commit to user SKRIPSI
KEGIATAN KOMUNIKASI DAN PARTISIPASI DONOR
DARAH SUKARELA
(Studi Korelasi Hubungan Antara Aktivitas Mahasiswa Dalam Mengikuti Kegiatan Komunikasi Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI
Cabang Kota Surakarta Dengan Partisipasi Mahasiswa FISIP UNS Sebagai Pendonor Darah Sukarela)
Oleh:
Latief Bugi Windarto D1208585
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat guna mencapai gelar sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET
commit to user PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi,
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Hari :
Tanggal :
Pembimbing I Pembimbing II
Dra. Christina Tri H, M.Si Mahfud Ansori, S.Sos
commit to user PENGESAHAN
Telah diuji dan disahkan oleh Panitia Ujian Skripsi
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Hari :
Tanggal :
Panitia Penguji :
1. Ketua : Drs. Hamid Arifin, M.Si. (……….) NIP. 19600517 198803 1 002
2. Sekretaris : Diah Kusumawati, S.Sos, M.Si. (……….)
NIP. 19760101 200812 2 002
3. Penguji I : Dra. Christina Tri H, M.Si (……….)
NIP. 19620117 198601 2 001
4. Penguji II : Mahfud Ansori, S.Sos (……….)
NIP. 19790908 200312 1 001
Mengetahui,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas MaretSurakarta
Dekan
Drs. H. Supriyadi SN., SU NIP.19530128 198103 1 001
commit to user
Jangan takut untuk gagal, jika kau belum mencobanya
commit to user
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
Ibu & Bapak tercinta
Dek Sekar,
Keluarga, Teman & Sahabat
commit to user
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yanhg telah memberikan segala
rahmat, kekuatan serta kesabaran bagi penulis sehingga akhirnya dapat
menyelesaikan skripsi ini.
Penyusunan skripsi ini dengan mengambil judul “Kegiatan Komunikasi
Dan Peningkatan Jumlah Pendonor Darah Sukarela (Studi Korelasi Hubungan
Antara Aktivitas Mahasiswa Dalam Mengikuti Kegiatan Komunikasi Pencari
Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta Dengan
Partisipasi Mahasiswa FISIP UNS Sebagai Pendonor Darah Sukarela)”,
merupakan wujud dari ketertarikan penulis jumlah pendonor darah sukarela yang
meningkat tiap tahunnya.
Skripsi ini meneliti tentang hubungan antara Aktivitas Mahasiswa Dalam
Mengikuti Kegiatan Komunikasi Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela
(P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta Dengan Partisipasi Mahasiswa FISIP UNS
Dalam Donor Darah.
Dengan segala keterbatasan, akhirnya penelitian ini telah terselesaikan.
Untuk itu perkenankanlah penulis menghaturkan terima kasih kepada :
1. Dra. Christina Tri H, M.Si, selaku Pembimbing Skripsi yang telah
memberikan waktu, bimbingan, pengarahan, serta masukan yang sangat
membantu dan bermanfaat bagi penulis.
2. Mahfud Ansori, So.Sos, selaku Pembimbing II Skripsi yang telah
memberikan waktu, bimbingan, pengarahan, serta masukan yang sangat
commit to user
3. Ayah dan Ibu yang selalu mendukung dan mendoakan saya dalam
menyelesaikan penelitian ini.
4. Teman-teman Komunikasi Swadana Transfer 2008 yang selalu memberi
semangat pada saya dalam menyelesaikan penelitian ini.
5. Berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi
ini.
Akhirnya penulis menyadari, penelitian ini masih jauh dari sempurna,
karena itu penulis menerima masukan berupa kritik dan saran. Semoga penelitian
ini bermanfaat.
Surakarta,
Penulis
DAFTAR ISI
Judul ... i
commit to user
Pengesahan ... iii
Motto ... iv
Persembahan ... v
Kata Pengantar ... vi
Daftar Isi ………. ... viii
Daftar Tabel ... xi
Daftar Grafik ... xiii
Daftar Bagan……….. ... xiv
Daftar Lampiran………... ... .. xv
Abstrak ... xvi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat……… 8
E. Kerangka Teori dan Kerangka Pemikiran ... 9
F. Hipotesis ... 42
G. Definisi Konseptual dan Operasional ... 43
a. Definisi Konseptual ... 43
b. Definisi Operasional ... 45
H. Metode Penelitian ... 47
commit to user
Metode Penelitian ... 47
Lokasi Penelitian... 48
Populasi dan Sampel ... 48
Teknik Pengumpulan Data... 51
Teknik Pengolahan data ... 52
4. Unsur Pelaksana Akadenik……… 59
5. Unsur Lain (Penunjang)………. .... 62
3. Sturktur Organisasi……… 73
4. Kegiatan PMI……… . 75
5. Pengelolaan Keuangan PMI Solo………. ... 78
6. Administrasi Keuangan………... 78
7. Hubungan Masyarakat…. ... 79
BAB III PENYAJIAN DATA A. Data Responden ... 80
B. Variabel Independen : Aktivitas Mahasiswa dalam mengikuti
commit to user
Surakarta serta pemahaman donor darah melalui presentasi
dan brosur ... 84
C. Variabel Kontrol : Interaksi Sosial ... 91
D. VAriabel Dependen : Partisipasi Mahasiswa FISIP UNS
Dalam Donor Darah…… ... 93
BAB IV ANALISIS DATA
A. Uji Validitas Dan Reliabilitas ... 96
B. Pengujian Hipotesis ... 101
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 104
B. Saran ... 104
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel I.1 Piramida Komunikasi ……….………...16
commit to user
Tabel I.3 Data Registrasi Jumlah Mahasiswa FISIP UNS Yang Masih Aktif Tahun 2009………... ... 48
Tabel II.1 Standar Nilai Skala 5……….……69
Tabel III.1 Apakah Responden Tahu Tentang Donor Darah?...……..81
Tabel III.2 Apakah Responden Tahu Adanya Sosialisasi Di Kampus?..………...82
Tabel III.3 Apakah Responden Pernah Mengikuti Sosialisasi?...……….83
Tabel III.4 Tingkat Keaktifan Responden Dalam Mengikuti kegiatan komunikasi
Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Cabang Kota
Surakarta yaitu sosialisasi donor
darah………...………..………….85
Tabel III.5 Frekuensi dalam mengikuti kegiatan komunikasi Pencari Pelestari
Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta yaitu
sosialisasi donor
darah………..86
Tabel III.6 Intensitas Mengikuti kegiatan komunikasi Pencari Pelestari Donor
Darah Sukarela (P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta yaitu sosialisasi
donor darah
………..……….87
Tabel III.7 Tingkat Konsentrasi Responden Dalam Mengikuti kegiatan
komunikasi Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI
Cabang Kota Surakarta yaitu sosialisasi donor
darah………...…...88
Tabel III.8 Tingkat Pengaruh Penjelasan Fasilitator Dalam Kegiatan Komunikasi
Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Cabang Kota
Surakarta Yaitu Sosialisasi Donor
Darah……….89
Tabel III.9 Total Nilai Variabel Aktivitas mahasiswa dalam mengikuti Kegiatan
commit to user
Cabang Kota Surakarta Yaitu Sosialisasi Donor Darah
…..……….90
Tabel III.10 Tingkat Pemahaman Responden Akan Materi Sosialisasi Donor
Darah………..………...91
Tabel III.11 Total Nilai Variabel Pemahaman Materi Sosialisasi Donor
Darah……….………92
Tabel III.12 Tingkat Keseringan Responden Dalam Mengikuti Donor Darah…..93 Tabel III.13 Total Nilai Variabel Partisipasi Mahasiswa FISIP UNS Dalam Donor
Darah ……….………...95
Tabel IV.1 Hasil Uji Validitas Item-item Aktivitas Mahasiswa dalam Mengikuti Kegiatan Komunikasi Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela
(P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta ……….97
Tabel IV.2 Hasil Uji Validitas Item-item Pemahaman Materi Sosialisasi Donor Darah ………...98
Tabel IV.3 Hasil Uji Validitas Item-item Partisipasi Mahasiswa FISIP UNS
Sebagai Pendonor Darah Sukarela………...99
Tabel IV.4 Hasil Uji Reliabilitas………..………100
DAFTAR GRAFIK
commit to user DAFTAR BAGAN
Bagan II.1 Struktur Organisasi PMI Cabang Kota Surakarta………73
Bagan II.2 Struktru Organisasi Unit Transfusi Darah………74
commit to user DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Permohonan Ijin Penelitian
commit to user
Lampiran 3. Tabel Tabulasi Data
Lampiran 4. Hasil Perhitungan Uji Validitas Dan Realibilitas
Lampiran 6. Surat Telah Melakukan Penelitian
ABSTRACT
commit to user
(P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta Dengan Partisipasi Mahasiswa FISIP UNS Sebagai Pendonor Darah)
Indonesian Red Cross in its vision set for widely known as kepalangmerahan organizations in providing services to the needy in an effective and timely manner with the spirit of impartiality and independence, hence the need for blood donors to public dissemination, to introduce and popularize the habit again of blood donors.To fulfill the vision and mission of the PMI as the only organization in charge of the field of blood donation, it is necessary to holding a blood donor communication activities. In case this is the socialization of blood donors who made PMI Branch of Surakarta.
Based on that idea the researchers wanted to see if there is a relationship between the activity of students in participating in communication activities Seeker Conservation Voluntary Blood Donors (P2D2S) Red Cross Surakarta Branch with the participation of students of Faculty of Social UNS as voluntary blood donors.
This research included in explanatory research and the method used is survey method. As a means of data collection used questionnaires. The population in this study are students FISIP UNS numbering 96 respondents Data were analyzed by using Pearson's product moment formula. By using this partial formula to determine whether there is relationship between the independent variables with the dependent variable through an intermediary variable.
commit to user
Latief Bugi Windarto, D1208585, Kegiatan Komunikasi Dan Partisipasi Donor Darah Sukarela (Studi Korelasi Antara Aktivitas Mahasiswa Dalam Mengikuti Kegiatan Komunikasi Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta Dengan Partisipasi Mahasiswa FISIP UNS Sebagai Pendonor Darah)
Palang Merah Indonesia dalam visinya menetapkan agar dikenal secara luas sebagai organisasi kepalangmerahan dalam memberikan pelayanan kepada yang membutuhkan secara efektif dan tepat waktu dengan semangat kenetralan dan kemandirian, maka diperlukannya sosialisasi donor darah kepada khalayak, guna memperkenalkan dan memasyarakatkan lagi kebiasaan donor darah. Untuk memenuhi visi dan misi PMI sebagai satu-satunya organisasi yang bertugas dibidang donor darah, maka perlu diadakannya sebuah kegiatan komunikasi donor darah. Dalam hal ini adalah sosialisasi tentang donor darah yang dilakukan PMI Cabang Kota Surakarta.
Berdasarkan pemikiran tersebut peneliti ingin melihat apakah ada hubungan Antara Aktivitas mahasiswa dalam mengikuti kegiatan komunikasi
Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta
dengan partisipasi mahasiswa FISIP UNS sebagai pendonor darah sukarela.
Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksplanatory dan metode yang digunakan adalah metode survei. Sebagai alat pengumpulan data digunakan kuesioner.
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa FISIP UNS yang berjumlah 96 responden
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunkan rumus pearson’s
product moment. Dengan menggunakan rumus Parsial ini dapat mengetahui ada
tidaknya hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen melalui variabel perantara.
Koefisien korelasi menunjukkan kekuatan dan arah hubungan kedua variabel. Angka koefisien korelasi sebesar 0,463 menunjukkan bahwa derajat hubungan antara aktivitas mahasiswa dalam mengikuti kegiatan komunikasi
Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta
dengan partisipasi mahasiswa FISIP UNS sebagai pendonor darah sukarela termasuk sedang. Tanda korelasi yang positif menunjukkan bahwa arah hubungannya sebanding, artinya semakin tinggi aktivitas mahasiswa dalam mengikuti kegiatan komunikasi Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela
(P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta maka semakin tinggi pula partisipasi
commit to user
partisipasi akan dipengaruhi juga faktor pemahaman mahasiswa dalam materi kegiatan komunikasi Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI cabang kota Surakarta yaitu sosialisasi donor darah yang diperoleh. Dengan aktivitas yang tinggi dan pemahaman yang baik, maka partisipasi mahasiswa sebagai pendonor darah sukarela semakin besar.
commit to user PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan,
ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling
mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan
dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua
belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh
keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan
gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum,
menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut
komunikasi dengan bahasa nonverbal.
Seiring perkembangan jaman, proses komunikasi tidak hanya
melalui lisan atau gerak tubuh, melainkan menggunakan media. Adapun
media tersebut untuk memudahkan kita berkomunikasi jarak jauh dan
mampu menjangkau khalayak luas. Dalam hal ini terdapat bebagai macam
media, yaitu media cetak dan media elektronik. Sejalan dengan semakin
pesatnya pertumbuhan dan perubahan ekonomi dan kegiatan bisnis,
semakin membutuhkan strategi untuk menarik dan mempertahankan
konsumen dan pelanggan. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah
komunikasi pemasaran (marketing communication).
Bauran komunikasi pemasaran merupakan penggabungan dari lima
commit to user
publicrelations, personalselling, dan directselling. Demikian pula halnya
dengan event dan exhibition, keduanya merupakan bagian dari marketing
communication mix yang dikembangkan oleh bagian sales promotion.
Bauran pemasaran komunikasi selalu dikaitkan dengan sejumlah
penyampaian pesan tentang: barang, jasa, pelayanan, pengalaman
kegiatan, orang, tempat, kepemilikan, organisasi, informasi, dan gagasan.
Luas cakupan kegiatan pemasaran ini tidak terlepas dari peran komunikasi.
Pengaruh media dalam proses komunikasi sangat besar dalam
kegiatan komunikasi PMI Cabang Kota Surakarta. Hal ini disebabkan
karena media mampu menjangkau khalayak luas. Media merupakan alat
untuk menyampaikan pesan dari komunikator ke komunikan. Media
adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk
mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai
masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini
sering disingkat menjadi media. Masyarakat dengan tingkat ekonomi
rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa
yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi
karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi
lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa,
termasuk bertanya langsung pada sumber atau ahli dibandingkan
mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu.
Dalam hal ini PMI Cabang Kota Surakarta dalam sosialisasi donor
commit to user
kepada khalayak guna meningkatkan pemahaman kepada masyarakat akan
donor darah serta supaya masyarakat mau berpartisipasi untuk donor darah
secara sukarela. Salah satu media yang digunakan dalam sosialisasi
kegiatan tersebut adalah media cetak. Media cetak adalah media statis dan
mengutamakan pesan-pesan visual yang dihasilkan dari proses percetakan;
bahan baku dasarnya maupun sarana penyampaian pesannya
menggunakan kertas. Media cetak adalah suatu dokumen atas segala hal
tentang rekaman peristiwa yang diubah dalam kata-kata, gambar foto dan
sebagainya, contoh : surat kabar, majalah, tabloid, brosur, pamflet, poster.
(www.edwias.com)
Dalam sosialisasinya, PMI tidak semata-mata meminta masyarakat
untuk donor darah. PMI lebih mengutamakan service untuk masyarakat
dengan memberi fasilitas kepada masyarakat seperti pelayanan ambulans
gratis dalam kota, pelatihan PPGD bagi para pendonor aktif, sertifikat
untuk akreditasi sekolah-sekolah. Dengan harapan masyarakat mau
mendonorkan darahnya secara sukarela.
Donor darah adalah proses dimana penyumbang darah secara suka
rela diambil darahnya untuk disimpan di bank darah, dan sewaktu-waktu
dapat dipakai pada transfusi darah. Donor darah biasa dilakukan rutin di
pusat donor darah lokal. Dan setiap beberapa waktu, akan dilakukan acara
donor darah di tempat-tempat keramaian, misalnya di pusat berbelanja,
kantor perusahaan besar, tempat ibadah, serta sekolah dan universitas.
commit to user
menyumbang tanpa harus pergi jauh atau dengan perjanjian. Selain itu
sebuah mobil darah juga dapat digunakan untuk dijadikan tempat
menyumbang. Biasanya bank darah memiliki banyak mobil darah. Tidak
ada manfaat langsung menjadi donor darah. Namun dengan mendonorkan
darah secara rutin setiap tiga bulan sekali, maka tubuh akan terpacu untuk
memproduksi sel-sel darah baru, sedangkan fungsi sel-sel darah
merah adalah untuk oksigenisasi dan mengangkut sari-sari makanan.
Dengan demikian fungsi darah menjadi lebih baik sehingga donor menjadi
sehat. Selain itu, kesehatan pendonor akan selalu terpantau karena setiap
kali donor dilakukan pemeriksaan kesehatan sederhana dan pemeriksaan
uji saring darah terhadap infeksi yang dapat ditularkan lewat darah.
Sekantong darah yang didonorkan seringkali dapat menyelamatkan
nyawa seseorang. Darah adalah komponen tubuh yang berperan membawa
nutrisi dan oksigen ke semua organ tubuh, termasuk organ-organ vital
seperti otak, jantung, paru-paru, ginjal, dan hati. Jika darah yang beredar di
dalam tubuh sangat sedikit oleh karena berbagai hal, maka organ-organ
tersebut akan kekurangan nutrisi dan oksigen. Akibatnya, dalam waktu
singkat terjadi kerusakan jaringan dan kegagalan fungsi organ, yang
berujung pada kematian. Untuk mencegah hal itu, dibutuhkan pasokan
darah dari luar tubuh. Jika darah dalam tubuh jumlahnya sudah memadai,
maka kematian dapat dihindari.
Palang Merah Indonesia dalam visinya menetapkan agar dikenal
commit to user
pelayanan kepada yang membutuhkan secara efektif dan tepat waktu
dengan semangat kenetralan dan kemandirian, maka diperlukannya
sosialisasi donor darah kepada khalayak, guna memperkenalkan dan
memasyarakatkan lagi kebiasaan donor darah. Untuk memenuhi visi dan
misi PMI sebagai satu-satunya organisasi yang bertugas dibidang donor
darah, maka perlu diadakannya sebuah kegiatan komunikasi dalam donor
darah. PMI mensosialisasikan donor darah melalui media massa guna
meningkatkan jumlah pendonor darah sukarela. Dalam peran ini, P2D2S
PMI Cabang Kota Surakarta melakukan berbagai macam cara untuk
meningkatkan pemahaman masyarakat akan donor darah supaya
masyarakat mau berpartisipasi untuk menjadi pendonor darah sukarela
serta dapat meningkatkan jumlah pendonor darah sukarela, khususnya di
Surakarta salah satunya dengan publikasi melalui media massa dengan
harapan supaya dapat menjangkau khalayak luas dan pesan yang
disampaikan dapat diterima oleh khalayak luas. Dengan berbagai unsur
komunikasi, yaitu : pengirim pesan (komunikator), penerima pesan
(komunikan) dan pesan itu sendiri, seperti yang dilakukan PMI Cabang
Kota Surakarta dalam sosialisasi donor darah kepada khalayak. Unsur
komunikasi di sini sangat berpengaruh dalam sebuah kegiatan komunikasi
dalam suatu perusahaan. Agar komunikasi dapat berjalan dengan lancar
maka diperlukan sebuah pengertian dan pemahaman dalam menerima
commit to user Grafik : I.1
Pemasukan dan Pengeluaran Darah 5 Tahun Terakhir
Berdasarkan grafik di atas, terdapat peningkatan jumlah pengadaan
darah tiap tahun dan selalu terpenuhinya pengeluaran darah oleh PMI
Cabang Kota Surakarta dengan adanya peningkatan jumlah darah masuk.
Dengan adanya grafik di atas, peneliti ingin mengetahui apakah ada
hubungan yang signifikan antara kegiatan komunikasi PMI dengan
peningkatan jumlah pendonor darah sukarela. Akan tetapi hal lain yang
menjadi pertimbangan adalah dimana kegiatan tersebut apakah
menimbulkan pemahaman dari masyarakat akan donor darah yang
sebelumnya mendapatkan sosialisasi donor darah dari PMI. Dari
sosialisasi ini, adakah reaksi dari masyarakat untuk berpartisipasi menjadi
commit to user
Dalam hal ini, segmen dari penelitian ini adalah mahasiswa FISIP
UNS sampai dengan tahun 2009. Keputusan untuk ikut donor darah
sukarela tidak mudah bagi mahasiswa FISIP UNS. Peneliti ingin
mengetahui apakah ada hubungan antara aktivitas mahasiswa FISIP UNS
dalam mengikuti kegiatan komunikasi PMI Cabang Kota Surakarta dengan
partisipasi mahasiswa sebagai pendonor darah sukarela.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini
penulis mengambil judul Kegiatan Komunikasi Dan Partisipasi Donor
Darah Sukarela (Studi Korelasi Antara Aktivitas Mahasiswa Dalam
Mengikuti Kegiatan Komunikasi Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela
(P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta Dengan Partisipasi Mahasiswa
FISIP UNS Sebagai Pendonor Donor Darah Sukarela). Diharapkan adanya
hubungan yang signifikan antara aktivitas mahasiswa dalam mengikuti
kegiatan komunikasi Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S)
PMI Cabang Kota Surakarta dengan partisipasi mahasiswa sebagai
pendonor darah sukarela. Dalam hal ini agar terjadi peningkatan jumlah
pendonor darah sukarela.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, permasalahan yang dapat
commit to user
- Adakah hubungan yang signifikan antara aktivitas mahasiswa
dalam mengikuti kegiatan komunikasi Pencari Pelestari Donor
Darah Sukarela (P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta dengan
partisipasi mahasiswa FISIP UNS sebagai pendonor darah
sukarela?
C. Tujuan Penelitian
Berkaitan dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat signifikansi antara aktivitas
mahasiswa dalam mengikuti kegiatan komunikasi Pencari Pelestari
Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Cabang Kota Surakarta dengan
partisipasi mahasiswa FISIP UNS sebagai pendonor darah sukarela.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi masyarakat
Sebagai informasi tentang donor darah dan manfaatnya.
2. Bagi institusi Palang Merah Indonesia Cabang Kota Surakarta
Sebagai masukan dalam mempertahankan dan menambah jumlah
anggota donor sukarela dan sebagai acuan dalam mengevaluasi kegiatan
komunikasi yang telah di lakukannya.
commit to user
Penelitian ini sangat berguna untuk menambah pengalaman
membuat karya tulis dan sebagai acuan untuk penelitian lebih lanjut
serta sebagai bahan penerapan ilmu yang didapat selama kuliah.
4. Bagi Lembaga Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan untuk
penelitian berikutnya terhadap objek penelitian yang sejenis.
5. Manfaat Akademik Dari Tujuan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap studi
mengenai hubungan antara aktivitas dengan partisipasi, yakni dengan
memperhatikan teori-teori yang selama ini telah digunakan dalam
penelitian sebelumnya.
E. Kerangka Teori dan Kerangka Pemikiran
1. Kerangka Teori
a. Komunikasi
Dalam membuat sebuah penelitian, diperlukan adanya teori-teori
untuk mendukung penyelesaian masalah-masalah dari penelitian
tersebut. Teori adalah himpunan konstruk (konsep) definisi dan
proposisi yang mengemukakan pandangan sistematika tentang gejala
dengan menjabarkan relasi antara variabel untuk menjelaskan gejala
commit to user
meneliti kegiatan komunikasi PMI cabang kota Surakarta tentang
sosialisasi donor darah.
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan,
ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling
mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi
dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti
oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat
dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan
menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya
tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini
disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal. Komunikasi merupakan
proses di mana seseorang (komunikator) menyampaikan
perangsang-perangsang (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata untuk
mengubah tingkah laku orang lain) (Anwar Arifin: 2002, hal.6)
Komunikasi dalam pandangan Carl I Hovland (Onong Uchjana
Efendy: 2000, hal 10) adalah proses mengubah perilaku orang lain
(communication is the process to modify the behavior of the other
individuals). Kegiatan komunikasi tidak hanya bersifat informatif,
yakni agar orang lain mengetahui sesuatu, tetapi juga harus bersifat
persuasif dengan tujuan agar masyarakat bersedia menerima suatu
paham, keyakinan dan atau melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan.
Paradigma-paradigma di atas merupakan komponen utama
commit to user
komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok, komunikasi publik,
komunikasi organisasi, maupun komunikasi dengan menggunakan
media massa.
1. Komunikasi Interapribadi
Komunikasi Interapribadi (intrapersonal communication)
adalah komunikasi dengan diri sendiri, baik kita sendiri atau
tidak (Deddy Mulyana, 2005: hal.72). Komunikasi ini
merupakan landasan komunikasi antarpribadi dan komunikasi
dalm konteks-konteks lainnya, meskipun dalam disiplin
komunikasi tidak dibahas secara rinci dan tuntas. Dengan kata
lain, komunikasi ini inhern dalam komunikasi dua orang, tiga
orang, dan seterusnya, karena sebelum berkomunikasi dengan
orang lain kita biasanya berkomunikasi dengan diri sendiri.
Keberhasilan komunikasi kita dengan orang lain bergantung
pada keefektifan komunikasi kita dengan diri sendiri.
2. Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal Communication)
adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang
memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain
secara langsung, baik secara verbal maupun secara nonverbal.
(Deddy Mulyana, 2005: hal.73). Bentuk khusus komunikasi ini
adalah komunikasi diadik (dyadic communication) yang
commit to user
dan sebagainya. Cirri-ciri komunikasi diadik adalah
pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim dan menerima pesan
secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun
noverbal (Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, 1977: hal.8).
Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan sempurna,
komunikasi antarpribadi berperan penting hingga kapanpun,
selama manusia masih mempunyai emosi.
3. Komunikasi Kelompok
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan
bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai
tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang
mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.(Deddy
Mulyana, 2005: hal.74)
Komunikasi kelompok biasanya merujuk pada komunikasi
yang dilakukan kelompok kecil tersebut (small group
communication). Komunikasi kelompok dengan sendirinya
melibatkan juga komunikasi antarpribadi, karena itu
kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi
komunikasi kelompok. (Littlejohn, 1996: hal.19)
4. Komunikasi Publik
Komunikasi publik (public communication) adalah komunikasi
commit to user
(khalayak), yang tidak bisa dikenali satu persatu. (Dedy
Mulyana, 2005: hal.74)
Komunikasi publik biasanya berlangsung lebih formal dan
lebih sulit daripada komunikasi antarbribadi atau komunikasi
kelompok, karena komunikasi publik menuntut persiapanpesan
yang cermat, keberanian dan kemampuan menghadapi
sejumlah besar orang. Tidak seperti komunikasi antarpribadi
yang melibatkan pihak-pihak yang sama-sama aktif, satu pihak
dalam komunikasi publik cenderung pasif.
Ciri-ciri komunikasi publik adalah terjadi di tempat umum,
missal di auditorium, kelas, tempat ibadah, atau tempat lainnya
yang dihadiri oleh sejumlah besar orang. Merupakan peristiwa
sosial yang biasanya telah direncanakan alih-alih peristiwa
relative informalyang terstruktur, terdapat agenda, beberapa
orang ditunjuk untuk menjalankan fungsi-fungsi khusus.
Komunikasi publik sering bertujuan memberikan penerangan,
menghibur, memberikan penghormatan, atau membujuk.
5. Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi (organizational communication) terjadi
dalam sebuah organisasi, bersifat formal dan informal, dan
berlangsung dalam suatu jaringan yang lebih besar dari pada
komunikasi kelompok. Komunikasi formal adalah komunikasi
commit to user
komunikasi ke atas, dan komunikasi horizontal, sedangkan
komunikasi informal tidak bergantung pada struktur organisasi,
seperti komunikasi antar sejawat, juga termasuk gossip.
6. Komunikasi Media Massa
Komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi
yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar,
majalah) maupun elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh
suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan
kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat,
anonim, dan heterogen. (Deddy Mulyana, 2005: hal. 75).
Komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, dan
komunikasi organisasi berlangsung juga dalam proses untuk
mempersiapkan pesan yang disampaikan media massa ini.
Seperti yang dikatakan oleh Drs Darwanto : “dari semua
kegiatan yang dilakukan manusia, kegiatan berkomunikasi mengambil
waktu terbanyak. Jadi, tidak berlebihan jika dikatakan komunikasi
merupakan kegiatan pokok dalam kehidupan sehari-hari” (Darwanto:
2005, hal.2).
Lebih lanjut Drs. Darwanto mengatakan, komunikasi merupakan
peristiwa sosial yang terjadi ketika manusia berinteraksi dengan
manusia lainnya dan dapat terjadi dimana-mana tanpa mengenal tempat
dan waktu, atau dengan kata lain, komunikasi dapat dilaksanakan
commit to user
merupakan bagian dari kehidupan manusia sehari-hari, bahkan dapat
dikatakan komunikasi merupakan manifestasi dari kehidupan itu sendiri
(Darwanto: 2005, hal.1).
Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris Communication berasal
dari kata latin communication, dan bersumber dari kata communis yang
berarti sama. Yang dimaksud sama disini adalah sama kata.
Komunikasi akan terus berlangsung selama ada kesamaan makna akan
apa yang dipercakapkan.
Komunikasi pada dasarnya adalah proses penyampaian pesan
oleh seseorang kepada orang lain. Orang yang menyampaikan pesan
disebut komunikator dan orang yang menerima pesan disebut
komunikan. Tujuan dari komunikasi itu sendiri adalah terciptanya
pengertian yang sama antara kedua belah pihak yang melakukan
komunikasi (Onong Uchjana Effendy: 1994, hal.9).
Sedangkan dalam proses komunikasinya oleh Hovland diartikan
: “ the process by which an individual (the communicator) transmits
stimuli (usually verbal symbol) to modify the behaviour of other
individuals (communicates)” (Hovland 1953;188). Artinya, “Suatu
proses dimana seseorang menyampaikan lambang-lambang dalam
bentuk kata-kata, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku orang
commit to user
Proses komunikasi menurut Hovland diatas menunjukan bahwa
komunikasi tidak sekedar penyampaian pesan atau informasi agar orang
lain mengerti atau mendapatkan kesamaan pengertian, melainkan yang
lebih penting dari hal itu adalah orang lain diharapkan terjadi perubahan
sikap, tingkah laku dan pola pikir (Darwanto: 2005 hal.5).
Komunikasi menurut Mc. Quail mempunyai tingkatan dari yang
paling umum dilakukan hingga dari yang paling jarang dilakukan yaitu
komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi antar
kelompok, komunikasi institusi dan komunikasi massa.
Dalam piramida komunikasi, Laswell menggambarkanya
sebagai berikut : ( Denis Mc. Quail: 1996, hal.6 )
Komunikasi massa
Komunikasi Organisasi
Komunikasi antar kelompok
Komunikasi interpersonal
Komunikasi intrapersonal
Tabel. I.1
Dalam penelitian ini lebih memfokuskan pada komunikasi
commit to user
b. Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran dapat dipahami dengan menguraikan
dua unsur pokoknya, yaitu komunikasi dan pemasaran. Komunikasi
adalah proses di mana pemikiran dan pemahaman disampaikan antar
individu, atau antar organisasi dengan individu. Pemasaran adalah
sekumpulan kegiatan di mana perusahaan dan organisasi lainnya
mentransfer nilai-nilai (pertukaran) antara mereka dengan
pelanggannya. Jika digabungkan, komunikasi pemasaran
merepresentasikan gabungan semua unsur dalam bauran pemasaran
merek, yang memfasilitasi terjadinya pertukaran dengan menciptakan
suatu arti yang disebarluaskan kepada pelanggan atau kliennya.
Seiring perkembangan jaman, proses komunikasi tidak hanya
melalui lisan atau gerak tubuh, melainkan menggunakan media.
Adapun media tersebut untuk memudahkan kita berkomunikasi jarak
jauh dan mampu menjangkau khalayak luas. Dalam hal ini terdapat
bebagai macam media, yaitu media cetak dan media elektronik. Sejalan
dengan semakin pesatnya pertumbuhan dan perubahan ekonomi dan
kegiatan bisnis, semakin membutuhkan strategi untuk menarik dan
mempertahankan konsumen dan pelanggan. Salah satu pendekatan yang
digunakan adalah komunikasi pemasaran (marketing communication).
Kegiatan komunikasi pemasaran yang dipopulerkan oleh
commit to user
Communications 2008 “Marketing Communications and The
Hierarchy-of-Effect” adalah sebagai berikut :
“Marketing communications is a subfield of marketing which involve personal selling, advertising, publicity, public relations, reseller support, merchandising, product sampling, and packaging changes. These are all communication tools, and subfield is a really an attempt to bring together several diverse parts of the marketing mix under one conceptual framework based on communication research and theory”.
Bauran komunikasi pemasaran merupakan penggabungan dari
lima model komunikasi dalam pemasaran, yaitu: advertising, sales
promotion, public relations, personal selling, dan direct selling.
Demikian pula halnya dengan event dan exhibition, keduanya
merupakan bagian dari marketing communication mix yang
dikembangkan oleh bagian sales promotion. Bauran pemasaran
komunikasi selalu dikaitkan dengan sejumlah penyampaian pesan
tentang: barang, jasa, pelayanan, pengalaman kegiatan, orang, tempat,
kepemilikan, organisasi, informasi, dan gagasan. Luas cakupan kegiatan
pemasaran ini tidak terlepas dari peran komunikasi.
Rambat Lupiyoadi (2001) menjelaskan bahwa marketing mix
merupakan alat bagi pemasar yang terdiri dari berbagai elemen suatu
program pemasaran yang perlu dipertimbangkan agar implementasi
strategi pemasaran dan positioning yang ditetapkan dapat berjalan
sukses. Marketing mix pada jasa mencakup 4P, yaitu product, price,
commit to user
pemasaran, yaitu people, process, dan customer service. (Rambat
Lupiyoadi, 2001: hal 56-65)
Sebagai suatu bauran, elemen-elemen tersebut saling
mempengaruhi satu sama lain sehingga bila salah satu tidak tepat
pengorganisasiannya akan mempengaruhi strategi pemasaran secara
keseluruhan. Elemen marketing mix terdiri dari tujuh hal, yaitu:
1. Product
Elemen product meliputi penentuan produk, jasa pelayanan, dan
perilaku sosial seperti apa yang ditawarkan kepada audience.
2. Price
Elemen price merupakan cara menentukan bagaimana strategi
harga yang akan dilakukan.
3. Promotion
Elemen promotion adalah bagaimana promosi yang harus
dilakukan, meliputi beberapa cara, yaitu penentuan tujuan
komunikasi, membuat kemungkinan isi pesan, mengatasi
perhatian selektif, mengatasi distorsi persepsi, memilih media dan
mengevaluasi serta menyeleksi pesan.
4. Place
Elemen place merupaka sistem penghantaran (delivery system)
dari produk, jasa pelayanan, dan perilaku sosial akan diterapkan.
commit to user
Elemen people meliputi penentuan tipe kualitas dan kuantitas
orang yang akan terlibat dalam pemberian jasa.
6. Process
Elemen process merupakan proses di mana operasi produk, jasa
pelayanan, pan perilaku sosial akan dilakukan.
7. Customer Service
Elemen customer service merupakan tingkat servis (service level)
yang mana akan diberikan kepada konsumen.
Untuk mengembangkan komunikasi yang efektif, Kotler (1995)
merumuskan delapan langkah yang harus diperhatikan dalam promosi,
yaitu: (Philip Kotler dan Karen A Fox, 1995 hal 111)
1. Mengidentifikasi Target Audience
Dalam tahap ini berhubungan dengan segmentasi pasar yaitu
pemasar menentukan siapa target audience-nya, target audience
bisa merupakan individu, kelompok masyarakat khusus atau
umum. Bila pemasar telah melakukan segmentasi dan targeting,
maka segmen itulah yang menjadi target audience.
2. Menentukan tujuan komunikasi
Setelah mengetahui target audience dan karakteristiknya, maka
kemudian dapat menentukan tanggapan apa yang dikehendaki.
Pemasar harus menentukan tujuan komunikasinya, apakah untuk
menciptakan kesadaran, pengetahuan, kesukaan, pilihan,
commit to user
3. Merancang pesan
Setelah menetukan tujuan komunikasi, kemudian pemasara
menyusun pesan yang efektif. Idealnya suatu pesan harus mampu
memberikan perhatian (attention), menarik (interest),
membangkitkan keinginan (desire), dan menghasilkan tindakan
(action) yang kesemuanya dikenal dengan metode AIDA. Pesan
yang efektif harus dapat menyelesaikan empat masalah, yakni
masalah Bagaimana (How), Apa (What), Kapan (When), dan
Siapa (Who). Dengan kata lain, pengembangan pesan yang
disampaikan berhubungan dengan isi pesan (what to say), struktur
pesan (how to say it logically), gaya pesan (creating a strong
presence), sumber pesan (who should develop it).
4. Menyeleksi saluran komunikasi
Pemasar harus menyeleksi saluran-saluran komunikasi yang
efisien untuk membawa pesan. Saluran komunikasi bisa berupa
komunikasi personal (personal communication) maupun
komunikasi nonpersonal (non personal communication)
5. Menetapkan jumlah anggaran promosi
Menetepkan anggaran sangatlah penting, karena untuk
menentukan penggunaan media apa saja yang tergantung pada
anggaran yang tersedia. Atau pemasar berorientasi pada
pencapaian sasaran promosi yang akan dicapai, sehingga sebesar
commit to user
6. Menentukan bauran promosi
Langkah selanjutnya setelah menentukan anggaran promosi
adalah menentukan alat promosi yang akan digunakan, apakah
melalui advertising, personal selling, sales promotion, publicity
and public relation atau direct marketing.
7. Mengukur hasil-hasil promosi
Setelah melakukan promosi, pemasar harus mengukur hasil atau
dampak dari promosi pada target audience, apakah mereka
mengenal atau mengingat pesan-pesan yang diberikan. Berapa
kali melihat pesan tersebut, apa saja yang masih diingat dan
bagaimana sikap mereka terhadap produk, jasa, dan perilaku
sosial yang dipromosikan tersebut.
8. Mengelola dan mengkoordinasi proses komunikasi
Karena jangkauan komunikasi yang luas dari alat pesan dan
komunikasi yang tersedia untuk mencapai target audience, maka
alat dan pesan perlu dikoordinasikan. Karena jika tidak,
pesan-pesan itu akan menjadi lesu pada saat produk tersedia, pesan-pesan
kurang konsisten atau tidak efektif lagi. Untuk itu, pemasar
mengarah pada penerapan konsep komunikasi pemasaran yang
terkoordinasi.
Strategi komunikasi adalah kegiatan atau kampanye komunikasi
yang sifatnya informasional maupun persuasif untuk membangun
commit to user
produk maupun jasa yang terencana yang dilakukan oleh suatu
organisasi baik yang berorientasi laba maupun nirlaba, memiliki tujuan,
rencana dan berbagai alternatif berdasarkan riset dan memiliki evaluasi.
(Smith, 2005:3). Komunikasi strategis bukan hanya pada kegiatan
public relations. Komunikasi pemasaran juga merupakan perwujudan
dari konsep-konsep komunikasi (Smith, 2005: 3). Public relations dan
pemasaran atau marketing merupakan bidang yang sering kali
bertubrukan atau over lapping. Public relations merupakan fungsi
manajemen yang memusatkan perhatian pada interaksi jangka panjang
antara organisasi dengan publik-publik yang berkaitan dengan
organisasi untuk memperoleh goodwill, pengertian yang saling
menguntungkan serta dukungan (Smith, 2005: 4). Sedangkan
komunikasi pemasaran adalah fungsi dalam manajemen yang
memusatkan perhatian pada produk atau jasa untuk memenuhi
keinginan dan kebutuhan konsumen (Smith, 2005: 4). Namun,
koordinasi dari dua kegiatan tersebut dapat meningkatkan efisiensi dan
efektivitas suatu organisasi dan dikenal sebagai Integrated Marketing
Communication (IMC). Philip Kotler et.all memberikan empat tahap
proses dalam komunikasi pemasaran yakni analisas lingkungan,
identifikasi khalayak dan tujuan, pengembangan pendekatan strategis
dalam mengembangkan rencana implementasi. Sedangkan Smith
commit to user
dalam komunikasi strategis untuk public relations yakni formative
research, strategy, tactic dan evaluation research.
1. Formative Research Phase
Fase pertama dalam proses perencanaan strategis menurut Smith
adalah riset formatif atau riset stategis adalah kegiatan
pendahuluan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dan
menganalisa situasi yang dihadapi (Smith, 2005:11). Dalam fase
ini terdapat tiga tahap yakni analisis situasi, analisis organisasi
dan analisis publik. Situasi adalah satu set keadaan yang dihadapi
oleh organisasi. Situasi memiliki makna yang sama dengan
masalah. Sehingga analisis situasi adalah pernyataan tentang
peluang dan hambatan yang dihadapi oleh PMI Cabang Kota
Surakarta. Tanpa adanya pernyataan situasi yang dihadapi dengan
jelas dan dini maka efisiensi riset tidak dapat dilakukan. Definisi
situasi ini dinyatakan dalam bentuk kata benda. Sedangkan yang
termasuk dalam analisis organisasi meliputi aspek lingkungan
internal, persepsi publik dan lingkungan eksternal yang dihadapi
meliputi pesaing maupun pendukung. Sedangkan analsis publik
adalah identifikasi dan analsis publik-publik kunci dari berbagai
kelompok orang yang berinteraksi dengan organisasi.
2. Strategy Phase
Strategi merupakan jantung nya perencanaan public relations
commit to user
berkaitan. Strategi adalah keseluruhan rencana organisasi,
meliputi apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara
mencapainya. Strategi memiliki dua fokus yakni aksi yang
dilakukan organisasi dan isi pesan. Strategi memiliki tiga tahap,
yakni menetapkan tujuan dan sasaran, memformulasikan aksi dan
strategi respon, kemudian menggunakan komunikasi efektif.
Tujuan merupakan pernyataan tentang suatu isu dan gambaran
bagaimana mencapai harapan yang diinginkan. Tujuan
komunikasi dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni
reputation management goal, yang berhubungan dengan identitas
dan persepsi organisasi, relationship management goal yang
berkaitan dengan hubungan organisasi dengan para publiknya dan
task management goal yang berhubungan dengan cara melakukan
sesuatu tugas.
3. Tactis Phase
Setelah strategi di buat, kini tiba gilirannya untuk memasuki fase
ketiga yaitu taktik. Pada fase ini terdiri dari pemilihan taktik
komunikasi yang akan digunakan dan melakukan implementasi
rencana strategis yang sudah disusun. Taktik komunikasi yang
digunakan dalam perencanaan komunikasi pemasaran ini adalah
perpaduan antara kegiatan public relations dan komunikasi
pemasaran yang lazim disebut sebagai integrated communication.
commit to user
yaitu interpersonal communication, organizational media, news
media dan advertising and promotional media. Taktik
interpersonal communications yang digunakan adalah personal
involvement, berupa sosialisai donor darah melalui
instansi-instansi baik negeri maupun swasta. Special events dengan
melakukan kegiatan donor darah massal kerjasama dengan
instansi-instansi terkait. Sedangkan taktik organizational media
yang digunakan antara lain general publication, yaitu brosur,
flyer, pamflet, direct mail berupa undangan dan katalog serta
audiovisual media, melalui media digital yakni website. Taktik
News media yang digunakan yakni hanya menggunakan
koran-koran, radio dan stasiun tv yang sudah menjalin kerja sama
dengan PMI Cabang Kota Surakarta untuk memberitakan perihal
donor darah di suatu instansi. Taktik yang terakhir digunakan
berupa taktik advertising and promotional media, yaitu dengan
memasang iklan di koran, majalah, radio dan televisi tertentu
sesuai dengan target market. Namun media ini tidak banyak
digunakan (frekuensi jarang) mengingat keterbatasan dana yang
ada. Setelah taktik komunikasi sudah selesai ditentukan, maka
seluruh rencana strategis dapat diimplementasikan. Dalam hal ini
rencana dan anggaran mulai dibuat. Rencana yang dibuat
mencakup pola dan frekuensi dilakukannya taktik komunikasi
commit to user
Rencana tersebut dapat dibuat dalam bentuk gantt chart maupun
pert chart.
4. Evaluation Research Phase
Dalam perencanaan komunikasi dimulai dengan riset dan diakhiri
dengan riset pula. Riset yang dilakukan pada fase terakhir dalah
untuk mengetahui efektivitas berbagai taktik komunikasi yang
digunakan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah
ditentukan. Adapun cara yang dapat digunakan untuk
mengevaluasi efektivitas taktik dalam mencapai tujuan adalah
dengan menggunakan desain riset After-Only study. Desain
seperti ini paling umum dan mudah (sederhana) untuk mengukur
sikap. Sedangkan metodologi untuk teknik evaluasi adalah teknik
kuantitatif yakni melakukan survey. Dan teknik kualitatif yang
digunakan adalah inteview. Cara untuk mengevaluasi awareness
objectives adalah dengan menghitung isi pesan yakni berapa
orang yang terekspos oleh suatu media (jika ada media yang
meliput events yang diselenggarakan PMI Cabang Kota
Surakarta), seberapa mudah isi pesan dipahami dan berapa pesan
yang diingat. Untuk mengukur jangkauan pesan adalah dengan
mengumpulkan kliping atas publikasi media tentang Kegiatan
Donor Darah. Selain itu untuk mengukur jumlah audience adalah
dengan cara menghitung jumlah audience yang datang pada acara
commit to user
telpon dan partisipan di website. Cara untuk mengukur
acceptance objectives dapat juga dilakukan dengan cara
menghitung jumlah telpon yang masuk, jumlah surat masuk
permintaan donor darah dari instansi-instansi terkait. Sedangkan
untuk mengukur action objectives adalah dengan cara
mengobservasi dan menghitung jumlah permintaan donor darah
dari instansi-instansi terkait. Setelah data terkumpul kemudian
dianalisa dan dibandingkan dengan objectives yang hendak
dicapai.
Inti dari komunikasi pemasaran komunikasi pemasaran
membahas beberapa masalah yang memiliki kaitan erat dengan
komunikasi dalam pemasaran, pokok kajian pembahasan komunikasi
pemasaran antara lain:
·Strategi Komunikasi
·Segmentasi Potensial
·Perencanaan Media
·Kreatif pesan dan Visual
·Biaya Komunikasi dan Belanja Iklan
·Riset Komunikasi Pemasaran
·Konsep Bisnis Masa Depan
Proses Perencanan Komunikasi Pemasaran. Komunikasi
commit to user
1. Mengidentifikasikan pasar dan kebutuhan konsumen atau persepsi
konsumen.
2. Menggambarkan dan mengoperasionalkan gambar atau persepsi
tujuan target group.
3. Mengveluasikan sejumlah perilaku yang tergambar diyakini dapat
mencapai tujuan.
Strategi mempromosikan sebuah produk atau perusahan
merupakan strategi pembangunan atribut yang akan dan terus dikenal
oleh konsumen. Seperti yang diungkapkan dalam Journal of Integrated
Marketing Communication 2008, The Organizational Relationship
Between Marketing and Public Relations : Exploring Paradigmatic
Viewpoints by Joep P. Cornelissen and Andrew R. Lock mengenai
tujuan dari adanya pendekatan hubungan pemasaran dengan konsumen
sebagai berikut : “The goal of the new approach to relationship
marketing is to raise the customer’s comfort with the company to the
point of making the brand decision their choise”.
Perusahaan yang memikili dua atau lebih konsep strategi,
memungkinkan perusahaan tersebut bertahan dalam persaingan yang
semakin keras. Perusahan yang tidak memiliki kerangka dan strategi
cadangan dalam menghadapi para pesaing baru justru akan mengacam
posisi produk mereka yang telah ada. Tujuan lain dari analis situasi,
commit to user
memperoleh dari konsumen (sebagai sumber utama) dimana respon
tersebut merupakan langkah awal yang perusahan untuk bersikap
positif.
Perencanaan komunikasi dalam komunikasi pemasran
merupakan panduan mendasar yang penting untuk membentuk kita
dalam menyusun sebuah perencanaan strategi berdasarkan pandangan
komunikasi pemasaran. Perencanaan mungkin lebih penting dari sebuah
dokumen yang kita miliki. Setiap perencanaan dan eksekusi periklanan
memiliki nilai yang kecil jika kita tidak menjaga di hadapan konsumen.
c. Kajian Penelitian efek dan teori efek
Khalayak mempunyai kebutuhan yang berkaitan dengan media,
yaitu kebutuhan kognitif (kebutuhan berkaitan dengan usaha-usaha
untuk memperkuat informasi, pengetahuan serta pengertian tentang
lingkungan sekitar), kebutuhan afektif (kebutuhan yang berhubungan
dengan usaha-usaha untuk memperkuat pengalaman-pengalaman yang
bersifat keindahan, kesenangan dan emosional), kebutuhan behavioural
(kebutuhan yang berkaitan dengan usaha untuk melakukan aktivitas
tertentu setelah mendapatkan penambahan informasi), integratif
personal (kebutuhan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk
memperkuat kontak dengan keluarga, teman dan alam sekelilingnya),
commit to user
untuk melarikan diri dari kenyataan, melepaskan ketegangan dan
kebutuhan akan hiburan) ( Alo lyliweri:1991, hal.137 )
Secara teoritis, efek yang ditimbulkan oleh pesan media massa
menurut Mann Steven M. Chafee dapat dilihat dari perubahan yang
terjadi pada khalayak komunikasi massa, yaitu penerima informasi,
perubahan peragaan atau sikap, dan perubahan perilaku atau dengan
istilah lain perubahan kognitif, afektif dan behavioral. ( Jalaluddin
Rahmat:2001, hal.218)
Sependapat dengan Mann diatas, menurut Jalaluddun Rahmat,
efek yang menyertai suatu proses komunikasi massa adalah efek
kognitif (penambahan pengetahuan), efek afektif (pembentukan dan
perubahan sikap), dan efek behavioral (tindakan atau action tertentu).
Efek kognitif terjadi jika setelah khalayak yang menggunakan suatu
media dapat memperoleh tambahan pengetahuan dari media tersebut.
Efek afektif terjadi bila setelah mendapatkan pengetahuan dari suatu
media menyebabkan perubahan sikap pada diri khalayak. Pada akhirnya
dapat terjadi efek behavioral bila khalayak setelah menggunakan suatu
media akan melakukan suatu tindakan (action) tertentu. ( Jalaluddin
Rahmat:2001, hal.219)
Untuk menjelaskan efek yang ditimbulkan oleh pesan media
massa ini, lebih jauh diterangakan dengan menggunakan teori
commit to user
Pesan Tunggal Penerima Individu Reaksi
Tabel. I.2
MODEL TEORI STIMULUS – ORGANISM-RESPONS
Efek yang ditimbulkan oleh model ini adalah reaksi khusus
terhadap stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan
memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. (
Onong Uchjana Effendi:1993,hal.281-281) Unsur-unsur dalam model
ini adalah :
a. Pesan (Stimulus, S)
b. Komunikan (Organism, O)
c. Efek (Respons, R)
Bertolak dari S-O-R faktor yang menjadi stimulus dalam
penelitian ini adalah Kegiatan Komunikasi PMI Cabang Kota
Surakarta, yaitu sosialisasi donor darah. Sedangkan Organism diartikan
sebagai mahasiswa FISIP UNS pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya.
Yang dimaksud dengan respons adalah efek yang ditimbulkan
dari rangsangan yang diberikan kepada audiens. Seperti yang telah
commit to user
dengan pesan ada tiga tingkatan yaitu efek kognitif, efek afektif dan
efek behavioral.
Berdaarkan penelitian tersebut, peneliti mengharapkan dari
ketiga efek media massa tersebut, yaitu efek kognitif, efek afektif, dan
efek behavioral.
1. Efek Kognitif
Efek prososial merupakan efek yang membahas bagaimana
media massa memberikan manfaat yang dikehendaki audiens.
Menurut Jalaluddin Rahmat bila televisi menyebabkan seseorang
lebih mengerti bahasa Indonesia dengan baik dan benar, maka
televisi telah menimbulkan efek prososial kognitif. ( Jalaluddin
Rahmat: 2001, hal.230 )
Pada teori psikologi, teori yang dapat menjelaskan tentang
efek prososial kognitif adalah teori belajar sosial dari albert
Bandura. Teori belajar sosial mengkaji proses belajar melalui
media massa. Albert bandura menyatakan bahwa teori belajar
sosial menganggap media massa sebagai agen sosialisasi yang
utama di samping keluarga, guru di sekolah dan sahabat karib.
( Onong Uchjana Effendi:1993, hal.281-282 )
Lebih lanjut Bandura menjelaskan perilaku merupakan hasil
dari faktor-faktor yang kognitif dari lingkungan. Artinya,
seseorang mampu memiliki keterampilan tertentu, bila terdapat
commit to user
sendiri. (Onong Uchjana Effendi:1993, hal.281-282). Namun
sebelum sampai pada tahap itu, pastilah seseorang menyimpan
pengetahuan yang diperoleh sebagai hasil dari pengamatan
terhadap suatu peristiwa kedalam memorinya terlebih dahulu, hal
ini sesuai dengan 4 tahapan proses belajar sosial milik Bandura.
Pada tahap awal proses belajar terdapat proses perhatian
kepada suatu peristiwa. Jelas bahwa seseorang tidak dapat belajar
dari suatu peristiwa kecuali menaruh perhatian kepadanya dan
secara saksama mencerna hal-hal penting yang dicakupnya.
Peristiwa ini dapat berupa tindakan tertentu atau gambaran pola
pemikiran yang disebut Bandura sebagai :”Abstract Modeling”.
Misalnya sikap, nilai atau persepsi realitas sosial. (Onong
Uchjana Effendi:1993, hal.283)
Pada proses kedua yaitu pengingatan (retention). Peristiwa
yang menarik perhatian dimasukan kedalam lambang secara
verbal atau imaginal sehingga menjadi ingatan. Hal ini
disebabkan perhatian terhadap suatu peristiwa saja tidak cukup
untuk menghasilkan efek prososial. (Onong Uchjana
Effendi:1993, hal.283)
Pada langkah ketiga yaitu proses reproduksi artinya
menghasilkan kembali tindakan-tindakan yang telah diamati.
Pada tahap ini kemampuan kognitif dan kemampuan motorik
commit to user
Pada langkah terakhir adalah proses motivasional dimana
menunjukan bahwa perilaku akan brwujud apabila terdapat nilai
peneguhan. Peneguhan dalam bentuk ganharan internal, seperti
rasa puas diri. (Bandura, 1977 : 209-210)
Pada penelitian ini mahasiswa FISIP UNS menerima efek
kognitif dari PMI, yaitu sosialisasi donor darah sebagai suatu
penambahan serta pemahaman informasi pada mahasiswa FISIP
UNS akan donor darah.
2. Efek Afektif
Kebanyakan penelitian yang biasanya dikutip dalam
membicarakan efek komunikasi massa terhadap pendapat dan
sikap, telah dilakukan dengan prosedur eksperimental yang
mencakup penerpaan secara paksa khalayak terpilih pada
komunikasi yang tunggal (Walter Weiss:1969, hal.101). Hasil
penelitian itu umumnya menunjukkan sedikit sekali bukti yang
menunjukkan adanya efek media massa pada perubahan
sikap.Cialdini, Petty, dan Cacioppo (1981:357-404) menunjukkan
bahwa perhatian penelitian belakangan ini lebih terpusat pada
respons-respons kognitif sebagai mediator efek sikap. Walaupun
mereka melaporkan keadaan ini sebagai tinjauan penelitian sikap
commit to user
terhadap pembentukan sikap pada tulisan Solomon E. Asch
(1952:563-564).
Sesungguhnya, efek afektif bukan tidak pernah dibuktikan
dalam penelitian ilmiah. Penelitian dalam bidang komunikasi
politik, khususnya peranan media massa dalam sosialisasi politik,
telah berulang kali menunjukkan korelasi yang berarti antara
terpaan media massa dengan sikap-sikap politik. Sikap terhadap
pemerintah, penolakan pada otoritas, kesenangan pada pemimpin
Negara, sikap pada politisi erat berkaitan dengan terpaan televise,
radio, dan surat kabar. Charles K. Atkin (1981:299-328) meninjau
berbagai literature tentang komunikasi dan sosialisasi politik, lalu
menyimpulkan,”This diverse collection of findings suggests that
the mass media significantly influence som affective orientations,
although the impact is not as great as for cognitive orientations.”
(Berbagai kumpulan penemuan menunjukkan bahwa media massa
secara berarti mempengaruhi orientasi afektif, walaupun
dampaknya tidak sebesar pada orientasi kognitif).
Dalam hal ini mahasiswa berupaya untuk mencari tahu lebih
tentang donor darah dari manfaat, syarat, serta fasilitas untuk
menjadi pendonor darah sukarela.
commit to user
Pada waktu membicarakan efek kehadiran media massa,
secara sepintas kita juga telah menyebutkan efek behavioral
seperti pengalihan kegiatan dan penjadwalan pekerjaan
sehari-hari.
Salah satu perilaku prososial ialah memiliki keterampilan
yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Keterampilan
ini biasanya diperoleh dari saluran-saluran interpersonal: orang
tua, atasan, pelatih, atau guru. Pada dunia modern, sebagian dari
tugas mendidik telah juga dilakukan media massa. Teori psikologi
yang dapat menjelaskan efek prososial media massa adalah teori
belajar sosial dari Bandura(hal.28). Menurut Bandura, kita belajar
bukan saja dari pengalaman langsung, tetapi dari peniruan atau
peneladanan (modeling). Perilaku merupakan hasil faktor-faktor
kognitif dan lingkungan. Artinya, kita mampu memiliki
keterampilan tertentu, bila terdapat jalinan positif antara stimuli
yang kita amati dan karakteristik dari kita.
Bandura menjelaskan proses belajar sosial dalam empat
tahapan proses: proses perhatian, proses pengingatan
(retentation), proses reproduksi motoris, dan proses motivasional.
Permulaan proses belajar ialah munculnya peristiwa yang dapat
diamati secara langsung oleh seseorang. Peristiwa ini berupa
tindakan tertentu (misalnya menolong orang tenggelam) atau
commit to user
“abstract modeling”. Menurut Bandura, peristiwa yang menarik
perhatian ialah yang tampak menonjol dan sederhana, terjadi
berulang-ulang, atau menimbulkan perasaan positif pada
pengamatannya.
Perhatian saja tidak cukup menghasilkan efek prososial.
Khalayak harus sanggup menyimpan hasil pengamatannya dalam
benaknya dan memanggilnya kembali tatkala mereka akan
bertindak sesuai dengan teladan yang diberikan. Peneladanan
tertangguh hanya terjadi bila mereka sanggup mengingat
peristiwa yang diamatinya.
Dalam teori stimulus-respons pada dasarnya merupakan
sesuatu prinsip belajar yang sederhana, di mana efek merupakan
reaksi terhadap stimulus tertentu. Pada dasarnya prinsip ini
merupakan dasar dari teori jarum hipodermik, mengenai proses
terjadinya efek media massa yang berpengaruh. Dalam
masyarakat massa, prinsip stimulus-respons mengasumsikan
bahwa pesan informasi dipersiapkan oleh media dan
didistribusikan secara sistematis dan dalam skala yang luas,
sehingga secara serempak pesan tersebut dapat diterima oleh
sejumlah besar individu, kemudian sejumlah individu tersebut
akan merespons pesan informasi tersebut.
Dalam hal ini PMI selalu memberi motivasi kepada
commit to user
Sosialisasi PMI selalu ter follow up sampai masyarakat
benar-benar berpartisipasi untuk menjadi pendonor darah sukarela. Hal
yang dilakukan PMI adalah mensosialisasikan donor darah
melalui media brosur dan presentasi kepada khalayak, setelah itu
mem follow up melalui telepon untuk memastikan khalayak mau
menjadi pendonor darah sukarela.
d. Komunikasi Sosial Sebagai sarana sosialisasi
“Komunikasi sosial adalah sekaligus proses sosialisasi”
demikian tulisan Astrid S. Susanto dalm bukunya, Komunikasi Sosial di
Indonesia. (Astrid S. Susanto, 1985:hal.1) kajian tentang proses
sosialisasi khususnya dan sosiologi umumnya, memang tidak bisa untuk
menyinggung komunikasi. Karena proses sosialisasi terjadi melalui
interaksi sosial yang harus didahului kontak dan komunikasi.
Referensi kepustakaan yang secara implicit menyatakan
keterkaitan langsung antara komunikasi dan sosialisasi banyak
ditemukan di buku-buku sosiologi. Misalnya Astrid S.Susanto (1983)
dalam bukunya yang lain, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial,
menjelaskan bahwa proses sosialisasi terjadi melalui interaksi sosial,
yaitu hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu proses
pengaruh-mempengaruhi. Dalam proses pendewasaaan manusia
berdasarkan pengalamannya sendiri akan terbentuk system perilaku
(behavior system) yang juga ikut ditentukan oleh watak pribadinya,