SKRIPSI
PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN CAPITAL INTENSITY TERHADAP AGRESIVITAS PAJAK PERUSAHAAN JASA YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2012-2014
OLEH :
AUDREY YOSEPHINE S 120503224
PROGRAM STUDI STRATA 1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2016
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Corporate Social Responsibility dan Capital Intensity Terhadap Agresivitas Pajak Perusahaan
Jasa yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2014” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya perolah dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, 27 Oktober 2016 Yang membuat pernyataan,
Audrey Yosephine. S.
NIM : 120503224
ABSTRAK
PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN CAPITAL INTENSITY TERHADAP AGRESIVITAS PAJAK PERUSAHAAN JASA YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2012-2014
Penelitian ini menggunakan corporate social responsibility dan capital intensity sebagai variabel independen, agresivitas pajak sebagai variabel dependen dan size serta profitabilitas sebagai variabel kontrol. Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 31 perusahaan sektor jasa sub-sektor property dan real-estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2014 yang dipilih melalui metode purposive sampling.
Variabel independen corporate social responsibility diukur dengan indikator GRI G3.1..Variabel independen capital intensity diukur menggunakan intensitas aset tetap. Variabel dependen agresivitas pajak diukur dengan effective tax rates (ETR). Sedangkan variabel kontrol size diukur menggunakan logaritma natural total aset, dan variabel kontrol profitabilitas diukur dengan ROA.
Berdasarkan hasil penelitian, corporate social responsibility dan capital intensity tidak berpengaruh secara signifikan terhadap agresivitas pajak perusahaan.
Kata kunci : corporate social responsibility, capital intensity, agresivitas pajak, size, profitabilitas.
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY AND CAPITAL INTENSITY AGAINTS TAX AGGRESSIVENESS
This study uses corporate social responsibility and capital intensity as independent variables, tax aggressiveness as dependent variable, size and profitability as control variables. The sample of this study are 31 property and real-estate companies listed on Indonesian Stock Exchange in the period of 2012- 2014. Samples were selected by purposive sampling method.
Corporate social responsibility measured by GR G3.1 indicators. Capital intensity measured by total fixed asset divided by total asset. Tax aggressiveness measured by effective tax rate. Size measured by natural logarithm of total asset and profitability measured by return of asset.
The result of this study indicate that corporate social responsibility and capital intensity are not significantly influence tax aggressiveness.
Keywords : corporate social responsibility, capital intensity, tax aggressiveness, size, profitability.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas penyertaan-Nya yang tak berkesudahan yang menguatkan saya melewati segala tantangan dan permasalahan selama pengerjaan skripsi ini. Apapun yang terjadi, saya yakin bahwa Tuhan mempunyai waktu dan rencana yang terindah untuk hidup saya.
Skripsi ini berjudul “Pengaruh Corporate Social Responsibility dan Capital Intensity Terhadap Agresivitas Pajak Perusahaan Jasa yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2014” dan disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan proses belajar pada Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Penulis telah menerima bimbingan, saran, motivasi, dan doa dari banyak pihak selama penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan, terkhusus kepada kedua orang tua terkasih Papa dan Mama serta abang dan adik tercinta Andre Yosua dan Alvin Leonard beserta seluruh keluarga besar atas dukungan dan doanya.
Kepada para sepupu Kertas 6, terima kasih atas doa, dukungan, waktu, dan ilmu yang telah kalian berikan selama pengerjaan skripsi ini. Terkhusus Kak Wiwik dan Della yang sama-sama berjuang dalam pengerjaan tugas akhirnya, mengingatkan serta menyemangati saya untuk segera menyelesaikan skripsi ini dan menjadi saudara sekaligus sahabat bagi saya.
Kepada HOREE TEAM, Yose; Nia; Helen; Rima; Cymuth; Deta; dan Devi yang telah menemani saya selama perkuliahan. Terima kasih untuk segala pengalaman baik yang paling memalukan sampai yang paling membanggakan, semua merupakan kenangan yang tidak akan terlupakan dan tidak akan tergantikan.
Kepada para “Boedak Jambi” yang telah menjadi sahabat saya selama 10 tahun. Terima kasih telah menjadi orang-orang yang bahkan lebih mengenal saya daripada diri saya sendiri dan selalu ada kapan pun saya membutuhkan kalian.
Terima kasih juga untuk semua teman-teman yang tidak dapat saya sebutkan satu- persatu atas dukungan dan perhatiannya.
Selain itu, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada dosen-dosen serta rekan-rekan yang telah membantu pengerjaan skripsi ni, yaitu:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE., MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, SE, MAFIS., Ak. CPA selaku Ketua Departemen Akuntansi serta Bapak Drs. Syahrul Rambe, MM., Ak.
Selaku Sekertaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak. selaku Ketua Program Studi S1- Akuntansi dan Ibu Dra. Mutia Ismail, SE., MM., Ak. selaku Sekertaris Program Studi S1-Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Arifin Hamzah, MM., Ak. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak. selaku Dosen Penguji yang selalu memberikan arahan dengan baik.
6. Bapak Drs. Sucipto, MM., Ak. selaku Dosen Pembanding yang dengan ketulusan hati telah memberikan saran dan masukan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan dan menerima saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhir kata, penulis berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis ... 9
2.1.1 Teori Legitimasi ... 9
2.1.2 Teori Stakeholder ... 10
2.1.3 Teori Kepatuhan ... 11
2.1.4 Agresivitas Pajak ... 13
2.1.5 Corporate Social Responsibility ... 13
2.1.6 Pengungkapan CSR ... 14
2.1.7 Capital Intensity ... 16
2.1.8 Variabel Kontrol... 16
2.1.8.1 Ukuran Perusahaan... 16
2.1.8.2 Profitabilitas ... 17
2.2 Penelitian Terdahulu ... 18
2.3 Kerangka Konseptual ... 25
2.4 Hipotesis Penelitian ... 26
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 29
3.2 Batasan Operasional ... 29
3.3 Definisi Operasional... 30
3.3.1 Variabel Bebas ... 30
3.3.2 Variabel Terikat ... 33
3.3.3 Variabel Kontrol... 33
3.4 Skala Pengukuran Variabel ... 35
3.5 Populasi dan Sampel Penelitian ... 36
3.6 Jenis Data ... 37
3.7 Metode Pengumpulan Data ... 37
3.8 Teknis Analisis ... 38
3.8.1 Statistik Deskriptif ... 38
3.8.2 Uji Asumsi Klasik ... 38
3.8.3 Pengujian Statistik ... 40
BAB IV HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskriptif Penelitian ... 44
4.2 Analisis Hasil Penelitian ... 44
4.2.1 Statistik Deskriptif ... 44
4.3 Uji Asumsi Klasik ... 46
4.3.1 Uji Multikolinearitas ... 46
4.3.2 Uji Autokorelasi ... 48
4.3.3 Uji Heteroskedastisitas ... 49
4.3.4 Uji Normalitas ... 51
4.4 Pengujian Statistik ... 54
4.4.1 Analisis Linear Berganda ... 54
4.4.2 Koefisien Determinasi ... 55
4.4.3 Uji Parsial ... 57
4.4.4 Uji Simultan ... 58
4.5 Pembahasan Hasil Penelitian ... 59
BAB V KESIMPILAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 62
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 62
5.3 Saran ... 63
DAFTAR PUSTAKA ………... 64
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu ... 23
3.1 Indikator Index GRI G.3.1... 31
3.2 Skala Pengukuran Variabel ... 35
3.3 Jumlah Sampel... 37
4.1 Statistik Deskriptif ... 45
4.2 Uji Multikolinearitas ... 47
4.3 Nilai Koefisien Korelasi ... 48
4.4 Uji Autokorelasi ... 49
4.5 Kolmogorov-Smirnov Test ... 53
4.6 Uji Regresi Linear Berganda ... 54
4.7 Uji R2 ... 56
4.8 Uji Parsial (Uji t) ... 57
4.9 Uji Simultan (Uji F)... 59
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
2.1 Kerangka Konseptual... 26
4.1 Uji Heterokesdastisitas... 26
4.2 Analisis Grafik Histogram... 26
4.3 Analisis Grafik Nrmal P-Plot... 26
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masyarakat Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, tidak bisa menghindar dari globalisasi, terutama globalisasi ekonomi. Arus sumber daya ekonomi yang meliputi barang dan jasa, tenaga kerja, serta teknologi dan informasi akan semakin cepat dan bebas masuk ke wilayah Indonesia. Hadirnya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) menjadi salah satu tantangan global yang sedang dihadapi. Peningkatan kualitas dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) maupun infrastruktur menjadi suatu keharusan demi menaikkan daya saing Indonesia terhadap Negara lain.
Peningkatan kualitas ini tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana yang akan digunakan pemerintah berasal dari pendapatan Negara. Pendapatan Negara dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu pendapatan atau penerimaan perpajakan yang terdiri dari pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional; dan penerimaan Negara bukan pajak yaitu penerimaan Sumber Daya Alam, bagian laba BUMN, penerimaan Badan Layanan Umum, dan Pendapatan Negara Bukan Pajak lainnya.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, penerimaan pajak sendiri dapat menyumbangkan hingga lebih dari 75% dari keseluruhan pendapatan Negara.
Maka dapat disimpulkan bahwa pajak merupakan pendapatan terbesar pemerintah dan besarnya kontribusi pajak dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).
Pentingnya pembayaran pajak ditunjukkan dalam UU Nomor 28 tahun 2007 pasal 1 ayat 1:
Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Terdapat 2 perspektif mengenai pembayaran pajak, yaitu prespektif pemerintah dan perusahaan. Dari sudut pandang pemerintah, pembayaran pajak dianggap sebagai suatu bentuk kepatuhan dan dukungan kepada pemerintah agar setiap program yang telah direncanakan dapat berjalan dengan lancar. Tetapi bila kita melihat dari sudut pandang perusahaan sebagai wajib pajak, pajak merupakan beban yang harus dibayar karena pajak dapat mengurangi laba bersih yang didapat oleh perusahaan.
Kementrian Keuangan mencatat bahwa pada tahun 2013 dan 2014 Direktorat Jenderal Pajak (DJP) gagal mencapai target penerimaan pajak. Pada tahun 2013 hanya terkumpul sebesar Rp 917 triliun atau 92,07% dan tahun 2014 penerimaan pajak yang diperoleh sebanyak Rp 1.143,3 triliun atau 91,7% dari target penerimaan pajak yang telah ditentukan.
Global financial integrity (GFI) mencatat aliran dana haram yang dihasilkan dari tindakan agresivitas pajak di Indonesia dan dikirim keluar negeri mencapai UU$ 6,6 trilliun sepanjang satu dekade terakhir. Dari laporan tersebut diestimasikan Indonesia ‘kehilangan uang’ hingga Rp 240 trilliun setiap tahunnya.
Tujuan pemerintah untuk memaksimalkan penerimaan pajak bertentangan dengan tujuan perusahaan yang ingin mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar, agar memperoleh laba yang lebih besar. Hal inilah yang mendorong perusahaan untuk melakukan tindakan agresivitas pajak.
Pajak merupakan salah satu faktor yang dapat memotivasi pengambilan keputusan perusahaan. Tindakan manajer didesain semata-mata untuk meminimalisasi pajak perusahaan agar memperoleh laba yang lebih besar. Lanis dan Richardson (2012) menjelaskan bahwa tindakan manajerial untuk meminimalkan pajak melalui tindakan agresivitas pajak menjadi fitur yang umum dari kinerja perusahaan di seluruh dunia. Namun demikian, agresivitas pajak juga dapat menghasilkan biaya dan manfaat yang signifikan.
Agresivitas pajak sendiri didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh manajemen untuk mengurangi jumlah pajak yang harus dibayarkan melalui tindakan manajemen pajak ( tax planning ) yang bisa dilakukan baik dengan cara- cara legal maupun ilegal (Frank, 2009).
Salah satu pengertian dari Corporate social responsibility (CSR) adalah bagaimana perusahaan memperhatikan dampak sosial dan lingkungan dalam lingkup operasinya, memaksimalkan manfaat dan meminimalkan kerugian. Lanis
dan Richardson (2012) juga menjelaskan bahwa CSR merupakan faktor kunci kesuksesan dan kelangsungan hidup perusahaan. Sedangkan menurut Holme dan Watts (2000) CSR merupakan tindak lanjut dari komitmen perusahaan untuk bertindak etis dan berkontribusi untuk pengembangan ekonomi untuk meningkatkan kualitas hidup baik bagi pekerja dan keluarganya, komunitas lokal, maupun masyarakat dalam lingkungan luas pada umumnya.
Peraturan mengenai CSR diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 2007 Pasal 74 tentang Perseroan Terbatas yang menyatakan:
(1) perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL); (2) TJSL merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran; (3) perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tindakan agresivitas pajak jelas bertentangan dengan konsep tanggung jawab sosial perusahaan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pajak digunakan untuk kemakmuran rakyat. Oleh sebab itu, agresivitas pajak dianggap sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab sosial (Lanis dan Richardson, 2012). Watson (2011) menyatakan bahwa perusahaan yang pelaksanaan CSRnya baik, maka agresivitas pajaknya juga rendah.
Capital intensity ratio atau rasio intensitas modal adalah seberapa besar perusahaan menginvestasikan asetnya pada aset tetap. Penginvestasian aset tetap ini dapat menjadi salah satu cara perusahaan untuk mengurangi jumlah pajak yang
harus dibayar karena aset tetap yang dimiliki perusahaan memungkinkan perusahaan memotong pajak akibat dari penyusutan aset tetap perusahaan setiap tahunnya.
Hampir seluruh aset tetap akan mengalami penyusutan yang akan menjadi biaya penyusutan dalam laporan keuangan perusahaan. Sementara biaya penyusutan ini adalah biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan dalam perhitungan pajak perusahaan yang secara otomatis akan memperkecil jumlah pajak terutang suatu perusahaan. Maka, semakin besar biaya penyusutan akan semakin kecil tingkat pajak yang harus dibayarkan perusahaan. Sehingga perusahaan dengan tingkat rasio intensitas modal yang besar menunjukan tingkat pajak efektif yang rendah, hal ini menunjukan hubungan negatif rasio intensitas modal terhadap tingkat pajak efektif.
Penelitian terdahulu mengenai CSR dan agresivitas pajak terdapat pada penelitian Lanis dan Richardson (2012). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa semakin baik pelaksanaan dan pengungkapan CSR suatu perusahaan maka tingkat agresivitas pajaknya semakin rendah. Sedangkan pada peneleitian Lanis dan Ricahrdson (2013), dimana capital intensity digunakan sebagai salah satu variable kontrol, menyimpulkan bahwa CSR berpengaruh positif terhadap agresivitas pajak. Selain itu, penelitian mengenai CSR dan agresivitas pajak juga dilakukan oleh Watson (2011) yang menunjukkan CSR mempunyai efek mengurangi agresivitas pajak di suatu perusahaan. Di Indonesia terdapat penelitian mengenai CSR dan kepemilikan mayoritas terhadap agresivitas pajak
yang dilakukan oleh Purwanggono (2015) yang menunjukkan hasil bahwa CSR berpengaruh negatif terhadap agresivitas pajak.
Penelitian ini mencoba melanjutkan penelitian mengenai pengaruh CSR dan capital intensity terhadap agresivitas pajak perusahaan di Indonesia. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah sampel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2014. Sedangkan pada penelitian Lanis dan Richardson (2012) sampel yang digunakan adalah perusahaan yang listing di Australia tahun 2008-2009.
Purwanggono (2015) menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2013.
Fokus dalam penelitian ini adalah pengaruh antara CSR dan capital intensity terhadap agresivitas pajak. Penelitian ini menggunakan indikator pengungkapan CSR terbaru yang dikeluarkan oleh GRI tahun 2013, sehingga diharapkan indikator pengungkapan CSR dalam penelitian ini lebih relevan dan lebih menggambarkan keadaan pada saat ini. Kerangka pelaporan GRI mengandung isi yang bersifat umum dan sektor yang spesifik yang dapat di aplikasikan secara umum dalam pelaporan kinerja berkelanjutan sebuah organisasi (Sudana dan Arlindania, 2011). Menurut Lanis dan Richardson (2012) CSR merupakan faktor kunci kesuksesan dan kelangsungan hidup (going concern) perusahaan.
Sementara itu pajak merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada Negara. Oleh karena itu tindakan penghindaran pajak merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab secara sosial.
Pajak juga merupakan sumber pendanaan utama bagi Negara, namun disisi lain pajak bagi perusahaan merupakan biaya yang mengurangi laba perusahaan.
Berdasarkan latar belakang tersebut dan perbedaan hasil penelitian yang ada, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh CSR dan capital intensity terhadap agresivitas pajak perusahaan jasa di Indonesia.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merumuskan 2 permasalahan yang akan diteliti, yaitu:
1. Apakah CSR berpengaruh secara parsial terhadap agresivitas pajak suatu perusahaan?
2. Apakah capital intensity berpengaruh secara parsial terhadap agresivitas pajak suatu perusahaan?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh CSR terhadap agresivitas pajak suatu perusahaan.
2. Untuk mengetahui pengaruh capital intensity terhadap agresivitas pajak suatu perusahaan.
1.4. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut, diharapkan penelitian ini memberi manfaat sebagai berikut:
Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peraturan perpajakan di Indonesia dan pengungkapan laporan CSR yang baik.
Bagi Investor
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi investor untuk pertimbangan dalam melakukan pengambilan keputusan investasi pada suatu perusahaan.
Bagi Pemerintah
Penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai kepatuhan pajak di Indonesia dan menilai efektifitas peraturan perpajakan yang dikeluarkan.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat menjadi tambahan literatur yang memberikan bukti empiris terkait pengaruh CSR dan capital intensity terhadap agresivitas pajak yang bisa menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Teori Legitimasi
Teori legitimasi merupakan teori yang banyak digunakan dalam bidang akuntansi sosial dan lingkungan. Teori ini menyatakan bahwa harus adanya keselarasan atau hubungan yang baik antara kegiatan suatu organisasi atau perusahaan dengan nilai-nilai sosial dan norma-norma yang berlaku di lingkungan sosial sekitar dalam menjalankan usahanya.
Kelangsungan hidup suatu perusahaan juga bergantung pada hubungan antara perusahaan dengan masyarakat sosial disekitar tempat perusahaan beroperasi. Oleh sebab itu, dibutuhkan hubungan yang baik antar perusahaan dan masyarakat atau lingkungan sekitarnya.
Hidayati dan Murni (2009) menyatakan bahwa untuk bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya, perusahaan membutuhkan legitimasi baik dari investor, kreditor, konsumen, pemerintah maupun masyarakat sekitar. Untuk memperoleh legitimasi dari investor, perusahaan akan selalu berusaha meningkatkan return sahamnya. Untuk memperoleh legitimasi dari kreditor, perusahaan meningkatkan kemampuannya
mengembalikan hutang. Untuk memperoleh legitimasi dari konsumen, perusahaan senatiasa terus meningkatkan mutu produk dan layanannya.
Untuk mendapatkan legitimasi dari pemerintah, perusahaan diwajibkan untuk mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Oleh karena itu, perusahaan juga harus membayar pajak dengan jujur, karena pajak juga diatur dalam undang-undang, yang berarti pelanggaran terhadap pajak adalah pelanggaran terhadap undang-undang. Untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan melakukan CSR atau aktivitas tanggung jawab sosial. Jadi, teori legitimasi menunjukkan pentingnya CSR bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan.
2.1.2. Teori Stakeholder
Menurut teori stakeholder, kinerja suatu perusahaan juga dipengaruhi oleh stakeholdernya. Perusahaan tidak hanya beroperasi demi kepentingan pemegang saham (shareholder) saja. Oleh karena itu, dalam pengambilan keputusan pihak manajemen perusahaan juga harus mempertimbangkan manfaat apa yang dapat diterima oleh para stakeholder.
Dalam teori stakeholder juga dinyatakan bahwa perusahaan harus bertanggung jawab terhadap semua pihak yang terkena dampak dari kegiatannya. Dengan kata lain, perusahaan tidak hanya bertanggung jawab terhadap pemegang saham saja, melainkan juga kepada semua stakeholder
lain yang memiliki andil bagi perusahaan dan terkena dampak dari operasi perusahaan.
Stakeholder sendiri mengacu pada setiap individu maupun kelompok yang memiliki peran dalam menentukan kelangsungan hidup perusahaan.
Stakeholder dapat merupakan pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Stakeholder yang berada di dalam perusahaan adalah seperti pemegang saham, manajemen, dan karyawan. Sedangkan stakeholder yang berada di luar perusahaan yaitu konsumen, pemerintah, penyalur, pemasok, bank, komunitas.Salah satu bentuk pertanggung jawaban yang dapat diberikan perusahaan terutama kepada stakeholder yang berada di luar perusahaan seperti konsumen, komunitas, adalah dengan melaksanakan aktivitas CSR. Sedangkan bentuk pertanggung jawaban kepada pemerintah salah satunya adalah ketaatan pembayaran pajak.
2.1.3. Teori Kepatuhan
Kepatuhan berasal dari kata patuh yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), patuh berarti suka menurut perintah, taat kepada perintah atau aturan dan berdisiplin. Kepatuhan berarti bersifat patuh, ketaatan, tunduk, patuh pada peraturan. Menurut Tyler (1990) terdapat dua perspektif dasar dalam literatur sosiologi mengenai kepatuhan kepada hokum yang disebut instrumental dan normative. Perspektif instrumental mengasumsikan individu secara utuh didorong oleh kepentingan pribadi dan tanggapan terhadap perubahan-perubahan dalam tangible, intensif, dan
penalti yang berhubungan dengan apa yang orang anggap sebagai moral dan berlawan dengan kepentingan pribadi mereka.
Menurut percobaan Migram (2007) terdapat 6 faktor yang mempengaruhi kepatuhan. Pertama status lokasi, dimana saat lokasi tersebut memberikan prestige tertentu, maka terdapat kecenderungan seseorang patuh terhadap peraturan. Kedua tanggung jawab personal, dimana didapatkan bahwa ketika tanggung jawab personal berkurang maka ketaatan meningkat. Ketiga legitimasi figur otoritas, dimana adanya otoritas yang sah yang dimiliki atasan akan membuat bawahan taat kepada atasan dan perintahnya. Keempat status figure otoritas, dimana seseorang memandang superior orang yang memiliki status sosial yang baik. Kelima dukungan sesama rekan atau sesama dalam lingkungan sosialnya. Keenam, kedekatan figure otoritas, dengan kehadiran figure otoritas dengan kehadiran figure otoritas maka dapat mengawasi secara langsung mengenai prosedur dan juga arahan yang harus dilakukan.
Keharusan masyarakat Indonesia membayar pajak ditulis dalam UU Perpajakan nomor 28 tahun 2007 pasal 1 yang menyatakan pajak sebagai kontribusi kepada Negara yang bersifat memaksa dan pasal 2 yang mewajibkan masyarakat yang telah sesuai kriteria untuk mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak. Undang-undang tersebut secara hukum mengisyaratkan kewajiban bagi masyarakat Indonesia untuk memenuhi peraturan tersebut, hal ini sesuai dengan teori kepatuhan (compliance theory).
2.1.4. Agresivitas Pajak
Slemrod (2004) berpendapat bahwa agresivitas pajak merupakan kegiatan yang mencakup transaksi yang tujuan utamanya adalah untuk menurunkan kewajiban pajak peusahaan. Balakrishnan (2011) menyatakan bahwa perusahaan yang agresif terhadap pajak ditandai dengan transparansi yang lebih rendah. Demikian juga dengan Jimenez (2008) yang menyatakan bahwa bukti empiris baru-baru ini menunjukkan bahwa agresivitas pajak lebih merasuk dalam tata kelola perusahaan yang lemah. Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa transaksi dan pengambilan keputusan yang agresif mungkin secara potensial dapat menjadi masalah penghindaran pajak maupun penggelapan pajak.
Penelitian ini menggunakan 1 model pengukuran Effective Tax Rate (ETR) sebagai proksi penghindaran pajak, yaitu beban pajak penghasilan dibagi dengan laba sebelum pajak perusahaan (GAAP ETR). Menurut Huseynov dan Klamm (2012) model ETR ini mampu menangkap efek dari pendapatan akuntansi keuangan. GAAP ETR juga lebih baik dalam mengukur penghindaran pajak jangka panjang dibanding dengan cash ETR (Dyreng et al., 2008).
2.1.5. Corporate social responsibility
Corporate social responsibility (CSR) adalah bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sosialnya. CSR merupakan sebuah komitmen perusahaan untuk bertindak etis, berkontribusi dalam
pengembangan ekonomi, meningkatkan kualitas hidup pekerja, komunitas lokal, dan masyarakat luas (Holme dan Watts, 2006).
Corporate social responsibility (CSR) merupakan salah satu faktor penting keberlangsungan hidup sebuah perusahaan (Lanis dan Richardson, 2012). Sesuai dengan teori legitimasi, suatu perusahaan harus memperhatikan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. CSR merupakan salah satu bentuk perhatian dan tanggung jawab yang dapat diberikan oleh perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
2.1.6. Pengungkapan CSR (CSR Disclosure)
Pengungkapan sosial dan lingkungan (CSR disclosure) merupakan proses yang digunakan oleh perusahaan untuk mengungkapkan informasi berkaitan dengan kegiatan perusahaan juga pengaruhnya terhadap kondisi sosial dan lingkungan (Ghozali dan Chariri, 2007).
Pengungkapan CSR pada dasarnya adalah sebuah bentuk laporan tindakan-tindakan sosial perusahaan dan tanggung jawab perusahaan kepada semua stakeholdernya. Menurut O’Donovan (2002) pengungkapan CSR memiliki beberapa manfaat bagi perusahaan seperti untuk menselaraskan nilai-nilai perusahaan dengan nilai-nilai soisal, untuk membentuk image dan reputasi perusahaan yang baik, untuk menghindari tekanan dari kelompok tertentu, dan juga untuk menunjukan tanggungjawab sosial perusahaan.
Sejauh ini, belum ada standar khusus yang mengatur pengungkapan CSR (CSR disclosure) di Indonesia. Sehingga perusahaan diperbolehkan
menyusun sendiri format pelaporan tanggungjawab sosialnya. Pada umumnya perusahaan menggunakan standar sustainability report yang dibuat oleh GRI (Global Reporting Initiative) sebagai acuan penyusunan pelaporan CSR. Dalam standard sustainability report yang dikembangkan oleh GRI terdapat 6 dimensi pelaporan dari pertanggungjawaban sosial perusahaan, yaitu:
1. Ekonomi.
2. Lingkungan.
3. Praktek tenaga kerja.
4. Hak asasi manusia.
5. Masyarakat.
6. Tanggung jawab Produk.
Terdapat 83 indikator yang tersebar didalam 6 dimensi tersebut.
Kerangka pelaporan yang dibuat GRI ini memiliki dimensi yang umum dan sektor yang spesifik, yang dapat diaplikasikan secara umum dalam pelaporan kinerja keberlanjutan sebuah perusahaan. Tetapi pada penelitian ini dipilih hanya 60 indikator. Indikator-indikator yang dipilih merupakan indictor yang dianggap berhubungan dengan pengungkapan CSR perusahaan yang dipakai pada penelitian ini.
2.1.7. Capital intensity
Rasio Capital intensity dapat diartikan sebagai seberapa besar perusahaan menginvestasikan asetnya pada aset tetap. Intensitas aset tetap adalah seberapa besar proporsi aset tetap perusahaan dari keseluruhan total aset yang dimiliki perusahaan.
Lanis dan Richardson (2012) menyatakan bahwa capital intensity berpengaruh positif terhadap agresivitas perusahaan. Capital intensity merupakan salah satu cara yang dignakan perusahaan-perusahaan untuk melakukan tindakan agresivitas pajak karena penyusutan dari aset tetap akan secara langsung mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar.
Dari beberapa hasil penelitian juga menunjukkan hubungan negatif antara capital intensity dengan Effective tax rate (ETR). Jadi, semakin tinggi proporsi aset tetap yang dimiliki suatu perusahaan terhadap jumlah asetnya maka ETRnya akan semakin rendah, sehingga diasumsinkan bahwa kemungkinan perusahaan tersebut melakukan tindakan agresivitas pajak akan semakin tinggi.
2.1.8. Variabel Kontrol
2.1.8.1. Ukuran Perusahaan (Size)
Ukuran perusahaan dapat mengkategorikan perusahaan menjadi perusahaan besar dan perusahaan kecil berdasarkan jumlah aset yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian Lanis dan Richardson (2007)
perusahaan besar memiliki tingkat agresivitas pajak yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil karena perusahaan besar memiliki kekuatan ekonomi dan politik yang lebih besar dibanding perusahaan kecil
Ukuran perusahaan dianggap penting digunakan sebagai variable kontrol adalah karena berdasarkan beberapa kasus agresivitas pajak yang terjadi di Indonesia rata-rata dilakukan oleh perusahaan multinasional yang sebagian besar memiliki nilai aset yang besar.
2.1.8.2. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Profitabilitas suatu perusahaan dapat diliat dari Return on Asset (ROA) perusahaan tersebut. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ROA dan ETR berbanding lurus.
Sebab, semakin tinggi laba yang diperoleh suatu perusahaan seharusnya jumah pajak yang harus dibayar juga meningkat.
Perusahaan dengan kinerja keuangan yang baik biasanya mempunyai pengungkapan perusahaan (corporate disclosure) yang baik pula. Sebab, perusahaan tersebut pasti ingin menunjukkan hasil kinerja mereka yang disusun dalam laporan perusahaan kepada pihak lain.
2.2. Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang masalah penghindaran pajak telah banyak dilakukan, begitu pula dengan penelitian tentang masalah corporate social responsibility.
Namun penelitian mengenai pengaruh CSR terhadap agresivitas pajak belum banyak dilakukan, dan memiliki hasil yang berbeda-beda. Begitu pula penelitian yang menghubungkan capital intensity dengan penghindaran pajak, belum banyak dilakukan dan memiliki hasil yang berbeda-beda. Berikut adalah uraian beberapa penelitian mengenai penghindaran pajak.
Penelitian yang dilakukan oleh Lanis dan Richardson (2007) menggunakan variabel dependen berupa effective tax rates (ETR). Sementara variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan, hutang finansial, intensitas aset tetap, intensitas persediaan, dan intensitas penelitian dan pengembangan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ukuran perusahaan, hutang perusahaan, intensitas aset tetap, intensitas penelitian dan pengembangan berpengaruh negatif terhadap effective tax rates (ETR). Sementara untuk variabel intensitas persediaan memiliki pengaruh yang positif terhadap effective tax rate (ETR).
Salah satu penelitian lain yang menghubungkan antara intensitas aset tetap dengan penghindaran pajak adalah penelitian yang dilakukan oleh Noor et al.
(2010). Penelitian ini dilakukan pada perusahaan di Malaysia menggunakan effective tax rates (ETR) sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan ukuran perusahaan, return on asset (ROA), hutang perusahaan, intensitas aset
tetap, intensitas persediaan, perbedaan bisnis perusahaan, perbedaan metode perpajakan dan perbedaan tahun pajak sebagai variabel independen. Penelitian ini menemukan bahwa ROA, hutang perusahaan, dan intensitas aset tetap memiliki pengaruh negatif terhadap effective tax rates (ETR). Sementara intensitas persediaan dan ukuran perusahaan memiliki pengaruh yang positif terhadap effective tax rates (ETR). Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian Lanis dan Richardson (2007) yang menemukan adanya pengaruh negatif antara intensitas aset tetap terhadap effective tax rates.
Pada tahun 2012 Lanis dan Richardson kembali melakukan penelitian yang memberikan bukti empiris mengenai pengaruh corporate social responsibility terhadap agresivitas pajak yang diproksikan menggunakan ETR. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat pengungkapan CSR perusahaan, maka semakin rendah tingkat agresivitas pajak perusahaan.
Penelitian lain yang menghubungkan corporate social responsibility dengan penghindaran pajak adalah penelitian yang dilakukan Watson (2012) dengan corporate social responsibility sebagai variabel independen dan effective tax rates sebagai variable dependen. Penelitian ini menemukan adanya hubungan negatif antara CSR dengan effective tax rates (ETR), yang berarti perusahaan yang melakukan CSR memiliki ETR yang rendah. ETR yang rendah menunjukan tingginya tingkat penghindaran pajak. Hal ini menunjukan bahwa CSR memiliki pengaruh positif terhadap penghindaran pajak. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lanis dan Richardson (2012) yang menemukan pengaruh negatif CSR terhadap penghindaran pajak.
Penelitian lain yang menghubungkan antara CSR dengan agresivitas pajak adalah penelitian yang dilakukan kembali oleh Lanis dan Richardson (2013) dengan tujuan untuk menguji teori legitimasi. Penelitian ini menggunakan agresivitas pajak dengan proksi ETR sebagai variabel independen, dan CSR sebagai variabel dependen. Penelitian ini menguji teori legitimasi yang digunakan Lanis dan Richardson dalam penelitian mereka sebelumnya yang menggunakan teori legitimasi sebagai landasan teori penelitian mereka. Penelitian ini menemukan bahwa agresivitas pajak berhubungan positif terhadap pengungkapan CSR. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat agresivitas pajak suatu perusahaan, maka semakin besar pengungkapan CSR yang dilakukan oleh perusahaan.
Penelitian ini memberikan hasil yang mendukung teori legitimasi.
Salah satu penelitian di Indonesia yang menghubungkan capital intensity dengan ETR adalah yang dilakukan oleh Darmadi dan Zulaikha (2013). Penelitian ini menggunakan ETR sebagai alat ukur variabel dependen manajemen pajak.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan, tingkat hutang, profitabilitas, intensitas persediaan, intensitas aset tetap, fasilitas perpajakan. Hasil dari penelitian ini adalah intensitas aset tetap dan intensitas persediaan memiliki pengaruh negatif terhadap manajemen pajak. Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap manajemen pajak. Tingkat hutang dan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen pajak. Hasil penelitian ini menunjukan intensitas aset tetap berpengaruh positif terhadap ETR, hal ini bertentangan dengan penelitian Lanis dan Richardson (2007), dan Noor et
al. (2010) yang menemukan intensitas aset tetap berpengaruh negatif terhadap ETR.
Penelitian Yoehana (2013) menguji pengaruh CSR terhadap agresivitas pajak. Penelitian ini menggunakan CSR sebagai variabel independen, dan agresivitas pajak sebagai variabel dependen. Penelitian ini mengambil sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2010- 2011. Hasil dari penelitian ini adalah CSR berpengaruh negatif terhadap penghindaran pajak. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lanis dan Richardson (2012) yang menemukan bahwa CSR berpengaruh negatif terhadap agresivitas.
Ardyansah dan Zulaikha (2014) juga melakukan penelitian tentang pengaruh karakteristik perusahaan terhadap effectife tax rates (ETR). Penelitian ini menguji pengaruh variabel size, leverage, profitability, capital intensity ratio dan komisaris independen sebagai variabel independen penelitian, terhadap effective tax rates (ETR) sebagai variabel dependen. Hasil dari penelitian ini adalah size berpengaruh negatif signifikan terhadap ETR, komisaris independen berpengaruh positif signifikan terhadap ETR, leverage berpengaruh positif tidak signifikan terhadap ETR, capital intensity dan profitability berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ETR.
Octaviana (2014) mereplika penelitian Lanis dan Richardson (2013) yang menguji pengaruh agresivitas pajak terhadap CSR, untuk menguji teori legitimasi.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah agresivitas pajak yang
diproksikan menggunakan effective tax rates (ETR). Sementara variabel dependen penelitian ini adalah CSR. Penelitian ini mengambil sampel perusahaan pertambangan dan properti yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009-2012. Hasil penelitian ini menemukan bahwa agresivitas pajak berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat pengungkapan CSR perusahaan. Hasil penelitian ini memberikan hasil baru yang tidak sejalan dengan hasil penelitian Lanis dan Richardson (2013) yang menemukan agresivitas pajak berpengaruh positif terhadap CSR.
Pada tahun 2015 Purwanggono melakukan penelitian dengan mengembangkan penelitian Lanis dan Richardson (2012) tentang Pengaruh CSR dan kepemilikan mayoritas terhadap agresivitas pajak. Variabel independen dalam penelitian ini adalah CSR dan kepemilikan mayoritas, dengan variabel dependen agresivitas pajak. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian Lanis dan Richardson yaitu CSR berpengaruh negatif signifikan terhadap agresivitas pajak.
Penelitian ini juga menemukan kepemilikan mayoritas berpengaruh negatif terhadap agresivitas pajak.
Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu
No. Nama Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Richardson dan
Lanis (2007)
Variabel Independen:
ukuran perusahaan, hutang finansial, intensitas aset tetap, intensitas persediaan, dan intensitas penelitian dan pengembangan Variabel Dependen:
Effective tax rates (ETR).
Ukuran perusahaan, hutang perusahaan, intensitas aset tetap, intensitas penelitian dan pengembangan
berpengaruh negatif terhadap effective tax rates (ETR).
intensitas persediaan
berpengaruh positif terhadap effective tax rates (ETR).
2. Noor, dkk (2010)
Variabel Independen:
ukuran perusahaan, return on asset (ROA), hutang perusahaan, intensitas aset tetap, intensitas persediaan, perbedaan bisnis perusahaan, perbedaan metode perpajakan dan perbedaan tahun pajak.
Variabel Dependen:
Effective tax rates (ETR).
ROA, hutang perusahaan, dan intensitas aset tetap berpengaruh negatif terhadap effective tax rates (ETR).
intensitas persediaan, dan ukuran perusahaan
berpengaruh positif terhadap Effecrive Tax Rate (ETR).
3. Lanis dan Richardson (2012)
Variabel Independen:
CSR.
Variabel Dependen:
Agresivitas Pajak
CSR berpengaruh negatif terhadap agresivitas pajak.
(ETR).
4. Watson (2012) Variabel Independen:
CSR.
Variabel Dependen:
Tax Avoidance.
CSR berpengaruh positif terhadap tax avoidance.
5. Lanis dan Richardson (2013)
Variabel Independen:
Tax aggressiveness (ETR).
Variabel Dependen:
CSR
Tax aggressiveness
berpengaruh positif terhadap CSR.
6. Darmadi dan Zulaika (2013)
Variabel Independen:
Intensitas persediaan, intensitas aset tetap, ukuran perusahaan, tingkat hutang, profitabilitas.
Variabel Dependen:
Manajemen pajak.
Intensitas persediaan dan intensitas aset tetap berpengaruh negatif signifikan terhadap
manajemen pajak. Ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen pajak. Tingkat hutang dan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen pajak.
7. Yoehana (2013) Variabel Independen:
CSR.
Variabel Dependen:
Agresivitas Pajak.
CSR berpengaruh negatif terhadap agresivitas pajak.
8. Ardyansyah dan Zulaikha (2014)
Variabel Independen:
Size, leverage, profitability, capital intensity ratio dan komisaris independen.
Size berpengaruh negatif signifikan terhadap ETR.
Komisaris Independen berpengaruh positif signifikan terhadap ETR.
Variabel Dependen:
Effective tax rates (ETR)
Leverage berpengaruh positif tidak signifikan terhadap ETR.
Profitability dan capital intensity ratio berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ETR.
9. Octaviana (2014)
Variabel Indepeden:
Agresivitas Pajak.
Variabel Dependen:
CSR.
Agresivitas pajak
berpengaruh negatif terhadap CSR.
10. Purwanggono (2015)
Variabel Independen:
CSR dan kepemilikan mayoritas.
Variabel Dependen:
Agresivitas Pajak
CSR dan kepemilikan mayoritas berpengaruh negatif signifikan terhadap agresivitas pajak.
2.3. Kerangka Konseptual
Penelitian ini menggunakan CSR dan capital intensity sebagai variable independen, agresivitas pajak sebagai variabel dependen, serta profitabilitas dan size sebagai variabel kontrol. Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Lanis dan Richardson (2012). Hubungan antar variable-variabel tersebut didasarkan pada teori legitimasi, teori stakeholder serta teori kepatuhan.
Kerangka pemikiran ditunjukkan dalam gambar sebagai berikut
Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1
H1(-)
H2(+)
2.4. Hipotesis
Pengaruh CSR Terhadap Agresivitas Pajak
Perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia diwajibkan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Pendapatan yang diperoleh dari pengumpulan pajak ini akan kembali disalurkan pemerintah untuk membangun infrastruktur, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan lain-
Corporate social responsibility
(CSR)
Variable Kontrol :
• Size
• Profitabilitas Capital intensity
Agresivitas Pajak
lain. Meskipun demikian, masih banyak perusahaan melakukan tindakan agresivitas pajak untuk meminimalisir jumlah pajak yang harus dibayar.
Freedman (2003) mengatakan bahwa perusahaan yang melakukan agresivitas pajak berarti perusahaan tersebut tidak membayar kewajibannya berupa beban pajak pendapatan perusahaan kepada pemerintah untuk membantu pendanaan barang publik di dalam masyarakat. Dari pernyataan tersebut, kita dapat menilai bahwa tindakan agresivitas pajak bertentangan dengan tujuan dari CSR.
Selain Freedman, peneliti lain juga menyatakan bahwa perusahaan yang melakukan tindakan agresivitas pajak merupakan perusahaan yang tidak bertanggung jawab secara sosial (Lanis dan Richardson, 2012).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin baik pelaksanaan CSR suatu perusahaan, maka semakin rendah kemungkinan perusahaan tersebut melakukan tindakan agresivitas pajak.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti kemudian merumuskan hipotesis ke-1, sebagai berikut :
H1: Corporate social responsibility (CSR) berpengaruh negatif terhadap agresivitas pajak.
Pengaruh Capital Intensity Terhadap Agresivitas Pajak
Capital intensity menunjukkan seberapa besar perusahaan menginvestasikan asetnya dalam bentuk aset tetap. Seperti yang dijelaskan Rodriguez dan Arias (dalam Ardyansah dan Zulaikha, 2014) bahwa aset
tetap perusahaan memungkinkan perusahaan untuk mengurangi pajaknya akibat dari penyusutan yang muncul dari aset tetap setiap tahunnya, karena beban penyusutan akan memperkecil laba perusahaan yang secara otomatis akan mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar. Dalam hal ini manajemen dapat memanfaatkan penyusutan aset tetap untuk menekan beban pajak perusahaan. Manajer akan menginvestasikan dana menganggur perusahaan ke dalam bentuk aset tetap dengan tujuan memanfaatkan penyusutannya sebagai pengurang beban pajak.
Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan Richardson dan Lanis (2007), juga penelitian Noor et al. (2010) menemukan bahwa intensitas aset tetap berpengaruh negatif terhadap effective tax rates (ETR), yang berarti bahwa Capital intensity memiliki pengaruh positif terhadap penghindaran pajak. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi capital intensity perusahaan, semakin tinggi pula penghindaran pajak perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas, maka terbentuklah hipotesis kedua, yaitu:
H2: Capital intensity berpengaruh positif terhadap penghindaran pajak.
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian dapat dibedakan menjadi 3, yaitu: deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Menurut Sugiyono (2011), penelitian asosiatif adalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antar dua variabel. Penelitian asosiatif dibagi menjadi 3 jenis, yaitu: hubungan kausal, simetris, dan interaktif. Hubungan antar variabel yang diteliti adalah kausal.
Hubungan kausal adalah hubungan sebab-akibat antar variabel, dimana salah satu variabel (independent) mempengaruhi variabel lain (dependent).
3.2. Batasan Operasional
Batasan operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Faktor-faktor yang diteliti yang diperkirakan dapat mempengaruhi agresivitas pajak suatu perusahaan adalah pengungkapan CSR dan capital intensity, dan menggunakan ukuran perusahaan serta profitabilitas sebagai variabel kontrol.
2. Objek penelitian ini adalah perusahaan jasa sub-sektor property dan real estate yang terdaftar di BEI.
3.3.Definisi Operasional
Menurut Erlina (2011) definisi operasional adalah penjelasan karakteristik dari obyek ke dalam elemen-elemen yang dapat diobservasi yang menyebabkan yang menyebabkan konsep dapat diukur dan dioperasionalkan ke dalam penelitian.
3.3.1. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas merupakan variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variable terikat, atau yang memilki hubungan positif atau negative bagi variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah Corporate social responsibility (CSR) dan Capital intensity.
3.3.1.1. Corporate social responsibility (CSR)
CSR dalam penelitian ini diproksikan menggunakan rasio pengungkapan CSR atau CSR disclosure. Penelitian ini menggunakan tabel checklist dengan indikator pengungkapan CSR yang dikeluarkan oleh Global Reporting Initiative (GRI). Indikator pengungkapan yang dibuat GRI ini memiliki dimensi yang umum dan sektor yang spesifik, yang dapat diaplikasikan secara umum dalam pelaporan kinerja keberlanjutan sebuah perusahaan.
Indikator pengungkapan CSR yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks GRI G.3.1 yang dibuat oleh GRI. Dalam guidelines G.3.1 mencakup 6 dimensi pelaporan, yaitu kinerja ekonomi, kinerja lingkungan, praktek tenaga kerja, hak asasi manusia,
masyarakat sosial, dan tanggung jawab produk. Pada setiap dimensi terdapat sejumlah indikator masing-masing yang total keseluruhannya terdapat sejumlah 83 indikator. Berikut ini indikator GRI G.3.1 yang digunakan dalam penelitian ini:
Tabel 3.1
Indikator Index GRI G.3.1 yang Digunakan dalam Penelitian
Indikator Jumlah Item
Ekonomi 8
Lingkungan 12
Tenaga Kerja 14
Hak Asasi Manusia 11
Masyarakat Sosial 10
Tangung Jawab Produk 5
Total Item 60
Pengukuran pengungkapan CSR ini menggunakan variabel dummy. Hal ini dilakukan dengan mencocokan pengungkapan yang dilakukan perusahaan dengan tabel checklist. Apabila item dalam tabel checklist diungkapkan oleh perusahaan maka diberi nilai 1, apabila tidak diungkapakan diberi nilai 0. Kemudian dijumlahkan semua item yang bernilai 1 dari perusahaan, kemudian dibandingkan dengan
jumlah seluruh item pada tabel checklist. Rumus pengukuran rasio pengungkapan CSR adalah sebagai berikut:
CSRDi =∑ 𝑋𝑖 𝑛 Keterangan :
CSRDi : Pengungkapan CSR perusahaan i.
∑Xi : Jumlah item bernilai 1 pada perusahaan i.
n : Jumlah seluruh item indikator pengungkapan CSR (n=83).
3.3.1.2.Capital Intesity
Capital intensity dalam penelitian ini akan diproksikan menggunakan rasio intensitas aset tetap. Rasio intensitas aset tetap adalah perbandingan aset tetap terhadap total aset sebuah perusahaan.
Rasio intensitas aset tetap menggambarkan rasio atau proporsi aset tetap perusahaan dari total aset yang dimiliki sebuah perusahaan.
Rasio intensitas aset tetap diukur menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐴𝑠𝑒𝑡 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡
3.3.2. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel terikat adalah agresivitas pajak.
Agresivitas pajak adalah keinginan perusahaan untuk meminimalkan beban pajak yang dibayar dengan cara yang legal, ilegal, maupun kedua-duanya. Adapun yang menjadi proksi utama dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Lanis dan Richardson (201) adalah Effective tax rates (ETR) yang dihitung dari:
𝐸𝑇𝑅 = 𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘
ETR menjelaskan persentase atau rasio antara beban pajak penghasilan perusahaan yang harus dibayarkan kepada pemerintah dari total pendapatan perusahaan sebelum pajak.
3.3.3. Variabel Kontrol (Control Variable)
Variabel kontrol adalah variabel yang melengkapi atau mengontrol hubungan kausal antara independen dan dependen variabel agar diperoleh model empiris yang lebih baik dan lengkap. Dalam penelitian ini, digunakan 2 variabel kontrol, yaitu ukuran perusahaan (Size) dan profitabilitas.
3.3.3.1. Ukuran Perusahaan (Size)
Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa perusahaan besar lebih cenderung melakukan agresivitas pajak dibanding perusahaan kecil karena perusahaan besar lebih berorientasi pada laba dan mempunyai kekuatan politik yang lebih dibandingkan perusahaan kecil sehingga mampu mengurangi beban pajak yang dikenakan. Ukuran perusahaan menurut Lanis dan Richardson (2013) dapat diukur dengan logaritma natural total aset dengan rumus sebagai berikut:
𝑆𝑖𝑧𝑒 = 𝐿𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
3.3.3.2. Profitabilitas
Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba. Penelitian ini menggunakan Return On Asset (ROA) sebagai proksi untuk mengukur profitabilitas. ROA diukur dengan menggunakan proksi model Lanis dan Richardson (2012) yaitu:
𝑅𝑂𝐴 = 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
3.4. Skala Pengukuran Variabel
Tabel 3.2
Skala Pengukuran Variabel
Variabel
Penelitian Indikator Pengukuran Skala
Corporate social
responsibility (CSR)
83 indikator pengungkapan CSR oleh GRI 3.1
Dilakukan pengungkapan =1 Tidak ada pengungkapan = 0
Nominal
Capital intensity
Presentase aset tetap perusahaan
𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐴𝑠𝑒𝑡 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝
=𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡
Rasio
Agresivitas Pajak
Tarif pajak efektif
perusahaan 𝐸𝑇𝑅 =
𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘
Rasio
Ukuran Perusahaan
Jumlah aset yang dimiliki perusahaan
𝑆𝑖𝑧𝑒 = 𝐿𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
Rasio
Profitabilitas Jumlah laba perusahaan
𝑅𝑂𝐴 = 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
Rasio
3.5.Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah sekelompok entitas yang lenkap yang dapat berupa orang, kejadian, atau benda yang memiliki karakteristik tertentu, yang berada dalam suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian (Erlina, 2011). Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Sampel adalah bagian dari populasi yang digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi (Erlina, 2011). Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling. Dalam metode ini, pengambilan sampel didasarkan pada kriteria tertentu. Adapun kriteria penentuan sampel dalam penelitian ini adalah :
1. Perusahaan property dan real estate yang terdaftar di BEI pada tahun 2012-2014.
2. Perusahaan tersebut mengeluarkan laporan tahunan dan laporan keuangan secara lengkap untuk tahun 2012-2014, dan mempublikasikan laporan tersebut secara berturut-turut.
3. Perusahaan memiliki laba sebelum pajak bernilai positif selama tahun 2012-2014.
4. Perusahaan menggunakan mata uang rupiah.
Proses seleksi berdasarkan kriteria:
Tabel 3.3
Jumlah Sampel
No. Kriteria Jumlah Akumulasi
1. Perusahaan property dan real estate yang terdaftar
di BEI pada tahun 2012-2014 49
2.
Perusahaan yang tidak mengeluarkan laporan tahunan dan laporan keuangan secara lengkap untuk 2012-2014
(10) 39
3. Perusahaan yang memiliki laba sebelum pajak
positif (7) 32
4. Perusahaan yang tidak membuat laporan tanggung
jawab sosial perusahaan selama tahun 2012-2014 (1) 31
Jumlah (31x3) 93 93
3.6.Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang merupakan data sekunder. Data sekunder yang dipakai merupakan laporan tahunan dan laporan keuangan perusahaan yang telah dipublikasikn di www.idx.co.id
3.7. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan, mencatat, dan mengkaji data sekunder berupa laporan tahunan dan laporan keuangan tahunan perusahaan yang telah dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia. Selain itu, pengumpulan data
juga dilakukan melalui studi pustaka yaitu dengan membaca dan mempelajari literature, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian.
3.8. Teknik Analisis
3.8.1. Statistik Deskriptif
Statistik deskripstif merupakan proses transformasi data penelitian dalam bentuk tabulasi, sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan (Erlina, 2011). Statistik deskriptif dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran umum tentang data sampel yang meliputi perhitungan rata-rata, median, standar deviasi, nilai maksimum, dan nilai minimum.
3.8.2. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik merupakan pengujian yang dilakukan atas model utama dalam penelitian sebelum melakukan regresi untuk memberikan keyakinan memadai mengenai keandalan data.
Pengujian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai estimasi yang diperoleh bersifat BLUE (Best, Linear, Unbiased, and Estimator).
Terdapat 4 cara untuk melakukan uji asumsi klasik, yaitu uji multikolonieritas, uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas, dan uji normalitas.
3.8.2.1. Uji Multikolonearitas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah terdapat hubungan antar variabel independen dalam model regresi (Ghozali, 2013). Karena model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinieritas di dalam regresi penelitian ini adalah dengan cara sebagai berikut:
1. Matriks korelasi variabel-variabel independen. Jika antar variabel independen terdapat korelasi yang cukup tinggi (diatas 0,95), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolonieritas (Ghozali, 2013).
2. Nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF).
Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Cutoff yang umum digunakan untuk menunjukan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance ≤ 0,10 atau nilai VIF ≥ 10 (Ghozali, 2012).
3.8.2.2. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu periode t-1 (sebelumnya) (Ghozali, 2012), karena itu autokorelasi sering ditemukan pada data runtut (time series). Jika terdapat korelasi maka terdapat autokorelasi
di dalamnya. Sementara model regresi yang baik dalah model regresi yang tidak memiliki masalah autokorelasi.
3.8.2.3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 2013). Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas, jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Regresi yang baik adalah yang tidak heteroskedastisitas atau homoskedastisitas.
3.8.2.4 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual terdistribusi normal (Ghozali, 2013). Apabila nilai residual tidak terdistribusi normal maka uji statistik menjadi tidak valid untuk sampel kecil.
3.8.3. Pengujian Statistik
3.8.3.1. Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk meramalkan naik-turunnya variabel dependen apabila dua atau lebih variabel independen dimanipulasi. Adapun model regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Agresivitas Pajak= α+β1CSRD+β2CINT+β3SIZE+β4ROA+e
Keterangan:
Agresivitas Pajak : Agresivitas Pajak diukur dengan proksi ETR.
α : Konstanta.
β : Koefisien Variabel.
CSRD : CSR Disclosure CINT : Capital intensity
Size : Ukuran perusahaan yang diproksikan dengan logaritma total aset.
ROA : Profitabilitas diproksikan dengan Return On Asset.
e : Error (kesalahan pengganggu).
Dengan persamaan statistik di atas, hipotesis alternatif akan diterima dengan tingkat signifikansi 5%. Apabila tingkat sig dari hasil analisis lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis penelitian diterima.
3.8.3.2. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi ( R2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah nol dan satu. Nilai (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel
independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2013).
3.8.3.3. Uji Statistik t
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2013).
Adapun penerimaan atau penolakan hipotesis dalam uji t berdasarkan pada kriteria berikut:
1. Jika nilai signifikasi ≤ 0,05 berarti variabel independen secara individual berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
2. Jika nilai signifikasi ≥ 0,05 berarti variabel independen secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
3.8.3.4. Uji Statistik F
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai
pengeruh secara bersama-sama dengan variabel independen.
Ketentuan hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut :
1. Jika nilai signifikasi ≤ 0,05 berarti variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
2. Jika nilai signifikasi ≥ 0,05 berarti variabel independen tidak secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskriptif Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode dokumentasi yaitu mengumpulkan dan menganalisis data sekunder yang berupa laporan keuangan yang telah diaudit dan laporan tahunan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Selanjutnya, data dianalisis dengan menggunakan program SPSS 21.0 (aplikasi software pengolah data).
Dalam menentukan sampel digunakan metode purposive sampling yaitu dengan menggunakan kriteria-kriteria tertentu agar sampel yang dihasilkan benar- benar representatif. Melalui metode tersebut diperoleh tiga puluh satu perusahaan property dan real estate yang memenuhi kriteria dan dijadikan sampel dalam penelitian yang diamati selama periode 2012 -2014 dengan 93 unit analisis.
4.2. Analisis Hasil Penelitian 4.2.1. Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui karakteristik sampel yang digunakan dan menggambarkan variabel- variabel dalam penelitian. Statistik dreskiptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, Kurtosis,