• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISU HAM DI SIPRUS & USULAN KEANGGOTAAN TURKI DI UNI EROPA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ISU HAM DI SIPRUS & USULAN KEANGGOTAAN TURKI DI UNI EROPA"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

ISU HAM DI SIPRUS & USULAN KEANGGOTAAN TURKI DI UNI EROPA

S K R I P S I

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana pada Program Studi Hubungan Internasional

NOVITA PUTRI ANSARI 4515023006

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BOSOWA 2019

(2)
(3)
(4)

ABSTRAK

Novita Putri Ansari. Isu HAM di Siprus dan Usulan Keanggotaan Turki di Uni Eropa. Dibawah pembimbing I Zulkhair Burhan S.IP.,MA. dan pembimbing II Beche Bt. Mamma, S.IP.,MA.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan Pengaruh Isu HAM di Siprus dan Usulan Keanggotan Turki di Uni Eropa. Data penelitian yang digunakan penulis adalah telaah pustaka dimana penulis melakukan pengumpulan data melalui buku-buku, jurnal, artikel. Teknik analisa data meliputi tahap-tahap pengumpulan menggunakan teknik analisa deskriptif- kualitatif, yaitu analisis data yang ditekankan pada data-data non-matematis.

Analisis juga dilakukan dengan menggambarkan dan menganalisis sejumlah data yang diperoleh, serta memberikan kesimpulan pada akhir pembahasan.

Temuan dalam penelitian ini adalah bahwa Pengaruh Isu HAM di Siprus dalam Usulan keanggotaan Turki di Uni Eropa adalah Uni Eropa sangat menjunjung tinggi dan menghargai HAM yang dijadikan sebagai nilai-nilai normatif yang disebut Normatif Power dalam integrasi Uni Eropa sehingga sampai saat ini keanggotaan Turki masih berstatus menggantung.

Kata Kunci : HAM, Uni Eropa, Turki, Normative Power, Siprus, Kriteria Kopenhagen

(5)

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warrahmatullahi Wabarkatuh

Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta petunjuk dan bimbingan-Nya dalam memperoleh segala pengetahuan, wawasan, gagasan, ilmu serta kekuatan untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “Isu HAM di Siprus dan Usulan Keanggotaan Turki di Uni Eropa”. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bosowa Makassar. Tak lupa pula, salawat serta salam kami haturkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah memberikan pencerahan iman, kalbu, dan akal sehingga kita dapat mengenal peradaban seperti saat ini.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa masih jauh dari kata sempurna dan banyak kekurangannya, oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritikan dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Berbagai cobaan dan hambatan penulis alami. Namun, semuanya dapat dilalui dengan baik. “Man Shabara Zhafira” yakni “Barang siapa yang bersabar maka beruntunglah ia”. Motto inilah yang menjadi motivasi penulis dalam mengerjakan dan menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini penulis persembahkan sebagai ungkapan rasa syukur, cinta dan sayang yang tak terhingga kepada:

(6)

1. Allah SWT yang selalu memberikan ridho, rahmat, serta hidayah-Nya kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini serta selalu memberikan penulis kesehatan dan wawasan yang luas sehingga tercipta-lah skripsi ini. Alhamdulillah.. Wasyukurillah Ya Allah.. Syukron atas segala-Nya.

2. Papa Anshar Thaha, S.,E dan Mama Ir. Hj Ratna Sari Usman. Orang Tua ku tercinta dan tersayang yang selama ini selalu senantiasa mendo’akan, memberikan support dan semangat dalam suka maupun duka serta kasih sayang yang tak terhingga dari dulu hingga kini dan di masa-masa yang akan datang.

3. Rektor Universitas Bosowa Makassar Prof. Dr. Ir. HM. Saleh Pallu., M.Eng yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Bosowa Makassar.

4. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Bapak Arief Wicaksono S.Ip., M.A yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mendapatkan Ilmu serta memahami Ilmu Hubungan Internasional.

5. Ketua Jurusan sekaligus pembimbing I Bapak Zulkhair Burhan S.Ip., M.A yang telah sabar membimbing dan mengajar penulis selama dibangku kuliah serta dalam menyelasikan skripsi ini.

6. Ibu Beche Bt. Mamma selaku pembimbing II yang telah sabar juga membimbing dan memberikan arahan kepada penulis dalam memahami Ilmu Hubungan Internasional terlebih dalam menyelesaikan skripsi ini.

7.

(7)

8. Seluruh Dosen FISIP terkhusus dosen-dosen Hubungan Internasional yang tak bisa penulis sebutkan satupersatu. Yang telah memberikan penulis Ilmu dan senatiasa sabar dalam mengajarkan penulis selama 4tahun ini.

9. Teman-teman FISIP terkhusus jurusan Hubungan Internasional.

10. Pihak-pihak lain yang penulis tak dapat sebutkan satupersatu yang telah memberikan partisipasi selama penulisan skripsi ini.

Semoga Allah SWT senantiasa membalas segala jasa, bantuan, do’a, dukungan, kwbaikan yang telah diberikan kepada penulis. Aamiin Ya Rabbal Allamiin..

Makassar, 06 September 2019

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN ... i

HALAMAN PENERIMAAN ... ii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

BAB I – PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Batasan dan Rumusan Masalah. ...6

1. Batasan Masalah...6

2. Rumusan Masalah...6

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian...6

1. Tujuan Penelitian...6

2. Kegunaan Penelitian...6

D. Kerangka Konseptual...7

E. Metode Penelitian...10

1. Tipe Penelitian...10

2. Jenis dan Sumber Data...10

3. Teknik Pengumpulan Data...11

4. Teknik Analisis Data...11

F. Rancangan Sistematika Pembahasan...12

(9)

BAB II – TINJAUAN PUSTAKA...13

A. Konsep HAM...13

B. Konsep Normative Power ...21

BAB III – GAMBARAN UMUM...30

A. Gambaran Umum Siprus...30

A1. Letak Geografis Siprus...30

A2. Konflik Turki-Siprus...33

B. Turki dan Uni Eropa...37

B1. Hubungan Kerjasama Turki dan Uni Eropa...37

B2. Negosiasi Turki dengan Uni Eropa...39

B3. Hambatan Bergabungnya Turki ke Uni Eropa...42

BAB IV – PEMBAHASAN...47

A. Pengaruh Isu HAM di Siprus dalam Usulan Keanggotaan Turki di Uni Eropa ...47

A1. Pelanggaran HAM yang terjadi di Siprus...47

A2. Normative Power HAM Uni Eropa...50

BAB V – PENUTUP...61

A. Kesimpulan...61

B. Saran...63

DAFTAR PUSTAKA...viii

(10)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Integrasi yang terjadi di Eropa telah melalui proses yang cukup panjang dimulai dari pembentukan kerjasama Baja Eropa atau European Coal and Steel Community (ECSC) pada 1951 oleh enam negara, yaitu Perancis, Jerman Barat, Belanda, Belgia, Luksemburg, dan Italia, kemudian berkembang menjadi European Union (Uni Eropa) pada 1993 sampai saat ini (European Union, 2019). Proses Integrasi yang terjadi dikawasan Eropa dalam wujud Uni Eropa sering dijadikan model keberhasilan regionalisme.

Kesuksesan Uni Eropa dapat dilihat dalam membangun sebuah kerangka ekonomi yang integratif seperti terbentuknya pasar tunggal Eropa menuju kesatuan ekonomi dan Moneter yang membuat regional ini mampu secara bersamaan secara finansial menyaingi Amerika Serikat. Keberadaan Bank Sentral Eropa dan otoritas kelembagaan ekonomi lainnya juga turut membangun Eropa dalam mewujudkan konsep welfare state1 yang begitu termasyhur. Belum lagi, mengenai keamanan di Uni Eropa yang bisa dibilang cukup terjamin bagi Negara anggotanya karena adanya perjanjian kesepakatan dengan organisasi NATO yang disebut European Security and Defence Policy (ESDP).

1 Yang dimaksud dengan welfare state adalah sebuah sistem di mana pemerintah berusaha untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan warganya, terutama mereka yang membutuhkan keuangan

(11)

Uni Eropa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, dan menghormati HAM, yang tercantum dalam Treaty of European Union (TEU). Hak Asasi Manusia (HAM) terus dipromosikan secara aktif oleh Uni Eropa untuk melindungi sifat universal hak-hak dasar manusia, termasuk hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Selanjutnya, Uni Eropa percaya bahwa sistem politik yang paling sesuai diterapkan untuk menunjang atau mewujudkan hak asasi manusia adalah demokrasi.

Uni Eropa pada dasarnya merupakan regionalisme yang terbuka akan perluasan dan menerima anggota-anggota baru. Namun tidak serta merta anggota baru itu diterima secara tangan terbuka. Ada sebuah persyaratan utama sebuah negara mencalonkan diri sebagai anggota Uni Eropa, yang disebut sebagai Kriteria Kopenhagen. Persyaratan itu terdiri dari: (1) negara yang bersangkutan harus berada di Benua Eropa. (2) telah mencapai stabilitas lembaga menjamin demokrasi, supremasi hukum, Hak Asasi Manusia (HAM), dan menghormati dan perlindungan kaum minoritas, (3) (memiliki) ekonomi pasar yang berfungsi serta kapasitas untuk mengatasi tekanan kompetitif dan kekuatan pasar dalam Uni Eropa, dan (4) (memiliki) kemampuan untuk mengambil kewajiban keanggotaan, termasuk kepatuhan terhadap tujuan serikat politik, ekonomi dan moneter (Muhammad, 2017, 82).

(12)

Dalam perkembangannya, Uni Eropa menjadi salah satu organisasi yang benar-benar menaungi anggotanya, banyak keuntungan yang didapat negara-negara Eropa setelah bergabung. Hal ini kemudian yang membuat Turki ingin menjadi anggota Uni Eropa. Turki ingin begabung ke Uni Eropa karena Turki melihat jika Turki berhasil menjadi anggota Uni Eropa maka kekuatannya di tingkat regional menjadi semakin kuat dan juga akan memberikan banyak keuntungan di bidang ekonomi dan kemajuan negara akan cepat tercapai. Selain itu kekuatan militer yang sangat besar pula karena secara tidak langsung keanggotannya di Uni Eropa akan memperkuat posisi di NATO.

Sejarah hubungan antara Turki dengan Uni Eropa telah terjalin sejak kerjasama perdagangan yang dikenal dengan Ankara Agreement 1959 yang saat itu Uni Eropa masih berbentuk Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) (Sawaluddin, 2017, 50). Secara geografis Turki memiliki dua benua Asia dan Eropa. Turki memiliki 16%

bagian wilayah yang terletak di Eropa dan telah mengubah pemerintahannya menjadi Negara Republik yang menganut Ideologis Demokratis.

Turki sendiri telah mendaftarkan diri sebagai calon anggota Uni Eropa pada tahun 1987 dan dinyatakan sebagai Negara kandidat pada tahun 1999. Dan dimulai negosiasi aksesi pada tahun 2005 (Muhammad, 2017, 94). Akan tetapi hingga sekarang belum menemukan titik temu. Sampai sekarang Turki memang masih terus mengajukan proposal sebagai anggota Uni Eropa yang dalam jajak pendapat disetujui oleh mayoritas rakyat Turki. Anggota Uni Eropa menuntut Turki untuk melakukan

(13)

Adanya masalah instabilitas politik, dan pelanggaran HAM yang juga harus segera diselesaikan oleh pemerintahan Turki diantaranya yaitu masalah Kurdi, Armenia, dan Siprus terkait pelanggaran HAM.

Ada 3 kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Turki yang menghambat usulan keanggotaan Turki. Pertama yaitu Siprus. Lokasi Siprus yang strategis membuat Siprus menjadi ajang perebutan banyak kepentingan selama bertahun-tahun.

Siprus memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1960. Selama menjadi bagian dari Inggris, Siprus Yunani ingin menentukan nasibnya sendiri untuk menghubungkan diri dengan Yunani. Namun dapat pertentangan dari Siprus Turki yang akhirnya memicu konflik dari Siprus Yunani, sehingga Turki meresponnya dengan kekuatan militer pada 20 Juli 1974 (Turkish Republic of Northern Cyprus, 2011).

Permasalahan Siprus inilah yang kemudian menyebabkan proses aksesi Turki menjadi terhambat. Uni Eropa dan Turki memulai negosiasi keanggotaan pada 2005.

Namun, perundingan tersebut mengalami kebuntuan karena masalah HAM di Siprus. Di tengah upaya perundingan aksesi, pihak Uni Eropa meminta Turki untuk mengakui eksistensi negara Siprus yang dikuasai Yunani, serta membuka pelabuhan dan bandaranya untuk Yunani. Turki berkenan membuka bandara dan pelabuhannya, dengan syarat pembentukan Turkish Republic of Northern Cyprus.

(14)

Kemudian pelanggaran HAM di Armenia. Armenia menjadi incaran turki dan memasukannya dalam bagian turki pada tahun 1500-an. Turki dituduh oleh Armenia melakukan genosida terhadap 2 juta orang Armenia Barat di bawah kekuasaan Ottoman Turki dan diperkirakan 1,5 juta penduduk yang terbunuh pada tahun 1915 dan 1918 (ANI, 2019). Turki sendiri mengatakan korban meninggal selama kerusuhan sipil dan sebagai akibat dari kelaparan dan gempa susulan dari PD1 bukan karena genosida.

Terdapat pula konflik antara suku Kurdi dengan pemerintah Turki yang dapat dikatakan sebagai sebuah gerakan separatisme. Didalam konflik ini terjadi juga pelanggaran HAM. Suku Kurdi menuntut pemberian status otonomi di wilayah Kurdistan di Turki bagian tenggara. Pemerintah Turki telah menekan keinginan ini karena takut akan memecah belah negara. Laporan PBB terkait kejadian bulan Februari 2016 ini mengenai operasi pemerintah Turki di wilayah tenggara yang sebagian besar didiami warga Kurdi. Para penyelidik PBB menemukan sekitar 2.000 orang tewas dalam perang selama 18 bulan (Kompas, 2017). PBB menuduh pasukan Turki melakukan pelanggaran hak asasi manusia serius.

Beragamnya kasus kekerasan dan kurangnya penghormatan kepada kaum minoritas inilah yang menghambat proses keanggotaan Turki dan terus menjadi sorotan utama Uni Eropa agar Turki dapat lebih menegakkan demokrasi di negaranya supaya bisa bergabung ke dalam Uni Eropa.

(15)

B. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah

Beragamnya kasus pelanggaran HAM di Turki maka penulis hanya fokus kepada masalah pelanggaran HAM di Siprus, karena konfliknya masih berlangsung hingga sekarang yang membuat proses usulan keanggotaan Turki ke Uni Eropa masih terhambat.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan rumusan masalahnya sebagai berikut: “Mengapa isu HAM di Siprus mempengaruhi usulan keanggotaan Turki di Uni Eropa?”.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitiaan 1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui salah satu faktor yang mempengaruhi keanggotaan Turki di Uni Eropa.

2. Kegunaan Penelitian

Manfaat dari hasil penelitian ini adalah:

a. Memberikan informasi dan pengetahuan khususnya mahasiswa-mahasiswa yang ingin mengetahui mengenai Isu Ham yang terjadi di Turki yang mempengaruhi keanggotaan di Uni Eropa.

b. Menjadi referensi bagi para peneliti yang ingin mengkaji lebih lanjut terkait topic yang berhubungan dengan penelitian ini.

(16)

c. Menambah perbendaharaan referensi di Perpustakaan Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Bosowa Makassar.

d. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Bosowa Makassar.

D. Kerangka Konseptual 1. Konsep HAM

Hak Asasi Manusia (Human Rights) adalah hak-hak dasar yang dimiliki setiap orang sejak lahir tanpa memandang ras, jenis kelamin, kebangsaan, suku, agama,dll.

yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh setiap Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang. HAM itu sangat penting dan tidak dapat dicabut bahkan dirampas oleh siapapun dan dalam keadaan apapun HAM meliputi hak untuk hidup, hak atas kebebesan dan keamanan.

Terdapat beberapa pengertian yang pendekatannya yuridis. Louis Henkin, misalnya, mengartikan HAM sebagai: kebebasan-kebebasan (liberties), kekebalan- kekebalan (immunities) dan kepentingan-kepentingan atau keuntungan-keuntungan (benefits), yang berdasarkan norma-norma hukum yang ada (dapat diklaim) sebagai hak oleh individu atau kelompok kepada masyarakat dimana dia tinggal (Halili, 2015, 2). Tidak jauh berbeda dengan Henkin, Osita Eze menyatakan bahwa HAM merupakan tuntutan atau klaim yang dilakukan oleh individu atau kelompok kepada masyarakat atau negara, yang sebagiannya telah dilindungi dan dijamin oleh hukum, dan sebagiannya lagi masih menjadi aspirasi atau harapan di masa depan.

(17)

Banyaknya korban jiwa setelah Perang Duni II menyadarkan bahwa Negara- negara didunia untuk lebih memperhatikan aspek kemanusiaan termasuk hak keamanan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB atau UN) terbentuk sebagai organisasi internasional untuk mencegah konflik serupa . PBB didirikan pada tahun 1945 yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan HAM (United Nation, 2015). Hal itu di tandai dengan adanya pengakuan didalam Piagam PBB (United Nations Charter) akan eksistensi HAM yang merupakan Kovenan yang mengatur tentang Hak-hak Sipil, dan politik seseorang. Hak-hak ini telah diakui, namun dalam pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hak-hak orang lain dan keadaannya memungkinkan untuk melaksankan hak tersebut.

Secara internasional konsep mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) lahir pada 10 Desember 1948, ketika Majelis umum PBB memproklamirkan Deklarasi Universal HAM (UDHR) di Paris, yang dalam deklarasi tersebut terdapat 30 Hak Asasi Manusia yang tertulis dan disepakati (United Nation, 2017). Majelis umum PBB mengadopsi Deklarasi Universal HAM sebagai salah satu standar umum keberhasilan atas semua bangsa dan Negara.

Dengan demikian isu HAM yang terjadi di Turki pada konflik Siprus yang awalnya merupakan perebutan wilayah dan kudeta terhadap Presiden Siprus sehingga membuat turki meresponnya dengan kekuatan militer yang memicu konflik berkelanjutan yang terus menewaskan warga sipil.

(18)

2. Konsep Normative Power

Uni Eropa mempunyai kekuatan normatif (Normative Power) yang didasarkan pada distribusi norma-norma pembentukan Uni Eropa yang tertuang dalam perjanjian-perjanjian pembentukan Uni Eropa kepada dunia internasional (Whitman, 2011, 1). Kekuatan yang dibangun oleh Uni Eropa bergantung pada norma yang melekat pada dirinya dan diperjuangkan melalui interaksinya dengan entitas-entitas lain. Konsep kekuatan normatif ini pertama kali diperkenalkan oleh Ian Manners pada tahun 2002. Konsep ini dibuat oleh Manners sebagai landasan argumennya untuk menentang pendapat Bull yang memandang bahwa Uni Eropa merupakan suatu entitas yang tidak dapat dikategorikan sebagai aktor internasional.

Uni Eropa menganut beberapa Normative Value. Kekuatan normatif itu sendiri bertumpu pada norma, yang sumbernya berasal dari perjanjian-perjanjian yang membentuk Uni Eropa. Ada empat prinsip utama yang menjadi norma utama Uni Eropa yang berasal dari Treaty of the European Union (yang kemudian diamandemen dalam Treaty Amsterdam): (1) kebebasan; (2) demokrasi; (3) penghargaan atas HAM dan kebebasan individual; serta (4) aturan hukum (rule of law) (Umar, 2014, 26). Karena Uni Eropa sangat menjunjung tinggi dan menghargai HAM yang dijadikan sebagai nilai dasar dalam integrasi Uni Eropa maka sebab itu Turki hingga sampai saat ini belum diterima menjadi anggota Uni Eropa karena banyaknya kasus pelanggaran HAM.

(19)

Beberapa Negara anggota Uni Eropa menolak Usulan keanggotaan Turki di Uni Eropa diantaranya yaitu Jerman, Perancis, dan Yunani alasannya diantaranya mengenai HAM. Maka dari itu Uni Eropa khawatir jika turki diterima sebagai anggota di Uni Eropa maka akan timbul perpecahan internal didalam Uni Eropa itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan Uni Eropa merupkan organisasi regional yang mengintegrasikan kepentingan Negara-negara anggotanya.

E. Metode Penelitian 1. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatif, dimana penulis mencoba untuk menjelaskan dan mencari penyebab “mengapa” atau

“apa sebabnya” Turki belum diterima dalam Uni Eropa hingga sekarang.

2. Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini, jenis data dan sumber berasal dari data sekunder yaitu melalui beberapa literature berupa buku dan data hasil olahan yang diperoleh melalui hasil penelitian sebelumnya yang relevan berupa jurnal serta hasil generalisasi fakta- fakta yang tersebar.

(20)

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini yaitu : a. Studi Pustaka (library research), dimana peneliti akan mengumpulkan data

dengan cara menelusuri berbagai literature – buku, kamus atau ensiklopedia, jurnal, artikel, skripsi, dokumen publish pemerintah, maupun berita dari situs internet yang relevan dengan topik penelitian.

b. Wawancara (interview) disini peneliti akan melakukan wawancara secara tidak langsung (Inderect interview), dimana peneliti dan narasumber mengadakan kontak secara tidak langsung melalui surat elektronik (E-mail) atau perantara pihak ketiga. Adapun akan menjadi narasumber dalam penelitian ini adalah KIKE (Komunitas Indonesia untuk Kawasan Eropa).

4. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis data menggunakan teknik analisis kualitatif, yaitu analisis data yang ditekankan pada data-data non matematis dan ditekankan pada fakta-fakta yang ada berasal dari hasil wawancara serta kutipan dan sumber-sumber kepustakaan.

(21)

F. Rancangan Sistematika Pembahasan

Hasil penelitian ini secara keseluruhan akan disusun dalam karya tulis ilmiah berupa skripsi dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:

a. Bab I berisi pemaparan singkat mengenai masalah, temuan awal, urgensi, dan hipotesa yang tertuang di latar belakang, penjelasan masalah menggunakan kerangka konseptual, serta tujuan penelitian yang ingin dicapai dengan menggunakan metode penelitian yang sesuai.

b. Bab II yaitu tinjauan pustaka, berupa penelusuran pustaka yang akan menjelaskan tentang konsep HAM dan konsep Normative Power.

c. Bab III berisi gambaran umum mengenai objek penelitian, yaitu pembahasan tentang Isu HAM dan Usulan Keanggotaan Turki di Uni Eropa

d. Bab IV merupakan hasil analisis penelitian mengenai mengapa Isu HAM menjadi hambatan bagi usulan keanggotaan Turki di Uni Eropa.

e. Bab V yaitu penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran berdasarkan hasil penelitian.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep HAM

Konsep HAM dapat dikatakan sama dengan keberadaanya manusia. Sebab HAM merupakan sifat yang selalu melekat pada diri manusia, sehingga tidak dapat dipisahkan dari sejarah kehidupan manusia. HAM dimiliki oleh setiap manusia atau individu, bukan karena diberikan oleh Negara, hukum atau pemberian manusia lainnya. Oleh karena itu HAM sama sekali tidak bergantung pada pengakuan Negara, hukum, atau manusia lainnya. HAM dibutuhkan manusia untuk melindungi diri dari martabat kemanusiannya dan juga digunakan sebagai landasan moral dalam bergaul atau berhubungan dengan sesama manusia. Maka dari itu setiap individu wajib menghargai dan menghormati HAM milik orang lain demi eksistensi dan pengakuan HAM yang dimilikinya dalam rangka mengaplikasikan HAM.

Gagasan konsep Hak Asasi Manusia dari zaman kuno yaitu filsafat stoika lewat yurisprudensi hukum kodrati sangat berpengaruh dan berakar dari pemikiran Thomas Aquanis yang kemudian dikembangkan oleh Hugo de Groot seorang ahli hukum Belanda yang dinobatkan sebagai “Bapak Hukum Internasional” atau yang lebih dikenal Grotius mengembangkan lebih lanjut tentang teori “Hukum Kodrat Aquinos”. Dan perkembangan selanjutnya pasca Renasains, oleh John Locke dalam teori kontrak sosial miliknya mengajukan pemikiran tentang Konsep HAM sehingga gagasan Konsep HAM Locke melandasi munculnya revolusi yang terjadi di Inggris

(23)

John Locke menyatakan adanya hak kodrati (natural rights) yang melekat pada setiap diri manusia, yaitu hak atas hidup, hak kebebasan, dan hak milik. Hak kodrati tersebut terpisah dari pengakuan politis yang diberikan Negara kepada mereka dan terlebih dahulu ada dari Negara sebagai komunitas politik. Justru Negara yang harus yang harus melindungi dan melayani hak kodrati yang dimiliki setiap individu.

Jika sampai Negara mengabaikan hak-hak tersebut maka oleh John Locke diperbolehkan untuk menurunkan sang penguasa dan menggantinya dengan suatu pemerintahan yang bersedia untuk menghormati dan menjamin hak-hak tersebut (Widiada, 2017, 3).

Setelah Perang Dunia II banyaknya korban jiwa menyadarkan bahwa Negara- negara didunia untuk lebih memperhatikan aspek kemanusiaan termasuk hak keamanan. Presiden Amerika sendiri yakni Rooselvelt dalam pidatonya mengutarakan sebuah pernyataan tentang kebebasan yang menjadi salah satu pemicu pembentukan perlindungan HAM:

The first is freedom of speech and expression everywhere in the world. The second is freedom of every person to worship God in his own way everywhere in the world. The third is freedom from one which translated in the world terms means economic understandings which will secure to every nation a healthy peacetime life for its inhabitants everywhere in the world. The fourth is freedom of fear which translated in the world terms means a worldwide reduction of armaments to such a point and in such a thorough fashion that no

(24)

nation will be in a position to commit an act of physical aggression against any neighbor anywehere in the world (Americanrethoric, 2018).

Yang kemudian kutipan diatas dikenal dengan istilah “The Four Freedom”

yang mencakupi freedom of speech, freedom of worship, freedom from want, dan freedom from fear.

Dalam serial buku Jack Donelly yang edisi ketiga, yang berjudul Universal Human Rights in Theory and Practice, meyakini bahwa HAM merupakan sifat yang universal dengan menekankan pada dua sifat HAM. Yang pertama setara (equal) dan kedua tidak dapat dicabut (inalienable). Dapat dilihat dari kutipan tersebut:

Human rights are equal rights: one either is or not a human being, and therefore has the same human rightas everyone else (or none at all). They are also inalienable rights: one cannot stop being human, no matter how one behaves nor how barbarously is treated (komnasham.perpustakaan).

Pada Kutipan diatas, Donelley menegaskan bahwa jika seseorang diidentifikasi sebagai manusia, maka hak-hak yang dimilikinya adalah sama dengan manusia lainnya. Usai terjadinya Perang Dunia II, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB atau UN) terbentuk sebagai organisasi internasional untuk mencegah konflik serupa.

Sehingga babak baru perkembangan HAM muncul.

(25)

PBB didirikan pada tahun 1945 yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan HAM (United Nation, 2015). Hal itu di tandai dengan adanya pengakuan didalam Piagam PBB (United Nations Charter) akan eksistensi HAM yang merupakan Kovenan yang mengatur tentang Hak-hak Sipil, dan politik seseorang. Hak-hak ini telah diakui, namun dalam pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hak-hak orang lain dan keadaannya memungkinkan untuk melaksankan hak tersebut.

Secara internasional konsep mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) lahir pada 10 Desember 1948, ketika Majelis umum PBB memproklamirkan Deklarasi Universal HAM (UDHR) di Paris, yang dalam deklarasi tersebut terdapat 30 Pasal Hak Asasi Manusia yang tertulis dan disepakati (United Nation, 2017). Majelis umum PBB mengadopsi Deklarasi Universal HAM sebagai salah satu standar umum keberhasilan atas semua bangsa dan Negara.

Dalam perkembangannya, Konsepsi HAM mengalami perkembangan yang disesuaikan dengan situasi sosial-ekonomi politik dunia. Dan dikenal ada empat generasi HAM (Winarno, 2014, 221). Generasi pertama memfokuskan pada

“kebebasan” dibidang hak sipil dan politik (hak sipol). Hal ini disebabkian oleh realitas yang terjadi pasca Perang Dunia kedua dan keinginan Negara maju untuk membangun tertib politik dan hukum.

(26)

Generasi pertama ini menitik bebankan pada usaha-usaha menciptakan atau memperjuangkan kebebasan berbicara dan berkumpul atau biasa disebut (freedom of speech and assembly), dan hak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan dari negaranya, secara langsung maupun melalui wakil-wakil yang dipilh secara langsung.

Ini termasuk dalam UDHR pasal 21 (Winarno,2014, 222).

Generasi kedua adalah mencakup “persamaan” dibidang hak ekonomi, politik, sosial, dan, budaya (eksob) (widiada, 2017, 19). HAM generasi kedua ini bisa dipahami karena lanskap ekonomi politik dan paradigma besar yang berkembang pada waktu itu, terutama di Negara-negara Dunia Ketiga. Isu pembangunan masih kuat menjadi wacan pasca-perang Dunia Kedua, tapi persoalan yang dihadapi kemudian yaitu pembangunan banyak menghasilkan ketimpangan.

Kemiskinan tetap menjadi persoalan, tetapi paradigma pembangunan yang berorientasi pertumbuhan telah mencapai ketimpangan yang parah.maka hak-hak yang termasuk generasi kedua antara lain yaitu Hak atas pekerjaan dan upayah yang layak, hak atas jaminan sosial, hak atas pendidikan, hak atas kesehatan, hak atas pangan, hak atas perumahan, hak atas tanah, hak atas lingkungan yang sehat. Hak-hak ini disebut sebagai “hak-hak positif” yang berarti membutuhkan peran aktif Negara dalam pemenuhannya.

(27)

Dalam generasi ketiga menurut Jimly Asshiddiqie, menyebutkan ada tiga tahapan dalam perkembangan HAM, yaitu:

Tahapan I dimulai dengan kuatnya pengaruh wacana pembangunan dalam

HAM sehingga Majelis Umum PBB melakukan penandatanganan naskah Deklarasi Universal HAM. Deklarasi ini diterima oleh PBB melalui resolusi 217 A (III) pada tanggal 10 desember 1986 yang kemudian dikenal sebagai konsepsi HAM generasi Ketiga tahapan pertama. Piagam PBB ini terdiri dari 30 pasal berisikan ide-ide perlindungan HAM yang sebelumnya telah tercantum dalam naskah bersejarah di beberapa Negara seperti Piagam Magna Carta (1215) di Inggris, Penandatangan Bill of Rights (1689) di Inggris, Declaration of Independence (1787) di Amerika Serikat, Declaration of Rights of Man and of the Citizens (1789) di Perancis.

Revolusi Perancis inilah yang menjadi penyebab dirumuskan deklarasi UDHR serta berhasil menetapkan HAM. Dalam konsepsi generasi ketiga tahapan I ini elemen dasar konsepsi HAM mencakup soal prinsip integrasi manusia, kebutuhan dasar manusia, dan prinsip kebebasan sipil dan politik.

Tahapan II ini muncul dua kovenan penting dalam meperluas HAM di dunia,

yaitu penandatanganan International Covenant on Civil and Political Right (ICCPR) dimana Kovenan Internasional berupa Hak Sipil dan Politik atau disebut kovenan SIPOL. Dan International Covenant on Economic, Social, and Cultural Development (ICESCR) dimana kovenan internasional berupa Hak Ekonomi , Sosial, Budaya aau disebut EKOSOB. Dua kovenan tersebut ditetapkan dan dinyatakan terbuka untuk

(28)

ditandatangani dan diratifikasi. Disetujui oleh resolusi MUPBB 2200 A (XXI) pada tanggal 16 desember 1966.

Tahapan III ini muncul konsepsi baru HAM pada tahun 1986, yaitu

mencakup pengertian mengenai hak untuk pembangunan atau rights to development.

Dalam HAM ini mencakup persamaan hak atau kesempatan untuk maju yang berlaku bagi segala bangsa, termasuk hak setiap orang yang hidup sebagai bagian dari bangsa tersebut. Hak yang dimaksud itu meliputi hak untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan dan hak untuk menikmati hasil-hasil pembangunan, hasil-hasil dari perkembangan ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, distribusi pendapatan, kesempatan kerja dan lain-lain.

Dalam tahapan I,II, dan III mempunyai karakteristik dalam konteks hubungan kekuasaan yang bersifat vertical, antara rakyat dan pemerintahan dalam suatu Negara.

Setiap pelanggaran selalu melibatkan peran pemerintah yang biasa dikategorikan sebagai crime by government, termasuk ke dalam pengertian ini adalah political crime (kejahatan politik) sebagai lawan dari crime against government (kejahatan terhadap kekuasaan resmi (Widiada, 2017,21).

HAM generasi keempat menurut Jimly Asshiddiqie dipengaruhi oleh empat factor yang mepengaruhi lahirnya HAM di generasi keempat. Pertama Konglomerasi raksasa dalam bentuk multinasional atau disebut sebagai transnasional corporations.

Kedua, fenomena Nations without states. Ketiga global citizen yang berimplikasi lahirnya kelas sosial tersendiri. Lesly Sklair sebagai elite-elite transnasional (winarno,

(29)

Secara Hukum, Negara merupakan pihak yang berkewajiban untuk melindungi (Protect), menjamin (ensure) dan memenuhi (fulfill) HAM. Karena, Negara merupakan pihak yang memiliki kekuasaan (power). Sehingga Negara dituntut untuk tidak menyalahgunakan kekuasannya (abuse of power). Negara tidak saja mencakup pemerintahan (eksekutif), tetapi juga legislative dan yudikatif.

Termasuk didalamnya adalah seluruh aparatur Negara/aparat penegak hukum (Andrey, 2016, 59). Kewajiban Negara menyangkut HAM secara internasional diatur dalam berbagai instrument hukum HAM internasional, anatra lain, seperti dalam UDHR, ICCCPR, dan ICESRC yang telah disebutkan sebelumnya, Konvensi Anti Penyiksaan (Convention Againts Tortue/CAT). Adapun di tingkat nasional, kewajiban Negara menyangkut HAM diatur dalam peraturan perundang-undangan nasional, misalnya dalam konstitusi dan undang-undang.

(30)

B. Konsep Normative Power

Norma mempengaruhi perilaku dengan mengubah motif dan keyakinan aktor, yaitu pemahaman aktor tentang kepentingan mereka. Oleh karena itu norma mengahsilkan tidak hanya logika yang menjelaskan konsekuensi apa yang akan terjadi jika ia dilanggar, tetapi logika perilaku mengenai apa yang layak/pantas.

Pembangunan norma dalam lembaga diharapkan untuk mensosialisasikan aktor, baik yang ada dilembaga maupun orang-orang atau Negara-negara yang ingin bergabung, dan mengahsilkan kepekaan terhadap diri aktor-aktor ini tentang apa yang harus mereka lakukan, dan, pada gilirannya, mempengaruhi bagaimana mereka berperilaku (walter, 2015, 263).

Jika norma yang mendasari kepentingan (misalnya, norma bahwa kekayaan itu adalah baik) maka norma itu berbeda dengan norma yang secara langsung terkait dengan kebijakan luar negeri (misalnya, norma bahwa kedaulatan harus dihormati), maka norma dan kepentingan pada tingkat kebijakan luar negeri bisa diperlakukan dengan sebagai factor independen. Norma membatasi Negara dari melakukan apa yang dianggap utilitarian tidak masuk akal.

Runtuhnya Uni Soviet menyebabkan sejumlah negara di Eropa Timur bergulat demi kedaulatan nasional; Perang Saudara di Yugoslavia meletus; Amerika Serikat memasuki Perang Teluk; dan Jerman Barat dan Timur dipersatukan kembali. Di tengah bencana Yugoslavia, penandatanganan Perjanjian Uni Eropa pada tahun 1992 mengisyaratkan pandangan yang lebih koheren untuk Kebijakan Umum

(31)

CFSP), yang mengikat anggotanya dengan kebijakan umum atas masalah-masalah termasuk bantuan kemanusiaan dan pemeliharaan perdamaian, di samping kebijakan lain seperti perjanjian perdagangan dan kerja sama, pencegahan konflik dan sanksi ekonomi, sampai pada titik di mana ia merupakan satu-satunya kekuatan supranasional sejati dalam politik dunia (Daniel, 2011).

Ian Manners telah lama berpendapat bahwa Uni Eropa adalah kekuatan normatif. Dia mendefinisikan ini sebagai cara mengubah norma, standar, dan resep politik dunia dari harapan terbatas negara-sentrisitas, yang secara umum diakui, dalam sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa, agar dapat diterapkan secara universal. Ini kemudian memungkinkan untuk analisis apakah Uni Eropa adalah kekuatan normatif. Konsep kekuatan normative di Uni Eropa yang dikembangkan oleh Ian Manner, meliputi upaya penyebaran norma inti dan minor dengan menggunakan indikator enam bentuk penyebaran yaitu contagion, informational, procedural, transference, overt dan cultural filter.

Peran internasional Uni Eropa dapat diilustrasikan sebagai kekuatan normatif yang mengacu pada kemampuan Uni Eropa untuk menyebarkan norma dan standar integrasi Eropa ke dalam masyarakat internasional. Dasar normatif dan standar Uni Eropa memiliki 5 prinsip-prinsip seperti perdamaian, kebebasan, demokrasi, supremasi hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Semua lima norma ini dinyatakan dalam Perjanjian Uni Eropa (TEU), kebijakan kerjasama pembangunan Komunitas (TEC art. 177), dan ketentuan umum ketenagakerjaan asing

(32)

Normatif dan nilai didorong Uni Eropa pasti dapat didasarkan pada perkembangan di bidang kerjasama kebijakan luar negeri dan penekanan yang menyertainya pada pentingnya nilai dan norma untuk melakukan hubungan eksternal oleh lingkaran kebijakan Uni Eropa. Diwujudkan oleh perjanjian mendasar Uni Eropa, norma dan prinsip terdiri dari lapisan dalam identitas Uni Eropa dan bentuk perannya di arena internasional sebagai aktor kebijakan luar negeri. Sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 2 Perjanjian Lisbon (juga Pasal 6 Perjanjian tentang Uni Eropa (TEU)):

The Union is founded on the values of respect for human dignity, free- dom, democracy, equality, the rule of law and respect for human rights, including the rights of persons belonging to minorities. These values are common to the Member States in a society in which pluralism, non- discrimination, tolerance, justice, solidarity and equality between women and men prevail (Whitman, 2011, 2)

Dapat dilihat dari kutipan diatas Uni Eropa sangat menjunjung tinggi nilai HAM, kebebasan, demokrasi, dll. Teori normatif tertarik pada tujuan Uni Eropa untuk menetapkan standar bagi yang lain melalui cara menyebarkan norma daripada menjadi kuat dengan sumber militer atau ekonomi.

(33)

Normatif Uni Eropa tidak tergantung pada diskusi antara kekuatan lunak versus keras atau kekuatan sipil versus militer. Konsep ini telah dikembangkan sebagai tanggapan terhadap tidak adanya teori normatif dan dengan tujuan untuk melampaui dikotomi kekuatan sipil versus militer yang merupakan produk dari politik Perang Dingin. Namun demikian, Nomratif Power Uni Eropa kadang-kadang mudah berbaur dengan kekuatan sipil yang berfokus pada devaluasi kekuatan militer oleh negara-negara Eropa dan pentingnya kekuatan ekonomi dan non-militer lainnya yang dimiliki Uni E.

Menurut Manners, kekuatan sipil dapat dicirikan oleh tiga dimensi utama yaitu pertama kerjasama diplomatik untuk menyelesaikan masalah internasional (multilateralisme) kedua Sentralitas kekuatan ekonomi (non-militer) dan ketiga lembaga supranasional yang mengikat secara hukum (hukum internasional) (Whitman, 2011, 4). Sebelum menjadi Normatif Power, Uni Eropa merupakan Kekuatan sipil. Pada awal 1970-an, diskusi pertama tentang peran potensial Komunitas Eropa muncul. Kontribusi yang signifikan untuk diskusi ini dibuat oleh François Duchêne, yang merumuskan konsep kekuatan sipil Eropa. Konsep ini menyarankan bahwa Komunitas Eropa berkomitmen untuk menggunakan metode sipil daripada militer untuk memberikan pengaruh pada negara lain (Savorskaya, 2015, 68).

(34)

Pada waktu bersamaan, kebijakan yang didasarkan pada prinsip-prinsip tindakan dan tanggung jawab kolektif, kesamaan sosial, toleransi, dan keadilan ditujukan tidak hanya untuk mencapai hasil tertentu tetapi juga pada pembentukan lingkungan internasional yang menguntungkan Penafsiran 'kekuasaan' ini dianggap sangat progresif pada saat itu. Namun, pada periode itu, politik dunia sebagian besar dipengaruhi oleh hubungan antara dua negara adidaya, sehingga Uni Eropa tidak dapat mengklaim posisi panutan bagi negara-negara lain dalam perspektif jangka pendek.

Kemudian pada tahun 2002, sebagai tanggapan atas kritik terhadap konsep François Duchêne tentang kekuatan sipil, ilmuwan politik Denmark Ian Manners menyarankan menggunakan konsep kekuatan normatif, yang menafsirkan kekuatan dari Uni Eropa sebagai kemampuan untuk mengembangkan gagasan norma dalam hubungan internasional. Manners menekankan bahwa perubahan yang ditopang oleh politik global sejak 1990-an menyerukan revisi konsep sipil dan kekuatan militer, karena prinsip-prinsip dasar yang menguraikan gagasan-gagasan ini menjadi usang dengan berakhirnya Perang Dingin. Oleh karena itu, konsep kekuatan normatif yang dirumuskan dengan paradigma liberal-idealistik ditopang oleh penolakan terhadap doktrin pendekatan tradisional totaliter dan berpusat pada negara, oleh karena itu kekuatan Uni Eropa tidak dapat direduksi menjadi elemen ekonomi atau militer, karena - ditekan melalui ide, pendapat, dan hati nurani.

(35)

Pada tahun 2001, Ian Manners mensistematisasikan visinya tentang kekuatan normatif dan mengidentifikasi tiga pendekatan: dari perspektif pendekatan normatif hingga hubungan internasional (teori internasional normatif), sebagai bentuk kekuatan aktor, dan, dari perspektif identitas internasionalnya (Savorskaya, 2015,69).

Pendekatan pertama menunjukkan adanya pendekatan normatif untuk hubungan internasional.

Pendekatan kedua yaitu sebagai kekuatan aktor. Mempertimbangkan kekuatan normatif sebagai kekuatan aktor dalam politik dunia. Namun, penting untuk diingat bahwa, dalam tipe idealnya, itu tidak dimanifestasikan melalui rangsangan materi atau paksaan fisik, tetapi lebih dinyatakan dalam kemampuan untuk melakukan pembenaran normatif. Bentuk kekuasaan ini agak dekat dengan kekuatan sosial, di mana 'kekuasaan' atas seseorang berada di urutan kedua dari kemampuan untuk memengaruhi perilaku individu. Hal ini tercermin dalam karakteristik kunci dari kekuatan 'normatif' sebagai kemampuan aktor untuk merumuskan dan menerapkan prinsip-prinsip normatif dalam arena internasional dengan cara yang berkelanjutan secara normatif, yaitu menjelaskan secara normatif dan dapat dibenarkan untuk orang lain dan berkelanjutan untuk generasi yang akan datang.

Pendekatan ketiga didasarkan pada pemahaman tentang 'kekuatan normatif' sebagai karakteristik aktor dalam politik dunia dari perspektif identitas internasional.

Dengan kata lain, hal ini menyangkut keputusan yang telah dilakukan seorang aktor untuk mendekati tipe ideal kekuatan normatif. Diasumsikan bahwa aktor seperti itu

(36)

kosmopolitik yang lebih adil. Tesis ini sangat penting untuk konsep kekuatan normatif, karena setiap negara kuat dapat membentuk gagasan tentang normal dalam hubungan internasional. Namun, jika tidak bergantung pada prinsip keberlanjutan normatif, itu tidak dapat dianggap sebagai kekuatan normatif, karena ia menggunakan pendekatan kekaisaran dalam hubungannya dengan dunia luar (Sovarskaya, 2015,70).

Ada tiga hal yang Uni Eropa perhatikan sehingga membawa prinsip-prinsip umum negara-negara anggota di bawah kerangka kerja yang sama dan memfasilitasi komitmen untuk prinsip-prinsip dan norma-norma di tingkat supranasional dan nasional. Prinsip-prinsip dan nilai-nilai umum ini membentuk Uni Eropa sebagai entitas politik dalam berbagai cara dan dalam banyak bidang kebijakan yang berbeda di mana Uni Eropa menempatkan norma-norma perdamaian, gagasan tentang kebebasan, demokrasi, supremasi hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia di satu pusat hubungannya dengan seluruh dunia. Uni Eropa membangun kekuatannya dan legitimasi yang lebih besar di atas norma-norma dasar ini.

Hal pertama, peran logika instrumental murni dalam penggunaan norma tidak dimungkinkan. Komponen utama kekuatan normatif Uni Eropa adalah bahwa Uni Eropa sebagai hal yang berbeda dengan bentuk-bentuk politik yang sudah ada sebelumnya, dan bahwa perbedaan khusus ini membuatnya untuk bertindak secara normatif (Whitman, 2011, 5). Demokrasi, supremasi hukum, keadilan sosial dan hak asasi manusia dalam kebijakan luar negerinya, preferensi Uni Eropa untuk diplomasi dan multilateralisme terdiri dari dimensi substansial yayasan normatif Uni Eropa.

(37)

Saluran-saluran tertentu memulai difusi norma-norma dalam hubungan internasional Uni tergantung pada hubungan antara Uni Eropa dan pihak ketiga.

Hal kedua, prinsip-prinsip normatif ini tidak eksklusif Eropa, tetapi lebih mencerminkan praktik universal dan khususnya pasca-Perang Dingin dari komunitas internasional. Prinsip-prinsip universal sebenarnya diinternalisasi dan diubah menjadi prinsip panduan oleh Uni Eropa. Oleh karena itu, disetiap prinsip umum diberi tanda/bacaan Eropa sebelum disalurkan ke hubungan dengan pihak ketiga. prinsip- prinsip tersebut tidak sepenuhnya asli dan diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) jauh sebelumnya, namun demikian, Uni Eropa telah menginternalisasi dan memasukkan prinsip-prinsip ini dalam perjanjiannya dan mulai menerapkannya dalam hubungan eksternal (Whitman, 2011, 6).

Hal ketiga, argumen kekuasaan normatif juga sangat terkait dengan keberadaan / keaktifan dan kemampuan Uni Eropa dalam politik dunia. Kemampuan untuk mengubah normalitas dalam politik dunia tidak hanya memiliki implikasi ideasional tetapi juga praktis. Oleh karena itu, untuk menjadi normatif berarti mengubah norma, standar, dan resep politik dunia, yang dibatasi oleh pusat negara (Whitman, 2011, 6). Dalam pengertian ini, Sopan santun membedakan dua aspek kekuatan normatif: menjadi normatif dan bertindak secara normatif. Yang pertama adalah karena sifat Uni Eropa sebagai akibat dari pemerintahan hibridanya yang merangkul pemerintahan antar pemerintah dan transnasional. Yang terakhir menyebutkan berperilaku secara etis yang baik.

(38)

Prinsip-prinsip di Uni Eropa dan hubungannya dengan seluruh dunia mengacu pada prinsip-prinsip Piagam PBB, serta Helsinki Final Act, Piagam Paris, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan Perjanjian PBB, dan Dewan Eropa / Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia. Dalam istilah praktis prinsip-prinsip tersebut dapat dibedakan menjadi prinsip utama perdamaian berkelanjutan; prinsip-prinsip inti kebebasan, demokrasi, hak asasi manusia dan supremasi hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Perjanjian tentang Uni Eropa, setelah Perjanjian Lisbon, serta tujuan dan tugas kesetaraan, kesunyian sosial, pembangunan berkelanjutan dan pemerintahan yang baik sebagaimana diatur dalam Pasal 2 dan 21 dari Perjanjian tentang Uni Eropa dan Pasal 8-11 dari Perjanjian tentang Fungsi dari Uni Eropa, setelah Perjanjian Lisbon.

Koherensi dan konsistensi dalam promosi internasional prinsip-prinsip ini dimaksudkan berasal dari peran Perwakilan Tinggi Uni untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Catherine Ashton, yang ditetapkan dalam Perjanjian Lisbon. Kekuatan normatif terutama harus dilihat sebagai sah dalam prinsip-prinsip yang dipromosikan. Jika justifikasi normatif ingin meyakinkan atau menarik, maka prinsip-prinsip yang dipromosikan harus dilihat sebagai yang sah, serta dipromosikan secara koheren dan konsisten. Legitimasi prinsip-prinsip dalam politik dunia dapat berasal dari konvensi, perjanjian atau perjanjian internasional yang telah ditetapkan sebelumnya, terutama jika ini penting dalam sistem PBB.

(39)

BAB III

GAMBARAN UMUM

A. Gambaran Umum Siprus

A1. Letak Geografis Siprus

Siprus merupakan pulau terbesar ketiga dikepulauan mediterania dengan luas wilayah sekitar 9.250 kilometer persegi, terletak 40 mil disebelah selatan Turki, 77 mil sebelah barat Syria, 300 mil sebelah selatan Republik Mesir, dan 650 mil sebelah tenggara Yunani. Tepatnya Siprus berada diantara pertemuan tiga benua yaitu Eropa, Asia dan Afrika. Hal inilah yang menambah pentingnya perkembangan pulau tersebut dan memang sejak dari dulu Siprus merupakan sebuah negara yang penuh dengan pergolakan dan peperangan.

Populasi penduduk di Siprus berjumlah sekitar 771.657 jiwa dengan ibukota negaranya yaitu Nikosia. Kota yang paling banyak populasinya yaitu Nikosia dengan populasi sekitar 269.200 jiwa, kemudian Limassol dengan populasi 191.500, Lamaca dengan populasi 110.900, Pafos dengan populasi 57.400 dan Ammochostos dengan populasi 34.300. Dari jumlah populasi tersebut 78%

merupakan komunitas Siprus Yunani dan 30% Siprus Turki.

Pulau Siprus terletak di persimpangan antara Timur dan Barat. Karena lokasinya yang strategis, ia diperintah oleh banyak peradaban sepanjang sejarah, yaitu Asyur, Mesir, Persia, Romawi, Arab, Ksatria Templar, Lusignan, Venesia, Ottoman dan Inggris.

(40)

Sejak awal, Siprus memiliki sejarah yang penting, sebagian besar akibat posisi geografisnya. Pertama kalinya dalam sejarah peradaban di milenium ke-7 SM selama periode Neolitikum. Periode ini berlangsung selama tiga milenium, diikuti oleh periode Chalcolithic. Zaman Perunggu yang berlangsung hingga 1100 SM. Selama fase terakhir periode ini, pada abad ke-13 SM, Yunani Mycenean datang untuk pertama kalinya ke Siprus sebagai pedagang dan imigran. Mereka menetap dan mereka memperkenalkan bahasa dan budaya Yunani yang keduanya telah dipertahankan hingga sekarang ini. Pada akhir abad ke-4 SM Siprus menjadi bagian dari Kerajaan Alexander Agung.

Selama abad pertama SM dibawah kekuasaan Kerajaan Alexander Agung Siprus menjadi provinsi Kekaisaran Romawi Besar dan tetap seperti itu hingga pada abad ke-4 awal periode Bizantium, yang berlangsung hingga abad ke-12 M ketika, selama Perang Salib, Raja Richard Coeur de Lion, menaklukkan pulau itu. Namun segera, Siprus berada di bawah pemerintahan Kerajaan Lusignan, yang tetap dan memerintah Siprus hingga abad ke-15.

Pada 1489 Siprus menjadi bagian dari Republik Venesia dan pada 1571 dikuasai oleh Ottoman. Siprus tetap berada di bawah kekuasaan Ottoman bersama dengan daratan Yunani dan pulau-pulau Yunani lainnya selama berabad- abad. Namun, setelah pemberontakan Yunani 1821 dan perjuangan pembebasan.

(41)

Siprus juga berpartisipasi dalam Perang Kemerdekaan Yunani dan sejumlah besar Siprus bertempur dan jatuh selama perang ini, khususnya dalam pertempuran Athena pada tahun 1828. Pada awal Perang Kemerdekaan Yunani sejumlah Uskup di Siprus digantung oleh Otoritas pendudukan Turki, dituduh mendukung revolusi. Pertanyaan tentang penggabungan Siprus ingin menjadi bagian dari Negara Yunani pada tahun 1830, tetapi itu tidak menjadi mungkin karena Siprus tetap di bawah pemerintahan Ottoman sampai 1878.

Pada tahun 1878 kebijakan ekspansionis Rusia Tsar menyebabkan Turki menyerahkan Siprus diambil alih oleh Inggris yang berjanji untuk membantu Turki jika terjadi serangan oleh Rusia terhadap provinsi-provinsi perbatasan tertentu. Perjanjian Turco-Inggris disimpulkan dengan mengabaikan keinginan dan kepentingan rakyat Siprus, yang menuntut penyatuan pulau mereka sebagai bagian dari Yunani. Pecahnya Perang Dunia Pertama, Siprus dianeksasi ke Kerajaan Inggris, dan pada tahun 1925 secara resmi dinyatakan sebagai Koloni Mahkota Britania. Pada saat itu Turki, di bawah Perjanjian Lausanne 1923, Pasal 16, menolak semua klaim ke Siprus dan dengan Pasal 27 Perjanjian yang sama melepaskan diri dari pelaksanaan kekuasaan atau yurisdiksi dalam masalah politik, legislatif, atau administrasi atas masalah tersebut.

(42)

Ketika Siprus dinyatakan sebagai Koloni Mahkota Inggris, populasi Turki di pulau siprus serta keturunan anggota pasukan Turki dan ekspatriat dari Turki yang menetap di Siprus diundang untuk memilih antara pemulangan ke Turki atau pemukiman permanen di Siprus, dan beberapa dari mereka memilih untuk tetap di Siprus. Pada saat itu tidak pernah diharapkan, bahwa minoritas Turki akan menjadi penengah nasib Negara. Pada tahun 1878 ketika Siprus diserahkan ke Inggris, hingga April 1955, perjuangan untuk pembebasan dari pemerintahan Inggris dimulai oleh Siprus Yunani, orang-orang Turki yang tinggal di Siprus berbaur dengan orang-orang Yunani yang tinggal di Siprus dan hidup dalam damai dan harmoni dengan mereka hingga Siprus memperoleh kemerdekannya pada tahun 1960.

A2. Konflik Turki-Siprus

Letak geografis Siprus yang strategis membuat Siprus menjadi ajang perebutan banyak kepentingan selama bertahun-tahun. Konflik Siprus disebabkan adanya perbedaan etnis. Sejarah merupakan faktor utama yang melatar belakangi penyebab perbedaan kedua etnis dalam pulau yang berada di laut Mediterenia ini.

Saling klaim akan satu-satunya penguasa juga menjadi alasan perang tiada henti pada masa perang dingin. Sikap etnis Yunani-Siprus dan Turki-Siprus yang tidak saling menghormati satu sama lain, sikap merasa etnisnya paling superpower. Perilaku juga menjadi tolak ukur konflik ini, perilaku kedua etnis saling melecehkan, dengan dukungan negara tetangganya Turki dan Yunani, perilaku kedua etnis saling menghabisi dan melarang menempati pemerintahan yang de-facto jika bukan dari

(43)

etnis yang sama, kebijakan ini dilakukan semasa masih dalam kesatuan negara Siprus, dan belum terpecahnya Siprus Utara.

Siprus tidak dimiliki oleh Yunani maupun Turki. Siprus merupakan Negara yang merdeka pada tahun 1960. Namun Siprus Yunani sendiri dari telah lama ingin menentukan nasib sendiri untuk bergabung ke Yunani. Sehingga pada tahun 1974 junta militer Yunani menggerakkan kudeta di Siprus untuk menumbangkan Presiden Siprus, Archbishop Makarios seorang Siprus Yunani. Hal tersebut memberikan Turki kesempatan untuk menyerang Siprus. Pada 20 Juli 1974, Siprus Yunani menuduh Turki datang dengan damai untuk melindungi Siprus Turki dan memulihkan tatanan konstitusional, namun 40.000 tentara Turki mendarat di pulau itu dibantu oleh pasukan udara dan angkatan laut Turki. Sehingga manuver ini melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, hak asasi manusia mendasar dari ribuan Siprus Yunani, dan semua prinsip yang mengatur hubungan internasional. Sejak Turki menyerang Siprus Yunani pada 1974, Siprus terbagi menjadi 2 bagian yaitu Siprus Yunani dan Siprus Turki yang dipisahkan dan dijaga oleh PBB.

Bagian pertama invasi, pada 20 Juli, diikuti oleh pembersihan etnis Turki Siprus dari daerah yang dikuasai Yunani dengan segera. Pada tanggal 14 Agustus, setelah berakhirnya pembicaraan di Jenewa antara empat kekuatan penjamin yang dirancang untuk mencari penyelesaian ke putaran pertempuran sebelumnya, Turki menyerang lagi dan mendorong ke dalam dari tempat-tempat yang telah didirikannya, menyebabkan perpindahan orang yang lebih besar, keduanya orang

(44)

utara (menuju daerah pendudukan) dan akhirnya menempati hampir 37% dari pulau itu. Bagi orang Siprus Yunani, peristiwa tahun 1974 menjelang invasi Turki, merupakan "trauma pilihan" mereka sendiri dengan cara yang sama peristiwa antara tahun 1964 dan 1974 berarti bagi penduduk Turki Turki.

Korban pada orang-orang Siprus sangat sengit. 4000 tentara Yunani dan Siprus terbunuh serta 2000 tentara Turki. Tentara Turki melakukan pemerkosaan dan membunuh wanita dan anak-anak. Lebih dari 1500 orang saat ini masih dianggap "menghilang" oleh keluarga mereka. Hampir tidak ada Siprus Turki tetap di selatan Siprus sementara kurang dari 10.000 Siprus Yunani tetap di utara - banyak dari mereka kemudian akan diusir dan dipaksa meninggalkan rumah dan bangunan milik mereka. Kesepakatan selanjutnya memungkinkan pertukaran populasi yang diawasi PBB yang selanjutnya mengurangi komunitas campuran di setiap negara bagian. Saat ini, kurang dari 300 orang Siprus Yunani masih berada di daerah yang diduduki Turki di Siprus, terutama di Semenanjung Karpa yang terpencil. Angka-angka jumlah Siprus Turki di selatan - Republik Siprus yang diakui secara internasional, tidak tersedia tetapi diperkirakan kurang dari 1000 orang memilih untuk tetap tinggal.

Sebagai reaksi dari gerakan ini, militer Turki memasuki wilayah utara Siprus dan menguasai 37% dari keseluruhan wilayah Siprus (bagian utara). Selain itu, Turki juga melakukan pengusiran terhadap warga Siprus Yunani sehingga mereka harus meninggalkan semua properti miliknya (tanah dan bangunan). Gerakan yang

(45)

Northern Cyprus (TRNC) yang hingga saat ini hanya memperoleh pengakuan dari Turki. Namun PBB mengakuinya sebagai wilayah Republik Siprus yang saat ini berada di bawah kependudukan Turki.

Negara Eropa sangat mengutuk invasi militer dan menolak penjelasan Turki. Dalam Resolusi 353 yang diadopsi pada hari invasi, PBB menyerukan untuk menghormati kedaulatan, kemerdekaan dan integritas wilayah Siprus dan menuntut segera mengakhiri intervensi militer asing di Republik Siprus. Namun Turki hanya mengabaikan seruan PBB tersebut dan melancarkan serangan kedua pada Agustus 1974 dan berhasil merebut lebih dari sepertiga wilayah Republik Siprus (Kemlu.go.id, 2018). Ribuan nyawa Siprus Yunani hilang dan sebagian harus kehilangan tempat tinggal.

(46)

B. Turki dan Uni Eropa

B1. Hubungan Kerjasam Turki dan Uni Eropa

Setelah berakhirnya Perang Dunia II yang merugikan banyak pihak dari banyak sisi, Negara-negara Eropa Barat mencoba membangun kembali seluruh kota baik dari sektor kemanusiaan dan infrastruktur. Keinginan untuk hidup damai dan lebih mengedepankan kemajuan negara melalui kerjasama lebih diutamakan agar dapat menciptakan kekuatan baru menyaingi negara-negara kawasan lain. Hal ini bisa diterapkan apabila negara-negara yang terlibat dalam perang bisa bekerjasama dalam hal pembangunan ekonomi sebagai awal dari kemajuan kawasan Eropa Barat.

Dimulai dari perjanjian kerjasama ekspor-impor batubara yang melibatkan dua aktor utama Perang Dunia II yaitu Jerman dan Prancis, negara-negara Eropa Barat mulai menunjukkan perkembangan yang besar dalam bidang kerjasama lainnya hingga saat ini. Sejak berakhirnya Perang Dingin, pertumbuhan organisasi regional telah menjadi salah satu karakteristik dari sistem internasional saat ini. Sepanjang periode ini, regionalisme telah mengambil beberapa bentuk dimulai dari asosiasi kecil yang hanya mencakup beberapa aktor dan berfokus pada satu masalah, hingga bentuk continental-unions yang mengatasi beberapa masalah yang dihadapi bersama, dari isu pertahanan wilayah hingga ketahanan pangan.

Uni Eropa dapat dikatakan sebagai organisasi regional pertama yang berkembang di dunia, dimulai ketika dampak perpecahan dan kemiskinan pasca Perang Dunia II yang dirasakan di kawasan Eropa, mendorong beberapa negara

(47)

Negeri Perancis membuat kerjasama produksi baja dan batubara antara Perancis dan Jerman yang kemudian diproyeksikan terbuka untuk negara-negara Eropa lainnya (Muhammad, 2017:33). Rencana ini bertujuan mengembalikan perekonomian negara- negara di Eropa sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya perang kembali.

Hubungan Uni Eropa dengan Turki berawal dari kerjasama dalam bidang perdagangan yang dikenal dengan Ankara Agreement pada tahun 1959. Pada tahun 1996 Uni Eropa memberikan Customs Union kepada Turki hal ini menandai bahwa kedudukan Turki menjadi lebih tinggi daripada integrasi ekonomi dan pada tahun 1999 Dewan Eropa memberikan status negara kandidat untuk Turki. Saat ini Turki masih menjadi kandidat anggota Uni Eropa sejak dibuka pada 2005 karena Turki memiliki tantangan dalam menjadi anggota Uni Eropa. Ruang lingkup dalam pabean antara Uni Eropa dengan Turki meliputi perdagangan produk manufaktur antara Turki dan Uni Eropa, dan juga memerlukan penyelarasan oleh Turki dengan kebijakan Uni Eropa, seperti peraturan teknis produk, kompetisi, dan Hukum Kekayaan Intelektual.

Perdagangan antara Uni Eropa dan Turki di bidang pertanian dan produk baja khusus diatur oleh perjanjian yang terpisah. Dari kerjasama tersebut secara signifikan telah meningkatkan volume perdagangan antara Turki dan negara-negara anggota Uni Eropa. Saat ini, lebih dari separuh perdagangan Turki berasal dari Uni Eropa. Pangsa ekspor ke Uni Eropa sedikit meningkat dari 56,0% di tahun 2006 menjadi 56,4%

pada tahun 2007. Impor dari Uni Eropa sebagai bagian dari total impor menurun, dari

(48)

Energy, yang hampir secara eksklusif Turki diimpor dari negara-negara non-Uni Eropa (Perhoc, 2018).

Industri impor utama Turki dari Uni Eropa adalah mesin, produk otomotif, bahan kimia, besi dan baja. Dan impor utama pertanian dari Uni Eropa adalah sereal.

Sedangkan impor Uni Eropa dari Turki adalah tekstil dan kain, mesin, dan peralatan transportasi. Investasi langsung asing (FDI) Uni Eropa di Turki telah mencapai hampir € 9 miliar di tahun 2007. Mereka melayani sekitar dua pertiga dari total aliran FDI di Turki dan jumlah mereka menjadi 3,5% dari PDB Turki. Namun, pada kuartal pertama 2008, pangsa FDI mengalir dari Uni Eropa jatuh lebih jauh sampai 53%

(European Parliamentary Research Service, 2018).

B2. Negosiasi Turki dengan Uni Eropa

Negosiasi keanggotaan Turki untuk menjadi anggota tetap Uni Eropa dimulai pada tahun 2005. Pada negosiasi Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa bab yang pertama dinegosiasikan adalah Bab ke 25 yang berisi tentang ilmu pengetahuan dan penelitian. Pada November 2006 Bab 25 ditutup untuk sementara waktu dikarenakan kebijakan Turki dalam pembatasan pergerakan barang, termasuk pembatasan sarana transportasi yang tidak sesuai dengan Additional Protocol yang telah ditandatangi oleh Turki dalam Ankara Agreement . Akhirnya pada Desember 2006 Dewan Eropa memutuskan untuk menunda negosisasi delapan bab, Bab tersebut antara lain sebagai berikut (European Commission,2019):

(49)

1. Chapter 1 (Free Movement of goods)

2. Chapter 3 (Right of establishment and freedom to provide services)

3. Chapter 9 (Financial Services)

4. Chapter 11 (Agriculture and rural development) 5. Chapter 13 (Fisheries)

6. Chapter 14 (Tranport policy) 7. Chapter 29 (Customs Union) 8. Chapter 30 (External relations)

Proses negosisasi Turki untuk menjadi anggota tetap Uni Eropa tidak berarti dibatalkan dengan keputusan yang keluar pada Desember 2006 namun negosiasi tersebut kembali berjalan pada Januari tahun 2007. Pada tahun 2007

ada lima bab yang kembali di buka untuk dinegosiasikan, antara lain:

1. Chapter 20 (Enterprise and Industrial policy) 2. Chapter 18 (Statistic)

3. Chapter 32 (Financial Control)

4. Chapter 21 (Trans-European network)

5. Chapter 28 (Consumer and health protection)

(50)

Kemudian dilanjutkan empat bab untuk dibuka pada tahun 2008, antara lain:

1. Chapter 6 (Company law)

2. Chapter 7 (Intellectual property right) 3. Chapter 4 (Free movement of capital) 4. Chapter 10 (Information Society and media)

Selanjutnya pembukaan bab-bab untuk dinegosiasikan antara lain:

1. Chapter 16 (Taxation) dan Chapter 27 (Enviroment) pada tahun 2009

2. Chapter 12 (Food safety, veterinary and phytosanitary policy) pada tahun 2010

3. Chapter 22 (Regional policy and coordination of structural instrument) pada Tahun 2013

Pembukaan bab baru terus dilakukan Turki untuk memenuhi syarat- syarat untuk menjadi anggota tetap di Uni Eropa dengan jalur negosiasi. Hingga Akhirnya pada Desember 2015, 28 negara anggota Uni Eropa yang di wakili oleh Menteri Luar Negeri menyetujui untuk pembukaan bab baru yang berfokus tentang kebijakan ekonomi dan moneter.

Pada tanggal 30 Juni 2016, diadakan pertemuan konferensi aksesi yang kedua belas dengan Turki pada tingkat menteri di Brussels. Konferensi tersebut membahas tentang pembukaan bab 33 tentang ketentuan keuangan dan anggaran. Bab ini mengatur tentang mengenai sumber keuangan yang diperlukan untuk pendanaan anggaran Uni Eropa. Sampai saat ini Turki telah menyelesaikan 16 bab negosisi dari

(51)

B3. Hambatan Bergabungnya Turki ke Uni Eropa

Turki sudah melamar sebagai anggota sejak 1987, serta dinyatakan sebagai Negara kandidat pada tahun 1999. Dan negosiasi Turki mulai dibuka pada tahun 2005. Saat Uni Eropa mulai ‘menerima’ keberadaan Turki dengan menimbang- nimbang atribut-atribut nasional yang dimiliki Turki, terjadilah konflik antara Siprus Yunani dengan SiprusTurki di tahun 20 Juli 1974 seketika Turki melancarkan invasi terhadap Pulau Siprus. Pulau Siprus menjadi pusat percampuran budaya dan demografi penduduk antara orang-orang Yunani dengan Turki.

Mengingat posisinya yang strategis di Laut Tengah, terjadi sebuah pertempuran kecil antara Pasukan Yunani dan Siprus Yunani dengan Siprus Turki dan Militer Turki. Meskipun konflik sebenarnya telah terjadi jauh sebelum itu, tepatnya sejak tahun 1960 Siprus merdeka dari Inggris. Siprus Yunani dan Siprus Turki telah bertentangan dengan satu sama lain, yang berpuncak pada kedatangan Pasukan Penjaga Perdamaian PBB pada tahun 1964.

Akhirnya satu hambatan bagi Turki ditanggapi oleh Uni Eropa sebagai salah satu ketidak siapan Turki dalam menghadapi sengketa antar negara Uni Eropa.

Mengingat Yunani telah menjadi anggota lama Uni Eropa sebelum Turki menyatakan ketertarikannya untuk bergabung dengan Uni Eropa. Upaya Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa juga harus terganjal oleh penolakan dari sejumlah Negara Anggota. Sebagian besar penolakan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa perluasan yang mencakup Turki dapat menjadi bahaya yang berakibat fatal pada hilangnya

(52)

antara Turki dan Eropa merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada terhambatnya aksesi Turki.

Kondisi politik dan ekonomi Turki juga selalu menjadi alasan kuat Uni Eropa untuk menolak keanggotaan Turki. Ekonomi Turki yang jauh berbeda dengan negara- negara Uni Eropa lainnya dikhawatirkan akan menjadi suatu masalah bagi Uni Eropa dan menjadi beban bagi Uni Eropa di masa yang akan datang. Jika Turki diterima sebagai negara anggota Uni Eropa maka Turki berhak mendapatkan bantuan perekonomian dari negara-negara Uni Eropa melalui kebijakan regionalnya.

Selain itu, kondisi demokrasi Turki juga menjadi sorotan Uni Eropa, Turki dianggap belum mampu untuk menegakan demokratisasi di negaranya, hal ini ditandai dengan masih banyaknya pelanggaran HAM yang sering terjadi di negara tersebut. Kekuatan militer yang sangat dominan terhadap sipil di Turki dan metode militerisme yang kerap digunakan untuk menangani berbagai masalah yang terjadi di negara tersebut menjadi tolak ukur lemahnya demokrasi di Turki.

Di sisi lain, Turki memiliki beberapa ancaman antara lain, Turki memiliki populasi sebesar 74 Juta jiwa, hal ini akan membahayakan dan memberi ancaman bagi negara Uni Eropa yang memiliki populasi besar seperti Jerman dengan 80 Juta jiwa. Karena dalam Uni Eropa setiap hasil poling di tentukan berdasarkan jumlah populasi penduduk. Sehingga jika Turki bergabung dengan Uni Eropa akan menjadi halangan bagi negara besar dengan populasi yang kalah banyak dari Turki sebut saja Perancis sebesar (61 Juta penduduk) terancam.

(53)

Beberapa Negara anggota Uni Eropa menolak Usulan keanggotaan Turki di Uni Eropa diantaranya yaitu Jerman, Perancis, dan Yunani dengan beberapa alasan seperti :

a. Demokrasi adalah identitas utama bagi Uni Eropa. Negara yang menolak Turki menjadi anggota Uni Eropa memandang bahwa demokrasi di Turki berada dalam krisis karena bebarapa kebijakan pemerintah yang dianggap melanggar prinsip demokrasi Uni Eropa, seperti saat Turki melakukan penangkapan terhadap demonstran.

Stabilitas Demokrasi Turki semakin diragukan oleh Jerman sejak Erdogan menjadi presiden karena beberapa kebijakanya semakin otoriter.

b. HAM dan Perlindungan Minoritas penerapan HAM di Turki semakin maju karena sistem Sekuler radikal telah surut yang membuat hak hak masyarakat dalam beragama terpenuhi, namun Jerman masih menemukan kekuarangan dalam penegakan HAM di Turki yang sulit ditoleransi. Enam orang aktivis HAM ditangkap oleh Turki karena dianggap terlibat dengan kelompok teroris penyebab kudeta tanpa penjelasan yang lebih detail terkait penangkapan tersebut. Dari keenam aktivis yang ditahan, empat dibebaskan dan dua ditahan, salah satu yang ditahan adalah konsultan HAM warga Jerman Peter Steudtner. Kanselir Angela Markel menyatakan penangkapan tersebut

Referensi

Dokumen terkait

Para perawat dan pegawai di berbagai tempat dimana penulis pernah bertugas selama menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik ini, serta berbagai pihak yang tidak

Pakistan-Malaysia FTA which is reflected by import tariff decrease for RBD Olein from Malaysia will depress Malaysian RBD Olein price in Pakistan and then increase

Untuk mewakili atau bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa sebagai.. (jabatan / kekuasaan pemberi kuasa, sebutkan pula dasar kekuatan dari pemberi kuasa, misalnya

Hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah terbangunnya sebuah website e-commerce pada Toko Sepatu Rangkayo Casual Sneakers untuk mendukung proses bisnis

Rapat Pengurus Nasional diselenggarakan untuk membahas dan mengkoordinir pelaksanaan berbagai keputusan organisasi yang bersifat khusus dihadiri oleh Dewan Pengurus Nasional,

digunakan oleh guru adalah PBL dan iquiry. Pemilihan model pembelajaran ini ditentukan berdasarkan materi yang sedang diajarkan, serta kondisi dan kemampuan

Ir.Agus Jamal, M.Eng., selaku Dosen Pembimbing II sekaligus selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang dengan sabar

Dokumen RIP-UNDIP ini memuat enam bab yaitu: (i) Bab I, Pendahuluan, yang menjelaskan peran dan fungsi rencana induk penelitian, (ii) Bab II, Landasan