• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pariwisata adalah gejala yang ditimbukan dari perjalanan orang asing serta penyediaan tempat tinggal sementara, yang tidak ada hubungannya dengan pencarian nafkah (Yoeti dalam Arjana 2015, 6). Pariwisata merupakan sebuah kesatuan sistem yang terdiri dari supply, demand dan faktor eksternal. Supply adalah penawaran dari (komponen) destinasi, demand adalah permintaan dari wisatawan/ target pasar, dan faktor ekternal adalah komponen- komponen diluar supply dan demand yang mempengaruhi penyelenggaraan pariwisata (Gunn,1972). Sebuah destinasi wisata memiliki beberapa komponen penting dalam penyelenggaraan pariwisata agar dapat berjalan dengan baik. Komponen yang harus dipenuhi terdiri dari daya tarik, sarana prasarana wisata, kelembagaan, wisatawan serta masyarakat.

Sebagai sebuah sistem, komponen tersebut masuk kedalam muatan supply, demand dan faktor eksternal.

Dalam penyelenggaran pariwisata perlu melibatkan stakeholder agar kegiatan kepariwisataan dapat berlangsung dengan baik. Stakeholder merupakan individu-individu atau kelompok-kelompok yang ahli dalam bidangnya dan mempunyai peran di dalam suatu kebijakan yang menaungi bidangnya tersebut. Stakeholder pariwisata tidak hanya berperan dalam mengambil keputusan bersama untuk kebijakan pengembangan pariwisata, namun juga berperan dalam mengelola wisata.

Pariwisata memiliki beberapa jenis dan bentuk, diantaranya adalah wisata alam, wisata kebudayaan, wisata pendidikan, wisata pertanian, wisata perbandingan, wisata keagamaan, wisata bahari dan wisata minat khusus. Dari berbagai jenis wisata tersebut, terdapat konsep baru penyelenggaraan wisata, yaitu wisata kreatif. Wisata kreatif merupakan pengembangan dari wisata budaya (Ohridska-Olson, 2010) dan wisata minat khusus (Richard, 2009).

Wisata kreatif menurut International Conference on Creative Tourism tahun 2008,

adalah perjalanan menuju ke tempat yang memiliki pengalaman asli dan menarik

(hati/perasaan) dengan cara berpartisipasi dalam belajar seni, budaya, atau karakter spesial

dari sebuah tempat, serta menyediakan hubungan/ interaksi dengan penduduk yang tinggal

dan membentuk budaya kehidupannya. Pariwisata ini menawarkan kesempatan untuk

mengembangkan kreativitas konsumen dengan aktif berpartisipasi dalam pengalaman

pelatihan dan pembelajaran terkait dengan karakteristik tempat tujuan liburan yang mereka

pilih (Richard and Wilson, 2007). Wisata kreatif melibatkan turis kedalam kehidupan budaya

dari sebuah destinasi dan mereka berpartisipasi dalam aktifitas yang berbeda (kerajinan, seni,

(2)

2

kuliner, dan kegiatan kreatif lainnya) yang kemudian membentuk hubungan yang erat antara turis, penduduk lokal dan budayanya (Richard dan Raymon, 2000). Meskipun wisata kreatif berasal dari wisata budaya, namun berbeda secara esensinya. Wisata budaya tradisional berdasarkan pada “melihat”, “mengamati”, dan “merenungkan” (seperti mengunjungi museum, galeri seni, konser), wisata kreatif berdasarkan pada experiencing, participating dan learning. Wisata kreatif tidak bisa terpuaskan dengan melihat-lihat saja, tetapi dapat dipenuhi dengan partisipasi aktif wisatawannya. (Ohridska-Olson, 2010).

Terdapat komponen penting yang harus dipenuhi dalam mengembangkan sebuah destinasi wisata kreatif. Komponen penting berdasarkan supply dan demand apabila dikelompokkan berdasarkan elemen sistem dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama berdasarkan elemen supply terdiri dari daya tarik wisata kreatif, sarana prasarana wisata kreatif, kelembagaan internal, dan masyarakat. Kelompok kedua berdasarkan demand terdiri dari wisatawan. Kelompok ketiga berdasarkan faktor eksternal terdiri dari pemerintah serta pemasaran.

Terdapat salah satu destinasi wisata kreatif di Kota Surakarta, tepatnya berada di Kelurahan Jayengan. Destinasi wisata tersebut bernama Jayengan Kampoeng Permata (JKP).

JKP ini telah diresmikan sebagai sebuah destinasi wisata pada tanggal 18 Oktober 2015.

Peresmian saat itu dilakukan oleh pejabat Penanggungjawab Walikota Surakarta dan dihadiri oleh dinas-dinas terkait di Kota Surakarta. Hal ini dapat diartikan bahwa JKP diterima secara legal oleh pemerintah untuk menjadi destinasi wisata kreatif Kota Surakarta dengan daya tarik khusus berupa industri kreatif (perhiasan permata, perhiasan logam mulia dan kuliner). Dalam acara tersebut, dilantik pula Forum JKP yang menjadi pengelola wisata kedepannya.

Konsep pengembangan kawasan yang terumuskan adalah “Pengembangan Jayengan Kampoeng Permata sebagai Integrative Industrial District Berbasis Lokalitas”. Industrial district adalah jaringan (network) yang terbentuk dari sinergi industri-industri dengan lokasi cenderung beraglomerasi, sehingga saling menguntungkan sebagai kesatuan klaster industri (Kuncoro, 2002). Pada Kampung Permata Jayengan, klaster industri terbentuk mengakar pada lokalitas, yakni permata yang merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakat Jayengan yang merupakan keturunan Banjar, tanpa mengesampingkan integrasi dengan lokalitas Surakarta sebagai kesatuan kawasan. Sehingga dalam pengembangan JKP ini selain industri permata, industri kuliner serta kebudayaan yang menjadi kearifan lokal setempat juga dikembangkan, meskipun namanya adalah Jayengan Kampoeng Permata.

Kegiatan produksi hingga penjualan permata dan logam mulia menjadi kegiatan

potensial dalam kawasan JKP ini. Perhiasan permata dan logam mulia yang dijual di JKP ini

diproduksi sendiri oleh beberapa pengusaha yang ada di JKP dengan bahan baku mengambil

(3)

3

dari Martapura, Kalimantan Timur. Kegiatan produksi permata dan logam mulia ini dapat disaksikan di Kantor Sekretariat JKP (bersama dengan showroom Yusuf Jewellery) dan showroom Nisrina. Kegiatan jual-beli permata dan logam mulia ini sudah berlangsung sejak 1746 yang dilakukan oleh Komunitas Banjar yang berdagang di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Selain permata, kuliner adalah industri kreatif yang menjadi karakter yang kuat dalam kawasan JKP ini. Kuliner lokal yang menjadi potensi di JKP ini adalah wadai-wadai dan warung makan khas Banjar, serta kuliner lokal pendukungnya seperti Srabi Notosuman, bakmi ketoprak, dan sentra oleh-oleh khas Solo/Kota Surakarta. Kuliner lokal ini menjadi daya tarik tersendiri yang mampu mendatangkan banyak pengunjung di JKP.

Kegiatan adat dan kesenian JKP juga memberikan warna yang berbeda pada kawasan ini. Kegiatan adat seperti tradisi haul dan pembagian bubur samin merupakan tradisi yang turun temurun dilakukan. Pembagian bubur samin ini adalah daya tarik yang hanya bisa dijumpai pada Bulan Ramadhan sesaat sebelum menjelang berbuka puasa. Ratusan porsi bubur yang dibagikan secara cuma-cuma ini bisa habis setiap hari pembagiannya. Selain kegiatan adat, keberagaman budaya lainnya yang dimiliki JKP adalah kesenian Hadrah.

Kesenian ini dilakukan oleh kelompok hadrah, yang latihannya dilakukan di Masjid Darussalam pada tiap Jumat malam.

Kampung Jayengan merupakan bagian dari pengembangan pariwisata berbasis industri kreatif di Kota Surakarta. Kampung ini memiliki lokasi yang strategis dan berada di antara Kampung Wisata Batik Laweyan dan Kauman. Kampung Jayengan memiliki potensi untuk dijadikan satu jejaring wisata dengan Kampung Wisata Batik Laweyan dan Kauman maupun Wisata Blangkon Serengan sebagai bagian pengembangan pariwisata industri kreatif Kota Surakarta. Hal ini juga didukung oleh Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surakarta yang menyatakan bahwa Jayengan termasuk dalam Bagian Wilayah Perkotaan I Kota Surakarta yang diarahkan sebagai pusat kawasan wisata dan kawasan ekonomi. Karena lokasinya ini, sarana prasarana di JKP sudah memiliki kelengkapan yang cukup.

Keberadaan JKP sebagai wisata baru dengan potensinya yang besar ini, masih memiliki

beberapa permasalahan yang belum tertangani. Masalah daya tarik misalnya, belum ada

integrasi yang baik antar daya tarik wisata, selain itu pengemasan wisata yang harusnya

menyajikan partisipasi aktif bagi pengunjungnya urung dimiliki. Hal penting lainnya yang

belum dipenuhi JKP adalah belum dikenalnya kawasan ini sebagai pusat industri permata dan

perhiasan serta keberagaman budaya Banjarnya, baik secara suasana kawasan maupun

keberadaannya. Suasana kawasan JKP tidak menunjukkan identitas sebagai kampung permata

karena tidak banyak sarana penjualan permata yang bisa menjadi ciri khas kawasan ini.

(4)

4

Keberadaan JKP masih belum diketahui masyarakat luas dikarenakan belum adanya perencanaan promosi yang maksimal bagi penyelenggaraan wisata di kawasan ini. Sehingga pengunjung yang datang ke JKP masih belum menunjukkan kenaikan yang berarti. Masalah juga muncul dari kelembagaan internalnya yaitu Forum JKP, hingga saat ini belum terlihat perannya dalam mengelola pariwisata JKP karena masih dalam proses pembentukan AD/ART organisasi. Masalah lain juga datang rendahnya tingkat partisipasi dari masyarakatnya, karena tidak ada sosialisasi maupun dari keengganan dirinya sendiri. Pengrajin yang mulai menghilang juga menjadi masalah yang akan mengancam keberlangsungan kegiatan pengolahan permata yang menjadi daya tarik utama pada kawasan ini.

Pengembangan wisata JKP melibatkan stakeholder dalam membuat serta merealisasikan perencanaan pariwisata. Stakeholder yang diikutserakan adalah pihak yang berperan penting dalam kepariwisataan JKP. Hal ini dilakukan agar perencanaan wisata JKP dapat lebih efektif. Karena stakeholder mampu menilai kondisi eksisting dan menyalurkan aspirasi dari berbagai golongan untuk menghasilkan perencanaan yang tepat, efektif dan efisien sehingga JKP mampu menjadi sebuah destinasi wisata yang siap untuk dikunjungi.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam bidang pariwisata, stakeholder memiliki peran yang signifikan. Dalam perencanaan wisata JKP, stakeholder berperan dalam mengambil keputusan bersama untuk kebijakan pengembangan pariwisata dan berperan dalam mengelola komponen-komponen wisata.

Sebagai sebuah destinasi wisata, Jayengan Kampoeng Permata (JKP) masih berada pada tahap awal penciptaan wisata kreatif. Pada tahapan ini, JKP sudah memenuhi beberapa komponen penting wisata kreatif. Komponen yang telah dipenuhi adalah memiliki daya tarik industri kreatif berupa pengolahan permata dan kuliner; memiliki keberagaman budaya lokal sebagai atraksi; memiliki beberapa sarana prasarana wisata kreatif seperti sarana akomodasi, sarana transportasi, dan prasarana yang lengkap (listrik, air bersih, komunikasi); serta memiliki forum JKP sebagai pengelola wisata. JKP berada pada lokasi strategis pengembangan pariwisata berbasis industri kreatif di Kota Surakarta. Selain itu, JKP juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah dalam pelaksanaannya menjadi destinasi wisata kreatif.

Namun, sebagai wisata baru masih terdapat beberapa kekurangan dari komponen- komponen yang belum tertangani dengan baik. Daya tarik yang belum terintegrasi, atmosfer kawasan wisata yang tidak kuat, menjadi masalah yang masih dimiliki daya tarik JKP.

Masalah internal pengelola yang belum selesai juga menghambat pengelola melakukan

(5)

5

perannya. Rendahnya partisipasi masyarakat yang seharusnya menjadi tonggak penyelenggaraan wisata kawasan juga belum terselesaikan. Pengrajin yang mulai pergi juga mengancam keberlangsungan wisata JKP ini.

Berdasarkan kondisi-kondisi dari komponen wisata JKP tersebut, melalui penelitian ini akan dilihat bagaimana tingkat kesiapan komponen wisata kreatif Jayengan Kampoeng Permata berdasarkan stakeholder.

1.3 Tujuan dan Sasaran 1.3.1 Tujuan

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat kesiapan komponen wisata kreatif Jayengan Kampoeng Permata berdasarkan stakeholder.

1.3.2 Sasaran

Berdasarkan tujuan diatas maka, sasaran yang disusun dalam penelitian ini adalah:

(1) Mengidentifikasi komponen kesiapan Jayengan Kampoeng Permata sebagai destinasi wisata kreatif.

(2) Menganalisis tingkat kesiapan komponen wisata kreatif Jayengan Kampoeng Permata berdasarkan stakeholder.

1.4 Posisi Penelitian

1.4.1 Posisi Penelitian Terkait Ranah Perencanaan Wilayah dan Kota

Didalam perencanaan wilayah dan kota kita mengenal adanya pola ruang yang

dibedakan menjadi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung merupakan

kawasan yang memiliki fungsi sebagai pelindung kelestarian hidup sumber daya yang ada di

bawahnya. Kawasan budidaya adalah kawasan yang memiliki fungsi utama budidaya atas

dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan

(Kamus Penataan Ruang DPU). Beberapa kawasan lindung diantaranya adalah kawasan

peruntukan hutan produksi, kawasan hutan rakyat, kawasan peruntukan pertanian, kawasan

peruntukan perkebunan, kawasan peruntukan perikanan, kawasan peruntukan pertambangan,

kawasan peruntukan industri, serta kawasan peruntukan pariwisata. Pariwisata dapat diperinci

meliputi kawasan wisata alam, wisata budaya, wisata buatan/taman rekreasi, dan wisata

lainnya (wisata minat khusus). Selain itu, terdapat jenis baru dari pariwisata yakni wisata

kreatif yang berasal dari pengembangan wisata budaya dan wisata minat khusus. Posisi

penelitian terkait dengan Perencanaan Wilayah dan Kota digambarkan dalam bagan berikut

ini:

(6)

6 Gambar 1.1 Bagan Posisi Penelitian terkait dengan Perencanaan Wilayah dan Kota

Sumber: Kamus Penataan Ruang DPU, 2009

1.4.2 Posisi Penelitian Terkait Penelitian Sejenis

Posisi penelitian terkait penelitian yang sejenis menunjukkan persamaan dan perbedaan terhadap penelitian sejenis yang pernah dilakukan. Adapun penelitian sejenis terkait dengan kesiapan penerapan konsep wisata kreatif adalah sebagai berikut:

(a) Peneitian pertama berjudul “Tourism development trajectories- From culture to creativity?”oleh Greg Richards yang ditulis tahun 2009. Penelitian ini berupa paper untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana wisata budaya bertransformasi menjadi wisata kreatif. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kualitatif yang menjelaskan pergeseran dan perbedaan wisata budaya menjadi wisata kreatif.

Persamaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian pertama adalah pembahasan utamanya mengenai wisata kreatif. Namun, penelitan yang akan dilakukan memiliki perbedaan metode dan substansi yang dibahas. Penelitian yang akan dilakukan menggunakan metode kuantitatif dan membahas mengenai tingkat kesiapan komponen wisata kreatif Jayengan Kampung Permata.

(b) Penelitiam kedua berjudul “Creative Tourism Business Model And Its Application In Bulgaria” oleh Rossitza Ohridska-Olson and Stanislav Ivanov. Penelitian ini berupa artikel yang menganalisis bagaimana business model wisata kreatif Ohridska-Olson diterapkan di Bulgaria. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang mendeskripsikan penerapan business model wisata kreatif Ohridska-Olson di Bulgaria.

Persamaan antara penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian kedua adalah digunakannya business model wisata kreatif Ohridska-Olson sebagai masukan. Namun, pada penelitian pertama business model tersebut menjadi bahasan utama, pada

Perencanaan Wilayah dan Kota

Kawasan Lindung Kawasan Budidaya

Hutan produksi Hutan rakyat

Pertanian Perkebunan

Industri Pariwisata

Pariwisata

Wisata Alam Wisata Buatan/

taman rekreasi Wisata Budaya Wisata Lainnya (Minat Khusus)

Wisata Kreatif Perikanan Pertambangan

(7)

7

penelitian ini digunakan sebagai salah satu masukan teori wisata kreatif. Perbedaan lainnya adalah pada penelitian yang akan dilakukan menggunakan metode kuantitatif.

(c) Penelitian ketiga berjudul “Pengembangan Kota Solo sebagai Kota Wisata Kreatif” oleh Arif Budi Setywan pada tahun 2013. Penelitian berupa tugas akhir untuk mengetahui faktor pendorong, daya tarik wisata, upaya pengembangan, kendala serta solusi pengembangan wisata kreatif di Kota Solo/ Kota Surakarta. Seperti penelitian sebelumnya, penelitian ini mengunakan metode kualitatif dengan bentuk deskripsi pengembangan wisata kreatif di Kota Surakarta. Persamaan antara penelitian ketiga dengan penelitian yang akan dilakukan adalah pembahasan utamanya mengenai wisata kreatif. Namun, pada penelitan ketiga pembahasannya ditentukan dari tujuan penelitian saja, sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan menggunakan penggalian teori terlebih dahulu terkait dengan kesiapan destinasi wisata kreatif. Perbedaan lain pada penelitian yang akan dilakukan adalah penggunaan metode kuantitatif.

(d) Penelitian keempat berjudul “Kajian Kesiapan Kampoeng Batik Laweyan Solo sebagai Kawasan Wisata Budaya” oleh Sidiq Maulana dan Nurini pada tahun 2010. Penelitian ini merupakan jurnal penelitian yang mengkaji kesiapan Kampoeng Batik Laweyan sebagai kawasan wisata budaya yang memperhatikan kecenderungan atau trend yang terjadi sesuai dengan perkembangan jaman. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif yang mendeskripsikan kondisi fisik dan infrastruktur, karakteristik masyarakat (aspek sosial budaya, ekonomi dan pengelolaan) serta sistem pariwisata (wisatawan, transportasi, daya tarik wisata, pelayanan, serta informasi dan promosi) di Kampoeng Batik Laweyan untuk kemudian dilihat kesiapannya. Persamaan antara penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian empat adalah kesamaannya dalam meneliti kesiapan penerapan konsep wisata. Namun, pada penelitian yang akan dilakukan akan meneliti kesiapan penerapan konsep wisata kreatif, bukan wisata budaya. Perbedaan lain pada penelitian yang akan dilakukan lokasinya berbeda dengan penelitian keempat, yaitu pada Jayengan Kampung Permata serta metode yang digunakan juga berbeda yaitu metode kuantitatif.

Tabel 1.1 Daftar Penelitian Sejenis

No. Peneliti/ Tahun Judul Tujuan Metode Hasil

1. Greg Richards/

2009

Paper: Tourism development trajectories- From culture to creativity?

Menjelaskan mengapa dan bagaimana wisata budaya bertransformasi menjadi wisata kreatif.

Kualitatif Penjelasan pergeseran dan perbedaan wisata budaya menjadi wisata kreatif.

2. Rossitza Ohridska-Olson and Stanislav Ivanov/2011

Artikel: Creative Tourism Business Model And Its Application In Bulgaria

Menganalisis bagaimana business model wisata kreatif Ohridska-Olson diterapkan di Bulgaria.

Kualitatif Deskripsi penerapan business model wisata kreatif Ohridska-Olson di Bulgaria.

3. Arif Budi Tugas Akhir: Mengetahui faktor Kualitatif Deskripsi pengembangan

(8)

8

No. Peneliti/ Tahun Judul Tujuan Metode Hasil

Setywan/ 2013 Pengembangan Kota Solo sebagai Kota Wisata Kreatif

pendorong, daya tarik wisata, upaya pengembangan, kendala serta solusi pengembangan wisata kreatif di Kota Solo

wisata kreatif di Kota Solo

4. Sidiq Maulana dan Nurini/ 2010

Jurnal: Kajian Kesiapan Kampoeng Batik Laweyan Solo sebagai Kawasan Wisata Budaya

Mengkaji kesiapan Kampoeng Batik Laweyan sebagai kawasan wisata budaya yang memperhatikan kecenderungan atau trend yang terjadi sesuai dengan perkembangan jaman

Kualitatif Deskripsi kondisi fisik dan infrastruktur, karakteristik masyarakat (aspek sosial budaya, ekonomi dan pengelolaan) serta sistem pariwisata (wisatawan, transportasi, daya tarik wisata, pelayanan, serta informasi dan promosi) di Kampoeng Batik Laweyan.

5 Lintang Praharyaning Suryono/ 2016

Tugas Akhir:

Kesiapan Jayengan Kampoeng Permata sebagai Destinasi Wisata Kreatif Kota Surakarta

Mengetahui tingkat kesiapan Jayengan Kampoeng Permata sebagai destinasi wisata kreatif Kota Surakarta

Kuantitatif Hasil perhitungan yang menunjukkan tingkat kesiapan JKP.

Sumber: Berbagai sumber yang diolah, 2015

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian adalah manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian yang akan dilakukan. Dalam penelitian ini, diharapkan akan mampu memberi manfaat keilmuan (akademis) serta manfaat implementasi (praktis).

1.5.1 Keilmuan (Akademis)

Manfaat yang diberikan penelitian ini dalam keilmuan Perencanaan Wilayah dan Kota adalah untuk menambah khasanah ilmu tentang perencanaan kota berkaitan dengan penerapan konsep wisata kreatif.

1.5.2 Implementasi (Praktis)

Manfaat yang diberikan penelitian ini dalam konteks praktis Perencanaan Wilayah dan Kota adalah:

(a) Mampu memberikan pandangan bagaimana kesiapan Jayengan Kampung Permata untuk dijadikan sebuah destinasi wisata kreatif berdasarkan potensi dan masalah yang ada.

(b) Memberikan bahan masukan dan perbaikan dalam pengembangan Jayengan

Kampung Permata dilihat dari kesiapan berdasakan teori prasyarat wisata kreatif.

(9)

9

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

1.6.1 Ruang Lingkup Spasial

Ruang lingkup wilayah dari penelitian yang akan dilakukan adalah Kota Surakarta.

Mengingat pariwisata adalah sektor yang luas dan terkait dalam sebuah sistem aktivitas kompleks dan terdiri dari banyak komponen (ekonomi, ekologi, politik, sosial, dan budaya) yang saling terkait. Selain itu, wisata merupakan jaringan yang tidak dapat berdiri sendiri karena membutuhkan interaksi dengan sarana, transportasi, dan pariwisata lain yang lebih luas yang berada di sekitarnya.

Gambar 1.2 Peta Kota Surakarta sebagai Ruang Lingkup Wilayah Penelitian Sumber: BAPPEDA, 2015

1.6.2 Ruang Lingkup Waktu

Penelitian kesiapan wisata kreatif dilakukan pada tahun 2015-2016 dengan menggunakan data yang didapatkan pada tahun terakhir.

1.6.3 Ruang Lingkup Substansi

Penelitian ini terkait dengan kesiapan pengembangan Jayengan Kampoeng Permata

sebagai destinasi baru wisata kreatif. Hal-hal yang akan dibahas dalam penelitian ini akan

memfokuskan pada komponen-komponen wisata kreatif JKP.

(10)

10

1.7 Alur Penelitian

Alur penelitian merupakan gambaran singkat penelitian yang berisi tentang isu-isu yang melatarbelakangi hingga mencapai hasil akhir penelitian agar mempermudah memahami penelitian yang dilakukan. Adapun alur penelitian ini adalah sebagai berikut:

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan dan Sasaran

Kajian Pustaka

Kompilasi Data

Analisis

Output

Gambar 1.3 Alur Penelitian Sumber: Penulis, 2016

Bagaimana tingkat kesiapan komponen wisata kreatif Jayengan Kampoeng Permata berdasarkan stakeholder?

Tujuan: Mengetahui tingkat kesiapan komponen wisata kreatif Jayengan Kampoeng Permata berdasarkan stakeholder.

Sasaran: (1) Mengidentifikasi komponen kesiapan Jayengan Kampoeng Permata sebagai destinasi wisata kreatif.

(2) Menganalisis tingkat kesiapan komponen wisata kreatif Jayengan Kampoeng Permata berdasarkan stakeholder.

(1) Komponen Pariwisata (4) Sistem Pariwisata (2) Jenis Pariwisata (5) Teori Kesiapan (3) Komponen Wisata Kreatif

(1) Daya tarik wisata kreatif JKP (5) Masyarakat JKP

(2) Sarana Prasarana wisata kreatif JKP (6) Kelembagaan eksternal JKP

(3) Kelembagaan internal JKP (7) Perbandingan kepentingan komponen kesiapan (4) Wisatawan JKP

Tingkat kesiapan komponen wisata kreatif Jayengan Kampoeng Permata berdasarkan stakeholder.

(1) JKP memiliki potensi industri kreatif permata dan kuliner serta kebudayaan (2) Kelengkapan

sarpras cukup

(1) Berada pada kawasan pengembangan ekonomi Kota Surakarta

(2) Berada pada jaring wisata Kota Surakarta (1) Daya tarik belum terintegrasi

(2) JKP belum dikenal secara luas (3) Atmosfer kawasan wisata tidak kuat (4) Peran pengelola belum berjalan (5) Sumberdaya manusia (pengrajin)

berkurang, partisipasi masyarakat rendah (6) Penyelenggaraan JKP memerlukan peran

dari berbagai pihak

Analisis Tingkat Kesiapan Komponen Wisata Kreatif Jayengan Kampoeng Permata berdasarkan Stakeholder

Analythic Hierarchi Process

Analisis Skoring Kondisi Kesiapan Komponen Wisata JKP berdasarkan Stakeholder

(11)

11

1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Penelitian ini akan terdiri dari beberapa bab yang akan membahas tentang alasan dilakukannya penelitian hingga hasil analisis yang dilakukan. Adapun sistematika dalam penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab I Pendahuluan berisi tentang latar belakang yang mendasari penelitian ini, rumusan masalah, tujuan dan sasaran penelitian, posisi penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, alur penelitian serta sistematika penulisan Tugas Akhir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab II Tinjauan Pustaka merupakan bab yang memuat pustaka yang digunakan sebagai landasan berpikir dalam penelitian dan pustaka yang digunakan terkait dengan pariwisata, wisata kreatif, sistem pariwisata, serta teori terkait kesiapan.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab III Metode Penelitian menjelaskan tentang tahapan yang dijadikan acuan penelitian agar terstruktur. Bab ini menjelaskan mengenai pendekatan dan jenis penelitian, kerangka penelitian, variabel penelitian, kebutuhan data, teknik pengumpulan data, teknik sampling, serta teknik analisis data.

BAB IV TINJAUAN KESIAPAN JAYENGAN KAMPOENG PERMATA

Bab IV Gambaran Jayengan Kampoeng Permata dan Analisis Kesiapan adalah bab yang berisi tentang gambaran wisata kreatif Jayengan Kampoeng Permata serta analisis kesiapan wisatanya.

BAB V PEMBAHASAN

Bab V Pembahasan menjelaskan dari hasil analisis yang telah dilakukan. Pembahasan dilakukan dengan membandingkan hasil analisis dengan teori pada bab sebelumnya.

BAB VI PENUTUP

Bab VI Penutup merupakan bab akhir yang berisi tentang kesimpulan penelitian serta

rekomendasi-rekomendasi.

Gambar

Tabel 1.1 Daftar Penelitian Sejenis
Gambar 1.2 Peta Kota Surakarta sebagai Ruang Lingkup Wilayah Penelitian  Sumber: BAPPEDA, 2015
Gambar 1.3 Alur Penelitian  Sumber: Penulis, 2016

Referensi

Dokumen terkait

Tankard (2005), yang menyebutkan bahwa sikap memiliki tiga komponen yaitu : komponen afektif (mengacu pada kesukaan atau perasaan terhadap sebuah objek), komponen

Pada Penelitian ini akan meneliti kawasan pariwisata berdasarkan daya tarik wisata dan melakukan penilaian potensi dan masalah komponen desa wisata yang ada untuk mengetahui

Dengan meningkatnya kualitas desain dari produk lokal seperti Rakattan Living ikut mensukseskan industri kreatif di Bandung dengan potensi desain yang dimiliki produk

Universitas kuliner ini memiliki fasilitas yang lengkap dan kompak sehingga di site yang besar jumlah fasilitas yang ideal dapat tercapai, memiliki sistem ME ( mekanikal elektrikal

Peneliti berfokus pada kedua penyiar tersebut karena mereka memiliki daya tarik dalam berkomunikasi dengan pendengar, karena kemampuan yang lebih dan memiliki

Bagaimana menciptakan taman kuliner sebagai wahana sekaligus fasilitas yang mampu mendorong Kawasan Kejawanan menjadi destinasi wisata lokal maupun internasional

Wisatawan memiliki kepuasan dan penilaian yang berbeda-beda dalam menikmati setiap atraksi wisata yang dikunjungi di Taman Impian Jaya Ancol.Setiap penilaian dan

Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Berdasarkan 7 komponen tersebut, pendekatan CTL di harapkan dapat membantu siswa lebih aktif dan kreatif khususnya