Menirnbang
Mengingat
GUBERNUR LAMPUNG
KEPUTUSAN GUBERNUR LAMPUNG NOMOR: G/ 528 /II.02/HK/2016
TENTANG HASIL EVALUASI
RANCANGANPERATURANDAERAH KABUPATEN PESISIR BARAT TENTANG
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021
GUBERNUR LAMPUNG,
a. bahwa Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Pesisir Barat tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2016-2021, te1ah dievaluasi sesuai dengan ketentuan Pasal 271 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapakali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015;
b. bahwa sehubungan dengan huruf a tersebut di atas, perlu menetapkan Keputusan Gubernur Lampung tentang Hasil Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Pesisir Barat tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2016-2021;
1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Provinsi Lampung;
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapakali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Penguatan Peran Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Pusat di Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2011;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
Menetapkan: KEPUTUSAN GUBERNUR TENTANG HASIL EVALUASI RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PESISIR BARAT TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021.
KESATU
KEDUA
KETIGA
KEEMPAT
KELIMA
: Hasil Evaluasi atas Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Pesisir Barat tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2016-2021 sebagaimana tercantum pada Lampiran Keputusan ini yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan ini.
Bupati Pesisir Barat bersama DPRD Kabupaten Pesisir Barat segera melakukan penyempurnaan dan penyesuaian terhadap Rancangan Peraturan Daerah tersebut berdasarkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada Diktum Kesatu.
: Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah tersebut telah disempurnakan sesuai hasil evaluasi, Rancangan Peraturan Daerah tersebut dapat ditetapkan menjadi Peraturan Daerah, dan apabila Peraturan Daerah yang ditetapkan tidak sesuai dengan hasil evaluasi, akan dilakukan pembatalan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Diktum Ketiga selanjutnya disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Lampung paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan.
Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam Keputusan ini akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya.
PARAF KOORDINASI
1 WAKIL GUBERNUR
2 SEKDA PROVIN61 A
3 ASS. BID. PEM. f
4 ASS. BID. EK BANG
-
5 ASS, BID. KESRA
6· 'A96.BID.UMUM
t
7 ft
.,.
i"'"~
8 I •
9
10 BIRO HUK\JM
Ditetapkan di Telukbetung
pada tanggal 1 September 2016
Tembusan:
1. Menteri Dalam Negeri RI di Jakarta;
Cq. Dirjen Bina Pembangunan Daerah
2. Menteri Perencanaan Pembangunan NasionaljKepala Bappenas di Jakarta;
3. Pimpinan DPRD Kabupaten Pesisir Barat di Krui.
LAMPIRAN KEPUTUSAN GUBERNUR LAMPUNG NOMOR : Gk28 jII.02/HK/2016 TANGGAL :1 SEPTEMBER 201 6
BASIL EVALUASI
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PESISIR BARAT TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH
TAHUN 2016-2021 I. TATA NASKAH RAPERDA
1. Judul
Dibawah Lambang Negara (Burung Garuda) cantumkan frase ; BUPATI PESISIR BARAT
PROVINSI LAMPUNG 2. Menimbang
Diubah Menjadi
a. bahwa untuk menjamin koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan strategi perencanaan pembangunan diperlukan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahun;
b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 264 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2016- 2021 perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah;
3. Mengingat
Pencantuman dasar hukum cukup dicantumkan peraturan perundang- undangan yang relevan dengan materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD yaitu Angka 1, Angka 2, Angka 3, Angka 4, Angka 5, Angka 6, Angka 7, Angka 8, Angka 9, Angka 10, Angka 11, Angka 12, Angka 13, Angka 14, Angka 15, Angka 16, Angka 17, Angka
18, Angka 19 dan Angka 20.
Tambahkan:
a. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 - 2019 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 3);
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dalam Penyususnan Atau Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 994);
c. Nomor 21 diubah menjadi Peraturan Daerah Lampung Kabupaten Pesisir Barat Nomor ... Tahun ... tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Pesisir Barat Tahun (Lembaran Daerah Kabupaten Pesisir Barat Tahun ... Nomor , Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Pesisir Barat Nomor ... );
4. Batang Tubuh : a. Pasal 1
1. Penulisan frase, "Dalam peraturan ... " disejajarkan dengan prase "Peraturan Daerah ... " pada diktum menetapkan.
2. Angka 2 dan Angka 4 agar disesuaikan dengan ketentuan Pasal 1 angka 3 dan Angka 4 Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
3. Angka 6 dan Angka 7 agar disesuaikan dengan ketentuan Pasal 1 Angka 4 dan Angka 5 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyususnan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
4. Semua frase Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diubah menjadi Perangkat Daerah (PD) sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.
b. Pasal3 ayat (1) diubah menjadi 1. pendahuluan;
2. gambaran umum kondisi daerah;
3. gambaran pengelo1aan keuangan daerah serta kerangka pendanaan;
4. analisis isu-isu strategis;
5. visi, misi, tujuan dan sasaran;
6. strategi dan arah kebijakan;
7. kebijakan umum dan program pembangunan daerah;
8. indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan;
9. penetapan indikator kinerja; dan
10. pedoman transisi dan kaidah pe1aksanaan.
c. Pasal 9 diubah menjadi
(1) Untuk rnenjaga kesinambungan penye1enggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, penyusunan RKPD untuk tahun pertama periode pemerintahan tahun berikutnya mengacu pada sasaran pokok arah kebijakan RPJPD Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2005 - 2025.
(2) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi bagian dari RPJMD periode pemerintahan tahun berikutnya.
d. Pasal 10 dihapus, karena Judul Peraturan Daerah sudah menggambarkan secara jelas.
e. Pasal 11 diubah menjadi
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, dokumen perencanaan pembangunan desa wajib menyesuaikan pengaturannya dengan peraturan daerah ini.
f. Pasal 12 dihapus, karena tidak diamanatkan dalam ketentuan batang tubuh
Penulisan pasal-pasal selanjutnya menyesuaikan dengan hasil koreksi.
5. Penetapan dan Pengundangan
Penulisan jabatan yang menetapkan dan mengundangkan diakhiri dengan tanda baca koma.
6. Penje1asan
Penulisan Penjelasan Pasal per Pasal agar menyesuaikan dengan hasil koreksi pada Batang Tubuh.
3
7. Lampiran
a. pada halaman pertama lampiran agar dicantumkan frase :
LAMPlRAN: PERATURAN DAERAH KABUPATEN PESISISR BARAT NOMOR
TAHUN
b. landasan hukum penyusunan agar disesuaikan dengan koreksi diktum mengingat; dan
c. diakhir lampiran nama Bupati ditulis tanpa menggunakan gelar akademik dan keagamaan.
II. SUBSTANSI RPJMD
A. BABIPENDAHULUAN
1. Sub Bab 1.2. Dasar Hukum, agar ditambahkan peraturan perundangan-undangan yang menjadi landasan penyusunan RPJMD sebagaimana dimaksud pada 1.3 di tersebut atas dan.
a. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
b. Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 1 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Lampung Tahun 2009-2029 (Lembaran Daerah Provinsi Lampung Tahun 2010 Nomorl, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Lampung Nomor 346);
c. Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 6 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Lampung Tahun 2015-2019 (Lembaran Daerah Provinsi Lampung Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Lampung Nomor 404);
2. Sub Bab 1.3. Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya.
Agar menjelaskan hubungan antara dokumen Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD dengan dokumen lainnya, dan mempedomani dokumen lainnya dalam penyusunan RPJMD sebagaimana tercantum pada gambar 1.1. Hubungan RPJMD Kabupaten Pesisir Barat dengan Dokumen Perencanaan Pembangunan Lainnya. Penjelasan memuat pokok-pokok substansi dokumen RPJMN, RPMD Provinsi Lampung, RPJPD Kabupaten Pesisir Barat serta RTRW Kabupaten Pesisir Barat. Hal ini untuk menjamin kebijakan dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD selaras/tidak menyimpang dengan dokumen perencanaan lainnya.
B. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
1. Penyajian Data pada Bab II, agar menampilkan data series 5 (lima) tahun sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengolahan dan analisis secara sistematis. Data-data dimaksud mencerminkan kondisi hasil pembangunan sebelumnya yang selanjutnya menjadi data pendukung dalam analisis permasalahan yang akan dirumuskan pada BAB IV Analisis Isu-Isu Strategis.
2. Pada Sub Bab 2.1.1 Aspek Geografi agar ditambahkan data:
a. penggunaan lahan, yang menyajikan data penggunaan lahan pada saat Kabupaten Pesisir Barat belum menjadi daerah otonom;
b. potensi pengembangan wilayah, yang menyajikan data identifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan, pertanian, pariwasata, dan lain-lain; dan
c. wilayah rawan bencana, yang menyajikan data identifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam, seperti banjir, tsunami, abrasi, longsor, kebakaran hutan, gempa tektonik, vulkanik dan lain-lain.
3. Pada Sub Bab 2.2. Demografi, agar menampilkan data penduduk menurut Badan Pusat Statistik. Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dipergunakan dalam rangka Analisis Permasalahan dan Isu Strategis, disajikan secara ringkas serta diberi penjelasan seperlunya.
4. Penyajian data pada Sub Bab 2.3. Aspek Kesejahteraan Masyarakat, diubah dengan menambahkan data:
a. PDRB yang meliputi:
1) data berdasarkan harga konstan dan harga berlaku;
2) laju pertumbuhan di luar kontribusi per sektor; dan 3) sisi demand dan supply.
b. Indeks Gini, untuk mengukur pemerataanjketimpangan pendapatan masyarakat;
c. Indeks Williamson, untuk mengukur ketimpangan pembangunan antar wilayah;
d. Luas panen, produktivitas dan produksi sektor pertanianj perkebunanj peternakanj perikananj kehutanan yang disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.
e. Nilai Tukar Petani (NTP) , berikut penjelasan penurunan yang signifikan pada Tahun 2014;
f. kemiskinan (persentase, rumah tangga dan individu miskin, indeks keparahan dan kedalaman, gini ratio);
g. kependudukan (TFR, CPR dan Unmet Need); dan
h. Sub Sub Bab 2.3.3. Keluarga Berencana agar diubah menjadi Ketenagakerjaan serta dengan menambahkan data TPAK, TPT, Penduduk Yang BekerjajMenganggur berdasarkan tingkat pendidikan.
5. Pada Sub Bab 2.4. Aspek Pelayanan Umum belum menyajikan data capaian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang menyatakan bahwa urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar terdiri dari 6 (enam) urusan, urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar terdiri dari 18 (delapan belas) urusan dan urusan pemerintahan pilihan terdiri dari 8 (delapan) urusan yang disesuaikan dengan potensi wilayah dan hasil pemetaan oleh Kementerian Dalam Negeri.
6. Penyajian data pada aspek Pelayanan Umum agar ditinjau kembali serta data-data yang berkaitan dengan aspek lain agar disesuaikan guna menghindari pengulangan dalam menyajikan data.
5
7. Pada Sub Bab 2.4. Aspek Daya Saing, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) agar dicantumkan pada Sub Bab Aspek Kesejahteraan.
8. Pada Sub Bab 2.4. Aspek Daya Saing, agar ditambahkan data:
a. investasi, data Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri termasukjumlah tenaga kerja yang terserap;
b. rasio elektrifikasi;
c. IPM (usia harapan hidup, rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah, konsumsi);
d. ketentraman dan ketertiban (Kriminalitas, unjuk rasajkonflik, ormas, dan lain-lain); dan
e. pariwisata dan kunjungan wisatawan.
9. satuan data keluarga menggunakan data Kepala Keluarga bukan satuan orang.
10. Agar data panjang jalan provinsi dilakukan penyesuaian dengan Keputusan Gubernur Lampung Nomor : G/243.a/III.09/HK/2016 tentang Status .Ialan Provinsi yang menetapkan bahwa panjang jalan provinsi di Kabupaten Pesisir Barat sepanjang 11,996 (sebe1as koma sembilan ratus sembilan puluh enam) km meliputi Jln. Adam Malik, Jln. Krui-Pekon Serai, Jln. Kotajawa-Kampung Baru.
c.
BAB III. GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKAPENDANAAN1. Dana Perimbangan masih menempati porsi terbesar dalam Pendapatan Daerah Kabupaten Pesisir barat kurun waktu 2010- 2015 rata-rata 58,7% (lima puluh de1apan koma tujuh persen).
Kondisi ini mencerminkan bahwa Kabupaten Pesisir Barat masih sangat tergantung dari bantuan penganggaran Pemerintah Pusat.
Agar Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat mengembangkan serta mengelola sumber-sumber potensijkekayaan daerah yang dapat menghasilkan dan meningkatkan PAD dan Pendapatan lain-lain Yang Sah.
2. Proyeksi Pendapatan Asli Daerah agar disesuaikan dengan kebijakan nasional dan provinsi. Dalam menetapkan proyeksi pendapatan agar dibentuk Tim untuk melakukan perhitungan proyeksi dengan metode dan kebijakan yang valid setiap tahunnya dengan kenaikan realistis berkisar antara 10% (sepuluh persen)- 20% (dua puluh persen) setiap tahunnya.
3. Proyeksi Pendapatan 2016 - 2021 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pendapatan 5 (lima) tahun sebe1umnya ditambah pacta Tahun 2015 PAD mengalami penurunan. Agar dilakukan penghitungan ulang terhadap proyeksi yang te1ah disusun.
4. Proyeksi Be1anja Daerah kurun waktu 2016-2021 seharusnya Belanja Tidak Langsung lebih kecil dari Belanja Langsung atau Belanja Publik
5. Penganggaran Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun sebelumnya (SilPA) harus berdasarkan pada penghitungan yang cermat dan rasional untuk menghindari terjadinya defisit anggaran dengan menghitung perkiraan realisasi anggaran tahun sebelumnya.
D. BAH IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS
1. Permasalahan pembangunan yang disajikan merupakan permasalahanan penyelenggaraan urusan pemerin tahan daerah yang dirumuskan berdasarkan hasil analisis data dan informasi pada Bab II serta diuraikan secara kuantitatifjkualitatif dan dibandingkan dengan standarjindikator provinsi dan nasional. Permasalahan pada Bab IV, data yang disajikan harus didukung dengan data pada Bab II. Sehingga tidak ditemukan lagi permasalahan pada Bab IV yang tidak didukung analisis data.
2. Data-data yang disajikan pada Sub Bab 4.1. Permasalahan Pembangunan agar disajikan pada Bab II sebagai bahan analisis.
3. Dalam rangka sinkronisasi kebijakan nasional, beberapa isu strategis agar dicantumkan seperti isu penanggulangan kemiskinan, ketimpangan antar wilayah, SDGs dan pembangunan perdesaan dan lain-lain.
4. Sesuai ketentuan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN Kabupaten Pesisir Barat merupakan lokasi proyek strategis antara lain:
a. pembangunan Rumah Sakit komunitas di daerah terpenciljkepulauanjDaerah Otonomi Baru;
b. pengembangan Bandar Udara Pekon Serai; dan c. pengembangan kawasan pariwisata pantai barat.
Agar disajikan dan diintegrasikan ke dalam isu strategis.
5. Sektor pariwisata menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat, agar sektor pariwisata menjadi salah satu isu strategis dalam pembangunan daerah.
6. Agar dicantumkan secara spesifik permasalahan dan ISU infrastruktur menuju pulau-pulau kecil, keselamatan perhubungan, keterbatasan sanitasi dan air bersih serta mitigasi bencana.
E. BAB V. VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
1. Bab ini menjelaskan dan menguraikan VISI, misi Bupati dan Wakil Bupati terpilih, sebagai landasan perumusan tujuan dan sasaran dari setiap misi dengan memperhatikan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Perumusan setiap sasaran yang akan dicapai agar disertai dengan indikator sasaran dan target capaian yang terukur setiap tahun untuk mencapai target yang diinginkan pada akhir masa jabatan kepala daerah.
2. Visi yang dicantumkan agar dijelaskan dalam "Pernyataan Visi"
yang merupakan penjelasanjpenerjemahan visi ke dalam kriteria dan indikator sehingga mudah dipahami dan tidak bias.
Pernyataan visi dan misi tersebut selanjutnya menjadi dasar penentuan tujuan dan sasaran pokok yang terukur.
3. Indikator Kinerja Sasaran merupakan Indikator Kinerja Dampak yang representatif dan terukur yang menggambarkan kondisi sasaran yang akan dicapai. Agar Perumusan indikator dan target sasaran disesuaikan dengan prinsip "SMART" (Spesijic, Measureable, Attainable, Realistic, Timely).
4. Tabel Pernyataan Tujuan dan Sasaran pada Sub Bab Tujuan dan Sasaran, diubah dengan kolom tabel sebagai berikut :
MISI TUJUAN SASARAN INDIKATOR RENCANAPENCAPAIAN SASARAN 2015 2016 2017 2018 2019
1 2 3 4 5 6 7 8 9
sebagai pedoman untuk menyusun indikator kinerja tahunan yang akan dicapai setiap tahun se1ama 5 (lima) tahun.
5. Penetapan indikator sasaran pokok pada Bab V sangat rinci dan bersifat mikro, sehingga jumlah sasaran pokok menjadi sangat banyak. Penetapan indikator sasaran pokok agar disederhanakan dan secara selektif memilih sasaran pokok yang paling dominan pada setiap sasaran. Indikator Kinerja Sasaran merupakan Indikator Kinerja Dampak yang representatif dan terukur menggambarkan kondisi sasaran yang akan dicapai.
6. Penetapan target kinerja sasaran pokok disesuaikan dengan kemampuan fiskal dan sumber daya daerah sehingga target-target yang ditetapkan dapat dicapai, terdapat indikator yang tidak realistis antara lain:
a. penduduk miskin memeproleh perlindungan sosial 100%
(seratus persen);
b. penyelesaian tindak kejahatan 100% (seratus persen);
c. cakupan rujukan pasien terlantar dan miskin 100% (seratus persen) dan lain-lain.
7. Indikator kinerja yang tidak/be1um lazim digunakan seperti indeks profesionalitas aparatur, indeks reformasi birokrasi, nilai integritas instansi pemerintah, indeks kesehatan dan indeks pendidikan agar dicantumkan landasan hukumnya atau diubah dengan indikator yang lebih lazim dan mudah dipahami.
8. Indikator dan Target Sasaran pada Bab V menjadi Indikator dan Target yang disajikan pada Bab IX Penetapan Indikator Kinerja
Daerah.
F. BAB VI. STRATEGI DAN ARAB KEBIJAKAN
1. Bab ini bertujuan untuk menjelaskan strategi yang dipilih dalam mencapai tujuan dan sasaran serta merumuskan arah kebijakan dari setiap strategi terpilih.
2. Dalam perumusan strategi dan kebijakan harus memperhatikan isu strategis dan permasalahan daerah pada Bab IV. Agar setiap kebijakan yang ditetapkan dapat menye1esaikan permasalahan yang dihadapi oleh daerah, sehingga setiap kebijakan yang ditetapkan menjadi solusi terhadap permasalahan serta menjadi arah pencapaian sasaran pokok.
3. Penyusunan kebijakan pembangunan agar memuat kebijakan pembangunan lintas sektoral seperti penanggulangan kemiskinan, pembangunan sumberdaya manusia (peningkatan IPM), pembangunan ketahanan pangan serta memuat kebijakan
pembangunan kewilayahan di daerah dengan membagi kawasan
Kabupaten Pesisir Barat menjadi kawasan-kawasan tertentu (minapolitan, pariwisata, agropolitan, industri dan lain-lain).
4. Pada kebijakan terkait konektivitas nasional agar menyajikan Bandar Udara Pekon Serai.
8
5. Dalam rangka pengembangan komoditas perkebunan, agar memperhatikan Rencana Strategis Kementerian Pertanian.
6. Penetapan kebijakan daerah agar memperhatikan program strategis nasional dan provinsi, sehingga tercermin dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat terhadap program strategis dimaksud, seperti Program Gerbang Desa, pembangunan kawasan industri, pembangunan kawasan pariwisata Pantai Barat Lampung dan lain-lain.
7. Perumusan strategi dan kebijakan cenderung sangat mikro dan bersifat program, agar dilakukan perumusan kembali.
G. BAB VII. KEBIJAKAN DAERAH
UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN
1. Bab ini menguraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan daerah yang dirumuskan pada BAB VI Strategi dan Arah Kebijakan untuk merumuskan program pembangunan daerah dan indikator kinerja (outcome) dalam rangka mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran yang diuraikan dalam BABV.
2. Indikator Kinerja Program yang disajikan adalah indikator kinerja impact/ dampak (indikator sasaran), agar dilakukan penyesuaian indikator. Perumusan indikator dan target program agar disesuaikan dengan prinsip "SMART" (Spesijic, Measureable, Attainable, Realistic, Timely).
3. Tabel7 Kebijakan Umum dan Proram Pembangunan agar disajikan dalam tabel sebagai berikut :
Strategi Indikator Capaian Kinerja Program
Bidang OPD
No Sasaran danArab Kinerja Kondisi Kondisi Pembangunan Penanggung Kebijakan (outcome) AwaI Akhir Daerah Drusan
Jawab
1 2 3 4 5 6 7 8 9
4. Seluruh program yang telah ditetapkan dan dilaksanakan dalam RKPD Tahun Anggaran 2016 agar diakomodir dalam dokumen RPJMD ini, kondisi ini dilakukan guna menjaga konsistensi program RPJMD dengan RKPD.
5. Penetapan indikator dan target kinerja outcome disesuaikan dengan kemampuan fiskal dan sumber daya daerah serta disusun untuk setiap tahun. Agar dihindari target yang sangat peisimis dan sangat optimis (seperti targetjalan mantap dari 31,95% (tiga puluh satu kama sembilan puluh lima persen) menjadi 75% (tujuh puluh lima persen).
6. Terdapat target kirierja program yang belum dicantumkan, agar indikator dilengkapi dengan targetnya.
7. Kondisi kinerja awal tahun sebagai benchmark masih dicantumkan nilai "0". Apabila data tidak tersedia agar dicantumkan n.a. (not available) .
8. Untuk pengembangan Bandar Udara Pekon Serai dibutuhkan lahan untuk perluasan 30 (tiga puluh) ha dengan alokasi anggaran Rp.
9,123 M (sembilan kama seratus dua puluh tiga milyar), agar dilakukan perhitungan ulang.
9. Program peningkatan perkebunan ditargetkan untuk mengembangkan komoditas kelapa dalam. Agar dipertimbangkan kembali menjadi komoditas kopi, sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Pertanian.
10. Indikator Kinerja Outcome dan Sasaran, agar disesuaikan dengan kewenangan daerah. Di bidang perhubungan dicantumkan target yang merupakan kewenangan pemerintah yaitu:
a. penurunan kecelakaan transportasi udara;
b. penurunan angka kecelakaan transportasi laut;
c. peningkatan sarana prasarana perhubungan udara;
d. penambahan maskapai;
e. peningkatan sarana prasarana perhubungan laut; dan f. penambahan pe1abuhan.
H. BAB VIII. INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN
1. Bab ini menguraikan indikator dan target program dalam kerangka tahunan, sehingga diketahui r mc r an p e r i c a p a r a n
target berdasarkan tahun anggaran serta kebutuhan pendanaannya.
2. Indikasi Rencana Program Prioritas Yang Disertai Kebutuhan Pendanaan agar disusun berdasarkan misi. Pelaksanaan program- program prioritas dimaksudkan untuk mencapai misi yang telah ditetapkan.
3. Indikator program bercirikan HASIL/OUTCOME bukan DAMPAK atau OUTPUT serta dirumuskan dalam indikator yang terukur seperti jumlah, panjang, persentase peningkatan dan lain-lain.
Indikator yag disajikan pada Tabel 8 masih bercirikan OUTPUT, agar dilakukan perumusan kembali indikator program.
I. BAB IX. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH
1. Bab ini menyajikan gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati pada akhir periode masajabatan.
2. Pencantuman setiap capaian indikator, agar disesuaikan dengan Indikator dan Target Sasaran. Indikator kinerja kondisi awal, indikator kinerja tahunan, dan indikator kinerja kondisi akhir harus konsisten dengan indikator yang tercantum pada BAB V.
Sehingga mencerminkan azas rasionalitas dengan kriteria kumulatif, konstan, meningkat atau menurun.
3. Data yang disajikan pada kolom kondisi awal tahun (benchmark) agar disesuaikan pada setiap Bab yaitu Kondisi Tahun 2014 pada Bab II, V dan IX.
J. BAB X. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN
1. Sub bab 10.1 Pedoman Transisi seluruh paragraf disajikan tidak re1evan dengan pelaksanaan dokumen transisional, agar dilakukan penyesuaian.
10
2. Dalam Sub Bab Pedoman Transisi, agar dirumuskan kalimat
"Sambi! menunggu ditetapkannya Peraturan Daerah tentang RPJMD Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2021-2026, maka Penyusunan RKPD Tahun 2022 berpedoman pada arah kebijakan dan sasaran pokok RPJPD Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2005- 2025", sesuai ketentuan Pasal 287 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010.
3. Dalam Sub Bab 10.2. Kaidah Pelaksanaan agar dirumuskan kalimat:
a. dengan ditetapkannya RPJMD Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2016-2021, maka dokumen RPJMDes dilakukan review untuk menjamin keselarasan dan kesesuaian dengan RPJMD Kabupaten Pesisir Barat.
b. Organisasi Perangkat Daerah penanggung jawab program adalah Organisasi Perangkat Daerah yang membidangi urusannya masing-masing.
c. Angka 7, Angka 8, Angka 9, Angka 11 dan Angka 12 agar dihapus.
PARAF KOORDINASI
1 WAKIL GUBERNlIR
2 5eKDA PROVINSI e;f
3 ASS. BID. PEM. •
4 ASS. BID. EI\,~,~NG 5 AS'S. BID. ,,, ,',RA
6 A96:,'BID, UMUM
r
7
....
I>-'8 \
9
10 SIRQ HUKlIM