• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE IMPROVEMENT OF ACTIVITY AND INSTRUCTION ACHIEVEMENT OF PANCASILA AND CIVIC EDUCATION USING THE COMPARATIVE LEARNING THINK PAIR SHARE AT THE 7th GRADE STUDENTS OF SMP NEGERI 3 METRO PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "THE IMPROVEMENT OF ACTIVITY AND INSTRUCTION ACHIEVEMENT OF PANCASILA AND CIVIC EDUCATION USING THE COMPARATIVE LEARNING THINK PAIR SHARE AT THE 7th GRADE STUDENTS OF SMP NEGERI 3 METRO PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN "

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

THE IMPROVEMENT OF ACTIVITY AND INSTRUCTION ACHIEVEMENT OF PANCASILA AND CIVIC EDUCATION USING THE COMPARATIVE LEARNING THINK PAIR SHARE AT THE 7th

GRADE STUDENTS OF SMP NEGERI 3 METRO

By: MARTATI

The purpose of this study was to improve the instruction of Pancasila and Civic Education through: (1) finding lesson plan of the cooperative learning Think Pair Share; (2) implementing the cooperative learning Think Pair Share; and (3) finding the appropriate scoring system of the cooperative learning Think Pair Share;and (4) discovering the increase of the activity and the learning achievement of the students taught through the cooperative learning Think Pair Share.

The research method used was a classroom action research. The subjects were the students of VII C and VII E classes. The research was conducted in 3 cycles. The research data were collected through a written test and were analyzed through a quantitative and descriptive technique.

The conclusion of the study are: (1) the lesson plan of the cooperative learning

Think Pair Share was designed syntactically to propose a phenomenon, determine the choice of the theme, analyze the phenomenon, process and examine the phenomnenon, draw a conclusion, present the work, analyze and evaluate it; (2) the cooperative learning Think Pair Share can improve the students’ learning

activity; (3) the assessment applied was in the form of essay consisting of five items that had been verified by expert judgement; with reability of first cycle : 0,33, Second cycle : 0,23 third cycle : 0,18 (4) the improvement of the students’ achievement in the first cycle in class VII C reached 65.63% and in class VII E reached 68.75. Meanwhile, in the second cycle, in class VII C was 75% AND IN vii e WAS 87.50. Finally, in the third cycle, class VII C reached 81.25% and VII E reached 90.63%.

(2)

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE

SISWA KELAS VII SMP NEGERI 3 METRO

Oleh MARTATI

Tujuan Penelitian ini adalah untuk memperbaiki pembelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan dengan cara: (1) Menemukan Rencana Pelaksanaan pembelajaran pembelajaran kooperatif Think Pair Share. (2) Menerapkan pembelajaran pembelajaran kooperatif Think Pair Share (3) Menemukan sistem penilaian yang tepat; (4) Mengetahui peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa dengan pembelajaran kooperatif Think Pair Share. Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIIC dan VIIE. Penelitian dilakukan dengan 3 siklus. Pengumpulan data menggunakan tes tertulis dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif.

Kesimpulan penelitian: (1) RPP pembelajaran kooperatif Think Pair Share di desain dengan sintak mengajukan fenomena, menentukan pilihan tema, menganalisis fenomena, mengolah dan mengkaji fenomena, menarik kesimpulan, menyajikan hasil kerja, menganalisis dan mengevaluasi,(2) pembelajaran kooperatif Think Pair Share dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yaitu diskusi kelompok, (3) penilaian menggunakan soal bentuk esai berjumlah lima soal yang telah diverifikasi oleh expert judgement dengan reabilitas siklus 1: 0,33 siklus 2 : 0,23 siklus 3 : 0,18 (4) peningkatan prestasi siswa siklus I kelas VIIC 65,63%, kelas VIIE 68,75%. Siklus II kelas VIIC 75%, kelas VIIE 87,50%. Siklus III kelas VIIC 81,25%, kelas VIIE 90,63%.

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

MARTATI Lahir di Palembang, 16 Maret 1970. Merupakan anak tunggal dari pasangan Bapak Muhammad Amin dan Ibu Siti Rohmah.

Penulis menyelesaikan Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) Hub Dam IV Sriwijaya Tahun 1975, Sekolah Dasar (SD) Negeri 64 Palembang Tahun 1982, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 17 Palembang Tahun 1985, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Palembang Jurusan A3 dan Perguruan Tinggi (S1) FKIP Jurusan IPS Program Studi PMP-KN Universitas Sriwijaya Palembang tahun 1993. .

Tahun 1994 Penulis Menikah dengan Muhammad Ikhsan dan dikarunia 1 orang putera yang bernama : Muhammad Fazry Tasa Utama, dan 2 orang putri yang bernama : Thasa Alifia Rizqyta dan Thasa Azra Violetha.

Tahun 1995 Penulis diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai guru Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 Seputih Banyak Lampung Tengah. Tahun 1999 Penulis mutasi ke SMP Negeri 3 Metro sampai sekarang.

(8)

Don’t Be Afraid To

Move, Because The Distance Of 1000

Miles Start By A Single Step.

JanganTakut Melangkah, Karena Jarak 1000 Mil

Dimulai Dari 1 Langkah

A Wealth Without A Religion Is A Blind

(9)

Teriring rasa bahagia dan syukur kehadirat Allah SWT....

Karya ini kupersembahkan sebagai tanda kasih sayang dan cintaku kepada :

Kedua Orangtuaku yang tercinta : Muhammad Amin dan Siti Rohmah Suamiku yang terkasih : Muhammad Ikhsan

Anandaku yang tersayang :

(10)

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Taufik dan Hidayah-Nya sehingga Penulis memperoleh kekuatan dan kemampuan untuk menyelesaikan Tesis ini dari mulai perencanaan, pelaksanaan, penyusunan hingga perbaikan.

Tesis dengan judul “Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Dengan Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share Pada Siswa

Kelas VII SMP Negeri 3 Metro” disusun dalam rangka memenuhi sebagian

persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Teknologi Pendidikan Di Program Pascasarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

Dengan selesainya Tesis ini, Penulis sampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada yang terhormat :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng Harianto, M.S, selaku Rektor Universitas Lampung.

2. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si, Selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung yang telah memberikan berbagai kebijakan dalam penyelesaian penyusunan Tesis ini.

3. Bapak Prof. Dr. Sudjarwo, M.S, selaku Direktur Pascasarjana Universitas Lampung.

(11)

meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan bimbingan, motivasi, arahan dan saran-saran yang sangat berharga kepada Penulis selama penyusunan Tesis ini.

5. Ibu Dr. Herpratiwi, M. Pd, selaku Sekretaris Program Pascasarjana Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung dan sekaligus selaku Penguji II yang telah memberikan bimbingan, motivasi, saran-saran yang berharga kepada Penulis dalam perbaikan Tesis ini.

6. Bapak Drs. Maman Surahman, M. Pd, selaku Pembimbing II yang telah dengan sabar, tekun, tulus dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan bimbingan, motivasi, arahan dan saran-saran yang sangat berharga kepada Penulis selama penyusunan Tesis ini.

7. Bapak Dr. Irawan Suntoro, M.S, selaku Penguji I yang juga telah memberikan bimbingan, saran-saran, ilmu demi terselesaikannya Tesis ini.

8. Ibu Gustin Darwis, S. Pd. Ing, selaku Kepala SMP Negeri 3 Metro yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian.

9. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen dan Staf Administrasi Program Pascasarjana Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

10.Kedua Orang Tua (Muhammad Amin dan Siti Rohmah), Suamiku (Muhammad Ikhsan), Anandaku (Fazry, Alifia dan Violetha) serta Kakak, adikku atas dukungannya dalam penyelesaian tesis ini

(12)

Akhirnya hanya Doa yang dapat Penulis persembahkan ke Hadirat Allah SWT, semoga segala bantuan yang telah diberikan akan mendapat balasan yang berlipat ganda dan semoga Tesis ini bermanfaat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Aamiiin YRA.

Bandar lampung, 30 Juni 2014 Penulis,

(13)

xi

1.6.1 Kegunaan Penelitian Secara Teoritis... 14

1.6.2 Kegunaan Penelitian Secara Praktis... 15

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Teori Belajar dan Pembelajaran ... 17

2.2. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Dalam Kurikulum 2013 ... 22

2.2.1 Tujuan Mata Pelajaran ... 22

2.2.2 Materi ... 24

2.2.3 Pendekatan Scientific Dalam Kurikulum 2013 ... 26

2.2.4 Sistem Evaluasi ... 26

2.3. Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share ... 28

2.4. Aktivitas Belajar... 34

2.5. Prestasi Belajar ... 37

2.6. Prosedur Pembelajaran kooperatif TPS ... 39

2.7. Dampak Instruksional Dan Pengiring (Instructional And Nurturant Effect) . 42 2.8. kerangka Pikir ... 44

2.9. Teori desain pembelajaran kooperatif TPS ... 46

(14)

xii

3.10. Validasi instrumen penelitian ... 58

3.10.1 Reabilitas tes ... 59

3.10.2 Validitas tes ... 60

3.10.3 Definisi konseptual dan definisi operasional ... 61

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian ... 68

4.1.1 Hasil penelitian siklus 1 ... 67

4.1.2 Hasil penelitian sklius 2 ... 76

4.1.3 Hasil penelitian siklus 3 ... 84

4.2. Pembahasan ... 90

4.2.1 Perencanaan pembelajaran ... 90

4.2.2 Pelaksanaan pembelajaran ... 92

4.2.3 Sistem evaluasi pembelajaran ... 93

4.2.4 Aktivitas dan prestasi belajar ... 94

4.3. Keterbatasan Penelitian ... 95

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 96

5.2. Saran ... 97 DAFTAR PUSTAKA

(15)
(16)
(17)
(18)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

(19)

Desentralisasi dan demokrasi merupakan fenomena penting yang muncul dalam agenda reformasi pendidikan pada akhir-akhir ini. Wujud desentralisasi dan demokrasi yang sesuai dengan agenda reformasi kaitannya dengan upaya perbaikan sistem pendidikan adalah bagaimana mengoptimalkan peran serta segenap komponen sesuai dengan kapasitasnya demi suksesnya pelaksanaan perbaikan sistem pendidikan, karena kekurangan atau ketiadaan satu komponen akan mengubah struktur dan praktik pengelolaan yang dapat mengurangi keberhasilan dan keberlanjutan pelaksanaan perbaikan sistem pendidikan.

(20)

bagaimana pendidikan yang dibutuhkan itu sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memilih pendekatan terbaik untuk mencapai kebutuhan tersebut.

Reformasi dibidang pendidikan ditandai dengan perubahan dimana pendidikan yang semula sentralistik kini telah terjadi pembagian peran dan tanggungjawab sampai pada level sekolah dimana masyarakat dan stakeholder kini telah memikul sebagian peran dan tanggung jawab yang dulu diemban sekolah. Contoh riil dari pendelegasian pusat ke pada pihak sekolah adalah pelimpahan kewenangan pada tingkat sekolah untuk membuat perencanaan, pengalokasian dan pemanfaatan sumber-sumber serta penerapan berbagai program dengan memberdayakan segenap unsur sekolah dan masyarakat guna mendukung pengembangan sekolah yang lebih dikenal dengan istilah Manajemen Berbasis Sekolah. Dengan demikian sekolah harus mampu mewujudkan harapan segenap komponen yang menaruh harapan pada pendidikan. Contoh lain adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP dirancang dengan melibatkan masyarakat dan guru. Dengan demikian kurikulum yang tersusun adalah kurikulum yang telah sesuai dengan kondisi riil sekolah tersebut dan yang diinginkan oleh stakeholder, masyarakat, pengguna maupun pemerintah. Kemudian guru mengoprasionalkan dalam bentuk pembelajaran di ruang-ruang kelas.

(21)

baik. Jika dilihat dari sisi sistem, Kurikulum 2013, mengalami perubahan dari konsep Kurikulum sebelumnya.

Paradigma pembelajaran dalam ruang kelas juga telah berubah, mengarah kepada keterlibatan siswa, pembelajaran menjadi berorientasi pada siswa, menekankan proses, learning activity, kontekstual dan belajar tuntas. Jika saja situasi tersebut terbangun maka apa yang disinyalir oleh Syahraini Tambak, (2006:18) bahwa pada proses pembelajaran selama ini telah terjadi proses Dehumanisasi, lambat laun pembelajaran akan menjadi lebih memanusiakan manusia, sehingga kelak akan menjadi manusia yang tahu akan nilai-nilai kemanusiaannya.

Reformasi yang dikehendaki tidak hanya dalam hal pembelajaran tapi juga dalam sistem penilaian. Sistem penilaian diharapkan juga harus mampu menopang terselenggaranya pembelajaran yang lebih berkualitas dan sesuai dengan spirit paradigma pembelajaran sekarang.

(22)

pendidikan tersebut terkesan lamban. Contoh lebih nyata jika kita mencermati proses perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran di ruang-ruang kelas, hanya sebagian guru yang telah menerapkan proses pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan reformasi.

Proses pembelajaran dalam ruang-ruang kelas masih didominasi dengan ceramah, ditunjang oleh sedikit diskusi informasi dan tanya jawab. Ceramah dilakukan hampir mencapai 80 % waktu yang tersedia, sisanya dilakukan untuk diskusi secara klasikal yang hanya beberapa siswa saja yang aktif terlibat serta tanya jawab yang juga kurang mengarah kepada penggalian kemampuan nalar siswa tapi hanya untuk mengetahui apakah siswa mengingat apa yang telah dijelaskan oleh pendidik atau tidak dan pada saat diskusi kelas dan tanya jawab hanya beberapa siswa saja yang aktif. Pembelajaran semacam ini disebut dengan pembelajaran ekspositori atau kita sering menyebut sebagai pembelajaran konvensional. Data atau fakta dan konsep-konsep disajikan dengan cara yang sudah jadi, sehingga siswa hanya menghapal. Dalam proses pembelajaran semacam ini, tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran.

Dengan proses pembelajaran tersebut guru memegang peranan yang dominan. Guru menyampaikan materi pelajaran secara terstruktur dengan harapan materi yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Pendekatan pembelajaran ini hanya berfokus pada kemampuan akademik (academic achievement).

(23)

dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 serta dikaitkan dengan tujuan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yaitu agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut :

1. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan

2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti-korupsi

3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya

4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (BSNP, 2006:2)

Maka proses pembelajaran harus diarahkan kepada proses yang dapat memberikan peluang untuk tumbuh dan berkembangnya seluruh potensi siswa sehingga siswa tidak hanya hafal tetapi mampu memahami dan melaksanakan apa yang menjadi fokus dan tujuan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

(24)

kemampuan afektif dan psikomotorik kurang diperhatikan. Kondisi seperti diuraikan di atas juga terjadi di SMP Negeri 3 Metro.

Tabel 1.1. Nilai Mata Pelajaran PPKn Kelas VII Semester Ganjil SMP Negeri 3 Metro Tahun Pelajaran 2013/2014

Sumber : Daftar nilai Mata Pelajaran PPKn semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014

Berdasarkan Tabel 1.1. tergambar bahwa prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Metro tahun pelajaran 2013/2014 masih tergolong rendah, karena dari 192 siswa baru 72 0rang siswa (37,5%) memperoleh nilai≥ KKM dan 120 0rang siswa (62,5%) memperoleh nilai < KKM. Dengan demikian prestasi belajar siswa tersebut belum memenuhi tujuan pembelajaran yang diharapkan, yaitu 80% siswa memperoleh nilai ≥ KKM yang ditetapkan sekolah. Rendahnya prestasi belajar tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor baik internal maupun eksternal.

(25)

kecerdasan, kepekaan, rasa estetika, tanggungjawab pribadi, dan nilai-nilai spiritual masih sangat rendah. Padahal setiap siswa harus diberdayakan untuk mengembangkan pemikiran merdeka dan kritis serta menyusun penilaian sendiri, agar dapat menetapkan bagi dirinya apa yang dia percayai harus dilakukan dalam beragam situasi kehidupan. Pembelajaran harus juga memberikan peluang memberdayakan siswa untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, dan memikul tanggungjawab. Siswa harus secara terus menerus diperlengkapi dengan daya kemampuan dan nilai-nilai rujukan intelektual yang diperlukan untuk memahami dunia di sekelilingnya dan untuk berperilaku bertanggungjawab dan berkeadilan. Dari proses pembelajaran dimana sangat minim kesediaan dan kapasitas guru untuk menerapkan proses pembelajaran yang memberikan peluang untuk pengembangan secara utuh setiap individu dalam pikiran, jasmani, kecerdasan, kepekaan, rasa estetika, tanggungjawab pribadi, dan nilai-nilai spiritual, dapat dimengerti mengapa prestasi belajar siswa belum mencapai seperti yang diharapkan, teridentifikasi masih kurangnya kerja sama antar siswa, banyak siswa melakukan kegiatan diluar konteks pembelajaran, sebagian besar siswa cenderung menerima saja informasi baik dari guru maupun dari temannya, siswa sangat jarang bertanya, jarang menjawab pertanyaan guru, jika diberi tugas lamban mengerjakan. Pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga siswa masih lebih banyak mendengarkan dari pada melakukan.

(26)

meningkatkan proses pembelajaran terutama prestasi belajar siswa baik akademis maupun non akademis. Dari strategi pembelajaran ini diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan mengaktualisasikan pikiran dalam bentuk lisan maupun tulisan, menetapkan pilihan atas dasar pertimbangan tertentu, menghargai adanya perbedaan sudut pandang, menanamkan rasa percaya diri dan kemandirian pembelajaran, mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan atau dimanfaatkan.

Pembelajaran kooperatif TPS mengacu pada paradigma baru dalam proses pembelajaran, di mana guru bukan hanya sekedar penyebar pengetahuan kepada siswa, tapi juga menciptakan keadaan untuk mendorong peran serta siswa dan semangat belajar agar siswa mampu mendidik dirinya sendiri serta memiliki peranan penting dalam merancang maupun melaksanakan pembelajaran dalam usaha pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, partisipasi siswa juga memiliki peran sangat penting untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran.

(27)

Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Dengan Pembelajaran KooperatifThink Pair SharePada Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Metro.

Pembelajaran kooperatif TPS ini guru menyediakan kondisi pembelajaran yang melibatkan siswa dalam pembelajaran, menjembatani potensi demokratis siswa dan pembelajaran juga harus dapat menampung gagasan atau pendapat siswa serta melibatkan siswa dalam mencari solusi terhadap permasalahan nyata.

Jika pembelajaran diformulasikan sebagai miniatur masyarakat, kemungkinan timbulnya bermacam-macam pendapat terhadap obyek yang sama akan dapat terjadi. Untuk mengembangkan sikap demokratis itu dibentuklah kelompok-kelompok sehingga memungkinkan siswa mengemukakan pendapat, menghargai perbedaan pendapat, dapat bekerja sama dan berbagi kesempatan. Kelompok-kelompok kooperatif tersebut pada saat tertentu kemudian diubah sehingga memungkinkan tumbuhnya potensi demokratis siswa lebih baik.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, teridentifikasi masalahnya adalah sebagai berikut :

(28)

1.2.2. Guru kurang memberikan pengalaman belajar untuk tumbuh dan berkembangnya seluruh potensi siswa yang sesuai dengan karakter mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

1.2.3. Guru kurang variatif dalam penerapan strategi dalam pembelajaran, sehingga hasrat keingin tahuan siswa kurang tampak dalam pembelajaran, siswa kurang merespon pertanyaan guru dan pertanyaan-pertanyaan guru pun kurang mendondorong pemikiran kritis siswa.

1.2.4. Guru kurang kreatif dan inovatif dalam mendesain pembelajaran, sehingga interaksi guru dengan siswa, siswa dengan siswa dalam proses pembelajaran masih kurang optimal

1.2.5. Guru masih mendominasi kegiatan pembelajaran, sehingga menimbulkan kejenuhan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

1.2.6. Perencanaan pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas VII SMP Negeri 3 Metro masih kurang berorientasi pada siswa dan yang dapat mendorong siswa lebih aktif.

1.2.7. Evaluasi pembelajaran masih belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

(29)

1.2.9. Alternatif tindakan yang digunakan adalah menggunakan pembelajaran kooperatif TPS.

1.3 Pembatasan Masalah

Menghindari kesalahpahaman, maka dalam penelitian tindakan ini perlu kiranya ada pembatasan masalah. Penelitian hanya difokuskan pada :

1.3.1. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa

1.3.2. Penerapan pembelajaran kooperatif TPS pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas VII di SMP Negeri 3 Metro tahun pelajaran 2013 / 2014.

1.3.3. Pengukuran prestasi belajar dilakukan setelah siswa mengikuti serangkain kegiatan pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif TPS dan menyelesaikan satu kali putaran siklus penelitian melalui tes tertulis.

1.4 Rumusan Masalah

Latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(30)

1.4.2 Bagaimanakah proses pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif TPS untuk meningkatan prestasi belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Metro ? 1.4.3 Bagaimanakan sistem penilaian yang tepat untuk dapat meningkatkan

prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas VII di SMP Negeri 3 Metro ?

1.4.4 Bagaimana peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas VII di SMP Negeri 3 Metro melalui menerapkan pembelajaran kooperatif TPS.

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini untuk memperbaiki proses pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dengan cara :

1.5.1 Menemukan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang tepat agar terjadi peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas VII SMP Negeri 3 Metro setelah dalam pembelajarannya dilakukan melalui pembelajaran kooperatif TPS. 1.5.2 Menemukan Pembelajaran yang tepat agar terjadi peningkatan prestasi

(31)

1.5.3 Menemukan sistem penilaian yang tepat untuk dapat meningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas VII di SMP Negeri 3 Metro.

1.5.4 Mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas VII di SMP Negeri 3 Metro melalui menerapkan pembelajaran kooperatif TPS.

1.6 . Kegunaan Penelitian

1.6.1 Kegunaan Penelitian Secara Teoritis

1) Mengembangkan konsep, teori, prinsip dan dasar teknologi pendidikan, khususnya desain dan pengelolaan pembelajaran dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

2) Guru memperoleh pemahaman baru tentang strategi pembelajaran yang lebih mendorong peningkatan prestasi siswa dan guru memiliki kepercayaan diri untuk menerapkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dalam kegiatan pembelajaran.

1.6.2 Kegunaan Penelitian Secara Praktis

1.6.2.1. Bagi Guru

(32)

2) Memperoleh pemahaman baru tentang sistem penilaian melalui strategi pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif TPS.

3) Dari hasil penelitian ini diharapkan agar dalam perencanaan pembelajarannya, guru khususnya guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dapat memilih pembelajaran kooperatif TPS sebagai salah satu alternatif.

1.6.2.2. Bagi Siswa

1) Peningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas VII SMP Negeri 3 Metro

2) Peningkatkan keterampilan sosial siswa dalam hal saling menghargai adanya perbedaan pendapat, cara menyampaikan pendapat, cara menanggapai pendapat orang lain dan saling kerja sama.

3) Penilaian terhadap siswa menjadi lebih lengkap karena bukan hanya aspek kognitifnya saja tetapi juga aspek afektif dan psikomotornya.

1.6.2.3. Bagi Sekolah

(33)

II. KAJIAN PUSTAKA

2.1 Teori belajar dan pembelajaran

Belajar merupakan proses yang kompleks, pada diri seseorang yang belajar terjadi dialektika mental yang rumit antara orang yang belajar dengan apa yang dipelajari juga dengan lingkungannya. Hasil dialektika mental tersebut ditampilkan dalam prilaku baru yang sifatnya permanen, hal ini sesuai dengan pendapat Gagne dalam Dimyati dan Mudjiono (2013:10) menyatakan “belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai yang terdiri dari tiga komponen penting, yaitu : kondisi eksternal, kondisi internal dan hasil belajar”.

Sedangkan Skinner dalam Dimyati dan Mudjiono (20013:9) berpandangan bahwa

“belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun”.

Guru berkewajiban mendorong, membina kegairahan belajar dan partisipasi siswa secara aktif serta memberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar dan kreativitas belajar dan menjalani serta menyelesaikan kegiatan pembelajaran sampai berhasil. Hal ini sesuai dengan amanat yang ada dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 bahwa :

(34)

Pembelajaran menurut Dimyati dan Mudjiono (2013:237-238) adalah ”kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar”.

Dengan demikian pembelajaran seharusnya merupakan proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan siswa. Sedangkan Wina Sanjaya (2008:57),

mendefinisikan “belajar sebagai proses perubahan tingkah laku”.

Perubahan tingkah laku pada seseorang berhubungan dengan perubahan sistem syaraf dan perubahan energi yang sulit dilihat dan diraba. Oleh sebab itu, terjadinya proses perubahan tingkah laku merupakan suatu yang masih misteri yang oleh para ahli psikologi dinanakan sebagai kotak hitam (black box).

Walaupun demikian, terjadinya proses perubahan tingkah laku pada diri seseorang sebenarnya dapat diidentifikasi dengan cara membandingkan kondisi sebelum dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang dinyatakan belajar jika telah menampilkan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Adanya suatu perubahan pada individu yang belajar. 2. Perubahan tersebut melalui suatu proses yang disengaja

(35)

dan keempat ciri tersebut diperoleh melalui suatu proses dimana siswa ikut berperan serta memodifikasi pengetahuan dan membangun serta mengembangkan segenap potensinya.

2.2. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang diluncurkan secara resmi tanggal 15 Juli dan mulai diberlakukan pada tahun pelajaran 2013/2014 pada sekolah tertentu.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan untuk jenjang SMP/MTS, yang dirancang untuk menghasilkan siswa yang memiliki keimanan dan akhlak mulia sebagaimana diarahkan oleh falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila sehingga dapat berperan sebagai warga negara yang efektif dan bertanggung jawab. Pembahasannya secara utuh mencakup empat pilar kebangsaan yang terkait satu sama lain, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

2.2.1. Tujuan Mata Pelajaran

(36)

Kemendikbud (2013:72) menyatakan bahwa kurikulum 2013 merupakan langkah lanjut pengembangan KBK yang telah dirintis tahun 2004 dan KTSP tahun 2006, yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu.

Tantangan internal, seperti tuntutan pendidikan yang mengacu pada 8 standar pendidikan dan faktor perkembangan penduduk, serta tantangan eksternal, seperti tantangan masa depan, persepsi masyarakatterhadap kurikulum sebelumnya,perkembangan pengetahuan dan pedagogi serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka, merupakan foktor yang mendorong pengembangan kurikulum. Kurikulum 2013 diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut.

Berdasarkan tantangan internal dan eksternal tersebut maka perlu adanya perubahan pola pikir, penguatan tata kelola, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses dan penyesuaian beban belajar.

Menurut Imas Kurniasih dan Berlin Sani (2014:45-46), Kurikulum 2013 memiliki perbedaan dengan KTSP antara lain dalam hal : adanya keseimbangan antara soft skills dan hard skills, yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan, proses pembelajaran dilakukan dengan pendekatan saintifik dan standar penilaian menggunakan penilaian autentik, yang mengukur semua kompetensi berdasarkan proses dan hasil.

(37)

menalar suatu masalah, berpikir logis dan berkomunikasi menjadi aspek penilaian yang penting.

2.2.2 Materi

Depdiknas (2006:49) menjelaskan “Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, berkarakter yang diamanatkan oleh

Pancasila dan UUD 1945”.

Tabel 2.1. Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan

Kelas VII SMP

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

1.Menghargai dan menghayati ajaran agama yang di anut nya

1.1.Menghargai perilaku beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan YME dan berahklak mulia dalam kehidupan di sekolah dan masyarakat dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaan nya

2.1.Menunjukkan semangat dan komitmen kebangsaan seperti yang ditunjukkan oleh para pendiri negara dalam perumusan Pancasila sebgai dasar negara.

2.2.Menunjukkan perilaku sesuai norma-norma dalam berinteraksi dengan kelompok sebaya dan masyarakat sekitar.

2.3.Menunjukkan sikap toleran terhadap keberagaman suku, agama, ras, budaya, gender dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

(38)

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dalam budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

3.1.Memahami sejarah dan semangat komitmen para pendiri negara dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara

3.2.Memahami sejarah perumusan dan pengesahan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.

3.3. Memahami isi alinea Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945. 3.4. Memahami norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

3.5. Memahami keberagaman suku, agama, ras, budaya, gender dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

3.6.Memahami pengertian dan makna Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

3.7. Memahami karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 4.Mencoba, mengolah dan

menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi dan membuat) dan ranah abstrak

(menulis, membaca,

menghitung, menggambar dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

4.1.Menyajikan tulisan singkat tentang

“sejarah dan semangat komitmen para

pendiri negara dalam merumuskan

Pancasila sebagai dasar negara”

4.2. Menyajikan tulisan singkat tentang sejarah perumusan dan pengesahan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945

4.3. Membuat kajian isi Pembukaaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 4.4. Menyajikan hasil pengamatan tentang

norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara

4.5. Berinteraksi dengan teman dan orang lain berdasarkan prinsip saling menghormati dan menghargai dalam keberagaman yang dibingkai Bhinneka Tunggal Ika

(39)

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

Budaya, gender dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika

4.7. Menyajikan karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian utuh dari NKRI

2.2.3. Pendekatan Scientific dalam kurikulum 2013

Pada penerapan implementasi kurikulum 2013 di lapangan, guru salah satunya harus menggunakan pendekatan ilmiah (sientific), karena pendekatan ini lebih efektif hasilnya dibandingkan pendekatan tradisional.

Proses pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (efektif), pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang diharapkan hasil belajar melahirkan siswa yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi.

2.2.4. Sistem Evaluasi

Evaluasi adalah suatu tindakan untuk mengukur atau menentukan nilai atau jasa sesuatu (Djamarah, 2000: 207). Menurut Arikunto (2009 : 3) bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran (bersifat kuantitatif), menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (bersifat kualitatif), dan evaluasi meliputi kedua langkah tersebut di atas.

(40)

Setiap kegiatan yang dilaksanakan pasti mempunyai tujuan, demikian juga dengan evaluasi. Menurut Arikunto (2002: 13), ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan, sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen.

Untuk membuat sebuah keputusan yang merupakan tujuan akhir dari proses evaluasi diperlukan data yang akurat. Untuk memperoleh data yang akurat diperlukan teknik dan instrumen yang valid dan reliabel. Secara garis besar teknik evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik non-tes dan teknik tes. Arikunto (2009: 26), mengelompokan teknik nontes dalam evaluasi adalah: angket (questionaire), wawancara (interview), pengamatan (observation), skala bertingkat (rating scale), sosiometri, paper, portofolio, kehadiran (presence), penyajian (presentation), partisipasi (participation), riwayat hidup, dan sebagainya.

(41)

objektif menurut ragamnya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: tes benar-salah ( true-false), tes menjodohkan (matching), dan tes pilihan ganda (multiple choice) (Arikunto, 2009: 26).

2.3. Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share (TPS)

Pembelajaran kooperatif TPS pertama kali dikembangkan oleh Lyman pada tahun 1981. Resiko dalam pembelajaran kooperatif TPS relatif rendah dan struktur pembelajaran kolaboratif pendek, sehingga sangat ideal bagi siswa dan guru. Pembelajaran kooperatif TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Pembelajaran kooperatif TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota). Pembelajaran kooperatif TPS memiliki prosedur belajar yang terdiri atas siklus regular dari aktifitas pembelajaran kooperatif. Namun, tahapan pembelajaran kooperatif TPS dimasukkan sebagai tahapan review setelah siswa bekerja dalam tim. Adapun siklus regular pembelajaran yang dimaksud adalah : 1. Tahapan pengajaran

2. Tahapan belajar tim 3. Tahapan TPS 4. Tahapan penilaian

5. Tahapan rekognisi/penghargaan

(42)

segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan. Siswa dapat mengembangkan kemampuan untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri dan menerima umpan balik. Interaksi yang terjadi selama pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan memberi rangsangan untuk berfikir sehingga bermanfaat bagi proses pendidikan jangka panjang. Pembelajaran kooperatif TPS juga mengembangkan keterampilan, yang sangat penting dalam perkembangan dunia saat ini. Pembelajaran kooperatif TPS bisa mengajarkan orang untuk bekerja bersama-sama dan lebih efisien, biasanya kegiatan praktik perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Dengan bekerjasama, dua orang dapat menyelesaikan sesuatu lebih cepat.

Pengertian Think Pair Sharemenurut Trianto (2010:81) adalah “Think Pair Share

(TPS) atau berfikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran

kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa”. Sedangkan

menurut Suyatno (2009:54) mengatakan bahwa “TPS adalah model pembelajaran kooperatif yang memiliki prosedur ditetapkan secara eksplinsit memberikan waktu lebih banyak kepada siswa untuk memikirkan secara mendalam tentang apa yang dijelaskan atau dialami (berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama

lain)”.

Berdasarkan pendapat diatas dapat kita ambil kesimpulan Think Pair Share (TPS) adalah model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil dengan tahap thinking (berfikir), pairing

(43)

Pembelajaran kooperatif TPS berarti dalam proses pembelajarannya siswa dikelompok-kelompokkan berdasarkan minatnya terhadap materi atau topik atau tema pembelajaran yang dipilih.

Pembelajaran kooperatif TPS memiliki tujuan. Menurut Nurhadi (2004:66) tujuan

pembelajaran kooperatif TPS adalah “tujuan secara umumnya adalah untuk

meningkatkan penguasaan akademik, dan mengajarkan keterampilan sosial”.

Selanjutnya menurut Trianto (2009:59) berpendapat bahwa “tujuan pembelajaran

kooperatif TPS adalah a) dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. b) unggul dalam membantu siswa memahmi konsep-konsep yang sulit.

c) membantu siswa menumbuhkan kemampuan berfikir kritis”

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran kooperatif TPS adalah untuk meningkatkan penguasaan akademik, mengajarkan ketrampilan sosial dan membantu siswa dalam menumbuhkan kemampuan berfikir kritis, serta meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami konsep yang sulit.

Pembelajaran kooperatif TPS dilandasi oleh pikiran beberapa teori pembelajaran, yaitu sebagai berikut :

1. Teori Psikologi Kognitif

(44)

terjadi proses yang sangat bermakna bagi peserta siswa (Muslimin Ibrahim, 2005:6-7), hal ini untuk membantu siswa mengembangkan cara-cara memproses informasi yang diproleh dari lingkungannya. Menurut Slavin (2009:38), jika informasi ingin dipertahankan di dalam memori dan berhubungan dengan informasi yang sudah ada di dalam memori, orang yang belajar harus terlibat dalam elaborasi.

Jadi pembelajaran menurut aliran ini seharusnya memberikan perhatian dan kapasitas yang cukup tentang proses berpikir siswa, dari pada sekedar hasil.

2. John Dewey

Dewey dalam Abdul Aziz Wahab (2009:60) berpendapat bahwa sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan demikian dianjurkan agar guru memberikan dorongan kepada siswa untuk terlibat dalam tugas-tugasnya sebagai anggota diri kelompoknya. Pandangan ini didukung oleh Kill Patrick dalam Muslimin Ibrahim (2005:7) yang berpendapat bahwa pembelajaran disekolah seharusnya bermanfaat dan tidak abstrak, untuk itu siswa harus dilibatkan dalam tugas yang menarik dan merupakan pilihannya sendiri.

(45)

3. Piaget, Vygostky dan Kontrukstivisme

Piaget dalam Muslimin Ibrahim (2005:7-9) mengemukakan bahwa anak kecil memiliki rasa ingin tahu bawan secara terus menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. Rasa ingin tahu inilah yang memotivasi mereka untuk aktif membangun tentang lingkungan yang dihayatinya. Kelas menurut Herbert dalam Abdul Azis Wahab (2009:60) merupakan miniatur masyarakat dalam mana siswa diharapkan berkembang secara harmonis dengan manusia lain dan lingkungannya. Jadi Pembelajaran kooperatif Think Pair Share sesuai dengan teori Piaget ini.

Menurut pandangan kontrukstifisme, kognitif anak dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses memperoleh informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan ini berkembang terus menerus dan berubah pada saat anak menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. Dengan demikian, menurut Piaget, pembelajaran yang baik harus memberikan situasi dimana siswa secara mandiri membangun dan memodifikasi pengetahuannya.

(46)

perkembangan aktual merupakan tingkat perkembangan yang dicapai oleh siswa sebagai hasil belajar sendiri. Jika siswa beronteraksi dengan orang lain yang lebih tahu baik guru maupun temannya, maka akan dicapai tingkat perkembangan yang sedikit di atas kemampuan aktualnya. Vygostky juga percaya bahwa scaffolding

yang dilakukan dengan benar dapat mendorong siswa mencapai tingkat perkembangan potensial. Pada scaffolding bimbingan dilakukan secara ketat kemudian berangsur-angsur tanggung jawab belajar diambil alih oleh siswa sendiri.

4. Burner dan Pembelajaran Penemuan

Burner dalam Muslimin Ibrahim (2005:7-9) yakin akan pentingnya siswa terlibat dalam pembelajaran dan pembelajaran yang terjadi sebenarnya melalui penemuan pribadi. Dengan demikian menurut Burner, tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya pengetahuan tetapi juga menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk terjadinya penemuan. Burner juga mengemukakan konsep

scaffolding yang mirip dengan konsep zona perkembangan terdekat Vygostky, yaitu untuk menuntaskan masalah tertentu melampaui kapasitas perkembangannya siswa memerlukan bantuan dari orang lain yang memiliki kemampuan lebih.

(47)

didukung oleh pendapat Burner bahwa peran dialog sosial dalam pembelajaran sangatlah penting, karena interaksi sosial di dalam dan di luar sekolah berpengaruh pada perolehan bahasa dan prilaku pemecahan masalah pada anak

Peningkatan kapasitas hasil belajar kelompok kerja ditandai dengan meningkatnya pengetahuan dan kemampuan kelompok kerja untuk mengeksplorasi wawasan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa. Kelompok kerja merupakan strategi pembelajaran kooperatif yaitu suatu kelompok kerja yang memiliki tugas khusus atau keahlian atau specialis (layaknya seorang dokter specialis: ginjal, hati, kulit dan paru-paru) yang bekerja keras untuk dapat memperoleh data, informasi serta laporan hasil eksplorasinya yang akan dipertanggung jawabkan kepada anggota kelompoknya melalui diskusi dan presentasi dikelompoknya.

(48)

Model belajar kontruktivis dirancang dengan mengikuti alur pemikiran dari pandangan kontruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun dalam pikiran siswa melalui proses asimilasi dan akomodasi. Adapun langkah-langkah kegiatan belajar model kontruktivisme adalah sebagai berikut:

1. Guru memilih suatu pengalaman belajar yang mendukung konsep yang akan dipelajari.

2. Siswa menyusun pengertian pribadinya terhadap pengalaman belajar yang disajikan guru. Pengetahuan yang dibangun atau dikontruksi harus bermakna bagi siswa itu sendiri.

3. Bangunan pengetahuan yang telah dikontruksi oleh masing-masing individu dievaluasi melalui diskusi. Dalam kegiatan ini masing-masing siswa mengemukakan gagasannya dan guru hanya berperan sebagai mediator.

4. Dari evaluasi pada langkah ketiga siswa akan merekontruksi konsepsinya dalam hubungannya dengan kemampuan mereka untuk membantu memecahkan masalahnya atau masyarakatnya.

(49)

Pembelajaran kooperatif TPS mempunyai langkah-langkah pembelajaran tersendiri walaupun tidak terlepas dari konsep-konsep umum langkah-langkah kooperatif. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif TPS menurut Kunandar (2009:367) sebagai berikut :

1) Langkah 1 : Berfikir (thinking) yaitu guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu 1 menit untuk berfikir sendiri mengenai jawaban atau isu tersebut.

2) Langkah 2 : Berpasangan (pairing) yakni guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang dipikirkan.

3) Langkah 3 : Berbagi (sharing) yakni guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan.

Sedangkan sintak-sintak pembelajaran kooperatif TPS menurut Suyatno (2009:54) adalah : guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku sebangku (think pair), presentasi kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

(50)

Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penggunaan pembelajaran kooperatif TPS yaitu dengan memberikan suatu masalah kepada siswa sehingga siswa berpikir sendiri tentang masalah yang telah diberikan. Kemudin siswa diminta duduk berpasangan untuk mendiskusikan masalah yang telah diberikan, lalu masalah yang telah diberikan lalu masalah yang telah didiskusikan tersebut di presentasikan/ditampilkan di depan kelas agar siswa bisa berbagi dengan siswa yang lain tentang apa yang telah didiskusikan. Pada kegiatan ini guru akan berkeliling dari pasangan yang satu ke pasangan yang lainnya untuk menerima dan memantau laporan dari siswa tentang apa yang telah mereka diskusikan.

2.4. Prestasi Belajar

Jika prestasi dapat diartikan sebagai hasil yang telah dicapai oleh seseorang dari suatu usaha dan belajar dimaknai sebagai perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap, maka prestasi belajar dapat didefinisikan sebagai penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dikembangkan melalui mata pelajaran dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurkancana dalam Nurhadi (2003:47), yang

mendefinisikan ”Prestasi Belajar sebagai Prestasi pengukuran yang diperoleh dari

hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu serta dinyatakan dalam

bentuk angka (skor)”.

(51)

Prestasi Belajar ini biasanya diperoleh dari dalam kelas, lingkungan sekolah, maupun di luar sekolah adalah penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut pengetahuan, kecakapan/keterampilan yang dinyatakan sesudah penilaian. Penilaian pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan informasi perkembangan proses dan hasil belajar siswa dan hasil mengajar guru. Sedangkan dalam penilaian menerapkan sistem penilaian menerapkan sistem penilaian berkelanjutan yang mencakup tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.

Untuk meningkatkan prestasi belajar peseta didik, ada beberapa pertanyaan yang dapat dipertimbangkan untuk dijadikan panduan guru dalam merancang suatu kegiatan pembelajaran, yaitu :

1. Apa yang harus dirancang oleh pendidik dalam kaitannya dengan pelaksanaan pembelajaran yang mampu menciptakan tumbuh dan kembangnya segenap potensi siswa ?

2. Bagaimana cara melaksanakan rancangan tersebut untuk pencapaian pembelajaran yang optimal ?

3. Bagaimana mengorganisasikan potensi-potensi yang ada untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran ?

4. Bagaimana cara melakukan evaluasi yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai setelah mengikuti pembelajaran selama kurun waktu tertentu ?

(52)

Dengan demikian prestasi belajar dapat dimaknai sebagai prestasi yang diperoleh siswa dalam kegiatan pembelajaran dalam kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam bentuk angka atau nilai. Pengukuran terhadap kemampuan siswa sebagai prestasi belajar dapat dilakukan melalui tes-tes atau evaluasi. Dengan demikian salah satu indikator dari prestasi belajar siswa dapat dilihat dari nilai yang diperolehsiswa setelah mengikuti tes atau evaluasi.

2.5. Prosedur Pembelajaran

Pembelajaran kooperatif Think Pair Share, memiliki sintaks yang berbeda dengan strategi-strategi pembelajaran yang lain. Sintaknya adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2. SintakPembelajaran kooperatif TPS

Tahap Prilaku Guru

Tahap 1

Orientasi siswa pada fenomena/data/informasi.

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, menjelaskan prosedur Pembelajaran kooperatif think pair share, mengajukan pertanyaan atau pernyataan tentang fenomena atau peristiwa atau cerita atau bacaan untuk memunculkan hal yang mendorong partisipasi siswa.

Tahap 2

Mengorganisasikan keterlibatan siswa

Guru membantu siswa membentuk kelompok-kelompok kooperatif dalam pembelajaran.

Guru membantu siswa menentukan pilihan tema pembelajaran yang sesuai dengan fenomena yang akan dibahas serta mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan fenomena /data/informasi yang akan dikaji tersebut.

Tahap 3

Membimbing siswa dalam menganalisis data/

informasi/fenomena.

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan data atau berbagai informasi yang relevan, baik secara membaca literatur, wawancara maupun observasi sebagai bahan kajian dan diskusi kelompoknya. Tahap 4

Membimbing siswa dalam pengolahan

data/informasi/fenomena

(53)

Tahap Prilaku Guru dengan temannya, mengkaji fenomena /informasi/data yang dirumuskan dalam bentuk diskriptif atau narasi, dan memastikan proses-proses pengkajian telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang digunakan, jika terjadi kesalahan guru segera meluruskan dan memberi petunjuk mana yang seharusnya dilakukan dan bagaimana cara melakukan dengan benar.

Tahap 6

Membimbing siswa dalam menarik kesimpulan

Guru membimbing siswa dalam merumuskan simpulan sehingga simpulan tersebut relevan dengan pertanyaan atau pernyataan yang diajukan pada awal pembelajaran dan merupakan jawaban dari pertanyaan atau penjelasan dari fenomena/data/informasi. Kemudian membawa hasilnya dalam diskusi kelompok report dan diskusi kelas

Tahap 7

Membimbing siswa dalam pembentukan kelompok

Guru membantu siswa dalam membentuk kelompok-kelompok expert dan report.

Guru membantu siswa dalam menentukan dan mengorganisasikan tugas dalam kelompok baik kelompok expert maupun report.

Guru mengingatkan pentingnya tujuan kelompok dan tanggung jawab anggota kelompok.

Tahap 8

Menyajikan hasil kerja

Guru membantu mengkoordinasikan siswa dalam mempresentasikan hasil kerja kelompok expert dan bagaiman mekanisme kelompok yang menanggapi dan memastikan setiap topik pilihan telah dipresentasikan.

Tahap 9

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membatu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap kegiatan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Diadaptasi dari Muslimin Ibrahim (2005:20)

(54)

1. Kegiatan awal

Kegiatan awal dilakukan guru dengan tujuan untuk membangkitkan motivasi instrinsik siswa. Pada tahap ini meliputi penggalian pengetahuan awal dan eksplorasi fenomena atau informasi atau data

2. Kegiatan inti

Pada kegiatan inti, siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok belajar yang disebut dengan kelompok expert.

Kegiatan inti, dimulai dengan mengajukan fenomena atau peristiwa atau cerita atau bacaan atau data, mengajukan pertanyaan atau pernyataan.

Kemudian setiap kelompok memilih fenomena atau peristiwa atau informasi atau data yang akan menjadi pembahasanya, pengumpulan data/informasi, menganalisis dan menginterpretasi untuk mengambil kesimpulan.

Selanjutnya dibentuk kelompok-kelompok report yang anggota-anggotanya berbeda dari kelompok sebelumnya. Dalam kelompok report ini, dilakukan diskusi dan hasil diskusi ini dibawa kembali pada kelompok expert untuk didiskusikan kembali dan di buat rumusan jawaban yang kemudian dipertanggungjawabkan pada diskusi kelas. Pada akhir kegiatan inti guru membimbing siswa dalam menyajikan hasil kerjanya, misalnya presentasi, laporan, poster atau bentuk lainnya.

3. Kegiatan pemantapan konsep dan penerapan konsep

(55)

bentuk terapan terhadap apa yang telah dipelajari, tugas belajar lanjutan, pekerjaan rumah dan sebagainya (Muslimin Ibrahim, 2005:20).

Dalam kegiatan ini, dianjurkan juga guru untuk memberikan penghargaan kepada kelompok atau anggota kelompok yang memiliki kinerja baik (Slavin, 2009:81-82).

2.6. Dampak Instruksional dan Pengiring (Instructional and Nurturant Effect)

Pembelajaran kooperatif TPS diharapkan memiliki dampak langsung

(Instructional effects), dan dampak tak langsung atau pengiring (nurturant effects).

Dampak instruksional yang diharapkan dari diterapkannya Pembelajaran kooperatif TPS, adalah membangun nilai-nilai dan sikap yang mendasar bagi suatu pikiran, yang meliputi :

1) Keterampilan proses yaitu mengamati, mengumpulkan dan mengorganisasi informasi serta merumuskan penjelasan.

2) Siswa yang aktif dan mandiri.

3) Menimbulkan semangat kreativitas bagi siswa. Pendekatan ini menumbuhkan kemampuan siswa untuk berekspresi secara verbal, atau memberikan kebebasan dan otonomi dalam belajar, mengajukan pertanyaan, mengemukakan pendapat dan menanggapi.

4) Memungkinkan toleransi dan/atau kerjasama siswa dengan siswa lainnya dan guru

(56)

6) Mengarahkan berpikir tentang hakekat pengetahuan yang bersifat tentatif.

Perolehan belajar yang utama dari Pembelajaran kooperatif TPS yaitu mengidentifikasi, mengorganisir informasi, membuat dan merumuskan penjelasan-penjelasan, dan menarik kesimpulan.

Di samping itu, pembelajaran kooperatif TPS menjadikan pembelajaran lebih aktif, karena siswa dapat sharing dengan teman sejawat, lebih mandiri dalam merumuskan pertanyaan-pertanyaan dan menguji pendapat-pendapat atau ide-idenya secara langsung. Hal seperti ini akan memunculkan keberanian untuk menanyakan, mengemukakan pendapat atau ide, menghargai pendapat teman maupun menerapkan kembali apa yang telah dipelajarinya dalam kehidupan nyata.

2.7 Kerangka Pikir

Kerangka Pikir adalah bagian teori dari penelitian yang menjelaskan tentang alasan atau argumentasi bagi rumusan penelitian, akan menggambarkan alur pikiran peneliti dan memberikan penjelasan kepada orang lain.

Uraian kerangka pikir untuk menggambarkan bagaimana Pembelajaran kooperatif TPS dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

(57)

learning activity dan kontekstual. Selain itu juga pembelajaran kooperatif TPS mempertimbangkan konsep scaffolding, mengingat dialog sosial dalam pembelajaran sangatlah penting, hal ini sejalan dengan konsep zona perkembangan terdekat Vygostky, tingkat perkembangan yang sedikit di atas kemampuan aktual siswa akan dapat dicapai jika siswa berinteraksi dengan orang lain yang lebih tahu baik guru maupun temannya. Hal tersebut juga sejalan dengan pandangan kontruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun dalam pikiran siswa melalui proses asimilasi dan akomodasi.

Dalam pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif TPS juga memberikan dorongan kepada siswa untuk terlibat dalam tugas yang menarik dan merupakan pilihannya sendiri, agar pembelajaran yang berlangsung bermakna dan tidak abstrak.

Pembelajaran kooperatif TPS juga telah mengakomodasi hakekat belajar, selain merupakan aktivitas fisik, belajar juga merupakan aktivitas kejiwaan atau psikis. Aktivitas kejiwaan seseorang dalam berbagai bidang kegiatan termasuk dalam pembelajaran, didorong oleh adanya reaksi kerja sama secara psikologis dan fisiologis.

(58)

Orang melakukan kegiatan tertentu karena ada suatu alasan mengapa ia mengerjakan sesuatu. Seseorang mengerjakan suatu pekerjaan dengan penuh semangat karena ia yakin bahwa yang dikerjakan itu dapat memenuhi keinginannya. Demikian pula halnya dengan selera, hal ini menjadi pendorong seseorang menjadi senang terhadap suatu pekerjaan dan mendorong dirinya melakukan berbagai tindakan dengan penuh semangat dan disiplin.

Tanggapan seseorang, menurut Lener, tergambar dari gerakan-gerakan atau reaksi fisik, karena terdorong adanya perasaan yang dipengaruhi oleh aktivitas jiwa.

Sejalan dengan pemikiran di atas, Cammile memberikan penjelasan yang lebih menekankan pada aspek psikologis yang muncul dalam bentuk kebahagiaan, yang bersumber pada reaksi kejiwaan untuk melakukan tindakan tertentu berdasarkan keputusan pribadi. Sedangkan Crooks & Stein menyatakan, kejiwaan yang dimunculkan melalui gerakan-gerakan fisik, serta memotivasi dirinya untuk memutuskan, terlibat aktif atau tak aktif dalam kegiatan atau tugas-tugas kelompok.

Dengan demikian pembelajaran yang didasarkan pada pendekatan yang mengakomodasi keinginan siswa, memungkinkan siswa untuk melakukan tindakannya secara lebih optimal untuk mencapai keinginannya. Pembelajaran kooperatif think pair share merupakan strategi pembelajaran yang dapat mengakomodir seperti apa yang telah dipaparkan di atas..

(59)

potensi siswa, dapat mengakomodasi keinginan dan melibatkan secara aktif siswa dalam pembelajaran dan pembelajarannya menyenangkan, sehingga memungkinkan siswa dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal, diharapkan siswa akan lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh serta dapat merasakan manfaat dari apa yang dipelajarinya. Dengan situasi dan kondisi yang kondusif untuk terjadinya proses pembelajaran seperti dipaparka di atas dan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif diharapkan terjadi peningkatan prestasi belajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan lebih optimal.

2.8. Teori Desain Pembelajaran Kooperatif TPS

TPS dikembangkan oleh Frank Lyman dkk, dari universitas Maryland pada tahun 1985. Ia mengungkapkan bahwa TPS merupakan model pembelajaran yang dapat mengganti suasana pola diskusi di dalam kelas yaitu dengan memberikan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk berpikir secara individu, bekerja sama dengan teman yang lain dan saling berbagi satu sama lain.

Dalam buku nya Muslimin Ibrahim (2005 : 26 – 27) langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan pendekatan TPS yang di gunakan Frank Lyman dkk di universitas Maryland adalah sebagai berikut :

(60)

Teori-teori yang melandasi pembelajaran adalah : 1.Teori Motivasi

Nur, M (2003.2) mengemukakan “ Motivasi dalam belajar sangat penting di miliki oleh siswa. Siswa yang memiliki keinginan atau motivasi untuk belajar,

dapat saja belajar tentang segala sesuatu.”

2.Teori Konstruktif

Dalam buku nya Nur, M (2003.2) teori pembelajaran Konstruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky. Dimana keduanya menekankan bahwa :”Perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang dipahami diolah melalui proses ketidakseimbangan dalam memahami informasi-informasi baru dan menggunakan belajar kelompok untuk mengupayakan perubahan konseptual karena adanya

perbedaan kemampuan anggota kelompok”. 2.9. Kajian Penelitian Yang Relevan

Berdasarkan telaah kepustakaan yang penulis lakukan, menemukan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan tesis ini adalah :

1) Penelitian yang dilakukan oleh Giyastutik 2009 dengan judul "Penerapan Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 3 Karanganyar Tahun

Pelajaran 2007/2008”, menyimpulkan bahwa : Berdasarkan hasil penelitian

(61)

2) Penelitian yang dilakukan oleh Vina Yulianti 2012 dengan judul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Biologi Kelas VIII E SMP

Negeri 16 Surakarta”, menyimpulkan bahwa : Berdasarkan hasil penelitian

(62)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena dalam penelitian ini ingin menemukan tindakan yang sesuai untuk mengatasi pembelajaran yang kurang memberikan peluang untuk pengembangan secara utuh setiap individu dalam pikiran, jasmani, kecerdasan, kepekaan, rasa estetika, tanggungjawab pribadi, dan nilai-nilai spiritual serta peluang memberdayakan siswa untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, dan memikul tanggungjawab dimana siswa harus secara terus menerus diperlengkapi dengan daya kemampuan dan nilai-nilai rujukan intelektual yang diperlukan untuk memahami dunia di sekelilingnya dan untuk berperilaku bertanggungjawab dan berkeadilan.

Selain itu juga keuntungan dari PTK ini adalah guru mata pelajaran ikut serta secara langsung dalam penelitian sehingga akan memberikan pengalaman yang berharga karena masalah yang akan diatasi merupakan masalah faktual dalam kelas, yang diharapkan prestasi belajar siswa pun meningkat.

(63)

Gambar 3.1. Alur penelitian tindakan kelas model Kemmis & Mc Taggart (Diadaptasi dari Rohiati Wiraatmaja, 2008 :66)

Sebelum penelitian dilaksanakan, guru diberi pembekalan tentang bagaimana merencanaan, melaksanakan dan melakukan penilaian dalam Pembelajaran kooperatif TPS.

Instrumen pembelajaran yang digunakan disusun oleh peneliti.

SIKLUS I

SIKLUS II Refleksi

Tindakan/ observasi

Rencana yang direvisi

Rencana awal

Refleksi

Tindakan/ observasi

(64)

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di SMP Negeri 3 Metro, Jln. Letjend. Alamsyah Ratu Prawiranegara No.1 Kota Metro.

Pelitian dilaksanakan di SMP Negeri 3 Metro kelas VIIC dan VIIE, karena penulis adalah guru di SMP Negeri 3 Metro, dengan demikian akan lebih memahami kendala dan potensi yang ada, dengan demikian akan lebih memudahkan dalam teknis maupun administratif yang diperlukan dalam penelitian tindakan ini.

(65)

3.3 Subyek Penelitian

Kelas VII SMP Negeri 3 Metro Tahun pelajaran 2013/2014, terdiri dari 6 kelas, Penetapan subyek penelitian dilakukan berdasarkan nilai terendah dari rerata kelas pada mata pelajaran Pendidikan Kwarganegaraan. Sebagai subyek dalam penelitian ini adalah kelas VIIC dan VIIE yang memiliki nilai yang sama.

3.4 Prosedur Penelitian Tindakan

Penelitian tindakan ini direncanakan dilakukan dalam tiga siklus atau akan dihentikan setelah kriteria keberhasilan tindakan tercapai.

Rencana tindakan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut : a) Tahap Perencanaan.

Guru dan kolabolator memilih pembelajaran kooperatif TPS sesuai dengan kesepakatan dan yang telah dirancang secara bersama-sama serta menentukan kompetensi inti dan kompetensi dasar.

Dari kompetensi inti dan kompetensi dasar tersebut, dibuat 3 RPP untuk 6 kali pertemuan. Dengan demikian dalam satu siklus terdiri dari dua kali pertemuan atau satu RPP.

(66)

Untuk lebih memantapkan skenario tindakan, maka dilakukan uji coba tindakan, yang dilakukan terhadap kelompok kecil siswa ( 4-10 orang), yaitu dengan menetapkan cara melakukan pengamatan, mengukur keterlaksaan tindakan dan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif TPS.

Jika ada hal yang tidak sesuai dengan yang direncanakan atau ada hal-hal lain yang dirasa kurang maka segera dilakukan perbaikan.

Kemudian dilakukan uji coba lagi terhadap kelompok besar, yaitu kelompok yang menyerupai dengan keadaan kelas sebenarnya yang akan dikenai tindakan. Hasilnya dievaluasi, jika ada kelemahan akan diperbaiki. Hasil perbaikan inilah yang akan dipergunakan dalam pelaksanaan tindakan.

b) Tahap Tindakan

1. Membuka pelajaran dengan mengucap salam kemudian berdoa, memberi motivasi dan apersepsi pada siswa

2. Mengadakan pre tes (tes awal) untuk mengetahui kemampuan siswa 3. Guru membentuk kelompok yang anggota nya 4 orang siswa

1) Tiap kelompok mempersiapkan buku dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran

2) Tiap anggota kelompok melakukan kegiatan pengamatan gambar dan mendiskusikan hasil pengamatan

(67)

4) Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok dan menanggapi hasil kerja kelompok lain

5) Guru memberi evaluasi c) Tahap Observasi

Mengimplementasikan rencana tindakan yang telah dipersiapkan, sekaligus melakukan observasi terhadap dampak tindakan, baik dinamika antar individu dalam kelompok maupun antara kelompok dalam pembelajaran. Peneliti dibantu oleh dua pengamat lainnya melakukan observasi dan pencatatan terhadap implementasi tindakan dan dampak tindakan.terutama dinamika kelompok dalam pembelajaran. Selain itu juga dilakukan pencatatan dan pengamatan terhadap proses dan hasil belajar, situasi dan kondisi kelas dan kondusifitas saat pembelajaran berlangsung.

d) Tahap Refleksi

Melakukan refleksi secara komperehensif, apakah cara dan tindakan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus tersebut dapat merubah kearah yang lebih baik, dengan cara mencermati indikator keberhasilan dan kemungkinan kegagalan yang terjadi pada siklus tersebut. Kemudian dilakukan perbaikan-perbaikan untuk tindakan pada siklus selanjutnya.

3.5 Indikator Keberhasilan Tindakan

(68)

Indikator penelitian tindakan kelas dianggap berhasil jika :

1) Penilaian penyusunan RPP pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dengan pembelajaran kooperatif TPS mencapai nilai 4 (APKG 1 ) dengan katagori baik.

2) Peningkatan prestasi belajar dinyatakan berhasil jika terjadi peningkatan jumlah siswa yang memenuhi nilai ≥ 70 pada setiap siklus nya dan siklus akan diberhentikan bila jumlah siswa yang memenuhi KKM ≥ 80%

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data yaitu dengan metode tes.

Metode tes dengan PAP atau PAN digunakan sebagai metode pokok untuk mendapatkan data mengenai prestasi belajar siswa. Tes dilakukan pada akhir dari setiap siklus.

3.7. Kisi- kisi Instrumen Penelitian

Kisi-kisi Instrumen dibuat untuk memetakan pengembangan konsep variabel menjadi indikator-indikator butir soal sehingga pengamatan dapat menggali informasi yang lengkap tentang gejala-gejala yang muncul yang berhubungan dengan variabel penelitian.

3.7.1. Penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Gambar

Tabel 1.1. Nilai Mata Pelajaran PPKn Kelas VII Semester Ganjil SMP Negeri 3
Tabel 2.1. Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Kelas VII SMP
Tabel 2.2. SintakPembelajaran kooperatif TPS
Gambar 3.1. Alur penelitian tindakan kelas model Kemmis & Mc Taggart        (Diadaptasi dari Rohiati Wiraatmaja, 2008 :66)
+2

Referensi

Dokumen terkait

(3) Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau berupa Rokok putih mesin dengan Kemasan kurang dari 20 (dua puluh) batang dalam setiap

Joko Subando, Q100100019 : Pengelolaan Kultur Sekolah Berbasis Syariah (Studi Situs di SMP IT Nurhidayah Surakarta). Tesis, Program Pascasarjana Universitas

Gambar 3-3-: Rekonstruksi data gerak pendulum dari accelerometer Sehingga apabila data rekorder ini dipasang untuk merekam data accelero- meter p a d a roket, d a p a t merekam

Tujuan Penelitian ini adalah : (1) Mendeskripsikan karakteristik individu dan usaha pedagang martabak manis kaki lima di Kota Bogor (2) Menganalisis perilaku wirausaha

FORMAT LEMBAR PENGESAHAN *1.. nama LKM ..) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Tugas : ….…. Nama kegiatan yang

Enter Model 1 Variables Entered Variables Removed Method. All requested

Pertanyaan- pertanyaan yang harus dijawab dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana tingkat perilaku bullying para siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 tahun ajaran 2008/2009?, (2)

Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis yang menyatakan ada hubungan positif antara minat terhadap jurusan dan motivasi berprestasi pada siswa kelas XII SMA BOPKRI Dua