JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
76
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DI SMK NEGERI 1 LUMUT KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN 2017
TINAWATI NAINGGOLAN
DOSEN STIKES NAULI HUSADA SIBOLGA
ABSTRACT
Young women are vulnerable to maternal deaths, child and infant mortality, unsafe abortion, STIs, drugs and sexual abuse / abuse. Parents as the first social environment of teenagers are expected to adopt a parenting pattern that prioritizes open dialogue between adolescents and parents about reproductive health so that adolescents have the right attitude about reproductive health. This study aims to determine the relationship of parental parenting with the attitude of young women about reproductive health in SMK Negeri 1 Lumut Kabupaten Tapanuli Tengah 2017. The design used in this research is descriptive correlation. The sample in this research is female adolescent SMK Negeri 1 Lumut which amounts to 170 people. Sampling using Total Sampling technique. The results of the study of 170 respondents, the majority of 74.1% in categorizeolaasuhauthoritative (democratic) and the majority of 71.2% bersikappositif. The results of the test are measured by ρ = 0,000, this means ho rejected that the relationship of the parent's parents with the attitude of the police about the reproductive health. It is expected to be an input for educational institutions to cooperate with health officers in the Directorate of Youth and Protection of Reproductive Rights, BKKBN to enable PIK-KRR in educational institutions and parents are expected to apply parenting that prioritizes open dialogue on reproductive health in adolescents.
Keywords: Parenting Parenting, Young Women Attitudes, Reproductive Health LATAR BELAKANG
Remaja merupakan bagian fase kehidupan manusia dengan karakter khasnya yang penuh gejolak. Data demografi menunjukan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Menurut World Health Organization sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun.Sekitar 900 juta berada di negara sedang berkembang(Soetjiningsih, 2007). Di Indonesia, pada tahun 2007 jumlah remaja usia 10-24 tahun terdapat sekitar 64 juta atau 28,64% dari jumlah penduduk Indonesia (Proyeksi Penduduk Indonesia tahun 2000-2025, dkk. 2005, dalam Muadz, dkk, 2008).
Remaja Indonesia saat ini sedang mengalami perubahan sosial yang cepat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, yang juga mengubah norma-norma, nilai-nilai dan gaya hidup mereka (Suryoputro, Ford &
Shaluhiyah, 2006). Perkembangan emosi yang belum stabil dan bekal hidup yang masih perlu dipupuk menjadikan remaja lebih rentan mengalami gejolak sosial. Diakui atau tidak, fakta telah menjelaskan keteledoran orang tua dan pendidik dalam mengarahkan dan membimbing anaknya berkontribusi meningkatkan problem-problem sosial dan kriminal (Muzayyanah, 2008).
Permasalahan remaja yang ada saat ini sangat kompleks dan mengkhawatirkan. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia yang dilaporkan hingga desember 2009 mencapai 19.973 kasus, dengan usia 15-19 tahun sebesar 3,05%. Dari sisi lain jumlah penyalah guna narkoba sebesar 1,5% dari penduduk Indonesia atau 3,2 juta penduduk Indonesia didapati sebagai penyalah guna NAPZA. ±70% dari pengguna narkoba adalah remaja.
Berdasarkan data Perkumpulan Keluarga Berencana Nasional Indonesia (PKBI), tahun 2006, didapatkan bahwa 2,5 juta perempuan pernah melakukan aborsi per tahun, 27% (±700 ribu) dilakukan oleh remaja, dan sebagian besar dilakukan dengan cara tidak aman. Sekitar 30-35%, aborsi ini adalah penyumbang kematian ibu (BKKBN, 2010).
Hal inilah yang menyebabkan remaja putri rentan terhadap kematian maternal, kematian anak dan bayi, aborsi tidak aman, IMS, NAPZA dan kekerasan/pelecehan seksual (MOH-GOI, 1999, dalam Widyastuti, Rahmawati, Purnamaningrum, 2009, hlm. 160).
Keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan remaja karena keluarga merupakan lingkungan sosial pertama, yang meletakkan dasar-dasar kepribadian remaja. Pola asuh orang tua sangat besar pengaruhnya bagi remaja. Pola asuh otoriter, permisif maupun demokratis memberikan dampak yang berbeda-beda bagi remaja (Soetjaningsih, 2010, hlm. 50).
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
77
Orangtua sebagai lingkungan sosial pertama remaja diharapkan dapat menerapkan pola asuh yang mengutamakan adanya dialog yang terbuka antara remaja dan orang tua tentang kesehatan reproduksi sehingga remaja memiliki sikap yang benar tentang kesehatan reproduksi. Namun pada kenyataannya orang tua seringkali menganggap tabu pembicaraan tentang fungsi dan proses reproduksi serta seksualitas kepada remaja, akhirnya remaja berusaha mencari informasi lewat media massa dan teman-temannya sehingga mereka kadang-kadang memperoleh informasi yang kurang tepat, malah terkadang menyesatkan dan menjerumuskan mereka sendiri(Mutakim, 2008). Oleh karena itu pola asuh orang tua sangat penting untuk membentuk sikap remaja putri tentang kesehatan reproduksi.
Berdasarkan hasil penelitian Vani Bagus Setiana (2010) didapatkan 59,0% responden mempunyai sikap positif, 56,9% orang tua responden mempunyai pola asuh positif, dan 41,1% responden mempunyai sikap dan pola asuh orang tua yang positif. Setelah dilakukan uji statistik dengan spearman rank dengan menggunakan program komputer didapatkan bahwa (0,00) lebih kecil dari (0,05), yang artinya ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan sikap remaja tentang NAPZA pada siswa kelas XI di SMA PGRI 1 Jombang.
Berdasarkan hasil penelitian Rohdiyati (2007) disimpulkan bahwa ada pengaruh antara pola asuh orang tua permisif dengan sikap remaja terhadap seks pra nikah pada kelas XI di SMU 17 AGUSTUS.
Hasil penelitian Fatmawati (2010) dengan menggunakan uji korelasi product moment, diperoleh hasil bahwa nilai r = 0,433 dengan nilai p = 0,001 karena nilai p lebih kecil dari 0,05 maka signifikan berarti ada hubungan antara pola asuh authoritative dengan sikap siswa tentang seks bebas di SMA N 1 Tawangsari Sukoharjo.
SMK Negeri 1 Lumut merupakan salah satu sekolah yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah. Siswinya berasal dari desa yang berbeda-beda, dengan kebiasaan yang berbeda pula. Yang tentunya pola asuh yang digunakan oleh orangtuanya juga berbeda antara satu dengan yang lain. Di sekolah tersebut belum pernah dilakukan penelitian tentang hubungan pola asuh orang tua dengan sikap remaja putri tentang kesehatan reproduksi dan kegiatan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi dari lembaga wilayah setempat. Berdasarkan wawancara dengan salah seorang guru, pernah ada siswa kelas XII yang putus sekolah akibat hamil di luar nikah. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk mengetahui hubungan pola asuh orangtua dengan sikap remaja putri tentang kesehatan reproduksi di SMK Negeri 1Lumut.
TINJAUAN PUSTAKA Sikap
Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari sesorang terhadap suatu stimulasi atau objek.
Menurut Newcomb dalam Notoadmodjo (2007, hlm. 142), menyatakan bahwa sikap merupakan suatu kesiapan atau kesediaan untuk bertindak.
Tingkatan Sikap
Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap juga memiliki berbagai tingkatan (Notoadmodjo, 2005, hlm. 144), yaitu :
a. Menerima (Receiving)
Dapat diartikan bahwa orang (objek) mau dan memeperhatikan stmulasi yang diberikan (objek).
b. Merespon (Responding)
Memberi jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c. Menghargai (Valving)
Memberikan orang lain untuk mengerjakan/mendiskusikan suatu masalah atau suatu indikasi sikap.
a. Bertanggung Jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi (Notoadmodjo, 2003).
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
78
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan SikapFaktor - faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut Azwar (2009, dalam Kusumastuti, 2010, hal.13-16) adalah:
a) Pengalaman pribadi
Sesuatu yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis.
b) Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.
Apabila kita hidup dalam budaya yang mempunyai norma longgar bagi pergaulan heteroseksual, sangat mungkin kita akan mempunyai sikap yang mendukung terhadap masalah kebebasan pergaulan heteroseksual. Apabila kita hidup dalam budaya sosial yang sangat mengutamakan kehidupan berkelompok, maka sangat mungkin kita akan mempunyai sikap negatif terhadap kehidupan individualisme yang mengutamakan kepentingan perorangan.
c) Orang lain yang dianggap penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita.
Seseorang yang kita anggap penting, sesorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak dan tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berati khusus bagi kita, akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Diantara orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang satatus sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri tau suami dan lain-lain.
d). Media massa
Media massa sebagai sarana komunikasi. Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dll, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya. Media massa membawa pula pesanpesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
e). Institusi/ lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri ndividu. Pemahaman akan baik- dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
f). Faktor emosi dalam diri individu
Bentuk sikap tidak semuanya ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang- kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama.
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
79
Pengukuran Sikap Model LikertSkala ini digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap gejala-gejala atau masalah yang ada di masyarakat atau yang dialaminya (Hidayat, 2010, hlm. 102).
Beberapa bentuk jawaban pertanyaan atau pernyataan yang masuk dalam kategori skala likert adalah sebagai berikut :
a. Untuk pertanyaan/pernyataan positif Sangat Setuju : 4
Setuju : 3
Tidak Setuju : 2 Sangat Tidak Setuju : 1 b. Untuk pertanyaan/pernyataan negatif
Sangat Setuju : 1
Setuju : 2
Tidak Setuju : 3 Sangat Tidak Setuju : 4 Pola Asuh Orang Tua
Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Menurut Chabib Thoha (1996, hlm. 109, dalam Astuti, 2005, hlm. 36) pola asuh orang tua adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari tanggung jawab kepada anak.
Peran keluarga menjadi penting untuk mendidik anak baik dalam sudut tinjauan agama, tinjauan sosial kemasyarakatan maupun tinjauan individu. Jika pendidikan keluarga dapat berlangsung dengan baik maka mampu menumbuhkan perkembangan kepribadian anak menjadi manusia dewasa yang memiliki sikap positif.
Pola asuh menurut Soetjiningsih (2004, dalam Astuti, 2005, hlm. 36) adalah suatu model atau cara mendidik anak yang merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya.
Pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak,yaitu bagaimana cara sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak,termasuk cara penerapan aturan,mengajarkan nilai / norma,memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukkan sikap dan perilaku baik sehingga dijadikan panutan bagi sikap anaknya (Theresia,2009, dalam Suparyanto, 2010)
a. NAPZA
1) Pengertian NAPZA
NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, Zat Additive lainnya) adalah zat kimiawi yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui hidung). Kata lain yang sering dipakai adalah narkoba (Narkotika, psikotropika dan bahan-bahan berbahaya lainnya).
2) Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Pecandu adalah orang yang menggunakan/menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika baik secara fisik maupun psikis.
Ketergantungan narkotika adalah gejala dorongan untuk menggunakan narkotika secara terus menerus.
Rehabilitas medis adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan narkotika.
Jenis narkotika adalah opioid atau opiad yang berasal dari kata opium. Opiad alami adalah heroin (diacethylmorphine), kodein (3-methoxymorphine), danhydromorphone (dialudid).
Efek samping yang ditimbulkan adalah mengalami perlambatan dan kekacauan pada malam hari, mengalami kerusakan pada liver dan ginjal, peningkatan risiko terkena virus HIV dan hepatitis dan penyakit infeksi lainnya melalui jarum suntik dan penurunan hasrat dalam hubungan seks, kebingungan dalam identitas seksual, kematian karena overdosis. Adapun jenis narkotika adalah opioid (opiad) yang sering disalahgunakan adalah candu.
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
80
1. AlkoholAlkohol terdapat dalam minuman keras (MIRAS). Minuman keras terbagi dalam 3 (tiga) golongan yaitu:
- Gol. A berkadar alkohol 1%-5%
- Gol. B berkadar alcohol 5 %-20%
- Gol. C berkadar alcohol 20%-50%
Beberapa jenis minuman beralkohol dan kadar yang terkandung di dalamnya:
- Bir, Green Sand 1%-5%
- Martini, Wind (anggur) 5%-20%
- Whisky, Brandy 20%-55%
Efek samping yang ditimbulkan adalah dalam jumlah kecil, alkohol menimbulkan perasaan relax, dan pengguna akan lebih mudah mengekspresikan emosi, seperti rasa senang, rasa sedih dan kemarahan. Bila dikonsumsi lebih banyak lagi, akan muncul efek sebagai berikut : merasa lebih bebas lagi mengekspresikan diri tanpa ada perasaan terhambat menjadi lebish emosional (sedih, senang, marah secara berlebihan).
Pemabuk atau pengguna alcohol yang berat dapat terancam masalah kesehatan yang serius seperti radang usus, penyakit liver, dan kerusakan otot.
3.Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis, bukan narkotika, bersifat atau berkhasiat psiko aktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan tingkah laku.
Zat atau obat yang dapat menurunkan aktivitas otak dan merangsang system saraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku disertai dengan timbulnya halusinasi (menghayal), ilusi, gangguan cara berfikir, perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya.
Psikotropika terbagi dalam 4 golongan yaitu, psikotropika golongan I, golongan II, golongan III dan golongan IV.
Psikotropika yang sekarang sedang popular dan banyak disalahgunakan adalah psikotropika golongan I, yang diantaranya yang dikenal dengan ekstasi dan psikotropika golongan II yang dikenal dengan nama shabu-shabu.
1. Tahapan Pengguna a. Pemakai coba-coba
Biasanya untuk memenuhi rasa ingin tahu atau agar diakui oleh kelompoknya.
b. Pemakai sosial atau rekreasi
Biasanya untuk bersenang-senang, pada saat rekreasi atau santai, umumnya dilakukan dalam kelompok.
c. Pemakai situasional
Biasanya untuk menghilangkan rasa ketegangan, kesedihan, atau kekecewaan.
d. Pemakai ketergantungan
Biasanya sudah tidak dapat melalui hari tanpa mengkonsumsi NAPZA.
2. Dampak Penyalahgunaan a. Fisik
1) Gangguan pada system saraf (neurologis), seperti kejang-kejang. Halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan saraf.
2) Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), seperti infeksi akut otot jantung dan gangguan pembuluh darah.
3) Gangguan pada kulit (dermatologist), seperti: adanya nanah, bekas suntukan atau sayatn dan alergi.
4) Gangguan pada paru-paru, seperti: kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru, dan penggumpalan benda asing yanmg terhirup.
5) Gangguan pada darah: pembentukan sel darah terganggu.
6) Gangguan pencernaan: mencret, radang lambung, dan kelenjar ludah perut, hepatitis, perlemakan hati, pengerasan dan pengecilan hati.
7) Gangguan sistem reproduksi: gangguan fungsi seksual sampai kemandulan, gangguan fungsi reproduksi, ketidakteraturan menstruasi, serta cacat bawaan yang dikandung.
8) Gangguan pada otot dan tulang, seperti peradangan otot akut, penurunan fungsi otot.
9) Terinfeksi virus Hepatitis B dan C, serta HIV.
10) Kematian akibat pemakaian berlebihan (over dosis).
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
81
b. Psikologis1) Ketergantungan fisik dan psikologis kadangkala sulit dibedakan karena pada akhirnya ketergantungan psikologis lebih mempengaruhi.
2) Ketergantungan pada NAPZA menyebabkan orang tidak lagi dapat berpikir dan berperilaku normal.
Perasaan, pikiran dan prilakunya dipengaruhi oleh zat yang dipakainya.
3) Berbagai gangguan psikis dan kejiwaan yang sering di alami oleh mereka yang yang menyalahgunakan NAPZA antara lain adalah: depresi, paranoid, percobaan bunuh diri, melakukan tindak kekerasan, dll.
4) Gangguan kejiwaan ini bias bersifat sementara tetapi juga bias permanent karena kadar ketergantungan pada NAPZA yang semakain tinggi.
5) Gangguan psikologis yang paling nyata ketika pengguna berada pada tahap compulsive yaitu berkeinginan sangat kuat dan hamper tidak bias mengendalikan dorongan untuk menggunakan NAPZA. Dorongan psikologis untuk memakai dan memakai ulang ini sangat nyata pada pemakai yang sudah kecanduan.
6) Banyak pengguna sudah mempunyai masalah psikologis sebelum memakai NAPZA dan penyalahgunaan NAPZA menjadi pelarian atau usaha untuk mengatasi permasalahan tersebut.
7) NAPZA tertentu justru memperkuat perasaan depresi pada pengguna tertentu.
8) Gejala psikologis yang biasa dialami para pengguna NAPZA antara lain:
a) Keracunan (Intoksikasi)
Adalah suatu keadaan ketika zat-zat yang digunakan sudah mulai meracuni darah pemakai dan mempengaruhi perilaku pemakainya; misalnya tidak lagi bisa berbicara normal, berpikir lambat, dd.
b) Peningkatan Dosis (Toleransi)
Yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang membutuhkan jumlah zat yang lebih banyak untuk memperoleh efek yang sama setelah pemakaian berulang kali. Dalam jangka waktu lama, jumlah atau dosis yang digunakan akan meningkat. Toleransi akan hilang jika gejala putus obat hilang.
c) Gejala Putus Obat
Adalah keadaan dimana pemakai mengalami berbagai gangguan fisik dan psikis karena tidak memperoleh zat yang biasa ia pakai. Gejalanya antara lain gelisah, berkeringat, kesakitan, mual- mual. Gejala putus obat menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan zat atau bahan yang biasa dipakai.Gejala putus obat akan hilang ketika kebutuhan akan zat dipenuhi kembali atau bila pemakai sudah terbebas sama sekali dari ketergantungan pada zat/obat tertentu. Perlu diketahui bahwa menangani gejala putus obat bukan berarti menangani ketergantungannya pada obat.
Gejala putus obatnya selesai, belum tentu ketergantungan pada obatnya juga selesai.
d) Ketergantungan
Adalah keadaan di mana seseorang selalu membutuhkan zat/obat tertentu agar dapat berfungsi secara wajar, baik fisik maupun psikologis.Pemakai tidak bisa lagi hidup wajar tanpa zat/obat-obat tersebut.
(Muadz, 2008:90-91).
KERANGKA PENELITIAN Kerangka Konsep
Berdasarkan tinjauan pustaka, pada penelitian ini variabel pola asuh yang akan diteliti adalah authoritarian (otoriter), authoritative (demokratis)dan permessive. Sedangkan variabel sikap remaja putri tentang kesehatan reproduksi yang akan diteliti meliputi seksualitas, HIV/AIDS dan NAPZA.
Gambar 3.1 Kerangka Penelitian
Pola Asuh Orangtua - authoritarian (otoriter) - authoritative (demokratis) - permessive.
Sikap Remaja Putri tentang Kesehatan Reproduksi
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
82
Definisi Operasional1. Variabel Independen
Yang menjadi variable independen dari penelitian ini adalah pola asuh orangtua meliputi pola asuh authoritarian (otoriter), authoritative (demokratis)dan permissive.
Tabel 3.1.
Definisi Operasional Variabel Independen
Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Pola asuh orangtua
a.
Authoritarian (otoriter)
b.
Authoritativ e (Demokrati s)a.
Pola asuh yang :-
Kaku yaitu1.
Tidak menerima pendapat orang lain termasuk anaknya sendiri.2.
Tidak ada diskusi tentang kesehatan reproduksi dengan anak karena dianggap tabu untuk dibicarakan.3.
Tidak lemah lembut.-
Diktator yaitu1.
Orangtua bertindak semena-mena.2.
Anak cenderung takut dan patuh.3.
Orangtua sering menggunakan hukuman fisik jika anak berbuat salah.-
Memaksa anak untuk selalu mengikuti perintah orangtua tanpa banyak alasan.-
Cenderung mengekang keinginan anak.-
Menekankan pengawasanorangtua untuk
mendapatkan ketaatan dan kepatuhan.
b.
Pola asuh yang :-
Mengutamakan adanya dialog antara remaja dan orangtua termasuk tentang kesehatan reproduksi-
Memberikankebebasan pada anak untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri, tetapi masih dalam pengawasan dari orangtua.
Kuesioner dengan 10 pernyataan dengan 3 pilihan jawaban 0 = tidak
pernah 1 = Jarang
terjadi 2 = Sering
terjadi
Kuesioner dengan 10 pernyataan dengan 3 pilihan jawaban 0 = tidak
Tidak Authoritarian
= 0-10 Authoritarian
= 11-20
Tidak Authoritative
= 0-10 Authoritative
= 11-20
Nominal
Nominal
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
83 c.
PermeSsive
c.
Pola asuh yang :-
Memberikan kebebasan sebanyak mungkin pada anak untuk mengatur dirinya sendiri.-
Kurang menekankan pengawasan dari orangtua.-
Membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dengan teman.-
Membuat anak lebih banyak mendapat informasi tentang kesehatan reproduksibukan dari orangtua, melainkan dari teman dan media komunikasi.
pernah 1 = Jarang
terjadi 2 = Sering
terjadi Kuesioner dengan 17 pernyataan dengan 3 pilihan jawaban 0 = tidak
pernah 1 = Jarang
terjadi 2 = Sering
terjadi
Tidak Permessive
= 0-10 Permessive
= 11-20
Nominal
2. Variabel Dependen
Yang menjadi variable dependen dari penelitian ini adalah sikap remaja putri tentang kesehatan reproduksi meliputi seksualitas, PMS dan NAPZA.
Tabel 3.2
Definisi Operasional Variabel Dependen
Variabel Defenisi
Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Sikap remaja putri tentang kesehatan reproduksi
Respon atau reaksi remaja putri tentang :
c.
a. seksualitasd.
b. HIV/AIDSe.
c. NAPZAKuesioner dengan 24 pernyataan :
Jika pernyataan positif (+) maka :
Sangat Setuju : 4
Setuju : 3
Tidak Setuju : 2
Sangat Tidak Setuju : 1 1 Jika pernyataan
negatif (-) maka :
Sangat Setuju : 1
Setuju : 2
Tidak Setuju : 3
Sangat Tidak Setuju : 4 4
Positif jika total skor 24-59
Negatif jika total skor 60- 96
Ordinal
3. Hipotesis
Hipotesa yang akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah hipotesa alternatif (Ha) yaitu adanya hubungan antara pola asuh orangtua dengan sikap remaja putri tentang kesehatan reproduksi.
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
84
HASIL PENELITIANAnalisa Univariat Pola Asuh Orangtua
Tabel 5.1
Distribusi Responden Berdasarkan Pola Asuh Orangtua di SMK Negeri 1 Lumut Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2017 Pola Asuh Orangtua Frekuensi Persentase (%)
Authoritarian (otoriter) 22 12,9
Authoritative (demokratis) 126 74,1
Permessive 22 12,9
Jumlah 170 100,0
Berdasarkan tabel 5.1 diatas dapat dilihat bahwa hasil penelitian distribusi responden berdasarkan pola asuh orang tua menunjukkan bahwa dari170 responden, mayoritas responden 74,1% (126 orang) dalam kategori pola asuh orangtua authoritative (demokratis), dan minoritas responden 12,9% (22 orang) dalam kategori pola asuh orangtua authoritarian (otoriter) dan permessive.
Sikap Remaja Putri tentang Kesehatan Reproduksi
Tabel 5.2
Distribusi Responden Berdasarkan Sikap tentang Kesehatan Reproduksi Di SMK Negeri 1 Lumut Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2017 Sikap tentang Kesehatan Reproduksi Frekuensi Persentase (%)
Positif 121 71,2
Negatif 49 28,8
Jumlah 170 100,0
Berdasarakan tabel 5.2 diatas dapat dilihat bahwa hasil penelitian distribusi responden berdasarkan sikap tentang kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa dari 170 responden, mayoritas responden 71,2% (121 orang) bersikap positif dan minoritas responden 28,8% (49 orang) bersikap negatif.
Analisa Bivariat
Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Sikap Remaja Putri tentang Kesehatan Reproduksi Tabel 5.3
Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Sikap Remaja Putri tentang Kesehatan Reproduksi di SMK Negeri 1 Lumut Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2017
Pola Asuh Orangtua Sikap Jumlah Persentase
Positif Negatif (%)
F % F %
Authoritarian (otoriter) 0 0 22 12,9 22 12,9
Authoritative (demokratis) 121 71,2 5 3,0 126 74,2
Permessive 0 0 22 12,9 22 12,9
Total 121 71,2 49 28,8 170 100
X2=146,595 ρ=0,000
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
85
Tabel 5.4 Chi-Square TestsValue df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square
N of Valid Cases 146,595a
170 2 0,000
a. 0 cells (0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.34.
Berdasarkan tabel 5.3 diatas dapat dilihat bahwa hasil penelitian hubungan pola asuh orang tua dengan sikap remaja putrid tentang kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa dari 170 responden, 22 orang (12,9%) yang berpola asuh authoritarian (otoriter) mempunyai sikap negatif, 121 orang (71,2%) yang berpola asuh authoritative (demokratis) mempunyai sikap positif dan 22 orang (12,9%) yang berpola asuh permessive mempunyai sikap negatif. Tabel 5.4 menunjukkan hasil uji statistik dengan analisa chi-square diperoleh nilai ρ=0,000, ini berarti ada hubungan pola asuh orangtua dengan sikap remaja putri tentang kesehatan reproduksi.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan terhadap 170 remaja putri di SMK Negeri 1 Lumut Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai berikut:
1. Mayoritas responden 74,1% (126 orang) dalam kategori pola asuh orangtua authoritarian (demokratis), dan minoritas responden 12,9% (22 orang) dalam kategori pola asuh orangtua authoritative (otoriter) dan permissive.
2. Mayoritas responden 71,2% (121 orang) bersikap positif dan minoritas responden 28,8% (49 orang) bersikap negatif.
3. Terdapat hubungan antara pola asuh orangtua dengan sikap remaja putri tentang kesehatan reproduksi di SMK Negeri 1 Lumut Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2017.
Saran
Untuk meningkatkan sikap positif remaja putri tentang kesehatan reproduksi diharapkan:
1. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dapat menjadi masukan bagi institusi pendidikan untuk menjalin kerjasama dengan petugas kesehatan di Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, BKKBN untuk mengaktifkan PIK-KRR di institusi pendidikan untuk meningkatkan pemahaman remaja putri tentang kesehatan reproduksi, sehingga seluruh remaja putri SMK Negeri 1 Lumut Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki sikap positif tentang kesehatan reproduksi.
2. Bagi Orang tua
Diharapkan dapat menerapkan pola asuh yang memungkinkan adanya dialog terbuka antara orangtua dan remaja tentang kesehatan reproduksi sehingga remaja memiliki sikap positif tentang kesehatan reproduksi.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkandapatmelakukan penelitian tentang pola asuh orangtua yangpalingefektif dalam membentuk sikap positif remaja putri tentang kesehatanreproduksi.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M., Mohammad, A. (2010). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: BumiAksara.
Bidang Pengendalian KB dan KR. (2010). Laporan Kegiatan After School Program KRR/PKBR bagi Siswa-Siswi SMP dan SMA Tingkat Provinsi Sumatera Utara Angkatan I (Pertama). Medan : BKKBN Provinsi Sumatera Utara.
Danniati, R.R. (2009). Hubungan Persepsi tentang Pola Asuh Orangtua dengan Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi di SMA Negeri 1 Bangsri Kabupaten Jepara. Universitas Muhammadiyah Surakarta, 1-6.
http://etd.eprints.ums.ac.id.
Fatmawati, Ari. (2010). Hubungan antara Tingkat Pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dan Pola Asuh Orangtua tentang Sikap Remaja tentang Seks Bebas di SMA N 1 TawangsariSukoharjo, retrivied from http://etd.eprints.ums.ac.id/9492/.
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 1 No. 2 Juli 2017
86
Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi & Pusdiklat Pegawai dan Tenaga Program BKKBN. (2008).
Modul Workshop : Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja Bagi Calon Konselor Sebaya. Jakarta : BKKBN Provinsi Sumatera Utara.
Hidayat, A.A.A. (2007). Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.
Hurlock, Elisabeth. (2007). Perkembangan Anak jilid II. Jakarta:Erlangga.
Kusumaastuti, Fadhila A. D. (2010). Hubungan antara Pengetahuan dengan Sikap Seksual Pranikah Remaja, retrivied from http://eprints, uns.ac.id.
Mahfiana, L., Elfi,Y.R. (2009). Remaja dan Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: STAIN PRESS Ponorogo bekerja sama dengan CEF RS.
Manik, M, Nur, A.S., Nur, A. (2010). Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Medan: Program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Manuaba, A.C., Ida ,B.G.F.M, Ida,B.G.M. (2009). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: EGC.
Muadz, M.M., dkk. (2008). Kurikulum dan Modul Pelatihan Pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR). Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, BKKBN, 2, 1-132.
http://[email protected].
... (2008). Modul Pelatihan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja Bagi Calon Konselor Sebaya.
Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, BKKBN, 2, 1-103. retrivied from http://[email protected].
Muzayyanah, S.N.(n.d.). Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja:Bagaimana menyikapinya. Retrieved 19 Mei 2009, from http://halalsehat.com.
Notoadmojo, S.(n.d). (2007). MetodologiPenelitianKesehatan.Jakarta : Rineka Cipta.
Nuru, N. (1994). U.P.P: Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah SMA pada SMA Negeri VI Medan. Medan: LembagaPenelitianUsuMedan.
Oktiva, YayukDwi. (2010). Hubunganantara Tingkat PengetahuantentangKesehatanReproduksiRemajadanPolaAsuh Orang TuadenganSikapRemajatentangSeksBebas di SMA Negeri 1 TawangsaSukoharjo, retrivied from http://etd.eprints.ums.ac.id.
Parke, R.D. &Virginia,O.L. (1999). Child Psychology. (5thed). USA: The Mc.Graw, Inc.
Riduwan.(2010). Dasar-Dasar Statistik. Bandung: Alfabeta.
Rohdiyati ,Suci. (2007). HubunganPolaAsuhPermisifDenganSikapRemajaTerhadapSeksPraNikah,retrivied from http://adln.lib.unair.ac.id.
Setiadi. (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Setiana, Vani Bagus. (2010). HubunganAntaraPolaAsuh Orang
TuaDenganSikapRemajaTentangNapzaPadaSiswaKelas Xi Di SmaPgri 1JombangKabupatenJombang 2010, retrivied fromhttp://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/01/
Soetjaningsih. (2010). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : Agung Seto.
Suparyanto. (2010). Konsep Pola Asuh Anak, retrivied from http://dr.Suparyanto.blogspot.com.
Suyanto &Ummi,S.(2008). Riset Kebidanan Metodologi dan Aplikasi. Jogjakarta: Mitra Cendikia Press.
Suryoputro,A., Nicholas, J.F., Zahroh,S. (2006). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja di Jawa Tengah: Implikasinya terhadap Kebijakan dan Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi.Makara, Kesehatan.
10 (1), 29-40.
Widyastuti,Y., Anita, R., Eka, Y.P. (2009). KesehatanReproduksi. Jakarta:Fitramaya