ORMAS DALAM PUSARAN POLITIK (Studi Relasi Ormas dan Parpol di Bali)
Muhammad Ali Azhar, SIP., M.A1 e-mail : [email protected]
1 Staf pengajar Program Studi Ilmu Politik Universitas Udayana Bali
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Udayana, Denpasar, Bali
Abstrak.
Ruang demokrasi di Indonesia semakin semarak dengan hadirnya infrastruktur politik baru dalam politik.
Infrastruktur politik baru ini barangkali sebelumnya tidak pernah ditemukan. Bahkan Easton (1955) sendiri dalam general theory system tidak pernah membayangkan hadirnya lembaga infrastruktur politik
ini kedalam mekanisme sistem politik. Lembaga politik atau infrastruktur politik baru itu atau yang sekarang disebut dengan istilah ormas atau milisi. Menurunnya pamor partai politik menjadi momentum
bagi hadirnya infrastruktur baru ini kedalam arena politik seperti pemilu dan demokrasi. Penelitian ini dilakukan di Bali karena sebagaimana lazim yang diketahui bali merupakan salah satu daerah di Indonesia lanskap politiknya dipengaruhi oleh perilaku ormas, dengan menggunakan metode penelitian
teknik wawancaea mendalam dan observasi serta kajian literatur yang ada, penelitian ini menemukan terjadinya relasi sangat kuat antara Ormas dan Partai Politik di Bali. Temuan ini memperkuat konsep lama tentang simbiosis mutualisme karena secara secara psikologis masyarakat Bali memiliki kedekatan dengan beberapa Ormas, sehingga memungkinkan partai politik merekrut orang-orang kuat ormas masuk
kedalam keanggotaan partai politik atau dijadikan sebagai calon legislatif dalam pemilu dan pilkada
Kata-kata kunci : Ormas, Partai Politik, ekonomi Politik dan Volunterisme Politik
1 Pendahuluan
Ada saja yang menarik dalam iklim demokrasi di Indonesia. Ketidakberdayaan partai politik dalam menunjang proses demokrasi yang sehat, ternyata telah mampu dimanfaatkan oleh aktor-aktor lain di luar Partai Politik. Kenyataan yang tidak terbantahkan sekarang adalah ketika ormas menjadi salah satu pelaku yang diperhitungkan dalam kehidupan demokrasi. Hal ini mendukung tesis bahwa secara kesejarahan literatur demokrasi dan politik hubungan parpol dengan organisasi lain di luar parpol sudah terbentuk dengan pola-pola yang tetap.
Panggung politik pun saat ini makin semarak, setelah kehadiran Organisasi Masyarakat (ormas) kedalam kehidupan demokrasi sekarang. Hal tersebut ditandai dengan keberhasilan ormas menempatkan orang-orangnya di parlemen maupun di partai politik. Kesemarakan tersebut ditandai dengan kehidupan demokrasi sampai ke tingkat lokal, salah satunya ormas adalah ajang kontestasi lokal dalam demokrasi yang dimainkan oleh elit politik lokal2. Ormas telah menyediakan diri sebagai arena baik sebagai kelompok maupun sebagai aktor.
Carl Friederich, telah meramalkan bahwa pada suatu saat akan terjadi sisi gelap demokrasi. Menurut dia, para teoritisi terlalu memberikan perhatian yang berlebihan terhadap fungsi agregasi kepentingan partai dengan mengesampingkan bentuk-bentuk hubungan langkah-langkah organisatorisnya, sehingga partai politik mudah disusupi oleh berbagai macam kelompok kepentingan seperti Ormas.
Melihat fenomena ini tentu mengindikasikan bahwa ormas saat ini memiliki posisi yang cukup strategis hingga partai politik pun mendekati ormas untuk keperluan strategi elektoralnya. Kondisi ini tentunya menunjukkan ormas menjadi magnet baru dalam politik.
Bahkan ormas menjadi medan magnet permainan orang-orang dibalik layar (pengusaha, politisi, geng) untuk melindungi kepentingannya.
Iklim politik seperti ini tentu tidak tumbuh dengan sendirinya, akan tetapi iklim seperti ini tumbuh karena ketidakberdayaan partai politik dalam menciptakan kehidupan demokrasi yang lebih baik. Iklim seperti ini tumbuh dari realitas politik dimana partai politik gagal melakukan transformasi diri baik di tingkat nasional maupun di tingkat lokal. Ketiadaan
2 Aqil, Irham M. Demokrasi Muka,membaca ulang pilkada di Indonesia, dua hal. 18 -19
transformasi ini ditambah ketiadaan otonomi parpol ditingkat daerah turut memperparah persoalan partai politik saat ini3. Artinya, di tingkat lokal pun malah terjadi perubahan politik yang luar biasa dimana kebiasaan buruk partai politik yang kerap terjadi di tingkat nasional juga embeded atau tertancap kuat dengan tradisi buruk ditingkat lokal.
Pernyataan diatas, sebagaimana pendapat Joel Migdal (dalam Stocker, 2006) menyatakan bahwa elite politik lokal berhasil memanfaatkan dan menguasai desentralisasi dan demokrasi lokal dengan menempatkan diri bersama kroni dan keluarganya pada posisi-posisi strategis untuk memastikan bahwa alokasi sumber daya berada pada arahan, kepentingan, dan genggaman orang-orang kuat lokal (local strongmen).
Signifikan realitas politik tersebut diatas, sebagaimana yang terjadi pada setting politik lokal yang terjadi di Bali sejak era reformasi. Seting politik lokal di Bali bukannya terletak pada kekuatan partai politik dalam mendominasikan calon-calon pimpinan daerah disejumlah daerah di Bali, akan tetapi terletak kekuatan-kekuatan di luar partai politik. Kekuatan politik yang diambil alih oleh kekuatan ormas atau gengster (local strongman). Dan Partai politik justru selalu berada dibelakang kekuatan-kekuatan tersebut.
Bukan rahasia umum lagi Ormas pasca reformasi memiliki agenda sendiri-sendiri dalam menempatkan orang-orangnya kedalam politik termasuk ke Partai Politik4. Malah mereka lebih bebas karena mereka memiliki dan mereka memiliki massa. Di Bali terdapat tiga ormas besar (LB dan Baladika) dan pemuda Bali Bersatu (PBB) menjadi ladang bagi parpol- parpol besar di Bali (PDI-P, Golkar, Demokrat, Nasdem, dan Gerindra). Dua ormas ini telah menjadi mesin penyumbang suara untuk kepentingan elektoral bagi partai-partai politik yang berlaga dalam pesta demokrasi (pemilu). Bahkan Ormas di Bali memiliki agenda sendiri-sendiri menempatkan orang-orangnya kedalam berbagai Partai Politik. Mereka lebih bebas seperti itu karena mereka memiliki agenda dan memiliki massa yang dapat meyakinkan bagi kemenangan partai politik tertentu. Tiga ormas terbesar ini merupakan aktor yang menguasai panggung politik lokal di Pulau Bali5.
Berdasarkan fenomena seperti ini, muncul sebuah pertanyaan besar, bagaimana proses terjadinya relasi ormas dan partai politik di Pulau Bali? Dengan menggunakan pendekatan teori relasi kuasa, yang dikerangkai kedalam konsep Ekonomi Politik dan Voluntarisme politik, tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
2 Metode Analisis
Metode yang digunakan dalam analisa tulisan ini menggunakan metode teknik wawancara mendalam dan observasi serta kajian literatur yang ada. Dari studi literatur diambil dari berbagai sumber; buku, jurnal, yang sejenis dengan topik tulisan ini, sementara observasi diambil berdasarkan peristiwa yang terjadi di lapangan.
3 Praktikno, Otonomi Daerah Tidak Sejalan dengan sistem Kepartaian. Makalah tidak terpublikasikan
4 Wawancara Wartawan Tempo, 15 Mei 2015
5 ibid
3 Sejarah Munculnya Ormas di Bali
Dibalik munculnya ormas di Bali mengungkap harapan besar akan terwujudnya Ajeg Bali. Ajeg Bali muncul sebagai upaya dari relasi-relasi kekuasaan yang tersembunyi, semangat meng-ajeg-kan Bali disebutkan, perwujudannya selalu merupakan latihan intelektual (intellectual exercise) dalam menciptakan simbol-simbol baru kebudayaan untuk mendefinisikan kembali identitas ke-Bali-an orang Bali demi kepentingan kekuasaan (Michel Foucault, Power/Knowledge).
Dalam tataran kebudayaan, kemunculan ormas di Bali tidak lepas bagian dari sekelompok orang yang ingin melihat Bali ke depan dengan budayanya yang tetap lestari. Tidak dipungkiri ternyata dalam perjalanannya sangat memberikan pengaruh besar terhadap realitas politik budaya di Pulau Bali. Terlebih lagi ketika media massa ikut berperan besar dalam kampanye politik yang saat ini dikenal dengan istilah Ajeg Bali. Semangat ini dimulai sejak tahun 2002 yang berpangkal dari relasi-relasi kekuasaan yang tersembunyi di balik pendirian Bali TV6.
Politik kebudayaan Ajeg Bali kemudian membentuk tangan-tangan, jejaring, agency manusia, yang tergabung dalam berbagai kelompok massa, bisa kelompok massa adat, politik, pemuda, dan lainnya. Jejaring kekuasaan kelompok massa itulah yang kemudian menjadi pengawas, penjaga kebudayaan. Muncullah satuan pengamanan, polisi adat bernama pecalang, yang tidak hanya menjadi pengaman upacara ritual di Bali, juga menjadi satuan pengaman partai politik, menjaga konser musik sampai melakukan sweeping penduduk pendatang.
Didorong tumbangnya kekuasaan Presiden Soeharto yang melahirkan suasana kebebasan dalam menyampaikan aspirasi politik. Terjadinya ledakan Bom Bali di Legian, yang terjadi pada tahun 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005, momentum awal menggeliatnya berbagai wacana stabilitas serta keamanaan Bali, terbentuklah berbagai macam ormas yang terdiri dari berbagai macam latar belakang sosial dan politik.
Ormas, di Bali pada umumnya ormas lain di Indonesia dibentuk sebagai bentuk upaya memperoleh kekuasaan. Sebagaimana yang terjadi di Jakarta, ormas dibentuk perwilayah (pengelompokan) masing-masing dipegang oleh ormas yang berbeda. Di Bali sektor jasa perhotelan dikuasai oleh Laskar Bali. Laskar Bali menyediakan jasa pengamanan dengan menempatkan anggota-anggotanya menjadi sekuriti pada Hotel-hotel yang ada di wilayah Bali.
Misalnya ketika hotel A, memerlukan jasa keamanan maka secara otomatis akan menggunakan jasa keamanan dari salah satu ormas tersebut. Sebagian besar Hotel akan lebih cepat merekrut jasa keamaman dari ormas dari pada jasa aparat keamanan karena pertimbangan kalau terjadi sesuatu apa-apa terkait Hotel maka yang lebih cepat bertindak adalah Ormas itu sebagai penjaga keamanan hotel.
Armada racun, kelompok genk seperti di Jakarta Genk Sartana, Genk Herkules, sebelum adanya FPI, menjadi salah satu fenomena munculnya laskar Bali. Misinya adalah suka duka, mengumpulkan dan membentuk karakter pemuda, ternyata sebaliknya prakteknya mengarah kepada kekerasan.
Selain ormas masih ada beberapa kelompok-kelompok diluar ormas, misalnya, Buleleng, Karangasem, Denpasar, masing-masing memliki karakteristik yang berbeda. Mereka bergerak diluar ormas, yang sifatnya perkumpulan dibawah tangan. Mereka bisa masuk di LB
6 Ngurah Suryawan, dibalik Layar Ajeg Bali. Bali Post, 2004, Ajeg Bali Sebuah Cita-Cita, Denpasar, Bali Post
atau Baladika Bali, mereka inilah yang potensial, karena ada motivasi untuk bekerja, biasanya bekerja sebagai keamanan, misalnya debt colector. Untuk memudahkan pelaksanaannya, semua ormas menurunkan Korlapnya masing-masing wilayah di Bali.7
4 Analisis
Ormas di Bali sangat powerful karena apabila ditinjau dari segi kemunculannya, dua ormas (Laskar Bali dan Baladika) memiliki ciri khas tersendiri. Dikatakan demikian karena kedua ormas ini dibentuk bukan dari fenomena modern bermasyarakat, tetapi mempunyai alur kultural. Dikatakan memiliki alur kultural, karena keduanya sama-sama berasal dari garis kekuatan politik yang sama yakni dari puri atau kerajaan8. Sebagai sebuah kekuatan besar, keduanya dilahirkan oleh tokoh-tokoh puri Denpasar yang sebelum orde baru sama-sama berasal dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Laskar Bali sangat identik dengan Puri Pemecutan yang berafiliasi dengan Golkar, sementara Baladika yang muncul setelah orde reformasi identik dengan Puri Satri yang berafiliasi dengan PDI-P.
Pengaruh ormas di Bali sangat dirasakan. Terdapat dua arus utama yang sama-sama dirasakan berjalan dari aktifitas keberadaannya. Pertama pengaruh ormas secara fisik dapat dirasakan (Tangible). Kedua, pengaruh Ormas yang tidak dapat dirasakan keberadaannya, namun sangat dirasakan manfaatnya.
Pertama kekuatan tangible, kekuatan ini dapat berjalan didasari oleh adanya faktor Clientelisme atau patronase dalam politik. Kekuatan ini dapat dirasakan dari proses intimidasi yang dilakukan oleh ormas terhadap anggota maupun masyarakat. Menelisik dua faktor ini seperti membayangkan salah satu pernyataan informan yang mengatakan sebagai sebuah kekuatan ormas (Laskar, Baladika, dan PBB) memiliki pengaruh yang cukup besar, sebagai contoh Laskar Bali menyediakan jasa sekuriti atau pengamanan untuk mengamankan perilaku- perilaku bisnis besar seperti hotel dan pengusaha-pengusaha besar9.
Berbicara soal sekuriti atau pengamanan, bisa ditelisik sejak Bali mempopulerkan adanya ajeg Bali, pertumbuhan organisasi pengamanan tumbuh pesat sama seperti pertumbuhan jumlah ormas di Bali. Dengan membawa misi ajeg Bali dan menganggap Bali berada dalam suasana gempuran pengaruh dari luar pertumbuhan jasa keamanan semakin dirasakan, dan bisa dikatakan sebagai awal dari munculnya ormas yang berwatak preman atau geng.
Mempertontonkan kekuatan individu daripada performa organisasi ini dapat dibuktikan sebagaimana istilah yang diperkenalkan oleh salah satu media ternama di Bali yakni Radhar Bali. Media tersebut memberikan istilah atas adu kekuatan beberapa ormas di Bali dengan istilah “ribut dulu damai kemudian”.
Selain itu tantangan dengan munculnya kelompok baru, misalnya berbagai ormas di tingkat daerah semakin menambah bentrokan antar pendukung ormas di bali semakin tidan bisa diabaikan. Munculnya ormas baru ini dianggap sebagai pesaing baru karena "Mereka berhasil mengambil alih sejumlah tempat hiburan malam,".
Berikut ini adalah tabel sejumlah daftar bentrokan antar ormas di Bali Tanggal kejadian Inti dan Kronologis bentrokan Pemicu Antara 2003 sampai
2008, terjadi konflik yang berkepanjangan antar berbagai macam ormas di Bali, salah
Bentrokan antar ormas di Bali yang diawali dengan pecahnya Forum Peduli Denpasar atau sering disebut-sebut FPD.
Dipicu oleh perkelahian Denpasar Moon Karaoke, 30 November 2003, yang menewaskan seorang polisi, kemudian berlanjut pada
7 Wawancara, Pegawai Dishub Provinsi Bali
8 Wawancara Wartawan Tempo Denpasar, 15 Mei 2015
9 Wawancara Wartawan Tempo, 15 Mei 2015
satunya terjadi pembunuhan antar pemimpin.
pembunuhan antar pemimpin ormas seperti Dewa Ngurah Swastika alias Dewa Saraf, orang kepercayaan Minggik, keluar dari FPD. Dewa, yang diberi kuasa mengelola judi toto gelap, sudah aktif mengail anggota baru.
Minggik tidak ingin ada
"pengkhianatan", sesuatu yang bisa membuat ia kehilangan wilayah operasi.
Pesan pun dikirim: Burik
"diselesaikan"-sesuatu yang dianggap bisa memukul Dewa. Antara Burik dan Dewa memang ada hubungan istimewa. Selain sebagai tangan kanan Dewa, Burik adalah teman satu bui Dewa setelah keduanya memukuli Direktur PD Pasar Badung pada 2002
23 Desember 2012 Pukul 22.00 terjadi Keributan di jalan Tangkuban Perahu. Ditandai dengan terbakarnya Posko Ormas Laskar Bali. Menjleang dini hari ormas Laskar Bali menyerang Pemuda padangsambian Bersatu dan berkumpul di Jalan Mahendradata.
18 Januari 2013 Bentrokan terjadi di Jalan Raya WR Soepratman Utara atau di depan RS Dharma Yadnya Tohpati.
Bentrokan terjadi sekitar pukul 21.00 Masalahnya sepele, yakni masalah pribadi yang membawa nama organisasi
2 Agustus 2013 Di Desa Keramas Gianyar, terjadi bentrokan antar ormas yang membuat Gede Wara Wiradata meninggal dunia dengan penuh luka tusukan.
14 Oktober 2013 Dipicu masalah sepele antar anggotanya, Laskar Bali dan Baladika bentrok dijalan Gunung Galunggung. Akibat pamer Pedang dan kekuatan di siang bolong menyebabkan kemacetan total disekitar kejadian.
3 Juni 2016 Terjadi bentrokan di Batuan, pelakunya anggota Laskar Bali,
Senggolan kendaraan di jalan raya.
bentrokan ini memakan korban yang bernama Dewa Gede Artawan.
Korban Penebasan Sadis dilakukan oleh tiga pria bercadar.
Sumber lain mengatakan dilatarbelakangi bentrokan ormas beberapa sebelumnya.
5 Mei 2016 Dua organisasi masyarakat (Ormas) besar di Bali, yakni Baladika dan Laskar Bali mengamuk hingga merusak baliho salah satu ormas di Desa Kayuputih, Buleleng, Bali.
Dua organisasi masyarakat (Ormas) besar di Bali, yakni Baladika dan Laskar Bali mengamuk hingga merusak baliho di Desa Kayuputih, Buleleng, Bali.
Sumber: Radar Bali, Edisi Rabu 16 Oktober 2013
Dari pola sebaran kekuatan dan daya yang dimiliki oleh masing-masing ormas di Bali sangat jelas terlihat betapa pengaruh ormas sangat berpengaruh terhadap kehidupan politik maupun secara psikology masyarakat Bali.
Sementara itu secara intangible, kekuasaan ormas seperti terlihat dari kiprahnya sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang bergerak dalam pelayanan sosial. Dalam suatu kesempatan wawancara dengan salah satu pengurus Baladika Bali menyatakan bahwa ormasnya (Baladika) merupakan organisasi yang independen dan memihak pada kepentingan masyarakat.
Sebagai oganisasi yang beranggotakan dari berbagai latar belakang, profesi dan lainnya senantiasa mendasarkan pada satu tujuan untuk mewujudkan Bali yang dicintai, menuju Bali Jagaditha.
Kepeloporan pada bidang sosial terkadang menghapus stigma negatif sehingga begitu banyak organisasi lain yang bisa menjadi contoh bagi ormas lainnya dengan kepeloporan bidang sosial. Kegiatan sosial membantu masyarakat miskin untuk memiliki rumah layak huni dengan bantuan bedah rumah menjadi trade mark yang bisa menjadikan ormas-ormas tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat yang berniat bergabung.untuk memperjuangkan kepentingannya10.
Sebagaimana diketahui, Bali merupakan destinasi pariwisata baik nasional maupun internasional. Bali merupakan jendela dunia wisata dan perekonomian Indonesia, sehingga cukup menjanjikan bagi mereka yang ingin mengadu nasib disana. Sebagai tempat atau pusat pariwisata paling terkenal di negri ini, tentunya banyak peluang usaha yang menjanjikan disana, sehingga wajar kemudian menjadi rebutan relasi kuasa yang salah satunya adalah munculnya ormas yang berprofesi sebagai penyedia jasa keamanan untuk melindungi kepentingan kelompok para pengusaha bisnis pariwisata.
Dalam kaca mata kelompok bisnis bekerjasama dengan ormas lebih menguntungkan karena mereka biasanya merasa aman berlindung dibawah kekuatan ormas daripada memilih berlindung dibawah pengamanan jasa kepolisian. Merasa diminati, ormas kemudian membentuk pemeliharaan jaringan bisnis, dan ekonomi dengan kelompok para pengusaha bisnis pariwisata. Dari merasa terlindungi itulah kemudian orang atau kelompok pengusaha pariwisata di Bali tertarik untuk menggunakan jasa ormas daripada kepolisian.
Jalur Ekonomi Politik
Apabila ditelisik lebih jauh beberapa analisis yang dapat dipakai untuk menjelaskan mengapa kekuatan ormas di Bali sangat berpengaruh besar teradap eksistensi Partai Politik salah satunya dapat dianalisa lewat ekonomi politik.
10 Wawancara dengan Dode Wisnu, Korlap Baladika Wilaya Marga Tabanan
Frieden (1991:16), menyatakan ekonomi politik merupakan usaha aktor-aktor mengejar kepentingan sendiri-sendiri bergabung didalam atau diluar kelembagaan yang ada untuk mempengaruhi hasil interaksi sosial. Dalam konteks ini ekonomi politik dipahami sebagai pertama, langkah untuk mendefenisikan siapa atau aktor-aktornya dan apa tujuan masing- masing, kedua, memerinci preferensi kebijakan masing-masing aktor ketiga menentukan bagaimana para aktor itu akan bergabung kedalam kelompok-kelompok untuk melakukan tindakan-tindakan politik, dan keempat mengikuti interaksi para aktor itu melalui dan dengan institusi-institusi sosial.
Sehubungan dengan adanya kekuasaan yang dimiliki oleh para ormas tersebut, konsep ini memusatkan penekanan pada fenomena power (kekuasaan, kekuatan, atau daya) dengan fenomena power (kekayaan, wealth), sebagai satu-satunya cara untuk mencapai tujuan
Ditinjau dari segi tujuan, dapat dikatakan bahwa ormas di Bali, karena berhasil menempatkan wakil-wakilnya duduk dikursi legislatif dengan berbagai macam latar belakang Partai Politik. Panggung politik lokal di Bali mereka kuasai disebabkan mereka memiliki kuasa baik di level elit maupun di level bawah.
Tidak dapat dibayangkan mereka (ormas) yang memiliki jaringan ekonomi identik dengan kekerasan atau bisnis haram bisa bermain di ruang publik. Sebuah pertanyaan yang mendasar, ada sesuatu yang salah dengan pengelolaan negeri ini yang ditandai dengan situasi sistem politik yang kacau, partai politik itu gagal memunculkan pemimpin. Panggung politik direbut oleh orang-orang bodoh, memiliki kekuatan penekan, dan di Bali, aktualnya mereka diterima dan menjadi solusi ketika menjadi masalah di tingkat bawah.
Kelebihan Ormas di Bali bisa memanfaatkan kelemahan partai politik setelah partai politik gagal dalam menentukan calon pemimpin. Hal tersebut diperparah dengan sistem pemilu seperti sekarang, mengaharapkan calon pemimpin yang merupakan hal yang mustahil.
Yang menarik adalah tidak ada satu pun diantara ormas-ormas itu yang mau berafiliasi dengan partai-partai politik baru yang muncul di luar partai-partai yang sudah mapan baik secara nasional sampai ke tingkat lokal, hal tersebut menunjukkan bahwa Ormas memiliki relasi ekonomi politik karena mampu menjaga relasi yang tetap terhadap partai politik.
Jalur Personal Voluntarisme Elit
Fahmi (2012), idealnya dalam konteks pembangunan demokrasi ormas tidak diperbolehkan untuk berafiliasi dengan politik apapun, termasuk dalam partai politik. Dalam konteks organisasi masyarakat sipil, ormas merupakan lembaga/organisasi non partisan yang berbasis pada gerakan moral (moral force) yang berperan dalam mengawal penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan politik sesuai dengan aspirasi rakyat. Karakter Ormas memang gerakan, sekali ditelikung maka akan mengubah orientasi gerakannya. Dalam kehidupan demokrasi keberadaan ormas meski disertai kepekaan analisis konteks dan pembacaan relasi kuasa. Ini akan menjaga ormas tetap berasosiasi langsung dengan gelombang tuntutan keadilan ekonomi, pemerintahan yang bersih, perbaikan kualitas pelayanan publik, penguatan partisipasi publik, dan dorongan reorientasi parpol.
Namun bertolak belakang dengan Ormas yang ada di Bali, Ormas dijadikan sebagai ajang voluntaristik bagi pengurus-pengurunya untuk ikut bergabung dalam partai politik, yang menyedeiakan bagi mereka kanalisasi untuk tampil sebagai aktor politik diera reformasi. Fakta sekarang ini menyatakan bahwa diera yang ideologi parpol sudah tidak menjadi penting, dimana garis ideologi ditarik berdasarkan garis massa (sistem Kepartaian), menjadi ajang voluntaristik bagi para pimpinan Ormas untuk menjajal partai politik.
Dalam suatu kesempatan wawancara dengan pernyataan dari informan lain yang menyatakan kekuatan ormas-ormas tersebut sebenarnya bukan terletak pada organisasinya akan tetapi lebih kepada personal atau individunya11.
11 Wawancara, hasil FGD Pertemuan Ormas se Kabupaten Tabanan, 13 Agustus 2017
Mastini (2017) Jaringan yang terbentuk serta kekuasaan yang dimiliki, mereka berharap mampu memperluas jaringan sebagai sumber kekuatan politik, jaringan tersebut dapat terjalin akibat besarnya pengaruh kekuasaan dalam menjalin suatu relasi dengan pihak yang mempunyai keterkaitan.
Tiga organisasi massa terbesar di Pulau Bali tersebut, bukan sekedar akan tetapi telah menyediakan diri sebagaimana dikenal dalam konsep relasi kuasa. Dan alat mobilisasi politik kaum elit politik lokal di Bali. Variannya bukan lagi ke Golkar dan PDI-P tetapi sudah pecah- pecah, mereka bisa menempatkan orang sesuai dengan kapasitas mereka.
Di Bali hubungan ormas dan parpol tidak secara kelembagaan tetapi lebih kepada individual, personal. Hubungan personal ini memungkinkan ormas secara bebas dan voluntaristik, tidak diatur oleh aturan yang mengikat akan tetapi lebih kepada kemauan pribadi pimpinan ormas.
Hal tersebut ditunjang oleh adanya situasi demokrasi yang belum menguntungkan bagi keberlanjutan sistem, sehingga tidak heran ditengah kepesimisan kita terhadap kinerja partai politik, tiba-tiba dikejutkan oleh tampilnya pemimpin-pemimpin informal yang berasal dari ormas-ormas yang eksistensinya belum diakui oleh negara. Mereka itu masuk melalui jalur- jalur yang informal pula karena mereka masuk dengan cara memanfaatkan kelemahan demokrasi kita yang masih sangat mengandalkan formalitas ketimbang substansi.
Di Bali Ormas menyediakan basis-basis material bagi partai politik, untuk akan tetapi tergantung bagaimana partai politik menyediakan peluang dan pelayanan kepada para pemimpin ormas masuk kedalam jajaran elit partai politik. Pimpinan ormas sebagai besar berasal dari pimpinan formal masyarakat, secara otomatis memiliki kekuatan dan basis massa yang menarik perhatian partai politik. Sebagai tentu partai politik akan memikirkan bagaimana bagi partai politik untuk permainan orang-orang dibalik layar (pengusaha, politisi, geng) untuk melindungi kepentingannya.
Erviantono (2017), menyatakan soal kaderisasi parpol disesuaikan dengan nuansa ketokohan, hal ini apabila melihat karakteristik Bali yang kental dengan konsekuensi ketokohan sanga penting untuk meneropong bagaimana ormas di Bali dapat menyediakan calon pemimpin yang dipersiapkan oleh partai-partai politik itu. Nuansa ketokohan yang dituntut tidak hanya kokoh dalam lembaga Parpolnya melainkan bisa memainkan peran sekaligus relasi kuat dalam ikatan paguyuban adatnya.
5 Penutup
Ormas yang bermunculan di Bali tentu bukan tanpa sebab. Bali yang berubah menjadi destinasi pariwisata membuat banyak sekali tempat-tempat hiburan, tentu saja pusatnya di Kuta, daerah hiburan malam di Pulau dewata. Kuta bagaikan gadis cantik bagi para pencari nafkah di pulau ini, banyak jasa yang dapat diberikan untuk menghasilkan dolar di tempat itu. Termasuk jasa keamanan yang kemudian di organisasi oleh Ormas-ormas ini. Ini mengapa Ormas-ormas di Bali semakin menjamur, mendirikan ormas bagaikan mendirikan perusahaan jasa yang menjanjikan, bahkan bisa menjadi kendaraan politik suatu saat nanti. Laskar Bali dengan ketuanya Gung Alit Sucipta, terkenal dekat dengan pejabat-pejabat militer, setelah perkelahian di Denpasar Moon Karaoke, 30 November 2003, yang menewaskan seorang polisi, Gung Alit sempat ditahan sebagai tersangka.
Baladika, yang anggotanya di dominasi oleh anak-anak muda ini merupakan kelompok yang sangat dekat dengan kalangan DPRD, dan pejabat pemerintahan daerah. Hal ini bisa dimaklumi karena para pejabat-pejabat itu ingin tetap memiliki dukungan kuat dan bisa digunakan sebagai senjata melibas musuh-musuhnya.
Daftar Pustaka
Fahmi, K. (2012). Relasi OMS dengan Partai Politik, Sebuah Dinamika dan Tantangan Masyarakat Sipil di Aceh. Banda Aceh : Aceh Institute
Geertz, Clifford, 2000, Negara Teater, Yogyakarta, Penerbit Bentang Budaya.
Naradha S ABG. (2003). Ajeg Bali, Sebuah Cita-cita. Denpasar: Bali Post.
Schulte Nordholt, Henk, 2005. “Prolog, Bali: Sebuah Benteng Terbuka,” dalam I Ngurah Suryawan, Bali Narasi Dalam Kuasa Politik dan Kekerasan di Bali.
Yogyakarta: Ombak.
Widyarsono, A, (2000). Hubungan Kuasa dan Pengetahuan Menurut Foucault, dalam Jurnal Driyarkara Tahun XXIII No. 4.
Informan
John Dharmawan, umur 39 tahun, wawancara tanggal 26 September 2017 di Denpasar.
Ketut Rudia, Umur 45 Tahun, Wawancara 27 September 2017 di Denpasar Ketut Kuta 55 Tahun, wawancara 28 September 2017 di Denpasar
Laely 55 tahun, wawancara tanggal 27 Juni 2017 di Tabanan
Rofiki, umur 49, wawancara tanggal 15 Mei 2015, dan 20 September 2017 di Denpasar.