• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED

LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Marselina Malo

1

, I Wayan Wiryawan

2

, Anak Agung Oka Suciati

3

Jurusan Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Saraswati Tabanan

[email protected] ABSTRAK

Ciri utama pembelajaran berbasis masalah, yaitu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerja sama, serta menghasilkan karya dan peragaan. Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya pada siswa melainkan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah, mempelajari peranan orangtua dewasa yang autentik, dan memjadi pembelajar yang mandiri. Dari hasil pengolahan data, diperoleh nilai rata-rata dari evaluasi nilai (siklus) I yaitu 75 meningkat pada nilai (siklus) II menjadi 85 dan daya serap belajar siswa meningkat dari 75% pada nilai (siklus) I menjadi 85% pada nilai (siklus) II. Demikian pula dalam proses pembelajaran,presentase siswa menjadi sangat baik. Hal ini berarti prestasi yang dicapai siswa sangat baik atau optimal. Jadi dapat di katakan: “Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Siswa Kelas VII f SMP NEGERI 2 TABANAN Tahun Pelajaran 2020/2021”

Kata Kuncinya :Pembelajaran Berbasis Masalah,Inovasi Pembelajaran

ABSTRACT

The main characteristics of problem-based learning, namely asking questions or problems, focusing on interdisciplinary linkages, authentic inquiry, collaboration, and producing works and demonstrations. Problem-based learning is not designed to help teachers provide as much information as possible to students but to help students develop thinking and problem-solving skills, learn the role of authentic adult parents, and become independent learners. From the results of data processing, the average value of the evaluation of the value (cycle) I was 75 increased in the value (cycle) II to 85 and the student's learning absorption increased from 75% in the value (cycle) I to 85% in the value (cycle) ) II. Likewise in the learning process, the percentage of students becomes very good. This means that the achievement achieved by students is very good or optimal. So it can be said: "Implementation of Problem Based Learning Models to Improve Learning Achievement of Pancasila Education and Citizenship for Class VII Students f SMP NEGERI 2 TABANAN Academic Year 2020/2021"

Keywords: Problem-Based Learning, Learning Innovation

1. Pendahuluan

Berhasil tidaknya seorang siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, dapat dilihat dengan memggunakan tolak ukur perolehan nilai. Baik nilai tes formatif maupun nilai tes sumatif yang mereka peroleh. Hal ini disebabkan karena hasil belajar merupakan salah satu indikasi tentang keberhasilan seorang siswa dalam menempuh setiap mata pelajaran yang ia dapat disekolah dalam kurun waktu tertentu. Hasil belajar di pengaruhi oleh system intruksional akan melibatkan seluruh komponen yang saling mendukung untuk mencapai suatu tujauan. Komponen-komponen yang membentuk kegiatan pembelajaran tersebut antara lain guru, media, sarana dan prasarana, kurikulm lingkuangan evaluasi dan sebagainya. Situasi yang memungkinkan terjadinya kegiatan pembelajaran yang optimal, adalah situasi dimana siswa dapat berinteraksi dengan komponen lain secara optimal dalam rangka mencapai tujuan. Salah satu usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan memahami bagaimana siswa belajar dan memadukan bahwa belajar telah berlangsung pada diri siswa, yaitu keadaan dimana informasi

(2)

yang telah diperoleh siswa dapat dicerna,diproses, emudian dikembangkan sehingga mampu bertahan dalam pikiran siswa.

Pembelajaran PPKN di SMP harus diajarkan sebagai suatu cara berpikir yang dapat membangun struktur kongnitif yang harus dilalui siswa untk mencapai tingkat berfikir yang lebih tinggi. Siswa dapat belajar dengan baik apabila telah memiliki potensi yang dimilkinya. Potensi yang di maksud seperti motivasi, minat, bakat,kecerdasan dan lain-lain. Memperhatikan hal-hal yag diuraikan dalam kegiatan dilapangan, khususnya kelas VII F SMP Negeri 2 Tabanan, seharusnya pelajaran PPKN diajarkan tidak banyak melalui ceramah dan guru atau buku-buku yang dibaca, tetapi siswa hendaknya diajak aktif terlibat melalui pengalaman belajar baik secara sosial maupun emosional. Oleh kerena itu,maka diupayakan untuk menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dalam pemeblajaran PPKN dengan harapan terjadi peningkatan prestasi belajar siswa.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apakah melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn pada siswa kela VII F di SMP Negeri 2 Tabanan tahun Pelajaran 2020/2021? 2. Adakah kendala – kendala yang muncul dalam pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran PPKn siswa kelas VII F di SMP Negeri 2 Tabanan tahun Pelajaran 2020/2021?

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui peranan model pemeblajaran berbasis masalah dalam meningkatkan prestasi belajar PPKN siswa kelas VII F SMP Negeri 2 Tabanan Tahun Pelajaran 2020/2021. 2. Untuk mengetahui kendala yang muncul dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran PPKn siswa kelas VII F SMP Negeri 2 Tabanan tahun Pelajran 2020/2021.

2. Metode

Untuk mencapai suatu tujuan yang telah dirumuskan,maka setiap penelitian yang dilakukan oleh seorang sudah tentu memerlukan metode yang tepat. “metodes” berarti jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan (Netra, 1974:12). Metode penetuan subjek penelitian dapat dibagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut :

1. Populasi penelitian adalah sekelompok individu yang memiliki satu atau lebih karasteristik umum yang menjadi pusat perhatian penelitian (Gusti Mulyadi Warsito,1932:423). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 tabanan tahun pelajaran 2020/2021.

2. Dalam penentuan jumlah responden yang diambil oleh peneliti dalam suatu penelitian berupa system sampel penelitian. Sutrisno Hadi dalam bukunya yang berjudul Methodologi Research,mengatakan bahwa sebenarnya tidaklah ada suatu ketetapan mutlak beberapa persepsi suatu sampel harus di ambil dari populasi (1989:73).

Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII F SMP Negeri 2 Tabanan tahun pelajaran 2020/2021 yang menggunakan nilai tugas rumahnya (PR) sebagai tolak ukur penilaian secara general atau umum.

Metode pendekatan subjek penelitian adalah suatu metode yang harus di pergunakan untuk mengandalkan pendekatan terhadap obyek penelitian. Untuk hal itu, maka cara yang dipergunakan unuk mengadakan pendekatan pendekatan terhadap subyek penelitian ini adalah dengan menggunakan metode empiris. Yakni suatu cara pendekatan dimana gejalah yang disilidiki sudah ada secara wajar ( Sutrisno Hadi, 1976:42). Pendekatan subyek penelitian ini dengan menggunakan metode penugasan (PR) yang disumsikan siswa kelas VII F SMP Negeri 2 Tabanan tahun pelajaran 2020/2021.

Setelah ditentukan subyek penelitian dan metode pendidikan terhadap subyek penelitian, maka tindakan selanjutnya di perlukan metode pengumpulan data. Maksud dari metode

(3)

pengumpulan data ini adalah untuk memperoleh. bahan-bahan yang tepat guna untuk dijadikan landasan dalam pengolahan data.

Teknik pengumpulan data sekurangnya ada bermacam-macam seperti yang dipaparkan oleh I Nyoman Dantes (1983:16). Teknik pengumpulan data Antara lain yaitu:

1. Kuisioner 2. Test 3. Wawancara 4. Pengukuran 5. Observasi 6. Pencatatan dokumen

Dalam pelaksanaan penelitian ini alat pengumpulan data yang digunakan adalah : 1. Pedoman observasi

2. Pedoman penugasan (PR) dan 3. Test hasil belajar

Setelah kegiatan pengumpulan data selesai, maka langka selanjutnya adalah mengolah data atau analisi data. Untuk dapat membuat simpulan dan generalisasi tentang hasil penelitian, data yang terkumpul dan masih mentah harus diolah sesuai tujuan penelitian yang telah dirumuskan melalui cara tertentu yang disebut dengan metode pengolahan data. Tujuan pengolahan data adalah untuk mrngadakan generalisasi kondisi-kondisi atau sifat-sifat serta hubungan yang bersifat khusus sehingga diperoleh kondisi yang bersifat umum. Tekait dengan itu untuk mrningkatkan efektifitas dalam pengolahan data sera menghindari terjadinya kesalahan generalisasi maka dalam peralihan dan menggunakan metode hendaknya mengacu pada obyek yang akan diteliti. Pada garis besarnya metode pengolahan data dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:

1. Metode deskriptif, yaitu suatu bcara pengolahan data dengan jalan menyusun data secara sistematis sehingga di peroleh simpulan umum/generalisasi .

2. Metode comparatif, adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan mengadakan berbandingan secara sistematis dan kontinyu, sehingga mendapat simpulan secara umum.

3. Metode analisa, adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan mempergunakan teknik analisa sehingga diperoleh tesa atau dalil.

Menurut Koentjaraningrat (1989:269) metode analisa dapat dibedakan menjadi dua yaitu: a. Metode analisa kuantitatif (analisa statistic) adalah suatu analisa yang menggunakan

rumus matematis, dan

b. Metode analisa kualitatif (analisa non statistic) yaitu suatu analisa yang tidak menggunakan rumus-rumus matematis.

Dalam penelitian ini metode analisis atau metode pengolahan data yang dipenggunakan adalah metode analisa deskriptif kualitatif.

3. Hasil dan Pembahasan

Penelitan tindakan merupakan kegiantan nyata, hasil pemikiran yang dirancang guru untuk meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar. Tindakan terjadi dalam siklus sebagai eksperimen berkesinambungan dan dalam penelitian ini terjadi 2 siklus yaitu siklus sebelum dan sesudah pemberian tugas atau penjadwalan tugas sebagai pedoman keteraturan belajar dirumah. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada kelas VII F SMP NEGERI 2 TABANAN. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalag siswa kelas VII F SMP NEGERI 2 TABANAN Tahun pelajaran 2020/2021 berjumlah 38 orang siswa.

Pada tahap sisklus 1, langka-langka kegiatan belajar mengajar menggunkan metode ceramah tanpa memberikan tugas untuk dikerjakan dirumah pada siswa kelas VII F SMP Negeri Tabanan. Alat dan sumber bahan dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraaan

(4)

dengan menggunakan metode ceramah yaitu media gambar dan sumbernya buku paket pendidikan kewarganegaraan SMP Negeri 2 Tabanan kelas VII F.

Hal ini di lakukan untuk mengetahui prestasi belajar dan apakah siswa memiliki motivasi untuk belajar sendiri dirumah setelah jam sekolah selesai.

Sedangkan pada tahap siklus II siswa mulai diajukan pertanyaan atau masalah untuk memecahkan masalah secara individu maupun kelompok. Siklus II ini bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar dan teknik kepada peserta didik agar mampu memecahkan masalah dan menjadi pembelajar yang mandiri.

Tes atau pengujian adalah cara penilaian yang dirancang dan di laksanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langka-langka perencanaan,pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukan pencapaian hasil belajar siswa,pelaporan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa, penilaian digunakan untuk :

1. Menilai pencapaian kopetensi peserta didik 2. Bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar 3. Memperbaiki peoses pembelajaran

Rentangan skor atau nilai tes hasil belajar pendidikan kewarganegaraan siswa kelas VII F SMP NEGERI 2 Tabanan dari masing-masing siswa bergerak dari nol (terendah) sampai 100 (tertinggi).

Kriteria skor dapat disusun sebagai berikut : Nilai 85 - 100 : sangat baik (A) Nilai 75 - 88,9 : baik (B) Nilai 65 -74,9 : cukup (C) Nilai 55 – 64,9 : sedang (S) Nilai 0 - 54,9 : kurang (K)

Adapun hasil evaluasi melalui tes kemampuan pemahaman materi pelajaran pendidikan kewarganegaraan pada siswa kelas VII F SMP Negeri 2 Tabanan Tahun pelajaran 2020/2021 adalah sebagai berikut :

Rata – rata siklus I : 75 Rata – rata siklus II : 85 Nilai terkecil siklus I : 60 Nilai terkecil siklus II : 75 Nilai tertinggi siklus I : 85

Nilai tertinggi siklus II : 100 Ketuntasan (KKM) : 68

Daya serap siklus I : 75% Daya serap siklus II : 85 % Jumlah siswa : 38 orang siswa

Dari hasil penilaian secara umum didapatkan ada peningkatan nilai rata – rata dari nilai kelas atau hasil belajar pendidikan kewarganegaraan pada siswa kelas VII F SMP Negeri 2 Tabanan Tahun pelajaran 2020/2021. Secara lengkap dapat dilihat data perbandingan dari nilai yang dilakukan,sebagai berikut :

Tabel 1 Data Perbandingan Nilai siklus I dan II

SIKLUS I SIKLUS II

Jumlah nilai 2.845 Jumlah nilai 3.225

Rata – rata 75 Rata – rata 85

Nilai terkecil 60 Nilai terkecil 75

Nilai terbesar 85 Nilai terbesar 100

(5)

Daya serap 75% Daya serap 85%

Ketuntasan klasikal 84% Ketuntasan klasikal 100%

Dari hasil evaluasi dan pengamatan aktifitas siswa kelas VII F SMP Negeri 2 Tabanan tahun pelajaran 2020/2021 dalam proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, diperoleh nilai rata-rata dari evaluasi tindakan (siklus) I yaitu 75 meningkat pada tindakan (siklus) II menjadi 85 dan daya serap belajar siswa meningkat dari 75 % pada tindakan (siklus) I menjadi 85% pada tindakan siklus II. Demikian pula dalam proses pembelajaran, prosentase siswa menjadi sangat baik.

4. Simpulan

Berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh selama pelaksanaan tindakan kelas tentang Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Siswa Kelas VII f SMP SMP NEGERI 2 TABANAN Tahun Pelajaran 2020/2021 dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Penerapan model pemebelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan prestasi belajar PPKN siswa kelas VII F SMP Negeri 2 Tabanan Tahun Pelajaran 2020/2021 adalah siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah serta menjadi pembelajar yang mandiri. Dari hasil pemantauan nilai dalam penelitian ini terjadi peningkatan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan pada siswa kelas VII F SMP NEGERI 2 TABANAN yaitu peningkatan nilai rata-rata kelas 75 menjadi 85 atau daya serap peningkat dari 75% menjadi 85% dan juga terlihat kemandirian dan kreafitas belajar siswa menjadi aktif dan meningkat.

2. Untuk kendala yang muncul dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran PPKn siswa kelas VII F SMP Negeri 2 Tabanan tahun Pelajaran 2020/2021. Dengan demikian Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Siswa Kelas VII f SMP SMP NEGERI 2 TABANAN adalah dijadikan umpan balik untuk meningkatkan diri baik dari guru dan siswa untuk mampu lebih memahami kaidah ilmiah tentang teknik pemecahan masalah tersebut

Daftar Pustaka

Citrawan, 2005. Psikologi Pendidikan. Badan Penerbit IKIP,Bandung.

Darsono Tjokrosujoso,1995. Dasar-Dasar Penelitin. Universitas Terbuka.Jakarta. Depdikbud,1991/1992, Psikologi Perkembangan,Penerbit Dikti Depdikbud.

Depdikbud, 1994. Panduan Mengajar Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Jakarta : Depdikbud

Depdikbud. 1996 Lembar Kerja Siswa (LKS).Jakarta.

Erman Suherman, Udin S Winata Putra,1994 .Strategi Belajar Mengajar, Universitas Terbuka,Jakarta.

Gambar

Tabel 1 Data Perbandingan Nilai siklus I dan II

Referensi

Dokumen terkait

Implementasi pendekatan saintifik dengan Problem Based Learning dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas VII D SMP Negeri 1 Surakarta,

Meningkatkan Kemampuan Pemecaha n Masalah Siswa pada Mata Pelajaran Sains Konsep Pencemaran Lingkungan di Kelas VII SMP melalui Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem

Pembelajaran mata pelajaran Matematika dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning pada siswa kelas III tahun pelajaran 2020/2021 di SD Negeri Medani

setiap penambahan satu point pada variable X1 akan meningkatkan prestasi siswa sebesar 0,129 karena koefisien yang dicapai cukup tinggi, oleh karena itu perlu adanya

penelitian tindakan kelas dalam bentuk tesis dengan judul: ” Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Media Video Untuk Meningkatkan Motivasi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa kelas VII SMP N 2 Kajoran tahun pelajaran 2013/2014 yang dikenai model CPS lebih

2 model pembelajaran Problem Based Learning berbasis adobe flash kelas eksperimen lebih baik dari kelas control, 3 rata-rata peningkatan prestasi belajar kelas eksperimen lebih baik

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai “Kreativitas guru PPKn dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan PPKn”