai melaksanakan puja matram di atas, maka dilanjutkan dengan mantram-mantram sebagai berikut:

(24)

4.2.1. Menghaturkan dupa.

Om Ang Brahma-amerta dipa ya namah Om Ung Wisnu-amerta dipa ya namah Om mang Iswara-amerta dipa ya namah 4.2.2. Metabuh arak/ berem.

Om Ang Kang Khasolkaya swasti-swasti, sarwa kala Bhuta bholta ya namah

4.2.3. Mersihin eteh-eteh upakara (mesarana sekar lan Bija): Om Grim Wausat ksama sampurna ya namah

4.2.4. Ngutpeti Toya Ring Sangku.

Om I Ba Sa Ta I, Om Ya Wa Si Ma Na Om Mang Ung

4.2.5. Padmasana Ring Toya.

Om Om Padmasana ya namah Om Om Anantasana ya namah 4.2.6. Dewa Pratista.

Om Om Dewi-Dewi pratista ya namah 4.2.7. Sembah Kuta Mantra.

Om Hrang Hring sah paramasiwa Aditya ya namah 4.2.8. Utpeti Kang Toya.

Om Sa Ba Ta A I, Om Na Ma Si Wa Ya, Om Ang Ung Mang

4.2.9. Sembah Siwa Amerta.

Om Hrang Hring Sah Paramasiwa-amerta ya namah 4.2.10. Aturi Kang Toya Puspa, Gandaksata, Wija.

Om puspa danta yan namah (sekar)

Om Sri Gandheswarya ya namah (miyik-miyikan) Om Kung Kumara Wija yan namah (bija beras) Om Ang Dhupa dipastra ya namah (dupa) 4.2.11. Ngarga Tirta.

Om Gangga Dewi naha punyam Gangga salaca medina,

Gangga terangga samyuktam, Gangga dewi namu namah. Om Sri Gangga Mahadewi, Anuksma-amrta jiwani, Ongkara aksara jiwatman, Tadd-amrta manoharam

(25)

Om Utpeti ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca, Utpeti sarwa hitan ca,

Utpeti sri wahinan ya namah swaha.

Raris ider kang toya ping tiga, saha uleng ning kayun:

Om Bhur Bhuwah Swah swaha Mahaganggayai tirtha pawitrani ya namah swaha.

Tumuli masirat ring raga:

Om Ang Brahma-amrta ya namah Om Ung Wisnu-amrta ya namah Om Mang Iswara-ammrta ya namah

4.2.12. Akena bija. Mantra bija.

Om Idham bhasman param guhyam, sarwa papa winasana ya, sarwa kalusa winasa ya, sarwa rogha winasana ya namah.

Ngremeki bija (mengaduk, di atas tangan) Om bang Bamadwa guhya ya namah Om Bhur Buwah Swah amrta ya namah.

Apasang bija.

ring sirah :Om Ing Isana ya namah

ring lelata :Om Tang tatpurusa ya namah ring tangkah :Om Ang Aghora ya namah

ring bahu kanan: Om bang bamadewa ya nama ring bahu kiri :Om Sang Sadya ya namah

4.2.13. Ngaskara Bajra. Om Kara Sadasiwa Stham,

Jagat Nata hitangkarah, Abhiwada wadanyam, Ghanta sabda prakasyate. Om Ghanta sabda mahasrestah,

Ongkara parikirtitah.

Candra nadha bhandu drestham, Spulingga Siwa twam ca.

Om Ghantayur pujyate dewah, Abhawa-bawa karmesu Warada bIabdha sandenam, Wara Siddhi nih samsayam.

(26)

Maklener apisan (Ngaskara) : Om Om Om Maklener ping kalih : Om Ang Ung Mang

Maklener ngelantur : Om Ang Kang Iswara ya namah

4.2.14. Anglukat Banten.

Om Pakulun Hyang ning prana-prani, Hyang ning sarwa tamuwuh, pakulun manusa nira handa sih waranugrahanira, nanda tirta panglukatan, ledang paduka bhatara anglukat angebur dasa malaning bebanten kabeh, yang ana kalangkahing dening sona, kaiberan dening ayam, kacekel dening wong camah, kaporod dening wek, ya ta kaprayascitta denira Sang Hyang Sucinirma, mekadi sang Hyang Lewihing bebanten, wastu suddha paripurna. Om Siddhirastu ya namah swaha.

4.2.15. Mantra Pengulapan.

Om Pakulun Sang Hyang Sapta petala, Sang Hyang Sapta dewata, Sang Hyang Wesrawana, Sang Hyang Trinadi-pancakosika, Sang Hyang Premana, mekadi Sang Hyang Urip Sira amanggihaken ri stanan nira sowing-sowang pakenaniing hulun hangeweruhi ri sira, nandha raksanan den rahayu, urip waras dirguyua sang inambean mwah sang unulapan. Om Siddhirastu ya namah swaha. (Natha,2003:12-24).

4.2.16. Sembah Hyang di Ring Merajan Sanggah Kemulan.

Ong dewa-dewa tri dewanam, tri murti tri lingganam, tri purusah sudatmakem, sarwa jagat jiwatma takem.

Ong guru dewa guru rupem, guru madya guru purwem, guru pantarem dewam, guru dewa sudha nityem.

Om Brahma Wisnu Iswara dewan, jiwatmanem tri lokanem, sarwa jagat pratistanem, sudha klesa winasanem.

Ong Ong guru paduka byonamah swaha

4.2.17. Sembah Hyang di Merajan

Kemimitan/Paibon/Dadya/Pedharman Om Brahma Wisnu Iswara dewam, Jiwatman trilokanam,

Sawrwa jata pratistanam, Suddha klesa winasanam,

(27)

Ya Tuhan selaku Brahma, Wisnu Iswara, yang berkenan turun menjiwai isi tri loka, semoga seluruh jagat tersucikan, bersih serta segala noda terhapuskan oleh-Mu.

Ya tuhan selaku Bapak alam hamba memuja-Mu. (Kaler, 1983:21)

Ong Brahma Wisnu Iswara dewam, Tri Purusa suddhatmakam,

Tri-dewa tri-murti lokam.

Om Hyang Widhi dalam wujud-Mu sebagai Brahma, Wisnu Iswara, dewa tri purusa maha suci, Tri dewa adalah Tri Murti, semoga hamba terbebas dari segala bencana. Stuti Stava 157.1 dikutip oleh (Kanca, Tt:17).

4.2.18. Sembah Hyang di Kawitan Ratu Pasek. Om Siwa Rsi maha Tirtham,

Panca rsi panca tirtham, Sapta Rsi Catur Yogam, Lingga rsi mah lingam.

Om Ang Gong Gnijya namah swaha, Om Ang Gnijaya jagat patya namah, Om Ung Manik Jayas ca, sumerus ca,

Sa ghanasca De Kuturan Bharadah ca ya namu namah swaha. Om Om Panca Rsi Sapta rsi paduka Guru byo namah swaha. (Ringga, 2003:27-28)

4.2.19. Sembah Hyang di Purnama /Tilem.

Ong candra mandala sampurnam, candra yanti prenamyakem, candra dipa parem jotir, nama candra namo namah.

Ong siddhi ragem namastute, dhara gopati madanem, wicak satya arawiyem, nama candra namo namah.

Ong karma dhaksa jagat caksu, sarwa brana busitah, sweta manca kala runem, namo candra namo namah.

Ong Ong candra dipate ya namah. (Bangli, IB,2005:35)

4.2.20. Sembah Hyang di Pura Desa Mwang Bale Agung. Om Isana sarwa widnyana,

Iswara bhutanam,

Brahmano dhipati Brahman, Siwastu Sada Siwaya.

(28)

Ya Tuhan, Hyang Tunggal yang maha sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai seluruh mahluk, selaku Brahma raja dari pada semua Brahmana, selaku Siwa dan sada Siwa.

Ya Hyang Siwa hamba menyembah pada-Mu (Kaler, 1983:21-22) Om Pranamya Bhaskara Dewam

Sarwa klesa Winasanam Pranamya Ditya Siwartam Bukti mukti wara pradam

Om Rang Ring Sah Prama Siwa Ditya

Ya nama nama Swaha. (Suhardana 2005:68-69).

4.2.21. Sembah Hyang di Pura Puseh. Om Giripati maha wiryam,

Mahapratista, linggam Sarwa Dewa Pranayam, Sarwa jagat pratistanam.

Om Giripati dipata ya namah. (Suhardana 2005:68-69). Ya Tuhan selaku giripati yang Maha Agung, Maha Dewa dengan lingga yang mantap, semua Dewa tunduk pada-Mu

Om Giripati hamba memuja-Mu. (Kaler, 1983:21-22)

4.2.22. Sembah Hyang di Pura Dalem. Om Nam Dewa Adhistana Ya

Sarwa wyapi wai Siwa Ya Padmasna Eka Pratistha Ya

Ardhanaresswaryia nama namah. Om Catur Dibya Maha Sakti Catur asrame Bhatari

Siwa Jafatpati Dewi Durga masarira Dewi.

Ya Tuhan dalam wujud sebagai catur maha Dewi, Maha Kuasa, Maha Suci, Dewa dari semua Dewa, hamba memuja-Mu sebagai Dewa Durga/Dewa Siwa. (Suhardana 2005:62).

4.2.23. Sembah Hyang di Pura Prajapati. Om Brahma Prajapatih Sresthah

Swayambhur warado ruruh Padmayonis catur waktro

Brahma salam ucyate (Stuti & Stawa 483.4)

Om Hyang Widhi dalam wujud-Mu sebagai Brahma Prajapati, pencipta semua mahluk, maha mulia, yang menjadikan dirinya sendiri, pemberi anugrah, Mahaguru, lahir dari bunga teratai,

(29)

memiliki empat wajah dalam satu badan maha sempurna, penuh rahasia, Hyang Brahma maha agung. (Titib,1997: 59)

4.2.24. Tata Cara Persembahyangan dalam Piodalan

Om Ciwa sutram pawi-yapnya pawitram prajjapatti yo ayuswam bhala maste tejo, parama gohyanam tri gunam-tri gunatma kem.

Om Ariwam surya koti pratam-candra koti redayem.

Om bhur bhuwah swah tat sawitur warenyam bhargo dewasya pranato dimahi, dyoyo nah pracodayat.

(Tri Bhuana Meru tumpang tiga)

Om pranama Siwa Tang Ghayam, Ciwa tattwa prajanah, Siwasya pranoto nityam, canddhi kesayanamo stute.

Newidyam Brahma Wisnu’ca baksamdewa Maheswaram, sarwadya inala bhoti, sarwa karya,ca siddhinti.

Jayatte-jaya mapungat ya carthi, jaca mapomesi, siddhi sekala mapuyat parama Siwaya labhate.

Sang Hyang Widhi

Om sarwa Dewa, Triloka stutte, sagenah sapari warah, sawangga sada-sidasah.

Om Grim trepti laksanem. Om Grim Ksama heranya.

Astra Mantra dan Sthuti

Om Ung Rah Phat Astraya namah Om Atma Tatwatma Sudhamam swaha Om Om Ksama sampurnaya namah swaha Om Sri Pasupataye Ung Phat

Om sriyem bhawantu, sukham bhawantu, purnam bhawantu namah

Sthiti Mantram

Om Sang Bang Tang Ang Ing, Nang Mang Cing Wang Yang, Ang Ung Mang namah.

Setelah pangelebaran Caru, pujian terhadap Sang Hyang Widhi Om Twam Ciwa, twam Mahadewa, Iswara-Parama swara, Bhatara Wisnu’sca purusa pari kirtitah.

(30)

Ksama swamam jagat natha sarwa papani rantaram sarwa karya kidandiki.

Twam Suriya, twam Siwa karah, Twam Ing Rudra bhanilaksana, Twam Ing Swara Gata karah, namah karya prajayate, ksama swman sakti.

Asta swarya gunatmakem, nasayet statem papem, sarwa halaka terpana ya namah.

Anugraha hano haram, Dewa-data anugrahaken yarcanam, sarwa pujanem namah.

Sarwa nugrahakem Dewa-Dewi maha idem, laksmi sidhi’sca dhirga yur nirwighnam sukha kretam.

Penuntun Metirtha

Ong Rah Phat Astraya namah. Om Gangga mrtiya namah Om Candra mrtiya namah Om Siwa suddhamam swaha Om Atma tattwatmaya nam. Om Widya tattwaya namah. Om Siwa tattwatwaya namah.

Me Basme

Ong Idam basma param guhyam, sarwa papa winasanam, Sarwa roga pramanem, sarwa klesa winasanem.

Om Sri Samara wan amah.(Atmanadhi, 1972:82-86)

4.3. Pitra Yadnya

4.3.1. Tirta Puwa Pangentas Wong Preteka.

Ong idam toyam wimalan dewam sarwa kali kalusa prasame namah swaha.

Ye toyamciwon ce yah, ye toyem prameng srayem, brahma, wisnu, swaroma yem, tat to sima murti dewam.

Ciwa angga Siwa samahen, Siwa Murti suka wahem, pawitram mangghalam, dwam sarwa manggalanne sanem, sarwa tirthem siyemsawem.

Antaranta maye cubhem, nugrahanem bagawan dewi maye datem.

Maheswaram, tirtha jatah pawitrakah, jale dewam rsi sangke, twe meweh sapwe mi yadi ye na sakti bhawisiyate.

(31)

Om ganerem maha tirthem, sarwa papa winasanem nama, ste bhagawan Gangga nama ‘stuti nala muwapuh.

Salilem winalem toyem-toyem tirtha swibbhawa wanem subiksa ye sama toye, dewanemlila nasanem.

Gangga tirtha ye maha bhuta, maha nadhi tre priyem tatha sarwa dewati, deweye nameste ye namo namah.

Hung hur suma gangga idem toyem.

4.3.2. Nyiratin Tirta Sawa

Om jala siddhi maha sakti sarwa siddhi sarwa tirthem.

Siwa mrtha manggala ye Sri Dewi sawa mutate, nama siwa ya namah.

Nama windu awaye swarem prabhu ibhuh samma kerttem maka patakwa sanem.

Om Atma tattwatna sudhamam swaha, Om Ksama sampurnaya namah,

Om Sri Pasupatiye namah.

4.3.3. Tumuwut sang pitre adi nyasa ring catur desa, pamulihan sanghyang Atma (Ngentas) :

Om Ang sarwa dewa bhiyo namah swaha (purwa/angga bajra mudra)

Om Ang Sapta Rsi bhiyo namah swaha (daksine/mukha dada mudra)

Om Ang Pitre bhiyo namah swaha (Utara hradaya/cakra mudra) Om Ang Saraswatiye bhiyo namah swaha

(pascima/jihwa/nagapasa mudra) 4.3.4. Menekan Tangan.

Om Ang Sapta Rsi bhiyo namah. (tangan kanan tiga kali) Om Ang Sapta Pitra bhiyo namah (tangan kiri tiga kali)

Om Ang Sarwa Dewa bhiyo namah (tangan kanan lagi sekali). 4.3.5. Kramaning Pamuspaning Pitra.

Utpatti, Sthiti, Pralina, Brahmangga, Siwangga:

Triaksara, sami iti weta-wetanya. (Atmanadhi, 72:81-82) 4.4. Resi Yadnya

Yang dimaksud dengan Rsi Yadnya, mawit sakeng pelaksanaan swadharmaning Sang Sadaka ring para janane sami, punika pisan sane ngawanang, I para jadmane wenten utang mabudi ring Sang Sadaka, kebawos Rsi Renam. Ring tepengan punika waluya kapatutang/dharmaning bhakti, satunggil diangken I Para Jana mangda mapunya ring Sang Sadaka sane pageh ngamong berate lan

(32)

swadharmaning kasulinggihan; sapunika taler panungkalikanya Ida Sang Hyang Sedaka ring Ida Para Jana. (Pramadaksa, 1984). (arti bebasnya: berawal dari pelaksanaan kewajiban Sang Sadaka (Sulinggih), terhadap masyarakat pada umumnya, itu yang menyebabkan, disebut dengan Rsi Rnam. Pada kesempatan ini sepertinya telah dibenarkan sebagai wujud bhakti, untuk berkorban dengan tulus ihklas ring Sang Sulinggih, yang secara terus menerus menjalani hidup sebagai Sulinggih; demikian juga sebaliknya Beliau sang Sulinggih terhadap masyarakat).

Selanjutnya mengenai peraturan Sulingih telah diatur pada Himpunan Kesatuan Tafsir Terhadap. Aspek-Agama Hindu I-IX (1982-1982:14). Menyatakan bahwa: Tentang Kawikon/Sulinggih/Pendeta selaku Dwijati adalah suatu kedudukan khusus yang hanya bisa didapatkan dengan memenuhi syarat dan upacara menurut sesana serta sesuai dengan ketentuan-ketentuan Parisada.

4.4.1. Guru Pada Namas Karo

Om Guru-pada namas karaan, dewa-dewa stiti guruh. Santi-pusti-wasat-karma, karya siddhis ca jayate; Om Guru-paduka-byo namah, Waham wata - desyami

Guru-pada dasyat sada, nama namah swaha. (Pramadaksa, 1984).

4.4.2. Dwijendra Astawa.

Ong brahmanem brahma murtinem, Brahmo siwa murti wiryem,

Siwa sada siwa sirwatem, Siwa loka pratistanem,

Brahma peraja dipem lokem, Dwijendra baskara meretem, Tatwad nyanem siwem, Yoga sidyem murtinem. Baskarem siwangga layem, Dewa mantarem sidhi wakyem dewa sandi sang yogatem, Brahma Wisnu Mahe Suarem. Siwa puja yoga meretem, Sarwa jagat pratistanem, Sarwa wigene winasanem, Sarwa roga wisnu cartem, Dwijendra purwa siwem,

Brahmanem purwanem siwem, Bramana purwa tististanem, Sarwa dewa masarirem,

(33)

Surya merta pawiranem

Yogi-yogi sarwa dewa, Brahma wangsabca, Brahma putra pratistanem,

Sarwawa dewamca, Ong Guru dewem, Sadasiwa maha wirye, s

Sarwa dewa pratistanem.

Ong ganda pujiem Iswara nityem, Nada grutyem dewa mantrem, astawem dewa paragiyem,

Ongkara mantra pujitem oma winayem maha wiryem, ya sarwa wigena wina sanem.

Om Sriam bawantu swaha.

Ong Brahmanem brahma murtiem, brahma siwa murti wiryem,

siwa sada siwa meretem,

siwa loka pratistanem. (Gambar, 1986:47-8).

4.4.3. AUM Upacara Resi Yadnya

Selain pernyataan di atas, yang disebut dengan Resi Yadnya adalah penghormatan kepada nilai-nilai kebenaran yang sejati, yang biasanya dipegang oleh “Bhagawanta”, yaitu Resi yang dipercaya oleh Raja untuk menciptakan kesejahteraan dalam Suatu Negara.

Lontar yang disalin oleh Sri Rhesi Anandakusuma, dan penulis ringkas, dengan isinya sebagai berikut: Di Gunung Agrapati ada seorang Maha Reshi yang bernama Purbhasomya, Beliau seorang wiku yang telah melaksanakan segala dharma dari sejak masih kanak-kanak.

Kemudian datanglah seorang Raja yang bernama Bhanoraja, untuk memohon petunjuk agar mampu mengalahkan musuhnya yang memiliki kesaktian yang tidak terkalahkan, dan tidak terluka oleh segala macam senjata. Reshi Purbhasomya memberi petunjuk kepada baginda Raja agar melaksanakan,tiga macam syarat untuk mengalahkan musuhnya yaitu: Sang Hyang Astaka Widhi, Sang Hyang Purana Yadnya dan Sang Hyang raja Kerta. Sang Hyang Astaka Widhi, adalah seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat utama yaitu: Sang Hyang Agni, membakar musuh yang ada dalam diri manusia. Sang Hyang Samirana, harus mengetahui gerak-gerik rakyat yang bermaksud buruk atau baik. Sang Hyang Surya, memberikan penyuluhan dengan baik dan teratur. Sang hyang Indra, memberikan kemakmuran agar rakyat cinta kepada pemerintah. Sang Hyang Yama,

(34)

menegakkan hukum tanpa pilih kasih. Sang Hyang Baruna, memiliki pikiran yang cerdik dan menghukum penjahat negara. Sang Hyang Wesrama, memberikan penghargaan bagi rakyat yang berjasa. Sang Hyang Pertiwi, memberikan ajaran yang dimiliki, demi kemakmuran.

Sang Hyang Purana Yadnya, memberikan hukuman sesuai dengan kesalahannya; kalau dia menggelapkan uang harus dikembalikan berupa uang, kalau ia membunuh maka dia harus dibunuh.

Sang Hyang Raja Kerte, Hukumlah mereka yang bersalah dengan hukuman yang masih berlaku sesuai dengan Undang-Undang, jangan sampai menghukum orang atas keinginan sendiri.

Setelah mendapat petunjuk, dari Reshi Purbhasomya maka Baginda Raja melaksanakan petunjuk itu dengan baik. Akhirnya musuh-musuh baginda Raja dengan mudah dapat dikalahkan. Pesan terakhir dari Reshi Purbhasomya, untuk mengangkat Reshi sebagai “Bhagawanta” dengan dua belas kreteria sebagai berikut:

4.4.3.1. Wiku Panjer, dengan tekun melakukan kewajiban siang maupun malam untuk mendapat dana punia (guru yaga), banyak mempunyai sisia, banyak bekerja sehingga mempunyai istri lebih dari seorang.

4.4.3.2. Wiku Cendana, wiku yang senantiasa berpegangan kepada sastra, memperlihatkan Candi Prasada, dengan maksud berguru kepada Dewa Parameswara dan berhasil memiliki ilmu yang utama.

4.4.3.3. Wiku Ambeng, bersama-sama belajar keluar negeri bersama pedagang, menjual ilmu pengetahuannya. Demikian saja pekerjaan-nya.

4.4.3.4. Wiku Pangkon, wiku yang tidak bersaksi. Pikirannya hanya berguru kepada Sang Hyang Widhi Wasa, hingga memiliki ilmu yang tinggi.

4.4.3.5. Wiku Palang Pasir, wiku yang mengajarkan ilmu kepada orang lain dengan memikat hati masyarakat (amancing updesa). Dengan cara demikian agar dapat guru yaga.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :