• Tidak ada hasil yang ditemukan

79 3 2 1 COVER SUSTAINABILITY REPORT No. Emiten Cover LAMPIRAN 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "79 3 2 1 COVER SUSTAINABILITY REPORT No. Emiten Cover LAMPIRAN 1"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

79 LAMPIRAN 1

COVER SUSTAINABILITY REPORT

No. Emiten Cover

1 PT Unilever Indonesia Tbk

2 Wilmar International

3 Kao

(2)

80

No. Emiten Cover

4 Charoen Pokphand Foods

5 Vitasoy

6 Fonterra

7 Essity

(3)

81

No. Emiten Cover

8 Henkel

9 Nestle

Sumber : Data diolah kembali

(4)

82 LAMPIRAN 2

SAMPEL/OBJEK PENELITIAN

No Sektor Kode Emiten Nama Bursa Efek

Tanggal Berdiri

Tanggal Go Public

1 Consumer

Goods UNVR

Bursa Efek Indonesia (BEI)

5 Desember 1933

11 Januari 1982

2 Consumer

Goods F34.SI

Singapore Exchange (SGX)

1 April 1991 8 Agustus 2006

3 Consumer

Goods CPF

Stock Exchange of Thailand (SET)

17 Januari 1978

21 Desember 1987

4 Consumer

Goods 0345

The Stock Exchange of Hong Kong Limited (HKG)

3 April 1940 30 Maret 1994

5 Consumer

Goods 4452

The Tokyo Stock Exchange (TYO)

Juni 1887 16 Mei 1949

6 Consumer

Goods ESSITY-A

Stockholm Stock Exchange (STO)

15 Juni 2017 15 Juni 2017

7 Consumer

Goods HEN3

The Frankfurt Stock Exchange

26 September

1876

Okober 1985

8 Consumer

Goods NESN SIX Swiss

Exchange 1866 25 Oktober 1905

9 Consumer

Goods FCG

New Zealand Exchange (NZE)

16 Oktober 2001

03 Desember 2001

(5)

83 LAMPIRAN 3

PENERAPAN STANDAR 102-46 & 102-47

No

Obyek Sektor Consumer

Goods

102-46-a 102-46-b Klausul 6.1 102-47

1 PT Unilever Indonesia Tbk

(Halaman 45)

-

(6)

84 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

102-46-a 102-46-b Klausul 6.1 102-47

(Halaman 46-47)

(Halaman 47-49)

2 Wilmar International

- - -

(7)

85 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

102-46-a 102-46-b Klausul 6.1 102-47

(Halaman 172-175)

3 Kao - - -

(Halaman 9) 4 Charoen

Pokphand Foods

- - -

(Halaman 16-17)

(8)

86 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

102-46-a 102-46-b Klausul 6.1 102-47

5 Vitasoy - - -

(Halaman 8) 6 Fonterra

(Halaman 71)

- -

(Halaman 71)

(9)

87 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

102-46-a 102-46-b Klausul 6.1 102-47

7 Essity

(Halaman 51)

- -

(Halaman 51) 8 Henkel

(Halaman 28)

- -

(Halaman 29)

(10)

88 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

102-46-a 102-46-b Klausul 6.1 102-47

9 Nestle

(Halaman 8)

- -

(Halaman 9-10) Sumber : Data diolah kembali

(11)

89 LAMPIRAN 4

PENERAPAN STANDAR 103-1

No

Obyek Sektor Consumer

Goods

a. Penjelasan mengapa topik material

b.i. Penjelasan lokasi terjadinya dampak

b.ii. Keterlibatan organisasi atas dampak

c. Pembatasan khusus terkait batasan

1 PT Unilever Indonesia

Tbk (Halaman 148)

(12)

90 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

a. Penjelasan mengapa topik material

b.i. Penjelasan lokasi terjadinya dampak

b.ii. Keterlibatan organisasi atas dampak

c. Pembatasan khusus terkait batasan

(13)

91 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

a. Penjelasan mengapa topik material

b.i. Penjelasan lokasi terjadinya dampak

b.ii. Keterlibatan organisasi atas dampak

c. Pembatasan khusus terkait batasan

(Halaman 47-49)

(Halaman 2-4)

(Halaman 47-49)

(14)

92 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

a. Penjelasan mengapa topik material

b.i. Penjelasan lokasi terjadinya dampak

b.ii. Keterlibatan organisasi atas dampak

c. Pembatasan khusus terkait batasan

2 Wilmar International

(Halaman 172)

(Halaman 24-25)

-

(15)

93 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

a. Penjelasan mengapa topik material

b.i. Penjelasan lokasi terjadinya dampak

b.ii. Keterlibatan organisasi atas dampak

c. Pembatasan khusus terkait batasan

(Halaman 12-20)

3 Kao -

(Halaman 3)

-

(16)

94 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

a. Penjelasan mengapa topik material

b.i. Penjelasan lokasi terjadinya dampak

b.ii. Keterlibatan organisasi atas dampak

c. Pembatasan khusus terkait batasan

(Halaman 22-23) 4 Charoen

Pokphand Foods

(Halaman 15)

(Halaman 4-5)

(Halaman 14)

(Halaman 16-17)

(17)

95 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

a. Penjelasan mengapa topik material

b.i. Penjelasan lokasi terjadinya dampak

b.ii. Keterlibatan organisasi atas dampak

c. Pembatasan khusus terkait batasan

5 Vitasoy

(Halaman 8)

(Halaman 5)

(Halaman 16)

-

6 Fonterra - - - -

7 Essity - - - -

8 Henkel

(Halaman 30)

-

(Halaman 16)

-

(18)

96 No

Obyek Sektor Consumer

Goods

a. Penjelasan mengapa topik material

b.i. Penjelasan lokasi terjadinya dampak

b.ii. Keterlibatan organisasi atas dampak

c. Pembatasan khusus terkait batasan

9 Nestle

(Halaman 9-10)

(Halaman 2)

(Halaman 11)

-

Sumber : Data diolah kembali

(19)

97 LAMPIRAN 5

BUKTI KESESUAIAN PENERAPAN STANDAR AA1000AP a. PT Unilever Indonesia, Tbk

1. Membangun proses penetapan materialitas yang luas di seluruh organisasi, kuat, sistematis dan berkelajutan di bawah tata kelola manajemen senior, termasuk keterlibatan lintas fungsi utama.

(Halaman 30, 45)

(20)

98 2. Memastikan integrasi proses

penilaian di seluruh organisasi, termasuk melalui proses yang relevan, seperti manajemen risiko dan kepatuhan terhadap hukum, peraturan, dan kebijakan dan prosedur internal.

(Halaman 36) 3. Menyediakan kompetensi dan

sumber daya yang dibutuhkan untuk menerapkan hasil proses penilaian materialitas.

(Halaman 98)

(21)

99 4. Menetapkan batas yang jelas

dan konsisten, serta tujuan, periode waktu dan ruang lingkup, untuk penilaian materialitas, dengan asumsi- asumsi mendasar yang terdokumentasi dengan tepat.

-

5. Mengidentifikasi dan mewakili topik dengan baik dari berbagai sumber.

(Halaman 45)

(22)

100 6. Mengevaluasi relevansi topik

keberlanjutan yang material yang teridentifikasi berdasarkan kriteria eksplisit yang sesuai.

-

7. Menentukan signifikasi, kemungkinan dan dampak saat ini dan dampak yang diharapkan di masa depan dari topik keberlanjutan material yang teridentifikasi, yang menggunakan kriteria dan ambang batas yang sesuai.

-

(23)

101 8. Mempertimbangkan

keberlanjutan yang terus berkembang, ekonomi makro, geopolitik dan konteks peraturan dan kematangan topik

dan masalah, yang

memungkinkan untuk perbedaan yang terkait dengan industri, geografis, budaya dan tingkat operasional.

-

9. Memasukkan cara mengatasi konflik atau dilema yang timbul dari penyimpangan atau pertentangan ekspektasi tentang topik material.

(Halaman 117)

(24)

102 10. Berkomunikasi dengan

pemangku kepentingan dengan cara yang tepat, transparan, dan tepat waktu, sesuai dengan batasan pengungkapan yang ditetapkan organisasi.

(Halaman 44)

b. Wilmar International

1. Membangun proses penetapan materialitas yang luas di seluruh organisasi, kuat, sistematis dan berkelajutan di bawah tata kelola manajemen senior, termasuk keterlibatan lintas fungsi utama.

(25)

103 (Halaman 170)

2. Memastikan integrasi proses penilaian di seluruh organisasi, termasuk melalui proses yang relevan, seperti manajemen risiko dan kepatuhan terhadap hukum, peraturan, dan kebijakan dan prosedur internal.

-

(26)

104 (Halaman 162-165)

3. Menyediakan kompetensi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menerapkan hasil proses penilaian materialitas.

(27)

105 (Halaman 82-85)

4. Menetapkan batas yang jelas dan konsisten, serta tujuan, periode waktu dan ruang lingkup, untuk penilaian materialitas, dengan asumsi- asumsi mendasar yang terdokumentasi dengan tepat.

(28)

106 (Halaman 176-179)

5. Mengidentifikasi dan mewakili topik dengan baik dari berbagai sumber.

(Halaman 171)

(29)

107 6. Mengevaluasi relevansi topik

keberlanjutan yang material yang teridentifikasi berdasarkan kriteria eksplisit yang sesuai.

-

7. Menentukan signifikasi, kemungkinan dan dampak saat ini dan dampak yang diharapkan di masa depan dari topik keberlanjutan material yang teridentifikasi, yang menggunakan kriteria dan ambang batas yang sesuai.

(30)

108 (Halaman 176-179)

8. Mempertimbangkan

keberlanjutan yang terus berkembang, ekonomi makro, geopolitik dan konteks peraturan dan kematangan topik

dan masalah, yang

memungkinkan untuk perbedaan yang terkait dengan industri, geografis, budaya dan tingkat operasional.

-

(31)

109 9. Memasukkan cara mengatasi

konflik atau dilema yang timbul dari penyimpangan atau pertentangan ekspektasi tentang topik material.

(Halaman 76-77) 10. Berkomunikasi dengan

pemangku kepentingan dengan cara yang tepat, transparan, dan tepat waktu, sesuai dengan batasan pengungkapan yang ditetapkan organisasi.

(Halaman 29)

(32)

110 c. Kao

1. Membangun proses penetapan materialitas yang luas di seluruh organisasi, kuat, sistematis dan berkelajutan di bawah tata kelola manajemen senior, termasuk keterlibatan lintas fungsi utama.

(Halaman 134) 2. Memastikan integrasi proses

penilaian di seluruh organisasi, termasuk melalui proses yang relevan, seperti manajemen risiko dan kepatuhan terhadap 110okum, peraturan, dan kebijakan dan prosedur internal.

(33)

111 (Halaman 136)

3. Menyediakan kompetensi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menerapkan hasil proses penilaian materialitas.

(Halaman 154)

(34)

112 4. Menetapkan batas yang jelas

dan konsisten, serta tujuan, periode waktu dan ruang lingkup, untuk penilaian materialitas, dengan asumsi- asumsi mendasar yang terdokumentasi dengan tepat.

5. Mengidentifikasi dan mewakili topik dengan baik dari berbagai sumber.

(Halaman 13)

(35)

113 6. Mengevaluasi relevansi topik

keberlanjutan yang material yang teridentifikasi berdasarkan kriteria eksplisit yang sesuai.

-

7. Menentukan signifikasi, kemungkinan dan dampak saat ini dan dampak yang diharapkan di masa depan dari topik keberlanjutan material yang teridentifikasi, yang menggunakan kriteria dan ambang batas yang sesuai.

(36)

114

(37)

115 (Halaman 202-206)

(38)

116 8. 0Mempertimbangkan

keberlanjutan yang terus berkembang, ekonomi makro, geopolitik dan konteks peraturan dan kematangan topik

dan masalah, yang

memungkinkan untuk perbedaan yang terkait dengan industri, geografis, budaya dan tingkat operasional.

-

9. Memasukkan cara mengatasi konflik atau dilema yang timbul dari penyimpangan atau pertentangan ekspektasi tentang topik material.

(39)

117

(40)

118 (Halaman 90, 111, 122,128) 10. Berkomunikasi dengan

pemangku kepentingan dengan cara yang tepat, transparan, dan tepat waktu, sesuai dengan batasan pengungkapan yang ditetapkan organisasi.

(Halaman 12)

(41)

119 d. Charoen Pokphand Foods

1. Membangun proses penetapan materialitas yang luas di seluruh organisasi, kuat, sistematis dan berkelajutan di bawah tata kelola manajemen senior, termasuk keterlibatan lintas fungsi utama.

(Halaman 28-29) 2. Memastikan integrasi proses

penilaian di seluruh organisasi, termasuk melalui proses yang relevan, seperti manajemen risiko dan kepatuhan terhadap 119okum, peraturan, dan kebijakan dan prosedur internal.

-

(42)

120 3. Menyediakan kompetensi dan

sumber daya yang dibutuhkan untuk menerapkan hasil proses penilaian materialitas.

(Halaman 30-31) 4. Menetapkan batas yang jelas

dan konsisten, serta tujuan, periode waktu dan ruang lingkup, untuk penilaian materialitas, dengan asumsi- asumsi mendasar yang terdokumentasi dengan tepat.

-

(43)

121 5. Mengidentifikasi dan mewakili

topik dengan baik dari berbagai sumber.

6. Mengevaluasi relevansi topik keberlanjutan yang material yang teridentifikasi berdasarkan kriteria eksplisit yang sesuai.

-

(44)

122 7. Menentukan signifikasi,

kemungkinan dan dampak saat ini dan dampak yang diharapkan di masa depan dari topik keberlanjutan material yang teridentifikasi, yang menggunakan kriteria dan ambang batas yang sesuai.

-

8. Mempertimbangkan

keberlanjutan yang terus berkembang, ekonomi makro, geopolitik dan konteks peraturan dan kematangan topik

dan masalah, yang

memungkinkan untuk perbedaan yang terkait dengan industri, geografis, budaya dan tingkat operasional.

-

(45)

123 9. Memasukkan cara mengatasi

konflik atau dilema yang timbul dari penyimpangan atau pertentangan ekspektasi tentang topik material.

(Halaman 19) 11. Berkomunikasi dengan

pemangku kepentingan dengan cara yang tepat, transparan, dan tepat waktu, sesuai dengan batasan pengungkapan yang ditetapkan organisasi.

(Halaman 26)

|

(46)

124 e. Vitasoy

1. Membangun proses penetapan materialitas yang luas di seluruh organisasi, kuat, sistematis dan berkelajutan di bawah tata kelola manajemen senior, termasuk keterlibatan lintas fungsi utama.

(Halaman 17)

(47)

125 2. Memastikan integrasi proses

penilaian di seluruh organisasi, termasuk melalui proses yang relevan, seperti manajemen risiko dan kepatuhan terhadap 125okum, peraturan, dan kebijakan dan prosedur internal.

(Halaman 18) 3. Menyediakan kompetensi dan

sumber daya yang dibutuhkan untuk menerapkan hasil proses penilaian materialitas.

(Halaman 44)

(48)

126 4. Menetapkan batas yang jelas

dan konsisten, serta tujuan, periode waktu dan ruang lingkup, untuk penilaian materialitas, dengan asumsi- asumsi mendasar yang terdokumentasi dengan tepat.

(Halaman 16)

5. Mengidentifikasi dan mewakili -

(49)

127 topik dengan baik dari berbagai

sumber.

6. Mengevaluasi relevansi topik keberlanjutan yang material yang teridentifikasi berdasarkan kriteria eksplisit yang sesuai.

-

7. Menentukan signifikasi, kemungkinan dan dampak saat ini dan dampak yang diharapkan di masa depan dari topik keberlanjutan material yang teridentifikasi, yang menggunakan kriteria dan ambang batas yang sesuai.

(Halaman 24) 8. Mempertimbangkan

keberlanjutan yang terus berkembang, ekonomi makro, geopolitik dan konteks peraturan dan kematangan topik

dan masalah, yang

memungkinkan untuk perbedaan yang terkait dengan industri, geografis, budaya dan tingkat operasional.

-

(50)

128 9. Memasukkan cara mengatasi

konflik atau dilema yang timbul dari penyimpangan atau pertentangan ekspektasi tentang topik material.

(Halaman 31-32)

(51)

129 10. Berkomunikasi dengan

pemangku kepentingan dengan cara yang tepat, transparan, dan tepat waktu, sesuai dengan batasan pengungkapan yang ditetapkan organisasi.

(Halaman 18) f. Fonterra

1. Membangun proses penetapan materialitas yang luas di seluruh organisasi, kuat, sistematis dan berkelajutan di bawah tata kelola manajemen senior, termasuk keterlibatan lintas fungsi utama.

-

(52)

130 2. Memastikan integrasi proses

penilaian di seluruh organisasi, termasuk melalui proses yang relevan, seperti manajemen risiko dan kepatuhan terhadap 130okum, peraturan, dan kebijakan dan prosedur internal.

(Halaman 71) 3. Menyediakan kompetensi dan

sumber daya yang dibutuhkan untuk menerapkan hasil proses penilaian materialitas.

(53)

131 (Halaman 63-64)

4. Menetapkan batas yang jelas dan konsisten, serta tujuan, periode waktu dan ruang lingkup, untuk penilaian materialitas, dengan asumsi- asumsi mendasar yang terdokumentasi dengan tepat.

(54)

132

(55)

133 (Halaman 73-77)

(56)

134 5. Mengidentifikasi dan mewakili

topik dengan baik dari berbagai sumber.

(Halaman 71) 6. Mengevaluasi relevansi topik

keberlanjutan yang material yang teridentifikasi berdasarkan kriteria eksplisit yang sesuai.

-

7. Menentukan signifikasi, kemungkinan dan dampak saat ini dan dampak yang diharapkan di masa depan dari topik keberlanjutan material yang teridentifikasi, yang menggunakan kriteria dan ambang batas yang sesuai.

(Halaman 10)

(57)

135 8. Mempertimbangkan

keberlanjutan yang terus berkembang, ekonomi makro, geopolitik dan konteks peraturan dan kematangan topik

dan masalah, yang

memungkinkan untuk perbedaan yang terkait dengan industri, geografis, budaya dan tingkat operasional.

-

9. Memasukkan cara mengatasi konflik atau dilema yang timbul dari penyimpangan atau pertentangan ekspektasi tentang topik material.

(58)

136 (Halaman 49-50)

10. Berkomunikasi dengan pemangku kepentingan dengan cara yang tepat, transparan, dan tepat waktu, sesuai dengan batasan pengungkapan yang ditetapkan organisasi.

(Halaman 70)

(59)

137 g. Essity

1. Membangun proses penetapan materialitas yang luas di seluruh organisasi, kuat, sistematis dan berkelajutan di bawah tata kelola manajemen senior, termasuk keterlibatan lintas fungsi utama.

(Halaman 52-53) 2. Memastikan integrasi proses

penilaian di seluruh organisasi, termasuk melalui proses yang relevan, seperti manajemen risiko dan kepatuhan terhadap 137okum, peraturan, dan kebijakan dan prosedur internal.

(60)

138 (Halaman 52)

3. Menyediakan kompetensi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menerapkan hasil proses penilaian materialitas.

(Halaman 126) 4. Menetapkan batas yang jelas

dan konsisten, serta tujuan, periode waktu dan ruang lingkup, untuk penilaian materialitas, dengan asumsi- asumsi mendasar yang terdokumentasi dengan tepat.

-

(61)

139 5. Mengidentifikasi dan mewakili

topik dengan baik dari berbagai sumber.

(Halaman 51) 6. Mengevaluasi relevansi topik

keberlanjutan yang material yang teridentifikasi berdasarkan kriteria eksplisit yang sesuai.

-

7. Menentukan signifikasi, kemungkinan dan dampak saat ini dan dampak yang diharapkan di masa depan dari topik keberlanjutan material yang teridentifikasi, yang menggunakan kriteria dan ambang batas yang sesuai.

-

8. Mempertimbangkan

keberlanjutan yang terus berkembang, ekonomi makro, geopolitik dan konteks peraturan dan kematangan topik

-

(62)

140

dan masalah, yang

memungkinkan untuk perbedaan yang terkait dengan industri, geografis, budaya dan tingkat operasional.

9. Memasukkan cara mengatasi konflik atau dilema yang timbul dari penyimpangan atau pertentangan ekspektasi tentang topik material.

(Halaman 36-37)

(63)

141 10. Berkomunikasi dengan

pemangku kepentingan dengan cara yang tepat, transparan, dan tepat waktu, sesuai dengan batasan pengungkapan yang ditetapkan organisasi.

(Halaman 12) h. Henkel

1. Membangun proses penetapan materialitas yang luas di seluruh organisasi, kuat, sistematis dan berkelajutan di bawah tata kelola manajemen senior, termasuk keterlibatan lintas fungsi utama.

(Halaman 40)

(64)

142 2. Memastikan integrasi proses

penilaian di seluruh organisasi, termasuk melalui proses yang relevan, seperti manajemen risiko dan kepatuhan terhadap 142okum, peraturan, dan kebijakan dan prosedur internal.

(Halaman 48) 3. Menyediakan kompetensi dan

sumber daya yang dibutuhkan untuk menerapkan hasil proses penilaian materialitas.

(Halaman 158)

(65)

143 4. Menetapkan batas yang jelas

dan konsisten, serta tujuan, periode waktu dan ruang lingkup, untuk penilaian materialitas, dengan asumsi- asumsi mendasar yang terdokumentasi dengan tepat.

(Halaman 17) 5. Mengidentifikasi dan mewakili

topik dengan baik dari berbagai sumber.

-

6. Mengevaluasi relevansi topik keberlanjutan yang material yang teridentifikasi berdasarkan kriteria eksplisit yang sesuai.

-

7. Menentukan signifikasi, kemungkinan dan dampak saat ini dan dampak yang diharapkan di masa depan dari topik keberlanjutan material yang teridentifikasi, yang menggunakan kriteria dan ambang batas yang sesuai.

-

8. Mempertimbangkan

keberlanjutan yang terus -

(66)

144 berkembang, ekonomi makro,

geopolitik dan konteks peraturan dan kematangan topik

dan masalah, yang

memungkinkan untuk perbedaan yang terkait dengan industri, geografis, budaya dan tingkat operasional.

9. Memasukkan cara mengatasi konflik atau dilema yang timbul dari penyimpangan atau pertentangan ekspektasi tentang topik material.

(67)

145 (Halaman 75-76)

10. Berkomunikasi dengan pemangku kepentingan dengan cara yang tepat, transparan, dan tepat waktu, sesuai dengan batasan pengungkapan yang ditetapkan organisasi.

(Halaman 187)

(68)

146 i. Nestle

1. Membangun proses penetapan materialitas yang luas di seluruh organisasi, kuat, sistematis dan berkelajutan di bawah tata kelola manajemen senior, termasuk keterlibatan lintas fungsi utama.

(Halaman 20) 2. Memastikan integrasi proses

penilaian di seluruh organisasi, termasuk melalui proses yang relevan, seperti manajemen risiko dan kepatuhan terhadap 146okum, peraturan, dan kebijakan dan prosedur internal.

-

3. Menyediakan kompetensi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menerapkan hasil proses penilaian materialitas.

-

4. Menetapkan batas yang jelas dan konsisten, serta tujuan,

-

(69)

147 periode waktu dan ruang

lingkup, untuk penilaian materialitas, dengan asumsi- asumsi mendasar yang terdokumentasi dengan tepat.

5. Mengidentifikasi dan mewakili topik dengan baik dari berbagai sumber.

(Halaman 8) 6. Mengevaluasi relevansi topik

keberlanjutan yang material yang teridentifikasi berdasarkan kriteria eksplisit yang sesuai.

-

7. Menentukan signifikasi, kemungkinan dan dampak saat ini dan dampak yang diharapkan di masa depan dari topik keberlanjutan material yang teridentifikasi, yang menggunakan kriteria dan ambang batas yang sesuai.

-

(70)

148 8. Mempertimbangkan

keberlanjutan yang terus berkembang, ekonomi makro, geopolitik dan konteks peraturan dan kematangan topik

dan masalah, yang

memungkinkan untuk perbedaan yang terkait dengan industri, geografis, budaya dan tingkat operasional.

-

9. Memasukkan cara mengatasi konflik atau dilema yang timbul dari penyimpangan atau pertentangan ekspektasi tentang topik material.

-

10. Berkomunikasi dengan pemangku kepentingan dengan cara yang tepat, transparan, dan tepat waktu, sesuai dengan batasan pengungkapan yang ditetapkan organisasi.

(Halaman 3)

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan berdasarkan penampakan, lemak digolongkan kedalam lemak kentara (misal mentega dan lemak pada daging sapi) dan lemak tak kentara (misal lemak pada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan: (1) pengaruh orientasi pasar terhadap keunggulan bersaing: (2) pengaruh Inovasi terhadap Keunggulan

• #da juga orang batak sakit karena tarhirim +is $ seorang bapak menjanjikan akan memberi mainan buat anaknya, tetapi janji tersebut tidak ditepati. arena janji tersebut

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) terhadap tingkat kepuasan dan lama hari rawat inap pasien anak dengan

Hasil analisis didapatkan karir adalah faktor yang paling mempenga- ruhi kinerja perawat sebesar 30 kali lebih tinggi dibandingkan dengan karir yang kurang baik

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui kombinasi jenis dan konsentrasi filler (dekstrin dan tepung beras) terbaik sehingga dapat menghasilkan puree jambu

Karena Level Gauge merupakan kelengkapan (accessories) tangki storage chemical injection , maka untuk merancang level gauge harus mengikuti design dari tangki storage

Media utama berupa buku ilustrasi ensiklopedia jenis-jenis burung Rangkong yang ada di Indonesia memiliki tujuan untuk mengedukasi target audience yaitu anak-anak usia sekolah