1. Pendahuluan
Kabupaten Bungo mempunyai wilayah seluas 716.000 Ha yang terbagi 17 kecamatan meliputi 132 desa dan 12 kelurahan, yang masing- masing mempunyai potensi yang berbeda baik dari segi luas wilayah, sumberdaya alam, maupun sumberdaya manusia (BPS Kabupaten Bungo, 2008).
Secara umum luas perairan di Kabupaten Bungo 6.907 Ha yang terdiri dari perairan sungai, rawa, danau/oxbow, dan genangan air lainnya. Beberapa sungai utama yang ada di Kabupaten Bungo antara lain adalah Sungai Batang Jujuhan, Sungai Batang Senamat, Sungai Batang Pelepat, Sungai Batang Bungo, dan Sungai Batang Tebo (Dinas Peternakan dan Perikanan, 2009 )
PANTAUAN KUALITAS PERAIRAN DANAU BABEKO KECAMATAN BATHIN II KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI UNTUK USAHA
BUDIDAYA KERAMBA JARING APUNG RINI HERTATI
[email protected]
Dosen Fakultas Perikanan Universitas Muara Bungo
ABSTRAK
Beranekaragam aktivitas manusia di sekitar Danau Babeko secara langsung maupun tidak langsung membuat perairan tercemar sehingga dapat menyebabkan kualitas lingkungan perairan Danau Babeko mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan Danau Babeko Kecamatan Bathin II Kabupten Bungo Propinsi Jambi untuk usaha budidaya Keramba Jaring Apung.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling untuk menentukan stasiun penelitian dan pengamatan parameter perairan yang dilakukan sebanyak dua kali ulangan diantaranya. Faktor Fisika, Kimia, biologi, Ph, Suhu, Zat padat terlarut TDS, TSS, DO, BOD5, COD, Besi (Fe), Fospat, Amonia (NH3-N). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini digunakan Metode STORET atau metode Indek Pencemaran (Dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan hidup Nomor 115 Tahun 2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran : PH: 5,8-6. Suhu: 25 – 27 ⁰ C Kecerahan: 68cm – 71cm. TDS: 34.89 – 103.42mg/l TSS: 4.65 – 26.81mg/l DO: 4.21-6.44mg/l BOD5: 2.5-2.96 mg/l COD:
14.20-46.70 mg/l Fe: 0.126- 0.34mg/l PO4-P: 0.107-0.258mg/l NH3-N: 0.116- 0.605mg/l NO₃: 2.646-2.440mg/l NO₂: 0.0078- 0.0097mg/l Deterjen: 6.5- 12.8mg/l.
Hasil uji STORET Danau Babeko sudah tercemar Sedang karena parameter Amonia sudah melewati ambang batas Baku Mutu Air KelasTiga dengan skor -20 pada setiap Stasiun. Dari Hasil uji STORET Danau Babeko di golongkan masih layak untuk usaha budidaya perikanan.
Kata kunci : Kualitas Air, Danau Babeko, Budidaya, Keramba Jaring Apung
Beranekaragam aktivitas manusia di sekitar Danau Babeko secara langsung maupun tidak langsung seperti aktivitas MCK (mandi, cuci, kakus ), air yang masuk kedalam Danau Babeko sebagian berasal dari Sungai Batang Tebo, di Sungai Batang Tebo ini terdapat berbagai macam aktivitas, salah satu aktivitas yang membuat perairan tercemar adanya kegiatan galian C dan galian B
(penambangan emas dan
penambangan pasir), dan berbagai aktivitas rumah tangga sehingga dapat menyebabkan kualitas perairan Danau Babeko mengalami perubahan.
Kehidupan organisme dalam Danau sangat ditentukan oleh kualitas perairan tempat hidupnya (Hertati, R.2010).
Danau Babeko juga dimanfaatkan sebagai tempat usaha budidaya ikan keramba jaring apung (KJA). Keramba jaring apung di Kabupaten Bungo berkembang pesat pada tahun 2010 berjumlah 825 unit. Bertambahnya jumlah KJA telah berdampak positif terhadap peningkatan produksi ikan dan pendapatan petani, namun apabila pengelolaan kurang baik berdampak negatif terhadap lingkungan perairan.
Dampak negatif antara lain disebabkan kurang diperhatikan teknis budidaya KJA seperti pemberian pakan yang tidak ramah lingkungan, tata letak KJA yang tidak strategis. Kondisi lain juga disebabkan oleh jumlah KJA yang tidak sesuai dengan daya dukung perairan seperti yang terjadi di Waduk Jati Luhur. Disamping itu tata letak KJA termasuk pemberian pakan dengan sistem pompa juga memberikan dampak pada ekosistem perairan (Insan, 2005).
Mantau (2007), menjelaskan sisa pakan diperairan dapat berdampak negatif terhadap lingkungan perairan yang pada gilirannya dapat menimbulkan konflik diantara pengguna perairan, serta
kematian massal ikan akibat gas beracun (NH3 dan H2S).
Masalah lingkungan hidup seperti pencemaran dari tahun ke tahun terus berlangsung dan semakin meluas, pencemaran terjadi pada saat senyawa- senyawa yang dihasilkan dari kegiatan ke lingkungan, menyebabkan perubahan yang buruk terhadap keadaan fisik, kimia, biologis dan estetis, kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan tetapi memberikan dampak yang sangat serius pada kesehatan manusia. Hal ini ditandai dengan penurunan kualitas udara, pencemaran air dan kekurangan ketersadiaan air bersih (Badan Standarisasi Nasional,2004).
Berdasarkan hal diatas maka perlu dilakukan penelitian tentang Analisis Kualitas Air di Danau Babeko Kecamatan Bhatin II Kabupaten Bungo Propinsi Jambi.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan tanggal 16 Desember 2014 sampai dengan tanggal 10 Januari 2015 di Danau Babeko, Kecamatan Bathin II Babeko Kabupaten Bungo, Propinsi Jambi.
Tujuan dari Penelitian ini yaitu untuk mengetahui kualitas air di Danau Babeko ditinjau dari parameter fisika, kimia perairan untuk baku mutu air kelas tiga, membandingkan Kualitas air dengan standar baku mutu air menggunakan metode STORET dan menentukan kelayakan perairan Danau Babeko untuk dilakukan kegiatan Budidaya perikanan , terutama kegiatan keramba jaring apung.
Alat penelitian yang digunakan
adalah ; sechi disk alat pengukur
kecerahan, lakban hitam, botol plastik
untuk sampel air, kamera, ice box,
indicator pH lakmus, alat tulis, perahu
dan batu es.
Tabel 4.1.Pengukuran Stasiun I
Baku Mutu Hasil Pengukuran
NO Parameter Satuan
Kelas 3 Maksimum Minimum Rata-Rata Skor
1 PH - 6-9 6,97 5,94 6,45 -
2 Suhu ⁰ C Deviasi 3 29,5 28,1 29,3 -
3 TDS Mg/L 1000 103,42 52,66 78,04 -
4 TSS Mg/L 400 26,81 7,52 17,16 -
5 DO Mg/L 3 5,74 4,21 4,97 -
6 BOD.5 Mg/L 6 2,96 2,23 2,59 -
7 COD Mg/L 50 46,70 20,29 33,49 -
8 Besi (Fe) Mg/L - 0,347 0,185 0,26 -
9 Fospat(PO4P) Mg/L 1 0,258 0,115 0,18 0
10 Amonia (NH3⁻ N) Mg/L 0,02 0,605 0,346 0.47 -20
JUMLAH -20
Keterangan: Pengukuran parameter stasiun I yaitu -20 ( tercemar sedang)
Penentuan stasiun digunakan metode purposive sampling dengan memperhatikan dan berbagai pertimbangan seperti aktivitas pertanian, budidaya ikan (KJA), aktvitas penangkapan ikan. Pengambilan sampel Air di lakukan pada tiga Stasiun yang sudah ditentukan dan dilakukan dua kali ulangan diantaranya. Faktor Fisika, Kimia, biologi, Ph, Suhu, Zat padat terlarut TDS, TSS, DO, BOD5, COD, Besi (Fe), Fospat, Amonia (NH3-N).
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini digunakan Metode STORET atau metode Indek Pencemaran (Dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan hidup Nomor 115 Tahun 2003). Dengan menggunakan sistem nilai dari “US- EPA (Environmental Protection Agency)“.
Adapun Pengujian untuk analisis parameter di laboratorium diantaranya dapat dilihat pada Tabel 2.1. di bawah ini.
3. Hasil dan Pembahasan
Dari hasil penelitian dengan mengunakan Metode Storet peruntukan kelas III (PP 82 Tahun 2001) untuk tiga Stasiun didapatkan hasil seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1. Metode Pengujian Dan Analisis Parameter Kualitas Air Pada Badan Air
NO PARAMETER SATUAN METODE DAN ALATFisika
1 Temperatur ⁰ C Thermometer/In-situ
2 Penetrasi Cahaya Cm Sechii/In-situ
3 Residu Terlarut Mg/I Gravimetri
4 Residu tersuspensi Mg/l Gravimetric
Kimia
5 pH Air Unit pH meter/ In situ
6 BOD Mg /l Metode Winkler
7 COD Mg/l Refluks Titrimetri
8 Oksigen Terlarut /DO Mg/l Metode Winkler/DO meter/In situ
9 Nitrit Mg/l Spektrofotometri
10 Total Fospat sebagai P Mg/l Spektrofotometri
11 Alkalinitas Mg/l
12 Kesadahan Mg/l
Sumber: PP Nomor 82 Tahun 2001 dimodifikasi sesuai tujuan penelitian
Tabel 4.2.Pengukuran Stasiun II
Baku Mutu Hasil Pengukuran NO Parameter Satuan
Kelas 3 Maksimum Minimum Rata-Rata Skor
1 PH - 6-9 6,44 5,95 6,19 -
2 Suhu ⁰ C Deviasi 3 29.00 26,4 27,7 -
3 TDS Mg/L 1000 93,26 39,71 66,48 -
4 TSS Mg/L 400 21,29 5,95 13,93 -
5 DO Mg/L 3 6,17 4,78 5,47 -
6 BOD.5 Mg/L 6 2,73 2,14 2,43 -
7 COD Mg/L 50 37,75 16,93 27,34 -
8 Besi (Fe) Mg/L - 0,306 0,142 0,22 -
9 Fospat(PO4P) Mg/L 1 0,201 0,107 0,15 0
10 Amonia (NH3⁻ N) Mg/L 0,02 0,380 0,218 0.29 -20
JUMLAH -20
Keterangan : Pengukuran parameter stasiun II yaitu -20 (tercemar sedang).
Tabel 4.3.Pengukuran Stasiun III
Baku Mutu Hasil Pengukuran NO Parameter Satuan
Kelas 3 Maksimum Minimum Rata-Rata Skor
1 PH - 6-9 6,65 6,15 6,38 -
2 Suhu ⁰ C Deviasi 3 29.4 29,00 29,2 -
3 TDS Mg/L 1000 65,18 34,89 50,03 -
4 TSS Mg/L 400 17,73 4,69 11,21 -
5 DO Mg/L 3 6,44 4,98 5,71 -
6 BOD.5 Mg/L 6 2,55 2,05 2,3 -
7 COD Mg/L 50 27,21 14,20 20,70 -
8 Besi (Fe) Mg/L - 0,275 0,126 0,20 -
9 Fospat(PO4P) Mg/L 1 0,195 0,073 0,13 0
10 Amonia (NH3⁻ N) Mg/L 0,02 0,281 0,116 0.19 -20
JUMLAH -20
Keterangan: Pengukuran parameter Stasiun III yaitu -20 ( tercemar sedang)
Berdasarkan pengukuran pH air untuk Stasiun I, II dan III berkisar antar 5,94- 6,97 sedangkan pH normal perairan sekitar 6-7,5.
Hal ini dapat dipengaruhi oleh bahan organik atau limbah organik, bahan organik atau limbah anorganik, basa dan garam, hujan asam akibat emisi gas (Siradz.A.S.
2008). Untuk pengukuran suhu berkisar antara 26- 30⁰C. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001, kisaran suhu diperairan Danau Babeko memenuhi baku mutu kelas III, dimana secara khusus, suhu perairan Danau Babeko tidak berbeda nyata antar Stasiun, kisaran suhu seperti ini masih optimum bagi pertumbuhan fitoplakton di perairan (Effendi dalam Budiyono, 2011).
Hasil Pengukuran TDS dari Stasiun I - III, baik pengambilan pertama sampai pengambilan ke kedua berkisar antar 34.89 – 103.42 Mg/l, TDS meningkat pada stasiun I, hal ini terjadi akibat curah hujan sedikit dibandingkan pengambilan sampel kedua.
Suwando dkk ( 2005) menyatakan besarnya konstribusi limbah yang masuk keperairan menimbulkan pengaruh terhadap penurunan kualitas lingkungan perairan, sedangkan untuk pengukuran TSS dilokasi penelitian dari stasiun I, II dan III berkisar antara 4.65 - 26.81 sesuai dengan peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001 konsentrasi Padatan Tersuspensi (TSS) pada baku mutu kelas III
sebesar 4000 mg/l jadi TSS pada stasiun I, II dan III permukaan dan dasar perairan masih di bawah baku mutu. Hasil Pengukuran Oksigen Terlarut (DO) berkisar antara 4.21 - 6.44 mg/l sesuai dengan ambang batas parameter DO sesuai dengan kelas III dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 sebesar 3 mg/l, berarti Danau Babeko untuk III stasiun telah memenuhi kriteria khusus untuk perikanan. Fardiaz (1992), oksigen terlarut dalam perairan sangat penting untuk mendukung kehidupan organisme perairan dan proses–proses yang terjadi di dalamnya.
Menurut Warren, (1971) kandungan oksigen terlarut yang sangat rendah akan mengurangi jumlah jenis invertebrata yang berukuran besar, sedangkan Cacing tubifek Sp dan larva nyamuk dan cacing-cacing lain didapatkan berlimpah.
4. Penutup 1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh aktivitas masyarakat di sekitar Danau Babeko terhadap kualitas air, dapat di simpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan uji beberapa indikator terhadap sifat fisik dan kimia perairan terdapat beberapa parameter yang sudah melewati nilai ambang batas baku mutu air: ammonia (NH3-N) yaitu diatas 0,02 mg/l, sedangkan untuk pengukuran pH, suhu, Zat tersuspensi (TSS), TDS,DO,BOD.5,COD dan fospat masih berada di bawah ambang batas masih dalam standar baku mutu kelas III.
2. Hasil uji STORET Danau Babeko sudah tercemar Sedang karena parameter Amonia sudah melewati ambang batas Baku Mutu Air KelasTiga dengan skor -20 pada setiap Stasiun.
3. Dari Hasil uji STORET Danau Babeko di golongkan masih layak untuk usaha budidaya perikanan.
2. Saran
Sebagai masukkan untuk instansi pemerintah dan swasta yang terkait , terutama mengenai status baku mutu air Danau Babeko sehingga dapat mengambil kebijakan dalam pengelolaan Danau Babeko yang baik dan berkelanjutan, sebelum melakukan usaha budidaya ikan hendaknya masyarakat dan petani ikan sekitar Danau Babeko terlebih dahulu mengetahui informasi tentang status baku mutu air Danau Babeko dan pengelolaan limbah/sampah rumah tangga dengan baik sehingga lingkungan perairan terjaga dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Aleerts,G dan SN.Simestri Santika. 1987.
Metode penelitian Air. Surabaya.
Usaha Nasional APHA ( American Public Healt Associoation ).1989.
Standard methods For The Exanination Of Water and Waste water Including Bottom Sediment and Sludges. Publ. Heaith Association Inc. New York.
Anwar.M.S.,Husin. 1990. Studi Lingkungan perairan Sungai di kecamatan Gambut dan kertak hanyur Kalimantan Selatan. Jurnal lingkungan dan pembangunan 10:3:
183 – 192 Jakarta.
Badan Pusat Statistik , Kabupaten Bungo 2007. Bungo Dalam Angka.
Badan Standarisasi Nasional .2004
(http:/Jurnal –
kesmas.blogspot.com/2011/05/latar belakang-masalah-lingkungan-
hidup.html.
BPS Kabupaten Bungo ,2008.
Bavarigge,M.C.M. 1987. Cage Aquaculture.
Fishing news Book Ltd, Farnham.
Surrey.England,351 pp.
Boyd,Clude.E,1982,Water Quality Management For Pond Fish Culture.
Elsevier Scientific – Amsterdam. Develoment In
Aguaculture and Fishereis Science Vol.9.
Damary.P .Pachrul.M.F. Widyoastono.
2009. Kajian Kualitas Air Sungai
cipinang Bagian Hilir Ditinjau dari Parameter BOD dan
DO Menggunakan Medel Qualze.
Jurnal Teknologi Lingkungan .Vol 15. PP 62 – 74.
Direktorat jenderal Perikanan Tangkap Kelautan dan Perikanan ,2006, Defenisi dan Klasifikasi Statistik Perikanan tangkap Direktorat jenderal Perikanan Tangkap, Depertemen Kelautan dan Perikanan.
Dinas perikanan dan peternakan Kabupaten Bungo , 2009.
Fardiaz, H. 1992 Polusi Air dan Udara, Kanasius Yogyakarta.
Hertati,R. 2011. Dampak Keramba Ikan
Jaring Apung Terhadap
Pembangunan Ekonomi dan kesejahteraan Masyarakat Bungo.
Tesis Universitas Bung Hatta.
Haryani,Gadis Sri.1996. Tinjauan Ekologis Dalam Pengelolaan Danau alami.
Jurnal. Air lahan Lingkungan dan Mitigasi Bencana.V.I. Hal 9-12 Jakarta.
PP RI Nomor: 82, 2001, Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air.
Handani,R 2010, Keanekaragaman ZOOplankton dan Kualitas perairan Di Teluk Bungus Kecamatan teluk Kambang Kota Padang UBH Padang.
Husen,1999 Status dan perencanaan pengembangan perikanan Perairan Umum Di Jawa Barat:
Suatu Konsepsi Prosiding Semiloka Nasional Pengelolaan dan Pemanfaatan Danau dan Waduk.
Menteri Negara lingkungan Hidup 115 Tahun 2003.
Sirad,A. S . Harsono. E. S. Purba,I. 2008 Kualitas Air Sungai Code Winongo dan Gajah Wong Daerah Istimewa Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Yogyakarta Vol .8 P: 121-125.
Suwondo, Fauziah .Y .Syafrianti dan Waryanti,2005 Akumulasi logam Cupprum (Cu) dan Zincum (zn) di perairan Sungai Siak dengan Menggunakan Bioaku Mulator Eceng Gondok ( Eichhornia Crassipes ) Jurnal Biogenesis Vol.1 (2): 51 – 56 2005.