• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELATIHAN AHLI DESAIN TEROWONGAN SDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELATIHAN AHLI DESAIN TEROWONGAN SDA"

Copied!
164
0
0

Teks penuh

(1)

PELATIHAN

AHLI DESAIN TEROWONGAN SDA

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI

(2)

i

KATA PENGANTAR

Usaha dibidang Jasa konstruksi merupakan salah satu bidang usaha yang telah berkembang pesat di Indonesia, baik dalam bentuk usaha perorangan maupun sebagai badan usaha skala kecil, menengah dan besar. Untuk itu perlu diimbangi dengan kualitas pelayanannya. Pada kenyataannya saat ini bahwa mutu produk, ketepatan waktu penyelesaian, dan efisiensi pemanfaatan sumber daya relatif masih rendah dari yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah ketersediaan tenaga ahli/ terampil dan penguasaan manajemen yang efisien, kecukupan permodalan serta penguasaan teknologi.

Masyarakat sebagai pemakai produk jasa konstruksi semakin sadar akan kebutuhan terhadap produk dengan kualitas yang memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan.

Untuk memenuhi kebutuhan terhadap produk sesuai kualitas standar tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya, mulai dari peningkatan kualitas SDM, standar mutu, metode kerja dan lain-lain.

Salah satu upaya untuk memperoleh produk konstruksi dengan kualitas yang diinginkan adalah dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang menggeluti perencanaan baik untuk bidang pekerjaan jalan dan jembatan, pekerjaan sumber daya air maupun untuk pekerjaan dibidang bangunan gedung.

Kegiatan inventarisasi dan analisa jabatan kerja dibidang sumber daya air, telah menghasilkan sekitar 130 (seratus Tiga Puluh) Jabatan Kerja, dimana Jabatan Kerja Ahli Desain Terowongan SDA merupakan salah satu jabatan kerja yang diprioritaskan untuk disusun materi pelatihannya mengingat kebutuhan yang sangat mendesak dalam pembinaan tenaga kerja yang berkiprah dalam perencanaan konstruksi bidang sumber daya air.

Materi pelatihan pada Jabatan Kerja Ahli Desain Terowongan SDA ini terdiri dari 9 (Sembilan) modul yang merupakan satu kesatuan yang utuh yang diperlukan dalam melatih tenaga kerja yang menggeluti Ahli Desain Terowongan SDA.

Namun penulis menyadari bahwa materi pelatihan ini masih banyak kekurangan khususnya untuk modul Dasar-Dasar Manajemen Proyek pekerjaan konstruksi Sumber Daya Air. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, kami mengharapkan kritik, saran dan masukkan guna perbaikan dan penyempurnaan modul ini.

Jakarta, Desember 2005

(3)

ii

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : AHLI DESAIN TEROWONGAN SDA

TUJUAN PELATIHAN

A.

Tujuan Umum Pelatihan

Setelah selesai mengikuti modul ini peserta mampu :

Melakukan kegiatan Desain Terowongan, memeriksa dan mengarahkan asisten perencana dan juru gambar dalam melakukan kegiatan Desain Terowongan sesuai tahapan desain, metode desain dan spesifikasi yang ada dalam kontrak.

B. Tujuan Khusus Pelatihan

Setelah modul ini diajarkan peserta mampu : 1. Menetapkan Rencana Trase Terowongan

2. Mengkaji dan Menerapkan Data Survai dan Investigasi (Primer & Sekunder) 3. Menentukan Bentuk Bahan Konstruksi dan Dimensi Terowongan dan Bangunan

Pelengkapnya

4. Menyiapkan Gambar Desain Terowongan yang Mengacu Pada Hasil Uji Model Hidrolis Yang Diperlukan

(4)

iii

NOMOR MODUL :

TDE. 09

JUDUL MODUL

: DASAR-DASAR MANAJEMEN PROYEK

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah selesai mengikuti modul ini peserta mampu menjelaskan dan menerapkan Dasar-dasar Manajemen Proyek

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)

Setelah modul ini diajarkan peserta mampu : 1. Menjelaskan tentang organisasi proyek. 2. Menjelaskan tentang mengelola sumber daya.

3. Menjelaskan tentang mengelola proses, mutu dan waktu. 4. Menjelaskan tentang koordinasi secara sinergi

(5)

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

LEMBAR TUJUAN ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN AHLI DESAIN TEROWONGAN SDA ... viii

DAFTAR MODUL ... ix

PANDUAN PEMBELAJARAN ... x

MATERI SERAHAN ... xiv BAB I PENDAHULUAN ... 1 – 1 BAB II ORGANISASI PROYEK ... 2 – 1

2.1 Organisasi Proyek ... 2 – 1 2.2 Kegiatan Manajemen Pengelolaan dan Pengendalian Proyek ... 2 – 3 BAB III MENGELOLA SUMBER DAYA ... 3 – 1 3.1 Sumber Daya Manusia ... 3 – 1 3.2 Uang ... 3 – 1 3.3 Peralatan ... 3 – 2 3.4 Bahan ... 3 – 4 BAB IV MENGELOLA PROSES MUTU DAN WAKTU... 4 – 1 4.1 Operasional Pelaksanaan Proyek ... 4 – 1

4.1.1 Tahap persiapan pelaksanaan proyek ... 4 – 1 4.1.1.1 Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) ... 4 – 1 4.1.1.2 Rapat Persiapan Pelaksanaan ... 4 – 2 4.1.1.3 Rencana Pelaksanaan Proyek ... 4 – 8 4.1.2 Tahap Operasional Pelaksanaan proyek ... 4 – 39

4.1.2.1 Tahap Aktivitas Operasional Pelaksanaan Proyek .. 4 – 39 4.1.2.2 Rapat Konstruksi dan Rapat Koordinasi ... 4 – 41 4.1.2.3 Uang Muka (Advance Payment) ... 4 – 43 4.1.2.4 Buku Harian dan Laporan ... 4 – 44 4.1.2.5 Pembayaran Prestasi Pekerjaan ... 4 – 48 4.1.2.6 Pekerjaan Tambah/ Kurang ... 4 – 50 4.1.2.7 Kajian Desain ... 4 – 51 4.1.2.8 Perpanjangan Waktu pelaksanaan ... 4 – 53 4.1.2.9 Denda (Liquidated Damage) ... 4 – 55 4.1.2.10 Eskalasi/ De-Eskalasi Harga ... 4 – 55

(6)

v

4.1.2.11 Penyelesaian perselisihan Kontrak ... 4 – 58 4.1.3 Tahap Penyelesaian dan Penyerahan Proyek ... 4 – 60 4.1.3.1 Program Penyelesaian Pekerjaan ... 4 – 60 4.1.3.2 Penyerahan I Proyek ... 4 – 63 4.1.3.3 Penyerahan II Proyek ... 4 – 70 4.2 Pengendalian Biaya Pelaksanaan di Proyek ... 4 – 73

4.2.1 Pengertian dan Maksud pengendalian biaya

pelaksanaan proyek ... 4 – 73 4.2.2 Pelaksanaan pengendalian biaya di proyek ... 4 – 73 4.2.2.1 Cara Langsung ... 4 – 73 4.2.2.2 Cara Tidak Langsung ... 4 – 74 4.2.3 Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) Proyek ... 4 – 76 4.2.4 Aliran Dana Proyek (Cash Flow) ... 4 – 80 4.3 Pengendalian Mutu ... 4 – 83

4.3.1 Prinsip Pengendalian Mutu ... 4 – 83 4.3.2 Prosedur Pengendalian Mutu ... 4 – 86

4.3.2.1 Kerangka Pengendalian Mutu ... 4 – 86 4.3.2.2 Metode Pengawasan Kualitas Pekerjaan Konstruksi 4 – 86 4.3.2.3 Penerapan Standar ... 4 – 88 4.3.2.4 Pemeriksaan ... 4 – 91 4.3.2.5 Pengujian sifat-sifat bahan ... 4 – 92 4.4 Pengendalian Waktu ... 4 – 98 4.4.1 Jadwal pelaksanaan (Construction Schedule) ... 4 – 98 BAB V KOORDINASI SECARA SINERGI... 5 – 1

5.1 Organisasi (Organizing) ... 5 – 1 5.2 Pelaksanaan (Actuating) ... 5 – 4 5.3 Pengendalian/ Pengawasan (Controlling) ... 5 – 5 BAB VI KOMUNIKASI ... 6 – 1 6.1 Keterampilan Komunikasi yang Dibutuhkan Manajer ... 6 – 1 6.2 Pertanyaan yang Patut Dipikirkan Sebelum Berkomunikasi ... 6 – 1 6.3 Komunikasi yang Umum Dipergunakan di Proyek... 6 – 2 6.4 Komunikasi Langsung – Presentasi Pidato ... 6 – 7 RANGKUMAN

(7)

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tipikal organisasi proyek ... 2 – 2 Gambar 4.1 Tipikal organisasi proyek ... 4 – 10 Gambar 4.2 Contoh Network Planning ... 4 – 14 Gambar 4.3 Revisi jadwal pelaksanaan akibat perpanjangan waktu ... 4 – 48 Gambar 4.4 Bagan alir Proses Kegiatan Utama PHO dan Diagram Pelaksanaan

Serah Terima Sementara Pekerjaan (PHO) ... 4 – 69 Gambar 4.5 Diagram Prinsip Pengendalian Mutu ... 4 – 85 Gambar 4.6 Bagan Kerangka Pengendalian Mutu ... 4 – 86 Gambar 4.7 Bagan standar pelaksanaan pekerjaan timbunan tanah ... 4 – 89 Gambar 4.8 Bagan standar pelaksanaan pekerjaan beton ... 4 – 89 Gambar 4.9 Bagan alir pengawasan kualitas ... 4 – 90 Gambar 4.10 Jadwal pelaksanaan (Diagram balok) ... 4 – 101 Gambar 4.11 Contoh variasi bar chart schedule ... 4 – 102 Gambar 4.12 Jadwal progress keuangan (S-Curve) ... 4 – 103 Gambar 4.13 Contoh S-curve ... 4 – 104 Gambar 4.14 Progress schedule dengan data EET ... 4 – 104 Gambar 4.15 Langkah-langkah pembuatan network planning ... 4 – 106 Gambar 4.16 Contoh pengisian LET ... 4 – 108 Gambar 4.17 Contoh network planning ... 4 – 109 Gambar 4.18 Perbedaan antara TF, FF dan IF ... 4 – 110 Gambar 4.19 Contoh network planning sebelum dilakukan percepatan ... 4 – 114 Gambar 4.20 Perubahan network planning setelah dipercepatan 7 hari ... 4 – 115

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Contoh perhitungan untuk menetapkan lintasan kritis ... 4 – 15 Tabel 4.2 Daftar aktivitas tahap operasional pelaksanaan proyek ... 4 – 40 Tabel 4.3 Standar pengujian pengawasan kualitas pekerjaan konstruksi ... 4 – 88 Tabel 4.4 Hubungan sifat-sifat bahan, cuaca dan kualitas ... 4 – 92 Tabel 4.5 Pemeriksaan sifat-sifat bahan untuk pekerjaan timbunan tanah ... 4 – 92 Tabel 4.6 Pemeriksaan sifat-sifat bahan untuk pekerjaan beton ... 4 – 93 Tabel 4.7 Hubungan Sifat-Sifat Bahan, Standar Pengujian, Standar Mutu,

Cara Pengawasan Dan Pengambilan Tindak Lanjut ... 4 – 94 Tabel 4.8 Tahap dan kendali mutu ... 4 – 99

(8)

vii

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL

PELATIHAN AHLI DESAIN TEROWONGAN SDA

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Ahli Desain Terowongan SDA (Tunnel Design Engineer) dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kompetensi, elemen kompetensi, dan kriteria unjuk kerja sehingga dalam Pelatihan Ahli Desain Terowongan SDA unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.

2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.

3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Ahli Desain Terowongan SDA.

(9)

viii

DAFTAR MODUL

MODUL NOMOR : TDE. 09

JUDUL : DASAR-DASAR MANAJEMEN PROYEK

Merupakan salah satu modul dari :

NO. KODE JUDUL

1. TDE. 01 Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jasa Konstruksi Dan UU SDA 2. TDE. 02 Sistem Manajemen K3 Dan RKL, RPL

3. TDE. 03 Pengenalan Survai Dan Investigasi

4. TDE. 04 Pengenalan Dokumen Tender Dan Dokumen Kontrak 5. TDE. 05 Pengenalan Manual O & P

6. TDE. 06 Kriteria Desain Terowongan 7. TDE. 07 Perhitungan Desain Terowongan 8. TDE. 08 Metode Menggambar Teknis 9. TDE. 09 Dasar-Dasar Manajemen Proyek

(10)

ix

PANDUAN PEMBELAJARAN

PELATIHAN : AHLI DESAIN TEROWONGAN SDA

JUDUL MODUL : DASAR-DASAR MANAJEMEN PROYEK KETERANGAN KODE MODUL : TDE. 09

DESKRIPSI : Materi ini terutama membahas dasar-dasar manajemen proyek pada pekerjaan di bidang sumber daya air yang meliputi organisasi proyek, mengelola sumber daya daya, mengelola proses, mutu dan waktu, koordinasi secara sinergi dan komunikasi

TEMPAT KEGIATAN : Dalam ruang kelas lengkap dengan fasilitasnya

(11)

x

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

1. CERAMAH : PEMBUKAAN

 Menjelaskan Tujuan Instruksional (TIU & TIK)

 Merangsang motivasi peserta dengan pertanyaan atau pengalamannya dalam penerapan dasar-dasar manajemen proyek

Waktu : 5 menit Bahan : Lembar tujuan

2. CERAMAH : PENDAHULUAN  Gambaran dasar-dasar manajemen proyek  Menjelaskan dasar-dasar manajemen proyek Waktu : 10 menit Bahan : Materi serahan (bab 1 Pendahuluan)

3. CERAMAH : Organisasi Proyek

 Menjelaskan organisasi proyek

 Menjelaskan kegiatan

manajemen pengelolaan dan pengendalian proyek

Waktu : 15 menit Bahan : Materi serahan (bab 2 Organisasi Proyek)

 Mengikuti penjelasan TIU dan TIK dengan tekun dan aktif

 Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu

 Mengajukan pertanyaan bila perlu

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila perlu OHT No. 4 OHT No. 6 OHT No. 7 - 8

(12)

xi

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

4. CERAMAH : Mengelola Sumber Daya

 Menjelaskan sumber daya

 Menjelaskan fungsi-fungsi manajemen

Waktu : 15 menit Bahan : Materi serahan

(bab 3 Mengelola Sumber Daya)

5. CERAMAH : Mengelola Proses Mutu dan Waktu

 Menjelaskan operasional pelaksanaan proyek  Menjelaskan pengendalian mutu  Menjelaskan pengendalian waktu Waktu : 100 menit Bahan : Materi serahan (bab 4 Mengelola Proses Mutu dan Waktu)

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu

 Mengajukan pertanyaan bila perlu

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila perlu OHT No. 9 OHT No. 10 - 51

(13)

xii

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

6. CERAMAH : Koordinasi Secara Sinergi  Menjelaskan organizing  Menjelaskan actuating  Menjelaskan controlling Waktu : 20 menit Bahan : Materi serahan

(bab 5 Koordinasi Secara Sinergi)

7. CERAMAH : Komunikasi

 Menjelaskan keterampilan komunikasi yang dibutuhkan manajer

 Menjelaskan pertanyaan yang patut dipikirkan sebelum berkomunikasi

 Menjelaskan komunikasi yang umum dipergunakan di proyek  Menjelaskan komunikasi langsung-presentasi pidato Waktu : 15 menit Bahan : Materi serahan (bab 6 Komunikasi)

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu

 Mengajukan pertanyaan bila perlu

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila perlu OHT No. 52 - 56 OHT No. 57 – 64

(14)

xiii

MATERI SERAHAN

(15)

1 - 1

BAB I

PENDAHULUAN

Menurut Koontz dan O’ Donnell, manajemen diartikan sebagai pelaksanaan sesuatu dengan menggunakan orang-orang lain atau “getting things done through people”. Dalam pengertian yang sederhana dapat diartikan bahwa manajemen proyek adalah pelaksanaan sesuatu proyek dengan menggunakan orang-orang lain. Sedangkan proyek adalah suatu kegiatan yang dibatasi oleh tujuan, sasaran, persyaratan-persyaratan administrasi, persyaratan-persyaratan teknis, biaya dan waktu, kapan harus dimulai dan kapan harus diakhiri.

Fokus dari tulisan ini adalah mencoba memahami bagaimana mekanisme manajemen pekerjaan konstruksi (Sumber Daya Air) harus dilakukan, siapa-siapa saja yang terlibat, apa kualifikasinya, apa tanggung jawabnya dan proses utama apa saja yang harus dilalui, agar pekerjaan konstruksi tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan segala persyaratan yang telah disepakati.

Pekerjaan konstruksi Sumber Daya Air atau sering disebut sebagai civil works, sampai saat ini pada umumnya dibiayai dengan dana Pemerintah, bisa Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi ataupun Pemerintah Kabupaten. Sebagian (kecil) memang ada yang sumber dananya berasal dari investor atau dari swasta, namun mekanisme manajemen pekerjaan konstruksi pada umumnya memerlukan tatacara yang sudah baku yaitu ada unsur pelaksana dan ada unsur pengawas yang melakukan interaksi untuk menyelenggarakan pekerjaan konstruksi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Dimana posisi pekerjaan konstruksi tersebut di dalam suatu proyek ? Mengambil referensi dari proyek-proyek pemerintah di bidang Sumber Daya Air, pekerjaan konstruksi atau civil works itu pada umumnya merupakan suatu paket di dalam Proyek Pembangunan Sumber Daya Air,. Paket pekerjaan konstruksi tersebut diberikan kepada kontraktor sebagai penyedia jasa melalui pelelangan atau pemilihan langsung tergantung pada tata cara pengadaan jasa konstruksi yang telah ditetapkan. Dalam hal ini kontraktor difungsikan sebagai pelaksana lapangan yang diikat oleh Pinbagpro Fisik dengan surat perjanjian kontrak, diawasi oleh konsultan supervisi. Sedangkan konsultan supervisi sebagai penyedia jasa, ikatan kontraknya (diperoleh melalui pelelangan atau pemilihan

(16)

1 - 2

langsung) dilakukan dengan Proyek Perencanaan dan Pengawasan Sumber Daya Air, tugas utamanya adalah membantu Pinbagpro Fisik mengawasi pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor.

Untuk mencapai efisiensi penyelenggaraan proyek yaitu tepat mutu, tepat biaya dan tepat waktu, diperlukan alat kontrol dalam mekanisme pengendaliannya yaitu berupa pembuatan time schedule proyek (bar chart, S–Curve), penyelenggaraan rapat persiapan pelaksanaan, penyiapan kajian desain, penyiapan laporan bulanan, tri wulanan dan lain sebagainya. Jika seluruh rangkaian kegiatan pelaksanaan dan pengawasan tersebut sudah dapat menghasilkan suatu produk yang kurang lebih memenuhi persyaratan-persyaratan teknis maupun administratif yang telah ditetapkan maka manajemen proyek pada akhirnya akan sampai kepada tahap Provisional Hand Over dan kemudian Final Hand Over setelah melalui tahap warranty period.

(17)

2 - 1

BAB II

ORGANISASI PROYEK

2.1 Organisasi Proyek

Pertimbangan dalam memilih bentuk organisasi proyek

Tipe atau bentuk organisasi proyek dari kontraktor sebagai pelaksana proyek sangat bervariasi adapun alasan dan pertimbangan adalah:

1. Besarnya nilai proyek

2. Tingkat teknologi dan kompleksitas proyek 3. Luas area dan jangkauan proyek

4. Macam dan jenis pekerjaan proyek

5. Besar dan banyaknya ragam sumber daya yang harus dikelola untuk kepentingan proyek.

Project organization chart atau bagan organisasi proyek adalah bagan koordinasi yang menunjukkan hubungan, fungsi dan peran masing-masing anggota dari struktur organisasi proyek tersebut. Untuk menegaskan dan memberikan tanggung jawab yang jelas, manajer proyek harus membuat atau memberikan uraian tugas (job description) kepada masing-masing stafnya.

Organisasi proyek adalah struktur organisasi ’ formal’ untuk memudahkan dan memberikan kejelasan komunikasi internal proyek kepada yang berkepentingan langsung. Hal ini disesuaikan dengan tingkat jabatan dan keperluannya, selain itu juga untuk kepentingan komunikasi/ hubungan kerja dengan kerja dengan pemilik proyek dan konsultan. Adapun contoh dari tipikal organisasi proyek adalah sebagai berikut:

(18)

2 - 2 T IP IK A L O R G A N IS A S I P R O Y E K K e p a la P ro y e k M a n a je r P e ra la ta n / L O G K e p a la L a p a n g a n K e p a la L a p a n g a n M a n a je r T e k n ik M a n a je r A d m in is tr a s i P e la k s a n a P e la k s a n a P e la k s a n a P la n n in g E n g in e e r S a fe ty E n g in e e r Q u a lit y A s s u ra n c e E n g in e e r T e k n is i L a b o ra to ri u m P e n g a w a s / P e m b a n tu P e la k s a n a P e la k s a n a / P e m b a n tu P e la k s a n a M a n d o r M a n d o r M a n d o r T u k a n g /P e k e rj a T u k a n g /P e k e rj a T u k a n g /P e k e rj a G a m b a r 2 .1 T ip ik a l O rg a n is a s i P ro y e k

(19)

2 - 3

2.2

Kegiatan Manajemen Pengelolaan dan Pengendalian Proyek

Ukuran keberhasilan pelaksanaan proyek ditinjau dari sisi perusahaan konstruksi ialah apabila mutu produk akhir yang dicapai sesuai dengan perencanaan teknis dalam dokumen kontrak, dilaksanakan sesuai koridor waktu yang telah disepakati didalam surat perjanjian kontrak dan mengeluarkan biaya proyek sesuai anggaran yang ditetapkan sejak diterbitkannya SPMK hingga penyerahan II proyek.

Apabila kita melihat bagan alir suatu pelaksanaan pekerjaan sumber daya air maka kegiatan manajemen pengelolaan dan pengendalian proyek dapat dibagi menjadi tahapan berikut:

1. Persiapan dokumen

- Surat perintah mulai kerja - Rapat persiapan pelaksanaan 2. Rencana pelaksanaan proyek

- Organisasi proyek

- Rencana mutu (Quality plan) - Metode pelaksanaan pekerjaan

- Jadwal sumber daya (tenaga kerja, bahan dan peralatan) - Rencana anggaran pelaksanaan (RAP) dan cash flow - Rapat koordinasi internal maupun eksternal.

3. Persiapan fisik lapangan - Survai lapangan - Mobilisasi 4. Proses pembayaran

- Pembayaran uang muka - Buku harian dan laporan

- Pembayaran prestasi pekerjaan

5. Penyesuaian/ perubahan biaya, mutu dan waktu - Pekerjaan tambah/ kurang

- Kajian desain

- Perpanjangan waktu - Denda

(20)

2 - 4

6. Perselisihan

- Rapat penyelesaian perselisihan 7. Serah terima

- Penyerahan I proyek - Penyerahan II proyek

(21)

3 - 1

BAB III

MENGELOLA SUMBER DAYA

3. 1 Sumber Daya Manusia

Dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi proyek Sumber Daya Air, manusia sebagai sumber daya utama diartikan sebagai tenaga kerja baik yang terlibat langsung dengan proyek maupun yang tidak terlibat langsung dengan proyek. Yang terlibat langsung dengan proyek adalah tenaga kerja yang berada di kelompok pemberi pekerjaan (pengguna jasa), di kelompok kontraktor (penyedia jasa) dan di kelompok konsultan (penyedia jasa). Dari kualifikasinya para tenaga kerja tersebut dapat dikelompokkan ke dalam “tenaga ahli” dan “tenaga terampil”. Berikut ini adalah sebutan yang lazim diberikan kepada tenaga kerja yang terlibat langsung dengan penyelenggaraan proyek (Contoh pada proyek pemerintah) :

Kelompok Kelompok Kelompok

Pemberi Pekerjaan Kontraktor Konsultan

Pinpro Kepala proyek Team Leader

Pinbagpro Kepala lapangan CoTeam Leader

Asisten Pinpro Manajer teknik Irrigation Engineer Asisten Pinbagpro Manajer Administrasi/keuangan Dam Engineer Bendahara Proyek Manajer Peralatan Quality Engineer Bendahara Bag. Proyek Manajer Logistik Quantity Engineer Urusan Tata Usaha Quality Controler Inspector

Urusan Pergudangan Pelaksana Laboratory Technician

Dan sebagainya Draftman Draftman

3. 2 Uang

Uang merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting dalam manajemen penyelenggaraan proyek. Tanpa sumber daya berupa uang yang memadai, jangan mengharapkan dapat menyelenggarakan manajemen proyek sesuai dengan ikatan kontrak yang berlaku antara para pihak yang menandatangani perjanjian kontrak. Seluruh kegiatan penyelenggaraan proyek, baik yang berada pada kelompok pengguna jasa (misalnya Pinpro dan Pinbagpro yang mewakili Pemerintah), pada kelompok pelaksana (kontraktor) sebagai penyedia jasa, maupun pada kelompok pengawas (konsultan) yang juga berperan sebagai penyedia jasa, memerlukan biaya yang besarnya telah disepakati di dalam surat perjanjian kontrak. Jika terjadi perselisihan dalam pelaksanaan pekerjaan, yang biasanya berdampak pada “nilai

(22)

3 - 2

uang” yang harus disepakati, dokumen kontrak telah mengatur tata cara penyelesaian hukum yang harus ditempuh di dalam penyelesaian masalah tersebut.

Jadi pada hakekatnya, uang memang merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting karena seluruh kegiatan proyek yang menyangkut rekruitmen manusia (tenaga kerja), penggunaan jasa tenaga kerja (tenaga ahli, tenaga terampil, tenaga non skill), penggunaan peralatan (alat-alat berat maupun alat-alat laboratorium), pembelian bahan dan material, pengolahan bahan dan material, dan lain sebagainya, baik yang berada pada kelompok pengguna jasa maupun penyedia jasa, seluruhnya memerlukan pembiayaan.

Oleh karena itu, pengertian “uang” di dalam penyelenggaraan proyek (civil works) bukanlah semata-mata uang yang diperlukan untuk pembiayaan pelaksanaan konstruksi saja oleh kontraktor akan tetapi juga termasuk biaya yang harus dikeluarkan untuk konsultan pengawas (Core Team, Provincial Team, Field Supervision Team) dan untuk pengguna jasa (misalnya Pinpro dan Pinbagpro yang mewakili Pemerintah), dalam suatu kurun waktu yang telah disepakati.

3. 3 Peralatan

Peralatan, apakah itu berupa alat-alat berat, peralatan laboratorium, ataukah peralatan kantor (computer, kalkulator) ataupun peralatan jenis-jenis lainnya merupakan penunjang utama di dalam penyelenggaraan proyek, oleh karena itu peralatan dimasukkan sebagai sumber daya. Dengan menggunakan peralatan maka sasaran pekerjaan dapat dicapai dalam waktu yang relatif lebih cepat serta dapat memenuhi spesifikasi teknis yang telah dipersyaratkan.

a. Alat-alat berat

Berbagai macam jenis peralatan dengan kapasitas yang berbeda-beda telah banyak diproduksi untuk digunakan dalam pekerjaan konstruksi jalan maupun jembatan sesuai dengan fungsinya. Dari berbagai macam jenis peralatan dan fungsinya tersebut, dikaitkan dengan jenis-jenis pelaksanaan pekerjaan yang harus dilakukan, dapat disusun pengelompokan peralatan untuk tiap-tiap jenis penanganan pekerjaan sebagai berikut :

(23)

3 - 3

Alat Pemindahan Tanah (Earth moving equipment) ✓ Bulldozer (crawler, wheel) ✓ Loader (crawler, wheel) ✓ Motor Grader

✓ Excavator (crawler, wheel Alat Pemadat (Compacting Equipment) ✓ Tandem Roller ✓ Pedestrian Roller ✓ Vibrating Tamper ✓ Vibrating Rammer ✓ Three Wheel Roller ✓ Tyre (Pneumatic Roller) ✓ Vibrating Compactor ✓ Combination Roller ✓ Sheepfoot Roller Alat Angkut (Hauling Equipment) ✓ Motor Scraper ✓ Dump Truck Alat Proses (Plant Equipment)

✓ Stone Crushing Plant ✓ Asphalt Mixing Plant ✓ Concrete Plant / Mixer

Alat Bor

(Drilling / Boring Equipment) ✓ Percusion Drill

✓ Bore Pile ✓ Hammer Drill Alat Pile

(Piling Equipment)

✓ Pile Hammer (Diesel, Vibro) Alat Angkat (Lifting Equipment) ✓ Crane ✓ Lift Platform ✓ Forklift Alat Transport (Transportation Equipment) ✓ Truck ✓ Trailer ✓ Jeep ✓ Pick Up ✓ Bus Alat Pendukung (Supporting Equpment) ✓ Water Tank Truck ✓ Fuel Tank Truck ✓ Generating Set ✓ Air Compressor ✓ Water Pump

Dalam manajemen penyelenggaraan proyek sumber daya air, penyediaan peralatan (oleh kotraktor) harus sesuai dengan kebutuhannya ditinjau dari jenis, jumlah, kapasitas maupun waktu yang tersedia. Cara menggunakannya harus mengikuti prosedur pengoperasian, sesuai dengan fungsi masing-masing peralatan, setelah itu peralatan harus disimpan di tempat yang bisa melindunginya dari kemungkinan hilang atau rusak.

b. Peralatan Laboratorium

Peralatan laboratorium diperlukan dalam rangka melakukan pengawasan dan pengendalian mutu atas pekerjaan konstruksi yang dilakukan oleh kontraktor. Peralataan-peralatan laboratorium untuk pengujian-pengujian merupakan komponen dari sumber daya yang difungsikan dalam rangka pengendalian

(24)

3 - 4

mutu. Jenis, jumlah dan waktu diperlukannya peralatan-peralatan laboratorium tersebut tentunya tergantung pada ruang lingkup kegiatan pengawasan atas pekerjaan konstruksi yang akan dilaksanakan.

3. 4 Bahan

Pengertian bahan dalam hal ini adalah bahan baku yang kemudian diolah menjadi bahan olahan dan setelah diproses bahan olahan tersebut berubah menjadi item pekerjaan sebagaimana dituangkan di dalam dokumen kontrak. Jadi bahan baku (tanah, batu, aspal, semen, pasir, besi beton, dll.) dan bahan olahan (agregat, adukan beton, pofil baja dll.) adalah merupakan sumber daya yang harus diperhitungkan secara cermat di dalam manajemen penyelenggaraan proyek karena pengaruhnya di dalam perhitungan biaya proyek sangat besar. Oleh karena itu, mencari lokasi bahan baku yang tidak terlalu jauh dari lokasi proyek, yang memenuhi syarat untuk diolah menjadi bahan olahan, akan menjadi faktor penting di dalam manajemen penyelenggaraan proyek. Survai untuk mendapatkan informasi lokasi bahan baku tersebut barangkali harus dilakukan, karena dengan data tersebut kontraktor dapat menyiapkan penawaran yang lebih akurat.

(25)

4 - 1

BAB IV

MENGELOLA PROSES MUTU DAN WAKTU

4.1 Operasional Pelaksanaan Proyek

Untuk mendapatkan kepercayaan dalam pelaksanaan proyek, kontraktor harus berperan serta dengan mengikuti tahapan pra-kualifikasi, tender proyek dan pelaksanaan fisik proyek, serta penyerahan akhir proyek kepada pemilik proyek. Di sini hanya akan dibahas peran serta manajemen proyek sejak kontrak pelaksanaan pekerjaan ditandatangani (atau sejak kontraktor ditunjuk sebagai pemenang tender) sampai dengan penyerahan akhir proyek kepada pemilik proyek

Adapun 3 tahap pelaksanaan itu adalah : - Tahap persiapan pelaksanaan proyek - Tahap operasional pelaksanaan proyek - Tahap penyelesaian dan penyerahan proyek

4.1.1 Tahap Persiapan Pelaksanaan Proyek

Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini terutama adalah melakukan pengadaan sarana dan prasarana pelaksanaan fisik proyek dan kegiatan administrasi yang diperlukan selama operasional pelaksanaan proyek

Persiapan sarana dan prasarana meliputi pembuatan dokumen (administrasi) keperluan operasional pelaksanaan proyek dan pekerjaan fisik seperti pembuatan jalan masuk, jalan kerja, bangunan fasilitas dan kantor proyek (lapangan) dan lain-lain. Pekerjaan fisik tersebut ada yang non pay items works maupun pay items works atau yang bisa ditagihkan pembayaran atau progress fisiknya. Yang non pay items works walaupun tidak bisa ditagihkan namun sebenarnya sudah diperhitungkan dalam biaya item pekerjaan tertentu.

4.1.1.1 Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)

SPMK atau Commercement of Work (COW) diterbitkan oleh Pinpro/ Pinbagpro selambat-lambatnya 60 hari sejak penandatangan kontrak pekerjaan konstruksi, didahului dengan penandatangan Berita Acara Site Hand Over (serah terima lapangan) dari Pihak proyek (pinpro/ pinbagpro) kepada kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan konstruksi. Serah terima lapangan tersebut diselenggarakan setelah seluruh permasalahan yang terkait dengan pemerintah

(26)

4 - 2

atau masyarakat setempat (misalnya pembebasan tanah) terselesaikan. Tanggal penerbitan SPMK merupakan saat awal periode konstruksi (construction period) atau dapat juga disebut sebagai awal dari pelaksanaan kontrak (contrac period). Jika construction period dimulai sejak COW dan berakhir pada PHO (provisional hand Over) maka contract period dimulai sejak COW dan berakhir pada FHO (Final hand Over)

4.1.1.2 Rapat Persiapan Pelaksanaan

Pre Construction Meeting (PCM) atau Rapat Persiapan Pelaksanaan adalah pertemuan antara Pihak Proyek (Direksi Pekerjaan), Kontraktor atau Konsultan, dilakukan selambat-lambatnya 14 hari setelah diterbitkannya SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja) oleh Pimpro/ Pinbagpro, guna membahas dan kemudian menyepakati bersama berbagai hal yang secara umum adalah sebagai berikut :

• Organisasi kerja pelaksanaan konstruksi.

• Tata cara pengaturan pelaksanaan pekerjaan.

• Mengkaji dan penyempurnaan terhadap jadwal pelaksanaan pekerjaan yang harus sesuai dengan target volume, mutu dan waktu.

• Jadwal mobilisasi personel dan peralatan.

• Jadwal pengadaan bahan dan penggunaan peralatan.

• Menyusun rencana pemeriksan bersama lapangan (mutual check) dan menelaah desain yang ada.

• Menentukan lokasi sumber quarry (sumber bahan/ material), estimasi kuantitas bahan serta rencana pemeriksaan mutu bahan yang akan digunakan.

• Pendekatan kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah setempat berkaitan dengan pelaksanaan proyek (misalnya masalah jalan akses ke lokasi quarry).

Jadi dengan demikian tujuan penyelenggaraan Rapat Persiapan Pelaksanaan adalah menyatukan pengertian terhadap seluruh isi Dokumen Kontrak dan membuat kesepakatan-kesepakatan terhadap hal-hal penting yang belum terdapat di dalam Dokumen Kontrak serta membahas jalan keluar terhadap kendala-kendala yang mungkin terjadi selama pelaksanaan konstruksi. Adapun substansi pokok yang dibahas dalam Rapat Persiapan Pelaksanaan adalah sebagai berikut:

(27)

4 - 3

a.

Aplikasi pasal-pasal penting dalam dokumen kontrak tentang :

1. Jaminan pelaksanaan 2. Organisasi kerja 3. Mobilisasi

4. Cek bersama lapangan (mutual check) 5. Pekerjaan tambah kurang

6. Termination atau forfeiture

b.

Prosedur administrasi penyelenggaraan pekerjaan, antara lain :

o Persetujuan tahapan pelaksanaan (Request and Approval dalam rangka Examination of Works)

o Perpanjangan waktu pelaksanaan (Extension time for completion of works)

o Gambar kerja dan kelengkapannya.

o Pengajuan berita acara bulanan (Monthly Certificate) o Penyerahan I (PHO) dan penyerahan II proyek (FHO) o Pembuatan Addendum Kontrak

o Jadual pengadaan bahan, penggunaan peralatan dan personel

o Penelaahan/ Kajian dan penyempurnaan terhadap jadual kerja yang harus sesuai dengan target volume, mutu dan waktu.

o Menyusun rencana dan pelaksanaan pemeriksaan bersama lapangan (mutual check) sehubungan dengan kajian desain terhadap desain yang ada dalam dokumen kontrak

c.

Tata cara dan prosedur teknis pelaksanaan pekerjaan, antara lain : o Pelaksanaan konsruksi SDA misalnya saluran, bendung dll. o Pelaksanaan produksi agregat untuk beton.

o Menentukan lokasi sumber bahan material (quarry), estimasi kuantitas bahan beserta rencana pemeriksaan mutu bahan yang akan digunakan.

o Pendekatan terhadap masyarakaat dan Pemerintah Daerah setempat mengenai rencana kerja yang ada kaitannya dengan musim tanam atau masalah jalan akses ke quarry/ angkutan bahan.

Peran masing-masing unsur dalam Rapat Persiapan Pelaksanaan

(28)

4 - 4 – Sebagai moderator dan nara sumber.

– Memberikan pengarahan secara umum pelaksanaan proyek.

– Menjelaskan bahwa Pinbagpro ikut bertanggung jawab terhadap kajian desain beserta prosedur survai sampai dengan penyelesaiannya sebagai pedoman awal pelaksanaan pekerjaan.

– Lain-lain yang dianggap perlu.

b.

Peran Pinpro/ Pinbagpro Pengawas (unsur Pemerintah)

– Menjelaskan kebijaksanaan teknis tentang perlunya kajian desain. – Menjelaskan prosedur Review Design termasuk :

o Metodologi survai

o Cara pembuatan gambar kerja

o Mekanisme proses administrasi Kajian Desain dan Proses Addendum Kontrak atau Memorandum Kontrak.

– Menjelaskan kapan kajian desain harus diselesaikan.

– Menjelaskan prosedur dan jadual kerja seluruh tenaga konsultan supervisi mulai dari mobilisasi sampai demobilisasi.

– Menjelaskan TOR/ tugas-tugas dan tanggung jawab konsultan supervisi serta kualifikasi personelnya.

– Menjelaskan laporan-laporan kemajuan pelaksanaan fisik yang akan dibuat oleh konsultan supervisi dandistribusi laporan-laporan yang terdiri dari :

o Laporan bulanan untuk para eksekutip o Laporan progres bulanan

o Laporan progres tiga bulanan o Laporan kendali mutu

o Laporan teknis

▪ Kajian desain/ Laporan justifikasi teknis

▪ Laporan teknis o Draf laporan akhir o Laporan akhir

Serta kapan waktunya laporan tersebut harus selesai dikirim.

– Menjelaskan bahwa konsultan bertanggung jawab dalam pengarsipan dokumen-dokumen lapangan

– Menjelaskan adanya penilaian terhadap konsultan atau kontraktor yang sedang melaksanakan pekerjaan.

(29)

4 - 5 – Menjelaskan akomodasi dan fasilitas yang disediakan oleh kontrak

konsultan.

– Secara periodik Bagpro Pengawasan akan melaksanakan uji petik. – As built drawing harus dibuat sesuai dengan standar yang berlaku. – Lain-lain yang dianggap perlu.

c.

Pinpro/ Pinbagpro Fisik (unsur Pemerintah) – Sebagai ketua

– Menjelaskan Susunan Organisasi Pinbagpro

– Membahas struktur `organisasi pelaksanaan konstruksi yang diusulkan oleh kontraktor maupun yang disarankan oleh konsultan supervisi. – Membahas tugas kontraktor mengenai :

o Survai dan membuat gambar kerja.

o Rencana pengadaan personel, peralatan dan bahan.

o Penyiapan jadwal pelaksanaan – Jadwal progress keuangan – S-Curve.

– Menjelaskan bahwa keterlambatan mobilisasi dapat dikenakan denda. – Menjelaskan kapan dan bagaimana proses penyerahan I dan

penyerahan II.

– Menjelaskan bahwa 1 (satu) bulan sebelum penyerahan I maka Pinbagpro akan mengeluarkan pengumuman kepada masyarakat sekitar proyek tentang akan selesainya proyek untuk menghindari adanya tagihan utang yang belum dibayar oleh kontraktor kepada masyarakat sekitar proyek.

– Menjelaskan mekanisme kerja antara ketiga unsur proyek (Pinbagpro, Kontraktor dan Pengawas) dalam hal perlunya contractor’s request sebelum dimulainya pekerjaan dan sebelum mulainya penerimaan pekerjaan (waktunya ditentukan oleh Pinbagpro Fisik).

– Menjelaskan kapan serah terima lapangan dapat dilakukan.

– Menjelaskan kewajiban pembayaran untuk pungutan retribusi maupun asuransi.

– Menjelaskan prosedur pembongkaran dan penyerahan barang bekas, – Menjelaskan kapan tanggal mobilisasi terakhir dan kapan akhir masa

konstruksi dan apa sanksi-sanksinya jika tanggal tersebut dilewati. – Menjelaskan standar Laporan Harian dan Mingguan yang sudah

(30)

4 - 6 – Menjelaskan proses pengusulan dan pembayaran bulanan (berita

acara).

– Menjelaskan proses pengujian bahan.

– Menjelaskan perlu tidaknya sondir pada awal sebelum dimulainya pekerjaan pondasi suatu bangunan misalnya bendung, talang dll . – Membahas metode pelaksanaan yang diajukan oleh kontraktor pada

saat pelelangan.

– Menjelaskan bahwa kendali mutu untuk pekerjaan jalan menggunakan fasilitas laboratorium yang disediakan oleh kontraktor dari item mobilisasi.

– Menekankan tidak adanya biaya tambahan terhadap biaya test bahan untuk kendali mutu dan menegaskan bahwa biaya test sudah termasuk dalam harga satuan penawaran masing-masing pekerjaan.

– Menjelaskan perlunya pendekatan terhadap masyarakat dan Pemerintah Daerah setempat sehubungan dengan rencana kerja yang nantinya akan berkaitan dengan masalah jalan akses ke lokasi quarry, pembebasan lahan terhadap pagar, listrik, telpon, PDAM dan sebagainya.

– Menjelaskan bahwa pihak Pemerintah dibebaskan dari adanya tuntutan Pihak Ketiga jika tejadi kelalaian kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaan.

– Menekankan barang-barang yang menjadi milik Pemerintah. – Membahas Mata pembayaran yang spesifik :

– Menjelaskan adanya Tim Mutual Check selama periode kontrak.

d.

Peran Kontraktor

– Menjelaskan rencana kerja pada saat mobilisasi yang meliputi : o Mobilisasi peralatan dan personel

▪ Survei lapangan

– Rencana Kerja dan Kajian Terhadap Desain :

o Melaksanakan survei untuk pembuatan gambar kerja.

o Membuat gambar kerja (standard survei dan gambar kerja mengacu pada standard yang berlaku)

– Menjelaskan metode / cara pelaksanaan konstruksi.

– Menjelaskan struktur organisasi serta tugas dan tanggungjawabnya. – Menjelaskan kualifikasi personel kontraktor yang akan dimobilisasi.

(31)

4 - 7 – Menjelaskan rencana mobilisasi personel.

– Menjelaskan bagian pekerjaan yang akan di-sub-kontrakkan serta calon sub kontraktornya.

– Menjelaskan rencana penggunaan peralatan, termasuk : o Jumlah dan jenis peralatan

o Rencana kedatangan peralatan

– Menjelaskan rencana kerja berdasarkan S–Curve.

e.

Peran Konsultan

– Mencatat seluruh kesepakatan dalam Pre Construction Meeting dan dituangkan dalam Berita Acara tersendiri sebagai dokumen proyek. – Mempersiapkan formulir-formulir isian antara lain :

o Laporan Harian (Daily Progress Report) o Laporan Mingguan (Weekly Progress Report) o Laporan Bulanan (Monthly Progress Report) o Laporan Eksekutif (Executive Summary Report) o Survai Lapangan Untuk Kajian Desain.

o Perhitungan Volume/ Back Up Data serta berita acara bulanan o Kendali Mutu (Quality Control)

o Permintaan Kontraktor untuk :

▪ Memulai pekerjaan

▪ Test material

▪ Penerimaan pekerjaan

– Menjelaskan struktur organisasi konsultan dan tugas masing-masing personel konsultan

– Menjelaskan personel konsultan yang sudah dimobilisasi dan rencana personel lainnya yang akan dimobilisasi.

– Menjelaskan rencana kerja Kajian Desain :

▪ Waktu yang diperlukan untuk survai lapangan.

▪ Personel yang dilibatkan di dalam survai lapangan.

▪ Kelengkapan yang diperlukan untuk survai lapangan.

▪ Ruang lingkup pekerjaan yang akan disurvai.

▪ Alternatif penanganan dari hasil survai lapangan.

▪ Rencana dan gambar kerja yang harus dibuat.

– Menegaskan pengambilan lokasi foto dokumentasi : dimana, kapan, berapa kali yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.

(32)

4 - 8

4.1.1.3 Rencana Pelaksanaan proyek

Pada tahap persiapan pelaksanaan proyek maka harus disiapkan sarana dan prasarana yang meliputi pembuatan dokumen rencana pelaksanaan proyek dan pekerjaan fisik yang mendukung dimulainya pelaksanaan proyek menjadi lebih lancar demi tercapainya pengendalian biaya, mutu dan waktu sesuai dengan target

Rencana pelaksanaan proyek menjadi sangat penting dan menjadi standar untuk tercapainya kesuksesan pelaksanaan dilapangan.

Rencana pelaksanaan proyek terdiri dari : 1. Organisasi proyek dan job description

2. Jadwal pelaksanaan proyek dan jadwal pengadaan sumber daya 3. Rencana Mutu Proyek (RMK)

4. Metode pelaksanaan (Construction Method) 5. Survey lapangan

6. Mobilisasi

7. Rencana anggaran pelaksanaan dan cash flow 8. Rencana K3 proyek

9. Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL dan RPL)

A. Organisasi Proyek dan Job descripsion

Pertimbangan dalam memilih bentuk organisasi proyek

Tipe atau bentuk organisasi proyek dari kontraktor sebagai pelaksana proyek sangat bervariasi adapun alasan dan pertimbangan adalah:

1. Besarnya nilai proyek

2. Tingkat teknologi dan kompleksitas proyek 3. Luas area dan jangkauan proyek

4. Macam dan jenis pekerjaan proyek

5. Besar dan banyaknya ragam sumber daya yang harus dikelola untuk kepentingan proyek.

Project organization chart atau bagan organisasi proyek adalah bagan koordinasi yang menunjukkan hubungan, fungsi dan peran masing-masing anggota dari struktur organisasi proyek tersebut. Untuk menegaskan dan memberikan tanggung jawab yang jelas, manajer proyek harus membuat atau memberikan uraian tugas (job description) kepada masing-masing stafnya.

(33)

4 - 9

Organisasi proyek adalah struktur organisasi ’ formal’ untuk memudahkan dan memberikan kejelasan komunikasi internal proyek kepada yang berkepentingan langsung. hal ini disesuaikan dengan tingkat jabatan dan keperluannya, selain itu juga untuk kepentingan komunikasi/hubungan kerja dengan kerja dengan pemilik proyek dan konsultan. Adapun contoh dari tipikal organisasi poyek adalah sebagai berikut:

(34)

4 - 10

(35)

4 - 11

B. Jadwal Pelaksanaan proyek dan jadwal pengadaan sumber daya

Jadwal pelaksanaan dimaksudkan sebagai dasar bagi Pemilik Proyek (dalam hal proyek dibiayai dengan dana APBN, APBD I, APBD II termasuk dana Pinjaman Luar Negeri, maka yang dimaksud dengan Pemilik Proyek adalah Pemerintah Pusat atau Pemerintah Propinsi atau Pemerintah Kabupaten, diwakili oleh Pinbagpro, Pinpro atau Para Pejabat terkait di atasnya), kontraktor dan konsultan untuk :

✓ Memantau kemajuan pekerjaan kontraktor di lapangan

✓ Menjadi rujukan bagi pembayaran eskalasi / de-eskalasi harga

✓ Mendukung pengalokasian anggaran biaya

✓ Mempertimbangkan permintaan tambahan biaya sebagai akibat dari perubahan pekerjaan

✓ Mendukung permintaan perpanjangan waktu pelaksanaan konstruksi

Dalam garis besar jadwal pelaksanaan d

ipersiapkan oleh kontraktor sebagai bagian dari pengajuan penawaran pada waktu pelelangan dengan mempertimbangkan 3 aspek yaitu aspek perencanaan, aspek analisa dan aspek pemilihan jenis / cara penjadwalan.

Aspek perencanaan menyangkut penentuan dari : – APA yang harus dikerjakan ?

– KAPAN harus dikerjakan ?

– BAGAIMANA cara mengerjakannya ? – SIAPA yang harus mengerjakan ?

– BERAPA biaya yang harus dikeluarkan ?

Semua pertanyaan di atas dianalisis, hasil analisis terhadap “APA” akan menunjukkan bahwa proyek terdiri dari sejumlah kegiatan yang berurutan yang mudah dikenali sebagai sejumlah item pekerjaan, yang mengandung kesulitan dan risiko dalam menyelesaikannya. Kemudian terhadap pertanyaan “KAPAN”, setiap item pekerjaan harus ditentukan posisinya sebagai bagian dari jadual yang telah ditentukan untuk penyelesaian proyek. “BAGAIMANA” dan “SIAPA” perlu ditentukan dengan cara perencanaan pemanfaatan tenaga kerja, peralatan dan bahan secara optimal. Dari sini baru dapat diperhitungkan “BERAPA” biaya yang harus dikeluarkan.

(36)

4 - 12

Untuk dapat menyiapkan construction schedule, maka ditinjau dari aspek perencanaan perlu dilakukan penyiapan tatacara kerja yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut :

– Melakukan penelaahan awal dokumen kontrak

– Melakukan penelitian lapangan secara rinci untuk menguji lokasi,sumber daya yang tersedia dan menentukan tingkat kesulitan yang terkait pada pekerjaan yang akan dilaksanakan

– Melakukan pengkajian Daftar Kuantitas secara rinci – Melakukan pengkajian Gambar Rencana secara rinci – Menguji Spesifikasi

– Menguji Syarat-syarat Kontrak

– Menganalisa pekerjaan yang diperlukan untuk setiap kegiatan – Menentukan urutan pekerjaan

– Menentukan biaya proyek

Langkah-langkah di atas kemudian ditindaklanjuti dengan membuat analisa terhadap hal-hal berikut :

– Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap kegiatan – Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh kegiatan – Urutan setiap kegiatan

– Metoda kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap kegiatan – Sumber daya yang diperlukan

– Resiko yang terkait

– Biaya sebenarnya untuk menyelesaikan setiap kegiatan – Nilai pekerjaan yang diselesaikan.

Setelah menyelesaikan analisa di atas, kontraktor perlu membuat beberapa jadual dasar sebagai jadual perencanaan kerja, yang nantinya di dalam pelaksanaan konstruksi biasanya memerlukan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi lapangan :

– Jadwal kegiatan, yang menentukan secara jelas kerangka waktu untuk setiap jenis pekerjaan.

– Jadwal Sumber Daya, yang menentukan secara jelas rencana ketersediaan tenaga kerja, peralatan dan bahan.

– Jadwal kemajuan keuangan – Kurva S, yang menentukan secara jelas rencana kemajuan pekerjaan dan keuangan proyek.

(37)

4 - 13 – Jadwal cash flow keuangan, yang menentukan keadaan pemasukan dan

pengeluaran uang.

Ada beberapa jenis jadual yang dapat dipergunakan, tergantung kepada kebutuhan proyek antara lain sebagai berikut :

– Metoda Lintasan Kritis (Critical Path Method)

– Diagram Balok – dasar dan terkait (Bar Charts – basic and linked)

– Jadwal Kemajuan Keuangan – Kurva S (Financial Progress Schedule – S Curve)

– Jadwal pengadaan sumber daya (termasuk jenis bar check) a). Metode Lintasan Kritis

Metode lintasan kritis adalah suatu jenis jadual atau network planning yang dapat digunakan untuk menyajikan construction schedule dalam urutan-urutan kegiatan maupun ketergantungan satu kegiatan dengan kegiatan lain, yang dilengkapi dengan rencana “durasi” kapan suatu kegiatan paling awal dapat dikerjakan dan kapan waktu paling akhir dari kegiatan tersebut harus dikerjakan, agar seluruh kegiatan yang merupakan komponen dari suatu pekerjaan dapat dikendalikan dari awal sampai akhir.

Di dalam network planning yang merupakan jaringan lintasan kegiatan yang saling tergantung satu sama lain tersebut bisa terdapat satu atau lebih lintasan kritis yang menggambarkan bahwa kegiatan pada lintasan kritis tersebut harus diawali dan diakhiri tepat waktu, sebab apabila meleset pelaksanaannya akan menunda penyelesaian proyek.

Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang penggunaan Metode lintasan kritis (Critical Path Method) untuk keperluan menyiapkan suatu Network Planning :

(38)

4 - 14

A (14) = Kegiatan dengan kode A memerlukan durasi 14 hari untuk menyelesaikannya

= Kegiatan (Event)

NE = No. Kegiatan (No. of Event) EET = Waktu pelaksanaan paling cepat

(Earliest Event Time)

LET = Waktu pelaksanaan paling lambat (Latest Event Time)

Kegiatan yang penyelesainnya memerlukan waktu (duration) tertentu Kegiatan di lintasan kritis (critical path)

Kegiatan semu, dummy, bukan kegiatan tapi dianggap sbg kegiatan yang tidak membutuhkan waktu

Gambar 4.2 Contoh Network Planning

Contoh sederhana Network Planning di atas menggambarkan ada 6 kegiatan yaitu kegiatan A, B, C, D, E, dan F dengan durasi masing-masing kegiatan serta saling ketergantungannya sebagai tersebut dalam tabel di bawah. Dalam tabel di bawah juga digambarkan perhitungan untuk menentukan lintasan kritis, yang di dalam Network Planning digambarkan sebagai kegiatan yang menghubungkan antar event yang mempunyai EET = LET, yaitu kegiatan B, E dan F. 0 1 0 15 3 15 50 5 50 33 4 33 14 2 17

B(15)

A(14)

D(16)

E(18)

F(17)

C(0)

S

TART

F

INISH EET LET LET

NE

(39)

4 - 15

Tabel 4.1 Contoh perhitungan untuk menetapkan lintasan kritis

Dari lintasan kritis B, E, dan F di atas dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut :

– Waktu yang disediakan untuk menyelesaikan kegiatan-kegiatan di lintasan kritis tidak boleh dilampaui sebab apabila dilampaui akan mengakibatkan tertundanya penyelesian pekerjaan.

– Pengendalian secara ketat harus dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan di lintasan kritis agar penyelesaian pekerjaan tidak tertunda.

– Sementara kelonggaran waktu yang terdapat pada kegiatan lain (dalam kasus di atas adalah kegiatan A dan D) dapat dipertimbangkan untuk dimanfaatkan (tenaga, peralatan, bahan, dan barangkali juga biaya) bagi percepatan penyelesaian kegiatan B, E, dan F.

b). Diagram balok – dasar dan terkait

Diagram balok merupakan diagram yang paling sederhana, menggambarkan hubungan antara kegiatan dengan waktu. Ada 2 tipe yang dikenal yaitu diagram balok (basic chart) dan diagram terkait (linked chart). Basic chart menggambarkan diagram balok untuk masing-masing kegiatan yang berdiri sendiri, sedangkan linked chart menggambarkan diagram balok untuk masing-masing kegiatan yang dimulainya tergantung pada selesainya kegiatan lain. Jadi pada link chart secara sederhana dinampakkan adanya ketergantungan suatu kegiatan dengan kegiatan lain meskipun tidak sejelas Critical Path Method. Jika hanya mengandalkan diagram balok, kita tidak akan pernah

Data Perhitungan Untuk Menetapkan Lintasan Kritis Kegiatan Event EET + Durasi pada Event No.

Kegiatan Durasi Yang No. Terendah Tertinggi EET LET (Hari) Mendahului (Hari) (Hari) (Hari) (Hari)

1 - - 0 0 A 14 Tidak ada - - - -B 15 Tidak ada - - - -2 0+14=14 0+14=14 14 33-16=17 C 0 A - - - -D 16 A - - - -3 0+15=15 0+15=15 15 33-18=15 E 18 B dan C - - - -4 14+16=30 15+18=33 33 50-17=33 F 17 D dan E - - - -Selesai 5 30+17=47 33+17=50 50 50

(40)

4 - 16

mengetahui kegiatan atau sub kegiatan mana yang posisinya berada pada lintasan kritis, yang mengharuskan kita untuk memberikan prioritas utama dalam ketepatan waktu pelaksanaannya karena keterlambatan pelaksanaan akan menunda penyelesaian proyek.

Pada halaman selanjutnya digambarkan contoh diagram balok dari proyek SDA, hanya diambil resumenya saja, tidak dirinci dalam sub-sub kegiatan yang menggambarkan jenis-jenis kegiatan yang ada di dalam items pekerjaan.

c). Jadwal Progres Keuangan dengan S-Curve

Jadwal progres keuangan dengan S-Curve merupakan suatu jadwal pelaksanaan bulanan yang menggambarkan rencana dan realisasi pelaksanaan pekerjaan bulanan kumulatif dinyatakan dalam % terhadap total biaya proyek, selama periode pelaksanaan yaitu sejak diterbitkannya SPMK sampai dengan penyerahan I proyek. Kurva S ini merupakan alat pengendali baik bagi kontraktor, konsultan pengawas maupun pemilik pekerjaan (Pinbagpro, Pinpro atau para atasan Pinpro terkait). Oleh karena kurva S itu menyangkut informasi pekerjaan yang berkaitan dengan pembayaran prestasi pekerjaan maka di dalam kurva S tercatat :

♦ Jenis pekerjaan,

♦ Penjelasan jenis pekerjaan,

♦ Bagian yang berisi sejumlah dari jenis pekerjaan, ♦ Kuantitas masing-masing jenis pekerjaan,

♦ Harga satuan masing-masing jenis pekerjaan, ♦ Total harga dari masing-masing jenis pekerjaan,

♦ Rincian kebutuhan biaya bulanan masing-masing jenis pekerjaan dinyatakan dalam prosen terhadap total biaya konstruksi

Dari total % rencana pelaksanaan pekerjaan setiap bulan, dapat dihitung jumlah % kumulatif rencana pelaksanaan pekerjaan tiap bulan mulai dari SPMK s/d penyerahan I proyek. Kurva yang menghubungkan % kumulatif rencana pelaksanaan pekerjaan tiap bulan inilah yang disebut Kurva S karena pada umumnya untuk suatu rencana pelaksanaan yang normatif, kurva tersebut biasanya berbentuk huruf S. Dengan cara yang sama, sesuai dengan

(41)

4 - 17

realisasi pelaksanaan di lapangan dibuat kurva yang menghubungkan realisasi bulanan di maksud sebagai alat pengendali.

d). Jadwal pengadaan Sumber daya

Jadwal pengadaan sumber daya dibuat untuk menunjang pelaksanaan proyek terdiri dari :

1. Jadwal kebutuhan sumber daya manusia Jadwal tersebut berisi antara lain

▪ Rincian item pekerjaan secara detail

▪ Rencana waktu pelaksanaan pekerjaan

▪ Rincian waktu pelaksanaan pekerjaan

▪ Rincian jumlah pekerja (mandor dan tenaga trampil) untuk melaksanakan suatu item pekerjaan pada waktu tertentu dengan kualifikasi pekerjaan tersebut

2. Jadwal kebutuhan bahan

▪ Riincian item pekerjaan secara detail

▪ Rincian waktu pelaksanaan pekerjaan

▪ Rincian volume bahan untuk melaksanakan item pekerjaan tersebut pada waktu tertentu dengan kualifikasinya

3. Jadwal kebutuhan peralatan Jadwal tersebut berisi antara lain

▪ Rincian item pekerjaan secara detail

▪ Rincian waktu pelaksanaan pekerjaan

▪ Rincian jumlah peralatan beserta tipe dan kapasitasnya untuk melaksanakan item pekerjaan tersebut pada waktu tertentu

C. Rencana mutu proyek

Penerapan sisitem jaminan mutu(Quality assurance) bidang sumber daya air adalah untuk menyakinkan bahwa apa yang dikerjakan baik berupa pembangunan prasarana dan sarana dasar bidang pengairan maupun pelayanan jasa penyediaan air bagi masyarakat benar telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dan di sepakati.

Tujuan penerapan sistem jaminan mutu adalah mengupayakan peningkatan mutu pekejaan pembangunan bidang SDA dapat terpenuhi kebutuhan sesuai dengan

(42)

4 - 18

yang diisyaratkan dan dijanjikan. Sistem manajemen mutu mewajibkan manajemen untuk menetapkan standar dan prosedur operasional yang diberlakukan diseluruh perusahaan untuk dipergunakan dan diikuti serta didokumentasikan. Salah satu dokumen mutu yang terpenting untuk dibuat pada rencana pelaksanaan proyek adalah Rencana Mutu (Quality plan) Dokumen Rencana Mutu berisi strategi perusahaan untuk mencapai mutu hasil kerja sesuai persyaratan dalam spesifikasi teknis dan menyajikan gambaran ringkas yang informatif mengenai pelaksanaan pekerjaan

Rencana Mutu Proyek (RMK) merupakan salah satu alat kontrol dalam melakukan pengendalian pelaksanaan proyek

▪ Daftar isi Rencana Mutu Kontrak tersebut meliputi antara lain : a. Struktur organisasi

b. Uraian tugas jabatan c. Informasi pemilik proyek d. Lingkup pekerjaan

e. Ringkasan spesifikasi teknis atau kerangka acuan f. Daftar gambar teknik atau dokumen pendukung g. Daftar alat kerja

h. Jadwal pelaksanaan pekerjaan i. Bagan alir pelaksanaan pekerjaan j. Daftar SP,SD, dan TK

k. Kriteria penerimaan dan rencana inspeksi dan tes l. Jadwal inspeksi dan tes

m. Daftar simak

▪ Bahan baku untuk pembuatan atau penyusunan rencana mutu pekerjaan masing-masing adalah sebagai berikut rencana mutu pekerjaan konstruksi

a. Spesifikasi teknik tiap-tiap pekerjaan b. Gambar teknik tiap-tiap pekerjaan c. Jadwal pelaksanaan pekerjaan

d. Daftar peralatan yang digunakan dan yang dipasang e. Standar prosedur, standar produk, dan instruksi kerja f. Organisasi pelaksanaan pekerjaan

(43)

4 - 19

D. Metode pelaksanaan pekerjaan

Metode pelaksanaan atau yang biasa disebut ’CM’ (construction method) merupakan urutan pelaksanaan pekerjaan yang logis dan teknik sehubungan dengan tersedianya sumber daya yang dibutuhkan dalam kondisi medan kerja, guna mmperoleh cara pelaksanaan yang efektif dan efisien.

Metode pelaksanaan pekerjaan tersebut, sebenarnya telah dibuat oleh kontraktor yang bersangkutan pada waktu membuat ataupun mengajukan penawaran pekerjaan. Dengan demikian ’CM’ tersebut telah teruji saat melakukan klarifikasi atas dokumen tendernya terutama construction methodnya, namun demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa pada waktu menjelang pelaksanaan atau pada waktu pelaksanaan pekerjaan, CM perlu atau harus dirubah.

Metode pelaksanaan yang ditampilkan dan diterapkan merupakan cerminan dari profesionalitas dari tim pelaksana proyek, yaitu manajer proyek dan perusahaan yang bersangkutan. Karena itu dalampenilaian untuk menentukan pemenang tender, penyajian metode pelaksanaan mempunyai bobot penilaian yang tinggi. Yang diperhatikan bukan rendahnya nilai penawaran harga, meskipun kita akui bahwa rendahnya nilai penawaran merupakan jalan untuk memperoleh peluang ditunjuk menjadi pemenang tender/ pelelangan.

Dokumen metode pelaksanaan pekerjaan terdiri dari: 1). Rencana Proyek (Project Plan)

▪ Denah fasilitas proyek(jalan kerja, bangunan fasilitas dan lain-lain)

▪ Lokasi pekerjaan

▪ Jarak angkut

▪ Komposisi alat (singkat/ produktivitas alatnya)

▪ Kata-kata singkat (bukan kalimat panjang), dan jelas mengenai urutan pelaksanaan

2). Sket atau gambar bantu penjelasan pelaksanaan pekerjaan. 3). Uraian pelaksanaan pekerjaan.

▪ Urutan pelaksanaan seluruh pekerjaan dalam rangka penyelesaian proyek (urutan secara global)

▪ Urutan pelaksanaan per pekerjaan atau per kelompok pekerjaan yang perlu penjelasan lebih detail. Biasanya yang ditampilkan adalah pekerjaan penting atau pekerjaan yang jarang ada, atau pekerjaan yang mempunyai

(44)

4 - 20

nilai besar, pekerjaan dominan (volume kerja besar). Pekerjaan ringan atau umum dilaksanakan biasanya cukup diberi uraian singkat mengenai cara pelaksanaannya saja tanpa perhitungan kebutuhan alat dan tanpa gambar/sket penjelasan cara pelaksanaan pekerjaan

4). Perhitungan kebutuhan peralatan konstruksi dan jadwal kebutuhan peralatan konstruksi dan jadwal kebutuhan peralatan

5). Perhitungan kebutuhan tenaga kerja dan jadwal kebutuhan tenaga kerja (tukang dan pekerja)

6). Perhitungan kebutuhan material dan jadwal kebutuhan material

7). Dokumen lainnya sebagai penjelasan dan pendukung perhitungan dan kelengkapan yang diperlukan

Metode pelaksanaan pekerjaan yang baik 1). Memenuhi syarat teknis

▪ Dokumen metode pelaksanaan pekerjaan lengkap dan jelas memenuhi informasi yang dibutuhkan

▪ Bisa dilaksanakan dan efektif

▪ Aman untuk dilaksanakan

- Terhadap bangunan yang akan dibangun

- Terhadap para pekerja yang melaksanakan pekerjaan yang bersangkutan

- Terhadap bangunan lainnya - Terhadap lingkungan sekitarnya

▪ Memenuhi standar tertentu yang ditetapkan atau disetujui tenaga teknik yang berkompeten pada proyek tersebut, misalnya memenuhi tonase tertentu, memenuhi mutu tegangan ijin tertentu dan telah memenuhi hasil testing tertentu.

2). Memenuhi syarat ekonomis

▪ Biaya murah

▪ wajar dan efisien

3). Memenuhi pertimbangan non teknis lainya

▪ Dimungkinkan untuk diterapkan pada lokasi proyek dan disetujui oleh lingkungan setempat

▪ Rekomendasi dan policy dari pemilik proyek

▪ Disetujui oleh sponsor proyek atau direksi perusahaan apabila hal itu merupakan alternatif pelaksanaan pelaksanan yang istimewa dan riskan

(45)

4 - 21

4). Merupakan alternatif terbaik dari beberapa alternatif yang telah diperhitungkan dan dipertimbangkan. Masalah metode pelaksanaan pekerjaan banyak sekali variasinya, sebab tidak ada keputusan teknis yang sama persis dari dua ahli teknik. Jadi pilihan yang terbaik yang merupakan tanggung jawab manajemen dengan tetap mempertimbangkan engineering economies.

5). Manfaat positif metode pelaksanaan

▪ Memberikan arahan dan pedoman yang jelas atas urutan dan fasilitas penyelesaian pekerjaan.

▪ Merupakan acuan/ dasar pola pelaksanaan pekerjaan dan menjadi satu kesatuan dokumen prosedur pelaksanaan di proyek.

E. Survai lapangan

Survai lapangan merupakan langkah penting pada rencana pelaksanaan proyek khususnya memperlancar pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya merupakan data untuk pengendalian biaya, mutu dan waktu langkah-langkah survai sebagai berikut

1. Sumber air kerja

▪ Disediakan atau tidak

▪ Membuat sumur

▪ Mengunakan air sungai

▪ Mengunakan PAM

▪ Jarak sumber air kerja 2. Listrik

▪ Menggunakan fasilitas PLN

▪ Mengusahakan sendiri (genset) 3. Tenaga kerja

▪ Didapat dari daerah sekitar job site

▪ Mendatangkan dari luar

▪ Akomodasi yang diperlukan

▪ Perlu ijin khusus atau tidak

▪ Perlu biaya khusus atau tidak 4. Keadaan cuaca di lapangan

▪ Terang/ kadang-kadang hujan/ hujan terus menerus

▪ Diperlukan data curah hujan dari badan Meteorologi dan Geofisika 5. Data penyelidik Tanah (sondir, boring log dsb)

(46)

4 - 22 ▪ Perlu diketahui jenis tanah yang akan digali/ yang terlibat dari luar

(batu,tanah keras, dsb)

▪ Data air tanah (elevasi dan sifat air tanah)

6. Sumber Batu (Quarry) dan Sumber Tanah (Borrow Area)

▪ Di sediakan atau mencari sendiri

▪ Jika sudah disediakan apakah sudah memenuhi persyaratan teknis (dilakukan tes)

▪ Ada berapa quarry/ borrow area

▪ Lokasi quarry (gunung, sungai/ tanah datar dll)

▪ Jarak site

▪ Jenis batuan/ pasir/ tanah timbun

▪ jalan menuju quarry/ borrow area (ada, membuat baru, perlu diperbaiki, perlu diperlebar, perlu membuat jembatan sementara, perlu memperbaiki yang sudah ada dan lain-lain)

▪ Apakah perlu ada biaya pembebasan tanah

▪ Transports material ke site (truk, dump truk, dipikul)

▪ Biaya retribusi material (royalty) per m3

▪ Bagaimana penempatan alat-alat di quarry/borrow area(bila diperlukan)

▪ Cara pengambilan material (diledakkan, memberi dari leveransir, membeli dari masyarakat setempat, mengambil dilokasi)

7. Survai harga bahan lokal:

▪ Ada/ tidak pabrik kayu balok, papan, plywood

▪ Pembayaran untuk kayu (kontan/ tidak)

▪ Harga bahan/ kayu loco di pabrik/ di lokasi proyek

▪ Harga pasir, split. tanah urug dilokasi pengambilan dan sampai dengan lokasi proyek berapa

F. MOBILISASI 1. Mobilisasi

a.

Mobilisasi meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

– Mempersiapkan fasilitas lapangan/ base camp (misalnya kantor proyek, kantor konsultan, kantor kontraktor, tempat tinggal petugas proyek, bengkel, gudang dan sebagainya) sesuai dengan spesifikasi umum di dalam dokumen kontrak.

(47)

4 - 23 – Mendatangkan peralatan-peralatan berat (dan kendaraan-kendaraan

proyek) yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek

– Mendatangkan peralatan laboratorium untuk pemeriksaan mutu bahan baku, mutu bahan olahan dan mutu pekerjaan jadi.

– Mendirikan construction plant sesuai dengan kebutuhan proyek. – Mendatangkan personel-personel kontraktor dan konsultan.

b.

Jangka waktu mobilisasi ditentukan di dalam Spesifikasi Umum. Pada umumnya waktu yang disediakan untuk mobilisasi dibatasi 60 hari terhitung sejak SPMK. Dalam batasan kurun waktu yang disediakan tersebut, peralatan laboratorium biasanya harus sudah terpasang seluruhnya dalam jangka waktu 45 hari terhitung sejak SPMK.

c.

Ijin Pemasukan Alat Berat / Peralatan Laboratorium

– Kontraktor harus mengajukan Daftar Alat Berat / Peralatan Laboratorium yang akan didatangkan ke lokasi proyek untuk mendapatkan persetujuan Direksi Pekerjaan.

– Pengiriman Alat Berat/ Peralatan Laboratorium baru bisa dilakukan oleh kontraktor apabila Direksi Pekerjaan telah memberikan persetujuan atas permohonan ijin yang diajukan oleh kontraktor.

– Apabila kontraktor harus mengimpor Alat Berat/ Peralatan Laboratorium yang belum diproduksi / tidak terdapat di dalam negeri maka kontraktor harus mendapatkan rekomendasi dari Direksi Pekerjaan sebelum memprosesnya sesuai dengan prosedur dan ketentuan baku yang berlaku di dalam urusan impor.

d.

Mendatangkan alat-alat berat

Sebelum mendatangkan alat-alat berat ke lokasi pekerjaan, kontraktor harus meneliti kondisi jalan, jembatan, gorong-gorong, dermaga dan lain sebagainya yang akan dilalui oleh alat-alat berat di maksud untuk memperhitungkan mampu atau tidaknya jalan, jembatan, gorong-gorong, dermaga dan lain sebagainya tersebut dilewati oleh alat-alat berat yang akan dikirim ke proyek. Jika ternyata tidak mampu, maka kontraktor perlu melakukan perbaikan atau perkuatan konstruksi agar dapat dilewati oleh alat-alat berat (atas biaya kontraktor, harus sudah diperhitungkan oleh

Gambar

Gambar 2.1  Tipikal organisasi proyek   ....................................................................
Gambar 4.2   Contoh Network Planning
Tabel 4.1   Contoh perhitungan untuk menetapkan lintasan kritis
Tabel 4.2  List aktivitas tahap  operasional pelaksanaan proyek  No  Berhubungan Eksternal  Owner/
+7

Referensi

Dokumen terkait

Skala Likert Menghasilkan Jenis Data Dalam Skala Ordinal Skala Guttman Salah Satu Tipe Kuesioner Tertutup Yang Paling Sederhana Apabila Hanya Membutuhkan Dua. Skripsi Bab

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi guru bimbingan dan konseling untuk meningkatkan pemahaman bahaya bullying pada siswa melalui layanan

1. Paling sedikit 40% dari keseluruhan saham yang disetor dicatat untuk diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia 2. Jumlah pemegang saham dengan kepemilikan saham <5% paling

Ada kalanya seseorang mengalami gangguan tidur yang merupakan salah satu keluhan yang sering terjadi selama kehamilan, keluhan tersebut disebabkan oleh berbagai

Sebagaimana yang diterangkan oleh Seddighi (2010), di dalam model SIR untuk penyebaran penyakit HIV penularan terjadi didalam suatu populasi yang individunya berada pada

Pendidikan multikultural dalam sistem pendidikan khususnya di pondok pesantren API ASRI Tegalrejo Magelang bukan hanyasekedarkebutuhan santri/ linkungan masyarakat,

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi sebagai pertimbangan dalam evaluasi tingkat pengungkapan laporan keuangan yang dilaporkan apakah telah sesuai dengan