STUDI KASUS TENTANG HAK RESTITUSI KORBAN YANG TIDAK DIBERIKAN OLEH HAKIM TERHADAP KASUS TINDAK
PIDANA PERDAGANGAN ORANG DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1501K/PIDSUS/2008
Helia Shanti Putri Wulandari 110113080146
A. Latar Belakang Pemilihan Kasus :
Tindak pidana PO merupakan kejahatan yang sangat melanggar harkat dan martabat manusia serta banyak menimbulkan kerugian baik moril maupun materil untuk korban kejahatan tersebut. Salah satu hak dari korban tindak pidana PO adalah hak restitusi sebagai mana yang dicantumkan dalam Pasal 48 UU pemberantasan tindak pidana PO.
Dalam perkara tindak pidana PO nomor putusan 1501K/Pidsus/2008 atas nama terpidana Sanidi Binti Basro pada Pengadilan Negeri Sumber, Kabupaten Cirebon, Majelis Hakim menolak permohonan hak restitusi oleh korban yang sudah diajukan bersamaan dalam surat tuntutan yang disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum.
Kasus Posisi :
Pada bulan Mei tahun 2007 bertempat di kecamatan Kedaung Kabupaten Cirebon, terdakwa Sanidi Binti Basro bersama-sama Sutiah Binti Sumitra merencanakan atau melakukan pemufakatan jahat untuk melakukan pengrekrutan, terhadap saksi korban SENI, MARYATIN, dan YAYAH dengan menawarkan pekerjaan kemudian diberikan sejumlah uang. Yang sepengetahuan para saksi, mereka akan dipekerjakan di café milik Astimi yang merupakan kakak dari terdakwa Sanidi. Namun, kenyataannya sesampainya para saksi di Lubuk Linggau, mereka dipekerjakan sebagai PSK oleh Astimi. Dari perbuatan-perbuatan terdakwa tersebut, para saksi mengalami kerugian baik moral maupun materil.
Pertimbangan Majelis Hakim menolak permohonan hak restitusi korban
Permohonan hak restitusi tidak diajukan sejak dari korban melaporkan tindak pidana PO pada Kepolisian Republik Indonesia (tingkat penyidikan) tetapi para korban mengajukan tuntutan restitusi setelah pemeriksaan dipersidangan (diajukan bersamaan dengan tuntutan hukum penuntut umum)
Terdakwa Sanidi tidak menikmati secara langsung keuntungan dari hasil penghasilan para korban sebagai PSK, serta para korban juga tidak mengalami kerugian secara langsung dari akibat perbuatan terdakwa Sanidi.
B. Masalah Hukum
Mengapa hakim menolak permohonan restitusi saksi korban yang sudah disampaikan bersamaan surat tuntutan jaksa penuntut?
Apakah terbuktinya tindak pidana perdagangan orang, akan secara otomatis mengabulkan permohonan restitusi korban dikaitkan dengan undang-undang RI no 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang?
C. Tinjauan Teoritik
Tindak Pidana
Menurut Vos, tindak pidana adalah suatu kelakuan manusia yang oleh peraturan perundang-undangan diberi hukuman.
Menurut Simons, suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun dengan tidak sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan yang oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.
Tindak Pidana Perdagangan Orang
Perdagangan orang dalam Pasal 1 ayat 1 undang-undang Nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana
perdagangan orang :
tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan terekspoitasi.
Terdapat pengertian tindak pidana
perdagangan orang dalam KUHP yang dicantumkan pada Pasal 297 KUHP :
perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum dewasa, diancam
dengan pidana penjara paling lama enam tahun.
Ruang Lingkup TPPO
1. Setiap tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana dalam Undang-undang RI nomor 21 tahun 2007. Juga melarang setiap orang yang memasukkan orang ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk eksploitasi.
2. Membawa Warga Negara Indonesia ke luar wilayah NKRI untuk tujuan eksploitasi.
3. Mengangkat anak dengan menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu untuk maksud eksploitasi.
4. Mengirimkan anak ke dalam atau luar negeri dengan cara apapun, dan setiap orang yang menggunakan atau memanfaatkan korban TPPO dengan cara melakukan persetubuhan atau pencabulan, memperkerjakan korban untuk tujuan eksploitasi atau mengambil keuntungan.
5. Setiap orang yang memberikan atau memasukkan keterangan palsu pada dokumen Negara atau dokumen lain untuk mempermudah TPPO.
6. Setiap orang yang memberikan kesaksian palsu, menyampaikan bukti palsu atau barang bukti palsu, atau mempengaruhi saksi secara melawan hukum.
7. Setiap orang yang menyerang fisik terhadap saksi atau petugas dipersidangan perkara TPPO, setiap orang yang mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan dan persidangan di sidang pengadilan terhadap tersangka, terdakwa, atau saksi dalam perkara TPPO, setiap orang yang membantu pelarian pelaku TPPO.
8. Setiap orang yang memberikan identitas saksi atau korban padahal seharusnya dirahasiakan.
Sanksi Pidana Perdagangan Orang
Undang-undang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang merumuskan ancaman sanksi pidana kedalam dua kategori, yaitu:
Perumusan pidana tunggal berupa pidana denda yang diperuntukkan bagi korporasi (Pasal 15 ayat 1).
Perumusan pidana secara komulatif berupa pidana penjara dan pidana denda yang
diperuntukan bagi semua tindak pidana mulai
dari Pasal 2 sampai dengan Pasal 24.
Hak Restitusi Bagi Korban
Pengertian Korban :
Korban menurut Pasal 1 ayat 3 UU nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang adalah seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, seksual, ekonomi, dan/atau sosial, yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang.
Perlindungan Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Dalam Perspektif Hukum
Kitab Hukum Acara Pidana (Psl 77 jo Psl 80 KUHAP, Psl 98 – 101 KUHAP).
Pasal 48 UU no. 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan TPPO.
Pasal 5 UU no. 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Istilah dan pengertian Restitusi
Restitusi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah ganti kerugian; pembayaran kembali.
Psl 1 ayat 13 UU PTPPO, restitusi adalah pembayaran ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atas kerugian materril dan/atau immaterial yang diderita korban atau ahli warisnya.
Psl 1 ayat 5 Peraturan pemerintah tentang pemberian kompensasi, restitusi, dan bantuan kepada saksi dan korban, restitusi adalah ganti kerugian yang diberikan kepada korban atau keluarganya oleh pelaku atau pihak ketiga, dapat berupa pengembalian harta milik, pembayaran ganti kerugian untuk kehilangan atau penderitaan, atau penggantian biaya untuk tindakan tertentu.
Hak Restitusi dalam UU no. 21 Tahun 2007 tentang PTPPO terdapat dalam pasal 48, yang pada pokoknya dapat disimpulkan isi pasal tersebut adalah :
Korban tindak pidana perdagangan orang berhak memperoleh Hak Restitusi.
Restitusi berupa ganti kerugian atas kehilangan kekayaan, penderitaan, biaya perawatan medis, dan kerugian lain yang diderita korban sebagai akibat perdagangan orang.
Restitusi dapat diajukan sejak dari tahap penyidikan, dan dapat diajukan bersamaan dengan surat tuntutan serta dicantumkan dalam putusan.
Mekanisme Pengajuan Restitusi
P e n g a d i l a n
P e r d a t a / g u g a t a n
Korban P e r k a r a p i d a n a /
T P P O P o l i s i P e n u n t u t U m u m / J a k s a
Jaksa memberitahu korban untuk mengajukan restitusi menyampaikan jumlah kerugian bersama tuntutan.
Pengajuan restitusi dilakukan sejak korban lapor ke polisi, ditangani penyidik bersamaan dengan
penanganan perkara TPPO Dictum
(3).(4)
Putusan restitusi disimpan (konstitusinya di PN)ayat 5
14 hari setelah BHTayat 6
Surat Dakwaan
Surat dakwaan harus memenuhi syarat formal (identitas terdakwa) dan syarat materil (uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana dilakukan)
Tujuan Surat Dakwaan :
1. Dasar pemeriksaan sidang pengadilan.
2. Dasar pembuktian dan tuntutan pidana.
3. Dasar pembelaan diri bagi terdakwa.
4. Dasar penilaian serta dasar putusan pengadilan.
Surat Tuntutan
Dalam surat tuntutan memuat:
•
Identitas terdakwa,
•
Surat dakwaan ditulis kembali,
•
Hasil fakta-fakta pembuktian selama pemeriksaan di persidangan,
•
Memuat mengenai analisis fakta dan analisis hukum JPU,
•
Hal-hal yang memberatkan dan
meringankan tuntutan trhadap terdakwa,
•
Tuntutan terhadap terdakwa.
Tugas dan wewenang hakim
Dalam Undang-undang RI nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dituangkan pada
Pasal 5 bahwa tugas hakim adalah, sebagai berikut :
1) Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
2) Hakim dan hakim konstitusi harus memiliki
integritas dan kepribadian yang tidak tercela, jujur, adil, profesional, dan berpengalaman di bidang
hukum.
3) Hakim dan hakim konstitusi wajib menaati Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.
Hakim berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara sebagaimana kekuasaan yang diberikan undang-undang kepadanya. Pasal 11 UU Kekuasaan kehakiman menyebutkan:
1. Pengadilan memeriksa, mengadili, dan memutus perkara dengan susunan majelis sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang hakim, kecuali undang-undang menentukan lain.
2. Susunan hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari seorang hakim ketua dan dua orang hakim anggota.
3. Hakim dalam memeriksa, mengadili, dan memutus perkara dibantu oleh seorang panitera atau seorang yang ditugaskan melakukan pekerjaan panitera.
Syarat-syarat Putusan dimuat dalam pasal 197 ayat (1) KUHAP
Tidak dipenuhinya syarat – syarat yang dicantumkan dalam Pasal tersebut, mengakibatkan putusan yang dijatuhkan adalah batal demi hukum.
Mengembalikan semua hal dan keadaan kepada keadaan semula seolah-olah terdakwa tidak pernah diperiksa dan didakwa.
Putusan yang dijatuhkan tidak mengikat dan tidak mempunyai kekuatan hukum, dan tidak mempunyai daya kekuatan eksekusi.
Dalam menjatuhkan putusan, hakim harus mempertimbangkan segala aspek tujuan penjatuhan putusan.
Upaya untuk melindungi masyarakat dari ancaman suatu kejahatan.
Upaya represif agar penjatuhan pidana membuat pelaku jera dan tidak mengulangi kesalahan lagi.
Upaya preventif agar masyarakat lebih luas tidak melakukan tindak pidana sebagaimana yang telah dilakukan.
Memperisiapkan mental masyarakat dalam menyikapi suatu kejahatan dan pelaku kejahatan tersebut, sehingga pada saatnya nanti pelaku tindak pidana dapat diterima dalam pergaulan masyarakat.
ANALISA TENTANG HAK RESTITUSI KORBAN YANG TIDAK DIBERIKAN OLEH HAKIM TERHADAP KASUS TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1501K/PIDSUS/2008
1. Hakim menolak permohonan restitusi saksi korban yang sudah disampaikan bersamaan dengan surat tuntutan jaksa penuntut umum.
• Dalam penjelasan Pasal 48 ayat (1) UUPTPPO, mekanisme pengajuan restitusi dilaksanakan sejak korban melaporkan kasus yang dialaminya kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia setempat dan ditangani oleh penyidik bersamaan dengan penanganan tindak pidana yang dilakukan. Penuntut umum memberitahukan kepada korban tentang haknya untuk mengajukan restitusi, selanjutnya penuntut umum menyampaikan jumlah kerugian yang diderita korban akibat tindak pidana perdagangan orang bersamaan dengan tuntutan.
• Saksi korban tidak mengajukan tuntutan restitusi sejak melaporkan kasus tersebut di Kepolisian RI, namun baru diajukan setelah di proses persidangan.
• fakta dipersidangan restitusi baru diajukan dipersidangan karena korban tidak mengetahui bahwa ia memiliki hak untuk memperoleh restitusi dan penyidik tidak memberitahukannya tentang hal itu.
Dari uraian yang dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa majelis hakim Pengadilan Negeri Sumber, majelis hakim Pengadilan Tinggi Bandung, dan majelis hakim Mahkamah Agung RI dalam pertimbangannya hanya menggunakan pendekatan yuridis normatif (aliran positifisme) tidak berpandangan progresif. Pertimbangan hakim dalam perkara ini didasarkan pada aliran yuridis normatif saja diimplementasikan dengan hakim benar-benar mengacu pada bunyi pasal-pasal pada Undang-undang (hukum dalam bentuk formal).
Sedangkan menurut pandangan progresif, hukum tidak hanya mengacu pada hukum dalam bentuk formal saja melainkan juga harus menggali dan mempertimbangkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan dalam menjatuhkan putusan. Hukum diupayakan untuk berubah sesuai dengan manusia yang semakin berkembang.
Aliran progresif diatas, sejalan dengan pasal 5 ayat (1) Undang- undang RI nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa “hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.
2. Terbuktinya tindak pidana perdagangan orang tidak secara otomatis akan mengabulkan permohonan restitusi korban dikaitkan dengan Undang-undang RI nomor 21 tahun 2007 tentang PemberantasanTindak Pidana Perdagangan Orang.
Di dalam persidangan modus operandi yang dilakukan oleh terdakwa tidak terungkap, sehingga dinilai tidak mengakibatkan kerugian secara langsung terhadap korban. Bukti-bukti kerugian yang diderita oleh korban baru diajukan bersamaan dengan jaksa penuntut umum membacakan surat tuntutan jaksa penuntut umum (sebagai lampiran).
Hal tersebut menurut hemat penulis yang menyebabkan tidak dikabulkannya tuntutan restitusi.
Dapat disimpulkan restitusi jaksa penuntut umum dikabulkan oleh Majelis Hakim apabila:
1. tuntutan restitusi diajukan sejak tingkat penyidikan sesuai pada penjelasan Pasal 48 ayat (1).
2. fakta-fakta persidangan terungkap bahwa modus operandi yang
dilakukan oleh terdakwa mengakibatkan kerugian yang diderita oleh korban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ayat (2) dan diajukan bersamaan dengan tuntutan.
Kesimpulan
1. Majelis hakim menolak permohonan restitusi saksi korban dikarenakan tuntutan restitusi disampaikan bersamaan dengan surat tuntutan jaksa penuntut umum. Hal ini tidak sesuai dengan prosedur pengajuan permohonan restitusi berdasarkan penafsiran otentik ketentuan Pasal 48 ayat (1) Undang-undang RI nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, sebagaimana dirumuskan dalam penjelasan Pasal tersebut yang seharusnya diajukan sejak tahap penyidikan. Namun dari sisi lain pandangan aliran Progresif mengajarkan alasan-alasan tersebut tidak menjadi halangan jika Majelis Hakim ingin mengabulkan permohonan restitusi. Hal ini dapat dihubungkan dengan Aliran progresif, yang sejalan dengan pasal 5 ayat (1) Undang-undang RI nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa “hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”
2. Terbuktinya tindak pidana perdagangan orang tidak secara otomatis mengabulkan permohonan restitusi korban, hal ini tergantung pada fakta-fakta secara materil yang terungkap di persidangan mengeni perbuatan terdakwa yang mengakibatkan kerugian pada korban. Dalam kasus ini, modus operandi yang dilakukan oleh terdakwa hanya merekrut korban dan tidak menimbulkan kerugian secara langsung sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 48 ayat (2) Undang-undang RI nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Saran
1. Penyidik dan Jaksa Penuntut Umum hendaknya memberitahukan hak-hak apa saja yang dapat diperoleh oleh saksi korban dalam tindak pidana perdagangan orang saat menangani suatu perkara TPPO, sehingga korban dapat mempertimbangkan untuk mengajukan hak-haknya dalam proses penyelesaian perkara tersebut. Dalam rangka mengoptimalkan Pasal-pasal dalam Undang-Undang nomor 21 tahun 2007, penegak hukum selayaknya memperhatikan mengenai hak restitusi dalam perdagangan orang sebagai hukuman tambahan kepada pelaku agar menimbulkan efek penjeraan yang lebih berat. Tentu saja dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.
2.