• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROSEDUR PENCAIRAN DANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PADA KANREG VI BKN MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III PROSEDUR PENCAIRAN DANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PADA KANREG VI BKN MEDAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

33

BAB III

PROSEDUR PENCAIRAN DANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PADA KANREG VI BKN MEDAN

A. Pengertian Prosedur

Prosedur tidak hanya melibatkan aspek financial saja, tetapi aspek manajemen juga memiliki peranan penting. Prosedur merupakan rangkaian langkah yang dilaksanakan untuk menyelesaikan kegiatan atau aktivitas, sehingga dapat tercapai tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisien serta dapat dengan mudah menyelesaikan suatu masalah yang terperinci menurut waktu yang telah ditetapkan.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, penulis mengemukakan beberapa pendapat tentang pengertian prosedur, diantaranya pengertian yang dikemukakan oleh Mulyadi (2008:5) dalam bukunya “Sistem Informasi Akuntansi” mendefenisikan prosedur sebagai berikut:

“Prosedur adalah suatu kegiatan yang melibatkan beberapa orang dalam satu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanggungan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi secaraberulang-ulang”.

Sedangkan menurut Susanto (2007:263) dalam bukunya “Sistem Informasi

(2)

“Prosedur adalah rangkaian aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara berulang – ulang dengan cara yang sama”.

Dari beberapa pengertian prosedur diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian prosedur adalah suatu urutan tugas dan pekerjaan yang saling berhubungan satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan.

Karakteristik Prosedur :

Berikut adalah karakteristik prosedur, diantaranya adalah: 1. Prosedur menunjang tercapainya tujuan suatu organisasi.

2. Prosedur mampu menciptakan adanya pengawasan yang baik dan menggunakan biaya yang seminimal mungkin.

3. Prosedur menunjukkan urutan – urutan yang logis dan sederhana. 4. Prosedur menunjukkan adanya penetapan keputusan dan tanggung

jawab.

5. Menunjukkan tidak adanya keterlambatan atau hambatan.

6. Adanya suatu pedoman kerja yang harus diikuti oleh anggota–anggota organisasi.

7. Mencegah terjadinya penyimpangan.

8. Membantu efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja dari suatu unit organisasi.

Manfaat Prosedur

(3)

35

1. Lebih memudahkan dalam menentukan langkah-langkah kegiatan dimasa yang akan datang.

2. Mengubah pekerjaan berulang-ulang menjadi rutin dan terbatas, sehingga menyederhanakan pelaksanaan dan untuk selanjutnya mengerjakan yang seperlunya saja.

3. Adanya suatu petunjuk atau program kerja yang jelas dan harus dipatuhi oleh seluruh pelaksana.

4. Membantu dalam usaha meningkatkan produktivitas kerja yang efektif dan efisien.

5. Mencegah terjadinya penyimpangan dan memudahkan dalam pengawasan, bila terjadi penyimpangan akan terdapat segera diadakan perbaikan sepanjang dalam tugas dan fungsinya masing-masing.

B. Pengertian Efektifitas

Pengertian Efektifitas adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan – tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan- tujuan yang telah ditentukan. Efektifitas menunjukan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil kegiatan semakin mendekati sasaran, berarti makin tinggi efektifitasnya.

Pengertian efektifitas secara umum menunjukan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan pengertian efektifitas menurut Hidayat (2009) dikutip dari wordpress.com

(4)

yang menjelaskan bahwa, efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai.

C. Pengertian Pencairan Dana Langsung

Sebelum membahas pengertian pencairan dana langsung,sebaiknya terlebih dahulu mengetahui tentang pengertian dana. Dalam Governmental Accounting Standads Board (GASB) yang terdapat dalam buku Siregar (1996), pengertian dana adalah sebagai berikut:

A fund is a fiscal and accounting entity with a self balancing set of accounts recording cash and other financial resources, together with all related liabilities and residual equities or balances, and changes there in, which are segregated for the purpose of carrying on specific activities or attaining certain objectives in accordance with special regulations, restrictions, or limitations.

Dana merupakan kesatuan fiskal (fiscal entity) dan kesatuan akuntansi

(accounting entity), yang terpisah antara satu sama lain. Dana disebut kesatuan fiskal karena dana memiliki sumber keuangan dan penggunaannya yang telah ditentukan dalam anggaran, dan dana disebut sebagai kesatuan akuntansi karena memiliki persamaan akuntansi.

Dalam bukunya Nordiawan dkk (2007), kesatuan dana-dana yang dimiliki organisasi sektor publik, dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:

1. Dana yang bisa dibelanjakan ( Expendable fund )

Adalah dana yang disediakan untuk membiayai aktivitas yang bersifat

(5)

37

2. Dana yang tidak bisa dibelanjakan ( Non Expendable fund )

Adalah dana yang dipisahkan untuk aktifitas-aktifitas yang bersifat bisnis dan digunakan sebagai pendukung dari expendable fund.

Pencairan dana langsung adalah proses pencairan dana yang dilakukan oleh KPPN kepada pihak yang berhak atau rekanan berdasarkan SPM-LS yang diterbitkan oleh PA/Kuasa PA atas nama pihak yang berhak sesuai bukti pengeluaran yang sah.Yang termasuk dalam pembayaran/pencairan langsung:

1. Belanja Pegawai

Yang termasuk Belanja Pegawai: gaji dan tunjangan, honor, lembur. 2. Belanja Non Pegawai

Yang termasuk belanja non pegawai: pengadaan barang danjasa, pembayaran biaya tagihan Langganan daya dan Jasa (Listrik,Telepon dan Air).

Pengertian-pengertian :

Beberapa pengertian menurut Peraturan Direktur Perbendaharaan Nomor 66/PB/2010 :

a. Bendahara pengeluaran

Bendahara pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor satker Kementrian Negara/ lembaga.

(6)

b. Pengguna Anggaran

Pengguna Anggaran adalah Menteri/ pimpinan lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian negara/Lembaga yang bersangkutan.

c. Satuan Kerja (satker)

Satuan Kerja (satker) adalah instansi atau dinas/ badan yang ditetapkan untuk melaksanakan kegiatan Kementrian Negara/Lembaga terkait. d. Surat Permintaan Pembayaran (SPP)

Surat Permintaan Pembayaran (SPP) adalah suatu dokumen yang dibuat/diterbitkan oleh pejabat yang bertanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan dan disampaikan kepada Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk selaku pemberi kerja untuk selanjutnya diteruskan kepada penerbit SPM berkenaan.

e. Surat Perintah Membayar ( SPM )

Surat Perintah Membayar (SPM) adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk untuk mencairkan dana yang bersumber dari DIPA atau dokumen lain yang dipersamakan.

f. DIPA

DIPA adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuatoleh Menteri/ pimpinan Lembaga atau satker serta disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai

(7)

39

dasar untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran dana atas bebab APBN serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah.

g. Surat Perintah Pencairan Dana

Surat Perintah Pencairan Dana adalah surat perintah yang diterbitkan oleh KPPN selaku kuasa Bendahara Umum Negara untuk pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN berdasarkanSPM.

D. Pengertian Anggaran dan Ruang Lingkup Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

Anggaran merupakan salah satu alat bantu bagi manajemen dalam menjalankan fungsinya terutama dalam perencanan dan pengendalian. Nilai suatu anggaran tergantung pada perencanaan dan pengendalian. Anggaran atau yang lebih sering disebut dengan “budget” mempunyai defenisi yang beragam, namun apabila dicermati lebih teliti masing – masing pengertian tersebut mempunyai pengertian yang sama

Pengertian Anggaran Menurut Munandar (2001:11) defenisi anggaran adalah ”suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit atau kesatuan moneter yang berlaku untuk jangka waktu yang akan datang.”

Anggaran juga dapat diartikan sebagai istilah perencanaan untuk pengendalian laba menyeluruh dapat didefenisikan secara luas sebagai suatu anggaran sistematis dan formal untuk perencanaan, pengkoordinasian dan pengendalian tanggung jawab manajemen (Welsch, 2000:5).

(8)

Menurut Nafarin (2000:11), “anggaran merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif untuk jangka waktu tertentu dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang, tetapi dapat juga dinyatakan dalam satuan barang maupun jasa”.

Menurut Sofyan (1996:14) “anggaran merupakan suatu pendekatan yang sistematis dan formal untuk tercapainya pelaksanaan fungsi perencanaan sebagai alat membantu pelaksanaan tanggung jawab manajemen”.

Anggaran dapat juga dikatakan sebagai pernyataan mengenai estimasi yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu dalam ukuran finansial.

Berdasarkan pernyataan di atas, defenisi anggaran dapat diringkas menjadi: a. rencana keuangan mendatang yang berisi pendapatan dan belanja; b. gambaran strategi pemerintah dalam pengalokasian sumber daya untuk

pembangunan; c. alat pengendalian; d. instrumen politik;

e. disusun dalam periode tertentu;

f. perkiraan sumber-sumber yang akan menghasilkan pemasukan serta seberapa besar pemasukan tersebut.

Akan tetapi, penting untuk diketahui bahwa anggaran bukanlah sebuah kompas karena tidak seorang pun yang mengetahui sesuatu secara pasti di masa depan, dan selanjutnya perlu dicari informasi lain yang menggambarkan kenyataan dari alokasi sumber daya. Dengan kata lain analisis alokasi dan strategi pembangunan tidak hanya berdasarkan anggaran, tetapi juga harus memperhatikan

(9)

41

Dari beberapa pengertian anggaran yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa anggaran merupakan rencana kerja sistematis yang dinilai dengan uang yang dibuat dalam bentuk angka-angka serta disusun dalam suatu atau beberapa periode tertentu yang dipakai sebagai alat perencanaan, pengkoordinasian yang terpadu dan pengendalian tanggung jawab manajemen melalui proses tertentu.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuagan tahunan pemerintahan negara yang disetjui oleh Dewan Perwakilan Rakyat, (Pasal i angka 7, UU No. 17/2003). Merujuk Pasal 12 UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara , APBN dalam satu tahun Anggaran meliputi:

1. Hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan. 2. Kewajiban pemerintah pusat yang diakui sebagai pengurangan nilai

kekayaan.

3. Penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Semua penerimaan dan pengeluaran negara dilakukan melalui rekening kas umum negara (Pasal 12 ayat (2) UU. No. 1/2004) Tahun anggaran adalah periode pelaksanaan APBN selama 12 bulan. Sejak tahun 2000, Indonesia menggunakan tahun kalender sebagai tahun anggaran, yaitu dri tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember. Sebelumnya, tahun anggaran dimulai tanggal 1 April sampai dengan 31 Maret tahun berikutnya. Penggunaan tahun kalender sebagai tahun anggaran ini kemudian dikukuhkan dalam UU

(10)

Keuangan Negara dan UU Perbendaharaan Negara (Pasal 4 UU No. 17/2003 dan Pasal 11 UU No. 1/ 2004).

Sebagaimana ditegaskan dalam Bagian Penjelasan UUNo. 17/2003, anggaran adalah alat akuntabilitas, manajemen, dan kebijakan ekonomi. Sebagai fungsi akuntabilitas, pengeluaran anggaran hendaknya dapat di pertanggungjawabkan dengan menunjukkan hasil (result) berupa outcome atau setidaknya output dari dibelanjakannya dana-dana publik tersebut. Sebagai alat manajemen, sistem penganggaran selayaknya dapat membantu aktivitas berkelanjutan untuk memperbaiki efektifitas dan efesiensi program pemerintah. Sedangkan sebagai instrumen kebijakan ekonomi, anggaran berfungsi untuk mewujudkan pertumbuhan dan stabilitas perekonomian serta pemerataan pendapatan dalam rangka mencapai tujuan bernegara.

Merujuk Pasal 3 Ayat (4) UU No. 17/2003, APBN mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi distribusi dan stabilisasi. Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa bahwa anggaran negara menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan negara menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuaan yang telah ditetapkan.

Fungsi alokasi mengandung arti bahwa Anggaran negara harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkat efesiensi dan efektifitas perekonomian. Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran negara harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Fungsi stabilisasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian.

(11)

43

E. Prosedur Pencairan Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada Kantor Regional VI Badan Kepegawaian Negara Medan

Prosedur Pencairan dana langsung sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

a. Fungsi Yang terkait

1) Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga

Pada bagian ini bertanggung jawab membuat SPM untuk kontrak dari tiap bagian terkait, membuat ringkasan kontrak dan dokumen pendukung lainnya sebagai bukti persyaratan pencairanan dana serta meneliti kelengkapan dokumen.

2) Seksi Perbendaharaan

Bagian ini bertanggungjawab melakukan pengujian SPM apakah sesuai dengan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Maksimum Pencairan (MP). Pada bagian ini juga bertanggungjawab mengantarkan berita acara ke KPPN, memberi tanda tangan atau otorisasi, serta bertanggungjawab mengarsipkan dokumen – dokumen terkait SP2D. b. Dokumen yang terkait

1) SPM

2) SPTB (untuk kontrak/SPK dari tiap Bagian) 2) Dokumen pendukung

(i) Resume kontrak/SPK atau Daftar NominatifPerjalanan Dinas. (ii) SPTB (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja).

(12)

(iii) Faktur Pajak dan SSP (Surat Setoran Pajak) / rekening koran dan Fotocopy NPWP

(iv) kwitansi

c. Catatan Akuntansi yang digunakan 1) Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM

Untuk mencatat jumlah SPM yang masuk dan yang dapat diselesaikan. 2) Cek list

Untuk mencata kelengkapan dokumen pendukung dari satuan kerja. d. Prosedur Penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)

Subbagian umum menerima SPM dan data pendukungnya dari satuan kerja daerah dan mengagendakan SPM serta mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM dan diteruskan kebagian Seksi perbendaharaan untuk di tindak lanjuti.

Pada tahapan pengagendaan merupakan prosedur awal yang sangat menentukan kelancaran proses penerbitan SP2D. Kekeliruan/kesalahan dalam pengagendaan akan berakibat pada seksi lain akan menjadi terhambat bahkan tidak bisa dilakukan proses selanjutnya. Sehingga alur pekerjaan menjadi macet.

Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM (DPP) ini merupakan daftar pengawasan sejauh mana penyelesaian proses SP2D berlangsung dan berguna memantau apakah masih terdapat/tercecernya SPM yang belum diproses. Hal tersebut dilakukan karena jumlah dan jenis SPM yang diproses banyak sertajumlah satker/instansi yang dilayani untuk

(13)

45

penyaluran anggaran belanja rutin yang meliputi belanja pegawai dan non belanja pegawai sangat banyak.

Seksi Perbendaharaan menerima SPM beserta dokumen pedukung dari Sub Bagian Umum dan melakukan pengujian SPM serta pagu. Pengujian ini dilaksanakan mencakup pengujian yangbersifat substantif dan formal.

1) Pengujian Substantif dilakukan untuk:

a) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM.

b) Menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk SPM tersebut. c) Menguji dokumen segabai dasar penagihan (Ringkasan

kontrak/SPK, Surat Keputusan, Daftar Nominatif Pejalanan Dinas).

d) Menguji surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran.

e) Menguji faktur pajak beserta SSP-nya. 2) Pengujian formal dilakukan untuk :

a) Mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan spesimen tandatangan.

b) Memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam

(14)

c) Memeriksa kebenaran dalam penulisan, termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan.

Setelah melakukan pengujian:

a) Jika dokumen lengkap maka dapat diterbitkan SP2D

b) Jika dokumen tidak lengkap dan tidak sesuai prosedur yang ditetapkan, seksi perbendaharaan dapat menolak menerbitkan SP2D dan mengembalikan dokumen kepada satker agar di lengkapi.

Setelah dilakukan pengujian, SP2D dapat diterbitkan dengan cara:

SP2D ditandatangani oleh Seksi Perbendaharaan dan PPK (Pejabat Pembuat Keputusan).

e. Bagan alir

Berikut ini adalah bagan alir yang menggambarkan jaringan prosedur pada saat pencairan dana.

(15)

47

Membuat SPM dan dokumen

pendukung

Subbag Tata Usaha dan Rumah Tangga

Mulai Dari SATKER BASTP BAPP BAP 2 NPWP SPM SPTB 3 2 Meneliti kelengkapan berkas BASTP BAPP BAP NPWP SPM SPTB DPP Checklist SP2D 1 Dari SATKER 444 1 Gambar 2.1

Prosedur Pencairan Dana Langsung Belanja Pegawai

Ket : SPM : Surat Perintah Membayar BAP : Berita Acara Pembayaran SPTB: Surat Pernyataan

Tanggungjawab Belanja BASTP: Berita Acara Serah

Terima Pekerjaan

DPP : Daftar Pengawasan penyelesaian SP2D: Surat Perintah Pencairan Dana NPWP: Nomor Pokok Wajib Pajak BAPP : Berita Acara Pemeriksaan

(16)

Seksi Perbendaharaan 1 BASTP BAPP BAP NPWP SPM SPTB Menguji SPM (formal dan substantif) Tidak Di Serahkan ke KPPN Ya BASTP BAPP BAP NPWP SPM SPTB BASTP BAPP BAP NPWP SPM SPTB 3 SATKER Pembuatan SP2D 3 2 SP2D 1 Gambar 2.1

Prosedur Pencairan Dana langsung Belanja Pegawai (lanjutan)

(17)

49 4 3 5 3 SP2D 1 BASTP BAPP BAP NPWP SPM 5 SPTB SP2D 3 Diserahkan ke KPPN N Selesai Gambar 2.1

Prosedur Pencairan Dana langsung Belanja Pegawai (Lanjutan)

Ket : SPM : Surat Perintah Membayar

SPTB :Surat Pernyataan Tanggungjawab Belanja DPP : Daftar Pengawasanpenyelesaian

SP2D : Surat Perintah PencairanDana NPWP : Nomor Pokok Wajib Pajak BAP : Berita Acara Pembayaran

BAPP : Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan BASTP : Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Satker : satuan kerja

(18)

Subbag Tata Usaha dan Rumah Tangga Mulai Membuat SPM dan dokumen pendukung Dari SATKER SPTB SSP RK SPP BAP Checklist Kwitansi SPM 2 SPTB SSP RK SPM BAP kwitansi DPP 3 2 SP2D 1 4 Dari SATKER 1

Ket : SPTB : Surat Penyataan Tanggung Jawab Belanja SSP : Surat Setoran Pajak

RK : Rencana Kerja

SPM : Surat Perintah Membayar BAP : Berita Acara Pembayaran SATKER :SatuanKerja

Gambar 2.2

(19)

51 Seksi Perbendaharaan 1 Menguji SPM (formal dan substantif)

Tidak

Ya SPTB SSP RK SPP SPTB RK SPP SPM SSP SPM 3 SATKER Pembuatan SP2D 3 2 SP2D 1 2 SPTB:SuratPenyataanTanggungjawa Belanja SSP : Surat Setoran Pajak

RK : Rencana Kerja

SPP : Surat Permintaan Pembayaran SPM :Surat Perintah Membaya SP2D:Surat Perintah Pencairan Dana SATKER: Satuan Kerja

Gambar 2.2

(20)

4 3 5 3 SP2D 1 SPTB SSP RK SPP 5 SPM SP2D 3 Diserahkan ke KPPN N Selesai SPTB : Surat Penyataan Tanggungjawab Belanja SSP : Surat Setoran Pajak RK : Rencana Kerja SPM:Surat Perintah Membayar SPP:Surat Permintaan Pembayaran SP2D : Surat Perintah Pencairan Dana Gambar 2.2

Prosedur Pencairan Dana Langsung Belanja non Pegawai (lanjutan)

f. Keterangan bagan alir

1) Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga membuat SPM dari SATKER beserta dokumen pendukung dan memeriksa kelengkapan SPM dan dokumennya serta mengisi cheklist kelengkapan berkas SPM.

(21)

53

2) Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga mengagendakan SPM yang diterima dan mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM dan diserahkan ke seksi Perbendaharaan.

3) Seksi perbendaharaan menerima SPM dan dokumen pendukungnya. Setelah itu melakukan pengujian SPM dan pagu. Pengujian ini dilaksanakan mencakup pengujian yang bersifat substantif dan formal. Pengujian Substantif dilakukan untuk :

1) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM.

2) Menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk SPM tersebut.

3) Menguji dokumen sebagai dasar penagihan (Ringkasan kontrak/SPK, Surat Keputusan, Daftar Nominatif Perjalanan Dinas).

4) Menguji surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. 5) Menguji faktur pajak beserta SSP-nya.

Pengujian formal dilakukan untuk :

1) Mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan spesimen tanda tangan.

2) Memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka

(22)

3) Memeriksa kebenaran dalam penulisan, termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan.

Setelah melakukan pengujian :

a) Jika dokumen lengkap maka dapat diterbitkan SP2D

b) Jika dokumen tidak lengkap dan tidak sesuai prosedur yang ditetapkan, seksi perbendaharaan dapat menolak menerbitkan SP2D dan mengembalikan dokumen kepada satker agar dilengkapi.

(i) SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk dikembalikan paling lambat 3 hari setelah SPM diterima.

(ii) SPM UP/TUP dan LS dikembalikan paling lambat 1 hari kerja setelah SPM diterima.

Setelah dilakukan pengujian, SP2D dapat diterbitkan dengancara : (i) SP2D ditanda tangani oleh Seksi Perbendaharaan dan PPK

(Pejabat Pembuat Komitmen).

(ii) SP2D diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga) dan dibubuhi stempel timbul Seksi Perbendaharaan yang disampaikan kepada:

- Lembar 1 : Kepada KPPN

- Lembar 2 : Kepada penerbit SPM dengan dilampiri SPM yang telah dibubuhi cap ”Telah diterbitkan SP2D tanggal....Nomor...”

- Lembar 3 : Sebagai arsip di BKN ( Subbag Perencanaan & Keuangan), dilengkapi SPM dan dokumen pendukungnya.

(23)

55

F. Efektifitas Prosedur Pencairan Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara di Kantor Regional VI Badan Kepegawaian Negara Medan

Suatu sistem dikatakan efektif jika suatu target (kualitas, kuantitas dan waktu) dapat tercapai. Prosedur Pencairan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Langsung di Kanreg VI BKN dikatakan efektif jika pencairan dana dapat dilakukan 1 (satu) hari berdasarkan pada Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara No Per-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan, penulis menemukan bahwa: a. Standar keefektifitasan sistem dan prosedur pencairan dana di Kanreg VI

BKN adalah waktu, bukan dilihat dari kuantitas (jumlah) SPM (Surat Perintah Membayar) yang dapat diselesaikan atau tidak. Karena berapapun jumlah yang di masukkan ke KPPN sebelum jam11.00 WIB dapat diselesaikan dalam waktu 1 hari atau dikatakan efektif.

b. Prosedur pencairan dana Kanreg VI BKN dikatakan sudah efektif. Hal ini berdasarkan dari penyelesaian SPM ke KPPN dapat dilakukan dalam jangka waktu 1 hari. Namun karena kesalahan dari satuan kerja dalam melengkapi dokumen dan penyerahan SPM yang terlambat, sehingga pelayanan yang harusnya bisa selesai 1 hari menjadi terhambat/ kurang efektif.

(24)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah peneliti melakukan topik penelitian mengenai prosedur pencairan dana anggaran pendapatan dan belanja di Kanreg VI Badan Kepegawaian Negara Medan dan setelah peneliti melakukan riset pada instansi tersebut, maka peneliti memperoleh hasil yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Prosedur pencairan dana langsung yang digunakan sudah sesuai dengan Peraturan yang ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per 66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

2. Prosedur pencairan dana anggaran pendapatan dan belanja di Kantor Regional VI BKN Medan bisa dikatakan efektif. Hal ini dilihat dari penyelesaian SPM yang dapat dimasukkan ke KPPN dapat dilakukan dalam jangka waktu 1 hari.

B. Saran

Penelitian tentang prosedur pencairan dana memperoleh hasil atau temuan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya Berdasarkan hasil pembahasan, penulis menemukan kelemahan prosedur pencairan dana

(25)

57

anngaran pendapatan dan belanja di Kantor Regional VI BKN Medan. Oleh karena itu penulis memberikan beberapa rekomendasi yang dapat dijadikan masukan agar dapat berjalan baik. Adapun rekomendasinya adalah adanya himbauan adanya kerja sama yang baik untuk setiap satuan kerja hendaknya mengajukan SPM antara jam 07.30 – 11.00 WIB agar proses penyelesaian SPM dapat diselesaikan dalam satu hari agar tidak ada keterlambatan dalam proses pencairan dana anggaran pendapatan dan belanja negara yang berarti

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan jumlah anggaran pendapatan negara dan hibah yang diharapkan dapat dihimpun, serta seluruh beban anggaran belanja negara, baik pengeluaran rutin maupun

TAHAP TAHUN ANGGARAN 2016 PEMERINTAH DESA KECAMATAN KABUPATEN KARANGASEM KODE REKENING URAIAN NOMOR DAN TANGGAL BUKTI PENYALURAN (SP2D*) JUMLAH PENERIMAAN (DEBET) JUMLAH

Fungsi otorisasi, mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan, Dengan demikian, pembelanjaan

 Fungsi otorisasi , mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan, Dengan demikian, pembelanjaan

Belanja Pemerintah Pusat Menurut Program adalah belanja Pemerintah Pusat yang dialokasikan untuk mencapai hasil (outcome) tertentu pada Bagian Anggaran kementerian

Prosedur pencairan dana anggaran pendapatan dan belanja daerah yang telah ditetapkan dalam APBD Kota Medan , Sekretariat DPRD Kota Medan mengacu kepada

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terjadi konsistensi antara Anggaran Pendapatan Belanja Daerah dengan realisasi tata kelola anggaran pembangunan di sektor

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip akuntabilitas dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun 2017 di desa Bluru Kidul