FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI KUALITAS HASIL PEMERIKSAAN APARAT DALAM
PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH (STUDI PADA INSPEKTORAT KABUPATEN SEMARANG)
Oleh :
HERVINA ISNAYULIA KHARISMAWATI NIM : 232011142
KERTAS KERJA
Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari Persyaratan-persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI : AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA 2015
iv
v
vi
HALAMAN MOTTO
“Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil; kita baru yakin kalau kita telah melakukannya dengan baik.”
(Evelyn Underhill)
I know where I’m going and I know the truth, and I don’t have to be what you want me to be. I’m free to be what I want.
(Muhammad Ali)
“Adapun orang – orang yang berjihad (mempersungguh) di dalam urusanKu maka akan Aku (Allah) tunjukkan jalanKu pada mereka, sesungguhnya Allah niscaya beserta orang – orang yang berbuat baik
(QS Al- Ankabut 69)
vii ABSTRACT
Government implementation which is clean, transparent and accountable become society’s demand. Nowadays good governance can be implemented by the existence of Inspectorate’s roles as the government’s organization supervisor. Inspectorate is assumed to have few roles as supervisor because deviation of government’s authority power and asset happens in the implementation of Semarang Regency Government.This research is aimed to learn the effect of independence, competence, integrity, and objectivity on inspection result quality. The other purpose is to determine one of the four variable which has the most dominant effect on inspection results quality. This research qualitative research. The data used is primary data. Respondents in this research are employees Semarang Regency Inspectorate . The sampling technique used is census 45 respondents . Data methods of collecting use a questionnaire survey. Analysis technique used is multiple regression analysis with SPSS versi 19.0.This research shows that competence has significant effects on quality of Inspection result quality, while independence, integrity and objectivity does not have significant effect on inspection results qualty. Simultaneously the result of this research shows that independence, integrity, objectivity and competence have effect significantly to inspection result quality. The dominant varibel that influence inspection result quality is competence variabel increasing the quality inspection result how need increasing competence. Implication for this research is improving the inspection result quality to do the improvement competence of Auditor APIP Semarang Regency, for example by providing education and training suggestions for futher research should add variables such as accountability, ethics of auditors and professional skepticism because to specification kind and quantity of evidence for the Government’s internal audit activities.
KeyWords: . The Quality of The Internal Inspection, , Independence, Integrity, Objectivity, Competence, Supervision Areas.
viii SARIPATI
Penyelenggaraan pemerintah yang bersih, transparan dan akuntabel adalah tuntutan masyarakat saat ini. Terwujudnya tata kelola yang baik dengan adanya peran Inspektorat sebagai pengawas penyelenggaraan pemerintah. Inspektorat dinilai kurang berperan sebagai pengawas, karena penyimpangan wewenang, tenaga dan barang milik negara terjadi dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Semarang.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh independensi, kompetensi, integritas, dan objektivitas terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Tujuan selanjutnya untuk mengetahui dari ke empat variabel manakah yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap kualitas hasil pemeriksaan.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data yang digunakan merupakan data primer. Responden dalam penelitian ini adalah para pegawai Inspektorat Kabupaten Semarang. Teknik pemilihan sampel adalah sensus dengan 45 responden. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah survey dengan menggunakan kuesioner.
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan, sedangkan independensi, integritas, dan objektivitas tidak mempengaruhi kualitas hasil pemeriksaan. Secara simultan hasil penelitian menunjukkan bahwa independensi, integritas, objektivitas dan kompetensi bersama – sama berpengaruh signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Variabel yang dominan mempengaruhi kualitas hasil pemeriksaan adalah variabel kompetensi.
Implikasi penelitian ini adalah meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan perlu dilakukan peningkatan kompetensi auditor APIP Kabupaten Semarang, contohnya dengan memberikan pendidikan dan diklat berkelanjutan Saran untuk penelitian selanjutnya sebaiknya menambah variabel – variabel seperti akuntanbilitas dan etika auditor, skeptisme professional karena dapat menentukan jenis dan jumlah bukti untuk kegiatan audit internal pemerintah.
Kata Kunci : Kualitas Pemeriksaan Internal, Independensi, Integritas, Objektivitas, Kompetensi, Pengawasan Daerah.
ix KATA PENGANTAR
Hasil pemeriksaan yang berkualitas adalah memberikan informasi tentang adanya penyimpangan, kelemahan dalam pengendalian intern dari ketentuan peraturan. Kualitas hasil pemeriksaan pada hakikatnya dipengaruhi oleh beberapa faktor auditor internal Pemerintah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi persepsi kualitas hasil pemeriksaan dalam aparat dalam pengawasan keuangan daerah pada Inspektorat Kabupaten Semarang.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna. Namun demikian penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak – pihak terkait seperti Inspektur, Kepala Daerah dan Pemerintahan . Akhir kata, semoga penelitian ini dapat digunakan dengan sebaik – baiknya dan dapat menjadi sumber referensi bagi pihak – pihak yang membutuhkan.
Salatiga, 3 Agustus 2015
Penulis
x UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulillahi Rabbil’ Alamin, puji syukur atas berkat rahmat, taufik dan Hidayah Allah SWT, sehingga skripsi yang berjudul “Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Kualitas Hasil Pemeriksaan Aparat Dalam Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Pada Inspektorat Kabupaten Semarang)” dapat terselesaikan dengan baik. Terima kasih kepada semua berkah, kesabaran dan karunia-Nya yang telah Allah berikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
Skripsi ini tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya bantuan dari pihak-pihak yang terkait.Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini ;
Bapak Prof. Christantus Dwiatmadja., SE, ME., Ph. D selaku Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.
Usil Sis Sucahyo, S.E,MBA, selaku Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Ibu Elisabeth Penti Kurniawati, SE., M.AK selaku dosen pembimbing yang telah memberikan saran, bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
Ibu Birgitta Dian Saraswati,S.E.,M.Si sebagai dosen wali yang telah memberikan bantuan dan saran kepada penulis selama masa perkuliahan.
Seluruh staf pengajar, dan staf tata usaha yang telah membantu selama masa perkuliahan penulis serta penyusunan skripsi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
xi Keluarga penulis, Mama Rusaliana Poedji Setyowati,S.Sos dan Papa Suhirna, S.Sos yang selalu sabar dan selalu mendoakan kelancaran dalam penulisan skripsi ini, kakak tercinta Herlina Ika Kharismawati, S.E yang selalu memberi dukungan dan membantu dalam pembuatan skripsi ini, saudara dekat penulis Mas Eko, Safa, Aurel, Tika, Gibran keponakan tersayang yang selalu mendoakan kelancaran skripsi ini, dan juga keluarga besar Hartono dan Karjowitono yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan doa dan dukungan baik secara moril maupun materiil.
Bapak Choliq, Tante Rina, Tante Murni, Tante Artis dan staf sekertariat dan seluruh Aparat Inspektorat Kabupaten Semarang yang telah membantu selama pengumpulan data penelitian.
Seluruh sahabat selama perkuliahan hingga selesainya skripsi ini,Jati Maryani, Mega Sekar L, Anis Yulianti, Erma, Rosa, Tia Anom Riska IE, Tjeng Sheila, Alfa Dharani dan adik kembarnya Omega Carana, Prantika, serta teman-teman lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu, yang telah mendoakan dan selalu memberi semangat serta dukungan.
Salatiga,3 Agustus 2015
Hervina Isnayulia Kharismawati
xii DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Surat Pernyataan Keaslian Karya Tulis Skripsi ... ii
Halaman Persetujuan / Pengesahan ... iii
Halaman Motto ... iv
Abstract ... v
Saripati ... vii
Kata Pengantar ... ix
Ucapan Terima Kasih ... x
Daftar Isi ... xii
Daftar Tabel ... xiv
Daftar Gambar... xiv
Daftar Lampiran ... xv
PENDAHULUAN ... 1
Masalah dan Persoalan Penelitian ... 6
Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
Kerangka Teoritis dan Perumusan Hipotesis ... 8
Pemeriksaan Internal ... 8
Auditor Internal Pemerintah ... 9
Kualitas Hasil Pemeriksaan ... 10
Kualitas Hasil Pemeriksaan Internal ... 11
Independensi ... 12
Integritas ... 13
Objektivitas ... 13
Kompetensi ... 14
Pengawasan Daerah ... 15
Penalaran Konsep ... 17
xiii
Pengaruh Independensi pada Kualitas Hasil Pemeriksaan ... 19
Pengaruh Integritas pada Kualitas Hasil Pemeriksaan ... 20
Pengaruh Objektivitas pada Kualitas Hasil Pemeriksaan ... 21
Pengaruh Kompetensi pada Kualitas Hasil Pemeriksaan ... 22
METODE PENELITIAN ... 23
Sumber Data Penelitian ... 23
Popoulasi dan Sampel ... 23
Variabel Penelitian ... 24
Teknik Analisis ... 26
Statistik Deskriptif ... 26
Uji Kualitas Data ... 26
Uji Validitas ... 26
Uji Reliabilitas ... 27
Uji Asumsi Klasik ... 27
Uji Normalitas ... 27
Uji Multikolinearitas ... 27
Uji Heterokedastisitas ... 28
Analisis Regresi Berganda ... 28
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 30
Diskripsi Obyek Penelitian ... 30
Deskriptif Data ... 31
Statistik Deskriptif ... 32
Uji Kualitas Data ... 33
Uji Asumsi Klasik ... 35
Uji Normalitas ... 35
Uji Multikolinearitas ... 36
Uji Heterokedastisitas ... 36
Analisis Data ... 37
xiv
Analisis Regresi Linear Berganda ... 37
Uji F (Simultan) ... 38
Uji T (Parsial) ... 39
Pembahasan ... 40
SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN ... 40
Kesimpulan ... 43
Keterbatasan ... 44
Saran ... 45
DAFTAR PUSTAKA ... 45
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 50
DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Indikator variabel Penelitian ... 25
Tabel 1.2 Operasional Variabel Penelitian ... 29
Tabel 2 Penyebaran Kuesioner ... 30
Tabel 3 Gambaran Responden ... 31
Tabel 4 Statistik Deskriptif ... 32
Tabel 5 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 33
Tabel 6 Uji Normalitas Data ... 35
Tabel 7 Uji Multikolinearitas Data ... 36
Tabel 8 Uji Heterokedastisitas ... 36
Tabel 9 Regresi antara Kualitas Hasil Pemeriksaan dengan Independensi, Integritas, Objektivitas, dan Kompetensi ... 37
Tabel 10 Uji F Simultan ... 38
Tabel 11 Nilai T Regresi ... 39
Tabel 12 Hasil Penelitian ... 40
xv DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Kerangka Pemikiran ... 22
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil Rekapan Jawaban Kuesioner Lampiran 2 Hasil Rekapan Jawaban Kuesioner Lampiran 3 Hasil Rekapan Jawaban Kuesioner Lampiran 4 Surat Pernyataan Penelitian
Lampiran 5 Daftar Pertanyaan Kuesioner Lampiran 6 Tabel Distribusi Jawaban
Lampiran 7 Struktur Organisasi Pemerintah Daerah
1 Pendahuluan
Penyelenggaraan Pemerintahan yang bersih, transparan dan akuntabel adalah tuntutan masyarakat saat ini. Dengan hal itu tata kelola yang baik atau good governance sekarang ini menjadi tujuan utama Pemerintah. Good governance atau tata kelola pemerintahan yang baik dapat tercipta dengan tiga aspek menurut Mardiasmo (2005) yaitu, pengawasan, pengendalian dan pemeriksaan. Ketiga aspek ini apabila ditingkatkan secara maksimal maka kelonggaran penyimpangan tidak akan terjadi serta, pertanggungjawaban atas penggunaan dana untuk pelaksanaan pemerintah akan terjamin merata dan sesuai ketentuan yang berlaku secara efisien,efektif dan ekonomis.
Pasal 218 Undang – undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah meliputi: (a) pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah; dan (b) pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Dalam hal ini pemerintah menunjukkan bahwa pengawasan bukan hanya fokus pada peraturan namun pada pelaksanaan dengan mengawasi program dan tujuan Pemerintah. Selanjutnya, Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 (pasal 24) pengawasan terhadap urusan pemerintahan di daerah dilaksanakan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) sesuai dengan fungsi dan kewenangannya.Aparat Pengawas Intern Pemerintah adalah Inspektorat Jenderal Departemen, Unit Pengawasan Lembaga Pemerintah Non Departemen, Inspektorat Provinsi, dan Inspektorat Kabupaten/Kota. Dengan dua undang – undang tersebut dapat terlihat bahwa pengawasan salah satu hal yang ditekankan, pengawasan yang dilakukan APIP terhadap seluruh pelaksanaan pemerintah diharapkan maksimal sehingga mencapai tata kelola yang baik dalam pemerintahan. Dengan hal ini Pemerintah melakukan pengawasan dari segala sudut sektor publik agar tidak adanya kelonggaran penyimpangan di pemerintahan.
2 Peran dan fungsi Inspektorat secara umum diatur dalam pasal 4 Peraturan Menteri Dalam Negeri No.64 Tahun 2007. Pasal tersebut menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas pengawasan urusan pemerintahan, Inspektorat mempunyai fungsi sebagai berikut : pertama adalah perencanaan program pengawasan; kedua adalah perumusan kebijakan dan fasilitas pengawasan; dan ketiga adalah pemeriksaan, pengusutan, pengujian, dan penilaian tugas pengawasan. Salah satunya adalah Inspektorat daerah melakukan audit atau pemeriksaaan terhadap pemerintah daerah.
Menurut Falah (2005) Inspektorat daerah mempunyai tugas menyelenggarakan kegiatan pengawasan umum pemerintah daerah dan tugas lain yang diberikan kepala daerah. Menurut Subhan (2012) APIP dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, selain memberikan rekomendasi juga melaporkan hasil kerjanya dalam bentuk laporan hasil pemeriksaan berdasarkan standar audit aparat pengawasan intern pemerintahan.
Oleh karena itu perlunya peningkatan kualitas hasil audit aparat agar menghasilkan rekomendasi dan laporan hasil kerja yang berkualitas. Karena kualitas auditor APIP, terlihat dari laporan hasil pemeriksaan. Menurut Ahmad, Sriyunianti, Fauzi dan Septriani (2011) dalam laporan hasil pemeriksaan akan diketahui apa yang menjadi permasalahan pada setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Semarang karena ditemukan fenomena penyimpangan dalam proses penyelenggaraan pemerintahan di desa, penyimpangan dalam penggunaan wewenang, tenaga, dan perlengkapan milik Negara, pengalokasian dana untuk kegiatan pemerintah dan pembangunan desa yang kurang tepat sasaran.
Meskipun ada penyimpangan tersebut, namun Kabupaten Semarang meraih opini WTP dari BPK selama empat tahun berturut- turut. Opini tersebut dikatakan wajar karena pemeriksaan BPK tidak bertujuan secara khusus untuk mendeteksi adanya korupsi.
Pemeriksaan oleh BPK terdiri dari pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Pemeriksaan keuangan dimaksudkan untuk memberikan opini apakah laporan keuangan yang disajikan secara wajar sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. Pemeriksaan kinerja dimaksudkan untuk menilai
3 apakah pelaksanaan suatu program atau kegiatan entitas ekonomis, efisien, dan efektif.
Sedangkan pemeriksaaan dengan tujuan tertentu atau PDTT adalah pemeriksaan selain dua jenis tersebut, termasuk disini adalah pemeriksaan investigatif atau koruspsi pemeriksaan lingkungan atau pengendalian intern dan lain – lain. Opini WTP diberikan dengan kriteria: sistem pengendalian internal memadai dan tidak ada salah saji yang material atas pos – pos laporan keuangan (http://medan.bpk.go.id diakses tanggal 9 Maret 2015). Salah satu kasus peyimpangan dana aspirasi bantuan bersumber APBD I di Kabupaten Semarang (http://suaramerdeka.com diakses tanggal 13 November 2014).
Kasus berikutnya adalah mantan Kades Bringin melakukan penyimpangan wewenang
dengan dana bantuan program desa vokasi sebesar
Rp103.000.000,00.(http://infokorupsi.com/ diakses tanggal 13 November 2014).
Berdasarkan kasus - kasus tersebut kualitas hasil pemeriksaan Inspektorat Kabupaten Semarang dipertanyakan oleh publik, karena terjadinya penyimpangan wewenang, tenaga, dan perlengkapan milik negara. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintah. Hasil pemeriksaan yang berkualitas mempertimbangkan resiko penyimpangan yang lebih akurat. Peningkatan kualitas hasil pemeriksaan menghasilkan pengawasan yang baik bagi Inspektorat. Dengan meningkatkan kualitas audit, tentunya akan meningkatkan pengawasan dalam melaksanakan pengelolaan keuangan negara, sehingga kasus penyimpangan seperti hal ini tidak terulang lagi.
Penelitian ini menggunakan variabel yang sesuai prinsip – prinsip perilaku APIP (Pusdiklatwas BPKP 2008:21) yaitu integritas, objektivitas, kerahasiaan, dan kompetensi. Dalam penelitian ini tidak menggunakan prinsip kerahasiaan, karena kerahasiaan akan dilakukan auditor internal apabila auditor sudah menguasai ketiga prinsip tersebut. Prinsip kerahasiaan diganti independen. Penelitian ini juga mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas dan Sugeng (2012) tentang independensi, objektivitas, integritas, kompetensi terhadap kualitas hasil audit.
4 Faktor pertama, independensi adalah etika profesi yang paling utama yang harus diterapkan oleh auditor. Independensi yang harus dimiliki menurut penampilan (appearance) ataupun kenyataan (in fact). Pusdiklatwas BPKP (2008) menyatakan bahwa tuntutan auditor yang independen sangat diperlukan untuk menghasilkan hasil pemeriksaan yang berkualitas. Independen dengan klien ataupun dengan pihak – pihak yang terkait dengan pemeriksaan.
Independensi, integritas, objektivitas, dan kompetensi menjadi prinsip utama sebagai auditor internal pemerintah. Seorang auditor internal yang berkompetensi namun objektivitasnya rendah dan integritas rendah maka kualitas hasil pemeriksaan aparat sebagai auditor rendah, keempat variabel ini yang dimiliki oleh auditor agar kualitas hasil pemeriksaan tinggi. Kualitas hasil pemeriksaan yang tinggi dapat dipercaya menjadi dasar pertimbangan keputusan. Faktor kedua, integritas adalah salah satu prinsip utama yang harus dimiliki oleh auditor terutama auditor internal pemerintah, karena hasil pengawasan dari auditor yang menjunjung tinggi sifat integritas akan dipercaya oleh pengguna hasil audit (dalam hal ini pemegang kebijakan). Selain harus menjunjung tinggi sifat integritas, seorang auditor akan diragukan hasil pemeriksaannya apabila masih memihak dan mengedepankan sifat internalnya, oleh karena itu seorang auditor harus se-objektif mungkin dalam menjalankan tugasnya menjadi seorang auditor. Faktor ketiga ialah objektivitas, dimana seorang auditor tidak akan terpengaruh dengan fasilitas yang disediakan auditee bahkan juga menyebabkan auditor berlaku jujur dalam mengungkapkan fakta. Auditor terbebas dari pandangan subyektif orang lai, sehingga mampu melakukan pemeriksaan dan melaporkan sesuai dengan fakta. Kompetensi adalah faktor keempat yang wajib dimiliki oleh seorang auditor internal pemerintah, kemampuan pengetahuan tentang audit serta berpengalaman secara teknis membantu meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan Inspektorat, karena memiliki auditor yang berkompeten di bidang audit.
Penelitian Sukriah et al. (2009) menjelaskan bahwa independensi, integritas, objektivitas, dan kompetensi adalah faktor yang mempengaruhi secara signifikan
5 kualitas hasil pemeriksaan Inspektorat. Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hasil pemeriksaan begitu banyak, namun keempat variabel tersebut adalah prinsip perilaku yang ditekankan oleh APIP (Pusdiklatwas BPKP 2008). Pada penelitian ini penulis tidak membedakan pengertian audit dengan pemeriksaan sebagaimana yang digunakan dalam Undang – undang Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pusdiklatwas BPKP (2008) menyatakan bahwa auditor dituntut untuk melaksanakan tugas pengawasan sesuai dengan standar audit. Tuntutan ini perlu karena bagaimana bisa seorang auditor menyajikan laporan yang akan berkualitas apabila tidak sesuai dengan standar audit yang ditetapkan oleh Pemerintah.
Objek penelitian Ayuningtyas dan Sugeng (2012) adalah seluruh Kabupaten / Kota di Jawa Tengah. Inspektorat Kabupaten Semarang dipilih sebagai lokasi penelitian karena perlunya peningkatan kualitas hasil pemeriksaan di Kabupaten Semarang, agar penyimpangan dan kesalahan prosedur akuntansi bisa terdeteksi.
Penelitian Sukriah, Akram, dan Inapty menjelaskan bahwa independensi dan integritas tidak berpengaruh signifikan. Hal ini menjadi dasar penelitian ini dilakukan kembali.
Berikut ini adalah penelitian terdahulu tentang independensi, integritas, objektivitas dan kompetensi :
1. Efendy (2010) telah melakukan penelitian tentang independensi terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Hasil penelitian ini adalah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan, sehingga indpendensi yang dimiliki aparat inspektorat tidak menjamin apakah yang bersangkutan akan melakukan audit secara berkualitas.
2. Ayuningtyas dan Sugeng (2012) telah melakukan penelitian tentang integritas terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Hasil dari penelitian ini adalah berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas hasil
6 pemeriksaan, seorang auditor dengan integritas yang tinggi dapat meningkatkan hasil pemeriksaannya.
3. Mabruri dan Winarna (2010) telah melakukan penelitian tentang pengaruh objektivitas terhadap kualitas hasil pemeriksaan di lingkungan pemerintah dan hasilnya adalah positif signifikan. Hal ini menujukkan bahwa seorang auditor dengan objektif yang rendah maka kualitas hasil pemeriksaan juga akan rendah dan dipertanyakan, sehingga objektivitas auditor pemerintah harus tinggi agar kualitas hasil pemeriksaan tinggi dan dapat menjadi rekomendasi tanpa diragukan.
4. Penelitian yang telah dilakukan Efendy (2010) tentang pengaruh kompetensi terhadap kualitas hasil pemeriksaan aparat inspektorat hasilnya adalah berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sehingga semakin baik tingkat kompetensi, maka akan semakin baik kualitas audit yang dilakukannya. Dapat disimpulkan bahwa auditor yang memiliki kompetensi tinggi akan menghasilkan kualitas hasil pemeriksaan yang tinggi pula.
Masalah dan Persoalan Penelitian
Meskipun terdapat Inspektorat sebagai pengawas keuangan, namun di pemerintahan Kabupaten Semarang masih terjadi penyimpangan keuangan. Kasus penyimpangan dana bantuan dari APBN diselewengkan oleh Kepala Desa Kabupaten Semarang untuk pembangunan desa, acara desa dan sebagian untuk konsumsi pribadi.Semestinya hal ini bisa dilakukan pencegahan apabila peran Inspektorat dalam pengawasan keuangan daerah dimaksimalkan.Meskipun demikian Pemerintah Kabupaten Semarang mempertahankan opini wajar tanpa pengecualian selama empat tahun berturut – turut.
7 Peran Inspektorat sebagai badan pengawas internal pemerintah daerah dapat melakukan pendeteksian dini. Peningkatan kualitas audit Inspektorat Kabupaten Semarang dapat meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan sehingga penyimpangan dana dapat dicegah atau diminimalisir.Hasil pemeriksaan adalah sumber yang memberikan informasi tentang masalah, penyimpangan, kelemahan dalam penyelenggaraan pemerintah.Hasil pemeriksaan yang berkualitas berisi informasi yang berkualitas sehingga dapat menjadi dasar pemberian rekomendasi meminimalkan penyimpangan.
Informasi tersebut dapat meningkatkan pengawasan keuangan daerah, sehingga dengan mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas hasil pemeriksaan dapat meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan.Kualitas hasil pemeriksaan diukur dengan menggunakan prinsip – prinsip perilaku dari Pusdiklatwas BPKP (2008).Persepsi tentang indikator yang digunakan sebagai pengukur kualitas hasil pemeriksaan adalah independensi, integritas, objektivitas, dan kompetensi.Variabel dependen yang digunakan merupakan persepsi dari perilaku auditor.
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang sudah dijelaskan, maka persoalan yang akan diteliti adalah :
1. Bagaimana pengaruh independensi, integritas, objektivitas, dan kompetensi terhadap persepsi kualitas hasil pemeriksaan ?
2. Variabel manakah diantara independensi, integritas, objektivitas, dan kompetensi yang memilki pengaruh paling dominan terhadap kualitas hasil pemeriksaan ?
8 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh independensi, kompetensi, integritas dan objektivitas terhadap kualitas hasil pemeriksaan.
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat :
1. Bagi pemegang kebijakan yang berada di Kabupaten Semarang, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai faktor yang mempengaruhi kualitas audit Inspektorat dalam pengawasan keuangan daerah, sehingga akan dapat dimanfaatkan dalam upaya peningkatan kualitas audit/ pemeriksaan Inspektorat.
Membantu Pemerintah Kabupaten Semarang menciptakan good governance.
2. Bagi Inspektorat Kabupaten Semarang, sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas dengan mengerti apakah independensi, integritas, objektivitas serta kompetensi, bisa diterapkan oleh auditor – auditor di Inspektorat.
3. Bagi Pemerintah Kabupaten Semarang sebagai masukan dan pelaksanaan otonomi daerah khususnya peranan Inspektorat dalam pengawasan keuangan daerah dan dalam rangka mewujudkan good governance. Sehingga Inspektorat diharapkan dapat membuat program yang berkontribusi pada peningkatan kualitas hasil pemeriksaan dan kapabilitasnya.
9 Kerangka Teoritis dan Perumusan Hipotesis
Pemeriksaan Internal
Pemeriksaan internal adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan – ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku. Peraturan pemerintah misalnya peraturan di bidang perpajakan, pasar modal, lingkungan hidup, perbankan, perindustrian, investasi dan lain – lain. (Sukrisno, 2004 : 204). Pengertian dari pemeriksaan internal dalam penelitian ini mempunyai makna yang sama.
Audit internal mempunyai makna yang sama dalam pemeriksaan internal.
Tanggung jawab audit internal menurut Arens dan Loebbecke Audit internal bertanggung jawab untuk mengevaluasi apakah struktur pengendalian internal perusahaan telah dirancang dan berjalan efektif dan apakah laporan keuangan telah disajikan dengan wajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa audit internal mempunyai kewajiban dengan hasil audit untuk kepala daerah agar mengetahui apakah kebijakan yang diterapkan dapat mewujudkan efisiensi dan efektifitas dan adakah penyimpangan wewenang yang terjadi saat peyelenggaraan di daerah.
Auditor Internal Pemerintah
Menurut Pasal 49 dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 Auditor internal dipegang oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern, Inspektorat Provinsi, dan Inspektorat Kabupaten/Kota. Inspektorat Kabupaten/Kota sebagai auditor internal Pemerintah
10 Kabupaten karena tugas Inspektorat adalah membantu Bupati dalam megawasi setiap penyelenggaraan pemerintahan. Inspektorat Kabupaten/Kota melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah kabupaten/kota yang didanai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota. Peran Inspektorat sangat penting dalam kemajuan dan keberhasilam pemerintah daerah dan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan agar sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Menurut Sembiring dan Rustiana (2013) Kegiatan yang dilakukan oleh Inspektorat adalah kegiatan audit yang meliputi :
1. Pemeriksaan secara berkala dan komperhensif terhadap kelembagaan pegawai daerah, keuangan daerah , barang daerah, dan urusan pemerintah.
2. Pemeriksaan dana desentralisasi, 3. Pemeriksaan dana dekonsentralisasi, 4. Pemeriksaan tugas pembantuan,
5. Pemeriksaan terhadap kebijakan pinjaman dan hibah luar negeri.
Kualitas Hasil Pemeriksan
Audit yang berkualitas akan memberikan informasi yang memadai kepada organisasi pemerintah, yang diperiksa tentang kelemahan pengendalian internal, kecurangan dan penyimpangan peraturan perundang – undangan yang terjadi dalam organisasi menurut Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (2007). Menurut Sukriah et al. (2009) kualitas hasil pemeriksaan adalah probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi manajemen atau organisasinya. Bisa disimpulkan bahwa kualitas audit atau pemeriksaan yang dilakukan oleh aparat Inspektorat dikatakan berkualitas apabila mampu memberikan rekomendasi dengan benar sehingga mengurangi permasalahan tentang penyimpangan ataupun kecurangan dalam pelaksanaan pemerintahan daerah. Menurut Ahmad et al.(2011) Kualitas hasil pemeriksaan sangat
11 penting dalam kegiatan pemeriksaan, karena dengan kulaitas pemeriksaan yang tinggi maka akan dihasilkan laporan hasil dapat dipercaya sebagai dasar pengambilan keputusan. Selain itu adanya kekhawatiran akan merebaknya kasus dalam rangka menentukan kesesuaian informasi yang diaudit yang akan disampaikan kepada pihak yang korupsinya yang tidak pernah tuntas, dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap laporan hasil pemeriksaan dan profesi APIP.
Kualitas Hasil Pemeriksaan Internal
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (2007) menyatakan definisi hasil pemeriksaan yaitu : “Laporan hasil pemeriksaan yang memuat adanya kelemahan dalam pengendalian intern, kecurangan, penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang – undangan dan ketidakpatutan, harus dilengkapi tanggapan dari pimpinan atau pejabat yang bertanggung jawab pada entitas yang di periksa mengenai temuan dan rekomendasi serta tindakan koreksi yang direncanakan.”
Laporan pemeriksaan dari Inspektorat diberikan kepada Kepala daerah sebelum diperiksa BPK, kualitas laporan pemeriksaan ini adalah dasar sebagai pemberian opini BPK, apabila BPK menemukan penyimpangan di luar dari laporan hasil pemeriksaan maka kualitas dari hasil pemeriksaan lemah tentunya opini yang diberikan juga rendah. Diambil dari penjelasan di atas bahwa dikatakan kualitas audit internal Inspektorat baik apabila hasil audit atau pemeriksaan juga baik, yaitu sesuai dengan standar pelaporan Pemerintah serta sesuai dengan SAP tahun 2005.
Tidak mudah mengukur dan menggambarkan kualitas hasil pemeriksaan internal secara obyektif dengan menggunakan beberapa indikator. sehingga seringkali terdapat kesalahan dalam menentukan sifat dan kualitasnya. Mardiasmo (2005) menjelaskan bahwa terdapat beberapa kelemahan dalam audit pemerintah di Indonesia, di antaranya tidak tersedianya indikator kinerja yang memadai sebagai dasar pengukur kinerja pemerintahan baik pemerintah pusat maupun daerah dan hal tersebut umum dialami oleh organisasi publik karena output yang dihasilkan yang berupa pelayanan
12 publik tidak mudah diukur. Dengan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas audit masih menjadi bahan perdebatan, oleh karena itu Pemerintah seharusnya menetapkan suatu dasar pengukur agar terlihat jelas kinerja pemerintah, sehingga kualitas pemerintahan dapat diperbaiki sehingga terciptanya good governance.
Independensi
Menurut Sari (2011) Independensi merupakan sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh orang lain, tidak tergantung pada orang lain.
Independensi adalah salah satu perilaku yang harus dimiliki oleh auditor untuk membuat suatu hasil pemeriksaan yang berkualitas. Hal ini juga didukung dengan pernyataan Arens (2010 : 103) dalam bukunya mengatakan bahwa nilai dari audit tergantung pada independensi auditor. Auditor tidak dibenarkan memihak kepada siapapun untuk mempertahankan kebebasan berpendapatnya dalam penyusunan program,pelaksanakan pemeriksaan dan pelaporan.
Menurut Simanjuntak (2008), kualitas audit yang baik pada prinsipnya dapat dicapai jika auditor menerapkan standar-standar dan prinsip-prinsip audit, bersikap bebas tanpa memihak (Independen), patuh kepada hukum serta mentaati kode etik profesi. Christiawan (2003:86) menyatakan independensi merupakan suatu tindakan baik sikap perbuatan atau mental auditor sepanjang pelaksanaan audit, dimana seorang auditor harus bisa memposisikan dirinya untuk tidak memihak oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap hasil auditnya. Auditor yang independen akan memberikan penilaian yang sebenarnya terhadap laporan keuangan yang diperiksa sehingga jaminan atas keandalan laporan yang diberikan dapat dipercaya pihak-pihak yang berkepentingan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa auditor mempunyai harus memiliki prinsip independen, karena independensi adalah peraturan perilaku karena hasil laporan dari pelaksanaan audit nantinya akan digunakan oleh pihak – pihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan dan menentukan kebijakan. Independensi
13 adalah peraturan perilaku dimana auditor profesional terhadap pihak manapun, yaitu dengan tidak memihak manapun dalam pelaksanaan auditnya. Auditor mempunyai kewajiban untuk bersikap jujur baik kepada pihak manajemen maupun pihak – pihak lain seperti pemilik, kreditor, investor.
Integritas
Menurut Sukriah et al. (2009) integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan bagi anggota dalam menguji semua keputusannya. Dalam kutipan Pusdiklatwas BPKP (2008) menerangkan bahwa integritas mengharuskan sesorang auditor untuk bersikap jujur dan transparan, berani, bijaksana dan bertanggung jawab dalam melaksanakan audit. Keempat unsur tersebut diperlukan untuk membangun kepercayaan guna memberikan dasar bagi pengambilan keputusan yang handal. Menurut Wibowo (2006) integritas auditor internal menguatkan kepercayaan dan karenanya menjadi dasar bagi pengandalan atau judgement mereka.Sehingga integritas yang tinggi dapat meningkatkan kualitas hasil pemeriksaannya. Auditor dikatakan mempunyai integritas tinggi apabila hasil pemeriksaannya seluruh bukti mendukung temuan audit didasarkan pada bukti yang cukup, kompeten dan relevan.
Objektivitas
Ayuningtyas dan Sugeng (2012) menjelaskan bahwa objektivitas adalah suatu keyakinan, kualitas yang memberikan nilai bagi jasa atau pelayanan auditor.
Objektivitas merupakan salah satu ciri yang membedakan profesi akuntan dengan profesi yang lain. Pusdiklatwas (2008), menyatakan sebagai auditor harus menjunjung tinggi ketidak-berpihakan profesional dalam mengumpulkan, mengevaluasi dan memproses data/informasi sesuai dengan fakta. Menurut
14 Sukriah,Akram dan Inapty (2009) unsur perilaku yang dapat menjujung tinggi objektivitas antara lain (1) dapat diandalkan dan dipercaya, (2) tidak merangkap sebagai panitia tender, kepanitiaan lain dan atau pekerjaan – pekerjaan lain yang merupakan tugas operasional objek yang diperiksa, (3) tidak berangkat tugas dengan niat untuk mencari- cari kesalahan orang lain,(4)dapat mempertahankan kriteria dan kebijaksanaan – kebijaksanaan yang resmi, serta (5) dalam bertindak maupun mengambil keputusan didasarkan atas pemikiran yang logis. Objektivitas seorang auditor dapat ditunjukkan dengan ketidak-berpihakkan seorang auditor terhadap objek pemeriksaannya sehingga dapat tercapainya hasil pemeriksaan yang berkualitas.
Kompetensi
Kompetensi auditor menurut Ahmad et al. (2011) adalah kemampuan auditor untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya dalam melakukan audit sehingga auditor dapat melakukan audit dengan teliti, cermat, intuitif, dan obyektif.Menurut Sukriah et al. (2009) dalam melakukan audit, seorang auditor harus memiliki mutu personal yang baik, pengetahuan yang memadai serta keahlian khusus dibidangnya. Mutu personal yang baik adalah auditor dalam menjalankan tugasnya mempunyai sifat ingin tahu, mampu bekerjasama dengan tim, menyadari sebagai auditor terkadang temuan bersifat subjektif, dan mampu menyadari bahwa mencari solusi itu sulit. Kompetensi yang dimiliki auditor dalam melakukan pemeriksaan atau audit dituntut untuk dapat mengerti secara teknis dan pengetahuan yang dimilikinya.
15 Pengawasan Daerah
Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 2001 tentang Tata Cara Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Pasal 1 ayat (6) menyebutkan bahwa pengawasan pemerintah daerah adalah proses kegiatan yang ditujukan untuk menjamin agar pemerintah daerah berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pembinaan dan Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, jenis – jenis pengawasan terdiri dari :
1 Pengawasan represif adalah pengawasan yang dilakukan terhadap kebijakan yang telah ditetapkan Daerah baik berupa Peraturan Daerah, Keputusan Kepala Daerah, Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah maupun Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam rangka penyelenggaraan Pemerintah Daerah.
2 Pengawasan fungsional adalah pengawasan yang dilaksanakan oleh Lembaga/Badan/Unit yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan pengawasan melalui pemeriksaan, pengkajian, penyusutan, dan penilaian.
3 Pengawasan legislatif adalah pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah terhadap Pemerintah Daerah sesuai tugas, wewenang, dan haknya.
4 Pengawasan masyarakat adalah pengawasan yang dilakukan masyarakat.
Pengawasan fungsional merupakan pengawasan yang dilakukan oleh aparat atau pejabat yang tugas pokoknya khusus membantu pimpinan untuk melaksanakan tugasnya masing – masing. Inspektorat adalah suatu instansi yang melaksanakan Pengawasan Fungsional. Menurut Efendy (2010) Pengawasan fungsional Inspektorat adalah pengawasan yang dilakukan oleh lembaga/aparat pengawasan yang dibentuk atau ditunjuk khusus untuk melaksanakan fungsi pengawasan secara independen terhadap objek yang diawasi. Pengawasan fungsional meliputi audit, investigasi, dan penilaian. Pengawasan fungsional menjamin agar penyelenggaraan pemerintah sesuai dengan rencana dan ketentuan perundangan – undangan. Menurut Cahyat (2004) pengawasan keuangan daerah merupakan salah satu dari pengawasan fungsional
16 Pengawasan fungsional dapat membagi pengawasan menjadi tiga jenis, yaitu pengawasan terhadap (1) produk hukum dan kebijakan daerah (2) pelaksanaan penyelenggaraan pemerintah daerah kabupaten serta produk hukum dan kebijakan serta (3) keuangan daerah. Pengawasan laporan keuangan menjadi hal yang paling difokuskan untuk mencapai good governance, karena dengan adanya pengawasan laporan keuangan dapat meminimalkan penyimpangan dalam pengawasan sehingga ketidak-efisienan dan ketidak-efektifan penggunaan dana maupun tenaga dapat teratasi.
Keuangan daerah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu berupa uang dan barang yang dapat dijadikan milik daerah yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
Pengawasan keuangan daerah menurut Armando (2008) adalah pengawasan yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dan pengawasan ini bertujuan menentukan nilai informasi laporan keuangan yang baik. Pengertian pengawasan tersebut dapat diterapkan terhadap pengawasan keuangan daerah, maka dapat dikemukakan bahwa pengawasan keuangan daerah adalah segala tindakan untuk menjamin agar pengelolaan keuangan daerah berjalan sesuai dengan tujuan, rencana dan aturan – aturan yang telah diatur. Pengawasan keuangan daerah merupakan upaya untuk memberikan keyakinan yang memadai atas keandalan laporan keuangan.
Penalaran Konsep
Penyimpangan wewenang aparatur pemerintah daerah tentang anggaran penyelenggaraan pemerintah sudah menjadi masalah yang sering muncul. Berbagai penyimpangan wewenang dan berbagai pelanggaran peraturan pemerintah daerah yang harus ditindaklanjuti. Apabila masalah – masalah ini tidak segera ditangani maka akan terjadi bad governance, dan berdampak pada masyarakat juga. Pemerintah
17 saat ini dituntut untuk memberikan proses transparansi dan peningkatan kinerja dengan meminimalkan penyimpangan wewenang dan masalah lainnya. Proses transparansi dan peningkatan kinerja sehingga akan terciptanya good governance.
Terciptanya hal ini perlu adanya peran audit internal dalam pemerintahan. Namun peran audit internal haruslah menghasilkan laporan audit yang berkualitas agar pemerintah tahu apakah kinerjanya sesuai dengan standar atau peraturan yang ditetapkan. Prinsip utama yang ditetapkan oleh audit adalah independensi, integritas, objektivitas dan kompetensi, faktor inilah yang mempengaruhi kualitas hasil pemeriksaan. Penelitian Independensi adalah sifat utama yang dimiliki oleh seluruh profesional tak terkecuali auditor. Apabila auditor masih saja memihak atau bergantung pada salah satu pihak maka hasil auditnya buruk dan pemerintah tidak tepat dalam memberikan kebijakan, sehingga terciptanya bad governance.
Independensi adalah prinsip dasar yang harus dimiliki oleh auditor, kualitas audit dikatakan baik apabila auditor dari penampilan dan kenyataannya independen dalam melakukan proses audit.Penelitian terdahulu yang dilakukan Queena (2012) memberikan kesimpulan bahwa independensi auditor tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan, hal ini dikarenakan masih adanya campur tangan dari pimpinan/inspektur untuk menentukan, mengeliminasi atau memodifikasi bagian – bagian tertentu yang akan diperiksa serta terdapat intervensi atas prosedur yang dipilih oleh auditor. Dasar dari integritas adalah kejujuran yang tinggi dan ketidak- berpihakan auditor terhadap auditee, sehingga auditor dituntut untuk membatasi hubungan dengan auditee. Objektivitas auditor yang tinggi memungkinkan auditor menyusun laporan pemeriksaannya secara nyata apa adanya, sehingga menyusun rekomendasi sesuai dengan permasalahan yang ada.
Kompetensi sebagai auditor adalah menguasai pengetahuan tentang audit dan menguasai secara pengalaman teknis yang pernah dilakukan. Seorang auditor yang memiliki kekurangan dalam kecakapan kompetensi cenderung menyusun laporan yang kurang detail sehingga mempengaruhi hasil pemeriksaan yang dilakukan.
18 Penelitian yang dilakukan oleh Sukriah et al. (2009) menjelaskan bahwa kedua faktor ini mempunyai pengaruh signifikan terhadap kualiatas hasil pemeriksaan, sehingga semakin objektif auditor melakukan pemeriksaan dan semakin tinggi kompetensi yang dimilki auditor maka semakin meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan yang dilakukan. Integritas mempunyai pengaruh signifikan positif terhadap kualitas hasil pemeriksaan menurut penelitian Ayuningtyas dan Sugeng(2012) mengartikan bahwa integritas mampu meningkatkan hasil pemeriksaan. Inspektorat akan memberikan hasil pemeriksaan kepada Kepala daerah dan pihak BPK yaitu sebagai pihak eksternal Pemerintah Kabupaten Semarang akan memberikan opini dari hasil pemeriksaan. Apabila masih adanya penyimpangan yang ditemukan oleh pihak BPK di luar dari hasil pemeriksaan tersebut, dapat dikatakan laporan hasil pemeriksaan tersebut kurang berkualitas.
19 Pengaruh Independensi pada Kualitas Hasil Pemeriksaan
Independensi adalah salah satu perilaku auditor, yaitu tidak memihak siapapun. Pentingnya hasil pemeriksaan tergantung pada independensi yang dimilki oleh auditor. Menurut Sari (2011) dalam melaksanakan tanggung jawab profesionalnya, auditor mungkin menghadapi tekanan dan atau konflik dari pihak yang diperiksa sehungga mempengaruhi indpendendi auditor. Dalam menghadapi hal tersebut, seorang auditor harus professional, sesuai dengan fakta dan tidak berpihak siapapun. Sifat independensi auditor berpengaruh penting sebagai dasar utama agar auditor internal dipercaya oleh masyarakat umum. Independensi syarat wajib yang harus dipenuhi auditor sebagai pemeriksa yang dapat menentukan kredibilitas diri pemeriksa. Oleh karena itu, independensi diperlukan agar auditor dapat mengemukakan pendapat, pertimbangan, dan rekomendasi dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tidak memihak kepada pihak manapun. Standar Pemeriksa Keuangan Negara (2008) menyatakan bahwa apabila pemeriksa tersebut tidak independen, maka seberapa hebatnya laporan hasil pemeriksa yang dihasilkan, pada akhirnya pengguna laporan tetap akan meragukan kredibilitas laporan tersebut. Hasil pemeriksaan atau hasil audit adalah kepentingan bersama manajemen maupun pihak eksternal, maka independensi auditor harus dipertahankan. Pada penelitian Sukriah et al.(2009), Efendy (2010),Mabruri dan Winarna (2010) dimana independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Berbeda dari hasil penelitian Ahmad et al. (2011) menunjukkan bahwa independensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Maka dari penjelasan diatas maka hipotesisnya adalah :
Independensi berpengaruh positif terhadap kualitas pemeriksaaan.
20 Pengaruh Integritas pada Kualitas Hasil Pemeriksaan
Pusdiklatwas (2008) menyatakan bahwa integritas mendasari suatu elemen timbulnya pengakuan profesional dan kualitas yang melandasi kepercayaan publik.
Dimana auditor yang memiliki integritas, menjadikan integritas sebagai patokan (benchmark) dalam menguji semua keputusan yang diambil. Kutipan Standar Pengendalian Mutu IAI (2008) menyebutkan bahwa mutu pekerjaan KAP tergantung kepada integritas, kompetensi, dan motivasi personil yang melaksanakan dan melakukan supervise atas pekerjaan. Hal ini menjelaskan bahwa integritas adalah salah satu faktor yang dimiliki auditor agar memberikan keyakinan yang memadai kepada klien atau organisasinya. Dalam SPKN (2007) menerangkan bahwa pemeriksa harus mempertahankan integritas dan objektivitas pada saat melaksanakan pemeriksaan untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kepentingan publik.
Pemeriksa melaporkan segala hal dalam laporan hasil pemeriksaan agar tidak terjadi kesalahpahaman publik dan para pengguna laporan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi integritas yang dimiliki oleh aparat Inspektorat pada saat melaksanakan penugasan professional auditnya akan mendorong meningkatnya kualitas hasil hasil pemeriksaan. Ayuningtyas (2012), dan Queena (2012), bahwa integritas berpengaruh signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Mabruri dan Winarna (2010) menyatakan bahwa kualitas hasil pemeriksaan dapat dicapai jika auditor memiliki integritas yang baik dan hasil penelitiannya menemukan bahwa integritas berpengaruh terhadap kualitas audit.Sehingga integritas merupakan kualitas yang menjadikan kepercayaan masyarakat. Menurut Sukriah et al. (2009) integritas tidak berpengaruh terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Maka dari penjelasan di atas maka hipotesis adalah :
Integritas berpengaruh postif terhadap kualitas hasil pemeriksaan.
21 Pengaruh Objektivitas pada Kualitas Hasil Pemeriksaan
Dikutip dari Pusdiklatwas BPKP (2008) bahwa prinsip objektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain. Menurut Sukriah et al. (2009) Standar umum dalam Standar Audit APIP menyatakan bahwa dengan prinsip objektivitas mensyaratkan agar auditor melaksanakan audit dengan jujur dan tidak mengkompromikan kualitas.
Mengutip dari SPKN (2007) Objektivitas berarti penyajian seluruh laporan harus seimbang dalam isi dan nada. Hal ini menjelaskan bahwa laporan hasil pemeriksaan mendorong pengambil keputusan untuk bertindak atas dasar rekomendasi.
memberikan laporan hasil pemeriksaan haruslah seimbang dan tidak memihak sehingga pengguna laporan hasil pemeriksaan dapat diyakinkan oleh fakta yang disajikan. Objektivitas merupakan prinsip yang harus diterapkan oleh seorang auditor untuk meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan. Faktor objektivitas meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan. Menurut penelitian yang dilakukan Parasayu (2014), Ayuningtyas dan Sukriah bahwa objektivitas berpengaruh signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Berbeda dengan penelitian Badjuri (2012) objektivitas tidak berpengaruh terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Menurut Badjuri (2012) pada dasarnya auditor sektor publik wajib melakukan audit berdasarkan objektivitas tetapi dimungkinkan dalam kenyataannya unsure subjektifitas mungkin muncul. Maka dari penjelasan di atas maka hipotesis adalah :
Objektivitas berpengaruh positif terhadap kualitas hasil pemeriksaan.
22 Pengaruh Kompetensi pada Kualitas Hasil Pemeriksaan
Kompetensi merupakan kemampuan individu seorang pekerja yang memungkinkan ia mencapai kinerja yang berkualitas. Bagi auditor kompetensi harus diterapkan yaitu dengan memiliki ilmu pengetahuan tentang auditing, akuntansi, administrasi sektor publik. Subhan (2012). Menurut Carolita dan Rahardjo (2012) dengan kemampuan APIP yang menguasai pengetahuan tentang audit, akuntansi, dan administrasi sektor publik mempunyai kemungkinan untuk melaporkan dan menemukan penyimpangan. Menurut Batubara (2008) telah menemukan adanya pengaruh kompetensi terhadap kualitas audit yaitu dengan menjelaskan bahwa apabila terjadi perbedaan kompetensi yang dimiliki auditor , maka akan memberi pengaruh pada perbedaan kualitas hasil pemeriksaan yang dihasilkan. Jika auditor memiliki kompetensi yang baik maka auditor akan dengan mudah melakukan tugas – tugas auditnya sehingga kualitas hasil pemeriksaan yang dihasilkan tinggi. Menurut Efendy (2010), Ahmad et al. (2011) dan Ayuningtyas (2012) kompetensi berpengaruh positif terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Maka dari penjelasan di atas maka hipotesis adalah :
Kompetensi berpengaruh positif terhadap kualitas hasil pemeriksaan.
Berdasarkan keempat hipotesis tersebut maka terdapat model penelitian sebagai berikut :
Gambar 1.1 Model Penelitian Integritas X2
ObjektivitasX3
KompetensiX4
Kualitas hasil pemeriksaan Y
Y Independensi X1
23 Metoda Penelitian
Sumber Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan data primer. Data primer adalah data yang diperoleh langsung tanpa perantara dengan metode survey. Sumber data didapat dengan cara membagikan kuesioner diberikan langsung kepada auditor yang berada di Inspektorat Kabupaten Semarang. Menurut Arikunto (2002 :139) Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti tentang hal – hal yang diketahui. Kuesioner tersebut berisikan pertanyaan tentang independensi, integritas, objektivitas, dan kompetensi.Pertanyaan kuesioner diambil dari Sukriah et al.(2009) yang berpedoman pada Pusdiklatwas BPKP (2008) yaitu variabel independensi, integritas, objektivitas, kompetensi dan kualitas hasil pemeriksaan.
Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2011) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian adalah seluruh auditor/pemeriksa Inspektorat Kabupaten Semarang yang berjumlah 45 orang dari keterangan pihak Inspektorat. Jenis penelitian ini adalah sensus. Menurut Sugiyono (2011) jika peneliti menggunakan seluruh elemen populasi menjadi data penelitian maka disebut sensus atau sampel jenuh. Sensus digunakan jika elemen populasi relatif sedikit dan bersifat heterogen.
Dikatakan populasi heterogen karena auditor yang berada di Inspektorat Kabupaten Semarang memiliki pengalaman dan jabatan auditor yang berbeda satu sama lain.
24 Variabel Penelitian
Variabel ini meneliti faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas audit di lingkungan pemerintah Kabupaten Semarang. Dalam penelitian ini, variabel dependen (Y) yang digunakan adalah kualitas hasil pemeriksaan dan variabel independen terdiri dari independensi(X1) integritas(X2), objektivitas(X3) ,dan kompetensi (X4).
Penelitian ini menggunakan kuesioner dimana masing – masing variabel, diukur dengan skala Likert. Skala Likert merupakan suatu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Persepsi responden terhadap indikator tersebut diukur dengan 5 point skala Likert yaitu :
1. Sangat tidak setuju 2. Tidak setuju 3. Netral 4. Setuju
5. Sangat setuju
Variabel Independen
Variabel Independen terdiri dari independensi, integritas, objektivitas dan kompetensi. Menggunakan pertanyaan kuisioner berpedoman pada BPKP oleh peneliti Sukriah et al (2009). Penjelasan indikator variabel independen juga berpedoman pada Pusdiklatwas BPKP (2008).
Variabel Dependen – Kualitas Hasil Audit
Menggunakan pertanyaan kuisioner berpedoman BPKP oleh peneliti Sukriah et al.(2009) yang sudah dikembangkan. Penejelasan indikator dependen berpedoman pada Pusdiklatwas BPKP (2008).
25 Sumber : Pusdiklatwas BPKP (2008)
Tabel 1.1 Indikator Variabel Penelitian Variabel Indikator Variabel Definisi
X1
Independensi
1) Independensi penyusunan program
a) Independensi penyusunan program adalah kebebasan auditor dalam menentukan penyusunan program audit yang akan ditentukan, bebas dari intervensi pimpinan dan pihak lain, bebas menentukan subjek pemeriksaan selama proses penyusunan program yang akan diperiksa.
2) Independensi pelaksanaan pekerjaan
b) Independensi pelaksanaan pekerjaan adalah seorang auditor yang melaksanakan pemeriksaan sebagai auditor bebas menentukan dan tidak dibatasi dalam kegiatan yang akan diperiksa.
3) Independensi pelaporan c) Independensi pelaporan adalah seorang auditor dalam pelaporan bebas dari kewajiban pihak lain, bebas dari bahasa yang menimbulkan multi tafsir dan bebas dari pengaruh tangan atau pengaruh pihak – pihak lain atau melaporkan sesuai fakta yang ada.
X2 integritas 1) Kejujuran auditor a) Kejujuran auditor adalah menaati peraturan diawasi atau tidak diawasi, jujur dalam penyampaian hasil pemeriksaan, berani menolak segala sesuatu yang bukan haknya.
2) Keberanian b) Keberanian auditor adalah tidak mudah diintimidasi pihak lain, mempertimbangkan keyakinan, dan memiliki rasa percaya diri menghadapi kesulitan.
3) Sikap bijaksana auditor c) Sikap bijaksana auditor adalah seorang auditor dalam bekerja tidak tergesa – gesa melainkan bekerja dengan berdasar pembuktian yang memadai. Auditor menimbang permasalahan dan mempertimbangkan Negara.
4) Tanggung jawab auditor d) Tanggung jawab auditor adalah hasil audit atau pemeriksaan seluruh bukti yang mendukung temuan audit didasarkan pada bukti yang cukup, kompeten, dan relevan. Hal ini ditunjukkan dengan berpegang teguh pada norma dan peraturan yang berlaku.
X3 Objektivitas 1) Bebas dari benturan kepentingan
a) Bebas dari benturan kepentingan adalah tidak dipengaruhi oleh kepentingan sendiri atau orang lain dalam mengambil keputusan. Auditor handal dan dipercaya dalam melakukan pemeriksaan.
2) Pengungkapan kondisi sesuai fakta
b) Pengungkapan kondisi sesuai fakta adalah dengan memberikan pendapat sesuai kenyataan, mempertahankan kebijaksanaan, serta berpikiran yang logis dalam proses pengungkapan.
X4 Kompetensi 1) Mutu personal a) Mutu personal adalah mempunyai pemikiran yang luas tentang
kemungkinan temuan auditnya dan memikirkan solusi terbaik untuk tim atas temuan auditnya
2) Pengetahuan umum b) Pengetahuan umum adalah memahami dan menguasai penuh atas akuntansi, audit, administrasi sektor publik, dan komuniksi sehingga dapat diterapkan di organisasinya.
3) Keahlian khusus c) Keahlian khusus adalah kemampuan auditor untuk mendukung program auditnya, yaitu dengan kemampuan berbicara, membaca,dan hal yang mendukung pelaporan hasil audit.
Y Kualitas Hasil Pemeriksaan
1) Kesesuaian pemeriksaan dengan standar audit
a) Kesesuaian pemeriksaan dengan standar audit adalah dimana pemeriksaan yang dilakukan sesuai dengan prosedur Standar Audit Pemerintah dan menerapkan kode etik yang berlaku.
2) Kualitas laporan hasil pemeriksaan
b) Kualitas laporan hasil pemeriksaan adalah dimana laporan yang dapat dipertanggungjawabkan, mengungkapkan temuan audit sesuai fakta, sehingga dapat bermanfaat sebagai rekomendasi.
26 Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan adalah regresi berganda untuk memprediksi berapa besar kekuatan pengaruh variabel independen (independensi, integritas, objektivitas dan kompetensi dengan variabel dependen (kualitas hasil pemeriksaan).
Masing-masing variabel X akan diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat yaitu kualitas hasil audit. Analisis data menggunakan software SPSS 19.0 for windows dengan lima tahap. Lima tahapan analisis data yaitu pertama, statistik deskriptif. Kedua pengujian kualitas data. Tahap ketiga, melakukan uji penyimpangan asumsi klasik yang terdiri dari ; uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heterokedastisitas. Tahap keempat, melakukan analisis regresi berganda. Selanjutnya, tahap kelima, melakukan pengujian hipotesis (Ghozali, 2011).
1.Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif menurut Sugiyono (2009) yaitu statisitik yang digunakan untuk analisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa ada tujuan membuat kesimpulan untuk generalisasi. Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran mengenai demografi responden penelitian. Data demografi tersebut anatara lain : jabatan, lama pengalaman kerja, dan latar belakang pendidikan. Alat analisis data dan disajikan dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi yang memaparkan kisaran teoritis, kisaran aktual, rata- rata dari standar deviasi.
2.Uji Kualitas Data
a) Uji Validitas
Menurut Ghozali (2011)Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji
27 validitas dapat dilakukan dengan melihat nilai dari correlated item.
Total correlation dengan criteria sebagai berikut: jika niali r hitung lebih besar dari r table dan nilainya positif, maka butir pertanyaan atau indicator tersebut dikatakan “valid”. Hal ini berlaku sebaliknya, r hitung lebih kecil dari r table, maka pertanyaan “tidak valid”.
b) Uji Reliabilitas
Menurut Ghozali (2011) Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indicator dari variabel atau konstruk. Jika nilai koefisien Cronbach alpha ( >0.70 maka disimpulkan bahwa instrument penelitian tersebut handal atau relaibel(Ghozali,2011).
3.Uji Asumsi Klasik
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analsis berganda.
Sebelum melakukan pengujian regresi, terdapat beberapa asumsi yang harus dipenuhi agar data yang akan dimasukkan dalam model regresi telah memenuhi ketentuan dan syarat dalam regresi.
a) Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2011) Uji Normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi, varibel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Tehnik pengujian yang digunakan dalam penelitian ini One- Sample Kolmogorov Sminorv test. Hasil yang baik memiliki distribusi data normal atau mendekati normal
b) Uji Multikolinieritas
Menurut Ghozali (2011) Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Uji multikolinieritas dapat dilakukan
28 dengan dua cara melihat VIF (Variance Inflation Factors) dan nilai tolerance. Nilai cutoff yang umumnya dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinieritas adalah nilai tolerance dan nilai VIF lebih dari 10.
c) Uji Heteroskedastisitas
Dikutip dari Ghozali (2011).Tujuan dari uji heteroskedastisitas untuk menguji apakah nilai dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Uji heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji glejser dengan meregresi nilai absolute residual (ABS_RES) terhadap variabel independen. Jika variabel dependen maka indikasi terdapat problem heteroskedastisitas
4.Analisis Regresi Berganda
Menurut analisis ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap terikat. Analisis ini digunakan untuk menjawab bagaimana pengaruh independensi, integritas, objektivitas dan kompetensi terhadap kualitas hasil pemeriksaan pada kantor Inspektorat Kabupaten Semarang. Persamaan regresinya :
+ + + Keterangan :
Y : Kualitas hasil pemeriksaan : Nilai konstan
:Koefisien arah regresi X1 :Independensi
X2 :Integritas X3 :Objektivitas X4 :Kompetensi e :Error
29 Tabel 1.2 Operasional Variabel Penelitian
Variabel Definisi Operasional Indikator (Sukriah et al.)
Independensi (X1)
Menurut Sukriah et al. (2009)
independensi adalah kebebasan posisi auditor baik dalam sikap maupun
penampilan dalam hubungannya dengan pihak lain yang terkait dengan tugas audit yang dilaksanakannya.
1) Independensi penyusunan program
2) Independensi pelaksanaan pekerjaan
3) Independensi pelaporan
Integritas(X2)
Menurut Sukriah et al. (2009) integritas merupakan yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan bagi anggota dalam menguji keputusannya
1) Kejujuran auditor 2) Keberanian auditor 3) Sikap bijaksana auditor 4) Tanggung jawab auditor
Objektivitas (X3)
Pusdiklatwas (2008) menyatakan sebagai auditor harus menjunjung tinggi ketidak- berpihakan profesional dalam
mengumpulkan, mengevaluasi dan memproses data/informasi
1) Bebas dari benturan kepentingan
2) Pengungkapan kondisi sesuai fakta
Kompetensi (X4)
Menurut Sukriah et al. (2009) dalam melakukan audit, seorang auditor harus memiliki mutu personal yang baik,
pengetahuan yang memadai serta keahlian khusus dibidangnya
1) Mutu personal 2) Pengetahuan umum 3) Keahlian khusus
Kualitas Hasil Pemeriksaan (Y)
Menurut Sukriah et al. (2009) kualitas hasil pemeriksaan adalah probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan
melaporkan tentanga adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya dalam hal ini adalah pemerintah daerah sendiri.
1) Kesesuaian pemeriksaan dengan standar audit
2) Kualitas laporan hasil pemeriksaan
30 HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Deskripsi Obyek Penelitian
Responden penelitian ini adalah auditor Inspektorat Kabupaten Semarang yang berjumlah 45 orang. Pendistribusian kuesioner dilakukan dengan mendatangi secara langsung Inspektorat Kabupaten Semarang yang menjadi lokasi pengambilan sampel dan membagikannya kepada responden. Proses pendistribusian hingga pengumpulan data dilakukan kurang lebih selama satu minggu yaitu dari tanggal 3 Juni 2015 hingga 9 Juni 2015. Dari 45 kuesioner yang disebarkan, hanya 35 kuesioner yang dapat digunakan untuk penelitian ini, karena beberapa kuesioner tidak kembali dan data tidak lengkap. pada tabel 2 di bawah ini :
Tabel 2 Peyebaran Kuesioner
Keterangan Jumlah
Kuesioner yang disebarkan
45 kuesioner Kuesioner tidak kembali
4 kuesioner Kuesioner kembali data tidak lengkap
6 kuesioner Kuesioner yang digunakan
35 kuesioner