• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

6

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pembahasan Teori Hasil Penelitian Yang Relevan 2.1.1 Audit Internal

2.1.1.1 Pengertian Audit Internal

Audit internal atau biasa juga disebut internal audit merupakan sebuah penilaian terhadap keyakinan, independensi, obyektif dan kegiatan konsultasi yang dibuat sebagai penambah nilai dan peningkatan operasi organisasi.

Menurut (The Institute Of Internal Auditors, 2013) Audit Internal yaitu :

”Internal auditing is an independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organization’s operation.”

Apabila di definisikan kedalam bahasa Indonesia adalah bahwa audit internal merupakan unit konsultasi yang independen dan objektif dalam suatu perusahaan untuk menambah entitas perusahaan itu sendiri.

Sedangkan menurut (Mulyadi, 2010) pengertian audit internal yaitu :

“Internal audit ialah pelaksana audit/auditor yang menjalankan tugas di dalam perusahaan untuk mengetahui sejauh mana prosedur dan kebijakan yang telah dibentuk sebelumnya dipatuhi, menetapkan apakah pengelolaan akan aset organisasi/perusahaan sudah dilaksanakan dengan baik, mentapkan seberapa efektif dan efisien dari prosedur kegiatan organisasi/perusahaan serta menilai keefektivitasan informasi yang diproduksi oleh tiap unit di dalam organisasi/perusahaan.”

Audit internal menurut (Sawyer, 2005) adalah bawa audit internal merupakan sebuah penilaian yang sistematis dan objektif yang dilakukan auditor internal terhadap operasi dan kontrol yang berbeda-beda dalam organisasi untuk menentukan apakah :

1. Informasi keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan; 2. Risiko yang dihadapi perusahaan telah diidentifikasi dan

(2)

3. Peraturan eksternal serta kebijakan dan prosedur internal yang bisa diterima telah diikuti;

4. Kriteria operasi yang memuaskan telah dipenuhi;

5. Sumber daya telah digunakan secara efisien dan ekonomis; dan 6. Tujuan organisai telah dicapai secara efektif.

Semua dilakukan dengan tujuan untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan membantu anggota organisasi dalam menjalankan tanggung jawab secara efektif. 2.1.1.2 Pengertian Auditor Internal

Menurut (Islahuzzaman, 2012) auditor internal merupakan auditor yang dipekerjakan oleh perusahaan untuk mengaudit bagi kepentingan direksi atau komisaris. Maka dari itu, auditor internal merupakan orang yang di pekerjakan oleh suatu perusahaan untuk mengaudit kepentingan perusahaan.

Senada dengan Islahuzzaman, Mulyadi juga mendefinisikan auditor internal yang hampir serupa. (Mulyadi, 2010) mendefinisikan auditor internal sebagai berikut:

“Auditor yang bekerja dalam perusahaan (perusahaan negara maupun swasta) yang tugas pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi serta menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian operasi.”

Sedangkan menurut IIA (Institute of Internal auditor) yang dikutip oleh (Boynton, N, & Kell, 2001) yakni:

Internal auditing is an independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organization’s operations. It helps an organization accomplish its objectives by bringing a systematic, disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management, control, and governance processes”.

Apabila diterjemahkan yaitu menjadi :

“Audit internal adalah aktivitas independen, keyakinan objektif, dan konsultasi yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Audit internal ini membantu organisasi mencapai tujuannya dengan melakukan pendekatan sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen resiko, pengendalian dan proses tata kelola”.

(3)

Islahulzzaman mengatakan bahwa auditor internal merupakan auditor yang dipekerjakan oleh perusahaan untuk mengaudit saja, sedangkan menurut Mulyadi dan IIA (Institute of Internal auditor) berpendapat bahwa seorang auditor internal mempunyai tugas untuk meningkatkan operasi sebuah organisasi dan memastikan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan telah dipatuhi agar tugas seorang auditor internal yaitu untuk membantu perusahaan mencapai tujuannya dapat terpenuhi.

2.1.1.3 Tujuan dan Fungsi Audit Internal

Menurut (Tugiman, 2006)internal audit memiliki tujuan membantu anggota organisasi agar dapat menjalankan tugas dengan efektif. Dalam aktivitasnya, internal audit berusaha melakukan analisis dan memberikan berbagai saran dan penilaian. Proses pemeriksaan audit meliputi pengawasan yang efektif dengan cost yang normal.

Sedangkan menurut (Sukrisno, 2004) mengemukakan bahwa tujuan internal audit adalah membantu manajemen perusahaan menjalankan tugas melalui analisa, penilaian, dan pemberian saran dan masukan mengenai kegiatan/program (yang masuk dalam pemeriksaan).

(Sawyer, 2005) mengemukakan bahwa internal audit memiliki berbagai fungsi diantaranya :

1. Pengawasan pada seluruh aktivitas yang sulit ditangani oleh pimpinan puncak.

2. Pengidentifikasian dan minimalisasi resiko. 3. Report Validation kepada manajer.

4. Mendukung dan membantu manajemen pada bidang-bidang teknis.

5. Membantu proses decision making.

6. Menganalisis masa mendatang (bukan untuk hal yang telah terjadi).

7. Membantu manajer dalam mengelola perusahaan.

Menurut Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (SPAI : 2004) dalam melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya dikatakan bahwa fungsi dan tanggung jawab auditor internal adalah :

(4)

a. Independensi dan Objektivitas (1100) 1) Independensi Organisasi (1110)

Fungsi auditor internal harus ditetapkan pada posisi yang memungkinkan fungsi tersebut memenuhi tanggung jawabnya. Independensi akan meningkat jika fungsi audit internal memiliki akses komunikasi yang memadai terhadap pimpinan dan dewan pengawas organisasi.

2) Objektivitas Auditor Internal (1120)

Auditor internal harus memiliki sikap mental yang objektif, tidak memihak dan menghindari timbulnya pertentangan kepentingan (conflict of interest).

b. Keahlian dan Kecermatan Profesional (1200) 1) Keahlian (1210)

Auditor Internal harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawab perorangan. Fungsi auditor internal secara kolektif harus memiliki atau memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggungjawabnya.

2) Kecermatan Profesional (1220)

Auditor Internal harus menerapkan kecermatan dan keterampilan yang layaknya dilakukan oleh seorang auditor yang pruden dan kompeten.

c. Program Jaminan dan Peningkatan Kualitas Fungsi Audit Internal (1300)

Penanggungjawab Fungsi Auditor Internal harus mengembangkan dan memelihara program jaminan dan peningkatan kualitas yang mencakup seluruh aspek dari fungsi auditor internal dan secara terus memonitor efektivitasnya.

d. Pengendalian Fungsi Auditor Internal (2000)

Penanggungjawab fungsi auditor internal harus menyusun perencanaan yang berbasis risiko untuk menetapkan prioritas kegiatan fungsi tersebut memberikan nilai tambah bagi organisasi.

(5)

e. Lingkup Penugasan (2100)

Fungsi auditor internal melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan proses pengelolaan risiko, pengendalian, dan governance, dengan menggunakan pendekatan yang sistematis dan menyeluruh.

2.1.1.4 Kode Etik Audit Internal

Etika Profesional dikeluarkan oleh organisasi profesi untuk mengatur perilaku anggotanya dalam menjalankan profesinya bagi masyarakat. Menurut Konsorsium Organisasi Profesi Audit (2004;28) kode etik adalah :

“Prinsip-Prinsip yang relevan terhadap profesi dan prakterk-praktek internal auditing serta aturan”

Pengertian kode etik Audit Internal menurut IIA (2013:5) :

“ Prinsip-prinsip yag menyatakan harapan perilaku individu dan organisasi dalam pelaksanaan audit internal, yang menjelaskan persyaratan minimal untuk pengarahan dan perilaku yang diharapkan dalam kegiatan khusus” Ketentuan-ketentuan dalam kode etik meliputi prinsip-prinsip dasar yang ada dalam berbagai bidang praktek audit internal. Auditor Internal bertanggung jawab untuk mempunyai perilaku yang baik sehingga nama baik dan integritasnya tidak dipertanyakan. Dalam hal adanya keterbatasan kemampuan teknis, anggota harus berusaha sekerasnya untuk dapat mengembangkan kemampuan dalam menetapkan standar audit internal untuk kepentingan perusahaan, organisasi dan masyarakat.

2.1.1.5 Kondisi Audit Internal Saat Ini

“Internal auditing is an independent appraisal function established within an organization to examine and evaluate its activities as a service to the organization” (Ratliff L & Wanda, 1996)

Apabila diterjemahkan yaitu “Audit internal adalah fungsi penilaian independen yang didirikan dalam suatu organisasi untuk memeriksa dan mengevaluasi kegiatannya sebagai layanan bagi organisasi”

(6)

Auditor internal tradisional cenderung menerapkan gaya bermusuhan dalam melaksanakan tugasnya dan sangat sedikit manajer yang menerima kehadiran perfeksionis yang agresif ini dengan senang hati (Tugiman, 2000).

Auditor internal sampai saat ini pun masih banyak yang menerapkan gaya bermusuhan dalam melaksanakan tugasnya dan sangat sedikit manajer yang menerima kehadirannya dengan senang hati. Saat ini auditor internal perlu melihat adanya rasa ketakutan dan ketidakpercayaan dari manajemen untuk semua tingkatan (Tugiman, 2004).

Sudah saatnya auditor internal mempunyai pandangan luas serta pemahaman terhadap berbagai proses manajerial dan berkaitan dengan manusia yang mendasari fungsi audit internal. Yang dibutuhkan oleh auditor internal dalam melakukan tugasnya saat ini adalah suatu pendekatan holistik, bahwa para manajer dan pihak yang diaudit merupakan pribadi kompleks yang berjuang dalam suatu lingkungan yang menghasilkan berbagai tekanan profesional (Tugiman, 2000).

Cita-cita besar yang dicanangkan the Institute of Internal Auditors (IIA) untuk profesi auditor internal masa kini adalah auditor internal dapat menjadi partner/mitra strategis dan advisor yang dapat dipercaya bagi manajemen, dewan komisaris dan seluruh unit kerja di organisasi. Hal ini bisa tercapai bila auditor internal memiliki visi dan motivasi yang sama dengan cita-cita tersebut dan pengguna utama jasa auditor internal, yaitu manajemen dan dewan komisaris merasa butuh dan menganggap auditor internal dapat membantu tugas mereka menjalankan dan mengawasi organisasi.

2.1.1.6 Ruang Lingkup Audit Internal

Menurut Hery (2010,78) lingkup dari audit intenal adalah sebagai berikut: “Lingkup pekerjaan audit internal meliputi pengujian dan evaluasi terhadap kecukupan dan keefektifan sistem pengendalian internal yang dimiliki oleh organisasi. Tujuan peninjauan terhadap kecukupan dan keefektifan suatu sistem pengendalian internal adalah untuk menentukan apakah sistem yang telah ditetapkan dapat memberikan kepastian yang layak bahwa tujuan dan sasaran organisasi dapat tercapai secara efisien dan ekonomis, serta untuk memastikan apakah sistem tersebut telah berfungsi dengan baik”

(7)

Sedangkan ruang lingkup penugasan audit internal yang terdapat dalam Standar Profesi Audit (2014:21) adalah sebagai berikut :

“Ruang lingkup penugasan yang ditetapkan harus memadai untuk dapat mencapai tujuan penugasan dan harus mempertimbangkan sistem, catatan, personel, dan proferti fisik yang relevan, termasuk yang berada dibawah pengelolaan pihak ketiga”

2.1.1.7 Standar Profesi Audit Internal

Menurut (Hery, 2010) standar profesional audit internal terbagi atas lima macam diantaranya, yaitu :

1. Independensi a. Mandiri

Audit internal harus mandiri dan terpisah dari berbagai kegiatan yang diperiksa. Audit inernal dianggap mandiri apabila dapat melaksanakan pekerjaannya secara bebas dan objektif. Kemandirian audit internal sangat penting treutama dalam memberikan penilaian yang tidak memihak (netral).

b. Dukungan moral manajemen senior dan dewan

Audit internal haruslah memperoleh dukungan moral secara penuh dari segenap jajaran manajemen senior dan dewan (dewan direksi dan komite audit) agar dapat menyelesaikan pekerjaannya secara bebas dari berbagai campur tangan pihak lain. Pimpinan audit internal harus bertanggung jawab untuk mewujudkan kemandirian pemeriksaan. Koordinasi yang teratur antara pimpinan audit internal dengan dewan direksi dan komite audit akan membantu terjaminnya kemandirian dan juga merupakan sarana bagi semua pihak untuk dapat saling memberikan informasi demi kepentingan organisasi secara keseluruhan.

2. Kemampuan Profesional a. Pengetahuan dan kemampuan.

Kemampuan profesional wajib dimiliki oleh audit internal. Dalam setiap pemeriksaan, pimpinan audit internal haruslah menugaskan orang-orang yang secara bersama-sama atau keseluruhan memiliki pengetahuan dan kemampuan dari berbagai disiplin ilmu, seperti akuntansi, ekonomi,

(8)

keuangan, statistik, pemrosesan data elektronik, perpajakan, dan hukum yang memang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan secara tepat dan pantas.

b. Pengawasan

Pimpinan audit internal bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan terhadap segala aktivitas pemeriksaan yang dilakukan oleh para stafnya. Pengawasan yang dilakukan sifatnya berkelanjutan, yang dimulai dengan perencanaan dan diakhiri dengan penyimpulan hasil pemeriksaan yang dilakukan. Pengawasan yang dimaksud mencakup:

1) Memberikan instruksi kepada para staf audit internal pada awal pemeriksaan dan menyetujui program-program pemeriksaan.

2) Melihat apakah program pemeriksaan yang telah disetujui

dilaksanakan, kecuali bila terdapat penyimpangan yang dibenarkan atau disalahkan.

3) Menentukan apakah kertas kerja pemeriksaan telah cukup untuk mendukung temuan pemeriksaan, kesimpulan-kesimpulan, dan laporan hasil pemeriksaan.

4) Meyakinkan apakah laporan pemeriksaan tersebut akurat, objektif, jelas, ringkas, konstruktif dan tepat waktu.

5) Menentukan apakah tujuan pemeriksaan telah dicapai. c. Kecakapan berkomunikasi

Audit internal harus memiliki kemampuan berkomunikais untuk menghadapi orang lain dan berkomunikasi secara efektif. Audi internal dituntut untuk dapat memahami hubungan antar manusia dan mengembangkan hubungan yang baik dengan audit. Audit internal juga harus memiliki kecakapan dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan, sehingga audit internal dapat dengan jelas dan efektif menyampaikan berbagai hal, seperti tujuan pemeriksaan, evaluasi, kesimpulan, dan juga dalam hal memberikan rekomendasi (saran-saran perbaikan).

(9)

Audit internal harus meningkatkan kemampuan tekniknya melalui pendidikan berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan keahliannya. Audit internal harus berusaha memperoleh informasi mengenai kemajuan dan perkembangan baru dalam standar, prosedur, dan teknik-teknik audit.

e. Mewaspadai kemungkinan terjadinya pelanggaran

Audit internal harus dapat bekerja secara teliti dalam melaksankan pemeriksaan. Audit internal harus mewaspadai berbagai kemungkinan terjadinya pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja, kesalahan, kelalaian, ketidakefektifan, pemborosan (ketidakefesienan), dan konflik kepentingan.

f. Merekomendasikan perbaikan

Audit internal harus dapat mengidentifikasi pengendalian intern yang lemah dan merekomendasikan perbaikan terhadap pengendalian intern yang lemah tersebut untuk menciptakan kesesuaian dengan berbagai prosedur dan praktek yang sehat guna mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

1. Lingkup Pekerjaan a. Pengujian dan evaluasi

Lingkup pekerjaan audit internal meliputi pengujian dan evaluasi terhadap kecukupan dan keefektifan sistem pengendalian inernal yang dimiliki oleh organisasi. Tujuan peninjauan terhadap kecukupan dan keefektifan suatu sistem pengendalian inernal ini adalah untuk menentukan apakah sistem yang telah ditetapkan dapat memberikan kepastian yang layak bahwa tujuan dan sasaran organisasi dapat tercapai secara efisien, ekonomis, serta untuk memastikan apakah sistem tersebut telah berfungsi sebagaimana yang diharapkan.

b. Keandalan informasi

Auditor internal haruslah menguji sistem informasi tersebut, dan menentukan apakah berbagai catatan, laporan finansial dan laporan operasional perusahaan mengandung informasi yang akurat, dapat dibuktikan kebenarannya, tepat waktu, lengkap, dan berguna.

(10)

c. Kesesuaian dengan kebijakan, rencana, prosedur, dan ketentuan perundang undangan, manajemen bertanggung jawab untuk menetapkan sistem, yang dibuat dengan tujuan memastikan pemenuhan berbagai persyaratan, seperti kebijakan, rencana, prosedur, dan peraturan perundang-undangan. Audit internal bertanggung jawab untuk menentukan apakah sistem tersebut telah cukup efektif dan apakah berbagai kegiatan yang diperiksa telah sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan.

d. Perlindungan aktiva

Audit internal harus meninjau berbagai alat atau cara yang digunakan untuk melindungi aktiva perusahaan terhadap berbagai jenis kerugian, seperti kerugian yang diakibatkan oleh pencurian, dan kegiatan yang ilegal. Pada saat memverifikasi keberadaan suatu aktiva, audit internal harus menggunakan prosedur pemeriksaan yang sesuai dan tepat.

e. Penggunaan sumber daya

Audit internal harus dapat memastikan keekonomisan dan keefesienan penggunaan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Audit internal bertanggung jawab untuk :

1. Telah menetapkan suatu standar operasional untuk mengukur keekonomisan dan efesiensi.

2. Standar operasional tersebut telah dipahami dan dipenuhi.

3. Berbagai penyimpangan dari standar operasional telah diidentifikasi, dianalisis, dan diberitahukan kepada berbagai pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan tindakan perbaikan.

4. Tindakan perbaikan telah dilakukan. 4. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan

a. Perencanaan kegiatan pemeriksaan

Audit internal harus terlebih dahulu melakukan perencanaan pemeriksaan dengan meliputi :

1. Penetapan tujuan pemeriksaan dan lingkup pekerjaan.

2. Memperoleh informasi dasar tentang objek yang akan diperiksa. 3. Penentuan tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan.

(11)

4. Pemberitahuan kepada para pihak yang dipandang perlu.

5. Melakukan survei secara tepat untuk lebih mengenali bidang atau area yang akan diperiksa.

6. Penetapan program pemeriksaan.

7. Menentukan bagaimana, kapan dan kepada siapa hasil pemeriksaan disampaikan.

8. Memperoleh persetujuan atas rencana kerja pemeriksaan.

b. Rapat manajemen

Audit internal haruslah melakukan rapat dengan manajemen yang bertanggung jawab terhadap bidang yang akan diperiksa. Hal-hal yang didiskusikan antara lain mencakup berbagai tujuan dan lingkup kerja pemeriksaan yang direncanakan, waktu pelaksanaan pemeriksaan, staf audit yang akan ditugaskan, hal-hal yang menjadi perhatian audit internal.

c. Pengujian dan pengevaluasian

Audit internal harus melakukan pengujian dan pengevaluasian terhadap semua informasi yang ada guna memastikan ketepatan dari informasi tersebut yang nantinya akan digunakan untuk pemeriksaan. Berbagai informasi tentang seluruh hal yang berhubungan dengan tujuan pemeriksaan dan lingkup kerja haruslah dikumpulkan. Informasi yang dikumpulkan haruslah kompeten, mencukupi, relevan, dan berguna untuk membuat dasar yang logis bagi temuan pemeriksaan dan rekomendasi.

d. Pelaporan hasil pemeriksaan

Audit internal harus melaporkan hasil pemeriksaan yang dilakukannya. Laporan yang dibuat haruslah objektif, jelas, singkat, konstruktif dan tepat waktu. Objektif adalah laporan yang faktual, tidak berpihak, dan terbebas dari distorsi. Laporan yang jelas adalah laporan yang mudah dimengerti dan logis. Laporan yang singkat adalah laporan yang diringkas langsung membicarakan pokok permasalahan dan menghindari berbagai perincian yang tidak diperlukan. Laporan yang konstruktif adalah laporan yang berdasarkan isi dan sifatnya akan membantu pihak yang

(12)

diperiksa dan organisasi serta menghasilkan berbagai perbaikan yang diperlukan. Laporan yang tepat waktu adalah laporan yang pemberitaanya tidak ditunda dan mempercepat kemungkinan pelaksanaan berbagai tindakan yang koreksi dan efektif. Audit internal juga harus langsung melaporkan hasil pemeriksaannya kepada pimpinan dan karyawan lain apabila membutuhkan.

e. Tindak lanjut pemeriksaan

Audit internal harus secara terus menerus meninjau dan melakukan tindak lanjut untuk memastikan apakah suatu tindakan perbaikan telah dilakukan dan memberikan berbagai hasil yang diharapkan. Tindak lanjut audit internal didefinisikan sebagai suatu proses untuk menentukan kecukupan, keefektifan, dan ketepatan waktu dari berbagai tindakan yang dilakukan oleh manajemen terhadap berbagai temuan yang dilaporkan. 5. Manajemen Bagian Audit Internal

a. Penetapan Wewenang dan Tanggung Jawab

Audit internal harus dapat mengetahui posisinya yang telah ditetapkan dan sampai dimana tingkat independensinya dapat menjamin objektivitas tugasnya. Perincian wewenang dan tanggung jawab internal audit hendaknya dibuat secara seksama dan mencakup semua wewenang yang diperlukan dalam pelaksanaan tugasnya serta tidak mencantumkan tanggung jawab yang tidak akan dipikulnya.

Untuk mengetahui tugas dan tanggung jawab audit internal diperlukan parameter-parameter seperti yang dikemukakan sebagai berikut:

a) Nature of internal auditing

b) Objective and scope af internal auditing c) Authority ond responsibility auditing

d) Independency

Dari beberapa parameter di atas dapat dikatakan bahwa tugas dan tanggung jawab audit internal sangat dipengaruhi oleh sifat audit internal yang berlaku dalam perusahaan. Apakah itu diperlukan sebagai suatu aktifitas penilaian yang bebas atau tidak. Selanjutnya tujuan dan ruang lingkup audit internal dalam perusahaan juga

(13)

menentukan tugas dan tanggung jawab, serta independensi audit internal merupakan yang sangat esesnsial dalam perusahaan. Jika audit internal berfungsi sebagai staf atau penasehat independensinya dapat lebih terjamin begitu pula tanggung jawabnya diketahui dengan tepat.

b. Buku Pedoman Pemeriksaan

Buku pedoman pemeriksaan menjelaskan apa yang perlu dilakukan oleh internal audit. Buku tersebut harus memuat tentang perlunya kepatuhan pada standar pemeriksaan dan perlu adanya kontinuitas, stabilitas dan koordinasi di antara karyawan atau unit-unit dalam audit internal. Pedoman yang dibuat harus membuat tahap-tahap kegiatan audit internal, mulai dari perencanaan sampai dengan penentuan tindak lanjut.

Pedoman pemeriksaan untuk :

1. Menghindarkan audit internal dan penyimpangan arah yang telah ditetapkan

2. Mengukur tingkat kernajuan pelaksanaan 3. Mengevaluasi audit internal

4. Menjamin bahwa hasil audit internal selaras dengan tujuan perusahaan

2.1.2 Pengertian Good Corporate Governance

Menurut surat keputusan Menteri BUMN Pasal 1 No. 117/M-MBU/2002

Good Corporate Governance merupakan :

“Proses dan struktur yang digunakan oleh BUMN untuk menigkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan(stakeholder) lainnya berlandasan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika.”

Pengertian Good Corporate Governance menurut (Achmad, 2005) adalah:

“suatu pola hubungan, sistem dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan (Direksi, Dewan Komisaris, RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap

(14)

memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya berlandasan peraturan perundang-undangan dan norma yang berlaku”

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan Good Corporate Governance adalah sistem, proses dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berpentingan terutama dalam arti sempit, hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris dan dewan direksi demi tercapainya tujuan organisasi . Good Corporate Governance dimaksudkan untuk mengatur hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahan signifikansi dalam strategi korporasi dan untuk memastikan kesalahan yang terjadi dapat segera diperbaiki.

2.1.2.1 Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance

Menurut (Komite Nasional Kebijakan Governance, Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia, 2006) Setiap perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi harus memastikan bahwa asas GCG diterapkan pada setiap aspek bisnisnya dan di seluruh jajaran Perusahaan. Asas GCG yang harus dipastikan pelaksanaanya meliputi :

1. Transparansi (transparency)

Tranparansi mengandung unsur pengungkapan (disclosure) dan penyediaan informasi yang memadai dan mudah diakses oleh pemangku kepentingan. Transparansi diperlukan agar perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi menjalankan bisnis secara objektif dan sehat. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya. Pedoman Pokok Pelaksanaan :

a. Perusahaan harus mempunyai kebijakan untuk mengungkapkan berbagai informasi penting yang diperlukan oleh pemangku kepentingan.

b. Perusahaan harus mengungkapkan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan sesuai dengan haknya.Informasi yang harus diungkapkan meliputi tetapi tidak terbatas pada hal-hal yang bertalian

(15)

dengan visi, misi, sasaran usaha serta strategi Perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali, pejabat eksekutif, struktur organisasi ,pengelolaan risiko, sistem pengawasan dan pengendalian intern, sistem dan pelaksanaan GCG serta tingkat kepatuhannya, dan kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi Perusahaan.

c. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh Perusahaan tidak mengurangi kewajiban melindungi informasi rahasia mengenai Perusahaan maupun pemegang polis/ tertanggung sesuai dengan peraturan perundang-undangan, serta informasi yang dapat mempengaruhi daya saing perusahaan dan harga saham

d. Kebijakan Perusahaan harus tertulis dan dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan yang berhak memperoleh informasi tentang kebijakan tersebut.

2. Akuntabilitas (accountability)

Akuntabilitas mengandung unsur kejelasan fungsi dalam organisasi dan cara mempertanggungjawabkannya.Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu Perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan Perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepetingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.

Pedoman Pokok Pelaksanaan :

a. Perusahaan harus menetapkan tugas dan tanggung jawab yang jelas dari masing masing organ dan seluruh jajaran Perusahaan dan seluruh karyawan yang selaras dengan visi, misi, nilai-nilai Perusahaan (corporate values), sasaran usaha dan strategi Perusahaan

b. Masing-masing direksi maupun dewan komisaris serta seluruh jajarannya harus membuat pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya, sekurang-kurangnya setahun sekali.

c. Perusahaan harus meyakini bahwa semua organ dan jajaran organisasi Perusahaan mempunyai kompetensi sesuai dengan tanggung jawabnya dan

(16)

memahami perannya dalam pelaksanaan GCG.

d. Perusahaan harus memastikan adanya struktur, sistem dan standard operating procedure (SOP) yang dapat menjamin bekerjanya mekanisme check and balancedalam pencapaian visi, misi, dan tujuan Perusahaan. e. Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran Perusahaan

berdasarkan ukuran-ukuran yang disepakati dan konsisten dengan visi, misi, nilai-nilai Perusahaan (corporate values), sasaran usaha dan strategi Perusahaan serta memiliki sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment system).

f. Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal yang efektif dalam pengelolaan Perusahaan.

g. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, masing-masing organ dan seluruh karyawan harus berpegang pada etika bisnis dan pedoman perilaku yang telah disepakati.

3. Responsibilitas (Responsibility)

Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang danmendapat pengakuan sebagai warga korporasi yang baik (good corporate citizen).

Pedoman Pokok Pelaksanaan :

a. Organ Perusahaan dan seluruh jajarannya harus berpegang pada prinsip kehati-hatian dan menjamin dilaksanakannya peraturan perundang-undangan, anggaran dasar serta peraturan Perusahaan.

b. Perusahaan harus melaksanakan isi perjanjian yang dibuat termasuk tetapi tidak terbatas pada pemenuhan hak dan kewajiban yang tertuang dalam polis asuransi dan perjanjian reasuransi.

c. Perusahaan harus bertindak sebagai warga korporasi yang baik (good corporate citizen) termasuk peduli terhadap lingkungan dan melaksanakan tanggung jawab sosial.

(17)

Perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ Perusahaan beserta jajarannya tidak boleh saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak manapun.

Pedoman Pokok Pelaksanaan :

a. Masing-masing organ Perusahaan beserta jajarannya harus menghindari dominasi dari pihak manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu, bebas dari benturan kepentingan dan dari segala pengaruh atau tekanan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara obyektif.

b. Masing-masing organ perusahaan harus melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan , tidak saling mendominasi dan atau melempar tanggung jawab antara satu dengan yang lain.

c. Seluruh jajaran Perusahaan harus melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan uraian tugas dan tanggung jawabnya serta anggaran dasar, peraturan perusahaan dan peraturan perundang-undangan.

5. Kewajaran (Fairness)

Dalam melaksanakan kegiatannya, Perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.

Pedoman Pokok Pelaksanaan :

a. Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada pemangku kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang diberikan kepada Perusahaan.

b. Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada seluruh pemangku

kepentingan untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan Perusahaan serta membuka akses terhadap informasi sesuai prinsip keterbukaan.

c. Perusahaan harus memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan karyawan, berkarir, dan melaksanakan tugasnya secara profesional tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin (gender) dan kondisi fisik.

(18)

Selain itu penetapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance menurut peraturan BUMN No.Kep-117/M-MBU/2002 adalah sebagai berikut :

1. Transparansi , yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materil dan relevan mengenai perusahaan.

2. Kemandirian, yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola seacara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

3. Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.

4. Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

5. Kewajaran, yaitu keadilan dan kesejahteraan didalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.1.2.2 Manfaat Dan Tujuan Good Corporate Governance

(Hery, 2010), menyatakan ada lima manfaat yang dapat diperoleh perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance yaitu :

1. GCG secara tidak langsung akan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya perusahaan ke arah yang lebih efektif dan efisien, yang pada gilirannya akan turut membantu terciptanya pertumbuhan atau perkembangan ekonomi nasional.

2. GCG dapat membantu perusahaan dan perekonomian nasional, dalam hal ini menarik modal investor dengan biaya yang lebih rendah melalui perbaikan kepercayaan investor dan kreditur domestik maupun internasional.

3. Membantu pengelolaan perusahaan dalam memastikan/menjamin bahwa

perusahaan telah taat pada ketentuan, hukum dan peraturan.

4. Membangun manajemen dan corporate board dalam pemantauan

(19)

5. Mengurangi korupsi pada perusahaan.

Menurut Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor :PER-01/MBU/2011 menjelaskan bahwa penerapan prinsip-prinsip Good Corporate

Governance pada BUMN, bertujuan untuk :

a) Mengoptimalkan nilai BUMN, agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional, sehingga mampu mempertahankan keberadaannya dan hidup berkelanjutan untuk encapai maksud dan tujuan BUMN.

b) Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, efisien dan efektif, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian Organ Persero.

c) Mendorong agar Organ Persero dalam membuat keputusan dan

menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial BUMN terhadap pemangku kepentingan maupun kelestarian lingkungan di sekitar BUMN.

d) Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional.

e) Meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi nasional. 2.1.2.3 Penerapan Prinsip Good Corporate Governance

Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance memiliki tujuan terhadap perusahaan sebagai berikut :

1. Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing. 2. Mendapatkan cost of capital yang lebih murah.

3. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari stakeholders terhadap perusahaan.

4. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum.

5. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja ekonomi perusahaan.

Penerapan prinsip keterbukaan (Transparency), kemandirian

(Independence), akuntabilitas (Accountability), pertanggungjawaban

(Responsibility) dan kewajaran (Fairness) di dalam perusahaan, seharusnya dijadikan sebagai pedoman ataupun acuan para pelaku usaha dalam menjalankan

(20)

kegiatan usahanya. Perusahaan yang telah menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dengan baik akan mampu memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap segala aktivitas bisnis yang dijalankan dalam menghadapi persaingan usaha.

2.1.3 Penelitian Terdahulu

Peneliti terdahulu yang mendukung terhadap penelitian yang akan dilakukan penulis adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1

Hasil Penelitian Yang Relevan N

o

Nama

Peneliti Tahun Judul Hasil

1 R.Ait Novatiani dan Astri Rahayu 2013 Pengaruh Profesionalisme Auditor Internal Terhadap Efektivitas Good Corporate Governance (Studi Kasus pada PT.Pos Indonesia (Persero)

Bandung

Profesionalisme auditor internal memiliki pengaruh

terhadap Efektivitas Good Corporate Governance 2 Rismawati 2015 Pengaruh Audit Internal Terhadap Penerapan Good Corporate Governance pada PT.FIF Cabang polopo

Menunjukkan bahwa Audit Internal berpengaruh Positif

signifikan terhadap penerapan GCG. 3 Casandra 2017 Pengaruh Audit internal, pengendalian internal dan komite

audit terhadap penerapan Good Corporate Governance pada BUMN kota Surakarta

Menunjukkan bahwa audit internal dan pengendalian internal tidak berpengaruh negatif signifikan terhadap penerapan GCG namun komite audit berpengaruh positif signifikan terhadap

(21)

4 Irvian Syahbani Irwondy dan Musa Hubeis 2016 Pengaruh Penerapan Konsep Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Non-Keuangan di Kantor Pusat PT.Asuransi Jasa Indonesia

menyimpulkan bahwa Good

Corporate Governance di PT.Asuransi Jasa Indonesia yaitu prinsip accountability dan fairness telah ditetapkan

dengan baik. Untuk penerapan prinsip tranparency, responsibility

dan independency menunjukkan hasil belum

cukup baik. 5 Tadjuddin, Suhardi M Anwar dan Sitti Hadijah 2014 Tinjauan Penerapan Good Corporate Governance pada PT.Asuransi Jiwasraya di Kota Palopo Menunjukkan bahwa PT.Asuransi Jiwasraya berkomitmen untuk menerapkan Good Corporate Governance

secara konsisten dan menjadikan prinsip-prinsip Good Corporate Governance sebagai landasan operasional. 6 R.Ait Novatiani dan Andily Aprilia SP 2014 Pengaruh Penerapan Good Corporate Goverance Terhadap Kualitas Laporan Keuangan

Penerapan good corporate governance dalam kategori

sangat baik, kualitas laporan keuangan dalam kategori sangat baik

dan penerapan good corporate governance berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan

keuangan. 7 Evi Octavia 2008 Manfaat Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) Bagi Peningkatan Nilai Perusahaan

Penerapan good corporate governance (GCG) ternyata

mampu meningkatkan kredibilitas, kinerja bisnis, dan menciptakan iklim kerja yang menarik bagi karyawan yang pada akhirnya dapat

meningkatkan nilai perusahaan.

(22)

2.2 Kerangka Berpikir Hipotesis Penelitian 2.2.1 Kerangka Pemikiran

Audit Internal adalah untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi, audit internal membantu organisasi, audit internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian dan proses governance (Standar Profesi Audit Internal (SPAI), 2004).

Dalam mewujudkan good corporate governance auditor internal harus dapat memastikan bahwa manajemen telah mengembangkan nilai-nilai etika di dalam organisasi yang mencukupi, efektifitas dan akuntabilitas di dalam pengelolaan kinerja organisasi telah tercapai, adanya komunikasi yang baik mengenai risiko dan pengendalian kepada unit-unit yang tepat di dalam organisasi serta terlaksananya koordinasi kegiatan dan aliran komunikasi yang efektif.

Good corporate governance merupakan tata kelola perusahaan yang menjelaskan hubungan antara berbagai partisipan dalam perusahaan yang menentukan arah kinerja perusahaan. Selain itu, secara umum good corporate

governance merupakan salah satu elemen dalam meningkatkan efisiensi

ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan komisaris, komite audit, para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Good corporate governance juga memberikan suatu struktur yang memfasilitasi penentuan sasaran-sasaran dari suatu perusahaan dan sebagai sarana untuk menentukan teknik monitoring manajemen.

Antara audit internal dan good corporate governance memiliki hubungan yang sangat erat dimana audit internal sebagai orang dalam bagian perusahaan yang mengetahui bagaimana kinerja sehari-hari di perusahaan harus dapat menerapkan tata kelola perusahaan yang baik guna mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Keberadaan audit internal sangat penting di dalam perusahaan untuk memastikan terlaksananya nilai-nilai etika dalam

(23)

pencapaian good corporate governance sehubungan dengan adanya berbagai macam kasus yang terjadi baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Ini menunjukan bahwa organisasi tersebut tidak melaksanakan prinsip-prinsip maupun mekanisme tata kelola perusahaan dengan baik. Peran audit internal yang independen akan sangat penting dalam membantu penerapan good corporate governance dalam suatu perusahaan.

Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan, maka dibuat paradigma penelitian yang ditunjukan pada gambar 2.1 sebagai berikut :

Gambar 2 1 Paradigma Penelitian

2.2.2 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran diatas, peneliti mengajukan Hipotesis sebagai berikut :

Ha = Audit Internal Berpengaruh Terhadap Penerapan Good Corporate

Governance (GCG) Auditor Internal Penerapan Good Corporate Governance Variabel Dependen Variabel Independen

Gambar

Gambar 2 1 Paradigma Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Variabel independen : Pengaruh penerapan corporate governance (Ukuran dewan komisaris, komposisi dewan komisaris independen, komite audit, kepemilikan institusional dan

Dewan komisaris, kepemilikan manajerial, kepemilikan istitutional, ukuran komite audit, laverage tidak berpengaruh terhadap financial distress , sedangkan dewan

Direksi Board of Directors Dewan Komisaris Board of Commissioners Komite Audit Audit Commitee Audit Internal Internal Audit Sekretaris Perusahaan Corporate Secretary Presiden

Komite audit merupakan salah satu unsur penting dalam mewujudkan good corporate governance (tata kelola perusahaan yang baik), dimana keberadaan komite audit ini

Pada penelitian ini, good corporate governance melalui komite audit, kepemilikan institusional, dewan komisaris, dewan komisaris independen, serta kepemilikan

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa komisaris independen, anggota komite audit independen, reputasi auditor, serta remunerasi dewan komisaris dan direksi merupakan

menggunakan variabel independen good corporate governance yang dijabarkan dengan dewan komisaris independen, dewan direksi, komite audit, kepemilikan

Penelitian ini meneliti tentang pengaruh peranan audit internal, komite audit, dan dewan direksi terhadap penerapan good corporate governance sebagai variabel penelitian,