1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi sekarang ini yang diikuti juga oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah mengubah gaya hidup masyarakat menjadi lebih praktis dan serba cepat. Dimana masyarakat dapat melakukan banyak hal melalui gadget saja atau sering terdengar istilah “dunia dalam genggaman”. Keberadaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang semakin maju ini dapat juga dimanfaatkan dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Dengan kemampuan dalam menguasai IPTEK yang baik, diharapkan dapat memunculkan inovasi-inovasi baru dalam dunia indsutri sehingga dapat meningkatkan daya saing produk dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Memasuki era revolusi industri 4.0, sudah seharusnya para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia juga mulai mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Berdasarkan data Kominfo Republik Indonesia (2019), terdapat 9,61 juta UMKM yang sudah berjualan secara online (go-online) di Indonesia. Berbagai macam marketplace dan layanan pembayaran yang muncul dapat menggandeng mitra yang merupakan UMKM untuk ikut memasarkan serta menjualkan produknya secara online. Begitu juga halnya denganiUMKM di Jawa Tengah yang tiap tahunnya terus meningkat. Berdasarkan data iDinkop UKM pada tahun 2018, UKM yang berlokasi di Jawa Tengah berjumlah 143.738 unit usaha.
Keberadaan UKM ini juga berpengaruh positif bagi penyerapan tenaga kerja yang ada di Jawa Tengah. Pada tahun yang sama, UKM dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 1.043.320 orang di Jawa Tengah. Purwokerto sebagai ibukota Kabupaten Banyumas, juga memiliki perkembangan UKM yang positif. Bahkan pada tahun 2018, salah satu penyedia layanan on-demand berbasis teknologi di Indonesia mengadakan pelatihan wirausaha di Purwokerto. Pelatihan tersebut bertujuan agar para pelaku UMKM dapat meningkatkan/memperluas pasarnya dengan memanfaatkan teknologi (Janna, 2018).
2
Gambar 1.1
Jumlah Unit UMKM di Indonesia 2010-2017
Sumber : Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, 2018, diolah
Berdasarkan data pada Gambar 1.1, jumlah unit UMKM yang berada di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dimulai dari tahun 2010, dimana jumlah unit UMKM masih berjumlah 52.764.750 unit usaha. Hingga pada tahun 2017 yang sudah mencapai 62.922.617 unit usaha. Artinya terdapat peningkatan sebanyak kurang lebih sebanyak sepuluh juta unit usaha atau sebanyak 16 persen selama periode 2010 hingga 2017. Hal ini juga didukung oleh kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang cukup besar. Menurut Kemenperin (2018) menunjukkan bahwa UMKM menyumbang terhadap PDB hingga 60,34 persen. Kontribusi yang cukup besar ini dikarenakan salah satunya oleh gaya hidup masyarakat serta kebutuhan yang semakin tinggi. Kemudahan akses dalam memenuhi kebutuhan melalui kemajuan teknologi juga mempengaruhi kontribusi yang diberikan UMKM terhadap PDB Indonesia.
52,764,750 54,114,821 55,206,444 56,534,592 57,895,721 59,262,772 61,651,177 62,922,617
2 0 1 0 2 0 1 1 2 0 1 2 2 0 1 3 2 0 1 4 2 0 1 5 2 0 1 6 2 0 1 7
UMKM
3
Badan Ekonomi Kreatif (2016) menyatakan, subsektor kuliner merupakan subsektor dalam ekonomi kreatif yang mengalami pertumbuhan cukup pesat. Pangan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya adalah mutlak untuk bertahan hidup. Namun, sekarang ini pangan bukan hanya dilihat sebagai kebutuhan dasar seorang manusia saja. Pangan sudah mulai berkembang menjadi sebuah gaya hidup di masyarakat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Ekonomi Kreatif, (2016b), subsektor kuliner berkontribusi sebanyak 41,4 persen dari total kontribusi perekonomian kreatif sebanyak Rp. 922 triliun pada tahun 2016. Subsektor kuliner juga mencatat kontribusi terbesar dibandingkan dengan 16 subsektor lainnya. Kontribusi terbesar yang didapatkan oleh subsektor kuliner tentunya didukung juga oleh berkembangnya IPTEK dengan memanfaatkan media internet dalam usahanya.
Dengan berkembangnya jaman, pola komunikasi antara produsen dengan konsumen pun berubah akibat kemajuan teknologi. Jika dahulu pembeli perlu untuk turun ke lapangan dalam mencari informasi barang yang akan dibeli, sekarang konsumen hanya perlu menggunakan media internet untuk mendapatkannya.
Gambar 1.2
Jumlah Usaha Ekonomi Kreatif Menurut Subsektor Kuliner Dalam Pemanfaatan Media Internet
Sumber : Badan Ekonomi Kreatif, 2016, diolah
2%
98%
Memanfaatkan Media Internet Tidak Memanfaatkan Media Internet
4
Dibandingkan dengan subsektor lainnya yang ada dalam ekonomi kreatif, subsektor kuliner merupakan subsektor tertinggi dalam pemanfaatan media internet dibandingkan dengan subsektor lainnya. Posisi kedua dan ketiga secara berturut-turut diikuti oleh subsektor fashion sebanyak 89.685 unit usaha dan kriya sebanyak 47.085 unit usaha. Hal ini sebanding dengan kontribusi subsektor ekonomi kreatif terhadap PDB. Dimana subsektor kuliner menempati posisi teratas sebanyak 41,40 persen, diikuti oleh fashion sebanyak 18,01 persen dan kriya sebanyak 15,40 persen (Badan Ekonomi Kreatif, 2016b). Namun ternyata jika melihat pada gambar 1.2 didapatkan bahwa jumlah usaha kuliner yang memanfaatkan media internet masih sangat kecil, yaitu hanya sebanyak 131.804 unit usaha. Sedangkan yang masih belum memanfaatkan media internet sebanyak 5.419.156 unit usaha. Tentunya ini menjadi salah satu potensi yang cukup besar jika banyak usaha yang mulai memanfaatkan media internet dalam mendorong usahanya.
Kemunculan transportasi online pertama di tahun 2015, yang kemudian semakin berkembang pesat di tahun-tahun berikutnya dan telah memunculkan berbagai macam inovasi. Salah satunya ialah layanan food delivery bernama Go-Food yang semakin berkembang. Kemunculan Go-Food ini sendiri menimbulkan respon positif dari masyarakat serta pelaku UMKM kuliner di Kota Purwokerto. Melalui Go-Food, UMKM dapat menjangkau konsumen yang letaknya jauh dari lokasi mereka berjualan.
Belum lagi dengan berbagai promo yang ditawarkan seperti potongan harga dan memberikan gratis ongkos kirim kepada konsumen juga semakin menarik konsumen untuk membeli makanan melalui Go-Food. Hal inilah yang dapat menyebabkan perkembangan bagi UMKM kuliner di Kota Purwokerto.
Robert M. Solow (1970) dan T.W. Swan (1956) dalam Sa’ad (2017) yang mengembangkan teori peningkatan neoklasik. Model Solow-Swan memanfaatkan unsur eskalasi penduduk, pengumpulan modal, perkembangan teknologi dan jumlah output yang saling berhubungan. Berdasarkan teori tersebut, pertambahan modal dan pertambahan tenaga kerja bukanlah faktor yang paling penting dalam peningkatan
5
ekonomi, melainkan kemajuan teknologi, pertambahan kemahiran dan kepakaran tenaga kerja.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa melalui pengadopsian/pemanfaatan media internet memiliki pengaruh yang positif terhadap tingkat pendapatan para pelaku usaha (Hidayatulloh et al., 2018; Sa’ad, 2017; Sianturi
& Tyas, 2018; Suryadi & Ilyas, 2018; Utari & Dewi, 2014; Utomo et al., 2019). Selain tingkat pendapatan/ laba yang meningkat, pemanfaatan media internet juga berpengaruh positif dalam meningkatkan jumlah pelanggan/ volume penjualan (produktivitas) (Iriani, 2018; Priambada, 2015; Purwidiantoro, Kristanto, & Hadi, 2016). Di sisi lain, tingkat upah berpengaruhopositif terhadap penyerapan tenaga kerja sedangkan modal, investasi, dan teknologi memiliki pengaruhbnegatif terhadap penyerapan tenaga kerja industri kreatif (Cahyadi, 2013). Dalam penelitian ini akan didapatkan kebaharuan dibandingkan penelitian sebelumnya dengan melakukan penelitian di kota yang berbeda yaitu kota Purwokerto berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan di atas.
Berdasarkan uraian di atas, dengan peningkatan jumlah UMKM yang terjadi setiap tahunnya serta tingkat kontribusi UMKM, khususnya subsektor kuliner dalam ekonomi kreatif terhadap PDB nasional yang cukup tinggi, serta kesadaran dalam pemanfaatan media internet dalam mengembangkan usaha. Maka peneliti ingin melakukan penelitian guna memahami perbedaan tingkat ipendapatan sertalpenyerapan tenaga kerja UMKM sebelum dan sesudah mengadopsi teknologi di Kota Purwokerto.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka masalah yang ingin diteliti pada penelitian ini adalah dampak penggunaan teknologi terhadapipendapatan dan jumlah tenaga kerja UMKM bidang kuliner di kota Purwokerto. Dari rumusan masalah tersebut maka pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut :
6
Bagaimana masalah penerapan penggunaan teknologi terhadap pendapatan dan jumlah tenaga kerja UMKM bidang kuliner di kota Purwokerto ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian mengenai masalah yang akan dibahas, maka tujuan penelitian adalah :
Mengetahui manfaat penerapan penggunaan teknologi terhadap pendapatan dan jumlah tenaga kerja UMKM bidang kuliner di Kota Purwokerto.
1.4 Manfaat Penelitian
Peneliti mengharapkan melalui penelitian ini mampu memberikan wawasan untuk pelaku UMKM khususnya di bidang kuliner mengenai manfaat penggunaan teknologi.